Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Judul Dan Tema


1. Redesain
Dalam ilmu arsitektur terdapat beberapat istilah yang dapat dipakai
sebagai acuan dalam melakukan sebuah perancangan, salah satunya yaitu
Redesain. Redesain adalah sebuah aktivitas melakukan pengubahan
pembaharuan dengan berpatokan dari wujud desain yang lama diubah
menjadi baru, sehingga dapat memenuhi tujuan-tujuan positif yang
mengakibatkan kemajuan.
Pengertian lain menyebutkan bahwa redesain merupakan proses
mendesain ulang bangunan yang sudah ada. Karena proses redesain
memakan waktu yang cukup lama maka dari itu harus memiliki alasan
yang kuat sebelum melakukan desain ulang. Dari beberapa uraian tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa Redesain pada dasarnya sama dengan
proses desain pada umumnya, akan tetapi pada redesain proses desain
dilakukan terhadap sebuah bangunan yang sudah terbangun agar lebih
memaksimalkan tujuan dan fungsi dari sebuah bangunan.
2. Taman

ta·man [1] n 1 kebun yg ditanami dng bunga-bunga dsb (tempat


bersenang-senang); 2 tempat (yg menyenangkan dsb); 3 tempat duduk
pengantin perempuan (yg dihiasi dng bunga-bunga dsb); hiburan tempat
yg mempunyai berbagai jenis hiburan dan pertunjukan;
3. Hiburan
Hiburan adalah segala sesuatu – baik yang berbentuk kata-kata,
tempat, benda, perilaku – yang dapat menjadi penghibur atau pelipur hati
yang susah atau sedih.

6|Page
Pada umumnya hiburan dapat berupa musik, film, opera, drama,
ataupun berupa permainan bahkan olahraga. Berwisata juga dapat
dikatakan sebagai upaya hiburan dengan menjelajahi alam ataupun
mempelajari budaya. Mengisi kegiatan di waktu senggang seperti
membuat kerajinan, keterampilan, membaca juga dapat dikatagorikan
sebagai hiburan Bagi orang tertentu yang memiliki sifat workaholic,
bekerja adalah hiburan dibandingkan dengan berdiam diri.
4. Rakyat
Rakyat (bahasa Inggris: people) adalah bagian dari suatu negara
atau unsur penting dari suatu pemerintahan. Rakyat terdiri dari beberapa
orang yang mempunyai ideologi yang sama dan tinggal di daerah atau
pemerintahan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama
yaitu untuk membela negaranya bila diperlukan.
5. Arsitektur
 Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia :
Arsitektur : seni bangunan, gaya bangunan misalnya : Gedung –
gedung yang mempunyai sifat khusus
 Menurut James C. Snyder, Anthony J. Catanesse, dalam buku
PengantarArsitektur, bahwa:
Arsitektur : lingkungan buatan yang mempunyai bermacam –
macam kegunaan melindungi manusia dan kegiatan – kegiatannya
serta hak miliknyadari elemen, dari musuh, dan dari kekuatan –
kekuatan adikodrati, membuat tempat, menciptakan suatu kawasan
aman yang berpenduduk dalam dunia fana dan cukup berbahaya,
menekankan sosial dan menonjolkan status.
 Menurut Van Romondt :
Arsitektur adalah ruang atau tempat tinggal manusia dengan tenang
dan bahagia

7|Page
6. Rekreatif
Rekreatif merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar Rekreasi
yang berarti sifat yang dapat mengespresikan dan menjelaskan aktifitas
yang dilakukan pada waktu luang yang bertujuan untuk membentuk,
meningkatkan kembali kesegaran fisik, mental dan pikiran dan daya
kreasi, baik secara individu atau kelompok.
Jadi, pengertian Arsitektur rekreatif adalah seni bangunan yang
dalam perancangan dan perencanaannya didasari oleh metode ekspresi
rekreasi secara langsung dengan tujuan untuk dapat menjelaskan dan
mengaplikasi unsur-unsur penting dari rekreasi.
B. Tinjauan Umum
1. Ruang Kota
a. Pengertian Ruang Kota
Secara umum ruang publik/public space dapat didefinisikan
dengan cara membedakan arti katanya secara harafiah terlebih
dahulu.
Publik merupakan sekumpulan orang-orang tak terbatas siapa
saja dan space/ruang merupakan suatu bentukan tiga dimensi yang
terjadi akibat adanya unsur-unsur yang membatasinya (Ching, 1992).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa public
space/ruang publik merupakan suatu ruang yang terbentuk atau
didesain sedemikian rupa sehingga ruang tersebut dapat menampung
sejumlah besar orang (publik) dalam melakukan aktivitas-aktivitas
yang bersifat public sesuai dengan fungsi public space tersebut.
Menurut Sudibyo (1981) publik yang menggunakan ruang tersebut
mempunyai kebebasan dalam aksesibilitas.
Sedangkan menurut Daisy (1974), berdasarkan pemilikannya
ruang publik dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
 Ruang public milik pribadi, digunakan kalangan terbatas.
Contohnya halaman sekolah, halaman perkantoran

8|Page
 Ruang publik milik umum, digunakan oleh orang banyak tanpa
kecuali. Contohnya taman kota, lapangan bermain.
b. Karakteristik Ruang Kota
Kota selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
Perkembangan dalam hal ini menyangkut aspek-aspek : politik,
sosial budaya, teknologi, ekonomi, dan fisik ruang kota.
2. Taman Hiburan Rakyat
a. Pengertian Taman Hiburan Rakyat
Sama seperti uraian di atas, untuk mendapatkan arti dari taman
rakyat dapat dilihat dengan cara membedakan artinya satu per satu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), taman berarti
kebun yang ditanami bunga-bunga; tempat yang menyenangkan. Di
bagian lain pengertian taman adalah sebuah tempat yang terencana
atau sengaja direncanakan dibuat oleh manusia, biasanya di luar
ruangan, dibuat untuk menampilkan keindahan dari berbagai
tanaman dan bentuk alami.
Taman/garden berasal dari kata Gard yang berarti menjaga dan
Eden yang berarti kesenangan, jadi bisa diartikan bahwa taman
adalah sebuah tempat yang digunakan untuk kesenangan yang dijaga
keberadaannya.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
rakyat berarti penduduk suatu negara; orang kebanyakan; orang
biasa. Rakyat juga dapat memiliki konotasi Sesuatu yang biasa,
sederhana namun menyentuh. Sehingga dapat diartikan bahwa taman
rakyat adalah ruang umum (public space) yang selain memenuhi
fungsi sebagai tempat (places) beraktivitas juga memiliki arti yang
sangat penting bagi cermin kehidupan masyarakat pada kota dimana
ruang tersebut berada.Ruang yang mencerminkan keindahan dan
senantiasa dijaga kesenangannya.

9|Page
Menurut pengertian tersebut, maka taman rakyat diharapkan
mampu memahami kondisi lokal dimana ruang itu berada, mampu
mendukung dan mengembangkan nilai-nilai di tempat keberadaanya,
sehingga dapat berfungsi sebagai ruang bersama yang indah dan
nyaman dengan tetap memberi kontribusi terhadap lingkungan
sekitar. Mengutip dari pemikiran Y.B Mangunwijaya, arsitektur
yang baik adalah yang memiliki citra, makna, kesejatian, dan
estetika, termasuk juga arsitektur kota. "Arsitektur kota yang dibuat
haruslah hasil dari pengenalan sifat dan karakter manusia di
dalamnya, potensi-potensi alamnya, kulturnya, keyakinan-keyakinan
yang hidup di tengah masyarakatnya, dan seterusnya“.
b. Fungsi dan peran Taman Hiburan Rakyat
Fungsi dari taman rakyat sendiri sebenarnya sama dengan
taman kota/ruang terbuka hijau kota, yaitu sebagai paru-paru kota,
sarana resapan air,tempat rekreasi, olahraga dan bermain, serta
tempat berkumpulnya penduduk kota, hanya saja taman rakyat
direncanakan dan dirancang lebih spesifik lagi dengan memahami
potensi-potensi tempat dimana taman itu berada, dikemas secara
sederhana dan merakyat sehingga mampu menyentuh seluruh lapisan
masyarakat.
c. Karakteristik Taman Hiburan Rakyat
Karakteristik suatu lanskap merupakan suatu area yang
memiliki keharmonisan (harmony) dan kesatuan (unity) di antara
semua elemen lanskap. Lebih jelas kesatuannya, karakteristik yang
diciptakannya akan lebih kuat (Simond 1983). Karakteristik lanskap
diidentifikasikan sebagai kunci dalam menganalisis karakter visual
suatu lanskap. Garis, bentuk, warna, dan tekstur merupakan elemen
dasar yang sering digunakan untuk menentukan respon visual pada
karakteristik lanskap (Stone 1978).

10 | P a g e
Karakteristik lanskap ini meliputi penutupan lahan (landcover),
penggunaan lahan (landuse), dan bentukan lahan (landform)
(Anderson1979). Karakter bentukan lahan diperoleh melalui
perkiraan foto udara, peta topografi, peta geologi, dan peta
permukaan air. Karakteristik dapat dibentuk oleh material dan
susunan suatu tempat, beserta elemen pembatas tempat tersebut.
Apabila karakter khusus tersebut setelah perencanaan dapat
diimplementasikan ke dalam suatu bentukan fisik dengan ciri khas
yang mampu bertahan melalui proses waktu tertentu dan
memberikan makna bagi masyarakat dan perkembangan kotanya,
maka bentukan fisik tersebut memiliki keunikan dibandingkan
dengan kota lainnya.
3. Taman Hiburan Rakyat (THR) Kota Kendari
a. Definisi Taman Hiburan Rakyat Kota Kendari
Pusat Promosi dan Informasi Daerah (P2ID) di dibilangan jalan
Budi Oetomo Kendari, Sulawesi Tenggara sudah berpuluh – puluh
tahun terbengkalai akibat kepemilikan hak atas tanah lokasi
tersebut, masih dalam proses hukum.
Dalam lokasi P2ID tersebut, terdapat empat rumah adat yaitu,
Rumah Adat Buton, Muna, Kabupaten Kendari (Saat ini Kabupaten
Konawe) dan rumah adat Kabupaten Kolaka.
Rumah adat inilah yang menjadi tempat promosi setiap daerah
saat pameran pembangunan digelar setiap tahun pada saat itu.
Setiap rumah adat saat pameran berlangsung, ditampilkan
berbagai kerajinan masyarakat, koleksi peninggalan bersejarah serta
berbagai hasil bumi yang menjadi andalan setiap daerah.
b. Kondisi existing THR Kota Kendari
Sudah puluhan tahun tak terurus, termasuk ditandai dengan
kondisi rusak parahnya dua pintu gerbang masuk keluar di arah barat
kawasan P2ID Sultra. Demikian pula dengan taman dan jalanan

11 | P a g e
penghubung dalam kawasan yang kini sudah menghutan ditumbuhi
pohon dan belukar. Gedung Auditorium Pemerintah Sulawesi
Tenggara yang dibangun dalam kawasan P2ID entah apa sebabnya
sudah cukup lama tidak difungsikan dan kini dijadikan sebagai ruang
sekolah SMK Tambang Nusantara.
Beberapa bagian pagar kawasan tampak dibiarkan rusak dan
dijadikan tempat pemukiman serta berbagai jenis usaha. Sebuah
gerbang masuk di arah utara kawasan samping kantor Dinas
Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Kendari yang bersisian
dengan kantor Kecamatan Kadia,ditutup lantaran kerangka besinya
sudah karatan rusak tak berfungsi.

Gambar 2.1. Kondisi Existing


(sumber dari dokumen pribadi)

Kawasan tersebut memiliki 3 pintu masuk, antara lain arah selatan


kawasan, arah utara, dan arah barat. Pada arah selatan pintu gerbang
mengikuti konsep bentuk dari benteng keraton Buton. Gerbang arah
barat terdapat patung burung mekongga diatasnya yang
melambangkan mitos dari suku tolaki mekongga yang melegenda

12 | P a g e
sampai hari ini. Untuk gerbang arah utara tidak memiliki identitas
budaya sulawesi tenggara hanya sebatas pintu gerbang saja yang
menghubungkan antara kawasan P2ID dan pemukiman.
a) Gerbang 1
Pada dasarnya konsep yang diperuntuhkan pada gerbang 1
sangat kokoh sehingga dijadikan pintu gerbang utama pada
kawasan tersebut. Tempelan batu kosong sebagai material pada
keseluruhan pintu gerbang merupakan identitas dari fasad
benteng yang ada disulawesi tenggara. Akan tetapi bentuk
setengah lingkaran yang terdapat dipintu gerbang tidak
melambangkan budaya dari konsep benteng keraton buton. Pola
sirkulasi masuk dan keluarnya kawasan bagi pejalan kaki tidak
memiliki rambu sehingga tidak ada perbedaaan antara masuk dan
keluar.

Gambar 2.2. Gerbang 1


(sumber dari dokumentasi pribadi)

13 | P a g e
b) Gerbang 2
Vokal point yang terdapat pada gerbang sebagai penghubung
arah barat kawasan adalah patung burung yang menjadi legenda
dari suku adat tolaki. Sehingga bisa dikatakan bahwa konsep
yang diperuntuhkan pada gerbang gambar dibawah adalah
pendekatan arsitektur tolaki. Akan tetapi bentuk atap pada
gerbang tersebut bukan bentuk arsitektur adat tolaki yang seperti
hari ini kita ketahui. Sehingga terdapat dua wajah pada gerbang
tersebut.

Gambar 2.3. Gerbang 2


(sumber dari dokumentasi pribadi)

c) Gerbang 3
Konsep yang dikemukakan pada gerbang gambar dibawah secara
menyeluruh hanya memiliki bentuh-bentuk dasar arsitektur
lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga.

14 | P a g e
Gambar 2.4. Gerbang 3
(sumber dari dokumentasi pribadi)

d) Sirkulasi
Sirkulasi pada umumnya berfungsi sebagai penghubung. Selain
itu merupakan pola yang menjadikan suatu tempat terstruktur.
Kondisi sirkulasi kawasan saat ini tidak memiliki jalur pada
pejalan kaki yang dapat menimbulkan kemacetan ketika fasilitas
dan kebutuhan pengguna dalam kawasan bertambah, begitu pula
pada jalur yang mengarah ke selatan dan barat hanya memiliki
satu jalur yang pola sirkulasi kendaraannya berlawanan arah.

Gambar 2.5. Sirkulasi


(sumber dari dokumentasi pribadi)

15 | P a g e
e) Area Olahraga
Luas area olahraga yang terdapat dalam kawasan cukup besar
hanya yang menjadi permasalah adalah mengenai kenyamanan
pengguna. Standar-standar untuk kawasan olahraga out door
pada umumnya harus memiliki pembatas apalagi menyangkut
kegiatan olahraga sepak bola. Dan bukan hanya sepak bola,
melainkan menyangkut dengan olahraga lainnya.
masalah inilah yang terjadi dilapangan karena tidak memiliki
pembatas, terutama keberadaan fasilitas pendukungnya masih
minim bagi penunjang.

Gambar 2.6. Area Olahraga


(sumber dari dokumentasi pribadi)

f) Area Pemancingan
Potensi pada ruang area pemancingan dalam kawasan telah
memiliki kekuatan untuk menarik minat pengunjung.
akan tetapi kebutuhan untuk menjadikan sebagai wadah rekreasi
masih membutuhkan fasilitas dan ketersediaan sarana.

16 | P a g e
Gambar 2.7. Area Pemancingan
(sumber dari dokumentasi pribadi)

g) Vegetasi
Kota diidentik dengan banjir, Salah satu masalah adalah
terjadinya degradasi hutan. Pada dasarnya keberadaan vegetasi
sangat diperlukan guna untuk meningkatkan kualitas lingkungan
hidup. Tumbuh kembangnya vegetasi yang tidak teratur akan
mempengaruhi pula kualitas lingkungan hidup pada kawasan.
Hal ini terjadi pada gambar dibawah, tidak teraturnya penatan
ruang vegetasi.

17 | P a g e
Gambar 2.8. Vegetasi
(sumber dari dokumentasi pribadi)

h) Tepi Kawasan
Kawasan terletak pada jalan utama kota sehingga aksesbilitas
terhadap pengguna sangat mudah. Dengan mudahnya akses
maka punya pengaruh besar terhadap kepadatan pengunjung
sehingga sarana penunjang kawasan dalam hal ini area parkiran
berfungsi secara utuh. Kondisi pada tepi kawasan yang
sebenarnya menjadi area parkir kini beralih menjadi area
perdagangan pasir.

Gambar 2.9. Tepi Kawasan


(sumber dari dokumentasi pribadi)

18 | P a g e
c. Kondisi Bangunan
BERITA FOTO—Di Kendari, ada satu daerah yang dikenal
dengan sebutan THR (Taman Hiburan Rakyat) yang sedianya di
lokasi ini akan dibangun rumah-rumah adat asli Sulawesi Tenggara.
Diharapkan dengan dibangunnya pusat hiburan yang menyuguhkan
rumah adat ini, masyarakat Kendari khususnya dan masyarakat
Sulawesi Tenggara pada umumnya tetap bisa melihat keindahan
arsitektur daerah asalnya.
Tetapi sayang, mimpi indah Bapak Pembangunan, Soeharto,
kini hanya menyisakan puing-puing yang meninggalkan rasa miris
bagi yang melihatnya. Ada beberapa rumah adat yang ada di sini,
menurut pantauan Cendana News pada Selasa (31/5/2016), rumah
adat Tolaki yang kondisinya paling tidak terawat.

Gambar 2.10. Kondisi Bangunan


(sumber dari dokumen pribadi)

Rumah-rumah adat tersebut, masing-masing rumah adat


kabupaten Buton yang dibuat mirip dengan rumah adat yang

19 | P a g e
terdapat dalam Benteng Keraton Wolio, dilengkapi dengan
duplikasi tiang bendera. Kondisinya hingga Selasa (17/02/2015)
siang dinding-dindingnya terlihat kusam dengan cat-cat yang
meluntur. Papan penanda di depannya sebagai Pusat Promosi dan
Informasi kabupaten Buton rusak berantakan, seperti kondisi
tulisan lampu asesori Banimo Koro Sumanamo Lipu di bubungan
rumah. Sekalipun terlihat ada yang menjadikan tempat tinggal di
samping bangunan, namun sejumlah bagian plafon serta jeruji
terlihat rusak tercabik-cabik, dan belukar yang tumbuh
mengelilingi halaman mengesankan lokasi cukup lama tak terurus.
Kemudian rumah adat kabupaten Muna di arah timurnya juga
tampak kusam. Pintu naik ke lantai 2 dihempang pagar pembatas
penanda tidak boleh masuk. Kecuali rumah adat Kolaka, menurut
salah seorang anggota keluarga yang menghuni rumah tersebut,
bagian atapnya yang rusak baru saja diganti oleh Pemkab Kolaka.

a) Rumah Adat Muna

Gambar 2.11. Rumah Adat Muna


(sumber dari dokumentasi pribadi)

20 | P a g e
b) Rumah Adat Tolaki

Gambar 2.12. Rumah Adat Tolaki


(sumber dari dokumentasi pribadi)

c) Rumah Adat Kolaka

Gambar 2.13. Rumah Adat Kolaka


(sumber dari dokumentasi pribadi)

21 | P a g e
d) Rumah Adat Buton

Gambar 2.14. Rumah Adat Buton


(sumber dari dokumentasi pribadi)

e) Gedung Setiap Instansi Pemprov


Puluhan bangunan instansi pemerintah Provinsi Sultra
yang pernah dibangun sebagai tempat promosi dan informasi
menggunakan biaya yang cukup besar dalam kawasan seluas
lebih 13 hektar yang berpagar susunan batu alam mirip dinding
Benteng Keraton Wolio di kota Baubau, Pulau Buton, kini
semuanya tinggal puing, dinding-dinding bangunannya sudah
roboh, kerangka besi bangunan sebagian besar telah hilang.

Gambar 2.15. Gedung Setiap Instansi Pemprov


(sumber dari dokumentasi pribadi)

22 | P a g e
f) Monumen
Air merupakan unsur penyejuk. Pada sirkulasi melingkar yang
terjadi dimonumen terdapat unsur air yang hal ini tidak
berfungsi. Rusak sebagian fasilitas karena kurangnya sentuhan
dari pengelolah.

Gambar 2.16. Monumen


(sumber dari dokumentasi pribadi)

g) Gedung Auditorium
Gedung Auditorium Pemerintah Sulawesi Tenggara yang
dibangun dalam kawasan P2ID entah apa sebabnya sudah cukup
lama tidak difungsikan dan kini dijadikan sebagai ruang sekolah
SMK Tambang Nusantara.

Gambar 2.17. Gedung Auditorium


(sumber dari dokumentasi pribadi)

23 | P a g e
h) Kantor Dinas Pariwisata

Gambar 2.20. Kantor Dinas Pariwisata


(sumber dari dokumentasi pribadi)

i) Kantor Kecamatan Kadia

Gambar 2.21. Kantor Camat Kadia


(sumber dari dokumentasi pribadi)

d. Sejarah Dan Perkembangan


P2ID adalah warisan pembangunan Almarhum La Ode
Kaimoeddin, Gubernur ke 4 Sulawesi Tenggara. Oleh pendirinya,
bercita-cita membangun P2ID mirip taman Mini Indonesia Indah
(TMII), dimana akan menjadi miniatur melihat Sultra dalam satu
lokasi. Di sana bisa dilihat deretan rumah adat Sulawesi Tenggara,

24 | P a g e
serta semua stand milik pemerintah kota/kabupaten se Sultra berdiri
kokoh.
Sayang, seiring pergantian kepemimpin, keberadaan lokasi
P2ID pun ikut meredup. Bahkan, sejak dua gubernur terakhir lokasi
ini tak pernah lagi digunakan, bahkan dibiarkan menghutan. Banyak
fasilitas yang dijarah oleh orang-orang tak berytanggung jawab.
Satu persatu bangunan yang dulu megah yang dibangun dari dana
publik bernilai miliaran rupiah pun ambruk di makan rayap.
Pemerintah Provinsi selaku pemilik aset seolah menutup mata rapat-
rapat.
Melihat kondisi lokasi P2ID saat ini, seolah membenarkan
ocehan-ocehan pascareformasi, bahwa pemerintah sudah cukup
mahir merancang program pembangunan berbiaya besar tapi belum
pandai memeliharanya. Paling parah banyak kasus proyek dirancang
menurut keinginan pucuk pimpinan di daerah, ganti pimpinan ganti
program.
e. Pedoman Perencanaan Lokasi
Undang-undang nomor 10 ahun 2009 merupakan dasar hukum
pengembangan pariwisata. Pada pasal 6 undang-undang tersebut
dikatakan bahwa pembangunan kepariwisataan dilakukan
berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 (manfaat,
kekeluargaan, demokratis, kesetaraan dan kesatuan) yang
diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan
kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan
dan kekhasan budaya alam, serta kebutuhan manusia untuk
berwisata. Pasal 8 ayat 1 disebutkan bahwa pembangunan
kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan
kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan
kepariwisataan provinsi, dan rencana induk pembangunan
kepariwisataan kabupaten/kota.

25 | P a g e
Ayat 2, pembangunan kepariwisataan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana pembangunan
jangka panjang nasional. Pasal 11, pemerintah bersama lembaga
yang terkait dengan kepariwisataan menyelengarakan penelitian dan
pengembangan kepariwisataan untuk mendukung pembangunan
kepariwisataan. Serta pasal 12 undang-undang nomor 10 tahun 2009
mengenai aspek-aspek penetapan kawasan strategi pariwisata.
Munculnya Perda nomor 1 tahun 2012 itu merupakan peralihan
perda nomor 7 tahun 2012 tentang RTRW yang sudah terakhir tahun
2010 dan masih menggunakan UUD penataan ruang lama nomor 24
tahun 1992. Perda ini lahir juga merupakan amanah UU nomor 26
tahun 2007 tentang penataan ruang. Kawasan strategi kota kendari
dari sudut kepentingan ekonomi dan lingkungan telah dibagi empat
kawasan meliputi, kawasan teluk kendari dan pusat kota sebagai
pusat-pusat konservasi, pusat kegiatan pariwisata, pusat
pemerintahan, pusat kegiatan komersial dan jasa dikecamatan
mandonga, kecamatam kadia, kambu dan kecamatan poasia.
Pariwisata kota kendari sebagai ibukota memiliki potensi
dibidang pariwisata yang meliputi wisata pulau, budaya, pantai
maupun wisata agro. Adapun wisata budaya dikota kendari salah
satunya Pusat Promosi Dan Informasi (P2ID) dari potensi yang ada ,
semua dikelola secara tradisional.
f. Analisa Pengunjung
10 tahun terakhir pengunjung di daerah THR lebih dari tidak
pernah. Banyak pengunjung yang datang bukan sebagai pengunjung
kawasan tersebut, melainkan sebagai tempat mesum ataupun tempat
esek-esek sebagian oknum bahkan membangun gubuk-gubuk
sebagai tempat mesum.
g. Aktivitas Dan fasilitas THR Kota Kendari
 Aktifitas

26 | P a g e
 Sebagai pusat promosi dan informasi daerah,
 kantor dinas pemuda dan olahraga pariswisata pun berada
didalam kawasan tersebut,
 salah satu jalur menuju tempat ibadah (pura) bagi
masyarakat sebelah selatan kawasan,
 gedung yang dulunya sebagai Auditorium sekarang beralih
fungsi sebagai SMK pertambangan nusantara.
 Pelestarian budaya Sulawesi tenggara
 Fasilitas
 Rumah Adat Buton, Muna, Kolaka, Tolaki
 Lapangan Bola
 Area pemancingan
 Monumen
 Gedung Auditorium
 Gedung Pengelolah
 Gedung Setiap Instansi-Instansi
h. Pengelolaan THR Kota Kendari
Untuk saat ini THR yang berlokasi DiP2ID dikelolah oleh
Pemerintah, akan tetapi Perusahaan Daerah (PD) Utama Sulawesi
Tenggara (Sultra) mengungkapkan PT Pembangunan Jaya yang tak
lain adalah pengelola pusat hiburan Ancol dan Taman Mini
Indonesia Indah (TMII) tertarik melakukan ekspansi di Kota
Kendari, Sultra. Lokasi yang dilirik untuk mengembangkan
bisnisnya adalah Pusat Promosi Informasi Daerah (P2ID) yang telah
lama terbengkalai.
Rencananya, kawasan P2ID akan dijadikan sarana hiburan
keluarga dengan fasilitas arena bermain, taman dan sarana lainnya.
Bahkan, nantinya akan dibuat kawasan khusus yang menyajikan
miniatur Sultra seperti TMII.

27 | P a g e
i. Dasar Perencanaan Lokasi
Ingin Dijadikannya Sebagai Miniatur Sulawesi Tenggara. Cita-cita
gubernur pada masa itu.
C. Tinjauan Khusus
1. Pengertian Arsitektur Rekreatif
pengertian Arsitektur rekreatif adalah seni bangunan yang dalam
perancangan dan perencanaannya didasari oleh metode ekspresi rekreasi
Secara lansung dengan tujuan untuk dapat menjelaskan dan mengaplikasi
unsur– unsur penting dari rekreasi Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap jenis rekreasi merupakan pertimbangan atas faktor-faktor
pengelompokkan, karakter dan sifat dari rekreasi itu sendiri
2. Tujuan Rekreasi
Tujuan dari kegiatan rekreasi adalah untuk mendapatkan hal-hal yang
dianggap dapat memuaskan kebutuhan lain, antara lain :
 Mendapat kesenangan dan kepuasan
 Memulihkan dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
 Memupuk dan mengembangkan ketrampilan dan kreativitas
 Pembentukan kepribadian
 Menciptakan dan membina kelestarian lingkungan hidup
 Membina, mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai budaya
bangsa.
3. Jenis-jenis Rekreasi
Menurut Patricia Farrel dalam Process of Recreation Programming
dan Ivor Selly dalam Outdoor Recreation and The Urban
Environment,bahwa jenis-jenis rekreasi, yaitu :
a. Berdasarkan jenisnya, rekreasi dibedakan menurut :
 Sifatnya
Rekreasi dapat bersifat mendidik, sport, tontonan, atau permainan.
 Objeknya

28 | P a g e
 Aktif, yaitu jika manusia terlibat di dalam objek rekreasi,
baik secara langsung ataupun tidak langsung, seperti : kolam
renang, taman-taman kota, dsb.
 Pasif, yaitu jika manusia terlibat di dalam objek rekreasi
tersebut, seperti : film, sandiwara, dan sebagainya.
 Tingkatan Umur
Biasanya unutk anak-anak, remaja, dan dewasa
 Waktu pelanggaran
Pagi, siang dan malam
 Tempatnya
Kegiatan didalam ruangan (indoor) atau diluar ruangan (outdoor).
b. Ditinjau dari segi fasilitas, tempat rekreasi mempunyai 2
kategori:
 Fasilitas khusus ( yang bersifat spesifik )
Fasilitas khusus hanya ada di tempat itu dan jarang ditemukan di
tempat lain. Fasilitas spesifik ini yang mendorong mesyarakat
datang untuk mengunjunginya.
 Fasiitas pokok ( yang harus ada )
c. Klasifikasi sarana olahraga rekreatif
 Berdasarkan sifat ruang
 Dilakukan didalam bangunan
 Dilakukan diluar bangunan
 berdasarkan kelompok usia pemakai
 Untuk anak-anak : area bermain anak
 Untuk dewasa : gedung olahraga, lapangan olahraga
 Berdasarkan jenis penggunanya
 Rekreasi komunal (multi used) terdiri dari bermacam-macam
aktifitas yang dapat dilakukan dalam kompleks.
 Rekreasi tunggal (single used), terdiri dari satu macam
kegiatan utama.

29 | P a g e
 Sarana pelengkap (servis used), untuk melayani rekreasi di
luar bangunan.
 Berdasarkan fungsinya menyeimbangan waktu istirahat
 Rekreasi harian
 Rekreasi mingguan
 Rekreasi liburan
 Berdasarkan ruang lingkup
 Lingkup perumahan
 Lingkup wilayah, terdiri dari beberapa fasilitas rekreasi
dengan lingkup perumahan
 Lingkup perkotaan, untuk pemalkaian umum dalam kota
 Lingkup daerah regional, terletak di dalam atau di luar kota
dan melayani beberapa daerah sekitarnya
 Lingkup nasional, sifatnya nasional dan mempunyai karakter
tersendiri
 Lingkup internasional, melayani seluruh dunia.
 Berdasarkan keterkaitan pemakai dikaitkan dengan lokasi.
 Rekreasi darat, seperti :berkuda, atletik, hiking, kemping
 Rekreasi air atau bahari, seperti : memeancing, renang,
power boating
 Rekreasi udara, seperti : terjun payung dan olahraga udara
lainnya
 Berdasarkan aktifitas/kegiatan
 Big muscle activities : rekreasi yang membutuhkan tenaga
atau fisik.
 Social activities : rekreasi yang bertujuan sosial, seperti :
bercakap-cakap, jalan-jalan bersama melibatkan interaksi
sosial berbagai kegiatan utama.

30 | P a g e
 Physical recreation : memerlukan usaha atau kegiatan fisik
sebagai kegiatan utama.
 Cognitive recreation : melibatkan kebudayaan, pendidikan
dan kreatifitas.
 Environment-related recreation : rekreasi yang
memanfaatkan potensi alam dalam kegiatannya, seperti
olahraga arung jeram.
 Rhythms dan music : rekreasi yang diakibatkan oleh irama
dan musik yang memberikan kesenangan, persahabatan,
seperti bernyanyi dan berdansa.
 Hand intellect : rekreasi yang mengembangkan ketrampilan
tangan dan pikiran, misalnya : melukis dan mematung.
 Creative play : rekreasi yang mengembangkan imajinasi,
daya khayal akan sesuatu yang bukan sesungguhnya,
misalnya : membuat bangunan dari pasir.
 Nature learning : rekreasi di alam terbuka (berkemah dan
mendaki gunung)
 Mental : rekreasi yang merupakan ekspresi dari aktifitas
masyarakat yang bersifat mendidik, misalnya : berdebat,
berdiskusi, dan lain-lain.
 Collecting : mengumpulkan benda-benda sebagai hobi,
masuk ke dalam kelompok sosial tertentu atau memilih salah
satu cara kehidupan yang khusus
 Service activities : sebagian orang tertentu merupakan
kesenangan tersendiri jika melakukan pelayanan kegiatan
umum, misalnya : sebagai juri, guru, dan lain-lain.
 Shopping activities : sebagian orang berbelanja menjadi
aktifitas rekreasi yang merupakan suatu kesenangan. Antara

31 | P a g e
lain : kesempatan untuk memperoleh pelayanan, kesenangan
dalam tawar-menawar, cuci mata dengan melihat-lihat.
 Relaxation : rekreasi yang bertujuan melepaskab diri dari
ketegangan dan kelelahan mental dan fisik untuk mencapai
kesenangan dan kesegaran, misalnya : menikmati
pemandangan alam, duduk di tamna, dan lain-lain.
 Solitude : menyendiri untuk melepaskan kesibukan sehari-
hari dengan beristirahatdi tempat tertentu yang sepi, seperti
keluar kota, ke gunung.
4. Interpretasi Rekreatif
Hal-hal yang dapat mendukung suasana rekreatif dari lingkungan
binaan yang dibentuk adalah :
 Skala
 Dalam arsitektur menunjukkan perbandingan antara elemen
bangunan atau ruang dengan suatu elemen tertentu.
 Untuk menciptakan suasana rekreatif maka skala yang digunakan
adalah skala intim dan skala perkotaan.
 Skala intim dapat memberikan suasana akrab dan dekat dengan
sesama manusia maupun lingkungannya. Sedangkan skala
perkotaan membuat manusia merasa memiliki atau kerasan pada
lingkungan tersebut.

32 | P a g e
Gambar 2.22. Skala
(bersumber dari google.com)
 Warna
Penerapan warna dalam kasus disain adalah untuk memberikan
pengaruh psikologis terhadap manusia. Dalam arsitektur rekreatif
dibutuhkan penerapan warna yang memberikan kesan yang bermacam-
macam selama hal itu tidak memberi gangguan psikologis terhadap
pengguna.

33 | P a g e
Gambar 2.23. Warna
(bersumber dari google.com)

34 | P a g e
 Tekstur
Tekstur adalah titik kasar atau halus, titik-titik halus atau kasar yang
tidak teratur pada suatu permukaan. Titik-titik ini dapat berbeda dalam
ukuran, warna, bentuk, atau sifat dan karakternya.
Fungsi tekstur dapat memberi kesan pada persepsi manusia melalui
penglihatan visual dapat menghilangkan kesan monoton.

Gambar 2.24. Tekstur


(bersumber dari google.com)

 Bentuk
Bentuk adalah jalan untuk mengatur dan mengartikulasikan material di
dalam ruangan, sama halnya dengan tata bahasa menyusun kata-kata
ke dalam suatu bahasa. Bentuk juga adalah konsep disain, sedangkan
materialmembentuk ekspresi dari bentukan tersebut.
Pemikiran bentuk di balik disain adalah pemodelan mental yang
menjelaskan pemikiran-pemikiran lain untuk memahami
penyusunannya.

35 | P a g e
Gambar 2.25. Bentuk
(bersumber dari google.com)

 Unsur-unsur Alam (rekreasi alam)


Dengan memasukkan unsur-unsur alam ke dalam bangunan. Misalnya
: tanaman dan air.

Gambar 2.26. Unsur-Unsur Alam


(bersumber dari google.com)

 Adanya pergerakan manusia terhadap aktifitas


Pergerakan selalu menarik perhatian untuk dilihat. Pergerakan bisa
berupa manusia yang bergerak melewati jalur sirkulasi horizontal dan

36 | P a g e
vertical. Aktifitas itu dapat dengan sendirinya menimbulkan kesan
yang rekreatif, seperti halnya pameran, show dan lain-lain.
 Ruang yang digunakan bersama
Ruang yang dapat digunakan bersama-sama seperti plaza, ruang ini
dapat dipakai bersama tanpa batas-batas sehingga antar individu dapat
saling berinteraksi.
 Orang bisa saling melihat
Secara naluriah manusia mempunyai kebutuhan untuk bersosialisasi,
melihat dan dilihat orang.
 Eksploratif
Mengundang para pengunjung untuk ikut berapresiasi, mengalami,
merasakan segala sesuatu di dalam bangunan. Misalnya berupa
sesuatu yang dapat dipegang, diraba, diserap, dimainkan dan
sebagainya. Hal ini dapat dicapai dengan permainan tekstur.

Gambar 2.27. Eksploratif


(bersumber dari google.com)

 Informal
Sesuatu yang informal biasanya menarik. Sesuai dengan konsep
rekreasi yang menampilkan sesuatu yang berbeda dari kehidupan
sehari-hari yang biasanya formal dan penuh keteraturan.

37 | P a g e
Gambar 2.28. Informal
(bersumber dari google.com)

 Dinamis
Menampilkan sesuatu yang bergerak, bukan sesuatu yang statis atau
diam. Dapat dilakukan dengan bentukan ruang, sirkulasi yang
mengalir dan menarik serta permainan pola lantai.

Gambar 2.29. Dinamis


(bersumber dari google.com)
 Unsur cahaya
Peranan cahaya sangat penting dalam penciptaan suasana eksterior
maupun interior yang diinginkan, baik itu pencahayaan alami ataupun
pencahayaan buatan.

38 | P a g e
Gambar 2.30. Unsur Cahaya
(bersumber dari google.com)

 Bentuk Yang beraneka ragam dalam bangunan


Permainan bentuk yang berbeda-beda dan digabungkan menjadi satu
akan menimbulkan suasana yang berbeda dan dinamis.
 Penataan ruang sesuai fasilitas yang ada
Tata ruang diusahakan tidak terlalu monoton, yaitu
denganpengelompokan berdasarkan fungsi secara mencolok.
 Sekuens ruang yang bermacam
Sekuens ruang yang berbeda akan memberikan pengalaman ruang
yang berbeda pula.
 Triangulasi
Triangulasi adalah sesuatu yang menyatukan, mengumpulkan orang
yang tidak saling mengenal dalam satu kegiatan yang sama mungkin
bisa saling berinteraksi. Misalnya: dalam pertunjukan, atraksi atau
hanya sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Gambar 2.31. Triangulasi


(bersumber dari google.com)

39 | P a g e
Arsitektur rekreatif sebagai tema bertujuan untuk memudahkan
dalam mengaplikasikan sifat rekreasi itu sendiri pada kasus
permasalahan. Selain itu untuk menyelaraskan kebutuhan ruang sebagai
pemecahan masalah dari perancangan.
D. Studi Banding
1. Taman Hiburan Remaja Kota Surabaya
Taman Hiburan Remaja(THR) adalah salah satu dari sekian banyak
tempat rekreasi di wilayah Surabaya. Nama THR mungkin sudah tidak
asing lagi didengar di kalangan remaja, anak-anak maupun orang tua.
Selain banyak permainan disana, lokasi yang terletak di dalam kota inilah
mungkin yang dijadikan pilihan kenapa THR banyak dikunjungi orang.
Apalagi tarif masuk yang dipatok disana relatif murah dan bisa dijangkau
oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sehingga tempat rekreasi
yang dikelola oleh Pemkot Surabaya ini banyak dijadikan pilihan untuk
berkubur bersama keluarga. Taman hiburan ini terletak di jl. Kusuma
Bangsa 112-114, Surabaya Timur. Dengan usianya yang lebih dari 30
tahun, Taman Hiburan Remaja Surabaya ini semakin profesional dalam
menangani kinerja dari setiap fasilitas dan arena permainan yang tersedia.
Hal ini demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi para
pengunjung yang ingin menikmati hiburan dan rekreasi di Taman Hiburan
Remaja Surabaya ini.

40 | P a g e
Gambar 2.32. Taman Hiburan Remaja Kota Surabaya
(bersumber dari : http://tamanremaja.net/)

2. Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo


Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari merupakan sebuah objek
wisata yang menjadi Objek wisat unggulan di Kota Surakarta, terletak di
Jl.Slamet Ryadi No. 275 Surakarta. Taman Hiburan Rakyat (THR)
Sriwedari dilengkapi dengan berbagai macam wahana permainan anak dan
panggung hiburan. Wisatawan yang datang cukup berimbang dari anak –
anak, remaja, hingga dewasa, ini dikarenakan memang objek wisata ini
mengusung konsep kekeluargaan.Mayoritas wisatawan yang berkunjung
berasal dari kota Surakarta dan Karanganyar, mereka datang bersama
teman, pasangan, dan keluarga mereka. Harapan wisatawan agar pihak
pengelola menambahkan fasilitas dan jam buka objek agar bisa
memaksimalkan kenyamanan pengunjung.

41 | P a g e
Gambar 2.33. Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo
(bersumber dari https://www.indonesiakaya.com)

42 | P a g e