Anda di halaman 1dari 113
KEEFEKTIFAN METODE SAS (STRUKTUR ANALISIS SINTESIS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA NYARING BAHASA PRANCIS PADA SISWA KELAS
KEEFEKTIFAN METODE SAS (STRUKTUR ANALISIS SINTESIS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA NYARING BAHASA PRANCIS PADA SISWA KELAS
KEEFEKTIFAN METODE SAS (STRUKTUR
ANALISIS SINTESIS) DALAM PEMBELAJARAN
MEMBACA NYARING BAHASA PRANCIS PADA
SISWA KELAS X SMAN 1 JEPARA
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Prodi Pendidikan Bahasa Prancis
oleh
Susilo
2301407018

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ASING

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2011

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada:

Tanggal : 12 Agustus 2011 Panitia Ujian Ketua Sekretaris Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum.
Tanggal
: 12 Agustus 2011
Panitia Ujian
Ketua
Sekretaris
Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum.
NIP. 196008031989011001
Dra. Yuyun Rosliyah, M. Pd.
NIP. 196608091993031001
Penguji I
Tri Eko Agustiningrum, S.Pd, M.Pd.
NIP. 198008152003122001

Penguji II/ Pembimbing II

Penguji III/ Pembimbing I

Hari

: Jum‟at

Neli Purwani, S. Pd.

NIP. 198201312005012001

Dra. Dwi Astuti, M. Pd.

NIP.196101231986012001

ii

Dengan ini, saya:

PERNYATAAN

Nama

: Susilo

Nim

: 2301407018

Prodi/ Jurusan : Pendidikan Bahasa Prancis S1/ Bahasa dan Sastra Asing Fakultas : Bahasa dan
Prodi/ Jurusan
: Pendidikan Bahasa Prancis S1/ Bahasa dan Sastra Asing
Fakultas
: Bahasa dan Seni
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Keefektifan
Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) dalam Pembelajaran Membaca
Nyaring Bahasa Prancis pada Siswa Kelas X SMAN 1 Jepara” yang saya tulis
dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Bahasa Prancis, benar-benar merupakan karya saya sendiri, yang saya hasilkan
setelah melalui proses penelitian, bimbingan, diskusi dan pemaparan ujian. Semua
kutipan, baik langsung maupun tidak langsung, maupun sumber lainnya, telah
disertai keterangan mengenai identitas sumbernya dengan cara yang sesuai dalam
penulisan karya ilmiah. Dengan demikian, walaupun tim penguji dan pembimbing
penulisan skripsi ini membubuhkan tanda tangan sebagai keabsahannya, seluruh
isi karya ilmiah ini tetap menjadi tanggung jawab saya sendiri. Jika kemudian
ditemukan ketidakberesan, saya bersedia menerima akibatnya.
Demikian
pernyataan
ini
saya
buat,
selanjutnya
dapat
digunakan
seperlunya.

Semarang, 9 Agustus 2011

Yang membuat pernyataan,

iii

Susilo

2301407018

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

 “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu
 “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu
dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-qur‟an)
 “Tidak semua yang dapat dihitung diperhitungkan dan tidak semua yang
diperhitungkan dapat dihitung” (Albert Einstein)
 “Bahagia bukanlah mendapatkan semua yang kita inginkan, tetapi bahagia
adalah mensyukuri tiap apa yang telah Allah berikan” (Penulis)
PERSEMBAHAN :
Untuk : Ibu, Bapak, Adik-Adik, Keluarga, dan Kekasihku.

iv

PRAKATA

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga skripsi yang berjudul “Keefektifan Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) dalam Pembelajaran Membaca Nyaring Bahasa Prancis pada Siswa Kelas X SMAN 1 Jepara “ dapat terselesaikan.

Penulis mendapatkan bantuan secara materiil dan moril dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
Penulis mendapatkan bantuan secara materiil dan moril dari berbagai
pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan
segenap kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada ;
1. Prof. Dr. Rustono, M.Hum, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
Negeri Semarang, yang telah memberi kesempatan untuk mengadakan
penelitian ini.
2. Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang, yang telah mengesahkan skripsi ini.
3. Dra. Diah Vitri W., DEA., Ketua Jurusan BSA yang turut serta memberi
kesempatan untuk mengadakan penelitian ini.
4. Dra. Dwi Astuti, M.Pd., Dosen pembimbing I yang telah memberikan
masukan dan saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Neli Purwani, S.Pd., dosen pembimbing II, terima kasih atas kesabaran
dan pengorbanannya dalam membimbing saya, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
6. Tri Eko Agustiningrum, S.Pd., M.Pd., selaku penguji 1 yang telah
memberikan pengarahan dan saran-saran dalam memperbaiki skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu dosen Jurusan BSA yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini dan atas semua ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

8. Bapak, Ibu, dan Adik-Adikku tercinta.

9. Kekasihku, Novi Dwi Lestari, terima kasih untuk semua pengorbanan, bantuan, semangat, dan kasih sayangmu.

v

10. Teman-temanku mahasiswa angkatan 2007 dan 2006 Prodi Pendidikan bahasa Prancis yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semuanya.

11. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.

Semoga segala bantuan, bimbingan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal dan mendapat balasan dari Allah SWT. Amin!

Saran dan kritik yang membangun dari pelbagai pihak sangat penulis harapkan untuk melengkapi penelitian ini.
Saran dan kritik yang membangun dari pelbagai pihak sangat penulis harapkan
untuk melengkapi penelitian ini. Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, 9 Agustus 2011
Penulis

vi

ABSTRAK

Susilo. 2011. Keefektifan Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) dalam Pembelajaran Membaca Nyaring Bahasa Prancis pada Siswa Kelas X SMAN 1 Jepara. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Dra. Dwi Astuti, M.Pd; Pembimbing II : Neli Purwani, S.Pd.

Kata kunci : Metode SAS, Membaca nyaring.
Kata kunci : Metode SAS, Membaca nyaring.

Dalam pembalajaran membaca nyaring bahasa Prancis, pembelajar pemula mengalami kesulitan, terutama dalam melafalkan fonem-fonem yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Meski bahasa Prancis menggunakan huruf latin seperti halnya bahasa Indonesia, namun ada huruf dan tanda baca yang asing bagi pembelajar pemula bahasa Prancis, yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Seperti penggunaan accent, apostrhophe, dan ç (cédille). Ditambah lagi pelafalan atau cara membaca yang berbeda dari bahasa Indonesia. Kesulitan serupa juga disebabkan karena adanya persamaan dan perbedaan tata bunyi. Walaupun pelafalannya memiliki fonem yang sama, namun belum tentu tersusun atau terkonstruk dari susunan huruf yang sama pula. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) efektif dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara? Oleh sebab itu, maka penelitian ini bertujuan untuk mengukur keefektifan Metode Struktur Analisis Sisntesis (SAS) dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan metode one shoot case study design, menggunakan validitas isi dan untuk mengukur reliabilitas tes digunakan rumus K-R. 20. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan rumus deskripsi persentase. Variabel penelitian ini adalah prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas setelah diajar menggunakan metode SAS mencapai 82, sehingga penerapan Metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara, dikatakan efektif dan H a : “Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) efektif dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis di SMA Negeri 1 Jepara”, diterima.

vii

RÉSUMÉ

Susilo. 2011. L’fficacité de La Méthode Structure Analyse Synthèse (SAS) à L’apprentissage de Lire à Haute Voix du Français pour Les Lycéens de la Dixième Classe à SMAN 1 Jepara. Mémoire. Département des Langues et des Littératures Étrangères. Faculté des Langues et des Arts. L‟Université d‟État Semarang. Directeur : I. Dra. DwiAstuti, M.Pd. II. Neli Purwani, S.Pd.

Mots clés : La méthode SAS, Lire à haut voix. I. Introduction Selon la voix
Mots clés : La méthode SAS, Lire à haut voix.
I.
Introduction
Selon la voix du lecteur quand-t-il lit, si son voix est entendue ou pas, il y
a
deux types de lire. Ils sont: lire à haute voix et lire silencieux. Lire silencieux a
la pression à comprendre des informations ou le contenu d‟un texte. Alors que lire
à haute voix a la pression à la prononciation claire et l‟intonation exacte.
Dans l‟apprentissage de lire à haute voix du français, des débutants
subissent des difficultés, surtout à prononcer les phonèmes français qui ne sont
pas trouvés dans l‟indonésien. Pourtant le français utilise les lettres latin comme
l‟indonésien, mais le français a des lettres et des ponctuations differents par les
débutants, qui ne sont pas trouvés dans l‟indonésien. Par exemple, l‟utilisation de

l‟accent, l’apostrophe, et le

ç (cédille). En plus le moyen à prononcer des

phonèmes

qui

est

différent

entre

le

français

et

l‟indonésien.

Pourtant

la

prononciation a le même phonème, parfois il se compose des lettres différentes.

viii

Les problèmes au dessus créent les difficultés pour les débutants à lire à

haute voix au français. À cause de cela, le professeur devra utiliser la méthode qui

peut entraîner la prononciation du plus petit élément de la phrase, ce sont: la lettre,

la syllabe, ensuite la phrase. A côté de cela, le professeur devra enseigner le

moyen de lire en utilisant la bonne intonation et le découpage juste, parce qu‟ils

sont important dans l‟apprentissage de lire à haute voix. L‟objectif majeur de cette recherche est
sont important dans l‟apprentissage de lire à haute voix.
L‟objectif majeur de cette recherche est de savoir l‟efficacité de la
méthode structure analyse synthèse dans l‟apprentissage de lire a haute voix du
français pour les lycéens de dixième classe à SMAN 1 Jepara.
II. La Définition de Lire
Lire est un processus à faire et à utiliser par des lecteurs pour avoir des
informations que des écritures veulent informer par des lettres ou de la langue
écrite. (Hodgson dans Tarigan 1983: 7)
Selon Kridalaksana (dans Haryadi dan Zamzami 1996: 2), lire est une
compétence de savoir et de comprendre l‟écriture sous forme de l‟ordre des
symboles graphiques et leur changement devenir la langue orale sous la forme de
la compréhension en silencieux ou à la prononciation à haute voix.

ix

III.

La classification de lire

La classification de lire est un regroupement spécial à la compétence de

lire. Selon Tarigan (1989: 342), en générale, lire est partagé en deux, ce sont: lire

à haute voix et lire silencieux. Lire silencieux a la pression à comprendre des

information ou le contenu d‟un texte. Alors que lire à haute voix a la pression à la

prononciation claire et l‟intonation précis. IV. Les Types de La Méthode de Lire Haryadi (2006:
prononciation claire et l‟intonation précis.
IV. Les Types de La Méthode de Lire
Haryadi (2006: 42) explique que les types de la méthode de lire sont
classifiés en trois types, ce sont: la méthode élémentaire, la méthode médiocre, et
la méthode avancée.
La
méthode
SAS
dans
cette
recherche
est
inclus
dans
la
méthode
élémentaire, comme Wiryadijoyo et Akhadiah (dans Haryadi 2006: 43) déclarent
que la méthode élémentaire est partagée en cinq méthodes, ce sont: la méthode
alphabet,
la
méthode
analyse-arrange
la
syllabe,
la
méthode
lettre
institutionnaliser, la méthode générale, et la méthode structure analyse synthèse
(SAS).

V. La Méthode Structure Analyse Synthèse (SAS)

La Méthode Structure Analyse Synthèse (SAS) est une méthode de

l‟apprentissage de lire à haute voix qui se compose de trois processus, ce sont: lire

structuralement, analyser, et synthétiser (Haryadi 2006: 51).

x

D‟après Sumarti (dans Tarigan 1990: 56-57), la méthode SAS présente

entierement la phrase, ensuite cette méthode la partage dans mot à mot, suivant

elle la partage à la syllabe, et finalement la partage à la lettre. Apres cela, le

processus rejoind devenir la phrase complète.

VI. La Méthode de la Recherche La variable de cette recherche est le résultat de
VI. La Méthode de la Recherche
La variable de cette recherche est
le résultat de lire à haute voix du
français après l‟enseignement en utilisant la méthode structure analyse synthèse
(SAS).
La population de cette recherche est tous les étudiants du dixième à
SMAN 1 Jepara. Il
y a 10 classes du dixième comme la population de la
recherche. L‟échantillon de cette recherche est tous les lycéens de la classe X-1 à
SMAN 1 Jepara qui se compose de 32 étudiants.
J‟ai utilisé la méthode de la documentation et la méthode du test pour faire
la recherche. La méthode de la documentation a été utilisée pour connaître les
noms et les nombre des étudiants. La méthode du test a été fonctionnée pour
connaitre le résultat de lire à haute voix du français après l‟enseignement en
utilisant la méthode structure analyse synthèse (SAS).
La validité de cette recherche est la validité de contenu. La formule K-

R.20 est utilisée pour assurer la fiabilité des résultats.

xi

VII.

