Anda di halaman 1dari 15

Strategi Komunikasi Terapeutik dalam Setiap Tahapan

I. Pendahuluan

Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat
dan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan
disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang
perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi
proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur
yang terdiri dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.

II. Isi

Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi
fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Agar komunikasi terapeutik antara
perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh
perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya. Berikut ini akan dijelaskan
mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu
antara perawat A dan Ny. S yang merupakan klien post-operasi.

a. Fase pra-interaksi

Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan
klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi
tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi
untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan
mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum
melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.

Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain
(Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya
kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat
merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik
(Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening
(mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

<

p class=”MsoNormal”>Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini


adalah: a. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan
Ny. S. b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. c. Mengumpulkan data dan informasi
tentang Ny. S dari keluarga terdekatnya. d. Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S
dengan bersikap positif dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.

b. Fase orientasi
Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali
bertemu atau kontak dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan
klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang
telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah
lalu (Stuart.G.W, 1998).

Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:

a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi


terbuka terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan sikap Ny.S yang
melakukan penolakan diawal pertemuan.

b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan)


bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali
kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada
keluarga Ny.S mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik bagi
Ny.S.

c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah


klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi
pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S diam saja atau memalingkan muka, perawat A
bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit dan apa yang membuat Ny.S
merasa tidak nyaman.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>d) Merumuskan tujuan


interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan Ny.S, perawat A memiliki tujuan untuk
menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan
awal tersebut dapat tercapai.

c. Fase kerja

Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase
kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan
rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada
fase kerja ini perawat perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari
komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan
sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik
komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja
sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan
melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan
mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang telah
disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.
Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan
tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian
mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku
adaptif. Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah mengatasi penolakan
perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi Ny.S
dengan cara:

a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan


kesiapannya (”saya siap untuk anda”).

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>b) Sikap tubuh terbuka; kaki


dan tangan terbuka (tidak bersilangan) Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat
bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>c) Menunduk/memposisikan


tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap
untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).

d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar
perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.

e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan
menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.

Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya
perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan
pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal
yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan
dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang
sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 0cm”>Dibagian akhir tahap ini,


perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan
ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan
membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997
dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien
dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima
dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

d. Fase terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu
terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir
dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan
bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati
bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh
proses keperawatan.

Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan


(evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta
klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan
sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.

b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah


berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan Ny.
S dalam setiap akhir pertemuan dengannya.

c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak


lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan
atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi
dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

III. Penutup

Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya
yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien.
Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan strategi yang tepat dalam
berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat
tercapai.
ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 1 of 11

PERSEPSI PASIEN TENTANG PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DALAM ASUHAN


KEPERAWATAN PADA PASIEN

DI UNIT GAWAT DARURAT RS. MARDI RAHAYU KUDUS

NOVEMBER, 2009

ANDREAS HADI HERMAWAN

NIM G2B308004

ABSTRAK

Clear and precise communication are important to provide effective nursing care, therapeutic
communication is different from social communication, which is in communication there is always a
therapeutic purpose or specific direction for communications. The results of the survey report patient
comfort and family at Mardi Rahayu Hospital emergency room from 2006 until May 2009, there were
between 5% to 6.5% of respondents felt uncomfortable in the emergency room because of all the lack
of communication by the patient. The research objective was to explore the perceptions of patients
about the implementation of nurse therapeutic communication in nursing care to patients in the
Emergency Unit at Mardi Rahayu Hospital Kudus. Research conducted in November 2009, using
qualitative research methods and snowball sampling techniques. Number of participants was 4 persons.
Analysis of the results of research using examination technique. The results showed patient perceptions
about the implementation of therapeutic communication nurse in nursing of patients orphanage in
Emergency Unit Mardi Rahayu Hospital Kudus is enough. Based on the results of this study can be
recommended to do research on the ability of nurses in therapeutic communication. For hospital
institutions can hold a kind of internal activities in-house training. Nurses should be able to increase
capacity. Keywords: perception, therapeutic communication, patient.

