Anda di halaman 1dari 22

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep dasar hipertensi

a. Definisi hipertensi

Ilmu pengobatan mendefinisikan hipertensi sebagai suatu peningkatan


kronis (yaitu meningkat secara berlahan-lahan, bersifat menetap) dalam
tekanan darah arteri sistolik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor,
tetapi tidak peduli apa penyebabnya, mengikuti suau pola yang khas.
(Wolff.2006). Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh
(Sustrani,2006)
b. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII 2007 adalah

sumber : JNC VII 2003(garnadi,2012)


c. Jenis hipertensi

klasifikasi Sistolik Diastolik

(mmHg) (mmHg)

Normal <120 <80

prehipertensi 120-139 80-90

Hipertensi 140-159 90-99

tingkat 1

Hipertensi >160 >100

tingkat 2
Hipertensi di golongkan menjadi 2 jenis, yaitu hipertensi primer atau

esensial dan hipertensi sekunder.


1. Hipertensi primer (essensial)
Hipertensi primer ( esensial) adalah suatu peningkatan persisten

tekanan arteri yang dihasilkan oleh ketidakturunan mekanisme kontrol

homeostatik normal, hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan

mencakup 90% dari kasus hipertensi. Beberapa mekanisme yang

mungkin berkontribusi untuk terjadinya terjadinya hipertensi ini telah

diidentifikasi, namum belum ada satupun teori yang tegas menyatakan

patogenesis hipertensi tersebut. Hipertensi sering turun temurun dalam

satu keluarga, hal ini setidaknya menunjukan bahwa faktor genetik

memegang peran penting pada patogenesis hipertensi primer,

ditemukan gambaran bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik

dan poligenikmempunyai kecendrungan timbulnya hipertensi essensial

(Muchid,2006)
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar

kedua selain hipertensi essensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui

dan ini menyangkut ± 10% dari kasus - kasus hipertensi. Hipertensi

sekunder ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada endokrin,

penyakit ginjal, kelainan hormonal, obat - obat tertentu misalnya

kortikosteroid, pil KB dengan kadar estrogen tinggi,

fenilpropanolamine dan analog, cyclosporin dan tacrolimus,

eritropoetin, sibutramin, anti depresan (terutama venlafaxine).

(muchid,2006).
d. Faktor penyebab
Penyebab hipertensi belum diketahui secara pasti. Tetapi ada banyak faktor

yang dapat menyebabkan hipertensi yaitu ateroskelosis (penebalan dinding

arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah), keturunan,

kerusakan ginjal, gangguan otot tertentu, stress akut, kerusakan vaskuler,

meningkatnya jumlah darah yang di pompa ke jantung. Adapun penyebab

paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang

tidak terobati. Resiko relatif hipertensitergantung pada jumlah dan

keperahan dari faktor reiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat

dimodifikasi. Faktor – faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain

faktor genetik, umur jenis kelamin, dan etnis. Sedangakan faktor yang dapat

dimodifikasi meliputi stress, obesitas, dan nutrisi menurun

(Anggraini,2009).
e. Gejala
Untuk gelaja Hipertensi banyak orang yang menyepelekan dan tanpa

memberi peringatan dulu pada penderita. Untuk hipertensi tidak adalah

gejala yang khas yang akan timbul sampai pada taraf hipertensi yang sudah

akut atau membahayakan nyawa penderita. Dan untuk gejala setiap kasus

tidak mesti sama. Secara umum gejala hipertensi berikut di rasakan setelah

penderita sudah cukup lama di derita yaitu sebagai berikut :


1. Sakit kepala atau sakit di bagian tengkuk
2. Perasaan ingin muntah dan mual
3. Mudah lelah, letih
4. Gelisah, gugup
5. Sesak napas
6. Sulit tidur
7. Keluar keringat berlebih
8. Gemetar
9. Pandangan kabur
f. Patofisiologi
Patogenesis terjadinya hipertensi dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat stress dapat

berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi. Stress akan

menstimulasi sistem saraf simpatis yang meningkatkan curah jantung dan

fasokontriksi arteriol dan merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan

hormon adrenalin yang memacu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat,

sehingga tekanan darah akan meningkat (Kozier,2010). peningkatan

tekanan darah dapat menyebabkan terjadinya hipertensi, hipertensi adalah

suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuuh darah arteri

secara terus menerus lebih dari satu periode. Hal ini terjadi apabila arteriol -

arteriol mengalami kontriksi. Kontriksi arteriol membua darah sulit

mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri (Udjianti,

2010).

Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi

yang kadang - kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah

periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi

hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target diaorta dan

arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas

hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan

meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipetensi dini pada pasien

umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi

hipertensi pada umur 30 - 50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan

komplikasi pada usia 40-60 tahun. ( Sharma, 2008)


g. Pathways
h. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada pasien hipertensi dibedakan

menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus

(muwarni, 2011)
1) Pemeriksaan umum
Yaitu dengan cara mengukur tekanan darah pada kedua

tangan ketika pasien terlentang dan tegak setiap 1-2 jam

sekali dan mengukur tinggi badan dan berat badan (BB

ideal, gemuk, obesitas).


2) Pemeriksaan khusus terdiri dari: pemeriksaan jantung

(memeriksa ada tidaknya gagal jantung kanan dan ada

sesak nafas). EKG (elektro Kardio Grafi) : peninggian

gelombang p indikasi hipertensi.


a) Fhoto thorax: mendeteksi adanya klasifikasi

adanya area katup


b) Echocardiogram
c) Pada mata fundus copy (pembuluh darah pada

retina menjadi tipis)


d) Pemeriksaan darah yang terdiri dari cholesterol,

urin acid, gula darah, kreatinin, clearance,

trigliserida, elektrolit). Pemeriksaan ini bertujuan

mengetahui adanya kerusakan organ dan faktor

resiko lain untuk mencari penyebab hipertensi.


i. Pentalaksanaan
Pengobatan hipertensi bertujuan mengurangi morbiditas dan

mortalitasserta mengontrol terkanan darah. Pengobatan hipertensi

ada dua cara yaitu pengobatan non farmakologi (perubahan gaya

hidup) dan pengobatan farmakologi (pudji astuti, 2013)


1. Pengobatan farmakologi
Pengobatan farkologi pada setiap pasien hipertensi

memerlukan pertimbangan berbagai faktor, seperti

beratnya hipertensi kelainan organ dan faktor resiko

lainnya. Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan

dengan beberapa obat:


a) Diuretik, misalnya tablet hydrochlorotiazide

(HCT) dan Lasix (Furosemide). Merupakan obat

hipertensi dengan proses pengeluaran cairan

tubuh melalui urin.


b) Beta-Blocker Atenolol (tenorim), Capoten

(Captopril). Merupakan obat yang dipakai dalam

upaya pengontrolan tekan darah melalui proses

memperlambat kerja jantung dan nmemperlebar

pembuluh darah.
c) Calcium chanel Blocker, Norvase (Amlodipin).

Merupakan salah satu obat yang bisa dipakai

dalam pengontrolan darah tinggi melalui proses

relaksasi pembuluh darah dan juga memperlebar

pembuluh darah.
2. Pengobatan non farmakologi
Selain pengobatan secara farmakologi, dapat juga

dilakuan pengobatan non farmakologi yang dapat

mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan

farmakologi tidak diperlukan atau ditunda (LIPI, 2009).

Salah satunya tindakan non farmakologi untuk penderita

hipertensi adalah mengubah gaya hidup seperti


mengurangi konsumsi rokok dan alkohol, menurunkan

berat badan (obesitas), menejemen stres dengan cara

pijat refleksi (Hawari, 2008).


j. Komplikasi
(Maloedyn & sufrida,2006) beberapa komplikasi akibat

hipertensi dapat dikategorikan sebagai berikut :


1. Gangguan pada sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh

darah ), terdiri dari arteriosklerosis, aneurisma, penyakit

arteria koronaria, hipertrosi bilik, dan gagal jantung.


2. Gangguan pada otak, terdiri dari stroke iskemik. Strok

hemoragis, dan demensia.