L’Analyse de la Recherche

L‟analyse des données de cette recherche montre que le résultat de lire à

haute voix du français après l‟enseignement en utilisant la méthode Structure

Analyse Synthèse (SAS) est bien. La note moyenne généralement est 82. 26

étudiants (81,2 %) ont la note 75 et 6 étudiants (18,8 %) ont la note < 75. La

meilleure note est 96 et la mauvaise note est 52. En détail: la note moyenne
meilleure note est 96 et la mauvaise note est 52. En détail: la note moyenne pour
la prononciation des phonèmes dans les mots est 83, la note moyenne pour la
prononciation des phonèmes dans les phrases est 70, la note moyenne pour le
découpage est 97, et la note moyenne pour l‟intonation finale est 84.
VIII. Conclusion
L‟utilisation de la méthode SAS dans la phrase est différente par rapport à
celle qui dans les mots. Dans la phrase, à côté de l‟aspect prononciation, il y a
aussi l‟aspect découpage et l‟intonation finale. Alors que l‟utilisation de cette
méthode dans les mots n‟a que la presse de la prononciation. L‟utilisation de cette
méthode peut aider les débutants à analyser des phonèmes qui apparaissent ou à
analyser le moyen de lire des mots ou des phrases. Mais, cette méthode ne fait pas
automatiquement de lire à haute voix chez les lycéens. Ils devraient pratiquer eux-
mêmes. Bien sûr le professeur a le rôle d‟entrainer et surveiller ses étudiants à

pratiquer.

xii

DAFTAR ISI

JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN PRAKATA ABSTRAK RÉSUMÉ DAFTAR ISI DAFTAR TABEL
JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERNYATAAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
PRAKATA
ABSTRAK
RÉSUMÉ
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1 PENDAHULUAN
i
ii
iii
iv
v
vii
viii
xiii
xvi
xvii
1.1 LatarBelakang
1
1.2 Rumusan Masalah
4
1.3 Tujuan Penelitian
4
1.4 Manfaat
4
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Membaca
5
2.2
Klasifikasi Membaca
6
2.3
Jenis-jenis Metode
8
2.4
Prononciation
15
2.5
33
2.6
Aturan Membaca Bahasa Prancis secara Umum
33
2.7
Suku
38

2.8 Kerangka Pikir

40

2.9 Hipotesis

41

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 PendekatanPenelitian

42

3.2 Variabel Penelitian

42

3.3 Populasi dan Sampel

43

xiii

3.4

MetodePengumpulan Data

42

3.5

Instrumen Penelitian

44

3.6

50

3.7

Reliabilitas

51

3.8

Penskoran Tes Membaca Nyaring

54

3.9

Analisis

55

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HasilPengumpulan Data 57 4.2 Hasil Analisis Presentase 65
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 HasilPengumpulan Data
57
4.2 Hasil Analisis Presentase
65
4.3 Pembahasan Kesalahan
68
4.4 Kesalahan yang Sering
73
BAB 5 PENUTUP
5.1
Simpulan
76
5.2
Saran
77
DAFTAR
79
LAMPIRAN
81

xiv

DAFTAR TABEL

3.1 Kisi-kisi

Intrumen Penelitian

45

3.2 Data Uji Coba Instrumen Soal Fonem dalam Kata

52

3.3 Data Uji Coba Instrumen Soal Fonem dalam Kalimat

53

3.4 Data Uji Coba Instrumen Soal Pemenggalan dalam Kalimat 53 3.5 Data Uji Coba Instrumen
3.4
Data Uji Coba Instrumen Soal Pemenggalan dalam Kalimat
53
3.5
Data Uji Coba Instrumen Soal Intonasi Final dalam
54
4.1
Nilai Responden pada Evaluasi Pertama
57
4.2
Nilai Responden pada Evaluasi Kedua
59
4.3
Skor Mentah dan Nilai yang Diperoleh Responden
62
4.4
Presentase Hasil Penelitian
66

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. SK Dosen Pembimbing 82 2. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian 83 3. Instrumen Penelitian
1. SK Dosen Pembimbing
82
2. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
83
3.
Instrumen Penelitian
84
4. Kunci Instrumen Penelitian
86
5. Perhitungan Realibilitas Instrumen
88
6. Daftar Nama Responden
95
7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
96

xvi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembelajaran bahasa pada umumnya, termasuk bahasa Prancis, secara

umum terbagi menjadi dua kemampuan, yaitu: kemampuan reseptif dan kemampuan produktif. Namun ada juga yang
umum
terbagi
menjadi
dua
kemampuan,
yaitu:
kemampuan
reseptif
dan
kemampuan produktif. Namun ada juga yang membagi kedua keterampilan di atas
menjadi
empat
keterampilan.
Tarigan
(1989:
1)
mengungkapkan
bahwa
keterampilan berbahasa mencakup empat segi, yaitu: (1) keterampilan menyimak/
mendengarkan, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4)
keterampilan menulis. Masing-masing keterampilan kebahasaan di atas saling
terkait dan tidak dapat dipisahkan. Meski demikian, guru dapat mengajarkan
masing-masing kompetensi atau keterampilan kebahasaan dengan menggunakan
metode, cara, atau teknik yang guru tentukan, salah satunya dalam keterampilan
membaca.
Ditinjau dari aspek terdengar atau tidaknya suara pembaca pada saat
membaca, membaca dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: membaca nyaring dan
membaca pemahaman (Tarigan 2008: 22-29). Membaca pemahaman menekankan
pada aspek pemahaman informasi atau isi bacaan, sedangkan membaca nyaring

lebih menekankan pada pelafalan yang jelas dan intonasi yang tepat.

Dalam silabus kelas X mata pelajaran bahasa Prancis dicantumkan

bahwa

membaca nyaring merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh

siswa. Siswa diharapkan mampu membaca nyaring kata, frasa, dan atau kalimat

1

2

dalam wacana tulis sederhana secara tepat. Pengucapan, jeda, dan intonasi dalam

membaca nyaring sangatlah penting, karena dapat mengubah arti bacaan yang

dibaca.

Meski bahasa Prancis menggunakan huruf latin seperti halnya bahasa

Indonesia, namun ada huruf dan tanda baca yang asing bagi pembelajar pemula

bahasa Prancis, yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, seperti penggunaan accent, apostrhophe, dan ç (cédille).
bahasa Prancis, yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, seperti penggunaan
accent, apostrhophe, dan ç (cédille). Ditambah lagi pelafalan atau cara membaca
yang berbeda dari bahasa Indonesia. Kesulitan serupa juga disebabkan karena
adanya persamaan dan perbedaan tata bunyi. Walaupun pelafalannya memiliki
fonem yang sama, namun belum tentu tersusun atau terkonstruk dari susunan
huruf yang sama pula.
Contoh:
1) Pada kata „pergi‟ dan „sate‟, dalam bahasa Indonesia bunyi [Ə] dan [e]
tidak memiliki perbedaan ortograph. Dalam bahasa Prancis, bunyi [Ə] dan [e]
dapat terbentuk dari susunan huruf yang berbeda atau dengan menggunakan
accent, seperti pada kata mais (ai dilafalkan [e] seperti pada kata „sate‟ dalam
bahasa Indonesia). Contoh bunyi [e] dalam bahasa Prancis yang menggunakan
accent, misal: la télévision. Sedangkan contoh bunyi
[Ə] dalam bahasa Prancis,
misal: le (l’article défini).

2) C’est un nom français. Pada kalimat tersebut terdapat apostrhophe, dan ç

(cédille) yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia.

3

3) Pada kata Casquer (dalam bahasa Prancis “ca” dibaca “ka”), sehingga

kata tersebut dibaca [kaske], bunyi “ka” terkonstruk dari huruf “c-a”, namun

dalam bahasa Indonesia bunyi “ka” terkonstruk dari huruf “k-a”.

Hal-hal tersebut di atas membuat pembelajar pemula mengalami kesulitan

dalam membaca nyaring bahasa Prancis. Oleh sebab itu, guru hendaknya menggunakan metode yang dapat melatih
dalam
membaca
nyaring
bahasa
Prancis.
Oleh
sebab
itu,
guru
hendaknya
menggunakan metode yang dapat melatih prononciation dari unsur terkecil dalam
kalimat, yaitu: huruf, suku kata, kata, kemudian kalimat. Selain itu guru juga
harus
mengajarkan
cara
membaca
yang
benar
menggunakan
intonasi
dan
pemotongan yang tepat, mengingat pentingnya penguasaan membaca nyaring.
Metode Struktur Analisis Sintesis (SAS) adalah salah satu metode yang
dapat digunakan dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada
tingkatan pemula. Penerapan metode ini mirip dengan metode mengeja, yaitu
metode yang diterapkan pada anak kelas 1 SD untuk berlatih membaca nyaring.
Namun pada proses pengajaran membaca nyaring bahasa Prancis, metode ini
tidak sepenuhnya diterapkan seperti pada pengajaran membaca nyaring bahasa
Indonesia. Aktifitas mengeja tidak dilakukan dari satuan huruf, namun suku kata.
Di samping itu, siswa akan diajari cara pemenggalan kata dalam melafalkan
kalimat dengan intonasi yang tepat.
Berdasarkan
studi
pendahuluan
yang
telah
dilakukan
oleh
peneliti,

kenyataan di SMAN 1

Jepara menunjukkan bahwa pembelajaran membaca

nyaring kurang mendapat perhatian dari guru. Guru membiarkan siswa membaca

teks dengan lafal dan intonasi yang kurang tepat. Oleh sebab itu, peneliti ingin

menerapkan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis

4

agar siswa terbiasa membaca dengan lafal,

benar.

1.2 Rumusan Masalah

pemenggalan, , dan intonasi yang

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Apakah metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) efektif dalam
Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Apakah metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) efektif dalam pembelajaran
membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektif tidaknya penggunaan
metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) dalam pembelajaran membaca nyaring
bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara.
1.4 Manfaat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan atau menjadi sumber informasi
mengenai keefektifan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa
Prancis.

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Membaca

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh

pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis
pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata-kata atau bahasa tulis (Hodgson dalam Tarigan 1983: 7)
Soedarso (1988: 4) mengemukakan bahwa kegiatan membaca adalah suatu
aktifitas
yang
kompleks
yang
mengerahkan
sejumlah
besar
tindakan
yang
terpisah-pisah. Aktifitas yang kompleks menurut beliau adalah aktifitas yang
meliputi kegiatan seseorang yang harus menggunakan pengertian dan khayalan,
pengamatan dan mengingat-ingat.
Hal ini sejalan dengan pendapat Harjasudjana dan Mulyati (1997: 5) yang
mengungkapkan bahwa membaca adalah kemampuan yang kompleks, artinya
membaca
bukanlah
kegiatan
memandangi
lambang-lambang
tertulis
semata,
melainkan juga interaksi pembaca dan penulis. Interaksi tersebut tidak bersifat
langsung, namun bersifat komunikatif.
Menurut
(Kridalaksana dalam Haryadi dan Zamzami 1996: 2) membaca
adalah keterampilan mengenal
dan
memahami
tulisan
dalam bentuk
urutan

lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam

bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras.

Dari

uraian

pengertian

membaca

di

atas,

dapat

disimpulkan

bahwa

membaca adalah suatu aktifitas yang dilakukan untuk memperoleh informasi atau

pesan dari penulis melalui media kata-kata. Membaca juga dapat diartikan sebagai

5

6

suatu aktifitas yang kompleks dan bukan sekedar kegiatan memandangi lambang-

lambang tertulis semata, baik dilakukan dengan memahaminya dengan diam-diam

maupun diujarkan dengan suara nyaring.

Pada

penelitian

ini

dibahas

tentang

aktifitas

membaca

yang

paling

mendasar, yaitu pada tingkatan belajar membaca. Dalam hal ini adalah membaca

dalam bahasa Prancis. Oleh sebab itu, aktifitas membaca akan lebih ditekankan pada kemampuan siswa dalam
dalam bahasa Prancis. Oleh sebab itu, aktifitas membaca akan lebih ditekankan
pada kemampuan siswa dalam pemenggalan kata ketika melafalkan kalimat
dengan intonasi yang tepat.
2.2 Klasifikasi Membaca
Klasifikasi
membaca
merupakan
pengelompokan
khusus
pada
keterampilan membaca. Menurut Tarigan (1989: 342) secara umum membaca
dibagi
menjadi
dua,
yaitu:
membaca
nyaring
dan
membaca
pemahaman.
Membaca nyaring adalah aktifitas atau kegiatan membaca yang lebih ditujukan
pada pengucapan daripada pemahaman. Sebaliknya, membaca pemahaman lebih
ditujukan pada pemahaman informasi yang hendak disampaikan penulis kepada
pembaca.
Dalam
http://guruit07.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-membaca-
dan.html dijelaskan bahwa ditinjau dari segi
terdengar atau tidaknya suara

pembaca waktu melakukan kegiatan membaca, maka proses membaca dapat

dibedakan menjadi :

7

2.2.1 Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk

memahami tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan, resensi kritis,

dan pola-pola fiksi.

Ada pula yang menyebut membaca pemahaman dengan sebutan membaca

dalam hati, yaitu: kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya. 2.2.2
dalam hati, yaitu: kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan
isi bacaan yang dibacanya.
2.2.2
Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan
yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan
pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang
berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis.
Keterampilan
yang
dituntut
dalam
membaca
nyaring
adalah
berbagai
kemampuan, di antaranya adalah :
a.
menggunakan ucapan yang tepat,
b.
menggunakan frase yang tepat,
c.
menggunakan intonasi suara yang wajar,
d.
dalam posisi sikap yang baik,

e. menguasai tanda-tanda baca,

f. membaca dengan terang dan jelas,

g. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,

h. membaca dengan tidak terbata-bata,

8

i. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,

j. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,

k. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,

l. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.

Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring di atas adalah keterampilan membaca nyaring dalam bahasa ibu.
Keterampilan
yang
dituntut
dalam
membaca
nyaring
di
atas
adalah
keterampilan membaca nyaring dalam bahasa ibu. Meski demikian, ada poin-poin
tertentu yang sesuai jika diterapkan dalam membaca nyaring bahasa Prancis, yaitu
pada poin a, b, c, d, e, f, h, j, dan l.
2.3 Jenis-Jenis Metode Membaca
Haryadi (2006: 42) menerangkan bahwa dari berbagai ragam metode
membaca, dapat diklasifikasikan menjadi tiga,
yaitu: metode dasar, metode
menengah, dan metode lanjutan.
Metode SAS yang akan diteliti dalam penelitian ini termasuk dalam
metode dasar, seperti yang dijelaskan oleh Wiryadijoyo dan Akhadiah (dalam
Haryadi 2006: 43) yang menyatakan bahwa metode membaca dasar (permulaan)
ada lima,yaitu: metode abjad, kupas rangkai suku kata, kata lembaga, global, dan
struktur analisis sintesis (SAS).
2.3.1
Metode Abjad

Metode

abjad

merupakan

metode

membaca

yang

digunakan

atau

diperuntukan

bagi

pembaca

pemula

yang

baru

belajar

membaca

atau

baru

mengenal huruf dengan prosedur huruf dibaca dalam wujud abjad.

9

Contoh:

seterusnya.