ABSTRAK

Komunikasi yang jelas dan tepat penting untuk memberikan asuhan keperawatan yang efektif,
komunikasi terapeutik berbeda dari komunikasi sosial, yaitu pada komunikasi terapeutik selalu terdapat
tujuan atau arah yang spesifik untuk komunikasi. Hasil Laporan survey kenyamanan pasien rawat inap
dan keluarga di UGD RS Mardi Rahayu dari tahun 2006 sampai Mei 2009, masih ada antara 5% sampai
6,5% responden merasa tidak

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 2 of 11

nyaman saat di UGD semuanya dikarenakan komunikasi yang kurang menurut pasien. Tujuan penelitian
adalah untuk mengeksplorasi bagaimana persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik
perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien di Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus.
Penelitian dilakukan bulan November 2009, menggunakan metode penelitian kualitatif dan teknik
snowball sampling. Jumlah partisipan 4 orang. Analisa hasil penelitian menggunakan teknik
pemeriksaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi
terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien di unit gawat darurat RS. Mardi Rahayu
Kudus adalah cukup baik.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan supaya dilakukan penelitian mengenai kemampuan
perawat dalam melakukan komunikasi terapeutik. Bagi institusi rumah sakit dapat mengadakan kegiatan
intern semacam in house training. Untuk perawat dapat hendaknya meningkatkan kemampuannya.

Kata kunci: persepsi, komunikasi terapeutik, pasien.

PENDAHULUAN

Keperawatan adalah suatu interaksi antara perawat dan pasien, perawat dan profesional kesehatan lain,
serta perawat dan komunitas. Proses interaksi manusia terjadi melalui komunikasi: verbal dan
nonverbal, tertulis dan tidak tertulis, terencana dan tidak terencana. Agar perawat efektif dalam
berinteraksi, mereka harus memiliki ketrampilan komunikasi yang baik. Mereka harus menyadari kata-
kata dan bahasa tubuh yang mereka sampaikan pada orang lain. Ketika perawat mengemban peran
kepemimpinan, mereka harus menjadi efektif, baik dalam ketrampilan komunikasi verbal maupun
komunikasi tertulis (Kathleen,2007).

Komunikasi yang jelas dan tepat penting untuk memberikan asuhan keperawatan yang efektif, dan ini
adalah tantangan yang unik dalam bidang perawatan kesehatan saat ini. Banyak tantangan dalam
memberikan perawatan untuk pasien, adanya diversitas budaya dan bahasa juga menjadi tantangan
dalam bekerja dengan kolega. Komunikasi yang jelas mengenai perawatan dan mengenai informasi
pasien sama pentingnya, baik dalam bentuk interaksi verbal dengan rekan kerja, catatan tertulis, atau
publikasi dalam jurnal profesional. Ketika perawat berpraktik pada abad ke-21, mereka harus cakap
dalam berkomunikasi menggunakan teknologi, termasuk komunikasi telepon seperti triase telepon dan
memiliki ketrampilan komunikasi komputer yang efektif (Kathleen,2007).

Komunikasi adalah sebuah faktor yang paling penting yang digunakan untuk menetapkan hubungan
terapeutik antara perawat dan pasien. Menemukan cara yang

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 3 of 11

efektif untuk mengatasi hambatan komunikasi akan memberikan kesempatan bagi perawat
menjembatani budaya dalam pemberian asuhan keperawatan. Perawat yang menggunakan sumber
yang tersedia dan memecahkan masalah saat terdapat kesulitan komunikasi akan lebih bisa membantu
klien dan keluarga untuk mengakses perawatan dan manfaat dari layanan asuhan keperawatan. Saat
perawat mampu berkomunikasi dengan baik dalam bentuk verbal dan tertulis, kualitas manfaat
publikasi professional dan perawat dapat memberikan sumber yang lebih baik terhadap profesi.

Proses interaktif antara pasien dan perawat yang membantu pasien mengatasi stress sementara untuk
hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan
mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi ini disebut komunikasi terapeutik.1
Komunikasi terapeutik berbeda dari komunikasi sosial, yaitu pada komunikasi terapeutik selalu terdapat
tujuan atau arah yang spesifik untuk komunikasi; oleh karena itu, komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang terencana. Komunikasi paling terapeutik berlangsung ketika pasien dan perawat
keduanya menunjukkan sikap hormat akan individualitas dan harga diri (Kathleen,2007).

