Anda di halaman 1dari 23

PALEO\

ANTROPOLOGI

Oleh :

Dwiki Maulana Abdullah


Ummi Khoiriyah
Puji Setyowati
Ayu meilana
Salma Hayati
Vita Azlina

Kelas I A

Kelompok

Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang


Jl. Besar Ijen 77C
Tahun Ajaran
2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

atas Berkah dan HidayahNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah


paleoantropologi ini dengan harapn agar pembaca dapat memahami dan
menghargai sejarah tentang perkembangan manusia.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah
Antropologi yang telah membantu kami untuk menyelesaikan makalah ini dan
telah membimbing kami sampai tahap akhir penyelesaian makalah ini, semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca agar lebih mengenang dan menghargai
sejarah tentang perkembangan manusia purba serta dapat mengenang dan
menghormati jasa-jasa para penemuan yang telah memberikan pelajaran kepada
kita tentang teori-teori dan sejarah tentang manusia purba.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 4
A. Latar Belakang................................................................................................................................. 4
B. Latar Belakang................................................................................................................................. 4
C. Tujuan ............................................................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................................................... 6
A. Definisi ............................................................................................................................................ 6
B. Sejarah Ilmu Paleoantropologi........................................................................................................ 7
C. Sejarah Perkembangan Manusia .................................................................................................... 8
D. Perkembangan corak kehidupan dari zaman dahulu hingga zaman sekarang ............................. 18
BAB III KESIMPULAN.............................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 23

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Latar Belakang
Sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syajaratun yang memiliki arti pohon
kayu. Pengertian pohon kayu disini adalah kejadian, perkembangan, suatu peristiwa yang
membentuk suau kontunitas dari suatu kejadian. Ilmu sejarah mempunyai arti yang sangat
luas, para ahli juga banyak mengemukakan pendapatnya tentang ilmu sejarah.
Maka dari itu ilmu bantu sejarah sangat dibutuhkan untuk membantu
perkembangan sejarah dalam berbagai penelitian atau yang lainnya. Sejarawan tidak dapat
bekerja sendirian, sejarawan juga memerlukan ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan
penelitiannya, yang mencakup sejarah dari zaman dahulu yaitu zaman purba sampai sekarang
ini. Semakin luas perkembangan yang terdapat di ilmu sejarah, ilmu bantu sejarah dapat
membuat wawasan akan semakin luas tentang pengertian ruang lingkup sejarah itu sendiri.
Dalam memperoleh jawaban atas pertanyaan kapan manusia pertama kali
muncul di Bumi, kita harus meninjau kembali catatan fosil. Catatan ini menunjukkan bahwa
umat manusia dibumi sudah berusia jutaan tahun. Penemuan ini terdiri atas kerangka dan
tengkorak kepala manusia, dan jejak peninggalan berbagai bangsa yang hidup di zaman
berbeda. Salah satu peninggalan manusia tertua adalah “ jejak kaki “ yang ditemukan oleh
ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania.
Paleoantropologi adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal-usul atau soal
terjadinya dan evolusi makhluk manusia dengan menggunakan bahan penelitian sisa-sisa
tubuh yang telah membantu, atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu, yang tersimpan
dalam lapisan-lapisan bumi yang harus didapat oleh si peneliti dengan berbagai metode
penggalian.

4
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar pembaca khususnya kalangan remaja dapat mengenang para ahli yang telah
menemukan fosil-fosil manusia purba dan dapat mengetahui tentang perkembangan manusia
purba hingga menjadi manusia modern seperti pada saat ini.

2. Tujuan Khusus
 Agar memahami sejarah perkembangan ilmu paleoantropologi
 Agar memahami sejarah perkembangan manusia
 Memahami macam-macam serta ciri-ciri manusia purba
 Mengetahui pola hidup atau cara hidup manusia purba zaman dahulu

