Anda di halaman 1dari 7

1.

Bagaimana hubungan akuntansi / proses akuntansi terhadap barang dagang yang telah diberikan
garansi ?
Warranty (garansi), juga menjadi salah satu strategic point dalam dunia perdagangan, khususnya
untuk ―non-consumer goods‖. Hampir semua perusahaan menyediakan ―After Sales Service.
Hanya saja kondisi warranty-nya berbeda-beda.

Warranty Term yang umum kita temui, antara lain:

[-]. Jaminan penggantian barang baru untuk kerusakan dalam pengguanaan normal untuk jangka
waktu tertentu (biasanya pendek: 3 hari s/d 1 minggu).

[-]. Jaminan penggantian sparepart untuk kerusakan sparepart pada penggunaan normal untuk
jangka waktu tertentu (biasanya antara 1 bulan hingga 1 tahun).

[-]. Jaminan service (repair) atas kerusakan dalam pemakian normal untuk jangka waktu tertentu
(biasanya cukup panjang: 1s/d 2 tahun).

Di negara-negara maju, justru kebalikannya. Labor warranty (garansi service) justru diberikan
lebih pendek dibandingan spare-part, Karena di negara-negara maju tenaga technician untuk
‖dirty works‖ (pekerjaan kasar) justru lebih tinggi cost-nya dibandingkan spare-part.

Adapun pencatatan pengeluaran atas warranty (Garanasi) adalah sebagai berikut:

[1]. Penggantian dengan barang baru, dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cost Of Goods Sold


[Credit]. Inventory
(catatan: tidak ikuti dengan pengakuan sales).

[2]. Penggantian Sparepart:

[Debit]. Cost Of Goods Sold


[Credit]. Inventory
(catatan: tidak ikuti dengan pengakuan sales).

Terkadang semua pengeluaran untuk memenuhi commitment warranty dicatat sebagai ―warranty
cost‖ saja.

Jika diperhatikan, jurnal-jurnal di atas menunjukkan: adanya realitas pengeluaran (inventory:


barang jadi, sparepart, dan labor cost) di satu sisi untuk memenuhi warranty, akan tetapi tidak
diimbangi dengan event penjualan atau penyerahan jasa di sisi lainnya, karena memang
pengeluaran untuk warranty biasanya dimaksudkan untuk meng-cover penjualan di periode-
periode sebelumnya. Hal ini akan selalu membuat setiap cost atas warranty menjadi tidak bisa
disandingkan secara langsung terhadap revenue di periode yang sama.

Untuk tujuan penyandingan itulah, maka pengeluaran atas warranty dibebankan langsung pada
periode yang sama saat terjadinya pengakuan atas penjualan (revenue), dengan cara membentuk
perkiraan ‖utang sesuai jaminan‖ .Jurnalnya:

[Debit]. Warranty Cost


[Credit]. Liability Based on Warranty

Nantinya, jika expenditure untuk memenuhi kewajiban warranty sudah benar-benar terjadi,
dibuatkan jurnal:

[Debit]. Liability Based On Warranty


[Credit]. Cash.

2. Apa itu diskon/potongan penjualan dan bagaimana hubungannya dengan akuntansi ?


Ada 2 jenis discount yang biasa diberikan kepada customers:

[1]. Trade Discount/Rebate (Potongan Dagang/Rabat)

Trade Discount yang juga biasa disebut dengan ―Rebate‖ yang kit adi Indonesia mengenalnya
dengan istilah ―Potongan Dagang‖ atau ―Rabat‖ adalah potongan berupa penurunan harga yang
langsung diberikan kepada customer pada saat pemesanan (pembelian) dilakukan tanpa melihat
faktor (kondisi) lain. Trade discount akan (potongan dagang) ada jika perusahaan
memberlakukan ―published price‖ dalam quotation (=penawaran) atau perusahan memang
menurunkan harga untuk tujuan tertentu pada season (event) tertentu.

