Anda di halaman 1dari 16

Nama : I Made Yudi Suardi

NIM : 1313011054
Kelas : IC (kuliah di IA)

TUGAS GEOMETRI BIDANG BAB V

6. Buktikan bahwa dalam suatu jajar genjang, jarak dari dua titik sudut yang berhadapan ke
diagonal yang menghubungkan titik-titik sudut yang lain adalah sama.

Penyelesaian:

Adapun AE = FD,
ABD  CBD (sudut dalam berseberangan),
BD = DB
ADB  CBD (sudut dalam berseberangan).
Sehingga menurut Sd – S – Sd, ∆𝐴𝐵𝐷 ≅ ∆𝐶𝐵𝐷. Karena kedua segitiga kongruen, maka
luasnya sama.
1 1
𝐿∆𝐴𝐵𝐷 = 𝐿∆𝐶𝐵𝐷 ⇔ . 𝐵𝐷. 𝐴𝐸 = . 𝐵𝐷. 𝐶𝐹 ⇔ 𝐴𝐸 = 𝐶𝐹
2 2
Terbukti bahwa, jarak dari dua titik sudut yang berhadapan ke diagonal yang
menghubungkan titik-titik sudut yang lain adalah sama. Adapun jaraknya sebesar AE =
CF.

1. ABCD suatu jajar genjang yang kedua diagonalnya berpotongan di O. E sembarang titik
pada sisi ̅̅̅̅
𝐴𝐵 . Jika perpanjangan ̅̅̅̅
𝐸𝑂 memotong sisi ̅̅̅̅
𝐶𝐷 di F, buktikan EO = FO.

Penyelesaian:

Diagonal jajar genjang berpotongan di titik tengahnya yaitu AO = CO.


∆𝐴𝐸𝑂 ≅ ∆𝐶𝐹𝑂.
AOE = COF (sudut bertolak belakang)
AO = CO
OAE = OCF (sudut dalam berseberangan)
Menurut Sd-S-Sd, ∆𝐴𝐸𝑂 ≅ ∆𝐶𝐹𝑂. Akibatnya, EO = FO. Terbukti bahwa EO = FO.

3. Pada jajar genjang ABCD, dibuat garis m // 𝐴𝐶̅̅̅̅ sehingga m berturut-turut memotong AB
̅̅̅̅ di L, perpanjangan ̅̅̅̅
di K dan 𝐵𝐶 𝐴𝐷 di M serta perpanjangan ̅̅̅̅
𝐶𝐷 di N. Buktikan KN = LM
dan KM = LN.

Penyelesian:

Adapun m AKM = m BKL (sudut bertolak belakang) dan m KAM = m KBL (sudut
dalam berseberangan). Sehingga, menurut Sd-Sd ∆𝐴𝑀𝐾~∆𝐵𝐿𝐾. Diperoleh
𝐾𝑀 𝐴𝐾
= 𝐵𝐾 (1)
𝐾𝐿
Adapun m CLN = m BLK (sudut bertolak belakang) dan m LCN = m LBK (sudut
dalam berseberangan). Sehingga, menurut Sd-Sd ∆𝐶𝑁𝐿~∆𝐵𝐾𝐿. Diperoleh
𝐿𝑁 𝐶𝐿
= 𝐵𝐿 (2)
𝐿𝐾
𝐴𝐾 𝐶𝐿
Karena m // ̅̅̅̅
𝐴𝐶 maka 𝐵𝐾 = 𝐵𝐿. Menggunakan fakta ini serta dari (1) dan (2) diperoleh
𝐾𝑀 𝐿𝑁
= ⇔ 𝐾𝑀 = 𝐿𝑁
𝐾𝐿 𝐿𝐾
Terbukti bahwa KM = LN. Adapun KN = KL + LN dan LM = KL + KM. Karena KM =
LN, otomatis KN = LM. Terbukti bahwa KN = LM.

4. Buktikan bahwa suatu segiempat adalah jajar genjang jika sepasang sisi yang berhadapan
sejajar dan diagonal-diagonalnya berpotongan pada titik pertengahannya.

