Anda di halaman 1dari 13

BATUAN METAMORF

A. Genesa Batuan Metamorf


Batuan metamorf adalaha batuan ubahan yang terbentuk akibat adanya
perubahan tekanan (P), temperature (T) yang secara bersamaan. Proses
metamorfosa ini sendiri merupakan suatu proses isokimia dimana tidak akan
terjadi penambahan dari unsur – unsur kimia. Batuan asal dari proses
pembentukan pada batuan metamorf ini bisa hasil dari batuan beku, batuan
sedimen ataupun batuan metamorf itu sendiri yang telah terbentuk sebelumnya.
Karena batuan metamorf ini terbentuk dari batuan ubahan yang dipengaruhi oleh
tekanan dan suhu bumi. Suhu bumi ini berasal dari inti bumi yang menghasilkan
panas. Temperatur terjadinya berkisar antara 200 derajat celcius sampai 800
derajat celcius. Panas bumi ini nantinya akan membentuk mineral – mineral
penyusun batuan dan salah satunya adalah batuan metamorf. Suhu panas yang
berasal dari dalam bumi pada temperatur tertentu akan membentuk mineral –
mineral baru yang hasil akhirnya akan menjadi batuan metamorf, ataupun bisa
dengan proses penggesekan yang timbul akibat adanya proses dari deformasi
suatu massa batuan. Proses keterbentukan batuan metamorf ini bisa dikatakan
tidak sempurna, karena pada saat terjadinya proses perubahan batuan aslinya
tidak terlalu besar dan yang berubah hanyalah kekompakanya saja.
Kondisi fisik yang mengkontrol proses metamorfosa / rekristalisasi dan
tekstur mineral adalah sebagai berikut :
1. Tekanan
Tekanan terbagi menjadi 2 golongan yaitu tekanan hidrostatis dan tekanan
searah. Berdasarkan dua hal ini maka dikenal 2 kelompok mineral, yaitu:
 Stress mineral yaitu mineral – mineral yang tahan terhadap
tekanan, contohnya adalah staurolite dan kianit.
 Anti – Stress mineral yaitu mineral – mineral yang tidak sering
dijumpai pada batuan yang mengalami stress, contohnya adalah
olivine dan andalausit.
Sumber : Setyobudi, 2012
Gambar 1
Contoh Batuan Sedimen

B. Mineral Penyusun Batuan Metamorf


Mineral penyusun pada batuan metamorf mempunyai komposisi
hampir sama dengan komposisi pada batuan asalnya baik mineral pada
batuan beku dan batuan sedimen
 Mineral Kuarsa
Mineral kuarsa adalah mineral penting dalam batuan sedimen, pada
dasarnya membentuk 90% dalam batu pasir (batu kuarsa).
 Mineral feldspar
Pada dasarnya mineral feldspar adalah mineral penting dalam
batuan beku, namun pada batuan sedimen juga menjadi mineral penyusun
karena batuan sedimen salah satunya merupakan batuan hasil dari proses
sedimentasi batuan beku.
 Mineral Mika
Mineral mika terdiri dari biotite dan muskovit yang terdapat pada
batuan sedimen sebagai klastika ataupun autigen.
 Mineral Berat
Keterdapatanya relatif cukup sedikit dalam batuan asalnya,
contohnya zircon, rutil, garnet, magnetite dan lain – lainya.
 Mineral Lempung
Merupakan kelompok mineral dengan kristal sangat kecil kurang dari
0,005 mm hanya dapat terlihat dengan mikroskop. Dapat terbentuk sebagai
lempung residu oleh dekomposisi mineral asalnya tetapi juga
ditransportasikan dan diendapkan sebagai sedimen.
 Oksida Besi dan alumina
Merupakan hasil dari pelapukan bauksit, limonit, gibsit, magnetit dan
hematite.
 Mineral – mineral Karbonat
Mineral yang mempunyai kandungan karbonat dengan unsur Ca
ataupun Mg seperti pada kalsit dan dolomit. Kalsit dalm batu gamping dapat
berbentuk sebagai fragmen atau sebagai semen. Sedangkan dolomit sukar
apabila dibedakan dengan kalsit yang merupakan replecment dari kalsit
sendiri.
 Mineral Silika
Pada umumnya berbentuk kuarsa, kalsedon atau opal. Kuarsa yang
diendapkan secara kimia pada batuan sedimen ialah kuarsa dengan
temperature yang rendah. Kalsedon pada umumnya dominan pada rijang
dan berbentuk serabut dengan susunan atom dari kuarsa. Opal merupakan
silika amorf.
 Mineral Silikat
Keterbentukan mineral silikat relatif sedikit karena adanya proses
pengendapan. Sebaranya sendiri kebanyakan terdapat dalam batuan
sedimen sebagai residu ataupun hasil dari pelapukan.