Contoh:

PT. Royal Bali Cemerlang adalah pedagang computer eceran yang menjual computer Type X.
Cost of Goods Sold computer type X adalah Rp 3,500,000/unit. Ongkos angkut ke customer
dihitung Rp 100,000/unit. PT. Royal Bali Cemerlang mematok 50% profit, sehingga net price-
nya menjadi = (Rp 3,500,000+100,000) + (50%x(Rp3,500,000+100,000) = Rp 5,400,000. Tetapi
untuk pertimbangan strategy pemasaran, PT. Royal Bali Cemerlang memasang label harga Rp
6,000,000/unit di dalam catalog (brosur) penjualannya (di dalam dunia perdagangan dikenal
sebagai ―Published Price). Sehingga, untuk setiap unit yang laku, PT. Royal Bali Cemerlang
akan memberikan potongan harga sebesar Rp 600,000. Potongan inilah yang disebut dengan
‖Trade Discount/Rebate (Potongan Dagang/Rabat)‖. Besaran trade discount berbeda dari
industry ke industry, dari pasar ke pasar, dari perusahaan ke perusahaan yang lain. So bisa
dikatakan besaran trade discount tergantung pada policy (kebijakan) perusahaan masing-masing.

Untuk setiap unit yang laku akan dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash/Piutang = Rp 5,400,000


[Debit]. Trade Discount (Rabat) = Rp 600,000
[Credit]. Gross sales (Penjualan Kotor) = Rp 6,000,000

Catatan:

* Cash/Piutang akan masuk ke Balance Sheet


* Trade Discount akan masuk k eke Income Statament (Laba/Rugi) bersama-sama dengan Gross
Sales. Sehingga structure sales di Income Statement akan menjadi:

Gross Sales = Rp 6,000,000


[minus]
Trade Discount = Rp 600,000
————————————
= Net Sales = Rp 5,400,000

Dengan demikian, maka syarat pengakuan sales pada nilai bersihnya (net value) tetap terpenuhi.

Jika penjualan dalam negeri dan perusahaan adalah PKP, maka akan terhutang PPN, sehingga
jurnalnya menjadi:

[Debit]. Cash/Account Receivable = Rp 5,940,000


[Debit]. Trade Discount = Rp 600,000
[Credit]. Gross Sales = Rp 6,000,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 540,000

Sebagian perusahaan tidak mencatat trade discount di dalam pembukuan, yang dicatat hanya
nilai bersihnya saja, sehingga jurnalnya menjadi:

[Debit]. Cash/Account Receivable = Rp 5,940,000


[Credit]. Gross Sales = Rp 5,400,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 540,000

Sehingga structure sales di dalam income statement tidak menunjukkan adanya trade discount.
Yang aneh (walaupun pada dasarnya tidak salah) adalah: di faktur penjualan nampak adanya
trade discount, tetapi di dalam pembukuannya yang dicatat hanya net sales-nya. Mungkin
pencantuman trade discount di faktur hanya untuk menunjukkan kepada customer bahwa
perusahaan memberikan potongan harga.

Saya menganjurkan, agar antara bukti transaksi selalu sama dengan catatan, meskipun nantinya
akan dibuktikan dengan cash in-nya juga. Hal itu perlu untuk memudahkan pengawasan dan
pengendalian.

Trade Discount juga bisa terjadi karena memang perusahaan melakukan penurunan harga. Hal
ini biasanya dilakukan untuk tujuan atau alasan tertentu (misalnya: promosi, item yang sudah out
of date, atau item yang sudah terlalu lama disimpan digudang). Tentu saja semua perusahaan
mengakui discount ini. Prosedur pencatatanya sama saja dengan trade discount sebelumnya.

[2]. Sales Discount/Cash Discount (Potongan Penjualan).

Discount ini timbul pada penjualan credit, dimana discount biasanya diberikan pada saat realisasi
pembayaran terjadi. Itulah sebabnya mengapa sales discount sering disebut dengan istilah ―Cash
Discount‖ karena discount diberikan pada saat realisasi cash terjadi diluar trade discount yang
telah diberikan. Besaran sales discount (cash discount) tergantung pada credit term (termin) yang
telah ditetapkan.

Contoh:

Melanjutkan contoh yang sebelumnya, Pada tanggal 20 June 2008, PT. Royal Bali Cemerlang
berhasil menjual 5 unit computer type X kepada PT. Subur Makmur dengan Publish price Rp
6,000,000/unit. payment term (termin pembayaran) 2/10;N/30, artinya:

[1]. PT. Subur Makmur akan memperoleh sales discount sebesar 2% jika realisasi pembayaran
(pelunasan) dilakukan 10 hari setelah barang diterima atau sebelumnya (21 s/d 30 June 2008).
Nah discount 2% itulah yang disebut sebagai ―Cash (Sales Discount)‖.