Penyelesaian:
Adapun AO = CO, AOD  COB , dan DO = BO. Sehingga menurut S – Sd – S, ∆𝐴𝐷𝑂 ≅
∆𝐶𝐵𝑂. Akibatnya, m ADO = m CBO . Karena ADO dan CBO sudut dalam
berseberangan yang dibentuk dari ruas garis AD dan BC dan transversal BD dan besar
̅̅̅̅ //𝐵𝐶
sudut keduanya sama, maka 𝐴𝐷 ̅̅̅̅. Karena segiempat ABCD memiliki dua pasang sisi
yang sejajar maka ABCD merupakan jajar genjang.

5. Buktikan bahwa garis yang menghubungkan tengah-tengah dua buah sisi yang berhadapan
pada suatu jajar genjang sejajar dengan kedua sisi yang lain.

Jawab:

Karena AB dan DC sama panjang maka AE = FD. Adapun AE = FD, EAF  DFA (sudut
dalam berseberangan), dan AF = FA. Sehingga menurut S – Sd – S, ∆𝐴𝐸𝐹 ≅ ∆𝐹𝐷𝐴.
Akibatnya, m AFE = m FAD. Karena AFE dan FAD sudut dalam berseberangan yang
dibentuk dari ruas garis AD dan EF dan transversal AF dan besar sudut keduanya sama,
maka ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ . Karena ̅̅̅̅
𝐴𝐷 //𝐸𝐹 ̅̅̅̅ otomatis 𝐵𝐶
𝐴𝐷//𝐵𝐶 ̅̅̅̅ //𝐸𝐹
̅̅̅̅ . Terbukti bahwa ̅̅̅̅
𝐸𝐹 sejajar dengan
kedua sisi yang lain.

2. ABCD suatu jajar genjang, E pertengahan ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ . Buktikan ̅̅̅̅


𝐴𝐷 dan F pertengahan 𝐵𝐶 ̅̅̅̅ .
𝐴𝐹 //𝐶𝐸

Jawab:
Misalkan m BAD = α dan m BAF = x. Karena 𝐸𝐹 ̅̅̅̅ dan 𝐵𝐶
̅̅̅̅ membagi ruas 𝐴𝐷 ̅̅̅̅ menjadi
dua bagian yang sama panjang maka ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ //𝐷𝐶
𝐸𝐹 //𝐴𝐵 ̅̅̅̅ . Dengan demikian diperoleh m AFE
= m CEF = m ECD = x.
Pada jajar genjang sudut yang berhadapan sama besar, sehingga m BCD = m BAD = α.
Otomatis, m FAE = m ECF = α – x. Sudut AEF pada segitiga AEF dan sudut EFC pada
segitiga EFC yaitu 180º - x – (α – x) = 180º- x. Sehingga pada segi empat AFCE diperoleh
fakta bahwa sudut yang berhadapan sama besar. Akibatnya AEFC merupakan jajar
genjang. Sehingga terbukti ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ .
𝐴𝐹 //𝐶𝐸

7. Pada jajar genjang ABCD, melalui A dibuat garis yang sejajar ̅̅̅̅
𝐵𝐷 . Garis tersebut
̅̅̅̅ ̅̅̅̅
memotong perpanjangan 𝐵𝐶 di E dan perpanjangan 𝐶𝐷 di F.Buktikan EF = 2 BD.

Jawab:

Karena ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ dan ̅̅̅̅


𝐷𝐹 //𝐴𝐵 ̅̅̅̅ maka ABDF merupakan suatu jajar genjang. Akibatnya
𝐴𝐹 //𝐵𝐷
DF = AB. Karena AB = CD maka DF = CD. Akibatnya CF = CD + DF = CD + CD =
2CD.
Adapun BCD  ECF dan CBD  CEF (sudut sepihak). Sehingga menurut Sd– Sd,
∆𝐶𝐵𝐷~∆𝐶𝐸𝐹. Dengan demikian
𝐵𝐷 𝐶𝐷 𝐵𝐷 𝐶𝐷 𝐵𝐷 1
= ⇔ = ⇔ = ⇔ 𝐸𝐹 = 2𝐵𝐷
𝐸𝐹 𝐶𝐹 𝐸𝐹 2𝐶𝐷 𝐸𝐹 2
Terbukti bahwa EF = 2 BD.

