Anda di halaman 1dari 50
BUPATI KENDAL PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KENDAL NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DI KABUPATEN KENDAL Menimbang Mengingat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (3) dan Pasal 43 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 T. 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, maka perl menetapkan Peraturan Bupati tentang Pengelolaan Keuangan Desa.di Kabupaten Kendal; 1, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Batang dengan mengubah Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah = Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2757] 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republile Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5035); nn 6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 7. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495); 8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang 1950 Nomor 12, 13, 14, dan 15 dari hal Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten di Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta; 10.Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang perluasan kotamadya Daerah Tingkat [I Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490); 11.Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 12,Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 8717); 13.Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 199); 14.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Menetapkan Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang ° Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 15.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 111 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2091); 16.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2093); 17.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2094); 18.Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Deerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 158); 19.Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 159); 20.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Dacrah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036): 21.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tehun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 53); 22,Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa di Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah Kabupaten Kendal Tahun 2006 Nomor 15 Seri E No. 10); ‘ 23.Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 14 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan yang menjadi Kewenangan Pemerintahan ' Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah Kabupaten Kendal Tahun 2007 Nomor 14 Seri E No.8, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kendal Nomor 12); MEMUTUSKAN : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DI KABUPATEN KENDAL. BABI KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Kendal. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi 10. il. 12, 13. 14, 15. 16, 17. kewenangan daerah otonom. Bupati adalah Bupati Kendal. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usu, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarekat sctempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disingkat BPD adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. Lembaga Kemasyarakatan Desa adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat. Musyawarah Desa adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa untuk menyepakati hal yang bersifat strategis. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa wang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan desa. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, selanjutnya disingkat RPJM Desa adalah Rencana Kegiatan Pembangunan Desa untuk jangka waktu 6 (enam) tahun, Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya discbut RKP Desa, adalah penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APBDesa, adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. : Alokasi Dana Desa, selanjutnya disingkat ADD, adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota 18. 19. 20. 21, 22. 23. 24, 25. 26. oT 28. 29. 30. 31. setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus. Kelompok transfer adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa adalah Kepala Desa yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan desa. ‘4 Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa yang selanjutnya disingkat PTPKD adalah unsur perangkat desa yang membantu Kepala Desa untuk melaksanakan pengelolaan keuangan desa. Perangkat Desa adalah pembantu Kepala Desa yang terdiri atas Sekretariat Desa, Pelaksana Kewilayahan, dan Pelaksana Teknis. Sekretaris Desa adalah bertindak selaku koordinator pelaksanaan pengelolaan keuangan desa. Kepala Seksi adalah unsur dari pelaksana teknis kegiatan dengan bidangnya. Pelaksana teknis adalah pelaksana teknis lapangan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa di Kabupaten Kendal. Kepala Urusan adalah unsur Sekretariat Desa yang menangani tugas administrasi tértentu sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa di Kabupaten Kendal. Pejabat Sementara adalah pejabat yang diangkat berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk melaksanakan tugas Kepala Desa atau Perangkat Desa karena adanya pejabat definitif yang kosong atau berhalangan sementara, yakni Penjabat Kepala Desa, Yang Melaksanakan' Tugas Perangkat Desa, Pelaksana Tugas, dan Pelaksana Tugas Harian. Penjabat Kepala Desa adalah pejabat sementara yang diangkat oleh Bupati untuk melaksanakan tugas Kepala Desa dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sampai dengan pelantikan kepala desa definitif. Yang Melaksanakan Tugas Perangkat Desa adalah perangkat desa yang diangkat oleh Kepala Desa untuk melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahen desa pada jabatan perangkat desa yang kosong sampai dengan pelantikan perangkat desa definitif. Pelaksana Tugas adalah pejabat sementara pada jabatan Kepala Desa atau Perangkat Desa yang mempunyai wewenang untuk menandatangani naskah dinas, karena pejabat definitif diberhentikan sementara. Pelaksana Tugas Harian adalah pejabat sementara pada jabatan Kepala Desa atau Perangkat Desa yang mempunyai wewenang untuk memandatangani naskah dinas, karena pejabat definitif berhalangan sementara. Tanah Desa adalah tanah yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh Pemerintah Desa sebagai salah satu sumber pendapatan asli desa dan/atau untuk kepentingan sosial, berupa tanah kas desa yang meliputi tanah bengkok dan tanah bondo desa. 32. Bendahara Desa adalah perangkat desa dari unsur staf sekretariat desa yang membidangi urusan administrasi keuangan untuk menatausahakan keuangan desa. 33. Bendahara Penerimaan Desa adalah perangkat desa dari unsur staf sekretariat desa yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, | menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang penerimaan desa dalam rangka pelaksanaan APBDesa. 34. Bendahara Pengeluaran Desa adalah perangkat desa dari unsur staf sekretariat desa yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja desa dalam rangka pelaksanaan APBDesa. 35. Rekening Kas Desa adalah rekening tempat menyimpan uang Pemerintahan Desa yang menampung seluruh penerimaan Desa dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran Desa pada Bank yang ditetapken. 36, Penerimaan Desa adalah Uang yang berasal dari seluruh pendapatan desa yang masuk ke APBDesa melalui rekening kas desa. 87. Pengeluaran Desa adalah uang yang dikeluarkan dari APBDesa melalui rekening kas desa. 38. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pelaksana kegiatan untuk mengajukan permintaan pembayaran. 39, Surplus Anggaran Desa adalah selisih. lebih antara pendapatan desa dengan belanja desa. 40, Defisit Anggaran Desa adalah sclisih kurang antara pedapatan desa dengan belanja desa. 41.Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjuinya disingkat SILPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 42, Hari adalah hari kerja yang berlaku di Pemerintah Daerah BABII ASAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA Pasal 2 (1) Keuangan Desa dikelola berdasarkan azas-azas transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. (2) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola dalam masa 1 (satu) tahun anggaran yakni mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. BAB IIL KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DESA Pasal 3 » (1) Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan Keuangan desa dan mewakili Pemerintah Desa dalam kepemilikan kekayaan milik desa yang dipisahkan, (2) Kepala Desa sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai kewenangan : a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDesa; b. menetapkan PTPKD; c. menetapkan petugas yang melakukan pemungutan penerimaan desa; d. menyetujui pengeluaran atas kegiatan yang ditetapkan dalam APBDesa; dan e, melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBDesa. Pasal 4 (1) PTPKD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) berasal dari unsur Perangkat Desa, terdiri dari : a, Sekretaris Desa; b. Kepala Seksi; dan c. Bendahara Desa. (2) Bendahara Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat terdiri dari : a. Bendahara Penerimaan Desa; dan b. Bendahara Pengeluaran Desa. (3) Pengangkatan Bendahara Penerimaan Desa dan Bendahara Pengeluaran Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memperhatikan kondisi perangkat desa yang ditetapkan berdasarkan organisasi dan tata kerja pemerintah desa, serta kemampuan keuangan APBDesa. Pasal 5 (1) Sekretaris Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a bertindak selaku koordinator PTPKD. (2) Sekretaris Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas : a. menyusun dan melaksanakan Kebijakan Pengelolaan APBDesa; b, menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa, perubahan APBDesa dan pertanggung jawaban pelaksanaan APBDesa; c, melakukan pengendalian terhadap __pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan dalam APBDesa; d. menyusun pelaporan dan pelaksanaan kegiatan APBDesa; dan e. melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran APBDesa. Pasal 6 (1) Kepala Seksi sebagaimana dimaksud dalam Pasel 4 ayat (1) huruf b bertindak sebagai pelaksana kegiatan sesuai dengan bidangnya. (2) Kepala Seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas : @. menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya; b. melaksanakan kegiatan dan/atau bersama Lembaga Kemasyarakatan Desa yang telah ditetapkan di dalam APBDesa; c. melakukan tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan; d. mengendalikan pelaksanaan kegiatan; e. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Desa; dan f menyiapkan dokumen anggeran atas beban pelaksanaan kegiatan. Pasal 7 (1) Dalam hal Kepala Seksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dipandang kurang mampu menjadi pelaksana kegiatan, maka Kepala Desa dapat menunjuk kepala seksi lainnya di luar bidang tugasnya (2) Penunjukan pelaksana kegiatan dari Kepala Seksi di luar bidang tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kapabilitas dan integritas yang bersangkutan. Pasal 8 (1) Bendahara Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c ditunjuk dari perangkat desa yang membidangi urusan administrasi keuangan. (2) Dalam hal perangkat desa yang membidangi urusan administrasi keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipandang tidak mampu melaksanakan tugas sebagai Bendahara Desa, maka Kepala Desa dapat menunjuk perangkat desa lain yang mempunyai kemampuan dalam pengelolaan keuangan desa dengan memperhatikan kcapabilitas dan integritas yang bersangkutan. Pasal 9 PTPKD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 serta pembagian jenis kegiatan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. BABIV PEJABAT SEMENTARA KEPALA DESA DAN PERANGKAT DESA Pasal 10 Dalam hal jabatan Kepala Desa dan Perangkat Desa dijabat oleh Pejabat Sementara, maka kewenangan dari Pejabat Sementara dalam pengelolaan keuangan desa adalah sama dengan kewenangan pejabat definitif. BAB V APBDesa Pasal 11 (1) APBDesa, terdiri atas : a. Pendapatan Desa; b. Belanja Desa; dan c. Pembiayaan Desa. (2) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis pendapatan. (3) Belanja Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diklasifikasikan menurut kelompok, kegiatan, dan jenis belanja. (4) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf ¢ diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis pembiayaan. Bagian Kesatu Pendapatan Paragraf 1 Kelompok Pendapatan Desa Pasal 12 (1) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a, meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. (2) Kelompok pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1), terdiri dari : a. Pendapatan Asli Desa (PADesa); b. Transfer; dan c. Pendapatan Lain-Lain; Paragraf 2 Pendapatan Asli Desa Pasal 13 Pendapatan Asli Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf a merupakan pendapatan yang berasal dari kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan skala lokal Desa, yang terdiri atas jenis : a, Hasil usaha; b. Hasil aset; cc. Swadaya, partisipasi dan gotong royong; dan ¢. Lain-lain pendapatan asli desa. ; Pasal 14 Hasil usaha desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 merupakan hasil dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh pemerintah desa termasuk juga hasil BUMDes dan tanah desa. Pasal 15 (1) Hasil aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 antara lain dan tidak terbatas pada tambatan perahu, pasar desa, tempat pemandian umum, jaringan irigasi. (2) Penetapan besaran tarif pemanfaatan aset sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Peraturan Desa. Pasal 16 (1) Swadaya, partisipasi dan gotong royong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 adalah membangun dengan kekuatan sendiri yang melibatkan peran serta masyarakat berupa tenaga, barang yang dinilai dengan uang. (2) Pendayagunaaan swadaya, partisipasi, dan gotong-royong sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan yang sekurang-kurangnya meliputi ; a. penghimpunan dan pencatatan dana swadaya masyarakat, sumbangan dari pihak ketiga, dan tenaga sukarela dari unsur masyarakat; b. pendataan sumbangan masyarakat Desa dan/atau pihak ketiga, yang berbentuk barang; c. pendataan hibah dari masyarakat Desa dan/atau pihak ketiga; d. pembentukan kelompok tenaga kerja sukarela; dan ¢. penetapan jadwal kerja. (3) Pendataan dan pelaporan swadaya, partisipasi, dan gotong royong sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Pelaksana Kegiatan. Pasal 17 (1) Lain-lain pendapatan asli desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 antara lain hasil pungutan desa. (2) Pungutan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Peraturan Desa. Paragraf 3 Pendapatan Transfer Pasal 18 (1) Kelompok transfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf b, terdiri atas jenis : a. Dana Desa; b.Bagian dari Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; c, Alokasi Dana Desa (ADD); dan d.Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten. (2) Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi dan Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan e dapat bersifat umum dan khusus. (3) Bantuan Keuangan bersifat khusus " sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam APBDesa tetapi tidak diterapkan dalam ketentuan penggunaan paling sedikit 70 % (tujuh puluh perseratus) dan paling banyak 30 % (tiga puluh perseratus). Paragraf 4 Pendapatan Lain-lain Pasal 19 (1) Kelompok pendapatan lain-lain sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 ayat (2) huruf c, terdiri atas jenis : a.Hibeh dan Sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat; dan b. Lain-lain pendapatan Desa yang sah. (2)Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pemberian berupa uang dari pihak ketiga. (3) Lain-lain pendapatan Desa yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), antara lain pendapatan sebagai hasil kerjasama dengan pihak ketiga dan bantuan perusahaan yang berlokasi di desa. Bagian Kedua Belanja Desa Paragraf 1 Umum Pasal 20 (1) Belanja desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya Kembali oleh desa. (2) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa. Pasal 21 (1) Klasifikasi Kelompok Belanja Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, terdiri dari bidang a. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa; b, Pelaksanaan Pembangunan Desa; c. Pembinaan Kemasyarakatan Desa; d.Pemberdayaan Masyarakat Desa; dan e. Belanja Tak Terduga. (2) Kelompok Bidang scbagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi dalam kegiatan sesuai dengan kebutuhan desa yang telah dituangkan dalam RKPDesa. (3) Kegiatan dimaksud pada ayat (2), dilaksanakan sesuai kewenangan desa yang ditetapkan peraturan perundang- undangan. Paragraf 2 Jenis Belanja Setiap Kegiatan Pasal 22 Kegiatan dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, bidang © pembangunan esa, -—bidang = pembinaan kemasyarakatan desa, bidang pemberdayaan masyarakat desa, dan bidang belanja tak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 terdiri atas jenis belanja : a. Pegawai; b. Barang dan Jasa; dan c. Modal. Pasal 23 (1) Jenis belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf a, dianggarkan untuk pengeluaran penghasilan tetap dan tunjangan bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa serta tunjangan BPD. (2) Belanja Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam —kelompok —_Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, kegiatan pembayaran penghasilan tetap dan tunjangan. (3) Belanja pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pelaksanaannya dibayarkan setiap bulan. Pasal 24 (1) Belanja Barang dan Jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf b digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan. (2) Belanja barang/jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain: alat tulis kantor; . benda pos; . bahan/ material; pemeliharaan; cetak/penggandaan; sewa kantor desa; sewa perlengkapan dan peralatan kantor; makanan dan minuman rapat; pakaian dinas dan atributnya; perjalanan dinas; . upah kerja; honorarium narasumber/ahli; . operasional Pemerintah Desa; . operasional BPD; . insentif Rukun Tetangga/Rukun Warga; dan . pemberian barang pada masyarakat/kelompok masyarakat (3) Insentif Rukun Tetangga/Rukun Warga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf o adalah bantuan uang untuk operasional lembaga RT/RW dalam rangka membantu pelaksanaan tugas pelayanan pemerintahan, perencanaan pembangunan, ketentraman dan ketertiban, serta pemberdayaan masyarakat desa. Pemberian barang pada masyarakat/kelompok masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf p dilakukan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan. PORPHC RSS ER me pegs (4) Pasal 25 (2) Belanja Modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf c, digunakan untuk pengeluaran dalam rangka 2) Q) (2) (4) (5) (6) (7) (8) () (2) (1) (2) pembelian/pengadaan barang atau bangunan yang nilai manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan. Pembelian /pengadaan barang ata bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan kewenangan desa. Pasal 26 Dalam keadaan darurat dan/atau Keadaan Luar Biasa (KLB), pemerintah Desa dapat melakukan belanja yang belum tersedia anggarannya. Keadaan darurat dan/atau KLB sebageimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang dan/atau mendesak. Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu antara lain dikarenakan bencana alam, sosial, kerusakan sarana dan prasarana. Keadaan luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena KLB/wabah. Keadaan darurat dan luar biasa sebagaimana pada ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Bupati. : Kegiatan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggarkan dalam belanja tidak terduga. Penggunaan biaya tak terduga dilakukan setelah Peraturan Desa tentang APBDesa ditetapkan. Dalam hal Peraturan Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (7) belum ditetapkan, maka penggunaan biaya tak terduga dilakukan dengan membuat Rincian Anggaran Biaya yang telah disahkan oleh Kepala Desa dan telah mendapatkan persetujuan BPD. Bagian Ketiga Pembiayaan Desa Pasal 27 Pembiayaan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf c meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar Kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas kelompok : a, Penerimaan Pembiayaan; dan b, Pengeluaran Pembiayaan. Pasal 28 Penerimaan Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf a, mencakup : a.Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya; b. Pencairan Dana Cadangan; c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan. SiLPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a antara lain pelampauan penerimaan pendapatan terhadap 14 belanja, penghematan belanja, dan sisa dana kegiatan lanjutan. (3) SiLPA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penerimaan pembiayaan yang digunakan untuk : a. menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil dari pada realisasi belanja; b. mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan;dan c. mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan. (4) Pencairan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b digunakan untuk menganggarkan pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas Desa dalam tahun anggaran berkenaan. (5) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c digunakan untuk menganggarkan hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan. Pasal 29 (1) Pengeluaran Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf b, terdiri dari : a, Pembentukan Dana Cadangan; b, Penyertaan Modal Desa. (2) Pemerintah Desa dapat membentuk dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat’ (1) huruf a untuk mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran. (3) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Desa. (4) Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit memuat : a. penetapan tujuan pembentukan dana cadangan; b.program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan; c.besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan; d.sumber dana cadangan; dan ¢. tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan, (5) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan Desa, kecuali dari penerimaan yang penggunaannya telah ditentukan secara_khusus berdasarkan peraturan perundang-undangan. (6) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditempatkan pada rekening tersendiri. (7) Penganggaran dana cadangan tidak melebihi tahun akhir masa jabatan Kepala