Anda di halaman 1dari 26

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang


Keadaan gizi yang baik adalah prasyarat utama dalam mewujudkan sumber daya
manusia berkualitas, namun pada masyarakat Indonesia saat ini masih belum memuaskan.
Berbagai masalah gizi seperti gizi kurang dan gizi buruk, kurang vitamin A, anemia defisiensi
besi, gangguan akibat kurang yodium dan gizi lebih atau obesitas masih banyak tersebar di
kota dan desa di seluruh tanah air. Kesehatan adalah hak asasi manusia sekaligus investasi
sumber daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia. Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam
kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan
adalah masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat
pesat. Gangguan gizi pada masa ini bersifat permanen, sulit dipulihkan walaupun kebutuhan
gizi pada masa selanjutnya terpenuhi. Masalah gizi di Indonesia secara tidak langsung
mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia menduduki tempat ke 124 dari 187
negara. Masalah gizi perlu diperhatikan karena mempengaruhi 3 sasaran besar Millenium
Development Goals (MDGs) yaitu memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem,
menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu.(1,2)
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut antara lain adalah tingkat
kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga,
pengetahuan dan perilaku keluarga dalam memilih, mengolah dan membagi makanan di
tingkat rumah tangga, ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi dasar serta ketersediaan
dan aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat yang berkualitas. 3
Berdasarkan Riskesdas 2013, pemantauan pertumbuhan balita setiap bulan
menunjukkan bahwa persentase balita umur 6-59 bulan yang tidak pernah ditimbang dalam 6
bulan terakhir mengalami peningkatan dari 23,3% pada tahun 2010 menjadi 34,3% tahun
2013. Persentase pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir dan tanpa riwayat diberikan
makanan prelaktal pada umur 6 bulan sebesar 30,2%. Proporsi rerata nasional perilaku
konsumsi kurang sayur dan/atau buah 93,5%. Proporsi rumah tangga mengonsumsi garam
mengandung cukup iodium adalah 77,1%. Cakupan pemberian vitamin A pada anak 6-59
bulan 75,5%. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) 10,2%. Riskesdas 2014 secara
nasional menggambarkan balita yang mengalami gizi buruk pada balita tahun 2010 sebanyak
43,62%, mengalami penurunan jumlah balita gizi buruk tahun 2011 sebesar 40,41%; 2012

1
sebesar 17,09%, 2013 sebesar 19,6% atau 4.646.933 balita dan 2014 mencapai 18,5%. 3,4
Gambaran status gizi balita diawali dengan banyaknya bayi berat lahir rendah
(BBLR) sebagai cerminan tingginya masalah gizi dan kesehatan ibu hamil. Sekitar 30 juta
wanita usia subur menderita kurang energi kronis/KEK (LILA < 23,5 cm), yang bila hamil
dapat meningkatkan resiko melahirkan BBLR. Setiap tahun diperkirakan sekitar 350.000 bayi
yang BBLR (2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang
dan kematian balita. Masalah kurang gizi lainnya yaitu Anemia Gizi Besi (AGB) yang
diderita oleh 8,1 juta anak balita, 10 juta anak usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta
ibu hamil. Target yang ditetapkan dalam pedoman kerja puskesmas adalah 90%. Prevalensi
anemia yang tinggi dapat mempengaruhi angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
Masalah Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) diderita oleh sekitar 3,4 juta anak usia
sekolah dan sekitar 10 juta balita menderita Kurang Vitamin A (KVA).(1,5)
Salah satu upaya pemerintah dalam menekan masalah gizi kurang dan lebih melalui
gerakan pemberdayaan masyarakat yaitu KADARZI (Keluarga Sadar Gizi). Untuk itu
Kementerian Kesehatan menerapkan Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi Di Desa
Siaga ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
747/Menkes/SK/VI/2007. Visi Kadarzi yaitu mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk
mencapai status gizi keluarga yang optimal. KADARZI adalah tujuan antara dalam rangka
meningkatkan status gizi kurang dan menurunkan gizi lebih sebagai gambaran keluarga yang
berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali, mencegah, dan memecahkan masalah gizi
anggota keluarganya. Perilaku keluarga yang akan dicapai dalam mewujudkan KADARZI
diukur dengan lima indikator, yaitu penimbangan berat badan secara teratur, praktek
pemberian ASI ekslusif hingga usia 6 bulan, konsumsi makanan beraneka ragam, konsumsi
garam beryodium, dan suplementasi gizi (tablet tambah darah dan kapsul vitamin A).( 3,6–8)
Gerakan Nasional Sadar Gizi diharapkan dapat menekan angka kejadian penyakit
kronis di masa mendatangnya. Kesadaran keluarga akan perilaku terhadap gizi juga dirasa
mempengaruhi taraf kesehatan pada setiap anggota keluarganya. Keluarga yang menerapkan
perilaku sadar gizi (kadarzi) dapat memberikan perlindungan yang optimal dalam hal
kesehatan melalui makanan yang dikonsumsi.(7,8)

1.2 Rumusan Masalah


1. Terjadi peningkatan jumlah balita usia 6-59 bulan yang belum pernah ditimbang dalam 6
bulan terakhir dari 23,3% pada tahun 2010 menjadi 34,3% pada tahun 2013. 