8. Buktikan bahwa titik potong kedua diagonal belah ketupat sama jauh dari sisi – sisinya.
Jawab:

Kedua diagonal belah ketupat berpotongan tegak lurus. Sehingga segitiga AEB, AED,
CED, dan CEB merupakan segitiga siku-siku dengan panjang sisi miring (masing-masing
sisi AB, AD, CD, dan CB) yang sama. Menurut sisi miring – sisi, keempat segitiga tersebut
kongruen. Otomatis luas keempatnya sama. Karena luasnya sama serta sisi alas masing-
masing segitiga (sisi AB, AD, CD, dan CB) juga sama, maka tinggi keempat segitiga sama.
Terbukti bahwa titik potong kedua diagonal belah ketupat sama jauhnya dari sisi-sisinya.

9. Buktikan bahwa jika pada suatu segiempat dua sudut berdekatannya siku –siku dan
diagonal – diagonalnya sama panjang maka segiempat tersebut merupakan persegi
panjang.

Jawab:

Adapun AC = BD dan DC = CD. Menurut sisi miring – sisi, ∆𝐴𝐷𝐶 ≅ ∆𝐵𝐶𝐷. Akibatnya,
AD = BC. Adapun AC = BD, AB = AB, dan BC = AD. Sehingga menurut S – S – S,
∆𝐵𝐴𝐶 ≅ ∆𝐴𝐵𝐷. Dengan demikian ABC  BAD . Karena jumlah sudut-sudut segiempat
sama dengan 360º, maka
360   ADC  BCD  ABC  BAD  90  90  2ABC  180   2ABC . Otomatis
ABC  90 dan BAD  90 . Karena keempat sudutnya siku-siku, maka ABCD merupakan
persegi panjang.

10. ABCD suatu belah ketupat. Panjang AB dengan AE = AB. Buktikan CE berpotongan
dengan AD ditengah – tengah.
Jawab:

Karena ̅̅̅̅
𝐴𝐹 // 𝐵𝐶̅̅̅̅ serta EA = AB, maka EF = FC. Karena ̅̅̅̅
𝐷𝐶 // ̅̅̅̅
𝐸𝐴 serta ̅̅̅̅
𝐶𝐸 merupakan
transversal, maka mAEF  mDCF . Adapun DC = AB karena sisi yang berhadapan pada
belah ketupat sama panjang. Ini berakibat AE = DC. Menurut S – Sd – S, ∆𝐴𝐸𝐹 // ∆𝐷𝐶𝐹.
Otomatis AF = DF. Dengan demikian F titik tengah AD. Terbukti bahwa 𝐶𝐸 ̅̅̅̅ berpotongan
̅̅̅̅ di tengah-tengah.
dengan 𝐴𝐷

12. ABCD suatu segiempat ekuilik dengan AB = DC dan mA  mD  120  . Jika E adalah
titik tengan AC , G titik tengah BD , F titik tengah BC dan H titik tengah AD . Buktikan
EFGH merupakan suatu belah ketupat.

Jawab:

Karena H dan G masing-masing membagi ̅̅̅̅ 𝐴𝐷 dan ̅̅̅̅


𝐵𝐷 menjadi dua bagian yang sama,
maka ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ . Selain itu dapat ditunjukkan bahwa ∆𝐷𝐻𝐺~∆𝐷𝐴𝐵, sehingga HG = 𝐴𝐵.
𝐻𝐺 //𝐴𝐵 2
Karena E dan F masing-masing membagi ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ menjadi dua bagian yang sama, maka
𝐴𝐶 dan 𝐵𝐶
̅̅̅̅ . Selain itu dapat ditunjukkan bahwa ∆𝐸𝐹𝐶~∆𝐴𝐵𝐶, sehingga EF = 𝐴𝐵.
̅̅̅̅ //𝐴𝐵
𝐸𝐹 2
𝐴𝐵
Dengan demikian ̅̅̅̅
𝐻𝐺 dan ̅̅̅̅
𝐸𝐹 sepasang sisi sejajar yang panjangnya sama yaitu 2 .
Karena H dan E masing-masing membagi ̅̅̅̅
𝐴𝐷 dan ̅̅̅̅
𝐴𝐶 menjadi dua bagian yang sama,
maka ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ . Selain itu dapat ditunjukkan bahwa ∆𝐴𝐻𝐸~∆𝐴𝐷𝐶, sehingga HE = 𝐷𝐶.
𝐻𝐸 //𝐷𝐶 2
̅̅̅̅ ̅̅̅̅
Karena G dan F masing-masing membagi 𝐵𝐷 dan 𝐵𝐶 menjadi dua bagian yang sama,
𝐷𝐶
̅̅̅̅ //𝐷𝐶
maka 𝐺𝐹 ̅̅̅̅ . Selain itu dapat ditunjukkan bahwa ∆𝐺𝐹𝐵~∆𝐷𝐶𝐵, sehingga GF = .
2
𝐷𝐶
𝐻𝐸 dan ̅̅̅̅
Dengan demikian ̅̅̅̅ 𝐺𝐹 sepasang sisi sejajar yang panjangnya sama yaitu 2 .
Karena pasangan sisi yang berhadapannya sejajar maka EFGH merupakan jajar genjang
Karena diketahui AB = DC maka keempat sisi segiempat EFGH sama panjang.
Berdasarkan definisi, EFGH merupakan suatu belah ketupat.

̅̅̅̅//𝐵𝐶
21. ABCD suatu trapesium dengan 𝐴𝐷 ̅̅̅̅ dan luas daerahnya S. Titik E adalah
pertengahan AB. Jika [CED] = S1 buktikan S1 = 1⁄2 S.

Jawab:

1
[𝐷𝐸𝐹] = 𝐸𝐹. 𝑡1
2
1
[𝐶𝐸𝐹] = 𝐸𝐹. 𝑡2
2
Sehingga
[𝐶𝐸𝐷] = 𝑆1
[𝐷𝐸𝐹] + [𝐶𝐸𝐹] = 𝑆1
1
𝐸𝐹. 𝑡1 + 12𝐸𝐹. 𝑡2 = 𝑆1
2
1
𝐸𝐹(𝑡1 + 𝑡2 ) = 𝑆1 (1)
2
𝐸𝐴.𝐵𝐶+𝐸𝐵.𝐴𝐷
Menurut Dalil Thales, 𝐸𝐹 = . Karena E titik tengah AB maka EA = EB.
𝐸𝐴+𝐸𝐵
𝐸𝐵.𝐵𝐶+𝐸𝐵.𝐴𝐷 𝐵𝐶+𝐴𝐷
Sehingga 𝐸𝐹 = 𝐸𝐵+𝐸𝐵 = 2 . Substitusi ke (1)
1 𝐵𝐶 + 𝐴𝐷
(𝑡1 + 𝑡2 ) = 𝑆1
2 2
𝐵𝐶+𝐴𝐷
Suku (𝑡1 + 𝑡2 ) tidak lain adalah luas trapesium ABCD. Sehingga diperoleh
2
1
𝑆 = 𝑆1 . Terbukti bahwa S1 = 1⁄2 S.
2

22. BC dan AD merupakan pasangan sisi sejajar pada trapesium ABCD. Sementara itu. E
pertengahan AB , F pertengahan BC dan G pertengahan AD . EC dan FG berpotongan
di H, ED dan FG berpotongan di M. Jika [CFH] = S1, [EHM] = S dan [DGM] = S2,
buktikan S = S1 + S2

Jawab:
Melalui E dibuat garis sejajar AD, sedemikian hingga berpotongan GF di titik N.

Perhatikan ∆𝐸𝐼𝐻dan ∆𝐶𝐹𝐻


𝑚∠𝐼𝐸𝐻 = 𝑚∠𝐹𝐶𝐻 menurut sd-s-sd
EH = EH ∆𝐸𝐼𝐻 ≅ ∆𝐶𝐹𝐻
𝑚∠𝐼𝐻𝐸 = 𝑚∠𝐹𝐻𝐶 Akibatnya[EIH] = [𝐶𝐹𝐻].
Perhatikan ∆𝐸𝐼𝑀 dan ∆𝐷𝐺𝑀
𝑚∠𝐼𝐸𝑀 = 𝑚∠𝐺𝐷𝑀 menurut sd-s-sd
EM = MD ∆𝐸𝐼𝑀 ≅ ∆𝐷𝐺𝑀
𝑚∠𝐸𝑀𝐼 = 𝑚∠𝐷𝑀𝐺 Akibatnya [EIM] = [𝐷𝐺𝑀]
[EHM] = [𝐸𝐼𝐻] + [EIM]
S = [CFH] + [𝐷𝐺𝑀]
S = 𝑆1 + 𝑆2

