Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

ORIENTASI SUMBER DAYA MANUSIA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pengembangan Sumber Daya Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Amin Yusuf, M. Si.

Disusun Oleh :
1. Chusnul Chotimah (0102516011)
2. Sri Lestari (0102516013)
3. Nelly Iva Ruhaina (0102516024)
4. Nafisatul Chaliyyah (0102516026)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Orientasi Sumber Daya Manusia ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya.
Kami juga berterima kasih kepada Bapak Dr. Amin Yusuf, M. Si. Selaku
dosen mata kuliah Pengembangan Sumber Daya Pendidikan yang telah
memberikan tugas ini kepada kami, sehingga membuat kami belajar dan
mengetahui berbagai informasi mengenai Orientasi Sumber Daya Manusia.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai berbagai macam orientasi yang
dilakukan oleh organisasi yang diperuntukkan bagi pegawai/ karyawan baru.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah berikutnya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah mengenai orientasi Sumber
Daya Manusia ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap
pembaca.

Semarang, September 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 2
D. Manfaat Penulisan 2
BAB II KERANGKA TEORI3
A. Pengertian Orientasi 3
B. Pengertian Sumber Daya Manusia 4
BAB III KERANGKA PRAKTIS 6
A. Orientasi Sumber Daya Pendidik 6
B. Tujuan Orientasi 8
C. Isi Program Orientasi 11
D. Penjadwalan 18
E. Kepanitiaan 20
BAB IV PENUTUP 24
A. KESIMPULAN 24
B. SARAN 25
DAFTAR PUSTAKA26

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ketika memulai pekerjaan baru banyak para karyawan yang merasa
gugup ketika pertama kali bekerja. Kegugupan hari pertama ini dasarnya
bersifat alamiah. Namun hal itu dapat mengurangi kepuasan karyawan baru
dan kemampuan untuk belajar kerja jika manajer SDM tidak
mengantisipasinya lebih dini. Para psikolog mengatakan bahwa kesan awal
pertama adalah begitu kuatnya dan wajar-wajar saja karena karyawan baru
masih memiliki sesuatu yang sedikit, seperti pengetahuan, dan pengalaman
kerja serta untuk melakukan penilaian diri. Hal ini sangat tergantung pada
keinginan kuat karyawan untuk mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan.
Untuk membantu karyawan menjadi anggota yang puas dan produktif, manajer
dan departemen SDM harus membuat kesan awal tersebut menjadi sesuatu
yang menyenangkan para karyawan baru, jadi jangan menimbulkan kesan
bahwa yang paling membutuhkan di perusahaan adalah karyawan dan
perusahaan.
Sekali proses seleksi telah diputuskan, para manajer dan departemen
SDM hendaknya membantu karyawan baru tersebut untuk merasa cocok
dengan lingkungannya. Mengapa? Karena sejak hari pertama, pendatang baru
sudah masukke proses Investasi SDM. Mereka perlu disiapkan sejak awal agar
nantinya mampu melakukan sesuatu tugas yang dibebankan perusahaan kepada
mereka dengan baik. Untuk membantu pendatang baru agar mereka merasa
cocok, program orientasi dan sosialisasi akan membuat mereka familiar antara
lain dengan peran-peranya, perusahaan, kebijakan-kebijakan dan karyawan
lainnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahannya,
sebagai berikut:

1
1. Apa saja tujuan dari pelaksanaan orientasi sumber daya manusia?
2. Bagaimana isi program pelaksanaan orientasi tersebut?
3. Bagaimana penjadwalan yang dilakukan dalam orientasi tersebut?
4. Bagaimana susunan kepanitiaan dalam pelaksanaan orientasi tersebut?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini guna melengkapi tugas Mata Kuliah
Pengembangan Sumber Daya Pendidikan, serta penulis ingin memaparkan
orientasi sumber daya manusia yaitu mengenai:
1. Mengetahui tujuan dalam pelaksanaan orientasi sumber daya manusia
2. Mengetahui berbagai isi dari program orientasi tersebut
3. Mengetahui penjadwal dalam orientasi.
4. Mengetahui susunan kepanitiaan dalam pelaksanaan orientasi tersebut

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberi wawasan bagi
penulis tentang prosedur pelaksanaan orientasi sumber daya manusia baik
mengenai tujuan, isi program, penjadwalan serta kepanitiaan dalam orientasi
sumber daya manusia tersebut.

2
BAB II
KERANGKA TEORI

A. Pengertian Orientasi
Orientasi adalah program yang dirancang untuk menolong karyawan
baru (yang lulus seleksi) mengenal pekerjaan dan perusahaan tempatnya
bekerja. Program orientasi sering juga disebut dengan induksi. Yakni
memperkenalkan para karyawan dengan peranan atau kedudukan mereka,
dengan organisasi dan dengan karyawan lain. Orientasi dilaksanakan karena
semua pegawai baru membutuhkan waktu untuk dapat menyesuaikan diri atau
beradaptasi dengan lingkungan kerjanya yang baru.
Orientasi berarti penyediaan informasi dasar berkenaan dengan
perusahaan bagi pegawai baru, yaitu informasi yang mereka perlukan untuk
melaksanakan pekerjaan secara memuaskan. Informasi dasar ini mencakup
fakta-fakta seperti jam kerja, cara memperoleh kartu pengenal, cara
pembayaran gaji dan orang-orang yang akan bekerja sama dengannya.
Orientasi pada dasarnya merupakan salah satu komponen proses sosialisasi
pegawai baru, yaitu suatu proses penanaman sikap, standar, nilai, dan pola
perilaku yang berlaku dalam perusahaan kepada pegawai baru.
Orientasi memberikan informasi kepada karyawan baru mengenai latar
belakang tentang perusahaan & pekerjaan. Pada intinya orientasi adalah proses
sosialisasi karyawan baru terhadap pimpinan perusahaan. Sosialisasi adalah
proses penanaman dalam diri karyawan tentang sikap, standar, nilai-nilai, dan
pola perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan departemen. Program
orientasi dimulai dari pengenalan informal yang singkat sampai program
formal yang panjang. Biasanya karyawan diberikan buku panduan tentang jam
kerja, penilaian kinerja, pembayaran gaji, dan liburan/cuti.
Berikut pengertian orientasi menurut beberapa ahli :
Marihot Tua Efendi Hariandja mendefinisikan orientasi dengan suatu
program untuk memperkenalkan pegawai baru pada peran-peran mereka,