Desa. BAB VI PENGELOLAAN Bagian Kesatu Perencanaan Pasal 30 (1) Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang © APBDesa berdasarkan RKPDesa tahun berkenaan. (2) Sekretaris Desa menyampaikan rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Kepala Desa. (3) Rancangan peraturan Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk dibahas dan disepakati bersama. (4) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa/ disepakati bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lambat bulan Oktober tahun sebelumnya. Pasal 31 (1) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati paling lambat 3 (tiga) hari sejak disepakati untuk dievaluasi. (2) Bupati menetapkan hasil evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa. (3) Dalam hal Bupati tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka Kepala Desa menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa. (4) Dalam hal Bupati menyatakan hasil evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka Kepala Desa melakukan penyempurnaan sesuai hasil evaluasi paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. (8) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disempurnakan sesuai hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan dan menjadi Peraturan Desa. Pasal 32 (1)Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang disempurnakan dan ditetapkan menjadi Peraturan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (5), disampaikan kembali oleh Kepala Desa kepada Bupati untuk diklarifikasi paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diundangkan. (2) Dalam hal hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Peraturan Desa sudah sesuai dengan hasil evaluasi, maka Bupati menerbitkan surat hasil klarifikasi yang berisi hasil Klarifikasi yang telah sesuai. 16 Pasal 33 (1) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4) dan Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa, Bupati membatalkan Peraturan Desa dimaksud dengan Keputusan Bupati. (2) Pembatalan Peraturan Desa sebagaimiana dimaksud pada ayat (1), sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBDesa tahun anggaran sebelumnya. (3) Dalam hal pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Kepala Desa hanya dapat melakukan pengeluaran terhadap operasional penyelenggaraan Pemerintah Desa (4) Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan Desa Paling lama 7 (tujuh) hari setelah pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan selanjutnya Kepala Desa bersama BPD mencabut peraturan desa dimaksud. Pasal 34 Bupati mendelegasikan kewenangan evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa dan klarifikasi Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Camat. Pasal 35 Peraturan Desa tentang APB Desa ditetapkan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Bagian Kedua Pelaksanaan Pengelolaan dan Penatausahaan Pasal 36 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa. (2) Semua penerimaan dan pengeluaran desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah. Pasal 37 (i) Bendahara Desa dapat menyimpan uang tunai dalam jumlah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa. (2) Uang tunai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling tinggi sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah) setiap bulannya. (3) Besaran wang tunai yang disimpan Bendahara Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dihitung setelah dikurangi uang yang dibayarkan kepada Pelaksana Kegiatan berdasarkan SPP. Pasal 38 (1) Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan desa. (2) Pengeluaran desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan operasional perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa tentang APBDesa. Pasal 39 (1) Pelaksana Kegiatan mengajukan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan harus disertai dengan dokumen antara lain Rencana Anggaran Biaya. (2) Rencana Anggaran Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di verifikasi oleh Sekretaris Desa dan di sahkan oleh Kepala Desa. (3) Pelaksana Kegiatan bertanggungjawab terhadap tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan dengan mempergunakan buku pembantu kas kegiatan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan di desa. Pasal 40 (1) Berdasarkan rencana anggaran biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) pelaksana kegiatan mengajukan SPP kepada Kepala Desa. (2) SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa hasil pengadaan barang dan/atau jasa diterima. Pasal 41 Pengajuan SPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) terdiri atas : a. SPP; b. Pernyataan tanggungjawab belanja; dan c. lampiran bukti transaksi. Pasal 42 (1) Dalam pengajuan pelaksanaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Sekretaris Desa berkewajiban untuk : a. meneliti kelengkapan permintaan pembayaran di ajukan oleh pelaksana kegiatan; b. menguji kebenaran perhitungan tagihen atas beban APBDes yang tercantum dalam permintaan pembayaran; ©. menguji Ketersedian dana untuk kegiatan dimaksud; dan d, menolak pengajuan permintaan pembayaran oleh pelaksana kegiatan apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. (2) Berdasarkan SPP yang telah di verifikasi Sekretaris Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa menyetujui permintaan pembayaran dan Bendahara melakukan pembayaran. (3) Pembayaran yang telah dilakukan oleh Bendahara sebagaimana pada ayat (2) dicatat dalam pencatatan pengeluaran. Pasal 43 Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 44 Pengadaan barang dan/atau jasa di Desa berpedoman pada Peraturan Bupati yang mengatur Pengadaan Barang/Jasa di Desa. Pasal 45 (1) Penatausahaan dilakukan oleh Bendahara Desa. (2)Bendahara Desa wajib melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan tutup buku setiap akthir bulan secara tertib. (3) Bendahara Desa wajib mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban. (4) Laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan setiap bulan kepada Kepala Desa dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Pasal 46 Penatausahaan pencrimaan dan pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2), menggunakan : a, buku kas umum; b, buku Kas Pembantu Pajak; dan c. buku Bank. Pasal 47 (1) Kepala Desa melakukan pemeriksaan kas terhadap dana yang dikelola Bendahara Desa sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan. (2)Pemeriksaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam berita acara pemeriksaan kas. Bagian Ketiga Pelaporan. Pasal 48 (1) Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati berupa : a, Laporan semester pertama; dan b, Laporan semester akhir tahun. 