Anda di halaman 1dari 58

BELL’S PALSY

Oleh:
Bagus Dwi Kurniawan
Kiky Martha Ariesaka

Pembimbing
dr. Komang Yunita W Putri, Sp. S

KSM ILMU PENYAKIT SARAF


RSD dr. Soebandi Jember
Universitas Jember 1
2017
BELL’S PALSY

2
Definisi

Kelumpuhan fasialis tipe LMN akibat paralisis nervus
fasial perifer yang terjadi secara akut dan
penyebabnya tidak diketahui (idiopatik)

3
Epidemiologi

• Berdasar data 4 rumah sakit di Indonesia, frekuensi BP
sebesar 19,55% dari seluruh kasus neuropati
• Terbanyak usia 21-30 tahun
• Risiko lebih tinggi pada pasien diabetes dan kehamilan
trimester III serta 2 minggu pascapersalinan
• Tidak ada perbedaan insidensi antara iklim panas dan
dingin  beberapa kasus didapatkan riwayat terkena
udara dingin (berkendaraan dengan jendela terbuka,
tidur di lantai, atau begadang)
4
Jaras Nervus Fasialis

5
6
Patogenesis

• Kontroversial
• Inflamasi akut pada n.VII di daerah temporal sekitar
foramen stilomastoideus  peningkatan diameter
n.VII kompresi saraf ketika melewati tulang
temporal
• Penyebab utama: reaktivasi HSV tipe 1 dan virus
herpes zoster yang menyerang saraf kranial

7
Gejala Klinik

• Pasien merasakan kelainan di mulut saat bangun
tidur, menggosok gigi, berkumur, minum,berbicara.
• Pasien bercermin:
o Mulut mencong terutama tampak saat meringis
o Kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmus)
o Saat pasien memejamkan mata, bola mata berputar ke atas (Bell’s
phenomenon)
o Tidak bisa bersiul/meniup
o Berkumur: air keluar dari sisi yang lemah

8
Gejala Klinik

Gejala lain berhubungan dengan lokasi lesi
1. Lesi di luar foramen stilomastoideus
- Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat
- Makanan berkumpul di antara pipi dan gusi, dan sensasi
dalam (deep sensation) di wajah menghilang
- Lipatan kulit dahi menghilang
- Mata yang tidak tertutup akan mengeluarkan air mata
terus menerus

9
Gejala Klinik
1.
2. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan khorda timpani)
- Sama seperti (1)
- Hilangnya ketajaman pengecapan lidah 2/3 anterior dan
menurunnya salivasi pada sisi yang lumpuh

3. Lesi di kanalis fasialis yang lebih tinggi (melibatkan m.


Stapedius)
- Sama seperti (2)
- Ditambah adanya hiperakusis
10
Gejala Klinik
4. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan
ganglion genikulatum)
- Sama seperti (3)
- Disertai nyeri di belakang dan di dalam liang telinga
(dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan
konkha)

11
Gejala Klinik
5. Lesi di daerah meatus akustikus interna
- Sama seperti (4)
- Ditambah tuli sebagai akibat terlibatnya n. Akustikus

6. Lesi di tempat keluarnya n. Fasialis dari pons


- Sama (5) disertai gejala dan tanda terlibatnya n.
Trigeminus, n. Akustikus, dan kadang n. Abdusens,
n. Aksesorius, dan n. Hipoglosus
- 12
Gejala Klinik
-
• Sindrom air mata buaya (crocodile tears syndrome)
merupakan gejala sisa Bell’s Palsy, beberapa bulan pasca
awitan.
• Manifestasi: air mata bercucuran dari mata yang terkenasaat
pasien makan
• Hal ini disebabkan karena n. Fasialis menginervasi glandula
lakrimalis dan glandula salivatorius submandibularis
(seharusnya terjadi regenerasi saraf salivatorius namun
dalam perkembangannya “salah jurusan” menuju
glandula lakrimalis)
13
Diagnosis

• Anamnesis
• Pemeriksaan Fisik

14
Anamnesis

• Onset: tiba-tiba dan gejala cenderung meningkat dalam waktu
kurang dari 48 jam
• Paralisis pada wajah:
o Paralisis harus terjadi pada bagian atas dan bawah wajah.
o Pasien tidak mampu menutup kelopak mata atau tersenyum pada bgn yang
terkena.
o Peningkatan salivasi