Huruf a,

b,

c,

d

dan

seterusnya dibaca a,

be,

ce,

2.3.2 Metode Kupas Rangkai Suku Kata

de, dan

Metode kupas rangkai suku kata merupakan metode membaca yang

digunakan atau diperuntukan bagi pembaca pemula dengan prosedur mengurai dan merangkai suku kata yang dibaca.
digunakan atau diperuntukan bagi pembaca pemula dengan prosedur mengurai
dan merangkai suku kata yang dibaca. Bacaan yang dibaca dalam bentuk suku
kata.
Suku kata-suku kata tersebut dibaca dengan prosedur:
a. Tiap suku kata diurai atau dibaca huruf demi huruf.
b. Huruf demi huruf dirangkai atau dibaca menjadi suku kata
Contoh: bo-la
b-o-l-a
bo-la
2.3.3 Metode Kata Lembaga
Metode kata lembaga adalah metode membaca yang digunakan atau
diperuntukan bagi pembaca pemula dengan prosedur mengurai dan merangkai
kata lembaga yang dibaca. Kata lembaga merupakan kata yang sudah dikenal oleh

pembaca. Kata yang sudah dikenal pembaca (siswa) sebagai materi bacaannya

supaya lebih mudah dalam belajar membaca karana kata yang dibaca sudah

pernah didengar, bendanya sudah pernah dilihat, dan bahkan dimilikimya.

10

Bacaan yang dibaca tidak dalam bentuk suku kata, namun dalam bentuk

kata. Kata-kata tersebut dibaca dengan prosedur:

a. Kata dibaca (diuraikan) menjadi suku kata-suku kata

b. Suku kata dibaca (diuraikan)menjadi huruf demi huruf

c. Huruf demi huruf dibaca (diuraikan) menjadi suku kata d. Suku kata-suku kata dibaca (dirangkai)
c. Huruf demi huruf dibaca (diuraikan) menjadi suku kata
d. Suku kata-suku kata dibaca (dirangkai) menjadi kata.
Contoh:
topi
To-pi
t-o-p-i
to-pi
topi
2.3.4 Metode Global
Metode global merupaka metode yang digunakan atau diperuntukan bagi
pembaca pemula dengan prosedur memperkenalkan bacaan secara utuh , membca
bagian demi bagian (unsur) bacaan, dan membacanya secara utuh kembali.
Contoh:
ini bola saya
Ini
bola
saya

i-ni

bo-la

sa-ya

i-n-i

b-o-l-a

s-a-y-a

i-ni

bo-la

sa-ya

ini

bola

saya

ini bola saya

11

2.3.5 Metode SAS (Srtuktur Analisis Sintesis)

Metode Struktur Analisis Sintesis (SAS) merupakan metode pembelajaran

membaca permulaan (membaca nyaring) yang terdiri atas tiga tahapan, yaitu:

membaca secara struktural, analisis, dan sintesis (Haryadi 2006: 51).

Menurut Sumarti (dalam Tarigan 1990: 56-57), metode SAS yaitu dengan mengenalkan kalimat secara menyeluruh kemudian
Menurut Sumarti (dalam Tarigan 1990: 56-57), metode SAS yaitu dengan
mengenalkan kalimat secara menyeluruh kemudian dipecah
atau dipisahkan
menjadi kata perkata, lalu dipisahkan lagi menurut suku katanya, dan akhirnya
dipecah lagi menjadi huruf-huruf. Setelah itu semua disatukan kembali menjadi
kalimat yang utuh.
Merujuk pada namanya, metode ini berisi dua jenis proses berfikir, yaitu
sintesis
dan
analisis.
Sintesis
adalah
proses
berfikir
menggabungkan
atau
menyatukan. Sebaliknya analisis adalah proses berfikir menguraikan atau merinci
(http://penulisbujursangkar.blogspot.com/).
Metode SAS adalah metode pembelajaran membaca permulaan (membaca
nyaring)
yang dilakukan
secara bertahap
dan
berulang-ulang.
Metode
yang
diterapkan pada siswa kelas I SD dalam belajar membaca bahasa Indonesia.
Selanjutnya metode ini akan diterapkan pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara untuk
mengetahui efektif tidakkah metode tersebut jika diterapkan dalam pembelajaran
membaca dalam bahasa Prancis.

12

Penerapan metode ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu:

1) Tahap Orientasi

Pada tahap ini guru menjelaskan pelafalan huruf, accent, dan kata-kata

dalam

bahasa

Prancis

yang

berbeda

dengan

bahasa

Indonesia,

termasuk

pengecualian-pengecualiannya. a. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa penekanan pada bahasa Prancis terletak pada suku
pengecualian-pengecualiannya.
a. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa penekanan pada bahasa Prancis
terletak pada suku kata terakhir.
b. Guru menjelaskan cara membaca dalam bahasa Prancis
secara umum
„ou‟ dibaca ‟u‟
„oi‟ dibaca „oa‟
„au‟ dibaca „o‟
„s‟ yang diapit dua huruf vokal dibaca „z‟
„ss‟ yang diapit dua huruf vokal dibaca „s‟
„ca‟ dibaca „ka‟
„ci‟ dibaca „si‟
„cu‟ dibaca „ky‟
„ce‟ dibaca „se‟
„co‟ dibaca „ko‟

„ga‟ dibaca „ga‟

„gi‟ dibaca „ʒi‟

„gu‟ dibaca „gy‟

„ge‟ dibaca „ʒe‟

13

„go‟ dibaca „go‟

2) Tahap Analisis

Analisis adalah proses berfikir menguraikan atau merinci. Pada tahap ini

guru mengajarkan cara mengurai atau merinci kalimat menjadi kata, kemudian

suku kata dengan pemenggalan yang tepat. Contoh: Je vais au cinéma. Je/vais/au/cinéma. Je/vais/au/ci/né/ma. 3)
suku kata dengan pemenggalan yang tepat.
Contoh: Je vais au cinéma.
Je/vais/au/cinéma.
Je/vais/au/ci/né/ma.
3) Tahap Sintesis
Sintesis adalah proses berfikir menggabungkan atau menyatukan. Pada
tahap ini guru menyuruh siswa melafalkan hasil dari penggabungan suku kata
menjadi kata, kemudian menjadi kalimat lengkap, dengan lafal dan intonasi yang
tepat.
Contoh: Je/vais/au/ci/né/ma.
Je/vais/au/cinéma.
Je vais au cinéma.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode Struktur

Analisis Sintesis adalah suatu metode yang dilakukan melalui proses yang

berulang-ulang. Penguraian-penggabungan dan sebaliknya, diharapkan mampu

14

melatih siswa melafalkan kata-kata dan atau kalimat dalam bahasa Prancis dengan

lafal, pemenggalan, dan intonasi yang tepat.

Penerapan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa

Prancis pada responden akan lebih difokuskan pada fonem-fonem bahasa Prancis

yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, serta fonem-fonem yang sama namun

terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda. 2.4 Prononciation Pelafalan atau lebih dikenal dengan istilah prononciation
terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda.
2.4 Prononciation
Pelafalan atau lebih dikenal dengan istilah prononciation adalah salah satu
aspek
yang
penting
dalam
mempelajari
bahasa
asing.
Ruslan
(1996:
1)
menyatakan bahwa dalam mempelajari bahasa asing pembelajar tidak hanya
memerlukan pengetahuan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga sangat penting
adalah pengetahuan tentang cara pengucapan. Kekeliruan atau ketidaktepatan
dalam pengucapan suatu bahasa asing dapat menimbulkan kesalahpahaman di
antara pemakai bahasa tersebut.
Bahasa Prancis mempunyai beberapa fonem yang sulit dilafalkan oleh
siswa dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan adanya beberapa tanda baca dan
pelafalan yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu pengajaran
tentang prononciation hendaknya sedini mungkin diperkenalkan dalam proses

belajar mengajar bahasa Prancis.

15

2.4.1 Pengucapan Abjad dalam Bahasa Perancis (Ruslan 1996: 79)

A [a]

J

[ʒi]

S [ɛs]

B [be]

K [ka]

T [ te]

C [ se]

L [ɛl]

U [y]

D [de] M [ɛm] V [ve] E [ø] N [ɛn] W[dubləve] F [ɛf] O [o]
D [de]
M [ɛm]
V [ve]
E [ø]
N [ɛn]
W[dubləve]
F [ɛf]
O
[o]
X [iks]
G [ʒe]
P
[pe]
Y [iɡRɛk]
H [aʃ]
Q [ky]
Z [zɛd]
I [i]
R [ɛR]
2.4.2 Les voyelles (vokal)
Menurut Léon (1996 : 11) dalam bahasa Prancis terdapat dua jenis vokal
yakni oral dan sengau.
1) Vokal Oral ;
Terjadinya bunyi vokal oral ini merupakan hasil dari proses keluarnya

udara secara mutlak melalui mulut. Terdapat dua jenis vokal oral, yakni ;

a. Vokal Oral dengan Getaran Bunyi Tunggal

Vokal oral dengan getaran bunyi tunggal (un seul timbre) seperti bunyi [i]

dalam si, fille, dan style, [y] dalam su, sûr, dan tu, dan [u] dalam sous, coûte, dan

16

oû.

Selain

voyelles

orales

dengan

getaran

tunggal,

ketiga

bunyi

itu

juga

merupakan vokal tertutup (voyelles fermées) yang dihasilkan dari penyempitan

rongga mulut karena merapatnya lidah ke arah velum (langit-langit). Meskipun

ketiganya merupakan vokal oral tertutup namun dalam menghasilkan bunyi tadi

ketiganya juga harus memposisikan kedua labial (bibir) sebagai berikut ; posisi

labial (bibir) untuk [i] adalah tidak bundar (voyelle écartée), posisi labial (bibir) untuk [y] adalah
labial (bibir) untuk [i] adalah tidak bundar (voyelle écartée), posisi labial (bibir)
untuk [y] adalah bundar dan maju (voyelle arrondie et avancée), dan posisi labial
(bibir) untuk [u] adalah bundar (voyelle arrondie).
Pelafalan [i], [y], dan [u], dicontohkan oleh (Léon 1964 : 15) secara teknis
bagaimana cara memperagakan terjadinya bunyi vokal oral tersebut, sebagai
berikut :
1. Fonem [i]
Fonem [i] ; posisi lidah maju ke depan namun bentuk labial (bibir) melebar
tidak bundar dan sedikit ditarik ke balakang, seperti dalam lit [li], cycle [siklə],
dan vas-y [vazi].
2. Fonem [y]
Fonem [y] ; posisi lidah sema seperti halnya mengucapkan [i] namun
bentuk labial (bibir) bundar dan menjulur ke depan, seperti dalam huit [yit], nuit

[nyi], dan instruit [ɛstry].

Teknik ucapan bunyi [y] Prancis : mula-mula mengucapkan bunyi [u]

Indonesia, kemudian mengucapkan bunyi [i] akan tetapi diusahakan letak bibir

17

3. Fonem [u]

Fonem [u]; posisi lidah sama seperti halnya mengucapkan [y] namum

bentuk labial (bibir) yang tetap bundar sedikit ditarik ke belakang, seperti dalam

oublie [ubli], souci [susi] dan gout [gu].

b. Vokal Oral dengan Getaran Bunyi Ganda Vokal oral dengan getaran bunyi ganda (plus d’un
b. Vokal Oral dengan Getaran Bunyi Ganda
Vokal oral dengan getaran bunyi ganda (plus d’un seul timbre) antara satu
dengan yang lain memiliki karakterisasi sebagai berikut;
1. Getaran Bunyi Ganda [ɛ] dan [e]
Untuk bunyi [ɛ] dalam sel, père, tête, dan aime, serta bunyi vokal tertutup
(voyelle fermée) untuk bunyi [e] dalam ces, thé, dan chez.
2. Getaran Bunyi Ganda [ɔ] dan [o]
Untuk bunyi [ɔ] dalam sol, port, dan corps, serta bunyi vokal tertutup
(voyelle fermée) unutk bunyi [o] dalam seau, pot, dan ôte.
3. Getaran Bunyi Ganda [œ], [ø], dan [ə]
Untuk bunyi [œ] dalam seul, peux, dan cœur, serta vokal tertutup (voyelle
fermée) untuk bunyi [ø] dalam ceux, peu, dan nœud, dan yang satu lagi yakni /e/

mati (e caduc) untuk bunyi [ə] dalam ce, le, dan petit.

18

4. Getaran Bunyi Ganda [a] dan [ɑ]

Untuk bunyi [a] dalam pat dan ɑ, serta bunyi vokal belakang (voyelle

postérieure) untuk bunyi [ɑ] dalam pâte dan pas.

Pelafalan berbagai jenis vokal oral dengan getaran bunyi ganda, secara

teknis dapat dilakukan dengan pola melakukan aktivitas organ produksi bunyi vokal dengan menggerakkan dorsal (bagian
teknis dapat dilakukan dengan pola melakukan aktivitas organ produksi bunyi
vokal dengan menggerakkan dorsal (bagian belakang lidah) ke arah langit-langit,
sehingga terbentuklah suatu rongga (Verhaar 1992 : 20).
a. Teknik Pelafalan Vokal Oral dengan Getaran Bunyi Ganda
1. Fonem [ɛ]
Fonem [ɛ] ; posisi labial (bibir) melebar tidak bundar, apikal (ujung lidah)
mendekat ke arah dental inferior (gigi bagian bawah) sedangkan dorsal (pangkal
lidah) terbuka agak menurun, seperti dalam terre [tɛ:r], sec [sɛk], dan belle [bɛl].
2) Fonem [e]
Fonem [e] ; posisi labial (bibir) melebar tidak bundar seolah-olah dalm
posisi tersenyum, ujung lidah mendekat pada dental inferior (gigi bagian bawah)
dan dorsal (pangkal lidah) naik sedikit tertutup, seperti dalam aller [ale], vallée

[vale], dan poignée [pwaɲe].

3) Fonem [ɔ]

Fonem [ɔ] ; posisi labial (bibir) bundar dan terbuka, posisi rahang menurun

sehingga terbentuk rongga agak lebar, apikal (ujung lidah) ditarik ke belakang dan

19

dorsal (pangkal lidah) menurun sedikit terbuka, seperti dalam or [ɔ:r], port [pɔr],

dan vogue [vɔg].

