Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

MODUL V

PEMERIKSAAN KADAR GLUTAMAT PIRUVAT TRANSAMINASE

Disusun oleh :

Runi Hoirunisa (10060313113)

Bella Rukmana (10060313115)

Hilman Maulana (10060313117)

Sanra Destiani (10060313119)

Shift / Kelompok :E/2


Asisten : Dewi Sartika.,S.Farm
Hari / Tanggal Praktikum : Rabu / 2 November 2016
Hari / Tanggal Pengumpulan : Rabu / 9 Novembar 2016

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2016/1438H
I. TUJUAN

1. Melakukan pemeriksaan glutamat piruvat transaminase yang menunjukkan

adanya penyakit yang menyerang hati

2. Menginterprestasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II. PRINSIP REAKSI

Prinsip pengukuran SGPT terdiri dari serangkaian reaksi enzimatis. Adapun

prinsip reaksinya dengan menggunakan laktat dehydrogenase sebagai enzim

indikator. ALT (alanin aminotransferase) mengkatalisis pemindahan gugus amino

dari alanine kepada ketoglutarat untuk membentuk piruvat dan glutamat. Kemudian

dengan adanya NADH dan laktat dehydrogenase maka piruvat akan direduksi

menjadi laktat dan NAD. Reaksi diamati dengan mengikuti penurunan absorbansi

atau penurunan konsentrasi NADH pada panjang gelombang 340 nm. Penurunan

absorbansi ini proporsional dengan aktivitas katalitik GPT.

III. TEORI DASAR

1. Hati

Hati adalah organ terbesar di dalam tubuh yang terletak disebelah kanan atas rongga

perut, tepat dibawah diafragma (sekat yang membatasi daerah dada dan perut).

Bentuk hati seperti prisma segitiga dengan sudut siku-sikunya membulat, beratnya

sekitar 1,25-1,5 kg dengan berat jenis 1,05. Ukuran hati pada wanita lebih kecil

dibandingkan pria dan semakin kecil pada orang tua, tetapi tidak berarti fungsinya

berkurang. Hati mempunyai kapasitas cadangan yang besar dan kemampuan untuk
regenerasi yang besar pula. Jaringan hati dapat diambil sampai tiga perempat bagian

dan sisanya akan tumbuh kembali sampai ke ukuran dan bentuk yang normal. Jika

hati yang rusak hanya sebagian kecil, belum menimbulkan gangguan yang berarti

Kapiler empedu dan kapiler darah di dalam hati saling terpisah oleh deretan sel-sel

hati sehingga darah dan empedu tidak pernah tercampur. Namun, jika hati terkena

infeksi virus seperti hepatitis, sel-sel hati bisa pecah dan akibatnya darah dan empedu

bercampur (Wijayakusuma, 2008).Hati berfungsi sebagai faktor biokimia utama

dalam tubuh, tempat metabolisme kebanyakan zat antara. Fungsi hati normal harus

dikonfirmasi sebelum operasi terencana (Sabiston, 1992).

2. Fungsi hati

Seperti ukurannya yang besar, hati juga mempunyai peranan besar dan memiliki lebih

dari 500 fungsi. Berikut ini fungsi-fungsi utama hati :

1. Menampungdarah

2. Membersihkan darah untuk melawan infeksi

3. Memproduksi dan mengekskresikan empedu

4. Membantu menjaga keseimbangan glukosa darah (metabolisme karbohidrat)

5. Membantu metabolisme lemak

6. Membantu metabolisme protein


7. Metabolisme vitamin dan mineral

8. Menetralisir zat-zat beracun dalam tubuh (detoksifikasi)

9. Mempertahankan suhu tubuh (Wijayakusuma, 2008).

Enzim-enzim yang mengatalisis pemindahan reversible satu gugus amino

antara suatu asam amino dan suatu asam alfa-keto disebut aminotransferase, atau

transaminase oleh tata nama lama yang masih populer. Dua aminotransferase yang

paling sering diukur adalah alanine aminotransferase(ALT), yang dahulu disebut

“glutamate-piruvat transaminase” (GPT), dan aspartate aminotransferase (AST),

yang dahulu disebut “glutamate-oxaloacetate transaminase” (GOT). Baik ALT

maupun AST memerlukan piridoksal fosfat (Vitamin B6) sebagai kofaktor. Zat ini

sering ditambahkan ke reagen pemeriksaan untuk meningkatkan pengukuran enzim-

enzim ini seandainya terjadi defisiensi vitamin b6 (missal, hemodialysis, malnutrisi