C. Klasifikasi Batuan Sedimen


Batuan sedimen dapat digolongkan berdasarkan dari proses
pembentukanya, berdasarkan genesanya dan bedasarkan tenaga yang
pengangkut yang dihasilkan dari pelapukan dan berdasarkan tempat
keterbentukanya atau bisa juga disebut tempat pengendapanya.
1. Berdasarkan proses pembentukanya.
Berbagai penggolongan dan penamaan batuan sedimen telah
dikemukakan oleh para ahli, baik berdasarkan genetis maupun deskriptif. Batuan
sedimen ini dibedakan menjadi 2 macam menurut genesanya, diantara lain:
 Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen yang terbentuk dari adanya proses pelapukan baik
mekanik dan kimia, karena adanyan proses pengangkutan dan pengendapan.
Batuan sedimen klastik didasarkan pada ukuran butir, mengacu pada skala
wentworth. Batuan sedimen klastik terdiri atas fragmen dan matriks. Fragmen
adalah butir itu tersendiri sedangkan matriks adalah yang mengikat semua
fragmen menjadi satu yang terdapat pada batuan. Contoh dari batuan sedimen
klastik yaitu batu pasir, batu lempung, batu serpih, breksi dan konglomerat.
a. Batu Pasir
Batu pasir ialah batuan yang terdiri dari partikel pasir berukuran mineral,
batu maupun bahan organic yang mempunyai matriks dan semen yang mengikat
butiran pasir. Batu pasir merupakan batuan sedimen yang ada di dalam cekungan
sedimen di seluruh dunia.

Sumber : Atmanto, 2012


Gambar 4
Batu Pasir
b. Batu Lempung
Ialah batuan yang tersusun oleh mineral silikat dari hasil peleburan ataupun
pelapukan batuan silika.

Sumber : Atmanto, 2012


Gambar 5
Batu Lempung
c. Batu Serpih
Batuan yang berbutir halus yang terbentuk dari kompaksi lumpur,
mempunyai ciri khas yaitu adanya laminasi.

Sumber : Atmanto, 2012


Gambar 6
Batu Serpih
d. Breksi
Batuan sedimen klastik yang mempunyai fragmen besar bersudut, ruang
antara fragmen diisi oleh matriks yang berukuran sangat kecil atau semen yang
saling mengikat

Sumber : Fakhrie, 2011


Gambar 7
Batu Breksi
e. Konglomerat
Batuan sedimen yang pada dasarnya hampir sama dengan breksi, akan
tetapi pada konglomerat bentuk dari fragmenya berbentuk membundar.

Sumber : Atmanto, 2012


Gambar 8
Batu Konglomerat
 Batuan Sedimen Non-Klastik
Batuan sedimen yang terbentuk oleh adanya proses – proses
penghabluran dari larutan yang jenuh dari kandungan kimia – kimia tertentu

maupun organik, ataupun dari proses penghabluran dapat juga dari proses
biokimia yang disebabkan oleh organisme yang terdapat pada saat proses
pembentukkan batuan sedimen. Batuan sedimen non klastik memiliki ciri khas
yaitu dengan tidak adanya bentuk butir dan ukuran butir, contohnya adalah batu
gamping.
Sumber : Nurani, 2013
Gambar 9
Batu Gamping
2. Penggolongan Batuan Sedimen Berdasarkan Genesanya.
Penggolongan batuan sedimen berdasarkan genesanya dibagi menjadi 3 jenis
batuan, yaitu :
 Batuan sedimen mekanis, proses keterbentukanya dipengaruhi oleh
adanya proses mekanik.
 Batuan sedimen kimiawi, proses keterbentukanya dipengaruhi oleh adanya
proses kimia.
 Batuan sedimen organik, proses keterbentukanya dipengaruhi oleh
makhluk hidup seperti lumut, dan tumbuhan.
Batuan sedimen organik atau yang sering dikenal dengan batu bara
terbentuk dari fosil – fosil tumbuhan yang mengendap di rawa – rawa. Kemudian
ada juga yang dikenal dengan kerangka kersik, yang pada nantinya bangkainya
akan tertimbun di laut sehingga membentuk batuan sedimen, lalu ada karang yang
dibangun oleh binatang koral. Pada dasarnya batuan sedimen organik akan saling
berkaitan dengan batuan sdimen kimiawi.