• Pada mata: lagoftalmos, eksposure pada kornea


• Nyeri telinga bagian belakang
• Gangguan pengecapan

15
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan n. VII:
Fungsi Motorik:
• Perhatikan wajah penderita simetris/tidak, kerutan di dahi, pejaman
mata, plika nasolabialis, sudut mulut
• Minta pasien mengangkat alis dan mengerutkan dahi: asimetri/tidak
• Minta pasien memejamkan mata
• Minta pasien menyeringai (menunjukkan gigi geligi), mencucurkan bibir,
menggembungkan pipi
• Gejala Chvostek
Fungsi Pengecapan:
• Ageusia (hilangnya pengecapan).

16
Diagnosis Banding

17
Terapi
1. Istirahat (terutama pada fase akut)
2. Medikamentosa
o Prednison : menurunkan edema dan mempercepat reinervasi, do
diturunkan bertahap. Dosis 3 mg/kgBB/hari sampai ada perbaikan
dilanjutkan tappering of
o Terapi mata: eye drops artificial, gunakan kaca mata

3. Fisioterapi
o Tujuan: pertahankan tonus otot yang lumpuh. Dengan: mengurut otot
wajah selama 5 menit pagi-sore dengan faradisasi

4. Operasi
o Syarat: tidak terdapat penyembuhan spontan, tidak ada perbaikan
dengan prednison, pemeriksaan elektrik terdapat denervasi total

18
Prognosis

• 85% menunjukkan perbaikan pada mgg ke-III setelah onset
• 15% sembuh setelah 3-6 bulan
• Faktor Resiko yang memperburuk:
o Usia diatas 60 tahun
o Paralisis komplit
o Menurunnya fungsi pengecapan dan penurunan aliran saliva
o Berkurangnya air mata

19
LAPORAN KASUS

20
IDENTITAS PENDERITA
 Nama : Tn Suprayitno
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Umur : 34 tahun
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Swasta
 Alamat : Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember
 No Reg : 160824
 Tanggal Masuk : 16 Maret 2017

21
ANAMNESIS (Autoanamnesis dan Heteroanamnesis)

 Keluhan Utama :
Nyeri kepala dan lumpuh wajah sebelah kiri
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluhkan nyeri kepala hilang timbul
berlangsung sejak 10 bulan yang lalu semakin lama
semakin parah dan menetap sejak kurang lebih 10 hari
sebelum MRS.
Pasien juga mengeluhkan wajah sebelah kiri sulit
digerakkan atau mengalami kelemahan dan terasa
sangat tebal, hal ini berlangsung sejak kurang lebih 3
hari sebelum MRS.

22
ANAMNESIS
 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi tidak terkontrol (-)
Riwayat Diabetes Mellitus (-)
Riwayat Trauma Kepala (-)

 Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat pada keluarga disangkal
Hipertensi (-)
Diabetes Mellitus (-)

23
ANAMNESIS

 Riwayat Pengobatan
Bodrex

24
STATUS INTERNA SINGKAT

• Keadaan Umum
o Kesadaran : Compos mentis
o Tensi : 120/80 mmHg
o Nadi : 88 x/m
o RR : 20 x/m
o Suhu : 36,3 C
o BB : 74 kg
o TB : 170 cm

25
 Kepala
Bentuk : normocephal
Mata
Sklera : ikterik (-)
Konjungtiva : anemis (-)
Palpebra : hematom palpebra dextra sinistra (-)
Telinga/Hidung : telinga : sekret (-) darah (-)
hidung : sekret (-) darah (-)
Mulut : sianosis (-)
Lain-lain : dbn
 Leher
Struma : tidak ditemukan
Bendungan Vena: tidak ditemukan
Lain-lain : dbn

26
 Thorax
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi :
redup di D : Intercostal space II Parasternal
redup di S : Intercostal space V Midclavicula S
Auskultasi : S1S2 tunggal
Paru-paru
Inspeksi : simetris +/+, retraksi (-)
Palpasi : gerak nafas simetris, fremitus raba +
normal/+ normal
Perkusi : sonor +/+
Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
Lain-lain : dbn