Aminotransferase tersebar luas di tubuh, tetapi terutama banyak dijumpai di

hati, karena peran penting organ ini dalam sintesis protein dan dalam menyalurkan

asam-asam amino ke jalur-jalur biokimiawi lai. Hepatosit pada dasarnyaa adalah satu-

satunya sel dengan konsentrasi ALT yang tinggi, sedangkan ginjal, jantung, dan otot

rangka mengandung kadar sedang. ALT dalam jumlah yang lebih sedikit dijumpai di

pancreas, paru, lima, dan eritrosit. Dengan demikian, ALT serum memiliki spesifitas

yang relative tinggi untuk kerusakan hati. Sejumlah besar AST terdapat di hati,

miokardium, dan otot rangka; eritrosit juga memiliki AST dalam jumlah sedang.
Hepatosit mengandung AST tiga sampai empat kali lebih banyak daripada ALT

Aminotransferase merupakan indikator yang baik untuk kerusakan hati apabila

keduanya meningkat. Cedera akut pada hati, seperti karena hepatitis, dapat

menyebabkan peningkatan baik AST maupun ALT menjadi ribuan IU/Liter.

Pngukuran aminotransferase setiap minggu mungkin sangat bermanfaat untuk

memantau perkembangan dan pemulihan hepatitis atau cedera hati lain (Saucher dan

McPherson, 2002

3. Enzim yang berperan

SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, sebuah

enzim yang secara normal berada disel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan

kedalam darah ketika hati rusak. Level SDOT darah kemudian dihubungkan dengan

kerusakan sel hati, seperti serangan virus hepatitis. SGOT juga disebut aspartate

aminotransferase (AST). (Poedjiadi, 1994).

Aspartate transaminase (AST) atau serum glutamic oxaloacetic transaminase

(SGOT) adalah enzim yang biasanya terdapat dalam jaringan tubuh, terutama dalam

jantung dan hati; enzim itu dilepaskan ke dalam serum sebagai akibat dari cedera

jaringan, oleh karena itu konsentrasi dalam serum (SGOT) dapat meningkat pada

penyakit infark miokard atau kerusakan aku pada sel-sel hati. SGPT adalah singkatan

dari Serum Glutamik Piruvat Transaminase , SGPT atau juga dinamakan ALT

(Alanin Aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati
serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoselular. Enzim ini dalam jumlah

yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai

tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut,

sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. ALT/SGPT suatu enzim yang

ditemukan terutama pada sel-sel hepar, efektif dalam mendiagnosa kerusakan

hepatoseluler. Kadar ALT serum dapat lebih tinggi sebelum ikretik terjadi. Pada

ikretik dan ALT serum>300 unit, penyebab yang paling mungkin karena gangguan

hepar dan tidak gangguan hemolitik (roland et all, 2004)

4. Nilai rujukan data klinis

1. SGOT

Dewasa : 5-40 U/mL(Frankel), 4-36 IU/L, 16-60 U/mL pada 30o C (Karmen), 8-33

U/L pada 37oC (unit SI), pada wanita nilainya agak sedikit lebih rendah dari pria.

olahraga mempengaruhi peningkatan kadar serum. Anak : Bayi baru lahir : Empat

kali dari nilai normal.

Lansia : Sedikit lebih tinggi dari orang dewasa

2. SGPT

Dewasa : 5-35 U/mL (Frankel), 5-25 mU/mL (Wrobleweski). 8-50 U/mL pada suhu

30 0C (Karmen), 4-35 U/L pada suhu 370S (unit S1). Anak : bayi : dapat dua kali

tinggi orang dewasa; Anak: sama dengan dewasa.