3. Gangguan pada ginjal, yaitu gagal ginjal.
4. Gangguan pada mata, yaitu kerusakan kornea mata.

b. Pijat refleksi kaki

1. Pengertian

Pijat refleksi kaki atau sering disebut dengan pijat refleksiologi adalah

jenis pengobatan yang mengadopsi jenis kekuatan dan ketahanan tubuh

sendiri, dengan cara memberikan sentuhan pijatan pada lokasi dan

tempat yang sudah disesuaikan dengan zona terapi (pamungkas, 2010).

Sedangkan menurut mahendra dan ruhito (2009) pijat refleksi kaki

adalah cara pengobatan penyakit melalui titik urat syaraf yang

bersangkutan dengan organ – organ tubuh tertentu untuk memperlancar

peredaran darah. Refleksiologi dilakukan dengan cara memijat bagian

titik refleksi dikaki (Gillanders, 2007).


Telapak kaki manusia memiliki titik-titik syaraf yang berhubungan

dengan organ organ tubuh lainnya. Cara kerja terapi refleksi kaki adalah

memberikan rangsangan relaksasi pada bagian tubuh yang berhubungan

dengan titik syaraf kaki yang dipijat (wijayakusuma,2007).

2. Teknik pijat refleksi kaki

Pijat kaki adalah bentuk khusus dari memijat yang menggunakan

lima teknik dasar (ahmad rahim, 2008). Teknik-teknik ini memiliki

mekanisme dalam meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh organ tubuh,

termasuk otak. Therapy ini sangat cocok diaplikasikan pada pasien dengan

penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi. Dengan memberikan pemijatan

pada kaki, dimungkinkan sikulasi darah ke otak menjadi lancar, otak

mendapatkan suplai makanan dan oksigen yang cukup sehingga otak

berfungsi dengan baik. Pengaruh yang dapat dilihat adalah terjadinya

penurunan tekanan darah.

1) Effleurage
Effleurage (menggosok), yaitu gerakan ringan berirama yang

dilakukan pada seluruh permukaan tubuh tujuannya adalah

memperlancar peredaran darah dan cairan getah bening (limfe)

mendorong relaksasi, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi rasa

sakit dan mengurangi kontraksi otot yang abnormal. Sisa darah pada

tekanan darah perifer akan mengalir ke pembuluh darah dan jantung

lebih mudah. Akibatnya, suplai darah ke jaringan perifer meningkat,

serta mengurangi pembentukan fibrosis.


2) Friction
Friction (menggerus), yaitu gerakan menggerus yang arahny anaik

dan turun secara bebas. Tujuannya adalah untuk menghancurkan

miogelosis, yaitu timbunan sisa-sisa pembakaran energi (asam

laktat) yang terdapat pada otot yang menyebabkan pengerasan pada

otot.
3) Petrissage
Petrissage (memijat) yaitu gerakan menekan atau meremas jaringan

di bawahnya. Gerakan petrissage meningkatkan aliran darah.

Kompresi pada otot merangsang aliran darah vena dalam jaringan

subkutan dan mengakibatkan retensi darah menurun dalam

pembuluh perifer dan peningkatan drainase getah bening. Selain itu

juga dapat menyebabkan pelebaran arteri yang meningkatkan

suplai darah ke daerah yang sedang dipijat. Di otot, teknik

petrissage dapat meningkatkan pasokan darah dan meningkatkan

efektivitas kontraksi otot serta membuang sisa metabolisme dari

otot-otot, juga membantu mengurangi ketegangan pada otot,

merangsang relaksasi dan kenyamanan.

4) Tapotement

Tapotement (memukul atau mengetuk) yaitu gerakan pukulan atau

ketukan ringan yang dilakukan berulang pada daerah yang

berdaging. Teknik tapottement dapat merangsang aliran darah ke

daerah dipijat. Tapottment juga merangsang memicu vasokonstriksi

pada awalnya yang kemudian diikuti vasodilatasi, yang

menghasilkan suhu yang hangat pada kulit. Tapotement


menginduksi relaksasi otot, meningkatkan fungsi pernafasan,

mengurangi rasa sakit, meningkatkan limfatik, meningkatkan

kenyaman, dan mendorong keluar sisa-sia pembakaran dari tempat

persembunyiannya.
5) Vibration
Vibration (menggetarkan), yaitu gerakan menggetarkan yang

dilakukan secara manual atau mekanik. Tujuannya adalah untuk

merangsang saraf secara halus dan lembut agar mengurangi atau

melemahkan rangsangan berlebihan pada saraf yang dapat

menimbulkan ketegangan.

