Anda di halaman 1dari 11

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK :
MANAJEMEN PENYIDIKAN TERHADAP KEJAHATAN KONVENSIONAL

JUDUL :
OPTIMALISASI PENGAWASAN PENYIDIKAN OLEH POLRESTABES MEDAN
GUNA TRANSPARANSI PENANGANAN PERKARA PERTANAHAN
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri menjadi suatu
permasalahan dalam upaya untuk mendorong pembangunan nasional. Bahkan,
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengakui, tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap Polri masih sangat rendah yang mana hal tersebut harusnya menjadi
pekerjaan rumah yang harus dibenahi1. Salah satu indikator rendahnya
kepercayaan masyarakat terhadap Polri dalah masih rendahnya tingkat kepuasan
terhadap bidang hukum (hanya 53,20%, data April 2017)2. Sedangkan kepuasan
pada bidang politik dan keamanan menurun sebesar 4%. Ini menjadi pekerjaan
rumah yang besar bagi Polri untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat
khususnya terhadap Polri dan umumnya terhadap pemerintahan yang sejalan
dengan nawacita Presiden Joko Widodo yaitu mengembalikan kepercayaan publik
terhadap pemerintah.
Salah satu hal yang berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat
terhadap Polri adalah transparansi khususnya transparansi penanganan perkara
hukum. Transaparansi merupakan kondisi dimana seluruh kegiatan yang
dilakukan oleh institusi pemerintahan dapat dipantau oleh publik dengan akses
yang mudah dan tidak ditutup-tutupi. Di Polrestabes Medan sendiri kasus yang
menjadi perhatian besar publik adalah perkara pertanahan dimana banyak

1 http://news.liputan6.com/read/2836657/kapolri-kepercayaan-publik-terhadap-polri-masih-sangat-rendah
2
http://nasional.kompas.com/read/2017/05/30/12221421/survei.kompas.kepuasan.publik.terhadap.pemerintah.turun.
di.4.bidang.
1
2

masyarakat yang menilai penanganannya masih kurang transparan. Perkara


pertanahan yang terjadi di wilayah hukum Polrestabes Medan sangat tinggi, hal ini
dapat dilihat dari jumlah kasus pertanahan yang ditangani. Tahun 2015 ada 218
kasus dan tahun 2016 sedikit menurun menjadi 194 kasus. Kemudian hingga
kuartal kedua tahun 2017 ada sebanyak 94 kasus pertanahan (terlampir).
Bandingkan dengan kasus yang selesai tahun 2015 ada 33 kasus selesai, tahun
2016 32 kasus selesai dan tahun 2017 baru 12 kasus selesai. Melihat kondisi ini
tentu saja memerlukan perhatian khusus dari Satreskrim Polrestabes Medan
khususnya Unit Harda agar penanganan perkara pertanahan dapat ditangani
dengan baik dan transparat.
Berdasarkan hal tersebut di atas, agar penanganan perkara pertanahan
transparan, maka diperlukan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaannya
melalui pengawasan penyidikan yang dilaksanakan oleh Kaurbinops (KOB)
Satreskrim Polrestabes Medan. Pengawasan penyidikan sendiri memiliki prinsip
salah satunya adalah menjamin prinsip transparansi dan akuntabilitas kinerja
penyidik. Namun berdasarkan pengamatan penulis, pelaksanaan pengawasan
penyidikan selama ini belum optimal ditinjau dari metode yang dilakukan yaitu
eksaminasi dan analisa dan evaluasi. Oleh karena itu perlu upaya komprehensif
agar pengawasan penyidikan ini berjalan secara optimal sehingga penanganan
perkara pertahanan dilaksanakan dengan transparan.
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan fenomena yang diuraikan dalam latar belakang, maka pokok
permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “Bagaimana optimalisasi
pengawasan penyidikan oleh Polrestabes Medan agar dapat mendukung
transparansi penanganan perkara pertanahan sehingga kepercayaan masyarakat
terwujud?’’
C. Pokok-pokok Persoalan
Adapun pokok-pokok persoalan berdasarkan permasalahan yang telah
dirumuskan, antara lain:
1. Bagaimana eksaminasi penanganan perkara pertanahan yang dilaksanakan
oleh Satreskrim Polrestabes Medan?
2. Bagaimana analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan yang
dilaksanakan oleh Satreskrim Polrestabes Medan?
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Judul
1. Variabel Judul
a. Variabel 1: “Optimalisasi pengawasan penyidikan oleh Polrestabes
Medan”
b. Variabel 2: “Transparansi Penanganan Perkara Pertanahan”.
c. Variabel 3: “Terwujudnya Kepercayaan Masyarakat”.
2. Kata Kunci Variabel
a. Kata kunci variabel 1: “Pengawasan Penyidikan”.
b. Kata kunci variabel 2: “Transparansi”.
c. Kata kunci variabel 3: “Kepercayaan Masyarakat”.
3. Kriteria Kata Kunci
a. Kata kunci “Pengawasan Penyidikan” diuraikan dengan menggunakan
Perkabareskrim Nomor 4 Tahun 2014.
Pengawasan Penyidikan adalah serangkaian kegiatan Pengawas
Penyidikan yang dilakukan terhadap petugas penyelidik dan penyidik,
kegiatan penyelidikan dan penyidikan, administrasi penyelidikan dan
penyidikan serta administrasi lain yang mendukung penyelidikan dan
penyidikan berdasarkan surat perintah pengawasan penyidikan.
Metode pengawasan yang dibahas dalam naskah ini adalah
Eksaminasi dan Anev.
b. Kata kunci “Transparansi” diuraikan dengan menggunakan
Pengertian menurut Lalolo (2003:13)3.
Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau
kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang
penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan,
proses pembuatan serta hasil yang dicapai.
c. Kata kunci “Kepercayaan Masyarakat” diuraikan dengan
menggunakan pendapat Lubis (1994: 81)
Trust / Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu
pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan

3 Lalolo krina, Loina.2003.Indikator Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan Partisipasi.
Jakarta :Badan Perencanaan PembangunanNasional.

3
4

merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan


konteks sosialnya. Dalam hal ini kepercayaan masyarakat adalah
keyakinan masyarakat kepada pemerintah untuk bertumpu kepadanya.
B. Kondisi Pokok Bahasan
1. Kondisi Faktual
a. Kondisi eksaminasi penanganan perkara pertanahan yang
dilaksanakan oleh Satreskrim Polrestabes Medan
1) Kaurbinops Satreskrim belum optimal dalam mengawasi
administrasi penyelidikan dan penyidikan yang meliputi
kelengkapan administrasi, legalitas dan akuntalitas administrasi,
buku register perkara, dan pengisian serta pencatatan tata naskah
(takah) perkara;
2) Pengawasan terhadap timeline penyidikan kurang ketat sehingga
banyak tahapan yang dilaksanakan melebihi waktu yang
ditetapkan akibatnya penyidikan memakan waktu yang lebih lama;
3) Kaurbinops Satreskrim kurang teliti dalam melakukan pengecekan
kelengkapan berkas perkara sebelum diajukan ke JPU sehingga
sering terjadi bolak-balik berkas perkara;
4) Pengawasan yang dilakukan belum sepenuh hati karena
kurangnya motivasi personel sehingga kurang menjamin proses
penyidikan terlaksana secara transaparan dan akuntabel.
b. Kondisi analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan
yang dilaksanakan oleh Satreskrim Polrestabes Medan
1) Kaurbinops kurang merencanakan dengan baik pelaksanaan gelar
perkara sehingga berpengaruh terhadap setiap tahapan gelar
pekara akibatnya gelar perkara kurang mendukung transparansi
penyidikan;
2) Kaurbinops Satreskim kurang aktif melakukan pengecekan hasil
gelar perkara dan hanya menunggu laporan dari penyidik terkait
hasil gelar perkara;
3) Kaurbinops belum optimal dalam melaksanakan bimbingan dan
arahan terutama terkait dengan sikap, moral, dan perilaku
penyidik selama melaksanakan tugas, yang akibatnya ada
penyidik yang menyimpang dan menerima suap;
5

