Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
. Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam
bidang kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara
maju. Insidensi bronkopneumonia pada negara berkembang hampir 30% pada
anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan
di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi
pada anak di bawah umur 2 tahun.1
Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 influenza dan pneumonia
merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7
di Malaysia, nomor 3 di Singapura, nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam.
Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat
penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk
bronkopneumonia dan influenza.1
Pneumonia selalu menduduki peringkat atas penyebab kematian bayi dan
anak balita di Indonesia dari tahun ke tahun. Riskesdas 2013 menyatakan bahwa
terjadi peningkatan period prevalence pneumonia pada anak dari 2,1 persen pada
tahun 2007 menjadi 2,7 persen pada tahun 2013. Pneumonia juga selalu berada
pada daftar 10 penyakit terbesar setiap tahunnya di fasilitas kesehatan. Menurut
kemenkes dalam Riskesdas, Insidensi tertinggi pneumonia pada balita terdapat
pada kelompok umur 12-23 bulan (21,7%). Hal ini menuunjukkan bahwa
pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat
utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian balita di Indonesia.2

1.2. Tujuan Penulisan


a. Memahami teori mengenai bronkopneumonia.
b. Mengintegrasikan ilmu kedokteran terhadap kasus bronkopneumonia.

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bronkopneumonia
2.1.1 Definisi
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai
pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya.
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis adalah peradangan
pada parenkim paru yang melibatkan bronkus/bronkiolus yang berupa distribusi
berbentuk bercak-bercak (patchy distribution). Konsolidasi bercak berpusat
disekitar bronkus yang mengalami peradangan multifokal dan biasanya bilateral.3
2.1.2 Etiologi Bronkopneumonia
Bronkopneumonia dapat juga dikatakan suatu peradangan pada parenkim
paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur.3 Bakteri seperti Diplococus
pneumonia, Pneumococcus sp, Streptococcus sp, Hemoliticus aureus,
Haemophilus influenza, Basilus friendlander (Klebsial pneumonia), dan
Mycobacterium tuberculosis. Virus seperti Respiratory syntical virus, Virus
influenza, dan Virus sitomegalik. Jamur seperti Citoplasma capsulatum,
Criptococcus nepromas, Blastomices dermatides, Cocedirides immitis,
Aspergillus sp, Candinda albicans, dan Mycoplasma pneumonia. Meskipun
hampir semua organisme dapat menyebabkan bronkopneumonia, penyebab yang
sering adalah stafilokokus, streptokokus, H. influenza, Proteus sp dan
Pseudomonas aeruginosa.7 Keadaan ini dapat disebabkan oleh sejumlah besar
organisme yang berbeda dengan patogenitas yang bervariasi. Virus, tuberkolosis
dan organisme dengan patogenisitas yang rendah dapat juga menyebabkan
bronkopneumonia, namun gambarannya bervariasi sesuai agen etiologinya.5
2.1.3 Patogenesis Bronkopneumonia
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan
paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara

2
daya tahan tubuh sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat
timbulnya infeksi penyakit.
Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui
jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan
jaringan sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu
proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
1. Stadium I/Hiperemia (4 – 12 jam pertama/kongesti)
Pada stadium I, disebut hyperemia karena mengacu pada respon
peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini
ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat
infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari
sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator
tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga
mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan
prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan
permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke
dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler
dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan
jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan
gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan
saturasi oksigen hemoglobin.
2. Stadium II/Hepatisasi Merah (48 jam berikutnya)
Pada stadium II, disebut hepatisasi merah karena terjadi sewaktu alveolus
terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu
(host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat
oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan sehingga warna paru
menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli
tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini
berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

3
3. Stadium III/Hepatisasi Kelabu (3 – 8 hari)
Pada stadium III/hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel.
Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai di reabsorbsi, lobus masih tetap padat
karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler
darah tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV/Resolusi (7 – 11 hari)
Pada stadium IV/resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorpsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.3
2.1.4 Faktor Resiko
Usia: Orang yang berusia 65 atau lebih dan anak-anak yang berusia 2 atau
lebih muda memiliki risiko lebih tinggi terkena bronkopneumonia dan komplikasi
akibat kondisinya.
Lingkungan: Orang yang bekerja di, atau sering berkunjung, fasilitas
rumah sakit atau panti jompo memiliki risiko lebih tinggi terkena
bronkopneumonia.
Gaya Hidup: Merokok, gizi buruk, dan riwayat penggunaan alkohol berat
dapat meningkatkan risiko bronkopneumonia.
Kondisi medis: Kondisi medis tertentu dapat meningkatkan risiko Anda
untuk memgembangkan jenis pneumonia ini. Ini termasuk:
 Memiliki penyakit paru kronis, seperti asma atau penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK)
 Memiliki HIV / AIDS
 Memiliki sistem kekebalan yang lemah karena kemoterapi atau
penggunaan obat imunosupresif
 Memiliki penyakit kronis, seperti penyakit jantung atau diabetes
 Memiliki penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis atau lupus
 Batuk kronis
 Mengalami kesulitan menelan