̅̅̅̅ , ̅̅̅̅
29. Pada jajar genjang ABCD diketahui titik E pada 𝐵𝐶 ̅̅̅̅
̅̅̅̅ berpotongan di F, 𝐴𝐶
𝐴𝐸 dan 𝐵𝐷
𝐷𝐸 berpotongan di G, ̅̅̅̅
dan ̅̅̅̅ 𝐴𝐸 dan ̅̅̅̅ 𝐷𝐸 dan ̅̅̅̅
𝐵𝐺 berpotongan di H serta ̅̅̅̅ 𝐶𝐹 berpotongan di
̅̅̅̅̅ ̅̅̅̅
M. Buktikan 𝐻𝑀//𝐴𝐷 .

Jawab:
Perhatikan ∆𝐵𝐸𝐷 dan transversal FC. Menurut Teorema Menelaus diperoleh
𝐵𝐶 𝐸𝑀 𝐷𝐹 𝐵𝐶 𝐸𝑀 𝐷𝐹
. . = −1 ⇔ 𝐸𝐶 . 𝑀𝐷 . 𝐹𝐵 = 1 (1)
𝐶𝐸 𝑀𝐷 𝐹𝐵
Perhatikan ∆𝐶𝐸𝐴 dan transversal BG. Menurut Teorema Menelaus diperoleh
𝐶𝐵 𝐸𝐻 𝐴𝐺 𝐶𝐵 𝐸𝐻 𝐴𝐺
. . = −1 ⇔ 𝐸𝐵 . 𝐻𝐴 . 𝐺𝐶 = 1 (2)
𝐵𝐸 𝐻𝐴 𝐺𝐶
Berdasarkan (1) dan (2) diperoleh
𝐵𝐶 𝐸𝑀 𝐷𝐹 𝐶𝐵 𝐸𝐻 𝐴𝐺
. . = 𝐸𝐵 . 𝐻𝐴 . 𝐺𝐶 (3)
𝐸𝐶 𝑀𝐷 𝐹𝐵
Dapat ditunjukkan bahwa ∆𝐺𝐴𝐷~∆𝐺𝐶𝐸. Sehingga
𝐺𝐴 𝐴𝐷
= (4)
𝐺𝐶 𝐶𝐸
Dapat ditunjukkan pula bahwa ∆𝐹𝐴𝐷~∆𝐹𝐸𝐵. Sehingga
𝐹𝐷 𝐴𝐷
= (5)
𝐹𝐵 𝐸𝐵
Substitusi (4) dan (5) ke (3) sehingga
𝐵𝐶 𝐸𝑀 𝐴𝐷 𝐶𝐵 𝐸𝐻 𝐴𝐷
. . = . .
𝐸𝐶 𝑀𝐷 𝐸𝐵 𝐸𝐵 𝐻𝐴 𝐶𝐸
𝐸𝑀 𝐸𝐻
=
𝑀𝐷 𝐻𝐴
Perhatikan segitiga EAD. Berdasarkan teorema karena HM memotong dua sisi segitiga
sehingga panjang sisinya membentuk proporsi maka HM sejajar dengan salah satu sisi
segitiga, yaitu sisi AD. Terbukti bahwa ̅̅̅̅̅
𝐻𝑀//𝐴𝐷̅̅̅̅.

