Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN HIPERTENSI

Kelompok :

Komang Ita Trisna Dewi (P07120016096)


Ni Kadek Mita Selviani (P07120016098)
Ida Ayu Putu Mirah Adi Anggraeni (P07120016099)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
LAPORAN PENDAHULUAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. ANATOMI FISIOLOGI

1) Jantung
Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak di dalam dada, batas kanannya
terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercosta kelima kiri pada
linea midclavikula.
Hubungan jantung adalah:
a) atas: pembuluh darah besar
b) bawah: diafragma
c) setiap sisi: paru-paru
d) belakang: aorta dessendens, oesopagus, columna vertebralis
2) Arteri
Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ. Arteri
terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta
dan cabang-cabangnya besar memiliki lapisan tengah yang terdiri dari jaringan elastin
(untuk menghantarkan darah untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan
tengah otot (mengatur jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ).
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
a. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada
setiap detiknya
b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri
tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui
pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal
dan kaku karena arterosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga
meningkat pada saat terjadi “vasokonstriksi”, yaitu jika arteri kecil (arteriola)
untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di
dalam darah.
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume
darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat,
Sebaliknya, jika:
a) Aktivitas memompa jantung berkurang,
b) arteri mengalami pelebaran,
c) banyak cairan keluar dari sirkulasi.
Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam
fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur
berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
3) Perubahan fungsi ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
a. Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam
dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan
mengembalikan tekanan darah ke normal.
b. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam
dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke
normal
c. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim
yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang
selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan
organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu berbagai
penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan
darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal
(stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan
cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya
tekanan darah.
4) Arteriol
Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal. Otot dinding
arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi diameter pembuluh
darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada jaringan/organ berkurang.
Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah akan meningkat.
5) Pembuluh darah utama dan kapiler
Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan langsung
dari arteriol ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil yang
membuka pembuluh darah utama
6) Sinusoid
Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid tiga sampai
empat kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi dengan sel sistem
retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah mengalami kontak
langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi melalui ruang jaringan
7) Vena dan venul
Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh
gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara
sempurna satu sama lain.
Jantung mempunyai fungsi sebagai pemompa darah yang mengandung
oksigen dalam sistem arteri, yang dibawa ke sel dan seluruh tubuh untuk
mengumpulkan darah deoksigenasi (darah yang kadar oksigennya kurang) dari
sistem vena yang dikirim ke dalam paru-paru untuk reoksigenasi (Black, 2010).
B. DEFINISI
 Hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg
(Kodim Nasrin, 2003 ).
 Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi
lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).
 Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah
diastolik >90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihipertensi.
 Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection (JIVC)
sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan
sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD)
normal tinggi sampai hipertensi maligna.
 Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg
dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Luckman Sorensen,1996).
 Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104
mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114
mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih.
Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap
lebih serius dari peningkatan sistolik (Smith Tom, 1995).
Secara sederhana, seseorang dikatakan menderita Tekanan Darah Tinggi jika
tekanan Sistolik lebih besar daripada 140 mmHg atau tekanan Diastolik lebih besar
dari 90 mmHg. Tekanan darah ideal adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg
untuk Diastolik.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh
pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg
didefinisikan sebagai “normal”. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan
tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90
mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.

