Anda di halaman 1dari 20

Aturan Denda Penertiban Pemakaian

Tenaga Listrik (P2TL) PLN


Redaksi 09:42 Aturan , Konsumen , Listrik , P2TL , Pencurian Listrik , Slider

SatuEnergi.com - P2TL atau Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik merupakan langkah PLN untuk
mengurangi pencurian listrik. Banyak konsumen listrik yang tidak tahu bahwa meteran listrik yang ada
dirumahnya menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga. Bisa saja meteran yang ada di rumah anda
telah diutak atik oleh orang yang pernah tinggal sebelumnya. Hal ini sering terjadi dimana pengontrak
rumah melakukan pencurian listrik dengan mengutak atik meteran listriknya, dan pada akhirnya yang
harus membayar denda P2TL adalah orang yang tinggal setelahnya atau malah pemilik rumah yang
asli.
BACA JUGA : CARA MENGHITUNG DENDA TAGIHAN SUSULAN

PLN tidak melihat siapa yang memiliki yang sebelumnya, PLN hanya melihat pemilik yang sekarang.
Karenanya menjadi penting untuk memeriksakan instalasi listrik kepada PLN ketika membeli rumah
khususnya rumah bekas agar tidak terkena denda P2TL.

Pengenaan denda kepada konsumen oleh PLN diatur dalam Keputusan Direksi PT PLN (Persero)
Nomor 1486.K/DIR/2011 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Dulunya pelaksanaan
P2TL ini disebut dengan OPAL PLN. Terdapat 4 jenis pelanggaran P2TL yang dikenakan tagihan
susulan (TS) oleh PLN. Pelanggaran tersebut adalah:

1. Pelanggaran Golongan I (P I ) merupakan pelanggaran yang mempengaruh batas daya;


2. Pelanggaran Golongan II (P II ) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi
pengukuran energi
3. Pelanggaran Golongan III (P III ) merupakan pelanggaran yang mempengaruh batas
daya dan mempengaruh pengukuran energi;
4. Pelanggaran Golongan IV (P IV) merupakan pelanggaran yang di lakukan oleh Bukan
Pelanggan.
Konsumen kadangkala merasa bahwa mereka tidak melakukan pencurian atau
mengutak-atik meteran listrik.
Gambar Operasi P2TL PLN (antarafoto)

***

Termasuk PI yaitu apabila pada APP yang terpasang di pelanggan ditemukan satu atau lebih fakta yang
dapat mempengaruh batas daya, sebagai berikut:

1. Segel milik PLN pada Alat Pembatas atau MCB hilang, rusak, atau tidak sesuai dengan
aslinya;
2. Alat Pembatas atau MCB hilang, rusak atau tidak sesuai dengan aslinya;
3. Kemampuan Alat Pembatas atau MCB menjadi lebih besar, antara lain dengan: 1)
mengubah seting relay Alat Pembatas atau MCB; 2) membalik phasa dengan netral;
4. Alat Pembatas atau MCB terhubung langsung dengan kawat /kabel sehingga Alat
Pembatas tidak ber fungsai atau kemampuannya menjadi lebih besar;
5. Khusus untuk Pelanggan yang menggunakan meter kVA maks : 1) segel pada meter
kVA maks dan/atau perlengkapannya hilang, rusak atau tidak sesuai dengan aslinya; 2) meter
kVA maks dan/atau perlengkapannya rusak, hilang atau tidak sesuai dengan aslinya;
6. terjadi hal-hal lainnya dengan tujuan mempengaruh batas daya.

***

Termasuk P II yaitu apabila Pelanggan melakukan salah satu atau lebih hal-hal untuk
mempengaruhi pengukuran energi, sebagai berikut :
a. Segel Tera dan/atau segel milik PLN pada Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter) dan/atau
perlengkapannya salah satu atau semuanya hilang/tidak lengkap, rusak/putus, atau tidak sesuai dengan
aslinya;

b. Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter) dan/atau perlengkapannya hilang atau tidak sesuai dengan
aslinya;

c. Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter) dan/atau perlengkapannya tidak berfungsi sebagaimana
mestinya walaupun semua Segel milik PLN dan Segel Tera dalam keadaan lengkap dan baik.

