Anda di halaman 1dari 11

MITOKONDRIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tiap organisme atau makhluk hidup memiliki ukuran yang berbeda-beda. Semakin besar ukuran
organism itu, maka sel penyusunnya semakin banyak. Tubuh kita tersusun atas bermilyar-milyar sel.
Sel didefinisikan sebagai unit structural dan fungsional terkecil yang menyusun makhluk hidup.
Dalam menjalankan fungsinya, sel dilengkapi dengan bagian-bagian sel yang disebut dengan organel.
Salah satu organel yang penting dalam sel adalah mitokondria.

Mitkondria adalah organel yang berperan sebagai pabrik energi yang menghasilkan energi bagi sel
dalam bentuk ATP. Mitkondria memiliki struktur yang kecil, dan tersusun atas empat bagian.
Komposisi utama dari mitokondria sendiri adalah protein. Di dalam mitokondria, untuk membentuk
energi, terjadi proses yang disebut respirasi seluler. Respirasi seluler ini terbagi menjadi empat, yaitu
glikolisis, fermentasi, dekarboksilasi oksidatif piruvat, dan siklus krebs atau dikenal pula sebagai
siklus asam sitrat. Untuk lebih mengenal dan lebih memahami mengenai mitokondria, akan dibahas
di dalam makalah ini.

B. Rumusan masalah

Rumusan yang akan dibuat dari makalah ini :

1. Pengertian mitokondria

2. Stuktur mitokondria

3. Fungsi mitokondria

4. DNA mitokondria

5. Siklus krebs

6. Siklus hidup mitokondria

C. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makala, yaitu untuk mengetahui dan mamahami tentang mitokondria
baik struktur, komposisi kimia, dan proses yang terjadi pada mitokondria.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Mitokondria adalah {mito = banang, chondrion= granula/butiran} Sehingga dapat diartikan sebagai
organela dengan rangkaian butir-butir yang seperti benang. Mitokondria adalah organel sel yang
berfungsi sebagai tempat respirasi sel makhluk hidup. Secara garis besar, tahap respirasi pada
tumbuhan dan hewan melewati jalur yang sama, yang dikenal sebagai daur atau siklus Krebs.
Mitokondria kerap disebut sebagai “pembangkit energi” bagi sel karena mitokondria yang paling
banyak menghasilkan energi ATP untuk sel. Mitokondria berisi sejumlah enzim dan protein yang
membantu proses karbohidrat dan lemak yang diperoleh dari makanan yang kita makan untuk
melepaskan energi. Mitokondria terdiri dari :

· Membran luar yang berfungsi sebagai pembatas antara bagian dalam mitokondria dengan
sitoplasma.

· Membran dalam yang berlekuk-lekuk (krista) berfungi untuk memperluas permukan dan untuk
melangsungkan rantai respirasi yang menghasilka ATP.

· Ruang antar membran (antara membran dalam dan luar), berfungsi untuk oksidasi asam lemak
dan katabolisme asetil koenzim.

· Matriks mitokondria, merupakan sebuah ruang yang dikelilingi oleh membran dalam yang
berguna sebagai tempat oksidasi asam lemak dan katabolisme asetil koenzim.

Gambar mitokondria 1.1

B. Struktur mitokondria

Setiap mitokondria mengandung membran luar dan membran dalam. Membran luar menutupi
mirokondria dan bertindak sebagai batas luar. Membran dalam berlekuk-lekuk atau mengalami
invaginasi dan disebut dengan krista. Pada beberapa sel, seperti sel hati Mammalia, krista sangat
panjang dan memotong sepanjang diameter mitokondria. Pada sel tumbuhan, krista lebih berbentuk
tubular. Pelipatan membran dalam ini ditujuan untuk memperluas permukaan membran yang
penting untuk respirasi aerob.

Membran mitokodria membagi organel ini menjadi dua kompartemen. Yang pertama adalah matriks
yang berada ditengah dan ruang antarmembran yang terdapat antara membran luar dan membran
dalam. Matrik berbentuk gel dengan kandungan protein lebih dari 500 gr/ml.

memerlukan banyak ATP dalam jumlah banyak, misalnya sel otot jantung. Jumlah dan bentuk
mitokondria bisa berbeda-beda untuk setiap sel. Mitokondria berbentuk elips dengan diameter 0,5
µm dan panjang 0,5 – 1,0 µm. Struktur mitokondria terdiri dari empat bagian utama, yaitu membran
luar, membran dalam, ruang antar membran, dan matriks yang terletak di bagian dalam
membran.Membran memiliki lipid membran bilayer ganda.