C. EPIDEMIOLOGI
Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM) dimana
diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya hidup sangat penting
dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Merokok adalah faktor risiko
utama untuk mobilitas dan mortalitas Kardiovaskuler.
Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi
hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang
dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga
mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak
mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Saat ini penyakit
degeneratif dan kardiovaskuler sudah merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia.
Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, 1986, dan 1992
menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskuler yang menyolok sebagai
penyebab kematian dan sejak tahun 1993 diduga sebagai penyebab kematian nomor
satu. Penyakit tersebut timbul karena berbagai factor risiko seperti kebiasaan
merokok, hipertensi, disiplidemia, diabetes melitus, obesitas, usia lanjut dan riwayat
keluarga. Dari factor risiko diatas yang sangat erat kaitannya dengan gizi adalah
hipertensi, obesitas, displidemia, dan diabetes mellitus.
Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang
tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15
milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi
saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan
dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau
oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan
pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita
hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai
dengan 15% tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa Tengah
1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera
Barat 17,8%. Nyata di sini, dua angka yang dilaporkan oleh kelompok yang sama
pada 2 daerah pedesaan di Sumatera Barat menunjukkan angka yang tinggi. Oleh
sebab itu perlu diteliti lebih lanjut, demikian juga angka yang relatif sangat rendah.
Survai penyakit jantung pada usia lanjut yang dilaksanakan Boedhi Darmojo,
menemukan prevalensi hipertensi’ tanpa atau dengan tanda penyakit jantung
hipertensi sebesar 33,3% (81 orang dari 243 orang tua 50 tahun ke atas).Wanita
mempunyai prevalensi lebih tinggi dari pada pria (p¬0,05). Dari kasus-kasus tadi,
ternyata 68,4% termasuk hipertensi ringan (diastolik 95¬104 mmHg), 28,1%
hipertensi sedang (diastolik 105¬129 mmHG) dan hanya 3,5% dengan hipertensi
berat (diastolik sama atau lebih besar dengan 130 mmHg).
Hipertensi pada penderita penyakit jantung iskemik ialah 16,1%, suatu
persentase yang rendah bila dibandingkan dengan prevalensi seluruh populasi
(33,3%), jadi merupakan faktor risiko yang kurang penting. Juga kenaikan prevalensi
dengan naiknya umur tidak dijumpai.Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang
membangun di segala bidang perlu memperhatikan tindakan mendidik untuk
mencegah timbulnya penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif
dan lain-lain, sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses
pembangunan.
Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan
yang terarah. Tujuan program penanggulangan penyakit kardiovaskuler adalah
mencegah peningkatan jumlah penderita risiko penyakit kardiovaskuler dalam
masyarakat dengan menghindari faktor penyebab seperti hipertensi, diabetes,
hiperlipidemia, merokok, stres dan lain-lain

D. PENYEBAB/ETIOLOGI
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara
mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan
penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab
tertentu (hipertensi sekunder).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh
hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa
perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama
menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada
sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.
Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian
obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma,
yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin
(adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:


1. Penyakit Ginjal
 Stenosis arteri renalis
 Pielonefritis
 Glomerulonefritis
 Tumor-tumor ginjal
 Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
 Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
 Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal
 Hiperaldosteronism
 Sindroma Cushing
 Feokromositoma
3. Obat-obatan
 Pil KB
 Kortikosteroid
 Siklosporin
 Eritropoietin
 Kokain
 Penyalahgunaan alkohol
 Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
 Koartasio aorta
 Preeklamsi pada kehamilan
 Porfiria intermiten akut
 Keracunan timbal akut
Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :
1. Peningkatan kecepatan denyut jantung
2. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
3. Peningkatan TPR yang berlangsung lama

E. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY


Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis ke ganglia simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system
saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana
dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi
sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatkan pelepasan renin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air
oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh
darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup)
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer,
2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel
jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila
diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan
dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II
berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi
kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang
menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan
darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada
organ-organ seperti jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 ).

F. MANIFESTASI KLINIS
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala;
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala
yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah
kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut:
 sakit kepala
 kelelahan
 mual
 muntah
 sesak nafas
 gelisah
 pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada
otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan
bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.

G. KLASIFIKASI
The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu :

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *

Kategori Sistolik Diastolik


(mmhg) (mmhg)
Normal < 130 <85
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi †
Tingkat 1 (ringan) 140-159 90-99
Tingkat 2 (sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (berat) ≥180 ≥110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan sistolik
dan diastolic turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah kategori
yang lebih tinggi. berdasarkan pada rata-rata dari dua kali pembacaan atau lebih yang
dilakukan pada setiap dua kali kunjungan atau lebih setelah skrining awal.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh
pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari atau sama dengan
120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya
terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada
tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam
jangka beberapa minggu.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau
lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih
dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan
dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah;
tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus
meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan
menurun drastis.
Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan ( pregnancy-induced
hypertension, PIH ) PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena hipertensinya
reversible setelah bayi lahir. PIH tampaknya terjadi akibat dari kombinasi peningkatan
curah jantung dan TPR. Selama kehamilan normal volume darah meningkat secara
drastis. Pada wanita sehat, peningkatan volume darah diakomodasikan oleh
penurunan responsifitas vascular terhadap hormon-hormon vasoaktif, misalnya
angiotensin II. Hal ini menyebabkan TPR berkurang pada kehamilan normal dan
tekanan darah rendah. Pada wanita dengan PIH, tidak terjadi penurunan sensitivitas
terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga peningkatan besar volume darah
secara langsung meningkatkan curah jantung dan tekanan darah. PIH dapat timbul
sebagai akibat dari gangguan imunologik yang mengganggu perkembangan plasenta.
PIH sangat berbahaya bagi wanita dan dapat menyebabkan kejang,koma, dan
kematian.