19 (2) Laporan semester pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa laporan realisasi APBDesa. (9) Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli tahun berjalan. (4) Laporan semester akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disampaikan paling lambat pada akhir bulan Januari tahun berikutnya. (5) Bupati mendelegasikan kewenangan penerimaan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana -dimaksud pada ayat (1) kepada Camat. Bagian Keempat Pertanggungjawaban Pasal 49 (1) Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati setiap akhir tahun anggaran. (2) Laporan pertanggungjawaban_ realisasi_pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan. (3) Laporan pertanggungjawaban realisasi__pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Desa. (4) Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilampiri : aformat Laporan Pertanggungjawaban _Realisasi Pelaksanaan APBDesa Tahun Anggaran berkenaan; b.format Laporan Kekayaan Milik Desa per 31 Desember Tahun Anggaran berkenaan; dan c.format Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke desa. (5) Bupati mendelegasikan kewenangan penerimaan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Camat. Pasal 50 Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pasal 51 (1) Laporan realisasi dan laporan _pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dan Pasal 49 diinformasiken kepada masyarakat secara tertulis dengan media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat. (2) Media informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui papan pengumuman dan media informasi lainnya. Pasal 52 (2) Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dan Pasal 49 disampaikan kepada Bupati yang didelegasikan kepada Camat. (2) Laporan pertanggungjawaban realisasi _pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan. BAB VII PERUBAHAN APB DESA Pasal S3 (1)Perubahan Peraturan Desa tentang dapat dilakukan apabila terjadi: a. keadaan yang minyebabkan harus__ dilakukan pergeseran antar jenis belanja; b. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran (SiIPA) tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan; c. terjadi penambahan dan/atau pengurangan dalam pendapatan desa pada tahun berjalan; dan/atau d. terjadi peristiwa khusus, seperti bencana alam, krisis politik, krisis ekonomi, dan/atau kerusuhan sosial yang berkepanjangan; dan e. perubahan mendasar atas kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (2) Perubahan APBDesa hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. (3) Tata cara pengajuan perubahan APBDesa adalah sama dengan tata cara penetapan APBDesa. Pasal 54 (1) Dalam hal Bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota serta hibah dan bantuan pihak ketiga yang tidak mengikat ke desa disalurkan setelah ditetapkannya Peraturan Desa tentang Perubahan APB Desa, perubahan diatur dengan Peraturan Kepala Desa tentang perubahan APBDesa. (2) Perubahan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diinformasikan kepada BPD. BAB VIII KETERLAMBATAN PENETAPAN APB DESA Pasal 55 (1) Dalam hal penetapan APB Desa mengalami keterlambatan Kepala Desa melaksanakan pengeluaran setiap bulan setinggi-tingginya sebesar angka APBDesa tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan, yang disusun dalam rancangan Peraturan Kepala Desa tentang APBDesa. (2) Pengeluaran setinggi-tingginya untuk keperluan_ setiap bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk pengeluaran belanja pegawai dan operasional perkantoran. (@)Belanja pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi penghasilan tetap dan tunjangan bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa serta tunjangan BPD. ()Rancangan Peraturan Kepala Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Bupati. (Sj Pengesahan terhadap rancangan peraturan kepale dese sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. (Dalam hal sampai batas waktu sebagaimana dimaksud pada (5) belum disahkan, rancangan peraturan kepala desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan kepala desa tentang APBDesa. Pasal 56 ‘Struktur rancangan Peraturan Kepala Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) mutatis ssutendis dengan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa, yang terdiri dari : = Pendapatan Desa ; © Belanja Desa; dan © Pembiayaan Desa. Pasal 57 Peraturan Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 scenjadi dasar pengeluaran belanja pegawai dan operasional perkantoran sampai dengan ditetapkannya Peraturan Desa tentang APBDesa. Pasal 58 Bupati mendelegasikan kewenangan mengesahkan rancangan peraturan kepala desa tentang APBDesa sebagaimana Gimaksud dalam Pasal 55 ayat (4) kepada Camat, BAB IX FASILITASI, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 59 (2) Bupati melakukan fasilitasi pengelolaan keuangan desa, 2) Dalam melakukan fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati dapat membentuk Tim yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati. ()Tim ‘sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertugas melakukan fasilitasi teknis melalui kegiatan peningkatan kapasitas apart pemerintahan desa dalam pengelolaan keuangan desa. Pasal 60 (2)Camat melaksanakan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan desa. §@ Pembinaan dan pengawasan Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pembinaan, pengendalian, monitoring, dan evaluasi pengelolaan keuangan desa Pasal 61 ‘Pengawasan fungsional terhadap pengelolaan keuangan desa izksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Sempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang pengawasan BAB X FORMAT DOKUMEN PENGELOLAAN KEUANGAN DESA Pasal 62 Format dokumen pengelolaan keuangan desa yang meliputi : = Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa; = Rencana Anggaran Biaya (RAB); © Surat Permintaan Pembayaran (SPP); ¢ Pernyataan Tanggungjawab Belanja; = Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, Buku Bank Desa; = Laporan Realisasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Semester Pertama; = Laporan Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Semester Akhir Tahun ; ‘dan ELaporan Pertanggungjawaban Realisasi_ Pelaksanaan APBDesa; Sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan agian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 63 (2) Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, maka Pelaksana Teknis sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa di Kabupaten Kendal melaksanakan fungsi Kepala Seksi sebagai pelaksana kegiatan dalam pengelolaan keuangan desa. 2) Dalam hal Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipandang tidak mampu melaksanakan tugas sebagai pelaksana kegiatan, maka Kepala Desa dapat menunjuk perangkat desa dari : a.Pelaksana Teknis di luar bidang tugas yang bersangkutan; atau b. Kepala Urusan. sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa di Kabupaten Kendal. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku sampai dengan diangkatnya Kepala Seksi berdasarkan peraturan perundang-undangan. a BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 64 Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, maka ketentuan yang mengatur pengelolaan keuangan desa dalam Peraturan Bupati Kendal Nomor 77 Tahun 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 9 Tahun 2007 tentang Sumber Pendapatan Desa (Berita Daerah Kabupaten Kendal Tahun 2007 Nomor 77 Seri E No.42, Tambahan Berita Daerah Kabupaten Kendal Nomor 20) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Bupati Kendal Nomor 6 Tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bupati Kendal Nomor 77 Tahun 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 9 Tahun 2007 tentang Sumber Pendapatan Desa (Berita Daerah Kabupaten Kendal Tahun 2016 Nomor 6 Seri E No. 6) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 65 Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang = mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kendal. Ditetapkan di Kendal pada tanggal $ Zeer) ore BUPATI KENDAL, MIRNA ANNISA di Kendal S ferd) dort DAERAH KENDAL, ‘ONO BERITA DAERAH EABUPATEN KENDAL, TAHUN 2016 10... AS. LAMPIRAN : PERATURAN BUPATI KENDAL NOMOR : 16 TAHUN 2016 TANGGAL : 5 APRIL 2016 FORMAT DOKUMEN PENGELOLAAN KEUANGAN DESA GAN PERATURAN DESA TENTANG APBDesa KEPALA DESA . . KECAMATAN .... KABUPATEN KENDAL RANCANGAN PERATURAN DESA ..... NOMOR ... TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA TAHUN ANGGARAN .... DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA DESA ... :a, bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal .... Peraturan Bupati Kendal Nomor ... Tahun 2016 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa menetapkan rancangan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa); b. bahwa Rancangan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) sebagaimana dimaksud pada huruf a, telah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Rancangan Peraturan Desa. .. tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) Tahun Anggaran ........ : 1, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Batang dengan mengubah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Lembaran Negara Republik AKEPUDUK indonesia Nomor 4/2/); 2. dst... (diisi dengan dasar-dasar hukum tertinggi dan sederajat yang dipergunakan untuk pijaken legalitas) Dengan Kesepakatan Bersama BADAN PERMUSYAWARATAN DESA + dan KEPALA DESA .. MEMUTUSKAN : enetapkan : RANCANGAN PERATURAN DESA. TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA TAHUN ANGGARAN ...... Pasal 1 . dengan rincian . Pendapatan Desa Belanja Desa a, Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa b. Bidang Pembangunan Desa c. Bidang Pembinaan Kemasyarakatan d. Bidang Pemberdayaan Masyarakat e. Bidang Tak Terduga Jumlah Belanja Surphus/(Defisit) . Pembiayaan Desa a. Penerimaan Pembiayaan b. Pengeluaran Pembiayaan Selisih Pembiayaan (a-») Pasal 2 raian lebih lanjut mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa pagaimana dimaksud Pasal 1, tercantum dalam lampiran Peraturan Desa ini. Pasal 3 piran-lampiran sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 merupakan bagian 26 Pasal 4 “Eepala Desa menetapkan Peraturan Kepala Desa dan/atau Keputusan Kepala ‘Desa guna pelaksanaan Peraturan Desa ini. Pasal 5 “Peraturan Desa ini mulai berlaku pada tanggal “Agar setiap orang dapat mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan sa ini dalam Lembaran Desa oleh Sekretaris Desa. Ditetapkan di Pada tanggal KEPALA DESA .... SEKRETARIS DESA .. TAHUN ..... LEMBARAN DESA... LAMPIRAN I PERATURAN DESA..... NOMOR : TANGGAL : RINGKASAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA. TAHUN ANGGARAN .... DESA . .. KECAMATAN KODE ; REKENI URAIAN nes Bae KET. NG 1 2 3 a ||| PENDAPATAN |_|" | Pendapatan Asli Desa Same) | Hasil Usaha Desa | Hasil Tanah Kas Desa (Bondo Desa) | Hasil Pengelolaan Tanah Bengkok Hasil BUMDesa l | dst... I Hasil Aset | Hasil Tambatan Perahu Hasil Pasar Desa dst... ‘Swadaya,partisipasi dan gotong royong | Hasil Swadaya Partisipasi Masyarakat Hasil Gotong Royong Masyarakat dst. I | Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah. [ =e 1/ Pungutan Desa poo) ro[— fealto] feat] | |] |co|c|cofco|rofrofrofrofe [=| fa Pendapatan Transfer Dana Desa Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Daerah Bagian dari Hasil Pajak Daerah | 2| Bagian dari Hasil Retribusi Daerah Alokasi Dana Desa Bantuan Keuangan| | Bantuan Keuangan dari‘Provinsi zl 2| Bantuan Keuangan dari Kabupaten || [oo/ no [rofno fs] SS SSS esis Pendapatan lain-lain a Hibah dan sumbangan pihsk Ketiga 1| Pemberian Hibah dari 2| Sumbangan dari . Lain-lain Pendapatan Desa yang sah I | 1| Hasil kerja sama dengan pihak ketiga ...... 2| Bantuan dari Perusahaan ......... | JUMLAH PENDAPATAN | Sis 2|co|c0|co}eo}cofes BELANJA 7 Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Nama Kegiatan) 1/2) | (Nama Kegiatan) dst ho ro fro fro 2 8 Bidang Pelakeanaan Pembangunan Desa (Nama Kegiatan) tro] (Nama Kegiatan) dst Bidang Pembinaan Kemasyarakatan (Nama Kegiatan) to | ‘(Nama Kegiatan) dst Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Nama Kegiatan) (Nama Kegiatan) dst Bidang Tak Terduga frofofafafofofiofiofofo (Nama Kegiatan) Jontorfon| ||. [co ]co]cato fro [aa] | (Nama Kegiatan) dst JUMLAH BELANJA SURPLUS / (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan SILPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan [Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Desa Jumlah Pengeluaran Pembiayaan PEMBIAYAAN NETTO | Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenan KEPALA DESA .. LAMPIRAN II : PERATURAN DESA.... NOMOR TANGGAL RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA TAHUN ANGGARAN .. KECAMATAN .. DESA | URAIAN [ANGGARAN | yon | (Rp.) | a | 3 4 PENDAPATAN Pendapatan Asli Desa Hasil Usaha Desa | 1 | Hasil Tanah Kas Desa (Bondo Desa) 2 [Hasil Pengelolaan Tanah Bengkok [ 3 [Hasil BUMDesa 4 Hasil Aset a I |Hasil Tambatan Perahu [2 | Hasil Pasar Desa ; 3 Swadaya,partisipasi dan gotong royong | 1_| Hasil Swadaya Partisipasi Masyarakat | 2 | Hasil Gotong Royong Masyarakat I dst. | Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah Pungutan Desa : 4).6]]oofoofoofor}rofrofrofofal— fafa Pendapatan Transfer Dana Desa | [Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi | | Daerah I less 1 | Bagian dari Hasil Pajak Daerah ieee 2 | Bagian dari Hasil Retribusi Daerah Alokasi Dana Desa Bantuan Keuangan 1_| Bantuan Keuangan dari Provinsi 2 | Bantuan Keuangan dari Kabupaten Pendapatan lain-lain ‘Hibah dan sumbangan pihak ketiga [1 | Pemberian Hibah dari ......... 2 [Sumbangan dari Lain-lain Pendapatan Desa yang sah 1 | Hasil kerja sama dengan pihak ketiga ......... Bantuan dari Perusahaan ......... | JUMLAH PENDAPATAN | BELANJA Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa _| I (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : Delanja pegawai/belanja | barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) | zie /8]efoofofol to fal roles folie fap— 30 (Nama Kegiatan) dst | Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa i (Nama Kegiatan) | (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja 1 |+ | barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa. i (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : bélanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) ~ (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa 2 (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst (__[Bidang Dana Tak Terduga 1 (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja | ”_| barang dan jasa/belanja modal) [|= (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst JUMLAH BELANJA, | PEMBIAYAAN | J Penerimaan Pembiayaan | I SILPA, l 2 Pencairan Dana Cadangan [3 Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan + Pembentukan Dana Cadangan 2| | Penyertaan Modal Desa | | |Jumiah Pengeluaran Pembiayaan BIAYAAN NETTO lebih pembiayaan anggaran tahun berkenan KEPALA DESA .. RENCANA ANGGARAN BIAYA DESA.. +: KECAMATAN TAHUN ANGGARAN VOLUME | HARGA JUMLAH SATUAN (Rp) (Rp.) 3 4 5 Disetujui/mengesahkan Pelaksana Kegiatan Kepala Desa diisi dengan kode rekening berdasarkan klasifikasi kelompok belanja desa. isi dengan kode rekening sesuai dengan urutan kegiatan dalam APBDesa. 2 diisi dengan nomor urut 2 diisi dengan uraian berupa rincian kebutuhan dalam kegiatan. 3 iisi dengan volume dapat berupa jumlah orang/barang. 4 diisi dengan harga satuan yang merupakan besaran untuk membayar ‘barang E |S diisi dengan jumlah perkalian antara kolom 3 dengan kolom 4. DESA...... ce KECAMATAN, ccc TAHUN ANGGARAN. 1. Bidang : 2. Kegiatan : Penerimaan (Rp) Pengeluaran(Rp.)| yap eau No. | Tanggal Uraian ae ea oe Bae Belani| pengembalian| Kas a at dan Jasa| Modal | §¢ Bendahara) (Rp.) rl 3 4 5 6 7% 8 9 10 Pindahan Jumlah dari halaman sebelumnya Jumlah ze Total Penerimaan Total Pengeluaran cs ____ [Total Pengeluaran + Saldo Kas Pelaksana Kegiatan Cara pengisian: 7. Bidang diisi berdasarkan klasifikasi kelompok. 2. Kegiatan diisi sesuai dengan yang ditetapkan dalam APEDesa. 