Lansia : agak lebih tinggi dari dewasa (Joyce, 1997)

5. Masalah klinis SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase):

Peningkatan Kadar : Peningkatan paling tinggi : Hepatitis (virus) akut, hepatoksisitas

yang menyebabkan nekrosis hepar (toksisitas obat atau kimia); agak atau meningkat

sedang : sirosis, kanker hepar, gagal jantung kongesif, intoksisitas alkohol akut;

peningkatan marginal : infrak miokard akut (IMA). Antibiotik, narkotik, metildopa

(Aldomet), guanetidin, sediaan digitalis, indometasin (Indocin), salisilat, rifampisin,

flurazepam (Dalamane), propanolol (Inderal), kontrasepsi oral, timah, heparin

(Joyce, 1997)

6. Obat-obat dan makanan yang berpengaruh

Obat yang berpengaruh : Antibiotik, narkotik, vitamin (asam folat, piridoksin,

vitamin A), antihipertensi (metil dopa [Aldomet], guanetidin), teofilin, golongan

digitalis, kostison, flurazepam (Dalmane), indometasin (Indocin), isoniazid (INH),

rifampisin, kontrasepsi oral, salisilat, injeksi intramuskular (IM).

Makanan yang berpengaruh : Penyebab yang paling umum dari kenaikan-kenaikan

yang ringan sampai sedang dari enzim-enzim hati ini (SGOT dan SGPT) adalah fatty

liver (hati berlemak), penyalahgunaan alcohol dan penyebab-penyebab lain dari fatty

liver termasuk diabetes mellitus dan kegemukan (obesity)(Sutedjo, A.Y. 2006)


7. Metode pengujian SGPT

– Metode : Kinetik – IFCC (tanpa pyridoxal-5-phosphate)

– Prinsip

Alanine aminotransferase ( ALT ) mengkatalis transiminasi dari L – alanine dan a –

kataglutarate membentuk l – glutamate dan pyruvate, pyruvate yang terbentuk di

reduksi menjadi laktat oleh enzym laktat dehidrogenase ( LDH ) dan nicotinamide

adenine dinucleotide ( NADH ) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya NADH yang

teroksidasi hasil penurunan serapan ( absobance ) berbanding langsung dengan

aktivitas ALT dan diukur secara fotometrik dengan panjang gelombang 340 nm.

(Gunawan. 2012)

8. Patofisiologi

SGPT (Serum Glutamik Piruvat Transaminase ) merupakan enzim

transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam jaringan tubuh terutama hati.

Sering disebut juga ALT (Alanin Aminotransferase). Peningkatan dalam serum darah

mengindikasikan adanya trauma atau kerusakan pada hati (Sutedjo, 2006).Kadar

ALT/SGPT seringkali dibandingkan dengan AST/SGOT untuk tujuan diagnostik.

ALT meningkat lebih khas daripada AST pada kasus nekrosis hati dan hepatitis akut,

sedangkan AST meningkat lebih khas pada nekrosis miokardium (infark miokardium

akut), sirosis, kanker hati, hepatitis kronis dan kongesti hati SGOT banyak terdapat

dalam mitokondria dan dalam sitoplasma, sedangkan SGPT hanya terdapat dalam
sitoplasma. Oleh karena itu, untuk proses lebih lanjut, terjadi kerusakan membran

mitokondria yang akan lebih banyak mengeluarkan SGOT atau AST, sedangkan

untuk proses akut SGPR atau ALT lebih dominan dibanding SGOT atau AST

Berdasarkan interpretasi, semua sel prinsipnya mengandung enzim ini.

Namun, enzim transaminase mayoritas terdapat dalam sel hati, jantung, dan otak.

Pada keadaan adanya nekrosis sel yang hebat, perubahan permeabilitas membran atau

kapiler, enzim ini akan bocor ke sirkulasi. Sebab ini, enzim ini akan meningkat

jumlahnya pada keadaan nekrosis sel atau proses radang akut atau kronis (Price, A.S.

dan Wilson, M.L.,1995: ).