2
2. Persentase pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir dan tanpa riwayat diberikan
makanan prelakteal pada umur 6 bulan sebesar 30,2% 

3. Proporsi rerata nasional perilaku konsumsi kurang sayur dan atau buah 93,5%
4. Proporsi rumah tangga mengonsumsi garam mengandung cukup iodium adalah 77,1% 

5. Cakupan pemberian vitamin A pada anak 6-59 bulan sebesar 75,5% 

6. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 10,2% 

7. Balita dengan gizi buruk tahun 2010 sebanyak 43,62%, mengalami penurunan jumlah
balita gizi buruk pada tahun 2011 sebesar 40,41%, 2012 sebesar 17,09%, 2013
sebesar 19,6% atau 4.646.933 balita dan 2014 mencapai 18,5%
8. Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil
dapat meningkatkan resiko melahirkan BBLR.
9. Masalah kurang gizi lainnya yaitu Anemia Gizi Besi (AGB) yang diderita oleh 8,1 juta
anak balita, 10 juta anak usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta ibu hamil.
10. Masalah Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) diderita oleh sekitar 3,4 juta anak
usia sekolah dan sekitar 10 juta balita menderita Kurang Vitamin A (KVA).

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui masalah, penyebab masalah, dan penyelesaian masalah program
Keluarga Sadar Gizi di Puskesmas Tirtajaya periode Juli 2015 sampai Juni 2016 dengan
pendekatan sistem.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Diketahuinya cakupan pemetaan awal jumlah kepala keluarga yang sudah maupun
belum Kadarzi sebelum pendampingan berdasarkan 5 indikator.
2. Diketahuinya cakupan pemetaan akhir jumlah kepala keluarga yang sudah maupun
belum Kadarzi setelah pendampingan berdasarkan penilaian 5 indikator.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator
1. Mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat kuliah.
2. Melatih serta mempersiapkan diri dalam merencanakan suatu program, khususnya
program kesehatan.

3
3. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah-langkah yang
haarus dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, antara lain,
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
4. Menumbuhkan minat dan pengetahuan mengevaluasi.
5. Mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi


1. Mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
2. Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang
kesehatan.

1.4.3 Bagi Puskesmas yang Dievaluasi


1. Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam program perbaikan gizi di
Puskesmas dan pemecahan masalahnya.
2. Memperoleh masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
3. Membantu kemandirian Puskesmas dalam upaya lebih mengaktifkan program
keluarga sadar gizi sehingga mememnuhi cakupan target program.
1.4.4 Bagi Masyarakat
1. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tirtajaya.
2. Mendapatkan pelayanan gizi yang lebih baik dari puskesmas.
3. Memperoleh pembinaan mengenai program perbaikan gizi sehingga meningkatkan
peran serta masyarakat untuk lebih memperhatikan status gizi keluarganya.

1.5 Sasaran
Semua keluarga yang bermasalah gizi, diutamakan keluarga yang mempunyai balita
dan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tirtajaya Juli 2015 sampai dengan Juni 2016.

4
Bab II
Materi dan Metode

2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan puskesmas
mengenai keluarga sadar gizi di wilayah kerja puskesmas Tirtajaya, Karawang periode Juli
2015 sampai dengan Juni 2016, yang berisi kegiatan :
a. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi.
b. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi.

2.2. Metode
Membandingkan nilai pemetaan awal dengan pemetaan akhir program keluarga sadar
gizi selama periode Juli 2016 sampai dengan Juni 2016 dengan pengumpulan data,
pengolahan data, analisis data,dan kesimpulan dengan pendekatan sistem. Data dibandingkan
dengan tolok ukur yang telah ditentukan dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga
ditemukan masalah pada program pelayanan keluarga sadar gizi. Usulan dan sasaran
diberikan berdasarkan penyebab dari masing-masing unsur keluaran sebagai pemecahan
masalah, dengan menggunakan pendekatan sistem.
Tingkat sadar gizi keluarga merupakan ukuran dari keberhasilan program keluarga
sadar gizi, hal tersebut dapat diukur dengan indikator keluarga sadar gizi yang disesuaikan
dengan karakteristik keluarga. Indikator keluarga sadar gizi yaitu menimbang berat badan
secara teratur, memberikan air susu ibu (ASI) ekslusif, makan beraneka ragam, menggunakan
garam beryodium, dan minum supemen gizi sesuai anjuran.