4) Fonem [o]

Fonem [o] ; posisi labial (bibir) tetap bundar sedikit terbuka, posisi rahang

naik, apikal (ujung lidah) ke atas sehingga ruangan rongga sedikit menyempit, seperti dalam eau [o],
naik, apikal (ujung lidah) ke atas sehingga ruangan rongga sedikit menyempit,
seperti dalam eau [o], chaud [ʃo], dan numéro [nymero].
5) Fonem [œ]
Fonem [œ] ; posisi labial (bibir) tetap bundar dan terbuka, rahang bagian
bawah sedikit menjulur ke depan, apikal (ujung lidah) mendekat pada denta
inferior (gigi bagian bawah), dan dorsal (pangkal lidah) menurun sehingga ruang
rongga mulut terbuka seperti dalam neuf [nœf], heure [œ:r], dan feuille [fœj],
6) Fonem [ø]
Fonem [ø] ; posisi labial (bibir) tetap bundar dan terbuka, namun rahang
superior (rahang bagian atas) menjulur ke depan, apikal (ujung lidah) berada
antara dental superior dan inferior (gigi bagian atas dan bawah), dorsal (pangkal
lidah) sedikit ke atas sehingga ruang rongga mulut sedikit menyempit, seperti
dalam deux [dø], yeux [jø], dan bleu [blø].

7) Fonem [ə]

Fonem [ə] ; posisi labial (bibir) tetap bundar dan terbuka tidak menjulur ke

depan juga tidak ke belakang, apikal (ujung lidah) sedikit naik pada posisi di

20

tengah antara dental dan superior dan inferior (gigi atas dan bawah) dan dorsal

(pangkal lidah) sedikit menurun. Le /ə/ caduc (e mati) ini bisa ditranskripkan

opsional seperti dalam je vois [ʒəvwa] atau [ʒvwa], refuse [rəfy:z] atau [rfyz],

namun merupakan keharusan seperti dalam dehors [də:r], prenez ça [prənesa].

2. Vokal Sengau Terbentuknya bunyi vokal sengau Prancis ini merupakan hasil dari proses keluarnya udara
2. Vokal Sengau
Terbentuknya bunyi vokal sengau Prancis ini merupakan hasil dari proses
keluarnya udara melalui dua saluran yaitu sebagian dari mulut dan sebagian dari
hidung.
Dalam bahasa Prancis hanya dikenal empat jenis vokal sengau, yakni [ ],
[ɔ ], [ɛ ], dan [œ ], dan warna bunyi keempat jenis itu pada dasarnya berasal dari
vokal oral [ ], [ɔ], [ɛ], dan [œ] yang karekteristiknya sebagaimana dijelaskan di
atas yakni memiliki getaran bunyi ganda. Atas dasar warna dari vokal oral dengan
getaran bunyi ganda tersebut, untuk mendapatkan nasalisasi keempat jenis vokal
oral tadi adalah dengan cara membiarkan udara keluar melalui dua saluran yakni
sebagian melalui rongga mulut dan sebagian melalui rongga hidung.
Untuk mengetahui secara rinci karakterisasi bunyi sengau dapat ditengarai
melalui bentukan berbagai vokal oral yang diikuti oleh konsonan /n/. Selain itu,
bunyi sengau juga bisa ditengarai pula melalui berbagai vokal oral yang diikuti

oleh konsonan /m/ bilamana terletak di depan konsonan /b/ atau /p/. Dua

konsonan itu biasanya dalam bentuk tulisan (orthographiquement) yang ditujukan

dalam ejaan /n/ atau /m/.

21

Karakterisasi lebih rinci dari keempat jenis bunyi sengau tersebut dapat

dijelaskan sebagai berikut :

a. Fonem [ ]

Fonem [ɛ ] ; bentukan bunyi kata sengau ini hampir selalu berupa in yang

letaknya bisa di sembarang tempat, bisa di posisi depan (initiale) dalam inviter [ɛ vite], di
letaknya bisa di sembarang tempat, bisa di posisi depan (initiale) dalam inviter
[ɛ vite], di posisi tengah (médiale) dalam pincer [pɛ se], dan bisa di posisi belakang
[finale] dalam vin [vɛ ]. Namun bunyi sengau berupa im yang terletak di depan P
atau B hanya bisa di posisi depan dalam impossible [ɛ posiblə] dan tengah dalam
simplicité [sɛ plisite]. Vokal sengau [ɛ ] tergolong jenis vokal depan (voyelle
antérieure), semi rendah/ semi terbuka (mi-basse/ mi-ouverte), tidak bundar/
melebar
(non
arrondie).
Dalam
melafalkan
bunyi
sengau
tersebut,
rahang
biasanya terbuka dan posisi rongga mulut lebih terbuka bila dibanding dengan
saat mengucapkan vokal oral [ɛ].
b. Fonem [œ ]
Fonem [œ ] ; bentukan bunyi kata untuk bunyi sengau ini hampir selalu
berupa un yang letaknya bisa di sembarang tempat, bisa di posisi depan (initiale)
dalam un [œ ], di posisi tengah (médiale) dalam lundi [lœ :di], dan bisa di posisi
belakang (finale) dalam aucun [okœ ]. Vokal sengau [œ ] merupakan oposisi vokal

sengau [ɛ ] yang memiliki karakterisasi serupa, yakni jenis vokal depan (voyelle

anterieure), semi rendah/ semi terbuka (mi-basse/ mi-ouverte), tidak bundar/

melebar (non arrondie). Namun dalam melafalkan bunyi sengau tersebut, posisi

22

rahang dan rongga mulut lebih terbuka bila dibanding dengan saat mengucapkan

bunyi sengau [ɛ ].

c. Fonem [ ]

Fonem [ ] ; bentukan bunyi suatu kata untuk bunyi sengau ini hampir

selalu berupa en atau an yang posisinya terletak di sembarang tempat, bisa di posisi depan
selalu berupa en atau an yang posisinya terletak di sembarang tempat, bisa di
posisi depan (initiale) seperti dalam entrer [ tre] atau ancre [ :kr], di posisi
tengah (médiale) seperti dalam lentement [l tm ] atau danser [d se], dan bisa di
posisi belakang (finale) seperti dalam lent [l ] atau dans [d ]. Namun bunyi
sengau yang berupa em yang diikuti oleh p posisinya terletak bisa di depan
(initiale) seperti dalam emporter [ pɔrte], di tengah (médiale) seperti dalam
temple [t plə], dan di belakang (finale) seperti dalam temps [t ], sedangkan yang
diikuti oleh b posisinya hanya di depan (initiale) seperti dalam embrasser [ brase]
dan di tengah (médiale) seperti dalam sembler [s ble]. Bunyi sengau yang berupa
am diikuti oleh p atau b posisinya hanya di depan
(initiale) seperti dalam
ampoule [ pul] atau ambulance [ byl n :s], dan di tengah (médiale) seperti dalam
lampe [l :p] atau jambe [ʒ :b].
Vokal sengau [ ] termasuk jenis vokal belakang (voyelle postérieure),
rendah/
terbuka
(basse/
ouverte),
dan
tidak
bundar
(non-arrondie).
Untuk

melafalkan bunyi sengau ini posisi rahang lebih terbuka dibandingkan pada saat

melafalkan vokal oral [

].

23

d. Fonem [ɔ ]

Fonem [ɔ ] ; bentukan bunyi kata untuk bunyi sengau ini hampir selalu

berupa on yang letaknya bisa di sembarang tempat, di posisi depan (initiale)

seperti dalam onde [ɔ :d], di posisi tengah (médiale) seperti dalam ronde [rɔ :d],

dan di posisi belakang (finale) seperti dalam ton [tɔ ]. Namun bunyi sengau yang berupa
dan di posisi belakang (finale) seperti dalam ton [tɔ ]. Namun bunyi sengau yang
berupa om yang diikuti oleh p posisinya hanya terletak di tengah (médiale) seperti
dalam pompe [pɔ :p] dan yang diikuti B letaknya bisa di depan (initiale) seperti
dalam ombre [ɔ :br] dan di tengah (médiale) seperti dalam bombe [bɔ :b]. Seperti
halnya fonem vokal sengau [ ], fonem vokal sengau [ɔ ] termasuk pula jenis
fonem vokal belakang (voyelle postérieur), rendah/ terbuka (basse/ ouverte), dan
bundar (arrondie).
Sedangkan untuk melafalkan bunyi sengau ini posisi rahang dengan lemah
terbuka namun lebih tertutup daripada saat mengucapkan vokal oral [ɔ].
Ruslan (1996: 79-80) mengelompkkan vokal dan semi-vokal sbb:
[i]
lit
[li]
[ɛ] →
mais
[mɛ]
[y]
tu
[ty]
mère
[mɛR]
[u]
vous
[vu]
tête
[tɛt]

[a]

la

[la]

elle

[ɛl]

[

]

pas

[p

s]

il est

[ilɛ]

[ɔ]

votre

[vɔtR]

[ɛ]

matin

[matɛ]

24

[o]

vos

[vo]

main

[mɛ]

 

auto

[oto]

peintre [pɛtR]

beau

[bo]

[

]

lundi

[l

di]

[ə] → petit [pəti] parfum [paRf ] [œ] → leur [lœr] [ɔ] bon [bɔn] [ø
[ə]
petit
[pəti]
parfum [paRf
]
[œ] →
leur
[lœr]
[ɔ]
bon
[bɔn]
[ø ]→
deux
[dø]
ombre [ɔbR]
[e]
l‟été
[lete]
[ɑ]
dans
[dɑ]
mes
[me]
lampe [lɑp]
arriver [arrive]
dent
[dɑ]
temps [tɑ]
2.4.3
Les semi-voyelles (semi vokal)
[w]
moi
[mwa]
loin
[lwɛ]
[j]
paille
[paj]
travail [tRav j]
oreille [ɔRɛj]
pareil
[parɛj]

fille

[fij]

nouille [nuj]

feuille [fœj]

 

[y]

lui

[lyi]

25

2.4.4 Les consonnes (konsonan)

Dubois (1973 : 116) menerangkan bahwa konsonan (consonne) adalah

terjadinya bunyi bahasa dimaksud oleh karena adanaya hambatan di salah satu

tempat pada saluran tertentu (obstacle sur le passage de l’air). Selanjutnya Léon

(1966 : 74) menjelaskan bahwa konsonan yang dimaksud dapat dibedakan antara ;

1) Konsonan Letupan Konsonan letupan yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara sama sekali menghambat arus
1) Konsonan Letupan
Konsonan letupan yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara sama sekali
menghambat arus udara di tempat artikulasi tertentu (Verhaar, 1992). Konsonan
letupan itu sendiri dapat dibedakan lagi dalam dua karakter, seperti dijelaskan
dalam bagan berikut;
Letupan tak bersuara
Konsonan letupan
Letupan bersuara
a. Letupan tak bersuara
Letupan tak bersuara seperti [p] dalam pas, épine, tape, [t] dalam tas, ôter,
tante, [k] dalam cas, écarte, dan toque.

b. Letupan bersuara

Letupan bersuara seperti [b] dalam beau, obus, robe, [d] dalam dos, radis,

coude, [g] dalam gras, aigre, bague. Berbagai konsonan letupan di atas lebih

26

lanjut dapat dibedakan dalam letupan ringan seperti [p], [t], dan [k] dan letupan

menebal seperti dalam [b], [d], dan [g].

2) Konsonan Frikatif

Konsonan frikatif disebut dengan istilah lain konsonan geseran, yakni

bunyi yang dihasilkan dengan cara membiarkan sebagian udara keuar melaui alur yang sangat sempit sehingga
bunyi yang dihasilkan dengan cara membiarkan sebagian udara keuar melaui alur
yang sangat sempit sehingga terjadi penghambatan di sebagian besar udara yang
keluar (Verhaar, 1992: 18). Menurut Léon (1996: 75), konsonan frikatif ini juga
disebut konsonan desis oleh karena tingkat geseran bunyi lebih panjang. Lebih
lanjut desis dapat dibedakan dalam dua karakter, seperti dijelaskan dalam bagan
berikut;
Desis tak bersuara
Konsonan frikatif
Desis bersuara
a. Konsonan desis tak bersuara
Konsonan desis tak bersuara seperti [f] dalam faux, défait, carafe, [s]
dalam seau, lace, fasse, [∫] dalam chat, achat, dan cache

b. Konsonan desis bersuara

Konsonan desis bersuara seperti [v] dalam va, avez, neuve, [z] dalam

zébra, oser, rose, [ʒ] dalam jamais, âge, rouge, [l] dalam la, allé, cale, [r] dalam

rat, marée, mare. Dalam konsonan frikatif, masih terdapat tiga konsonan lainnya

27

yakni [m] dalam ma, amer, aime, [n] dalam nez, année, cane, dan [ɲ] dalam

gnôle, agneau, montagne, yang disebut konsonan sengau (consonnes nasales),

dan ketiga konsonan sengau ini secara rinci tidak dibahas lebih lanjut mengingat

fonem-fonem ini ada dalam bahasa Indonesia.

