Anda di halaman 1dari 33

KONSINYASI

Grace Sarabecca Madaline Manalu (1506305085 / 09)

Ni Putu Adi Pertiwi (1506305088 / 10)

Tri Andriyani (1506305101 / 13)

Jacqueline Immanuele Firstiany (1506305113 / 17)


KONSINYASI (Consignment)

“ Suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki barang


menyerahkan sejumlah barangnya kepada pihak tertentu untuk
dijualkan dengan memberikan komisi tertentu.

Pihak yang menyerahkan barang Pengamanat (Consignor)
Dari segi pengamanat (consignor) transaksi pengiriman barang-barang kepada
komisioner “Barang-barang Konsinyasi” (Consignment Out).

Pihak yang menerima barang Komisioner (Consignee)


Bagi komisioner untuk barang-barang yang diterimanya itu disebut dengan
“Barang-barang Komisi” (Consignment In).
Dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari pengamanat kepada
komisioner tidak diikuti dengan penyerahan hak milik atas barang yang
bersangkutan.

Meskipun diakui bahwa dalam transaksi konsinyasi itu telah terjadi perpindahan
pengelolaan dan penyimpanan barang kepada komisioner, namun demikian
“hak milik” atas barang yang bersangkutan tetap berada pada pengamanat
(consignor).

Hak milik akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil
menjual barang tersebut kepada pihak ketiga.
Alasan-alasan bagi pengamanat untuk mengadakan perjanjian konsinyasi
1) Cara untuk memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh seorang produsen,
pabrikan,atau distributor.
2) Dapat menghindari risiko-risiko tertentu.
3) Mendapatkan penjualan khusus dalam perdagangan barang-barangnya.
4) Harga eceran barang-barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh
pengamanat.

Alasan-alasan komisioner menerima perjanjian konsinyasi, antara lain:

1) Dilindungi dari kemungkinan risiko gagal untuk memasarkan barang- barang/ rugi.
2) Risiko rusaknya barang dan adanya fluktasi harga masa dapat dihindarkan.
3) Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi.
Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian konsinyasi pada umumnya dinyatakan
secara tertulis yang menekankan hubungan kerja sama antar kedua pihak.
Selain ketentuan dalam perjanjian, ada juga ketentuan umum yang diatur oleh
Undang-undang (hukum) yang berlaku dalam dunia perdagangan, antara lain:

1. Tentang hak-hak Komisioner


a) Hak mendapatkan komisi dan penggantian biaya yang dikeluarkan untuk menjual
barang titipan tersebut, sesuai dengan jumlah yang diatur dalam perjanjian
diantara dua pihak.
b) Hak untuk memberikan jaminan (garansi) terhadap kualitas barang yang
dijualnya.
c) Untuk menjamin pemasaran barang yang bersangkutan komisioner berhak
memberikan syarat-syarat pembayaran kepada langganan seperti yang berlaku
pada umumnya untuk barang-barang yang sejenis.
2. Tentang Kewajiban-kewajiban Komisioner

a) Melindungi keamanan dan keselamatan barang-barang yang diterima dari pihak


pegamanat.
b) Mematuhi dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjual barang-barang milik
pegamanat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam perjanjian.
c) Mengelola secara terpisah baik dari segi phisik maupun administratif terhadap barang-
barang milik pegamanat, sehingga identitas barang-barang tersebut tetap dapat
diketahui setiap saat.
d) Membuat laporan secara periodik tentang barang yang diterima, barang-barang yang
berhasil dijual dan barang-barang yang masih dalam persediaan serta mengadakan
penyelesaian keuangan seperti dinyatakan dalam perjanjian.
TOKO “VISIANA”
Jalan Gunungsari 15
Medan
No : BK – 25
Tgl : 31 Des 1980
PERHITUNGAN PENJUALAN

Perhitungan Penjualan untuk : 3 unit Meja & Kursi, Model UK - 150


Penjualan untuk
PT WIJAYA FURNITURE
JL. DAHLIA NO. 3 YOGYAKARTA

Penjualan :
- 3 unit Meja & Kursi, Model UK – 150 Rp 1.500.000
Biaya-biaya :
- Ongkos Angkut lokal Rp 75.000
- Biaya Perakitan Rp 30.000
- Komisi Penjualan Rp 300.000
Rp 405.000
Penerimaan :
- Dikirim cek sebesar Rp 1.395.000

