Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Kornea adalah struktur kompleks yang sekaligus memiliki peran sebagai pelindung,
bertanggung jawab sekitar 3/4 dari kekuatan mata. Kornea normal bebas dari pembuluh darah,
suplai nutrisi dan produk metabolik di eksresikan terutama melaluiAqueous humor posterior dan
air mata anterior.kornea merupakan jaringan yang paling padat di dalam tubuh. Kondisi seperti
lecet dan keratopati bulosa yang ditandai dengan nyeri, fotofobia dan lakrimasi. Subepitelial dan
lapisan stroma disuplai oleh nervus trigeminus cabang pertama.Kornea berfungsi sebagai
membran pelindung dan "jendela"yang dilalui oleh berkas cahaya saat menuju retina.Sifat
tembus cahaya kornea disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskular, dan
deturgesens.Deturgesens, atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh
"pompa" bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.Penetrasi obat
melalui kornea yang utuh terjadi secara bifasik.Substansi larutlemak dapat melalui epitel utuh,
dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh.Jadi, agar dapat melalui kornea, obat
harus larutlemak sekaligus larut-air.1,2
Pada penelitian di London 2000, kejadian ulkus kornea sekitar 40,3 % per 100.000 orang
per tahun meningkat menjadi 57 % per 100.000 orang per tahun 2003. Di Amerika insiden ulkus
kornea bergantung pada penyebabnya. Insidensiulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000
penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena
trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak di ketahui penyebabnya. Walaupun
infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi baru mulai periode 1950
keratomikosis diperhatikan. Berdasarkan kepustakaan diUSA, laki-laki lebih banyak menderita
ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitujuga dengan penelitian yang dilakukan di India Utara
ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki
sehari-hari sehingga meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.3,4

Menurut Riskesdas tahun 2013, prevalensi kebutaan penduduk umur 6 tahun


keatas di Sumatera Barat yaitu 0,4% setara dengan prevalensi kebutaan nasional. Data
yang diperoleh berdasarkan penelitian sebelumnya pada tahun 2011 di RSUP Dr. M.
Djamil Padang ditemukan kasus ulkus kornea sebanyak 45 pasien, pada tahun 2012

1
sebanyak 24 pasien, dan pada tahun 2013 didapatkan 51 pasien. Pada penelitian tersebut
disimpulkan bahwa ulkus kornea lebih banyak terjadi pada laki-laki, kelompok usia 50 -
<60 tahun, dan faktor pencetusterbanyak karena trauma mata (Lubis, 2015). Data awal
yang didapatkan dari rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2014
terdapat 60 pasien ulkus kornea rawat inap. Terdapat peningkatan jumlah penderita ulkus
kornea dari tahun 2012 sampai 2014. Penulis mengembangkan penelitian sebelumnya
dengan membedakan bedasarkan jenis ulkus yaitu infeksius dan non-infeksius serta
menambahkan beberapa aspek lain yaitu berdasarkan tempat tinggal, pekerjaan, dan
lokasi mata yang terkena.5

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anatomi dan Fisiologi Kornea
(b)

(a)

Gambar 1 : (a) Anatomi kornea23(b) potongan sagittal mata6

Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefleksikan cahaya yang masuk ke
mata. Di posterior berhubungan dengan humor aquos. Suplai darah kornea adalah avaskular dan
sama sekali tidak mempunyai aliran limfe. Kornea mendapatkan nutrisi dengan cara difusi dari