4) Pemberian arahan dan bimbingan terkait teknis dan taktis


penyelidikan/penyidikan serta profesionalisme penyidik kurang
dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan.
c. Implikasi
Kondisi di atas berimplikasi pada penanganan perkara pertanahan
yang tidak transparan sehingga kepercayaan masyarakat menurun.
2. Kondisi Ideal
a. Kondisi eksaminasi penanganan perkara pertanahan yang
dilaksanakan oleh Satreskrim Polrestabes Medan
1) Kaurbinops Satreskrim telah optimal dalam mengawasi
administrasi penyelidikan dan penyidikan yang meliputi
kelengkapan administrasi, legalitas dan akuntalitas administrasi,
buku register, serta pengisian dan pencatatan takah perkara;
2) Pengawasan terhadap timeline penyidikan yang ketat sehingga
tahapan yang dilaksanakan sesuai denga waktu yang ditetapkan;
3) Kaurbinops Satreskrim teliti dalam melakukan pengecekan
kelengkapan berkas perkara sebelum diajukan ke JPU sehingga
tidak terjadi bolak-balik berkas perkara;
4) Dilaksanakannya pengawasan dengan sepenuh hati karena
tingginya motivasi dan integritas pengawas sehingga menjamin
proses penyidikan terlaksana secara transaparan dan akuntabel.
b. Kondisi analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan
yang dilaksanakan oleh Satreskrim Polrestabes Medan
1) Kaurbinops telah merencanakan dengan baik pelaksanaan gelar
perkara sehingga mendukung setiap tahapan gelar pekara dan
dapat berjalan optimal dan mendukung transparansi penyidikan;
2) Kaurbinops Satreskim aktif melakukan pengecekan hasil gelar
perkara dan tidak hanya menunggu laporan dari penyidik terkait
hasil gelar perkara;
3) Kaurbinops optimal dalam melaksanakan bimbingan dan arahan
terutama terkait dengan sikap, moral, dan perilaku penyidik,
sehingga tidak ada penyidik yang mudah dan dapat disuap;
4) Pemberian arahan dan bimbingan terkait teknis dan taktis
penyelidikan/penyidikan serta profesionalisme penyidik
dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan.
6

c. Kontribusi
Kondisi di atas berimplikasi pada penanganan perkara pertanahan
yang transparan sehingga kepercayaan masyarakat terwujud.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
1. Faktor Internal
a. Kekuatan
1) Komitmen Kapolrestabes Medan untuk menjamin transparansi
penanganan perkara pertanahan melalui pengawasan penyidikan;
2) Kemampuan Pesonel Urbinops (KOB) Satreskrim Polrestabes
Medan dalam melaksanakan pengawasan penyidikan;
3) Adanya berbagai piranti lunak yang mendukung pelaksanaan
pengawasan penyidikan;
4) Adanya MoU dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sehingga
mendukung transparansi penanganan perkara pertanahan;
5) Adana Propam dan Siwas yang dapat mendukung pengawasan.
b. Kelemahan
1) Tingginya beban kerja Personel urbinops dengan indikasi
banyaknya Laporan Polisi;
2) Adanya intervensi atasan dalam penanganan perkara pertanahan;
3) Perilaku koruptif personel dalam penanganan perkara pertanahan;
4) Anggaran penyidikan yang minim;
5) Belum optimalnya kebijakan reward and punishment
mengakibatkan lemahnya motivasi personel.
2. Faktor Eksternal
a. Peluang
1) Adanya sinergitas dengan kejaksaan dalam penanganan perkara;
2) Komitmen BPN dalam mendukung penanganan perkara
pertanahan;
3) Dukungan masyarakat agar penanganan perkara transparan;
4) Dukungan akademisi terhadap Polrestabes Medan dalam proses
penanganan perkara;
5) Adanya dukungan dari Pemerintah Kota Medan.
b. Ancaman
1) Banyaknya mafia tanah di wilayah hukum Polrestabes Medan;
2) Adanya tumpang tindik hak atas tanah;
7

3) Kebutuhan akan pemukiman yang meningkat;


