Anda di halaman 1dari 13

BAB III

PRAFORMULASI
III.1. Data Zat Aktif:
a. Zat Aktif : Neomisin Sulfat
Sinonim : Neomicyni sulfas
BM : 614.6
Rumus molekul: C23H46N6O13.H2SO4

1. Pemerian : Serbuk putih agak kuning / padatan kering mirip es; Tidak berbau / praktis tak berbau;
Higroskopis; Larutan memutar bidang polarisasi ke kanan.
2. Kelarutan : - Mudah larut dalam air (1:1) - sangat sukar larut dalam etanol
- Tidak larut dalam aseton, kloroform dan eter.
3. pH : 10% larutan dalam air mempunyai pH 5 -7,5
4. Stabilitas:
- Neomisin merupakan kationik dan menjadi bentonit jika berikatan; bisa memecah emulsi jika dengan
adanya Na lauril sulfa dan mengendap dengan adanya gom. (Martindale:1188).
Disebutkan pula: Loss of activity: Neomycin was very much less activity against Staphylococcus aureus in
presence of magnesium trisilicate, acasia, tragacant, Na alginat, pectin, bentonite, caolineand much less
active with calamine, silica, metilcellulose, CMC, mize starch, gelatin and polisorbat 80. The
antimicrobial activity of Neomycin was reduced in the presence of Vit. B complex & Vit. C
- Neomisin peka terhadap oksidasi udara. Setelah penyimpanan selama 24 bulan tidak terjadi kehilangan
potensi (masih 99% dari potensi asli). Serbuk neomisin sulfat stabil selama tidak kurang dari3 tahun
pada suhu 20°C. Neomisin sulfat dapat juga dipanaskan pada suhu 110°C selama 10 jam (yakni selama
sterilisasi kering), tanpa kehilangan potensinya, meskipun terjadi perubahan warna. Neomisin cukup
stabil pada kisaran pH 2,0 sampai 9,0. Menunjukkan aktivitas optimumnya pada kira-kira pH 7,0.
(Stabilitas kimiawi sediaan farmasi, Connors hal 525-532)

5.Incompatible:
Tidak bercampur dengan substansi anionik dalam larutan, bisa menimbulkan endapan, juga pada krim
yang mengandung Na lauril sulfat.
Tidak bercampur dengan garam cephalotin dan garam novobiocin (Martindale;1188).

6. Farmakologi:
Aktifitasnya adalah bakterisid dengan menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom
didalam sel. Secara topikal digunakan unuk konjungtivitis dan otitis media
Penggunaan sebagai antibiotik pada infeksi mata biasanya 0,35 % dan 0,5 %.
7.Dosis : 0.35-0.5 % untuk mata

b. Zat aktif : Benzalkonium klorida


Sinonim : Benzalkonii Chloridum
BM : -
1. Pemerian : gel kental atau potongan seperti gelatin, putih atau putih kekuningan. Biasanya berbau
aromatik lemah. Larutan dalam air berasa pahit, jika dikocok sangat berbusa dan biasanya sedikit alkali.
2. pH : -
3. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan etanol, bentuk anhidrat mudah larut dalam benzena dan
agak sukar larut dalam eter.
4.Dosis : 0.01-0.1 %

c. Zat aktif : Na metabisulfit


Sinonim : Dinatrium pirosulfit
BM : 190,10
Rumus kimia : Na2S2O5
1. Pemerian : hablur putih atau serbuk hablur putih kekuningan, berbau belerang dioksida.
2. Kemurnian : natrium metabisulfit mengandung sejumlah Na2S2O5, setara dengan tidak kurang dari
65 % dan tidak lebih dari 67.4 % SO2.
3. Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserin; sukar larut dalam etanol.
4. Wadah : dalam wadah terisi penuh, tertutup rapat dan hindarkan dari panas yang berlebihan.

d.Zat aktif : Dapar Fosfat pH 7

e.Zat aktif : Natrium Klorida


Sinonim : natrii chloridum
BM : 58.44
1. Pemerian : hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih; rasa asin.
2. pH : -
3. Kelarutan : mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin;
sukar larut dalam etanol.
4. Wadah : dalam wadah tertutup baik
5. Penandaan : cantumkan pada etiket, jika dimaksudkan untuk penggunaan hemodialisa.