Adapun cara-cara mempengaruhi Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter) dan/atau perlengkapannya,
antara lain:

1) mempengaruhi kerja piringan Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter), antara lain dengan :
a) membengkokkan piringan meter;
b) membengkokkan poros piringan meter;
c) mengubah kedudukan poros piringan;
d) merusakkan kedudukan poros piringan;
e) melubangi tutup meter;
f) merusakkan sekat tutup meter;
g) merusakkan kaca tutup meter;
h) mengganjal piringan agar berhenti atau lambat;

2) mempengaruhi kerja elektro dinamik, antara lain dengan:


a) mengubah setting kalibrasi Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter);
b) memutus/merusak/mempengaruhi kerja kumparan arus;
c) memutus/merusak/mempengaruhi kerja kumparan tegangan;
d) memutus penghantar neutral dan menghubungkan ke bumi;

3) mempengaruhi kerja register/angka register, antara lain dengan:


a) mengubah gigi transmisi
b) merusak gigi transmisi;
c) mempengaruhi posisi WBP;
d) memundurkan angka register;

4) pengawatan meter berubah sehingga :


a) pengawatan arus tidak se-phasa dengan tegangannya dan/atau polaritas arusnya ada yang terbalik;
b) kabel arus terlepas;
c) memutus rangkaian pengawatan arus atau tegangan;
5) mengubah, mempengaruhi alat bantu ukur energi, dengan:
a) mengganti Current Transformer (CT) dan/atau Potential Transformer (PT) dengan ratio yang lebih
besar;
b) menghubung singkat terminal primer dan/atau sekunder CT;
c) memutus rangkaian arus CT atau tegangan PT;
d) merusak CT dan/atau PT;

6) mengubah instalasi pentanahan netral CT dan kotak APP;

7) memutus penghantar netral pada sambungan instalasi milik PLN dan netral di sisi Instalasi milik
Pelanggan serta menghubungkan penghantar netral ke bumi sehingga mempengaruhi pengukuran
energi;

8) menukar penghantar phasa dengan penghantar netral pada Instalasi milik PLN sehingga mempengaruhi
pengukuran energi;

9) mengubah/memindah instalasi milik PLN tanpa ijin PLN sehingga menyebabkan APP atau alat
perlengkapannya milik PLN rusak atau dapat mempengaruhi kinerja Alat Pengukur;

10) mengubah pengukuran Alat Pengukur (meter listrik/kwh meter) elektronik, antara lain dengan:
a) mengubah setting data entry;
b) mempengaruhi sistim komunikasi data dari meter elektronik ke pusat kontrol data PLN;
c) mempengaruhi perangkat lunak yang dipakai untuk fungsi kerja Alat Pengukur;
d. terjadi hal-hal lainnya dengan tujuan mempengaruhi pemakaian energi.

***
Termasuk PIII yaitu apabila pada APP dan instalasi listrik yang terpasang di pelanggan di temukan satu
atau lebih fakta yang dapat mempengaruh pengukuran batas daya dan energi sebagai berikut:

a) Pelanggaran yang merupakan gabungan pada PI dan PII ;

b) Sambungan Langsung ke Instalas Pelangga dan Instalasi PLN sebelum APP.

***
Termasuk P IV yaitu apabila ditemukan fakta pemakaian tenaga listrik PLN tanpa alas hak yang sah oleh
Bukan Pelanggan

***
Pelanggan yang melakukan pelanggaran dikenakan tagihan susulan. Adapun perhitungan tagihan
susulan sebagai berikut:

Pelanggaran Golongan I (PI ) :

Rumus Perhitungan denda untuk pelanggaran ini sebagai berikut:

Untuk Pelanggan yang dikenakan Biaya Beban


TS1 = 6 X {2 X Daya Tersambung (kVA) } X Biaya Beban (Rp/kVA);

Untuk Pelanggan yang dikenakan Rekening Minimum


TS1 = 6 X (2 X Rekening Minimum( Rupiah) pelanggan sesuai Tarif Dasar Listrik)

Rumus Perhitungan denda Pelanggaran Golongan II (PII ) :

TS2 = 9 X 720 jam X Daya Tersambung X 0,85 X harga per kWh yang tertinggi pada
golongan tarif pelanggan sesuai Tarif Dasar Listrik;

Rumus Perhitungan denda Pelanggaran Golongan III (P III ):

TS3 = TS1 + TS2;

Rumus Perhitungan denda Pelanggaran Golongan IV (PIV) :

a. Untuk daya kedapatan sampai dengan 900 VA :

TS4 = {(9 x (2 x (daya kedapatan (kVA)) x BiayaB eban(Rp/kVA)))}+ {(9 x


72O jam x (daya kedapatan (kVA)) x 0,85 x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik
yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan) )

b. Untuk daya kedapatan lebih besar dari 900 VA :


TS4 = {(9 x (2 x 40 jam nyala x (daya kedapatan (kVA)) x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif
Dasar Listrik yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan)) + {(9 x 720 jam x (daya kedapatan (kVA)) x
0,85 x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik yang dihitung Berdasarkan Daya
Kedapatan)).