5
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi

 PALEO ANTROPOLOGI
Paleo-antropologi adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal-usul atau sola terjadinya
dan evolusi makhluk manusia dengan mempergunakan sebagai bahan penelitian sisa-sisa
tubuh yang telah membatu,atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu,yang tersimpan dalam
lapisan-lapisan bumi yang harus didapat oleh si peneliti dengan berbagai metode penggalian.
(http://monalisapasnas09-monalisa.blogspot.co.id/2011/10/pengertian-ilmu-ilmu-
bagian-dari.html)
 Hubungan antara Antropologi dan Paleontologi
Ilmu paleontologi dalam antropologi berperan sebagai ilmu yang meneliti fosil
makhluk-makhluk dahulu kala untuk membuat suatu rekontruksi tentang proses evolusi
bentuk-bentuk makhluk dari dahulu kala hingga sekarang.
(https://jojorlamrias.wordpress.com/2013/10/05/hubungan-antropologi-dengan-ilmu-
ilmu-lain/)
 MANUSIA PURBA

Manusia purba (prehistoric people) adalah jenis manusia yang hidup jauh sebelum
ditemukannya tulisan. (http://www.sejarah-negara.com/pengertian-manusia-purba/)
 MANUSIA MODERN

Manusia Modern adalah manusia yang hampir menyerupai manusia sekarang dan
manusia yang hidup sampai saat ini yaitu homo sapiens.
(www.materibiologi.com)
 FOSIL MANUSIA

Fosil (bahasa Latin : fossa yang berarti “menggali keluar dari dalam tanah”) adalah
sisa-sisa makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral.
(https://id.m.wikipedia.org/wiki/fosil)

6
B. Sejarah Ilmu Paleoantropologi
 SEJARAH ILMU PALEOANTROPOLOGI
Paleontropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fosil-fosil manusia-manusia
purba sering juga disebut sebagai antropologi ragawi. Yang dijadikan sebagai objek ilmu
Paleoantropologi ialah manusia-manusia purba itu sendiri. Ilmu ini bertujuan untuk
merekontruksi asal-muasal manusia, evolusi, pesebarannya, lingkungan, cara hidup dan
budayanya (Teuku Jacob, 1990:65-66). Di Indonesia fosil-fosil manusia ditemukan pada
lapisan pleistosen. Semula berawal dari temuan E. Dubois (1890) temuannya yaitu tulang
rahang di dekat desa trinil, di pinggir aliran bengawan solo, tidak jauh dari Ngawi. Kemudian
setelah itu ditemukan di tempat yang berbeda namun waktunya juga berbeda. Peneliti-peneliti
lain yaitu G.H.R. Von Koeningswald dan F. Weidenrich antara tahun 1931-1934 menemukan
sebelas fosil manusia purba namun fosil tersebut lebih sempurna daripada pithecanthropus
erectus mungkin sudah merupakan manusia sehingga mereka beri nama Homo
Soloensis(manusia solo).
(http://aldenabil.blogspot.co.id/2013/09/ilmu-bantu-sejarah.html)
Paleoantropologi mempunyai kajian berbeda dengan paleontologi. Objek kajian
paleoantropologi adalah mempelajari fosil manusia purba. Ilmu ini berusaha mengkaji,
merekonstruksi asal usul manusia, evolusinya, persebarannya, lingkungannya, cara hidup dan
budayanya. Fosil-fosil manusia ditemukan pada kala pleistosen.
Di Indonesia kajian manusia purba telah banyak dilakukan oleh sarjana Eropa sejak
akhir abad 19. Eugene Dubois menemukan tulang rahang di daerah Trinil tepi Bengawan
Solo. Setelah direkonstruksi fosil itu diberi nama Pithecantropus Erectus yang artinya
manusia kera berdiri tegak. GHR. Von Koeningswald yang berhasil merekonstruksi fosil
Homo Soloensis (Manusia Solo), Homo Mojokertensis (Manusia Mojokerto) dan
Pithecantropus Mojokertensis (Manusia kera dari Mojokerto) dan Meganthropus
Paleojavanicus (Manusia besar Jawa purba).
(http://pensa-sb.info/ilmu-bantu-sejarah/)