3. Kolom 1 diisi dengan nomor urut. 4. Kolom 2 diisi dengan tanggal transaksi. Kolom 3 diisi dengan uraian transaksi. Kolom 4 diisi dengan jumlah rupiah yang diterima bendahara. Kolom 5 diisi dengan jumtah rupiah yang diterima dari masyaraket. Kolom 6 diisi dengan nomor bukti transaksi. Kolom 7 diisi dengan jenis pengeluaran belanja barang dan jasa. 10. Kolom 8 diisi dengan jenis pengeluaran betanja modal. 11, Kolom 9 diisi dengan jumtah rupiah yang dikembalikan kepada bendahara. 12. Kolom 10 ditsi dengan jumlah saldo kas dalam rupiah. wena FORMAT SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN (SPP) SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN ( SPP } DESA sssssessssnes KECAMATAN ‘TAHUN ANGGARAN 1. Bidang 2. Kegiatan 3. Waktu Pelaksanaan : Rincian Pendanaan NO] URAIAN PAGU | PENCAIRAN| PERMINTAAN | JUMLAH | SISA | ANGGARAN| S.D.YG | SEKARANG | SAMPAI | DANA i | LALU | SAAT INI L {Rp.} (Rp.) {Rp} (Rp.)_____(Rp.) i i | | | | SMA tanggal Telah dilakuken verifikasi Pelaksana Kegiatan Sekretaris Desa Setujui untuk dibayarkan Telah dibi Kepala Desa Bendahara Petunjuk pengisian: Bidang diisi dengan kode rekening berdasarkan klasifikasi kelompok belanja desa Kegiatan diisi dengan kode rekening sesuai dengan urutan kegiatan daiam APBDesa. Kolom 1 dengan nomor urut. Kolom 2 diisi dengan rincian penggunaan dana sesuai rencana kegiatan. Kolom 3 diisi dengan rincian pagu dana sesuai dengan rencana kegiatan. Kolom 4 diisi dengan rincian jumlah anggaran yang telah dibayar sebelumnya. Kolom 5 diisi dengan rincian yang dimintakan untuk dibayar. Kolom 6 diisi dengan jumlah permintaan dana sampai saat ini. Kolom 7 disi dengan sisa anggaran. RN A RoW ‘ANGGUNGJAWAB BELANJA PERNYATAAN TANGGUNGJAWAB BELANJA ssssssees KECAMATAN TAHUN ANGGARAN .. NO. PENERIMA URAIAN JUMLAH (Re.) 4 4 (Rp.) -bukti pengeluaran atau belanja tersebut diatas sebagai terlampir, untuk exapan administrasi dan pemerikasaan sesuai peraturan perundang- gan. jan surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya. Pelakcsana Kegiatan pengisian: diisi dengan kode rekening berdasarkan Klasifikasi kelompok belanja desa. diisi dengan kode rekening sesuai dengan urutan kegiatan dalam APBDesa 1 diisi dengan nomor urut 2 diisi dengan penerima pembayaran yang ada di bukti belania 2 diisi dengan uraian keperluan belanja 4 diisi dengan jumlah belanja jumlah diisi jumlah keseluruhan FORMAT PENATAUSAHAAN 1. Buku Kas Umum BUKU KAS UMUM. .. KECAMATAN DESA.. asi TAHUN ANGGARAN . SUMLAH No. | Tgl. | KODE REKENING URAIAN, PENERIMAAN | PENGELUARAN | NO BUKTI | PENGELUARAN ) (Ry _KOMULATIF T 8 MENGETAHUI, eeneeseesseT ig KEPALA DESA BENDAHARA DESA, Cara Pengisian : Kolom 1diisi dengan nomor urut penerima kas atau pengeluaran kas Kolom 2 diisi dengan tanggal penerimaan kas atau pengeluaran kas Kolom 3 diisi dengan kode rekening penerimaan kas atau pengeluaran kas Kolom 4 diisi dengan uraian transaksi penerimaan kas atau pengeluaran kas Kolom 5 diisi dengan jumlah rupiah penerimaan kas Kolom 6 diisi dengan jumlah rupiah pengeluaran kas Kolom 7 diisi dengan nomor bukti transaksi Kolom 8 diisi dengan penjumlahan komulatif pengeluaran kas Kolom 9 diisi dengan saldo kas. catatan, sebelum ditandatangani Kepala Desa wajib di periksa dan di paraf oleh Sekretaris Des BUKU KAS PEMBANTU PAJAK ie .. KECAMATAN .. TAHUN ANGGARAN . PEMOTONGAN PENYETORAN SALDO No. ‘TANGG! RAIAN lo. AL, Ul (Rp) (Rp.) {Rp.) a 2 3 4 = JUMLAH MENGETAHUI, KEPALA DESA BENDAHARA DESA. i dengan nomor urut penerimaan atau pengeluaran kas pengeluaran Kolom 2 diisi dengan tanggal penerimaan atau pengeluaran kas pengeluaran Kolom 3 diisi dengan uraian penerimaan kas atau pengeluaran kas Kolom 4 diisi dengan jumtah rupiah penerimaan kas. Kolom 8 diisi dengan jumlah rupiah pengeluaran kas. Kolom 6 diisi dengan saldo buku kas bendahara. BUKU BANK DESA DESA » KECAMATAN -ssesesees TAHUN ANGGARAN BULAN 5 BANK CABANG = REK. NO. PEMASUKAN PENGELUARAN TANGGAL URAIAN BUKT! BIAYA No. | nRANSAKSI | TRANSAKst | ‘TRANSAKSI | SBTORAW | BUNGA BANK | PENARIKAN | PAJAK | ayyant’,, | SALDO (Rp) oo) (Rp) fp) Re) 1 a | 4 5 6 ee & 9 ‘TOTAL TRANSAKSI BULAN INI a TOTAL TRANSAKSI KUMULATIF MENGETAHUI, KEPALA DESA Cara Pengisian : Kolom Idiisi dengan nomor urut pemasukan dan pengeluarancengan Bank. Kolom 2 diisi dengan tanggal transaksi Bank. Kolom 3 diisi dengan uraian transaksipemasukan dan pengeluaran, Kolom 4 diisi dengan bukti transaksi Kolom 5 diisi dengan pemasukkan jumlah setoran, Kolont 6 diisi dengan pemasukan jumlah bunga bank.. Kolon 7 diisi dengan pengeluaran jumlah penarikan. Kolont 8 diisi dengan pengelucran jumlah pajak. Kolont 9 diisi dengan pengeluaran biaya administrasi. Kolom 10 diisi dengan saido Bank. AT LAPORAN REALISAS] PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DESA ran Realisasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ester Pertama) LAPORAN REALISASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA SEMESTER PERTAMA PEMERINTAH DESA.. TAHUN ANGGARAN. URAIAN JUMLAH | JUMLA | LEBIH/ | KET. NG ANGGAR H KURAN AN REALIS G (Rp.) ASI | (Rp.) | 2 3 4 PENDAPATAN | Pendapatan Asli Desa | | Hasil Usaha Desa | Hasil Tanah Kas Desa (Bondo Desa) | > | Hasil Pengelolaan Tanah Bengkok | 3 | Hasil BUMDesa sl EEezren 4 | dst. ai Hasil Aset Hasil Tambatan Perahu | Hasil Pasar Desa 3 | dst... ‘Swadaya, partisipasi dan gotong royong I Hasil Swadaya Partisipasi | Masyarakat Hasil Gotong Royong | | Masyarakat | dst..... Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah Pungutan Desa dst... Pendapatan Transfer | ‘Dana Desa | Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Daerah Bagian dari Hasil Pajak | Daerah | { Bagian dari Hasil Retribusi | Daerah | | Alokasi Dana Desa Bantuan Keuangan [ l Bantuan Keuangan dari | Provinsi | | Bantuan Keuangan dari 2 xaborcicn Pendapatan lain-lain Hibah dan sumbangan ihak ketiga Pemberian Hibah dari [2 [Sumbangan dani. Lain-lain Pendapatan Desa ang sah Hasil kerja sama dengan pihak ketiga Bantuan dari Perusahaan JUMLAH PENDAPATAN BELANJA Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Nama Kegiatan) (Wenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst | Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanjal (Nama Kegiatan) dst Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) ~ (uraian jenis belanja) 40 (Nama Kegiatan) dst Bidang Dana Tak Terduga (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst, JUMLAH BELANJA ‘SURPLUS / (DEFISIT) PEMBIAYAAN, Penerimaan Pembiayaan SILPA, Pencairan Dana Cadangan Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Desa ‘Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Netto SILPA Tahun Berjalan KEPALA DESA ... 41 teporan Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (Semester Akhir Tahun} )RAN REALISASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN. BELANJA DESA SEMESTER AKHIR TAHUN PEMERINTAH DESA.... TAHUN ANGGARAN.... 7 1 URAIAN JUMLAH | JUMLAH | LEBIH/ KET. iG ANGGAR | REALISA | KURAN AN SI G | (Rp) | (Rp) {Rp.) i 2 3 4 PINDAHAN SALDO (SEMESTER PERTAMA } PENDAPATAN Pendapatan Asli Desa Hasil Usaha Desa "| | Hasil Tanah Kas Desa _* | (Bondo Desa) | Hasil Pengelolaan Tanah Bengkok I Hasil BUMDesa | Hasil Aset {7 |Hasil Tambatan Perahu (2 | Hasil Pasar Desa ‘Swadaya,partisipasi dan | gotong royong { eel Hasil Swadaya | Partisipasi Masyarakat | "3 | Hasil Gotong Royong Masyarakat 3 | dst..... Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah Pungutan Desa dst..... Pendapatan Transfer Dana Desa Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Daerah Bagian dari Hasil Pajak Daerah Bagian dari Hasil Retribusi Daerah Alokasi Dana Desa | ‘Bantuan Keuangan | I Bantuan Keuangan dari | Provinsi ‘Bantuan Keuangan dari Kabupaten Pendapatan lain-lain Hibah dan sumbangan | pihak ketiga Pemberian Hibah dari 2 [Sumbangan dari. Tain-lain Pendapatan Desa yang sah Hasil kerja sama dengan pihak ketiga 0. > 2 | Bantuan dari i Perusahaan, PENDAPATAN BELANJA Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pembinaan | Kemasyarakatan Desa __| (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belania) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Dana Tak Terduga, (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst JUMLAH BELANJA. SURPLUS / (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan SILPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Desa |Jumlah Pengeluaran | Pembiayaan | Pembiayaan Netto ‘SILPA Tahun Berjalan DISETUJUI OLEH KEPALA DESA . KEPALA DESA o KECAMATAN ....... .. KABUPATEN KENDAL PERATURAN DESA NOMOR ... TAH! TENTANG LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN REALISASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA TAHUN ANGGARAN «2... DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA DESA .. a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal .... Peraturan Bupati Kendal Nomor ... Tahun 2016 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa wajib menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang Laporan Pertanggungjawaban_Realisasi_Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) Tahun Anggaran ... :1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa ‘Tengah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat Il Batang dengan mengubah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Linglungan Propinsi Jawa Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2757); 3, dst... (diisi dengan dasar-dasar hukum tertinggi dan sederajat yang dipergunakan untuk pijakan legalitas} Dengan Kesepakatan Bersama BADAN PERMUSYAWARATAN DESA .. dan KEPALA DESA ... MEMUTUSKAN : kan: PERATURAN DESA. .TENTANG LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN REALISASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA TAHUN ANGGARAN Pasal 1 Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran ...... dengan rincian sebagai ‘Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa ‘Sidang Pembangunan Desa Sidang Pembinaan Kemasyarakatan Sidang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Tak Terduga Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan (a-b} Pasal 2 lebih lanjut mengenai hasil pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Becbogaimnena dimaksud Pasal 1, tercantum dalam lampiran Peraturan Desa ini iran: Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa Tahun Anggaran .. iran]; Laporan Program Sektoral dan Program Daerah yang masuk ke desa. ‘cerpisahkan dari Peraturan Desa ini. Pasal 4 Desa ini mulai berlaku pada tanggal .. sciap orang dapat mengetahui, memerintahkan pengundangen Peraturan Desa Lembaran Desa oleh Sekretaris Desa. Ditetapkan di Pada tanggal KEPALA DESA ... LEMBARAN DESA ‘TAHUN ...... NOMOR ......- LAMPIRANI : PERATURAN DESA.. NOMOR : TANGGAL : LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN REALISASI PELAKSANAAN APBDesa PEMERINTAH DESA +... TAHUN ANGGARAN. URAIAN, ANGGARAN | REALISAS | LEBIH/ KET. T | KURANG (Rp) (Rp) (Rp) 2 3 4 | Ss 6 PENDAPATAN, } ‘Pendapatan Asli Desa. Hasil Usaha Desa. ‘Hasil Tanah Kas Desa (Bondo Desal | I Hasil Pengelolaan Tanah Bengkok Hasil BUMDesa | Swadaya,partisipasi dan gotong royong, Hasil Swadaya Partisipast Masyarakat Hasil Gotong Rayong Masyarakat dst Lain-lain Pendapatan Asi Desa | yang sah | Pungutan Desa, sta... Pendapatan Transfer ‘Dana Desa ‘Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Daerah ‘Bagian dari Hasil Pajak Daerah Bagian dari Hasil Retribusi ] Daerah | ‘Alokasi Dana Desa 1 ‘Bantuan Keuangan ‘Bantuan Keuangan dari Provins! I ‘Bantuan Keuangan dari | Kabupaten Pendapatan lain-lain Hibah dan sumbangen pihak | ketiga Pemberian Hibah dari ‘Sumbangan dari... Lain-lain Pendapatan Desa yang | sah | Hasil kerja sama dengan pihak ketiga . ‘Bantuan dari Perusahaan NDAPATAN, BELANJA, ‘Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa | (Nama Kegiatan) | (Uenis Belanja : belanja t T pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = furaian jenis belania) (Nama Kegiatan) dst Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja | pegawai/ belanja barang dan | jasa/belanja modal) ~ (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst | Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa (Nama Kegiatan) | Wenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan jasa/belanja modal) = (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst ‘Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa (Nama Kegiatan) (Jenis Belanja : belanja pegawai/belanja barang dan _jasa/belanja modal) [= (uraian jenis belanja) (Nama Kegiatan) dst Bidang Dana Tak Terduga | (Nama Kegiatan) (Wenis Belanja : belanja ‘pegawai/belanja berang dan jasa/belanja modal) = {uraian jenis belanja] (Nama Kegiatan) dst ‘JUMLAH BELANJA ‘SURPLUS / (DEFISIT) PEMBIAYAAN, Penerimaan Pembiayaan ‘SILPA. Pencairan Dana Cadangan Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan ‘Jumlah Penerimaan Pembiayaan. Pengeluaran Pembiayaan ‘Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Desa. ‘Jumlah Pengeluaran ij Pembiayaan Pembiayaan Netto ‘SILPA Tahun Berjalan KEPALA DESA ... 48 LAMPIRAN Il: PERATURAN DESA... NOMOR : TANGGAL : LAPORAN KEKAYAAN MILIK DESA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20... URAIAN TAHUN N TAHUN N-1 (Tahun Periode (Tahun | Pelaporan) Sebelumnya) | DESA ASET LANCAR 1. Kas Desa | a. Uang kas di Bendahara Desa | b. Rekening Kas Desa 2. Piutang | 1. Piutang Sewa Tanah 2. Piutang Sewa Gedung 3. dst...... 3. Persediaan | 2. Kertas Segel b. Materai codst.n.. JUMLAH ASET LANCAR ET TIDAK LANCAR @ Investasi Permanen i, Penyertaan Modal Pemerintah Desa >. Aset Tetap | | + Tanah - Peralatan dan Mesin ~ Gedung dan bangunan - Jalan, Jaringan dan Instalasi - dst. = Dana Cadangan | i. Dana Cadangan Aset tidak lancar Lainnya | LAH ASET TIDAK LANCAR “SSET (A+B) |AN JANGKA PENDEK KEWAJIBAN JANGKA PENDEK KEKAYAAN BERSIH(I - 11) KEPALA DESA \ “Aset desa adalah barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli ctau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan ‘hak lainnya yang sah. ‘Wang kas adalah uang milik Pemerintah Desa, baik yang disimpan di Bendahara maupun di rekening kas desa. Desa adalah tagihan uang desa kepada pihak yang mengelola kekayaan ‘antara lain berupa tanah, gedung yang diharapkan akan dilunasi dalam paling lama 1 (satu) tahun anggaran sejak ditetapkannya kerjasama tersebut. jaan adalah suatu kekayaan berupa barang milik pemerintah desa yang i dengan wang baik berupa wang kertas maupun surat berharga dalam periode antara lain kertas segel, materai, deposito, giro. Desa tidak lancar meliputi penyertaan modal pemerintah desa dan aset tetap desa antara lain tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, dan instalasi. cadangan adalah dana yang disisikan untuk menampung kebutuhan yang dana yang relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun adalah utang yang timbul karena adanya pinjaman oleh Pemerintah. bersih adalah selisih antara aset dan kewajiban pemerintah desa. Gengan angka 7, bahwa dalam APBDesa khususnya pada pembiayaan tidak peluang untuk pinjaman. LAMPIRAN III : PERATURAN DESA.. NOMOR : TANGGAL : PROGRAM SEKTORAL DAN PROGRAM DAERAH YANG MASUK KE DESA Lokasi Rincian Sumber Jumiah Ratan Kogiatan Volume | Satuan en (RD) Jenis Kegiatan (1) Rp. | | | i Jenis Kegiatan (2) | Rp. | | | | Jenis Kegiatan (3) Rp. | | | | ‘Sub Total (4) Rp. s/d4) Rp. KEPALA DESA ... BUPATI KENDAL, ea MIRNA ANNISA