4
 Menerima dukungan ventilator3
Ada literatur yang menyatakan bahwa pada anak-anak yang mengalami
kekurangan nutrisi memiliki faktor resiko untuk terkena Pneumonia lebih tinggi
daripada anak yang memiliki gizi yang baik. Hal ini sering terjadi pada Negara
yang sedang berkembang dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pengaturan
gizi dalam pemilihan menu makan sehingga tidak heran terjadi banyak komplikasi
infeksi pada pasien yang memiliki gizi buruk dihubungkan dengan penurunan
sistem imun. Sedangkan dari prognosis yang dimiliki anak malnutrisi disertai
dengan pneumonia memiliki angka mortalitas yang tinggi.11
2.1.5 Manifestasi Klinis
Gejala pada anak-anak
Anak-anak dan bayi mungkin menunjukkan gejala secara berbeda.
Sementara batuk adalah gejala yang paling umum pada bayi, mereka mungkin
juga memiliki:3
 Denyut Jantung Yang Cepat
 Kadar Oksigen Darah Rendah
 Retraksi Otot Dada
 Sifat Lekas Marah
 Penurunan Minat Makan atau Minum
 Demam
 Sulit Tidur

2.1.6 Diagnosis
Test Result
Chest X-ray Bronchopneumonia will usually show up as
multiple patchy areas of infection, usually in both
lungs and mostly at the lung bases.
Complete blood count (CBC) A high number of total white blood cells, along
with high numbers of certain types of white blood
cells, may indicate a bacterial infection.

5
Blood or sputum cultures These tests show the type of organism causing the
infection.
CT scan A CT scan provides a more detailed look at the
lung tissues.
Bronchoscopy This lighted instrument can take a closer at the
breathing tubes and take samples of lung tissue,
while checking for infection and other lung
conditions.
Pulse oximetry This is a noninvasive and simple test that measures
the percentage of oxygen in the blood stream. The
lower the number, the lower your oxygen level.

2.1.7 Differential Diagnosis


 Asma
 Atelektasis
 Bronkiektasis
 Bronchiolitis
 Bronkitis
 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
 Aspirasi Tubuh Asing
 Pneumonia jamur
 Paru Abses
 Pneumocystis jiroveci Pneumonia
 Gagal Pernapasan
 Viral Pneumonia6

2.1.8 Penatalaksanaan
Prioritas awal pada anak-anak dengan pneumonia meliputi identifikasi
dan pengobatan distres pernapasan, hipoksemia, dan hiperkarbia. Menggerogoti,
mengembang, takipnea parah, dan retraksi harus segera memicu dukungan

6
pernafasan. Anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan parah harus
menjalani intubasi trakea jika mereka tidak dapat mempertahankan oksigenasi
atau memiliki tingkat kesadaran yang menurun. Peningkatan kebutuhan dukungan
pernafasan seperti peningkatan konsentrasi oksigen inhalasi, ventilasi tekanan
positif, atau CPAP biasanya diperlukan sebelum pemulihan dimulai.

1. Antibiotik
Mayoritas anak yang didiagnosis menderita pneumonia pada pasien
rawat jalan diobati dengan antibiotik oral. Amoksisilin dosis tinggi digunakan
sebagai agen lini pertama untuk anak-anak dengan radang paru-paru yang tidak
rumit. Enzimosporin generasi kedua atau ketiga dan antibiotik makrolida seperti
azitromisin adalah alternatif yang dapat diterima. Terapi kombinasi (ampisilin dan
gentamisin atau sefotaksim) biasanya digunakan pada pengobatan awal bayi baru
lahir dan bayi muda.
Pasien rawat inap biasanya juga dapat diobati dengan penisilin spektrum
sempit seperti ampisilin. Pilihan agen dan dosis dapat bervariasi berdasarkan
tingkat resistensi lokal (tingkat pneumokokus perantara atau resisten yang tinggi
mungkin memerlukan dosis ampisilin lebih tinggi untuk mengatasi protein
pengikat penisilin yang berubah yang merupakan penyebab pneumokokus
resisten). Di daerah di mana resistansi sangat tinggi (> 25% strain menjadi tidak
dapat diserap), sefalosporin generasi ketiga mungkin ditunjukkan. Anak-anak
yang lebih tua, sebagai tambahan, mungkin menerima macrolide untuk menutupi
infeksi atipikal.
Meskipun fluoroquinolones akan mencakup semua patogen pernafasan
yang umum pada masa kanak-kanak, mereka tidak disetujui untuk indikasi ini dan
memiliki efek samping potensial yang signifikan, termasuk kerusakan tendon
jangka pendek dan dampak jangka panjang pada resistensi antibiotik. Mereka
harus disediakan untuk kasus di mana terapi lain gagal dan idealnya harus
digunakan setelah berkonsultasi dengan spesialis penyakit menular dengan pilihan
lain, atau diagnosis alternatif lainnya, dapat dipertimbangkan.

7
Anak-anak yang beracun muncul harus menerima terapi antibiotik yang
mencakup vankomisin bersamaan dengan sefalosporin generasi kedua atau ketiga.