- Membran luar

- Sistem membran dalam yang kompleks .

- Diantara kedua membran terdapat ruang anta/ inter membran.

- Matriks, berisi protein terlarut, berbentuk seperti gel

- Matriks mitokondria

- Mengandung ribosom, enzim, DNA sirkular.

- Mengandung enzim untuk pengubahan piruvat, asetil COA

Membran mitokodria membagi organel ini menjadi dua kompartemen. Yang pertama adalah matriks
yang berada ditengah dan ruang antarmembran yang terdapat antara membran luar dan membran
dalam. Matrik berbentuk gel dengan kandungan protein lebih dari 500 gr/ml.

1. Membran mitokondria

Membran dalam dan membran luar mitokondria memiliki penyusun yang berbeda. Membran luar
tersusun atas lebih dari 50% lipid serta mengandung berbagai macam enzim seperti enzim yang
beroperan oksidasi epinefrin, degradasi triptofan dan pemanjangan rantai asam lemak. Sebaliknya,
membran dalam memiliki ratio protein/lemak yang tinggi. Ditemukan lebih dari 60 polipeptida
berbeda pada membran ini. Membran luar mengandung porin, suatu protein integral dan
merupakan merman yang tidak selektif sehingga memungkinkan molekjul dengan ukuran 10.000
dalton dapat dengan masung ke dalam ruang antar membran, dengan demikian ruang antar
membran berhubungan dengan sitosol. Sebalinya membran dalam sengan tidak permeabel,
sehinggan molekul dan ion yang diperlukan semuanya terdapat dalam matriks mitokondria.

Di bawah mikroskop cahaya mitokondria berbentuk batang dengan diameter 0,5 - 1 mikron dan
panjang hingga 7 mikron. Namun bentuknya dapat mengikuti aktivitas sel dan dapat bermodifikasi
mengikuti siklus sekresi. Mitokondria tersebar merata pada sitoplasma, bergerak berpindah
mengikuti aliran sitoplasma. Dinding mitokondria terdiri dari 2 membran yang diantarai oleh ruang
eksternal, yaitu:

a. satu membran eksternal dengan struktur trilamellar tersusun dari 60% protein intrinsik
globular yang terdapat di antara alam lapisan lemak dengan kwantitas berkisar 40%.

b. Satu membran internal yang susunan molekulnya berbeda dari membran eksternal yaitu kaya
akan protein (80%) dan lemak hanya 20%.

c. Satu ruang internal yang merupakan pelipatan ke dalam rongga (matriks), yang disebut krista.
2. Krista

Membran dalam melakukan pelipatan ke dalam/berinvaginasi membentuk tubuli atau sakulus


(kantong) yang berpenetrasi ke dalam matriks mitokondria yang disebut dengan krista. Krista dapat
berubah bentuk sesuai dengan kegiatan sel. Ketika sel dalam keadaan istirakat, permukaan krista
menjadi labih lapang dan kurang berlekuk. Gambaran ini disebut ortodoks. Sebaliknya ada sel-sel
yang sedang giat beraktivitas maka krista memberikan gambaran yang banyak berlekuk dan matrik
menjadi sempit. Gambaran ini disebut dengan condensed.

Secara umum bentuk krista dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu berbentuk lempeng dan
pembuluh. Krista bentuk lempeng (lamella) terdapat pada kebanyakan jaringan, sedangkan krista
berbentuk pembuluh (tubuler) terdapat khusus pada sel-sel yang mensekresikan steroid seperti sel
Leydig, sel-sel desidua ovarium dan sel-sel lapisan korteks adrenal.

Kedua membran interna dan eksterna memainkan peranan sebagai rangka untuk mitokondria,
bersifat elastis fleksibel dan stabil serta dapat bergerak. Bahan penyusun membran mitokondria
berupa lemak (fosfolipida dan kolesterol) dan protein. Membran eksternal mengandung enzim
transferase, kinase, ATP asetil koenzim A syntetase, sitokrom B, NADH sitokrom B reductase,
fosfotidase fosfatase dan fosfolipase. Sedangkan membran internal mengandung sejumlah:

a. Enzim yang berperan dalam perlewatan atau transit metabolit

b. Enzim yang bertanggung jawab pada reaksi oxydase yang membebaskan energi untuk fosforilase
oksidatif (ATP dari ADP). Jadi ATP disintesa dalam membran interna, selanjutnya melewati ruang
internal dan membran eksternal untuk berpenetrasi dalam hyaloplasma (plasma yang transparant).

c. Transferase (carnitine-acytransferase).

d. Enzim yang berperan dalam system pemanjangan asam lemak dan beta-oksidase asam lemak.