5
Bab III

Kerangka Teoritis

3.1 KerangkaTeoritis

LINGKUNGAN
(VI)

MASUKAN PROSES KELUARAN DAMPAK


(I) (II) (III) (V)

UMPAN BALIK
(IV)

Bagan di atas menerangkan sistem dengan definisi menurut Ryans adalah gabungan
dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi
sebagai salah satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah
ditetapkan. Bagian atau elemen dapat dikelompokkan dalam enam unsur, yakni:
1. Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut dan terdiri dari unsur
tenaga (man), dana (money), sarana (material) dan metode (method).
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan
dan terdiri dari unsur perencanaan (planning), organisasi (organization), pelaksanaan
(actuating) dan pengawasan (controlling).
3. Keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan
keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

6
6. Lingkungan (environment) adalah segala sesuatu di luar sistem yang tidak dikelola
oleh sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem, terdiri dari lingkungan
fisik dan non fisik.
3.2 Tolok Ukur Keberhasilan
Tolok ukur merupakan nilai acuan atau standar yang telah ditetapkan dan digunakan
sebagai target yang harus dicapai pada tiap – tiap variabel sistem. Tolok ukur keberhasilan
terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, umpan balik, dampak dan lingkungan,
digunakan sebagai pembanding atau tolok ukur yang harus dicapai dalam program keluarga
sadar gizi. Tolok ukur digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam
program keluarga sadar gizi (KADARZI).

7
Bab IV
Penyajian Data

4.1 Sumber Data:


Pengumpulan data dilakukan dengan data sekunder yang diperoleh dari:
1. Profil UPTD Puskesmas Tirtajaya Tahun 2016.
2. Data demografi Puskesmas Tirtajaya tahun 2016.
3. Laporan hasil kegiatan pelaksanaan pendampingan program keluarga sadar gizi
Puskesmas Tirtajaya Juli tahun 2015 sampai Juni 2016.

4.2 Data Umum


4.2.1 Data Wilayah Geografi
1. Lokasi Puskesmas
Lokasi Gedung Puskesmas Tirtajaya terletak di pinggir Jalan Pisang Sambo,
kecamatan Tirtajaya, Karawang. Jarak antara Puskesmas Tirtajaya ke pusat kota
Karawang adalah ± 45 km dengan waktu tempuh ± 90 menit. Jarak terjauh ke
Puskesmas yaitu delapan kilometer dengan waktu tempuh terlama adalah 30 menit
dan jarak terdekat yaitu 50 m dengan waktu tempuh tercepat dua menit.
2. Luas wilayah kerja
Puskesmas Tirtajaya memiliki wilayah kerja yang terdiri dari 11 desa, 48 dusun, 131
RT, dan 28.677 kepala keluarga dengan luas wilayah ± 113,628 km atau 11.362,815
Ha. Terdiri dari daratan, persawahan, dan tambak dengan luas 175.327 Ha, dan laut
dengan luas 4 mil x 57 km. Berikut nama-nama desa beserta jumlah penduduk yaitu:
1. Desa Pisangsambo : 8.293 jiwa
2. Desa Sabajaya : 8.587 jiwa
3. Desa Medankarya : 6.381 jiwa
4. Desa Tambaksumur : 7.430 jiwa
5. Desa Tambaksari : 7.965 jiwa
6. Desa Srijaya : 6.463 jiwa
7. Desa Srikamulyan : 7.380 jiwa
8. Desa Kutamakmur : 4.847 jiwa
9. Desa Bolang : 5.274 jiwa
10. Desa Gempolkarya : 4.405 jiwa
11. Desa Sumurlaban : 3.718 jiwa

8
Gambar 1. Peta wilayah kerja Puskesmas Tirtajaya

3. Batas wilayah kerja


Batas wilayah kerja Puskesmas Tirtajaya:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Selatan : Kecamatan Cibuaya
Sebelah Barat : Kecamatan Jayakerta
Sebelah Timur : Kecamatan Batujaya

4.2.2 Data Demografis


1. Jumlah penduduk Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang adalah 70.743 jiwa.
2. Jumlah penduduk Kecamatan Tirtajaya pada tahun 2016 berdasarkan jenis kelamin :
Laki-laki 35.716 jiwa dan jumlah perempuan 35.318 jiwa, bayi (0-11 bulan) 1.174
jiwa, Balita (12-59 bulan) 5.270 jiwa, Bumil 1.156 jiwa, Buteki 2.218 jiwa dan
WUS 19.802 jiwa.
3. Terdiri dari 11 desa dengan jumlah kepala keluarga 28.677 Kepala Keluarga (KK).
4. Klasifikasi penduduk berdasarkan mata pencaharian di wilayah kerja Puskesmas
Tirtajaya adalah petani (39.81%), pedagang (13,84%), buruh (24,24%), nelayan
(0.25%), PNS/TNI/POLRI (0.65%), lain-lain (21.20%).
5. Tingkat pendidikan kepala keluarga di Kecamatan Tirtajaya sebagian besar adalah
tamatan SD/SLTP yaitu sebanyak 45.071 orang (64,30%).