2. Vaksin
Selain menghindari kontak infeksi (sulit bagi banyak keluarga yang
menggunakan fasilitas penitipan anak), vaksinasi adalah cara pencegahan utama.
Vaksin influenza dianjurkan untuk anak usia 6 bulan dan lebih tua. Vaksin
konjugasi pneumokokus (PCV13) direkomendasikan untuk semua anak di bawah
59 bulan. Vaksin polisakarida 23-valent (PPV23) direkomendasikan untuk anak-
anak berusia 24 bulan atau lebih yang berisiko tinggi terkena penyakit
pneumokokus.5

8
BAB 3
STATUS ORANG SAKIT

Nama : MUTIARA MAHFUZA


Umur : 2 TAHUN 3 BULAN
Jenis Kelamin : PEREMPUAN
Alamat : JL. SUKA BARU MENDANA
No. MR : 026945
Tanggal Masuk : 21 OKTOBER 2017

ANAMNESA
Keluhan Utama : Sesak nafas
Telaah : Hal ini dialami pasien sejak ± 3 hari sebelum masuk
rumah sakit. Sesak nafas tidak berhubungan dengan aktivitas dan cuaca. Batuk
dijumpai dengan dahak berwarna kuning dan konsistensi kental, namun sulit
dikeluarkan. Riwayat batuk berulang dialami oleh pasien sejak usia 2 bulan.
Demam dialami os sejak ± 4 hari ini. Demam bersifat naik turun dan demam
turun jika diberi obat penurun panas. Menggigil tidak dijumpai. Kejang tidak
dijumpai. Riwayat kejang tidak dijumpai. Mual dan muntah tidak dijumpai. BAB
dan BAK normal. Riwayat kontak dengan penderita TB tidak dijumpai. Riwayat
keluarga dengan keluhan yang sama tidak dijumpai. Riwayat asma pada keluarga
tidak dijumpai. Sebelumnya pasien pernah dirawat di RS USU dengan keluhan
yang sama dan diberi pengobatan dan mengalami perbaikan.
Riwayat kehamilan ibu : Usia ibu saat mengandung pasien adalah 26 tahun.
Ibu teratur untuk mengontrol kehamilan ke bidan.
Riwayat demam (-), HT (-), DM (-), dan konsumsi
obat-obatan (-)
Riwayat kelahiran : Pasien merupakan anak ke-2, lahir secara spontan
pervaginam, langsung menangis, biru (-), cukup
bulan, APGAR score (?).

9
Riwayat imunisasi : Tidak lengkap. Os hanya imunisasi Hepatitis B,
BCG dan DPT sekali.
Riwayat Penyakit Terdahulu : Pasien pernah dirawat sebelumnya di RS USU
dengan keluhan yang sama.
Riwayat Penggunaan Obat : Paracetamol
Riwayat Pemberian Makan : ASI Ekslusif 0-6 bulan, Bubur Milna 6-12 bulan,
Nasi biasa 12 bulan - sekarang
Riwayat Tumbuh Kembang : 6 bulan = telungkup, 2 tahun = merayap,
merungkuk, duduk.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Presens
Sensorium : Compos Mentis
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Suhu : 37,7 ̊C
HR : 92 x/i, regular, murmur (+) sistolik
RR : 40 x/i , regular, ronkhi (+/-), wheezing (-/-)
BB : 8,5 kg
TB : 83 cm
BB/U : ZScore = -3 SD
TB/U : -2 < zscore < 2 SD
BB/TB : ZScore = -3 SD
Kesan : Marasmus

Status Lokalisata
Kepala
Wajah : Dismorfik
Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil isokor, konjunctiva palpebral
inferior pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), edema palpebral (-/-)
T/H/M : Dbn/Flat nasal bridge, terpasang O2 nasal kanul dan
NGT/sianosis (-)

10
Leher : Bengkak (-), pembesaran KGB (-)
Toraks : Simetris fusiformis, retraksi epigastrial (+), sela iga
mengembang.
HR : 92 x/i, reguler, desah (+) sistolik
RR : 40 x/i, reguler, ronkhi (+/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Soepel, peristaltik (+) N, Hepar/Lien : tidak teraba
Ekstremitas : Tekanan darah : 90/60 mmHg, Nadi : 92 x/i, reguler, t/v cukup,
akral hangat, CRT < 3 detik, SaO2 : 97%, otot hipotrofi, lemak
subkutan menipis
Genitalia : Dalam batas normal

DIAGNOSA BANDING
 Bronkopneumonia
 Bronkiolitis

DIAGNOSA KERJA
 Bronkopneumonia + ASD + Marasmus

TERAPI
 O2 nasal kanul 1 L/menit
 IVFD D5% Nacl 0,225% 10 cc/jam
 Inj. Ampicilin 220mg/6jam/ IV
 Inj. Gentamicin LD 70 mg selanjutnya 50 mg/24jam/IV
 Paracetamol syr 3 x 100 mg

RENCANA
 Cek Darah Lengkap
 AGDA
 KGD
 Foto Toraks

11
 Konsul divisi respirologi, kardiologi, neurologi, nutrisi dan penyakit
metabolik

HASIL LABORATORIUM ( Tanggal: 21/10/2017 )