27
• Abdomen
o Hepar : tidak teraba
o Limpa : tidak teraba
o Lain-lain : dbn
• Ekstremitas
o Superior : akral hangat +/+, edema -/-
o Inferior : akral hangat +/+, edema -/-

28
STATUS NEUROLOGIK

• Keadaan Umum
o Kesadaran
• Kualitatif: compos mentis
• Kuantitatif : GCS 4-5-6

29
Pembicaraan
Disarthria: -
Monoton : -
Scanning : -
Afasia :-

30
Kepala
Sikap Paksa : tidak ditemukan
Tortikolis : tidak ditemukan
Lain-lain : dbn

Muka
Mask : tidak ditemukan
Myopatik : tidak ditemukan
Full Moon : tidak ditemukan
Lain-lain : dbn

31
PEMERIKSAAN KHUSUS

1. RANGSANGAN SELAPUT OTAK


 Kaku Kuduk : negatif
 Kernig : negatif
 Brudzinski I : negatif
 Brundzinski II : negatif

2. LASEGUE TEST : negatif

32
2. SYARAF OTAK
• N.I ● KIRI ● KANAN
● Hypo/anosmia ● - ● -

● parosmia ● - ● -

● halusinasi ● - ● -
• N.II ● KIRI ● KANAN
● Visus ● >6/60 >6/60
● Lapang Pandang ● Tidak ada ● Tidak ada
penyempitan penyempitan
● Melihat warna ● normal ● normal

33
N III, N IV, N VI
● KIRI ● KANAN
● Kedudukan bola mata ● sentral ● Sentral
● Pergerakan bola mata ● ●

● Ke nasal ● positif ● positif


● Ke temporal atas ● positif ● positif
● Ke bawah ● positif ● positif
● Ke atas ● positif ● positif
● Ke temporal bawah ● positif ● positif
● Eksophthalmos ● Tidak ditemukan ● Tidak ditemukan
● Celah mata (Ptosis) ● Tidak ditemukan ● Tidak ditemukan

34
Pupil
● KIRI ● KANAN
● Bentuk ● Reguler (bulat) ● Reguler (bulat)
● Lebar ● 3 mm ● 3 mm
● Perbedaan lebar ● - ● -
● Refleks cahaya ● + ● +
langsung
● Refleks cahaya ● + ● +
konsensual

35
N. V
● KIRI ● KANAN
● Cabang motorik ● ●

● Otot maseter ● baik ● baik


● Otot temporal ● baik ● baik
● Otot pterygoideus int/ext ● baik ● baik
● ●

● Cabang sensorik ● ●

● I ● normal ● normal
● II ● normal ● normal
● III ● normal ● normal
● Refleks kornea langsung ● + ● +
● Refleks kornea konsensual ● + ● +

36
 N VII
Waktu diam
Kerutan dahi : simetris
Tinggi alis : simetris
Sudut mata : simetris
Lipatan nasolabial : simetris
Waktu gerak
Mengerutkan dahi : asimetris (tidak ada kerutan
dahi di bagian kiri)
Menutup mata : asimetris (lagoftalmos S)
Mencucu/bersiul : asimetris (hemiparese S)
Memperlihatkan gigi : asimetris (hemiparese S)
Pengecapan 2/3 depan lidah : kehilangan sensasi
rasa
Hyperakusis : tidak ada
Sekresi air mata : meningkat sebelah kiri
37
N VIII
● KIRI ● KANAN
● Vestibular ● ●

● Vertigo ● - ● -
● Nystagmus ke ● - ● -
● Tinitus aureaum ● - ● -
● Tes kalori ● Tidak dilakukan ● Tidak dilakukan
● Choclear ● ●

● Weber ● normal ● normal


● Rinne ● + ● +
● Schwabach ● normal ● norma
● ● ●

● Tuli konduktif ● - ● -
● Tuli perseptif ● - ● -

38
 N IX, X
◦ Bagian motorik
 Suara biasa/parau/tak bersuara : biasa
 Kedudukan arcus pharynx : simetris
 Kedudukan uvula : di tengah
 Pergerakan arcus pharynx/uvula : simetris
 Detak jantung : 80 x/m
 Menelan : + normal (disfagia -)
 Bising usus : + normal (10x/menit)

