Anda di halaman 1dari 176

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI


GURU Praktik, Praktis, dan Mudah

i
PERHATIAN
KECELAKAAN BAGI ORANG-ORANG YANG CURANG
(QS Al-Muthaffifin ayat 1)

Para pembajak, penyalur, penjual, pengedar, dan PEMBELI BUKU


BAJAKAN adalah bersekongkol dalam alam perbuatan CURANG.
Kelompok genk ini saling membantu memberi peluang hancurnya citra
bangsa, “merampas” dan “memakan” hak orang lain dengan cara yang
bathil dan kotor. Kelompok “makhluk” ini semua ikut berdosa, hidup dan
kehidupannya tidak akan diridhoi dan dipersempit rizkinya oleh ALLAH
SWT.

ALFABETA
(Pesan dari Penerbit )

ii
Prof. Dr. H. Tukiran Taniredja
Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd. Nyata,
S.Pd.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI
GURU Praktik, Praktis, dan Mudah

ALFABETA
PENERBIT BANDUNG
iii
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang keras memperbanyak, memfotokopi sebagian atau seluruh
isi buku ini, serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin
tertulis dari Penerbit.

© 2010, Penerbit Alfabeta, Bandung


Pdk66 (viii + 168) 16 x 24 cm
Judul Buku : PENELITIAN TINDAKAN KELAS
UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI GURU
Praktik, Praktis, dan Mudah
Penulis : Prof. Dr. H. Tukiran Taniredja
Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
Nyata, S.Pd.
Penerbit : ALFABETA, cv
Jl. Gegerkalong Hilir 84 Bandung
Telp. (022) 200 8822 Fax. (022) 2020 373
Website: www.cvalfabeta.com
Email: alfabetabdg@yahoo.co.id
Cetakan Kesatu : September 2010
ISBN : 978-602-8800-31-0

Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)

iv
KATA PENGANTAR

Sudah sepantasnya apabila pada kesempatan ini penyusun bersyukur


alhamdulillah kepada Allah SWT yang dengan izin dan limpahan rahmat-
Nya telah memberikan petunjuk serta kekuatan lahir batin sehingga
penyusun dapat menyelesaikan buku yang sangat sederhana tentang Praktik
Mudah Penelitian Tindakan Kelas untuk Pengembangan Profesi Guru.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga,
para sahabat dan para ummatnya hingga akhir zaman, amin.
Penulisan buku ini dimaksudkan di samping sebagai materi kuliah
juga untuk meningkatkan dan/atau perbaikan praktik pembelajaran yang
seharusnya dilakukan oleh guru, mengurangi kelemahan dan memperbaiki
praktik-praktik pembelajaran di sekolah. Di samping itu berdasarkan
pengamatan sementara, tidak sedikit para guru baik dari tingkat SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA maupun SMK, yang berhenti pada jenjang kepang-
katan tertentu karena adanya persyaratan penulisan karya ilmiah yang berupa
penelitian tindakan kelas. Penulis berharap dengan adanya buku yang
praktis, mudah, dan sederhana ini dapat membantu mereka.
Terwujudnya buku ini tidak lepas dari adanya berbagai bantuan dari
berbagai pihak, terutama Bu Purwati, Kepala Perpustakaan Universitas
Muhammadiyah Purwokerto beserta staf yang dengan sabar dan tekun
melayani penulis untuk mencarikan dan meminjami buku-buku untuk
kepentingan penulisan buku ini, anak-anakku Bowo, Aam, dan Abduh yang
banyak membantu pengeditan, serta istriku tercinta yang selalu sabar dan
memotivasi, untuk itu semua penulis ucapkan terima kasih.
Penulis menyadari, karena keterbatasan dan kelemahan penyusun,
buku ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, saran dan masukan
sangat diharapkan dari semua pihak. Semoga buku ini bermanfaat, dan
penulis berharap mendapatkan keridhaan Allah.

Purwokerto, 8 Mei 2010


Penyusun

v
SAMBUTAN REKTOR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah, puji syukur sudah seharusnya dan sepantasnya
dipanjatkan kehadirat Allah SWT, yang dengan karunia-Nya telah
melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita. Shalawat dan salam semoga
Allah cucurkan kepada junjungan kita Rasulullah saw beserta keluarga, para
sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, saya
menyambut gembira dengan terbitnya buku Penelitian Tindakan Kelas untuk
Pengembangan Profesi Guru Praktik, Praktis, dan Mudah yang disusun oleh
Prof. Tukiran Taniredja, dkk. ini. Dengan demikian menambah khasanah
karya ilmiah dosen-dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan
bertambah pula bacaan bagi mahasiswa, guru, dan dosen.
Diharapkan dengan terbitnya buku tersebut dapat memperdalam
kajian mahasiswa dalam mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas, dan sebagai
sarana untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam
menangani proses belajar mengajar, serta menumbuhkan budaya meneliti di
kalangan guru dan dosen, amin ya Rabbal’alamin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Purwokerto, 08 Mei 2010


Rektor
Universitas Muhammadiyah Purwokerto,

Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, S.H., M.H.


NBM. 255763

vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................v


SAMBUTAN REKTOR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO ............................vi
DAFTAR ISI ....................................................................................................vii

BAB 1
PENDAHULUAN ............................................................................................1
A. Penelitian Tindakan Kelas dan Peningkatan Kompetensi Guru....................1
B. Profesionalisasi Guru ....................................................................................4
C. Arti Profesi ...................................................................................................5
D. Guru dan Profesi ...........................................................................................7
E. Kompetensi Guru .........................................................................................11

BAB 2
HAKIKAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS .........................................15
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas ..........................................................15
B. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas ................................................................17
C. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas ......................................................18
D. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ................................................................20
E. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas .............................................................21

BAB 3
MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS .............................23
A. Model Kurt Lewin ........................................................................................23
B. Model Kemmis dan McTaggart ....................................................................24
C. Model John Elliott........................................................................................25
D. Model Hopkin ...............................................................................................26
E. Model Dave Ebbutt ......................................................................................26
F. Model Gabungan Sanford dan Kemmis .......................................................28

vii
BAB 4
PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS ..........31
A. Judul Penelitian.............................................................................................32
B. Bidang Kajian ...............................................................................................32
C. Pendahuluan .................................................................................................33
D. Perumusan dan Pemecahan Masalah ............................................................33
E. Tujuan Penelitian .........................................................................................34
F. Manfaat Hasil Penelitian ..............................................................................34
G. Kajian Pustaka ..............................................................................................34
H. Rencana dan Prosedur Penelitian ..................................................................34
I. Jadwal Penelitian ..........................................................................................35
J. Biaya Penelitian ............................................................................................36
K. Personalia Penelitian .....................................................................................36
L. Daftar Pustaka ..............................................................................................36
M. Lampiran-lampiran.......................................................................................36

BAB 5
PROSEDUR PELAKSANAAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS .............................................................37
A. Identifikasi Masalah Pembelajaran ...............................................................37
B. Menganalisis dan Merumuskan Masalah Pembelajaran ...............................38
C. Merencanakan Tindakan Berdasarkan Rumusan Masalah ...........................40
D. Melaksanakan Tindakan, Observasi, dan Asesmen ......................................41
E. Menganalisis Data Observasi dan Asesmen serta Interpretasi .....................41
F. Melakukan Refleksi dan Merencanakan Tindak Lanjut
untuk Siklus Berikutnya ...............................................................................41

BAB 6
MENYUSUN LAPORAN AKHIR
PENELITIAN TINDAKAN KELAS .............................................................43

LAMPIRAN .....................................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................167

viii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Penelitian Tindakan Kelas dan Peningkatan Kompetensi Guru

Menurut Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan


dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2005: 1) bahwa peningkatan kualitas
pendidikan di sekolah dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain
peningkatan bekal awal siswa baru, peningkatan kompetensi guru, pening-
katan isi kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan penilaian hasil
belajar siswa, penyediaan bahan ajar yang memadai, dan penyediaan sarana
belajar. Dari semua cara tersebut peningkatan kualitas pembelajaran melalui
peningkatan kualitas pendidik menduduki posisi yang sangat strategis dan
akan berdampak positif. Dampak positif tersebut berupa: (1) peningkatan
kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan masalah pembel-
ajaran yangdihadapi secara nyata; (2) peningkatan kualitas masukan, proses,
dan hasil belajar; (3) peningkatan keprofesionalan pendidik; dan (4)
penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
Ketika Jepang diluluhlantakkan oleh Sekutu pada Perang Dunia II
tahun 1945, informasi yang pertama kali dicari oleh Kaisar Jepang pada
waktu itu adalah “Masih berapa guru kita yang hidup?” Ini menunjukkan
betapa besar perhatian Jepang terhadap aset yang penting yakni Sumber
Daya Manusia, terutama guru. Maka tidak mengherankan apabila Jepang
tidak terlalu lama dapat bangkit kembali dan bahkan dapat mengungguli
Amerika Serikat dalam beberapa bidang teknologi. Padahal kondisi Jepang

Pemimpin Berkarakter Pancasila 1


pada saat itu (sama-sama tahun 1945) jauh lebih parah daripada kondisi
negara kita tercinta ini.
Era globalisasi identik dengan era kualitas. Sejak lama telah dipre-
diksikan bahwa kemajuan dan keunggulan suatu bangsa dan Negara tidak
tergantung dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa dan
Negara tersebut, akan tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya
manusia yang dimiliki oleh bangsa dan negara yang bersangkutan.
Kekalahan bersaing SDM kita dalam pasar bebas akan berdampak
fatal bagi kehidupan masyarakat kita. Jeritan kemiskinan, kelaparan,
pengangguran, akan menjadi fenomena yang menyayat kehidupan bangsa.
Oleh karena itu, Djohar (1999:12) merekomendasikan pemikiran reformasi
pendidikan, yang intinya agar generasi bangsa kita mampu menghadapi
kehidupan era di pasar bebas, maka pendidikan diharapkan: (1) mampu
menggerakkan pikiran anak; (2) mampu mematangkan emosi anak, karena
kematangan emosi akan menentukan keberhasilan hidup anak; (3) mampu
melatih anak untuk melihat permasalahan hidup dan terlatih memecahkan
masalah itu dengan cara yang benar; (4) mampu bersifat kontekstual; dan
(5) mampu berorientasi mengembangkan peserta didik ke arah membangun
kebulatan pertumbuhan anak secara utuh.
Peningkatan kualitas sumberdaya manusia merupakan kebutuhan
yang tidak mungkin ditunda. Karena kekalahan bersaing di dunia global
akan menyebabkan bangsa tersebut menjadi bangsa yang terpuruk dan
bahkan terbelakang.
Sekolah merupakan salah satu tempat (jika tidak boleh dikatakan
tempat utama) yang memiliki peran yang sangat tepat, merupakan lembaga
yang sentral dan strategis dalam rangka meningkatkan kualitas sumbedaya
manusia, karena memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dibandingkan
dengan tempat-tempat pendidikan lainnya. Oleh karena itu, peningkatan
kualitas pendidikan di Negara kita, sudah merupakan suatu keharusan dan
kebutuhan yang sangat mendesak dan tak dapat ditunda lagi.
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat tergantung pada proses
belajar mengajar. Tidak selamanya guru melaksanakan proses belajar
mengajar dengan baik. Hal ini banyak ditentukan oleh berbagai faktor, baik
faktor dalam (intern) maupun faktor yang ada di luar siswa (ekstern). Oleh
karena itu, secakap apapun guru, dalam poses belajar mengajar tentu suatu

2 Pemimpin Berkarakter Pancasila


ketika akan mengalami ketidakberhasilan. Hanya sayang hal-hal seperti ini
tidak disadari oleh guru.
Yang lebih penting dalam hal ini guru hendaknya menyadari
kekurangberhasilan tersebut, bukannya bersikap tidak mau tahu. Apa
penyebab kekurangberhasilan dalam proses belajar mengajar tersebut,
sehinggga setelah guru menyadari adanya permasalahan dalam proses
belajar mengajar, segera mengidentifikasi berbagai permasalahan yang
muncul dalam proses belajar mengajar, atau paling tidak apa yang harus
diprioritaskan dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang
lebih baik dari sebelumnya.
Guru diharapkan memiliki kemauan untuk berkolaborasi dengan
peneliti lain, guna mengadakan perbaikan kualitas proses pembelajarannya.
Dengan adanya tindakan ini akan menguntungkan bagi guru, yakni tumbuh
dan berkembangnya budaya meneliti di kalangan guru, yang sangat
menguntungkan bagi guru yang bersangkutan.
Keprihatinan lainnya, peringkat kualitas pendidikan di negara kita
masih sangat terpuruk. Sungguh sangat menyedihkan kita berada jauh di
bawah Malaysia, yang beberapa tahun silang masih banyak menghadirkan
tenaga-tenaga ahli dari negara kita, tetapi sekarang yang terjadi adalah
kebalikannya. Bahkan peringkat kualitas pendidikan di negara kita yang
konon merupakan negara yang “Gemah ripah tata tentrem kerta raharja,
subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku” ini di bawah negara
tetangga kita Vietnam yang baru saja mengalami gejolak perang saudara.
Peringkat kualitas pendidikan yang dimaksud dapat dilihat pada tabel di
bawah ini
Tabel 1.1
Peringkat Kualitas Pendidikan
Rank Negara Nilai
1 Korea Selatan 3,09
2 Singapura 3,19
3 Jepang 3,50
4 Taiwan 3,96
5 India 4,24
6 Cina 4,27
7 Malaysia 4,41

Pemimpin Berkarakter Pancasila 3


8 Hong Kong 4,72
9 Philipina 5,47
10 Thailand 5,96
11 Vietnam 6,21
12 Indonesia 6,56
Sumber: The Political and Economic Risk Consultancy, (dalam Suyanto, 2005)
Keterangan:
Skor tertinggi 0 = Nilai yang baik terhadap sistem Pendidikan Skor
terendah 10 = Nilai yang rendah terhadap sistem pendidikan

B. Profesionalisasi Guru

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional dan


dapat dipertanggungjawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang
mantap, stabil, dan dewasa (Mulyasa, 2007). Kadang atau bahkan agak
sering kita dengar, kita baca, dan kita lihat dari berbagai media berbagai
kasus yang disebabkan oleh kepribadian guru yang kurang mantap, kurang
stabil dan kurang dewasa, seperti tindakan asusila, tindakan tidak senonoh,
tindakan kriminal, dan termasuk tindakan-tindakan yang tidak profesional,
yang merusak citra dan martabat guru. Hal tersebut adalah sebuah fakta yang
sangat memprihatinkan.
Fakta ini diungkap oleh Ditjen Peningkatan mutu Pendidikan dan
Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai
nol untuk materi mata pelajaran yang mereka ajarkan kepada murid-
muridnya. Fakta ini terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan
terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu.
Secara nasional penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak
mencapai 50% dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi
guru. Skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga
memprihatinkan. Guru PPKn, Sejarah, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Fisika, Kimia, Ekonomi, Sosiologi, Gegrafi, dan Pendidikan Seni
hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari
40 soal. “Artinya rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 23 dari 46
untuk skor nilai tertinggi 100,” (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006, dalam Panitia
Sertifikasi Guru Rayon 12 LP3 Unnes Semarang).