Aturan Penyesuaian (kelainan)


Pemakaian Tenaga Listrik
Redaksi 16:13 Aturan , Dasar Listrik , Electricity , Listrik , P2TL , Slider

SatuEnergi.com-Jakarta. Tagihan listrik anda menumpuk akibat kesalahan PLN dalam membaca kwh
meter? Berikut aturan dan penjelasannnya.

Dalam hubungan transaksi jual beli tenaga listrik antara PLN dengan pelanggannya, terdapat adanya
kondisi dimana energi yang digunakan oleh konsumen tidak sesuai dengan yang tercatat atau terbayar
oleh konsumen kepada PLN. Dalam kondisi tersebut, terdapat dua kemungkinan, terjadi pelanggaran
yang dilakukan oleh konsumen atau terjadi kelainan tagihan. Untuk pelanggaran telah dibahas dalam
artikel Aturan Denda Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) PLN. Untuk kasus kedua akan
dibahas dalam artikel ini.

Kelainan tagihan listrik merupakan kondisi dimana konsumen telah menggunakan listrik namun
pembayaran listriknya tidak sesuai dengan jumlah listrik pemakaian, dimana penyebabnya adalah karena
kondisi alam atau kelalaian PLN. Kondisi ini lazim disebut dengan "kelainan" atau ketidak sesuaian
rekening pemakaian tenaga listrik oleh PLN. Hal ini diatur dalam Keputusan Direksi PLN NOMOR : 163-
1.K/DIR/2012 tentang PENYESUAIAN REKENING PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK.
Ketidaksesuaian Rekening Pemakaian Tenaga Listrik dapat ditemukan dari pelaksanaan kegiatan/
pekerjaan antara lain :

a. Evaluasi Rekening Pemakaian Tenaga Listrik Pelanggan;Pencatatan Meter;


b. Sisir Tarif;
c. Operasi dan Pemeliharaan APP ;
d. Survey Pelanggan;
e. Pelaksanaan P2TL;
f. Informasi dari Pelanggan atau masyarakat;

Ketidaksesuaian Rekening Pemakaian Tenaga Listrik dikelompokkan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu:

1. Kategori I (K-I) yaitu apabila terjadi ketidaksesuaian parameter yang menyebabkan kelebihan maupun
kekurangan tagih pada Pelanggan diakibatkan oleh antara lain :

1. faktor perkalian meter Alat Pengukur setempat tidak sama dengan faktor kali yang tertulis
pada rekening;

2. pemakaian tenaga listrik pada Pelanggan yang peruntukannya tidak sesuai dengan daya
dan/ atau golongan tarif pada alas hak yang sah / surat perjanjian jual beli tenaga listrik;

3. faktor koreksi pada rekening yang ditagihkan tidak sesuai dengan sistem sambungan
pengukuran yang terpasang pada pelanggan setempat;

4. faktor pemakaian trafo pada data induk pelanggan tidak sesuai dengan setempat;

5. pembacaan angka register Alat Pengukur kWh dan kVArh setempat tidak sesuai dengan
angka meter pada rekening;

6. kegagalan mutasi yang menyebabkan tagihan rekening tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;

7. Time switch tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Kategori II (K-II) yaitu apabila terjadi ketidaksesuaian pada APP dan/atau Perlengkapan APP sehingga
menyebabkan kelebihan maupun kekurangan tagih pada Pelanggan diakibatkan oleh antara lain:
a. kedapatan atau terbukti bahwa sejumlah/ seluruh energi yang telah digunakan Pelanggan ternyata
tidak terukur, tidak tercatat yang disebabkan oleh :

i. ketidaksesuaian pengawatan alat pengukur bukan karena kesalahan Pelanggan sehingga sebagian
atau seluruh pemakaian energi tidak terukur dengan benar, namun segel dalam keadaan baik dan tidak
ditemukan unsur - unsur pelanggaran;

ii. alat pengukur dan perlengkapannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga sebagian atau
seluruh pemakaian energi tidak terukur dengan benar, namun segel dalam keadaan baik dan tidak
ditemukan unsur - unsur pelanggaran.

