Anda di halaman 1dari 92

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENTS


TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
DI KELAS XI SEMESTER IV
SMA NEGERI 1 KERAMBITAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH

NAMA :I MADE WIDIASA, S.Pd.


NIP :19681220 200604 1 005

0
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENTS
TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
DI KELAS XI SEMESTER IV
SMA NEGERI 1 KERAMBITAN
TAHUN AJARAN 2011/2012

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH

NAMA : I MADE WIDIASA, S.Pd.


NIP : 19681220 200604 1 005

i
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 KERAMBITAN
Alamat : Jln. Desa Kukuh, Kerambitan , Tabanan- Bali Telp. 0361 – 814079,Kotak Pos 82161

PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SMA Negeri 1 Kerambitan


menerangkan bahwa:

Nama : I Made Widiasa, S.Pd.


NIP : 19681220 200604 1 005
Jabatan : Guru

Memang benar yang tersebut di atas telah melakukan penelitian dengan judul:
Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Students Team
Achievement Divisient (STAD) Di Kelas XI Semester IV SMA Negeri 1
Kerambitan Tahun Pelajaran 2011/2012

Mengetahui Kerambitan , ......................


Kepala Dinas Pendidikan Kab. .......... Kepala SMA Negeri 1 Kerambitan

................................................... Drs. I Wayan Sueca, M.Pd.


NIP. NIP.

ii
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 KERAMBITAN
Alamat : Jln. Desa Kukuh, Kerambitan , Tabanan- Bali Telp. 0361 – 814079,Kotak Pos 82161

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Pengelola Perpustakaan SMA Negeri 1


Kerambitan menyatakan bahwa:

Nama : I Made Widiasa, S.Pd.


NIP : 19681220 200604 1 005
Jabatan : Guru

Memang benar yang tersebut di atas telah mempublikasikan Penelitian Tindakan


Kelas dengan judul. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Model
Pembelajaran Students Team Achievement Divisient (STAD) Di Kelas XI
Semester IV SMA Neger 1 Kerambitan Tahun Pelajaran 2011/2012 di sekolah
kami dan menaruh 1 (satu) buah karyanya di perpustakaan SMA Negeri 1
Kerambitan

Demikian pernyataan ini dibuat agar dapat dipergunakan dimana mestinya.

Mengetahui Kerambitan, ......................


Kepala SMA Negeri .......... Pengelola Perpustakaan
SMA Negeri 1 Kerambitan

................................................... I Ketut Suatra, S.Pd.


NIP. NIP.

iii
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini asli dan tidak berisi material-
material yang telah dipublikasikan di tempat lain, terkecuali yang dikutip sebagai
sumber referensi dan digunakan dalam teks tulisan ini, yang sumbernya sudah
dinyatakan. Karya Tulis Ilmiah ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh
derajat kesarjanaan atau diploma pada institusi tertentu, begitu juga tidak ada
kolaborasi yang telah dibuat dengan orang lain.

Penulis

I Made Widiasa, S.Pd.

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,
karena berkat rahmatNya penulis mendapat kekuatan, semangat, pikiran yang kuat
sehingga karya tulis yang berjudul “.Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui
Model Pembelajaran Students Team Achievement Divisient (STAD) Di Kelas XI
Semester IV SMA Negeri 1 Kerambitan Tahun Pelajaran 2011/2012.”, dapat
terselesaikan sesuai jadwal waktu yang telah direncanakan.
Karya ini penulis kerjakan dengan sekuat tenaga, dengan pengorbanan
material dan pemikiran untuk dapat memperoleh angka kredit pengembangan
profesi sebagai syarat bagi seorang guru untuk bisa naik ke jenjang kepangkatan
setingkat lebih tinggi dengan kewajiban mengumpulkan angka kredit minimal 6
poin.
Rasa terimakasih perlu penulis sampaikan kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu
yang telah membantu sehingga karya ilmiah ini dapat terselesaikan. Untuk itu
terimakasih yang sebanyak-banyaknya penulis lanjut sampaikan kepada:
1. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kerambitan
2. Para siswa dan siswi, yang telah menunjukkan objektivitas yang tinggi
sehingga data-data hasil penelitian ini benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan.
Demikian secara singkat pengantar yang dapat penulis sampaikan, semoga
karya ini bermanfaat dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar di
SMA Negeri 1 Kerambitan.

Kerambitan, ......................
Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................... i

PENGESAHAN KEPALA SEKOLAH ...................................................... ii

PERNYATAAN PERPUSTAKAAN ......................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .................................................. iv

KATA PENGANTAR ................................................................................ v

DAFTAR ISI ............................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xi

ABSTRAK .................................................................................................. xii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1

A. Latar Belakang................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ............................................................. 4

C. Tujuan Penelitian ............................................................... 5

D. Manfaat Penelitian ............................................................. 5

vii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Nama-nama Siswa Kelas ....................................................... 12

Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Wawancara .............................................

Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Observasi Proses Pembelajaran..............

Tabel 4. Instrumen Wawancara ............................................................

Tabel 5. Instrumen Observasi Proses Pembelajaran ............................

viii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Rancangan Penelitian ............................................................. 5
Gambar 2.

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Tes Prestasi Belajar ............... (tes yang digunakan untuk


mencari data awal penelitian) .............................................

Lampiran 2. Lembar Observasi Penilaian Kesesuaian Belajar Students


Team Achievement Division (STAD) sebagai Upaya
Validasi Data .......................................................................

Lampiran 3. RPP Siklus I .......................................................................

Lampiran 4. Hasil-hasil Ulangan Siswa Siklus I .....................................

Lampiran 5. Nilai/Prestasi Belajar Siklus I ............................................

x
Lampiran 6. Penilaian Kebenaran Siswa Melakukan Pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) Siklus I
oleh Salah Seorang Siswa Pandai di Kelas ini sebagai
Upaya Validasi Data ..........................................................

Lampiran 7. Bukti Pemanggilan Siswa yang Lemah sebagai Upaya


Validasi Data Siklus I .........................................................

Lampiran 8. Bukti Pengamatan Teman Sejawat terhadap Kesuesuaian/


Ketepatan Pelaksanaan Proses Pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD) Siklus I sebagai
Upaya Trianggulasi terhadap Pelaksanaan Penelitian ........

Lampiran 9. RPP Siklus II ......................................................................

Lampiran 10. Penilaian Kesesuaian Belajar Students Team Achievement


Division (STAD) Siklus II oleh Salah Seorang Siswa
Pandai di Kelas ini ..............................................................

Lampiran 11. Hasil-hasil Ulangan Siswa pada Siklus II ...........................

Lampiran 12. Prestasi Belajar Siswa Siklus II ..........................................

Lampiran 13. Bukti Pengamatan Teman Sejawat terhadap


Kesesuaian/Ketepatan Pelaksanaan Proses Pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) Siklus II ...

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri ......................... di Kelas ........


yang kemampuan siswanya untuk materi .................. cukup rendah.
Tujuan penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui
apakah model pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD) dapat
meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.
Metode pengumpulan datanya adalah observasi dan tes prestasi belajar.
Metode analisis datanya adalah deskriptif baik untuk data kualitatif maupun untuk
data kuantitatif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Students Team
Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar
siswa. Ini terbukti dari hasil yang diperoleh pada Siklus I meningkat ........% untuk
keaktifan belajar siswa dan .....% untuk prestasi belajar. Dari Siklus I ke Siklus II
naik .......% untuk aktivitas belajar dan ....... untuk prestasi belajar.

xi
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah model pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan aktivitas dan
prestasi belajar.

xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran di kelas akan sangat efektif apabila guru melaksanakannya
dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya.
Di samping pemahaman akan hal-hal tersebut keefektipan itu juga ditentukan
oleh kemampuan guru untuk merubah model pengajaran menjadi model
pembelajaran sesuai yang diharapkan oleh Permen No. 41 tahun 2007 tentang
Standar Proses.
Peran mata pelajaran .PKn adalah untuk pengembangan intelektual, sosial
dan emosional siswa serta berperan sebagai kunci penentu menuju
keberhasilan dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Fungsi mata pelajaran
PKn adalah sebagai suatu bidang kajian untuk mempersiapkan siswa mampu
merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain,
mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan serta memahami beragam
nuansa makna, sedang kegunaannya adalah untuk membantu siswa mengenal
dirinya, budayanya, budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan,
berpartisipasi dalam masyarakat, membuat keputusan yang bertanggung jawab
pada tingkat pribadi, sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan
analitic dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Di samping mengetahui peran,
fungsi dan kegunaan PKn sebagai seorang guru juga diperlukan untuk mampu
menerapkan beberapa metode ajar sehingga paradigma pengajaran dapat
dirubah menjadi paradigma pembelajaran sebagai tuntutan peraturan yang
disampaikan pemerintah (Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses,
Permen No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Guru).
Kejadian yang sering terjadi di lapangan yang terjadi selama proses
pembelajaran yang dilakukan selama ini yang menyebabkan rendahnya
prestasi belajar siswa tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor luar seperti
kesibukan guru, keadaan rumah tangga, lingkungan dan lain-lain. Kelemahan-
kelemahan yang ada tentu banyak pula dipengaruhi oleh faktor dari dalam
guru itu sendiri seperti kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, kemauan

1
guru itu sendiri untuk menerapkan metode-metode ajar yang telah didapat di
bangku kuliah. Selain itu guru juga kurang mampu untuk dapat
mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa
dan merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan yang mesti dikuasai guru
dalam melaksanakan pembelajaran ada 7, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2)
keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4)
keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran,
6) keterampilan membimbing diskusi, 7) keterampilan mengelola kelas.
Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan kemampuan guru untuk
menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan persiapan dan
pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap
cara berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan
profesionalisme guru (I G. A. K. Wardani dan Siti Julaeha, Modul IDIK 4307:
1-30).
Model-model pembelajaran juga merupakan hal yang sangat penting
dalam penerapannya di lapangan, seperti model Students Team Achievement
Division (STAD) yang dijadikan objek penelitian sebagai upaya untuk
memajukan suatu bidang tertentu. Model sangat berkaitan dengan teori. Model
merupakan suatu analog konseptual yang digunakan untuk menyarankan
bagaimana meneruskan penelitian empiris sebaiknya tentang suatu masalah.
Jadi model merupakan suatu struktur konseptual yang telah berhasil
dikembangkan dalam suatu bidang dan sekarang diterapkan, terutama untuk
membimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam
bidang yang belum begitu berkembang (Mark 1976 dalam Ratna Wilis Dahar,
1989: 5).
Cuplikan di atas menunjukkan betapa pentingnya model untuk diterapkan
dalam mencapai suatu keberhasilan, begitu pula terhadap kegunaan model-
model pembelajaran. Sebelum ada model, dikembangkan terlebih dahulu teori
yang mendasari model tersebut, sehingga boleh dikatakan bahwa teori lebih
luas daripada model. Model-model, baik model fisika, model-model
komputer, model-model matematika, semua mempunyai sifat “jika – maka”,

2
dan model-model ini terkait sekali pada teori (Shelbeeker, 1974 dalam Ratna
Wilis Dahar, 1989: 5).
Semua uraian di atas menunjukkan hal-hal yang perlu dalam upaya
meningkatkan keseuaian pembelajaran Students Team Achievement Division
(STAD) yang akan dilakukan dan prestasi belajar siswa seperti penguasaan
metode-metode ajar; penguasaan model-model pembelajaran; penguasaan
teori-teori belajar; penguasaan teknik-teknik tertentu; penguasaan peran,
fungsi serta kegunaan mata pelajaran. Apabila betul-betul guru menguasai dan
mengerti tentang hal-hal tersebut dapat diyakini bahwa prestasi belajar peserta
didik pada mata pelajaran PKn........................ tidak akan rendah. Namun
kenyataannya prestasi belajar siswa kelas. XI..................... di semester
IV........... tahun ajaran .2011/2012.................. baru mencapai nilai rata-
rata.70.....
Melihat kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan
dengan kenyataan lapangan sangat jauh berbeda, dalam upaya memperbaiki
mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran..PKn........................, sangat
perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah
perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD). Oleh karenanya penelitian ini sangat
penting untuk dilaksanakan.

B. Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya


1. Rumusan Masalah
Melihat adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang
ada di lapangan seperti yang sudah dipaparkan pada latar belakang
masalah, maka rumusan penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut:
Apakah model pembelajaran Students Team Achievement Division
(STAD) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI..... SMA
Negeri I Kerambitan Tahun Pelajaran 2011/2012................

3
2. Cara Pemecahan Masalah
Model pembelajaran Students Team Achievement Division
(STAD) merupakan salah satu dari banyak cara yang bisa dilakukan guru
dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Model ini mempunyai
langkah-langkah yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dengan
cara memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak mengamati
objek atau materi pelajaran, menemukan sendiri hal-hal yang perlu, baik
menyangkut materi, meneliti, mengintrogasi, memeriksa materi, sehingga
siswa-siswa akan dapat mengalami sendiri. Hal itu memerlukan persiapan
pemikiran yang matang. Untuk persiapan yang matang ini, guru
semestinya memberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya bagi siswa
untuk melakukannya, menyiapkan sebaik-baiknya apa yang akan
ditampilkan dihadapan siswa-siswa. Model Pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) ini mampu merangsang siswa untuk dapat
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menuntut persiapan yang
sangat matang, menuntut kemampuan yang matang dalam kegiatan
intelektual, menutut semangat yang tinggi untuk mengikuti pelajaran agar
dapat memproduksi apa yang diharapkan, menuntut mereka lebih berpikir
kritis. Contoh kemampuan berpikir kritis adalah, apabila siswa giat
mengikuti pelajaran, akibatnya adalah mampu memecahkan masalah yang
diharapkan. Siswa akan menjadi aktif akibat diberikan kesempatan untuk
menyiapkan materi lewat penemuannya sendiri, yang sudah pasti akan
membuktikan tuntutan-tuntutan kemampuan yang tinggi baik dalam
penampilan maupun keilmuan. Tanpa keilmuan yang mencukupi tidak
akan mungkin tampilannya akan memuaskan, dalam hal ini siswa tidak
bisa sembarangan saja, mereka harus betul-betul mampu menyimpulkan
terlebih dahulu apa yang akan mereka sampaikan. Tuntunan langkah-
langkah analisis, pikiran intelektual, pemahaman konsep, bakat akademik
yang dilakukan dengan motivasi, interpretasi yang inovatif dipihak guru
akan menentukan keberhasilan pelaksanaan model ini.

4
Berdasar uraian singkat ini jelas bahwa model pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) menuntut kemampuan
siswa untuk giat mempelajari apa yang disampaikan guru, mampu
menampilkan dirinya sebagai pemikir di depan siswa-siswa yang lain.
Dipihak lain, untuk dapat menyelesaikan tuntutan tersebut, inovasi yang
dilakukan guru akan sangat menentukan. Inovasi tersebut berupa tuntunan-
tuntunan, motivasi-motivasi, interpretasi serta kemampuan belajar tanpa
hafalan. Oleh karenanya langkah-langkah ini diharapkan akan dapat
digunakan sebagai cara pemecahan masalah.

C. Tujuan Penelitian
Berdasar rumusan masalah yang telah disampaikan, rumusan masalah
yang dapat disampaikan adalah:
1. Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa
setelah diterapkan model pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) dalam pembelajaran.

D. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai
acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru.
Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah,
khususnya SMA Negeri 1 Kerambitan....... dalam rangka meningkatkan
prestasi belajar siswa Negeri 1 Kerambitan................... Di samping itu,
penelitian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai informasi yang berharga
bagi teman-teman guru, kepala sekolah di sekolahnya masing-masing.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif


Berlawanan untuk kebanyakan sekolah yang belajar pada kompetisi
iudividu dengan yang lainnya, belajar kooperatif merupakan suatu strategi
pembelajaran di mana siswa dalam kelompok kecil yang heterogen saling
mempertukarkan tanggung jawab belajarnya. Sebagai suatu hasil, siswa
belajar dari seseorang ke yang lainnya. Mereka belajar untuk menghargai
perbedaan pada masing-masing yang lainnya dan membangun kekuatan
individu dalam urutan untuk menemukan tujuan kelompok. Mereka belajar
keterampilan sosial dan juga materi pelajaran.
Beberapa peneliti telah menemukan bahwa strategi belajar kooperatif
mendorong harga diri individu dan menganjurkan siswa untuk mengambil
kendali dari belajarnya sendiri. Tuntutan ini melengkapi suatu ringkasan dan
strategi belajar kooperatif dan menunjukkan bagaimana guru-guru dapat
mengintegrasikan strategi-strategi tersebut dalam rencana pembelajaran
mereka (Hilke, 1998: 3).
Lebih lanjut Hilke mengemukakan tujuan utama dari belajar kooperatif
adalah: (1) untuk membantu perkembangan kerjasama akademik di antara
siswa, (2) untuk menganjurkan hubungan kelompok yang positif, (3) untuk
mengembangkan harga diri siswa, dan (4) untuk meningkatkan pencapaian
akademik.
Siswa dapat mengejar tujuan pembelajaran melalui tiga cara: secara
kompetitif, secara individu, dan secara kerjasama. Pada tahun 1940, Morton
Deutsch (1949) menyusun suatu teori tentang bagaimana orang-orang
berhubungan dan berinteraksi pada masing-masing susunan tersebut. Pada
susunan kompetitif, seorang siswa bekerja melawan masing-masing yang
lainnya dan tampilan mereka dibandingkan. Beberapa siswa mengalami
kekeliruan dalam susunan ini, hasilnya kehilangan harga diri dan kadang-
kadang berperasaan negatif terhadap teman sebaya mereka secara bebas pada
langkah mereka sendiri untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh guru.

6
Guru selanjutnya mengevaluasi sekelompok tujuan untuk masing-masing
individu.
Dalam susunan kooperatif, kelompok siswa yang heterogen bekerja
bersama untuk menemukan tujuan. Masing-masing pribadi
mempertanggungjawabkan pembelajarannya sendiri dan membantu yang
lainnya. Kekuatan yang dapat dicapai untuk setiap pribadi dalam kelompok.
Keterampilan komunikasi dan sosial yang baik dibutuhkan dalam urut-urutan
perkembangan hubungan kerja yang baik. "Dalam kelompok belajar
kooperatif, di sana cenderung terjadi peraturan teman sebaya, umpan balik,
dukungan, dan anjuran belajar yang agak beragam. Dukungan akademik
teman sebaya demikian tidak tersedia pada situasi belajar kompetitif dan
individualistik (Johnson and Johnson, 1987: 28).
Pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif
adalah strategi pembelajaran yang memusatkan perhatian pada proses
penalaran nilai-nilai moral, melalui diskusi dan proses tanya jawab dialektis
yang bersifat mengajar dan menantang proses pemahaman (Linkona, 1992:
236-238). Menurut Slavin (1995: 2), metode pembelajaran kooperatif
menunjuk pada bermacam-macam model pembelajaran, di mana para siswa
bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu, berdiskusi dan saling
memberi argumentasi, untuk saling menilai pengetahuan yang dimiliki
sekarang dan mengisi kesenjangan pemahaman di antara mereka.
Dari kedua pendapat di atas mengenai model pembelajaran kooperatif,
maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan
kegiatan siswa, yaitu belajar dalam kelompok kecil yang heterogen, di mana
setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan atau menyampaikan
argumentasinya, sehingga terfadi interaksi antara guru dengan siswa, antara
siswa dengan siswa lainnya, komunikatif dan bersifat multi arah.
Menurut Slavin (1995: 5) ada enam model utama dalam pembelajaran
bertim (Student Teams Learning). Empat di antaranya, berlaku secara umum
pada semua bidang studi, yaitu sebagai berikut : "Student Teams-Achievement
Divisions (STAD), Teams Games Tournaments (TGT), Jigsaw II, dan Co-Op

7
Co-Op". Sedangkan dua metode lainnya hanya berlaku secara khusus, yaitu:
"Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)".
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif akan dapat
meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan
siswa lainnya, komunikatif, dan bersifat multi arah.
Johnson and Johnson (1984: 15) mengidentifikasi lima elemen dasar
dalam belajar kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan tujuan yang positif,
(2) memajukan interaksi tatap muka, (3) pertanggungjawaban individu, (4)
keterampilan sosial, dan (5) proses kelompok. Pembicaraan masing-masing
elemen tersebut seperti berikut.
1) Saling ketergantungan yang positif
Saling ketergantungan tujuan yang positif terjadi bila siswa
melaksanakan tugas kelompok dengan perasaan saling menguntungkan.
Mereka perlu mengerjakan bagian mereka sendiri, untuk keuntungan seluruh
kelompok. Sebagai contoh, bila tugas kelompok untuk meneliti dan menulis
laporan, nilai untuk laporan merupakan nilai kelompok. Pencapaian yang
rendah dalam kelompok menimbulkan usaha kerja terbaik mereka untuk
keselamatan seluruh kelompok. Pencapaian yang tinggi, ingin
mempertahankan kualitas kerja mereka yang tinggi, akan membantu yang
lainnya dalam menyelesaikan tugas kelompok. Selanjutnya masing-masing
individu memperoleh manfaat yang penting dan harga-diri. Johnson et al.
(1984) berpendapat bahwa saling ketergantungan yang positif dicapai: 'melalui
tujuan yang saling menguntungkan (saling ketergantungan tugas); pembagian
material, sumber-sumber, atau informasi di antara anggota kelompok (saling
ketergantungan sumber); pemberian peranan siswa yang berbeda (saling
ketergantungan peran); dan melalui pemberian penguatan bersama (saling
ketergantungan penguatan). Dalam urutan untuk situasi belajar menjadi
kooperatif, siswa harus bersedia bahwa mereka secara positif saling
ketergantungan dengan anggota lainnya dari kelompok belajar mereka.

8
2) Memajukan interaksi tatap muka.
Kemajuan interaksi terjadi bila pertukaran verbal mengambil tempat
di mana siswa menjelaskan bagaimana mereka memperoleh suatu jawaban
atau bagaimana suatu masalah bisa dipecahkan. Mereka juga dapat membantu
masing-masing yang lainnya untuk memahami suatu tugas. Siswa memeriksa
masing-masing pemahaman yang lainnya dan menyatakan pertanyaan pada
anggota kelompok sebelum menyatakan pada guru untuk klarifikasi. Bila
sebuah tugas sudah lengkap, anggota kelompok meringkaskan apa yang telah
dipelajari.