Bagi penutur asli bahasa indonesia beberapa konsonan letupan seperti [p], [b], [t], [d], [k], dan
Bagi penutur asli bahasa indonesia beberapa konsonan letupan seperti [p],
[b], [t], [d], [k], dan [g] tidak ada masalah dalam pelafalan mengingat konsonan-
konsonan tadi terdapat dalam sistem fonemik bahasa Indonesia. Namun, untuk
beberapa konsonan frikatif tertentu yang merupakan pinjaman dari bahasa asing,
kebanyakan
penutur
asli
bahasa
Indonesia
mendapatkan
kesulitan
dalam
melafalkannya. Seperti fonem [∫], [z], [f], [v], dan [ʒ].
Sedangkan untuk konsonan frikatif lainnya seperti [m], [n], dan [ɲ] yang
juga disebut konsonan sengau, bagi penutur bahasa Indonesia tidak ada kesulitan
apapun dalam melafalkannya, seperti dalam beberapa contoh kata berikut; [m]
dalam malam, teman, demam, dsb, [n] dalam nuansa, nanti, dingin, dsb, [ɲ] dalam
nyata, banyak, dan manyun, dsb.
Ruslan (1996: 80) mengelompokkan konsonan dalam bahasa Prancis sbb:
[p] →
pas
[p
]
[b] → bas
[b
]

[t]

toi

[tw

]

[d] doigt

[dwa]

[k]

car

[k

r]

[g] gare

[g

R]

kilo

[kilo]

bague [bag]

28

 

que

[kə]

[n]

ne

[nə]

[m]

me

[mə]

[v] vous

[vu]

[f]

fou

[fu]

[z]

maison [mɛzɔ]

photo

[foto]

gaz

[g

z]

[s] → son [sɔ] [ʒ] → Jean [ʒ ] ceci [səsi] manger[m ʒe] garçon [g
[s]
son
[sɔ]
[ʒ] → Jean
]
ceci
[səsi]
manger[m ʒe]
garçon [g Rsɔ]
[ʃ] →
chant
]
[ɲ]
ligne
[liɲ]
[l]
le
[lə]
[R]
rire
[RiR]
2.4.5 Teknik Ucapan Bunyi Vokal, Sengau, Semi Vokal, dan Konsonan
Menurut Ruslan (1996: 1-8)
1) Bunyi vokal [y], [ø], dan [œ]

a. Teknik ucapan bunyi [y] Prancis

Mula-mula mengucapkan bunyi [u] Indonesia, kemudian mengucapkan

bunyi

[i]

akan

tetapi

diusahakan

mengucapkan bunyi [u].

letak

bibir

tetap

ke depan

seperti

ketika

29

b. Teknik ucapan bunyi [ø] Prancis

Mula-mula mengucapkan bunyi [o] Indonesia, kemudian mengucapkan

bunyi [e] Indonesia, akan tetapi letak bibir tetap maju ke depan seperti waktu

mengucapkan bunyi [o].

c. Teknik ucapan bunyi [œ] Prancis Mula-mula mengucapkan bunyi [o] Indonesia, kemudian mengucapkan bunyi [ɛ]
c. Teknik ucapan bunyi [œ] Prancis
Mula-mula mengucapkan bunyi [o] Indonesia, kemudian mengucapkan
bunyi [ɛ] Indonesia dengan letak bibir tetap maju ke depan seperti waktu
mengucapkan bunyi [o].
2)
Bunyi sengau [ɛ], [ɔ], [ɑ], dan [œ ]
a. Teknik ucapan bunyi [ɛ] Prancis
Mengucapkan bunyi [-èng] Indonesia, akan tetapi diusahakan udara keluar
secara serempak 50% melalui hidung dan 50% melalui mulut dengan menjaga
keadaan mulut tetap terbuka.
b. Teknik ucapan bunyi [ɔ] Prancis
Mengucapkan bunyi [-ong] Indonesia, akan tetapi diusahakan udara keluar
secara serempak 50% melalui hidung dan 50% melalui mulut dengan menjaga
keadaan mulut tetap terbuka.

c. Teknik ucapan bunyi [ɑ] Prancis

Mengucapkan bunyi [-ang] Indonesia, akan tetapi diusahakan udara keluar

secara serempak 50% melalui hidung dan 50% melalui mulut dengan menjaga

keadaan mulut tetap terbuka.

30

d. Teknik ucapan bunyi [œ ] Prancis

Mengucapkan bunyi [-eng], ingat bukan

[-èng] Indonesia, akan tetapi

diusahakan udara keluar secara serempak 50% melalui hidung dan 50% melalui

mulut dengan menjaga keadaan mulut tetap terbuka.

3)

Bunyi semi vokal [j], [w], dan [ɥ]

a. Teknik ucapan bunyi semi vokal [j] Prancis Mengucapkan dengan frekuensi suara yang sangat cepat
a. Teknik ucapan bunyi semi vokal [j] Prancis
Mengucapkan dengan frekuensi suara yang sangat cepat dalam tempo satu
detik saja.
b. Teknik ucapan bunyi semi vokal [w] Prancis
Mengucapkan dengan frekuensi suara yang sangat cepat dalam tempo satu
detik saja.
c. Teknik ucapan bunyi semi vokal [ɥ] Prancis
Mengucapkan dengan frekuensi suara lebih cepat dalam tempo satu detik
saja.
4)
Konsonan [ʃ], [z], [f], [v], dan [ʒ]
a. Teknik ucapan konsonan [ʃ] Prancis
Mengucapkan konsonan [ʃ] seperti jika mengucapkan kata-kata Indonesia:
syukur, syahbandar, syahdu, dan syahdan.
b. Teknik ucapan konsonan [z] Prancis

Mengucapkan konsonan [z] seperti jika mengucapkan kata-kata pinjaman

Indonesia: zam-zam, Zaini, izin, dan zamrud.

c. Teknik ucapan konsonan [f] Prancis

31

Mengucapkan konsonan [f] seperti jika mengucapkan kata-kata pinjaman

Indonesia: fakir, fikir, dan fatwa.

d. Teknik ucapan konsonan [v] Prancis

Mengucapkan konsonan [f] dengan suara bergetar dan gigi atas menyentuh

bibir bawah.

e. Teknik ucapan konsonan [ʒ] Prancis Mengucapkan konsonan [dj] Indonesia dengan suara lebih bergetar sambil
e. Teknik ucapan konsonan [ʒ] Prancis
Mengucapkan konsonan [dj] Indonesia dengan suara lebih bergetar sambil
gigi atas menggigit gigi bawah.
2.5 Accent
ç (cédille)
é ( accent aigu)
è dan à (accent grave)
ê dan â (accent circonflexe)
ë dan ï (trema)
2.6 Aturan Membaca Bahasa Prancis secara Umum

„ou‟ dibaca ‟u‟ misalkan pada kata „ouvrir‟ „oi‟ dibaca „oa‟ misalkan pada kata „une voiture‟ „au‟ dibaca „o‟ misalkan pada kata „au revoir!‟ „s‟ yang diapit dua huruf vokal dibaca „z‟ misalkan pada kata „une maison‟ „ss‟ yang diapit dua huruf vokal dibaca „s‟ misalkan pada kata „un poisson

32

„ca‟ dibaca „ka‟ misalkan pada kata „un carrefour’ „ci‟ dibaca „si‟ misalkan pada kata „merci‟ „cu‟ dibaca „ky‟ misalkan pada kata „une cuisine’ „ce‟ dibaca „se‟ misalkan pada kata ‘la céréale’ „co‟ dibaca „ko‟ misalkan pada kata ‘un collègue’ „ga‟ dibaca „ga‟ misalkan pada kata ‘garder’ „gi‟ dibaca „ʒi‟ misalkan pada kata ‘la gymnastique’ „gu‟ dibaca „gy‟ misalkan pada kata ‘un guide’ „ge‟ dibaca „ʒe‟ misalkan pada kata ‘manger’ „go‟ dibaca „go‟ misalkan pada kata ‘une gomme’ Selain aturan membaca seperti yang telah diuraikan di atas, ada pula

fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, yang cara membacanya pun berbeda. Meskipun
fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, yang
cara membacanya pun berbeda. Meskipun pelafalannya sama, belum tentu fonem
tersebut terkonstruk dari susunan huruf yang sama pula.
Berikut merupakan fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat
dalam bahasa Indonesia dan fonem-fonem yang sama namun terkonstruk dari
susunan huruf yang berbeda.
(1)
[e] : nez, été, parler, irai
Fonem [e] seperti dalam kata saté, dibunyikan apabila penulisan suatu kata
memiliki unsur-unsur: é, _ez, _er, _ai

(2) [ə] : le, ne, que Fonem [ə] seperti dalam kata lelah, dibunyikan apabila penulisan suatu

kata memiliki unsur e yang terletak pada suku kata yang tidak diakhiri oleh

konsonan dan tanpa tanda apapun.

33

(3) [ε] : fenêtre, mère, dette Fonem [ε] seperti dalam kata bebek, dibunyikan apabila dalam penulisan,

suatu kata memiliki unsur-unsur: ê, è, _ai + konsonan, e terletak pada suku kata

yang diakhiri oleh konsonan.

(4) [y] : une, sur, tu, lu Fonem [y] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan
(4) [y] : une, sur, tu, lu
Fonem [y] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan [i], tetapi
bentuk mulut bulat seperti mengucapkan [u]. Fonem ini dibunyikan apabila dalam
penulisan, suatu kata memiliki unsur u tunggal.
(5) [u]: mou, loup, tout
Fonem [u] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur
ou.
(6) [ø] : deux, feu, queue
Fonem [ø] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan [e], tetapi
bentuk mulut bulat seperti mengucapkan [o]. Fonem ini dibunyikan apabila dalam
penulisan suatu kata memiliki unsur eu.

(7) [o] : hôtel, eau, mot Fonem [o] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-

unsur: ô, au, _o (pada suku kata akhir ).

34

(8) [ɔ] : mort, botte Fonem [ɔ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur

o yang terletak pada suku kata yang diakhiri oleh konsonan yang dibunyikan.

(9) [ɑ] : lent, membre, an, ambre

Fonem [ɑ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur- unsur en, em, an dan
Fonem [ɑ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-
unsur en, em, an dan am.
(10) [] : oncle, ombre
Fonem []dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-
unsur on atau om.
(11)
[] : vin, impôt, lundi, parfum
Fonem [] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-
unsur in atau im.
(12) [j] : fille, travail, réveil
Fonem [j] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-
unsur ille, ail, atau eil.

(13) [k] : que, car, cou, cul, cru, christine Fonem [k] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-

unsur qu, dan c+ a, o, u, c+konsonan, ch+ konsonan.

(14) [s] : poisson, ça, cycle, cible, réale

35

Fonem [s] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-

unsur _ss_, ç, c+ y, i dan e.

(15) [] : chat, chien, cheval Fonem [] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur

ch+ vokal. (16) [ʒ] : jardin, giraffe, gym, géant Fonem [ʒ] dibunyikan apabila dalam penulisan
ch+ vokal.
(16) [ʒ] : jardin, giraffe, gym, géant
Fonem [ʒ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-
unsur j, dan g+i, y,e.
(17) [g] : gare, goût, guitar
Fonem [g] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur
g+ a, o, u dan g+ konsonan.
(18) [ɲ] champagne, montagne
Fonem [ɲ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur
_gn

(19) [wa] moi, vouloir Fonem [wa] dibunyikan

apabila dalam penulisan suatu kata memiliki

unsur oi.

36

(20) [z] maison, poison Fonem [z] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur

huruf s yang diapit oleh huruf vokal.

(21) [v] vin, travail Fonem [v] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur

v. 2.7 Suku Kata Ruslan (1996: 27) menyatakan bahwa untuk mempunyai satu suku kata, kita
v.
2.7 Suku Kata
Ruslan (1996: 27) menyatakan bahwa untuk mempunyai satu suku kata,
kita harus memiliki satu vocal.
Contoh: sur, sous, dan nid.
Ketiga kata di atas bersuku kata satu. Kata-kata seperti bateau dan été
mempunyai dua suku kata, sedangkan pada kata capabilité dan responsabilité,
masing-masing memiliki lima dan enam suku kata.
Catatan: Untuk kata-kata seperti nuée [nɥe], suer [sɥe], souhait [swɛ],
dan pied [pje], termasuk yang bersuku kata satu (semi vokal).
Jika dalam sebuah kata terdapat hanya satu konsonan, maka konsonan
tersebut harus dihububungkan dengan vokal yang kedua:

été e - te

ami a mi

Jika dalam sebuah kata terdapat dua konsonan yang sama,maka pada

umumnya hanya satu konsonan saja yang diucapkan

37

aller a le

arriver a ri ve

Jika dua buah konsonan yang berlainan harus dipisahkan

section sɛk - sjɔ

perdy → pɛr – dy Konsonan- konsonan [R] dan [l] harus dihubungkan dengan konsonan yang
perdy → pɛr – dy
Konsonan- konsonan [R] dan [l] harus dihubungkan dengan konsonan
yang mendahuluinya
appris → a – pRi
tableau → ta – blo
1) Suku Kata Terbuka
Suku kata terbuka yaitu apabila suku kata tersebut mempunyai beberapa
buah suku kata terbuka. Misalnya kata éléphant. Suku kata tersebut mempunyai
tiga buah suku kata terbuka, yaitu e – le - fɑ
Jadi di sini ditinjau dari segi bunyi, dari segi fonetisnya, bukan dari ejaannya.
2) Suku Kata Tertutup

Suku kata tertutup yaitu apabila suku kata berakhir dengan konsonan yang

diucapkan, misalnya kata:

secteur

sɛk – tœ:R

mortelle

mɔR-tɛl

38

2.8 Kerangka Pikir

Penggunaan

sebuah

metode

sangat

penting

untuk

menunjang

proses

pembelajaran,

sehingga

tujuan

pembelajaran

dapat

tercapai.

