Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH

PERKEMBANGAN INDUSTRI 4.0 DAN PERANNYA PADA


SEKTOR INDUSTRI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)
Mata Kuliah Tata Tulis dan Komunikasi Ilmiah yang Diampu oleh
Ibu Firdanis Setyaning Handika, M.T.

Disusun oleh:
Nama : Mardiansyah
NIM : 21217283
Kelas : A3

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SERANG RAYA
SERANG
2017
1

1. Pendahuluan
Saat ini kita berada di ambang revolusi teknologi yang secara fundamental
akan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain.
Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua
bidang. Hal ini yang mendasari bagaimana membentuk Revolusi Industri keempat
(Industri 4.0) yang dimulai ada permulaan abad ini. Suatu teknologi dan
pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi dengan
cara yang fundamental akan mengubah umat manusia.
Revolusi industri pertama yang dimulai sejak 1784 memperkaryakan air dan
kekuatan uap untuk mekanisasi sistem produksi. Revolusi industri kedua yang
dimulai tahun 1870 menggunakan daya listrik untuk melangsungkan produksi
masal. Sedangkan revolusi industri ketiga yang dimulai tahun 1969 menggunakan
kekuatan elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi proses produksi.
Saat ini dunia telah memasuki era baru revolusi industri keempat, dimana
kekuatannya bertopang pada revolusi industri ketiga. Dalam abad ini, revolusi
indsutri ini ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi sehingga kita melihat
suatu area baru yang terdiri dari tiga bidang ilmu independen: fisika, digital dan
biologi (Tjandrawinata, 2016).
Industri 4.0 merupakan sebuah konsep baru dari Jerman untuk mengubah
proses manufaktur dengan mengintegrasikan informasi dalam sebuah mata rantai
produksi mulai dari awal sampai disain, produksi, pelayanan, hingga perbaikan.
Industri 4.0 bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pabrikan dengan
mengurangi waktu pemasaran dan menekan biaya keseluruhan (Maskur, 2015).

2. Tahapan Revolusi Industri


Revolusi industri terdiri dari beberapa tahapan yang telah terjadi dari sejak
penemuan mesin tenun mekanik hingga era Internet of Things saat ini.

A. Revolusi Industri I
Revolusi industri pertama dimulai di Inggris pada tahun 1784, ketika
Edmund Cartwright menciptakan mesin tenun mekanik bertenaga uap. Walaupun
1
Raymond R. Tjandrawinata, “Industri 4.0: Revolusi Industri Abad ini dan Pengaruhnya pada Bidang
Kesehatan dan Bioteknologi”, Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Medica Group,
(Februari, 2016), hal. 1-3.
2
Maskur, Fatkul, “Industri 4.0 Ubah Proses Manufaktur”, http://industri.bisnis.com/read/
20150226/257/406743/industrie-4.0-ubah-proses-manufaktur (diakses pada 06 November 2017)
2

mesin uap diciptakan pertama kalinya oleh James Watt pada tahun 1781, namun
aplikasi mesin ini untuk menggerakkan mesin tenun inilah yang dianggap
memulai tahapan industri baru. Banyak sekali perubahan yang terjadi akibat
penemuan ini, termasuk perubahan metode produksi dari manual menjadi proses
produksi menggunakan mesin, tumbuhnya industri kimia dan proses produksi
besi, meningkatnya efisiensi tenaga air, meningkatnya penggunaan tenaga uap,
pengembangan peralatan mesin dan munculnya sistem pabrik (Sadiyoko, 2017)

Gambar 1. Suasana pabrik tekstil di tahun 1835.


(Sumber : Sadiyoko, 2017)

B. Revolusi Industri II
Revolusi Industri Kedua, atau yang dikenal juga sebagai Revolusi
Teknologi, adalah fase industrialisasi yang pesat di sepertiga akhir abad ke-19
(1870) hingga awal abad ke-20 (1914). Ciri khas tahap revolusi industri kedua ini
adalah dimulainya penggunaan mesin-mesin elektrik pada proses produksi massal
berdasar sistem pembagian tenaga kerja. Revolusi Industri Kedua terjadi di
Amerika Serikat dengan ditandai oleh penggunaan energi listrik sebagai energi
utama motor penggerak mesin-mesin di industri. Munculnya teknologi listrik dan

Ali Sadiyoko, “Industry 4.0: Ancaman, Tantangan atau Kesempatan? Sebuah Introspeksi
Menyambut Kemajuan Teknologi Saat Ini”, Oratio Dies XXIV FTI UNPAR, (April, 2017), hal. 2-9.
3

telekomunikasi, memicu munculnya proses pembangunan infrastruktur


telekomunikasi (telegraf) serta teknologi lainnya yang berbasis energi listrik.