3
organisasi, kebijaksanaan-kebijaksanaan, nilai-nilai, keyakinann-keyakinan dan
pada rekan kerja mereka. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh departemen
sumber daya manusia dan atasan langsung dari pegawai tersebut untuk
mensosialisasikan nilai-nilai organsiasi pada pegawai baru. Gary
Dessler menyebut orientasi dengan memberikan informasi mengena ilatar
belakang kepada karyawan baru yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan
secara memuaskan, seperti informasi perusahaan. Program ini bisa dimulai dari
perkenalan singkat secara informal atau dengan kursus formal yang
panjang. Susilo Martoyo, Orientasi adalah memperkenalkan para karyawan
baru dengan peranan atau kedudukan mereka, dengan organisasi dan dengan
para karyawan lain. Ingham (1970): the concept formed the basis for the
harmonious view of industrial relations in the small firm as orientation to work
was said to cause individual self-selection to the small firm sector. Yang
kurang lebih memiliki arti: sikap dan tingkah laku karyawan, merupakan suatu
konsep yang dapat menciptakan harmoni dalam bekerja dan sehingga dapat
menyebabkan peningkatan kinerja karyawan secara individu dalam sebuah
perusahaan. Goldthorpe (1968) : orientation to work adalah arti sebuah
pekerjaan terhadap seorang individu, berdasarkan harapannya yang diwujudkan
dalam pekerjaannya.

B. Pengertian Sumber Daya Manusia


Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM) adalah individu produktif
yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik itu di dalam institusi
maupun perusahaan yang memiliki fungsi sebagai aset sehingga harus dilatih
dan dikembangkan kemampuannya. Pengertian sumber daya manusia makro
secara umum terdiri dari dua yaitu SDM makro yaitu jumlah penduduk dalam
usia produktif yang ada di sebuah wilayah, dan SDM mikro dalam arti sempit
yaitu individu yang bekerja pada sebuah institusi atau perusahaan.
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan suatu hal yang sangat
penting dan harus dimiliki dalam upaya mencapai tujuan organisasi atau
perusahaan. Sumber daya manusia merupakan elemen utama organisasi

4
dibandingkan dengan elemen sumber daya yang lain seperti modal, teknologi,
karena manusia itu sendiri yang mengendalikan faktor yang lain.
Sumber daya manusia saat ini memiliki pengaruh besar pada sebuah
perusahaan dimana sekarang berada pada perubahan lingkungan bisnis yang
sulit untuk diprediksi dan tidak lagi berada pada lingkungan bisnis yang stabil.
Perusahaan harus fleksibel tidak lagi bersikap kaku ( organizational rigidity).
Kegiatan bisnis tidak lagi di jalankan berdasarkan aturan saja, melainkan juga
dikendalikan oleh visi dan nilai. Oleh karena itu, memerlukan kemampuan
sumber daya manusia yang dapat diandalkan, yang memiliki wawasan,
kreatifitas, pengetahuan, dan visi yang sama dengan visi perusahaan.
Pengembangan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dapat
disesuaikan dengan skenario strategi bisnis Perusahaan, dan rencana induk
untuk kepemimpinan (Human Capital). Peningkatan kompetensi dari human
capital dapat melalui sejumlah program pendidikan dan pelatihan, seperti yang
fokus kepada:
 Pengembangan kepemimpinan;
 Tujuan strategis Perusahaan sesuai dengan skenario dan rencana kerja
seluruh unit bisnis Perusahaan;
 Menutup kesenjangan kompetensi antara karyawan.