Secara umum dapat disimmpulkan bahwa lima teknik pijat

refleksi kaki memiliki pengaruh pada peningkatan sirkulasi darah ke

seluruh tubuh, meningkatkan kenyamanan, memberikan efek relaksasi

secara fisik dan psikis dan meningkatkan ekskresi sisa metabolism

tubuh. Pasien kritis mengalami serangan yang berulang disebabkan

oleh pasokan darah yang tidak cukup atau berhenti sama sekali akibat

sumbatan pada pembuluh darah di otak. Dengan menggunakan teknik

pijat refleksi di kaki, ujung saraf pada titik refleksi di kaki akan

merangsang fungsi tubuh menjadi lebih baik.

3. Titik-titik refleksi kaki


Pijat refleksi kaki termasuk metode penyembuhan atau terapi

kesehatan yang tidak menimbulkan efek samping. Metode pijat refleksi

adalah memijat atau menekan titik refleksi pada kaki atau tangan.

Pemijatan atau penenkan titik refleksi ini bertujuan untuk merangsang


saraf – saraf yang berhubungan dengan organ tubuh yang sakit atau yang

mengalami gangguan.
Titik refleksi sebenarnya terdapat diseluruh tubuh. Peredaran darah

keseluruh tubuh melalui jalur saraf berhubungan dengan seluruh organ

tubuh. Jalur saraf tersebut ada yang melewati kaki dan tangan. Pada

daerah kaki dan tangan, terdapat serabut – serabut saraf yang menjadi

titik-titik refleksi.
Titik-titik pada kaki atau tangan akan memberikan rangsangan secara

refleks (spontan) pada saat dipijat atau ditekan. Rangsangan tersebut

akan mengalirkan semacam gelombang kejut menuju listrik atau otak.

Gelombang tersebut diproses dan diterima otak dengan cepat, lalu

diteruskan melalui saraf menuju organ tubuh yang mengalami gangguan.

Salah satu penyebab organ tubuh mengalami gangguan atau penyakit

adalah penyumbatan aliran darah menuju organ tersebut. Saat titik reflex

dipijat atau ditekan, gelombang yang merambat akan menghancurkan

atau memecah penyumbatan tersebut sehingga aliran darah akan kembali

lancar.
Gambar titik-titik pijat refleksi kaki (Bright, 2001)

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui

kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dapat pasien

guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada. (Aziz Alimul,2009).


Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Maryam,R.Siti dkk

2008 adalah sebagai berikut :

a. Aktivitas istirahat
Gejala : Kelelahan, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat
2) Perubahan trauma jantung (takipnea)

b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup dan penyakit screbiovakuolar, episode palpitasi,
perpirasi.
Tanda :
1) Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan
untuk menaikkan diagnosis
2) Hipotensi postural (berhubungan dengan regimen otak)
3) Nada denyutan jelas dari karotis, juguralis, radialis
4) Denyut apical : Pm, kemungkinan bergeser dan sangat kuat
5) Frekuensi/irama : Tarikardia berbagai distrimia
6) Bunyi, jantung terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini)
S4 (pengerasan vertikel kiri / hipertrofi vertical kiri).

c. Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi eufuria
atau jarah kronis (dapat mengidentifikasi kerusakan
serebral ) faktor-faktor inulhfel, hubungan keuangan yang
berkaitan dengan pekerjaan.
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu
perhatian, tangisan yang meledak, gerak tangan empeti
otot muka tegang (khususnya sekitar mata) gerakkan fisik
cepat, pernafasan mengelam peningkatan pola bicara.

