Anda di halaman 1dari 13

I

BAB I

KAPITA SELEKTA ILMU ANESTESIA

Susilo Chandra, M. Alfan Mahdi

SEJARAH ANESTESIOLOGI

Anestesia muncul sebagai salah satu ilmu yang paling berkembang di dunia kedokteran'
Tindakan anestesia yang pertama kali dilakukan di dunia modern dan ditujukan untuk
mengurangi rasa nyeri dipresentasikan di depan publik oleh William T.G. Morton (1819-1868)
pada tahun 1846. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah anestesia dunia. Sejak tahun iE46
hingga saat ini dunia anestesia berkembang pesat. Perkembangan anestesia selalu selaras
dengan perkembangan dunia bedah, keduanya saling mendukung, tanpa bisa meninggalkan
satu sama lainnya.

ANESTESIA UMUM

Tindakantindakan yang dilakukan untuk mencapai kondisi anestesia umum ternyata sudah
dapat dilihat pada tulisan-tulisan sejarah kuno Sumeria, Babylonia, Asiria, Mesir, Romawi,
yunani, Cina dan lndia. Pada masa renaissance di Eropa terdapat perkembangan yang pesat
di bidang anatomi dan pembedahan, namun tindakan pembedahan tetap menjadi pilihan
pada
terakhir untuk dilakukan karena diasosiasikan dengan nyeri yang tidak tertahankan. Baru
akhir abad ke-1g dan 19 awal, diperkenalkan teknik anestesia yang menjadi cikal bakal dari
anestesia modern.

pada akhir abad ke-19 terdapat perkembangan di bidang teori kuman (germ theory) yang
menjadi dasar perkembangan pembedahan modern. Berkat tindakan asepsis dan antisepsis,
morbiditas dan mortalitas yang dikaitkan dengan pembedahan jauh berkurang daripada
sebelumnya. Tindakan pembedahan berkembang dengan pesat baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Seiring dengan perkembangan itu, terdapat perkembangan yang pesat
pada bidang farmakologi dan fisiologi yang sangat membantu kemajuan bidang anestesia
umum dan kontrol nyeri.

pada abad ke-20, keamanan dan efikasi anestesia umum menjadi sangat terpercaya, seiring
dengan diperkenalkannya tindakan intubasi trakea dan berkembangnya teknik tatalaksana
jalan nafas lanjut. Perkembangan teknik pemantauan dan penemuan agen-agen anestetika
baru dengan profil farmakokinetik dan farmakodinamik yang lebih baik semakin mengeratkan
hubungan anestesia umum dengan pembedahan.

8 UKU AJ ARAfVSS TES'OI OG'


7

Sejarah Perkembangan Anestesia lnhalasi

Ether

William T.G. Morton (1819 - 1868) adalah seorang dokter gigi yang berjasa dalam
memopulerkan penggunaan ether. Awalnya ia mengetahui substrat ether dari gurunya,
Charles T. Jackson. la kemudian mempelajari bahwa penetesan larutan ether pada kulit
dapat menimbulkan insensibilitas kulit. Setelah itu ia mulai mempelajari ether untuk anestesia
inhalasi. Penggunaan ether untuk inhalasi lebih mudah dibandingkan nitrous oxide (NrO)
karena ether dapat disimpan dalam bentuk cairan di botol dan pemberiannya secara inhalasi
hanya membutuhkan konsentrasi yang kecil, sehingga menghindarkan pasien dari hipoksia.
Ether juga tidak menimbulkan efek samping depresi nafas pada dosis yang aman.

Pada tahun 1846, Morton mendemonstrasikan kepada publik pemberian ether secara inhalasi
untuk operasi vaskular di daerah leher. Operasi tersebut berjalan dengan sangat sukses. Meski
demikian Morton menyembunyikan jati diri gas ether yang ia gunakan. la memperkenalkannya
dengan nama Letheon (yang sebenarnya adalah gas ether yang ditambah pewarna). Beberapa
minggu kemudian, Morton mengakui bahwa gas yang ia pakai adalah ether. Tidak lama
setelah itu penggunaan ether menyebar ke seluruh Amerika dan dunia. Nama-nama dokter
setelah Morton yang menggunakan ether dalam sejarah anestesia adalah James Robinson
(1813-1862) seorang dokter gigi dari London yang menciptakan inhaler baru untuk ether dan
menulis buku anestesia pertama. Robert Liston (1794-1847) melakukan operasi amputasi kaki
pertama di lnggris. Kemudian Nikolai lvanovitch Pirogoff (1810-1881) menggunakan ether
pertama kali di Leningrad (St Petersburg), Rusia.

Pada tahun 1 849, dipublikasikan suatu laporan bahwa anestesia ether ternyata telah digunakan
lebih dini, yakni pada tahun 1842oleh Crawford Long (1815-1878). Oleh karena itu di dunia
anestesia modern, sejarah perkembangan ether tidak terpisahkan dari dua nama tersebut,
yakni Morton dan Long.