Perawat dituntut untuk melakukan komunikasi terapeutik dalam melakukan tindakan keperawatan agar
pasien atau keluarganya tahu tindakan apa yang akan dilakukan pada pasien dengan cara bahwa
perawat harus memperkenalkan diri, menjelaskan tindakan yang akan dilakukan, membuat kontrak
waktu untuk melakukan tindakan keperawatan selanjutnya. Kehadiran, atau sikap benar-benar ada
untuk pasien, adalah bagian dari komunikasi terapeutik. Perawat tidak boleh terlihat bingung;
sebaliknya, pasien harus merasa bahwa dia merupakan fokus utama perawat selama interaksi. Agar
perawat dapat berperan aktif dan terapeutik, perawat harus menganalisa dirinya yang meliputi
kesadaran diri, klarifikasi nilai, perasaan dan mampu menjadi model yang bertanggung jawab. Seluruh
perilaku dan pesan yang disampaikan perawat hendaknya bertujuan terapeutik untuk pasien. Analisa
hubungan intim yang terapeutik perlu dilakukan untuk evaluasi perkembangan hubungan dan
menentukan teknik dan ketrampilan yang tepat dalam setiap tahap untuk mengatasi masalah pasien.

Rumah sakit Mardi Rahayu Kudus dengan alamat Jl. AKBP R. Agil Kusumadya no.110 Kudus, bernaung di
bawah Yayasan Kesehatan Kristen termasuk kategori rumah sakit tipe B. Pelayanan pada Unit Gawat
Darurat (UGD) merupakan ujung tombak awal pelayanan di rumah sakit tersebut, dengan motto Cepat,
Tepat berdasarkan Kasih bagian dari rumah sakit ini berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.
Untuk itu setiap tahunnya dilakukan evaluasi mengenai mutu pelayanan.

Hasil Laporan survey kenyamanan pasien rawat inap dan keluarga di UGD RS Mardi Rahayu dari tahun
2006 sampai Mei 2009, masih ada antara 5% sampai 6,5% responden

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 4 of 11

merasa tidak nyaman saat di UGD semuanya dikarenakan komunikasi yang kurang menurut pasien
sehingga dari responden memberikan saran serta kritik dalam memberikan pelayananan untuk
memberikan penjelasan ke pasien dengan ramah dan lebih banyak lagi memberikan informasi dengan
komunikasi yang baik dan sopan.

Peneliti mendapatkan informasi secara lisan bahwa beberapa pasien yang mendapatkan tindakan
pemasangan infus mengatakan bahwa perawat belum menjelaskan secara terbuka mengenai prosedur
tindakan tersebut, pasien hanya diberitahu akan diinfus tanpa penjelasan kenapa harus diinfus, masih
ada perawat yang galak. Sebenarnya pasien/keluarganya ingin tahu informasi dari tindakan yang akan
dilakukan oleh perawat. Sebagai contoh dari pengalaman kerja selama lima tahun di UGD Rumah Sakit
Mardi Rahayu Kudus. Dari hal diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pelaksanaan komunikasi
terapeutik dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien di UGD RS. Mardi Rahayu Kudus belum
dilakukan dengan baik, dimana komunikasi tersebut sebagai sarana penyampaian informasi ke pasien
dan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran umum mengenai persepsi pasien
tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien di
Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus. Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini
antara lain memberikan informasi tentang persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik
perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien di Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus.
Agar mendapatkan peningkatan pelayanan yang maksimal, sehingga merasa puas akan pelayanan yang
diberikan. Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian di bidang keperawatan
khususnya mengenai persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik dalam asuhan
keperawatan terhadap pasien di Unit Gawat Darurat. Melakukan tindak lanjut penelitian mengenai
persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan
terhadap pasien di Unit Gawat Darurat.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Yaitu untuk mengetahui persepsi pasien
tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam tindakan keperawatan terhadap pasien di
Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi
yaitu pendekatan yang didasari atas pandangan dan asumsi bahwa pengalaman manusia diperoleh
melalui hasil interprestasi

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 5 of 11

(Sudarwan,2002). Penelitian kualitatif memanfaatkan wawancara baik tertutup maupun terbuka untuk
menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu dan sekelompok orang
(Sudarwan,2002). Pada penelitian ini telah dilakukan wawancara dengan menggunakan pedoman
wawancara pada pasien di UGD RS Mardi Rahayu Kudus.