4 Pemimpin Berkarakter Pancasila


C. Arti Profesi

Secara tradisional profesi mengandung arti prestise, kehormatan,


status sosial, dan otonomi lebih besar yang diberikan oleh masyarakat
kepadanya. Terdapat kriteria yang mencirikan dan membedakan profesi dari
pekerjaan non profesional, yaitu; (1) berdasarkan sejumlah pengetahuan
spesialis dan keahlian tertentu yang tidak dikuasai oleh orang lain yang tidak
profesional; (2) untuk menguasai pengetahuan dan keahlian itu diperlukan
waktu pelatihan dan pendidikan yang relatif lama; (3) kegiatan tersebut
dilakukan berdasarkan suatu teori dan teknik intelektual atau metode untuk
memecahkan persoalan yang dihadapi; (4) adanya kode etik yang memberi-
kan patokan standar kegiatan dan juga mengatur bagaimana para anggota
profesi seharusnya bertindak; (5) adanya organisasi profesi yang mengawasi
dan melakukan kontrol terhadap profesi itu serta menentukan kode etiknya;
(6) adanya otonomi untuk membuat keputusan-keputusan pada bidang kerja
tertentu; (7) adanya norma-norma perizinan dan syarat-syarat masuk ke
dalam profesi tersebut; (8) komitmen kepada kerja dan kegiatan profesional
bersangkutan dan kepada klien yang menerima pelayanan dari profesi
bersangkutan; (9) penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan,
artinya anggota profesi bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang
dilakukan sehubungan dengan pelayanan yang diberikan; (10) adanya
kepercayaan masyarakat kepada pelaksana-pelaksana individual, dengan
kata lain profesi itu dapat meyakinkan bahwa status profesi memiliki
kualitas yang cukup; (11) mempunyai prestise dan sekaligus penghasilan
yang tinggi (Anwar, 2003:27-28).
Liebermen sebagaimana yang dikutip Dreeben (dalam Zamroni, 2003:
62) mengemukakan bahwa suatu pekerjaan dapat disebut sebagai profesi
apabila pekerjaan tersebut memiliki ciri-ciri: (1) memberikan pelayanan
tertentu; (2) untuk memberikan pelayanan tersebut memerlukan ilmu
tertentu; (3) ilmu tersebut diperoleh dari suatu proses pendidikan memakan
waktu relatif lama; (4) memilki otonomi dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut; (5) pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut memiliki tanggung
jawab profesional atas apa yang dilakukan; (6) lebih menekankan pada mutu
pelayanan yang diberikan daripada keuntungan yang diperoleh; (7) terdapat
kontrol untuk masuk dan keluar dari profesi; (8) memiliki kode etik profesi;
(9) memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat.

Pemimpin Berkarakter Pancasila 5


Good, dalam Samana (1994: 27) menjelaskan bahwa pekerjaan yang
berkualifikasi profesional memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu: (1) memerlukan
persiapan atau pendidikan khusus bagi calon pelakunya (membutuhkan
pendidikan pra-jabatan yang relevan); (2) kecakapan seorang pekerja
profesional dituntut memenuhi persyaratan yang telah dibakukan oleh pihak
yang berwewenang (misalnya organisasi profesional, konsorsium, dan
pemerintah),; (3) jabatan profesional tersebut mendapatkan pengakuan dari
masyarakat dan atau negara (dengan segala civil effect-nya).
Profesi dapat diartikan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut
keahlian (expertise) dari para anggotanya. Artinya, ia tidak bisa dilakukan
oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus
untuk melakukan pekerjaan itu yang memiliki ciri-ciri: (1) Fungsi dan
signifikansi sosial, maksudnya bahwa suatu profesi merupakan suatu
pekerjaan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial dan krusial; (2)
Keterampilan/keahlian untuk mewujudkan fungsi ini menuntut derajat
keterampilan /keahlian tertentu; (3) Pemerolehan keterampilan tersebut
bukan hanya dilakukan secara rutin, melainkan bersifat pemecahan masalah
atau penanganan situasi kritis yang menuntut pemecahan dengan mengguna-
kan teori dan metode ilmiah; (4) Batang tubuh ilmu: suatu profesi didasarkan
kepada suatu disiplin ilmu yang yang jelas, sistematis, dan aksplisit (a
sistematic body of knowledge) dan bukan hanya common sense; (5) Masa
pendidikan, upaya mempelajari dan menguasai batang tubuh ilmu dan
keterampilan/keahlian tersebut membutuhkan masa latihan yang lama,
bertahun-tahun, dan tidak cukup hanya beberapa bulan. Hal ini dilakukan
pada tingkat perguruan tinggi; (6) Aplikasi dan sosialisasi profesional,
bahawa proses pendidikan tersebut juga merupakan wahana untuk sosialisasi
nilai-nilai profesional di kalangan para siswa/mahasiswa; (7) Kode etik
dalam memberikan pelayanan kepada klien, yakni seorang profesional
berpegang teguh kepada kode etik yang pelaksanaannya dikontrol oleh
organisasi profesi. Setiap pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan
sanksi; (8) Kebebasan utnuk memberikan judgment, bahwa anggota suatu
profesi mempunyai kebebasan untuk menentukan judgment-nya sendiri
dalam menghadapi atau memecahkan sesuatu dalam lingkup kerjanya;
(9) Tanggung jawab profesional dan otonomi, maknanya bahwa komitmen
pada suatu profesi adalah melayani klien dan masyarakat dengan sebaik-
baiknya.Tanggung jawab profesional harus diabdikan kepada mereka. Oleh

6 Pemimpin Berkarakter Pancasila


karena itu, praktik profesional itu otonom dari campur tangan pihak luar;
(10) Pengakuan dan imbalan, artinya sebagai imbalan dari pendidikan dan
latihan yang lama, komitmennya dan seluruh jasa yang diberikan kepada
klien, maka seorang profesional mempunyai pretise yang tinggi di mata
masyarakat, dan karenanya juga imbalan yang layak (Satori, et al, 2001: 1.3-
1.5).
Profesional berarti pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau
norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

D. Guru dan Profesi

Menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan


Dosen, bahwa baik guru maupun dosen merupakan pendidik profesional.
Guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarah-
kan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak
usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. sedangkan dosen di samping sebagai pendidik profesional juga
ilmuwan yang bertugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan,
penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.
Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru menurut Rickey (dalam Satori,
2001: 1.19) sebagai berikut: (1) Akan bekerja hanya semata-mata memberi-
kan pelayanan kemanusiaan daripada untuk kepentingan pribadi; (2) Secara
hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan lisensi
mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota organisasi
guru; (3) Dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi
dalam hal bahan pengajar, metode, anak didik, dan landasan pendidikan;
(4) Dalam organisasi profesional, memiliki publikasi profesional yang dapat
melayani para guru, sehingga tidak ketinggalan, bahkan selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi; (5) Selalu diusahakan untuk selalu mengikuti
kursus-kursus, workshop, seminar, konvensi serta terlibat secara luas dalam
berbagai kegiatan “in service”; (6) Diakui sepenuhnya sebagai karier hidup
(a life career); (7) Memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional
maupun secara lokal.

Pemimpin Berkarakter Pancasila 7


Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi
untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Hanya ada sedikit perbedaan
fungsi antara guru dan dosen. Guru sebagai tenaga profesional berfungsi
untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran,
sedangkan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan
peran dosen sebagai agen pembelajaran, serta pengabdian kepada masya-
rakat. Jadi baik guru maupun dosen sebagai tenaga profesional berfungsi
untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, yang bertujuan untuk
melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan
pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi
warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab (Pasal 4, 5, dan 6 UU
No. 14 Tahun 2005).
Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang
dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip:
1. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa adan idealisme;
2. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia;
3. memiliki kualifikasi akademik dan latar pendidikan sesuai dengan bidang
tugas;
4. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
5. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
6. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
7. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat (Pasal 7 UU No. 14 Tahun
2005).
Menurut National Education Association (NEA) (dalam Soetjipto
dan Raflis Kosasi, 2004:18) menyarankan adanya kriteria profesi keguruan
yang meliputi: (1) jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual; (2) jabatan
yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus; (3) jabatan yang
memerlukan persiapan profesional yang lama; (4) jabatan yang memerlukan
“latihan dalam jabatan” yang bersinambungan; (5) jabatan yang menjanjikan
karier hidup dan keanggotaan yang permanen; (6) jabatan yang menentukan
baku (standarnya) sendiri; (7) jabatan yang lebih mementingkan layanan di

8 Pemimpin Berkarakter Pancasila


atas keuntungan pribadi; (8) jabatan yang mempunyai organisasi profesional
yang kuat dan terjalin erat.
Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan
profesional, yaitu kemampuan untuk dapat: (1) merencanakan program
belajar mengajar; (2) melaksanakan dan memimpin kegiatan belajar meng-
ajar; (3) menilai kemajuan kegiatan belajar mengajar; (4) menafsirkan dan
memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi
lainnya bagi penyempurnaan perencanaan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar (Soedijarto, 1993).
Untuk mewujudkan sekolah yang efektif, guru dituntut menguasai
sepuluh pengetahuan dasar yang meliputi: (1) mengembangkan kepribadian;
(2) menguasai landasan pengetahuan; (3) menguasai bahan pengajaran; (4)
menyusun program pengajaran; (5) melaksanakan program pengajaran; (6)
menilai proses dan program pengajaran; (7) menyelenggarakan program
bimbingan; (8) menyelenggarakan administrasi sekolah; (9) berinteraksi
dengan sejawat dan masyarakat; (10) menyelenggarakan penelitian seder-
hana untuk keperluan pengajaran (Sukarman, 1999).
Keadaan masyarakat yang akan datang tentu sangat berbeda dengan
masyarakat sekarang ini. Menghadapi masyarakat yang akan datang yang
serba tidak menentu, Asosiasi Administrator Sekolah Amerika (dalam
Zamroni, 2003:59) dengan memusatkan pada pengetahuan, keterampilan,
dan perilaku siswa, yang harus dikuasai siswa untuk dapat hidup di masya-
rakat abad 21, adalah sebagai berikut:
1. Untuk dapat hidup sukses pada abad 21, siswa harus memiliki nilai-nilai
kejujuran, integritas, dan kerja keras. Siswa harus meningkatkan
tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Mereka harus menghor-
mati orang lain dan melihat perbedaan sebagai sesuatu yang menyebab-
kan suatu bangsa memilki kemerdekaan dan kebebasan.
2. Pendidikan akan mampu mengajarkan 3-R, tetapi tidak akan mampu
menanamkan R yang keempat (responsibility). Upaya menanamkan
tanggung jawab ini, sekolah perlu dibantu oleh orang tua dan dunia
bisnis dengan memberikan “model, moral, dan etika perilaku”. Oleh
karenanya, pendidikan etika menempati tempat yang amat penting
dalam mempersiapkan siswa memasuki abad baru.

Pemimpin Berkarakter Pancasila 9


3. Di samping etika, kemampuan berkomunikasi juga menempati tempat
strategis dalam mempersiapkan siswa memasuki abad 21. Kemampuan
berkomunikasi tidak hanya mencakup kemampuan menulis, membaca,
dan kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan untuk bernegosiasi
dan memecahkan konflik, serta kemampuan mengembangkan hubungan
antar manusia adan kelompok.
4. Pendidikan harus memberikan kemampuan siswa untuk memahami
kaitan antara apa yang dipelajari dengan dan kenyataan hidup yang ada
di masyarakat. Pendidikan harus memberikan kemampuan bagi siswa
untuk menghubungkan antara apa yang dipelajari dan apa yang akan
dilakukan ketika mereka meninggalkan bangku sekolah.
5. Pendidikan harus dapat mempersiapkan siswa untuk secara efisien
memanfaatkan dan mempergunakan informasi.
6. Pendidikan harus dapat meyakinkan siswa bahwa perilaku yang
konstruktif seperti mematuhi kode etik kerja, patuh pada aturan, jujur,
kerja keras, dan memiliki integritas, serta toleransi akan memungkinkan
siswa memperoleh keuntungan dalam kehidupan bermasyarakat.
7. Dalam kaitan dengan dunia bisnis, kemampuan bahasa asing dan
pemahaman akan realitas multi kultiural amat diperlukan. Oleh karena
itu, mata pelajaran sejarah, geografi dunia, dan kebudayaan bangsa-
bangsa perlu untuk lebih dikuasai oleh siswa.
8. Masa depan kehidupan akan menekankan pada standar dan akun-
tabilitas. Oleh karena itu, semenjak kehidupan di sekolah para siswa
dibiasakan dengan menyususn standar dan target serta kerja keras untuk
mewujudkan target dan mencapai standar tertentu.
9. Dukungan pemerintah dan masyarakat amat penting. Namun dukungan
dalam arti finansial saja tidak cukup. Yang juga amat diperlukan adalah
dukungan dalam bentuk apresiasi terhadap guru dan komponen lain
sekolah dari warga masyarakat umumnya dan orang tua siswa serta
siswa sendiri pada khususnya. Kalangan pendidikan dan warga
masyarakat harus kembali memiliki keyakinan akan peran penting
pendidikan terhadap kemajuan bangsa dan masa depan.
10. Pendidikan harus dikelola sedemikian rupa sehingga memiliki keter-
kaitan dengan masyarakatnya.
Amien, dalam Samana (1994: 30) menekankan bahwa proses serta
hasil pendidikan sekolah mesti bersifat kemanusiaan (humanistis), dengan

10 Pemimpin Berkarakter Pancasila


ciri-ciri: (1) menghasilkan lulusan yang percaya diri dan bersikap positif
terhadap masa depannya dan atau memiliki konsep diri yang positif; (2)
berpengetahuan dan berkecakapan dalam kreativitas berpikir dan kemam-
puan memecahkan masalah yang dihadapinya; (3) menghayati serta meng-
amalkan nilai hidup yang luhur sehingga mendamaikan diri serta lingkungan
sosialnya; (4) mampu mengembangkan semua potensi siswa secara ber-
imbang, terpadu, dan kurang lebih optimal (minat serta bakat perorangan
siswa dipandu perkembangannya secara wajar).
Berkaitan dengan kompetensi profesional, menurut Samana (1994)
maka guru/dosen dalam meniti dan mengembangkan kariernya hendaknya
memiliki sepuluh kompetensi atau kemampuan dasar guru yang meliputi
(1) menguasai bahan ajar; (2) mampu mengelola program belajar mengajar;
(3) mampu mengelola kelas; (4) mampu menggunakan media dan sumber
pengajaran; (5) menguasai landasan-landasan kependidikan; (6) mampu
mengelola interaksi belajar mengajar; (7) mampu menilai prestasi belajar
siswa untuk kepentingan pengajaran; (8) mengenal fungsi dan program
pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (9) mengenal dan mampu ikut penye-
lenggaraan administrasi sekolah; (10) memahami prinsip-prinsip penelitian
pendidikan dan dan mampu menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan
untuk kepentingan pengajaran.
Houle, 1989 (dalam Suyanto, 2005:14) menambahkan bahwa
Profesionalisme memiliki karakteristik: (1) memiliki landasan pengetahuan
yang kuat; (2) berdasarkan atas kompetensi individu; (3) memiliki sistem
seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerja sama dan kompetisi sehat antar sejawat;
(5) ada kesadaran profesi yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik;
(7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) ada militansi individual; dan (9)
memiliki organisasi frofesi.