7
C. Sejarah Perkembangan Manusia

1. Megantropus paleojavanicus
(Fajar, 2011) menjelaskan definisi dan ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus
sebagai berikut.
Meganthropus Paleojavanicus adalah manusia purba yang tertua di Indonesia.
Meganthropus Paleojavanicus berasal dari kata-kata berikut ini:
 Mega yang artinya adalah "besar".
 Anthropus yang artinya adalah "manusia".
 Paleo yang artinya adalah "paling tua/tertua".
 Javanicus yang artinya adalah "Jawa".
Jadi Meganthropus Paleojavanicus artinya adalah "manusia bertubuh besar yang
paling tua dari Pulau Jawa". Meganthropus Paleojavanicus diperkirakan hidup pada dua juta
tahun yang lalu. Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus adalah sebagai berikut:

Ciri-ciri Meganthropus paleojavanicus adalah sebagai berikut :

 Memiliki tulang pipi yang tebal


 Memiliki otot kunyah yang kuat
 Memiliki tonjolan kening yang menyolok
 Memiliki tonjolan belakang yang tajam
 Tidak memiliki dagu
 Memiliki perawakan yang tegap
 Memakan jenis tumbuhan
 Hidup antara 2 sampai 1 juta tahun yang lalu
 Badannya tegak
 Hidup mengumpulkan makanan
 Rahangnya kuat

8
Pola kehidupan manusia purba: Bersifat Nomaden (hidup berpindah-pindah), yaitu
pola kehidupannya belum menetap dan berkelompok di suatu tempat serta, mata
pencahariannya berburu dan masih mengumpulkan makanan; Bersifat Sedenter (menetap),
yaitu pola kehidupannya sudah terorganisir dan berkelompok serta menetap di suatu tempat,
mata pencahariannya bercocok tanam.

pola kehidupan nya meganthropus paleojavanicus :


1.makanannya tumbuh tumbuhan
2.karena makanannya tanpa proses pemasakan , maka gigi rahangnya besar dan kuat.
3. tubuh kekar dan tidak berdagu

Fosil Meganthropus Paleojavanicus ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun


1936 di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Oleh karena temuan-temuan dari fosil
Meganthropus ini masih sangat sedikit, maka sukar menempatkan dengan pasti
kedudukannya dalam evolusi manusia dan hubungannya dengan Pithecanthropus. Selesailah
postingan ini semoga menambah ilmu dan bermanfaat bagi anda. Lain kali saya akan posting
mengenai manusia purba yang lain. Sampai jumpa.

9
2. Pithecanthropus
Manusia JawaManusia JawaIlustrasi tengkorak manusia JawaKlasifikasi
ilmiahKerajaan:AnimaliaFilum:ChordataKelas:MamaliaOrdo:PrimataFamili:HominidaeGenu
s:HomoSpesies:H. erectus paleojavanicusNama binomial
Homo erectus paleojavanicusDubois,1892Manusia Jawa(Homo erectus
paleojavanicus) adalah jenisHomo erectusyang pertama kali ditemukan. Pada awal
penemuan, makhluk mirip manusia ini diberi nama ilmiahPithecanthropus erectusolehEugène
Dubois, pemimpin tim yang berhasil menemukanfosiltengkoraknya diTrinilpada tahun1891.
NamaPithecanthropus erectussendiri berasal dari akarbahasa Yunanidanlatindan memiliki
artimanusia-kera yang dapat berdiri.SejarahKetika itu, Eugène Dubois tidak berhasil
mengambilfosilPithecanthropussecara banyak melainkan hanya tempurung tengkorak, tulang
paha atas dan tiga giginya saja. Dan sampai saat ini, belum ditemukan bukti yang jelas bahwa
ketiga tulang tersebut berasal dari spesies yang sama.[1]Sebuah laporan berisi 342 halaman
ditulis pada waktu itu tentang keraguan validitas penemuan tersebut. Meskipun demikian
manusia Jawa masih dapat ditemukan di buku-buku pelajaran saat ini.Fosil yang lebih
lengkap kemudian ditemukan di desaSangiran,Jawa Tengah, sekitar 18 km ke Utara dari
kotaSolo. Fosil berupa tempurung tengkorak manusia ini ditemukan olehGustav Heinrich
Ralph von Koenigswald, seorang ahlipaleontologidariBerlin, pada tahun1936. Selain fosil,
banyak pula penemuan-penemuan lain di situs Sangiran ini.[2].Sampai temuan manusia yang
lebih tua lainnya ditemukan diGreat Rift Valley,Kenya, temuan Dubois dan von Koenigswald
merupakan manusia tertua yang diketahui. Temuan ini juga dijadikan rujukan untuk
mendukungteori evolusiCharles DarwindanAlfred Russel Wallace. Banyak ilmuwan pada
saat itu yang juga mengajukan teori bahwa Manusia Jawa mungkin merupakan mata rantai
yang hilang antara manusia kera dengan manusia modern saat ini. Saat ini, antropolog
bersepakat bahwa leluhurmanusia saat ini adalahHomo erectusyang hidup di Afrika.Lain-
lainSeorang kartunisBrasilMaurício de Sousa, terinspirasi oleh nama ilmiah manusia Jawa,
menciptakan karakter Pitheco, atau lengkapnyaPithecanthropus erectus da
Silva.[1]Referensi1.^http://www.talkorigins.org/faqs/homs/java.html2.^http://whc.unesco.org
/pg.cfm?cid=31&id_site=593 ]