Populasi dari penelitian ini adalah pasien di Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus, dimana jumlah
rata-rata pasien rawat inap dan rawat jalan dalam satu siff adalah 30 pasien. Adapun sampel adalah
bagian dari populasi yang diambil secara purposive, disesuaikan dengan tujuan dan jenis penelitian.
Dalam penelitian ini jumlah sampel ditentukan oleh ”tersaturasinya” sumber informan. Informan yang
digunakan dalam penelitian ini diambil dengan teknik snowball sampling, yaitu 4 orang pasien, dimana
jumlah tersebut sudah dapat memberikan data dan informasi yang ingin peneliti peroleh (Sugiyono,
2009). Penelitian dilaksanakan di Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus pada bulan November
2009. Penelitian ini juga dilaksanakan berdasarkan kesepakatan tempat dan waktu oleh peneliti dan
partisipan. Metode pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara mendalam dan wawancara
tidak berstruktur dengan wawancara bebas, dimana peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan
kepada partisipan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Karakteristik Informan
Dari hasil wawancara peneliti dengan responden didapatkan data terkait karakteristik responden yang
menjadi subyek penelitian sebagai berikut :

1. Responden 1 berjenis kelamin perempuan, saat dilakukan wawancara berusia 32 tahun, pendidikan
S1, beragama Kristen.

2. Responden 2 berjenis kelamin laki-laki, saat dilakukan wawancara berusia 41 tahun, pendidikan S1,
beragama Kristen.

3. Responden 3 berjenis kelamin laki-laki, saat dilakukan wawancara berusia 25 tahun, pendidikan SLTA
beragama Islam.

4. Responden 4 berjenis kelamin perempuan, saat dilakukan wawancara berusia 29 tahun, pendidikan
D3, beragama Kristen.

b. Tema-tema yang telah dirumuskan dan ditemukan dalam penelitian

1. Pengertian komunikasi terapeutik menurut pasien

Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan pengertian komunikasi terapeutik sebagai cara bicara,
komunikasi kepada pasien, dalam pemberian informasi, dan

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 6 of 11

juga dalam memberikan terapi pengobatan. Pendapat pasien ini memang sedikit berbeda dengan
definisi yang sebenarnya, akan tetapi sudah mendekati definisi komunikasi terapeutik yaitu suatu proses
interaktif antara pasien dan perawat yang membantu pasien mengatasi stress sementara untuk hidup
harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan mengatasi
hambatan psikologis yang menghalangi realisasi (Kathleen,2007).

Komunikasi Terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi
penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi
orang lain, komunikasi ini direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau ketrampilan perawat untuk
membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatsi psikologis, dan belajar begaimana berhubungan
dengan orang lain (Suryani,2006).

Komunikasi terapeutik tidak hanya untuk memberikan terapi pengobatan dan pemberian informasi,
akan tetapi juga untuk membantu pasien memperjelas, mengurangi beban perasaan dan pikiran serta
dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang
diperlukan. Kedua untuk mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif
dan mempertahankan kekuatan egonya. Ketiga mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya
sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan. Keempat mempererat hubungan atau interaksi
anatara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proporsional dalam rangka
membantu penyelesaian masalah pasien (Mundakir,2006).
2. Teknik-teknik komunikasi terapeutik

Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan empat teknik dalam melaksanakan komunikasi
terapeutik yaitu menunjukkan penerimaan, menawarkan informasi, mengklasifikasi, dan menanyakan
pertanyaan yang berkaitan. Ditinjau dari segi teori masih banyak teknik-teknik yang belum diterapkan
oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Seperti mengulangi ucapan pasien dengan
menggunakan kata-kata perawat sendiri, memfokuskan masalah, menyatakan hasil observasi kepada
pasien, meringkas hasil observasi, memberi penghargaan kepada pasien dan menawarkan diri untuk
membantu serta memberi waktu untuk merefleksikan diri pasien (Meidiana,2008).

Ditinjau dari segi teori masih banyak teknik-teknik yang belum diterapkan oleh perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan Hal ini mungkin dikarenakan

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 7 of 11

durasi perawatan di UGD yang cukup singkat, sehingga kesan tidak baik maupun yang baik, yang telah
disampaikan pasien merupakan hal yang wajar. Akan tetapi dari pihak perawat harus memperbaiki apa
yang sudah ada, dengan merefresing kembali teori komunikasi terapeutik, persiapan diri dari rumah
untuk benar-benar siap bekerja melayani dirumah sakit.