b. kedapatan atau terbukti bahwa sejumlah daya yang telah digunakan Pelanggan melebihi atau kurang
dari daya pada alas hak yang sah / surat perjanjian jual beli tenaga listrik dan rekeningnya tidak sesuai
dengan alas hak yang sah, yang disebabkan oleh:

i. alat pembatas tidak berfungsi sebagaimana mestinya, namun segel dalam keadaan baik dan tidak
ditemukan unsur-unsur pelanggaran;

ii. alat pembatas terpasang lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya, namun segel dalam
keadaan baik dan tidak ditemukan unsur-unsur pelanggaran. Dalam hal alat pembatas lebih besar dari
yang seharusnya Pelanggan tidak dikenakan tagihan penyesuaian, dan apabila alat pembatas lebih kecil
dari yang seharusnya maka PLN wajib segera menyesuaikan besaran alat pembatas tersebut.

3. Kategori III (K-III) yaitu apabila terjadi ketidaksesuaian pada APP dan/atau Perlengkapan APP karena
kondisi alam dan/atau keterbatasan PLN dan/atau kejadian diluar kendali Pelanggan maupun PLN, yang
antara lain karena :

a. Segel dan/atau Segel Tera putus karena kondisi alam/ korosi;

b. APP dan/atau Perlengkapan APP rusak karena kondisi alam/ korosi;


c. Mengambil energi dengan cara mengulur instalasi tenaga listrik yang disambung ke instalasi lain yang
tidak sesuai dengan alas hak yang sah.

Perhitungan besarnya rekening akibat Ketidaksesuaian Rekening Pemakaian Tenaga Listrik


sebagaimana, adalah sebagai berikut:

1. K-I, dapat berupa pengembalian atau penagihan atas ketidaksesuaian yang terjadi atau tagihan
ketidaksesuaian kepada Pelanggan.

Besarnya ketidaksesuaian rekening dihitung berdasarkan salah satu atau lebih perbedaan faktor
perkalian meter APP, golongan tarif dan/atau daya, faktor koreksi sistem penyambungan pengukuran,
pembacaan angka stand APP, kegagalan proses mutasi/administrasi penerbitan rekening baru dan time
switch yang tidak berfungsi, merupakan parameter yang ada di dalam perhitungan rekening yang tidak
sesuai dengan alas hak yang sah dengan periode waktu maksimum 6 (enam) bulan. Besaran tarif yang
dikenakan untuk menghitung ketidaksesuaian tersebut adalah tarif yang berlaku pada periode kejadian.

2. K-II, dapat berupa pengembalian dari PLN atau penagihan kepada Pelanggan atas ketidaksesuaian
yang terjadi pada APP yang terpasang di pelanggan, berdasarkan tarif daya dan/atau tarif energi sesuai
Tarif Tenaga Listrik yang berlaku atas pemakaian tenaga listrik sebagai berikut :

a. Kelebihan atau kekurangan daya yang dipakai terhadap daya yang sesuai ketentuan pada Alas Hak
yang Sah yang belum diperhitungkan;

b. Sebagian atau semua energi yang kelebihan tagih atau tidak terukur, tidak tercatat dan/atau belum
tertagih pada meter kWh elektromekanik maksimum 6 (enam) bulan pemakaian rata- rata baik meter kWh
Elektromekanik maupun meter kWh Elektronik.

3. K-III, tidak ada pengembalian atau penagihan atas ketidaksesuaian yang terjadi, tetapi dilakukan
tindakan sebagai berikut:
a. Dilakukan penyegelan kembali untuk segel putus, disertai Berita Acara

b. Dilakukan penggantian APP dan/atau perlengkapan APP yang rusak, disertai Berita Acara

c. Diberikan peringatan kepada pelanggan

Pengajuan Keberatan Sanksi


Pelanggaran P2TL PLN
Redaksi 10:50 Konsumen , Listrik , P2TL

Jika anda mengalami P2TL dan anda merasa keberatan dengan pengenaan denda yang diberikan oleh
PLN. Anda dapat mengajukan keberatan kepada tim keberatan P2TL yang wajib ada pada setiap unit
yang melaksanakan P2TL. Pelanggan dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu maksimal 14
hari kerja setelah P2TL. Keberatan tersebut kemudian akan dianalisa dan dievaluasi oleh tim keberatan.
Namun yang menjadi catatan adalah pengajuan keberatan ini tidak mempengaruhi proses P2TL, yang
artinya selama proses pengajuan keberatan pelanggan listrik akan tetap dikenakan tagihan susulan dan
sanksi pemutusan (jika ada) selama waktu pengajuan keberatan. Namun jika terbukti pelanggan tidak
melakukan pelanggaran, PLN berkewajiban untuk membebaskan pelanggan dan mengajukan
permintaan maaf.