31. Pada segiempat ABCD , garis bagi  B dan garis bagi C berpotongan dititik E. Tentukan
mBEC

Jawab:
a Jika mA  mB  mC  mD  90
Maka mBEC  90

b Jika mA  mB  mC  mD  90


Misalkan mB  b , mC  c
1
Maka mBEC  180  (b  c)
2

33. ABCD suatu segiempat. Misalkan mABD   , mACD   . Jika garis bagi dari
1
BAC memotong garis bagi BDC di E , buktikan mAED  (   )
2

Jawab:

Misalkan AB // CD
mBDC  
mCAB  
Misal perpotongan BD dengan AC di titik F
mDFC  180  (   )
mDFA  180  (180  (   ))
mDFA    
Misal perpotongan DE dan AC di titik G

mDGF  180  (180  (   )  )
2

mDGF     
2

mDGF  
2
Misal perpotongan AE dan BD di titik H

mAHF  180  (180  (   )  )
2

mAHF     
2

mDGF   
2
Maka

mFGE  180  (  )
2

mFHE  180  (  )
2
Jadi :
 
mAED  360  (   )  (180  (   ))  (180  (  ))
2 2
 
mAED  (   )  (   )  (  )
2 2
 
mAED  
2 2
1
mAED  (   )
2

39. Apakah rumus Bretsneider dapat dinyatakan dalam bentuk [𝐴𝐵𝐶𝐷] =


𝐵+𝐷
[√(𝑠 − 𝑑)(𝑠 − 𝑐)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑎) − 𝑎𝑏𝑐𝑑𝐶𝑜𝑠 2 ( )]? Jelaskan Jawaban Anda.
2

Jawab:

a.b.sin(B) c.d.sin(D)
[ABC] = dan [ADC] =
2 2
a.b.sin(B)+c.d.sin(D)
Sehingga [ABCD] = [ABC] + [ADC] = 2
1
[ABCD]2 =4 (a2 2
b sin 2 (B)
+ 2abcdsin(B)sin(D) + c 2 d2 sin2 (D)) (1)
Diagonal AC dapat dihitung menggunakan aturan kosinus yaitu
𝐴𝐶 2 = 𝑎2 + 𝑏 2 − 2𝑎𝑏𝑐𝑜𝑠(𝐵) atau 𝐴𝐶 2 = 𝑐 2 + 𝑑 2 − 2𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐷)
Sehingga
𝑎2 + 𝑏 2 − 2𝑎𝑏𝑐𝑜𝑠(𝐵) = 𝑐 2 + 𝑑 2 − 2𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐷)
⇔ 𝑎2 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 = 2𝑎𝑏𝑐𝑜𝑠(𝐵) − 2𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐷)
⇔ (𝑎2 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 )2 = 4𝑎2 𝑏 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐵) − 8𝑎𝑏𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐵) cos(𝐷) + 4𝑐 2 𝑑 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐷)
1 1
⇔ 0 = 4 (𝑎2 𝑏 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐵) − 2𝑎𝑏𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐵) cos(𝐷) + 𝑐 2 𝑑 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐷)) − 16 (𝑎2 + 𝑏 2 −𝑐 2 −
𝑑 2 )2 (2)
Jumlahkan (1) dan (2) sehingga diperoleh
1 1
[ABCD]2 = (a2 b2 sin2 (B) + 2abcdsin(B)sin(D) + c 2 d2 sin2 (D)) + (𝑎2 𝑏 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐵)
4 4
1
− 2𝑎𝑏𝑐𝑑𝑐𝑜𝑠(𝐵) cos(𝐷) + 𝑐 2 𝑑 2 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐷)) − (𝑎2 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 )2
16
1
⇔ [ABCD]2 = [a2 b2 {sin2 (B) + 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐵)} + 2abcd{sin(B) sin(D) − 𝑐𝑜𝑠(𝐵) cos(𝐷)}
4
1 2
+ c 2 d2 {sin2 (D) − 𝑐𝑜𝑠 2 (𝐷)}] − (𝑎 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 )2
16
1 1 2
⇔ [ABCD]2 = {a2 b2 + 2abcdcos(B + D) + c 2 d2 } − (𝑎 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 )2
4 16
1 1
⇔ [ABCD]2 = {4a2 b2 + 4c 2 d2 − (𝑎2 + 𝑏 2 −𝑐 2 − 𝑑 2 )2 } − abcdcos(B + D)
16 2
1
⇔ [ABCD]2 = (−a4 − b4 − c 4 − 𝑑 4 + 2𝑎2 b2 + 2𝑎2 𝑐 2 + 2𝑎2 𝑑 2 + 2𝑏 2 𝑐 2 + 2𝑏 2 d
16
1
+ 2𝑐 2 𝑑 2 + 8𝑎𝑏𝑐𝑑 − 8𝑎𝑏𝑐𝑑) − abcdcos(B + D)
2
1
⇔ [ABCD]2 = (−𝑎 + 𝑏 + 𝑐 + 𝑑)(𝑎 − 𝑏 + 𝑐 + 𝑑)(𝑎 + 𝑏 − 𝑐 + 𝑑)(𝑎 + 𝑏 + 𝑐 − 𝑑)
16
1 1
− 𝑎𝑏𝑐𝑑 − abcdcos(B + D)
2 2
1
⇔ [ABCD]2 = (𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)(𝑠 − 𝑑) − 𝑎𝑏𝑐𝑑{1 + cos(B + D)}
2
𝐵+𝐷
⇔ [ABCD]2 = (𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)(𝑠 − 𝑑) − abcd𝑐𝑜𝑠 2 ( )
2
𝐵+𝐷
Terbukti bahwa [𝐴𝐵𝐶𝐷] = [√(𝑠 − 𝑑)(𝑠 − 𝑐)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑎) − 𝑎𝑏𝑐𝑑𝐶𝑜𝑠 2 ( )]
2