39
• N.XI
● KIRI ● KANAN

● Mengangkat bahu ● + ● +


● Memalingkan kepala ● + ● +

• N.XII
 Kedudukan lidah
- Waktu istirahat : asimetris
- Waktu gerak : simetris
- Atrofi : Kanan (+) Kiri (-)
- Fasikulasi/tremor : Kanan (-) Kiri (-)
- Kekuatan lidah pada bagian dalam pipi: normal
-
-
40
 EXTREMITAS

A.SUPERIOR
Inspeksi : atrofi (-), hipertrofi (-), deformitas ( -)
Palpasi : nyeri tekan (-), konsistensi kenyal (-)
Perkusi : miotonik -/-, mioedema ; -/-

41
Motorik
 Kekuatan otot
 Lengan Kanan Kiri
- M. Deltoid (abduksi lengan atas) : 5 5
- M. Biceps (flexi lengan bawah) : 5 5
- M. Triceps (ekstensi lengan bawah): 5 5
- Flexi sendi pergelangan tangan : 5 5
- Extensi sendi pergelangan tangan : 5 5
- Membuka jari-jari tangan :5
5
- Menutup jari-jari tangan :5 5
 Tonus otot : Normal Normal
 Refleks fisiologis : BPR : (+) Normal
TPR : (+) Normal
 Refleks patologis : Hoffman : (-)
Tromner : (-)

42
Sensibilitas
Kanan Kiri
 Eksteroseptik
 - Rasa nyeri superfisial : + +
 - Rasa suhu(panas/dingin): + +
 - Rasa raba ringan : + +
 Propioseptik
 - Rasa getar : + +
 - Rasa tekan : + +
 - Rasa nyeri tekan : + +
 - Rasa gerak & posisi : + +
 Enteroseptik
 - Referred pain : - -

43
 INFERIOR
Inspeksi : atrofi (-), hipertrofi (-), deformitas ( -)
Palpasi : nyeri tekan (-), konsistensi kenyal (-)
Perkusi : miotonik ; -/-, mioedema ; -/-
Kekuatan otot
Tungkai Kanan Kiri
Flexi articulatio coxae (tungkai atas) : 5 5
Extensi articulatio coxae (tungkai atas): 5 5
Flexi sendi lutut (tungkai bawah) : 5 5
Extensi sendi lutut (tungkai bawah) : 5 5
Flexi plantar kaki : 5 5
Extensi dorsal kaki : 5 5
Gerakan jari-jari : 5 5

44
 Kanan Kiri
 Tonus otot : Normal Normal
 Refleks fisiologis: KPR: (+) Normal (+) Normal
APR: (+) Normal (+)
Normal
 Refleks patologis:
 Babinsky : ( - ) ( - )
Chaddok : ( - ) ( - )
Openheim : ( - ) ( - )
Gordon : ( - ) ( - )
Gonda : ( - ) ( - )
Scaeffer : ( - ) ( - )

45
Sensibilitas
Kanan Kiri
 Eksteroseptik
 - Rasa nyeri superfisial : + +
 - Rasa suhu(panas/dingin): + +
 - Rasa raba ringan : + +
 Propioseptik
 - Rasa getar : + +
 - Rasa tekan : + +
 - Rasa nyeri tekan : + +
 - Rasa gerak & posisi : + +
 Enteroseptik
 - Referred pain : - -

46
 BADAN
Inspeksi : Atrofi (-), hipertrofi (-), deformitas (-)
Palpasi
Otot perut : konsistensi kenyal, nyeri tekan (-)
Otot pinggang : konsistensi kenyal, nyeri tekan (-)
Kedudukan diafragma: Gerak : Simetris
Istirahat : Simetris
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus normal
Motorik
Gerakan cervical vertebrae
-Fleksi : normal
-Ekstensi : normal
-Rotasi : normal
-Lateral deviation : normal

47
Gerakan dari tubuh
-Membungkuk : normal
-Ekstensi : normal
-Lateral deviation : normal
Refleks-refleks
-Refleks dinding abdomen :(+)
-Refleks interskapula :(+)
-Refleks gluteal : Tdl
-Refleks cremaster : Tdl
-Refleks anal : Tdl