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PLN Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 1486.K/DIR/2011
tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), terdapat aturan penjauan keberatan sanksi P2TL.
Pokok-pokok aturan pengajuan keberatan P2TL adalah sebagai berikut :

1) Dalam hal Pelanggan keberatan atas penetapan pengenaan sanksi P2TL, maka Pelanggan dapat
mengajukan keberatan kepada General Manager Distribusi/Wilayah atau Manajer APJ/Area/Cabang unit
PLN yang menerbitkan sanksi dimaksud dengan disertai alasan-alasan dan bukti-bukti.
2) Pelanggan dapat mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan jangka waktu
keberatan diajukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah,kejadian P2TL.

3) Keberatan yang diajukan oleh pelanggan dianalisa dan evaluasi oleh Tim Keberatan yangdibentuk
oleh General Manager Distribusi/Wilayah untuk tingkat Distribusi/Wilayah dan oleh Manajer
APJ/Area/Cabang untuk tingkat Cabang/APJ/Area.
4) Keanggotaan Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diketuai oleh General Manager untuk
Wilayah/Distribusi dan Manajer untuk Cabang/APJ/Area serta berjumlah minimal 5 (lima) orang atau
ganjil yang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut : a. Teknik.b. Niaga/Pelayanan Pelanggan.c.
Administrasi dan Kepegawaian.d. Wakil Pemerintah di Bidang Ketenagalistrikan.

5) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh Pelanggan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
terpenuhi baik secara keseluruhan maupun sebahagian, maka unit yang mengenakan sanksi P2TL harus
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
keberatan diterima.

6) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh Pelanggan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terpenuhi
untuk diproses lebih lanjut, maka Unit yang menerima keberatan harus menyampaikan keputusan atas
keberatan tersebut kepada Pelanggan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
diterimanya keberatan dari Pelanggan.

7) Proses pemeriksaan keberatan P2TL tidak menunda pelaksanaan pengenaan sanksi P2TL yang
telah ditetapkan.

8) Tim Keberatan Cabang/APJ/Area melalui Manajer Cabang/APJ/Area dan Tim Keberatan


Wilayah/Distribusi bertanggungjawab kepada General Manager.

9) Dalam mengambil keputusan, Tim Keberatan P2TL harus memenuhi syarat kuorum melebihi dari 50
%.

10) Dalam hal pelanggan yang terkena Pemutusan Sementara dan dinyatakan terbukti tidak bersalah
dan apabila kesalahan yang mengakibatkan dilakukan Pemutusan Sementara tersebut terbukti akibat
kelalaian yang dilakukan oleh Pihak PLN, Manajemen PLN dalam waktu paling lambat 14 (empat
belas) hari kerja harus menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada Pelanggan
tersebut.

Denda Pencurian Listrik PLN


Redaksi 09:18 Aturan , Konsumen , Listrik , Pencurian Listrik

SatuEnergi.com. Pencurian listrik PLN masih marak terjadi di Indonesia. Disinyalir bahwa pencurian
listrik ini dapat merugikan PLN sampai dengan Rp. 1.5 Trilyun pertahun. Ada bermacam-macam modus
yang dilakukan oleh para pencuri listrik untuk mengurangi tagihan listriknya seperti:

1. Merusak segel
2. Merusak piringan meter listrik PLN
3. Melakukan sambungan langsung sebelum meter listrik PLN
4. Melakukan modifikasi terhadap meter listrik elektronik
5. Membolong meter listrik dan mengurangi kecepatan meter listrik
6. Membalik putaran meter listrik PLN
7. Membalik fasa sambungan meter listrik
via pakistadtoday.com

Pencurian listrik ini dikenakan denda oleh PLN, besarnya bisa sembilan kali lipat dari pemakaian
ditambah lagi bahwa denda itu dengan menghitung bahwa pemakaian listriknya adalah full 24 jam sehari
atau 720 jam selama sebulan.