45. Diketahui suatu kertas berbentuk persegi panjang. Namailah dengan ABCD. Titik C’
merupakan titik tengah dari ̅̅̅̅
𝐴𝐵 . Sementara itu, titik E berada pada ̅̅̅̅
𝐴𝐷 dan F berada pada
̅̅̅̅
𝐵𝐶 sedemikian hingga jika C dihimpitkan dengan C’ kertas tersebut akan terlipat menurut
̅̅̅̅ . Jika AB = 240 dan BC = 288, tentukan EF. (Lihat gambar di bawah)
𝐸𝐹
Catatan:
Untuk beberapa Teorema yang terkait dengan pelipatan kertas lihat:
1. Hiroshi Okumura (2014)
2. Kazuo Haga (2008)

Jawab:

Perhatikan ∆𝐶 ′ 𝐹𝑂 dan ∆𝐶 ′ 𝐹𝑂.


C’F = CF
C' FO  CFO
FO = FO
Menurut S-Sd-S ∆𝐶 ′ 𝐹𝑂 ≅ ∆𝐶 ′ 𝐹𝑂. Akibatnya C' OF  COF . Ruas garis CC’
merupakan garis lurus, sehingga C' OF dan COF berpelurus. Jadi,
C ' OF  COF  90 .
1
Selanjutnya, dapat dibuat layang-layang ECFC’ dengan luas daerah 2 . 𝐶𝐶 ′ . 𝐸𝐹. Luas
persegi panjang ABCD yaitu AB.BC = 240.288 = 69120.
Menggunakan dalil Pythagoras diperoleh
𝐶𝐶′2 = 𝐶′𝐵 2 + 𝐶𝐵 2
1 2
𝐶𝐶′2 = (2 𝐴𝐵) + 𝐶𝐵 2
1
𝐶𝐶′2 = 4 𝐴𝐵 2 + 𝐶𝐵 2
1
𝐶𝐶′2 = 2402 + 2882
4
𝐶𝐶′2 = 97344
𝐶𝐶′ = 312
312
Otomatis CO = = 156.
2
Perhatikan ∆𝐶𝑂𝐹 dan ∆𝐶𝐵𝐶 ′ 𝐹.
FCO  C' CB
FOC  C' BC
Menurut Sd-Sd ∆𝐶𝑂𝐹~∆𝐶𝐵𝐶′. Sehingga
𝐶𝑂 𝐶𝐹 156 𝐶𝐹
= ′
⇔ = ⇔ 𝐶𝐹 = 169
𝐶𝐵 𝐶𝐶 288 312
Selanjutnya 𝐵𝐹 2 = 1692 − 1202 = 14161. Sehingga BF = 119. Luas segitiga C’BF
𝐶′𝐵.𝐵𝐹 120.119
yaitu = = 7140.
2 2
Berikutnya misalkan AE = x, maka ED = AD – x = 288 – x
2 2 2 2
2402
𝐶′𝐸 = 𝐴𝐶′ + 𝐴𝐸 ⇔ 𝐶′𝐸 = + 𝑥 2 ⇔ 𝐶′𝐸 2 = 14400 + 𝑥 2
2
Sedangkan
𝐶𝐸 2 = 𝐸𝐷2 + 𝐷𝐶 2 ⇔ 𝐶𝐸 2 = (288 − 𝑥)2 + 2402
⇔ 𝐶𝐸 2 = 82944 − 576𝑥 + 𝑥 2 + 57600 ⇔ 𝐶𝐸 2 = 140544 − 576𝑥 + 𝑥 2
Perhatikan ∆𝐶 ′ 𝑂𝐸 dan ∆𝐶𝑂𝐸.
C’O = CO
C' OE  COE
EO = EO
Menurut S-Sd-S ∆𝐶 ′ 𝑂𝐸 ≅ ∆𝐶𝑂𝐸. Sehingga C’E = CE.
C’E = CE
14400 + 𝑥 2 = 140544 − 576𝑥 + 𝑥 2
576𝑥 = 126144
𝑥 = 219
𝐴𝐶′.𝐴𝐸 120.219
Sehingga AE = 219 dan ED = 288 – 219 = 69. Luas segitiga AC’E yaitu = =
2 2
𝐸𝐷.𝐷𝐶 69.240
13140. Sementara luas segitiga EDC yaitu = = 8280. Dengan demikian
2 2
Luas layang-layang ECFC’ = Luas persegi panjang ABCD - Luas segitiga C’BF - Luas
segitiga AC’E - Luas segitiga EDC
1
. 𝐶𝐶 ′ . 𝐸𝐹 = 69120 − 7140 − 13140 − 8280
2
1
. 312. 𝐸𝐹 = 40560
2
𝐸𝐹 = 260
Jadi, EF = 260