Nitrous Oxide (N-O)

Gardner G. Colton (1814-1898) mendemonstrasikan keberhasilan penggunaan NrO pertama


kali pada tahun 1867. la menggunakan NrO untuk tindakan pencabutan gigi oleh seorang
dokter gigi bernama Joseph H. Smith. Antara tahun 1864-1897, Colton Dental Association
te[ah berhasil melakukan pemberian gas NrO pada 200.000 pasien tanpa mortalitas. Di balik
kesuksesan Colton, sebenarnya pengetahuan mengenai penggunaan NrO masih sangat
sedikit.

Sampai tahun'1870 NrO diberikan bersama dengan udara. Terjadinya analgesia bersamaan
dengan kulit pasien yang berwarna biru membawa pertanyaan, apakah sifat analgesia yang
ditimbulkan oleh NrO dikaitkan dengan hipoksia. Hal itu dipatahkan oleh Edmund Andrew
(1824-1904) yang memperkenalkan penggunaan NrO dengan Or. Hal ini didukung oleh
paul Bert (1833-1886) yang menyatakan bahwa campuran NrO dan O, dapat menciptakan
keadaan anestesia yang memuaskan. Frederick Hewitt (1857-1916) menciptakan mesin
anestesia pertama yang menggunakan campuran NrO dan Or. Sejak saat itu penggunaan
NrO menjadi semakin luas dan dipopulerkan oleh Elmer l. McKesson (1881-1935), Paluel J.
Ftagg (1886-1970) dan F.W. Clement (1892-1970). Sekarang ini NrO masih tetap digunakan
dalam anestesia.

Kloroform

Marie Jean Flourens (1794 - 1867) pertama kali menggunakan kloroform (chloroform).
pada awalnya Flourens menggunakan kloroform pada anjing untuk mempelajari stadium
depresi SSP akibat penggunaan kloroform dan ether. Penggunaaannya pada manusia mulai
dilakukan oleh James young Simpson (1811-1870), seorang ahli obstetrik dari Skotlandia.
Karena ketidakpuasannya terhadap ether untuk analgesia persalinan, dia dan kolega-kolega
juniornya mencoba mencari zat lain yang dapat menggantikan ether. Pada suatu malam di
tahun 1847, setelah makan malam, Simpson dan teman-temannya mencoba menginhalasi
kloroform. Mereka kemudian jatuh tidak sadar dan setelah bangun merasa gembira dengan
kesuksesan mereka. Dua minggu kemudian, penggunaan kloroform dipublikasi oleh Lancet.

penggunaan kloroform menjadi mulai menjadi perhatian publik saat John Snow (1813 -1858)
menggunakannya untuk membantu persalinan ratu Victoria di lnggris pada tahun 1853. Dia
memberikan kloroform dengan sapu tangan dan kemudian teknik ini dikenal dengan teknik
chloroform d la reine. Ratu Victoria yang sangat puas terhadap teknik analgesia persalinan
dengan kloroform, kemudian mensahkan anestesia obstetrik di lnggris.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang dokter dan ilmuwan, John Snow menemukan
bahwa tindakan anestesia yang sukses adalah suatu kondisi anestesia yang dapat
menghilangkan nyeri dan gerakan-gerakan pasien terhadap stimulus saat operasi. Satu abad
kemudian dikembangkanlah konsep MAC. Snow menemukan hubungan antara tekanan gas,
solubilitas, dan potensi agen anestesia. la menciptakan inhaler kloroform. la juga menulis
buku mengenai ether dan kloroform.

Major Edward Lawrie (1846 - 1915) menyatakan kloroform aman digunakan, namun pada
tahun 1894 Leonard G. Guthrie menemukan kejadian hepatotoksik lambat pada anak kecil
akibat penggunaan kloroform. Penggunaan kloroform menjadi sangat tidak populer setelah
A. Goodman Levy (1856-1954) melaporkan kombinasi kloroform dengan adrenalin dapat
mengakibatkan fibrilasi ventrikel yang fatal pada binatang percobaan.

Anestetika lnhalasi Berfluorin

Pada awal perkembangannya, hampir semua agen anestetika inhalasi adalah zat yang
mudah terbakar. Fluorin adalah halogen teringan, dapat membuat ikatan kimia yang stabil

BLJKU AJ ARAru€STES'CItOG'
7

sehingga dapat rnemhuat sebuah substrat tidak mudah terbakar. Usaha untuk membuat
hidrokarbon yar']g terfluonnasi baru berhasil pada sekitar tahun 1930an, yakni freon. Pada
tahun 1932 HaroNd Booth dan E. Max Bibby mencoba membuat gas anestetika terfluorinasi,
monoklorodifluorometana (monochlorodifluoromethane), namun kurang berhasil. Setelah
perang dunia ll. pada tahun 1947, John C.Krantz, Jr., menyarankan fluorinasi ethylvinil ether
untuk anestesia inhalasi. Menanggapi hal tersebut, Julius Shukys menyiapkan beberapa
analog ether yang terfluorinisasi dan akhirnya satu dari agen tersebut menjadi anestetika
inhalasi terfluorinisasi pertama, yaitu fluroxene (1954-1974). Penggunaan fluroxene tidak
terlalu lama karena toksisitas serta kejadian mual dan muntah pascabedahnya yang tinggi.