10
Ciri-ciri Pithecanthropus yaitu sebagai berikut. Pithecanthropus adalah mantan genus
hominid yang telah punah yang anggotanya kini telah yang masukan ke spesies Homo erectus
a. Tinggi tubuhnya kira-kira 165-180 cm.
b. Badan tegap, namun tidak setegap Meganthropus.
c. Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
d. Otot kunyah tidak sekuat Meganthropus.
e. Volume otaknya 900 cc.
f. Hidung lebar dan tidak berdagu.
g. Makanannya bervariasi, yaitu tumbuhan dan daging hewan buruan.
h. Tulang rahang dan geraham kuat serta bagiankening menonjoli.
Wajah tidak mempunyai daguj. Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat
kuatManusia Jawa (Homo erectus paleojavanicus) adalah jenis Homo erectus yang pertama
kali ditemukan. Pada awal penemuan, makhluk mirip manusia ini diberi nama ilmiah
Pithecanthropus erectus oleh Eugène Dubois, pemimpin tim yang berhasil menemukan fosil
tengkoraknya di Trinil pada tahun 1891. Nama Pithecanthropus erectussendiri berasal dari
akar bahasa Yunani dan latindan memiliki arti manusia-kera yang dapat
berdiri.Pithecanthropus Mojokertensis[ ]Pada tahun 1936, telah ditemukan fosil tengkorak
anak manusia purba oleh Weidenreich didesa Jetis, Mojokerto. Fosil manusia purba tersebut
diberi nama Pithecanthropus Robustus, sedang Von Koeningswald menyebutnya
Pithecanthropus Mojokertensis. Ciri-ciri
1.badan tegak
2.tidak memiliki dagu
3.bentuk kening menonjol
4.tinggi badan 165 – 180 cm
5.volume otak 750 – 1.300 cc
6.tulang rahang dan geraham cukup kuat
7.tulang tengkorak cukup tebal
8.bentuk tengkorak lonjong
9.hidup sekitar tahun 2 – 2,5 juta tahun yang lalu
Pithecantropus SoloensisG.H.R. Von Koeningswald, Oppenorth, dan Ter Haar pada
sekitar tahun 1931-1934 mengadakan penelitian di Lembah Sungai Bengawan Solo dan
penemuan pertama di Ngandong(Blora) adalah fosil Pithecanthropus Soloensis artinya
manusia kera dari Solo, kemudian ditemukan juga jenis Pithecanthropus di Sangiran yang
diperkirakan hidup pada 900.000 sampai 200.000 tahun yang lalu diperkirakan terdapat di
11
Sumatera, Kalimantan, dan Cina.Pithecanthropus RobustusFosil ini ditemukan oleh
weidenreich dan Von koenigswald pada tahun 1939 di Trinil, lembah Bengawan Solo. Fosil
ini berasal dari lapisan pleistosen bawah. Von koenigswald menganggap fosil ini sejenis
dengan pithecanthropus Mojokertensis.Hasil budaya manusia purba Pithecanthropus Erectus
:– Kapak perimbas– Kapak penetak– Kapak gengam– Pahat gengam– Alat serpih– Alat-alat
tulang