Sumber : Rahayu, 2012


Gambar 10
Batu Bara
Tabel 1
Klasifikasi Batuan Sedimen Berdasarkan Bentuk Butir

Sumber : Dwi, 2014


3. Berdasarkan Tenaga Pengangkut Hasil Pelapukan
Penggolongan batuan sedimen berdasarkan dari tenaga yang mengangkut
hasil pelapukan digolonggkan menjadi 3 jenis, yaitu :
 Batuan sedimen aquatic adalah batuan yang diendapkan di dalam air,
contohnya adalah batu delta.
 Batuan sedimen aeolis adalah batuan sedimen yang diendapkan oleh
angin, contohnya adalah tanah loss, sand duness
 Batuan sedimen glassial adalah batuan sedimen yang diendapkan oleh
gletser, conrohnya adalah batuan morena dan drumline.
4. Berdasarkan Lingkungan Pengendapan
Penggolongan batuan sedimen berdasarkan lingkungan pengendapanya dibagi
menjadi 3 golongan, yaitu :
 Batuan sedimen darat (teritis), seperti namanya batuan sedimen darat ialah
batuan sedimen yang diendapkan di darat, contohnya adalah di endapan pinggir
sungai, danau, koluvium, endapan gurun dan talus.
 Batuan sedimen laut, ialah batuan sedimen yang diendapkan di area laut,
contohnya adalah batuan gamping yang terendapkan pada laut dangkal dan
batuan dolomit.
 Bayuan sedimen transisi, ialah batian sedimen yang diendapkan diantara
keduanya yaitu di area lautan dan daratan, contohnya adalah endapan rawa dan
endapan delta.

D. Tekstur dan Struktur Batuan Sedimen


1. Tekstur batuan sedimen adalah segala ciri fisik yang terdapat pada butir
sedimen seperti besar butir, pemilahan, kebundaran, kemas, porositas,
kekompakan, semen dan masa dasar. Adapun pengertian dari tekstur uang dapat
dipelajari pada batuan sedimen detritus adalah :
 Besar Butir
Besar butir adalah ukuran dari batuan tersebut yang dapat dikorelasikan dengan
menggunakan skala wentworth.
 Pemilahan
Pemilahan ialah tingkat keseragaman besar butir uang terdiri dari pemilahan baik
dan pemilahn buruk.
 Kebulatan atau Kebundaran
Dapat dilihat dari bentuk kebulatan atau kebundaran setiap butiran atau fragmen
batuan. Terdiri dari membundar baik, membundar, membundar tanggung,
menyudut tanggung dan menyudut.

Sumber : Rahayu, 2012


Gambar 11
Bentuk Butir
 Kemas
Ialah sifat dari hubungan antar butir atau fragmen pada batuan tersebut.
Terdiri dari 2 golongan yaitu kemas terbuka dan kemas tertutup.
 Porositas
Porositas dapat dinilai dari tingkat daya serap terhadap fluida. Terdiri dari
3 golongan yatu porositas baik, sedang dan buruk.
 Kekompakan
Menunjukkan sifat fisik dari batuan sedimen yang nantinya akan membantu
dalam pendeskripsian. Terdiri dari 3 golongan yaitu padat, lunak dan mudah
hancur.
 Semen dan Masa Dasar
Pengertian dari semen ialah bahan yang akan mengikat butiran atau
fragmen pada batuan sedimen yang terbentuk pada saat proses pembentukan
batuan. Semen pada dasarnya dapat berupa silika, karbonat, oksida besi dan
mineral lempung. Sedangkan masa dasar adalah masa dimana butiran ataupun
fragmen berada dalam satu kesatuan. Masa dasar terbentuk pada proses
pembentukan batuan bersamaan dengan fragmen dan dapat berupa bahan semen
ataupun butiran yang lebih halus.
2. Struktur pada batuan sedimen dibagi menjadi 3 golongan yaitu struktur
sedimen primer, struktur sedimen sekunder dan struktur sedimen organik. Adapun
pengertian darri masing – masing struktur sebagai berikut :
 Struktur Sedimen Primer
Struktur sedimen primer merupakan struktur yang terbentuk karena proses
sedimentasi dapat merelfeksikan mekanisme pengendapanya. Contohnya seperti
perlapisan, perlapisan bersusun, perlapisan silang siur, gelembur gelombang dan
lain – lainya. Adapun pengertian dari beberapa struktur sedimentasi yang teramati
pada satu atau beberapa satuan perlapisan sebagai berikut :
1. Perlapisan
Perlapisan sendiri ditunjukan oleh perbedaan besar butir ataupun warna
dari penyusunya. Perlapisan terdiri dari perlapisan sangat tipis (laminasi) sampai
tebal.
2. Perlapisan Bersusun
Perlapisan bersusun merupakan susunan dari perlapisan dari butir kasar
hingga halus pada suatu perlapisan.struktur struktur ini biasanya dipakai sebagai
penunjuk, pada umumnya butir kasar merupakan bagian yang berada di bawah
dan butir halus berada di atas.
3. Perlapisan Silang Siur
Merupakan bentuk perlapisan yang terpotong antara lapisan bagian atas
dan lapisan selanjutnya yang berlainan sudut. Biasanya terdapat pada batu pasir.
4. Gelembur Gelombang
Bentuk perlapisan yang berbentuk bergelombang seperti kerutan ataupun
berkerut pada suatu lapisan.
 Struktur Sedimen Sekunder
Struktur yang terbentuk sesudah proses sedimentasi, sebelum ataupun pada
waktu diagenesa. Struktur tersebut mereflaksikan keadaan lingkungan
pengendapan misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya.
 Struktur Sedimen Organik
Struktur yang terbentuk oleh kegiatan organisme seperti molusca, cacing ataupun
binatang lainya.