5
BAB III
KERANGKA PRAKTIS

A. Orientasi Sumber Daya Pendidik


Orientasi merupakan suatu upaya untuk mensosialisasikan atau
memperkenalkan nilai-nilai organisasi, pekerjaan, atau rekan kerja kepada
pegawai baru baik secara formal maupun informal (Hariandja, 2007)..
Disebutkan juga oleh Hariandja (2007:153) bahwa “orientasi merupakan suatu
program untuk memperkenalkan pegawai baru pada peran-peran mereka,
organisasi, kebijaksanaan-kebijaksanaannya, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan,
dan pada rekan kerja mereka”. Dengan adanya orientasi dapat diatasi keragu-
raguan, kecanggungan dan timbul rasa percaya diri pegawai baru dalam
melakukan pekerjaannya. Orientasi dapat dilaksanakan oleh atasan pegawai
yang bersangkutan.
Orientasi adalah pengenalan dan adaptasi terhadap sebuah situasi atau
lingkungan baru. Istilah lain yang digunakan untuk pengenalan program ini
adalah indoktrinasi dan induksi (Marwansyah: 2012:141). Orientasi adalah
prosedur untuk memberikan informasi latar belakang, mendasar mengenai
organisasi kepada pegawaibaru (dessler, 2011:282).
Program orientasi merupakan suatu cara yang penting untuk membantu
pegawai baru memenuhi tujuan-tujuan pribadi dan organisasi. Dalam
pengenalan, interaksi pertama dengan organisasi mempunyai efek yang lama
pada pegawai sehingga pertemuan pertama harus dilakukan dengan baik,
memberi kesempatan belajar tentang keseluruhan bidang, kegiatan organisasi,
bimbingan pada pegawai baru yang akan meningkatkan kepuasan, dan
produktivitas kerja mereka.
Orientasi perlu diprogramkan karena adanya sejumlah aspek khas yang
muncul pada saat seseorang memasuki lingkungan baru, aspek-aspek tersebut
antara lain:

6
1. Masalah yang dihadapi pegwai baru; biasanya berupa keccemasan( apakah
saya diterima oleh lingkungan, apakah saya akan disukai oleh atasan atau
rekan kerja saya; amankah saya dalam lingkungan kerja yang baru)
2. Harapan yang tidak realistis; peawai baru sering kali mempunyai harapan-
harapan yang tidak realistis karena tidak memiliki gambaran atau informasi
yang jelas dan lengkap tentang lingkungan kerja yang sesungguhnya;
3. Lingkungan kerja pertama ( gegar budaya); seseorang yang petama kali
mengenal dunia kerja, dapat mengalami gegar budaya karena perbedaan-
perbedaan nilai/ etos kerja, kebiasaan, dan lain-lain antara dunia kerja dan
lingkungan sebelumnya; dan
4. Diperlakukannya proses sosialisasi; karena adanya perbedaan antara
kepribadian individu pekerja dan budaya/ nilai organisasi diperlukan
penyesuaian-penyesuaian melalui proses sosialisasi.
Orientasi dipandang sebagai suatu usaha dari penyelenggaraan
pendidikan untuk membantu tenaga pendidik dan kependidikan baru supaya
mereka dapat menyesuaikan diri dengan komunitas baru, lingkungan baru dan
pekerjaan yang baru. Orientasi juga dipandang sebagai metode yang diterapkan
penyelenggara pendidikan untuk mendidik para pendidik dan tenaga
kependidikan tentang bagaimana performa kerja yang ada disekolah, juga
tentang hubungan antara pegawai dengan sekolah dan dengan masyarakat.
Orientasi berisi tentang: penyampaian informasi, pemberian petunjuk,
pengadaan penyambutan, dan membuat pendidik dan tenaga kependidikan baru
sadar akan apa yang ditawarkan oleh sekolah dan apa yang diharapkan dari
sekolah terhadap mereka. Orientasi atau pengenalan harus terencana dengan
baik dan dipastikan berjalan sesuai dengan tujuan sekolah.
Program orientasi sering juga disebut dengan induksi, yakni
memperkenalkan para pegawai dengan peranan atau kedudukan mereka,
dengan organisasi dan dengan pegawai lain. Orientasi dilaksanakan karena
semua tenaga kependidikan baru membutuhkan waktu untuk dapat
menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan kerjanya yang baru.
Orientasi merupakan upaya memperkenalkan seorang tenaga kependidikan
yang baru terhadap situasi dan kondisi pekerjaan atau jabatannya. Tujuan agar

7
seorang itu secepatnya dapat menyesuaikan diri terhadap orang-orang (tenaga
kependidikan lainnya) dan atau para peserta didik, falsafah, maksud-maksud
dan tujuan-tujuan yang mendasari pelaksanaan pekerjaan, kebiasaan-kebiasaan,
usaha-usaha pembaharuan yang berlangsung, dan kesempatan-kesempatan
untuk tumbuh dan berkembang dalam profesi atau karir di masa yang akan
datang.
Tujuan induksi dalam bidang pendidikan, terutama guru diatur dalam
Permendiknas No. 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Guru Pemula
(PIGP) menyebutkan bahwa induksi merupakan kegiatan orientasi, pelatihan
di tempat kerja, pengembangan, dan praktik pemecahan berbagai permasalahan
dalam proses pembelajaran/bimbingan dan konselingbagi guru pemula di
tempat tugasnya.
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
reformasi dan Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional dan
angka kreditnya dinyatakan salah satu unsur kegiatan guru yang dinilai angka
kreditnya yaitu program induksi. Program induksi adalah kegiatan orientasi ,
pelatihan ditempat kerja, pembimbingan, dan praktik pemecahan berbagai
permasalahan dalam proses pembelajaran bagi CPNS Guru. PNS yang diangkat
pertama kali dalam jabatan fungsuional guru, sebagai salah satu syarat untuk
diangkat yaitu harus memiliki kinerja yang baik yang diniolai dalam masa
program induksi.