9
6. Fasilitas Kesehatan yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tirtajaya,
Kabupaten Karwang, tahun 2015: 1 unit Puskesmas induk, 4 unit Puskesmas
Pembantu (PUSTU), 2 buah Klinik kesehatan, 46 pos Posyandu Balita, 11 pos
Posyandu Lansia, 1 buah BATRA, 1 pos Poskestren, 1 buah Toga, 1 pos Pos UKK.
7. Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Tirtajaya adalah :
 Dokter Umum : 2 Orang
 Dokter Gigi : 1 Orang
 Perawat dan Bidan : 63 Orang
 Farmasi : 0 Orang
 Gizi : 0 Orang
 Analisis Laboratorium : 1 Orang
 Teknisi Medis : 0 Orang
 Sanitasi : 0 Orang
 Kesehatan Masyarakat : 4 Orang

4.3 Data Khusus


4.3.1. Masukan
A. Tenaga
1. Pimpinan Puskesmas : 1 Orang
2. Bidan koordinator : 1 Orang
3. Tenaga pelaksana gizi : 1 Orang
4. Penyuluh kesehatan : 1 Orang
5. Bidan Poskesdes : 11 Orang
6. Kader Poskesdes : 230 orang
7. Kepala desa : 11 Orang (11 Desa)
B. Dana
Pembiayaan dari pemerintah, terdiri dari :
 Biaya Operasional Kesehatan (BOK) : Ada
C. Sarana
a) Pedoman Pendampingan : Ada
b) Buku Saku Kader Kadarzi : Tidak Ada
c) Formulir Pencatatan Pendampingan : Ada
d) Leaflet : Tidak Ada

10
e) Lembar balik : Tidak Ada
f) Poster : Tidak Ada
g) Yodium Test : Ada
h) Data jumlah sasaran : Ada
i) Data informasi masalah gizi balita dan ibu : Tidak Ada
j) Data rencana kunjungan rumah dan nasehat gizi : Tidak Ada
D. Metode
a. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi.
b. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi.
c. Pemantauan kegiatan pendampingan keluarga sadar gizi.

4.3.2. Proses
A. Perencanaan
1. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi.
a) Promosi kesehatan tentang keluarga sadar gizi.
- Pengembangan kegiatan bina suasana dengan cara melakukan
penyuluhan yang dilakukan pada kelas ibu hamil dan
mendemonstrasikan tes yodium pada garam rumah tangga warga
oleh tenaga pelaksana gizi.
- Membagikan pamflet kepada ibu hamil, ibu nifas, dan yang
memiliki bayi dan atau balita. Memasang poster tentang keluarga
sadar gizi di ruang bersalin dan ruang pemeriksaan KIA.
- Diadakan kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh tenaga
pelaksana gizi dengan merencanakan dan menyiapkan pelatihan
kader pendamping.
b) Pertemuan dengan bidan Poskesdes.
- Mendapatkan data sasaran di masing-masing wilayah kerja bidan
desa dilakukan oleh tenaga pelaksana gizi dengan bantuan bidan
koordinator.
- Menetapkan jumlah kader pendamping yaitu 1 kader untuk 1 RW.
- Tata cara pemilihan kader Kadarzi yaitu dengan memilih kader
Kadarzi dari kader posyandu.
c) Pelatihan kader pendamping.
- Penyegaran kader Kadarzi dilakukan oleh tenaga pelaksana gizi.

11
d) Pemetaan awal keluarga mandiri sadar gizi.
- Mendata anggota keluarga dari 10 kepala keluarga terpilih pada
masing-masing cluster berupa jumlah bayi usia 0-6 bulan, bayi dan
balita usia 6-59 bulan, ibu hamil, ibu nifas, dan lainnya oleh tenaga
pelaksana gizi.
- Menilai perilaku Kadarzi di keluarga berdasarkan lima indikator
kadarzi yang telah disesuaikan dengan karakteristik masing-masing
keluarga terpilih oleh tenaga pelaksana gizi.
2. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi.
a) Pendampingan keluarga sasaran
- Membuat jadwal kunjungan rumah keluarga sasaran.
- Melakukan kunjungan ke keluarga sasaran secara berkelanjutan.
- Mengidentifikasi dan mencatat masalah gizi yang terjadi di
keluarga sasaran serta memberikan nasihat gizi.
- Mencatat perubahan perilaku keluarga sadar gizi.
- Merekap hasil perubahan perilaku dari seluruh keluarga yang
didampingi.
- Kegiatan ini dilaksanakan oleh kader Kadarzi.
b) Pemetaan akhir keluarga sadar gizi
- Penyampaian formulir hasil perubahan perilaku, formulir
kesimpulan hasil, dan formulir hasil kegiatan pendampingan
kepada bidan poskesdes oleh kader Kadarzi.
- Perekapan hasil pemantauan keluarga sasaran di desa bersangkutan
dan melaporkan hasilnya kepada Kepala Desa dan tim puskesmas
dilakukan oleh bidan Poskesdes.
- Perekapan hasil pemantauan keuarga sasaran oleh tenaga pelaksana
gizi.
3. Pemantauan pendampingan keluarga sadar gizi.
a) Lokakarya mini bulanan Puskesmas.