49. Pada daerah eksterior ABC dibuat persegi ABKL, BCMN, CAOP. Perpanjangan KL
MN dan OP akan membentuk A' B' C' . Jika ABC sama sisi dengan panjang sisinya 2
satuan, tentukan [A’B’C’]

Jawab:

Perhatikan ∆𝐵𝑁𝐵′ dan ∆𝐵𝐾𝐵′. Kedua segitiga merupakan segitiga siku-siku dengan sisi
miring yang sama, yaitu BB’. Selain itu, BN = BK. Sehingga menurut sisi miring-sisi,
∆𝐵𝑁𝐵′ ≅ ∆𝐵𝐾𝐵′. Akibatnya B’N = B’ K. Diketahui BN = BK serta B’N = B’K. Menurut
definisi, BKB’N merupakan layang-layang. BB’ merupakan diagonal layang-layang
sehingga BB’ merupakan garis bagi. Karena m NBK = 360º - 90º - 60º - 90º = 120º.
Otomatis m NBB' = m KBB' = 60º. Karena tan 60º = √3, maka B’N = 2√3. Jadi B’N =
B’K = 2√3. Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan C’M = C’P = 2√3 dan A’O = A’L.
Sehingga diperoleh panjang sisi-sisi segitiga A’B’C’ sama yaitu 2 + 4√3. Menggunakan
rumus Heron diperoleh
6+12√3 4+8√3 4+8√3 4+8√3
[A’B’C’] = √ . . .
2 2 2 2

Atau setelah dikerjakan [A’B’C’] = 24√2 + 26√6.

50. Misalkan ABCD suatu trapesium sama kaki dengan 𝐴𝐵 = 10, 𝐵𝐶 = 15, 𝐶𝐷 = 28, dan
𝐷𝐴 = 15. Ada suatu titik E sedemikian hingga [𝐴𝐸𝐷] = [𝐴𝐸𝐵] dan EC bernilai terkecil.
Tentukan nilai EC.
Jawab:

Karena [𝐴𝐸𝐷] = [𝐴𝐸𝐵] akibatnya AE = AE, AD = BE, AB = ED.


Karena AD = BE = 15 dan AB = ED = 10, pastilah titik E berada pada CD.
Sehingga CD = EC + ED
28 = EC + 10
EC = 18.