B. Tujuan Orientasi
Orientasi bertujuan untuk mempercepat masa adaptasi sehingga tenaga
kependidikan baru dapat bekerja lebih cepat dan lebih baik. Namun tidak
semua orientasi menjamin hasil yang baik. Adapun tujuan yang diharapkan dari
pelaksanaan orientasi pendidik dan tenaga kependidikan baru adalah:
1. Memperkenalkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan baru dengan
ruang lingkup lembaga beserta kegiatannya;
2. Memberi informasi yang dipandang penting, terutama tentang peratutran
dan kebijakan (baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis). Dengan
demikian, pendidik dan tenaga kependidikan baru dapat menghindari

8
rintangan atau tindakan hukum yang mungkin terjadi akibat pelanggaran
kebijakan yang tidak mereka ketahui;
3. Menghindari timbulnya kekacauan yang dihadapi pendidik dan tenaga
kependidikan baru atas tugas dan pekerjaan baru yang diserahkan
kepadanya;
4. Menghemat waktu dan tenaga bagi tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan baru yang meminta keterangan dalam menyelesaikan
kesulitan yang mungkin mereka hadapi;
5. Memberi kesempatan kepada pendidik dan tenaga kependidikan baru bahwa
mereka merupakan bagian yang dipandang penting dari lembaga sekolah
tempat mereka bekerja.
Tujuan induksi dalam bidang pendidikan, terutama guru diatur dalam
Permendiknas No. 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Guru Pemula
(PIGP) menyebutkan yaitu agar guru pemula segera dapat beradaptasi dengan
iklim kerja dan budaya sekolah dan melaksanakan pekerjaannya sebagai guru
profesional di sekolah. Peserta dari PIGP adalah guru pemula CPNS yaitu
ditugaskan di sekolah yang pemerintah atau pemerintah daerah, guru pemula
berstatus PNS yang ditugaskan pada sekolah yang diselenggarakan oleh
masyarakat. Pelaksanaan PIGP meliputi persyaratan, tempat dan jangka waktu
pelaksanaan

Jabatan fungsional guru diangkat


Persyaratan
menjadi guru tetap (non CPNS)

Tempat Sekolah tempat guru pemula berfungsi

Suatu tahun (dengan waktu bimbingan


Jangka waktu satu hari perminggu) dan dapat
pelaksanaan diperpanjang kembali selama satu tahun

Gambar : 3.1 Pelaksanaan PIGP

9
Program induksi diselenggarakan berdasarkan prinsip
profesionalisme, kesejawatan, akuntabel dan berkelanjutan. Peserta program
induksi yaitu:
1. Guru pemula berstatus CPNS yang ditugaskan pada sekolah yang
diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah;
2. Guru pemula berstatus PNS mutasi dari jabatan lain; dan
3. Guru pemula bukan PNS yang ditugaskan pada sekolah yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
Guru pemula diberi hak memperoleh bimbingan dalam hal pelaksanaan
proses pembelajaran, bagi guru kelas dan guru mata pelajaran, pelaksanaan
proses bimbingan dan konseling, dan pelaksanaan tugas lain yang relevan
dengan fungsi sekolah. Guru pemula yang telah menyelesaikan program
induksi dengan nilai kinerja paling kurang kategori baik berhak mendapat
sertifikat. Guru pemula memiliki kewajiban merencanakan pembelajaran/
bimbingan dan konseling, melaksanakan pembelajaran pembelajaran/
bimbingan dan konseling yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil
pambelajaran/bimbingan dan konseling setrtta melaksankan perbaikan dan
pengayaan.

C. Isi Program Orientasi


Pemberian informasi yang tidak tepat dapat menimbulkan situasi yang
buruk bagi tenaga kependidikan baru maupun organisasi atau perusahaan.
Banyak informasi yang diberikan dapat menyebabkan tenaga kependidikan
baru kesulitan. Sementara pemberian informasi yang tidak tepat waktu atau
tidak tepat aturan dapat menimbulkan kecemasan pada diri pendidik dan tenaga
kependidikan baru. Karenanya perancang program orientasi harus sensitif
melihat hal tersebut dengan demikian orientasi dapat mempercepat masa
adaptasi dan menjadikannya produktif dan tidak sebaliknya.Sasaran-sasaran
utama orientasi adalah menanggulangi kecemasan awal yang dirasakan oleh
semua pekerja baru untuk memulai pekerjaan baru untuk mengakrabkan tenaga

10
kependidikan baru dengan pekerjaannya, unit kerjanya dan organisasi sebagai
keseluruhan, dan agar mempermudah peralihan dari luar kedalam.
Disetiap daerah dan di setiap sekolah, masing-masing harus
memutuskan hasil apa yang harus dicapai dan siapa saja yang harus terlibat
dalam pencapaian tujuan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut maka isi
program orientasi pendidik dan tenaga kependidikan baru mencakup hal-hal
berikut:
1. Berbagai informasi umum
Setiap pendidik dan tenaga kependidikan baru harus memiliki pandangan
umum yaitu mengenai informasi tentang masyarakat dan segala
perkembangannya, daya beli masyarakat, tren lapangan kerja, dukungan
tehadap sekolah, dan apa yang bisa diberikan dunia pendidikan terhadap
masyarakat. Informasi lain tentang departemen /kementrian dan atau
yayasan yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan,
jumlah sekolah, jenjang sekolah, jumlah guru, dukungan dari staf
pendukung ( tata usaha), kurikulum dan program-program yang ditawarkan.
Aspek- aspek organisasi yang sifatnya umum yang menjadi isi program
orientasi mencakup :
1. Sejarah pendirian sekolah
2. Organisasi sekolah
3. Nama-nama orang kunci (pendiri, Pengurus)
4. Nama-nama pekerjaan dan unit-unit bagian
5. Fasilitas fisik
6. Masa percobaan
7. Produk atau jasa yang ditawarkan
8. Gambaran proses pembelajaran
9. Aturan dan kebijaksanaan organisasi
10. Penegakan disiplin
11. Buku panduan pegawai
12. Pelaksanaan keselamatandan perlindungan kerja
2. Informasi Spesifik
Informasi yang lebih spesifik adalah ekspektasi, rasio guru dengan siswa,
jadwal harian, dan jumlah guru pada bidang studi kelompoknya. Staf
pendidik dan tenaga kependidikan baru umumnya juga tertarik dengan
informasi tentang prosedur manajemen kepegawaianmisalnya mutasi
kesekolah lain, kompensasi dan tunjangan yang akan mereka terima.
3. Data Tugas