Charles Suckling, seorang ahli kimia dari lnggris menciptakan halotan pada tahun 1954.
Kemudian ia memperkenalkan halotan pada James Raventos (1905-1983), seorang
farmakologis dan MichaelJohnstone, seorang anestesiologis. Telaahan terhadap halotan yang
positif oleh Johnstone pada tahun 1956 membuat penggunaannya meluas dan diterima di
dunia anestesia. Akan tetapitidak lama setelah itu diketahui bahwa halotan memiliki metabolit
yang bersifat hepatotoksik.

Penemuan halotan diikuti dengan penemuan metoksifluran (methoxyflurane) pada tahun


1960. Pada tahun 1970 diketahui bahwa zatini memiliki sifat nefrotoksik terkait dosis, akibat
kandungan fluorida inorganik.

Karena halotan bersifat hepatotoksik dan metoksifluran bersifat nefrotoksik, maka dicarilah
agen anestetika terfluorinasi baru yang tidak toksik dan berfokus pada sifat yang tidak mudah
terdegradasi oleh metabolisme tubuh. Pada tahun 1963 dan 1965 Ross Terrel menemukan
enfluran dan isomernya isofluran. Penemuan enfluran juga kurang memuaskan karena efek
depresi kardiovaskularnya dan potensinya dalam menimbulkan kejang. Sementara, pada saat
itu purifikasi isoflouran pun masih menjadi masalah. Baru pada tahun 1971, Louis Speers
menemukan teknik purifikasi isofluran yang efektif. Dua puluh tahun setelah pemasaran
isofluran, dipasarkan desfluran (1992) dan sevofluran (1994). Xenon yang sudah dikenalsejak
tahun 1950, tidak mendapat perhatian karena proses pembuatannya terlalu mahal.

Sejarah Anestesia I ntravena

Perkembangan anestesia intravena tidak terlepas dari kemajuan'pengertian mehgenai sistem


kardiovaskular. lde yang menyatakan bahwa darah dapat membawa obaVsubstans untuk
diedarkan ke seluruh tubuh pertama kali dikemukakan oleh Christoper Wren pada tahun 1657
yang mengamati efek pemberian opioid sistemik RadrlpnjinOnya. Apa yang dilakukan Wren
menjadi inspirasi peneliti kardiovaskular lainnya seperti Richard Lower (1631-1691) yang
mencoba melakukan transfusi darah pada binatang.

Baru pada abad ke-19 piranti-piranti yang diperlukan urltuk injeksi mulai ditemukan, sehingga
obat-obatan pada saat itu mulai dicoba diberikan secara injeksi. Alexander'lVood (1817-
1884) pada tahun '1855 memublikasikan artikel mengenai keberhasilan kontrol nyeri melalui
penyuntikan morfin di daerah nyeri dengan semprit kaca yang ia temukan.

B U KU AJ A R ATVFS TFS'OL OGI


Pada abad ke-19 penggunaan anestetika intravena masih tidak populer. Obat-obat anestetik
intravena yang ada masih kurang efektif, berbahaya dan tidak memiliki kelebihan bila
dibandingkan dengan zat anestetika inhalasi.

Anestesia intravena yang pertama kali berhasil pada pembedahan dilakukan oleh Pierre Cyprien
Ore (1 828 - 1891 ) pada tahun 1872 dengan kloralhidrat. Namun, beberapa kejadian kematian
pascabedah membuat metode ini tidak populer. Kemudian tahun 1909 Ludwig Burkhardt
menggunakan kloroform intravena. Pada tahun 1916 Elisabeth Bredenfeld menggunakan
morfin dan skopolamin intravena namun hasilnya juga dinilai kurang sukses.

Pada tahun 1903 Emil Fischer (1852- 1919)dan Josef von Mering (1849-1908), menciptakan
Barbital, obat golongan barbiturat pertama. Namun penggunaan fenobarbital dan pentobarbital
kurang digemari sebagai anestetika intavena terkait onset yang lambat dan durasinya.
Barulah pada tahun 1932, heksobarbital ditemukan oleh Helmut Weese (1897 - 1954) dan
penemuannya mengubah paradigma di dunia anestesia. Onset obat ini sangat cepat dan
penggunannya lebih digemari untuk pasien rawat jalan. Tidak lama setelah itu dua tiobarbiturat
ditemukan, yakni tiopental dan tiamilal. Tiobarbiturat terbukti lebih poten dan memiliki durasi
kerja yang sangat pendek, sehingga dinilai sangat memuaskan penggunaannya dalam
anestesia. Ahli-ahli anestesiologi pada saat itu sudah menyadari efek samping depresi nafas
daribarbiturat, namun d"prerikatdioua masih belum mendapat
"f"k5,odilrluridan
perhatian khusus. Setelah insiden Pearl Harbour, tiopental mendapat julukan "the ideal form of .

euthanasia in war surgerl/'akibat efek vasodilatasinya yang menyebabkan banyak kematian


pada tentara-tentara Amerika yang mengalami luka bakar dan hipovolemia. Mulai sejak itu,
preloading cairan intravena digalakkan dan tiopental digunakan secara lebih berhati-hati.

lgruupu merupakan agen


Ob"t golongan bentodiurepin yakni midazolam,diagfp--,d^n
intravenayangdigunakanuntukmenghilangkankecemasandan@seperti
barbiturat namun efeknya lebih lemah. Percobaan klinis terhadap obat-obat golongan ini mulai
dilakukan pada tahun 1933 di Universitas Krakow, Polandia, dengan obat pertamanya yakni
klordiazepoksida (Librium) yang dipasarkan tahun 1960, diikuti oleh diazepam (1963) dan
-
midazolam (1973).

