Anda di halaman 1dari 7

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi dara sebagai replacement stock

Sapi dara akan memiliki pertumbuhan optimal bila ia mampu


mengembangkan potensi laktasinya secara penuh pada umur yang diinginkan dengan
biaya produksi yang murah. Dengan demikian merupakan hal yang penting untuk
memperhatikan kemampuan tumbuh dari sapi pedet dan dara karena pertumbuhan
sangat mempengaruhi umur produktif dan kapasitas produksi dari sapi dara setelah
memasuki periode laktasi. Melalui pemahaman yang baik pada sifat pertumbuhan,
dapat diperkirakan kapan saat pubertas tercapai, sehingga dapat ditentukan waktu dan
bobot hidup yang tepat untuk melakukan perkawinan pertama pada sapi dara. Ini
dikarenakan umur pubertas dan kawin pertama sapi dara akan sangat dipengaruhi
oleh pertumbuhan dan bobot hidup yang dicapai selama masa prepubertas
(Anggraeni, Kurniawan dan Sumantri., 2008).

Dalam usaha pemeliharaan sapi perah pada umumnya terdapat pemeliharaan


sapi perah yang belum produktif di samping sapi-sapi perah induk. Sapi-sapi perah
yang belum produktif terdiri dari pedet dan dara yang diperuntukkan sebagai
peremajaan yang dikenal dengan “replacement stock” (Kusnadi dan Juarini., 2007).

Sapi perah bibit pada tingkat peternak untuk ternak pengganti ( replacement
stock ) adalah calon induk atau induk yang dinilai baik secara eksterior oleh pembeli
tanpa mengetahui kapasitas produksi dari calon induk tersebut. Di samping itu,
pembesaran calon-calon induk oleh peternak tradisional tidak dikhususkan sebagai
persiapan untuk menciptakan induk-induk pengganti yang baik. Semakin tidak
berimbangnya rasio antara harga pakan dan harga susu dapat menyebabkan peternak
akan mempertahankan induk-induk yang secara ekonomis memberi keuntungan yang
besar (saat ini rasio harga pakan: susu=1:2). Dengan kata lain hanya induk-induk
yang berproduksi tinggi sajalah yang berpeluang untuk dipelihara oleh peternak.
Dengan kenyataan seperti ini maka jelaslah bahwa untuk meningkatkan produksi
susu secara nasional, perbaikan kualitas sapi-sapi dara sebagai pengganti induk-induk
laktasi yang terjamin baik produksinya telah sangat mutlak untuk dilaksanakan
(Talib, Anggraeni dan Diwyanto., 2001).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
2.2 Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada
umur 2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan
sapi perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk
ke tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah
dewasa harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok
sosial di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).
Selama proses cow-replacement sapi dara bisasanya diperkenalkan pada umur
2 tahun sebelum beranak pertama, sehingga dapat membiasakan diri dengan sapi
perah dewasa, sistem perkandangan baru dan prosedur manajemen seperti masuk ke
tempat pemerahan. Pada saat pengenalan, baik sapi dara maupun sapi perah dewasa
harus membangun hubungan sosial baru yang dapat mempengaruhi kelompok sosial
di kawanan sapi perah (Neisen, Wechsler and Gygax., 2009).

2.2 Age of first calving

Sapi perah dara normalnya diinseminasi pertama kali pada umur 15 bulan
untuk beranak sekitar umur 2 tahun. Pada umur 15 bulan, sapi dara telah mencapai
60% body weight (BW) dewasa. AFC (Age at First Calving) adalah faktor penting
dalam pemeliharaan sapi dara replacement, karena akan mempengaruhi produktivitas
selanjutnya. Kebanyakan perkembangan kelenjar mammary terjadi sebelum
melahirkan, sehingga AFC yang lebih muda dapat berpotensi untuk menurunkan
kapasitas produksi susu karena perkembangan jaringan mammary kurang optimal
(Wathes, Brickell, Bourne, Swali and Cheng., 2008).