11
Informasi yang penting dan inti adalah tentang kewajiban dan tanggung
jawab dari jabatan baru,lokasi pekerjaan, persyaratan jerja, sasaran
pekerjaan dan hubungan dengan pekerjaan lain. Hal lain yang perlu
disampaikan adalah sistem evaluasi yang melibatkan pendidik dan tenaga
kependidikan baru terkait kriteria, standart dan sistem penilaiannya.
Pengembangan program orientasi mencakup materi yang akan
disertakan dalam orientasi nsecara bertahap dengan menggunakan metode yang
tepat. Isi materi program pengembangan tersebut adalah:
1. Komunitas
Adalah kelompok masyarakat atau penduduk serta organisasi-organisasi
yang menaungi anggotanya dimasyarakat, hal ini supaya dimanfaatkan oleh
pendidik dan tenaga kependidikan baru sebagai sumber belajar. Yang perlu
diketahui tentang komunitas oleh pendidik dan tenaga kependidikan baru
mengenai:
a. Sejarah daerah
b. Struktur pemerintahan dan politik
c. Industri bisnis, industri kerakyatan, dan pelayanan publik
d. Kesempatan dan layanan-layanan pendidikan
e. Sosial ekonomi masyarakat
f. Demografi, ras, minoritas, dan agama
g. Layanan kesehatan
h. Layanan transportasi
i. Lembaga sossial, keagamaan, club dan hobi
j. Cuaca , dan lain-lain
2. Sistem sekolah
Sasaran program orientasi adalah agar staf pendidik dan tenaga
kependidikan baru dalam waktu yang relatif singkat dapat memahami
budaya, nilai-nilai dan kebiasaan organisasi. Oleh karena itu perlu
disampaikan topik-topik penting yang relevan seperti:
a. Sejarah organisasi
b. Tujuan dan kebijakan daerah untuk sekolah
c. Struktur dan tipe organisasi
d. Sitem dan pengharapan kelulusan
e. Sumber pendapatan dan belanja sekolah
f. Pengenbalan pejabatdan orang-orang kuncidalam setiap unit kegiatan
g. Tata ruang, tat letak fasilitas kerja dan fasilitas pendukung
h. Ketentuan normatif seperti penegakan disiplin staf dan kebebasan
akademik
3. Posisi

12
Pemahaman yang lengkap dan mendalam tentang pekerjaan mereka akan
berpengaruh pada peran dan kesuksesan mereka dalam bekerja untuk
mendukung, perlu mengetahui:
a. Tujuan sekolah
b. Persyaratan sertifikasi
c. Prosedur evaluasi
d. Layanan khusus karyawan
e. Koorditaor pekerja
f. Hubungan dengan orang tua, dan
g. Kebijakan dan prosedur daerah
4. Individu
Kondisi individu dalam penyesuaian diri tenaga pendidik dan kependidikan
baru dengan pekerjaan mereka yang akan mempengaruhi performandan
sikap, maka perlu mengetahui:
a. Penasihat
b. Ketersediaan hotline
c. Program bantuan karyawan
d. Pertemuan untuk menampung keluhan
e. Ketersediaan komite informasi
Dari pengembangan program tersebut dijelaskan bahwa esensi dari
program orientasi adalah:
1. Memberikan pemahaman yang baik tentang tugas pekerjaan dan
lingkungannya
2. Mambangun komunikasi dan kerjasama yang baik antara sesama pegawai
lama dengan pegawai baru
3. Membangun sikap personal, sosial dan profesional ditempat tugas kerja
yang baru.
Titik tolak yang digunakan dalam menyusun program orientasi adalah
pandangan bahwa pegawai baru pada dasarnya ingin diterima sebagai anggota
baru dalam suatu keluarga besar. Pengembangan program orientasi menjadi
tanggung jawab profesional yang ditangani secara baik dan sistematis.
Cakupan program disusun secara sitematis mulai dari perkenalan, aspek
kehidupan organisasional, keuntungan yang akan didapat, dan berbagai aspek
yang terkait dengan tugas pekerjaan. Dengan demikian program orientasi
bersifat dua arah yaitu memberikan informasi mengenai kewajiban serta hak
dan kesempatan untuk pegawai baru.