Sisa Barang belum terjual : 7 unit


Masalah Akuntansi bagi Komisioner
1. Transaksi konsinyasi dicatat secara terpisah, sehingga pendapatan
dan laba dari konsinyasi ditentukan secara terpisah dari laba (rugi)
dari kegiatan penjualan reguler. Maka komisioner harus membentuk
rekening “Barang-barang Komisi” untuk setiap perjanjian komisi yang
diadakan.
2. Transaksi konsinyasi tidak dicatat secara terpisah dari transaksi
penjualan reguler, maka terhadap barang titipan dibukukan dalam
rekening “Hasil Penjualan”
Contoh 1
Fa Baru yang mengadakan perjanjian konsinyasi dengan PT Jaya
Electronics Industrial and Trading Company di Jakarta. Beberapa
ketentuan perjanjiannya:
- Kepada Fa Baru diberikan komisi 25% dari hasil penjualan
- Ongkos angkut lokal yang dikeluarkan oleh Fa Baru, seluruhnya
diganti oleh pihak pengamanat
- Fa Baru diberikan kelonggaran untuk menentukan syarat-syarat
pembayaran kepada langganannya, akan tetapi tanggung jawab
pengumpulan piutang sepenuhnya teletak pada Fa Baru
- Harga jual yang ditetapkan adalah Rp 10.000 untuk setiap buah
pesawat TV
Pencatatan pada Buku-buku Komisioner Fa. Baru Semarang

Transaksi-transaksi Transaksi penjualan konsinyasi dicatat Transaksi penjualan konsinyasi tidak dicatat
terpisah secara terpisah
1 September 1980

(1) Penerimaan barang komisi (Memorandum)* (Memorandum)*


dari PT Jaya, berupa 100
buah pesawat TV untuk dijual
dengan harga @
Rp. 100.000
1 September s/d 10 September
1980

(2) Dijual 100 pesawat TV Piutang Dagang (D) Rp. 10.000.000 a)Piutang Dagang (D) Rp. 10.000.000
dengan harga @ Barang-barang Komisi (K) Rp. 10.000.000 Penjualan (K) Rp. 10.000.000
Rp. 100.000. Komisi b)Pembelian (D) Rp. 7.500.000
penjualan atas barang- Hutang (PT Jaya) (K) Rp. 7.500.000
barang tersebut adalah 25%
(3) Dibayar ongkos angkut Barang-barang Komisi (D) Rp. 50.000 Hutang (PT Jaya) (D) Rp. 50.000
lokal untuk 100 buah TV Kas (K) Rp. 50.000 Kas (K) Rp. 50.000
sebesar Rp. 50.000
(4) Penerimaan piutang dari Kas (D) Rp.10.000.000 Kas (D) Rp. 10.000.000
langganan atas penjualan Piutang Dagang (K) Rp.10.000.000 Piutang dagang (K) Rp.10.000.000
100 buah TV tersebut pada
transaksi (2)
30 September 1980

(5) Perhitungan komisi atas Barang-barang Komisi (D) Rp. 2.500.000 -


hasil penjualan 100 buah Pendapatan Komisi (K) Rp. 2.500.000
TV (25%x Rp. 10.000.000 =
Rp. 2.500.000)
(6) Pengiriman perhitungan Barang-barang Komisi (D) Rp. 7.450.000 Hutang (PT Jaya) (D) Rp. 7.450.000
hasil penjualan 100 buah Kas (K) Rp. 7.450.000 Kas (K) Rp. 7.450.000
TV kepada PT Jaya Jakarta
dan sekaligus pengiriman
uangnya, sebesar Rp.
7.450.000
Dalam hal pembukuan terhadap transaksi konsinyasi diselenggarakan secara
terpisah, maka semua transaksi yang terjadi diikhtisarkan dalam satu rekening
“Barang Komisi”. Rekening “Barang-barang Komisi” mempunyai saldo nihil, yang
berarti tidak terdapat Hutang Kepada pegamanat atau sebaliknya.
Barang-barang Komisi - PT Jaya

No. Jumlah
Tgl Uraian
Bukti D K Sisa
Penjualan 100 pesawat TV - - Rp. 10.000.000 Rp. 10.000.000 (K)

Ongkos Angkut lokal - Rp. 50.000 - Rp. 9.950.000 (K)

Komisi penjualan - Rp. 2.500.000 - Rp. 7.450.000 (K)

Pengiriman Kas
- Rp. 7.450.000 - -
Apabila pada akhir tahun buku terdapat rekening “barang-barang
Komisi” yang bersaldo debit akan tetapi juga bersaldo kredit, maka di
neraca disajikan secara terpisah dan tidak boleh digabungkan.