Darah Lengkap
Hemoglobin : 8,3 g/dL (10.8 – 15.6)
Eritrosit : 3,39 juta/µL (4.50 - 6.50)
Leukosit : 16.040/µL (4,500 - 13,500)
Hematokrit : 26,9% (33 - 45)
Trombosit : 432.000/µL (181,000 - 521,000)

Hitung Jenis
Neutrofil : 45,5 % (25.00 - 60.00)
Limfosit : 44,5 % (25.00 - 50.00)
Monosit : 7,6 % (1.00 - 6.00)
Eosinofil : 0,00 % (1.00 - 5.00)
Basofil : 2,4 % (0.00 - 1.00)

Metabolisme Karbohidrat (Tanggal: 21/10/2017)


Glukosa Darah (sewaktu) : 133 mg/dL (< 200 mg/dL)

Elektrolit
Natrium (Na) : 135 mEq/L (135 - 155)
Kalium (K) : 1,68 mEq/L (3.6 - 5.5)
Klorida (Cl) : 88 mEq/L (96 - 106)

Analisa Gas Darah


pH : 7,54 (7,35 - 7,45)
pCO2 : 34,5 mmHg (38 - 42)
pO2 : 141,00 mmHg (85 - 100)
Bikarbonat (HCO3) : 29,8 U/L (22 - 29)

12
Kelebihan Basa : 6,4 (-2) - (+3)
Saturasi O2 : 99,4 % (95 - 100)

FOTO THORAKS ( Tanggal: 21/10/2017 )

CTR = < 55 %, Normal. Tampak Infiltrat pada seluruh lapangan paru kanan.
Sudut Kedua Costofrenikus lancip. Diafragma Licin.
Kesan : Pneumonia Paru Kanan

13
BAB 4
FOLLOW UP HARIAN

22/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul


napas (+), Mentis ia + ASD + 1 L/menit
Batuk(+), Temperatur : 36,4 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Demam Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
(-) Kepala IV (H2)
Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H2)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Vit. C 1 x 100
bridge, kanul O2 mg
terpasang pada  As. Folat 1 x 1
hidung. mg
Dada : Simetris  Vit. B Comp. 1
fusiform, retraksi x tab I
(+) epigastrium,
sela iga
mengembang.
HR : 80 x/i, reg, murmur
(+) sistolik
RR : 30 x/i, reg, ronkhi
(+/-)
Perut : Soepel, peristaltik
(+) N
H/L/R : tidak teraba
A. gerak : Nadi 80 x/i,
reg, t/v cukup.

14
Akral hangat, CRT
< 3”. TD : Sulit di
ukur
Rencana : Konsul divisi
kardiologi, nutrsi dan
penyakit metabolic
(F75), neulogis.
Advis : Chest
Physiotheraphy, Nebul
Ventolin 1 Amp + NaCl
0,9% 3 cc / 3 jam

Hasil Lab (21/10/2017)\


Darah Lengkap
Hb : 8,3 g/dL
Eri: 3,39 juta/µL
WBC : 16.040/µL
Ht : 26,9%
PLT : 432.000/µL
Hitung Jenis
N/L/M/E/B :
45,5/44,5/7,6/0/2,4
Metabolisme
Karbohidrat
KGDS : 133 mg/dL
AGDA
pH : 7,54
pCO2 : 34,5 mmHg
pO2 : 141,00 mmHg
HCO3 : 29,8 U/L
BE : 6,4
SatO2 : 99,4 %

15
23/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas (+), Mentis ia + ASD + 1 L/menit
Batuk(+), Temperatur : 36,3 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Demam Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
(-) Kepala IV (H3)
Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H3)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Vit. C 1 x 100
bridge, kanul O2 mg
terpasang pada  As. Folat 1 x 1
hidung. mg
Dada : Simetris  Vit. B Comp. 1
fusiform, retraksi x tab I
(+) epigastrium,  Chest
sela iga Physiotherapy
mengembang.  Nebul Ventolin
HR : 96 x/i, reg, murmur 1 Amp + NaCl
(+) sistolik 0,9% 3 cc / 8
RR : 28 x/i, reg, ronkhi jam
(+/-)
Perut : Soepel, peristaltik
(+) N
H/L/R : tidak teraba
A. gerak : Nadi 96 x/i,
reg, t/v cukup.
Akral hangat, CRT
< 3”. TD : Sulit di
ukur

Hasil Lab (21/10/2017)\

16
Darah Lengkap
Hb : 8,3 g/dL
Eri: 3,39 juta/µL
WBC : 16.040/µL
Ht : 26,9%
PLT : 432.000/µL
Hitung Jenis
N/L/M/E/B :
45,5/44,5/7,6/0/2,4
Metabolisme
Karbohidrat
KGDS : 133 mg/dL
AGDA
pH : 7,54
pCO2 : 34,5 mmHg
pO2 : 141,00 mmHg
HCO3 : 29,8 U/L
BE : 6,4
SatO Sat O2 : 99,4 %
24/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas Mentis ia + ASD + 1 L/menit
(<<), Temperatur : 36,5 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Batuk(+), Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
Demam Kepala IV (H4)
(-) Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H4)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Vit. C 1 x 100
bridge, kanul O2 mg
terpasang pada