48
FUNGSI LUHUR
Apraksia : -
Alexia : -
Agraphia : tdl
Acalculia : -
Finger agnosia : -
Membedakan kanan dan kiri :-

REFLEKS PRIMITIF
Grasp refleks : (-)
Snout refleks : (-)
Sucking refleks : (-)
Palmo-mental refleks : (-)

SISTEM VEGETATIF
Miksi : inkontinensia urin ( - ) retensio urin
(-)
Defekasi : inkontinensia alvi ( - ) retensio alvi (-
Sekresi keringat : dbn 49
RESUME
o Tn. S, laki-laki 34 tahun
o
Pasien datang dengan keluhan bibir dan pipi kiri terasa kebas sejak tiga hari
sebelumnya. Pasien tidak dapat berkumur dan bibir kiri terasa tebal. Sebelumnya
pasien mengeluh pusing dan membaik ketika meminum obat toko (bodrex)
selama beberapa hari, namun sejak tiga hari ini pasien mengelukan pusing
disertai dengan nyeri kepala dan bibir serta pipi tidak bisa digerakkan yang tidak
mereda setelah pemberian bodrex. Pasien tidak memliki riwayat hipertensi,
diabetes melitus, dan trauma sebelumnya. Pasien juga tidak memiliki riwayat
keluarga yang sama dengan keluhan pasien sekarang.
Pasien datang ke rumah sakit dengan kesadaran compos mentis, tekanan
darah 120/80 mm/Hg, nadi 88x/menit, frekuensi napas 20x/menit dengan tipe
pernapasan vesikuler, dan suhu 36,3oC. Pemeriksaan meningeal sign negatif.
Pemeriksaan nervus III pupil isokor, refleks cahaya langsung dan tak langsung
positif. Pemeriksaan nervus VII ditemukan asimetri pada sisi bagian kiri.
Pemeriksaan nervus XII ditemukan asimetris pada lidah dalam keadaan diam
disertai atrofi lidah pada bagian kanan. Pemeriksaan motorik kekuatan otot
normal, tonus otot normal, pemeriksaan refleks fisiologis positif, dan
pemeriksaan refleks patologis negatif.

50
o Riwayat penyakit dahulu : -
o Riwayat pengobatan : Bodrex

 Status interna singkat


o Kesadaran : Compos mentis
o Tensi : 120/80 mmHg
o Nadi : 88 x/m
o RR : 20 x/m
o Suhu : 36,3 C

Status Psikiatri : normal

51
 Status Neurologis
1. GCS : 4 -5-6
2. Meningeal sign : KK (-), K (-), L (-), BI (-), BII (-)
3. N. Cranialis :
N.III : Pupil isokor, Reflek cahaya+/+, diameter
3mm/3mm
N. VII: diam/gerak : simetris / asimetris
N. XII: diam/gerak : asimetris / asimetris
4. Motorik:KO 555 555 TO normal normal
555 555 normal normal

52
RF :BPR +N +N RP : H - -
TPR +N + N T - -
KPR +N + N B - -
APR +N + N C - -
O - -
G - -
G - -
S - -
5.Sensorik : dalam batas normal
6.Otonom : BAK (+) : Inkontinensia/Retensio uri (-)
BAB (+) : Inkontinensia/Retensio alvi (-)
7.CV : dalam batas normal

53
DIAGNOSA

• Diagnosa Klinik : Parese N.VII sinistra perifer


• Diagnosa Topis : N.VII perifer sinistra
• Diagnosa Etiologis : Bell’s Palsy Sinistra

54
PLANNING
Non Farmakologis :
• Latihan otot – otot ekspresi wajah
• Tiap malam sebelum tidur, mata sebelah kiri di plester yang
berguna untuk melatih mata yang tidak menutup supaya
dapat melindungi mata saat tidur

Farmakologis
• Metylprednisolon 10mg 3x1 selama 5 hari kemudian 5 hari
berikutnya  3x5mg
• Ranitidin 2x1
• Lapibal 3x1
• Rehabilitasi Medik

55
PROGNOSIS

• Quo ad Vitam : dubia ad bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam

56
Daftar Pustaka

• Bahrudin, M. 2016. Neurologi Klinis.
Malang: UMM Press

57
Terima Kasih
58