E. Kompetensi Guru

Kompetensi yang diartikan pemilikan, penguasaan, keterampilan,


dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang, maka seorang guru harus
menguasai kompetensi guru, sehingga dapat melaksanakan kewenangan
profesionalnya. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru,
yaitu:

Pemimpin Berkarakter Pancasila 11


1. Kompetensi Profesional
Dalam pembelajaran, guru senantiasa dihadapkan kepada berbagai
masalah, terutama berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pembelajaran.
Masalah-masalah tersebut dapat dihadapi guru melalui PTK, misalnya
sebagai berikut:
a. Bagaimana meningkatkan motivasi peserta didik agar mencapai prestasi
belajar yang optimal.
b. Bagaimana melibatkan peserta didik agar dapat berpartisipasi secara aktif
(baik fisik maupun mental) dalam proses pembelajaran.
c. Bagaimana mendayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk
meningkatkan aktivitas belajar peserta didik.
d. Bagaimana memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk setiap
materi yang diajarkan, sesuai dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar.
e. Bagaimana melaksanakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan.
f. Bagaimana melakukan penilaian yang adil dan transparan, serta dapat
diterima oleh seluruh peserta didik (Mulyasa, 2009: 91-92).
Profesi dapat dilihat dalam dua konteks, yang pertama merupakan
indikator kemampuan yang menujukkan kepada perbuatan yang dapat
diobservasi, dan yang kedua sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek
kognitif dan afektif dengan tahap pelaksanaannya (Sardiman, 2001)
Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut
keahlian (expertise) para anggotanya. Pekerjaan profesi tidak dapat dilaku-
kan sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak siapkan secara khusus
untuk melakukan pekerjaan itu. Kemampuan profesional mencakup
(a) penguasaan materi pelajaran; (b) penguasaan penghayatan atas landasan
dan wawasan kependidikan dan keguruan; dan (c) penguasaan proses-proses
pendidikan.
Kompetensi profesional secara umum dapat diidentifikasikan dan
disarikan tentang ruang lingkup komptensi profesional guru yang meliputi:
(1) mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan; (2) mengerti dan
dapat menerapkan teori belajar sesuai dengan tarap perkembangan peserta
didik; (3) mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang
menjadi tanggung jawabnya; (4) mengerti dan dapat menerapkan metode

12 Pemimpin Berkarakter Pancasila


pembelajaran yang bervariasi; (5) mampu mengembangakan dan mengguna-
kan berbagai alat, media dan sumber belajar yang relevan; (6) mampu
mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran; (7) mampu
melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik; (8) mampu menumbuhkan
kepribadian peserta didik (Mulyasa, 2007).
2. Kompetensi Kepribadian
Menurut penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir b Standar Nasional
Pendidikan, bahwa kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepri-
badian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan
peserta didik dan berakhlak mulia.
Kompetensi kepribadian juga mencakup (1) kepribadian yang utuh,
meliputi: berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; (2) kemampuan
mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objektif,
luwes, berwawasan luas; (3) dapat berkomunikasi dengan orang lain;
(4) kemampuan mengembangkan profesi, seperti berpikir kreatif, kritis
reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat mengambil keputusan. Jadi
kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai
pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk
maju.
3. Kompetensi Paedagogik
Menurut penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a Standar Nasional
Pendidikan, komptensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembel-
ajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
Kompetensi pedagogik juga merupakan kemampuan dalam pembel-
ajaran atau pendidikan yang meliputi (1) mengenal anak didik yang mau
dibantunya; (2) menguasai beberapa teori tentang pendidikan di zaman
modern; (3) memahami bermacam-macam model pembelajaran (Suparno,
2002:52). Sehingga kompetensi profesional paling tidak meliputi: (1)
menguasai landasan pendidikan; (2) menguasai bahan pembelajaran;
(3) menyusun program pembelajaran; (4) melaksanakan program pembel-
ajaran; (5) menilai proses serta hasil pembelajaran (LP3 Unnes 2007: 7).

Pemimpin Berkarakter Pancasila 13


Mulyasa (2007) mengemukakan bahwa kompetensi pedagogik
merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik
yang meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (2)
pemahaman terhadap peserta didik; (3) pengembangan kurikulum; (4)
perancangan pembelajaran; (5) pelaksanaan pembelajaran; (6) pemanfaatan
teknologi pembelajaran; (7) evaluasi belajar; dan (8) pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya.
4. Kompetensi Sosial
Menurut Mulyasa (2007), sedikitnya terdapat tujuh kompetensi
sosial yang harus dimiliki guru agar dapat berkomunikasi dan bergaul secara
efektif, baik di sekolah maupun di masyarakat. Ketujuh kompetensi tersebut
meliputi: (1) memiliki penegetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun
agama; (2) memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi; (3) memiliki
pengetahuan tentang inti demokrasi; (4) memiliki pengetahuan tentang
estetika; (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial; (6) memiliki sikap
yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan; dan (7) setia terhadap
harkat dan martabat manusia.
Kompetensi sosial bagi seorang guru juga meliputi: (1) memiliki
empati kepada orang lain; (2) memiliki toleransi kepada orang lain; (3)
memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap
kompetensi yang lain; dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain.
Untuk mengembangkan kompetensi sosial seorang pendidik, dapat dirang-
kumkan dari 35 life skill, yang meliputi: (1) kerja tim; (2) melihat peluang;
(3) peran dalam kegiatan kelompok; (4) tanggung jawab sebagai warga;
(5) kepemimpinan; (6) relawan sosial; (7) kedewasaan dalam berkreasi;
(8) berbagi; (9) berempati; (10) kepedulian kepada sesama; (11) toleransi;
(12) solusi konflik; (13) menerima perbedaan (14) kerja sama, dan
(15) komunikasi (LP3 Unnes 2007: 7).
Seorang guru, terkait dengan kompetensi sosial, harus menguasai
beberapa hal, seperti (1) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak
diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik,
latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi; (2) berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua dan masyarakat; (3) beradaptasi di tempat bertugas di seluruh
wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya;
(4) berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara
lisan dan tulisan atau bentuk lain (Mulyasa, 2007).

14 Pemimpin Berkarakter Pancasila


BAB 2
HAKIKAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Sebelum pengertian tentang penelitian tindakan kelas, ada baiknya


disampaikan terlebih dahulu pengertian penelitian tindakan. Penelitian tin-dakan
adalah pelitian tentang, untuk, dan oleh masyarakat/kelompok sasaran, dengan
memanfaatkan interaksi, pertisipasi, dan kolaborasi antara peneliti dengan
kelompok sasaran. Penelitian tindakan merupakan salah satu strategi pemecahan
masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengem-bangan
kemampuan dalam mendetaksi dan memacahkan masalah. Dalam prosesnya
pihak-pihak yang terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan
fakta-fakta dan mengembangkan kemampuan analisis. Dalam praktiknya
penelitian tindakan menggabungkan tindakan bermakna dengan prosedur
penelitian. Ini adalah suatu upaya untuk memecahkan masalah sekaligus
mencari ukungan ilmiahnya. Pihak yang terlibat (guru, widyaiswara, instruktur,
kepala sekolah dan warga masyarakat) mencoba dengan sadar merumuskan
suatu tindakan atau intervensi yang diperhitung-kan dapat memecahkan masalah
atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati
pelaksanaannya untuk memahami tingkat keber-hasilannya (Departemen
Pendidikan Nasional, 1999: 1).
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang meng-
angkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan
(Wibawa, 2004: 3). Arikunto (2007: 3) mengartikan bahwa penelitian
tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar

BAB 2 ~ Hakikat Penelitian Tindakan Kelas 15


berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah
kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan
arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Dalam buku Prosedur Penelitian
dalam pendekatan Praktik, Arikunto (2006: 91) mendefinisikan penelitian
tindakan kelas yang cukup sederhana, yakni merupakan suatu pencermatan
terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah
kelas.
Menurut Wiriaatmadja (2006: 13), penelitian tindakan kelas adalah
bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik
pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka
dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran
mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.
Penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk penelaahan pene-
litian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu
agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembel-
ajaran di kelas secara lebih profesional (Sukidin, Basrowi dan Suranto, 2002:
16)
Rapoport dalam Hopkins (1993: 44) menyatakan bahwa action
research:
… aims to contribute both to the practical concerns of people in an
immediate problematic situation and to the goals of sosial science
by joint collaboratiob within a mutually acceptable ethical
framework.
Kemmis dalam Hopkins (1993: 44) juga menyatakan:
Action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by
participants in sosial (including educational) situations in order to
improve the rationality and justice of (a) their own sosial or
educational practicd of (b) their understanding of these practices,
and (c) the situations in which the practices are carried out.
Menurut Sanford, PTK merupakan suatu kegiatan siklis yang
bersifat menyeluruh yang terdiri atas analisis, penemuan fakta, konsep-
tualisasi, perencanaan, pelaksanaan, penemuan fakta tambahan, dan evaluasi.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
penelitian tindakan kelas yang selanjutnya disebut PTK adalah penelitian
16 Penelitian Tindakan Kelas
yang mengangkat masalah-masalah yang aktual yang dilakukan oleh para
guru yang merupakan pencermatan kegiatan belajar yang berupa tindakan
untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara
lebih profesional.

B. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas


Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi PTK. Menurut
Hopkins (1993) prinsip yang dimaksud antara lain:
1. Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama adalah menye-
lenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas.
2. Meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran yang tidak
menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data.
3. Kegiatan peneliti yang merupakan bagian integral dari pembelajaran
harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah
ilmiah.
4. Masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil
merisaukan tanggung jawab profesional dan komitmen terhadap diag-
nosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam
konteks pembelajaran yang sesungguhnya.
5. Konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan
kualitas pembelajaran sangat diperlukan.
6. Cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada
masalah pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar
kelas.
Sukidin, Basrowi dan Suranto (2002: 19–21) menguraikan bahwa
PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksana-
annya menggunakan enam prinsip:
1. Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa
sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan meng-
ganggu komitmennya sebagai pengajar.
2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang
berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembel-
ajaran.
3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memung-
kinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup
BAB 2 ~ Hakikat Penelitian Tindakan Kelas 17
meyakinkan, mengembangkan stretegi yang dapat diterapkan pada situasi
kelasnya, dan dapat memperoleh data yang dapat digunakan untuk
”menjawab” hipotesis yang dikemukakannya.
4. Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan
masalah yang cukup merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab
profesional guru sendiri memiliki komitmen terhadap pengatasannya.
5. Guru harus bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prose-
dur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seseorang guru, namun dalam
pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom exceeding
perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks
dalam kelas atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perpektif misi
sekolah secara keseluruhan.

C. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas


Menurut Kunandar (2008: 58–60) bahwa PTK berbeda dengan
penelitian formal (konvensional) pada umumnya. PTK memiliki karak-
teristik sebagai berikut:
1. On- the job problem oriented (masalah yang diteliti adalah masalah riil
atau nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam
kewenangan atau tanggung jawab peneliti).
2. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah).
3. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan mutu).
4. Ciclic (siklus). Konsep tindakan (action) dalam PTK diterapkan melalui
urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical).
5. Action oriented. Dalam PTK selalu didasarkan pada adanya tindakan
(treatment) tertentu untuk memperbaiki PBM di kelas.
6. Pengkajian terhadap dampak tindakan.
7. Specifics contextual. Aktivitas PTK dipicu oleh permasalahan praktis
yang dihadapi guru dalam PBM di kelas.
8. Partisipatory (collaborative). PTK dilaksanakan secara kolaboratif dan
bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat.
9. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi.
10. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus, dalam
satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan (planning), tindakan

18 Penelitian Tindakan Kelas


(action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) dan
selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus.
PTK memiliki karakteristik khusus yang tidak ada pada penelitian
lain. Sukidin, Basrowi, dan Suranto (2002: 22-23) menguraikan bahwa
karakteristik PTK anatara lain, (1) problema yang diangkat untuk dipecah-
kan melalui PTK harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran
sehari-hari yang dihadapi oleh guru, ada kalanya dapat dilakukan secara
kolaboratif dengan peneliti lain; (2) adanya tindakan-tindakan atau aksi
tertentu untuk memperbaiki untuk memperbaiki proses belajar mengajar di
kelas.
Arikunto, Suhardjono, dan Supardi (2007, 108-109) menyebutkan
beberapa prinsip PTK antara lain: (1) problema yang diangkat adalah adalah
problema yang dihadapi oleh guru kelas; (2) pendidik sejak awal menyadari
adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang
dihadapi di kelas; (3) dapat dilakukan secara kolaboratif; (4) adanya
tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas;
(5) adanya perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan secara positif;
(6) inkuiri reflektif, bahwa kegiatan penelitian berdasarkan pada pelaksanaan
tugas (practice driven) dan pengambilan tindakan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi (action driven); dan (7) reflektif yang berkelanjutan,
artinya lebih menekankan pada proses refleksi terhadap proses dan hasil
penelitian.
Priyono pada makalah yang berjudul “action research” sebagai
Strategi pengembangan Profesi Guru (1999) dalam Sukidin, Basrowi, dan
Suranto (2002: 23-24) karakter PTK meliputi: (1) masalah yang dijadikan
objek penelitian muncul dari dunia kerja peneliti; (2) bertujuan memecahkan
masalah guna meningkatkan kualitas; (3) mengutamakan data yang beragam;
(4) langkah-langkahnya merupakan siklus; dan (5) mengutamakan kerja
kelompok.
Wiriaatmadja (2006: 25) juga mengemukan bahwa karakteristik
PTK adalah emansipatoris dan membebaskan (liberating), karena penelitian
ini mendorong kebebasan berpikir dan berargumen pada pihak siswa, dan
mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti, dan menggunakan kearifan
dalam mengambil keputusan.

BAB 2 ~ Hakikat Penelitian Tindakan Kelas 19


Karakteristik PTK yang lain dikemukanakan oleh Wardani,
Wihardit, dan Nasoetion. (2002: 1.4-1.6), yang meliputi; (1) adanya masalah
dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik
yang dilakukan selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu disele-
saikan; (2) self-reflective inquiry, artinya peneliti melalui refleksi diri; (3)
dilakukan di dalam kelas; dan (4) bertujuan untuk memperbaiki
pembelajaran.

D. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Dapat dikatakan bahwa semua penelitian bertujuan untuk memecah-


kan suatu masalah, namun khusus PTK di samping tujuan tersebut tujuan
PTK yang utama adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan
profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar.
Menurut Mulyasa (2009: 89-90) secara umum tujuan Penelitian
Tindakan Kelas adalah:
1. Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas
pembelajaran.
2. Meningkatkan layanan profesional dalam konteks pembelajaran,
khususnya khususnya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta
layanan prima.
3. Memberikan kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan
tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan
sasarannya.
4. Memberikan kesempatan kepada guru mengadakan pengkajian secara
bertahap terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga
tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
5. Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka, dan jujur
dalam pembelajaran.
Borg (1986) dalam Sohidin, Basrowi, dan Suranto (1992: 37) secara
eksplisit menyebutkan bahwa tujuan utama PTK adalah pengembangan
keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi
berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya atau
di sekolahnya sendiri dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai
program pelatihan yang lebih eksplisit.

20 Penelitian Tindakan Kelas


Tujuan lain PTK adalah untuk meningkatkan dan/atau perbaikan
praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru. Di samping itu
dengan PTK tertumbuhkannya budaya meneliti di kalangan guru.

E. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Manfaat PTK sangat banyak. Manfaat yang dapat dipetik jika guru
mau melaksanakan PTK terkait dengan komponen pembelajaran antara lain:
(1) inovasi pembelajaran; (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah
dan pada tingkat kelas; dan (3) peningkatan profesionalisme guru (Sukidin,
basrowi dan Suranto, 2002: 40).
Arikunto, Suhardjono, dan Supardi (2007: 107) menyebutkan bahwa
manfaat PTK antara lain dapat dilihat dan dikaji dalam beberapa komponen
pendidikan dan/atau pembelajaran di kelas, antara alain mencakup: (1)
inovasi pembelajaran; (2) pengembangan kurikulum di tingkat regional/
nasional; dan (3) peningkatan profesionalisme pendidikan.
Manfaat PTK menurut Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga
Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2005: 2) meliputi:
1. Peningkatan kompetensi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran
dan pendidikan di dalam dan di luar kelas.
2. Peningkatan sikap profesional guru dan dosen.
3. Perbaikan dan/atau peningkatan kinerja belajar dan kompetensi siswa.
4. Perbaikan dan/atau peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas.
5. Perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penggunaan media, alat bantu
belajar, dan sumber belajar lainnya.
6. Perbaikan dan/atau peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang
digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
7. Perbaikan dan/atau peningkatan masalah-masalah pendidikan anak di
sekolah.
8. Perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penerapan kurikulum.

BAB 2 ~ Hakikat Penelitian Tindakan Kelas 21


22 Penelitian Tindakan Kelas
BAB 3
MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Ada beberapa model PTK yang sering digunakan dalam dunia


pendidikan antara lain: (1) model Kurt Lewin; (2) model Kemmis &
McTaggart; (3) model Dave Ebbutt; (4) model John Elliott; dan (5) model
Hopkins (Depdiknas, 1999:18). Sebagai gambaran dijelaskan secara singkat
di bawah ini.

A. Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin merupakan model pertama dalam PTK yang


diperkenalkan pada tahun 1946, dan merupakan acuan pokok atau dasar dari
berbagai model PTK yang lain. Konsep inti PTK Lewin, bahwa dalam satu
siklus PTK terdiri dari empat langkah, yaitu (1) perencanaan (planning); (2)
aksi atau tindakan (acting); (3) observasi (observing); dan (4) refleksi
(reflecting) ( Lewin 1990).
Model Lewin dapat digambarkan sebagai berikut:

Adaptasi Depdiknas, 1999:20

Gambar 1 PTK Model Lewin

BAB 3 ~ Model-model Penelitian Tindakan Kelas 23


B. Model Kemmis dan McTaggart
Model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robbin
McTaggart merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin, sehingga
kelihatan masih sangat dekat dengan model Lewin. Kemmis dan McTaggart
menjadikan satu kesatuan komponen acting (tindakan) dan observing
(pengamatan).
Model Kemmis dan McTaggart pada hakikatnya berupa perangkat-
perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat
komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi, yang
keempatnya merupakan satu siklus (Depdiknas, 1999:21).
Model Kemmis dan McTaggart dapat digambarkan sbb:

Adaptasi Depdiknas, 1999:21


Gambar 2 PTK Model Kemmis dan Mc Tagart

24 Penelitian Tindakan Kelas


C. Model John Elliott

Model John Elliott juga dikembngkan berdasarkan model Kurt


Lewin, tetapi nampak lebih detail dan rinci. Pada model John Elliott dalam
satu tindakan (acting) terdiri dari beberapa step atau langkah tindakan, yaitu
langkah tindakan 1, langkah tindakan 2 dan langkah tindakan 3 (Depdiknas,
1999: 22)
Model John Elliott jika diperhatikan sebagaimana gambar di bawah ini:

Adaptasi Depdiknas, 1999


Gambar 3 PTK Model Elliott

BAB 3 ~ Model-model Penelitian Tindakan Kelas 25


D. Model Hopkin

Hopkin mengembangkan model PTK juga berdasarkan model-model


yang sebelumnya sudah ada. Model Hopkins jika digambarkan adalah
sebagai berikut:

Adaptasi Depdiknas, 1999


Gambar 4 PTK Model Hopkin

E. Model Dave Ebbutt

Ebbutt setuju dengan gagasan-gagasan Kemmis dan Elliot, tetapi


tidak setuju mengenai beberapa interpretasi Elliot dari karya Kemmis.
Bentuk spiral yang merupakan karya Kemmis dan MCTaggart bukan
merupakan cara ayang terbaik untuk menggambarkan proses refleksi-aksi
(action-reflection) (Wibawa, 2004:18).

26 Penelitian Tindakan Kelas


Model Dave Ebbutt bila digambarkan sebagai berikut:

BAB 3 ~ Model-model Penelitian Tindakan Kelas


Adaptasi
Depdiknas,
1999Gambar5
PTKModelDa

27
ve Ebbutt
F. Model Gabungan Sanford dan Kemmis

Model ini rupanya yang dikembangkan oelh Direktorat Ketenagaan


Ditjen Dikti Depdiknas. Sehingga diperoleh batasan penelitian tindakan
adalah sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang siklis dan bersifat
reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap
sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi Depdiknas (2007: 22).
Proses siklus kegiatan dalam penelitian tindakan ini dapat digambarkan
sebagai berikut:

Adaptasi Depdiknas, 1999


Gambar 6 PTK Model Gabungan Sanford dan Kemmis

28 Penelitian Tindakan Kelas


Siklus di atas menggambarkan aktivitas dalam PTK yang diawali
dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action),
mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and
evaluation), melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai dicapai
kualitas pembelajaran yang diinginkan.

BAB 3 ~ Model-model Penelitian Tindakan Kelas 29


30 Penelitian Tindakan Kelas
BAB 4
PENYUSUNAN PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Sebelum melaksanakan penelitian, seorang peneliti harus menyusun


rencana penelitian yang biasa disebut dengan proposal. Proposal ini sangat
penting, karena paling tidak memiliki tiga fungsi utama, yaitu (1) merupakan
panduan dan pedoman serta petunjuk bagi peneliti dalam melaksanakan
tahap-tahap dalam penelitian yang akan dilaksanakan, sehingga akan
melancarkan pelaksanaan penelitian; (2) sebagai syarat untuk mengajukan
izin penelitian; dan (3) sebagai syarat dan pertimbangan pengajuan dan
perolehan dana kepada lembaga/institusi penyandang dana.
Menurut Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan
dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2005:12) sistematika usulan PTK
meliputi: (1) halaman sampul usulan penelitian; (2) halaman pengesahan; (3)
judul penelitian; (4) bidang kajian; (5) pendahuluan; (6) perumusan dan
pemecahan masalah; (7) tujuan penelitian; (8) manfaat hasil penelitian; (9)
kajian pustaka; (10) rencana dan prosedur penelitian; (11) jadwal penelitian;
(12) biaya penelitian; (13) personalia penelitian; (14) daftar pustaka; (15)
Lampiran-lapiran, yang meliputi (a) instrumen penelitian; (b) curriculum
vitae semua peneliti; (c) surat keterangan ketua Lemlit; dan (d) surat
keterangan dekan.
Biasanya lembaga/instansi yang akan mendanai penlitian kita
mensyaratkan sistematika tertentu sebagai syarat proposal diterima. Oleh

BAB 4 ~ Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas 31


karena itu, kita harus mengindahkan benar-benar persyaratan tersebut.
Sistematika proposal penelitian tindakan kelas terdiri dari:
HALAMAN JUDUL/ HALAMAN SAMPUL USUL
PENELITIAN HALAMAN PENGESAHAN
A. JUDUL PENELITIAN
B. BIDANG KAJIAN
C. PENDAHULUAN
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
E. TUJUAN PENELITIAN
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
G. KAJIAN PUSTAKA
H. PENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
I. JADWAL PENELITIAN
J. BIAYA PENELITIAN
K. PERSONALIA PENELITIAN
L. DAFTAR PUSTAKA
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Instrumen Penelitian
2. Curriculum Vitae semua peneliti
3. Surat keterangan dari kepala sekolah dan instansi terkait
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan
Ketenagaan Perguruan Tinggi (2005; 13) memberikan penjelasan komponen
pokok usulan PTK sebagai berikut:

A. Judul Penelitian

Judul penelitian hendaknya (1) singkat (maksimal 20 kata), (2)


spesifik, dan cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti, (3)
tindakan untuk mengatasi masalah, (4) hasil yang diharapkan, dan (5) tempat
penelitian.

B. Bidang Kajian

Bidang kajian penelitian meliputi: (1) masalah belajar siswa di kelas;


(2) desain dan strategi pembelajaran; (3) alat bantu; (4) media dan sumber

32 Penelitian Tindakan Kelas


belajar; (5) sistem asesmen dan evaluasi; (6) pengembangan pribadi peserta
didik; (7) pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; (8) masalah kurikulum.

C. Pendahuluan

Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan


sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah, dan diagnosis dilakukan oleh
dosen bersama guru dan/atau tenaga kependidikn lainnya di sekolah.
Masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan men-
desak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi
ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memper-
lancar penelitian tersebut. Setelah diidentifikasi masalah penelitiannya, maka
selanjutnya perlu dianalisis dan dideskripsikan secara cermat akar penyebab
dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antar
anggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya
masalah tersebut. Prosedur yang digunakan dalam mengidentifikasi masalah
perlu dikemukakan secara jelas dan sitematis.

D. Perumusan dan Pemecahan Masalah

1. Perumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian
tindakan kelas. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya.
Masalah perlu dijelaskan secara operasional dan ditetapkan lingkup
penelitiannya.
2. Pemecahan Masalah
Identifikasi alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk memecahkan
masalah. Berikan argumentasi yang logis mengenai pilihan tindakan yang
akan dilakukan untuk memecahkan masalah (misalnya: karena kesesuai-
annya dengan masalah, kemutakhiran, keberhasilannya adalam penelitian
sejenis, dll.). Cara pemecahan maasalah ditentukan berdasarkan ketepa-
tannya dalam mengatasi akar penyebab permasalahan, cara pemecahan
masalah dirumuskan dalam bentuk tindakan (action) yang jelas dan ter-
arah. Kemukakan hipotesis tindakan bila diperlukan. Rumuskan indikator
keberhasilan tindakan yang dilakukan. Kemukakan cara pengukuran

BAB 4 ~ Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas 33


indikator serta cara mengevaluasinya sehingga dapat diukur tingkat
pencapaian keberhasilannya.

E. Tujuan Penelitian

Kemukakan secara singkat dan jelas tujuan tujuan penelitian yang


ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang ditemukan.

F. Manfaat Hasil Penelitian

Uraikan mafaat hasil penelitian terutamanya untuk perbaikan kuali-


tas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi
siswa, guru, komponen pendidikan terkait di sekolah, dan dosen.
Kemukakan hal-hal baru sebagai hasil kreativitas pembelajaran yang akan
dihasilkan dari penelitian ini.

G. Kajian Pustaka

Uraikan dengan jelas kajian teoritis dan empiris yang menumbuhkan


gagasan ususlan PTK yang sejalan dengan rumusan dan hipotesis tindakan
(bila ada). Kemukakan jugateori dan hasil penelitian lain yang mendukung
pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian
ini digunakan sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir yang akan
digunakan dalam penelitian.

H. Rencana dan Prosedur Penelitian

Kemukakan subjek penelitian, waktu dan lamanya tindakan, serta


tempat penelitian secara jelas. Uraikan secara jelas prosedur/langkah-
langkah penelitian tindakan kelas yang akan dilakukan. Prosedur hendaknya
dirinci dari pelaksanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi refleksi,
yang bersifat siklis.
Uraikan secara rinci hal-hal yang diperlukan sebelum pelaksanaan
tindakan (seperti: penyiapan perangkat pembelajaran berupa skenario
pembelajaran, media, bahan dan alat, instrumen observasi, evaluasi dan
refleksi). Dalam pelaksanaan tindakan uraoikan bagaimana tahapan-tahapan
tindakan yang akan dilakukan oleh guru maupun siswa pada awal,
34 Penelitian Tindakan Kelas
pertengahan, dan akhir pembelajaran. Dalam tahap observasi, uraikan objek
amatannya dan prosedurnya. Dalam tahap evaluasi uraikan cara asesemen
dan penyekorannya. Dalam tahap refleksi uraikan prosedurm alat, perilaku,
dan sumber informasi.
Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan
indikator, keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke
siklus lain. Untuk memantapkan hasil tindakan, tipa-tiap siklus sebaiknya
dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan. Fungsi observasi proses
dilakukan secara terus-menerus dalam PTK sesuai dengan siklus yang
ditentukan. Di samping dosen sebagai observer, guru sebaiknya juga
dipersiapkan oleh dosen (ketua peneliti) untuk melakukan tindakan dan/atau
melaksanakan observasi proses (perekan kegiatan pembelajaran) dan hasil
dalam PTK. Dalam hal ini peran guru dapat bergantian. Pada sustu saat
dapat sebagai pengajar dan pada saat lain sebagai pengamat. Dalam rencana
pelaksanaan tindakan pada setiap tahapan hendaknya digambarkan peranan
dan intensitas kegiatan masing-masing anggota peneliti, sehingga tampak
jelas tingkat dan kualitas kolaborasi dalam penelitian tersebut.