III.2. Formula Standar : tidak ditemukan

III.3. Tak Tersatukan Zat Aktif


Na laurel sulfat, subtansi anionik, garam cepalotin, dan garam novobiosin.

III.4. Usul Penyempurnaan Sediaan


Api yang digunakan harus bebas CO2

III.5. Alat dan Cara Sterilisasinya


NAMA ALAT STERILISASI SUHU (0 C) WAKTU (Menit)
Sendok porselen Oven 170 30
Spatel Logam Oven 170 30
Pinset Logam Oven 170 30
Batang pengaduk Oven 170 30
Erlenmeyer Oven 170 30
Cawan Penguap Oven 170 30
Kaca Arloji Oven 170 30
Gelas Ukur Autoklaf 115 – 116 30
Jarum suntik Autoklaf 30
Zalfkaart Autoklaf 30
Beacker glass Oven 170 30
Corong Oven 30
Wadah Oven

RANGKUMAN HASIL PENGKAJIAN PRAFORMULASI

No Diinginkan Pemecahan Rekomendasi Pemilihan Alasan


1 Dibuat sediaan tetes mata steril Membuat sediaan yang cocok untuk stabilitas zat aktif • Sedian steril
Volume Kecil
• Sedian steril Volume Besar

Sedian steril Volume kecil


Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat
mata diberikan dalam volume yang kecil
2 Rute pemberian untuk tetes mata steril

Sediaan harus digunakan dengan rute pemberian yang sesuai Rute pemberian yang benar
Im
Iv
Guttae Guttae Karena pada umumnya, pemberian obat tetes mata steril langsung diteteskan di balik
kelopak mata.

3 Sediaan dibuat obat tetes mata steril Dapat tercampur dengan konsentrasi dalam tubuh Dibuat
sediaan yang bersifat
Isotonis
Hipotonis
Hipertonis Isotonis Syarat sediaan tetes mata steril harus berupa sediaan yang isotonis
4 Sediaan tidak boleh terbentuk kompleks logam Ditambahkan zat pengkhelat - dinatrium edetat
Dinatrium edetat Dipilih agar tidak terbentuk kompleks dengan logam wadah
5 Sediaan harus memiliki stabilitas yang terjaga selama penggunaan dan agar tidak ada kemungkinan
teroksidasi saat di sterilisasi Ditambahkan antioksidan BHT
BHA
Sodium bisulfit Sodium bisulfit Merupakan antioksidan yang cocok untuk garamycin
6 Sediaan diharapkan memiliki kekentalan agar memiliki kontak yang lama dengan mata Ditambahkan
pengental PVP
Na CMC PVP Merupakan pengental yang cocok
7 Sediaan diharapakan memiliki rentang pH yang stabil yaitu 7 Ditambahkan dapar Na2HPO4 dihidrat
KH2PO4 anhidrat Na2HPO4 dihidrat dan KH2PO4 anhidrat Merupakan dapar yang sesuai
8 Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroba Sediaan tetes mata steril yang stabil
secara biologi. Di beri zat pengawet :
Fenilmerkuri nitrat.0,002%
Benzalkonimu klorida 0,01%
Benzalkonimu klorida 0,01% Chlorhexidine acetat 0,01% 
Merupakan pengawet yang biasa digunakan untuk pembuatan tetes mata steril dengan bahan aktif
garamycin.

9. Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroorganisme Sediaan steril terhindar dari
mikroorganisme Dilakukan proses sterilisasi
• sterilisasi aseptis
• sterilisasi akhi Sterilisasi akhir Karena pada umumnya pembuatan tetes mata steril didasarkan pada
kondisi kerja aseptik
10 Penandaan berdasarkan golongan obat bermacam-macam
Penandaan golongan yang sesuai sebagai petunjuk penggunaan konsumen
=Obat keras

=Obat bebas terbatas

=Obat bebas

Obat keras
Karena penggunaan sediaan injeksi harus dengan resep dokter dan perlu dilakukan oleh tenaga ahli
medis
BAB IV
FORMULASI

IV.1. Formula Akhir


R/ Neomisin sulfat 0,35 %
Benzalkonium klorida 0.01 %
Na metabisulfit 0,01 %
Dapar fosfat pH 7 qs
API ad 10 ml
NaCl ad isotonis

A. Perhitungan
Volume sedían yang dibuat:
Volume yang dibuat = 10 ml dalam vial
Kelebihan volume = 0,5 ml u/ cairan encer
V = n.c + 6
V = 1 x 10,5 + 6
V = 16,5 ml ≈ 25 ml

Tonisitas:
E (neomisin sulfat) = 0,14; ∆ Tf 1 % = 0.06 0
E (Benzalkonium Klorida) = 0.16; ∆ Tf 1 % = 0.09 0
E (Na Metabisulfit) = 0.67; ∆ Tf 1 % = 0.38 0

Cara penurunan titik didih


No. Bahan ∆ Tf 1 % % pemakaian Total (∆ Tf 1 % x % pemakaian)
1. Neomisin sulfat 0.06 0 0.35 % 0.021
2. Benzalkonium klorida 0.09 0 0.01 % 0.0009
3. Na metabisulfit 0.38 0 0.01 % 0.0001
Total : 0.022 g
% isotonis = 0.52-0.022 = 0.86 g NaCl
0.576 (Tf NaCl)
Perhitungan Dapar Fosfat pH 7
Dapar
Kapasitas dapar = β = 0,01%
H2PO4- sebagai asam (KH2PO4 anhidrat)
HPO42- sebagai garam (Na2HPO4 dihidrat)
pKa Na2HPO4 = 7,21
pH = 7
Jawab:
pKa = - log Ka
7,21 = - log Ka
Ka = 10-7,21
= 6,2 × 10-8

pH = - log [H+]
7 = - log [H+]
[H+] = 10-7

Pers.1
pH = pKa + log [G]
[A]
7 = 7,21 + log [G]
[A]
log [G] = - 0,21
[A]
[G] = 10-0,21
[A]
[G] = 0,62
[A]
[G] = 0,62 [A]

Pers.2
β = 2,3 C × Ka × [H+]
(Ka + [H+])2
0,01 = 2,3 C × 6,2 × 10-8 × 10-7
[(6,2 × 10-8) + 10-7]2
C = 0,018 M
Pers.3
C = [A] + [G]
0,018 = [A] + (0,62 [A])
0,018 = 1,62 [A]
[A] = 0,01 M

Maka,
[G] = 0,62 [A]
= 0,62 × 0,01 M
[G] = 0,0062 M

Pers.4
Berat asam = ...?
Berat garam = ...?
BM Na2HPO4 dihidrat (garam) = 159,94
BM KH2PO4 anhidrat (asam) = 136,09
Asam
M = massa × 1000
BM V(ml)
0,01 = massa × 1000
136,09 10 ml
Massa asam = 0,0136 gram
% massa asam (dalam 10 ml) = 0,136%

Garam
M = massa × 1000
BM V(ml)

0,0062 = massa × 1000


159,94 10 ml
Massa garam = 0,0099 gram
% massa garam (dalam 10 ml) = 0,099 %

Penimbangan bahan :
Neomisin sulfat = 0.35 % x 25 ml = 0.0875 g
Na Metabisulfit = 0.01 % x 25 ml = 0.0025 g
Benzalkonium klorida = 0.01 % x 25 ml = 0.0025 g
Na2HPO4 anhidrat = 0,099 % × 25 ml = 0,2475 g
KH2PO4 dihidrat = 0,136 % × 25 ml = 0,034 g
NaCl = 0,0754 % × 25 ml = 0.1885 g

