Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KELOMPOK

AKUNTANSI SYARIAH

Disusun Oleh:
Indira Marsha 01031381621121
M.Fadly Assiddiqie 01031381621234
Nadra Karmeylia 01031381621146
Rentika Damara 01031381621232
Tiara Aulia Melinda 01031381621195
Yolanda Febiola 01031381621238
Yuzi Amelia Rizani 01031381621237

Universitas Sriwijaya
Fakultas Ekonomi
Akuntansi
2017/2018
RIBA
A. Riba dalam Islam
Contoh riba :

Praktik riba berupa piutang yang mendatangkan keuntungan sering kali


dikemas dalam bentuk jual beli walaupun sejatinya jual beli yang terjadi
hanyalah kamuflase belaka. Di antara bentuk kamuflase riba dalam
bentuk jual beli ialah dalam bentuk perkreditan yang melibatkan tiga
pihak : pemilik barang, pembeli dan pihak pembiayaan. Pihak pertama
sebagai pemilik barang mengesankan bahwa ia telah menjual barang
kepada pihak kedua, sebagai pemilik uang dengan pembayaran tunai.
Selanjutnya pembeli menjualnya kepada pihak ketiga dengan
pembayaran diangsur, dan tentunya dengan harga jual lebih tinggi dari
harga jual pertama.

Sekilas ini adalah jual beli biasa, namun sejatinya tidak demikian.
Sebagai buktinya :
 Barang tidak berpindah kepemilikan dari penjual pertama.
 Bahkan barang juga tidak berpindah tempat dari penjual pertama
 Segala tuntutan yang berkaitan dengan cacat barang, penjual
kedua tidak bertanggung jawab, namun penjual pertamalah yang
bertanggung jawab.
 Sering kali pembeli kedua telah membayarkan uang muka (DP)
kepada penjual pertama
Indikator-indikator tersebut membuktikan bahwa sejatinya
pembeli pertama, yaitu pemilik uang hanyalah memiutangkan
sejumlah uang kepada pihak ketiga. Selanjutnya dari piutangnya
ini, ia mendapatkan keuntungan.
Jauh-jauh hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang
praktik semacam ini, sebagaimana disebutkan pada hadits berikut.

َ ‫ع‬
َ‫طعَا ًما فَال‬ َ ‫سلَّ َم ( َم ْن ا ْبتَا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاُ َع ْن ُه َما قَا َل َر‬
َّ ‫س ْو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِ ‫َّاس َر‬ ٍ ‫َع ِن اب ِْن َعب‬
َّ ‫ َوأَخسِبُ ُك َّل َش ْيءٍ ِب َم ْن ِزلَ ِة‬: ‫َّللاُ َع ْن ُه َما‬
‫الط َع ِام‬ َّ ‫ي‬ ‫ض‬
َ ِ َ ‫ر‬ ‫َّاس‬
ٍ ‫ب‬‫ع‬َ ُ‫ن‬ ‫ب‬
ْ ‫ا‬ ‫ل‬
َ ‫ا‬ َ ‫ق‬ )ُ ‫ه‬ ‫ض‬
َ ‫ب‬‫ق‬ْ
ِ ‫يَ ِب ْعهُ َحتَّى‬
‫ي‬
َ

“Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma menuturkan, “Rasulullah


Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa membeli bahan
makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai
menerimanya’. “Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Dan saya
berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan”.
[Riwayat Bukhari hadits no. 2025 dan Muslim no. 3913]

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma menjelaskan alasan dari


larangan ini kepada muridnya, yaitu Thawus. Beliau menjelaskan
bahwa menjual barang yang belum diserahkan secara penuh adalah
celah terjadinya praktik riba.
َّ ‫ ذَاكَ دَ َرا ِه ُم ِبدَ َراه َِم َوال‬: ‫ْف ذَاكَ ؟ قَا َل‬
‫ط َعا ُم ُم ْر َجأ‬ ٍ ‫قُ ْلتُ ِالب ِْن َعب‬
َ ‫ َكي‬: ‫َّاس‬