H. GEJALA KLINIS
Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya gejala pada
hipertensi essensial. kadang-kadang hipertensi essensial berjalan tanpa gejala dan baru
timbul gejala setelah komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata,otak,
dan jantung. gejala-gejala-gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing, migrain sering
ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi essensial. Pada survei hipertensi di
Indonesia tercatat gejala-gejala sebagai berikut:pusing, mudah marah, telinga
berdengung, mimisan(jarangan), sukar tidur, sesak nafas, rasa berat di tengkuk,
mudah lelah, dan mata berkunang-kunang.
Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah:
Gangguan penglihatan, Gangguan saraf, Gagal jantung,Gangguan fungsi ginjal,
Gangguan serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh
darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma
sebelum bertambah parah dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan
jantung, stroke, lakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan merubah
gaya hidup dan pola makan. beberapa kasus hipertensi erat kaitannya dengan gaya
hidup tidak sehat. seperti kurang olah raga, stress, minum-minuman, beralkohol,
merokok, dan kurang istirahat. kebiasaan makan juga perlu diqwaspadai. pembatasan
asupan natrium (komponen utama garam), sangat disarankan karena terbukti baik
untuk kesehatan penderita hipertensi.
I. KOMPLIKASI
Efek pada organ :
a. Otak
 Pemekaran pembuluh darah
 Perdarahan
 Kematian sel otak : stroke
b. Ginjal
 Malam banyak kencing
 Kerusakan sel ginjal
 Gagal ginjal
c. Jantung
 Membesar
 Sesak nafas (dyspnoe)
 Cepat lelah
 Gagal jantung

J. PEMERIKSAAN PENUNJANG/DIANOSTIK
a. Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu :
1. Pemeriksaan yang segera seperti :
 Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan dari sel-
sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor
resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
 Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi /
fungsi ginjal.
 Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan
hipertensi).
 Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron
utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
 Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi
 Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat
mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa
( efek kardiovaskuler )
 Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi
dan hipertensi
 Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer
(penyebab)
 Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada
DM.
 Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
 Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
 EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi
ventrikel kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola
regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda
dini penyakit jantung hipertensi.
 Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
pembesaran jantung.
2) Pemeriksaan lanjutan ( tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama ) :
 IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit
parenkim ginjal, batu ginjal / ureter.
 CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
 IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
 Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab,
CAT scan.
 (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis
pasien

K. PENATALAKSANAAN
Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena
olah raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yang teratur dapat memperlancar
peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat
digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke
dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).

Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:


1. Pengobatan non obat (non farmakologis)
2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Pengobatan non obat (non farmakologis)
Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah
sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya
ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan
non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek
pengobatan yang lebih baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita.
Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan
ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan
sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
1. Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat
mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
2. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
sebanyak 3-4 kali seminggu.
3. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang
beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.
1. Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh
(lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan
daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya adalah
Hidroklorotiazid.
2. Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis
(saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah :
Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
3. Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya
pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah
diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obatnya
adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus
harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar
gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi
penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran
pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.
4. Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi
otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah :
Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari
pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.
5. Penghambat ensim konversi Angiotensin
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat
Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh
obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin
timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
6. Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara
menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini
adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul
adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
7. Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat
Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa
jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan
(Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas
dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko
terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