B. Cara Pembuatan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Mensterilisasi wadah
3. Ditimbang zat aktif dan zat tambahan, dimasukkan kedalam gelas piala. (kaca arloji dibilas 2 kali
dengan API bebas CO2 secukupnya)
4. Dituangkan API bebas CO2 secukupnya ad larut
5. Dituangkan API bebas CO2 secukupnya untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan.
6. Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan. Adkan dengan air bilasan sampai
tepat 3/5 bagiannya.
7. Dipindahkan corong ke erlenmayer lain yang bersih dan kering
8. Disaring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmayer yang telah disiapkan
9. Sisa 2/5 bagiannya digunakan untuk membilas gelas piala, ditampung dalam gelas ukur kemudian
disaring ke dalam erlenmayer yang berisi filtrate
10. Ditambahkan API ad ml
11. Isikan larutan ke dalam wadah dengan menggunakan spuit.
12. Tutup wadah dengan api.
13. Ampul yang sudah ditutup di sterilkan di dalam autoklaf pada suhu 115oC – 1160C selama kurang
lebih 30 menit.

IV.4. Evaluasi
Evaluasi yang seharusnya dilakukan pada larutan obat tetes mata adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi fisika: pH, volume sediaan dalam wadah, bahan partikulat, uji kebocoran, uji kejernihan dan
warna.
2. Evaluasi kimia: penetapan kadar, identifikasi
3. Evaluasi biologis: Uji sterilitas, uji pirogen, uji endotoksin bakteri.
4. Pengemasan dan penyimpanan
5. Penandaan
Karena keterbatasan waktu dan alat evaluasi yang dilakukan hanya evaluasi fisika masing-masing
evaluasinya didapatkan:
1. pH larutan, larutan obat tetes mata yang dibuat mempunyai pH 7 syarat sediaan tetes mata adalah
antara rentang pH 5-7,5.
2. Bahan partikulat, dalam larutan tidak ada bahan partikulat.
3. Uji kejernihan, larutan yang dihasilkan tetap jernih dalam penyimpanan
4. Warna larutan bening, tidak terjadi perubahan warna larutan dalam penyimpanan.

BAB VII
EVALUASI SEDIAAN

Sesaat setelah dibuat :


1. Organoleptis :
- Bentuk : larutan
- Warna : bening, jernih
2. pH : 7
3. Homogenitas : homogen

Setelah di simpan selama 2 minggu :