12
3. Homo

 Homo Neanderthal

Homo neanderthalensis
King, 1864

adalah anggota genus Homo yang telah punah dan berasal dari zamanPleistosen.
Spesimennya ditemukan di Eurasia, dari Eropa Barat hingga Asia Tengahdan Utara. Spesies
ini dinamakan Neandertal sesuai dengan lokasi tempat pertama kali ditemukan di Jerman,
Neandertal atau Lembah Neander.
Neanderthal dapat diklasifikasikan sebagai subspesies manusia (Homo sapiens
neanderthalensis) atau spesies yang berbeda (Homo neanderthalensis).[1] Jejak proto-
Neanderthal pertama muncul di Eropa 600.000–350.000 tahun yang lalu.[2]
Pada situs-situs arkeologi Uluzzian (salah satu kelompok etnis dalam keluarga besar
Neanderthal) di Italia Selatan telah ditemukan beragam peralatan hidup sehari-hari yang
digunakan oleh Neanderthal.[3] Peralatan tersebut meliputi alat memancing, berburu,

13
proyektil, serta peralatan lain dari tulang dan batu.[3] Hal ini menunjukkan bahwa
Neanderthal mampu berinovasi dan membuat teknologi baru.[3]
Neanderthal berpisah dari garis evolusi manusia sekitar 500.000 tahun yang lalu dan
lenyap dari muka bumi sekitar 30.000 tahun yang lalu.[3] Beberapa spekulasi yang diduga
berkaitan dengan kepunahannya adalah Neanderthal mati dibunuh oleh manusia modern atau
punah karena Homo sapiens lebih banyak dan aktif bereproduksi.[3]Spekulasi lainnya adalah
tiga kali letusan gunung berapi sekitar 40.000 tahun yang lalu di
daerah Italia dan Pegunungan Kaukasus telah menyebabkan kepunahan Nanderthal.[3]
Beberapa kumpulan artefak telah dikaitkan dengan Neanderthal di Eropa. Paling awal,
alat batu Mousterian, diperkirakan dari 300.000 tahun yang lalu.[4] Artefak Mousterian
terakhir ditemukan di Gua Gorham di pantai selatan Gibraltar.[5] Di luar Eropa, alat-alat
Mousterian dibuat oleh Neanderthals dan Homo sapiens awal modern.[6]

 Homo floresiensis ("Manusia Flores", dijuluki Hobbit)

14
adalah nama yang diberikan oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo,
yang memiliki tubuh dan volume otakkecil, berdasarkan serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang
belum sepenuhnya membatu) dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua, Pulau
Flores, pada tahun 2001.[1][2][3] Kesembilan sisa-sisa tulang itu (diberi kode LB1 sampai
LB9) menunjukkan postur paling tinggi sepinggang manusia moderen (sekitar 100 cm).
Para pakar antropologi dari tim gabungan Australia dan Indonesia berargumen
menggunakan berbagai ciri-ciri, baik ukuran tengkorak, ukuran tulang, kondisi kerangka
yang tidak memfosil, serta temuan-temuan sisa tulang hewan dan alat-alat di
sekitarnya.[1][2] Usia seri kerangka ini diperkirakan berasal dari 94.000 hingga 13.000 tahun
yang lalu.[4]

Liang Bua, tempat ditemukannya seri fosil H. floresiensis.


Liang Bua, tempat ditemukannya sisa-sisa kerangka ini, sudah sejak masa penjajahan
menjadi tempat ekskavasi arkeologi dan paleontologi. Hingga 1989, telah ditemukan banyak
kerangka Homo sapiens dan berbagai mamalia (seperti makhluk
mirip gajahStegodon, biawak, serta tikus besar) yang barangkali menjadi bahan makanan
mereka. Di samping itu ditemukan pula alat-alat batu seperti pisau, beliung, mata panah,
arang, serta tulang yang terbakar, yang menunjukkan tingkat peradaban penghuninya.
Kerja sama penggalian Indonesia-Australia dimulai tahun 2001 untuk mencari jejak
peninggalan migrasi nenek moyang orang Aborigin Australia di Indonesia. Tim Indonesia
dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Puslitbang Arkeologi Nasional (dulu Puslit
Arkenas) dan tim Australia dipimpin oleh Mike Morwood dari Universitas New England.
Pada bulan September 2003, setelah penggalian pada kedalaman lima meter (ekspedisi
sebelumnya tidak pernah mencapai kedalaman itu), ditemukan kerangka mirip manusia tetapi
luar biasa kerdil, yang kemudian disebut H. floresiensis. Tulang-tulang itu tidak membatu
(bukan fosil) tetapi rapuh dan lembap. Terdapat sembilan individu namun tidak ada yang
lengkap. Diperkirakan, Liang Bua dipakai sebagai tempat pekuburan. Untuk pemindahan,
dilakukan pengeringan dan perekatan terlebih dahulu.
Individu terlengkap, LB1, diperkirakan adalah betina, ditemukan pada lapisan berusia
sekitar 18.000 tahun, terdiri dari tengkorak, tiga tungkai (tidak ada lengan kiri), serta