d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal sakit ini atau yang lalu
e. Makanan/Cairan
Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan
tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolestrol, mual,
muntah, perubahan berat badan (meningkatkan/menurun)
riwayat pengguna diuretik.
Tanda :
1) Berat badan normal atau obesitas
2) Adanya edema (mungkin umum atau tertentu)
3) Kongestiva
4) Glikosuria (hampir 10% hipertensi adalah diabetik).

f. Neurosensori
Gejala :
1) Keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala
suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara
spontan setelah beberapa jam)
2) Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh
3) Gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda : Status mental perubahan keterjagaan orientasi, pola isi
bicara, efek, proses fikir atau memori.

g. Nyeri/Ketidak nyamanan
Gejala :
1) Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung)
2) Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi
3) Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi
sebelumnya
4) Nyeri abdomen / massa

h. Pernapasan
Gejala :
1) Dispenea yang berkaitan dengan aktivitas kerja
2) Riwayat merokok, batuk dengan / tanpa seputum
Tanda :
1) Distres respirasi
2) Bunyi nafas tambahan
3) Sianosis

i. Keamanan
Gejala :
1) Gangguan koordinas / cara berjalan
2) Hipotesia pastural
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat
2) Perubahan trauma jantung (takipnea)

j. Pembelajaran/Penyebab
Gejala : Faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis,
penyakit jantung, DM.
2. Pemeriksaan fisik
i. Keadaan umum
ii. Kesadaran
iii. Tanda-tanda vital
1. Suhu meningkat (>37ºC)
2. Nadi meningkat (N: 70-82x/menit)
3. Tekanan darah meningkat dalam batas normal
4. Pernafasan biasanya mengalami normal atau meningkat
iv. Pola fungsi kesehatan
v. Pemeriksaaan penunjang
vi. Diagnosa keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b.d

peningkatan afterload, vasokontriksi, hipertrofi/regiditas

ventrikuler, iskemia miokrard.


b. Nyeri akut b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai nutrisi

dan kebutuhan oksigen.


vii. Intervensi
Menurut Nanda Nic-Noc (2015):
a. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload,

vasokontriksi, hipertrofi/regiditas ventrikuler, iskemia

miokrard.

NOC
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi

penurunan jantung.
Kriteria hasil :
- tanda vital dalam rentang normal.
- Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan.
- Tidak ada edema paru, perifer, tidak ada asitas, dan tidak ada

penurunan kesadaran.
NIC
1) Obsevasi tekanan darah. (ajarkan Ajarkan tentang tehnik

nonfarmakologi seperti minum parutan kunyit).


2) Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi).
3) Catat adanya disritmia jantung.
4) Catat adanya tanda dn gejala penurunan cardiac output.
5) Monitor status cardiovaskuler.
6) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung.
7) Monitor abdomen sebagai indikator penurunan perfusi.
8) Monitor balance cairan.
b. Nyeri akut b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

NOC
Tujuan :
setelah dilakukan tidakan keperawatan klien tidak merasakan

nyeri.
Kriteria hasil :
- Mampu mengontrol nyeri.
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan

menejemen nyeri.
- Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda

nyeri).
- Menyatakan rasa nyaman setelah nyer berkurang.
NIC
1. Lakukan pengkajian nyeri (lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi).


2. Observasi reaksi mom verbal dari ketidaknyamanan.
3. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
4. Ajarkan untuk teknik non farmakologi seperti relaksasi nafas

dalam, distraksi dll).


5. Berikan terapi pijat refleksi kaki
6. Kolaborasi dengan tim medis lain.
c. Evaluasi
a. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokontriksi,

hipertrofi/regiditas ventrikuler, iskemia miokrard.


1. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD.
2. Mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang dapat di

terima
3. Memperkihatkan irama dan frekuensi jantug stabil.
b. Nyeri akut b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.
1. Klien mampu menunjukkan kemampuan menggunakan teknik

non farmakologi untuk mengurangi nyeri dan tindakan

pencegahan nyeri.
2. Klien melaporkan nyeri berkurang.
3. Klien mengungkapkan kenyamanan setelah nyeri berkurang.
4. Klien menunjukkan ekspresi wajah tenang.
C. KONSEP PENGAPLIKASIAN TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP

PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI

Pijat kaki adalah bentuk khusus dari memijat yang menggunakan

lima teknik dasar (ahmad rahim, 2008). Teknik-teknik ini memiliki

mekanisme dalam meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh organ tubuh,

termasuk otak. Therapy ini sangat cocok diaplikasikan pada pasien dengan

penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi. Dengan memberikan pemijatan

pada kaki, dimungkinkan sikulasi darah ke otak menjadi lancar, otak

mendapatkan suplai makanan dan oksigen yang cukup sehingga otak

berfungsi dengan baik. Pengaruh yang dapat dilihat adalah terjadinya

penurunan tekanan darah.

1. Effleurage
Effleurage (menggosok), yaitu gerakan ringan berirama yang

dilakukan pada seluruh permukaan tubuh tujuannya adalah

memperlancar peredaran darah dan cairan getah bening (limfe)

mendorong relaksasi, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi rasa

sakit dan mengurangi kontraksi otot yang abnormal. Sisa darah pada

tekanan darah perifer akan mengalir ke pembuluh darah dan jantung

lebih mudah. Akibatnya, suplai darah ke jaringan perifer meningkat,

serta mengurangi pembentukan fibrosis.


2. Friction
Friction (menggerus), yaitu gerakan menggerus yang arahny anaik

dan turun secara bebas. Tujuannya adalah untuk menghancurkan

miogelosis, yaitu timbunan sisa-sisa pembakaran energi (asam

laktat) yang terdapat pada otot yang menyebabkan pengerasan pada

otot.
3. Petrissage
Petrissage (memijat) yaitu gerakan menekan atau meremas jaringan

di bawahnya. Gerakan petrissage meningkatkan aliran darah.

Kompresi pada otot merangsang aliran darah vena dalam jaringan

subkutan dan mengakibatkan retensi darah menurun dalam

pembuluh perifer dan peningkatan drainase getah bening. Selain itu

juga dapat menyebabkan pelebaran arteri yang meningkatkan

suplai darah ke daerah yang sedang dipijat. Di otot, teknik

petrissage dapat meningkatkan pasokan darah dan meningkatkan

efektivitas kontraksi otot serta membuang sisa metabolisme dari

otot-otot, juga membantu mengurangi ketegangan pada otot,

merangsang relaksasi dan kenyamanan.

4. Tapotement

Tapotement (memukul atau mengetuk) yaitu gerakan pukulan atau

ketukan ringan yang dilakukan berulang pada daerah yang

berdaging. Teknik tapottement dapat merangsang aliran darah ke

daerah dipijat. Tapottment juga merangsang memicu vasokonstriksi

pada awalnya yang kemudian diikuti vasodilatasi, yang


menghasilkan suhu yang hangat pada kulit. Tapotement

menginduksi relaksasi otot, meningkatkan fungsi pernafasan,

mengurangi rasa sakit, meningkatkan limfatik, meningkatkan

kenyaman, dan mendorong keluar sisa-sia pembakaran dari tempat

persembunyiannya.
5. Vibration
Vibration (menggetarkan), yaitu gerakan menggetarkan yang

dilakukan secara manual atau mekanik. Tujuannya adalah untuk

merangsang saraf secara halus dan lembut agar mengurangi atau

melemahkan rangsangan berlebihan pada saraf yang dapat

menimbulkan ketegangan.

Secara umum dapat disimmpulkan bahwa lima teknik pijat

refleksi kaki memiliki pengaruh pada peningkatan sirkulasi darah ke

seluruh tubuh, meningkatkan kenyamanan, memberikan efek relaksasi

secara fisik dan psikis dan meningkatkan ekskresi sisa metabolism

tubuh. Pasien kritis mengalami serangan yang berulang disebabkan

oleh pasokan darah yang tidak cukup atau berhenti sama sekali akibat

sumbatan pada pembuluh darah di otak. Dengan menggunakan teknik

pijat refleksi di kaki, ujung saraf pada titik refleksi di kaki akan

merangsang fungsi tubuh menjadi lebih baik.