3) Pertanggungjawaban individu
Pertangguiigjawaban individu merupakan pengambilan pertanggung-
jawaban pribadi untuk materi belajar. Sebagai tambahan untuk kontribusi
kelompok, masing-masing siswa memerlukan penguasaan material tertentu.
Salah satunya guru menentukan tingkat penguasaan, anggota kelompok sering
mendukung dan membantu masing-masing yang lainnya dalam mencapai
tingkat penguasaan tersebut.
Suatu pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi tentang belajar
kooperatif adalah apa yang dikerjakan siswa yang tidak berpartisipasi,
membiarkan yang lainnya untuk bekerja, dan memastikan untuk belajar materi
dasar. Untuk mencegah kejadian ini, seorang guru dapat merata-ratakan skor
ujian individu untuk nilai kelompok, Selanjutnya bila seseorang skor ujiannya
lebih rendah dari rata-rata teman sebaya bukan hanya mendesak bahkan secara
halus menekan individu untuk belajar lebih giat. Atau mereka akan melihat
perlunya bekerja dengan individu dalam urutan untuk mencapai tingkat
ketuntasan. Juga dari waktu ke waktu, guru bisa menyeleksi penempatan nilai
individu, yang menganjurkan semua anggota kelompok untuk
mengerjakannya secara langkap dalam waktu yang tepat dan dengan cara yang
wajar.

9
4) Keterampilan sosial
Kritik untuk kesuksesan belajar kooperatif adalah keterampilan sosial
demikian seperti mengetahui bagaimana berkomunikasi secara efektif dan
bagaimana mengembangkan rasa hormat dan kepercayaan dalam kelompok.
Kelompok yang bertugas dengan baik tidak terjadi secara wajar; siswa
memerlukan petunjuk bagaimana mengikuti dan juga berperan. Bila
pertanggungjawaban belajar diperlukan, siswa membutuhkan anjuran masing-
masing anggota lainnya untuk melengkapi tugas yang diberikan. Mereka perlu
mengetahui bagaimana meminta bantuan bila mereka membutuhkannya. Bila
muncul konflik (dan konflik memang akan muncul), siswa perlu mengetahui
bagaimana menggunakan strategi resolusi konflik.

5) Proses kelompok
Secara periodik siswa memerlukan pencerminan pada bagaimana
kelompok yang baik bekerja dan menganalisis bagaimana keefektifan mereka
bisa diperbaiki. Ini disebut proses kelompok. Pengamatan oleh anggota
kelompok, guru, atau seorang individu yang berperan sebagai pengamat dapat
melengkapi umpan-balik yang esensial untuk proses kelompok. Seorang
pengamat bisa mencatat apa yang terjadi dalam kelompok bila rencana suatu
projek mengenai adanya kekuatan perbedaan pendapat. Dengan umpan-balik
ini, siswa dapat bergerak untuk menemukan suatu pemecahan dan
menawarkan usul untuk menangani perselisihan tersebut di masa yang akan
datang. Keluaran dari proses ini, kelompok bisa bersimpulan: 'Kita telah
membuat permulaan yang baik dalam rencana projek, tetapi kita perlu bekerja
lebih giat untuk mendengar ide-ide setiap orang.’

B. Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD


STAD adalah singkatan dari Student Teams Achievement Division.
Model ini didesign untuk tim kecil yang berjumlah 4-5 orang yang masing-
masing tim itu bisa diatur tingkat kemampuan siswanya maupun gendernya.
Guru menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja bertim dan memastikan
agar masing-masing individu dalam tim dapat pekerjaan yang dikerjakan dan

10
masing-masing tim meyakinkan dirinya agar anggotanya dapat menguasai
pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Menurut Slavin (1995: 5) pada awalnya teori itu mendapat soal yang
dikerjakan oleh masing-masing anggota tim, pada saat awal tersebut masing-
masing anggota tim tidak saling membantu, artinya mereka pada awalnya
bekerja sendiri-sendiri. Apabila salah satu anggota tim menemui kesulitan
diharapkan anggota tim yang lain dapat menolongnya.
Dalam pelaksanaannya guru perlu mencatat tim yang sukses
memberikan jawaban terhadap pertanyaan / kuis yang diberikan dan tim yang
terbaik akan mendapat hadiah. Anggota tim mesti meyakinkan temannya
bahwa belajar itu adalah penting, bernilai dan menyenangkan. Mereka bisa
bekerja berpasangan dan saling membandingkan jawaban-jawaban, berdiskusi,
saling tolong dengan penuh pengertian. Mereka bisa membahas cara-cara
untuk mengatasi masalah atau saling bertanya tentang apa yang mereka
pelajari, membahas kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka atau
juga kelebihan-kelebihan yang ada dalam upaya agar mereka mampu
menjawab apa yang ditanyakan.
Meskipun murid-murid bekerja bersama, tetapi pada saat guru
melontarkan pertanyaan, masing-masing siswa tidak saling membantu, pada
saat-saat yang demikian akan terlihat murid yang mampu dan yang akan
menjadi bintang tim untuk sementara. Model ini merupakan model dari
kooperatif yang paling sederhana, ini bagus bagi para guru yang baru saja
melangkah atau mulai mengajar dengan pengajaran model bertim.
Ada lima komponen utama dalam STAD yaitu: presentasi kelas, tim,
kuis, perbaikan skor individu, dan pengenalan tim (Salvin, 1995: 71). Dari
masing-masing bagian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Prestasi kelas yaitu, guru menyajikan pelajaran pada siswa. Guru membagi
materi berupa materi-materi yang disebut STAD Unit. Murid harus betul-
betul memperhatikan guru dan bagian-bagian materi yang akan membantu
mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan atau kuis yang akan
diberikan.

11
2. Tim. Satu tim terdiri dari 4-5 orang siswa boleh dicampur dari mereka
yang mempunyai kemampuan yang berbeda, berbeda jenis kelamin atau
berbeda ethnik bila ada. Tim bertugas untuk betul-betul siap menjawab
pertanyaan. Untuk itu masing-masing anggota tim harus terpadu, saling
memberi dorongan agar mereka betul-betul siap untuk belajar. Sesudah
guru selesai menyajikan pelajaran, tim mulai bekerja dengan
mendiskusikan apa yang telah disajikan, membandingkan jawaban, saling
mengoreksi di antara jawaban yang disampaikan.
3. Kuis atau pertanyaan-pertanyaan. Pada saat ini murid-murid telah siap
untuk menjawab pertanyaan dan mereka mulai mencek materi dari
bukunya sendiri atau dari buku lain terhadap materi yang disajikan guru
sebelumnya. Pada saat ini anggota tim tidak saling membantu.
4. Perbaikan skor individu. Pada saat perbaikan skor individu ini, guru
memberi pertanyaan-pertanyaan yang menuntun siswa dapat memperbaiki
skornya yang kurang baik bila mereka telah bekerja keras. Pertanyaan
yang sama diberikan kembali pada siswa yang kurang tepat menjawab
sehingga siswa tersebut akan mendapat tambahan nilai bila dapat kembali
menjawab dengan lebih baik.
5. Pengenalan tim. Yang dimaksud di sini adalah pemberian hadiah atau bisa
sertifikat bahwa tim tersebut adalah tim yang terbaik saat itu setelah
melampaui target yang ditetapkan.
Slavin, 1995 (dalam Ni Luh Rasmini, 2010: 24-26) menyatakan bawha
pembelajaran kooperatif tipe Students Team Achievement Division (STAD)
terdiri dari lima komponen utama yang perlu diperhatikan yaitu tahap
penyajian kelas (class presentation), belajar dalam kelompok (team), tes/kuis
(quizzes), skor kemajuan individu (individual improvment scores) dan
penghargaan kelompok (team recognation). Dan ciri-ciri pembelajaran
kooperatif Students Team Achievement Division (STAD) adalah: 1) siswa
belajar dalam kelompok-kelompok kecil, 2) memperhatikan skor awal, 3)
terdapat kuis/tes, 4) skor kemajuan individual, 5) penghargaan kelompok
(caranya rata-rata kelompok dihitung dari skor kemajuan individual masing-

12
masing anggota, dijumlah dan dibagi dengan jumlah kelompok, baru dikasi
hadiah).
Ni Luh Rasmini (2010: 23-24) menulis bahwa sintak pembelajaran
kooperatif tipe Students Team Achievement Division (STAD) seperti terlihat
pada tabel berikut.
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Fase 1. Mengupayakan semua Siswa mendengarkan
Menyampaikan tujuan tujuan pembelajaran yang penjelasan guru
dan memotivasi siswa ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa belajar
Fase 2. Menyajikan informasi Siswa mendengarkan
Menyajikan/ kepada siswa dengan kemudian mencatat
menyampaikan jalan mendemonstrasikan penjelasan guru
informasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3. Menjelaskan pada siswa Siswa membentuk
Mengorganisasikan bagaimana caranya kelompok sesuai arahan
siswa dalam membentuk kelompok guru
kelompok-kelompok belajar dan membantu
belajar seiap kelompok agar
melakukan transisi secara
efesien
Fase 4. Membimbing kelompok- Siswa berdiskusi tentang
Membimbing kelompok belajar pada materi yang diberikan
kelompok bekerja dan saat mereka mengerjakan
belajar tugas mereka
Fase 5. Mengevaluasi hasil Siswa mendengarkan
Evaluasi belajar tentang materi klarifikasi jawaban antar
yang telah diajarkan atau kelompok
masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6. Mencari cara-cara untuk Siswa dari kelompok lain
Memberikan menghargai baik upaya memberikan aplaus untuk
penghargaan maupun hasil belajar kelompok yang terbaik
individu dan kelompok

13
C. Prestasi Belajar
Prestai belajar dimulai dengan kegiatan atau aktivitas, setelah itu belajar
dan terakhir baru prestai belajar.
1. Aktivitas
Kata “Aktivitas” berasal dari Bahasa Inggris ‘activity’ yang artinya
‘state of action, lireliness or ingorous mation’ (Webster’ New American
Dictionary: 12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti
kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau
giat dalam melakukan gerak-gerik, usul. Dalam bahasa Indonesia aktif
berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi
(Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32).
Aktivitas merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, baik
dalam aktivitas jasmani maupun dalam aktivitas rohani. Aktivitas ini jelas
merupakan ciri bahwa siswa berkeinginan untuk mengikuti proses. Siswa
dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemui ciri-ciri seperti berikut (Tim
Instruktur PKG, 1992: 2):
1. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran
2. Terjadi interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa
3. Siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok
4. Terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran
5. Siswa berpartisipasi dalam menyimpulkan materi.
Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari
(Nana Sudjana, 2000: http://www.scribd.com/doc/90372008):
1. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya
2. Terlibat dalam pemecahan masalah
3. Bertanya pada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami
persoalan yang dihadapinya
4. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk
memecahkan masalah
5. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru
6. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya
7. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis

14
8. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya
dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

2. Belajar
Belajar dalam Bahasa Inggris adalah “Study” yang artinya ‘The act
of using the mind to require knowledge’ (Webster’ New American
Dictionary: 1993). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar
adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/
memperoleh pengetahuan. Belajar artinya berusaha untuk memperoleh
ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus
Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan
yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat
pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang
dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 tahun
2007). Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu. Ini berarti bahwa
belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap
mengetahui sesuatu yang baru.
Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar
siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan
dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/90372081).
Juga dikatakan bahwa ativitas belajar berupa keaktifan jasmani dan rohani
yang meliputi keaktifan panca indra, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan
keaktifan emosi. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar
dilakukan dalam bentuk interaksi antara guru dengan siswa dan antara
siswa siswa dengan siswa lain (Abdul, 2002 dalam
http://www.scribd.com/doc/90372081/).
Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa belajar
sebenarnya merupakan cara yang membuat siswa aktif, baik dengan
penggunaan cara simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang
dapat membangkitkan keaktifan jasmani dan rohani siswa sehingga

15
muncul interaksi antar siswa dengan guru begitu juga interaksi antara
siswa yang satu dengan siswa lainnya.
Dengan menggabungkan semua pendapat yang telah disampaikan
serta pengertian-pengertian tentang belajar dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah penggunaan ingatan atau pikiran untuk memperoleh
pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya dengan penggunaan
cara-cara tertentu seperti Students Team Achievement Division (STAD),
simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat
membangkitkan keaktifan siswa baik jasmani maupun rohani yang dapat
membangun interaksi positif bagi para siswa.