Thawus bertanya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, “Mengapa


demikian?” Beliau )Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma( menjawab. “Itu
karena sebenarnya yang terjadi adalah mejual dirham dengan dirham,
sedangkan bahan makanannya ditunda )hanya kedok belaka(”.
[Riwayat Bukhari hadits no. 2025 dan Muslim hadits no. 3913]

2. Riba dalam Yahudi


Dalam konsep Yahudi, mereka melarang praktek pengambilan bunga.
Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci agama Yahudi, baik
dalam Perjanjian Lama maupun undang-undang Talmud.
a. Kitab Exodus Keluaran 22:25 menyatakan: “Jika engkau
meminjamkan uang kapada salah seorang ummatku, orang yang
miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih
hutang terhadap dia, janganlah engkau bebankan bunga
terhadapnya.”
b. Kitab Deoteronomy Ulangan 23:19 menyatakan: “Janganlah engkau
membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan
makanan, atau apa pun yang dapat dibungakan.”
c. Kitab Levicitus Ulangan 23:20 menyatakan: “Dari orang asing boleh
engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau
memungut bunga … supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau
dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk
mendudukinya.”
d. Kitab Imamat 35:7 menyatakan: “Janganlah engkau mengambil
bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan
Allahmu, supaya saudara-mu bisa hidup di antaramu. Janganlah
engkau memberi uang-mu kepadanya dengan meminta bunga, juga
makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba.”

3. Riba dalam Kristen


Konsep Bunga di Kalangan Kristen. Kitab Perjanjian Baru tidak
menyebutkan permasalahan ini secara jelas. Namun, sebagian kalangan
Kristiani menganggap bahwa ayat yang terdapat dalam Lukas 6:34-5
sebagai ayat yang mengecam praktek pengambilan bunga. Ayat tersebut
menyatakan : “Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang,
karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya, apakah
jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang berdosa,
supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi, kasihilah
musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan
tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan
menjadi anak-anak Tuhan Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap
orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang-orang
jahat.”
Ketidaktegasan ayat tersebut mengakibatkan munculnya berbagai
tanggapan dan tafsiran dari para pemuka agama Kristen tentang boleh
atau tidaknya orang Kristen mempraktekkan pengambilan bunga.
Berbagai pandangan di kalangan pemuka agama Kristen dapat
dikelompokkan menjadi tiga periode utama, yaitu pandangan para
pendeta awal Kristen (abad I hingga XII) yang mengharamkan bunga,
pandangan para sarjana Kristen (abad XII – XVI) yang berkeinginan
agar bunga diperbolehkan, dan pandangan para reformis Kristen (abad
XVI – tahun 1836) yang menyebabkan agama Kristen menghalalkan
bunga. Kitab Ulangan 23:20 menyatakan: “Dari orang asing boleh
engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau
memungut bunga … supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau
dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk
mendudukinya.“

4. Riba dalam Hindu dan Budha


Praktek riba (rente) dalam agama Hindu dan Budha dapat kita temukan
dalam naskah kuno India. Teks – teks Veda India kuno (2.000-1.400
SM( mengkisahkan “lintah darat” )kusidin( disebutkan sebagai pemberi
pinjaman dengan bunga. Atau dalam dalam teks Sutra (700-100 SM)
dan Jataka Buddha (600-400 SM) menggambarkan situasi sentimen
yang menghina riba. Sebagai contoh, Vasishtha, seorang Hindu terkenal
pembuat hukum waktu itu, membuat undang-undang khusus yang
melarang kasta yang lebih tinggi dari Brahmana (pendeta) dan Ksatria
(pejuang) menjadi rentenir atau pemberi pinjaman dengan bunga tinggi.
Juga, dalam Jataka, riba disebut sebagai “hypocritical ascetics are
accused of practising it”. Pada abad kedua, riba telah menjadi istilah
yang lebih relatif, seperti yang tersirat dalam hukum Manu, “ditetapkan
bunga melampaui tingkat hukum yang berlaku.