Sapi FH atau keturunannya dapat beranak pertama pada umur 24-30 bulan,
apabila tata laksana dan kualitas dan kuantitas makanan pada anak-anak sapi dan sapi
dara cukup. Sehingga kurang efisien apabila terdapat sapi yang beranak pertama lebih
dari 30 bulan. Umur beranak yang terlambat akan berpengaruh negative terhadap
produktifitas sapi perah sehingga akan menurunkan efisiensi peternakan. emikian
pula jika beranak pertama kurang dari umur 2 tahun dikatakan kurang baik untuk
produktifitas sapi, baik untuk beranak lagi juga untuk berproduksi susu karena belum
mencapai bobot badan yang sesuai . Sapi-sapi tersebut masih membutuhkan nutrisi
bukan hanya untuk pertumbuhan tapi berlaktasi (Prihatini,Atabany dan Anggraeni.,
2008).
Apabila manajemen reproduksi diterapkan dengan baik, pemberian pakan
berkualitas, serta keadaan lingkungan mendukung pemeliharaan, maka produksi susu
yang dihasilkan akan terus meningkat mulai dari laktasi pertama sampai tercapai
puncak produksi sekitar laktasi 5 – 6. Produksi susu sapi FH pengamatan meningkat
hanya sampai laktasi tiga dan pada laktasi empat menurun. Hal disebabkan karena
rataan umur beranak pertama yang terlalu tua dan interval antara beranak yang
panjang sehingga puncak produksi susu dicapai saat laktasi tiga dengan rataan umur
beranak 65 bulan. sapi dara siap dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan dengan
bobot badan sekitar 275 kg. Standar umur kawin pertama sapi FH dara di Jepang
dengan kisaran bobot badan sapi dara antara 350 – 400 kg, yang dicapai sekitar umur
15 bulan (Anggraeni, Fitriyani, Atabany dan Komala., 2008).
Umur untuk beranak pertama penting dalam menentukan performa dalam
peternakan, dengan performa di masa depan yng optimal pada sapi dara beranak di
umur 23-25 tahun. Biaya pemeliharaan berhubungan langsung dengan AFC (Age at
First Calving), tetapi pengukuran AFC tidak bisa diidentifikasi bagaimana proses
pemeliharaan berjalan tidak benar dan bagaimana dipengaruhi oleh faktor lain selain
potensi bawaan sapi dara (Bazeley, Barrett, Williams and Reyher., 2016).
Terdapat kesepakatan bahwa ternak harus mencapai sekitar 55%-60% dari
body weight (BW) dewasa pada first service dan ini seharusnya ditingkatkan hingga
85%-90% pada calving pertama. Untuk beranak pada umur 24 bulan, sapi dara tipe
Holstein harus menjaga ADG (Average Daily Gain) sebesar 750grm/hari (Wathes,
Pollott, Johnson, Richardson and Cooke., 2014).

Produksi susu pada laktasi pertama berkurang ketika sapi dara beranak
sebelum umur 2 tahun. Komponen susu juga berkurang ketika umur pertama beranak
berkurang, khususnya kadar lemak susu namun kadar protein meningkat. Pada
peternakan dimana umur rata-rata beranak pertama ≤27 bulan, kualitas susu (somatic
cell counts) berubah dibandingkan dengan peternakan dengan umur rata-rata beranak
pertama >27 bulan. Produksi susu pada laktasi pertama berkurang ketika sapi dara
beranak pada umur 20-24 bulan dibandingkan pada umur 30-36 bulan, namun
produksi susu per hari meningkat (Cozler, Lollivier, Lacasse and Disenhaus., 2008).