Tes faal hati yang terjadi pada infeksi bakterial maupun virus yang sistemik

yang bukan virus hepatitis. Penderita semacam ini, biasanya ditandai dengan demam

tinggi, myalgia, nausea, asthenia dan sebagainya. Disini faal hati terlihat akan

terjadinya peningkatan SGOT, SGPT serta ∂-GT antara 3-5X nilai normal. Albumin

dapat sedikit menurun bila infeksi sudah terjadi lama dan bilirubin dapat meningkat

sedikit terutama bila infeksi cukup berat . Tes faal hati pada hepatitis virus akut

maupun drug induce hepatitis. Faal hati seperti Bilirubin direct/indirect dapat

meningkat biasanya kurang dari 10 mg%, kecuali pada hepatitis kolestatik, bilirubin

dapat lebih dari 10 mg%. SGOT, SGPT meningkat lebih dari 5 sampai 20 kali nilai

normal. ∂-GT dan alkalifosfatase meningkat 2 sampai 4 kali nilai normal, kecuali

pada hepatitis kolestatik dapat lebih tinggi. Albumin/globulin biasanya masih normal
kecuali bila terjadi hepatitis fulminan maka rasio albumin globulin dapat terbalik dan

masa protrombin dapat memanjang (Suwandhi, 2011).

Tingkat- tingkat yang tepat dari enzim-enzim ini tidak berkorelasi baik

dengan luasnya kerusakan hati atau prognosis. Jadi, tingkat-tingkat AST (SGOT) dan

ALT (SGPT) yang tepat tidak dapat digunakan untuk menentukan derajat kerusakan

hati atau meramalkan masa depan. Contohnya, pasien-pasien dengan virus hepatitis A

akut mungkin mengembangkan tingkat-tingat AST dan ALT yang sangat tinggi

(adakalanya dalam batasan ribuan unit/liter). Namun kebnyakan pasien-pasien dengan

virus hepatitis A akut sembuh sepenuhnya tanpa sisa penyakit hati. Untuk suatu

contoh yang berlawanan, pasien- pasien dengan infeksi hepatitis C kronis secara khas

mempunyai hanya suatu peningkatan yang kecil dari tingkat- tingkat AST dan ALT

mereka. Beberapa dari pasien- pasien ini mungkin mempunyai penyakit hati kronis

yang berkembang secara diam- diam seperti hepatitis kronis dan sirosis (Gunawan,

2011)

 Reaksi SGPT

SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase)

L-alanin + 2-oksoglutarat ASAT L-glutamat +

piruvat

Piruvat + NADH + H+ MDH D-laktat +NAD+


Dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 340 nm..

 Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan SGPT dan SGOT

Sekali lagi bukan hanya SGOT-SGPT ini yang akan menentukan seseorang

sedang mengalami gangguan fungsi hati. Namun angka SGOT SGPT ini cukup

menjadi alasan seseorang atau dokter harus mulai waspada dengan kondisi hatinya.

Dan inilah penyakit atau gangguan kesehatan yang mungkin menjadi sebab kenaikan

kadar SGOT-SGPT seseorang :

1. Hepatitis

Orang yang terserang hepatiis baik itu jenis A, B, Ataupun C akan mengalami

peradangan di dalam organ hatinya. Sel-sel dalam hatinya bisa saja mengalami

kematian. Hal ini lah yang mengakibatkan terjadinya kenaikan SGOT-SGPT, Pada

serangan hepatitis akut atau penderita baru, kenaikannya bisa mencapai 5-10 kali nilai

normal. Hal ini akan di barengi dengan peningkatan angka billirubin, penurunan

albumin dan bebrapa parameter kerusakan hati yang lain. Pada kasus kronis atau

menahun, nilai SGOT-SGPT bisa saja normal.

2. Fatty liver ( perlemakan hati )

Tes fungsi hati pada perlemakan hati Biasanya SGOT dan SGPT meningkat sekitar 2

sampai 3 kali nilai normal sedang Albumin/globulin dan Bilirubin biasanya masih

normal. Kadar enzim yang di produksi hati lainnya seperti triglyserida dan LDL
(kolesterol) juga terlihat meninggi. Kelainan ini sering terjadi pada orang dengan usia

muda/pertengahan berbadan gemuk. Biasanya penderita mengalami perasaan tak

nyaman pada perut bagian kanan atas atau bisa saja tidak menimbulkan keluhan sama

sekali.