3. Matriks Mitokondria

Ruang interna dan krista mitokondria berisi suatu matriks yang densitasnya bervariasi, tergantung
kondisi fungsional dari organel. Namun umumnya berisi:

a. Molekul DNA

b. Mitoribosome (mtRNA)

c. Granula padat yang tidak beraturan

d. Enzim yang terlibat dalam siklus Krebs dan sintesa asam lemak.

Matriks mitokondria yang mengisi bagian dalam mitokondria berupa cairan. Di dalamnya banyak
mengandung enzim. Dalam matriks mitokondria terkandung pula DNA dan ribosom. Selain itu,
matriks DNA mengandung enzim yang berperan dalam daur Krebs, enzim untuk sintesis asam
nukleat dan enzim-enzim oksidasi lainnya.

C. Fungsi mitokondria

Peran utama mitokondria adalah sebagai pabrik energi sel yang menghasilkan energi dalam bentuk
ATP. Metabolisme karbohidrat akan berakhir di mitokondria ketika piruvat di transpor dan dioksidasi
oleh O2¬ menjadi CO2 dan air. Energi yang dihasilkan sangat efisien yaitu sekitar tiga puluh molekul
ATP yang diproduksi untuk setiap molekul glukosa yang dioksidasi, sedangkan dalam proses glikolisis
hanya dihasilkan dua molekul ATP. Proses pembentukan energi atau dikenal sebagai fosforilasi
oksidatif terdiri atas lima tahapan reaksi enzimatis yang melibatkan kompleks enzim yang terdapat
pada membran bagian dalam mitokondria. Proses pembentukan ATP melibatkan proses transpor
elektron dengan bantuan empat kompleks enzim, yang terdiri dari kompleks I (NADH
dehidrogenase), kompleks II (suksinat dehidrogenase), kompleks III (koenzim Q – sitokrom C
reduktase), kompleks IV (sitokrom oksidase), dan juga dengan bantuan FoF1 ATP Sintase dan
Adenine Nucleotide Translocator (ANT).

a. Bahan Baku Reaksi Oksidasi Mitokondria

b.

Metabolisme oksidatif dalam mitokondria terutama menggunakan asam lemak dan asam piruvat
sebagai bahan bakar. Metabolit ini diangkut secara selektif dari sitosol masuk kedalam matriks
mitokondria, didalam kemidian meraka di pecah menjadi senyawa asetil berkarbon dua(yaitu asetil
koenzim A). Reaksi oksidasi dalam mitokondria dimulai jika sejumlah besar asetil Co A diproduksi (
dari asam piruvat dan asam lemak) di dalam ruang matriks. Asetil Co A kemudian di masukkan
kedalam siklus asam sitrat untuk di pecah lebih lanjut dan pemecahan ini berujung pada di
hasilkannya elektron – elektron berenergi tinggi dari senyawa asetil tersebut.Elektron – elektron ini
kemudian bergerak dan masuk kedalam rantai respirasi.

Untuk menjamin kontiniutas suplai bahan bakar untuk metabolisme oksidasi ini maka sel hewan
menyimpan asam lemak dan piruvat dakam bentuk cadangan, yaitu dalam bemtuk lemak (bentuk
cadangan asam lemak) dan glikogen (bentuk cadangan glukosa yang kemudian di pecah menjadi
asam piruvat).Secara kwintatif, lemak adalah sumber energi terpenting terutama karena oksidasi
lemak menghasilkan lebih banyak energi jika dibanding dengan glikogen. Oksidasi lemak
dengan berat yang sama dengan glikogen akan menghasilkan energi enam kali lebih banyak jika
dibanding dengan glikogen. Secara rata-rata, cadangan glikogen seorang manusia dewasa hanya
cukup untuk memenuhi kebutuhan energi untuk melakukan aktivitas normal setiap hari, sedangkan
cadangan lemaknya dapat memenuhi kebutuhan energi selama lebih kurang satu bulan.