17
hidung dan NGT  As. Folat 1 x 1
Dada : Simetris mg
fusiform, retraksi  Vit. B Comp. 1
(+) epigastrium, x tab I
sela iga  Chest
mengembang. Physiotherapy
HR : 88 x/i, reg, murmur Nebul Ventolin
(+) sistolik 1 Amp + NaCl
RR : 30 x/i, reg, ronkhi 0,9% 3 cc / 8
(+/-) jam
Perut : Soepel, peristaltik  Diet F75
(+) N 85cc/3jam/NG
H/L/R : tidak teraba T
A. gerak : Nadi 88 x/i,
reg, t/v cukup.
Akral hangat, CRT
< 3”. TD : Sulit di
ukur

Hasil Lab (21/10/2017)\


Darah Lengkap
Hb : 8,3 g/dL
Eri: 3,39 juta/µL
WBC : 16.040/µL
Ht : 26,9%
PLT : 432.000/µL
Hitung Jenis
N/L/M/E/B :
45,5/44,5/7,6/0/2,4
Metabolisme
Karbohidrat
KGDS : 133 mg/dL

18
AGDA
pH : 7,54
pCO2 : 34,5 mmHg
pO2 : 141,00 mmHg
HCO3 : 29,8 U/L
BE : 6,4
SatO Sat O2 : 99,4 %
25/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas Mentis ia + ASD + 1 L/menit
(<<), Temperatur : 36,3 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Batuk(+), Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
Demam Kepala IV (H5)
(-) Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H5)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Vit. C 1 x 100
bridge, kanul O2 mg
terpasang pada  As. Folat 1 x 1
hidung dan NGT mg
Dada : Simetris  Vit. B Comp. 1
fusiform, retraksi x tab I
(-)  Chest
HR : 80 x/i, reg, murmur Physiotherapy
(+) sistolik Nebul Ventolin
RR : 28 x/i, reg, ronkhi 1 Amp + NaCl
(+/-) 0,9% 3 cc / 8
Perut : Soepel, peristaltik jam
(+) N  Diet F100
H/L/R : tidak teraba 85cc/3jam/NG
A. gerak : Nadi 80 x/i, T
reg, t/v cukup.

19
Akral hangat, CRT
< 3”. TD : 90/60
mmHg

Hasil Lab (21/10/2017)\


Darah Lengkap
Hb : 8,3 g/dL
Eri: 3,39 juta/µL
WBC : 16.040/µL
Ht : 26,9%
PLT : 432.000/µL
Hitung Jenis
N/L/M/E/B :
45,5/44,5/7,6/0/2,4
Metabolisme
Karbohidrat
KGDS : 133 mg/dL
AGDA
pH : 7,54
pCO2 : 34,5 mmHg
pO2 : 141,00 mmHg
HCO3 : 29,8 U/L
BE : 6,4
Sat O2 : 99,4 %
26/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas Mentis ia + ASD + 1 L/menit
(<<), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Batuk(+), Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
Demam Kepala IV (H6)
(-), Diare Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+) (+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H6)

20
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Dexamethason
bridge, kanul O2 e 3 x 2 mg
terpasang pada  Vit. C 1 x 100
hidung dan NGT mg
Dada : Simetris  As. Folat 1 x 1
fusiform, retraksi mg
(-)  Vit. B Comp. 1
HR : 110 x/i, reg, x tab I
murmur (+)  Chest
sistolik Physiotherapy
RR : 25 x/i, reg, ronkhi Nebul Ventolin
(+/-) 1 Amp + NaCl
Perut : Soepel, peristaltik 0,9% 3 cc / 8
(+) N jam
H/L/R : tidak teraba  Diet F100
A. gerak : Nadi 110 x/i, 85cc/3jam/NG
reg, t/v cukup. T  Diet F100
Akral hangat, CRT modifikasi
< 3”. TD : 110/70 soya isomil
mmHg 71,4 g + 54,8 g
gula + 32 g
Hasil Lab (21/10/2017)\ minyak  85
Darah Lengkap cc/3 jam
Hb : 8,3 g/dL
Eri: 3,39 juta/µL
WBC : 16.040/µL
Ht : 26,9%
PLT : 432.000/µL
Hitung Jenis
N/L/M/E/B :

21
45,5/44,5/7,6/0/2,4
Metabolisme
Karbohidrat
KGDS : 133 mg/dL
AGDA
pH : 7,54
pCO2 : 34,5 mmHg
pO2 : 141,00 mmHg
HCO3 : 29,8 U/L
BE : 6,4
Sat O2 : 99,4 %
27/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas Mentis ia + ASD + 1 L/menit
(<<), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Batuk(<< Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
), Kepala IV (H7)
Demam Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(-) (+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H7)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Dexamethason
bridge, kanul O2 e 3 x 2 mg
terpasang pada  Vit. C 1 x 100
hidung dan NGT mg
Dada : Simetris  As. Folat 1 x 1
fusiform, retraksi mg
(-)  Vit. B Comp. 1
HR : 102 x/i, reg, x tab I
murmur (+)  Chest
sistolik Physiotherapy
RR : 30 x/i, reg, ronkhi Nebul Ventolin