4) Perkembangan kota yang sangat pesat menjadikan lahan semakin
sulit diperoleh;
5) Adanya keterlibatan ormas dalam perkara pertanahan.
D. Upaya Pemecahan Masalah
1. Visi
Tercapainya pengawasan penyidikan oleh Polrestabes Medan yang
optimal agar penanganan perkara pertanahan transparan sehingga
kepercayaan masyarakat terwujud.
2. Misi
a. Mewujudkan eksaminasi penanganan perkara pertanahan oleh
Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
b. Mewujudkan analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan
oleh Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
3. Tujuan
a. Terwujudnya eksaminasi penanganan perkara pertanahan oleh
Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
b. Terwujudnya analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan
oleh Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
4. Sasaran
a. Melakukan peningkatan metode eksaminasi penanganan perkara
pertanahan oleh Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
b. Melakukan peningkatan analisa dan evaluasi penanganan perkara
pertanahan oleh Polrestabes Medan yang efektif dan efisien.
5. Kebijakan
Melaksanakan Perkap No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Tindak
Pidana dan Perkabareskrim No. 4 Tahun 2014 tentang SOP Pengawasan
Penyidikan Tindak Pidana secara efektif dan efisien agar penanganan
perkara pertanahan dapat dilaksanakan secara transparan.
6. Strategi
Untuk mengoptimalkan peran KBO Satreskrim Polrestabes Medan,
maka grand stategy berdasarkan perhitungan IFAS dan EFAS (terlampir)
berada pada posisi strategi Diversifikasi (ST) yaitu pola strategi pemanfaatan
kekuatan untuk mengatasi ancaman. Adapun berdasarkan perhitungan
SFAS pengelompokkan variabel kunci strategi dapat dilihat pada lampiran.
8

7. Action Plan
a. Jangka Pendek (0-6 Bulan)
1) Mengeliminir munculnya intervensi, melalui:
a) Kasatreskrim menekankan kepada penyidik agar transparan
dalam setiap penanganan perkara, sehingga pihak yang
berpekara mengerti proses perkembangan perkaranya.
b) Kaurbinops intens melaksanakan pengecekan terhadap
setiap penanganan perkara.
2) Menumbuhkan budaya anti koruptif terhadap personel dan
penyidik, dengan cara :
a) Kasatreskrim menekankan pentingnya perilaku jujur dalam
pelaksanaan tugas melalui jam pimpinan;
b) Kasatreskrim mengadakan pembinaan rohani dan mental
melalui ESQ, MQ untuk menumbuhkan sikap religius
personel sehingga tumbuh pula jiwa anti korupsi.
3) Mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan reward and punishment,
melalui:
a) Kasatreskrim memberikan penghargaan bagi personel yang
berprestasi.
b) Kasatreskrim menyusun indikator pemberian reward and
punishment melalui penilaian berbasis kinerja yang obyektif.
4) Memberdayakan dukungan masyarakat, dengan cara :
a) Kasatreskrim membuka kotak pengaduan, saran dan
rekomendasi terkait kualitas kinerja penyidik
b) Kasatreskrim mengundang elemen dan potensi masyarakat
untuk bersama-sama mengawasi proses penyidikan perkara
pertanahan serta selalu mengupdate secara berkala
perkembangan kasus melalui media web yang ada.
5) Melakukan penegakan hukum terhadap mafia tanah, dengan cara:
a) Kasatreskrim menekankan kepada penyidik agar tidak
memberikan ruang kepada mafia tanah untuk masuk dalam
penanganan perkara.
b) Kasatreskrim melakukan tindakan tegas kepada mafia tanah
dengan melakukan proses penegakkan hukum sesuai
prosedur.
9

b. Jangka Sedang (0-12 Bulan)


1) Meningkatkan kemampuan Kaurbinops Satreskrim dalam
melaksanakan pengawasan penyidikan, dengan cara :
a) Kabagsumda membuat telaahan staf ke Biro SDM untuk
dilaksanakan assesment kepada para perwira yang akan
menempati jabatan Kaurbinops.
b) Kasatreskrim memberikan reward kepada Kaurbinops.
2) Mengimplementasikan Komitmen Pimpinan melalui pembenahan
pengawasan penyidikan, dengan cara :
a) Kasatreskrim melaksanakan perencanaan pengawasan
penyidikan sesuai dengan tantangan tugas;
b) Kasatreskrim membuat prosedur teknis yang mudah
dipahami dalam pelaksanaan pengawasan penyidikan.
3) Memberdayakan dukungan akademisi terhadap Polrestabes
Medan, melalui:
a) Membuat kerjasama terkait pelatihan peningkatan personel
Uribinops Satreskrim dalam memeriksa berkas/administrasi
perkara;
b) Melaksanakan diklat di perguruan tinggi terkait prosedur dan
pemahaman tentang alur serta isi administrasi yang baik dan
benar sesuai dengan teori yang ada.
c. Jangka Panjang (0-24 Bulan)
1) Meningkatkan sinergitas dengan kejaksaan dalam penanganan
perkara, melalui:
a) Kasatreskrim melaksanakan pelatihan bersama dengan
Kejaksaan secara berkesinambungan dan intensif;
b) Kasatreskrim bersama Kejaksaan membuat sistem terpadu
dalam penangaann perkara gune efektifitas dan transparansi
penanganan perkara.
2) Membangun kerjasama yang sinergis dengan BPN, dengan cara :
a) Kasatreskrim mengimplementasikan MoU dengan BPN
dalam bentuk kerjasama teknis dalam penanganan perkara
pertanahan;
b) Membuat sistem terintegrasi dengan BPN terkait kasus-
kasus pertanahan.
10

