Anda di halaman 1dari 3

Dengan demikian, pertanyaan yang kami ajukan adalah:

1. Dalam hal pemilihan obat (terapi) untuk pasien, bagaimana fakta yang terjadi di lapangan
menurut ibu? Apakah sudah sesuai dengan peraturan yang ada?
2. Bagaimana pendapat Anda mengenai pernyataan yang menyatakan bahwa “Dokter yang
seharusnya memutuskan pemilihan obat untuk pasien” dan mengapa?
3. Bagaimana dengan proses penggantian obat? Apakah apoteker tidak memiliki sedikit peran
sekalipun dalam proses penggantian obat?
4. Menurut Anda, apa garis pembatas utama antara dokter dan apoteker dalam terapi pasien?

1. Fakta di lapangan dalam hal pemilihan obat (terapi) untuk pasien , dapat
dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu
a. Ditentukan oleh dokter, untuk obat beresep.
b. Ditentukan oleh Apoteker dalam pemilihan obat untuk swamedikasi,
khususnya pada Apotek yang lebih mengutamakan patient oriented dan
menempatkan Apoteker sebagai konsultan dalam pemilihan obat.
c. Ditentukan oleh tenaga teknis kefarmasian dalam pemilihan obat
swamedikasi terutama pada Apotek yang masih berperan drug oriented.

Peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI (Permenkes PMK No.9 tahun
2017 tentang Apotek lebih meningkatkan aksesbilitas, keterjangkauan dan kualitas
pelayanan kefarmasian pada masyarakat.

Implementasi di lapangan, pemilihan obat untuk theraphy mengacu pada peraturan


yang ada dan sisi bisnis tetap menjadi pertimbangan.

2. Pernyataan bahwa “Dokter yang seharusnya memutuskan pemilihan obat untuk


pasien” , hal ini terkait kultur , sampai saat ini tata cara penulisan resep , dokter
menuliskan nama obat sehingga menimbulkan pendapat umum , bahwa dokterlah
yang berhak memutuskan pemilihan obat untuk pasien.
Disamping itu profesi kedokteran di Indonesia lebih dulu hadir dibandingkan
profesi farmasis. Profesi dokter yang lebih dulu ada menuntut profesinya untuk
melakukan diagnose sampai pada pemilihan obat (dokter dispensing), pemisahan
kewenangan mulai diperdebatkan setelah profesi farmasis menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari tenaga kesehatan. Jumlah Sumber Daya Apoteker yang
semakin banyak akan mendukung pelaksanaan pemisahan kewenangan, sehingga
masing masing profesi menjadi lebih professional.
Selain itu beberapa kelompok masyarakat lebih menyukai cara ‘dokter dispensing”,
menurut pendapat mereka hal ini akan menekan biaya pengobatan dan efisiensi
waktu.
Kenyataan ini sedikit bergeser sejak diwajibkannya dokter menuliskan nama
generic obat dalam peresepan, disertai peraturan yang mengijinkan apoteker untuk
“mengganti” obat patent yang ditulis oleh dokter dengan obat generic. Dan
kehadiran Apoteker di tengah masyarakat merupakan cara sosialisasi yang tepat.
Point penting yang perlu dicatat dengan dikeluarkannya Permenkes/PMK Nomor.9
tahun 2017 tentang Apotek memberikan keleluasaan pada Apoteker untuk;
a. Wajib melayani resep sesuai dengan tanggungjawab dan keahlian profesinya
yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.
b. Mengganti obat merek dagang dengan obat generic yang sama komponen
aktifnya atau merek dagang lain atas persetujuan dokter dan atau pasien.
c. Dalam hal obat yang diresepkan tidak tersedia di Apotek atau pasien tidak
mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker dapat mengganti
obat setelah berkonsultasi dengan dokter penulis resep untuk pemilihan
obat lain.
d. Apabila apoteker menganggap penulisan resep terdapat kekeliruan atau
tidak tepat Apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep.
e. Apabila dokter penulis resep seperti yang dimaksud pada ayat (d) tetap pada
pendiriannya maka apoteker tetap memberikan pelayanan sesuai dengan
resep dengan memberikan catatan dalam resep bahwa dokter sesuai dengan
pendiriannya.

Dengan demikan pernyataan bahwa “Dokter yang seharusnya memutuskan


pemilihan obat untuk pasien” dapat berubah menjadi “Dokter dan Apoteker
memiliki peran yang sama dalam memutuskan pemilihan obat untuk pasien”

3. Peran Apoteker dalam proses penggantian obat, memiliki peran yang sangat besar
dan strategis, karena secara formal Apoteker memiliki peran untuk
bertanggungjawab dalam pasokan dan distribusi obat. Dari perannya inilah
apoteker mengetahui dengan pasti ketersediaan obat yang diperlukan dalam
peresepan dokter. Dalam hal penggantian obat tentunya Apoteker melakukan
prosedur yang berlaku seperti;
a. Berkonsultasi kepada dokter penulis resep.
b. Mendapat informasi tambahan dari pasien/perawat.

Dalam penggantian obat Apoteker tetap berprinsip kepada “Enam benar” yaitu;

1. Benar pasien.
2. Benar Obat.
3. Benar dosis.
4. Benar rute/cara
5. Benar waktu
6. Benar dokumentasi.
Apotekerlah yang sangat memahami farmakoekonomi dibandingkan dokter
sehingga Apoteker bertanggungjawab agar pasien dengan keadaan ekonomi yang
terbatas untuk tetap mendapatkan obat yang dibutuhkan..

5. Garis pembatas utama antara dokter dan apoteker dalam terapi pasien adalah
Undang Undang, Peraturan Pemerintah,, Peraturan Menteri Kesehatan. Garis
pembatas lain adalah;
a. Kode etik profesi dokter dan kode etik profesi apoteker.
b. Undang undang Nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan.
c. Peraturan pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Tenaga Kefarmasian.
d. Peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
244/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan tata Cara Pemberian Izin
Apotik.
e. Permenkes/PMK Nomor 9 tahun 2017 tentang Apotik