II. KONSEP DASAAR ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


I. PENGKAJIAN
a. Karakteristik Demografi
1. Identitas Pasien
2. Riwayat Pekerjaan & Status Ekonomi
3. Aktivitas Rekreasi Riwayat Keluarga
b. Pola Kebiasaan Sehari-hari (Virginia Handerson)
Menurut teori Virginia Henderson, pengkajian terhadap kebutuhan pasien dapat
dilakukan diantaranya dari segi:
1.) Bernafas
Pada saat pengkajian pernafasan, pada umumnya pasien mengeluh sulit bernafas.
2.) Makan
Pada saat pengkajian pola makan biasanya pasien mengeluh mual .
3.) Minum
Pada saat pengkajian, pasien biasanya tidak mengeluhkan gangguan.
4.) Eliminasi BAB & BAK
Pada saat pengkajian, pasien biasanya tidak mengeluhkan gangguan.
5.) Gerak aktivitas
a.) Kemampuan ADL :
o Kemampuan untuk makan
o Kemampuan untuk mandi
o Kemampuan untuk toileting
o Kemampuan untuk berpakaian
o Kemampuan untuk instrumentalia
b.) Kemampuan mobilisasi:
Pada saat pengkajian, pasien biasanya mampu mengubah posisi d itempat
tidur, mampu duduk di tempat tidur, namun ketika pasien berdiri dan
berpindah pasien merasakan pusing.
6.) Istirahat tidur
Pasien biasanya mengalami gangguan tidur akibat nyeri dada, sesak, dan
pusing yang dirasakannya.
7.) Pengaturan suhu tubuh
Pada saat pengkajian suhu tubuh pasien biasanya berada dalam rentang normal
yaitu 36o C - 37° C.
8.) Kebersihan diri
Pada saat pengkajian, pasien biasanya tidak mengalami masalah/ keluhan
kebersihan diri.
9.) Rasa nyaman
Pada saat pengkajian, biasanya pasien mengatakan sakit pada bagian kepala, nyeri
pada dada, merasa sesak, serta kesemutan pada ekstremitas.
10.) Rasa aman
Pada saat pengkajian pasien biasanya gelisah atau cemas dengan raut wajah pasien
tampak tidak tenang.
11.) Sosial
Pada umumnya pasien tidak mengalami gangguan komunikasi atau hubungan
social dengan lingkungan sekitarnya.
12.) Pengetahuan belajar
Meliputi kemampuan pasien dalam menerima informasi tentang penyakitnya, serta
nasihat-nasihat yang diberikan oleh perawat atau dokter, berhubungan dengan
penyakitnya.
13.) Rekreasi
Pada umumnya pasien lebih banyak beristirahat di rumah atau fasilitas kesehatan,
dengan memanfaatkan fasilitas TV sebagai hiburan atau berkumpul bersama
keluarga. Pada pasien hipertensi ringan biasanya dianjurkan untuk melakukan
latihan fisik seperti lari, jogging, jalan santai atau bersepeda dan bersenang-senang.
Pasien juga dianjurkan untuk melakukan teknik relaksasi (yang memungkinkan
dan bukan kontraindikasi dari kondisi pasien) untuk mengurangi ketegangan dan
kecemasan.
14.) Spiritual
Pada umumnya, pasien tidak memiliki masalah dalam spiritual.

1.) Status Kesehatan Saat Ini


Pada umumnya pasien hipertensi mengeluh nyeri kepala dan kelelahan.
2.) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
 Pasien memiliki riwayat hipertensi dengan pengobatan yang tidak terkontrol
dan tidak berkesinambungan
 Adanya riwayat penyakit ginjal dan adrenal

3.) Pemeriksaan Fisik


c. Status Kesehatan
 Keadaan Umum
TTV, BB, GCS
 Keadaan Umum : lemah
Kesadaran (E: M: V)
TTV
BB/TB
 Integumen
Kulit lansia keriput ( kerena proses penuaan yang terjadi), kelenturan dan
kelembaban kurang.
 Kepala
Normal cephali, distribusi rambut merata, beruban, kulit kepala dalam keadaan
bersih, tidak terdapat ketombe ataupun kutu rambut, wajah simetris, nyeri tekan
negatif.
 Mata
Pasien umumnya mengeluh pandangan kabur.
 Telinga
Pasien umumnya tidak mengeluhkan gangguan pendengaran yang berkaitan
dengan hipertensi.
 Hidung dan sinus
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Mulut dan tenggorokan
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Leher
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Payudara
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Pernafasan
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Kardiovaskular
TD= 160/100 mmHg, Nadi = 88x/menit (nadi teraba cukup kuat). Lansia
biasanya mengeluh dadanya berdebar – debar. Terkadang terasa nyeri dada.
 Gastrointestinal
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Perkemihan
Pada umumnya pasien mengalami proteinuria.
 Genitourinaria
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
 Muskuloskeletal
Lansia biasanya merasakan kesemutan dan keram pada lutut saat cuaca dingin
sehingga sulit berdiri. Tonus otot berkurang, tulang dada, pipi, klavikula
tampak menonjol, terjadi sarkopenia, ekstremitas atas bawah hangat.
 Sistem saraf pusat
Lansia biasanya mengalami sedikit penurunan daya ingat, tidak ada
disorientasi, emisi tenang, siklus tidur memendek.
 Sistem endokrin
Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan gangguan.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen otak
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan perubahan suplai darah ke organ
paru
3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral dan iskemia
miokard
4. Kelebihan volume cairan (edema) berhubungan dengan, peningkatan cairan
intravaskular
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum dan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan berhubungan dengan
Misinterpretasi informasi
7. Ansietas berhubungan dengan perubahan kondisi kesehatan
8. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan Krisis situasional
9. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload,
vasokontriksi pembuluh darah.

