Anda di halaman 1dari 18

EFUSI PLEURA (Radioopak)

 Perlu cairan + 300 ml agar efusi pleura dapat terlihat pada foto thoraks tegak
 Foto lateral dapat mendeteksi efusi pleura + 75ml dan foto latral dekubitus dapat
mendeteksi cairan 15-20 ml
 Foto lateral dekubitus fungsi :
- Mendeteksi efusi yang minimal
- Menentukan apakah efusi dapat mengalir secara bebas atau tidak  sebelum
aspirasi cairan pleura
- Melihat bagian paru yang sebelumnya tertutup cairan sehingga kelainan yang
sebelumnya terselubung dapat terlihat
 Gambaran radiologi :

Efusi subpulmonal :
- Hampir semua efusi awalnya terkumpul di bawah paru antara pleura parietal
yang melapisi diafragma dengan pleura viseralis lobus inferior
- Gambaran diafragma bukan diafragma yang sebenarnya karena cairan pleura
terkumpul di atas diafragma  menggeser ke arah lateral
- Kiri : peningkatan jarak antara udara lambung dengan udara paru
- Foto lateral : penumpulan sulkus kostofrenikus posterior
- Penebalan pleura biasanya berbentuk skislope (lereng untuk ski) dan tidak
berubah jika posisi pasien berubah
- Tanda meniskus  khas pada efusi pleura
- Cairan pleura akan lebih tinggi di bagian tepi

Perselubungan pada hemitoraks :


- Terjadi ketika rongga pleura mengandung 2L cairan pada dewasa
- Paru akan kolaps secara pasif
- Efusi yang besar : mendorong jantung dan trakea menjauhi sisi yang terkena
efusi
- CT diperlukan untuk melihat keadaan paru yang terselubung

Pseudotumor fisura :
- Disebut juga vanishing tumor
- Merupakan koleksi cairan oleura yang berbatas tegas dan terletak di fisura
atau subpleura di bawah fisura
- Bersifat transudat dan hampir selalu terjadi pada pasien dengan gagal jantung
- Merupakan gambaran khas dan tidak boleh dianggap tumor
- Berbentuk lentikular dan memiliki ujung yang runcing pada kedua sisi
(seperti buah lemon)
- Tidak berubah pada perubahan posisi pasien
- Menghilang dengan terapi gagal jantung
 DD :
Bilateral : Gagal jantung, lupus eritematous
Satu sisi : Tuberkulosis, tromboemboli paru, trauma
Kiri : Pankreatitis, dressler’s syndrome, obstruksi duktus torasikus distal
Kanan : Meig’s syndrome, artritis rematoid, obstruksi duktus torasikus proksimal
 Manifestasi Klinis:
- Dapat asimtomatik
- Sesak
- Batuk dahak atau darah
- Nyeri dada
- Edeme generalisata
- Penurunan BB dan malaise
- Gejala yang berhubungan denagn penyakit sistemik yang mednasari seperti
artritis rematoid, pankreatitis, gagal ginjal kronik
- Hipoksia
- Penurunan suara pernafasan pada saat auskultasi dan redup saat diperkusi
Pneumotoraks (Radiolusen)
 Akumulasi udara dalam rongga pleura
 Komplikasi dari trauma toraks
 Kategori :
- Sederhana : tidak ada hubungan dengan udara luar atau mediastinum, tidak
terdapat pergeseran garis tengah
- Komunikans: berhubungan dengan defek pada dinding dada
- Tension : Akumulasi udara progresif dengan tekanan dalam rongga pleura
yang menyebabkan pergeseran mediastinum dengna kompresi paru kontra
lateral dan pembuluh darah besar
 Gambaran radiologi :
- Batas pleura viseral terlihat
- Kehilangan volume pada sisi yang terkena (hemidiafragma meninggi)
- Pleural viseral memiliki kurva konveks yang membedakan dari bula atau kista
di paru
- Corakan bronkovaskular tidak terlihat di distal dari pleural viseral
- Pneumotoraks minimal dapat tidak terlihat pada pemeriksaan inspirasi
standar. Pemeriksaan saat ekspirasi dapat bermanfaat
- Tension : merupakan diagnosis klinis dan bukan diagnosis radiologi.
Pergeseran mediastinum ke sisi yang berlawanan dapat terlihat. Deep sulcus
sign merupakan sudut kostofrenikus yang tertekan ke bawah dengan
gambaran lusen pada sulku stesebut, Deep sulcus sign terlihat pada proyeksi
supine
 Manifestasi Klinis:
- Nyeri dada dan sesak
- Yang berat terdapat sianosi dan takipneu
- Dapat asimtomatis
- Tanda tension pneumothorax :
Takikardi, distensi vena jugularis, tidak terdengar suara pernafasan,
hiperresonan pada perkusi, pergeseran trakea dan jantung menjauhi sisi yang
terkena