2.3 Adaptasi sapi dara

Sebelum melahirkan pertama, sapi dara diperkenalkan dengan berbagai


perubahan kondisi perkandangan mereka. Dalam upaya untuk meningkatkan
kemampuan adaptasi untuk mengatasi perubahan ini, penelitian sebelumnya telah
menyelidiki efek dari metode yang berbeda untuk mengenalkan sapi dara ke
peternakan sapi perah pada perilaku. Mengenalkan sapi dara secara berpasangan dan
bukan tunggal adalah menguntungkan sedangkan Boyle dkk. (2012) dianjurkan untuk
mengenalkan sapi dara ke dalam kawanan sapi perah setelah malam hari daripada
pemerahan pagi (Gynax, Kutzer, Brotje dan Wechsler., 2015).

2.4 pakan

Pemberian Total Mixed Ration (TMR) pada sapi perah dara dengan 65%
partikel diatas 19mm dan <6% partikel dibawah 1,18mm dapat meminimalkan
pemilahan pakan tanpa mempengaruhi laju intake dan konsumsi pakan. Penambahan
air untuk mencapai kadar air TMR diatas 65% tidak diinginikan, karena mengurangi
konsumsi pakan dan gagal mengurangi pemilahan terhadap partikel pakan yang
panjang (Khan, Bach,Castells, Weary and Keyserlingk., 2014).

Pemberian pakan silase grass-clover untuk menurunkan kandungan NDF


menyebabkan sapi dara meningkatkan waktu mengunyah relatif terhadap asupan
NDF, mengurangi ukuran partikel tinja rata-rata, dan meningkatkan kecernaan
DNDF. Restricted feeding membuat sapi dara makan dalam waktu yang lebih singkat
per kg asupan DM atau NDF, sedangkan waktu untuk ruminasi dan total mastikasi
per kg asupan DM atau NDF meningkat, menyebabkan rasio antara makan dan
ruminasi waktu menurun dengan asupan pakan ternak yang lebih rendah. Penurunan
ukuran partikel dan kecernaan sebagian besar bergantung pada perubahan dalam
konten NDF, terutama konten iNDF. Kecernaan NDF berkorelasi negatif dengan
partikel rata-rata ukuran dalam tinja (Schulze, Weisbjerg and Nørgaard., 2014).

Setelah disapih pada umur enam bulan, sapi dara dipelihara pada kandang
berbeda tetapi sering disatukan dengan sapi laktasi. Sapi dara diberikan pakan hijauan
dan konsentrat dengan jumlah lebih rendah dibandingkan sapi induk. Standar
pemberian hijauan segar sekitar 10% BB dan konsentrat dalam jumlah bervariasi.
Sumber pakan hijauan biasanya bersumber dari hijauan unggul, sisa tanaman pangan
ataupun rumput alam. Rumput unggul yang diberikan antara lain King grass
(composite grass), Pennisetum purpureum, Brachiaria decumbens dan Setaria
splandida. Konsentrat diberikan terutama pada induk bunting dan laktasi, sedangkan
sapi dara mendapatkan konsentrat dengan jumlah lebih sedikit (Anggraeni, 2007).

2.5 Kesehatan Kuku

Lameness dan deterioration kuku selama laktasi pertama kemungkinan akan


berkontribusi pada umur produksi yang rendah, kekambuhan lesi kaki yang tinggi
antara laktasi, penurunan hasil susu, kesuburan yang buruk dan kemungkinan culling
yang meningkat. Lameness biasa terjadi pada sapi dara sehingga perlu pemeriksaan
kuku. Penyebab utama dari lameness adalah lesi kaki. Cara yang diusulkan untuk
merawat kesehatan kaki adalah rutin memotong kuku untuk mempertahankan berat
bantalan yang benar agar berfungsi optimal dan meminimalkan serta mencegah lesi
(Mahendran, Huxley, Chang, Burnell, Barrett, Whay, Blackmore, Mason and Bell.,
2017).
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, A. 2007. Pengaruh Umur, Musim dan Tahun Beranak terhadap Produksi
Susu Sapi Friesian Holstein pada Pemeliharaan Intensif dan Semi-
Intensif di Kabupaten Banyumas. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. 156-166.