II. RENCANA KEPERAWATAN


1 Gangguan Setelah diberikan asuhan 1. Pantau  Normalnya autoregulasi
perfusi jaringan keperawatan diharapkan TD, catat adanya mempertahankan aliran
berhubungan pasien dapat mencapai hipertensi sistolik konstan pada saat ada flu
dengan atau mempertahankan secara terus sistemik. Kehilangan au
penurunan tingkat umum sadar menerus dan mengikuti kerusakan ker
suplai oksigen penuh,bebas dari gejala tekanan nadi yang vaskularisasi serebral lok
otak atau komplikasi semakin berat.  Perubahan pada ritme (p
neurologis merugikan Bradikardi) dan Disritmi
dengan kriteria hasil : 2. Pantau yang mencerminkan ada
 Pasien dapat frekuensi jantung, depresi/trauma pada bata
menunjukkan tanda- catat adanya pasien yang tidak memil
tanda vital stabil Bradikardi, jantung sebelumnya.
Tacikardia atau  Napas yang tidak teratur
bentuk Disritmia menunjukkan lokasi ada
lainnya. serebral dan memerlukan
yang lebih lanjut.
 Pengkajian kecenderung
3. Pantau perubahan tingkat kesad
pernapasan sangat berguna dalam m
meliputi pola dan lokasi penyebaran/luasn
iramanya. perkembangan dari keru
 Efektif dalam menurunk
4. Catat darah untuk mencegah k
status neurologis yang dapat dihubungkan
dengan teratur intoksifikasi PCP.
dan bandingkan
dengan keadaan
normalnya.

5. Berika
n obat anti
hipertensif misal
diazoksida
(hiperstat) dan
hidralazin
(apresolin).

2 Ketidakefektifan Setelah diberikan asuhan 1. Monitor  Mengetahui pergeraka


pola nafas keperawatan diharapkan kedalaman atau tidak.pergerakan
berhubungan Pola nafas efektif pernafasan, simetris mengindikasi
dengan dengan kriteria hasil: frekuensi, dan gangguan pola nafas.
 Penggunaan otot bantu
perubahan suplai  RR Normal ekspansi dada.
mengindikasikan bahw
darah ke organ  Tak ada bunyi nafas
tidak adekuat.
paru tambahan
 Bunyi nafas tambahan
 Penggunaan otot
adanya akumulasi sec
Bantu pernafasan.
pernapasan
2. Catat upaya  Pasien dengan ganggu
pernafasan membutuhkan oksigen
 Tanda vital menunjuk
termasuk
umum pasien. Pada pa
penggunaan otot
gangguan pernafasan T
Bantu nafas
maka perlu dilakukan
3. Auskultasi bunyi
nafas dan catat
bila ada bunyi
nafas tambahan
4. Kolaborasi
pemberian
Oksigen

5. Pantau tanda vital


(tekanan darah,
nadi, frekuensi,
pernafasan).

3 Nyeri Setelah diberikan asuhan 1. Observasi derajat  Mengetahui derajat nyer


berhubungan keperawatan diharapkan nyeri pasien dan mempermuda
dengan pasien Nyeri terkontrol selanjutnya.
peningkatan dengan kriteria hasil : 2. Pertahankan tirah  Meminimalkan stimulas
tekanan vascular  Mengungkapkan baring selama relaksasi.
serebral dan metode yang fase akut  Tindakan yang menurun
iskemia miokard memberikan 3. Berikan tindakan vaskular serebral dan ya
pengurangan nonfarmakologi memperlambat/ memblo
 Mengikuti regimen untuk simpatis efektif dalam m
farmakologi yang menghilangkan sakit kepala dan komplik
diresepkan sakit kepala atau
 Skala nyri 0-1 nyeri dada misal,
 Wajah pasien tidak kompres dingin
meringis pada dahi, pijat
punggung dan  Aktivitas yang meningka
leher, teknik vasokontriksi menyebab
relaksasi pada adanya penigkatan
( panduan vaskular serebral.
imajinasi,
distraksi ) dan  Mengetahui keadaan um
aktivitas waktu Peningkatan tanda-tanda
senggang. mengindikasikan nyeri b
4. Minimalkan terkontrol.
aktivitas
vasokontriksi  Menurunkan/mengontro
yang dapat menurunkan rangsang si
meningkatkan simpatis.
sakit kepala  Dapat mengurangi tegan
misalnya, ketidaknyamanan yang d
mengejan saat stres.
BAB, batuk
panjang,
membungkuk.
5. Kaji tanda-tanda
vital
6. Kolaborasi :
- Analgesik