13
Isi program induksi dalam bidang pendidikan diatur dalam
Permendiknas No. 27 tahun 2010 tentang Program Induksi Guru Pemula.
Pelaksanaan kegiatan PIGP meliputi:
1. Persiapan
2. Pengenalan sekolah dan lingkungannya
3. Pelaksanaan dan observasi pembelajaran
4. Penilaian
5. Pelaporan
Guru pemula mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam hal:
1. Merencanakan pembelajaran
2. Melaksanakan pembelajaran
3. Menilai hasil pembelajaran
4. Membimbing dan melatih peserta didik
5. Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan
pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Persiapan

Pengenalan sekolah dan lingkungannya

Pelaksanaan dan observasi pembelajaran

Penilaian Pelaporan

Gambar 3.2 Pelaksanaan Program Induksi

Penilaian pada program PIGP meliputi:


1. Kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan
dalam pengelolaan peserta didik
2. Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian
3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat

14
4. Kemampuan kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan
materi pembelajaran secara luas dan mendalam .
Kompetensi pedagogik diukur melalui:
a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
b. Pemahaman terhadap peserta didik
c. Pengembangan kurikulum / silabus
d. Perancangan pembelajaran
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
f. Evaluasi hasil belajar
g. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya
Kompetensi kepribadian dilihat dari indikator kepribadian yang:
a. Mantap
b. Stabil
c. Dewasa
d. Arif dan bijaksana
e. Berwibawa
f. Berakhlak mulia
g. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
h. Mengevaluasi kinerja sendiri
i. Mengembangkan diri secara berkelanjutan
Kompetensi sosial diukur dari :
a. Berkomunikasi lisan dan tulisan
b. Menggunakan teknologikomunikasi dan informasi secara fungsional
c. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/ wali peserta didik
d. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar
Kompetensi profesional diukur melalui indikator:
a. Konsep, struktur dan metode keilmuan/ teknologi/seni yang menaungi /
koheren dengan materi ajar
b. Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
c. Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait
d. Pernerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
e. Kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap
melestarikan nilai dan budaya nasional

15
Hasil Penilaian Dinas Pendidikan Setempat

Nilai Sertifikat
Guru Pemula minimal Program Induksi
kategori

Belum dapat Perpanjang masa


Guru Pemula minimal Induksi maks. 1
kategori baik tahun

PNS yang diberi


Tidak dapat
Setelah tugas mengajar
minimal
Perpanjangan tanpa jabatan
kategori baik
fungsional

Dapat diusulkan dalam jabatan fungsional


guru bila telah dapat nilai minimal baik pada
penilaian kinerja tahun berikutnya

Gambar 3.3 Hasil Penilaian PIGP

Hasil penilaian mengenai kompetensi guru tersebut yang dilakukan oleh


guru pembimbing, pengawas sekolah dan kepala sekolah yang dilakukan
melaui observasi kemudian ditindak lanjuti dengan melaporkan kepada dinas
pendidikan setempat kemudian diambil keputusan mengenai penilaian akhir
PIGP.

D. Penjadwalan
Orientasi dilakukan tidak cukup hanya satu hari oleh karena itu
diperlukan penjadwalan secara bertahap. Masa orientasi bisa lebih panjang
sebagai masa percobaan dalam lingkungan kepegawaian atau disebut masa
prajabatan. Masa prajabatan bisa sampai dua tahun pertama masuk kerja, yang
diisi tidak hanya pengenalan atau pemberian informasi tetapi sebagai masa
percobaan dengan pelatihan-pelatihan yang terkait tugas utamanya. Oleh

16
karena itu, penjadwalan menjadi sangat penting terutama jika program orientasi
melibatka calon pegawai dalam jumlah yang relatif banyak dan sekaligus
sebagai program induksi diterimanya secara penuh seseorang sebagai pegawai
baru.
Penyambutan formal pada lembaga dikarenakan telah memasuki sebuah
departemen akan meninggalkan kesan yang berlaku untuk selamanya. Oleh
karena itu, bagian administrasi sebaiknya membangun sebuah hubungan
dengan pendidik dan tenaga kependidikan baru yang bertujuan untuk
memudahkan mereka menjalani profesi mereka. Hubungan baik juga penting
dibangun oleh kolega, yaitu dengan mengakrabkan diri dengan rekan mereka
yang baru sebelum mereka terlibat dalam suasana kerja harian.
Sesi yang penting pada ppenyambutan adalah perkenalan. Agar
pendidik dan tenaga kependidikan baru merasa diterima sebagai anggota
keluarga dan tidak sebagai orang “luar”, maka ia perlu diperkenalkan kepada
berbagai pihak, terutama dengan orang-orang yang akan sering berhubungan
dalam pelaksanaan tugasnya kelak.
Setiap sekolah selalu mengharapkan adanya komitmen penuh dari
pendidik dan tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas secara baik.
Harapan semua stakeholders sekolah bahwa guru tidak sekedar melaksanakan
tugas karena adanya ketentuan kepegawaian yang berlaku di sekolah tersebut,
tetapi juga dibarengi adanya keyakinan diri bahwa kehadiran mereka di sekolah
karena panggilan hidup untuk mengabdi di bidang pendidikan.
Suatu kewajiban bagi sekolah untuk menciptakan kondisi yang
menyenangkan. Bagaimanapun kesan permulaan menjadi sangat penting baik
bagi pendidik maupun tenaga kependidikan baru maupun bagi sekolah dalam
mencapai tujuan. Pendidik dan tenaga kependidikan baru tidak bisa langsung
bekerja dan melaksanakan tugas secara baik. Hal ini sangat wajar karena ia
baru memiliki sesuatu yang sedikit, seperti pengetahuan, pengalaman kerja,
informasi tentang sekolah, dan sebagainya. Padahal dalam hatinya mungkin
ingin tahu banyak tentang pendidikan, sekolah, dan murid-muridnya. Untuk
membantu keingintahuan pendidik dan tenaga kependidikan baru, maka
selayaknya sekolah menyambut mereka dengan program orientasi baru.