Saldo debit di dalam rekening Barang-barang Komisi harus disajikan


sebagai “Piutang Kepada pegamanat” didalam kolompok Aktivitas Lancar.
Sedangkan saldo Kredit disajikan di dalam neraca sebagai Hutang kepada
pegamanat.
Contoh:
Pada akhir tahun buku 19A rekening buku besar Barang-barang Konsinyasi,
menunjukan saldo kredit sebesar Rp.100.000,00 dengan perincian sebagai berikut :

-Barang-barang Komisi dari perusahaan X : Rp. 50.000 (K)


-Barang-barang Komisi dari perusahaan Y : Rp. 25.000 (D)
-Barang-barang Komisi dari perusahaan Z : Rp. 75.000 (K)
Jumlah : Rp. 100.000 (K)

Maka komisioner harus menyajikan di dalam neraca pada akhir tahun buku 19A,
atas saldo kredit rekening “Barang-barang Komisi itu sebagai berikut :

“Hutang kepada X&Z” sebesar Rp.125.000 dan “Piutang kepada Y” sebesar Rp.25.000
Rekening-rekening pembukuan atas transaksi konsinyasi (Hasil penjualan, Harga
Pokok Penjualan dan Biaya-Biaya yang bersangkutan) itu diselenggarakan dalam
dua alternatif :
(1) Diselenggarakan terpisah dari transaksi penjualan reguler.

(2) Tidak diselenggarakan secara terpisah dari transaksi penjualan reguler.

Metode administrasi barang-barang dagangan, dalam hal ini terdapat dua


alternatif:
(1)Metode Perpetual

(2)Metode Perodik
PENCATATAN PADA BUKU-BUKU PENGAMANAT
(PT JAYA, JAKARTA)
Metode Pencatatan Perpetual

Terpisah Tidak Terpisah


(1) Pengiriman 100 buah pesawat TV kepada Fa. Baru (1) Pengiriman 100 buah pesawat TV kepada Fa. Baru
Semarang, harga pokok Rp 60.000 per buah Semarang, harga pokok Rp 60.000 per buah
Barang-barang Konsinyasi (Fa. Baru) Rp 6.000.000 Barang-barang Konsinyasi (Fa. Baru) Rp 6.000.000
Persediaan Produk Jadi Rp 6.000.000 Persediaan Produk Jadi Rp 6.000.000
(2) Dibayar ongkos angkut pengiriman sebesar Rp 40.000 (2) Dibayar ongkos angkut pengiriman sebesar Rp 40.000
Barang-barang Konsinyasi (Fa Baru) Rp 40.000 Ongkos Angkut Penjualan Rp 40.000
Kas Rp 40.000 Kas Rp 40.000
(3) Diterima perhitungan penjualan atas 100 buah pesawat (3) Diterima perhitungan penjualanatas 100 buah pesawat
TV dari Fa baru * TV dari Fa baru
(a) Mencatat hasil penjualan (a) Mencatat hasil penjualan *
Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000 Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000
Penjualan Konsinyasi Rp 7.450.000 Hasil Penjualan Rp 7.450.000
(b) Mencatat harga pokok penjualan (b) Mencatat harga pokok penjualan
Harga Pokok Penjualan Konsinyasi Rp 6.000.000 Harga Pokok Penjualan Barang-
Biaya Penjualan Konsinyasi Rp 40.000 barang Konsinyasi (Fa Baru) Rp 6.000.000
Barang-barang Konsinyasi Rp 6.040.000 Barang-barang Konsinyasi (Fa Baru) Rp 6.000.000

(c) Menghapuskan saldo rekening pengiriman barang-


barang konsinyasi, pada akhir periode tahun buku untuk
barang-barang yang telah terjual **

(4) Diterima uang sebesar: Rp 7.450.000 dari Fa. Baru (4) Diterima uang sebesar: Rp 7.450.000 dari Fa Baru Sem-
Semarang, sebagai penyelesaian ataspenjualan 100 buah arang, sebagai penyelesaian ataspenjualan 100 buah
pesawat TV pesawat TV
Kas Rp 7.450.000 Kas Rp 7.450.000
Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000 Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000
-
(5) Memindahkan kas saldo rekening Pengiriman Barang-
barang Konsinyasi ke Rugi-Laba *
PENCATATAN PADA BUKU-BUKU PENGAMANAT
(PT JAYA, JAKARTA)
Metode Pencatatan Periodik