- Antiansietas mis,
lorazepam,
diazepam
4 Kelebihan Setelah diberikan asuhan 1. Awasi denyut  Tacikardi dan hipertensi
volume cairan keperawatan diharapkan jantung, TD, CVP Kegagalan ginjal untuk m
berhubungan pasien menunjukkan urine, 2. Pembatasan cai
dengan edema keseimbangan masukan selama mengobati
dan haluaran,BB stabil, hipovolemia/hipotensi a
tanda vital dalam fase oliguri gagal ginjal
rentang normal dan tak Perubahan pada renin-an
ada oedema dengan 2. Catat pemasukan  Perlu untuk menentukan
kriteria hasil : dan pengeluaran kebutuhan penggantian c
 Menyatakan secara akurat.  Mengukur kemampuan g
pemahaman diet 3. Awasi berat jenis mengkonsentrasikan urin
individu/pembatasan urine  Penimbangan berat bada
cairan 4. Timbang tiap hari pengawasan status cairan
dengan alat dan Peningkatan berat badan
pakaian yang kg per hari diduga ada re
sama  Edema terjadi terutama p
yang tergantung pada tu
tangan, kaki, area lumbo
5. Kaji kulit, wajah  Membantu dalam penge
area tergantung
untuk edema

6. Berikan obat
sesuai indikasi
(diuretik)
5 Intoleransi Setelah diberikan asuhan 1. Kaji respon  Menyebutkan parameter
aktivitas keperawatan diharapkan pasien terhadap dalam mengkaji respons
berhubungan pasien dapat aktivitas, terhadap stres aktivitas d
dengan berpartisipasi dalam perhatikan merupakan indikator dar
Kelemahan aktivitas yang frekuensi nadi kerja yang berkaitan den
umum dan diinginkan/diperukan lebih dari 20 kali aktivitas.
ketidakseimbang dengan kriteria hasil : per menit di atas
an antara suplai  Melaporkan frekuensi
dan kebutuhan peningkatan dalam istirahat,
oksigen toleransi aktivitas peningkatan
yang dapat diukur tekanan darah  Teknik menghemat ener
 Menunjukkan yang nyata pengguanan energi, juga
penurunan dalam selama /sesudah keseimbangan antara sup
tanda-tanda aktivitas, dpsnea kebutuhan oksigen.
intoleransi fisiologi atau nyeri dada,
keletihan dan
kelemahan yang
berlebihan,  Mengidentifikasi sejauh
diaforesis, pusing kemampuan pasien dalam
atau pingsan aktivitas dan perawatan
2. Instruksikan  Kemajuan aktivitas berta
pasien tentang peningkatan kerja jantun
teknik Memberikan bantuan ha
penghematan kebutuhan hanya akan m
energi , misalnya kemandirian dalam mela
menggunakan
kursi saat mandi,
duduk saat
menyisir rambut
atau menggosok
gigi, melakukan
aktivitas dengan
perlahan
3. Kaji sejauh mana
aktivitas yang
dapat ditoleransi.