3. Sumbatan empedu

Tes fungsi hati pada sumbatan saluran empedu akan mendapati Peningkatan SGOT

dan SGPT biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar kurang dari 4 kali nilai normal. Yah,

tak bisa dipungkiri bahwa empedu merupakan organ diluar hati yang juga

berpengaruh bagi hati, jika empedu terganggu otomatis kerja fungsi hati pun begitu.

Kadar Bilirubin akan tinggi sekali, utamanya jika sumbatan pada empedu sudah

cukup lama. Ini mengakibatkan pasien mengalami kulit dan mata kekuningan atau

ikterus.

4. Penyakit non liver

Bebapa penyakit yang tidak ada hubungannya dengan organ hati pun bisa

mengakibatkan kadar SGOT-SGPT meninggi. Ini sekali lagi bisa di fahami karena

enzim ini bukan hanya di produksi di dalam hati. Penyakit seperti penyakit

thyroid/kelenjar gondok, Penyakit auto immune (AIH), Wilson disease, Celiac

disease, Muscle disorders. Bahkan penyakit seperti tipus dan DHF (demam berdarah)

pun juga bisa mengakibatkan kadar SGOT-SGPT seseorang menjadi tinggi.(Suharjo,

BJ. 2009)
 Spektrofotometri Uv-Vis

Spektrofotometri UV-Vis adalah pengukuran panjang gelombang dan

intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar

ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan

elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektrum UV-Vis

mempunyai bentuk yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa

didapatkan dari spektrum ini. Tetapi spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran

secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan

mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan

hukum Lambert-Beer. Sinar Ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara

200-400 nm, sementara sinar tampak mempunyai panjang gelombang 400-800 nm

(Dachriyanus, 2004).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri

ultraviolet yaitu:

1. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum. Panjang gelombang yang

digunakn untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang dimana

terjadi absorbansi maksimum. Untuk memperoleh panjang gelombang

serapan maksimum dapat diperoleh dengan membuat kurva hubungan antara

absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku dengan

konsentrasi tertentu.

2. Pembuatan kurva kalibrasi


Dilakukan dengan membuat seri larutan baku dalam berbagai konsentrasi

kemudian asorbansi tiap konsentrasi di ukur lalu dibuat kurva yang

merupakan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi. Kurva kalibrasi

yang lurus menandakan bahwa hukum Lambert- Beer terpenuhi.

3. Pembacaan absorbansi sampel

Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2

sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.

(Rohman, 2007).
IV. PROSEDUR

Ditambahkan pelarut kedalam botol substrat sesuai dengan


kemasan masing-masing. Dicampur dengan baik. (stabil
selama 30 hari pada suhu 2o-8oC)

Disiapkan dua tabung

Blangko Uji

Ditambahkan Ditambahkan
Aquadest Serum
sebanyak 10 sebanyak 100
µL dan larutan µL dan larutan
kerja sebanyak kerja sebanyak
1,0 mL 1,0 mL

Divortex selama 10 detik

Diinkubasi selama 50 detik

Dicampurkan dengan baik. Setalah satu menit diukur kenaikan absorban


pada λ 340 nm setiap menit selama tiga menit dan dihitung rata-rata
permenit.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

DATA PENGAMATAN

Tabung blangko : Aquadest 10 µl + Reagen 1ml => Tidak Berwarna

Tabung uji : Serum 100µl (Kuning Transparant) + Reagen 1 mL

(Tidak Berwarna) => Didiamkan 10 detik tidak

berwarna.