15
beberapa tulang badan. Individu-individu lainnya berusia antara 94.000 dan 13.000 tahun.
Walaupun tidak membatu, tidak dapat diperoleh sisa material genetik, sehingga tidak
memungkinkan analisis DNA untuk dilakukan. Perlu disadari bahwa pendugaan usia ini
dilakukan berdasarkan usia lapisan tanah bukan dari tulangnya sendiri, sehingga
dimungkinkan usia lapisan lebih tua daripada usia kerangka. Pendugaan usia kerangka
dengan radiokarbon sulit dilakukan karena metode konservasi tulang tidak memungkinkan
teknik itu untuk dilakukan.

Salinan tengkorak H. floresiensis "LB1" (kiri) dibandingkan dengan tengkorak


manusia yang terkena mikrosefali yang pernah hidup di Pulau Kreta.

 Homo Wajakenesis

adalah manusia purba yang pernah hidup di Indonesia, tepatnya di


daerah Tulungagung, Jawa Timur.[1] Fosil Homo wajakensis ditemukan oleh Van
Riestchoten pada tahun 1889 di Desa Wajak, Tulungagung.[1] Fosil ini kemudian diteliti

16
oleh Eugene Dubois.[1] Temuan fosil ini merupakan temuan fosil manusia purba pertama
yang dilaporkan berasal dari Indonesia.[1]
Fosil Homo Wajakensis mempunyai tinggi badan sekitar 130—210 cm, dengan berat
badan antara 30-150 kg.[1] Volume otaknya mencapai 1300 cc Manusia purba jenis ini hidup
antara 40.000 —25.000 tahun yang lalu, pada lapisan Pleistosen Atas.[1] Apabila
dibandingkan jenis sebelumnya, Homo Wajakensis menunjukkan kemajuan.[1]
Makanannya sudah dimasak walaupun masih sangat sederhana.[1] Tengkorak Homo
Wajakensis memiliki banyak persamaan dengan tengkorak penduduk asli
suku Aborigin diAustralia.[1] Oleh karena itu, Eugene Dubois menduga bahwa Homo
WajakensIs termasuk dalam ras Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan
menurunkan bangsa Aborigin.[1] Fosil Homo Wajakensis juga memiliki kesamaan dengan
fosil manusia Niah di Serawak Malaysia, manusia Tabon di Palawan, Filipina, dan fosil-
fosil Australoid dari Cina Selatan, danAustralia Selatan.[1]
Homo wajakensis ini merupakan ras yang masih sulit ditentukan keturunannya karena
ia memiliki ciri-ciri ras Mongoloid dan juga Austromelanesoid, atau kemungkinan besar dari
sub ras Melayu Indonesia, namun turut berevolusi menjadi rasaustromelanesoid sekarang.[2]

 Homo sapiens idaltu


adalah subspesies Homo sapiens yang telah punah. Spesies ini hidup 160.000 tahun
yang lalu pada zaman Pleistosen di Afrika. Idaltu adalah kata dalambahasa Afar.
Fosil Homo sapiens idaltu ditemukan di Segitiga Afar tahun 1997 oleh Tim White.