B. Pengorganisasian

12
Kepala Puskesmas
Teti Suhernayati, SKM
Kasubag
Enjang Lukmanul Hakim
Koordinator Pelaksana Program Gizi
Hj. Iin Tarkinah

Tenaga Pelaksanan Gizi


11 Bidan Desa

Bagan Struktur Organisasi Bagian Gizi di Puskesmas Tirtajaya Tahun 2016

C. Pelaksanaan
1. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi.
a) Promosi kesehatan tentang keluarga sadar gizi.
- Pengembangan kegiatan bina suasana dengan cara melakukan
penyuluhan yang dilakukan pada kelas ibu hamil dan
mendemonstrasikan tes yodium pada garam rumah tangga warga
oleh tenaga pelaksana gizi.
- Membagikan pamflet kepada ibu hamil, ibu nifas, dan yang
memiliki bayi dan atau balita. Memasang poster tentang keluarga
sadar gizi di ruang bersalin dan ruang pemeriksaan KIA.
- Diadakan kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh tenaga
pelaksana gizi dengan merencanakan dan menyiapkan pelatihan
kader pendamping.
b) Pertemuan dengan bidan Poskesdes.
- Mendapatkan data sasaran di masing-masing wilayah kerja bidan
desa dilakukan oleh tenaga pelaksana gizi dengan bantuan bidan
koordinator.
- Menetapkan jumlah kader pendamping yaitu 1 kader untuk 1 RW.
- Tata cara pemilihan kader Kadarzi yaitu dengan memilih kader
Kadarzi dari kader posyandu.
c) Pelatihan kader pendamping.
- Penyegaran kader Kadarzi dilakukan oleh tenaga pelaksana gizi.

13
d) Pemetaan awal keluarga mandiri sadar gizi.
- Mendata anggota keluarga dari 10 kepala keluarga terpilih pada
masing-masing cluster berupa jumlah bayi usia 0-6 bulan, bayi dan
balita usia 6-59 bulan, ibu hamil, ibu nifas, dan lainnya oleh tenaga
pelaksana gizi.
- Menilai perilaku Kadarzi di keluarga berdasarkan lima indikator
kadarzi yang telah disesuaikan dengan karakteristik masing-masing
keluarga terpilih oleh tenaga pelaksana gizi.
2. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi.
a) Pendampingan keluarga sasaran
- Membuat jadwal kunjungan rumah keluarga sasaran.
- Melakukan kunjungan ke keluarga sasaran secara berkelanjutan.
- Mengidentifikasi dan mencatat masalah gizi yang terjadi di
keluarga sasaran serta memberikan nasihat gizi.
- Mencatat perubahan perilaku keluarga sadar gizi.
- Merekap hasil perubahan perilaku dari seluruh keluarga yang
didampingi.
- Kegiatan ini dilaksanakan oleh kader Kadarzi.
b) Pemetaan akhir keluarga sadar gizi
- Penyampaian formulir hasil perubahan perilaku, formulir
kesimpulan hasil, dan formulir hasil kegiatan pendampingan
kepada bidan poskesdes oleh kader Kadarzi.
- Perekapan hasil pemantauan keluarga sasaran di desa bersangkutan
dan melaporkan hasilnya kepada Kepala Desa dan tim puskesmas
dilakukan oleh bidan Poskesdes.
- Perekapan hasil pemantauan keuarga sasaran oleh tenaga pelaksana
gizi.
D. Pengawasan
1. Pencatatan dan pelaporan :
- Pencatatan pada setiap bulan.
- Pelaporan pada lokakarya mini bulanan dan laporan
pertanggungjawaban di Dinas Kesehatan Karawang pada
Desember 2015.
2. Rapat :

14
- Rapat evaluasi dilakukan pada lokakarya mini bulanan puskesmas.

4.3.3 Keluaran
Jumlah kepala keluarga yang sudah Kadarzi.
Definisi : Keluarga sadar gizi adalah keluarga yang mampu mengenal, mencegah, dan
mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut Kadarzi apabila
telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan :
1. Menimbang berat badan secara teratur.
2. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai
umur 6 bulan (ASI eksklusif).
3. Makan beraneka ragam.
4. Menggunakan garam beryodium.
5. Minum suplemen gizi (TTD, kapsul vitamin A dosis tinggi) sesuai
anjuran.

Cara perhitungan :

Jumlah sasaran keluarga dalam 1 tahun = 300 Kepala Keluarga

Cakupan keluarga sadar gizi pada Persiapan Kadarzi = 154 / 300 x 100% = 51,33%
Cakupan keluarga sadar gizi pada Pelaksanaan Kadarzi = 205 / 300 x 100% = 68,33%

Tabel 4.1 Cakupan Persiapan Keluarga Sadar Gizi


Baik Belum Baik
No Indikator Kadarzi
N % N %

15
1 Menimbang BB secara teratur 253 84,33 47 15,67
2 Memberi ASI ekslusif 142 47,33 158 52,67
3 Makan Beraneka Ragam 297 99 3 1
4 Menggunakan Garam Yodium 229 76,33 71 23,67
5 Menggunakan Suplementasi 300 100 0 0
Gizi

N %
Jumlah Sudah Kadarzi 154 51,33
Jumlah Belum Kadarzi 146 48,67
Jumlah 300 100

Tabel 4.2 Cakupan Pelaksanaan Keluarga Sadar Gizi


Baik Belum Baik
No Indikator Kadarzi
N % N %
1 Menimbang BB secara teratur 275 91,67 25 8,33
2 Memberi ASI ekslusif 142 47,33 158 52,67
3 Makan Beraneka Ragam 300 100 0 0
4 Menggunakan Garam Yodium 279 93 21 7
5 Menggunakan Suplementasi 300 100 0 0
Gizi

N %
Jumlah Sudah Kadarzi 205 68,33
Jumlah Belum Kadarzi 95 31,67
Jumlah 300 100

Cakupan hasil pada program pelaksanaan keluarga sadar gizi didapatkan 68,33%, dimana
ada peningkatan persentase sebesar 17% dari persiapan keluarga sadar gizi yaitu 51,33%.