Diukur absrobansinya pada panjang gelombang λ 340 nm diperoleh :

A uji 1 = 0.244 A

A uji 2 = 0.245 A

A uji 3 = 0.260 A

F = 1746 , F konversi = 0.69

PERHITUNGAN

Δ1 = Δ2- Δ3

= 0.245-0.244

= 0.001

Δ2 = Δ3- Δ2

= 0.260-0.245

= 0.015

Δ1 = Δ1 x F x F konversi

= 0.001 x 1746 x 0.69

= 1.204
Δ2 = Δ2 x F x F konversi

= 0.015 x 1746 x 0.69

= 18.07

Δ1+ Δ2
Rata-rata = 2

1.204+18.07
=
2

= 9.6379 IU/L

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian pemeriksaan Glutamat Piruvate

Transaminase (GPT). Praktikum ini bertujuan untuk memeriksa fungsi hati dan

menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Berbagai penyakit dan infeksi

dapat menyebabkan kerusakan akut maupun kronis pada hati, menyebabkan

peradangan, luka, sumbatan saluran empedu, kelainan pembekuan darah, dan

disfungsi hati. Jika besarnya kerusakan cukup bermakna, maka akan menimbulkan

gejala-gejala seperti urine gelap, tinja berwarna keabuan terang, mual, kelelahan,

diare, dan berat badan yang bisa berkurang atau bertambah secara tiba-tiba. Deteksi

dini penting dengan diagnosis lebih awal guna meminimalisir kerusakan dan

menyelamatkan fungsi hati.

Salah satu cara untuk mendeteksi adanya kerusakan hati adalah dengan

memeriksa aktivitas enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) atau Alanin


Aminotransferase (ALT) dalam serum. Enzim Transaminase atau disebut juga enzim

aminotransferase adalah enzim yang mengkatalisis reaksi transaminasi. Terdapat dua

jenis enzim serum transaminase yaitu serum glutamat oksaloasetat transaminase dan

serum glutamat piruvat transaminase (SGPT). Pemeriksaan SGPT adalah indikator

yang lebih sensitif terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. Hal ini dikarenakan

enzim GPT sumber utamanya di hati, sedangkan enzim GOT banyak terdapat pada

jaringan terutama jantung, otot rangka, ginjal dan otak (Cahyono 2009).

Enzim aspartat aminotransferase (AST) disebut juga serum glutamat

oksaloasetat transaminase (SGOT) merupakan enzim mitokondria yang berfungsi

mengkatalisis pemindahan bolak-balik gugus amino dari asam aspartat ke asam α-

oksaloasetat membentuk asam glutamat dan oksaloasetat (Price & Wilson,1995).

Enzim GOT dan GPT mencerminkan keutuhan atau intergrasi sel-sel hati. Adanya

peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan tingkat kerusakan sel-sel hati.

Makin tinggi peningkatan kadar enzim GPT dan GOT, semakin tinggi tingkat

kerusakan sel-sel hati (Cahyono 2009). Kerusakan membran sel menyebabkan enzim

Glutamat Oksaloasetat Transaminase (GOT) keluar dari sitoplasma sel yang rusak,

dan jumlahnya meningkat di dalam darah. Sehingga dapat dijadikan indikator

kerusakan hati (Ronald et al. 2004). Kadar enzim AST (GOT) akan meningkat

apabila terjadi kerusakan sel yang akut seperti nekrosis hepatoseluler seperti

gangguan fungsi hati dan saluran empedu, penyakit jantung dan pembuluh darah,

serta gangguan fungsi ginjal dan pankreas (Price & Wilson,1995). GOT banyak
terdapat pada mitokondria dan sitoplasma sel hati, otot jantung, otot lurik dan ginjal