Ketamin diciptakan pada tahun 1962 otefr dLtslyln ttefns. Ketamin adalah satu-satunya
obat golongan silloheksilamin yang dapat digunakan secara klinis. Pada tahun 1966, Guenterr
Corsen dan Edward Domino menggunakan istilah'anestesta disosiatif'untuk mendeskripsikan
kerja ketamin. Pemasarannya baru dilakukan padatahun 1970. Saat iniefek,analgetik ketamin
banyak dipelajari karena penggunaannya sangat potensial di bidang penatalaksanaan nyeri.
4-------_--\
(Etomidatzbiperkenalkan
\- ----/ pertama kali oleh Paul Janssen pada 1964 namun baru pada tahun
1974 mulai dipasarkan. Kelebihan etomidat adalah depresi kardiovaskular yang minimal dan
tidat< merangsang oe n. Walaupun memiliki beberapa Kg-tggjgqseperti qygll
saat penvuntikan, mioklonus, mual-muntah, dan supresi adtenal, sampai saat ini etomidat
masih digemari penggunaannya untuk pasien yang keadaan hemodinamiknya tidak stabil.
Propofol disintesis oleh lmperial Chemical lndustries dan menjalani serangkaian tes secara
klinis pada tahun 1977. Hal yang membuat peneliti tertarik terhadap propofql adalah cepatnya
onset hipnosis, eksitasi minimal dan segera setelah pemberian propofol dihentikan, pasiep
pun langsung bangun. Selain itu propofol iuqa memiliki efek anti mual Pelarut propofol
pertama Cremophor E/ menyebabkan beberapa kejadian anafilaktik berat, sehingga ditarik dari
pasaran. Kemudian petarut propofot cll engan lecithin, gliserol dan minvak kedelai
yang tidak menimbulkan efek sampinp ag[!.!e!!K. Supresi reflek faring yang ditimbulkan oleh
propofol sudah cukup untuk pemasangan LMA tanpa disertai penambahan pelumpuh otot
atau agen anestetika inhalasi.

Sejarah Perkembangan Opioid

Opioid merupakan analgesik utama di bidang anestesia. Opioid digunakan untuk tatalaksana
perioperatif, tatalaksana nyeri akut dan pada beberapa kasus nyeri kronik. Efek analgetik
dan sedasi dari opium telah diketahui sejak dua milenium lalu dan sudah digunakan pada
peradaban Yunani dan Cina kuno.

Morfin pertama kali diisolasi oleh Freidrich A.W. Sertuner pada tahun 1803. Baru pada
pertengahan akhir abad ke-19 morfin sering digunakan sebagai suplemen dalam anestesia
inhalasi dan digunakan untuk mengatasi nyeri pascaoperatif. Fqdgn ditemukan pada tahun
1832' Karena llqt analgetiknya yang lemah dan efelLrnuaLmunbb' obat ini tidak terlalu
digemari untuk penatalaksanaan nyeri pascaoperatif.

Meperidin adalah opioid sintetik pertama yang ditemukan oleh Otto Eisleb dan O. Schaummann
pada tahun 1939 P=y.l_!gry!"1 adalah seorang peneliti yang menemukan fentanyl pada
tahun 1960, droperidol pada tahun 1961 dan etomidat pada tahun 1964. Obat-obatan
turunan fenilpiperidin temuan Janssen, di antaranya Edg-!yl, sjlg!le!1!, dan alfentanil,
merupakan opioid-opioid sintetik utama yang sampai saat ini digunakan. Remifentanil, sebuah
opioid dengan durasi kerja ultra cepat diperkenalkan pada tahun 1996.

Sejarah Perkembangan Pelumpuh Otot

Obat pelumpuh otot merupakan bagian integral dalam praktik anestesia sehari-hari. Sejarah
obat pelumpuh otot tidak dapat dipisahkan dari penemuan kurare pada hampir 500 tahun yang
lalu ketika penjelajah pertama yang kembali dariAmerika Selatan menceritakan tentang panah
beracun yang dapat melumpuhkan korbannya. Charles-Marie de la Condamine (1701-1774)
adalah orang pertama yang membawa sampel racun tersebut ke Eropa. Richard Brocklesby
(1722-1797)kemudian menggunakan racun darisampeltersebut pada binatang percobaannya
(kucing). la mengamatijantung kucing tersebut terus berdenyut selama2lam setelah kucing
itu tampak seperti mati akibat pemberian kurare. FlorentineAbbas Felix Fontana (1720-1805)
mencoba menyuntikkan kurare langsung ke dalam saraf skiatik dan mengamati tidak ada efek
yang terjadi. la menyimpulkan bahwa kurare memengaruhi iritabilitas otot.