Terdapat tiga macam dendayang diberlakukan terhadap pencurian listrik. Denda jenis pertama biasanya
disebut Pelanggaran jenis pertama oleh PLN adalah pelanggaran karena mempengaruhi daya, atau
mencuri daya. Logikanya begini, anda berlangganan 450 VA setiap bulannya kepada PLN. Tarif 450 VA
ini pasti lebih rendah dibandingkan dengan tarif 2200 VA, maka ketika anda melakukan modifikasi pada
MCB sebagai pembatas arus dengan menaikkan kapasitas MCB nya yang hanya 2 Ampere untuk 450
VA menjadi 10 A, maka ada selisih biaya yang tidak anda bayar karena perbedaan harga per kwh untuk
daya berlangganan ini. Pelanggaran Jenis Pertama ini dikenakan denda berdasarkan Peraturan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 33 Tahun 2014 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan
Biaya Yang Terkait Dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PLN adalah :

1. Untuk Konsumen Listrik Yang Dikenakan Biaya Beban


6 x (2x Daya tersambung (kVA) x Biaya Beban (Rp/kVA)
2. Untuk Konsumen Listrik Yang Dikenakan Rekening Minimum
6 x (2x Rekening Minimum (Rupiah) Konsumen sesuai Tarif Listrik)

Pelanggaran jenis yang kedua adalah mempengaruhi Energi. Pelanggaran ini adalah pencurian
listrik yang mengakibatkan PLN rugi dalam membangkitkan dan menyalurkan listrik. Pencurian
listrik ini bisa seluruh atau sebagian listrik PLN, dendanya sama tidak ada bedanya. Anda baru mencuri
kemarin dan mencuri listrik setahun lalu dendanya sama dan sangat besar, bisa sembilan kali dari
pemakaian maksimum setiap bulannya. Sebagai contoh, anda berlangganan listrik PLN 1300 VA,
kemudian melakukan pencurian listrik dengan melakukan modifikasi pada kWh meter, maka dianggap
anda menggunakan 1300 VA semua selama 24 jam selama 30 hari, jadi bisa dianggap semua beban
listrik di rumah anda menyala semua tanpa henti, nah perhitungan ini akan dikalikan lagi dengan
sembilan kali, adapun hitungannya berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) Nomor 33 Tahun 2014 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya Yang Terkait Dengan
Penyaluran Tenaga Listrik oleh PLN adalah :

9 x 720 jam x Daya Tersambung (kVA) x 0.85 x harga per kWh yang tertinggi pada golongan tarif
konsumen sesuai Tarif Tenaga Listrik

Pelanggaran jenis yang kedua adalah mempengaruhi daya dan energi atau penambahan. Besarnya
dendanya adalah penambahan pelanggaran jenis pertama dan kedua.

Perbandingan Peraturan Lama P2TL


(SK Direksi PLN No. 1486.K/DIR/2011)
dan Aturan Baru P2TL (No. 088-
Z.P/DIR/2016)
Redaksi 10:40 Aturan , Electricity , Listrik , P2TL , Pencurian Listrik

SatuEnergi.com, Jakarta. Dengan diberlakukannya ketentuan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik PLN
yang baru, terdapat beberapa perbedaan antara peraturan yang lama SK Direksi PLN Nomor 1486
dengan Peraturan yang baru Peraturan Direksi No. 088-Z.P/DIR/2016. Beberapa hal yang menjadi
tambahan dalam peraturan baru tersebut adalah sebagai berikut :

URAIAN KEPDIR. PLN YANG PEPDIR. PLN USULAN


LAMA No. 088-Z.P/DIR/2016
No. 1486.K/DIR/2011
1. Nama Peraturan Keputusan Direksi Peraturan Direksi

2. Dasar Hukum Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah RI Nomor


RI Nomor 10 Tahun 14 Tahun 2012 sebagaimana telah
1989 diubah dengan Peraturan
Pemerintah RI Nomor 23 Tahun
Peraturan Presiden RI 2014
Nomor 8 Tahun 2011 Peraturan Menteri ESDM Nomor
Peraturan Menteri 31 Tahun 2014 sebagaimana telah
ESDM Nomor 09 diubah dengan Peraturan
Tahun 2011 MenteriESDM Nomor 09 Tahun
2015
Peraturan Menteri
ESDM Nomor 33 Peraturan Menteri ESDM Nomor
Tahun 2014 33 Tahun 2014 sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan
MenteriESDM Nomor 08 Tahun
2016
3. Definisi Stroom Token
Ditambahkan :
1. Satuan instalasi
2. Levering
3. Instalasi Milik
Langganan/pelanggan
4. Instalasi Milik Pemakai tenaga
listrik
4. Sertifikat Pelatihan dibidang Dari PLN Unit Dari Lembaga Sertifikasi
P2TL Pendidikan dan terakreditasi yang ditunjuk PLN
Pelatihan atau
Lembaga Pendidikan
dan Pelatihan lainnya
yang ditunjuk PLN
5. Materipelatihan P2TL Ditambahkan :
untuk Petugas Pelaksana 1. Pengetahuan implementasi Perdir
Lapangan P2TL tentang P2TL
2. Standing Operation
Procedure(SOP) P2TL