 Homo Soloensis
Fosil Homo soloensis ditemukan di Ngandong, Blora, di Sangiran dan Sambung
Macan, Sragen, oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koenigswald pada tahun 1931—1933
dari lapisan Pleistosen Atas. Homo Soloensis diperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai
300.000 tahun yang lalu. Volume otaknya mencapai 1300 cc.
Menurut Von Koenigswald makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan
dengan Pithecanthropus Erectus. Diperkirakan makhluk ini merupakan evolusi dan
Pithecanthropus Mojokertensis. Oleh sebagian ahli, Homo Soloensis digolongkan dengan
Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia,
Eropa, dan Afrika berasal dari lapisan Pleistosen Atas.

17
D. Perkembangan corak kehidupan dari zaman dahulu hingga zaman
sekarang
Awal dari perkembangan manusia adalah diawali dengan manusia purba tersebut,
seperti yang kita ketahui banyak jenis manusai purba mulai dari meganthropus, homo, dll.
Berawal dari kehidupan manusia purba itulah, kehidupan pun berkembang dengan hal-hal
yang dilakukan oleh manusia purba tersebut sebenarnya manusia purba tersebut disebut
sebagai mahkluk individu atau makhluk tunggal tetapi dalam hal ini bukan berarti makhluk
purba tersebut dapat hidup sendiri, karena sangat tidak mungkin untuk hidup sendiri, karena
dalam menjalani hidup manusia harus bekerja sama dengan yang lain, atau hidup
berkelompok, begitupun dengan manusia modern jaman sekarang. Dan manusia purba juga
berkontribusi dalam perkembangan manusia hingga saat ini, dari teknologi, sandang pangan
dan pembuatan alat-alat yang sederhana, masyarkat purba jaman dahulu bertahan hidup
dengan cara :

18
1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan

Pada wakru itu lingkungan hidup di bumi masih labil dan liar. Kegiatan berburu
tersususn dalam keluarga kecil. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, laki-laki
bertugas melakukan pemburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan (tumbuhan-
tumbuhan dan hewan-hewan kecil), yang tidak memerlukan tenaga besar, dan juga bertugas
mengurusi anak-anak. Upaya-upaya yang dlakukan manusia purba dalam mempertahankan
dan mengembangkan kehidupannya pada masa ini adalah sebagai berikut :
a. Menciptakan berbagai alat dari batu dan tulang untuk menutupi kekurangan

fisiknya, alat-alat tersebut seperti kapak genggam, kapak perimbas.

b. Hidup berkelompoj antara 10-15 orang.

2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

Corak kehidupan dari masa bergantung pada alam, mereka hidup berburu binatang di
dalam hutan, menangkap ikan, dan mengumpulkan makanan seperti umbi-umbi, buah-
buahan, biji-bijian, dan dedaunan. Kaum wanita yang tidak banyak terlibat kegiatan
perburuan, lebih banyak berada disekitar gua-gua tempat tinggal mereka. Karena perhatian
wanita ditunjukkan kepada lingkungan yang terbatas, maka ia mampu memperluas
pengetahuannya tentang seluk beluk tumbuhan yang dapat di budidayakan.

3. Masa bercocok tanam.

Masa bercocok tanam merupakan masa yang penting bagi perkembangan masayarakat
dan peradaban, karena beberapa penemuan baru dalam rangka penguasaan sumber alam
bertambah cepat. Cara bercocok tanam mulai dikembangkan sehingga muncul lading-ladang
pertanian yang sedrhana. Pada awalnya masa bercocok tanam menghasilkan kedelai, ubi,
pisang, manggis, rambutan, dsb.
Pada masa bercocok tanam sudah ada tanda-tanda cara hidup menetap disuatu
perkampungan. Pada masa ini sudah ada desa-desa kecil semacam dusun. Pada setiap dukun
terdapat beberapa tempat tinggal yang dibangun secara tidak beraturan.

19
Perkembangan teknologi
sudah ada sejak zaman dahulu dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia purba
seperti pembuatan ruamh tinggal, alat-alat berburu tetapi menggunakan bahan-bahan yang
sederhana. Sampai kapanpun teknologi akan terus berkembang tidak akan pernah berhenti
sampai kapanpun penciptaannya kecuali pada akhir zaman nanti.
Teknologi apabila dikaitkan pada zaman manusia purba benda-benda perunggu yang
ditemukan dari zaman logam dibuat dengan menggunakan dua teknik :
1. Teknik bivalve (serangkap)

Teknik ini menggunakan dua cetakan yang dapat di tangkapkan (dirapatkan).