(Sardini, S. 2007). Pengukuran kadar SGPT dilakukan dengan metode enzimatik

dengan prinsip laktat dehydrogenase sebagai enzim indikator. ALT (alanin

aminotransferase) mengkatalisis pemindahan gugus amino dari alanine kepada

ketoglutarat untuk membentuk piruvat dan glutamat. Kemudian dengan adanya

NADH dan laktat dehydrogenase maka piruvat akan direduksi menjadi laktat dan

NAD. Reaksi diamati dengan mengikuti penurunan absorbansi atau penurunan

konsentrasi NADH pada panjang gelombang 340 nm. Penurunan absorbansi ini

proporsional dengan aktivitas katalitik GPT

Tahap pertama dalam melakukan pemeriksaan Glutamat Piruvat Transmirase

(GPT) adalah memipet sampel serum sebanyak 0,10 mL dan larutan preaksi sebanyak

1 mL kedalam tabung uji dan memipet larutan reaksi sebanyak 1 mL dan aquadest

sebanyak 0,01 mL kedalam tabung blanko, menggunakan mikropipet dengan skala

yang sudah diatur sebelumnya. Pemipetan menggunakan mikropipet bertujuan supaya

diperoleh volume yang lebih akurat karena akurasi mikropipete ini sangat tinggi. Tip

yang digunakan pun harus diperhatikan kebersihannya untuk meminimalisir

kontaminasi yang mempengaruhi absorbansi sampel. Serum digunakan untuk

pengujian kadar SGPT karena ketika hati mengalami gangguan maka hati akan

mengalami permeabilitas dan menyebabkan enzim –enzim hati lepas kemudian

masuk didalam darah. Sehingga untuk pengujian digunakan serum karena SGPT

terdapat didalam darah. Serum digunakan pada pengujian di karenakan sebagian


besar pemeriksaan darah membantu memantau fungsi organ. Karena darah membawa

sekian banyak bahan yang penting untuk fungsi tubuh, pemeriksaan darah bisa

digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh. Selain itu, pemeriksaan

darah relatif mudah dilakukan.

Reagen kerja yang digunakan berisi L-alanin, 2-oksoglutarat, NADH. Reaksi

yang terjadi :

ALT
L-alanin + 2-oksoglutarat piruvat + L-glutamat
LDH
Piruvat + NADH L-laktat + NAD +

2-oxoglutarat akan bereaksi dengan L-Alanin membentuk L-glutamat dan piruvat

dengan dikatalisis oleh enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT). Enzim

Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) ini akan mengkatalisis pemindahan gugus

amino pada L-Alanin ke gugus keto dari alfa-ketoglutarat membentuk glutamat dan

piruvat. Selanjutnya piruvat direduksi menjadi laktat. Reaksi tersebut dikatalisis oleh

Laktat Dehidrogenase (LDH) yang membutuhkan NADH dan H+. NADH akan

mengalami oksidasi menjadi NAD+. Banyaknya NADH yang dioksidasi menjadi

NAD+ sebanding dengan banyaknya enzim GPT.

Kedua tabung dicampur selama 10 detik (dilakukan pengocokan

menggunakan vortex) dan diinkubasi selama 50 detik dalam suhu ruang. Tujuan

dilakukan vortex agar larutan tercampur sempurna (homogen). Inkubasi ini dilakukan

agar serum dan reagen bereaksi.


Setelah diinkubasi larutan dalam tabung uji dan tabung blangko dimasukan

kedalam kuvet yang berbeda untuk mengukur penurunan absorbansi pada panjang

gelombang 340 nm setiap satu menit selama tiga menit. Pengukuran blanko berfungsi

agar spektrofotometer UV/Vis mengenal matriks selain sampel sebagai pen GPTor.

Kemudian setting blank sehingga ketika pengukuran hanya sampel yang diukur

absorbansinya. Setelah itu, kuvet yang berisi uji dimasukkan ke tempat kuvet dan

dilihat absorbansinya pada layar readout. Kuvet diambil dan diukur lagi setelah

interval waktu 1 menit selama 3 menit. Pemeriksaan Glutamat Piruvat Transaminase

(GPT) ini dilakukan sebanyak tiga kali untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Pengukuran kadar SGPT Dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer

UV/Vis karena mempunyai sensitivitas yang relatif tinggi, pengerjaanya mudah

sehingga pengukuran yang dilakukan cepat, dan mempunyai spesifisitas yang baik.

Pada prinsipnya, suatu molekul yang dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada

frekuensi yang sesuai akan menyerap energi dan energi molekul tersebut ditingkatkan

ke level yang lebih tinggi, sehingga terjadi peristiwa penyerapan (absorpsi) energi

oleh molekul. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu

sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, dan jumlah cahaya

yang diabsorpsi berbanding lurus dengan konsentrasinya sesuai hukum lambert-beer.