Sumber : Daniel, 2013


Gambar 12
Bentuk Butir
KESIMPULAN

Batuan sedimen terbentuk akibat adanya proses sedimentasi yang meliputi


proses pelapukan, pengangkutan atau transportasi dan proses pengendapan.
Proses pelapukan berkaitan dengan pembentukan batuan sedimen yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti mekanis dan kimiawi. Proses
pengangkutan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti mineral stabil, mineral
tidak stabil dan mineral campuran antara mineral stabil dan mineral tidak stabil.
Sedangkan proses pengendapan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti proses
pemadata oleh gaya gravitasi, pembuatan akibat penekanan yang kontinu dan
proses diagenesa yang diikuti penghabluran kembali sebagian material asal
menjadi mineral baru.
Pada dasarnya mineral penyusun batuan sedimen sama dengan mineral
penyusun batuan beku karena pada proses sedimentasi sebagian mineral lainya
akan bertahan atau tetap dan sebagian mineral lainya akan membentuk mineral
baru. Batuan sedimen dapat diklasifikasikan berdasarkan proses pembentukanya
menjadi batuan sedimen klastik dan batuan sedimen nonklastik
Batuan sedimen memiliki tekstur dan struktur tertentu. Tekstur dan struktur
dari batuan sedimen meliputi besar butir, pemilahan, kebulatan atau kebundaran,
kemas, porositas, kekompakan, semen dan masa dasar. Adapunstruktur batuan
sedimen meliputi perlapisan, perlapisan bersusun, perlapisan silang siur dan
gelembur gelombang.
Batuan sedimen yang mengalami proses pelapukanya secara mekanis
dapat digollongkan menjadi batuan sedimen klastik yang dimana memiliki butir
baik bentuk butir dan ukuran butir, sedangkan batuan sedimen yang proses
pelapukanya secara kimiawi dapat digolongkan menjadi batuan sedimen non
klastik yang tidak memiliki butir. Ada pula batuan sedimen organik yaitu yang
proses sedimentasinya dipengaruhi oleh organisme dan batuan sedimen organik
ini biasanya disebut juga batu bara.
DAFTAR PUSTAKA

1. Atmanto, Kukuh. 2012. “Batuan Sedimen Klastik dan


Nonklastik”.atmankukuh.blogspot.co.id. Diakses tanggal 30
November 2017 pukul 11.24 WIB. (Referensi Internet).

2 Dwi, Martini. 2014. “Tekstur Batuan Sedimen”. martinidwi.blogspot.co.id


Diakses tanggal 30 November 2017 pukul 11.43 WIB. (Referensi
Internet).

3 Nurani. 2013. “Pengertian dan Klasifikasi Batuan Sedimen”.


nuranigeo.blogspot.com. Diakses tanggal 30 November 2017 pukul
10.08 WIB. (Referensi Internet).

4 Rahayu, Sri. 2012. “Tekstur dan Struktur Pada Batuan Sedimen”,


srirahayu.scribd.com. Diaskes tanggal 30 November 2017 pukul
10.36 WIB. (Referensi Internet).

5 Setyobudi, Prihatin. 2012. “Pengertian Umum Batuan Sedimen”,


prihatintrisetyobudi.ptbudie.com. Diaskes tanggal 30 November 2017
pukul 11.59 WIB. (Referensi Internet).