Anda di halaman 1dari 7

Macam-macam Regionalisme

Menurut perjalanan Regionalisme tumbuh dan berkembang menjadi dua yaitu, Arsitektur
Regionalisme Kongkrit dan Arsitektur Regionalisme Abstrak (Suha Ozkan, 1985 dalam Salain,
Putu Rumawan, 4-6).

1. Arsitektur Regionalisme Kongkrit


Arsitektur Regionalisme Kongkrit merupakan penggabungan bangunan baru dengan
ekspresi daerah/regional dengan mencontoh kelebihannya, bagian-bagian bangunannya
ataupun nilai-nilai spiritual yang terkandung, dengan begitu bangunan tersebut akan dapat
lebih diterima dengan bentuknya yang baru namun masih terlihat nilai-nilai bangunan
aslinya. Tidak kalah penting juga, pada bangunan tersebut juga harus mempertahankan
kenyaman bangunan baru dan kualitas dari bangunan asli.
2. Arsitektur Regionalisme Abstrak
Arsitektur Regionalisme Abstrak adalah arsitektur penggabungan bangunan baru dengan
unsur-unsur bangunan asli, unsur-unsur bangunan asli yang digunakan diutamakan adalah
unsur-unsur abstraknya. Unsur-unsur abstrak tersebut misalnya adalah massa bangunan,
proporsi, rasa meruang, penggunaan/pengaturan pencahayaan dan prinsip struktur yang
diolah kembali dalam bentuk baru.

Contoh Bangunan Arsitektur Regionalisme di Indonesia


Dari beberapa bangunan yang ada di Indonesia terdapat salah satu bangunan yang
menggunakan arsitektur regionalisme yaitu sebuah masjid bernama Masjid Raya Sumatera Barat.
Lokasi objek di Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat,
Indonesia
Masjid Raya Sumatera Barat
Sumber: Google Image

Suatu bangunan dapat dikatakan sebagai bangunan yang menggunakan arsitektur


regionalisme jika bangunan tersebut dapat menyatukan antara arsitektur lama dengan arsitektur
baru, antara arsitektur regional dan arsitektur universal, arsitektur tradisional dan arsitektur
modern. Oleh sebab itu, untuk mengidentifikasi banguanan harus memahami arsitektur lokal
daerah tersebut.
Masjid Raya Sumatera Barat merupakan salah satu bangunan di Indonesia yang menggunakan
arsitektur regionalisme. Masjid ini merupakan masjid hasil rancangan seorang arsitek bernama
Rizal Muslimin. Masjid Raya Sumatera Barat mulai dibangun pada tanggal 21 Desember 2007
hingga saat ini masih dalam proses pengerjaan. Masjid dibuat dengan ukuran yang lebih besar dari
masjid pada umumnya yaitu dengan panjang 65 meter, lebar 65 meter dan tinggi mencapai 47
meter (https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Sumatera_Barat).
Bangunan Masjid Raya Sumatera Barat dapat dikatakan bangunan yang menggunakan
arsitektur regionalisme karena bangunan ini menyatukan antara arsitektur tradisional Sumatera
Barat yaitu Rumah Gadang dengan arsitektur modern.
Masjid Raya Sumatera Barat mengambil bentuk rumah Minang dengan Gonjong-nya
Sumber: Google Image

Pada gambar Masjid Raya Sumatra Barat di atas terlihat bahwa masjid tersebut merupakan
salah satu contoh arsitektur regionalisme. Unsur modern pada bangunan tersebut dapat dilihat
dari material yang digunakan menggunakan teknologi tinggi untuk membuat dan membangunnya
serta dapat dilihat dari bentuk serta ornamennya. Bentuk pada bangunan objek yang merupakan
unsur modern yaitu bagian atas / atap bangunan digunakan sekaligus sebagai bagian dari badan
bangunan, berbeda dengan rumah Gadang yang pada bagian atap, badan dan kaki bangunan
terbagi dengan jelas. Unsur modern pada Masjid Raya Sumatera Barat juga dapat dilihat dari
ornamen pada bangunan ini yang lebih sederhana dibandingkan dengan ornamen pada rumah
Gadang aslinya. Unsur arsitektur tradisional dapat dilihat dari bentuk atap yang sekaligus menjadi
badan bangunan, bentuk tersebut diambil dari bentuk atap bangunan tradisional asal Sumatera
Barat yaitu Rumah Gadang dengan Gonjong-nya. Rumah Gadang memiliki keunikan
bentuk arsitektur dengan bentuk puncak atapnya runcing yang seperti tanduk kerbau dan
dahulunya dibuat dari bahan ijuk yang dapat tahan sampai puluhan tahun.
Adanya bangunan yang menggunakan arsitektur regionalisme seperti pada Masjid Raya
Sumatera Barat dapat menjadi salah satu upaya dalam melestarikan rumah Gadang sebagai unsur
lokal Sumatera Barat. Ini dikarenakan walaupun dengan adanya modefikasi bangunan modern
tetap dipertahankan nilai budaya lokal dengan dilekatkan unsur lokal daerah tersebut.
Contoh Bangunan Arsitektur Regionalisme di Bali

Lokasi objek di Jalan Sunset Road No.98, Kuta, Badung, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.