3. Prestasi Belajar
Prestasi belajar PKn................ sama dengan prestasi belajar bidang
studi yang lain merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana
biasa dilaporkan pada wali kelas, murid dan orang tua siswa setiap akhir
semester atau akhir tahun ajaran.
Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi
anak didik, pendidik, orang tua/wali murid dan sekolah, karena nilai atau
angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa
dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa
yang bersangkutan maupun sekolah. Prestasi belajar merupakan
kemampuan siswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang
diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan
tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas belajar, maka
perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman
untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya
di sekolah. Dengan kata lain prestasi belajar merupakan kemampuan-
kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar

16
atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan
menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Dengan mengkaji hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi prestasi belajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain:
(1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut
faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan,
motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang
disebut faktor sosial., seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru
dan cara mengajamya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-
mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Dalam penelitian ini factor ke 2 yaitu factor yang dari luar seperti guru dan
cara mengajarnya yang akan menentukan prestasi belajar siswa. Guru
dalam hal ini adalah kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan
lain-lain. Cara mengajarnya itu merupakan factor kebiasaan guru itu atau
pembawaan guru itu dalam memberikan pelajaran. Juga dikatakan oleh
Slamet (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja,
yaitu faktor intern dan faktor ekstem. Faktor intern diklasifikasi menjadi
tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.
Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, cacat tubuh. Faktor psikologis
antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan,
kesiapan. Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani.
Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor
keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Faktor keluarga antara lain:
cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan
keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin
sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung,
metode belajar dan tugas rumah. Faktor masyarakat antara lain: kegiatan
siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan
masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang penulis teliti dalam hal ini
dipengaruhi oleh factor ekstern yaitu metode mengajar guru.

17
Sardiman (1988: 25) menyatakan prestasi belajar sangat vital dalam
dunia pendidikan, mengingat prestasi belajar itu dapat berperan sebagai
hasil penilaian dan sebagai alat motivasi. Adapun peran sebagai hasil
penilaian dan sebagai alat motivasi diuraikan seperti berikut.
Dalam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan bahwa prestasi
belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa
setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan
bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa.
Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan
siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting
adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar,
baik secara individu maupun kelompok. Dalam pembahasan ini akan
dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada
pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat
motivasi. Prestasi belajar sebagai hasil penilaian sudah dipahami. Namun
demikian untuk mendapatkan pemahaman, perlu juga diketahui, bahwa
penilaian adalah sebagai aktivitas dalam menentukan rendahnya prestasi
belajar itu sendiri.
Abdullah (dalam Mamik Suratmi, 1994: 22), mengatakan bahwa
fungsi prestasi belajar adalah: (a) sebagai indikator dan kuantitas
pengetahuan yang telah dimiliki oleh pelajar, (b) sebagai lambang
pemenuhan keingintahuan, (c) informasi tentang prestasi belajar dapat
menjadi perangsang untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan (d) sebagai
indikator daya serap dan kecerdasan murid.
Mohammad Surya (1979), mengatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
antara lain dari sudut si pebelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut
situasi belajar.
Bila kita coba lihat lebih dalam dari pendapat di atas, maka prestasi belajar
dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor dari si pebelajar sendiri atau
faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa seperti IQ,

18
motivasi, etos belajar, bakat, keuletan, dan lain-lain sangat berpengaruh
pada prestasi belajar siswa.
Penjelasan Surya selanjutnya adalah: dari sudut si pembelajar (siswa),
prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan
jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat, motivasi, penyesuaian diri dan
kemampuan berinteraksi siswa. Sedangkan yang bersumber dari proses
belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran
sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi
pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran
yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki
kemampuan untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar siswa untuk
belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar
siswa. Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah
hasil yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang
berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan belajar bidang studi
sejarah. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh factor luar yaitu guru
dan metode. Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.
Terkait dengan penelitian ini, untuk mengukur prestasi belajar
PKn................... digunakan tes hasil belajar, dengan mengacu pada materi
pelajaran PKn.................. pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) yang berlaku di sekolah ini.

D. Kerangka Berpikir
Model pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
memiliki langkah-langkah mengutamakan membantu kegiatan akademik,
mengupayakan hubungan kelompok yang harmonis, mengembangkan harga
diri siswa, meningkatkan pencapaian akademik siswa pada awalnya bekerja
sendiri-sendiri, kalau ada kendala baru anggota timnya yang membantu.
Dimulai penilaian dengan skor individu kemudian baru skor perbaikan dari

19
masing-masing tim. Hal semacam inilah yang diupayakan untuk memecahkan
masalah. Guru dalam hal ini hanya sebagai motivator dan fasilitator. Model ini
menuntut kegiatan intelektual yang tinggi, memproses apa yang mereka telah
dapatkan dalam pikirannya untuk menjadi sesuatu yang bermakna. Mereka
diupayakan untuk lebih produktif, mampu membuat analisa membiasakan
mereka brpikir kritis, dapat mengingat lebih lama, materi yang telah mereka
pelajari. Model ini juga bisa diupayakan untuk pengembangan kemampuan
akademik.

E. Hipotesis Tindakan
Dengan semua paparan di atas, dapat disampaikan hipotesis atau dugaan
sementara yang bunyinya:
Langkah-langkah Model Pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas
XI.... pada Semester IV.......... Tahun ajaran 2011/2012............... SMA
Negeri 1 Kerambit.....................

20
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian tindakan. Oleh karenanya,
rancangan yang khusus untuk sebuah penelitian tindakan sangat diperlukan.
Penelitian tindakan didasarkan pada filosofi bahwa setiap manusia tidak suka
atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik.
Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai
tujuan tercapai (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 67).
Dalam melaksanakan penelitian, rancangan merupakan hal yang sangat
penting untuk disampaikan. Tanpa rancangan, bisa saja alur penelitian akan
ngawur dalam pelaksanaannya.
Untuk penelitian ini penulis memilih rancangan penelitian tindakan yang
disampaikan oleh .Dave Ebbut....................... seperti terlihat pada gambar
berikut.

21
Model No. 1 (Model Ebbut) (Desain 1)
Model Ebbut merupakan salah satu model PTK yang dikembangkan oleh
Dave Ebbut.
Gambar 1
Penelitian Tindakan Model Ebbut (1985)

IDE AWAL

Temuan dan Analisa

D
Rencana Umum
A
Langkah Tind. 1
U Implementasi
Langkah Tind. 2 Langkah Tindk. 1
R
Langkah Tind. 3

1
Minitor Implementasi
dan Efeknya

Penjelasan kegagalan Revisi rencana umum


untuk implementasi

Rencana diperbaiki
Langkah Tind. 1
Langkah Tind. 2
Langkah Tind. 3

D Monitor implementasi Implementasi


dan efek langkah berikut
A
U
Jelaskan setiap
R Revisi ide umum
implementasi dan efek

2 Rencana diperbaiki
Langkah Tind. 1
D
Langkah Tind. 2
A
Langkah Tind. 3
U
R
Monitor implementasi Implementasi
dan efek langkah berikut
3

22
Model No. 2 (Kemmis dan Mc. Taggart) (Desain 2)

Gambar 2
Penelitian Tindakan Model Spiral (Kemmis & Mc Taggart, 1988)

Plan
R 1
4 E
Plan
F
L
2
E
3
C
T

Plan
T
5
A
8 R
Plan
E
F
6
L
7
E
C
T

T
Sebagai alur PTK, Kemmis dan Mc. Taggart memberi contoh sebagai
A
berikut:
1. Siswa mengira bahwa sain sekedar mengingat fakta dan bukan proses
inkuiri. Bagaimana saya dapat merangsang inkuiri pada siswa? Apakah
dengan mengubah teknik bertanya? Teknik bertanya yang sama?

Menukar strategi bertanya agar siswa dapat menggali jawaban atas


pertanyaan sendiri.

23
Model No. 3 (Elliot) (Desain 3)

Gambar 3
Penelitian Tindakan Model Elliot (1991)

Memperbaiki/
Ide Umum Mengubah

Pengintaian/
Reconnaissance Peninjauan

Rencana Rencana Rencana


Menyeluruh Menyeluruh Menyeluruh

Tindakan 2 dst Tindakan 1 Tindakan 3 dst

Monitor dan
atau reconnaissance atau

atau

Tindakan 2 dst

Ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-


langkah yang ada di dalam model PTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot,

24
dan Kemmis. Bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian
tindakan kelas.

Model No. 4 (Mc. Kernan) (Design 4)

Gambar 4
Penelitian Tindakan Model Mc. Kernan ((1991)

TINDAKAN DAUR I
Tindakan perlu perbaikan DAUR 2

dst

Penerapan Definisi Penerapan Redefine


masalah problem

Evaluasi Need Evaluate Need


tindakan assessement action assessement

Implementasi Hipotesis ide Impl. Revise New


tindakan plan hypothesis

Develop action plan T 1 Revise action plan T 2

Diadopsi dari (Sukidin, Basrowi, Suranto, 2002: 46 – 54)


Perlu diketahui bahwa sebenarnya model-model ini lebih memberikan
gambaran garis besar proses daripada suatu teknologi. Urutan langkah-langkah
memang diperlihatkan, tetapi hanya sedikit sekali yang menyinggung soal
‘apa’nya dan ‘bagaimana’ antara langkah-langkah ini. Tidak mengherankan
kalau model-model ini dapat membingungkan para praktisi. Bahkan Ebbut
sendiri mengakui bahwa gambar Elliot cenderung sulit untuk dimengerti.

25
Model No. 5

Gambar 5. Rancangan Penelitian

Perencanaan Pelaksanaan
Permasalahan
Tindakan I Tindakan I

Siklus I

Refleksi Pengamatan/
Pengumpulan Data
I
I
Permasalahan baru
hasil refleksi
Perencanaan Pelaksanaan
Tindakan II Tindakan II

Siklus II
Refleksi Pengamatan/
Pengumpulan Data
II
II

Apabila Dilanjutkan ke siklus


permasalahan belum berikutnya
terselesaikan

Diadopsi dari Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi (2006: 67)

26
B. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas.XI.IPA4....... SMA Negeri
1 Kerambitan Tahun Pelajaran 2011/2012.......................... Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 01. Nama-nama siswa Kelas .XI IPA 4.... SMA Negeri
Kerambitan.Tahun Pelajaran 2011/2012.........................
No Nama Siswa
1 Abdurrahman
2 Saleh
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

27
30

2. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar
siswa kelas XI....... SMA Negeri 1 Kerambitan Tahun pelajaran
2011/2012......................... setelah diterapkan model Students Team
Achievement Division (STAD) dalam proses pembelajaran.
C. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli.................... sampai bulan
Desember 2011...................... Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian
ini dapat dilihat pada tabel berikut:

28
Tabel 02. Jadwal Penelitian
Juli Agustus September Oktober November Desember
No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan proposal dan X X X
perencanaan tindakan I
2. Pelaksanaan tindakan I X X
3. Pengamatan/pengumpulan data I X
4. Refleksi I X

5. Perencanaan tindakan II X
6. Pelaksanaan tindakan II X
7. Pengamatan/ pengumpulan data II X
8. Refleksi II X
9. Penulisan laporan/ penjilidan X X

29
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data penelitian ini digunakan observasi dan tes
prestasi belajar.