4.3.4 Lingkungan
1. Lingkungan Fisik

16
 Tersedianya alat transportasi yaitu kendaraan umum yang relatif murah
seperti becak, angkot dan sebagainya.
 Lokasi Puskesmas masih terlalu jauh dengan beberapa desa di
Kecamatan Tirtajaya.
 Puskesmas Pembantu di beberapa desa masih belum dimanfaatkan
dengan maksimal.
 Lokasi Posyandu mudah dijangkau.
 Terdapatnya fasilitas kesehatan yang lain, seperti klinik dokter dan
bidan desa.
2. Lingkungan Non Fisik
 Pendidikan : Mayoritas penduduk relatif rendah, hampir 64,30% adalah
lulusan SD/SLTP.
 Sosial-ekonomi : Sebagian besar penduduk di kecamatan Tirtajaya
bermatapencaharian sebagai Petani (39,81%) dan buruh (24,24%).
4.3.5 Umpan Balik
a. Adanya pencatatan yang dilakukan pada bulan Agustus 2015 dan Oktober 2015.
b. Adanya pelaporan pada rapat evaluasi di bulan Oktober 2015.
c. Laporan pertanggungjawaban di Dinas Kesehatan pada Desember 2015.
4.3.6 Dampak
1. Langsung :
 Meningkatkan presentase penimbangan BB secara teratur.
 Meningkatkan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam.
 Meningkatkan penggunaan garam yang beryodium.
 Meningkatkan status gizi keluarga.
2. Tidak langsung :
 Menurunkan angka kejadian gizi buruk.
 Menurunkan angka kejadian Kekurangan Energi Protein pada wanita.
 Menurunkan angka kejadian GAKY.
 Menurunkan angka penderita anemia defisiensi besi.
 Menurunkan angka kematian ibu dan anak.
 Menurunkan angka BBLR.

17
Bab V
Pembahasan
5.1 Masalah Menurut Variabel Keluaran
No Variabel Tolok Ukur Pencapaian Besar Masalah
Persiapan Pendampingan
1 100% 51,33% 48,67%
Keluarga Sadar Gizi
Pelaksanaan Keluarga Sadar
2 100% 68,33% 31,67%
Gizi

5.2 Penyebab Masalah Menurut Variabel Masukan


No Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah
1 Leaflet Ada Tidak Ada (+)
2 Lembar Balik Ada Tidak Ada (+)
3 Poster Ada Tidak Ada (+)
4 Yodium Test Ada Ada (-)
Data informasi masalah gizi
5 Ada Tidak Ada (+)
balita dan ibu
Data rencana kunjungan
6 Ada Tidak Ada (+)
rumah dan nasihat gizi

5.3 Masalah Menurut Variabel Proses

No Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah


Dilakukan kegiatan
bina suasana berupa
Pengembangan kegiatan
tes yodium namun (+)
bina suasana.
tidak dilakukannya
penyuluhan Kadarzi.
Tidak adanya
Promosi kesehatan pamflet yang
Membagikan pamflet
1 tentang keluarga sadar dibagikan kepada ibu
kepada ibu hamil, ibu
gizi hamil, ibu nifas, dan
nifas, dan ibu yang (+)
ibu yang memiliki
memiliki bayi dan atau
bayi dan atau balita.
balita.
Tidak adanya media
alat bantu.
Kegiatan gerakan Adanya kegiatan
(-)
pemberdayaan masyarakat. pemberdayaan

18
masyarakat seperti
pelatihan kader
Kadarzi .

Mendapatkan data
Mendapatkan data sasaran sasaran di masing-
di masing-masing wilayah masing wilayah kerja
(-)
kerja bidan desa dibantu bidan desa dibantu
oleh tenaga pelaksana gizi. oleh tenaga
pelaksana gizi.
Pertemuan dengan Menetapkan jumlah
2 Menetapkan jumlah kader
bidan desa kader pendamping
pendamping yaitu 1 kader (-)
yaitu 1 kader untuk 1
untuk 1 RW.
RW.
Pemilihan kader
Pemilihan kader Kadarzi
Kadarzi yaitu dengan
yaitu dengan memilih (-)
memilih kader dari
kader dari posyandu.
posyandu.
Dilakukannya
Penyegaran kader Kadarzi
Pelatihan Kader penyegaran kader
3 dilakukan oleh tenaga (-)
Pendamping oleh tenaga
pelaksana gizi.
pelaksana gizi.
Mendata anggota
Mendata anggota keluarga
keluarga dari 10 KK
dari 10 KK terpilih pada (-)
terpilih pada masing-
Pemetaan awal masing-masing cluster.
masing cluster.
4 keluarga mandiri sadar
Menilai perilaku
gizi. Menilai perilaku Kadarzi di
Kadarzi di keluarga
keluarga berdasarkan lima (-)
berdasarkan lima
indikator kadarzi.
indikator kadarzi.
Membuat jadwal Tidak adanya jadwal
kunjungan rumah keluarga kunjungan rumah (+)
sasaran. keluarga sasaran.
Melakukan kunjungan Melakukan
rumah secara kunjungan rumah (-)
berkelanjutan. secara berkelanjutan.
Mengidentifikasi dan Tidak adanya data
mencatat masalah gizi yang tentang identifikasi
(+)
Pendampingan terjadi di keluarga sasaran dan pencatatan
5
keluarga sasaran serta memberi nasihat gizi. masalah gizi.
Mencatat perubahan Mencatat perubahan
(-)
perilaku Kadarzi. perilaku Kadarzi.
Merekap hasil
Merekap hasil perubahan
perubahan perilaku
perilaku dari seluruh (-)
dari seluruh keluarga
keluarga yang didampingi.
yang didampingi
Dilakukan oleh kader Dilakukan oleh kader
(-)
Kadarzi. Kadarzi.
Pemetaan Akhir Penyampaian formulir Penyampaian
6 (-)
Keluarga Sadar Gizi hasil perubahan perilaku, formulir hasil