C. Revolusi Industri III


Revolusi industri ketiga adalah era dimana komponen elektronika dan
teknologi informatika digunakan secara masif di industri, terutama untuk otomasi
proses produksi. era ini dimulai dengan digunakannya PLC (Programmable Logic
Controller) di industri pada tahun 1970. PLC sendiri merupakan sebuah perangkat
pengendali universal yang dirancang khusus untuk digunakan di lingkungan
pabrik. Pada era Revolusi Industri III ini juga muncul teknologi robotika, dimana
jenis robot berlengan (articulated robot) mulai diimplementasikan di beberapa
industri manufaktur (Sadiyoko, 2017).

Gambar 2. Teknologi robotika pada industri manufaktur


(Sumber : Sadiyoko, 2017)

D. Revolusi Industri IV
Era revolusi industri keempat dapat dipastikan dimulai sejak istilah
"Internet of Things (IoT)" dikenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 2002. Ashton
adalah seorang ilmuwan di MIT (Massachusetts Institute of Technology) yang
pada saat itu sedang mengembangkan infrastruktur RFID (Radio-frequency
Identification). RFID adalah sebuah sistem identifikasi benda dengan
memanfaatkan gelombang elektromagnetik (frekuensi radio). Revolusi Industri
keempat adalah era dimana teknologi internet, teknologi informatika serta
teknologi otomasi produksi digunakan secara terintegrasi membentuk sebuah
4

sistem yang disebut CyberPhysical Systems (CPS). Sebuah sistem dimana sebuah
entitas ataupun mekanisme fisik diawasi dan dikendalikan oleh algoritma berbasis
komputer, terintegrasi dengan internet dan penggunanya (Sadiyoko, 2017).
Penjabaran tahapan revolusi industri dari yang pertama hingga keempat
digambarkan secara lebih sederhana dapat diamati pada Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Tahapan revolusi industri.


(Sumber : Sadiyoko, 2017)

3. Pengertian Industri 4.0


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri saat ini sedang
dalam titik puncak ekonomi global yang membawa perubahan dari era digital
menuju ke era informasi global. Era perubahan ini dinamakan era industri 4.0
yang memungkinkan otomatisasi ke semua bidang untuk tercapainya
produktivitas yang efektif dan efisien. Menurut pendapat Menteri Perindustrian
dan Perdagangan Kabinet Kerja (Airlangga Hartarto) dikutip dari Glienmourinsie
(2016), Industri 4.0 menjadikan proses produksi berjalan dengan internet sebagai
penopang utama. Semua obyek dilengkapi perangkat teknologi yang dibantu
5

sensor dan mampu berkomunikasi sendiri dengan sistem teknologi informasi


(Sadiyoko, 2017).
McKinsey mendefinisikan Industri 4.0 sebagai proses digitalisasi sektor
manufaktur, dengan berbagai macam sensor tertanam di hampir semua komponen
produk dan peralatan manufaktur yang terlibat, sistem siber-fisik (CPS, Cyber-
Physical Systems) di mana-mana, dengan kemampuan analisis dari semua data
yang berhubungan dengan proses yang ada (Sadiyoko, 2017). Dalam CPS,
komponen fisik dan komponen software terkait sangat erat, masing-masing
beroperasi pada dimensi ruang dan waktu yang berbeda, melakukan beberapa
pekerjaan yang secara sifat berbeda, secara simultan, namun tetap berinteraksi
satu sama lainnya dalam berbagai cara yang berubah-ubah sesuai dengan konteks
prosesnya(Sadiyoko, 2017). Jika istilah Revolusi Industri lebih mengarah pada
penunjukkan sebuah rentang waktu (era), maka istilah Industry 4.0 lebih
dikhususkan pada kejadian di sektor manufaktur saja. Industri 4.0 berfokus pada
penciptaan suatu produk, prosedur dan proses manufaktur yang cerdas.

Gambar 4. Empat kelompok teknologi pembangun Industri 4.0.