[2]. Sedangkan jika pembayaran dilakukan setelahnya, maka discount tidak akan berlaku lagi.
Pelunasan paling lambat 30 hari setelah penyerahan (20 July 2008).

Transaksi penjualan pada tanggal 20 June 2008 (PT. RBC adalah PKP), dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Account Receivable = Rp 29,700,000


[Debit]. Trade Discount = Rp 3,000,000
[Credit]. Gross Sales = Rp 30,000,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 2,700,000
Catatan:
* Account Receivables = (Gross Sales-Trade Discount) + PPN
* Trade Discount = Rp 600,000 x 5
* Gross Sales = Rp 6,000,000 x 5
* PPN Keluaran= 10% x (Rp 30,000,000 – 3,000,000)

Jika PT. Subur Makmur melunasi hutangnya paling lambat 10 hari setelah penyerahan (30 June),
maka PT. Royal Bali Cemerlang akan memberikan discount sebesar Rp 2% dari Net Sales, untuk
itu pelunasannya akan dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash = Rp 29,106,000


[Debit]. Sales (Cash) Discount = Rp 540,000
[Debit]. PPN Keluaran = Rp 54,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 29,700,000

Catatan:

* Sales Discount = 2% x (30,000,000-3,000,000)


* Sales discount diikuti dengan penerbitan ―Faktur Pajak Keluaran (FPK) atas Discount‖ untuk
dikirimkan kepada PT. Subur Makmur, oleh karenanya penerimaan cash akan berkurang sebesar
sales discount ditambah FPK atas discount yang diterbitkan. Selanjutnya di buku perusahaan,
PPN keluaran juga di debit sebesar FKP discount
* Sama halnya dengan trade discount, sales discount pun akan menjadi faktor pengurang sales.

3. Bagaimana dan apa dampak kewajiban kontijensi terhadap laporan keuangan ?


Kewajiban kontijensi adalah kewajiban yang tergantung pada terjadinya atau tidak terjadinya
satu atau lebih kewajian masa depan untuk meneguhkan jumlah hutangnya, pihak yang
dibayarkan, tanggal pembayaran, atau keberadaannya. Kontijensi didefinisikan sebagai kondisi
situasi atau serangkaian situasi yang ada melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan
(kontijensi keuntungan) atau kerugian (kontijensi kerugian) bagi perusahaan yang akhirnya akan
diselesaikan apabila satu atau lebih kejadian masa depan terjadi atau tidak terjadi. Kewajiban
yang terjadi sebagai akibat dari kerugian disebut kerugian kontijensi.

Pengungkapan kontijensi kerugian


Untuk melaporkan kerugian dan kewajiban dalam laporan keuangan perusahaan perusahan dapat
membebankan kedalam beban dan hutang perusahaan. Kontijensi yang melibatkan tuntutan atau
pengenaan yag belum dinyatakan tidak perlu diungkapkan apabila tidak ada penuntut yang
datang kecuali jika dianggap memiliki kemungkinan yang besar ahwa suatu tuntutan akan
dinyatakan dan terdapat cukup kemungkinan bahwa hasilnya akan dapat menguntungkan.
Kewajiban lain yang harus diungkapkan sekalipun memiliki kerugian yang kecil adalah sebagai
berikut:
1. Jaminan atas hutang pihak lain
2. Kewajiban bank komersial menurut standby letters of credit
3. Jaminan untuk membeli kembali piutang (atau kekayaan lain yang berkaitan) yang telah
dijual atau digadaikan.

Penyajian Dan Pengungkapan


Kewajiban kontingensi tidak disajikan pada neraca, namun demikian harus mengungkapkan
kewajiban kontingensi pada Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban
kontingensi pada tanggal neraca

Pengungkapan tersebut dapat meliputi:


1. karakteristik kewajiban kontingensi;
2. estimasi dari dampak finansial yang diukur;
3. indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu aruskeluar sumber
daya;
4. kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga

4. Bagaimana hubungan ganti rugi terhadap laporan keuangan perusahaan ?


Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya seringkali menemui permasalahan yang berkaitan
dengan operasional perusahaan. Namun selain itu adakalanya perusahaan akan menghadapi
permasalahan non operasional seperti adanya tuntutan hukum atau gugatan hukum pihak ;ain
kepada perusahaan bersangkutan. Gugatan hukum tersebut biasanya menyangkut tuntutan
besarnya ganti rugi yang harus dibayar oleh perusahaan atas kekalahan di pengadilan. Besarnya
ganti rugi ni biasanya bervariasi tergantng pada keputusan pengadilan atau tingkat penyelesaian
yang didasarkan pada jumlah kerugian yang diderita pihak penggugat didasarkan pada kondisi
atau besarnya keuangan perusahaan atau didasarkan pada pertimbangan yang lainnya (Hamzah,
1995 dalam I Made,2000).
Pihak perusahaan atau manajer akan berusaha untuk meminimalkan jumlah tuntutan ganti rugi
dengan melakukan negosiasi atau akan mempengaruhi laporan keuangan perusahaan agar tidak
terlalu baik kinerjanya jika ganti rugi didasarkan pada kondisi keuangan perusahaan. Hal ini
dilakukan manajer untuk meminimalkan transfer kesejahteraan (kekayaan) perusahaan kepihak
penggugat. Cara yang ditempuh pihak manajer perusahaan untuk memanipulasi laporan
keuangan salah satunya melakukan kebijkan penentuan laba yang biasa dikenal sebagai strategi
earnings management. Strategi tersebut berupa penurunan laba perusahaan pada periode tertentu
dan menggeser atau memindahkan laba tersebut pada laporan keuangan periode yang lain.

Contoh lain apabila perusahaan menerima dua gugatan dimana untuk gugatan pertama
berdasarkan judgment (pertimbangan) dari Departemen Hukum, dan gugatan tersebut
menyatakan bahwa perusahaan tidak akan dimenangkan oleh pengadilan. Sedangkan untuk
gugatan yang lain Departemen Hukum memperkirakan bahwa putusan pengadilan akan
mewajibkan perusahaan untuk membayar ganti rugi. Maka Penyajian laporan keuangan dan
pengungkapannya adalah sebagai berikut :

Untuk kasus ini perusahaan akan mengakui kerugian (loss) dan kewajiban (liability) karena:
Informasi yang menunjukkan terjadinya kewajiban tersebut pada tanggal laporan keuangan telah
tersedia sebelum diterbitkannya laporan keuangan. Jumlahnya dapat diestimasi dengan cukup
andal. Dengan kata lain, terjadinya kecelakaan yang tidak diasuransikan selama tahun terjadinya
kasus tersebut, adanya gugatan terhadap perusahaan, serta estimasi dari Departemen Hukum
terkait jumlah kerugian menharuskan diakuinya loss contingency.
Maka Ayat Jurnal untuk kerugian yang dibayar adalah

loss from uninsured accident—kerugian dari kecelakaan yang tidak diasuransikan


liability for uninsured accident—kewajiban terkait kecelakaan yang tidak diasuransikan

5. Bagaimana kebijakan yang akan dilakukan perusahaan apabila sudah tutup buku lalu terjadi
kebakaran. Apa yang akan perusahaan lakukan terhadap laporan keuangannya
Kebakaran adalah salah satu bentuk dari Force Majeur yaitu kerusakan karna bencana alam.
Guna melindungi aset tetapnya dari kemungkinan kerugian atas bila terjadi force majeur,
perusahaan biasanya menggunakan jasa asuransi untuk meminimalisir resiko (loss coverage)
kerugian. Hal yang harus dilakukan perusahaan adalah :
1. Update nilai buku terakhir aset
2. Hapus aset tersebut dengan jurnal
[Debit ] Accum Deprec
[Debit ] Fire Lost Rp
[Credit] Aset Tetap Gedung
3. Pengakuan klaim asuransi

Pada akhir periode, sama seperti aset yang hilang, Aset yang terbakar tentu tidak kelihatan lagi
pada neraca karena saldonya sudah nol, sedangkan kerugiannya dimasukkan ke dalam kelompok
Pos Pos Luar biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan, harus diberikan
penjelasan yang cukup mengenai penyebab terjadinya Extraordinary Items.