I. Jadwal Penelitian

Buat jadwal kegiatan penelitian yang meliputi perencanaan,


persiapan, pelaksanaan monitoring, seminar dan penyusunan laporan hasil
penelitian dalam bentuk Gantt Chart. Jadwal kegiatan penelitian disusun
sesuai dengan aturan institusi pemberi dana, misalnya selama tiga, enam atau
sembilan bulan.
Contoh: Jadwal Penelitian Tindakan Kelas (selama 6 bulan)
Bulan Ke
No Kegiatan
I II III IV V VI
1. Persiapan, penyusunan proposal x
2. Pelaksanaan Siklus I x
3. Pelaksanaan Siklus II x
4. Pelaksanaan Siklus III x
5. Analisis Data x x
6. Seminar lokal hasil PTK x
7. Pembuatan Laporan Hasil Penelitian x
8. Diseminasi Hasil Penelitian x
9 Revisi Laporan Hasil Penelitian x
J. Biaya Penelitian

BAB 4 ~ Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas 35


Kemukakan biaya biaya penelitian secara rinci, mengacu pada
kegiatan penelitian. Biaya penelitian meliputi:
1. Honorarium ketua dan anggota peneliti, maksimal 30% dari total biaya
yang diusulkan.
2. Biaya operasional kegiatan penelitian, pembelian bahan habis pakai yang
digunakan dalam pelaksanaan penelitian, sesuai kebutuhan.
3. Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan termasuk
biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat penelitian, kecuali guru tidak
dibenarkan mendapat biaya perjalanan ke sekolahnya sendiri, maksimal
15%.
4. Biaya seleksi internal, seminar lokal, publikasi, dan diseminasi hasil
penelitian, maksimal 10%.
5. Lain-lain pengeluaran seperti pembuatan laporan, photo copy, pembelian
alat tulis-menulis maksimal 15% (Contoh Lampiran 9)

K. Personalia Penelitian
Jumlah personalia penelitian minimal tiga orang maksimal lima
orang. Ketua peneliti adalah dosen LPTK. Jumlah guru harus lebih banyak
daripada jumlah dosen. Rincian nama personalia tim peneliti serta peran dan
waktu yang disediakan untuk kegiatan penelitian itu.

L. Daftar Pustaka
Daftar pustaka dituliskan secara konsisten menurut model APA,
MLA atau Turabian.

M. Lampiran-lampiran
1. Instrumen penelitian (sertakan semua instrumen penelitian yang telah
berhasil dikembangkan).
2. Curriculum Vitae ketua peneliti dan masing-masing anggota peneliti
(cantumkan nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, golongan,
pangkat, jabatan, alamat kantor, nomor telepon kantor/fax, alamat rumah,
nomor telepon rumah/HP, riwayat pendidikan, dan pengalaman penelitian
yang relevan.
3. Surat keterangan yang diperlukan.

36 Penelitian Tindakan Kelas


BAB 5
PROSEDUR PELAKSANAAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Menurut Depdiknas (2007: 23) pengembangan inovasi pembelajaran


melalui PTK adalah sebagai berikut:

A. Identifikasi Masalah Pembelajaran

1. Diawali dengan merasakan adanya masalah yang dihadapi oleh guru/


dosen dan peserta didik. Masalahnya berangkat dari permasalahan nyata
yang timbul dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, dengan bertanya
pada diri sendiri mengenai kualitas pembelajaran yang selama ini dicapai.
Contoh pertanyaan:
a. Apakah kompetensi awal peserta didik untuk mengikuti pembelajaran
cukup memadai?
b. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup memadai?
c. Apakah sarana/ prasarana pembelajaran cukup memadahi?
d. Apakah perolehan hasil pembelajaran cukup tinggi?
e. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
f. Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran?
g. Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran
inovatif tertentu?
2. Identifikasi, masalah mana yang layak dipecahkan terlebih dahulu.
Pada tahap ini yang penting adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal
mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam proses pembelajaran

BAB 5 ~ Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas 37


atau yang terkait dengan manajemen kelas, iklim belajar, proses belajar-
mengajar, sumber belajar, dan perkembangan personal.
Cara melakukan identifikasi masalah:
a. tulis semua hal terkait dengan pembelajaran yang dirasakan perlu
memperoleh perhatian untuk menghindari dampak yang tidak diharap-
kan;
b. pilah dan klasifikasikan masalah sesuai dengan jenisnya, mencatat
jumlah peserta didik yang mengalaminya, dan mengidentifikasi
frekuensi timbulnya masalah;
c. urutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya untuk ditindak
lanjuti (kemudahannya, keseringannya, dan jumlah peserta didik yang
mengalami);
d. tim peneliti secara bersama-sama memilih permasalahan yang urgen
untuk dipecahkan;
e. masalah dikaji kelayakan, signifikansi, dan kontribusinya.

B. Menganalisis dan Merumuskan Masalah Pembelajaran


1. Menganalisis Masalah
Tahap ini dimaksudkan untuk menentukan urgensi dan prioritas
masalah yang harus dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya. Yang harus
diperhatikan adalah:
a. Masalah tersebut merupakan masalah pembelajaran faktual yang benar-
benar ada dalam pembelajaran di kelas.
b. Masalahnya dapat dicari dan diidentifikasi faktor penyebabnya, karena
faktor penyebab menjadi dasar untuk menentukan alternatif tindakan
yang akan diberikan.
c. Ada alternatif tindakan yang dipilih untuk dilakukan peneliti.
d. Masalahnya memiliki nilai strategis bagi peningkatan atau perbaikan
proses dan hasil pembelajaran.
Untuk menganalisis masalah juga ada beberapa pertanyaan yang
oerlu diajukan:
a. Apakah masalah teridentifikasi dengan jelas?
b. Apakah ada bukti empirik yang memperlihatkan keberhasilan tindakan
serupa yang pernah dilakukan sebelumnya?
c. Bagaimana kesiapan peneliti melaksanakan tindakan yang telah dipilih?

38 Penelitian Tindakan Kelas


2. Merumuskan Masalah
Yang perlu diperhatikan adalah:
a. Aspek substansi, perumusan masalah perlu mempertimbangkan
bobot manfaat tindakan yang dipilih untuk meningkatkan dan/ atau
memperbaiki pembelajaran.
b. Aspek orisinalitas, perlu dipertimbangkan apakah tindakan tersebut
merupakan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan guru/dosen
sebelumnya.
c. Aspek formulasi, masalah dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat
tanya, tidak bermakna ganda, lugas menyatakan secara eksplisit dan
spesifik apa yang dipermasalahkan, dan diharapkan daat mengatasi
masalah tersebut.
d. Aspek teknis, dipertimbangkan kemampuan pengembang/para
inovator untuk melaksanakan pengembangan tersebut
Berikut ini ada beberapa petunjuk sebagai pertimbanan untuk
merumuskan PTK:
a. Masalah hendaknya dirumuskan secara jelas, tidak mempunyai
makna ganda.
b. Masalah penelitian dapat dituangkan dalam kalimat tanya.
c. Rumusan masalah umumnya menunjukkan hubungan antara
permasalahan dan tindakan.
d. Rumusan masalah dapat diuji secara empirik. Maksudnya dengan
rumusan masalah itu memungkinkan dikumpulkannya data untuk
menjawab permasalahan tersebut.
e. Rumusan masalah menunjukkan secara jelas subjek dan/atau lokasi
pengembangan.
f. Rumusan masalah menunjukkan secara jelas tindakan yang
diimplementasikan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran.
Contoh rumusan masalah PTK:
a. Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa terhadap pengelolaan
keuangan dengan memberikan tugas kelompok?
b. Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa kelas X jurusan IPA
dalam mengerjakan sosl-soal Reaksi Redoks dengan pembelajaran
kooperatif?

BAB 5 ~ Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas 39


c. Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa kelas XI dalam
menulis naskah drama dengan strategi pembelajaran yang
berorientasi pada proses?
d. Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa kelas IX tentang
konsep-konsep fotosintesis dengan peta konsep?

C. Merencanakan Tindakan Berdasarkan Rumusan Masalah

Sebelum dibuat perencanaan tindakan hendaknya:


1. Terlebih dulu dilakukan gagas pendapat, tindakan apa saja yang dapat
membantu guru/dosen memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Tindakan yang dipilih adalah tindakan inovatif, misalnya:
a. Model sosial: partners in learning; role playing;
b. Model pemrosesan informasi;
c. Model personal;
d. Model pembelajaran kontekstual;
e. Model yang berdasarkan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, Menyenangkan).
Peneliti, guru/dosen agar dapat merencanakan tindakan yang tepat,
hendaknya melakukan:
a. Kajian teoritik di bidang pembelajaran/pendidikan;
b. Kajian hasil-hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan;
c. Diskusi dengan rekan sejawat, pakar pendidikan, dan peneliti lain;
d. Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituang-
kan dalam bentuk program;
e. Refleksi diri mengenai pengalaman sebagai guru/dosen.
3. Memformulasikan Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan merupakan suatu pernyataan atau dugaan bahwa
tindakan yang diberikan akan dapat memecahkan masalah yang ingin
diatasi dengan melakukan PIP (Pengembangan Inovasi Pembelajaran)
baik di sekolah maupun di LPTK. Hipotesis tindakan menunjukkan suatu
dugaan mengenai perubahan atau perbaikan apa yang akan terjadi apabila
suatu tindakan dilakukan.
Guru/dosen dalam mempersiapkan tindakan ada beberapa hal yang perlu
dilakukan, yaitu: (a) membuat skenario tindakan; (b) mempersiapkan
40 Penelitian Tindakan Kelas
sarana pembelajaran; (c) mempersiapkan instrumen penelitian; dan (d)
melakukan simulasi pelaksanaan tindakan.

D. Melaksanakan Tindakan, Observasi, dan Asesmen

1. Pelaksanaan tindakan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang


sudah dibuat pada tahap persiapan secara aktual.
2. Kegiatan observasi dan interpretasi dilakukan secara bersamaan.
3. Asesmen dilakukan bersama dengan pelaksanaan tindakan dan observasi,
bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar yang dicapai peserta didik.
Hasil ini merupakan data penelitian.

E. Menganalisis Data Observasi dan Asesmen serta Interpretasi

1. Jenis data dan/informasi yang direkam dapat berupa data kualitatif atau
kuantitatif, bergantung pada dampak atau hasil keluaran yang diharapkan.
2. Analisis data dapat dilakukan melalui beberapa tahap, misalnya: reduksi
data, paparan data setra interpretasi, dan penyimpulan hasil analisis.
3. Pada proses analisis dibahas apa yang diharapkan terjadi, apa yang
kemudian terjadi, mengapa tidak terjadi seperti yang diharapkan, apa
penyebabnya. Atau jika sudah terjadi seperti yang diharapkan, apakah
perlu dilakukan tindak lanjut.

F. Melakukan Refleksi dan Merencanakan Tindak Lanjut untuk


Siklus Berikutnya

1. Refleksi merupakan kegiatan mengkaji: (a) apa yang telah dan belum
terjadi; (b) mengapa hal tersebut terjadi; (c) apa yang perlu dilakukan
selanjutnya.
2. Hasil digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya
menghasilkan perbaikan.

BAB 5 ~ Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas 41


Tahapan PTK dapat digambarkan sebagai berikut:

Adaptasi Wibawa, tt: 23


Gambar 7 Tahapan Pelaksanaan PTK

42 Penelitian Tindakan Kelas


BAB 6
MENYUSUN LAPORAN AKHIR
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Walaupun tidak ada satu ketentuan yang dianggap paling baik,


karena masing-masing institusi biasanya memiliki ciri khas masing-masing
yang terkait dengan sistematika penulisan karya ilmiah seperti skipsi, tesis,
maupun disertasi.
Secara garis besar laporan akhir hasil laporan hasil penelitian
tindakan kelas terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, dan
bagian Akhir.
Bagian Awal
HALAMAN SAMPUL LAPORAN PENELITIAN
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (Jika ada)
DAFTAR GAMBAR (Jika ada)
DAFTAR LAMPIRAN

BAB 6 ~ Menyusun Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas 43


Bagian Isi
BAB I PENDAHULUAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Bagian Akhir
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Perangkat pembelajaran/RPP
2. Instrumen Penelitian
3. Personalia Penelitian
4. Curriculum Vitae (semua peneliti)
5. Data Penelitian
6. Bukti Lain Pelaksanaan Penelitian
Di bawah ini diberikan penjelasan komponen pokok laporan akhir
hasil penelitian tindakan kelas (PTK), dari Direktorat Pembinaan Pendidikan
Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2005).
1. Halaman Sampul Laporan Penelitian
Judul dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas (ada yang mem-
batasi maksimum 15 kata), komunikatif, dan afirmatif. Judul harus
mencerminkan dan konsisten dengan ruang lingkup penelitian, tujuan peneli-
tian subjek penelitian dan metode penelitian. Walaupun judul sudah harus
dibuat sejak proposal penelitian dibuat, namun pada akhirnya judul dapat
saja berubah sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan para
pembimbing yang bersangkutan berdasarkan data yang berhasil dikumpul-
kan dan diolah (UPI, Departemen Pendidikan Nasional, Universitas
Pendidikan Indonesia, 2003:42).
Warna sampul sesuai dengan warna bendera masing-masing
fakultas/institusi. Pada sampul ditulis judul, logo universitas/institusi,
maksud penulisan yang dirumuskan secara ringkas, nama langkap peneliti,

44 Penelitian Tindakan Kelas


nomor induk mahasiswa, nama program studi, fakultas, dan universitas serta
tahun penulisan. Sampul terdiri dari dua bagian, yaitu sampul depan dari
karton (hard cover) dan sampul dalam dari kertas HVS putih (lihat lampiran
3).
2. Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan ini ditandatangani oleh ketua peneliti dan
dosen pembimbing jika ada, dan disahkan oleh kepala sekolah serta lembaga
penelitian terkait (lihat lampiran 3).
3. Abstrak
Menguraikan dengan ringkas unsur-unsur permasalahan, tujuan,
prosedur dan hasil penelitian. Diketik satu alinea dan satu spasi, sekitar 200
kata (contoh lampiran 3).
4. Kata Pengantar
Berupa kata-kata yang ingin disampaikan oleh peneliti sehubungan
dengan pelaksanaan penelitian dan hasil yang dicapai. Dapat juga disampai-
kan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang berjasa dalam pelaksanaan
penelitian (lihat lampiran 3)
5. Daftar Isi
Daftar isi berupa halaman yang memuat bagian awal laporan, Bab
dan Sub Bab sera abagian akhir (lihat lampiran 3)
6. Daftar Tabel
Berisi daftar nomor dan judul semua tabel yang ada dalam laporan
serta halamannya (lihat lampiran 3)
7. Daftar Gambar
Berisi nomor dan judul gambar atau foto yang ada dalam laporan
beserta halamannya. Gambar yang dimaksud adalah gambar-gambar yang
menunjukkan kegiatan/proses penelitian, yang menggambarkan situasi kelas
pada saat penelitian, sehingga dapat memperkuat uraian dalam komponen
penemuan (Contoh lampiran 3)

BAB 6 ~ Menyusun Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas 45


8. Daftar Lampiran
Berisi nomor, judul lampiran, dan halaman. Yang perlu dilampirkan
adalah berkas-berkas yang terkait dengan penelitian (contoh lampiran 3).
9. BAB I PENDAHULUAN
Memuat unsur latar belakang masalah, data awal tentang perma-
salahan, pentingnya masalah dipecahkan, identifikasi masalah, analisis dan
rumusan masalah, hipotesis tindakan (jika diperlukan), tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan definisi operasional.
10. BAB II KAJIAN PUSTAKA
Menguraikan teori-teori yang terkait dan temuan penelitian yang
relevan yang memberi arah ke pelaksanaan PTK dan usaha peneliti
membangun argumen teoritik bahwa dengan tindakan tertentu dimungkinkan
dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran.
11. BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
Memuat unsur: deskripsi lokasi, waktu, mata pelajaran, karakteristik
siswa di sekolah sebagai subjek penelitian. Kejelasan tiap siklus: rancangan,
pelaksanaan, observasi, evaluasi, dan refleksi. Tindakan yang dilaksanakan
bersifat rasional dan feasible serta collaborative.
12. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap,
mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengamatan, dan refleksi yang berisi
penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu
ditambahkan hal yang mendasar yaitu hasil perubahan pada diri siswa,
lingkungan, guru sendiri, motivasi dan aktivitas belajar, situasi kelas, hasil
belajar. Gunakan grafik dan/atau tabel secara optimal, kemukakan hasil
analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan.
13. SIMPULAN DAN SARAN
Menyajikan simpulan hasil penelitian (potret kemajuan) sesuai
dengan tujuan penelitian. Berikan saran lebih lanjut berdasarkan pembahasan
hasil penelitian.