Metode

SAS

(Struktur Analisis Sintesis adalah salah satu contoh metode yang dapat digunakan

untuk pembelajaran membaca nyaring. Penerapan metode ini menyangkut proses

mengurai dan melafalkan kembali kalimat secara utuh. Proses yang berulang- ulang ini diasumsikan dapat membiasakan
mengurai dan melafalkan kembali kalimat secara utuh. Proses yang berulang-
ulang ini diasumsikan dapat membiasakan siswa dalam membaca nyaring bahasa
Prancis dengan pemenggalan, lafal, dan intonasi yang tepat.
Metode ini dirasa tepat bagi siswa SMA, karena pada jenjang ini siswa
diyakini telah mampu menganalisis pola tata bunyi, unsur-unsur kalimat, sehingga
diasumsikan dapat menerapkan pola tata bunyi dan pemenggalan yang tepat pada
sebuah kalimat. Peran peneliti dalam penerapan metode SAS adalah mengajarkan
aturan-aturan membaca nyaring bahasa Prancis secara umum, teknik pelafalan
fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, dan
juga fonem-fonem yang sama, namun terkonstruk dari susunan huruf yang
berbeda. Pada ahirnya siswa diharapkan mampu menerapkan metode SAS ini
secara mandiri.
2.9 Hipotesis

Berdasarkan teori di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis penelitian

sebagai berikut:

H a :

“Metode

SAS

(Struktur

Analisis

Sintesis)

efektif

dalam

pembelajaran

membaca nyaring bahasa Prancis di SMA Negeri I Jepara”.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan metode one shoot case

study design, sehingga dalam penelitian ini dilakukan treatment pada responden, kemudian dilakukan tes. Hasil tes
study design, sehingga dalam penelitian ini dilakukan treatment pada responden,
kemudian dilakukan tes. Hasil tes kemudian dibandingkan dengan KKM untuk
mata pelajaran bahasa Prancis di SMAN 1 Jepara. Apabila hasil yang dicapai
dalam penelitian ini lebih bagus dari KKM, maka dapat dikatakan bahwa metode
SAS efektif.
3.2 Langkah-Langkah Penelitian
Sebelum dilakukan pengambilan data, terlebih dahulu peneliti melakukan
langkah-langkan sebagai berikut:
1. Menyampaikan materi sesuai yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) selama 4 x 45 menit (4 jam pelajaran).
2. Setiap akhir pertemuan, peneliti memberikan tes untuk mengevaluasi hasil
kegiatan belajar-mengajar.
3. Peneliti melakukan uji reliabilitas instrumen terlebih dahulu sebelum

memberikan tes sebenarnya untuk pengambilan data.

4. Setelah diperoleh data, kemudian data tersebut dianalisis mengunakan

metode deskriptif kuantitatif dan metode deskriptif presentase.

5. Analisis data dilakukan secara umum dan juga pada masing-masing

kriteria penilaian (pelafalan fonem dalam soal berbentuk kata, pelafalan

39

40

fonem dalam soal berbentuk kalimat, pemenggalan, dan intonasi final),

kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan hipotesis awal yang diajukan.

3.3 Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki satu variabel, yaitu: Prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode SAS dalam pembelajaran
Penelitian ini memiliki satu variabel, yaitu: Prestasi belajar siswa dengan
menggunakan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis.
3.4
Populasi dan Sampel
3.4.1
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di SMA Negeri I Jepara
yang terdiri dari 10 kelas.
3.4.2 Sampel
Untuk mengambil sampel, peneliti menggunakan teknik quota random
sampling. Hal ini didasarkan pada populasi yang bersifat homogen. Penelitian ini
menggunakan satu kelas sebagai sampel. Setelah diundi, kelas X-1 terpilih
sebagai sampel.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan dua metode, yaitu:

3.5.1 Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai

daftar nama dan jumlah siswa yang dijadikan responden penelitian.

41

3.5.2 Metode Tes

Metode tes digunakan untuk mengambil data berupa prestasi belajar

membaca nyaring pada kelas yang dijadikan responden sesudah diajar membaca

nyaring dengan metode SAS.

3.6 Instrumen Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat yang mengandung fonem-fonem
3.6 Instrumen
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat
yang mengandung fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa
Indonesia serta kata-kata yang memiliki fonem sama, namun terkonstruk dari
susunan huruf yang berbeda. Responden diminta untuk membaca kata-kata dan
kalimat
tersebut
dengan
suara
nyaring.
Dari
proses
ini
dilakukan
skoring
berdasarkan sistem penilaian yang telah ditentukan, kemudian dikonversikan
dalam bentuk nilai.
3.6.1 Pemilihan Instrumen
Penelitian
ini
menggunakan
bentuk
tes
membaca
nyaring.
Tes
ini
diharapkan dapat mengukur kemampuan membaca nyaring siswa kelas X SMAN
1 Jepara.
Tes membaca nyaring yang dimaksud adalah tes membaca nyaring dalam

bahasa Prancis yang menekankan pada aspek pelafalan pada kata-kata yang

mengandung fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa

Indonesia serta kata-kata yang memiliki fonem sama, namun terkonstruk dari

susunan huruf yang berbeda.

42

3.6.2 Penyusunan Instrumen

Instrumen dibuat untuk mengukur kemampuan membaca nyaring siswa

kelas X SMAN 1 Jepara. Materi yang diujikan dalam penelitian ini adalah fonem-

fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia serta kata-kata

yang memiliki fonem sama, namun terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda.

Materi tersebut tertuang dalam kisi-kisi sebagai berikut: Tabel 3.1 Kisi-kisi instrumen Variabel Indikator Keterangan
Materi tersebut tertuang dalam kisi-kisi sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kisi-kisi instrumen
Variabel
Indikator
Keterangan
No butir
soal
Prestasi membaca nyaring
1. Fonem [e]
Kata
yang
A1, A2, A3,
bahasa Prancis dengan
memiliki unsur
A4, B4
menggunakan metode SAS
é, _ez, _er, _ai
Suku
kata
2. Fonem [ə]
tidak
diakhiri
A5, B6
konsonan atau
tanda apapun.
Kata
yang
3.
Fonem [ε]
A6, A7, A8,
memiliki unsur
A9, B4
ê,
è,
_ai
+
konsonan,
e

43

terletak pada suku kata yang diakhiri oleh konsonan. Kata yang memiliki unsur A10, B3 4.
terletak
pada
suku kata yang
diakhiri
oleh
konsonan.
Kata
yang
memiliki unsur
A10, B3
4. Fonem [y]
u tunggal
Kata
yang
mmiliki
unsur
5. Fonem [u]
A11, B5
ou.
Suatu
kata
6. Fonem [ø]
memiliki unsur
A12, B2
eu.
7. Fonem [o]
Suatu
kata
memiliki unsur
ô, au, _o (pada
A13, A14,
A15, B3
suku
kata
terakhir ).
Suatu
kata

44

8.

Fonem [ɔ]

memiliki unsur o yang terletak pada suku kata yang diakhiri oleh konsonan yang dibunyikan.

A16, B3

9. Fonem [ɑ] Suatu kata memiliki unsur-unsur B1 en, em, an dan am. 10. Fonem
9. Fonem [ɑ]
Suatu
kata
memiliki
unsur-unsur
B1
en, em, an dan
am.
10. Fonem [ɔ]
Suatu
kata
memiliki
B6
unsur-unsur
on atau om.
11. Fonem [ɛ]
Suatu
kata

12. Fonem [j]

memiliki unsur

in dan im.

Suatu

kata

B7

A17, A18,

A19, A20,

A21, A22,

A23, A24,

A26, A27,

45

memiliki B1 unsur-unsur ille, ail, atau eil. Suatu kata A28, A29, 13. Fonem [k] memiliki
memiliki
B1
unsur-unsur
ille,
ail,
atau
eil.
Suatu
kata
A28, A29,
13. Fonem [k]
memiliki
A30, A31,
unsur-unsur
A32, A33,
qu,
dan c+
a,
B1
o,
u,
c+konsonan,
ch+ konsonan.
14. Fonem [s]
Suatu
kata
A34, A35,
memiliki
A36, A37,
unsur-unsur
A38, B3
_ss_, ç, c+ y, i
dan e.
15.
Fonem [ʃ]
Suatu
kata
A39, B7
memiliki unsur
ch+ vokal.

46

16. Fonem [ʒ]

Suatu

kata

memiliki

unsur-unsur

j,

dan g+i, y,e.

A40, A41,

A42, A43,

B2

Suatu kata 17. Fonem [g] memiliki unsur g+ a, o, u dan B5 g+ konsonan.
Suatu
kata
17. Fonem [g]
memiliki unsur
g+ a, o, u dan
B5
g+ konsonan.
Suatu
kata
memiliki unsur
18. Fonem [ɲ]
_gn_
Suatu
kata
memiliki unsur
19. Fonem [wa]
oi

20. Fonem [z]

s

yang

diapit

dua

huruf

vokal.

A44, A45,

A46, A47,

A48, B6

A49, B1

A50, B6

47

21. Fonem [v] Kata yang memiliki unsur A51, B4 v 3.6.3 Uji Coba Instrumen Sebelum
21. Fonem [v]
Kata
yang
memiliki unsur
A51, B4
v
3.6.3 Uji Coba Instrumen
Sebelum melaksanakan penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan uji coba
instrumen yang diberikan kepada 5 (lima) siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Jepara.
Uji coba tersebut dilaksanakan pada 29 Juli 2011. Uji coba tersebut dimaksudkan
untuk mengetahui reliabilitas instrumen dan perkiraan waktu untuk mengerjakan
instrumen sebenarnya. Tes membaca nyaring berbentuk kata dan kalimat. Soal
berbentuk kata terdiri dari 51 butir soal yang mengandung fonem-fonem bahasa
Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia dan fonem-fonem yang sama,
namun penulisannya berbeda. Sedangkan soal berbentuk kalimat terdiri dari 7
kalimat yang mengandung 21 poin untuk menilai pelafalan, 11 poin untuk menilai
pemenggalan, dan 9 poin untuk menilai intonasi final. Masing-masing responden
diberi waktu 10 menit untuk persiapan dan membaca soal.

3.7 Validitas

Validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi, yaitu ditentukan

dengan cara menilik sampai seberapa jauh tes tersebut menjadi alat ukur yang

sebenarnya terhadap tujuan penilaian. Instrumen tes berupa kata-kata dan kalimat

48

yang mengandung fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa

Indonesia,

serta

kata-kata dan

kalimat

yang

memiliki

fonem

sama,

terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda.

3.8 Reliabilitas

namun

Sebelum digunakan untuk mengambil data, instrumen tes akan diujicobakan dengan metode one test single trial,
Sebelum
digunakan
untuk
mengambil
data,
instrumen
tes
akan
diujicobakan dengan metode one test single trial, yaitu dengan cara melakukan
pengetesan sebanyak satu kali pada responden, kemudian hasil test dihitung
dengan menggunakan rumus. K-R 20. Hal ini dikarenakan teknik penskoran
adalah
1 dan 0.
Uji coba instrumen mencakup empat kriteria yang dinilai, yaitu: (1)
pelafalan fonem dalam soal berbentuk kata, (2) pelafalan fonem dalam soal
berbentuk kalimat, (3) pemenggalan atau jeda dalam soal berbentuk kalimat, serta
(4) intonasi final dalam soal berbentuk kalimat.
Rumus K-R 20:
= (
) (
)
Keterangan :

r 11

k

= reliabilitas instumen

= banyaknya butir pertanyaan

= varians total

49

P

= proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek

yang mendapat skor 1)

 

P

 

=

q = proporsi subjek yang mendapat skor 0 q = 1 – p (Arikunto 2006:
q
= proporsi subjek yang mendapat skor 0
q
= 1 – p
(Arikunto 2006: 188)
Setelah dilakukan tes uji coba instrumen diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 3.2
Data uji coba instrumen soal fonem dalam kata.
N
Skor
Den
48
Bun
47
Ana
47
Adh
42
Put
38
Jumlah
222
Perhitungan dengan rumus K-R.20 menghasilkan
= 0,880 sedangkan
dengan rumus K-R.20 menghasilkan = 0,880 sedangkan untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa lebih

untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa

sedangkan untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa lebih besar dari (0,880>0,878). Dengan demikian, soal

lebih besar dari

N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa lebih besar dari (0,880>0,878). Dengan demikian, soal yang diujicobakan

(0,880>0,878). Dengan demikian, soal yang diujicobakan dinyatakan reliabel.

50

Tabel 3.3

Data uji coba instrumen soal fonem dalam kalimat.

N Skor Den 19 Bun 18 Ana 12 Adh 11 Put 18 Jumlah 78 Perhitungan
N
Skor
Den
19
Bun
18
Ana
12
Adh
11
Put
18
Jumlah
78
Perhitungan dengan rumus K-R.20 menghasilkan
= 0,888 sedangkan
untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa
lebih besar dari
(0,888>0,878). Dengan demikian, soal yang diujicobakan dinyatakan reliabel.
Tabel 3.4
Data uji coba instrumen soal pemenggalan dalam kalimat.
N
Skor
Den
10
Bun
7
Ana
3
Adh
9
Put
3
Jumlah
32

51

Perhitungan dengan rumus K-R.20 menghasilkan

51 Perhitungan dengan rumus K-R.20 menghasilkan = 0,896 sedangkan untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti

= 0,896 sedangkan

dengan rumus K-R.20 menghasilkan = 0,896 sedangkan untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa lebih

untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa

lebih besar dari

(0,896>0,878). Dengan demikian, soal yang diujicobakan dinyatakan reliabel.

Tabel 3.5

Data uji coba instrumen soal intonasi final dalam kalimat. N Skor Den 8 Bun 8
Data uji coba instrumen soal intonasi final dalam kalimat.
N
Skor
Den
8
Bun
8
Ana
4
Adh
8
Put
3
Jumlah
31
Perhitungan dengan rumus K-R.20 menghasilkan
= 0,905 sedangkan
untuk N=5 adalah 0,878. Hal ini berarti bahwa
lebih besar dari
(0,905>0,878). Dengan demikian, soal yang diujicobakan dinyatakan reliabel.
3.9 Penskoran Tes Membaca Nyaring

Penelitian

ini

menggunakan

tes

membaca

nyaring

dengan

instrumen

berbentuk kata-kata dan kalimat yang mengandung fonem bahasa Prancis yang

tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, serta kata-kata dan kalimat yang memiliki

fonem sama, namun terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda. Sebelum

dikonversikan dalam bentuk nilai, terlebih dahulu dilakukan penskoran. Setiap

52

pelafalan fonem yang telah ditentukan, pemenggalan, dan intonasi final, untuk

masing-masing kriteria tersebut jika tepat diberi skor 1. Sedangkan skor 0

diberikan jika masing-masing kriteria tersebut tidak tepat.