(Sumber: Sadiyoko, 2017)
6

Industri 4.0 didorong oleh empat kelompok teknologi yang juga sedang
berkembang saat ini. Kelompok pertama terdiri dari data, daya komputasi, dan
konektivitas. Kelompok kedua adalah kelompok teknologi analisis data dan
intelijen. Kelompok ketiga adalah interaksi manusia-mesin, misalnya teknologi
antarmuka dan augmented reality. Kelompok yang keempat adalah konversi
digital ke fisik. Sistem robotika yang canggih serta teknologi pencetakan 3
dimensi (additive manufacturing) adalah contoh teknologi yang ada pada
kelompok keempat ini. Jika keempat teknologi enabler ini disatukan, maka
terbentuklah sebuah era baru dalam teknologi proses manufaktur. Ciri khas yang
akan muncul dalam era baru ini adalah munculnya "pabrik-pabrik cerdas" (smart
factories) yang memungkinkan sebuah pabrik tetap dapat memenuhi permintaan
khusus dari seorang pelanggan dengan tetap menjaga tingkat keuntungannya
(Sadiyoko, 2017).
Dalam Industri 4.0, proses bisnis dan teknik bergerak sangat dinamis
sehingga memungkinkan terjadinya perubahan proses, bahkan hingga saat-saat
akhir sebuah proses produksi. Sistem ini juga memiliki kemampuan untuk
merespon terjadinya gangguan dan kegagalan secara fleksibel, misalnya gangguan
akibat terlambatnya pasokan dari supplier. Transparansi proses dari awal hingg
akhir tersedia selama proses manufaktur, sehingga dapat memfasilitasi proses
pengambilan keputusan secara optimal. Industry 4.0 juga akan menghasilkan cara-
cara baru untuk menciptakan nilai dan model bisnis baru. Secara khusus, hal ini
akan menciptakan banyak usaha start-up dan usaha kecil dengan kesempatan
untuk mengembangkan dan menyediakanlayanan di sisi hilir produksi (Sadiyoko,
2017).

4. Peran Industri 4.0 dalam Perkembangan Rantai Pasokan


Memasuki ambang era industri 4.0, perkembangan rantai pasokan (supply
chain) mengalami perubahan dalam rantai suplai itu sendiri serta evolusi, metode
proses dan alat-alat yang mengelolanya dalam era baru. Era ini adalah jalan
menuju Digital Supply Chain (DSC), kombinasi dari metodologi proses, alat dan
pilihan pengiriman untuk memandu perusahaan untuk hasil mereka dengan cepat
7

sebagai kompleksitas dan kecepatan meningkatkan rantai pasokan karena efek


dari persaingan global, fluktuasi harga yang cepat, siklus hidup produk
pendek, spesialisasi diperluas, kelangkaan terpantau, dan area semuanya dapat
dimonitor dari tempat manapun (Tritularsih dan Sutopo, 2017).

Gambar 5. Perbandingan rantai pasokan secara tradisional dan digital.


(Sumber: Tritularsih dan Sutopo, 2017)

Industri 4.0 dalam rantai pasokan digital sebagai dicontohkan perusahaan


yang berorientasi pada pelanggan misalnya e-commerce, pemasaran digital, media
sosial, dan pelayanan kepuasan pelanggan. Pada akhirnya, hampir setiap aspek
bisnis akan ditransformasikan melalui system yang terintegrasi dalam
pengembangan manufaktur, pemasaran dan penjualan, operasi internal lainnya,
serta model bisnis baru berdasarkan kemajuan ini. Akibatnya, kita berkembang
menuju ekosistem digital lengkap. Ekosistem ini akan didasarkan pada
implementasi penuh berbagai teknologi Digital-Cloud, Big Data, Interne of
Things, 3D printing, dan sebagainya. Sehingga ekosistem ini memungkinkan
model bisnis baru, yaitu digitalisasi produk dan layanan, digitalisasi dan
integrasi setiap tautan dalam rantai nilai perusahaan seperti area bekerja digital,
pengembangan produk dan inovasi, teknik dan manufaktur, distribusi, dan
Yustina Tritularsih dan Wahyudi Sutopo, “Peran Keilmuan Teknik Industri dalam Perkembangan
Rantai Pasokan Menuju Era Industri 4.0”, Seminar dan Konferensi Nasional IDEC, (Mei, 2017), hal. 507-
517.
8

sistem penjualan digital dan manajemen dalam hubungannya dengan pelanggan


(Tritularsih dan Sutopo, 2017).

DAFTAR PUSTAKA
9

Maskur, Fatkul. 2015. Industri 4.0 Ubah Proses Manufaktur. (Online).


http://industri.bisnis.com/read/20150226/257/406743/industrie-4.0-ubah-
proses-manufaktur. Diakses pada 06 November 2017.
Sadiyoko, Ali. 2017. Industry 4.0: Ancaman, Tantangan atau Kesempatan? Sebuah
Introspeksi Menyambut Kemajuan Teknologi Saat Ini. Oratio Dies XXIV FTI
UNPAR. Bandung: Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik
Parahyangan.
Tjandrawinata, R. 2016. Industri 4.0: Revolusi Industri Abad ini dan
Pengaruhnya pada Bidang Kesehatan dan Bioteknologi. Dexa Laboratories
of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Medica Group.
Tritularsih, Y., dan Sutopo, W. 2017. Peran Keilmuan Teknik Industri dalam
Perkembangan Rantai Pasokan Menuju Era Industri 4.0. Seminar dan
Konferensi Nasional IDEC 2017: 507-517.