SGPT/ ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri secara

semi otomatis atau otomatis.


Pada hasil percobaan didapatkan hasil pengujian kadar glutamat piruvat

transminase dengan pemeriksaan SGPT sebesar 9,63792 pada suhu 250C dimana

kadar tersebut masuk kedalam rentang normal pada nilai rujukan SGPT.

Dengan nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :

 Laki-laki : 0-40 U/L (suhu inkubasi 370C ) dan 0-22 U/L ( suhu inkubasi

250C)

 Perempuan : 0-31 U/L (suhu inkubasi 370C) dan 0-17 U/L (suhu inkubasi

250C)

Nilai rujukan untuk SGOT / AST yaitu dewasa : 5-40 u/ml (frankel), 4-36 iu/l, 16-60

u/ml pada 30 0C (karmen), 8-33 u/l pada 370c (unit SI) untuk laki-laki : 0 – 37 U/L

dan perempuan : 0 – 31 U/L. Anak : bayi baru lahir empat kali dari nilai normal,

Lansia : sedikit lebih tinggi dari orang dewasa. (Joyce, 1997) Hal ini menunjukan

bahwa fungsi hati dalam keadaan baik , tidak ada gangguan atau fungsi hati lainnya.

VII. KESIMPULAN

1. Pengujian SGPT dilakukan dikarenakan pemeriksaan SGPT adalah indikator

yang lebih sensitif terhadap kerusakan hati. Dengan meggunakan metode

secara enzimatis dimana laktat dehidrogenase sebagai indikator enzim. dan

hasil reaksi dilakukan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer

untuk mendapatkan nilai absorbansi yang diperoleh. Hasil absorbansi yang

diperoleh berbanding lurus dengan aktivitas SGPT.


2. Dan hasil pengujian pada percobaan didapatkan kadar SGPT sebesar 9,63792

pada suhu 250C dimana kadar tersebut masuk kedalam rentang normal pada

hasil pengujian untuk seorang laki-laki. Hal ini menunjukan tidak adanya

kelainan pada fungsi hati.


DAFTAR PUSTAKA

Cahyono JBSB. 2009. Hepatitis A. Yogyakarta : Kanisius yogyakarta

Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.

Cetakan I. Padang: Andalas University Press. Hal. 39

Guyton A. C., Hall J. E., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta

EGC

Gunawan. 2012.”Tuntunan Praktikum Kimia Klinik “. Universitas Muslim Indonesia :

Makassar

Joyce LeFever Kee. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik

Dengan Implikasi Keperawatan. EGC. Jakarta.

Pearce, Evelyn., 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia: Jakarta

Poedjiadi, 1994. “Dasar-Dasar Biokimia”. UI Press : Jakarta

Price, A.S. dan Wilson, M.L., 1995, Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses

Penyakit, EGC, Jakarta.

Ronald et al. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC

Rohman, Abdul. 2007.Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sabiston. 1992. Buku Ajar Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Sardini, S. 2007. Penentuan Aktivitas Enzim GOT dan GPT dalam Serum dengan

Metode Reaksi Kinetik Enzimatik sesuai IFCC. Jakarta : Batan


Saucher, Ronald A. dan McPherson, Richard A. 2002. Tinjauan Klinis Hasil

Pemeriksaan Laboratorium Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta.

Suharjo, BJ. 2009. Hepatitis A. Yogyakarta: Kanisius

Tjay tan hoan. 2002. “Obat-Obat Penting edisi V”. Jakarta: PT.Elex Media

Komputindo

Wijayakusuma, Hembing. 2008. Tumpas Hepatitis dengan Ramuan Herbal. Pustaka

Bunda. Jakarta.

Widjaja, Suwandhi.Gangguan Faal (Fungsi) Hati Penentuan Aktivitas Enzim GOT

dan GPT dalam Serum dengan Metode Reaksi Kinetik Enzimatik sesuai IFCC.

Jakarta : BATAN.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai