Anda di halaman 1dari 14

Nama : Anshari

NIM : PO.62.20.1.16.121
Prodi : D-IV Keperawatan Reguler III
MK : Keperawatan Anak

KEKURANGAN KALORI PROTEIN (KKP)

A. PENGERTIAN
Secara umum, kekurangan gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP (Kurangnya
Kalori Protein), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energy dan protein. KKP dapat
diartikan sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan
protein dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka
Kecukupan Gizi atau AKG. Pada umumnya KKP sering dijumpai pada anak usia 6 bulan
sampai 5 tahun, dimana pada usia tersebut, kebutuhan tubuh akan zat gizi sangat tinggi.
Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang
mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang
dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997).
Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan
adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein
maupun energi (Sediatoema, 1999).
Nama internasional KKP yaitu Calori Protien Malnutrition atau CPM adalah suatu
penyakit difisiensi gizi dari keadaan ringan sampai berat, disebut juga Protien Energi
Malnutrisi ( PEM ) Secara klinik dibedakan dalam bentuk yaitu Kwashiorkor dan marasmus.
Diantara kedua bentuk tersebut terdapat bentuk antara atau “ Marasmus Kwasiorkor “
1. Marasmus yaitu keadaan kurang kalori
2. Kwashiorkor yaitu keadaan kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang
kurang.
3. Marasmus kwashiorkor yaitu keadaan peralihan antara marasmus dan kwashiorkor.

No Nama Variabel Minumum Maximum Mean Std Deviation


1 Kurang Konsumsi Kalori 13.10 38.90 26.5576 6.29146
Kurang Konsumsi
2 7.20 44.40 19.1970 8.28789
Protein
3 BBLR 6.00 19.20 12.4970 3.51190
4 Balita Gizi Buruk 0.40 5.30 2.6061 1.35507

Tabel diatas menunjukkan bahwa nilai standar deviasi terbesar adalah pada indikator
kurang energy protein dan nilai terkecil adalah balita gizi buruk. Hal ini menunjukkan tentang
keragaman data setiap provinsi tertinggi terjadi pada indikator kurang energy protein dan
terendah pada balita gizi buruk.
Pemetaan Status Gizi Balita Di Indonesia Terdapat 4 (empat) indikator status gizi balita
yang digambarkan dalam penelitian ini. Berikut ini adalah pemetaan indikator status gizi
balita menggunakan program ArchView GIS 3.3.
1. Pemetaan Balita Kurang Konsumsi Kalori di Indonesia

Gambar 1 menunjukkan sebaran balita kurang konsumsi kalori yang termasuk


dalam kategori tinggi terdapat di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu,
Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Maluku
Utara dan Papua. Sedangkan balita kurang konsumsi kalori yang termasuk dalam
kategori rendah yaitu di Propinsi Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Banten,
Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Irian Jaya Barat.

2. Pemetaan Balita Kurang Konsumsi Protein di Indonesia


Gambar 2 menunjukkan balita kurang konsumsi protein pada tahun 2010 terbanyak
di provinsi NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua. Sedangkan terendah di
provinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, DKI
Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur dan Gorontalo.
3. Pemetaan Balita dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) di Indonesia

Sebaran Bayi BBLR di Indonesia sesuai dengan gambar 3, tertinggi di Provinsi


Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan, Gorontalo, Maluku Utara dan Papua. Sedangkan terendah di Provinsi di Banten,
Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NAD, Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung,
Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku.
4. Pemetaan Balita Gizi Buruk di Indonesia

Jumlah Balita Gizi Buruk pada gambar 4, jika dilihat sebarannya tertinggi di
Provinsi NAD, Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, NTT,
NTB, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Maluku.
Sedangkan jumlah sebaran gizi buruk terendah yaitu di Provinsi Sumatera Barat,
Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta,
Jawa Timur dan Bali.

B. KLASIFIKASI
1. Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori) sedangkan
kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997).
2. Kwashiorkor adalah bentuk kekurangan kalori protein yang berat, yang amat sering
terjadi pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun (Jelliffe, 1994).
3. Marasmik-kwashiorkor merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis
campuran antara marasmus dan kwashiorkor. (Markum, 1996)

C. PATOFISIOLOGI
kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,protein, atau
keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekurangan makanan makanan, tubuh
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi,
kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat,protein merupakan hal yang sangat
penting untuk mempertahankan kehidupan,karbohidrat(glukosa) dapat dipakai oleh seluruh
jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kebutuhan tubuh untuk memepertahankan
karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah terjadi kekurangan.
Akibat katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilakan asam
amino yang akan segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa lemak di
pecah menjadi asam lemak,gliserol,dan ketan bodies. Otot dapat memepergunakan asam
lemak dan keton bodies,sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan
menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah
kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
1. Marasmus
Untuk kelangsungan hidup jaringan diperlukan sejummlah energi yang dalam
keadaan normal dapat dipenuhhi dari makanan yang diberikan. Kebutuhan ini tidak
terpenhi pada masukan yang kurang, karena itu untuk pemenuhannya digunakan
cadangan protein senagai sumber energi. Pengahancuran jaringan pada defesiensi kalori
tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memungkinkan sintesis
glukosa dan metabolit esensial lainnya, seperti berbagai asam amino.
2. Kwashiorkor.
Pada defesiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat lebih,
karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya.kelianan yang
mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang meyebabkan edem dan
perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan
berbagai asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sentesis dan
metabolisme. Makin kekurangan asam amnino dalam serum ini akan menyebabkan
kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat edem.perlemakan hati
terjadi karena gangguan pembentukan beta-lipoprotein, sehingga transport lemak dari
hati kedepot terganggu, dengan akibat terjadinya penimbunan lemah dalam hati.

D. ETIOLOGI
1. Ekonomi Negara rendah
2. Pendidikan umum kurang
3. Peroduksi bahan pangan kurang
4. Hygiene rendah
5. Pekerjaan rendah
6. Pasca panen kurang baik
7. System perdagangan dan distribusi tidak lancar
8. Daya beli rendah
9. Persediaan pangan kurang
10. Penyakit infeksi dan infestasi cacing
11. Konsumsi kurang
12. Absorpsi terganggu
13. Utilitas terganggu KKP terganggu
14. Pengetahuan gizi kurang
15. Anak terlalu banyak

Marasmus
1. Masukkan kalori yang kurang akibat kesalahan pemberian makanan.
2. Penyakit metabolik
3. Kelaian kongenital
4. Infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lainnya.

Kwashiorkor
1. Diare yang kronik
2. Malabsorbsi protien
3. Sindrom nefrotik
4. Infeksi menahun
5. Luka bakar
6. Penyakit hati.

E. GEJALAKLINIS
Marasmus
1. Perubahan psikis , anak menjadi cengeng, cerewet walaupun mendapat minum.
Pertumbuhan berkurang atau tehenti.
2. Berat badan anak menurun, jaringan subkutan menghilang ( turgor jelek dan kulit
keriput.
3. Vena superfisialis kepala lebih nyata, frontal sekung, tulang pipi dan dagu terlihat
menonjol, mata lebih besar dan cekung.
4. Hipotoni akibat atrofi otot
5. Perut buncit
6. Kadang-kadang terdapat edem ringan pada tungkai
7. Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan tampak sianosis.

Kwashiorkor
1. Secara umum anak tampak sembab, latergik, cengeng dan mudah terangsang, pada tahap
lanjut anak menjadi apatus dan koma.
2. Pertumbuhan terlambat
3. Udema
4. Anoreksia dan diare.
5. Jaringan otot mengecil, tonus menurun, jaringan subcutis tipis dan lembek.
6. Rambut berwarna pirang , berstruktur kasar dan kaku serta mudah dicabut.
7. Kelainan kulit, tahap awal kulit kering, bersisik dengan garis-garis kulit yang dalam dan
lebam, disertai defesiensi vitamin B kompleks, defesiensi eritropoitin dan kerusakan hati.
8. Anak mudah terjangkit infeksi
9. Terjadi defesiensi vitamin dan mineral

F. KOMPLIKASI
1. Infeksi
2. Kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung
3. Melabsorbsi
4. Gangguan metabolic
5. Penyakit ginjal menahun
6. Gangguan saraf pusat
7. Gangguan asupan vitamin dan mineral
8. Anemia gizi

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pada kwashiorkor ;penurunan kadar albumin, kolesteron dan glukosa.
2. Kadar globulin dapat normal atau meningkat, sehingga perbandingan albumin dan
globulin serum dapat terbalik
3. Kadar asam amino essensial dalam plasma relatif lebih rendah dari pada asam amino non
essiensial.
4. Kadar imunoglobulin normal, bahkan dapat menigkat.
5. Kadar IgA serim normal, namun kadar IgA sekretori rendah.
H. CARA MENANGGULANGI KKP
KKP merupakan salah satu masalah serius yang sedang dihadapi Indonesia. kita dapat
berusaha mengurangi KKP dengan cara-cara pencegahan berikut:

1. Untuk tingkat keluarga


a. Ibu membawa balita ke posyandu untuk ditimbang
b. Ibu memberikan ASI pada bayinya sampai usia enam bulan
c. Ibu memberikan makanan pendukung ASI (MP-ASI) yang mengandung berbagai
macam gizi seperti kalori, vitamin, dan mineral
d. Segera memberitahukan kepada petugas kesehatan apabila balita mengalami sakit
e. Menghindari pemberian makanan buatan kepada bayi dibawah enam bulan untuk
menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu mengahsilkan ASI
f. Melindungi anak dari kemungkinan terkena diare dan dehidrasi dengan cara
memelihara kebersihan, menggunakan air matang untuk minum, mencuci peralatan
pembuat susu dan makanan bayi serta menyediakan oralit
g. Mengatur jarak kehamilan ibu agar cukup waktu untuk merawat dan mengatur
makanan yang bergizi untuk buah hati mereka.

2. Untuk tingkat posyandu


a. Kader melakukan penimbangan pada balita setiap bulannya di posyandu untuk
mengetahui pertumbuhan pada balita
b. Kader memebrikan penyuluhan tentang makanan pendukung ASI (MP-ASI)
c. Kader memberikan pemulihan bayi balita yang berada di bawah garis merah (PMT)
contoh KMS (Kartu Menuju Sehat)
d. Pemberian imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi seperti TBC,
polio, dan ada pula beberapa imunisasi dasar antara lain BCG, DPT, Polio, Hepatitis
B3, Campak, dan untuk imunisasi tambahan antara lain Hib (meningitis), PCV atau
IPD (pnemokokus), MMR, dan Influenza.

I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1) Identitas pasien:
Nama, alamat, umur, jemis kelamin, alamat dst.
2) Keluhan utama
Kwashiorkor : ibu mengatakan anaknya mengalami bengkak pada kaki dan tangan,
kondisi lemah dan tidak mau maka, BB menurun dll.
Marasmus : ibu pasien mengatakan anaknya rewel, tidak mau makan, badan
kelihatan kurus dll.

3) Riwayat kesehatan;
Riwayat penyakit sekarang
a) Kapan keluhan mulai dirasakan
b) Kejadian sudah berapa lama.
c) Apakah ada penurunan BB
d) Bagaimanan nafsu makan psien
e) Bagaimana pola makannya
f) Apakah pernah mendapat pengobatan, dimanan, oleh siapa, kapan, jenis
obatnya.
Pola penyakit dahulu
Apakah dulu pasien dulu pernah menderita penyakit seperti sekarang
Riwayat penyakit keluarga
Apakah anggota keluarga pasien pernah menderita penyakit yang berhubungan
dengan kekurangan gizi atau kurang protein.
Riwayat penyakit sosial
a) Anggapan salah satu jenis makanan tertentu.
b) Apakah kebutuhan pasien tepenuhi.
c) Bagaimanan lingkungan tempat tinggal pasien
d) Bagaimana keadaan sosial ekonomi keluarga.
e) Riwayat spiritual : Adanya kepercayaan yang melarang makanan tertentu.

4) Pengkajian fisik.
a) Inspeksi:
Meliputi observasi sistemik keadaan pasien sehubungan dengan status gizi
pasien meliputi : Pemampilan umum pasien menunjukkan status nutrisi atau gizi
pasien
Pada kwashiorkor; apakah ada edema, rambut rontok, BB menurun, muka
seperti bulan.
Pada marasmus : badan kurus, atrofi otot, rambut kemerahan dan kusam,
tampak siannosis, perut membuncit.
b) Palpasi
Pada marasmus terdapat tugor kulit yang jelek.
Pada kwashiorkor terdapat pembesaran hati.

5) Pemeriksaan Diagnostik
Data laboratorium;
a) feses, urine, darah lengkap,
b) pemeriksaan albumin.
c) Hitung leukosit, trombosit
d) Hitung glukosa darah.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
a. Pada Kwashiorkor
1) Gangguan nutrisi s/d intake yang kurang ( protien ) ditandai dengan pasien
tidak mau makan, anoreksia, makanan tidak bervariasi, BB menurun, tinggi
badan tidak bertambah.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi pasein terpenuhi dengan kreteria timbul nafsu makan, BB
bertambah ½ kg per 3 hari.
Intervensi :
a) Mengukur dan mencatat BB pasein
b) Menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
c) Menyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makan
d) Memberikan makanan tinggi TKTP
e) Memberi motivasi kepada pasien agar mau makan.
f) Memberi makan lewat parenteral ( D 5% )
Rasional:
a) BB menggambarkan status gizi pasien
b) Sebagai masukan makanan sedikit-sedikit dan mencegah muntah
c) Sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pasien
d) Protein mempengaruhi tekanan osmotik pembuluh darah.
e) Alternatif lain meningkatkan motivasi pasein untuk makan.
f) Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral
Evaluasi :
Pasien mau makan makanan yang TKTP, BB bertambah ½ kg tiap 3 hari.

2) Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik.


Tujuan :
Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kreteria pasien dapat melakukan
aktivitas sehari-harinya tanpa dibantu orang lain.
Intervensi :
a) Kaji aktivitas pasien sehari-hari
b) Bantu pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.
c) Melatih dan membimbing dalam merubah posisi.
d) Membantu pasien melekukan aktivitas / gerakan-gerakan yang ringan.
Rasional :
a) Aktivitas mengambarkan kekuatan fisik pasien
b) Meningkatkan motivasi pasien untuk beraktivitas walau dalam
keterbatasan / sesuai kemampuannya.
c) Salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas.
d) Sebagai support mental bagi pasien.
Evaluasi :
Kebutuhan aktivirtas pasien dapat maksimal. Pasien dapat melakukan
aktivitas sehari-harinya tanpa bantuan orang lain.

3) Potensial terjadinya komplikasi b.d rendahnya daya tahan tubuh


Tujuan :
Mencegah komplikasi
Intervensi :
Memberikan makanan cukup gizi (TKTP)
Menjaga personal hygiene pasien
Memberikan penkes tentang pentingnya gizi untuk kesehatan.
Kolaborasi pemberian cairan parenteral.
Rasional :
a) Makanan yang cukup gizi mempengaruhi daya tahan tubuh.
b) Personal hygiene mempengaruhi status kesehatan pasien.
c) Pendidikan gizi menentukan status gizi dan status kesehatan pasien.
d) Mengganti/ memenuhi zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral.
Evaluasi :
Komplkasi dapat tehindar atau tidak terjadi.