Terpisah Tidak Terpisah


(1) Pengiriman 100 buah pesawat TV kepada Fa. Baru (1) Pengiriman 100 buah pesawat TV kepada Fa. Baru
Semarang, harga pokok Rp 60.000 per buah Semarang, harga pokok Rp 60.000 per buah
Barang-barang Konsinyasi (Fa. Baru) Rp 6.000.000 Barang-barang Konsinyasi (Fa. Baru) Rp 6.000.000
Pengiriman Barang-barang Pengiriman Barang-barang
Konsinyasi Rp 6.000.000 Konsinyasi Rp 6.000.000

(2) Dibayar ongkos angkut pengiriman sebesar Rp 40.000 (2) Dibayar ongkos angkut pengiriman sebesar Rp 40.000
Barang-barang Konsinyasi (Fa Baru) Rp 40.000 Ongkos Angkut Pen-Jualan Rp 40.000
Kas Rp 40.000 Kas Rp 40.000
(3) Diterima perhitungan penjualan atas 100 buah pesawat (3) Diterima perhitungan penjualanatas 100 buah pesawat TV
TV dari Fa baru * dari Fa baru
(a) Mencatat hasil penjualan (a) Mencatat hasil penjualan *
Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000 Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000
Penjualan Konsinyasi Rp 7.450.000 Hasil Penjualan Rp 7.450.000
(b) Mencatat harga pokok penjualan (b) Mencatat harga pokok penjualan
Harga Pokok Penjualan Konsinyasi Rp 6.000.000
Biaya Penjualan Konsinyasi Rp 40.000 -
Barang-barang Konsinyasi Rp 6.040.000
(c) Menghapuskan saldo rekening pengiriman barang-barang
konsinyasi, pada akhir periode tahun buku untuk barang-
barang yang telah terjual
Pengiriman Barang –barang
konsinyasi Rp 6.000.000
Barang-barang Konsinyasi Rp 6.000.000
(4) Diterima uang sebesar :Rp 7.450.000 dari Fa. Baru (4) Diterima uang sebesar :Rp 7.450.000 dari Fa Baru Sem-
Semarang, sebagai penyelesaian ataspenjualan 100 buah arang, sebagai penyelesaian ataspenjualan 100 buah
pesawat TV pesawat TV
Kas Rp 7.450.000 Kas Rp 7.450.000
Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000 Piutang Dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000

(5) Memindahkan kas saldo rekening Pengiriman Barang-


barang Konsinyasi ke Rugi-Laba *
Pengiriman Barang –barang
konsinyasi Rp 6.000.000
Rugi-Laba Rp 6.000.000
* Apabila dianggap perlu pencatatan hasil penjualan dapat dilakukan berdasar hasil penjualan
kotor akan tetapi harus diakui juga biaya-biaya yang dibebankan oleh komisioner, sebagai
berikut :
Piutang dagang (Fa. Baru) Rp 7.450.000
Ongkos angkut lokal Rp 50.000
Komisi penjualan Rp 2.500.000
Hasil penjualan Rp 10.000.000
Dalam hal transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara terpisah pengakuan biaya-biaya yang
dibebankan oleh Komisioner didebit pada rekening Barang-barang konsinyasi, sehingga
jurnalnya menjadi :
Piutang dagang (Fa Baru) Rp 7.450.000
Barang-barang Konsinyasi Rp 2.550.000
Barang-barang Konsinyasi Rp 10.000.000