E. Metode Analisis Data


Metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini
adalah metode deskriptif baik untuk data kualitatif maupun untuk data
kuantitatif. Untuk data kualitatif dianalisis dengan memberi pertimbangan-
pertimbangan, memberi komentar-komentar, mengklasifikasikan data,
mencocokan dengan validitas internal dan validitas eksternal, mencari
hubungan-hubungan, mencari perbandingan-perbandingan, mengkategorikan
data dan selanjutnya membuat kesimpulan refleksi dengan mencari makna dari
kesimpulan hubungan antarkategori.
Sebelum melakukan analisis kualitatif sebaiknya kita mencoba melihat
pendapat para ahli analisis. Menurut Matthew B. Miles dan A. Michael
Hubberman (1992: 390), dalam penelitian kualitatif cendrung diabaikan. Ini
terjadi karena inti penelitian kualitatif adalah menjangkau sesuatu yang lebih
dari sekedar, yang dapat dikatakan kepada kita akan pentingnya kualitas
tersebut. Selanjutnya dikatakan, akan tetapi sebagaimana yang kita perhatikan
sebelumnya, terjadi banyak perhitungan pada saat penentuan kualitas dibuat.
Jadi dalam penelitian kualitatif perlu diketahui, yang pertama-tama adalah
bahwa kita juga menghitung.
Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus,
standar deviasi, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam
bentuk tabel dan grafik.

30
F. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian
Sebelum sampai pada instrumen penelitian, yang mesti dibuat terlebih
dahulu adalah kisi-kisi instrumen penelitian. Kisi-kisi ini sangat penting dibuat
untuk memberi arah terhadap hal-hal yang dipertanyakan dalam instrumen
penelitian. Tujuan penyusunan kisi-kisi instrumen adalah merencanakan
setepat mungkin ruang lingkup dan tekanan tes dan bagian-bagiannya,
sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi
penyusunan tes, terlebih-lebih bagi penulis soal (Suryabrata, 2000: 60-61).
1. a. Kisi-kisi Instrumen Prestasi Belajar
Tabel 2. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar
Standar Kompetensi
No Materi Indikator Bentuk Tes
Kompetensi Dasar

31
b Kisi-kisi Instrumen Prestasi Belajar
Tabel 3. Kisi-kisi Observasi Kegiatan Belajar Students Team Achievement
Division (STAD)
Menunjukkan Pelajaran Kemampuan
Interpretasi Peneloran
No Nama Siswa Kemampuan Kritis Berpusat Menjawab
Siswa Kesimpulan
Analisis pada Siswa Pertanyaan/Kuis

2. Instrumen Penelitian
a. Instrumen Penilaian Prestasi Belajar Siswa
Instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi belajar siswa kelas.XI
IPA 4........ adalah tes. Tes ini terdiri dari.50..... soal dengan bentuk tes
adalah.Obyektif......, seperti terlihat di bawah ini.

32
Tes Prestasi Belajar : .....................
Hari/Tanggal :
Petunjuk : Jawablah ................................

33
b. Instrumen Observasi Belajar Students Team Achievement Division
(STAD)
Instrumen ini disajikan dalam upaya mendapat bandingan terhadap
kebenaran data yang didapat. Instrumen ini sangat berguna untuk
mencek apakah kenaikan prestasi belajar itu disebabkan oleh pengaruh
model pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD).
Variabel ini termasuk variabel penyela (intervening variable) yang
kemungkinan berpengaruh terhadap hubungan antara variabel bebas
(model Students Team Achievement Division (STAD)) dengan variabel
terikat (prestasi belajar).

34
Tabel 4. Instrumen Observasi Kesesuaian Belajar Students Team Achievement Division (STAD)
Keterangan Penilaian:
1. Sangat tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
2. Tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
3. Sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
4. Sangat sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
Siswa
Menunjukkan
Kemampuan Siswa Siswa Mampu
Pembelajaran Kemampuan Siswa Cepat
Kategori Tim Menunjukkan Siswa Menelorkan
No TIM Betul Berpusat Lebih Menanggapi
Tim Menjawab Kemampuan Kritis Kesimpulan-
Pada Diri Siswa Memproses Tuntutan
Soal-soal Analisis kesimpulan
Sesuatu yang
Bermakna
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

35
30

G. Indikator Keberhasilan Penelitian


Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu pada
prestasi belajar siswa diharapkan pada siklus I mencapai rata-rata 6,5 dan pada
siklus II mencapai nilai rata-rata 8,5.

36
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Pada Bab IV ini penulis sampaikan data yang diperoleh dari penelitian
tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA
Negeri 1 Kerambitan.......................... Sebelum menyampaikan hasil-hasil
penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut:
dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan
uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek
keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang
mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan,
guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan
grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi
disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto,
Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Dari cuplikan di atas jelaslah apa yang harus
dipaparkan dalam Bab ini yaitu menulis lengkap mulai dari apa yang dibuat
sesuai perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa yang telah
dicapai, sampai pada refleksi. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini
dimulai dengan apa yang dilakukan pada bagian perencanaan, apa yang

37
dilakukan pada pelaksanaan, apa yang dilakukan pada pengamatan dan apa
yang dilakukan pada refleksi, seperti terlihat berikut ini.
1. Rencana Tindakan I
Hasil yang didapat dari kegiatan perencanaan meliputi:
a. Menyusun rencana tindakan selanjutnya lengkap dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan
metode Students Team Achievement Division (STAD) sepeti terlihat
pada lampiran 3. Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas..... yang
tertera pada latar belakang, peneliti merencanakan kegiatan yang lebih
intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala
sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan
metode Students Team Achievement Division (STAD).
b. Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal,
sesuai dengan jadwal penelitian yaitu pada minggu ke..... bulan....
c. Meminta teman-teman guru bidang studi sejenis dan kepala sekolah
sebagai mitra kesejawatan dalam pelaksanaan pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD) yang sudah direncanakan.
Hasilnya adalah kesiapan teman-teman guru untuk ikut melaksanakan
supervisi kunjungan kelas dalam mengamati kekurangan yang ada.
d. Menyusun format pengecekan yang berhubungan dengan pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD).
e. Teman guru yang diminta mengamati pembelajaran diupayakan
pembekalan tentang model pembelajaran ini dengan:
a) Supervisor harus sudah mantap dan mengetahui metode
pembelajaran yang menggunakan Students Team Achievement
Division (STAD) dan kehadirannya di kelas bukan mencari
kesalahan, tetapi untuk kepentingan bersama yaitu memperbaiki
pembelajaran.
b) Supervisor telah diberitahu untuk lebih memahami tentang prinsip-
prinsip supervisi sehingga tidak lagi cenderung instruktif dan lebih
bersahabat dengan prinsip kesejawatan.

38
c) Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor diharapkan menunjukkan
rasa kesejawatan yang akrab dan mau menilai kebenaran yang ada.
f. Peneliti memberikan penjelasan pada siswa bahwa kehadiran
supervisor ke kelas bukan untuk mencari kesalahan atau kelemahan
guru dalam pembelajaran, tapi untuk meningkatkan kemampuan siswa
menguasai ilmu.
g. Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan. Menentukan
bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang
berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik.
h. Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar.
Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi
pembelajaran dengan baik. Urutan penyampaiannya dari yang mudah
ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi siswa, menentukan
alat bantu mengajar. Sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah
disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat
perkembangan peserta didik.
i. Merancang skenario pembelajaran.
Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat
perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan
dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan tujuan,
materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia,
sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti
perubahan strategi pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai
Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 dan menyesuaikan dengan model
pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD).

2. Pelaksanaan Tindakan I
a. Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas dengan persiapan yang matang, mengajar materi
dengan benar sesuai model pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD).

39
b. Alat Penilaian
Pembahasan dan jenis penilaian, terlampir di RPP berikut format
penilaian.
c. Penampilan
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan
bahasa yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan
penggunaan metode Students Team Achievement Division (STAD),
peneliti mengupayakan strategi agar mudah mengamati siswa yang
sedang belajar. Setelah pembelajaran selesai dilakukan, dilanjutkan
dengan mengadakan pertemuan dengan guru yang mengawasi proses
pembelajaran untuk mendiskusikan hasil pengamatan yang dilakukan.
d. Dari diskusi dengan guru, terungkap bahwa:
1. Pembelajaran yang dilakukan belum maksimal, karena peneliti
baru pertamakali mencoba metode ini.
2. Siswa-siswa memang belum aktif menerima pelajaran dan
memberi tanggapan, ini sesuai dengan tujuan metode Students
Team Achievement Division (STAD).
3. Peneliti mengusulkan agar guru yang mengamati mau kembali dan
bersedia mengamati kembali pada kesempatan di siklus II.
4. Untuk sementara, peneliti belum yakin bahwa pelaksanaan
supervisi kunjungan kelas akan membantu meningkatkan
kemampuan siswa, tetapi menurut pemikiran pengamat, cara yang
dilakukan peneliti cukup mampu mendorong meningkatkan
kreativitas dan prestasi belajar.
5. Penyampaian pengamat pada peneliti dapat disampaikan sebagai
berikut:
Perlu pengelolaan ruangan, waktu, dan fasilitas belajar yang lebih
baik.
Dalam mengelola ruang kelas, waktu serta fasilitas belajar, dapat
dipaparkan sebagai berikut:
1) Peneliti menyediakan alat bantu/media pembelajaran.

40
2) Peneliti kurang memperhatikan kebersihan papan tulis,
kebersihan seragam siswa, dalam hal lain yang berguna untuk
menumbuhkan motivasi belajar dan disiplin siswa.
3) Peneliti belum begitu baik dalam waktu. Memulai pelajaran
tidak tepat waktu akibat hal-hal tertentu.

3. Observasi/Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Penulis menggunakan
guru teman sejawat untuk ikut masuk kelas mengamati kebenaran
pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan model Students Team
Achievement Division (STAD). Data yang diperoleh dari kegiatan
observasi yang dilakukan guru akan sangat berpengaruh terhadap
kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) mengingat semua kelemahan peneliti akan
teramati dengan baik. Apabila peulis hubungkan dengan yang disebut
variabel penyela atau variabel intervening dimana ada hal-hal tertentu
yang bisa mempengaruhi hubungan antara variabel bebas yaitu model
pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD) dengan
variabel terikat yaitu pretasi belajar. Hal tertentu yang dibicarakan adalah
kebenaran pelaksanaan model pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD). Apabila pelaksanaannya tidak benar sudah tentu akan
berpengaruh terhadap hasil belajar.
Pengamatan oleh teman sejawat seperti yang dipaparkan di atas sangat
perlu dilakukan demi keberhasilan peningkatan mutu dan kebenaran
pembelajaran model Students Team Achievement Division (STAD). Hal
tersebut penulis lakukan demi adanya upaya inovasi agar tulisan ilmiah ini
lebih berdaya guna dan berhasil guna.
Selain pengmatan yang dilakukan oleh teman sejawat, upaya lain yang
penulis lakukan adalah menyuruh salah atu siswa yang pandai untuk
mengecek apakah pelaksanaan pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) di kelas sudah berjalan sesuai harapan atau belum. Baik

41
guru yang mengamati, maupun siswa yang disuruh mengamati kegiatan
teman-temannya, sebelymnya sudah dipanggil ke kantor dan diberi
penjelasan tentang kebenaran pelaksanaan pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) yang menuntut kreativitas; penemuan
sendiri oleh siswa; penekanan pada kegiatan intelektual; memproses
pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan
nyata; membiasakan siswa lebih produktif, analitis, kritis; penggunaan
metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan siswa mencari dan
menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini
menuntut kemampuan pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan
intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama,
pembelajaran lebih terpusat pada siswa, pengembangan konsep diri dan
bakat akademik, menghindarkan diri dari belajar dengan hafalan,
menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Langkah-langkah pembelajarannya adalah: a) presentasi kelas, b)
pembentukan tim, c) kuis/pertanyaan-pertanyaan, d) perbaikan skor
individu, e) pengenalan tim. Dari semua pengertian di atas, penulis sudah
menyiapkan instrumen untuk ketepatan pelaksanaan yang dibawa oleh
guru dan siswa yang mengamati proses pembelajaran.