2. Organoleptis :
- Bentuk : larutan
- Warna : bening, jernih
2. pH : 6 - 7
3. Homogenitas : homogen
4. Wadah masih dalam keadaan tertutup rapat dan tidak terjadi kebocoran wadah.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum steril kali ini dibuat sediaan obat tetes mata dengan bahan aktif neomisin sulfat.
Digunakan bentuk garam dari neomisin ini, agar dapat mudah larut dalam pembawa air. Obat tetes
mata sebaiknya dalam bentuk larutan agar dapat dengan mudah berpenetrasi dan bercampur dengan
cairan lakrimal mata. Neomisin sulfat sendiri bersifat bakterisid dengan menembus dinding bakteri dan
mengikat diri pada ribosom dalam sel. Secara topikal digunakan untuk konjungtivitis dan otitis media.
Penggunaan sebagai antibiotik pada infeksi mata biasanya 0.35 % - 0.5 %.
Pada formulasi digunakan beberapa bahan tambahan selain pelarut API. Bahan-bahan tersebut adalah
Benzalkonium klorida, sodium bisulfit, Dinatrium fosfat, Kalium difosfat, dan NaCl. Karena komponen
terbesar dari sediaan adalah air dan obat tetes mata dibuat dalam volume yang agak banyak yaitu 10 ml
sehingga pemakaiannya berulang-ulang, maka pengawet sangat diperlukan. Benzalkonium adalah
pengawet yang paling umum digunakan untuk sediaan obat mata karena aman, stabilitas pada rentang
yang luas dan keefektifannya sebagai anti mikroba.
Selain itu, ditambahkan pula sodium bisulfit untuk mencegah oksidasi pada saat sterilisasi dengan
menggunakan autoklaft. Sodium bisulfit bekerja efektif pada rentang pH yang diinginkan dalam sediaan
ini yatu 6 - 7. Untuk mempertahankan pH sediaan, digunakan kombinasi antara Dinatrium fosfat, Kalium
difosfat. Cairan mata memiliki rentang pH yang luas, namun untuk lebih baik lagi apabila sediaan
memiliki pH netral. Bahan aktifpun tetap stabil pada pH netral. Dihitung penggunaan kedua komponen
diatas seperti yang terdapat pada bab sebelumnya. Diharapkan bahan tersebut dapat mempertahankan
pH sediaan selama disimpan hingga sediaan tidak digunakan lagi.
Sediaan tetes mata juga harus isotonis dengan cairan air mata. Setelah dihitung keekivalensian tiap
bahan terhadap NaCl 0,9 % sebagai patokan larutan yang isotonis, maka dalam formulasi harus
ditambahkan 75, 4 mg NaCl.
Cara sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir dengan autoklaft pada suhu 115oC. Dalam
pengerjaan sebisa mungkin dilakukan secara aseptis. Pertama –tama dibuat API bebas CO2 dan O2
dengan cara aquadest didihkan selama 40 menit. Lalu ditimbang zat aktif dan zat tambahan, yang
dimasukkan kedalam gelas vial (kaca arloji diblas 2 kali dengan API secukupnya). Kemudian larutkan
neomisin sulfat dengan API, lalu bilas dengan API. Kemudian larutkan Na metabisulfit dengan API, lalu
bilas dengan API. Lalu larutkan Benzalkonium klorida dengan API, lalu bilas dengan API. Setelah itu
dituangkan API secukupnya untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan. Lalu lakukan
kalibrasi di beker glass dan di botol plastik (wadah). Lalu larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur,
catat volume larutan.
Kemudian larutan disaring dan dilakukan pengecekan pH sebelum penambahan API hingga volume yang
diinginkan. pH larutan tersebut adalah antara 7. Setelah sediaan jadi, diperoleh larutan yang bening.
Sediaan dimasukkan ke dalam wadah dan kemudian disterilisasi akhir dengan autoklaft pada suhu 115oC
selama 30 menit.
Setelah penyimpanan sediaan selama 2 minggu, dilakukan eveluasi terhadap sediaan. Diperoleh larutan
yang bening dan setelah dicek pH sediaan diperoleh pH antara 6 - 7 . pH tersebut sesuai persyaratan
sediaan yaitu 6,5 - 7,5. Ternyata buffer yang digunakan dapat mempertahankan pH sediaan sesuai yang
diinginkan. Tidak terjadi kebocoran wadah, dan wadah masih dalam keadaan tertutup rapat.
KESIMPULAN

1. Pembuatan sediaan obat tetes mata menggunakan :


Zat aktif : Neomisin Sulfat
Benzalkonium Klorida
Natrium Metabisulfit
Dapar Fosfat pH 7 : Dinatrium fosfat, Kalium difosfat, dan NaCl
2. Neomisin sulfat dapat dibuat sediaan obat tetes mata untuk indikasi antimikroba karena bersifat
bakterisid.
3. Hasil evaluasi sediaan obat tetes mata sebagai berikut :
1. pH larutan, larutan infus yang dibuat mempunyai pH 7 syarat sediaan infus adalah antara rentang pH
5-7,5.
2. Bahan partikulat, dalam larutan tidak ada bahan partikulat.
3. Uji kejernihan, larutan yang dihasilkan tetap jernih dalam penyimpanan
4. Warna larutan bening, tidak terjadi perubahan warna larutan dalam penyimpanan.

DAFTAR PUSTAKA

American Pharmaceutical Association. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second edition.


London : The Pharmaceutical Press.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI Press.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia, edisi ketiga. Jakarta : Badan Pengawasan Obat
dan Makanan.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Sulistiawati, Farida M.Si, Apt. dan Suryani, Nelly M.Si, Apt. 2007. Penuntun Praktikum Teknologi Sedian
Steril. Jakarta.
The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia twenty-eight
edition. London : The Pharmaceutical Press.
Tjay, Tan Hoan, Drs, dkk. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek Sampingnya. Jakarta :
PT. Alex Media Komputindo.