** Jurnal untuk menghapuskan saldo rekening Pengiriman Barang-barang Konsinyasi dan


rekening barang-barang Konsinasi tidak perlu dibuat pada metode fisik, apabila pada saat
pengiriman barang tidak dicatat dalam buku jurnal, akan tetapi dalam bentuk memorandum
saja.
Apabila jangka waktu perjanjian konsinyasi berlangsung dan melampui
akhir periode akuntansi, sedangkan belum seluruhnya barang-barang
konsinyasi berhasil dijual oleh komisioner maka diperlukan adanya
penyesuaian terhadap biaya-biaya yang bersangkutan dan terikat pada
produk yang belum terjual. Contoh biaya-biaya antara lain ialah biaya
pengiriman, biaya pengepakan, biaya asuransi dan ongkos angkut.
Biaya-biaya tersebut harus dialokasikan kepada seluruh unit produk
yang dikirim kepada komisioner.
Contoh 3:
Wijaya Furniture adalah produser meubel dan alat-alat rumah tangga yang menjual
produknya sebagian atas dasar perjanjian konsinyasi. Transaksi penjualan konsinyasi dengan
salah satu komisioner yang berlangsung dalam bulan Desember 1980, adalah sebagai
berikut :
Awal Desember 1980
(1) Pengiriman 10 unit meja & kursi tamu model UK-150 kepada Toko Visiana untuk dijual
dengan harga sebesar Rp 600.000 per unit. Harga pokok produksi per unit adalah Rp
200.000 sedang komisi penjualan ditetapkan 16,67% dari harga jual, dengan semua biaya
yang dikeluarkan oleh komisioner menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh pihak
pengamanat.
(2) Dibayar ongkos angkut pengiriman dan biaya pengepakan masing-masing sebesar Rp
275.000 untuk ongkos angkut dan Rp 50.000 untuk biaya pengepakan.

Akhir Desember 1980


(3) Diterima Perhitungan Penjualan atas 3 unit meja & kursi tamu dari Toko Visiana beserta
sebuah cek sebagai penyelesainnya.
Pencatatan pada buku-buku pegamanat (Wijaya Furniture)

Harga pokok dan Biaya Harga Pokok Penjualan dan Harga Pokok Persediaan
Penjualan Barang-barang Biaya Penjualan Konsinyasi, dan biaya ditangguhkan
Konsinyasi, untuk 10 unit untuk 3 unit meja & kursi untuk 7 unit meja & kursi
meja & kursi
(1) Harga pokok produksi Rp 2.000.000 Rp 600.000 Rp 1.400.000
(2) Biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh Wijaya
Furniture: Rp 275.000 Rp 82.500 Rp 192.500
- Ongkos Angkut Rp 50.000 Rp 15.000 Rp 35.000
- Biaya Pengangkutan
(3) Biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh Komisioner :
- Ongkos Angkut Lokal Rp 75.000 Rp 22.500 Rp 52.500
- Biaya perakitan Rp 30.000 Rp 30.000
- Komisi Penjulan Rp 300.000 Rp 300.000
Jumlah Rp 2.730.000 Rp 1.050.000 Rp 1.680.000
(a) Transaksi penjualan Konsinyasi dicatat secara terpisah
Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara terpisah, maka berdasar perhitungan
penjualan atas 3 unit meja & kursi yang dibuat oleh Toko Visiana, dicatat sebagai berikut :
Kas Rp 1.395.000
Barang-barang Konsinyasi Toko Visiana (ongkos angkut) Rp 75.000
Komisi Penjualan Rp 300.000
Biaya Perakitan Rp 30.000
Penjualan Konsinyasi Rp 1.800.000

Pencatatan dan pengakuan atas hasil penjualan konsinyasi itu kemudian diikuti dengan
pencatatan terhadap harga pokok penjualan dan biaya yang bersangkutan dengan barang-
barang konsinyasi, atas dasar alokasi seperti tersebut di atas sebagai berikut :
Harga Pokok Penjualan Konsinyasi Rp 600.000
Biaya-biaya Penjualan Konsinyasi Rp 120.000
Barang-barang Konsinyasi-Toko Visiana Rp 720.000
(a) Transaksi penjualan Konsinyasi dicatat secara terpisah

Barang-barang Konsinyasi –Toko Visiana

Tgl Uraian D K Saldo


Des 1 Harga pokok 10 unit meja & 2.000.000 2.000.000 (D)
kursi; model UK-150
Ongkos Angkut 275.000 2.275.000 (D)
Biaya Pengepakan 50.000 2.325.000 (D)
Des Biaya-biaya yang
31 dikeluarkan oleh komisoner 75.000 2.400.000 (D)
(ongkos angkut lokal)
Harga pokok dari biaya 720.000 1.680.000 (D)
penjualan, untuk 3 unit
yang terjual
(b) Transaksi penjualan Konsinyasi tidak dicatat secara terpisah