Setelah skor diakumulasikan, skor tersebut dikonversikan dalam bentuk

nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

S = X SM Keterangan : S = nilai yang dicari R = skor mentah
S =
X SM
Keterangan :
S
= nilai yang dicari
R
= skor mentah yang diperoleh siswa
N
= skor maksimal ideal dari tes yang bersangkutan
SM
= standar mark (besarnya skala penilaian yang dikehendaki)
(Purwanto 1986: 130)
3.10Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kuantitatif. Metode ini digunakan untuk mengetahui keefektifan metode
SAS
dalam
pembelajaran
membaca
nyaring
pada
responden
setelah
diajar
menggunakan metode tersebut. Prestasi belajar membaca nyaring setelah diajar

menggunakan metode SAS akan dibandingkan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan

Minimal) untuk kelas X di SMAN 1 Jepara, yaitu 75. Jika nilai rata-rata reponden

75, maka metode SAS dikatakan efektif. Sebaliknya, jika nilai rata-rata

responden < KKM, maka dapat disimpulkan bahwa metode SAS tidak efektif.

53

Selanjutnya nilai yang telah diperoleh, dianalisis menggunakan analisis

kritis persentase dengan rumus sebagai berikut;

P

Keterangan;

f

N

100%

P : Angka persentase f : Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N : Jumlah frekuensi
P
: Angka persentase
f
: Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N
: Jumlah frekuensi
(Sudijono 2002:32)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas tentang hasil penelitian dan pembahasan kesalahan

yang dilakukan responden.

4.1 Hasil Pengumpulan Data Sebelum siswa diuji dengan tes sebenarnya, pada akhir tiap pertemuan siswa
4.1 Hasil Pengumpulan Data
Sebelum siswa diuji dengan tes sebenarnya, pada akhir tiap pertemuan
siswa
diberikan
evaluasi
dan
tugas.
Pada
akhir
pertemuan
pertama,
siswa
diberikan evaluasi berbentuk kata dan kalimat yang mengandung fonem-fonem
bahasa Prancis yang juga terdapat dalam bahasa Indonesia, namun terkonstruk
dari susunan huruf yang berbeda. Termasuk dalam pemenggalan kalimat dan
intonasi final.
Berikut adalah nilai yang diperoleh siswa dalam evaluasi pada akhir
pertemuan pertama.
Tabel 4.1
Nilai responden pada evaluasi pertama
No.
Nama
Nilai
No.
Nama
Nilai
Responden
Responden
1.
Akm
75
2.
Isn
75

54

55

3. Ali 75 4. M.Mi 85 5. All 80 6. M.Zu 75 7. Ang 75
3.
Ali
75
4.
M.Mi
85
5.
All
80
6.
M.Zu
75
7.
Ang
75
8.
Mar
90
9.
Ari
80
10.
Mut
90
11.
Arv
80
12.
Sat
75
13.
Bri
75
14.
Sho
75
15.
Des
85
16.
Sya
80
17.
Edg
75
18.
Viv
65
19.
Far
80
20.
Wis
85
21.
Fik
75
22.
Yen
75
23.
Ged
80
24.
You
85
25.
Ghe
80
26.
Yud
75
27.
Gup
90
28.
Zah
85
29.
Int
75
30.
Zai
70
31.
Isk
80
32.
Zie
75
Jumlah
2520

56

Rata-rata 78,8

Rata-rata

78,8

Berdasarkan data di atas, nilai tertinggi yang didapat oleh sisiwa adalah

90, nilai terendah adalah 65, dan nilai rata-rata adalah 78,8.

Pada akhir pertemuan kedua, siswa diberikan evaluasi berbentuk kata dan kalimat yang mengandung fonem-fonem bahasa
Pada akhir pertemuan kedua, siswa diberikan evaluasi berbentuk kata dan
kalimat yang mengandung fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat
dalam bahasa Indonesia. Termasuk juga dalam pemenggalan dan intonasi final.
Berikut adalah nilai yang diperoleh siswa dalam evaluasi pada akhir
pertemuan kedua.
Tabel 4.2
Nilai responden pada evaluasi kedua
No.
Nama
Nilai
No.
Nama
Nilai
Responden
Responden
1.
Akm
55
2.
Isn
65
3.
Ali
65
4.
M.Mi
75
5.
All
70
6.
M.Zu
50
7.
Ang
55
8.
Mar
75

57

9. Ari 50 10. Mut 70 11. Arv 65 12. Sat 60 13. Bri 55
9.
Ari
50
10.
Mut
70
11.
Arv
65
12.
Sat
60
13.
Bri
55
14.
Sho
65
15.
Des
60
16.
Sya
75
17.
Edg
65
18.
Viv
70
19.
Far
65
20.
Wis
70
21.
Fik
60
22.
Yen
65
23.
Ged
55
24.
You
70
25.
Ghe
60
26.
Yud
65
27.
Gup
75
28.
Zah
75
29.
Int
70
30.
Zai
60
31.
Isk
65
32.
Zie
65
Jumlah
2065
Rata-rata
64,5

Berdasarkan data di atas, nilai tertinggi yang didapat oleh sisiwa adalah

58

Setelah

dievaluasi

sebanyak

dua

kali,

kemudian

siswa

dites

untuk

mengetahui kefektifan Metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring yang

mencakup pelafalan fonem dalam kata, fonem dalam kalimat, pemenggalan dan

intonasi final. Fonem-fonem yang dimaksud adalah fonem-fonem bahasa Prancis

yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, serta fonem-fonem yang sama,

namun terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda. Berdasarkan hasil tes terhadap 32 responden mengenai kemampuan
namun terkonstruk dari susunan huruf yang berbeda.
Berdasarkan
hasil
tes
terhadap
32
responden
mengenai
kemampuan
membaca nyaring bahasa Prancis dengan menggunakan metode SAS, diperoleh
skor yang terdapat pada tabel di bawah ini. Skor tersebut kemudian dikonversikan
dalam bentuk nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
S =
x SM
Keterangan :
S
= nilai yang dicari
R
= skor mentah yang diperoleh siswa
N
= skor maksimal ideal dari tes yang bersangkutan
SM
= standar mark (besarnya skala penilaian yang dikehendaki)
(Purwanto 1986: 130)

59

Tabel 4.3

Skor mentah dan nilai yang diperoleh responden

Skor Mentah No Nama Pelafalan Pelafalan pemenggalan Intonasi Skor Nilai Responden fonem fonem final total
Skor Mentah
No
Nama
Pelafalan
Pelafalan
pemenggalan
Intonasi
Skor
Nilai
Responden
fonem
fonem
final
total
dalam kata
dalam
kalimat
1. Akm
34
10
11
8
63
68
2. Ali
41
15
11
7
74
80
3. All
46
16
11
8
81
88
4. Ang
33
10
8
6
57
62
5. Ari
41
15
10
7
73
79
6. Arv
42
13
11
8
74
80
7. Bri
49
18
11
9
87
94
8. Des
38
12
11
8
69
75
9. Edg
44
14
10
7 75
82
10. Far
48
16
9
8 81
88

60

11. Fik 26 7 9 6 48 52 12. Ged 31 11 11 7 60
11. Fik
26
7
9
6
48
52
12. Ged
31
11
11
7
60
65
13. Ghe
41
16
11
7
75
82
14.
Gup
48
16
11
9
84
91
15. Int
41
13
10
7
71
77
16. Isk
45
18
11
8
82
89
17. Isn
35
11
11
8
65
71
18. M.Mi
46
16
11
8
81
88
19. M.Zu
38
13
10
7
68
74
20. Mar
48
20
11
9
88
96
21. Mut
50
18
10
9
87
95
22. Sat
43
12
11
7
73
79
23. Sho
46
15
11
8
80
87
24. Sya
45
18
11
8
82
89
25. Viv
40
15
11
7
73
79
26. Wis
43
17
11
9
80
87

61

27. Yen 45 14 11 8 78 85 28. You 47 18 11 7 83
27. Yen
45
14
11
8
78
85
28. You
47
18
11
7
83
90
29. Yud
45
17
11
6
79
86
30.
Zah
48
17
11
7
83
90
31. Zai
40 15
11
7
73
79
32. Zie
41 16
11
7
75
82
Jumlah
1348
472
340
242
2402
2611
Skor
672
352
2944
3200
1632
288
Maksimal
Nilai Rata-
70
97
82
82
83
84
Rata
Tabel di atas menunjukkan bahwa:
1. Responden yang mendapatkan nilai ≥ 75 (mencapai KKM), sebanyak 26 siswa
(81,2 %).

2. Responden yang mendapatkan nilai < 75 (tidak tuntas), sebanyak 6 siswa

(18,8).

3.Nilai rata-rata kelas untuk soal pelafalan fonem dalam kata adalah 83.

62

5. Nilai rata-rata kelas untuk soal pemenggalan adalah 97.

6. Nilai rata-rata kelas untuk soal intonasi final adalah 84.

7. Nilai rata-rata kelas untuk soal keseluruhan adalah 82, dengan nilai tertinggi

adalah 96 dan nilai terendah adalah 52.

Berdasarkan rincian prestasi responden di atas, dapat diketahui bahwa

rentang nilai rata-rata kelas mencapai 82, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode SAS dalam pembelajaran
rentang nilai rata-rata kelas mencapai 82, sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan metode SAS dalam pembelajaran membaca nyaring pada siswa kelas X
SMAN 1 Jepara, efektif. Karena nilai rata-rata kelas yang diperoleh responden >
dari KKM yang berlaku di SMAN 1 Jepara untuk mapel bahasa Prancis, yaitu: 75.
Sehingga
H a :
“Metode
SAS
(Struktur
Analisis
Sintesis)
efektif
dalam
pembelajaran
membaca
nyaring bahasa Prancis
di SMA
Negeri
1
Jepara”,
diterima.
4.2 Hasil Analisis Persentase
Hasil persentase ini menggambarkan kemampuan siswa dalam melafalkan
fonem-fonem bahasa Prancis yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, fonem-
fonem yang sama dengan penulisan yang berbeda, pemenggalan, dan intonasi
final. Untuk mengetahui besarnya persentase kemampuan siswa, digunakan rumus

sebagai berikut:

P

f

n

100%

63

Untuk melihat persebaran nilai siswa dengan menggunakan persentase, dapat

dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.4

Persentase Hasil Penelitian

( % ) No Nama Pelafalan Pelafalan pemenggalan Intonasi Responden fonem dalam fonem dalam final
( % )
No
Nama
Pelafalan
Pelafalan
pemenggalan
Intonasi
Responden
fonem dalam
fonem dalam
final
kata
kalimat
1.
Akm
66,7
47,7
100
88,9
2.
Ali
80,4
71,4
100
77,8
3.
All
90,2
76,2
100
88,9
4.
Ang
64,8
47,7
72,8
66,7
5.
Ari
80,4
71,4
91
77,8
6.
Arv
82,4
62
100
100
7.
Bri
96,1
85,8
100
100
8. Des
74,6
57,1
100
88,9
9. Edg
86,3
66,7
91
77,8

64

10. Far 94,1 76,2 81,8 88,9 11. Fik 51 33,3 81,8 66,7 12. Ged 60,8
10. Far
94,1
76,2
81,8
88,9
11. Fik
51
33,3
81,8
66,7
12. Ged
60,8
52,4
100
77,8
13.
Ghe
80,4
76,2
100
77,8
14. Gup
94,1
76,2
100
100
15. Int
80,4
62
91
77,8
16. Isk
88,2
85,7
100
88,9
17. Isn
68,6
52,4
100
88,9
18. M.Mi
90,2
76,2
100
88,9
19. M.Zu
74,6
62
91
77,8
20. Mar
94,1
95,2
100
100
21. Mut
98
85,7
91
100
22. Sat
84,3
57,1
100
77,8
23. Sho
90,2
71,4
100
88,9
24. Sya
88,2
85,8
100
88,9
25. Viv
78,4
71,4
100
77,8

65

26. Wis 84,3 81 100 100 27. Yen 88,2 66,7 100 88,9 28. You 92,2
26. Wis
84,3
81
100
100
27. Yen
88,2
66,7
100
88,9
28. You
92,2
85,7
100
77,8
29.
Yud
88,2
81
100
77,8
30. Zah
94,1
81
100
77,8
31. Zai
78,4
71,4
100
77,8
32. Zie
80,4
76,2
100
77,8
Rata-Rata
82,6
70,2
96,6
84
Analisis persentase ini menunjukkan bahwa rata-rata persentase yang
dicapai oleh 32 siswa yang menjadi responden, untuk pelafalan fonem dalam soal
berbentuk kata 82,6 %, pelafalan fonem dalam soal berbentuk kalimat 70,2 %,
pemenggalan 96,6 % dan intonasi final 84 %.
4.3 Pembahasan Kesalahan

Kesalahan yang dibahas adalah kesalahan yang dilakukan oleh responden

yang mencapai 50% atau lebih dari separuh responden melakukan kasalahan

tersebut.

66

4.3.1 Kesalahan Pelafalan Fonem pada Soal Berbentuk Kata

1) Fonem [ε]

Fonem [ε] seperti dalam kata bebek, dibunyikan apabila dalam penulisan

suatu kata memiliki unsur-unsur: ê, è, _ai + konsonan, e terletak pada suku kata

yang diakhiri oleh konsonan. Pada soal ini terdapat pada kata être, palmarès, air, dan ciel.
yang diakhiri oleh konsonan. Pada soal ini terdapat pada kata être, palmarès, air,
dan ciel.
Pada kata
être
ditemukan 16
kesalahan
(50%), pada kata
palmarès
ditemukan 31 kesalahan (96,9%), sedangkan pada kata air dan ciel, kesalahan
responden tidak mencapai 50%. Pada kata être dan palmarès, sebagian besar
siswa melafalkan fonem [ε] menjadi fonem [e].
2) Fonem [ø]
Fonem [ø] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan [e], tetapi
bentuk mulut bulat seperti mengucapkan [o]. Fonem ini dibunyikan apabila dalam
penulisan suatu kata memiliki unsur eu, yang dalam soal ini terdapat pada kata
feu.
Pada kata feu ditemukan 17 kesalahan (53,1%). Pada kata tersebut,
sebagian besar siswa melafalkan fonem [ø] menjadi fonem [ə] dan [o].

3)

Fonem []

Fonem [] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-

unsur in atau im, yang pada soal ini terdapat pada kata intimer dan impoli.