46 Penelitian Tindakan Kelas


14. DAFTAR PUSTAKA
Memuat semua sumber pustaka yang digunakan dalam penelitian
disusun secara alfabetis.
15. LAMPIRAN-LAMPIRAN
Memuat instrumen penelitian, perangkat pembelajaran, personalia
peneliti, riwayat hidup semua peneliti, data penelitian, dan bukti lain
pelaksanaan penelitian.

BAB 6 ~ Menyusun Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas 47


48 Penelitian Tindakan Kelas
LAMPIRAN
Lampiran 1: Contoh Judul PTK

No Judul Tingkat
1 Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Melalui Metode TK
Bercerita pada Siswa TK Tunas Muda Purbalingga
2 Meningkatkan Kosakata pada Usia 4-5 tahun dengan TK
Menggunakan Metode Sosiodrama di Kelompok Bermain
Anak Saleh Banjarnegara
3 Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Dalam Konsep TK
Penjumlahan Melalui Kegiatan Bermain Balok pada Siswa
Kelompok B TK Permata Ibu Wonosobo.
4 Meningkatkan Imajinasi dan Kreativitas Motorik Anak TK
dengan Membentuk Jenis kendaraan melalu Permainan
Edukatif Sentra Balok di TK Harapan Bunda Surakarta
5 Meningkatkan Motorik Kasar pada Anak Usia 4-5 Tahun TK
Melalui Alat Permainan di Luar Kelas Pada Siswa
Kelompok Bermain Kuncup Melati Magelang
6 Meningkatkan motivasi belajar membaca siswa dengan TK
menggunakan metode bercerita melalui gambar di
kelompok B TK Pertiwi 1 Klaten
7 Meningkatkan motorik kasar anak dengan metode bermain TK
peran”gerobak dorong” pada area outdor pada siswa
kelompok B TK „Aisyiyah‟ Semarang Selatan
8 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Melalui Metode TK
Karyawisata Siswa TK Aisyiah Adipala Kabupaten
Cilacap
9 Meningkatkan Keterampilan melipat dengan menggunakan TK
metode demonstrasi di TK Pembina Putra Kembaran
Banyumads
10 Meningkatkan Kreativitas dan Kemampuan Anak Dalam TK
Kegiatan Sains Melalui Metode Eksperimen pada Siswa
TK Anak Unggul Karangmojo Purbalingga

Lampiran 49
11 Meningkatkan Hasil Belajar dengan Metode Role Playing SD
Materi Nilai-nilai Juang dalam Proses Perumusan
Pancasila Siswa Kelas VI SD Wuryantoro
12 Meningkatkan Motivasi Belajar dengan Student Teams- SD
Achievement Divisions (STAD) Materi Pentingnya
Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Siswa
Kelas V SD Tirtomoyo
13 Meningkatkan Pemahaman dengan Team-Game- SD
Turnament (TGT) Materi Kerja sama Negara-negara Asia
Tenggara Siswa Kelas VI SD Baturetno
14 Meningkatkan Hasil Belajar dengan Metode Talking Stick SD
Materi Globalisasi Siswa Kelas IV SD Pracimantoro
15 Meningkatkan Aktivitas Siswa dengan Metode Take and SD
Give Materi Organisasi di Sekolah dan Masyarakat Siswa
Kelas V SD Bulakamba
16 Meningkatkan Sikap Demokratis dengan Diskusi Kelas SD
Materi Proses Pemilu dan Pilkada Siswa Kelas VI SD
Eromoko
17 Meningkatkan Kedisiplinan dengan Pembelajaran SD
Kooperatif Tipe The Think Pair Share (TPS) Materi
Menghargai dan Mentaati Keputusan Bersama Siswa Kelas
V SD Nguntoronadi
18 Meningkatkan Pemahaman Siswa dengan Group SD
Investigation (GI) Materi Kekayaan Alam Indonesia Siswa
Kelas III SD Sumberagung
19 Meningkatkan Partisipasi dengan Metode Diskusi SD
Kelompok Materi Lembaga-lembaga Negara Siswa Kelas
VI SD Purwantoro
20 Meningkatkan Kesadaran Berbangsa dan Bernegara SD
dengan Metode Word Square Materi Makna Sumpah
Pemuda Siswa Kelas III SD Ngadirojo
21 Meningkatkan Gairah Belajar dengan Metode Problem SMP
Based Learning Materi Prestasi Diri Siswa Kelas VII SMP
1 Banyuagung
22 Meningkatkan Kreativitas Siswa dengan Model Pembel- SMP
ajaran Konstrukstivisme Materi Jaringan Tumbuhan Siswa
Kelas VIII SMP 2 Sukamaju.
50 Penelitian Tindakan Kelas
23 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Lisan (Berbicara) SMP
dengan Metode Sosiodrama Materi Belajar Berbicara
Siswa Kelas VII SMP 1 Bintang Pelajar.
24 Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa SMP
Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning
[PBL] Di MTs Dukuhwaluh
25 Meningkatkan Prestasi Belajar dengan Model Pembel- SMP
ajaran Kooperatif Tipe TAI [Teams Assisted Individual-
ization] Pokok Bahasan Sistem Indra Kelas 2 B SMP 2
Sokanegara
26 Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas VII C SMP SMP
Kaliputih pada Mata Pelajaran Biologi Pokok Bahasan
Ekosistem Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Questions Students Have Tahun Pelajaran 2009/2010
27 Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat Dinas Dengan SMP
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student
Teams Achievement Division) Siswa Kelas VIII E SMP
Karangsoka
28 Meningkatkan Kemampuan Berbicara Melalui Metode SMP
Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads
Together (NHT) Pada Siswa Kelas VII A MTs
Karanggintung
29 Upaya Meningkatkan Kreativitas Siswa Menggunakan SMP
Model Pembelajaran Snow Balling (Bola Salju) Pokok
Bahasan Keanekaragaman Makhluk Hidup Kelas VIII C
SMP Negeri 2 Bantarwuni
30 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mengguna- SMP
kan Model Pembelajaran Lightening The Learning Climate
(Menghidupkan Suasana Belajar) Pada Mata Pelajaran
Biologi Materi Ekosistem Kelas VIII SMP Negeri 2
Tambaksogra
31 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XE SMA
Madrasah Aliyah Tambaksari pada Pembelajaran
Matematika Melalui Model Cooperative Learning dengan
Metode Drill
32 Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Dengan Model SMA
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT [Numbered Heads
Together] Siswa SMK Karangkemiri

Lampiran 51
33 Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia SMA
Pokok Bahasan Menulis Paragraf Melalui Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas
XI SMA Negeri Setrorejo
34 Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematika Dengan SMA
Model PSIK (Pembelajaran Interaktif dengan Setting
Kooperatif) Siswa SMK Negeri Bojongsari
35 Peningkatan Partisipasi Aktif dan Motivasi Belajar Siswa SMA
SMK Negeri Arumsari dengan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Teams Assisted Individualization [TAI]
36 The Effectiveness of Teaching Writing Using Short SMA
Paragraph Models (An Experimental Study at the Second
Grade Students of SMA Padasuka
37 Penerapan Model Pembelajaran Conseptual Multi Model SMA
dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan
Kemandirian dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas
X, Madrasah Aliyah Negeri Karanglewas
38 Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarga- SMA
negaraan Materi Penegakan dan Perlindungan Hak Asasi
Manusia Tema Berbagai Kasus Pelanggaran Hak Asasi
Manusia Melalui Metode Cooperative Learning Model
Time Token Arrends pada Siswa Kelas VII A SMA
Karangtalun.
39 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT SMA
[Teams-Games-Tournament] Terhadap Tingkat Pemaham-
an Materi Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 1
Kedondong
40 Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa SMA
Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning
[PBL] Di SMK Gandatapa

52 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 2: Contoh Usulan/Proposal PTK

A. LATAR BELAKANG
Kualitas pembelajaran matematika dan prestasi belajar matematika
di Indonesia sampai saat ini masih belum mengalami perubahan yang
menggembirakan. Terbukti dari sebagian besar siswa yang tidak lulus Ujian
Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 disebabkan karena tidak dapat
memenuhi batas minimal kelulusan pelajaran matematika yaitu 4,26.
Prestasi belajar matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto masih
relatif rendah, hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata Ujian Akhir
Nasional mata pelajaran matematika pada lima tahun terakhir dalam tabel 1
sebagai berikut:
Tabel 1. Nilai rata-rata Ujian Akhir Nasional Mata Pelajaran
Matematika SMP Negeri 4 Purwokerto
No Tahun Nilai
1 2001/2002 5,91
2 2002/2003 6,14
3 2003/2004 5,83
4 2004/2005 7,03
5 2005/2006 7,44
Sumber data: Bagian Kurikulum SMP Negeri 4 Purwokerto

Menurut pengamatan dan diskusi dengan rekan guru matematika


kelas VII, dibandingkan dengan kelas lain terlihat bahwa sebagian besar
siswa kelas VIIB prestasi belajar matematikanya masih rendah. Salah satu
penyebab rendahnya prestasi belajar matematika adalah siswa kurang ber-
partisipasi dalam aktivitas pembelajaran di kelas, sehingga siswa kurang
aktif dalam mengikuti pelajaran matematika.
Hasil belajar siswa selain dipengaruhi oleh model pembelajaran juga
dipengaruhi oleh partisipasi siswa. Jika siswa aktif dan berpartisipasi dalam
proses pembelajaran maka tidak hanya aspek prestasi saja yang diraihnya
namun ada aspek lain yang diperoleh yaitu aspek afektif dan aspek sosial.
Mengingat pentingnya partisipasi siswa dalam pembelajaran, maka guru
diharapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan partisipasi siswa, sedangkan siswa hendaknya dapat memotivasi
dirinya sendiri agar aktif di dalam proses pembelajaran. Dengan meningkat-

Lampiran 53
nya partisipasi siswa dalam pembelajaran maka diharapkan prestasi belajar
siswa akan semakin meningkat.
Menurut Anita Lie (2004:3) paradigma lama dimana guru memberi-
kan pengetahuan kepada siswa yang pasif sudah tidak bisa dipertahankan
lagi. Untuk itu maka guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran berdasarkan beberapa pokok pemikiran, yaitu: (1)
Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa, (2) Siswa
membangun pengetahuan secara aktif, (3) Guru perlu berusaha mengem-
bangkan kompetensi dan kemampuan siswa, (4) Pendidikan adalah interaksi
pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa.
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah
rendahnya partisipasi siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif.
Menurut Slavin (dalam Ibrahim, 2000:16), “Slavin menelaah penelitian dan
melaporkan bahwa sebanyak 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun
1972 sampai tahun 1986 yang menyelidiki pengaruh pembelajaran koope-
ratif terhadap hasil belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik-
teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil
belajar dibandingkan dengan pengalaman belajar individual atau
kompetitif”.
Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe. Tipe-tipe tersebut
antara lain, tipe STAD, Jigsaw, TGT, dan tipe struktural yaitu TPS dan
NHT. Oleh karena itu dalam menerapkan pembelajaran kooperatif guru
harus mempelajari terlebih dahulu langkah-langkah dari berbagai macam
tipe tersebut. Hal ini karena pada setiap tipe mempunyai langkah-langkah
khusus serta mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Setelah mengkaji pustaka dan diskusi dengan rekan guru, maka
untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika dalam pene-
litian tindakan kelas ini akan diterapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT
yang merupakan salah satu tipe dalam pendekatan struktural. Dalam
pendekatan struktural ada dua jenis, yaitu TPS (Think Pair Share) dan NHT
(Numbered Heads Together). Peneliti akan menerapkan tipe NHT dengan
pertimbangan karena menurut Anita Lie (2004:57) pada tipe ini mempunyai
keunggulan dapat mengoptimalkan partisipasi siswa. Dalam pelaksanaannya
pembelajaran kooperatif tipe NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk
saling membagi ide-ide dan jawaban yang paling tepat, serta dapat
mendorong siswa untuk meningkatkan partisipasi dan kerjasama mereka.

54 Penelitian Tindakan Kelas


B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan
partisipasi siswa?
b. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan prestasi
belajar matematika?

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus, masing-masing tujuan tersebut diuraikan sebagai
berikut:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk
meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sehingga
dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.

D. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penelitian tindakan kelas ini mencakup peningkatan
kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 4
Purwokerto melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT, sehingga diharapkan
dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika.

E. HASIL YANG DIHARAPKAN


Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat
langsung bagi sekolah, bagi guru, dan siswa. Manfaat tersebut masing-
masing diuraikan sebagai berikut:
1. Manfaat Langsung Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi sekolah yaitu
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

Lampiran 55
2. Manfaat bagi guru dan siswa.
a. Manfaat Bagi Guru
Guru dapat memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian
tindakan kelas dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Manfaat Bagi Siswa
Siswa dapat memperoleh pembelajaran matematika yang lebih
menarik dan menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan partisipasi
dan prestasi belajar matematika.