19
kesimpulan hasil, dan perubahan perilaku,
formulir hasil kegiatan kesimpulan hasil,
pendampingan kepada dan formulir hasil
bidan desa oleh Kader. kegiatan
pendampingan
kepada bidan desa
oleh Kader.
Perekapan hasil
Perekapan hasil pemantauan keluarga
pemantauan keluarga sasaran dan
sasaran dan melaporkan melaporkan hasilnya (-)
hasilnya kepada tim kepada tim
puskesmas oleh bidan desa. puskesmas oleh
bidan desa.
Perekapan hasil oleh
Perekapan hasil oleh
tenaga pelaksana (-)
tenaga pelaksana gizi.
gizi.

20
Bab VI
Perumusan Masalah
Masalah-masalah yang ditemukan dalam evaluasi program Keluarga Sadara Gizi di
Puskesmas Tirtajaya Periode Juli 2015 sampai dengan Juni 2016, sebagai berikut :

Masalah sebenarnya :
6.1 Masalah menurut keluaran
A. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%, pencapaiannya
51,33% sehingga besar masalahnya sebesar 48,67%.
B. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 68,33%, sehingga besar masalahnya sebesar 31,67%.

Penyebab masalah pada keluaran :


6.2 Masalah menurut masukan :
1. Tidak tersedianya leaflet, poster, dan lembar balik keluarga sadar gizi.
2. Tidak adanya data informasi tentang masalah gizi balita dan ibu.
3. Tidak adanya data kunjungan rumah keluarga sasaran kadarzi.
6.3 Masalah menurut proses :
Masih kurangnya persiapan keluarga sadar gizi dikarenakan :
- Masih kurangnya promosi keluarga sadar gizi karena belum adanya kegiatan
penyuluhan kepada keluarga sasaran.
- Tidak adanya leaflet yang dibagikan kepada keluarga sasaran Kadarzi. Tidak adanya
poster dan lembar balik yang bisa digunakan sebagai media untuk penyuluhan oleh
tenaga penyuluh.
- Masih kurangnya pendampingan keluarga sasaran yaitu karena banyak dari kader
Kadarzi yang belum membuat jadwal kunjungan rumah keluarga sasaran dan
pencatatan hasil identifikasi masalah gizi balita dan bayi kadarzi.
6.4 Masalah menurut lingkungan:
 Lingkungan Non Fisik: Tingkat pendidikan, pengetahuan dan tingkat ekonomi
penduduk yang mayoritas rendah.

21
Bab VII
Prioritas Masalah

7.1 Masalah Menurut Keluaran


1. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 51,33% sehingga besar masalahnya sebesar 48,67%.
2. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 68,33%, sehingga besar masalahnya sebesar 31,67%.
7.2 Prioritas Masalah
Di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, diperlukan adanya
prioritas. Di dalam evaluasi program keluarga sadar gizi, metode penentuan prioritas
masalah yang digunakan adalah metode sederhana yang merupakan gabungan dari
beberapa metode dalam penentuan prioritas masalah. Dalam evaluasi yang telah
dilakukan, didapatkan dua masalah yang sebenarnya, sehingga tidak diperlukan
penetapan prioritas masalah.

22
Bab VIII
Penyelesaian Masalah

8.1 Masalah Pertama


Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%, pencapaiannya
51,33% sehingga besar masalahnya sebesar 48,67%.

Penyebab :

- Masih kurangnya promosi keluarga sadar gizi karena belum adanya kegiatan
penyuluhan kepada keluarga sasaran.
- Tidak adanya leaflet yang dibagikan kepada keluarga sasaran Kadarzi. Tidak
adanya poster dan lembar balik yang bisa digunakan sebagai media untuk
penyuluhan oleh tenaga penyuluh.