6. Alternatif pelaksanaan P2TL a. Outsourcing tenaga Kerjasama dengan pihak


bantu dari Perusahaan ketigayang memiliki
Penyedia Jasa Tenaga Sertifikat Pelatihandari Lembaga
Kerja (PJTK); dan Independen yang terakreditasi.
b. Outsourcing jasa Pelaksanaan P2TL
pekerjaan dengankerjasama dengan pihak
pelaksanaan/pemeriks ketiga diharuskan dipimpin `oleh
aan di lapangan pegawai PLN.
kepada perusahanan
jasa
7. Ditambahkan :
PenentuanTarget OperasiP2T 1. Evaluasi data load profileterhadap
L kontinuitas penggunaan listrik pada
pelanggan yang dibaca melalui
metode AMR;
2. Evaluasi wiring melalui diagram
phasor pada pelanggan yang
dibaca melalui metode AMR;
3. Pengembangan TO yang dilakukan
oleh Petugas Pelaksana Lapangan
P2TL sesuai dengan situasi dan
kondisi di lapangan dan atas
persetujuan dari Pemberi Tugas
atau Penanggung Jawab P2TL.
8. Pelanggan yang terindikasi Pemakai Tenaga Ditambahkan :
terjadi pelanggaran Listrik atau yang 1. Dilakukan pemeriksaan lanjutan ke
mewakili dipanggil laboratorium;
untuk datang ke PLN 2. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari
kerja pelanggan tidak bersedia
menyaksikan pemeriksaan di
laboratorium, maka PLN dapat
melakukan pemutusan aliran listrik
di lokasi pelanggan tersebut.
9. Ketentuan mengenai Ditambahkan :
Pemeriksaan Laboratorium 1. Jika tidak bersedia diperiksa di
Laboraratorium yang ditentukan
oleh PLN, maka pelanggan dapat
memilih Laboratorium Independen
yang terakreditasi;
2. Apabila terbukti adanya
pelanggaran, biaya laboratorium
menjadi tanggung jawab
Pelanggan.
10. Ketentuan mengenai segel Diperjelas :
Segel yang rusak dikarenakan
korosi atau faktor alam lainnya
dikecualikan dari Pelanggaran.
11. Pelanggaranyang termasuk Ditambahkan :
dalam P II(mempengaruhi Dikenakan juga pada pelanggan
pengukuran energi) yang sudah dilakukan pemutusan
oleh PLN karena tunggakan
rekening listrik, namun disambung
kembali tanpa ijin PLN.
12. Pelanggaranyang termasuk Apabila ditemukan Ditambahkan :
dalam P IV(pelanggaran yang fakta pemakaian 1. Menyambung langsung dari
dilakukan oleh Bukan tenaga listrik PLN Jaringan Tenaga Listrik (JTL) ke
Pelanggan) tanpa alas hak yang IMP;
sah oleh Bukan 2. Pelanggan yang sudah tidak
Pelanggan sesuai antara Identitas Pelanggan
(ID Pel) dengan kode kedudukan
(koduk) akibat APP dipindahkan
tanpa ijin PLN;
3. Pemakai tenaga listrik tidak
terdaftar di dalam Data Induk
Langganan (DIL) PLN;
4. Pemakai tenaga listrik
hasillevering dari pelanggaran P III;
5. Pemakai tenaga listrik
hasillevering dari pelanggaran P
IV.
13. Ketentuan terkait sanksi Sanksi berupa : Ditambahkan :
a. Pemutusan 1. Pelanggan atau bukan pelanggan
Sementara; yang melakukan pelanggaran dan
b. Pembongkaran tidak menyelesaikan TS sesuai
Rampung; golongan pelanggarannya, namun
c. Pembayaran Tagihan menyambung kembalialiran listrik
Susulan; ke satuan instalasi yang
d. Pembayaran Biaya bermasalah secara tidak sah,
P2TL Lainnya. maka akan dikenakan P2TL ulang
dengan TS ganda.
2. Pelanggan yang melakukan
pelanggaran P I, lebih dari 1 (satu)
kali pelanggan
tersebutdiwajibkan tambah daya,
bersamaan dengan penyelesaian
TS.
3. Dalam hal pelanggan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan (2) tidak menyelesaikan TS
dan tambah daya tersebut, maka
akan
dilakukanpemutusan/pembongka
ran rampung atas tenaga listrik
tersebut
14. Biaya P2TL lainnya Meliputi : Ditambahkan :
a. Bea meterai; Ketentuan biaya PPJ sesuai
b. Biaya penyegelan dengan besaran yang ditetapkan
kembali; oleh Pemerintah Daerah setempat
c. Biaya penggantian dan menggunakan formula sebagai
material dan berikut :
pemasangan atas STL Pajak TS 1 = 1/6 x TS 1 x tarif PPJ
dan/atau APP Pajak TS 2 = 1/9 x TS 2 x tarif PPJ
dan/atau Pajak TS 3 = ((1/6 x TS1) + (1/9 x
Perlengkapan APP TS2)) x tarif PPJ
yang harus diganti. Pajak TS 4 = 1/9 x ½ x TS 4 x tarif
PPJ
15. Penangguhan pemutusan Belum diatur Ditambahkan :
sementara Penangguhan pemutusan
sementara dilakukan apabila
menyangkut keselamatan jiwa
manusia atau obyek vital nasional
dengan batas waktu penangguhan
paling lama 3 hari.
Sanksi-sanksi Pelanggaran P2TL
Redaksi 09:52 Konsumen , Listrik , P2TL