F. KAJIAN TEORI/PUSTAKA
1. Partisipasi Siswa dalam Proses Pembelajaran
Menurut Raymond (1996) partisipasi bisa diartikan sebagai ukuran
keterlibatan anggota dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Dalam perspektif
psikologis, partisipasi bisa dimaknai sebagai kondisi mental yang menunjuk-
kan sejauh mana anggota kelompok bisa menikmati posisinya sebagai
anggota kolektivitas, sehingga konsepsi partisipasi sangat terkait dengan
masalah kejiwaan. Semakin tinggi tingkat kesehatan mental seseorang maka
semakin tinggi kemampuan patisipasinya. Raymond menggambarkan
rangkaian partisipasi sebagai berikut:

(insanity) (marginal-participation) (sanity) (intimacy)


Insanity menunjukkan kondisi kejiwaan yang paling parah atau gila,
sehingga tidak mungkin seseorang menjadi partisipan. Sebaliknya sanity
menggambarkan kesehatan jiwa yang kondusif dari seseorang sehingga
memungkinkan seseorang mencapai puncak partisipasi yaitu intimacy. Teori
partisipasi mendefinisikan intimacy sebagai kedekatan dan persahabatan
yang menghasilkan kondisi dimana tiap anggota atau partner bisa
memuaskan satu sama lain.
Menurut Svinicki (1995) dalam konteks pembelajaran di kelas,
partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan aktif siswa dalam pemunculan
ide-ide dan informasi, sehingga kesempatan belajar dan pengingatan materi
bisa lebih lama. Sedangkan menurut Tannenbaun dan Hahn (dalam
Sukidin,et al, 2002:159) partisipasi merupakan suatu tingkat sejauhmana
peran anggota melibatkan diri dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga
dan pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut Dusseldor
(dalam Sukidin,et al, 2002:159) partisipasi diartikan sebagai kegiatan atau
keadaan mengambil bagian dalam suatu aktivitas untuk mencapai keman-
56 Penelitian Tindakan Kelas
faatan secara optimal. Dalam hal ini ada dua macam partisipasi, yaitu
partisipasi kontributif dan partisipasi inisiatif.
Partisipasi kontributif adalah termasuk partisipasi yang mendorong
aktivitas untuk mengikuti pembelajaran dengan baik, mengerjakan tugas
terstruktur baik di kelas maupun di rumah. Sedangkan partisipasi inisiatif
lebih mengarah pada aktivitas mandiri dalam melaksanakan tugas yang tidak
terstruktur. Dalam hal ini siswa mempunyai inisiatif sendiri dalam mempel-
ajari materi pelajaran yang belum pernah diajarkan dengan membuat catatan
ringkas. Dengan demikian partisipasi kontributif maupun inisiatif akan
membentuk siswa untuk selalu aktif dan kreatif sehingga mereka sadar
bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diperoleh melalui usaha keras,
dengan demikian siswa juga menyadari makna dan arti penting belajar.
Menurut Sudjana (2005:86) aspek-aspek partisipasi yang perlu
diamati dalam membuat pedoman observasi aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok adalah:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, et al (2000:2) semua model pembelajaran ditandai
adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward).
Pengertian struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan, masing-
masing diuraikan sebagai berikut:
a. Struktur Tugas
Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembel-
ajaran itu diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di
dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran
dengan kelompok kecil. Siswa diharapkan melakukan kegiatan selama
pengajaran itu, baik tuntutan akademik dan sosial terhadap siswa pada
saat mereka bekerja menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan
kepada mereka. Struktur tugas berbeda sesuai dengan berbagai macam
kegiatan yang terlibat di dalam pendekatan pengajaran tertentu. Sebagai
misal, beberapa pelajaran menghendaki siswa duduk pasif sambil
menerima informasi dari ceramah guru; pelajaran lain menghendaki

Lampiran 57
siswa mengerjakan LKS, dan pelajaran lain lagi menghendaki diskusi dan
berdebat.
b. Struktur Tujuan
Struktur tujuan suatu pelajaran adalah jumlah saling ketergan-
tungan yang dibutuhkan siswa pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka. Terdapat tiga macam struktur tujuan yang telah berhasil
diidentifikasi, yaitu:
1) Struktur Tujuan Individualistik
Struktur tujuan disebut individualistik jika pencapaian tujuan itu tidak
memerlukan interaksi dengan orang lain dan tidak bergantung pada
baik-buruknya pencapaian orang lain. Siswa yakin upaya mereka
sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya
siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut.
2) Struktur Tujuan Kompetitif
Struktur tujuan kompetitif terjadi bila seorang siswa dapat mencapai
suatu tujuan jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan
tersebut. Dengan demikian setiap usaha yang dilakukan oleh suatu
individu untuk mencapai tujuan merupakan saingan bagi individu
lainnya. Pembelajaran kompetitif ini dapat diilustrasikan dengan dua
orang yang sedang lomba tarik tambang. Keberhasilan seorang
penarik tambang berarti kegagalan bagi penarik tambang lainnya.
3) Struktur Tujuan Kooperatif
Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan
mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama
mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang
pencapaian tujuan itu. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai
jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Pola
pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini dapat
digambarkan seperti dua orang yang memikul balok. Balok akan dapat
dipikul bersama-sama jika dan hanya jika kedua orang tersebut
berhasil memikulnya. Kegagalan salah satu saja dari kedua orang itu
berarti kegagalan keduanya. Demikian pula halnya dengan tujuan
yang akan dicapai oleh kelompok siswa tertentu. Tujuan kelompok
akan tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya
secara bersama-sama.
Perbandingan ketiga macam struktur tujuan tersebut di atas
ditunjukkkan pada Gambar 1 berikut ini.

58 Penelitian Tindakan Kelas


Gambar 1. Tiga macam struktur
tujuan c. Struktur Penghargaan
Struktur penghargaan untuk berbagai macam model pembelajaran
juga bervariasi. Ketiga macam struktur penghargaan individualistik,
kompetitif, dan kooperatif dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Struktur Penghargaan Individualistik
Struktur penghargaan individualistik terjadi bila suatu penghargaan itu
bisa dicapai oleh siswa manapun tidak bergantung pada pencapaian
individu lain. Kepuasan berhasil mengangkat barbel 100 kg adalah
salah satu contoh struktur penghargaan individualistik ini.
2) Struktur Penghargaan Kompetitif
Struktur penghargaan kompetitif terjadi bila penghargaan itu diperoleh
sebagai upaya individu melalui persaingannya dengan orang lain.
Pemberian nilai berdasar ranking dalam kelas merupakan contoh
struktur penghargaan itu. Begitu pula halnya dengan penentuan
pemenang pada berbagai lomba lain yang bersifat perorangan,
misalnya olah raga tinju, karate, balap sepeda, renang, dan sebagainya.
3) Struktur Penghargaan Kooperatif
Struktur penghargaan kooperatif terjadi bila penghargaan itu diperoleh
sebagai upaya individu membantu individu lain dalam memperoleh
penghargaan. Sebagai contoh pada pertandingan olah raga beregu
seperti sepak bola. Keberhasilan regu tidaklah akibat dari satu atau dua
orang pemain, melainkan karena keberhasilan bersama anggota regu
tersebut.

Lampiran 59
d. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Ibarihim, et al. (2000:6) mengemukakan bahwa terdapat tujuh
unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka
“sehidup sepenanggungan bersama”
2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya
seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya
memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di
antara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
e. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Ibrahim, et al (2000:6) mengemukakan bahwa pembelajaran
kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Siswa bekerja dalam kelompoknya secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajarnya.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah.
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,
jenis kelamin yang berbeda-beda.
4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada
individu. f. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Kooperatif
Menurut Ibrahim, et al (2000:7) terdapat tiga tujuan penting
pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Hasil Belajar Akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan
sosial, pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat
bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-
konsep yang sulit.

60 Penelitian Tindakan Kelas


2) Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Efek penting yang kedua dari pembelajaran kooperatif ialah penerima-
an yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, klas
sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran koope-
ratif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan
kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-
tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan
kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk
mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat
dimana banyak pekerjaan orang dewasa yang sebagian besar
dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain,
dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam.
g. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam langkah utama di dalam pembelajaran kooperatif,
yaitu:
1) Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa
Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk
belajar.
2) Menyajikan Informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi
atau lewat bahan bacaan.
3) Mengorganisasi Siswa ke Dalam Kelompok-kelompok Belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
4) Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas.
5) Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya.
6) Memberikan Penghargaan
Lampiran 61
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.
h. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh
proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang
harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu
struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan
semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan
dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pembelajaran koope-
ratif ingin sukses, maka materi pembelajaran harus tersedia di ruangan
guru atau di perpustakaan atau di pusat media. Keberhasilan juga
menghendaki syarat menjauhkan kesalahan, yaitu secara ketat mengelola
tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Menurut Ibrahim, et al (2000:28) pembelajaran kooperatif tipe NHT
dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak
siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan
mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai
gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan
struktur empat langkah seperti berikut:
a. Langkah 1: Penomoran
Guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5
orang secara heterogen, kemudian setiap anggota diberi nomor antara 1
sampai 5.
b. Langkah 2: Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi dan dapat amat spesifik dalam bentuk kalimat tanya.
c. Langkah 3: Berpikir Bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu.
d. Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya
sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab perta-
nyaan untuk seluruh kelas.
Secara lebih rinci, keempat langkah tersebut dijelaskan sebagai
berikut:

62 Penelitian Tindakan Kelas


a. Pendahuluan
Langkah 1: Penomoran
1) Kegiatan ini diawali dengan membagi siswa kedalam kelompok yang
beranggotakan 3 sampai 5 siswa, kemudian setiap siswa diberi label
nomor (antara 1 sampai 5).
2) Menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas serta
mengaitkan dengan materi pelajaran sebelumnya.
3) Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara
rinci dan menjelaskan model pembelajaran NHT yang akan
diterapkan.
4) Memotivasi siswa agar timbul rasa ingin tahu tentang konsep-konsep
materi pelajaran yang akan dibahas.
b. Kegiatan Inti
1) Langkah 2: Mengajukan pertanyaan
a) Menjelaskan materi pelajaran secara singkat
b) Mengajukan pertanyaan untuk seluruh kelompok
2) Langkah 3: Berpikir bersama
a) Seluruh siswa dalam kelompoknya masing-masing memikirkan
jawaban pertanyaan yang diajukan guru.
b) Menyatukan pendapat jawaban (bisa dalam bentuk LKS) dibawah
bimbingan guru dan memastikan bahwa anggota kelompoknya
sudah mengetahui jawabannya.
3) Langkah 4: Menjawab pertanyaan
a) Guru memanggil salah satu nomor dari salah satu kelompok secara
acak.
b) Siswa yang dipanggil nomornya dalam kelompok yang bersang-
kutan mengacungkan tangannya.
c) Siswa yang dipanggil nomornya mencoba menjawab pertanyaan
untuk seluruh kelas dan ditanggapi oleh kelompok lain.
d) Jika jawaban dari hasil diskusi kelas sudah dianggap betul, siswa
diberi kesempatan untuk mencatat jawaban tersebut, namun apabila
jawaban masih salah maka guru memberikan penjelasan tentang
jawaban yang betul.
e) Guru memberikan pujian kepada siswa atau kelompok yang
menjawab betul.
c. Penutup
1) Guru memberikan umpan balik.
2) Guru membimbing siswa menyimpulkan materi pelajaran.
Lampiran 63
3) Siswa diberi tugas pekerjaan rumah atau mengerjakan kuis secara
individu.
d. Evaluasi
Karena sampai saat ini belum ada pedoman penilaian dalam NHT maka
pada evaluasi hasil belajar dan pemberian penghargaan pada kelompok,
peneliti mengadopsi pedoman penilaian dalam STAD dengan langkah-
langkah dalam Slavin (1995) sebagai berikut:
1) Pengetesan
Menurut Slavin (1995) pengetesan dimulai dengan guru meminta
siswa menjawab kuis tentang materi pelajaran. Dalam banyak hal,
butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan suatu jenis tes uraian
singkat, sehingga butir-butir itu dapat disekor di kelas atau segera
setelah tes itu diberikan.
2) Skor Peningkatan
Siswa memperoleh skor peningkatan berdasarkan tingkat skala dimana
skor tes mereka melebihi skor dasar mereka. Uraian bagai-mana skor
individual ditentukan, ditunjukkan pada langkah-langkah berikut:

 Langkah 1: Menetapkan skor dasar



Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu.

 Langkah 2: Menghitung skor kuis terkini

Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan
pelajaran terkini.

 Langkah 3: Menghitung skor peningkatan

Siswa mendapatkan poin peningkatan yang besarnya ditentukan
apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor
dasar mereka dengan menggunakan skala yang ditunjukkan pada
Tabel 2 berikut:

64 Penelitian Tindakan Kelas


Tabel 2. Skala poin peningkatan
Skor
No Skor tes terkini
Peningkatan
1 Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 0 poin
2 10 poin dibawah sampai 1 poin skor dasar 10 poin
3 Skor dasar sampai 10 poin di atas skor 20 poin
dasar
4 Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin
5 Pekerjaan sempurna (tanpa 30 poin
memperlihatkan skor dasar)

Sedangkan format lembar penyekoran kuis ditunjukkan pada Tabel 3


berikut:
Tabel 3. Contoh format lembar penyekoran kuis
Tanggal: 5 Sept Tanggal: Tanggal:
No Siswa Kuis: Penjumlahan Kuis: Kuis:
Skor Skor Skor
Dasar Kuis Peningkatan
1 Azarine 90 100 30
2 Naofal 85 98 30
3 Afitri 80 67 0
4 Ilham 75 79 20
5 Ika 70 91 30
6 Prabo 55 46 10
7 Aji 55 40 0

3) Penghargaan Skor Tim


Suatu tugas penilaian dan evaluasi penting terakhir untuk pembel-
ajaran kooperatif adalah pemberian penghargaan. Menurut Slavin
(1995:80) pemberian penghargaan atas pencapaian kelompok didasar-
kan pada tiga tingkatan, yaitu tim baik, tim hebat, dan tim super.
Langkah-langkah penentuan dan penghargaan skor tim adalah sebagai
berikut:

Lampiran 65
 Langkah 1: Penentuan skor tim

Skor tim dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap
individu anggota tim dan membagi dengan jumlah anggota tim
tersebut.

 Langkah 2: Penghargaan atas prestasi tim

Tiap-tiap tim menerima piagam penghargaan atau hadiah
berdasarkan pada sistem poin berikut ini:
Rata-rata tim Penghargaan
15 poin Tim Baik
20 poin Tim Hebat
25 poin Tim Super
Sedangkan format lembar rangkuman penentuan penghargaan tim
ditunjukkan pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Contoh lembar rangkuman penentuan
penghargaan tim
Nama tim: Fantastic Four
Anggota Tim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Azarine 30
Naofal 30
Afitri 20
Ilham 20
Jumlah 100
Rata-rata 25
Penghargaan Tim
Super

4. Pengertian Matematika
Menurut Dikmenum (2005:1) matematika berasal dari bahasa latin
manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari.
Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang
kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh
sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep
66 Penelitian Tindakan Kelas
atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian,
pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui
pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat
digunakan untuk mempelajari konsep matematika.
Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang
teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan
hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif.
Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan
sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Penerapan cara
kerja matematika seperti ini diharapkan dapat membentuk sikap kritis,
kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.
5. Fungsi dan Tujuan Matematika
Menurut Dikmenum (2005:2) matematika berfungsi mengembang-
kan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan
rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui
materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus
dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan
mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa
kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
Tujuan pembelajaran matematika menurut Dikmenum (2005:2)
adalah:
a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya
melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan
kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intiusi, dan
penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa
ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomu-
nikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta,
diagram, dalam menjelaskan gagasan.
6. Ruang Lingkup Matematika
Menurut Dikmenum (2005:2) standar kompetensi matematika
merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus
ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran
matematika. Standar ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar serta
hasil belajarnya, indikator, dan materi pokok untuk setiap aspeknya.