BUKU AJAR ANESTSS'OIOGT


Baru percobaan Brodie dan Waterton pada tahun 1814 yang akhirnya menggambarkan
bsgaimana kurare bekerja. Mereka memberikan kurare pada keledaiyang kemudian diberikan
ventilasi buatan selama 2 jam setelahnya saat keledai itu tampak "mati". Setelah dua jam
keledai itu bangun kembali. Setelah itu Claude Bernard (1813-1878) dalam percobaannya
menemukan bahwa kurare bekerja pada jaras penghubung antara saraf dengan otot. Beberapa
tahun kemudian muridnya Willy Kunhe (1837-1900) menemukan jaras penghubung itu adalah
neu ro m u scular ju nctio n.

Walaupun Waterton menyarankan bahwa kurare dapat digunakan pada pengobatan


tetanus dan rabies, penggunaan kurare pada penyakit-penyakit tersebut tetap jarang akibat
ketersediaannya yang langka. Sampai lebih dari 100 tahun setelahnya, penggunaan definitif
obat tersebut dalam dunia klinis masih menimbulkan tanda tanya.

Kurare mulai pertama kali dikenalkan di dunia klinis oleh Richard C. Gill (1901-1958) untuk
mengobati gejala spasme. Kemudian Abram E. Bennett, menggunakannya sebagai ajuvan
pada terapi konvulsi. Barulah pada tahun 1940, E.R. Squibb, Lewis H Wright dan Harold R.
Griffith mencoba menggunakan kurare di dunia anestesia. Griffith bersama rekan juniornya
Enid Johnson melaporkan keberhasilan penggunaan kurare pada 43 pasien untuk relaksasi
otot selama pembedahan pada tahun 1942. Mereka menyimpulkan bahwa agen tersebut
memberikan relaksasitanpa mengganggu respirasi. Hal ini kemudian diikutioleh Stuart Cullen
(1909-1979), yang sangat antusias dalam mendukung penggunaan kurare untuk memberikan
relaksasi otot dengan anestesia umum yang tidak dalam. T. Cecil Gray (1913) memopulerkan
obat ini di lnggris dan mengembangkan teknik anestesia yang terdiri atas relaksasi otot
yang dalam, pemberian Nr@ dan Or. Phyllis Harroun menggunakan dosis tinggi kurare, NrO
dan morfin untuk operasi toraks tanpa menggunakan agen inhalasi yang mudah terbakar
dan memublikasikan keberhasilannya pada tahun 1946, Pada tahun 1947, William Neff
menggunakan Np dan Q, ditambah dengan meperidin dan kurare. Dilaporkan tercapainya
kondisi anestesia yang menguntungkan dengan regimen tersebut.

Dalam sebuah laporan pada tahun 1954, Henry K. Beecher (1907-1976) dan D.P. Todd
menyimpulkan bahwa penggunaan kurare menyebabkan peningkatan komplikasipascaoperatif
dan kematian hampir enam kali lipat. Churchill-Davidson dan Richardson pada tahun 1952
menyarankan perlunya dikembangkan suatu teknik yang berguna untuk memantau derajat
blokade neuromuskular.

Gallamine triethiodide diperkenalkan pada tahun 1947. Seperti kurare, galamine memiliki
efek yang tidak diinginkan pada sistem saraf otonom. Pada tahun 1949 succinylcholine mulai
diperkenalkan secara klinis oleh Daniel Bovet (1907-1992). la memenangkan Hadiah Nobel
pada tahun 1957 terkait dengan penemuan galamin dan suksinilkolin ini.

Kemajuan dalam bidang kimia memungkinkan sintesis agen pelumpuh otot yang tidak memiliki
efek otonom. Sejak penemuan kurare, ditemukan hampir 50 agen pelumpuh otot, namun
banyak darijenis obat-obatan ini ditinggalkan karena efek sampingnya yang tidak diinginkan.
Sekarang ini obat-obat pelumpuh otot dengan profil keamanan yang baik dan berbasis steroid

.rtri:::i.rrirrr:ir:.r:r::iiir..r::

& {-,K{J A J,S ffi A'VSS rSSf 6L SG g


a
seperti pankuronium (1966), vekuronium ('1980), dan rokuronium (1991), telah menggantikan
obat-obat pelumpuh otot yang lebih tua seperti kurare dan galamin.

ANESTESIA REGIONAL

Sejarah Perkembangan Anestesia Regional Secara Umum

Sejarah anestesia regional tidak dapat dipisahkan dari penemuan kokain. Kokain yang
merupakan ekstrak dari daun koka merupakan anestetika lokal pertama. Yang pertama kali
memperkenalkan kegunaan klinis kokain adalah Carl Koller (1857-1944) pada tahun 1884.
Berangkat dari ketidakpuasannya akan tindakan anestesia untuk operasi daerah mata pada
saat itu, Koller mencari teknik anestesia lain yang tidak memiliki kekurangan seperti anestesia
umum dengan ether atau kloroform. Sejak menjadi mahasiswa kedokteran Koller mencari
agen anestetika lokal untuk mata, sampai secara tidak sengla ia menemukan profil yang
tepat pada 'zat stimulan otak' yang bernama kokain, kiriman koleganya Sigmund Freud.
Setelah melakukan percobaan pada binatang ia mencoba meneteskan kokain pada bagian
kornea matanya dan korneanya menjadi insensitif terhadap sentuhan. Hasil penemuannya
ini dipublikaskan pada kongres oftalmologis di Heidelberg Jerman pada September 1884.
Penemuan Koller kemudian merevolusi tindakan operasi mata dan secara tidak langsung
operasi-operasi lainnya yang memerlukan anestesia lokal.