22
(+/-) 1 Amp + NaCl
Perut : Soepel, peristaltik 0,9% 3 cc / 8
(+) N jam
H/L/R : tidak teraba  Diet F100
A. gerak : Nadi 102 x/i, modifikasi
reg, t/v cukup. soya isomil
Akral hangat, CRT 71,4 g + 54,8 g
< 3”. TD : 100/60 gula + 32 g
mmHg minyak = 85
cc/3 jam/NGT
28/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas Mentis ia + ASD + 1 L/menit
(<<), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Batuk(-), Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
Demam Kepala IV (H8)
(-) Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H8)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Salbutamol 3 x
bridge, kanul O2 0,5 mg
terpasang pada  Zink 1 x 2 mg
hidung dan NGT  Dexamethason
Dada : Simetris e 3 x 2 mg
fusiform, retraksi  Vit. C 1 x 100
(-) mg
HR : 108 x/i, reg,  As. Folat 1 x 1
murmur (+) mg
sistolik  Vit. B Comp. 1
RR : 26 x/i, reg, ronkhi (- x tab I
/-)  Chest
Perut : Soepel, peristaltik Physiotherapy

23
(+) N Nebul Ventolin
H/L/R : tidak teraba 1 Amp + NaCl
A. gerak : Nadi 108 x/i, 0,9% 3 cc / 8
reg, t/v cukup. jam
Akral hangat, CRT
< 3”. TD : Sulit
dinilai
29/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
napas (-), Mentis ia + ASD + 1 L/menit
Batuk(-), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Demam Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
(-) Kepala IV (H9)
Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H9)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Salbutamol 3 x
bridge, kanul O2 0,5 mg
terpasang pada  Zink 1 x 2 mg
hidung dan NGT  Dexamethason
Dada : Simetris e 3 x 2 mg
fusiform, retraksi  Vit. C 1 x 100
(-) mg
HR : 90 x/i, reg, murmur  As. Folat 1 x 1
(+) sistolik mg
RR : 28 x/i, reg, ronkhi (-  Vit. B Comp. 1
/-) x tab I
Perut : Soepel, peristaltik  Chest
(+) N Physiotherap
H/L/R : tidak teraba
 Nebul Ventolin
A. gerak : Nadi 90 x/i,
1 Amp + NaCl
reg, t/v cukup.
0,9% 3 cc / 8

24
Akral hangat, CRT jam
< 3”. TD : Sulit  Diet F100
dinilai 150cc/3jam/ora
l-NGT
(modifikasi
sota) (121,4 gr
susu isomil
soya + 60 gr
gula + 43 gr
minyak)
(1200kcal ;
protein
2gr/kgBB/hari)
30/10/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
– napas (-), Mentis ia + ASD + 1 L/menit
1/11/2017 Batuk(-), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Demam Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
(-) Kepala IV (H9)
Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H9)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Salbutamol 3 x
bridge, kanul O2 0,5 mg
terpasang pada  Zink 1 x 2 mg
hidung dan NGT  Dexamethason
Dada : Simetris e 3 x 2 mg
fusiform, retraksi  Vit. C 1 x 100
(-) mg
HR : 90 x/i, reg, murmur  As. Folat 1 x 1
(+) sistolik mg
RR : 28 x/i, reg, ronkhi (-  Vit. B Comp. 1

25
/-) x tab I
Perut : Soepel, peristaltik  Chest
(+) N Physiotherap
H/L/R : tidak teraba  Nebul Ventolin
A. gerak : Nadi 90 x/i, 1 Amp + NaCl
reg, t/v cukup. 0,9% 3 cc / 8
Akral hangat, CRT jam
< 3”. TD : Sulit Diet F100
dinilai 150cc/3jam/oral
-NGT
(modifikasi
sota) (121,4 gr
susu isomil soya
+ 60 gr gula +
43 gr minyak)
(1200kcal ;
protein
2gr/kgBB/hari)
02/11/2017 Sesak Sensorium : Compos Bronkopneumon  O2 nasal kanul
- napas (-), Mentis ia + ASD + 1 L/menit
07/11/2017 Batuk(-), Temperatur : 37 ◦ C Marasmus  Inj. Ampicillin
Demam Pemeriksaan fisik : 220 mg/ 6 jam/
(-) Kepala IV (H9)
Mata : refleks cahaya  Inj. Gentamicin
(+/+), konjungtiva 50 mg/ 24 jam/
palpebra inferior IV (H9)
pucat (+/+), pupil  Paracetamol
isokor. Syr 3 x 100 mg
T/H/M : Flat nasal  Salbutamol 3 x
bridge, kanul O2 0,5 mg
terpasang pada  Zink 1 x 2 mg
hidung dan NGT  Dexamethason
Dada : Simetris e 3 x 2 mg