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PLN Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor
1486.K/DIR/2011 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), pelanggan PLN yang
melakukan pelanggaran dalam rangka Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik dikenakan sanksi berupa :

a. Pemutusan sementara
b. Pembongkaran rampung
c. Pembayaran Tagihan Susulan
d. Pembayaran Biaya P2TL lainnya.

Adapun yang bukan pelanggan PLN dan diketemukan melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi
pembongkaran rampung, pembayaran tagihan susulan, dan pembayaran biya P2TL lainnya. Yang
dimaksud dengan biaya P2TL lainnya adalah bea materai, biaya penyegelan kembali dan Biaya
penggantian material dan pemasangan atas STL dan/atau APP dan/atau perlengkapan APP yang harus
diganti. Biaya P2TL lainnya se ditetapkan oleh Unit Pelaksana Induk PLN setempat
Terkait dengan pemutusan sementara dikenakan kepada pelanggan apabila :

a. pada waktu pemeriksaan P2TL ditemukan cukup bukti telah terjadi Pelanggaran pada Pelanggan dan
dituangkan dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan P2TL;
b. pada waktu pemeriksaan P2TL ditemukan dugaan telah terjadi Pelanggaran dan Pelanggan tidak
memenuhi panggilan PLN sampai habis masa peringatan;
c. Pelanggan datang memenuhi panggilan PLN, tetapi Pelanggan mengulur waktu sehingga
menghambat proses penyelesaian P2TL; atau
d. Pelanggan tidak melunasi Tagihan Susulan dan Biaya P2TL lainnya sesuai jangka waktu atau tahapan
yang telah ditetapkan pada SPH.

Adapun Pembongkaran Rampung dilakukan kepada Pelanggan dan Bukan Pelanggan apabila :

a. Pelanggan yang melakukan Pelanggaran yang tidak memenuhi panggilan PLN sampai dengan
habisnya masa peringatan II;
b. Sampai dengan 2 (dua) bulan sejak Pemutusan Sementara, Pelanggan belum melunasi Tagihan
Susulan yang telah ditetapkan atau belum melaksanakan pembayaran Tagihan Susulan sesuai SPH;
c. Bukan Pelanggan yang melakukan Sambungan Langsung dan ditindaklanjuti dengan ditandatangani
Berita Acara Hasil Pemeriksaan P2TL.

Penyambungan kembali bagi Pelanggan yang telah dikenakan Pemutusan Sementara dilakukan paling
lama 2 (dua) hari kerja apabila Pelanggan telah membayar Tagihan Susulan, Biaya P2TL Lainnya atau
telah menandatangani SPH dan telah melunasi angsuran pertama. Adapun penyambungan kembali bagi
Pelanggan yang telah dikenakan Pembongkaran Rampung diberlakukan sebagai Pelanggan pasang
baru, setelah melunasi Tagihan Susulan serta biaya P2TL lainnya dan/atau telah menandatangani SPH
dan telah melunasi angsuran
pertama. Sedangkan Penyambungan tenaga listrik kepada Bukan Pelanggan yang telah dilakukan
Pembongkaran
Rampung dapat diproses sebagai Pelanggan baru sepanjang secara teknis memungkinkan dan material
pendukung tersedia sesuai ketentuan yang berlaku setelah melunasi TS4, serta biaya P2TL lainnya.