3
humor aquous dan dari kapiler yang terdapat dipinggirnya. Persarafannya melalui Nervi ciliares
longi dari divisi ophthalmica nervus Trigeminus.1
Kornea merupakan medium refraksi yang sangat penting. Kemampuan refraksi terjadi
pada facies anterior kornea, di mana indeks refraksi kornea (1.38) yang besarnya berbeda dari
udara. Harus diperhatikan manfaat lapisan air mata untuk mempertahankan lingkungan normal
untuk sel-sel epitel kornea.7
Kornea (latin = seperti tanduk ) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang
tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas
beberapa lapis, yaitu :
1. Epitel
Lapisan epitel kornea tebalnya 50m berbentuk pipih berlapis tanpa tanduk, ada satu
lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Sel bersifat fat soluble substance. Pada sel basal
sering terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan
semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal
disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden. Ikatan
ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barrier. Sel basal menghasilkan
membran basal yang saling melekat erat. Bila terjadi gangguan akan menjadi erosi rekuren.
Epitel berasal dari ectoderm permukaan. Ujung saraf kornea berakhir di epitel, oleh karena
itu kelainan pada epitel akan menyebabkan gangguan sensibilitas korena dan rasa sakit dan
mengganjal. Daya regenerasi epitel juga cukup besar.8
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun
tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak
mempunyai daya regenerasi. Kerusakan pada lapisan ini akan berakhir dengan terbentuknya
jaringan parut.8
3. Stroma
Stroma merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea, mencakup sekitar 90% dari
ketebalan kornea. Bersifat water soluble substance. Terdiri atas lamel yang merupakan
susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaannya terlihat anyaman
yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen bercabang. Stroma bersifat higroskopis
yang menarik air, kadar air diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh sel

4
epitel. Terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang
sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak
di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen
dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.8

4. Membran Descement
Merupakan membran aselular yang tipis, kenyal, kuat dan bening, terletak dibawah
stroma dan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya pembuluh darah. Membran ini
sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40m.8
5. Endotel
Berasal dari mesothelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40m. endotel
melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okulden. Merupakan
lapisan kornea yang penting untuk mempertahankan kejernihan kornea, mengatur cairan
didalam stroma kornea dan tidak mempunyai daya regenerasi, sehingga endotel
mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh endotel dan
memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga
keseimbangan cairan akibat gangguan sistem pompa endotel, maka stroma akan bengkak
karena kelebihan cairan (edema kornea) dan hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi.
Dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit intraokuler dan usia
lanjut.8
B. Definisi
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea,
yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, dan
diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. 8,9

C. Epidemiologi
Di Amerika insiden ulkus kornea bergantung pada penyebabnya. Insidensi ulkus kornea
tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya
ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak
di ketahui penyebabnya. Walaupun infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879
tetapi baru mulai periode 1950 keratomikosis diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan
peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kortikosteroid topikal,

5
penggunaan obat imunosupresif dan lensa kontak. Singapura melaporkan selama 2.5 tahun dari
112 kasus ulkus kornea 22 beretiologi jamur. Mortalitas atau morbiditas tergantung dari
komplikasi dari ulkus kornea seperti parut kornea, kelainan refraksi, neovaskularisasi dan
kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu
sebanyak 71%, begitu juga dengan penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-
laki. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga
meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.10
D. Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak
ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. 11
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang,
seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea,
wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai
makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan
tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear,
sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang
tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak
licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.12

Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial
maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan
adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai
sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia,
sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang
berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. 2

Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel leukosit
dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar

6
dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan
daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan
sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya
sikatrik.11

E. Klasifikasi
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:
1. Ulkus kornea sentral

a. Ulkus kornea bakterialis


b. Ulkus kornea fungi
c. Ulkus kornea virus
d. Ulkus kornea acanthamoeba
2. Ulkus kornea perifer
a. Ulkus marginal
b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)
c. Ulkus cincin (ring ulcer) 2,12

 Ulkus Kornea Sentral


a. Ulkus Kornea Bakterialis
- Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea
(serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus
yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea,
karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia.
- Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan disertai
infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat,
akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit.
Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.
- Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus
sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam
dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang
berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-

7
kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion
yang banyak.