Lemak dicadangkan dalam jaringan adiposa, dan dari jaringan ini kemudian dilepaskan kedalam
aliran darah untuk digunakan oleh sel-sel lain jika dibutuhkan. Kebutuhan ini akan meningkat setelah
satu periode puasa,dan bahkan periode tidak makan normal selama satu malam bisa mengakibatkan
mobilisaai lemak, sehingga pada pagi hari kebanyakn asetil Co A yang masuk kedalam siklus asam
sitrat adalah berasal dari lemak, hanya sebagian kecil yang disuplai dari glukosa.Tetapi, beberapa
saat setelah makan, hampir seluruh asetil CoA yang masuk kesiklus sitrat adalah berasal dari glukosa
hasil pemecahan dari bahan makanan. Glukosa yang tersisa selanjutnya dicadangkan dalam bentuk
glukosa atau bahkan bisa dikonversi menjadi lemak.

Molekul lemak terdiri atas tiga molekul asam lemak yang berikatan (melalui ikatan ester) denga satu
molekul gliserol. Molekul triliserida (triasilgliserol) ini tidak larut dalam air dan tidak bermuatan
listrik sehingga tersebar sebagai tetes lipida dalam sitosol. Asam lemak masuk kedalam matriks
mitokondria dengan bantuan enzim – enzim yang terdapat pada membaran luar dan membran
dalam. Didalam matriks molekul asam lemak dipecah melalui siklus reaksi yang memotong dua
molekul karbon mulai dari ujung karboksil dan menghasilkan satu molekul asetil Co A pada setiap
pemotongan. Asetil CoA ini kemudian dimasukkan ke siklus asam sitrat untuk dioksidasi.

Molekul glukosa (yang memiliki enam atom karbon) mula-mula dipecah dalam sitosol menjadi dua
molekul berkarbon tiga, yaitu asam piruvat yang tetap mengandung sebagian besar dari total energi
yang mungkin dihasilkan darioksidasi glukosa. Energi ini akan dipanen melalui proses yang berawal
dari masuknya asam piruvat kedalam matriks mitokondria. Dalam mitokondria molekul piruvat akan
bertemu dengan kompleks enzim berukuran sangat besar ( lebih besar dari sebuah
ribosom), yaitu piruvat dehidrogenase. Kompleks enzim ini, yangterdiri atas tiga macam enzim
katalitik, lima macam koenzim, dan dua macam enzim pengatur, segera akan mengubah piruvat
menjadi asetil CoA. Asetil CoA dari karbohidrat ini kemudian akan bergabung dengan molekul sejenis
yang dihasilkan dari asam lemak dan memasuki siklus asam sitrat yang berlangsung dalam
matriks mitokondria.

b. Siklus Asam Sitrat

Siklus asam sitrat ( Siklus asam trikarboksilat atau siklus krebs) diarahkan untuk mengoksidasi gugus
asetil dari molekul asetil CoA sampai terbentuk NADH dan FADH2. Disamping itu siklus ini juga
menghasilkan molekul CO2. NADH dan FADH2 yang terbentuk melalui siklus reaksi ini selanjutnya
akan dimasukkan kedalam rantai respirasi.

Siklus asam sitrat dimulai dengan kondensasi asetil CoA dengan senyawa berkarbon empat,
oksaloasetat, untuk menghasilkan senyawa berkarbon enam,asam sitrat. Selanjutnya, sebagai hasil
dari tujuh reaksi enzimatis secara berturut-turut, dua biuah atom karbon dikeluarkan dalam bentuk
CO2 dan oksaloasetat kembali diregenerasikan. Setiap giliran siklus menghasilkan dua molekul
CO2 dari dua atom karbonyang masuk pada siklus sebelumnya. Sampai sejauh ini hasil bersih yang
diperoleh dari siklus asam sitrat (dimulai dari asetil CoA ) dapat dikemukakan sebagai berikut:

CH3COOH(berupa asetil CoA) + 2H2O+ 3NAD+ + FAD 2CO2+3NADH + FADH2

Rantai ini juga menghasilkan satu molekul ATP (adenosin trifosfat) melewati suatu
intermediet GTP (guanosin trifosfat). Namun demikian fungsi terpenting dari siklus asam sitrat ini
adalah ekstraksi elektron – elektron berenergi tinggi dari asetil CoA yang berlangsung selama
konversi kedua atom karbonnya manjadi CO2, bukan untuk menghasilkan ATP. Elektron – elektron
berenergi tinggi ini,yang ditangkap oleh NADH dan FADH2 selanjutnya akan dilewatkan menuju
rantai respirasi yang berlangsung pada membaran dalam mitokondria.

c. Konversi Energi Oksidasi Menjadi ATP

d.