METODE PERPETUAL METODE PHISIK


Pengiriman Barang:
Barang-barang konsinyasi Toko Visiana Rp 2.000.000 Barang-barang Konsinyasi Toko Visiana Rp 2.000.000
Persediaan Produk Jadi Rp 2.000.000 Pengiriman Barang-barang Konsinyasi Rp 2.000.000
Ongkos Angkut:
Ongkos Angkut Penjualan Rp 275.000 Ongkos Angkut Penjualan Rp 275.000
Kas Rp 275.000 Kas Rp 275.000
Biaya Pengepakan:
Biaya Pengepakan Rp 50.000 Biaya Pengepakan Rp 50.000
Kas Rp 50.000 Kas Rp 50.000
Penjualan dan Penerimaan Kas:
Kas Rp 1.395.000 Kas Rp 1.395.000
Ongkos Angkut Penjualan Rp 75.000 Ongkos Angkut Penjualan Rp 75.000
Biaya Perakitan Rp 30.000 Biaya Perakitan Rp 30.000
Komisi Penjualan Rp 300.000 Komisi Penjualan Rp 300.000
Hasil Penjualan Rp 1.800.000 Hasil Penjualan Rp 1.800.000
Harga Pokok Penjualan:
Harga Pokok Penjualan Rp 600.000
Barang-barang Konsinyasi Rp 600.000 --
Menutup rekening Pengiriman Barang –barang
Konsinyasi yang telah Terjual
Pengiriman Barang-barang Konsinyasi Rp 600.000
-- Barang-barang Konsinyasi Rp 2.600.000
Penyesuaian&Tutup Buku:
Biaya Yang Ditangguhkan Biaya Yang Ditangguhkan
Pembebanannya Rp 280.000 Pembebanannya Rp 280.000
Ongkos Angkut Rp 245.000 Ongkos Angkut Rp 245.000
Biaya Pengepakan Rp 35.000 Biaya Pengepakan Rp 35.000
Pencatatan pada Buku-buku Komisioner (Toko Visiana)
Transaksi - transaksi
Desember 1980
1. Penerimaan 10 unit meja & kursi dari PT Wijaya Furniture
2. Penjualan tunai 3 unit meja & kursi @600.000 komisi 16,67%
3. Dibayar ongkos angkut lokal untuk 10 unit meja & kursi sebesar Rp 75.000.000

31 Desember 1980
a. Perhitungan komisi atas hasil penjualan barang-barang komisi sebesar 164% x
1.800.000 = Rp 300.000
b. Pengiriman perhitungan dan sekaligus pengiriman cek hasil penjualan 3 unit meja
& kursi dipotong ongkos-ongkos penjualan dan komisi kepada PT Wijaya Furniture
sebesar Rp 1.395.000.
Terpisah Tidak Terpisah
Desember 1980
(1) Memo Memo

(2) Kas Rp 1.800.000 Kas Rp 1.800.000


Barang Komisi Rp 1.800.000 Penjualan Rp 1.800.000
Pembelian Rp 1.500.000
Hutang (PT Jaya) Rp 1.500.000

(3) Barang-barang Komisi Rp 75.000 Hutang (PT Jaya) Rp 75.000


Kas Rp 75.000 Kas Rp 75.000

31 Desember 1980
a. Barang-barang komisi Rp 300.000 -
Pendapatan Rp 300.000

b. Barang-barang komisi Rp 1.395.000 Hutang (PT Jaya) Rp 1.395.000


Kas Rp 1.395.000 Kas Rp 1.395.000
Barang-Barang Konsinyasi Uang Muka dari Komisioner
Yang Dikembalikan

Barang konsinyasi dikembalikan Uang Muka

Rekening barang konsinyasi dikredit Disajikan sebagai hutang


PT JAYA JAKARTA
Laporan perhitungan Rugi-Laba
Untuk bulan September 1980
(dalam ribuan rupiah)

Penjualan Penjualan
Jumlah
konsinyasi Reguler
Hasil Penjualan 10.000 25.000 35.000
Harga Pokok Penjualan 6.000 14.000 20.000
Laba Kotor Penjualan 4.000 11.000 15.000
Biaya Usaha:
Biaya Penjualan 2.590 3.025 5.615
Biaya administrasi & umum - 5.635 5.635
Jumlah Biaya Usaha 2.590 8.660 11.250
Laba Usaha 1.410 2.340 3.750
PT JAYA JAKARTA
Laporan perhitungan Rugi-Laba
Untuk bulan September 1980
(dalam ribuan rupiah)
Hasil Penjualan 25.000
Harga Pokok Penjualan 14.000
Laba Kotor Penjualan 11.000
Laba Penjualan Konsinyasi 1.410
12.410
Biaya Usaha
Biaya Penjualan 3.025
Biaya administrasi& umum 5.635
Jumlah biaya usaha 8.660
Laba Usaha 3.750
THANK YOU.

SESI DISKUSI