17
Cara lain yang tepat untuk dipertimbangkan adalah sikap proaktif dari
pendidik dan tenaga kependidikan baru untuk terjadinya proses sosialisasi
diantara pendidik dan tenaga kependidikan baru. Proses sosialisasi yang
dimaksud adalah usaha sadar yang dilakukan oleh sekolah melalui pejabat dan
petugas personalia yang secara langsung menunjukkan pemahaman budaya
organisasi, nilai-nilai yang dianut, norma-norma yang berlaku, dan ttradisi
yang selalu dijunjung tinggi. Dengan demikian, pendidik dan tenaga
kependidikan baru dapat memahami secara tepat dan riil perilaku-perilaku:
1. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh;
2. Bagaimana sebaiknya berperilaku secara fleksibel;
3. Penyesuaian-penyesuaian apa yang harus dilakukan; dan
4. Kebiasaan-kebiasaan apa yang perlu ditinggalkan karena tidak sesuai
dengan kebiasaan sekolah.
Penjadwalan program induksi dalam bidang pendidikan, terutama guru
diatur dalam Permendiknas No. 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Guru
Pemula (PIGP) dilaksanakan di satuan pendidikan tempat guru pemula
bertugas selama satu tahun dan dapat diperpanjang paling lama satu tahun.
Bagi guru pemula yang berstatus CPNS/PNS mutasi dari jabatan lain, program
induksi dilaksanakan sebagai salah satu syarat pengangkatan dalam jabatan
fungsional guru. Bagi guru pemula yang berstatus bukan PNS, program Induksi
dilaksanakan sebagai salah satu syarat pengangkatan dalam jabatan guru tetap.
Penjadwalan tersebut melalui tahapan-tahapan need analysis, penunjukkan
pembimbing (PB), pembimbingan-pembimbingan, dan pelaporan. Tahapan-
tahapan tersebut dibedakan berdasarkan waktu dengan durasi yang berbeda.
Program induksi dilaksanakan secara bertahap dan sekurang-kurangnya
meliputi persiapan, pengenalan sekolah/madrasah dan lingkungannya,
pelaksanaan dan observasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, penilaian,
dan pelaporan. Guru pemula diberi beban mengajar antara 12 (dua belas)
hingga 18 (delapan belas) jam tatap muka per minggu bagi guru mata
pelajaran, atau beban bimbingan antara 75 (tujuh puluh lima) hingga 100
(seratus) peserta didik pertahun bagi guru bimbingan dan konseling. Selama
berlangsungnya program induksi, pembimbing, kepala sekolah/madrasah, dan
pengawas wajib membimbing guru pemula agar menjadi guru profesional.

18
Pembimbingan yang diberikan meliputi bimbingan dalam perencanaan
pembelajaran/bimbingan dan konseling, pelaksanaan kegiatan
pembelajaran/bimbingan dan konseling, penilaian dan evaluasi hasil
pembelajaran/bimbingan dan konseling, perbaikan dan pengayaan dengan
memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran/bimbingan dan
konseling, dan pelaksanaan tugas lain yang relevan.

E. Kepanitiaan
Program orientasi yang baik harus melibatkan staf yang dibentuk dalam
kepanitiaan. Panitia akan mengidentifikasi aktivitas program untuk
menentukan kapan dilaksanakan, siapa pembicaranya, metode apa yang
digunakan, dan sebagainya. Program orientasi bisa menjadi tanggungjawab
manajemen secara menyeluruh mulai dari kebijakan daerah, dinas dan yayasan,
penyelenggara sekolah, pengawas, kepala sekolah, guru, dan staf lainnya,
bahkan melibatkan orang tua, dan anggota masyarakat untuk turut ambil bagian
pada program orientasi.
Unsur kepanitiaan yang dipelukan dalam program orientasi harus
dikaitkan dengan sesi kegiatan beserta materi isinya. Disamping itu, juga
dipetimbangkan sifat dan bentuk kegiatannya. Sebagai contoh program
orientasi pada tingkat sekolah disusun dalam bentuk kegiatan yang bersifat
formal dan informal dengan sesi:
1. Selamat datang atau “welcomes” berupa sambutan presentasi oleh pejabat
sekolah;
2. Petemuan dengan orang-oang penting, misalnya “meetings with the board,
other teaches and parents”;
3. Kunjungan dengan “open houses” ke area lingkungan sekolah;
4. Pertunjukkan dengan “slides and movies”;
5. Diskusi dengan “panel discussion and conferences”;
6. Penjelasan tentang kurikullum dengan “curriculum guides”;
7. Isian kepegawaian dengan “forms/personnel orientation checklist”; dan
8. Wisata bersama dengan “mini-tours”.
Dengan beragam kegiatan sebagaimana dicontohkan, dapat
dikembangkan lagi kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan gambaran kegiatan
tersebut, maka kepanitiaan program oientasi memerlukan orang yang
menguasai isi kegiatannya dan sekaligus menguasai bagaimana pengaturannya.

19
Kebutuhan panitia program orientasi meliputi pabitia tingkat pengelolaan atau
yang disebut “organizational committe” (OC) dan tingkat operasional teknis
atau yang disebut “sterring committe” (SC) yang keduanya membutuhkan
kemampuan manajeial, kepemimpinan, dan enterpreneurship yang tinggi.
Kepanitiaan program induksi dalam bidang pendidikan, terutama guru
diatur dalam Pemendiknas No. 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Guru
Pemula (PIGP) sebagai berikut.
1. Direktorat jenderal melakukan evaluasi terhadap implementasi kebijakan
program induksi bagi guru pemula secara nasional;
2. Dinas pendidikan provinsi atau kantor wilayah kementerian agama
melaksanakan evaluasi pelaksanaan program induksi bagi guru pemula
dalam lingkup provinsi dan sekolah/madrasah yang menjadi
tanggungjawabnya;
3. Dinas pendidikan atau kantor kementrian agama kabupaten/kota
melaksanakan evaluasi pelaksanaan program induksi bagi guru pemula
dalam lingkup kabupaten/kota dan sekolah/madrasah yang mmenjadi
tanggungjawabnya;
4. Penyelenggara pendidikan melakukan evaluasi pelaksanaan program
induksi bagi guru pemula dalam lingkup kabupaten/kota dan
sekolah/madrasah yang mmenjadi tanggungjawabnya;
5. Direktorat jenderal memberikan bimbingan teknis terhadap implementasi
kebijakan program induksi bagi guru pemula secara nasional;
6. Dinas pendidikan provinsi/kantor kemeterian agama memberikan
bimbingan teknis terhadap pelaksanaan program induksi bagi guru pemula
dalam lingkup provinsi dan sekolah/madrasah yang menjadi
tanggungjawabnya;
7. Dinas pendidikan atau kantor kemeterian agama kabupaten/kota
memberikan bimbingan teknis terhadap pelaksanaan program induksi bagi
guru pemula dalam lingkup kabupaten/kota dan sekolah/madrasah yang
menjadi tanggungjawabnya; dan
8. Penyelenggara pendidikan memberikan bimbingan teknis terhadap
pelaksanaan program induksi bagi guru pemula pada sekolah/madrasah
yang menjadi tanggungjawabnya;

20
Pada satuan pendidikan kepanitiaan meliputi kepala sekolah, pengawas
sekolah, dan pembimbing. Tugas kepala sekolah yaitu:
1. Melakukan analisis kebutuhan dengan mempertimbangkan faktor-faktor
antara lain: ciri khas sekolah, latar belakang pendidikan dan pengalaman
guru pemula, ketersediaan pembimbing yang memenuhi syarat, penyediaan
buku pedoman, dan keberadaan organisasi profesi yang terkait;
2. Melaksanakan pelatihan program induksi bagi guru pemula yang diikuti
oleh kepala sekolah dan calon pembimbing dengan pelatih seorang
pengawas yang telah mengikuti program pelatihan bagi pelatih program
induksi.
3. Melaksanakan penyiapan buku pedoman bagi guru pemula yang memuat
kebijakan sekolah, prosedur kegiatan sekolah, format administrasi
pembelajaran/pembimbingan, dan informasi lain yang dapat membantu guru
pemula belajar menyesuaiakan diri dengan lingkungan sekolah.
4. Menunjuk seorang pembimbing bagi guru pemula yang memiliki kriteria
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Bersama pengawas melakukan penilaian.
Tugas pembimbing yaitu: (a) memperkenalkan situasi dan kondisi
sekolah/madrasah kepada guru pemula; (b) memperkenalkan guru pemula
kepada siswa; (c) melakukan pembimbingan dalam penyusunan perencanaan
dan pelaksanaan proses pembelajaran dan tugas terkait lainnya; (d) memberi
motivasi tentang pentingnya tugas guru; (e) memberi arahan tentang
perencanaan pembelajaran atau pembimbingan, pelaksanaan
pembelajaran/pembimbingan dan penilaian hasil belajar/bimbingan siswa; (f)
memberi kesempatan untuk melakukan observasi pembelajaran di kelas dengan
menggunakan lembar observasi pembelajaran; dan (g) bersama pengawas dan
kepala sekolah memberikan penilaian kepada guru pemula.

21
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Orientasi dipandang sebagai suatu usaha dari penyelenggaraan
pendidikan untuk membantu tenaga pendidik dan kependidikan baru supaya
mereka dapat menyesuaikan diri dengan komunitas baru, lingkungan baru dan
pekerjaan yang baru. Adapun tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan
orientasi pendidik dan tenaga kependidikan baru adalah:
1. Memperkenalkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan baru dengan
ruang lingkup lembaga beserta kegiatannya;
2. Memberi informasi yang dipandang penting, terutama tentang peratutran
dan kebijakan (baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis). Dengan
demikian, pendidik dan tenaga kependidikan baru dapat menghindari
rintangan atau tindakan hukum yang mungkin terjadi akibat pelanggaran
kebijakan yang tidak mereka ketahui;
3. Menghindari timbulnya kekacauan yang dihadapi pendidik dan tenaga
kependidikan baru atas tugas dan pekerjaan baru yang diserahkan
kepadanya;
4. Menghemat waktu dan tenaga bagi tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan baru yang meminta keterangan dalam menyelesaikan
kesulitan yang mungkin mereka hadapi;
5. Memberi kesempatan kepada pendidik dan tenaga kependidikan baru bahwa
mereka merupakan bagian yang dipandang penting dari lembaga sekolah
tempat mereka bekerja.
Isi program orientasi pendidik dan tenaga kependidikan baru mencakup
hal-hal berikut: berbagai informasi umum, informasi spesifik, dan data tugas.
Orientasi dilakukan tidak cukup hanya satu hari oleh karena itu diperlukan
penjadwalan secara bertahap. Selain itu, program orientasi yang baik harus
melibatkan staf yang dibentuk dalam kepanitiaan.

B. SARAN

22
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan,
sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan untuk mencapai kesempurnaan
makalah ini.

23
DAFTAR PUSTAKA

24