Walaupun siklus asam sitrat merupakan bagian dari metabolisme aerobik, tetapi tak satupun reaksi
yang menghasilkan NADH dan FADH2 tersebut menggunakan molekul oksigen secara langsung.
Oksigen baru digunakan pada mitokondria. Pada membran dalam terjadi suatu proses kemiosmotik
yang mengkonversi energi oksidasi menjadi ATP. Dalam rangakaian reaksi ini, elektron-elektron yang
dilepaskan dari subtrat yang dioksidasi oleh NAD+ dan FAD selanjutnya dikombinasikan dengan
molekul oksigen. Energi yang dihasilkan dari reaksi ini kemudian digunakan unntuk mengkonversi
ADP + Pi menjadi ATP,dan karena itu digunakan untuk menjelaskan keseluruhan prosses ini.

D. DNA mitokondria

Mitokondria memiliki DNA tersendiri, yang dikenal sebagai mtDNA (Ing. mitochondrial DNA). MtDNA
berpilin ganda, sirkular, dan tidak terlindungi membran (prokariotik). Karena memiliki ciri seperti
DNA bakteri, berkembang teori yang cukup luas dianut, yang menyatakan bahwa mitokondria
dulunya merupakan makhluk hidup independen yang kemudian bersimbiosisdengan
organisme eukariotik. Teori ini dikenal dengan teori endosimbion. Pada makhluk tingkat tinggi, DNA
mitokondria yang diturunkan kepada anaknya hanya berasal dari betinanya saja (mitokondria sel
telur). Mitokondria jantan tidak ikut masuk ke dalam sel telur karena letaknya yang berada di ekor
sperma. Ekor sperma tidak ikut masuk ke dalam sel telur sehingga DNA mitokondria jantan tidak
diturunkan.

DNA Mitokondria (disingkat mtDNA) adalah materi genetik DNA yang terdapat di dalam
mitokondria. Mitokondria merupakan organel sel memiliki struktur khas dengan bentuk bulat
lonjong dalam sel. Fungsi mitokondria adalah untuk memasok energi dalam sel atau biasa disebut
tempat respirasi sel, Energi ini diperoleh dari makanan. Di dalam sel mitokondria terdapat ratusan
ribu mitokondria yanng terdapat di sitoplasma sel. Mitokondria memiliki materi genetik sendiri yang
karakteristiknya berbeda dengan materi genetik di inti sel.

Perbedaan DNA mitokondria dan DNA inti sebagai berikut :

1. Letak

DNA mitokondria terletak di dalam mitokondria, mitokondria adalah organel sel. Sedangkan DNA
inti sel terletak di dalam inti sel. mtDNA terletak di matriks mitokondria berdekatan dengan
membran dalam mitokondria, tempat berlangsungnya reaksi fosforilasi oksidatif yang menghasilkan
radikal oksigen sebagai produk samping (Richter, 1988).

2. Laju Mutasi lebih cepat

Laju mutasi DNA mitokondria lebih tinggi sekitar 10-17 kali dibandingkan DNA inti. Karena mtDNA
tidak memiliki mekanisme reparasi yang efisien (Bogenhagen, 1999). DNA polimerase yang dimiliki
oleh mitokondria adalah DNA polimerase γ yang tidak mempunyai aktivitas proofreading (suatu
proses perbaikan dan pengakuratan dalam replikasi DNA). Tidak adanya aktivitas ini menyebabkan
mtDNA tidak memiliki sistem perbaikan yang dapat menghilangkan kesalahan replikasi. Replikasi
mtDNA yang tidak akurat ini akan menyebabkan mutasi mudah terjadi.

3. Tidak memiliki protein histon.

Pada DNA inti, disusun dalam bentuk yang khas, dengan adanya beberapa macam protein histon
sehingga bentuknya seperti berpilin-pilin.

4. Jumlah Lebih Banyak dan Ukuran genom lebih kecil

DNA mitokondria mempunyai jumlah lebih banyak jika dibandingkan DNA inti, karena jumlah
mitokondria banyak di dalam sel. Dari segi ukuran genom, genom DNA mitokondria relatif lebih
kecil.