b. Pada marasmus.
1) Gangguan pemenuhan nutrisi b.d intake yang kurang adekuat ditandai
dengan pasien tidak mau makan, BB menurun, anoreksia, rambut merah dan
kusam, fisik tampak lemah.
Tujuan :
Kebutuhan nutisi pasien terpenuhi dengan kreteria; BB bertambah ½ kg / 3
hari , rambut tidak kusam, penderita mau makan.
Intervensi :
a) Mengukur dan mencatat berat badan pasien.
b) Menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
c) Menyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makan.
d) Memberi makanan TKTP
e) Memberi motivasi kepada penderita agar mau makan.
f) Memberikan makanan lewat parenteral ( D 5% )
Rasional :
a) BB menggambarkan status gizi pasien
b) Sebagai masukan makanan sedikit-sedikit dan mencegah muntah
c) Sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pasien
d) Kalori dan protien sangat berpengaruh terhadap gizi pasien.
e) Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral
Evaluasi :
Pasien mau makan makanan TKTP , BB bertambah ½ kg tiap 3 hari.

2) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d intake yang kurang


adekuat ditandai dengan turgor kulit yang jelek, bibir pecah-pecah. Pasien
merasa haus ,nadi cepat 120 / menit.
Tujuan :
Keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi dengan kreteria ; turgor kulit
normal, bibir lembab, pasien tidak mengeluh haus, nadi normal.
Intervensi :
a) Mengukur tanda vital pasien.
b) Menganjurkan agar minum yang banyak kepada pasien
c) Mengukur input dan output tiap 6 jam.
d) Memberikan cairan lewat parenteral
Rasional :
Tanda vital ( nadi dan tensi ) menggambarkan keseimbangan cairan dan
elektrolit pasien.
Alternative penggantian cairan secara cepat.
Input dan output menggambarkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
pasien.
Sebagai alternatif penggantian cairan cepat melalui parenteral.
Evaluasi :
Keseimbangan cairan dan elektrolit pasien terpenuhi ditandai dengan turgor
kulit normal, mokusa bibir lembab, pasien tidak mengeluh haus , Td dan nadi
normal.

3) Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik.


Tujuan :
Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kriteria pasien dapat melakukan
aktivitas sehari-hari tanpa dibantu orang lain.
Intervensi :
Kaji aktivitas pasien sehari-hari.
Membantu pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.
Melatih dan membimbing pasien dalam ,merubah posisi.
Membantu pasien melakukan gerakan-gerakan ringan.
Rasional :
Aktivitas menggambarkan kekuatan fisik pasien.
Meningkatkan motivasi pasien untuk beraktivitas sesuai dengan
kemampuannya.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas pasien.
Sebagai support mental bagi pasien.
Evaluasi
Kebutuhan aktivitas pasien dapat maksimal. Pasien dapat melakukan
aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA :

Elisanti, Alinea Dwi. 2017. Pemetaan Status Gizi Balita di Indonesia. Indonesian Journal for
Health Sciences (IJHS) Vol.1, No.1, Maret 2017. Diambil dari
journal.umpo.ac.id/index.php/IJHS/article/download/368/388. Diakses pada tanggal 4
November 2017.
Bubble Gummy. 2014. Kekurangan Kalori Protein (KKP).
http://wsety.blogspot.co.id/2014/03/kekurangan-kalori-protein-kkp.html. Diakses pada
tanggal 4 November 2017.
Dewi, Ayu Mulia. 2013. Kekurangan Kalori Protein.
https://ayumuliadewi13.wordpress.com/2013/04/01/kekurangan-kalori-dan-protein/.
Diakses pada tanggal 4 November 2017.
Permataynu64. 2012. Asuhan Keperawatan dengan KKP.
https://permatayuni64.wordpress.com/2012/11/12/askep-kkp-pada-anak/. Diakses pada
tanggal 4 November 2017.