 DD : Akut aorta diseksi, akut koroner sindrom, akut perikarditis, ruptur esofagus, HF,
emboli paru, infark myokard, fraktur iga
ATELEKTASIS (Radioopak)
 Kehilangan volume di sebagian atau seluruh paru sehingga disebut juga kolaps paru
 Atelektasis kecuali yang disebabkan sikatrik, bersifat reversible
 Gambaran radiologi :

Tanda langsung :
- Perubahan letak fisura interlobaris
- Penambahan opasitas (penuruan aerasi)
- Corakan bronkovaskular bertambah

Tanda tidak langsung :


- Elevasi diafragma
- Pergeseran mediastinum
- Pergeseran trakea
- Pergeseran letak hilus
- Hiperaerasi kompensasi dari paru yang normal
- Penyempitan sela iga

Atelektasi subsegmental (diskoid / plate – like):


- Pada pasien yang kurang aktif
- Berhubungan dengan gangguan fungsi surfaktan
- Gambaranan linear dengan berbagai ketebalan yang biasanya paralel dengan
diafragama
- Paling sering telihat di bagian basis paru
- Tidak mengakibatkan penurunan volume yang cukup besar untuk
menyebabkan pergeseran struktur di rongga dada

Kompresif : Terdapat gambaran pneumotoraks atau efusi pleura yang tidak


menyebabkan pendorongan struktur di rongga dada
Atelektasis bundar:
- Dapat dianggap sebagai tumor pada foto polos toraks
- Tampak sebagai massa homogen yang dapat berukuran sampai 5cm dengan
batas yang tidak tegas
- Pemeriksaan CT bersifat diagnostik  terlihat berbasis di pleura dan terdapat
gambaran vaskular yang beraidasi seperti ekor komet
 Manifestasi Klinis:
- Sesak
- Batuk
- Hemoptisis
- Asimtomatis
- Gejala yang berhubungan dengan penyakit yg mendasari : penuruna bb,
anoreksia, kaheksia, keringat malam
 DD : abses paru, asbestosis, pneumotoraks, ca paru
BRONKIEKTASIS (Radiolusen)
 Pelebaran bronkus yang disertai kerusakan dinding bronkus yang bersifat kronik atau
menetap
 Pelebaran atau dilatasi bronkus lokal dan permanen sebagai akibat kerusakan struktur
dinding dilatasi abnormal proksimal dari bronkus ukuran medium diameter >2mm
 Manifestasi klinis:
- Gangguan fungsi silia dan adanya stasis secret
- Ada batuk produktif
- Hemoptisis
 Gambaran radiologi :
- Tampak infiltrat pada paru bagian basal dengan daerah radiolusen yang
multipel menyerupai sarang lebah (honey comb app)
 DD : bronkitis kronis, tb paru, abses paru, tumor paru
PNEUMONIA (Opaque)
Definisi
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminal
is yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jarin
gan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.

Manifestasi Klinis
 Demam
 Batuk produktif
 Sesak nafas
 Nyeri Dada

Gambaran Radiologi
Gambaran konsolidasi pada segmen atau lobus pulmonal
*konsolidasi bukan hanya untuk gambaran infeksi, tetapi pada setiap proses patologis yang
mengisi alveoli seperti pus, darah, dan cairan bisa timbul gambaran konsolidasi
BRONKITIS (Opaque)
Definisi
Peradangan pada bronkus

Manifestasi Klinis
 Batuk produktif
 Demam (jarang)

Gambaran Radiologi
 Pada bronkitis akut tidak didapatkan gambaran positif
 Pada bronkitis kronis didapatkan corakan ramai pada basal paru
 Ringan: corakan ramai pada bagian basal paru
 Sedang: gambaran seperti di atas dan ditambah dengan gambaran emfisema, bronkiek
tasis parakardial kanan dan kiri.
 Berat: seperti gambaran di atas dan disertai gambaran cor pulmonale
TUMOR PARU (JINAK)
Manifestasi klinis tumor paru :
1. Gejala awal.
Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.
2. Gejala umum.
a. Batuk
Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai
batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana
dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
b. Hemoptisis
Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami
ulserasi.
c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan

Tumor Jinak Paru


Tumor jinak paru jarang dijumpai, hanya sekitar 2% dari seluruh tumor paru, biasanya
ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin, karena tumor jinak jarang memberikan
keluhan dan tumbuh lambat sekali.
1. Hamartoma
Hamartoma merupakan tumor jinak paru yang pertambahan besarnya
berlangsung dengan sangat lambat. Tumor ini jarang didapati pada anak-anak,
biasanya di atas umur 40 tahun. Sebagian besar (90%0 ditemukan di perifer paru dan
sebagian lagi di sentral (endobronkial) dan sering terdapat di beberapa bagian paru
(multiple).
Bentuk tumor bulat atau bergelombang (globulated) dengan batas yang tegas.
Biasanya ukuran kurang dari 4cm dan sering mengandung kalsifikasi berbentuk
bercak-bercak garis atau gambaran pop corn. Kalsifikasi ini akan bertambah dengan
bertambah besarnya tumor. Pembentukan kavitas tidak pernah terjadi. 1,3
Gambar Hamartoma

2. Kista Paru
Terbentuknya kista paru merupakan hiperinflasi udara ke dalam parenkim
paru melalui suatu celah berupa klep akibat suatu peradangan kronis. Kista paru
dapat pula disebabkan kelainan kongenital yang secara radiologik tidak dapat
dibedakan dengan kista paru didapat (akibat peradangan). Gambaran radiologik
memberi bayangan bulat berdinding tipis dengan ukuran bervariasi. Bila kista paru
lebih dari satu dan tersebar di kedua paru dikenal sebagai paru polikistik. 1,3

Gambar Kista Paru


TB PARU
Tuberkulosis merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis,
yang terutama menyerang saluran pernafasan, walaupun juga dapat melibatkan semua sistem
tubuh.

Gambaran radiologis
Pada tuberkulosis primer hal-hal berikut dapat terlihat pada sinar-x dada:
 Daerah konsolidasi pneumonik perifer (fokus Ghon) dengan pembesaran kelenjar
hilus mediastinum (kompleks primer). Keadaan ini biasanya dapat sembuh dengan
gambaran kalsifikasi.
 Daerah konsolidasi yang dapat berukuran kecil, lobaris, atau lebih luas hingga
seluruh lapangan paru

Tuberkulosis postprimer atau tuberkulosis reaktif:


 Konsolidasi bercak, teruatama pada lobus atas atau segmen apikal pada lobus bawah,
sering disertai kavitasi.
 Efusi pleura, empiema, atau penebalan pleura.
 Tuberkulosis milier: nodul-nodul diskret berukuran 1-2 mm yang dapat terdistribusi
di seluruh lapangan paru akibat penyebaran hematogen.
 Limfadenopati mediastinum atau hilus bukan merupakan gambaran tuberkulosis,
kecuali pada pasien acquired immune deficiency syndrome (AIDS)

Selama berlangsung proses penyembujan, gambararan yang dapat dikenali adalah fibrosis
dan pengecilan volume paru; fokus kalsifikasi; tuberkuloma; granuloma terlokalisasi yang
sering mengalami kalsifikasi; kalsifikasi pleura.
EDEMA PARU
Manifestasi Klinis Umum
a. Stadium 1.

 Sesak napas saat bekerja.


 Pemeriksaan fisik juga tak jelas menemukan kelainan, kecuali mungkin adanya
ronkhi pada saat inspirasi karena terbukanya saluran napas yang tertutup pada saat
inspirasi

b. Stadium 2.

 Pada stadium ini terjadi edema paru intersisial. Batas pembuluh darah paru menjadi
kabur, demikian pula hilus juga menjadi kabur dan septa interlobularis menebal (garis
Kerley B).
 Takhipnea.

c. Stadium 3.

 Pada stadium ini terjadi edema alveolar.


 Hipoksemia dan hipokapnia.
 Penderita tampak sesak sekali dengan batuk berbuih kemerahan.
 Penderita biasanya menderita hipokapnia, tetapi pada kasus yang berat dapat terjadi
hiperkapnia dan acute respiratory acidemia.

Diagnosis

Pemeriksaan Fisik

 Sianosis sentral. Sesak napas dengan bunyi napas seperti mukus berbuih.
 Ronchi basah nyaring di basal paru kemudian memenuhi hampir seluruh lapangan
paru, kadang disertai ronchi kering dan ekspirasi yang memanjang akibat
bronkospasme sehingga disebut sebagai asma kardiale. Takikardia dengan S3 gallop.
Foto thoraks

X-ray dada yang khas dengan pulmonary edema mungkin menunjukan lebih banyak
tampakan putih pada kedua bidang-bidang paru dari pada biasanya. Kasus-kasus yang lebih
parah dari pulmonary edema dapat menunjukan opacification (pemutihan) yang signifikan
pada paru-paru dengan visualisasi yang minimal dari bidang-bidang paru yang normal.
Pemutihan ini mewakili pengisian dari alveoli sebagai akibat dari pulmonary edema.