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Eksaminasi penanganan perkara pertanahan yang dilaksanakan oleh
Satreskrim Polrestabes Medan belum sepenuhnya optimal yang dapat
dilihat dari: Kaurbinops Satreskrim belum optimal dalam mengawasi
administrasi penyelidikan; Pengawasan terhadap timeline penyidikan
kurang ketat; kurang teliti dalam melakukan pengecekan kelengkapan
berkas perkara sebelum diajukan ke JPU; Pengawasan yang dilakukan
belum sepenuh hati karena kurangnya motivasi . Oleh karena itu maka
perlu strategi antara lain: meningkatkan kemampuan Kaurbinops,
mengoptimalkan kebijakan reward and punishment, meningkatkan
kerjasama dengan Kejaksaan.
2. Analisa dan evaluasi penanganan perkara pertanahan yang dilaksanakan
oleh Satreskrim Polrestabes Medan belum efektif dan efisien yang dapat
dilhat dari: KBO kurang merencanakan dengan baik pelaksanaan gelar
perkara; kurang aktif melakukan pengecekan hasil gelar perkara; belum
optimal dalam melaksanakan bimbingan dan arahan; Pemberian arahan
dan bimbingan terkait teknis dan taktis kurang dilaksanakan secara
intensif dan berkesinambungan. Oleh karena itu maka perlu strategi
antara lain: menumbuhkan budaya anti koruptif terhadap personel dan
penyidik; memberdayakan dukungan masyarakat; melakukan penegakan
hukum terhadap mafia tanah, dan mengimplementasikan komitmen
pimpinan melalui pembenahan pengawasan penyidikan.
B. Rekomendasi
Membuat usulan kepada Kapolda Sumut untuk mengusulkan kepada
Kapolri Up. Kabareskrim untuk menyelenggarakan sertifikasi pengawas
penyidikan utamanya di lingkungan Polres dan berkerjasama dengan BNSP
terkait penyelenggaraan sertifikasi tersebut serta menyusun daftar kompetensi
yang harus dimiliki oleh pengawas penyidikan.

10
11

DAFTAR PUSTAKA

Pearce and Robinson. 2013. Manajemen Strategis formulasi, implementasi dan


pengendalian. Edisi 12 Buku 1, Jakarta : Salemba Empat.

Rangkuti, Freddy. 2009. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta : PT
Gramedia.
Lalolo krina, Loina. 2003. Indikator Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan
Partisipasi. Jakarta :Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

M. Solly Lubis, 1994, “Filsafat Ilmu dan Penelitian”, Mandar Madju, Bandung

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia.
Kepolisian Negara Repubik Indonesia. Peraturan Kapolri Nomor 23 Tahun 2010
Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resor dan
Kepolisian Sektor

Kepolisian Negara Repubik Indonesia. Peraturan Kapolri Nomor. 14 Tahun 2012


tentang Manajemen Tindak Pidana

Kepolisian Negara Repubik Indonesia. Peraturan Kepala Badan Reserse dan Kriminal
Nomor 4 Tahun 2014 tentan SOP pengawasan penyidikan tindak pidana

http://news.liputan6.com/read/2836657/kapolri-kepercayaan-publik-terhadap-polri-
masih-sangat-rendah

http://nasional.kompas.com/read/2017/05/30/12221421/survei.kompas.kepuasan.publik.
terhadap.pemerintah.turun.di.4.bidang.

Anda mungkin juga menyukai