Gambar 3.a Ulkus Kornea Bakterialis Gambar 3.b Ulkus Kornea Pseudomonas

- Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi
ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran
karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh
dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat
ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di
temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang
terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.2,12
b. Ulkus Kornea Fungi
Pada ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur dan bakteri akan terdapat defek epitel
yang dikelilingi leukosit polimorfonuklear. Bila infeksi disebabkan virus, terlihat reaksi
hipersensitivitas disekitarnya.8

Ada beberapa stadium terjadinya ulkus kornea, yaitu :

1. Stadium Progresif
Stadium progresif termasuk perekatan dan tempat masuk dari organismenya, difusi
toksin dan enzim-enzim serta dekstruksi jaringan yang dihasilkan.Dapat terlihat
infiltrasi sel leukosit dan limfosit yang memakan bakteri atau jaringan nekrotik yang
terbentuk. Pembentukan jaringan parut terdapat epitel, jaringan kolagen baru dan
fibroblast.8,13
2. Stadium Regresif
Dekstruksi yang terjadi terhenti, multiplikasi dari bakteri terkontrol, epitel mulai
menyembuhkan ulkus dan rasa nyeri berkurang.Area nekrotik pada kornea terkelupas

8
dan member kesan bahwa ada perkembangan baru meski peradangannya berkurang.
Gejala-gejala pasien terlihat membaik.13
3. Stadium Penyembuhan / jaringan parut
Epitel sembuh dan nekrotik stroma diganti oleh skar. Tanda dan gejala pasien
menghilang.13

Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi
lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik.
Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit
disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi
kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat
rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.2,12

Gambar 3 : Keratitis jamur(fungi)2

F. Gambaran Klinis
a. Gejala Objektif
- Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
- Sekret mukopurulen
- Merasa ada benda asing dimata
- Pandangan kabur
- Mata berair
- Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
- Silau

9
- Nyeri
b. Gejala Objektif
- Injeksi siliar
- Hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya ilfiltrat
- Hipopion 14
G. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesa pasien
penting pada penyakit kornea, sering di dapatkan riwayat trauma, benda asing, abrasi,
adanya riwayat penyakit kornea sebelumnya, seperti keratitis akibat infeksi virus herpes
simplek yang sering kambuh.
Perlu di tanyakan riwayat penggunaan obat topical oleh pasien seperti kortikosteroid
yang merupakan faktor presdisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis
herpes simpleks.
Riwayat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan juga perlu di pertanyakan
karena dapat menyebabkan imunosupresi.
Pemeriksaan diagnostic lain yang dapat dilakukan adalah, tes ketajaman penglihatan, tes
refraksi, pemeriksaan slit-lamp, pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi, goresan ulkus
untuk analisa atau kultur gram, giemsa atau KOH).2,10,11
H. Diferensial Diagnosis
 Leucoma Kornea
Merupakan salah satu bentuk dari sikatrik kornea yang mengakibatkan permukaan kornea
irregular sehingga memeberikan uji plasido positif.
Leukoma timbul sebagai akhir dari keratitis dan ulkus kornea.

10
Gambar : Leucoma Kornea19
 Endoftalmitis
Merupakan peradangan berat dalam bola mata, akibat infeksi setelah trauma atau bedah
atau faktor endogen seperti sepsis. Gambaran klinis dari endoftalmitis adalah rasa sakit
yang sangat, kelopak mata merah dan bengkak, kelopak mata sukar di buka, konjungtiva
kemotik dan merah, kornea keruh, bilik mata depan keruh, yang kadang-kadang disertai
hipopion.14

Gambar : Endoftalmitis.20
 Katarak Mature
Katarak merupakan keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa. Biasanya kekeruhan mengenai
kedua mata dan perjalan progresif atau dapat mengalami perubahan dalam waktu yang
sangat lama.
Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap yang menurun secara
progresif. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa tidak transparan, sehingga pupil akan
berwarna putih atau abu-abu. Pada mata akan tampak kekeruhan lensa.14