4. Berikan dorongan
untuk melakukan
aktivitas/perawata
n diri bertahap
jika dapat
ditoleransi
6 Kurang Setelah diberikan asuhan 1. Kaji kesiapan dan  Kesalahan konsep dan m
pengetahuan keperawatan diharapkan hambatan dalam diagnosa karena perasaa
mengenai pasien menyatakan belajar. Termasuk sudah lama dinikmati m
kondisi dan pemahaman tentang orang terdekat minat pasien/orang terde
rencana proses penyakit dan mempelajari penyakit, k
pengobatan regimen pengobatan prognosis. Bila pasien ti
berhubungan dengan kriteria hasil : realitas bahwa membutu
dengan  Mengidentifikasi efek pengobatan kontinu, ma
Misinterpretasi samping obat dan perilaku tidak akan dipe
informasi kemungkinan  Pemahaman bahwa teka
komplikasi yang perlu 2. Tetapkan dan dapat terjadi tanpa gejala
diperhatikan nyatakan batas memungkinkan pasien m
 Mempertahankan TD TD normal. pengobatan meskipun ke
dalam parameter Jelaskan tentang sehat.
normal hipertensi  Karena pengobatan untu
efeknya pada adalah sepanjang kehidu
jantung, dengan penyampaian ide
pembuluh darah, akan membantu pasien u
ginjal dan otak. memahami kebutuhan un
3. Hindari melanjutkan pengobatan
mengatakan TD ”  Faktor-faktor risiko ini t
normal ” dan menunjukkan hubungan
gunakan istilah ” menunjang hipertensi da
terkontrol dengan kardiovaskular serta ginj
baik ” saat
menggambarkan
TD pasien dalam
batas yang
diinginkan.  Dengan mengubah pola
4. Bantu pasien ”biasa/memberikan rasa
dalam sangat menyusahkan. Du
mengidentifikasi petunjuk dan empati dap
faktor-faktor meningkatkan keberhasi
risiko dalam menyelesaikan tu
kardiovaskuler  Nikotin meningkatkan p
yang dapa diubah ketokolamin, mengakiba
misal, obesitas, peningkatan frekuensi ja
diet tinggi lemak vasokontriksi, menguran
jenuh dan jaringan, dan meningkat
kolesteskrol, pola miokardium.
hidup
monoton,meroko
k, minum alkohol,
pola hidup penuh
stres.
5. Atasi masalah
dengan pasien
untuk
mengidentifikasi
cara dimana
perubahan gaya
hidup yang tepat
dapat dibuat
untuk mengurangi
faktor-faktor
penyebab
Hipertensi
6. Bahas pentingnya
menghentikan
merokok dan
bantu pasien
dalam membuat
rencana untuk
berhenti merokok.
7 Koping individu Setelah diberikan asuhan 1. Kaji keefektifan  Mekanisme adaptif perlu
tidak efektif keperawatan diharapkan strategi koping mengubah pola hidup se
berhubungan pasien mampu dengan mengatasi hipertensi kro
dengan Krisis mengidentifikasi mengobservasi mengintegrasikan terapi
situasional perilaku koping efektif perilaku misal, diharuskan ke dalam keh
dengan kriteria hasil : kemampuan hari.
 Menyatakan menyatakan
kesadaran perasaan dan
kemampuan perhatian,
koping/kekuatan keinginan dalam  Manifestasi mekanisme
pribadi partisipasi dalam maladaptif mungkin mer
 Mengidentifikasi rencana indikator marah yang dit
potensial situasi stres pengobatan diketahui telah menjadi
dan mengambil 2. Bantu pasien TD diastolik
langkah untuk untuk  Keterlibatan memberika
menghindari atau mengidentifikasi kontrol diri yang berkela
mengubahnya. stresor spesifik memperbaiki keterampil
 Mendemonstrasikan dan kemungkinan dapat meningkatkan ker
pengguanaan strategi untuk regimen terapeutik.
keterampilan atau mengatasinya.  Fokus perhatian pasien t
metode koping efektif situasi yang ada relatif te
3. Libatkan pasien pandangan pasien tentan
dalam diinginkan.
perencanaan
perawatan dan
beri dorongan  Perubahan yang perlu ha
partisipasi diprioritaskan secara rea
maksimum dalam menghindari rasa tidak m
rencana tidak berdaya.
pengobatan
4. Dorong pasien
untuk
mengevaluasi
prioritas/tujuan
hidup. Tanyakan ”
apakah yang anda
lakukan
merupakan apa
yang anda
inginkan?”
5. Bantu pasien utuk
mengidentifikasi
dan mulai
merencanakan
perubahan hidup
yang perlu. Bantu
untuk
menyesuaikan
daripada
membatalkan
tujuan
diri/keluarga
8 Ansietas Setelah diberikan asuhan 1. Observasi tingkah  Ansietas ringan da
berhubungan keperawatan diharapkan laku yang dengan peka rangsang d
dengan pasien tampak rileks menunjukkan Ansietas berat yang berk
perubahan Kriteria hasil: tingkat ansietas. kedalam keadaan panik
kondisi  Melaporkan cemas menimbulkan perasaan
kesehatan berkurang sampai ketidakmampuan untuk
hilang bergerak.
 Mampu 2. Tinggal bersama  Menegaskan pada
mengidentifikasi pasien,mempertah orang terdekat bahwa w
cara hidup yang ankan sikap yang perasaan pasien diluar k
sehat untuk tenang. Mengakui lingkungannya tetap am
membagikan atau menjawab
perasaannya kekhawatirannya
dan mengizinkan
perilaku pasien  Memberikan inform
yang umum. akurat yang dapat menu
kesalahan interpretasi y
3. Jelaskan prosedur, berperan pada reaksi an
lingkungan  Rentang perhatian
sekeliling atau menjadi pendek, konsen
suara yang yang membatasi kemam
mungkin didengar menerima informasi.
oleh pasien.
4. Bicara singkat  Menciptakan lingk
dengan kata terapiutik
sederhana.