67

Pada kata intimer ditemukan 18 kesalahan (56,3%), sedangkan pada kata

impoli, ditemukan 16 kesalahan (50%). Pada kata intimer dan impoli, sebagian

besar siswa melafalkan fonem [] menjadi fonem [in] dan [im].

4) Fonem [v] Fonem [v] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur v. Fonem
4)
Fonem [v]
Fonem [v] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur
v. Fonem [v] dibunyikan dengan mengucapkan konsonan [f] dengan suara
bergetar dan gigi atas menyentuh bibir bawah. Pada soal ini terdapat dalam kata
voler.
Pada kata tersebut ditemukan 17 kesalahan (53,1%). Sebagian besar siswa
melafalkan fonem [v] menjadi fonem [f].
4.3.2 Kesalahan Pelafalan Fonem pada Soal Berbentuk Kalimat
Pada soal berbentuk kalimat, kesalahan responden cenderung meningkat.
Berikut adalah kesalahan responden yang lebih dari 50%.
1) Fonem [j]
Fonem [j] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur-

unsur ille, ail, atau eil. Pada soal ini terdapat dalam kata travaillent.

Pada kata tersebut ditemukan 17 kesalahan (53,1%). Sebagian besar siswa

melafalkan fonem [j] menjadi fonem [l].

68

2) Fonem [ø]

Fonem [ø] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan [e], tetapi

bentuk mulut bulat seperti mengucapkan [o]. Fonem ini dibunyikan apabila dalam

penulisan suatu kata memiliki unsur eu, yang dalam soal ini terdapat pada kata

professeur. Pada kata tersebut ditemukan 30 kesalahan (93,8%). Pada kata tersebut, sebagian besar siswa melafalkan
professeur.
Pada kata tersebut ditemukan 30 kesalahan (93,8%). Pada kata tersebut,
sebagian besar siswa melafalkan fonem [ø] menjadi fonem [ə] dan [o].
3) Fonem [y]
Fonem [y] dibunyikan dengan posisi lidah seperti mengucapkan [i], tetapi
bentuk mulut bulat seperti mengucapkan [u]. Fonem ini dibunyikan apabila dalam
penulisan, suatu kata memiliki unsur u tunggal. Pada soal ini terdapat dalam kata
rue.
Pada kata tersebut ditemukan 26 kesalahan (81,3%). Pada kata tersebut,
sebagian besar siswa melafalkan fonem [y] menjadi fonem [u], [i] dan [wi].

4) Fonem [v]

Fonem [v] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur

v. Fonem [v] dibunyikan dengan mengucapkan konsonan [f] dengan suara

69

bergetar dan gigi atas menyentuh bibir bawah. Pada soal ini terdapat dalam kata

va.

Pada kata tersebut ditemukan 19 kesalahan (59,4%). Sebagian besar siswa

melafalkan fonem [v] menjadi fonem [f].

5) Fonem [ɲ] Fonem [ɲ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur _gn Pada
5) Fonem [ɲ]
Fonem [ɲ] dibunyikan apabila dalam penulisan suatu kata memiliki unsur
_gn
Pada soal ini terdapat pada kata Allemagne.
Pada kata tersebut ditemukan 23 kesalahan (71,9%). Sebagian besar siswa
melafalkan fonem [ɲ] menjadi fonem [gn].
6) Fonem [ə]
Fonem [ə] seperti dalam kata lelah, dibunyikan apabila penulisan suatu
kata memiliki unsur e yang terletak pada suku kata yang tidak diakhiri oleh
konsonan dan tanpa tanda apapun. Pada soal ini terdapat dalam kata petite.
Pada soal tersebut ditemukan 19 kesalahan (59,4%). Sebagian besar siswa

melafalkan fonem [ə] menjadi fonem [ε].

4.3.3 Kesalahan Pemenggalan dan Intonasi Final

Dalam poin pemenggalan, kesalahan yang ditemukan tidak lebih dari 50%,

demikian juga dengan intonasi final

70

4.4 Kesalahan yang Sering Dilakukan

Dari

data-data

yang

terkumpul,

dapat

diketahui

bahwa

tingkatan

kesalahan dalam pelafalan fonem (dalam soal berbentuk kata dan kalimat),

pemenggalan, dan intonasi final yang 50 % adalah sbb:

1. Pada soal berbentuk kata. a. Fonem [ε]: pada kata être 50 %, pada kata
1. Pada soal berbentuk kata.
a. Fonem [ε]: pada kata être 50 %,
pada kata palmarès 96,9 % ,
b. Fonem [ø]: pada kata feu 53,1 %,
c. Fonem [ɛ]: pada kata intimer 56,3 %,
: pada kata impoli 50 %, dan
d. Fonem [v] pada kata voler 53,1 %
Pada poin a, kesalahan siswa diasumsikan karena kekurangtelitian siswa
dalam membedakan antara fonem [ε] dan [e]. Sedangkan pada poin b,c, dan d,
kesalahan siswa diasumsikan karena teknik pelafalan yang berbeda dengan fonem
bahasa Indonesia.
2. Pada soal berbentuk kalimat.
a. Fonem [j] 53,1 %,

b. Fonem [ə] 59,4 %,

c. Fonem [ø] 93,8 %,

71

e. Fonem [v] 59,4 %, dan

f. Fonem [ɲ] 71,9 %,

Pada poin a, kesalahan siswa diasumsikan karena kekurangtelitian siswa

dalam membaca fonem [j] yang dalam bahasa Indonesia seperti [i] yang dibaca

sedikit lebih panjang. Pada poin b, kesalahan siswa diasumsikan karena kekurangtelitian siswa dalam membedakan antara
sedikit lebih panjang.
Pada poin b, kesalahan siswa diasumsikan karena kekurangtelitian siswa
dalam membedakan antara fonem [ə] dan [e].
Pada poin c, d, dan e, kesalahan siswa diasumsikan karena teknik pelafalan
yang berbeda dengan fonem bahasa Indonesia.
Pada poin f, kesalahan siswa diasumsikan karena kekurangtelitian siswa
dalam melafalkan fonem [ɲ] yang dalam bahasa Indonesia sama dengan fonem
[ny]. Kebanyakan siswa melafalkannya seperti yang tertulis apa adanya pada
contoh.
3. Pada pemenggalan dan intonasi final, kesalahan yang ditemukan tidak lebih
dari 50%.

Pada poin pemenggalan dan intonasi final, kesalahan siswa diasumsikan

karena siswa lebih berkonsentrasi pada aspek pelafalan saja. Siswa berusaha

melafalkan fonem dengan baik tanpa memperhatikan aspek pemenggalan dan

intonasi final.

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

Pada Bab ini disampaikan simpulan dan saran tentang kefektifan metode

SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X SMAN 1 Jepara. 5.1
SAS dalam pembelajaran membaca nyaring bahasa Prancis pada siswa kelas X
SMAN 1 Jepara.
5.1 Simpulan
Bedasarkan hasil penelitian kefektifan metode SAS dalam pembelajaran
membaca nyaring bahasa Prancis pada siwa kelas X SMAN 1 Jepara, dapat
diketahui nilai rata-rata siswa adalah 82, dengan nilai tertinggi 96 dan terendah
52.
Nilai rata-rata untuk masing-masing kriteria adalah sbb:
a.
Nilai rata-rata pelafalan fonem dalam soal berbentuk kata adalah 83.
b.
Nilai rata-rata pelafalan fonem dalam soal berbentuk kalimat adalah 70.
c.
Nilai rata-rata pemenggalan adalah 97.
d.
Nilai rata-rata intonasi final adalah 84.

Secara keseluruhan, nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 82 75

(KKM di SMAN 1 Jepara), sehingga Metode SAS dalam Pembelajaran Membaca

Nyaring pada Siswa Kelas X SMAN 1 Jepara, dikatakan efektif. H a : “Metode

72

73

SAS (Struktur Analisis Sintesis) efektif dalam pembelajaran membaca nyaring

bahasa Prancis di SMA Negeri 1 Jepara”, diterima.

Jika dinilai dari masing-masing kriteria, maka penggunaan Metode SAS

efektif untuk pelafalan fonem dalam soal berbentuk kata, pemenggalan, dan

intonasi final. Namun untuk pelafalan fonem dalam soal berbentuk kalimat, penggunaan Metode SAS dikatakan tidak
intonasi final. Namun untuk pelafalan fonem dalam soal berbentuk kalimat,
penggunaan Metode SAS dikatakan tidak efektif, karena nilai rata-rata yang
diperoleh siswa adalah 70
< 75 (KKM di SMAN 1 Jepara). Kesalahan pada
pelafalan
fonem
dalam
soal
berbentuk
kalimat
cenderung
meningkat
bila
dibandingkan dengan pelafalan fonem pada soal berbentuk kata.
5.2 Saran
Penerapan Metode SAS dalam kalimat berbeda dengan penerapannya
dalam kata. Ketika Metode SAS diterapkan dalam kalimat, selain aspek pelafalan,
juga terdapat aspek pemenggalan dan intonasi final. Sedangkan penerapan Metode
SAS dalam kata, siswa dapat lebih berkonsentrasi dalam aspek pelafalan saja.
Meskipun penggunaan Metode SAS dapat membantu siswa dalam menganalisis
fonem-fonem yang muncul atau cara membaca suatu kata atau kalimat, namun
tidak serta merta menjadikan siswa dapat membaca dengan baik. Untuk dapat

membaca nyaring bahasa Prancis dengan baik, diperlukan latihan yang konsisten

dan berkesinambungan.

74

Dari hasil yang dicapai siswa setelah diajar membaca nyaring dengan

menggunakan

Metode

SAS,

baik

secara

keseluruhan

maupun

berdasarkan

masing-masing kriteria tersebut di atas, maka peneliti memberikan saran sbb;

Bagi siswa, hendaknya

melanjutkan latihan-latihan membaca nyaring

bahasa Prancis, terutama dalam teks. Sedangkan bagi guru, hendaknya melakukan pengawasan terhadap siswa saat berlatih
bahasa Prancis, terutama dalam teks. Sedangkan bagi guru, hendaknya melakukan
pengawasan terhadap siswa saat berlatih membaca nyaring, sehingga guru dapat
memantau dan mengevaluasi sejauh mana kemampuan siswanya dalam membaca
nyaring,
terutama
dalam
melafalkan
fonem-fonem
tersebut
di
atas,
serta
memberikan contoh-contoh soal atau bacaan yang variatif, sehingga pembelajaran
tidak terkesan monoton dan membosankan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dubois, Jean. 1973. Dictionaire de Linguistique. Paris:Libraire Larousse.

Harjasudjana, Ahmad Slamet, & Mulyati, Yeti. 1997. Membaca 2. Jakarta: Debdikbud. Haryadi. 2006. Retorika
Harjasudjana, Ahmad Slamet, & Mulyati, Yeti. 1997. Membaca 2. Jakarta:
Debdikbud.
Haryadi.
2006.
Retorika
Membaca;Model,
Metode,
dan
Teknik.
Semarang.
Rumah Indonesia.
. 2006. Pokok-pokok Keterampilan Membaca Modul Mata Kuliah
Membaca. Semarang. UNNES.
Haryadi dan Zamzami. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia.
Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan Guru SD.
Léon, Monique. 1964. Exercices Systématiques de Prononciation Française 1.
Paris :
Librairies Hachette et Larousse.
Léon, Pierre.R. 1996. Prononciation du Français Standard. Paris : Librairie Marcel
Didier
Purwanto,
Ngalim.
1986.
Prinsip-Prinsip
dan
Teknik
Evaluasi
Pengajaran.
Jakarta: Remaja Ekakarya CV.
Ruslan, H. 1996. Pedoman Pengucapan Bahasa Perancis. Jakarta: Kesaint Blanc.
Sudijono, Anas. 2002. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Soedarso. 1988. Speed Reading, Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Tarigan, Henri Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

. 1989. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

. 1983. Membaca dalam Kehidupan. Bandung: Angkasa.

75

77

77

Lampiran 1

78

Lampiran 1 78

Lampiran 2

79

Lampiran 2 79

80

Lampiran 3

Instrumen Penelitian

A. Lisez les mots suivants à haute voix!

1. Bébé. 25. Fille. 2. Nez. 26. Portail. 3. Parler. 27. Soleil. 4. Irai. 28.
1. Bébé.
25. Fille.
2. Nez.
26. Portail.
3. Parler.
27. Soleil.
4. Irai.
28. Qualité.
5. Le.
29. Café.
6. Être.
30. Comité.
7. Palmarès.
31. Curé.
8. Air.
32. Cristal.
9. Ciel.
33. Christiana.
10. Unité.
34. Passer.
11. Ou.
35. Français.
12. Feu.
36. Cycle.
13. Ôter.
37. Ici.
14. Au.
38. Ce.
15. Stylo.
39. Chat.
16. Bol.
40. Je.
17. En.
41. Agir.
18. Empaler.
42. Gyro.
19. An.
43. Gel.

20.

21.

22.

23.

24.

Amplifier.

On.

Nombre.

Intimer.

Impoli.

44.

45.

46.

47.

48.

Garder.

Gogo.

Guano.

Gloria.

Singe.

81

49. Moi.

50. Maison.

51. Voler.

81 49. Moi. 50. Maison. 51. Voler.

82

Skor maks: 51

B. Lisez les phrases suivantes à haute voix!

1. Monique et moi travaillent dans ma chambre.

2. Je suis professeur.

4. 3. J‟habite au centre ville, 7 rue de la Poste, Nice. Il va au
4.
3. J‟habite au centre ville, 7 rue de la Poste, Nice.
Il va au lycée en bicyclette.
5.
Où mangez-vous? Je mange au restaurant près de la gare.
6.
En Allemagne, j‟achète une petite maison.
7.
C‟est impossible! Il a un chat?
Skor maksimal
:
a. Pelafalan
: 21
b. Pemenggalan
: 11
c. Intonasi final
: 9

83

Lampiran 4

Kunci Instrumen Penelitian

C. Lisez les mots suivants à haute voix!

1.

Bébé. [e]

26.

Portail. [j]