Dosis anestesia kokain pada daerah hidung, mulut, laring, trakea dan rektum serta uretra
ditemukan pada tahun 1884. Kemudian ditahun yang sama juga, William Halsted dan Richard
Hall melakukan blok sensoris pada saraf ditangan dan di muka dengan menggunakan kokain.
Bahkan Halsted juga sudah menggunakan kokain untuk melakukan blok pleksus brakialis.

Anestesia Spinal

Pada tahun 1885, Leonard Corning (1855-1923) seorang neurolog memperkenalkan


istilah "anestesia spinal", namun beberapa tahun setelahnya diketahui bahwa teknik yang
dilakukannya pada saat itu sebenarnya lebih tepat dinamakan teknik anestesia epidural.
Pengertian mengenai anatomi duramater dan tempat melakukan pungsi lumbal yang aman
merupakan kontribusi Heinriech Quincke. Teknik pungsi lumbaljuga dilaporkan secara terpisah
oleh Walter Wynter (1860 - 1945). Baru pada tahun 1898, August Bier dan asistennya August
Hilderbrant melakukan anestesia spinal pertama dengan menggunakan metode penyuntikan
Quincke untuk memasuki rongga intratekal kemudian memasukkan kokain ke dalamnya.

Keberhasilan teknik anestesia Bier kemudian menyebar dengan cepat sehingga banyak yang
melakukan anestesia spinal, di antaranya J.B. Seldowitsch tahun 1899, Frederick Dudley
Tait ('1862 - 1918), Guido Caglieri (1871 - 1951), Theodore Tuffier tahun 1899 dan Rudolf
Matas (1860 - 1957). Arthur E. Barker (1850 - 1916) mempelajari mengenai faktor-faktor

Rr tKt t a ta. aNFsrF.srcr or-;t


5
yang berpengaruh pada penyebaran anestetika lokal di ruang subaraknoid, kemudian ia
memperkenalkan agen anestetika lokal hiperbarik dengan penambahan dekstrosa.

Pada tahun 1900 F. Gumprecht dan beberapa peneliti lain melaporkan tingginya komplikasi
anestesia spinal yang serius dan menyebabkan beberapa kematian. Penyebab tersebut di
antaranya adalah henti nafas dan hipotensi akibat anestesia spinalyang terlalu tinggi . Kemudian
pada tahun 1953 disidangkan dua kasus anestesia spinal dengan regimen dibucaine yang
mengakibatkan paraparesis spastik permanen dan nyeri pada dua pasien yakni, Albert Wolley
dan Cecil Roe. Hal ini membawa dampak negatif pada perkembangan anestesia spinal.

Pada tahun 1954 dipublikasikanlah suatu studi dengan populasi besar yang melaporkan
kecilnya insiden komplikasi neuropati setelah dilakukannya tindakan anestesia spinal. Bahkan
di dalam studi itu disimpulkan komplikasi neuropati yang terjadi tidak berhubungan dengan
anestesia spinal. Studi ini membuat anestesia spinal berkembang kembali.

Komplikasi post dural puncture headache (PDPH) yang cukup tinggi merupakan salah satu
kekurangan teknik anestesia spinal. Sebenarnya Bier sudah menyatakan bahwa bocornya
cerebrospinal fluid (CSF) yang menyebabkan terjadinya PDPH. Pendapat Bier didukung
oleh studi ektensif Leroy D. Vandam (1914 -2004) dan Robert Drips (1911 - 1974). Pada
tahun 1960, James B. Gormley menemukan penggunaan blood patch untuk PDPH. Hal ini
didukung oleh Anthony J. DiGiovanni dan Burdett S. Dunbar pada tahun 1970. Beberapa studi
melaporkan bahwa teknik blood patch sangat efektif dalam mengatasi PDPH akibat teknik
anestesia spinal.

Anestesia Epidural

Jean Enthus Sicard (1872 - 1929) dan Fernand Chatelin (1873 -1945) pada tahun 1901
secara terpisah melakukan penyuntikan kokain melalui hiatus sakralis, yang kemudian dikenal
sebagai anestesia kaudal. Sicard menggunakan hal tersebut untuk mengobati skiatika dan
tabes dorsalis, sementara Cathelin menggunakan teknik ini sebagai anestesia pembedahan.
Arthur Lawen(1876 - 1958) berhasil melakukan anestesia kaudal dengan menggunakan
prokain untuk operasi daerah pelvis. Ternyata efek anestesia kaudal tidak dapat mencapai
daerah abdomen dan toraks, sehingga penggunaannya hanya terbatas pada operasididaerah
perineum saja.