Gambaran Radiologi yang ditemukan :


1. Pelebaran atau penebalan hilus (dilatasi vaskular di hilus)
2. Corakan paru meningkat (lebih dari 1/3 lateral)
3. Kranialisasi vaskuler
4. Hilus suram (batas tidak jelas)
5. Interstitial fibrosis (gambaran seperti granuloma-granuloma kecil atau nodul milier)
DD

 Emboli Paru
 Asma Bronkhial
ABSES PARU

Manifestasi Klinis Umum


 Demam
 Batuk produktif
 Kehilangan berat badan
 Nyeri dada
 Rasa berat di dada
 Malaise

Manifestasi Klinis Khas


Gejala paling spesifik dan petanda patognomonik
1. Infeksi kuman anaerob
 Napas berbau atau sputum berbau busuk (50-60% pasien)
 Hemoptisis didapatkan (25% pasien)
2. Infeksi oleh jamur, Nocardia dan Mycobacteria
 Perjalanan penyakit cenderung lambat dan secara perlahan terjadi perburukan gejala.

Diagnosis Banding (DD) Secara Radiologis


 Carcinoma
 Tuberkulosis
 Empiema

Gambaran Radiologi
X-Ray Radiografi
 Pada hari-hari pertama  Gambaran opak dari satu atau lebih segmen paru, atau
gambaran densitas homogeny yang berbentuk bulat.
 Gambaran radiolusen dalam bayangan infiltrate yang padat.
 Defek lusen atau kavitas.
 Eksudat menghasilkan batas udara air (air-fluid level) di dalam cavitas pada
pemeriksaan radiografik
 Hilangnya corakan bronkovaskular normal (nekrosis)
 Edema lokal dan pendarahan.
Posisi Posterior-Anterior (PA) :
Terdapat area berbatas tegas transparan di lobus kiri atas (panah putih).
Kavitas diisi oleh cairan dan udara (air-fluid level) (panah hitam).

Posisi Lateral
Terdapat kavitas disertai air fluid level pada lobus kanan paru (panah putih)
EMFISEMA

Manifestasi Klinis Umum


 Kurus
 Warna kulit pucat
 Flattened hemidifragma
 Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir.
 Usia 65-75 tahun
 Pemeriksaan jantung.
Tidak terjadi pembesarab jantung. Kor pulmonal timbul pada stadium akhir.
 Riwayat merokok
Biasanya di dapat,tetapi tidak selalu ada riwayat merokok.

Manifestasi Klinis Khas


 Nafas pendek persisten dengan peningkatan dispenia
 Infeksi sistem respirasi
 Wheezing ekspirasitidak ditemukan dengan jelas
 Produksi sputum dan batuk jarang
 Hematikrit <60%

Diagnosis Banding (DD)


 COPD

Gambaran Radiologi
Chest X-Ray Radiografi
 Dapat menunjukkan hiperinflasi paru,
 Diafragma letak rendah dan mendatar
 Peningkatan ruang udara retrosternal
 Penurunan tanda vascular / bulla (emfisema)
 Jantung tampak sempit memanjang
 Peningkatan bentuk bronchovaskular bronchitis
 Normal ditemukan saat periode remisi asthma
EMPIEMA

Manifestasi Klinis Umum


 Sering dijumpai demam
 Malaise dan kehilangan berat badan pada empiema kronis
 Penderita sering mengeluh adanya nyeri pleura (Pleuritic pain)
 Dispnu dapat disebabkan akibat kompresi atau penekanan pada paru-paru oleh cairan
empyema
 Batuk sering dijumpai dan adanya fistula bronkopleural yang disertai dengan sputum
yang purulen yang dapat dibatukkan

Diagnosis Banding (DD)


 Pleural Effusion
 Schwarte

Gambaran Radiologi
 Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut kostofrenikus
pada posisi posteroanterior atau lateral.
 Dijumpai gambaran yang homogen pada daerah posterolateral dengan gambaran opak
yang konveks pada bagian anterior yang disebut dengan D-shaped shadow yang
mungkin disebabkan oleh obliterasi sudut kostofrenikus ipsilateral pada gambaran
posteroanterior.
 Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan dengan efusi.
 Air-fluid level dapat dijumpai jika disertai dengan pneumotoraks, fistula
bronkopleural.
Tumor Ganas Paru

Sebagian besar tumor ganas paru termasuk karsinoma bronkogen adalah jenis
epidemoid 60 %, ditemukan pada laki-laki dengan rasio 10-20 : 1 pada usia 60 tahun.

Manifestasi klinis :
1. batuk akut / kronis
2. hemoptosis
3. wheezing atau stridor
4. membentuk cavitas
5. atelectasis
6. BB menurun

gambaran radiologis
1. atelectasis
2. pembesaran hilus unilateral
3. emfisema local
4. kavitas/abses soliter
5. pneumonitis
6. masa di paru
7. tumor paru
8. efusi pleura
9. elevasi diafragma
10. perselubungandengan destruksi tulang sekitar
11. metastasis paru