Dalam hal ini perawat berusaha mengerti pasien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan
pasien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat
mengetahui perasaan pasien. Beri kesempatan lebih banyak pada pasien untuk berbicara. Perawat harus
menjadi pendengar yang aktif. Ketrampilan mendengarkan dengan sepenuh perhatian meliputi pandang
klien ketika berbicara, pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan,
sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan, hindarkan
gerakan yang tidak perlu, anggukkan kepala jika pasien membicarakan hal penting atau memerlukan
umpan balik, condongkan tubuh ke arah lawan bicara.

Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa
menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan
gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala
seakan tidak percaya.

Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang
disampaikan oleh klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan Mengulangi ucapan
pasien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Melalui pengulangan kembali kata-kata pasien, perawat
memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan pasien dan berharap komunikasi dilanjutkan.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak
jelas dikatakan oleh pasien. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh
yang kongkret dan mudah dimengerti pasien.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik
dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya memutuskan pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang
baru.

Perawat perlu memberikan umpan balik kepada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya,
sehingga dapat diketahui apakah pesan dapat diterima dengan benar. Memberikan tambahan informasi
merupakan tindakan penyuluhan

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 8 of 11

kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi pasien untuk mengambil keputusan.

Diam saat berkomunikasi dengan pasien akan memberikan kesempatan kepada perawat dan pasien
untuk mengorganisir. Diam memungkinkan pasien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri,
mengorganisir pikiran dan memproses informasi. Meringkas pengulangan ide utama yang telah
dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah
dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan selanjutnya. Memberikan salam kepada pasien dengan
menyebutkan namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, menghargai klien
sebagai manusia seutuhnya mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai pasien berusaha
keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya.

Pasien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain, atau pasien tidak
mampu untuk membuat dirinya mengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa
tertarik, teknik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih. Memberi kesempatan kepada pasien untuk
berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. Biarkan pasien merasa bahwa dia yang memimpin
pembicaraan. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan, teknik ini memberikan kesempatan
kepada pasien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengidentifikasi bahwa pasien
sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan
selanjutnya.

Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan pasien untuk melihatnya dalam
suatu perspektif. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menguraikan persepsinya. Apabila
perawat ingin mengerti pasien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif. Pasien
harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Refleksi menganjurkan pasien
untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Dengan
demikian perawat mengidentifikasi bahwa pendapat klien adalah berharga dan pasien mempunyai hak
untuk mengemukakan pendapatnya, untuk membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri
(Meidiana,2008).

3. Tahap-tahap komunikasi terapeutik

Telah disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur
dan memiliki tahapan-tahapan. Komunikasi terapeutik
ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 9 of 11

terbagi menjadi empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap pra-interaksi, tahap perkenalan atau
orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi (Mundakir,2006).

Dari hasil penelitian didapatkan pada tahap perkenalan perawat ada yang melakukan dan juga ada yang
tidak melakukan, kecenderungan perawat hanya menanyakan identitas pasien, akan tetapi tidak
memperkenalkan diri ke pasien. Sifat judes masih terlihat pada sosok seorang perawat. Seharusnya
tugas perawat dalam tahapan ini adalah memberikan salam dan tersenyum pada pasien,
memperkenalkan diri dan menanyakan nama pasien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif)
pada pertemuan selanjutnya, menentukan mengapa pasien mencari pertolongan, menyediakan
kepercayaan, penerimaan, dan komunikasi terbuka. Membuat kontrak timbal balik, mengeksplorasi
perasaan klien, pikiran dan tindakan. Selanjutnya mengidentifikasi masalah pasien, mendefinisikan
tujuan dengan pasien, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dan menjelaskan
kerahasiaan (Mundakir,2006).

Pada tahap kerja, dari hasil penelitian didapatkan bahwa perawat bertanya kepada pasien mengenai
keluhannya berkaitan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dan menjalankannya dengan baik. Akan
tetapi tugas perawat pada tahap kerja tidak hanya itu saja, seharusnya perawat juga harus memberi
kesempatan pasien untuk bertanya sebelum tindakan dilaksanakan. Dan setelah selesai tindakan
dilakukan evaluasi kerja dan disampaikan kepada pasien (Mundakir,2006). Untuk itu perawat perawat
harus benar-benar melakukan tahap ini dengan baik, sehingga nilai kerja dan pendokumentasian akan
lebih kongkrit.