4. Refleksi Siklus I
Sebelum memulai refleksi, ada baiknya melihat pendapat para pakar
pendidikan tentang apa yang dimaksud dengan refleksi. Pendapat ini akan
merupakan panduan terhadap cara atau hal-hal yang perlu dalam menulis
refleksi. Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah
dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan
evaluasi guna menyempurnakan tindakan. Refleksi menyangkut analisis,
sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang
dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi,
2006: 80).
1) Analisis kuantitatif prestasi belajar siswa siklus I

42
Sesuai data pada lampiran 4.
1. Rata-rata (mean) yang diperoleh adalah....................................
2. Median (titik tengahnya) adalah ...............................................
3. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) .........
4. Standar deviasi dihitung dengan rumus:
∑(𝑋𝑖 −𝑥̅ )2
SD = √ 𝑁−1

…..(……..𝑥…….)2
SD = √
𝑁−1

SD = ..............

No Nama Siswa Nilai (X-x) (X-x)2


(X)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

43
23
24
25
26
27
28
29
30
X
 X - 𝑥̅
 (𝑋 − 𝑥̅ )2

5. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal


berikut dihitung terlebih dahulu.
1. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N) = ........
2. Rentang kelas (r) = skor maksimum – skor minimum
𝑟
3. Panjang kelas interval (i) = 𝐾 = ⋯ … …

4. Tabel data kelas interval


No Nilai Frekuensi Frekuensi
Interval
Urut Tengah Absolut Relatif
1
2
3
4
5
6
Total ...........

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐹 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡
Frekuensi Relatif = x 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑓 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡

5. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram


Contoh Histrogram

10
9
8
7
44
6
5
4
3
2
4 5 6 7 8

Grafik 01. .......................................................

Untuk rekapitulasi hasil penelitian ini akan disampaikan


sekaligus pada akhir analisis refleksi siklus II. Untuk hasil
analisis pengamatan guru dan pengamatan siswa terhadap
kebenaran pelaksanaan pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) dapat dilihat pada lampiran 6
dan lampiran 8. Untuk kedua hail pengataman tersebut dapat
disampaikan sebagai berikut: 1) pengamatan oleh guru berupa
catatan kesalahan peneliti pada saat melaksanakan proses
pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD),
hal ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk perbaikan
pada siklus selanjutnya, untuk hal ini lebih lengkapnya dapat
dilihat pada pembahasan. 2) untuk pengamatan yang dilakukan
oleh kepala sekolah yang ada pada lampiran 6, sudah terlihat
banyaknya siswa yang benar perlakuannya sesuai pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD), sudah jelas
menunjukkan keaktifan, keuletan, kreativitas, kegiatan siswa
menemukan, mencari hal-hal penting yang ditugaskan,
menunjukkan kemampuan aktivitas, kritis, betul siswa yang
giat belajar dan bukan guru yang giat mengajar, kemampuan
menunjukkan konsep diri, kecepatan menanggapi tuntutan,
kemampuan menelorkan kesimpulan-kesimpulan. Jumlah yang

45
menunjukkan kemampuan analisis adalah ....., yang
menunjukkan kemampuan yang kritis.... siswa, yang mampu
menunjukkan konsep diri adalah ..... siswa, yang mampu
menunjukkan kemampuan memproses pelajaran agar bermakna
..... siswa, yang cepat memberi tanggapan ..... siswa dan yang
dengan cepat mampu menelorkan kesimpulan-kesimpulan
adalah ..... siswa. Sari analisis yang dibuat, dapat diambil
simpulan bahwa hasil yang didapat belum menunjukkan
keberhasilan pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) yang dilakukan guru.

2. Siklus II
1. Perencanaan
Melihat semua hasil yang didapat pada siklus I, maka untuk
perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa hal
yang perlu dilakukan yaitu:
a. Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan
pembelajaran di kelas dengan melihat jadwal penelitian pada Bab
III dan waktu dalam kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus
I merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus II ini.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik serta
membuat instrumen pengumpulan data yaitu tes prestasi belajar.
c. Merencanakan kunjungan kelas bersama-sama teman sejawat
sebagai upaya inovasi. Untuk ini peneliti berkonsultasi minta
kesediaannya untuk ikut dalam proses pembelajaran yang
dilakukan. Inovasi ini dilakukan agar peneliti dapat berupaya lebih
maksimal untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih baik dan
lebih berkualitas. Hasil konsultasi dengan teman sejawat adalah
adanya kesiapan guru untuk ikut melakukan supervisi kunjungan
kelas. Guru yang akan mengobservasi diberitahu bahwa penulis
sudah sempat berkonsultasi dengan kepala sekolah dan beliau akan

46
ikut berpartisipasi, masuk ke ruangan untuk bersama-sama
melakukan supervisi. Hal ini diberitahukan pada guru dengan
harapan agar guru yang akan mengobservasi bisa lebih siap lagi
untuk melakukan supervisi yang lebih berkualitas, ini juga penulis
lakukan sebagai tambahan inovasi.
d. Bersama guru merancang skenario penerapan pembelajaran dengan
melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dengan
mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan
pembelajaran. Untuk hal ini, semua catatan tentang kekurangan
yang ada di siklus I yang merupakan hasil refleksi disampaikan
pada guru untuk dipelajari. Memberitahu guru apa-apa yang perlu
dilaksanakan, apa saja yang siswa mesti kerjakan, cara penerapan
metode Students Team Achievement Division (STAD) yang benar
sesuai kebenaran teori yang disampaikan.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini disampaikan sebagai
berikut:
a. Pada hari yang sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai
tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan
yang sudah dibuat, meminta guru dan keplaa sekolah untuk ikut
mengamati pembelajaran, membagikan instrumen pengamatan. Hal
ini dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat
untuk dapat melaksanakan pembelajaran lebih serius. Dengan
kepala sekolah ikut mengamati berarti ada orang lain yang mesti
dilihat oleh siswa yang akan menimbulkan keseriusan mereka yang
lebih dari biasanya. Peneliti membawa instrumen pengamatan

47
observasi keaktifan belajar dan instrumen tes prestasi belajar.
Setelah masuk kelas bersama guru yang akan mengamati proses
pembelajaran, peneliti memulai aktivitas pembelajaran sambil
mempersilahkan kepala sekolah dan guru yang mengamati duduk
di bangku paling belakang yang sudah disediakan. Setelah
pelaksanaan pembelajaran berjalan, tiba-tiba kepala sekolah dicari
oleh pegawainya karena ada urusan kantor, sehingga pengamatan
melaksanakan pembelajaran hanya dilanjutkan oleh guru yang
penulis minta untuk mengobservasi proses selanjutnya. Terlihat
sepintas guru yang mengamati proses pembelajaran sangat aktif
menulis hal-hal yang terjadi di kelas untuk memberi penilaian
terhadap kemampuan dan profesionalisme guru sedangkan di
depan kelas peneliti sibuk dengan pelaksanaan pembelajaran yang
dilaksanakan di kelas. Pada pembelajaran inti peneliti
melaksanakan explorasi, elaborasi dan konfirmasi dan terakhir
peneliti melaksanakan penutupan pembelajaran. Untuk
pelaksanaan explorasi, elaborasi dan konfirmasi bagian-bagiannya
cukup banyak dan penulis tidak paparkan panjang lebar karena
kegiatan yang mesti dilakukan seperti diskusi, presentasi dan lain-
lain sudah bisa dibaca pada instrumen rencana pelaksanaan
pembelajaran yang dilampirkan di lampiran 9.

3. Observasi/Penilaian
Penilaian terhadap kebenaran pelaksanaan pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD) didahului dengan menctat hal-
hal penting seperti aktivitas belajar yang dilakukan pada saat peneliti
melakukan tindakan. Dari catatan-catatan yang cepat tersebut penulis
mengetahui bagian mana yang mesti diperbaiki, dibagian mana
diperlukan penekanan-penekanan, dibagian mananya perlu diberi
saran-saran serta penguatan-penguatan. Di samping itu adanya guru
yang mengamati proses pembelajaran akan sangat membantu untuk

48
mengetahui lebih jelas kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama
pross pembelajaran. Guru yang mengamati mencatat juga kreativitas
siswa, kemauan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran,
kontribusi diantara para siswa. Semua ini sudah terlaksana dengan
baik. Pelaksanaan tes prestasi belajar akhirnya dilanjutkan minggu
depannya karena setelah guru melakukan proses pembelajaran, waktu
untuk memberikan tes tidak mencukupi sehingga dilaksanakan pada
pertemuan selanjutnya. Hasil tes prestasi belajar siswa siklus II akan
dibahas pada refleksi II.