5. Hanya diwariskan dari Ibu

DNA mitokondria diwariskan hanya dari ibu, sedangkan DNA inti dari kedua orang tua (dari DNA
ayah dan ibu). Pada saat pembuahan sel, sel sperma hanya berpusi materi DNA saja, sedangkan
sedangkan bagian-bagian sel sperma lain tidak. Sehingga DNA mitokondria pada anak hanya dari ibu.

6. Bentuknya Lingkaran dan sirkuler

DNA mitokondria berbentuk lingkaran, berpilin ganda, sirkular, dan tidak terlindungi membran
(prokariotik). Sedangkan bentuk DNA inti panjang tidak sirkuler, duble helik, pada saat akan
pembelahan sel berbentuk kromosom.

7. Tidak memiliki intron


DNA mitokondria tidak memiliki intron dan semua gen pengkode terletak
berdampingan,sedangkan pada DNA inti terdapat ekson dan intron, pada saat sintesis protein
terjadi pemotongan intron yaitu pada pemerosesan mRNA.

8. Haploid (2n)

DNA mitokondria bersifat haploid karena hanya berasal dari ibu.

9. Stop kodonnya berbeda

Salah satu bentuk keunikan lainnya dari mitokondria adalah perbedaan kode genetik mitokondria
menunjukkan perbedaan dalam hal pengenalan kodon universal. UGA tidak dibaca sebagai
“berhenti” (stop) melainkan sebagai tryptofan, AGA dan AGG tidak dibaca sebagai arginin melainkan
sebagai “berhenti”, AUA dibaca sebagai methionin (Anderson et al., 1981).

10. DNA mitokondria mempunyai daerah yang tidak mengode dari mtDNA. Daerah ini mengandung
daerah yang memiliki variasi tinggi yang disebut displacement loop (D-loop). D-loop merupakan
daerah beruntai tiga (tripple stranded) untai ketiga lebih dikenal sebagai 7S DNA. D-loop memiliki
dua daerah dengan laju polymorphism yang tinggi sehingga urutannya sangat bervariasi antar
individu, yaitu Hypervariable I (HVSI) dan Hypervariable II (HVSII). Daerah non-coding juga
mengandung daerah pengontrol karena mempunyai origin of replication untuk untai H (OH) dan
promoter transkripsi untuk untai H dan L (PL dan PH) (Anderson et al., 1981). Selain itu, daerah non-
coding juga mengandung tiga daerah lestari yang disebut dengan conserved sequence block (CSB) I,
II, III. Daerah yang lestari ini diduga memiliki peranan penting dalam replikasi mtDNA.

E. Siklus Krebs

Proses ini menentukan dalam respirasi sel adalah oksidasi sempurna dari asam piruvat dengan jalan
pemisahan bertahap dari semua atom hidrogen sehingga menghasilkan 3 molekul CO2, dan
pemindahan elektron yang dipisahkan dari atom hidrogen pada oksigen molekul. Reaksi siklus asam
sitrat juga dikenal sebagai siklus krebs atau siklus asam karboksilat, menyelesaikan oksidasi yang
sempurna dan mempertahankan gugus asetil dari Asetil-KoA. Pada eukariotik, reaksi ini terjadi di
dalam mitokondria.

Di dalam mitokondria, asam piruvat mengalami langkah oksidasi lebih lanjut. Seperti pada PGAL, hal
ini dilaksanakan oleh NAD. Seperti sebelumnya, dua atom hidrogen dipisahkan dan hal ini mereduksi
NAD+ menjadi NADH. Pada saaat yang sama sbuah molekul CO2 dipisahkan. Fragmen yang terjadi
mebgikat secara kovalen pada koenzim lain, koenzim A untuk membentuk suatu kompleks yang
disebut Asetil-KoA. Sekarang Asetil-KoA memasuki suatu urutan daur reaksi kimia sampai oksidasi itu
sempurna. Urutan reaksi ini disebut siklus krebs, nama ahli biokimia yang menemukan pertama kali
atau siklus asam sitrat, karena menggambarkan langkah pertama dari siklus tersebut, yaitu
penyatuan asetil-KoA dengan asam aksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Dalam proses ini
satu molekul KoA dibentuk kembali dan terpakai satu molekul air. Asam aksaloasetat adalah sebuah
asam dengan empat karbon dengan dua gugus karboksil. Jadi asam sitrat mempunyai enam atom
karbon dan tiga gugus karboksil.