11
Gambar : Katarak Mature.21
 Glaucoma Absolute
Merupakan stadium akhir glaucoma (sempit/terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total.
Pada glaucoma absolute kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan
ekskavasasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.14

Gambar : Glaucoma absolute.22

Tabel 1. Diferensial Diagnosis Ulkus Kornea8


Etiologi Gambaran Klinis
Leucoma Riwayat trauma Kekeruhan pada kornea
dengan batas tegas
Endoftalmitis Trauma atau infeksi sekunder Rasa sakit yang sangat,
kelopak merah dan bengkak,
kelopak sukar dibuka,
konjungtiva kemotik dan
merah, kornea keruh, bilik
mata depan keruh yang biasa
disertai hipopion.

12
Glaucoma Belum diketahui secara pasti Kornea terlihat keruh, bilik
Absolute mata dangkal, papil atrofi,
mata keras seperti batu
disertai rasa nyeri
Katarak Belum diketahui secara pasti Pupil berwarna putih atau
Mature keabu-abuan

I. Penatalaksanaan
Tatalaksana ulkus kornea tergantung dari infeksi penyebabnya dan harus diterapi sesegera
mungkin untuk mencegah luka yang lebih buruk pada kornea. Pada ulkus kornea dapat diberikan
tetes mata anti-biotik, anti-virus dan anti-jamur selama tipe ulkusnya dapat diidentifikasi. Pasien
juga harus mengecek kadar glukosa darah atau riwayat diabetes. Ulkus yang berat dapat
dilakukan transplantasi kornea.15

Ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur dapat diberikan anti jamur tablet. Jika mata
mengalami inflamasi atau pembengkakan, dapat diberikan tetes mata anti-inflamasi atau tetes
mata kortikosteroid tetapi ini membutuhkan pengawasan ketat dari dokter mata. Pemberian
analgetik dapat diresepkan jika pasien mengeluh nyeri.16

Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang
tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :

1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5


mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole.
2. Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol.
3. Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol.
4. Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotic.14,12
Untuk pembedahan dapat dilakukan operasi flap konjungtiva dan transplantasi konjungtiva.
Flap konjungtiva dapat menyebabkan mata menjadi buram bahkan kehilangan penglihatan.
Karena itu flap konjungtiva hanya digunakan pada pasien lanjut usia yang sudah kehilangan
penglihatan atau pasien tuna-netra untuk memberikan rasa nyaman dan mengurasi rasa nyeri
pada mata. Transplantasi kornea secara klinis merupakan pengobatan yang sangat dianjurkan

13
untuk ulkus kornea. Transplantasi dilakukan saat ulkus kornea tidak berespon dengan terapi
lainnya atau kornea telah perforasi.2,12

Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea
yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :

1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita


2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.12,14

Gambar 5. Slit-lamp; tipe transplantasi kornea.17

14
J. Komplikasi

Komplikasi yang paling sering timbul berupa kebutaan parsial atau komplit dalam waktu
yang sangat singkat, sikatrik kornea, prolaps iris, katarak, glaucoma sekunder.18

K. Progosis

Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat
penanganan, jenis mikroorganisme penyebabnya. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu
penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea yang bersifar avaskular. Semakin tinggi tingkat
keparahan dan lambatnya penanganan serta timbulnya komplikasi , maka prognosis mejadi lebih
buruk.

Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi kepatuhan penggunaan obat. Dalam hal
ini, apabila pasien tidak patuh dalam menggunakan antibiotic maka dapat menimbulkan
resistensi .10

15
BAB III
LAPORAN KASUS
A. Identitas
Nama : Ny B
Umur : 58 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Turatea kel. Tanjung bunga des. Suggumanai
No. Reg : 62 42 58
Agama : Islam
Tanggal pemeriksaan : 09 Februari 2018
Pekerjaan : Petani
Suku / Bangsa : Makassar
Tempat pemeriksaan : R.s pelamonia
Dokter pemeriksa : dr. Andi Akhmad Faisal, Sp.M, M.kes

B. Anamnesis
Keluhan Utama : Sakit pada mata kanan, disertai penglihatan berkurang.
Riwayat penyakit sekarang :
Seorang perempuan umur 58 tahun datang ke poli R.s Pelamonia dengan keluhan sakit pada
mata kanan, disertai penglihatan berkurang, keluhan dirasakan sejak kurang lebih 3 minggu
yang lalu. Keluhan dirasakan setelah mata kanan pasien terkena daun jagung pada saat pasien
di kebun. Pasien juga mengeluh silau jika melihat cahaya dan juga sering mengeluarkan air
mata. Pasien tidak pernah menggosok bola mata sejak mengeluh masalah matanya.
Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat penyakit diabetes mellitus di sangkal.
 Riwayat hipertensi di sangkal.
 Riwayat keluarga dengan sakit yang sama di sangkal.
Riwayat Pengobatan :

Disangkal

16
C. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : tampak baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda vital :
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernapasan : 22x/menit
D. Pemeriksaan Oftalmologi

OD OS

Palpebra Edema (+) Edema (-)

Silia Secret (+), minimal Secret (-)

Apparatus
Lakrimasi (+) Lakrimasi (-)
Lakrimalis

Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Bola Mata Normal Normal

Mekanisme
Muskular

Normal kesegala arah Normal kesegala arah


Nyeri pada pergerakan Nyeri pada pergerakan

17
(-) (-)

kesan normal
Kornea Kesan keruh
jernih

Bilik Mata Depan Normal Normal

Iris Coklat, Kripte (+) Coklat, Kripte (+)

Pupil Bulat, sentral. Bulat, sentral.

Lensa Kesan keruh Kesan keruh

E. Palpasi
OD OS
TIO Normal Normal
Nyeri Tekan (+) (-)
Massa Tumor (-) (-)
Glandula Preaurikuler Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran

18
F. Tonometri
TOD TOS

Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan

G. Visus

VOD : 20/50 VOS : 20/20

KOR :- KOS :-

Menjadi :- Menjadi :-

Lihatdekat :- Lihatdekat :-

Koreksi : Koreksi :-

DP :- DP :-

H. Slit Lamp

VOD VOS

Konjungtiva hiperemis (-), kotoran mata (+) Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih,
minimal, kornea keruh, fluoresen (+). tampak Bilik Mata Depan kesan normal, iris
gambaran ulkus dikelilingi oleh lesi satelit. coklat, kripte (+), pupil bulat, lensa kesan
Hipopion (-), iris coklat, kripte (+), pupil keruh. RCL (+)
bulat,dan lensa kesan keruh. RCL (+).

19
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fluorescein (+)
Pemeriksaan KOH tidak dilakukan

J. Resume

Seorang pasien perempuan umur 58 tahun datang ke poli R.s Pelamonia dengan keluhan
nyeri pada mata dextra disertai penurunan visus pada oculi dextra sejak krang lebih 3 minggu
yang lalu, akibat terkena daun jagung pada saat di kebun. Pasien juga mengeluh fotofobia, dan
lacrimasi.

Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Riwayat penyakit diabetes
militus dan hypertensi (-), riwayat penggunaan obat oral (-), riwayat penggunaan obat tetes mata
(-).

