Anda di halaman 1dari 2

c.

Disposisi atau Sikap para Pelaksana

Penentuan sikap dari para pengeksekusi kebijakan merupakan sebuah hal yang penting.
Para pelaksana kebijakan tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa saja yang harus dikerjakan
namu mereka juga harus mampu untuk melakukan kebijakan tersebut. Hal ini bertujuan untuk
menghindari adanya pembiasan antara kebijakan dengan pengimplementasian kebijakan itu
sendiri. hal ini sejalan dengan pendapat Edward III yang mengatakan bahwa akan timbul sebuah
kecenderungan dari para pelaksana kebijakan. Prasangka atau sikap yang baik terhadap sebuah
kebijakan maka akan mencerminkan adanya peluang untuk mengimplementasikan kebijakan itu
dengan efektif dan lebih maksimal. Jika hal itu terjadi, maka hasil dari implementasi tersebut
akan benar-benar sesuai dengan harapan yang telah direncanakan oleh para pembuat kebijakan
diawal. Begitupun sebaliknya, jika para pelaksana kebijakan terkesan tidak menunjukkan sikap
yang baik terhadap sebuah kebijakan makan hasil dari implementasi kebijakan tersebut akan
kurang maksimal. Salah satu contoh sikap yang baik dalam sebuah proses pengimplementasian
kebijakan misalnya seperti bersikap jujur, disiplin, dan komitmen yang tinggi. Dengan
bermodalkan sikap yang baik, maka aktualisasi dari pelaksanaan tugas, wewenang, dan fungsi
akan berjalan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk pengimplementasian kebijakan di Desa Duwet Krajan, banyak kerjasama yang


dilakukan secara maksimal baik dari pihak pemerintah terkait dengan masyarakat didesa
tersebut. Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang yang melaakukan
banyak sosialisasi dan pertemuan dengan masyarakat secara menyeluruh di Kabupaten Malang
menghasilkan sebuha hubungan yang harmonis dengan masyarakat desa. Hal ini semakin
mendukung adanya sikap yang baik untuk saling berkoordinasi saat penanggulangan bencana.
Dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh BPBD akan semakin menambah wawasan bagi
para pelaksana kebijakan yang dalam hal ini adalah BPBD dan masyarakat Desa Duwet.
Masyarakat Desa Duwet yang memang masih lekat dengan gotong royong juga semakin
mendukung implementasi kebijakan tersebut. Selain itu, warga yang aktif juga mempermudah
kerjasama dengan instansi terkait seperti BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Malang dalam
penanggulangan bencana. Misalnya seperti saat terjadinya tanh longsor di sebuh kawasan di
Desa Duwet, maka masyarakat secara tanggap dan aktif segera menghubungi pengurus desa
yang kemudian akan disampaikan secara langsung kepada pihak BPBD. Setelah itu BPBD juga
akan sigap untuk menanyakan kebutuhan mendesak apa yang diperlukan oleh warga yang
terkena bencana.

Seuai dengan pendapat dari Edward III, sikap yang profesional dan baik akan semakin
mendukung proses pengimplementasian kebijkan. Sejalan dengan hal ini, masyarakat Desa
Duwet dan instansi pemerintah terkait penanggulangan bencana khususnya telah menjalankan
dan mengimplementasikan kebijakan sesuai dengan harapan dan rencana yang telah disepakati
sebelumnya.

d. Struktur Birokrasi

Secara teoritis, aspek struktur birokrasi melingkupi dua hal yakni secara mekanisme dan
struktur birokrasi itu sendiri. struktur birokrasi pada lingkup mekanisme diatur dalam Standart
Operasional Procedure (SOP). SOP merupakan sebuah acuan dasar bagi para pelaksana
kebijakan dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Maka dari itu, SOP dibuat melaui tata cara
yang didalamnya mnegatur hal-hal dasra tentang kebijakan itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar
tidak ada hal yang melenceng dari tujuan dan tidak salah sasaran sesuai dengan yang telah
ditetapkan dalam kebijakan yang telah dibuat. Sedangkan untuk aspek kedua adalah struktur
birokrasi itu sendiri. struktur birokrasi dengan sitem yang rumit akan semakin melemahkan
sistem pengawasan serta membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengimplementasian
kebijakan. Jika hal ini terjadi, maka pelaksaan kebijakan akan terhambat dan membuat aktifitas
pelaksaan organisasi semakin kaku.