Setelah dua langkah yang menghasilkan suatu isomer asam sitrat, terjadi oksidasi baru dengan
perantara NAD. Proses ini berlangsung sekali lagi, dengan pemisahan satu molekul CO2.
Persenyawaan yang dihasilkan dalam asam α-ketoglutarat. Kemudian zat ini mengalami oksidasi
(NAD+ + 2H NADH + H+) dan dikarboksilasi (CO2). Langkah ini dibarengi dengan penyiapan molekul
air. Jadi hasilnya mempunyai kandungan atom karbon dan atom oksigen yang berkurang satu. Zat ini
adalah asam suksinat.

Perubahan asam α-ketoglutarat menjadi asam suksinat dibarengi dengan perubahan energi bebas
sebanyak kurang lebih -8 kkal. Jumlah ini cukup untuk dimanfaatkan dalam proses pembentukan
satu molekul ATP (ΔG = 7,3 kkal). Dan proses ini, meskipun tidak secara langsung, memang terjadi.
Pertama-tama satu gugus fosfat dikaitkan pada nukleotida GDP (guanosina difosfat) dan
mengubahnya menjadi GTP (guanosina trifosfat). Kemudian GTP memindahkan fosfat terminalnya
yang tinggi energi itu pada ADP untuk membentuk ATP.

Proses itu adalah oksidasi dari asam suksinat menjadi asam fumarat. Sekali lagi dua atom hidrogen
dipisahkan, tetapi zat yang mengoksidasi adalah suatu koenzim yang disebut flavin adenine
dinukleotida atau FAD. FAD ini diredukasi menjadi FADH2.

Dengan penyisipan satu molekul air lagi, maka asam fumarat dirubah menjadi asam malat, satu
proses oksidasi lain dari asam malat dengan perantara NAD menghasilkan asam oksaloasetat.
Dengan regenerasi asam oksaloasetat tersebut maka molekul Asetil-KoA lain dapat masuk dalam
silus ini, sehingga seluruh proses dapat berulang kembali.

F. Siklus hidup mitokondria

Mitokondria dapat melakukan replikasi secara mandiri (self replicating) seperti sel bakteri. Replikasi
terjadi apabila mitokondria ini menjadi terlalu besar sehingga melakukan pemecahan (fission). Pada
awalnya sebelum mitokondria bereplikasi, terlebih dahulu dilakukan replikasi DNA mitokondria.
Proses ini dimulai dari pembelahan pada bagian dalam yang kemudian diikuti pembelahan pada
bagian luar. Proses ini melibatkan pengkerutan bagian dalam dan kemudian bagian luar membran
seperti ada yang menjepit mitokondria. Kemudian akan terjadi pemisahan dua bagian
mitokondria. Ketika energi dibutuhkan oleh sel dalam jumlah yang banyak, mitokondria akan
tumbuh dan selanjutnya memisah. Ketika energi yang dibutuhkan sedikit, maka mitokondria akan
dirusak atau tidak diaktifkan. Pada divisi sel, mitokondria di distribusikan kepada keturunannya
secara acak dalam jumlah sedikit atau banyak.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa mitokondria merupakan salah satu organel sel, yang secara umum
memiliki diameter 0,5 µm dan panjang 0,5 – 1,0 µm. mitokondria terdiri dari empat bagian utama,
yaitu membrane luar, membrane dalam, ruang antar membrane, dan matriks yang terletak di bagian
dalam membrane. Fungsi utama dari mitokondria adalah sebagai tempat respirasi sel untuk
menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Dalam mitokondria, terjadi proses yang disebut respirasi
seluler yang terdiri atas glikolisis, fermentasi, dekarboksilasi oksidatif piruvat, dan siklus krebs.

B. Saran

Dalam penerapannya, diharapkan kepada rekan mahasiswa untuk lebih mengenal dan memahami
mitokondria seabagai penghasil energi sel.

Daftar pusaka :

Djohar. 1985. Bioligi sel 1 Diktat kuliah FPMIPA IKIP Yogyakarta. Yogyakarta: FPMIPA IKIP Yogyakarta

Page, David. 1997. Prinsip-Prinsip Biokimia edisi kedua. Jakarta: Erlangga.

Strayer, L. 2000. BIOKIMIA VOL 2 EDISI 4. Jakarta: Buku kedokteran EGC.

Suryani, Yoni. 2004. Biologi Sel dan Molekuler. Yogyakarta: FMIPA UNY