4. Refleksi Siklus II
Analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar Siklus
II
Sesuai data pada lampiran 12.
1. Rata-rata (mean) hasil tes prestasi belajar siswa adalah ............
2. Median (titik tengahnya) adalah ............................................
3. Modus (atau angka yang paling sering muncul) adalah.......
∑(𝑋𝑖 −𝑥̅ )2
4. Standar deviasi √ = ............................
𝑁−1

5. Untuk menyajikan data tersebut dalam bentuk grafik maka


dilakukan perhitungan-perhitungan sebagai berikut:
1) Banyak kelas dihitung dengan rumus STURGES:
K = 1 + 3,3 x log N
= .......................
= .......................
= .......................
2) Rentangan dihitung dengan:
r = skor maksimum – skor minimum
= ................ - ................
= .............
3) Panjang kelas interval dihitung dengan:

49
𝑟
i = =
𝐾

i = ...................
4) Tabel data kelas interval disajikan sebagai berikut:
No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi
Urut Tengah Absolut Relatif
1
2
3
4
5
6
Total ........... 100

6. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram


Contoh Histrogram

100
90
80
70
60
50
40
30
20
100 200 300 400 500 600 700
10
Grafik
0 02. .......................................................
Tabel ....... Rekapitulasi Hasil Penelitian dari Siklus I sampai
Siklus II
Variabel Awal Siklus I Siklus II
Prestasi Perolehan Perolehan Prosentase Perolehan Prosentase
Belajar Skor Skor Kenaikan Skor Kenaikan
Rata-rata Rata-rata Rata-rata

50
B. Pembahasan
1. Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus I
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan data terhadap
hasil pengamatan guru sejawat tentang pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) adalah: kelemahan-kelemahan yang ada,
kelebihan-kelebihan, perubahan-perubahan, kemajuan-kemajuan,
efketivitas waktu, keaktifan yang dilakukan, konstruksi, kontribusi,
diskripsi fakta, pengecekan validitas internal dan validitas eksternal,
identifikasi masalah, faktor-faktor yang berpengaruh, cara-cara untuk
memecahkan masalah, pertimbangan-pertimbangan, perbandingan-
perbandingan, komentar-komentar, tanggapan-tanggapan, tambahan
pengalaman, summary, pendapat-pendapat, gambaran-gambaran,
interpretasi/penafsiran-penafsiran, makna di belakang perbuatan,
trianggulasi, hubungan antaraspek, klasifikasi, standar-standar penetapan
nilai, alasan-alasan penggunan teknik tertentu, alasan penggunaan
langkah-langkah tertentu, penggolongan-penggolongan, penggabungan-
penggabungan, tabulasi, pemakaian, kriteria-kriteria, katagorisasi,
pengertian-pengertian, hubungan antar kategori.
Dari hail pengamatan teman sejawat disampaikan bahwa ada
kelebihan-kelebihan yang disampaikan oleh pengamat yaitu bahwa peneliti
sudah berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun siswa
dengan baik. Hal ini menimbulkan nterpretasi bahwa perjalanan penelitian
sudah cukup baik. Kelemahan yang disampaikan perlu diberikan analisis
yaitu penggunaan waktu yang belum efektif, konstruksi, kontribusi siswa

51
belum maksimal, fakta ini akan dijadikan acuan kebenaran data, validasi,
internal yang diambil dari informan di pertanggungjawabkan, validitas
eksternal berupa acuan hukum digunakan teori-teori yang mendukung dan
reliabilitas data penelitian ini dapat penulis yakini karena hal itu
merupakan ketepatan peneliti memilih informan, yaitu teman sejawat.
Faktor-faktor yang berpengaruh belum maksimalnya pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) pada siklus I ini adalah
karena peneliti baru satu kali mencoba model ini. Cara pemecahan
masalahnya adalah penyiapan RPP yang lebih baik, lebih berkualitas. Hal-
hal yang lain seperti komentar, tambahan pengalaman, gambaran-
gambaran keberhasilan penelitian akan terlihat pada hasil siklus
selanjutnya. Demiian sediit hasil kualitatif atau kualitas dari pembelajaran
dengan model Students Team Achievement Division (STAD).

Pembahasan hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus I


Hasil tes prestasi belajar yang merupakan tes ....................... memforsir
siswa untuk betul-betul dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai
rata-rata siswa di siklus I sebesar...... menunjukkan bahwa siswa setelah
menguasai materi yang diajarkan walaupun belum begitu sempurna. Hasil
ini menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menguasai mata
pelajaran PKn..................... Apabila dibandingkan dengan nilai awal siswa
sesuai data yang sudah disampaikan dalam analisis sebelumnya.
Hasil tes prestasi belajar di siklus I telah menemukan efek utama
bahwa penggunaan metode tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi
belajar siswa yang dalam hal ini adalah metode Students Team
Achievement Division (STAD). Hal ini sesuai dengan hasil meta analisis
metode pembelajaran yang dilakukan oleh Soedomo, 1990 (dalam Puger,
2004) yang menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan oleh
seorang guru berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
Seperti telah diketahui bersama bahwasannya mata pelajaran.......
menitikberatkan pembelajaran pada aspek kognitif, .............., dan .......

52
sebagai pedoman prilaku kehidupan sehari-hari siswa. Untuk penyelesaian
kesulitan yang ada maka penggunaan metode ini dapat membantu siswa
untuk berkreasi, bertindak aktif, bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat,
bertanya, berdiskusi, berargumentasi, bertukar informasi dan memecahkan
masalah yang ada bersama dengan anggota kelompok diskusinya. Hal
inilah yang membuat siswa berpikir lebih tajam, lebih kreatif dan kritis
sehingga mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan
efek selanjutnya adalah para siswa akan dapat memahami dan meresapi
mata pelajaran PKn.......... lebih jauh.
Kendala yang masih tersisa yang perlu dibahas adalah prestasi
belajar yang dicapai pada siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai
dengan tuntutan KKM mata pelajaran.PKn........... di sekolah ini yaitu.
72..... Oleh karenanya upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu
diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang lebih matang
untuk siklus selanjutnya.

2. Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus II


Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan
bahwa kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini
terbukti dari rata-rata nilai siswa mencapai.......... Hasil ini menunjukkan
bahwa metode Students Team Achievement Division (STAD) telah
berhasil meningkatkan kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan.
Students Team Achievement Division (STAD) merupakan model yang
cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka memiliki
kemampuan berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan pendapat secara
lugas, bertukar pikiran, berargumentasi, mengingat penggunaan metode ini
adalah untuk memupuk kemampuan intelektual siswa, mendorong siswa
untuk mampu menemukan sendiri, menempatkan siswa pada posisi sentral
dan mengupayakan agar siswa tidak belajar dengan menghafal.
Hasil penelitian ini ternyata telah memberi efek utama bahwa
model yang diterapkan dalam proses pembelajaran berpengaruh secara

53
signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Temuan ini membuktikan
bahwa guru sudah tepat memilih metode dalam melaksanakan proses
pembelajaran karena pemilihan metode merupakan hal yang tidak boleh
dikesampingkan. Hal ini sejalan pula dengan temuan-temuan peneliti lain
seperti yang dilakukan oleh Inten (2004) dan Puger (2004) yang pada
dasarnya menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Mata pelajaran..PKn.......... menitikberatkan kajiannya pada aspek
kognitif, Apektif............. sebagai pedoman atas kemampuan siswa baik
pikiran, prilaku maupun keterampilan yang dimiliki. Untuk semua bantuan
terhadap hal ini, model pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) menempati tempat yang penting karena dapat
mengaktifkan siswa secara maksimal. Dari nilai yang diperoleh siswa,
lebih setengah siswa mendapat nilai .tinggi......., 8........ siswa memperoleh
nilai menengah dan 3...... siswa memperoleh nilai rendah. Dari
perbandingan nilai ini sudah dapat diyakini bahwa prestasi belajar siswa
dapat ditingkatkan dengan penggunaan model pembelajran Students Team
Achievement Division (STAD).
Melihat perbandingan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II,
terjadi kenaikan yang signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah6,5
.2,0.... naik di siklus I menjadi 8,5........ dan di siklus II naik menjadi
86....... Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan
nilai ini adalah dari upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan
peneliti demi peningkatan mutu pendidikan dan kemajuan pendidikan
khususnya di SMA.Negeri 1 Kerambitan...............................

54
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Dengan mengetahui bahwa pemicu rendahnya aktivitas belajar dan
prestasi belajar ada pada faktor-faktor seperti metode yang digunakan guru,
sehingga penggunaan atau penggantian metode konvensional menjadi metode-
metode yang sifatnya konstruktivis sangat diperlukan, akibatnya peneliti
mencoba model pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
dalam upaya untuk dapat memecahkan permasalahan yang ada di sekolah.
Berdasar pada rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa yang
disampaikan pada latar belakang masalah, penggunaan model pembelajaran
Students Team Achievement Division (STAD) diupayakan untuk dapat
menyelesaikan dua tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan
prestasi belajar siswa. Seberapa besar peningkatan yang dicapai sudah
dipaparkan dengan jelas pada akhir analisis. Dari hasil penelitian yang
disampaikan di Bab IV dan semua data yang telah disampaikan tersebut,
tujuan penelitian yang disampaikan sudah dapat dicapai.
Untuk menjawab tujuan penelitian yaitu pencapaian kenaikan prestai belajar
siswa dapat dilihat bukti-bukti yang sudah disampaikan.
a. Dari data awal ada ..... siswa mendapat nilai di bawah ........ pada siklus I
menurun menjadi ...... siswa dan siklus II hanya ............ siswa mendapat
nilai .............
b. Dari rata-rata awal..... naik menjadi ...... pada siklus I dan pada siklus II
naik menjadi ..........
c. Dari data awal siswa yang tuntas hanya ..... orang sedangkan pada siklus I
menjadi lebih banyak yaitu ....... siswa dan pada siklus II menjadi cukup
banyak yaitu ...... siswa.

55
Dari semua data pendukung pembuktian pencapaian tujuan
pembelajaran dapat disampaikan bahwa model pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD) dapat memberi jawaban yang
diharapkan sesuai tujuan penelitian ini. Semua ini dapat dicapai adalah
akibat kesiapan dan kerja keras peneliti dari sejak pembuatan proposal,
review hal-hal yang belum bagus bersama teman-teman guru, penyusunan
kisi-kisi dan instrumen penelitian, penggunaan sarana trianggulasi data
sampai pada pelaksanaan penelitian yang maksimal.

B. Saran
Berdasarkan temuan yang sudah disimpulan dari hasil penelitian, dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran dalam bidang studi..............................., dapat
disampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Apabila mau melaksanakan proses pembelajaran pada mata
pelajaran..............., penggunaan model pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD) semestinya menjadi pilihan dari beberapa
metode yang ada mengingat metode ini telah terbukti dapat meningkatkan
kerjasama, berkreasi, bertindak aktif, bertukar informasi, mengeluarkan
pendapat, bertanya, berargumentasi dan lain-lain.
2. Walaupun penelitian ini sudah dapat membuktikan efek utama dari model
Students Team Achievement Division (STAD) dalam meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar, sudah pasti dalam penelitian ini masih ada
hal-hal yang belum sempurna dilakukan, oleh karenanya kepada peneliti
lain yang berminat meneliti topik yang sama untuk meneliti bagian-bagian
yang tidak sempat diteliti.
3. Selanjutnya untuk adanya penguatan-penguatan, diharapkan bagi peneliti
lain untuk melakukan penelitian lanjutan guna verifikasi data hasil
penelitian ini.

56
57
DAFTAR PUSTAKA

Abdul. 2002. http://www.scribd.com/doc/9037208/

Anastasi, Anne. 1976. Psychological Testing. Fifth Edition. New York:


Macmillan Publishing Co., Inc.

Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.


Jakarta: PT Bumi Aksara.

Azwar, Saifuddin. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan


Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007. Jakarta: BSNP.

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dimyati dan Mudjiono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti.

Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.

Fernandes, H.J.X. 1984. Testing and Measurement. Jakarta. National Education


Planning, Evaluation and Curriculum Development.

Fraenkel, Jack R. and Norman E. Wallen. 1993. How to Design and Evaluate
Research in Education. Second Edition. New York: McGraw-Hill, Inc.

Good, Thomas L. & Jere E. Brophy. 1990. Educational Psychology, A Realistic


Approach. New York: Longman.

Gagne, Robert M. 1977. The Conditions of Learning. Third Edition. New York:
Holt, Reinhart and Winston.

Gay, L. R. 1987. Educational Research: Competencies for Analysis and


Application. Seventh Edition. Columbus, Ohio: Merrill Publishing
Company.

Gregory, Robert J. 2000. Psychological Testing: History, Principles, and


Applications. Boston: Allyn and Bacon.

Gronlund, Norman E. 1982. Constructing Achievement Tests. Third Edition.


London: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

58
Herrhyanto, Nar dan Hamid, Akib. 2006. Statistika Dasar. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Hilke, Eileen Veronica. 1998. Fastback Cooperative Learning. New York:


McGraw-Hill, Inc.