Tahap terakhir atau perpisahan (terminasi) yang didapatkan dari penelitian menunjukkan bahwa kesan
perawat kurang baik perawat UGD hanya memberi tahu pasien bahwa tindakan di UGD sudah selesai
dan akan dipindah keruang rawat inap atau boleh pulang. Tugas perawat pada fase ini adalah
menciptakan realitas perpisahan, menyimpulkan hasil kegiatan; evaluasi hasil dan proses. Saling
mengeksplorasi perasaan penolakan, kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain. Memberikan
reinforcement positif dan merencanakan tindaklanjut dengan klien. Melakukan kontrak untuk
pertemuan selanjutnya (waktu, tempat, topik) serta mengakhiri kegiatan dengan baik (Mundakir,2006).
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan
berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi
pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Untuk melalui fase
ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan. Terminasi
merupakan akhir dari pertemuan

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 10 of 11

perawat, yang dibagi dua yaitu: terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan; terminasi
akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Agar kesan
tidak baik tersebut dapat dikurangi, sebaiknya memberikan salam perpisahan dengan baik sebelum
pasien meninggalkan ruang UGD. Meskipun demikian para pasien yang menjadi partisipan mengatakan
bahwa pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien di unit
gawat darurat RS. Mardi Rahayu Kudus adalah cukup baik.

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan penelitian tentang Persepsi Pasien Tentang Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Perawat Dalam Asuhan Keperawatan terhadap Pasien di Unit Gawat Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus
November 2009 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengertian komunikasi terapeutik menurut pasien adalah cara bicara atau komunikasi kepada pasien
dalam pemberian informasi dan memberikan terapi pengobatan.

2. Empat teknik dalam melaksanakan komunikasi terapeutik menurut pasien yang telah dilakukan oleh
perawat adalah menunjukkan penerimaan, menawarkan informasi, mengklasifikasi, dan menanyakan
pertanyaan yang berkaitan.

3. Dari tahap perkenalan sampai tahap perpisahan menurut pasien ada perawat UGD RS Mardi Rahayu
yang melakukannya dengan baik, akan tetapi ada juga yang kurang memperhatikan tahapan ini sehingga
menimbulkan kesan judes pada perawat.

4. Persepsi pasien tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan
terhadap pasien di unit gawat darurat RS. Mardi Rahayu Kudus adalah cukup baik.

DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri M. S. Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2008.

Aziz Alimul H. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba medika. Jakarta. 2003.

Blais Koenig Kathleen. Praktik Keperawatan Profesional, Konsep & Perspektif. Edisi 4. Jakarta. EGC. 2007.

ARTIKEL of ANDREAS HADI H (G2B308004) Page 11 of 11

Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC. 2002.

Danim Sudarwan. Menjadi Peneliti Kualitatif. Cetakan 1. CV Pustaka Setia. Bandung. 2002.

Kusnanto.Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional.Jakarta . EGC. 2004.

Maleong LJ. Metodologi Penelitian kualitatif. PT. Remaja Rodakarya. Bandung. 2004

Marrylinn, E. Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. EGC. 2000.

Meidiana Dwidiyani. Keperawatan Dasar. Konsep ”caring”, Komunikasi, Etik dan Spiritual dalam
pelayanan keperawatan. Semarang. Hasani. 2008.

Moeloeng.L.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rodakarya . 2001.


Mundakir. Komunikasi Keperawatan, Aplikasi dalam pelayanan. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2006.

Murwani, A. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Yogyakarta. Fitramaya. 2008.

Nursalam. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Konsep dan Praktik. Jakarta. Salemba Medika. 2001.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R & D. cetakan ke 7. CV Alfabeta. Bandung.
2009.

Sunaryo. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta. EGC. 2004.

Suryani. Komunikasi Terapeutik : Teori & Praktik. Jakarta. EGC. 2006.

Walgito. Bimo. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar).Yogyakarta. Penerbit Andi. 2001.


http://eprints.undip.ac.id/10473/1/ARTIKEL.pdf

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto,1994).
Teknik komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi
penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi
orang lain (Stuart & sundeen,1995). http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/03/definisi-komunikasi-
terapeutik.html