Lokasi Objek Golden Tulip Jineng Resort Bali


Sumber: Google Map

Dari beberapa banyaknya bangunan di Bali terdapat salah satu bangunan yang menggunakan
arsitektur regionalisme yaitu sebuah resort yang bernama Golden Tulip Jineng Resort Bali.
Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali
Sumber: Dokumentasi April 2017

Arsitektur regionalisme dapat diartikan sebagai aliran arsitektur yang menggabungkan antara
arsitektur modern dengan arsitektur tradisional. Bangunan yang menggunakan arsitektur
regionalisme di Bali dapat dengan mudah ditemukan, khususnya pada bangunan penginapan seperti
resort, villa, hotel dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan arsitektur dengan sentuhan tradisional Bali
menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Bali. Selain itu juga terdapat peraturan
daerah yang mengatur mengenai pembangunan yang mengharuskan bangunan di Bali menggunakan
unsur arsitektur tradisional Bali, ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk menjaga
kelestarian arsitektur tradisional Bali.
Dari beberapa bangunan yang menggunakan arsitektur regionalisme di Bali, salah satu
contohnya adalah Golden Tulip Jineng Resort Bali. Arsitektur Regionalisme merupakan penggabungan
antara arsitektur tradisional / lama dengan arsitektur modern / baru. Oleh karena itu, untuk
mengidentifikasi bangunan arsitektur regionalisme harus memahami arsitektur tradisional tersebut.
Jineng pada bangunan rumah tradisional Bali fungsinya adalah seperti lumbung sebagai
tempat penyimpanan padi. Namun saat ini penggunaan jineng sebagai tempat penyimpanan padi
sudah sangat jarang ditemukan. Sebagian besar fungsi jineng yang ada pada pekarangan rumah
tradisional Bali dialih fungsikan menjadi tempat duduk bersantai. Dengan penerapan arsitektur
regionalisme, jineng sebagai bangunan arsitektur tradisional Bali dapat dilestarikan karena disamping
menggunakan arsitektur modern tetap melekatkan unsur tradisional Bali di dalamnya.
Bangunan yang menjadi objek observasi yaitu Golden Tulip Jineng Resort Bali dapat dikatakan
sebagai arsitektur regionalisme karena pada bagian lobby menggabungkan antara bentuk atap dari
Jineng yang merupakan bangunan tradisional Bali dengan arsitektur modern/baru yang dapat dilihat
dari penggunaan bahan material bangunan, bentuk dan ornamennya.
Jineng Rumah Tradisional Bali Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali
Sumber: Google Image Sumber: Dokumentasi April 2017

Gambar di atas menunjukkan perbandingan antara jineng pada pekarangan rumah tradisional
Bali dengan Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali. Pada Golden Tulip Jineng Resort Bali memanfaatkan
lobby dengan menggunakan atap berbentuk menyerupai jineng sebagai salah satu daya tarik. Bentuk
atap loby yang menyerypai bentuk atap jineng ini juga menjadi unsur tradisional pada bangunan yang
menggunakan arsitektur regionalisme ini.

Selain bersumber dari alam, wujud juga bersumber dari manusia. Manusia dalam ATB
memiliki otoritas yang sangat sentral. Artinya, bahwa bentuk bangunan ATB dibagi menjadi dua.
Pertama bahwa unsur manusia yang terdiri atas Tri Angga, yaitu kepala, badan, dan kaki
ditransformasikan ke dalam tampak bangunan dengan unsur yang sama. Kepala adalah atap, badan
adalah ruang, dan kaki adalah pondasi. Kedua bahwa wujud bangunan ATB juga berasal dari dimensi
tubuh manusia. Semakin tinggi dimensi tubuh seseorang maka bangunannya selain lebih tinggi juga
lebih lebar, dibandingkan dengan rumah yang pemiliknya bertubuh pendek (Putu Rumawan Salain,
2012: 33-34).

Pada Golden Tulip Jineng Resort Bali menerapkan unsur bentuk bangunan arsitektur
tradisional Bali yang pertama yaitu, mentransformasikan Tri Angga ke dalam tampak bangunan
dengan unsur yang sama. Terdapat bagian kepala adalah atap, badan adalah ruang, dan kaki adalah
pondasi. Namun tidak menerapkan yang kedua, karena bangunan Lobby Golden Tulip Jineng Resort
Bali dibuat dengan skala yang lebih besar dan tidak berpatokan pada dimensi tubuh seseorang.

Bagian atas atau kepala bangunan Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali berbentuk seperti
layaknya jineng pada bangunan tradisional Bali. Namun pada Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali
menggunakan bahan dengan berteknologi tinggi sebagai perbedaan yang mencolok dari jineng
aslinya. Pada jineng bangunan tradisional Bali bagian atap menggunakan material alang-alang. Pada
bangunan Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali digantikan dengan material yang lebih modern, ini
dikarenakan material alang-alang sebagai penutup atap tidak tahan lama.

Elemen samping atau badan bangunan Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali menggunakan
dinding dari beton yang memberikan kesan modern pada bangunan ini dibandingkan dengan jineng
yang menggunakan kayu sebagai material bagian badan bangunannya. Bagian badan jineng juga lebih
terbuka debandingkan pada objek observasi. Perubahan material ini dikarenakan fungsinya yang
berbeda yaitu jineng sebagai tempat penyimpanan padi dan pada objek observasi merupakan
bangunan dengan fungsi lobby.

Elemen bawah Lobby Golden Tulip Jineng Resort Bali menggunakan keramik sebagai penutup
lantainya, berbeda dengan jineng yang menggunakan susunan batu kali dengan tanah pol-polan
sebagai penyelesaiannya.

Sumber :
Wondoamiseno,Ra. 1990. Regionalisme Dalam Arsitektur Indonesia, Sebuah Harapan. Yayasan
Rupadatu. Yogyakarta.
Salain, Putu Rumawan. 2012. Arsitektur Posmo Pada Masjid Al Hikmah Dalam Serapan Arsitek
Tradisional Bali. Denpasar: Udayana University Press.
Buku ppt dari Pak Rumawan
Google Image
Wikipedia