26
fusiform, retraksi  Vit. C 1 x 100
(-) mg
HR : 90 x/i, reg, murmur  As. Folat 1 x 1
(+) sistolik mg
RR : 28 x/i, reg, ronkhi (-  Vit. B Comp. 1
/-) x tab I
Perut : Soepel, peristaltik  Chest
(+) N Physiotherap
H/L/R : tidak teraba  Nebul Ventolin
A. gerak : Nadi 90 x/i, 1 Amp + NaCl
reg, t/v cukup. 0,9% 3 cc / 8
Akral hangat, CRT jam
< 3”. TD : Sulit Diet F100
dinilai 150cc/3jam/oral
-NGT
(modifikasi
sota) (121,4 gr
susu isomil soya
+ 60 gr gula +
43 gr minyak)
(1200kcal ;
protein
2gr/kgBB/hari)

27
BAB 5
DISKUSI KASUS
TEORI KASUS
Definisi
Bronkopneumonia adalah radang paru- MM, anak perempuan, berusia 2 tahun 3 bulan,
paru yang mengenai satu atau dengan berat badan 8,5 kg dan tinggi badan 83
beberapa lobus paru-paru yang cm, datang ke RS USU Medan pada tanggal 21
ditandai dengan adanya bercak-bercak Oktober 2017 dengan keluhan utama sesak
infiltrat yang disebabkan oleh napas yang dialami kurang lebih dalam 3 hari
bakteri,virus, jamur dan benda asing ini.
Manifestasi Klinis Pada kasus:
Manifestasi klinis pneumonia adalah Pada pasien dijumpai adanya sesak napas, batuk
gejala infeksi umum (demam, sakit berdahak, demam.
kepala, penurunan nafsu makan) dan .
gejala gangguan respiratori
(batuk, sesak nafas)
Anamnesis Pasien mengeluhkan:
Dari anamnesis, manifestasi klinis Hal ini dialami pasien sejak ± 3 hari sebelum
pneumonia di dahului beberapa hari masuk rumah sakit. Sesak nafas tidak
dengan gejala infeksi saluran berhubungan dengan aktivitas dan cuaca. Batuk
pernapasan atas (ISPA), yaitu batuk dijumpai dengan dahak berwarna kuning dan
dan rinitis (pada pasien ini didahului konsistensi kental, namun sulit dikeluarkan.
dengan batuk), peningkatan usaha Riwayat batuk berulang dialami oleh pasien
bernafas, demam tinggi mendadak sejak usia 2 bulan. Demam dialami os sejak ± 4
(pada pneumonia bakteri), dan hari ini. Demam bersifat naik turun dan demam
penurunan nafsu makan. Keluhan yang turun jika diberi obat penurun panas. Menggigil
paling menonjol pada pasien tidak dijumpai. Kejang tidak dijumpai. Riwayat
pneumonia adalah batuk dan demam. kejang tidak dijumpai. Mual dan muntah tidak
dijumpai. BAB dan BAK normal. Riwayat
kontak dengan penderita TB tidak dijumpai.

28
Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama
tidak dijumpai. Riwayat asma pada keluarga
tidak dijumpai. Sebelumnya pasien pernah
dirawat di RS USU dengan keluhan yang sama
dan diberi pengobatan dan mengalami
perbaikan.

Pemeriksaan Fisik Kepala


Hasil pemeriksaan fisik tergantung Wajah : Dismorfik
luas daerah auskultasi yang terkena, Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil
pada perkusi sering tidak ditemukan isokor, konjunctiva palpebral
kelainan dan pada auskultasi mungkin inferior pucat (+/+), sklera
hanya terdengar ronkhi basah nyaring ikterik (-/-), edema palpebral (-
halus dan sedang. /-)
T/H/M : Dbn/Flat nasal bridge,
terpasang O2 nasal kanul dan
NGT/sianosis (-)
Leher : Bengkak (-), pembesaran KGB
(-)
Toraks : Simetris fusiformis, retraksi
epigastrial (+), sela iga
mengembang.
HR : 92 x/i, reguler, desah (+)
sistolik
RR : 40 x/i, reguler, ronkhi
(+/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Soepel, peristaltik (+) N,
Hepar/Lien : tidak teraba
Ekstremitas : Tekanan darah : 90/60 mmHg,