Anggraeni, A., Fitriyani, Y., Atabany, A. dan Komala. 2008. Penampilan Produksi
Susu dan Reproduksi Sapi Friesian-Holstein di Balai Pengembangan
Perbibitan Ternak Sapi Perah Cikole, Lembang. Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner. 137-145.

Anggraeni, A., Kurniawan, N. dan Sumantri, C. 2008. Pertumbuhan Pedet Betina


dan Dara Sapi Friesian-Holstein Di Wilayah Kerja Bagian Barat KPSBU
Lembang. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 122-
131.

Bazeley, K.J., Barrett, D.C., Williams P.D. and Reyher, K.K. 2016. Measuring the
Growth Rate of UK Dairy Heifers to Improve Future Productivity. The
Veterinary Journal. 212: 9–14.

Cozler, Y. L., Lollivier, V., Lacasse, P. and Disenhaus, C. 2008. Rearing Strategy
and Optimizing Frst-Calving Targets in Dairy Heifers: a Review. The
Animal Consortium. 2(9): 1393-1404.

Gynax, L., Kutzer, T., Brotje, A. dan Wechsler, B. 2015. Influence of an Early
Exposure to the Calving Pen on Lying Behavior at Calving and
Avoidance Distance of Dairy Heifers. Livestock Science. 182: 108-111.

Khan, M.A., Bach, A., Castells, L.I., Weary, D.M. and Keyserlingk, M.A.G. 2014.
Effects of Particle Size and Moisture Levels in Mixed Rations on the
Feeding Behavior of Dairy Heifers. The Animal Consortium. 8(10):
1722-1727.

Kusnadi, U. dan Juarini, E. 2007. Optimalisasi Pendapatan Usaha Pemeliharaan


Sapi Perah dalam Upaya Peningkatan Produks Susu Nasional.
WARTAZOA. 17(1): 21-28.

Mahendran, S.A., Huxley, J.N., Chang, Y.M., Burnell, M., Barrett, D.C., Whay, H.R.
Blackmore, T., Mason, C.S. and Bell, V.J. 2017. Randomised Controlled
Trial to Evaluate the Effect Of Foot Trimming Before and After first
Calving on Subsequent Lameness Episodes and Productivity in Dairy
Heifers. The Veterinary Journal. 220: 105–110.

Neisen, G., Wechsler, B. and Gygax, L. 2009. Effects of the Introduction of Single
Heifers or Pairs of Heifers Into Dairy-Cow Herds on the Temporal and
Spatial Associations of Heifers and Cows. Applied Animal Behaviour
Science. 119: 127-136.

Prihatini, O.D., Atabany, A. dan Anggraeni, A. 2008. Performa Reproduksi Sapi


Dara Friesian-Holstein pada Peternakan Rakyat KPSBU dan BPPT SP
Cikole di Lembang. Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII. 195-
199.

Schulze, A.K.S., Weisbjerg, M.R. and Nørgaard, P. 2014. Effects of Feeding Level
and NDF Content of Grass-Clover Silages on Chewing Activity, Fecal
Particle Size and NDF Digestibility in Dairy Heifers. The Animal
Consortium. 8(12): 19
45-1954.

Talib, C., Anggraeni, A. dan Diwyanto, K. 2001. Kelembagaan Sistem Perbibitan


untuk Mengembangkan Bibit Sapi Perah FH Nasional. WARTAZOA.
11(2):1-7.

Wathes, D.C., Brickell, J.S., Bourne, N.E., Swali, A. and Cheng, Z. 2008. Factors
Influencing Heifer Survival and Fertility on Commercial Dairy Farms.
The Animal Consortium. 2(8): 1135-1143.

Wathes, D.C., Pollott, G.E., Johnson, K.F., Richardson, H. and Cooke, J.S. 2014.
Heifer Fertility and Carry Over Consequences for Life Time Production
in Dairy And Beef Cattle. The Animal Consortium. 8(1): 91-104.