Cetakan tersebut diberi lubang pada bagian astasnya, dari lubang itu dituangkan
logam cair bila perunggu sudah dingin cetakan dibuka. Bila membuat benda berongga maka
digunakan tanah liat sebagai intinya yang akan membentuk rongga setelah tanah liat itu
dibuang. Cetakan ini dapat dipergunakan berkali-kali.
2. Teknik a circle Perduel (cetakan lilin)

Pembuatan perunggu dalam teknik ini diawali dengan membuat bentuk benda logam
dari lilin yang berisi tanah liat sebagai isinya, bentuk lilin yang sudah lengkap dibungkus lagi
dengan tanah liat yang lunak. Pada bagian atas dan bawah diberi lubang dari lubang atas
dituangkan perunggu cair dan dari lubang lubang bawah mengalirkan lilin yang meleleh. Bila
perunggu yang dituangkan perunggu cair dan dari lubang bawah mengalirkan lilin yang
meleleh. Bila perunggu yang dituangkan sudah dingin, cetakan tersebut dipecah untuk
mengambil bendanya yang sudah jadi. Cetakan seperti ini hanya dapat dipergunakan sekali
saja dan manusia purba mengecor logam.

20
BAB III
KESIMPULAN
Kepulauan Nusantara sangat terkenal sebagai tempat penemuan fosil manusia purba.
Tercatat ada 7 ( tujuh ) jenis fosil yang ditemukan di wilayah Nusantara.
Kebanyakan ditemukan di pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa Jawa merupakan
wilayah Nusantara yang paling banyak di “kunjungi” oleh “ Manusia Purba “. Di luar Jawa
memang juga ada namun tidak sebanyak di Jawa. Berikut adalah rangkuman dari Fosil-fosil
yang ditemukan di Nusantara beserta Penemu, tempat penemuan serta tahun penemuannya
yang diambil dari berbagai sumber :

Tahun
No Nama Fosil Penemu Tempat Penemuan Penemuan

Trinil, pinggir

Pithecanthropus Bengawan Solo, dekat


1. Erectus Eugene Dubois Ngawi 1891

Von
2. Homo Wajakensis Reitschotten Wajak, Tulung Agung 1889

Ngandong Blora,
Von Sangiran dan
Koenigswald Sambungmacan,
Homo Sapien
Soloensis (Homo dan Sragen, lembah Sungai
3. Soloensis). Weidenreich Bengawan Solo 1931 – 1934

4. Homo Erectus Eugene Dubois Trinil, Ngawi 1890

5. Homo Robustus Ngandong 1939


Von

21
Koenigswald

Von
6. Homo Mojokertensis Koenigswald Perning/Mojokerto 1936

Meganthropus Von
7. Palaeojavanicus Koenigswald Sangiran, Sragen 1941

Perubahan demi perubahan terjadi yang berakhir pada manusia modern seperti pada
saat ini, termasuk cara hidup atau pola hidup yang juga mengalami perubahan dari yang
semuanya alami dan sederhana menjadi serba canggih dan berkualitas terutama untuk
kesehatan manusia. Dari perubahan pada setiap manusia purba, maka juga ditemukan
perkembangan cara mereka untuk bertahan hidup dengan menciptakan alat-alat yang
sederhana untuk dipakai berburu atau kegiatan lainnya yang besar kaitannya dengan
kehidupan mereka.

22
DAFTAR PUSTAKA

(http://pensa-sb.info/ilmu-bantu-sejarah/)
(http://aldenabil.blogspot.co.id/2013/09/ilmu-bantu-sejarah.html)
(https://id.m.wikipedia.org/wiki/fosil)
(www.materibiologi.com)
http://www.sejarah-negara.com/pengertian-manusia-purba/)
(https://jojorlamrias.wordpress.com/2013/10/05/hubungan-antropologi-dengan-ilmu-ilmu-
lain/)
(http://monalisapasnas09-monalisa.blogspot.co.id/2011/10/pengertian-ilmu-ilmu-bagian-
dari.html)

23