Inten, I Gede. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran dan Pengetahuan Awal Siswa
Terhadap Prestasi Belajar PKn dan Sejarah pada Siswa Kelas II di SMU
Laboratorium IKIP Negeri Singaraja. Tesis. Program Pascasarjana IKIP
Negeri Singaraja.

Irianto, Agus. 1989. Bahan Ajaran Statistika Pendidikan (Buku Kedua). Jakarta:
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Johnson, David W. and Roger T. Johnson. 1984. Cooperation in the Classroom.


Edina,Minnesota: A publication Interaction Book Company.

------- et al. 1984. Circles of Learning. Fairfax, Va.: Association for Supervision
and Curriculum Development.

------- and R.T. Johnson. 1987. Learning Together and Alone: Cooperation,
Competition, and Individualistic Learning. Englewood Cliffs, N.J.:
Prentice-Hall.

Lickona, Thomas. 1992. Educating For Character. How Our Schools Can Teach
Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Maksum, Ahmad, 2006. Pengaruh Metode Pembelajaran Students Team


Achievement Division (STAD) terhadap Hasil Belajar Sejarah dan Sikap
Nasionalisme Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Sukamulia, Lombok Timur,
NTB. Tesis. Singaraja. Universitas Pendidikan Ganesha. Program
Pascasarjana.

Miles, Matthew, B. Dan A. Michael Hubberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.


Terjemahan Tjetjep Roheadi Rohidi. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.

Modern Educators and Lexicographers. 1939. Webster’s New American


Detionary. New York: 140 Broadway, Books, Inc.

Montgomery, Douglas C. 1991. Design and Analysis of Experiments. Third


Edition. Canada: John Willy & Sons, Inc.

Murwansyah dan Mukaram. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung:


Pusat Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, Indonesia..

59
Nana Sudjana. 2000. http//www.scribd.com/doc/9037208/

Nasution, S. 1972. Didaktik Sekolah Pendidikan Guru: Asas-Asas Didaktik


Metodologi Pengajaran dan Evaluasi. Depdikbud: Jakarta.

Nur, Mohamad et al. 2001. Teori Belajar. Surabaya: University Press.

Nurman, Muhammad, 2006. Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran


Students Team Achievement Division (STAD) dan Expositori terhadap
SIkap Politik Berdemokrasi dan Prestasi Belajar Siswa pada
Pembelajaran PPKn di SMA (Tesis). Singaraja. Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja, Program Pascasarjana.

Popham, W. James dan Eva L. Baker. 1984. Bagaimana Mengajar Secara


Sistematis. Diterjemahkan Oleh R.H. Dj. Sinurat et al. Yogyakarta:
Kanisius.

Puger, I Gusti Ngurah. 2004. Belajar Kooperatif. Diktat Perkuliahan Mahasiswa


Unipas.

-------. 2004. Pengaruh Metode Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir


Silogisme Terhadap Prestasi Belajar Biologi pada Siswa Kelas III SMP
Negeri Seririt (Eksperimen pada Pokok Bahasan Reproduksi Generatif
Tumbuhan Angiospermae). Tesis. Program Pascasarjana IKIP Negeri
Singaraja.

Purwanto, Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Putrayasa, Ida Bagus. 2005. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Students


Team Achievement Division (STAD) dalam Upaya Meningkatkan
Aktivitas, Kreativitas, dan Logikalitas. (Tesis). Singaraja. Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja.

Rasmini, Ni Luh. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD


(Students Teams Achievement Division) dan Kemampuan Abstraksi
terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Wisata Sanur Denpasar.
Tesis. Singaraja: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.

Sardiman, A.M. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar Pedoman bagi


Guru dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sax, Gilbert. 1979. Foundations of Educational Research. New Jersey: Prentice-


Hall, Inc., Englewood Cliffs.

60
Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpanbalik. Jakarta: PT
Grasindo.

Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning : Theory, Research, and Practice.


Boston: Allyn and Bacon.

Soedomo, M. 2001. Landasan Pendidikan. Malang: Penyelenggaraan Pendidikan


Pascasarjana Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi.

Soemanto, Wasty. 2001. Pengantar Psikologi Pendidikan. Surabaya: Usaha


Nasional.

Sriyono. 1992. http://www.scribd.com/doc/9037208/

Sudijono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

-------. 2001. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana, Nana. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Sukidin, Basrowi, Suranto. 2002. Menajemen Penelitian Tindakan Kelas.


Penerbti: Insan Cendekia ISBN: 979 9048 33 4.

Supardi, 2005. Pengembangan Profesi dan Ruang Lingkup Karya Ilmiah. Jakarta:
Depdiknas.

Suryabrata, Sumadi. 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta:


Penerbit Andi.

Syaodih Sukmadinata, Nana. 2007. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung:


Remaja Rosda Karya.

Tim Prima Pena. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gramedia Press.

Tim Redaksi Focus Media. 2006. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20


Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Bandung: Focus
Media.
Tim Redaksi Fokus Media. 2006. Himpunan Perundang-Undangan dan Undang-
Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan
Pemerintah No. 19 Tahun 2005. Bandung: Focus Media.

61
Tuckman, Bruce W. 1972. Conducting Educational Research. New York:
Harcourt Brace Javonovich, Inc.

Uno, B. Hamzah, et. al. 2001. Pengembangan Instrumen Untuk Penelitian.


Jakarta: Delima Press.

Wardani, I. G. A. K Siti Julaeha. Modul IDIK 4307. Pemantapan Kemampuan


Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wojowasito. 1982. Kamus Umum Lengkap Inggris Indonesia – Indonesia Inggris.
Malang: Delta Citra Grafindo.

Woolfolk, Anita E. 1993. Educational Psychology. Fifth Edition. Boston: Allyn


and Bacon.

62
Lampiran 1. Tes Prestasi Belajar............ (tes yang digunakan untuk mencari data
awal penelitian)

63
64
Lampiran 2. Lembar Observasi Penilaian Kesesuaian Belajar Students Team Achievement Division (STAD) sebagai Upaya Validasi Data

Keterangan Penilaian:
1. Sangat tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
2. Tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
3. Sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
4. Sangat sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
Siswa
Siswa Pembelajaran Menunjukkan Siswa
Siswa
Siswa Giat Menemukan Betul Siswa Kemampuan Siswa Cepat Mampu
Menunjukkan Siswa Skor Jumlah
No Nama Siswa Memeriksa Hal-hal Berpusat Menunjukkan Lebih Menanggapi Menelorkan
Kemampuan Kritis 1-4 Skor
Materi Penting dari Pada Diri Konsep Diri Memproses Tuntutan Kesimpulan-
Analisis
Materi Siswa Sesuatu yang kesimpulan
Bermakna
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

65
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

66
Lampiran 3. RPP Siklus I

67
Lampiran 4. Hasil-hasil Ulangan Siswa Siklus I

68
Lampiran 5. Nilai/Prestasi Belajar Siklus I
NO SUBJEK PENELITIAN NILAI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

69
26
27
28
29
30

70
Lampiran 6. Penilaian Kebenaran Siswa Melakukan Pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD) Siklus I oleh Guru yang
Ikut Mengamati Proses Pembelajaran sebagai Upaya Validasi Data

Keterangan Penilaian:
1. Sangat tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
2. Tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
3. Sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
4. Sangat sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
Jumlah Siswa
Siswa yang Kemampuan Siswa Menunjukkan Siswa Mampu
Pembelajaran Siswa Cepat
Benar Kategori Tim Menunjukkan Siswa Kemampuan Lebih Menelorkan
No Betul Berpusat Menanggapi
Mengikuti Tim Menjawab Kemampuan Kritis Memproses Kesimpulan-
Pada Diri Siswa Tuntutan
Pembelajaran Soal-soal Analisis Sesuatu yang kesimpulan
STAD Bermakna

71
Lampiran 7. Bukti Pemanggilan Siswa yang Lemah sebagai Upaya Inovasi
Hasil Panggilan, Diskusi, Tanya Tanda
No Nama Siswa Jawab terhadap Siswa yang Tangan
Lemah Siswa

72
Lampiran 8. Bukti Pengamatan Teman Sejawat terhadap Kesesuaian/Ketepatan
Pelaksanan Proses Pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) Siklus I sebagai Upaya Trianggulasi terhadap
Pelaksanaan Penelitian

Catatan-catatan masukan-masukan selama pelaksanaan proses pembelajaran


Students Team Achievement Division (STAD) Siklus I di Kelas...........
SMA...............................
1. Peneliti sudah berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun,
menuntun siswa dengan baik.
2. Pembelajaran belum maksimal karena baru dilakukan 1 kali.
3. Siswa terlihat belum begitu aktif.
4. Alat bantu belajar belum maksimal.
5. Kebersihan papan tulis belum diperhatikan.
6. Penekanan pada kegiatan intelektual siswa terlihat belum maksimal karena
terlihat guru masih mendominasi waktu pembelajaran
7. Guru sulit memunculkan siswa untuk produktif, kritis, analitis.

Guru yang Mengamati

( )
NIP.

73
Lampiran 9. RPP Siklus II

74
Lampiran 10. Penilaian Kebenaran Siswa Melakukan Pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD) Siklus II oleh Guru yang
Ikut Mengamati Proses Pembelajaran sebagai Upaya Validasi Data

Keterangan Penilaian:
1. Sangat tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
2. Tidak sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
3. Sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
4. Sangat sesuai dengan pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD)
Jumlah Siswa
Siswa yang Kemampuan Siswa Menunjukkan Siswa Mampu
Pembelajaran Siswa Cepat
Benar Kategori Tim Menunjukkan Siswa Kemampuan Lebih Menelorkan
No Betul Berpusat Menanggapi
Mengikuti Tim Menjawab Kemampuan Kritis Memproses Kesimpulan-
Pada Diri Siswa Tuntutan
Pembelajaran Soal-soal Analisis Sesuatu yang kesimpulan
STAD Bermakna

75
Lampiran 11. Hasil-hasil Ulangan Siswa Siklus II

76
Lampiran 12. Prestasi Belajar Siswa Siklus II
NO SUBJEK PENELITIAN NILAI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

77
29
30
Lampiran 13. Bukti Pengamatan Teman Sejawat terhadap Kesesuaian/Ketepatan
Pelaksanan Proses Pembelajaran Students Team Achievement
Division (STAD) Siklus II

Catatan-catatan masukan-masukan selama pelaksanaan proses pembelajaran


Students Team Achievement Division (STAD) Siklus II di Kelas...........
SMA...............................
1. Waktu pembelajaran sudah dilakukan sesuai harapan.
2. Pembelajaran sudah dilakukan sesuai tuntutan pembelajaran Students
Team Achievement Division (STAD) yaitu: menempatkan siswa dalam
posisi sentral, mengutamakan intelektual siswa salama pembelajaran,
menyuruh siswa menemukan sesuai pembelajaran Students Team
Achievement Division (STAD).
3. Kreativitas siswa terlihat cukup baik, partisipasi siswa juga sudah baik,
kontribusi diantara siswa cukup mengesankan.
4. Kelemahan guru dalam melaksanakan pembelajaran hampir tidak terlihat
lagi karena guru telah menyiapkan pembelajaran ini dengan baik dan
sudah mendapat cukup pengalaman pada pelaksanaan siklus I.
5. Kelemahan yang lain, dapat dilihat yaitu: waktu pemberian tes terpaksa
tidak diberikan pada saat melaksanakan proses pembelajaran, namun akan
dilaksanakan seminggu setelahnya.

Guru yang Mengamati

( )
NIP.

78
79