29
Nadi : 92 x/i, reguler, t/v
cukup, akral hangat, CRT < 3
detik, SaO2 : 97%, otot
hipotrofi, lemak subkutan
menipis
Genitalia : Dalam batas normal
PemeriksaanPenunjang Darah Lengkap
1. Pemeriksaan laboratorium Hemoglobin : 8,3 g/dL (10.8 – 15.6)
a. Pemeriksaan darah Eritrosit : 3,39 juta/µL (4.50 - 6.50)
Pada kasus bronkopneumonia oleh Leukosit : 16.040/µL (4,500 - 13,500)
bakteri akan terjadi leukositosis Hematokrit : 26,9% (33 - 45)
b. Pemeriksaan sputum Trombosit : 432.000/µL (181,000 -
c.Analisa gas darah untuk 521,000)
mengevaluasi status oksigenasi dan Hitung Jenis
status asam basa Neutrofil: 45,5 % (25.00 - 60.00)
d. Kultur darah untuk mendeteksi Limfosit : 44,5 % (25.00 - 50.00)
bakterimia Monosit : 7,6 % (1.00 - 6.00)
2. Pemeriksaan radiologi Eosinofil : 0,00 % (1.00 - 5.00)
a. Foto thoraks Basofil : 2,4 % (0.00 - 1.00)
Menunujukan konsolidasi lobar yang Metabolisme Karbohidrat
seringkali dijumpai padainfeksi Glukosa Darah (sewaktu) : 133 mg/dL (< 200
pneumokokal atau klebsiella. Infilrate mg/dL)
multiple seringkali dijumpai pada Elektrolit
infeksi stafilokokus dan haemofilus Natrium (Na) : 135 mEq/L (135 - 155)
Kalium (K) : 1,68 mEq/L (3.6 - 5.5)
Klorida (Cl) : 88 mEq/L (96 - 106)
Anlisa Gas Darah
pH : 7,54 (7,35 - 7,45)
pCO2 : 34,5 mmHg (38 - 42)
pO2 : 141,00 mmHg(85 - 100)
Bikarbonat (HCO3) : 29,8 U/L(22 - 29)

30
Kelebihan Basa: 6,4 (-2) - (+3)
Saturasi O2 : 99,4 % (95 - 100)
Pada Foto Thoraks dijumpai adanya infiltrate
pada paru kanan
Penatalaksanaan  O2 nasal kanul 1 L/menit
1. Oksigen 1-2 liter per menit  Inj. Ampicillin 220 mg/ 6 jam/ IV
2. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat  Inj. Gentamicin 50 mg/ 24 jam/ IV
dimulai makan eksternal bertahap  Paracetamol Syr 3 x 100 mg

melaui selang nasogastrik dengan  Salbutamol 3 x 0,5 mg


feeding drip  Zink 1 x 2 mg

3. Jika sekresi lender berlebihan dapat  Dexamethasone 3 x 2 mg


 Vit. C 1 x 100 mg
diberikan inhalasi dengan salin normal
 As. Folat 1 x 1 mg
dan beta agonis untuk transport
 Vit. B Comp. 1 x tab I
muskusilier
 Chest Physiotherapy
4. Koreksi gangguan keseimbangan
Nebul Ventolin 1 Amp + NaCl 0,9% 3 cc / 8 jam
asam basa elektrolit

Pada anak-anak usia 2-59 bulan


dengan pneumonia berat dapat dobati
dengan ampicillin (atau penicillin) dan
gentamisin sebagai lini pertama
pengobatan. Ampicillin : 50 mg/kg
atau benzyl penicillin : 50.000 unit per
kg IM/IV setiap 6 jam paling sedikit 5
hari. Gentamicin 7,5 mg/kg IM/IV satu
kali sehari minimal selama 5 hari.

31
BAB 6
KESIMPULAN

Pasien perempuan berumur 2 tahun 3 bulan, atas nama Mutiara Mahfuza


dengan keluhan utama sesak nafas dan didiagnosa dengan Bronkopneumonia dan
ditatalaksana :
 O2 nasal kanul 1 L/menit
 Inj. Ampicillin 220 mg/ 6 jam/ IV
 Inj. Gentamicin 50 mg/ 24 jam/ IV
 Paracetamol Syr 3 x 100 mg
 Salbutamol 3 x 0,5 mg
 Zink 1 x 2 mg
 Dexamethasone 3 x 2 mg
 Vit. C 1 x 100 mg
 As. Folat 1 x 1 mg
 Vit. B Comp. 1 x tab I
 Chest Physiotherapy
 Nebul Ventolin 1 Amp + NaCl 0,9% 3 cc / 8 jam

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Administrated by the Alberta Medical Association. 2002. Guideline For


The Diagnosis and Management Of Community Acquired Pneumonia:
Pediatrics.Available from
url:http://www.centralhealth.nl.ca/assets/PandemicInfluenza/PNEUMONI
APEDI ATRICS.pdf\
2. Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Depkes RI, 2013
3. Bacterial Pneumonia Differential Diagnoses, available at
http://emedicine.medscape.com/article/300157-differential, Accessed on
May 13, 2017.
4. Pediatric Pneumonia, Available at
http://emedicine.medscape.com/article/967822-overview#a3, Accessed on
May 13, 2017.
5. Bronchopneumonia: Symptoms, Risk Factors, and Treatment, Available at
http://www.healthline.com/health/bronchopneumonia#overview1 ,
Accessed on May 13 21017.
6. Mihai D, Maria-Sultana M ,Atlas Of Pathology, Romania 2014 Jan 22. (3).
7. Kemenkes RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak . Jakarta :
Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
8. Depkes RI. 2008. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi
Buruk Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
Direktorat Bina Gizi Masyarakat
9. Krisnasari. Nutrisi dan Gizi Buruk. Mandala of Health. Volume 4, Nomor
1, Januari 2010
10. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia.Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:Infomedika; 2007
11. Pneumonia in severely malnourished children in developing countries –
mortality risk, aetiology and validity of WHO clinical signs: a systematic
review, Oktober 30, 2017

33