5. Kurangi stimulasi
dari luar :
tempatkan pada
ruangan yang
tenang, kurangi
lampu yang
terlalu terang,
kurangi orang
jumlah orang
yang
berhubungan
dengan pasien
9 Risiko tinggi Setelah diberikan asuhan 1. Pantau TD. Ukur  Perbandingan dari tekan
penurunan curah keperawatan diharapkan pada kedua gambaran yang lebih len
jantung pasien mampu tangan/ paha keterlibatan/ bidang mas
berhubungan berpartisipasi dalam untuk evaluasi Hipertensi diklasifikasik
dengan aktivitas yang awal. Gunakan dewasa sebagai peningk
Peningkatan menurunkan tekanan ukuran manset diastolik sampai 130, ha
afterload, darah/ beban kerja yang tepat dan diastolik di atas 130 dipe
vasokontriksi jantung dengan criteria teknik yang sebagai peningkatan per
pembuluh darah. hasil : akurat. maligna. Hipertensisisto
 Mempertahankan merupakan faktor risiko
tekanan darah dalam untuk penyakit serebrov
rentang individu yang penyakit iskemi jantung
dapat diterima diastolik 90-115.
 Memperlihatkan
irama dan frekuensi  Denyutan karotis ,jugula
jantung yang stabil femoralis mungkin terpa
dalam rentang normal pada tungkai mungkin m
pasien mencerminkan efek dari
2. Catat keberadaan, ( peningkatan SVR ) dan
kualitas denyutan  S4 umum terdengar pada
sentral dan hipertensi berat karena a
perifer. atrium. Adanya krakel, m
mengindikasikan konges
terhadap terjadinya atau
kronik
3. Auskultasi tonus  Adanya pucat, dingin, k
jantung dan bunyi masa pengisian kapiler l
nafas. berkaitan dengan vasoko
mencerminkan dekompe
curah jantung.
 Menurunkan stres dan k
4. Amati warnakulit, mempengaruhi tekanan
kelembaban, suhu perjalanan penyakit hipe
dan masa
pengisian kapiler

 Membantu untuk menur


simpatis; meningkatkan
5. Pertahankan
pembatasan
aktivitas seperti
istirahat di tempat  Tiazid mungkin digunak
tidur/ kursi, dicampur dengan obat la
jadwal periode menurunkan TD pada pa
istirahat tanpa fungsi ginjal yang relatif
gangguan, bantu Diuretik ini memperkuat
pasien melakukan antihipertensi lain denga
aktivitas retensi cairan. Vasodilato
perawatan diri aktivitas kontriksi arteri
sesuai kebutuhan ujung saraf simpatik.
6. Berikan
lingkungan
tenang, nyaman,
kurangi aktivitas /
keributan
lingkungan.
Batasi jumlah
pengunjung dan
lamanya tinggal.
7. Kolaborasi :
- Berikan obat-obat
sesuai indikasi
seperti Diuretik
tiazid dan
vasodilator
III. EVALUASI
Dx 1: Pasien dapat mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil
Dx 2: RR Normal
Tak ada bunyi nafas tambahan
Penggunaan otot Bantu pernafasan.
Dx.3: Pasien mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan
Skala nyri 0-1
Wajah pasien tidak meringis
Dx 4: Pasien menunjukkan keseimbangan masukan dan haluaran,BB stabil, tanda vital
dalam rentang normal dan tak ada oedema
Menyatakan pemahaman diet individu/pembatasan cairan
DX 5: Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
DX6: Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu
diperhatikan
Mempertahankan TD dalam parameter normal
DX 7: Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi
Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langkah untuk
menghindari atau mengubahnya.
Mendemonstrasikan pengguanaan keterampilan atau metode koping efektif
DX 8 : Melaporkan cemas berkurang sampai hilang
Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan
perasaannya
DX 9 : Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung yang stabil dalam rentang normal
pasien
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,
Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford: Oxford
University Press
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta
Soeparman dkk,2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta
Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,