Pemeriksaan oftalmologi didapatkan oculus dextra, edema pada palpebra disertai secret pada
silia minimal, lakrimasi (+), konjungtiva hiperemis (-), kornea kesan keruh, bilik mata depan

20
kesan normal, iris coklat kripte (+), pupil bulat, lensa kesan keruh. Pada pemeriksaan palpasi
didapatkan nyeri tekan palpebra.
Pemeriksaan visus VOD 20/50
Pemeriksaan slit lamp konjungtiva hiperemis (-), kornea keruh, fluoresen (+), tampak
gambaran ulkus dikelilingi oleh lesi satelit., iris coklat, kripte(+), pupil bulat, dan lensa kesan
keruh.
Pemeriksaan Fluorescein (+)

K. Diagnosis
OD / Ulcus Kornea e.c susp. Jamur + katarak senile immatur
OS/ Katarak senile imatur
L. Diagnosis Banding
OD leukoma kornea
OD endoftalmitis
OD katarak mature
OD glaucoma absolute
M. Terapi
o Terapi medikamentosa :
 topical
C Natacen 4 x 1 gtt OD
LFX 4 x 1 gtt OD
 oral
Ketokonazole 200mg 2x1
Ciprofloxacin 500 mg 2x1
Asam Mefenamat 500 mg 3x1
o Terapi non medikamentosa :
Bebat shield
Edukasi

21
N. Prognosis
Dubia ad bonam

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Bowling, B. 2016. Kanki’s Clinical Opthalmology. A systemic Approach, eighth Edition.


USA. p.185-173
2. Roderick B. Kornea. In: Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta : EGC.
2009. p. 125-4, 67
3. Ibrahim. Y.W, Incidence of Infectious Corneal Ulcers, Portsmouth Study, UK. Di kutip
pada tanggal 21 Januari 2017 di https://www.omicsonline.org/incidence-of-infectious-
corneal-ulcers-portsmouth-study-uk-2155-9570.S6-001.pdf
4. Fandri, MY. Jurnal; Penatalaksanaan pada Pasien Ulkus Kornea dengan Prolaps Iris
Ovuli Sinistra, Volume 1. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, September 2013
5. Marwah, NH. Penilitian tentang Ulkus Kornea di unduh pada tanggal 17 Januari 2018
http://www.scholar.unand.ac.id/3800/2/BAB%201%20Marwah%20NH%201210312044.
pdf .Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
6. Tank, P.W., 2009. Atlas of Anatomy. Division of Anatomical Education, Department of
Neurobiology & Developmental Sciences, University of Arkansas for Medical Sciences,
Little Rock, Arkansas
7. Snell, S.R. 2012. Anatomi Klinis Berdasarkan system. Jakarta. Penerbit : Buku
kedokteran EGC.P. 779
8. Ilyas, S. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi kelima. Jakarta; Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2014.
9. Anonimous. Ulkus Kornea. Dikutip dari www.medicastore.com. Di akses 2018
10. Suharjo, Fatah widido. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito Sebagai
Tempat Pelayanan Mata Tertier. Dikutip dari www.tempo.co.id. Di akses 2018
11. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : Ilmu Penyakit
Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke 2, Penerbit Sagung Seto,
Jakarta,2002.
12. Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989
13. Sridhar, M.S. CME Series, No 11. Diagnosis and Management of Microbial Keratitis.
India; Hyderabad.
14. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga FKUI, Jakarta, 2004

23
15. Nethralaya, S. Patien Information; Corneal Ulcer. A Unit Medical Research Foundation.
India.
16. Council for Medical Schemes. Corneal Ulcer. Issue 7. 2017
17. Chen, K. Corneal Transplantation; indication and current techniques. Queensland
Government.
18. Anonymous, Corneal Ulcer. Dikutip dari www.HealthCare.com.
19. Leucoma Corneal. https://www.ecured.cu/Leucoma-Corneal. Di akses januari 2018
20. American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus.
https://aapos.org/terms/conditions/47 . di akses januari 2018
21. Eastbourne Eye Clinic. www.eastbourneeyeclinic.co.uk/cataract-surgery/what-is-a-
cataract . di akses januari 2018
22. University of Iowa Health Care. Ophthalmology and Visual Sciences.
https://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/atlas/pages/absolute-glaucoma-with-
spontaneous-hyphema.html . di akses januari 2018.
23. Dua’s Layer. www.sci-news.com/othersciences/anthropology/article01151-human-eye-
duas-layer.tml

24