Beberapa studi selanjutnya terkait dengan anestesia epidural di antaranya dilakukan oleh B.
Heile dan Tufflier, namun kurang sukses. Baru kemudian pada 1921 Fidel Pages (1886 -
1923) memperkenalkan sebuah teknik untuk menyuntikkan prokain secara epidural pada
semua ketinggian neuraksial dengan memanfaatkan jarum yang tumpul dan dipandu dengan
bunyi jarum tersebut saat melewati ligamentum flavum. Kemudian pada tahun 1931, Achille
Mario Dogliotti (1897 - 1966) mendeskripsikan penyebaran anestetika lokal pada anestesia
epidural dan menemukan salah satu teknik identifikasi ruang epidural yakni "/osf of resistance"
yang lebih digemari daripada teknikteknik identifikasi ruang epidural sebelumnya.

;ilil;;; ;&;;;;;""'wn
Di Amerika Selatan, teknik anestesia epidural juga berkembang pesat, dibuktikan dengan
ditemukannya teknik identifikasi rongga epidural "hanging drop" oleh dokter berkebangsaan
Argentina, A. Gutierrez.Tidak lama setelah itu Edward B. Tuohy menemukan teknik anestesia
spinal kontinyu. Tahun 1947, Manuel Martinez Curbelo menemukan teknik epidural lumbar
kontinyu.

Sementara itu W.B Edward dan RobertA. Hingson pada tahun 1942 melaporkan bahwa teknik
anestesia kaudal dapat dilakukan untuk analgesia persalinan. Hal ini membangkitkan kembali
penggunaan anestesia kaudal.

Walaupun anestesia epidural dilaporkan sudah dilakukan dengan berhasil oleh Charles B.
Odom, John R. Hargers dan Oral Crawford pada tahun 1930-1955, baru pada tahun 1960
tindakan anestesia epidural diAmerika Utara bangkit, seiring dengan perkembangan bidang
anestesia obstetrik. Kemudian Massey Dawkins, Phillip R. Bromage dan Michael Cousins
menegakkan penggunaan analgesia epidural sebagai ajuvan pada anestesia umum.

Berawal dari laporan J. Wang pada tahun 1979 mengenai kegunaan morfin intratekal, pada
tahun yang sama pula Behar dan kawan-kawan melaporkan kegunaan opioid secara epidural
untuk mengatasi nyeri kanker. Berkembanglah kegunaan epidural untuk penatalaksanaan
nyeri.

Blok Perifer

Pada tahun 1880 Von Anrep melakukan injeksi kokain di bawah kulit yang menyebabkan
insensibilitas kulit, namun hal ini tidak menarik perhatian peneliti pada saat itu. Barulah pada
tahun 1884 William Halsted (1852 - 1922) dan Alfred Hall melaporkan penyuntikan kokain
yang berhasil pada saraf ulnar, pleksus brakialis, nervus infraorbital, nervus dental inferior, dan
nervus skiatika untuk keperluan operasi. Dosis yang digunakan saat itu dinilai terlalu besar
sehingga banyak efek samping yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Carl Scheich (1859
- 1922) memperkenalkan teknik infiltrasi sebagai alternatif injeksi saraf. Kemudian Leonard
Corning (1855 - 1923) melaporkan tindakan torniquet dapat memperpanjang durasi analgesia
di daerah tungkai. Barulah Heinrich F. Braun (1862 - 1934) melaporkan bahwa penambahan
epinefrin (chemical tourniquet) dapat memperpanjang durasi analgesia. Di samping itu ia
menggunakan obat baru, prokain sebagai pengganti kokain.

Pada tahun 1911, D. Kulenkampff melakukan blok pleksus brakialis dengan pendekatan
supraklavikular yang pertama beberapa bulan setelah Hirschel melakukan blok pleksus
brakialis dengan pendekatan aksila. Namun karena adanya laporan komplikasi pneumotoraks,
dilakukan beberapa modifikasi pendekatan supraklavikula. L. Bazy danV. Pauchet melaporkan
blok pleksus brakialis dengan pendekatan infraklavikula pada tahun 1917. M. Kappis tahun
1912 melakukan blok pleksus brakialis melalui pendekatan paravertebra posterior. Karena
blok pleksus brakialis dengan pendekatan paravertebra posterior memiliki angka kegagalan
yang cukup tinggi, dikembangkanlah teknik blok pleksus brakialis dengan pendekatan anterior

I[ "u "uru*4,vcsrtrs,sr-s*r
yang dikembangkan oleh beberapa nama, diantaranya J. Etienne, V. Pauchet, dan G. Pitkin.
Kemudian pada tahun 1970,Alon P. Winnie melakukan blok pleksus brakialis melalui pendekatan
interskalenus, dengan menjadikan otot skalenus sebagai patokan dalam tekniknya. lnfus
kontinyu pada pleksus brakhialis sekarang dapat dilakukan untuk mencapai analgesia yang
cukup lama. Sekarang tindakan anestesia regional semakin dibantu lagi dengan ultrasound
untuk membantu melokalisasi saraf serta ditemukannya obat-obat anestetik lokal baru yang
dapat bekerja lebih lama dan kurang toksik dibandingkan obat-obat anestetik lokal generasi
lama. Saat ini di rumah sakit besar blok perifer telah menjadi kegiatan pelayanan anestesia
sehari-hari. Teknik ini terbukti sangat bermanfaat pada pasien-pasien yang hanya menjalani
prosedur di daerah yang sempit (misalnya di digiti manus atau pedis), ditambah lagijika risiko
untuk menjalani anestesia umum terlalu tinggi.

Sejarah Konsep Nyeri

Pada awalnya, konsep nyeri lebih dikaitkan dengan modalitas emosional dibandingkan
dengan modalitas sensorik. Nyeri merupakan suatu hal yang sangat religius. Nyeri dianggap
"hukuman atas dosa" dan hilangnya nyeri dikaitkan dengan "tertebusnya dosa" tersebut.
Namun, sejak dulu Galen menyatakan bahwa keberadaan otak dibutuhkan untuk merasakan
nyeri pada binatang, dan Galen juga menyatakan bahwa sensasiirasa itu merupakan salah
satu modalitas sistem saraf.

Pengertian mengenai mekanisme nyeri mulai didapatkan pada abad ke-18 dan ke-19. Albrecht
von Haller (1708-1777) menyimpulkan bahwa hanya bagian tubuh yang dipersarafi saja yang
memiliki sifat sensibilitas dan jaringan yang memiliki serat otot memiliki sifat iritabilitas. Charles
Bell (1774-1842) dan Frangois Magendie (1783-1855), membuktikan bahwa radiks dorsalis
medula spinalis hanya membawa impuls sensorik, sementara radiks anterior medula spinalis
memiliki saraf motorik. Johannes Muller pada tahun 1826 menyatakan bahwa setiap indra
memiliki karakteristik sensasi yang unik dan hasil yang ditimbulkan oleh perangsangannya
beda satu sama lainnya. Moritz S. Schiff (1823-1896) pada tahun 1858 membuktikan bahwa
nyeri merupakan suatu entitas yang tersendiri dan terdapat reseptor khusus nyeri.

Pada akhir abad ke-'|9, disimpulkan bahwa nyeri akut merupakan suatu modalitas sensorik
yang terpisah dan konduksinya dapat dihambat oleh blok saraf maupun pemberian anestetika
lokal. Selain itu ada juga pendapat bahwa nyeri sangat berhubungan dengan kondisi psikis
seseorang. Henry Beecher (1904-1976) mengamati bahwa tentara yang terluka pada Perang
Dunia ll hanya merasakan sedikit nyeri.

Akhirnya Ronald Melzack (1929-)and P. D. Wall menjelaskan mengenaiteori gerbang kontrol


nyeri (gafe control theory of pain) pada tahun 1965 untuk menjelaskan hubungan antara
pengaruh sistim saraf yang lebih sentral terhadap nyeri. Teori ini menyatakan bahwa serabut
nyeri aferen dapat dimodulasi oleh modalitas sensorik aferen lainnya dan juga diregulasi oleh
jalur desenden dari korteks serebri dan otak tengah (sistem yang labih tinggi). Kemudian

&{"fK{t s *& R Arurs r€st*L #€,


pada tahun 1974, A. Goldstein menemukan opioid endogen pertama yang keberadaannya
dikonfirmasijuga oleh J. Hughes dan S.H. Snyders. Opioid endogen tersebar pada jaras nyeri
dan dapat menghambat transmisi nyeri. The gate theory of pain telah memberikan sumbangan
yang banyak pada dunia tatalaksana nyeri, di antaranya melalui penggunaan teknik injeksi
spinal dan epidural, dimana seorang anestesiologis dapat menghambat transmisi nyeri pada
sinaps pertama di medula spinalis. lmplikasi klinis yang paling nyata dari penggunaan analgesia
neuraksial adalah potensinya dalam mengatasi nyeri akut dan kronik, serta minimalnya efek
samping sistemik akibat obat-obat anti nyeri yang digunakan.

Sekitartahun 1960-1970, John J. Bonica mengamati kurangnya perhatian terhadap tatalaksana


nyeri serta masih kurangnya pengertian terhadap konsep nyeri. Pada saat itu terdapat konsep
bahwa nyeri merupakan suatu hasil dari penyakit dan seorang dokter yang dapat mengobati
penyakit itu secara otomatis akan mengatasi nyeri pasiennya. Sayangnya, hal inijarang terjadi,
dan terlalu banyak pasien yang menderita nyeri yang seharusnya dapat diatasi. Para dokter
dan peneliti pada saat itu tidak menganggap nyeri sebagai suatu subyek studi klinis, dan tidak
ada seorang pun yang mau membiayai riset tentang nyeri.

Kemudian Bonica mencoba menarik banyak pihak untuk terlibat dalam perkembangan
penatalaksanaan nyeri. Perjuangan Bonica membuahkan hasil ketika pada tahun 1980terbentuk
The lnternational Association for the Study of Pain yang merevolusi konsep penatalaksanaan
nyeri yang ada. Sekarang ini, tatalaksana nyeri pascabedah dan tatalaksana nyeri kronik
(kanker) sudah menjadi hal yang sama pentingnya dengan pengelolaan penyakit pasien
itu sendiri. Bahkan saat ini banyak rumah sakit berakreditasi internasional mencanangkan
program "pain as the fifth vital sign" sebagai perwujudan dari hak asasi pasien untuk mendapat
penatalaksanaan nyeri dan bebas dari nyeri.

eri,,rr\L; F.{JFdrT }+iucJ t tri}tq.l{-LrrJt