Penyelesaian Masalah :

1. Melakukan kegiatan advokasi dengan pihak stakeholders, yaitu :


- Birokrasi : pemimpin daerah, lintas sektor, badan perencana pemda dan
aparaturnya.
- Legislatif : khususnya komisi yang menangani bidang kesejahteraan rakyat,
komisi anggaran serta komponen lain dalam DPRD.
- Organisasi / lembaga non pemerintah : pers, organisasi kemasyarakatan
(ormas), asosiasi profesi, organisasi akademik, perusahaan.
Dimana diharapkan dengan adanya kerjasama dengan pihak-pihak tersebut,
masyarakat lebih mau mendengarkan dan melaksanakan kegiatan Kadarzi.

2. Dilakukannya kegiatan kemitraan dengan fasilitas kesehatan lainnya, seperti


praktek dokter umum, praktek bidan, agar pihak-pihak lain tersebut juga bisa
membantu dalam kegiatan promosi keluarga sadar gizi.
3. Membuat dan menyediakan alat bantu promosi Kadarzi, seperti poster, leaflet,
dan lembar balik. Poster mengenai Kadarzi juga bisa ditempel di tiap-tiap
tempat umum di desanya, sehingga masyarakat bisa setiap saat melihat
informasi dan hal-hal apa saja yang penting mengenai Kadarzi.

23
8.2 Masalah Kedua
Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 68,33%, sehingga besar masalahnya sebesar 31,67%.
Penyebab :
- Masih kurangnya pendampingan keluarga sasaran yaitu karena banyak dari kader
Kadarzi yang belum membuat jadwal kunjungan rumah keluarga sasaran dan
pencatatan hasil identifikasi masalah gizi balita dan bayi kadarzi.

Penyelesaian Masalah :

1. Setiap kader kadarzi diwajibkan membuat jadwal kunjungan keluarga sasaran


agar para kader mempunyai target keluarga yang harus didampingi.
2. Setiap kader diwajibkan untuk membuat catatan hasil identifikasi masalah
gizi, sehingga bisa digunakan oleh pihak puskesmas sebagai evaluasi
selanjutnya.
3. Bidan desa ikut membantu para Kader dalam membuat jadwal kunjungan
rumah keluarga sasaran.

24
Bab IX
Penutup

9.1 Kesimpulan
Dari hasil evaluasi dengan cara pendekatan sistem, dapat diambil kesimpulan bahwa
program keluarga sadar gizi di Puskesmas Tirtajaya, periode Juli 2015 sampai dengan Juni
2016 masih belum berjalan dengan baik, mengingat masih adanya berbagai masalah yang
ditemui. Berikut merupakan hasil evaluasi secara singkat:
1. Persiapan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 51,33% sehingga besar masalahnya sebesar 48,67%.
2. Pelaksanaan pendampingan keluarga sadar gizi dengan tolok ukur 100%,
pencapaiannya 68,33%, sehingga besar masalahnya sebesar 31,67%.
Dari lima indikator Kadarzi, indikator ASI ekslusif masih belum ada peningkatan perbaikan
karena cakupan yang didapat setelah intervensi adalah 47,33%. Masalah yang dihadapi
adalah masih belum maksimalnya kegiatan penyuluhan keluarga sadar gizi pada keluarga
sasaran, media alat bantu yang tidak ada, pencatatan hasil identifikasi masalah gizi dan
jadwal kunjungan rumah yang belum maksimal dilakukan.
.
9.2 Saran kepada Puskesmas

 Dilakukannya kegiatan advokasi promosi keluarga sadar gizi pada pihak stakeholder.

 Dilakukannya kegiatan pengembangan kemitraan pada fasilitas kesehatan lain di


kecamatan Tirtajaya.
 Dilakukannya ketertiban pencatatan hasil identifikasi masalah gizi dan jadwal
kunjungan rumah agar para kader mempunyai target.
 Menyediakan alat-alat bantu untuk promosi Kadarzi kepada masyarakat, seperti
leaflet, lembar balik, dan poster sehingga kegiatan penyluhan bisa maksimal
dilakukan.

25
Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat


Bina Gizi Masyarakat. Pedoman strategi KIE keluarga sadar gizi (KADARZI).
Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2007. p 1-2.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan Indonesia 2014.
Yudianto, Budijanto D, Hardhana B, Soenardi TA, editors. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI; 2015.
3. Septianingrum D, Tauran. Implementasi keluarga sadar gizi (kadarzi) di puskesmas
gantrung kecamatan kebonsari kabupaten madiun. Jurnal ilmiah Ilmu Admiistrasi
negara UNESA. Nopember 2014; h.2-3
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset

kesehatan dasar 2013. Jakarta: Kemenkes, 2013. 


5. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Pedoman operasional keluarga sadar gizi di desa
siaga. Jakarta: Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat; 2007.
6. Fatmah. Pengetahuan dan praktek keluarga sadar gizi ibu balita. J Kesehat Masy Nas.
2010;4(4):162–72.
7. Kirana GA. Hubungan perilaku keluarga sadar gizi (KADARZI) dengan kejadian
stunting pada balita di kecamatan Wonosari kabupaten Klaten. Universitas
Muhammadiyah Surakarta; 2014.
8. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Pedoman pendampingan keluarga menuju
KADARZI. Jakarta: Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat; 2007.

26