Lampiran 67
Lebih lanjut Dikmenum (2005:2) mengemukakan bahwa pengo-
rganisasian dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan
menurut disiplin ilmunya atau didasarkan menurut kemahiran atau
kecakapan yang hendak ingin dicapai. Aspek atau ruang lingkup materi pada
standar kompetensi matematika adalah bilangan, pengukuran dan geometri,
aljabar, trigonometri, peluang dan statistika, dan kalkulus.
7. Standar Kompetensi Bahan Kajian Matematika
Menurut Dikmenum (2005:3) kecakapan atau kemahiran matematika
yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai dari SD dan
MI sampai SMA dan MA, adalah sebagai berikut:
a. Menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelas-
kan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
b. Memiliki kemampuan mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel,
grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah.
c. Menggunakan penalaran pada pola, sifat, atau melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelas-
kan gagasan dan pernyataan matematika.
d. Menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan),
menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan
masalah.
e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.
8. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SMP Kelas VII,
Semester I )
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Bilangan
1. Memahami sifat-sifat Melakukan operasi hitung bilangan
operasi hitung bilangan bulat dan pecahan
dan penggunaannya dalam Menggunakan sifat-sifat operasi
pemecahan masalah hitung bilangan bulat dan pecahan
dalam pemecahan masalah
Aljabar
2. Memahami bentuk aljabar, 2.1 Mengenali bentuk aljabar dan
persamaan dan pertidak- unsur-unsurnya.
samaan linear satu variabel 2.2 Melakukan operasi pada
bentuk aljabar

68 Penelitian Tindakan Kelas


2.3 Menyelesaikan persamaan
linear satu variabel
2.4 Menyelesaikan pertidaksama-
an linear satu variabel
3.1 Membuat model matematika
dari masalah yang berkaitan
dengan persamaan dan
pertidaksamaan linear satu
variabel
3. Menggunakan bentuk 3.2 Menyelesaikan model
aljabar, persamaan dan matematika dari masalah yang
pertidaksamaan linear satu berkaitan dengan persamaan
variabel, dan perbandingan dan pertidaksamaan linear satu
dalam pemecahan masalah variabel
3.3 Menggunakan konsep aljabar
dalam pemecahan masalah
aritmatika sosial yang
sederhana
3.4 Menggunakan perbandingan
untuk pemecahan masalah

9. Prestasi Belajar Matematika


Menurut Erman S. (2003:13) hasil belajar mencakup aspek yang
berkenaan dengan perubahan dan kemampuan yang telah dimiliki siswa pada
ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan dan kemampuan yang
telah dimiliki tersebut bisa berupa komunikasi, interaksi, kreativitas, dan
sebagainya. Prestasi belajar adalah sebagian dari hal tersebut, yaitu
berkenaan dengan hasil tes yang mencerminkan kemampuan siswa dalam
menguasai materi pelajaran.
Menurut Gagne dalam Winkel (1996:482) kemampuan-kemam-
puan siswa digolongkan dalam hal informasi verbal, kemahiran intelektual,
pengaturan kegiatan kognitif, kemampuan motorik, dan sikap. Kemampuan-
kemampuan tersebut merupakan kemampuan internal yang harus dinyatakan
dalam suatu prestasi. Menurut Winkel (1996:482) prestasi belajar yang
diberikan oleh siswa berdasarkan kemampuan internal yang diperolehnya
sesuai dengan tujuan instruksional menampakkan hasil belajar.

Lampiran 69
Menurut Winkel (2004:438) dapat dipertanyakan juga, apakah
evaluasi produk (hasil belajar) jatuh di luar proses pembelajaran, karena
pada akhir proses pembelajaran guru akan menuntut suatu prestasi, sebagai
bukti nyata bahwa hasil yang dituju telah tercapai, yang kemudian dievaluasi
dengan memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, biasanya juga
diadakan evaluasi beberapa waktu kemudian, misalnya bila siswa menempuh
ulangan atau ujian, evaluasi itu mencakup sejumlah hasil belajar yang telah
diperoleh.
Dari pengertian yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan
bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil tes yang mencerminkan
kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran matematika.

G. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN


KELAS 1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di kelas VIIB SMP
Negeri 4 Purwokerto.
2. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIB SMP Negeri 4
Purwokerto sebanyak 44 anak yang menurut hasil diagnosis tim peneliti
memiliki partisipasi dan prestasi belajar matematika yang paling rendah.
3. Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian
tindakan kelas ini yaitu penggunaan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Dengan menggunakan pembelajaran ini diharapkan terjadi peningkatan
partisipasi siswa dalam proses pembelajaran matematika sehingga diharap-
kan prestasi belajar matematika juga meningkat.
Indikator keberhasilan tindakan, metode pengukuran dan evaluasi
diuraikan dalam tabel 5 sebagai berikut:

70 Penelitian Tindakan Kelas


Tabel 5. Indikator keberhasilan tindakan, metode pengukuran dan
evaluasi
No Indikator Keberhasilan Metode Pengukuran dan Evaluasi
Tindakan
1 Indikator Proses a. Indikator diukur dari keadaan awal
Pembelajaran sebelum diberi tindakan, yaitu rendahnya
 Partisipasi siswa dalam partisipasi siswa dalam proses
proses pembelajaran. pembelajaran, meliputi:
1) Memberikan pendapat untuk peme-
cahan masalah.
2) Memberikan tanggapan terhadap
pendapat orang lain.
3) Mengerjakan tugas yang diberikan
oleh guru.
4) Motivasi dalam mengerjakan tugas.
5) Toleransi dan mau menerima pen-
dapat orang lain.
6) Mempunyai tanggung jawab sebagai
anggota kelompok.
b. Indikator keberhasilan diukur dengan
menggunakan angket partisipasi setelah
siswa mengikuti pembelajaran kooperatif
tipe NHT pada setiap siklus.
c. Untuk mengukur keberhasilan tindakan,
disamping dengan angket partisipasi juga
dengan angket respon siswa terhadap
pembelajaran kooperatif tipe NHT, lembar
observasi aktivitas siswa dan guru yang
dilakukan oleh pengamat.

2 Indikator Hasil Metode pengukuran dan evaluasi mengadopsi


Pembelajaran penilaian dalam STAD dengan langkah-
 Prestasi belajar langkah:
matematika a. Pada setiap akhir pertemuan diberikan tes
dalam bentuk kuis.
b. Hasil kuis untuk menentukan skor pening-
katan individu.
c. Skor peningkatan individu untuk menen-
tukan rata-rata skor peningkatan
kelompok.
d. Rata-rata skor peningkatan kelompok
untuk menentukan jenis penghargaan
kelompok.

Lampiran 71
4. Tahap Pelaksanaan
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam 3 siklus,
dimana kegiatan setiap siklusnya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindak-
an, observasi, evaluasi, dan refleksi. Adapun rincian kegiatan pada setiap
siklusnya diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah:
1) Mengadakan pertemuan, guru pelaksana tindakan dan guru pengamat
berdiskusi tentang persiapan penelitian.
2) Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi
aktivitas siswa, angket partisipasi, angket respon siswa, soal tes,
pedoman wawancara dan catatan lapangan.
3) Menyiapkan rencana pelajaran yang telah disusun pada persiapan
penelitian.
4) Menyiapkan tape recorder dan alat tulis untuk observasi dan
wawancara.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, guru matematika kelas VIIB sebagai
pelaksana tindakan melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan
rencana pelajaran yang telah disusun.
c. Observasi
Pada tahap observasi ini, dilakukan observasi aktivitas guru, observasi
aktivitas siswa, dan wawancara dengan siswa. Observasi dilakukan oleh
guru pengamat. Wawancara direkam dengan tape recorder dan dicatat
dalam catatan lapangan.
d. Evaluasi
Pada tahap evaluasi ini, untuk mengukur tingkat partisipasi siswa
menggunakan angket dan untuk mengukur prestasi belajar matematika
menggunakan tes. Sedangkan untuk mengevaluasi aktivitas guru dan
siswa di kelas menggunakan lembar observasi dan wawancara. Di
samping itu untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
kooperatif tipe NHT menggunakan angket respon siswa.
e. Refleksi
Pada tahap refleksi, data yang diperoleh dari hasil evaluasi kemudian
dianalisis. Hasil analisis digunakan untuk merefleksi pelaksanaan
tindakan pada siklus tersebut, hasil refleksi kemudian digunakan untuk

72 Penelitian Tindakan Kelas


merencanakan tindakan pada siklus berikutnya. Prosedur, alat, pelaku,
sumber informasi, dan cara analisisnya diuraikan pada tabel 6 berikut:
Tabel 6: Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisisnya.
Sumber Cara
No Prosedur Alat Pelaku
Informasi Analisis
1 Menganalisis Angket, dan Guru Siswa Analisis
partisipasi catatan Pelaksana kualitatif
siswa lapangan tindakan untuk hasil
angket dan
wawancara
(berdasar
pada catatan
lapangan)
2 Menganalisis Lembar Guru Guru Analisis
aktivitas guru observasi, Pengamat Pelaksana kuantitatif
tape tindakan dan
recorder, dan kualitatif
catatan
lapangan
3 Menganalisis Lembar Guru Siswa Analisis
aktivitas dan observasi, Pengamat kualitatif
respon siswa angket respon
siswa, tape
recorder dan
catatan
lapangan
3 Menganalisis Tes Guru Siswa Analisis
Prestasi Pelaksana kuantitatif
Belajar Siswa tindakan dan
kualitatif

H. JADWAL KEGIATAN PENELITIAN


Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan selama 3 bulan,
mulai bulan September s.d. Desember 2006. Adapun rincian jadwal kegiatan
penelitian tindakan kelas disajikan pada tabel 7 sebagai berikut:

Lampiran 73
Tabel 7. Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
No Kegiatan Minggu ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Persiapan
a. Penyusunan
pedoman kerja X
b. Penyusunan
instrumen dan
perangkat
pembelajaran X X
2 Pelaksanaan
Penelitian Siklus I
a. Perencanaan
Tindakan X
b. Pelaksanaan
Tindakan,
observasi,
evaluasi X
c. Analisis dan
refleksi X
3 Pelaksanaan
Penelitian Siklus II
a. Perencanaan
Tindakan X
b. Pelaksanaan
Tindakan,
observasi,
evaluasi X
c. Analisis dan
refleksi X
4 Pelaksanaan
Penelitian Siklus
II a. Perencanaan
Tindakan X
b. Pelaksanaan
Tindakan,
observasi,
evaluasi X
c. Analisis dan
refleksi X
5 Pelaksanaan
Monitoring X
6 Seminar Hasil
Penelitian X
7 Penyusunan
Laporan Penelitian XX X

74 Penelitian Tindakan Kelas


I. KOMPONEN BIAYA
1. Persiapan Pendahuluan
a.
Konsumsi pertemuan tim peneliti: Rp 30.000,00
b.
Pengetikan usulan penelitian, 40 x Rp 1.000,00: Rp 40.000,00
c.
Penggandaan usulan penelitian, 6 x Rp 5.000,00: Rp 30.000,00
d.
Penjilidan usulan penelitian, 6 x Rp 10.000,00: Rp 60.000,00
e.
Pengiriman usulan penelitian: Rp 100.000,00
Jumlah 1: Rp 260.000,00
2. Operasional
a. Perencanaan Tindakan
1) Buku dan pustaka acuan: Rp 200.000,00
2) Penyusunan dan pengetikan draf bahan ajar: Rp 300.000,00
3) Penggandaan draf bahan ajar,
40 x 50 lb x Rp 100,00: Rp 200.000,00
4) Penyusunan pedoman dan lembar pengamatan,
angket dan soal, 40 x Rp 2.000,00: Rp 80.000,00
5) Penggandaan pedoman dan lembar pengamatan
9 x 2 x Rp 1.000,00: Rp 18.000,00
6) Penggandaan angket, 2 x 40 x 3x Rp 100: Rp 24.000,00
7) Penggandaan soal tes: Rp 60.000,00
8) Bahan habis pakai (Alat Tulis Kantor)
  Kertas HVS 80 gram, 2 rim @ Rp 30.000,00: Rp 60.000,00
  Disket 1 box: Rp 40.000,00
  Kertas buram 1 rim: Rp 12.000,00
  Cartride dan alat-alat tulis : Rp 270.000,00
  Transparansi 1 box : Rp 25.000,00
  Spidol transparansi 1 set: Rp 48.000,00
 Spidol white board 1 set: Rp 48.000,00
Jumlah 2a: Rp 1.385.000
b. Implementasi Tindakan
  Transport dan konsumsi pelaksanaan tindakan
2 x 3 x Rp 20.000,00: Rp 120.000,00

c. Observasi dan Evaluasi
 Transport dan konsumsi 2 orang peneliti
 dalam 3 kali tindakan @ Rp 30.000,00: Rp 180.000,00
 Tabulasi dan analisa data, 40 x Rp 3.000,00: Rp 120.000,00

Lampiran 75
 Transport dan konsumsi analisis data
2 x 3 x Rp 30.000,00: Rp 180.000,00
Jumlah 2c: Rp 480.000,00
d. Analisis dan Refleksi
 Tabulasi dan analisa data, 40 x Rp 3.000,00: Rp 120.000,00
 Transport dan konsumsi analisis data
2 x 3 x Rp 20.000,00: Rp 120.000,00
Jumlah 2d: Rp 240.000,00
Jumlah biaya pelaksanaan satu siklus (b, c, dan d) : Rp 840.000,00
Biaya operasional tiga siklus (3x Rp 840.000,00): Rp 2.520.000,00

3. Penyusunan Laporan Hasil Penelitian


a. Menyusun konsep laporan
2 orang x 2 hari x Rp 40.000: Rp 160.000,00
b. Menyusun konsep naskah publikasi
2 orang x Rp 20.000,00: Rp 40.000,00
c. Alat Tulis Kantor: Rp 300.000,00
d. Pengetikan laporan, 70 lembar x Rp 1.000,00: Rp 70.000,00
e. Pengetikan naskah publikasi, 15 lembar x Rp 1.000,00: Rp 15.000,00
f. Menyusun bahan seminar: Rp 100.000,00
g. Menyelenggarakan seminar, 30 orang x Rp 15.000,00: Rp 450.000,00
h. Penerbitan jurnal publikasi: Rp 300.000,00
Jumlah 3: Rp 1.435.000,00
4. Penggandaan dan Pengiriman laporan akhir
a. Penggandaan laporan, 10 x 70 x Rp 100,00 : Rp 70.000,00
b. Penjilidan laporan, 10 x Rp 4.000,00: Rp 40.000,00
c. Penggandaan naskah publikasi, 4 x 15 x Rp 100,00: Rp 6.000,00
d. Penjilidan naskah publikasi, 4 x Rp 4.000,00: Rp 4.000,00
e. Pengiriman laporan penelitian: Rp 80.000,00
Jumlah 4: Rp 200.000,00
5. Honorarium
a. Ketua Peneliti, 3 bulan x Rp 500.000,00 : Rp 1.500.000,00
b. Anggota Peneliti, 3 bulan x Rp 400.000,00: Rp 1.200.000,00
Jumlah 5: Rp 2.700.000,00

76 Penelitian Tindakan Kelas


6. Biaya lain-lain
a. Sewa komputer, 3 bulan x Rp 300.000,00: Rp 900.000,00
b. Manajemen fee: Rp 350.000,00
c. Pengelolaan internal: Rp 250.000,00
Jumlah 6: Rp 1.500.000,00

Jumlah biaya seluruhnya: Rp 10.000.000,00 (Sepuluh Juta Rupiah)

J. DAFTAR PUSTAKA
Anita Lie. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Dikmenum. 2005. Kurikulum Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Artikel
PMU
Erman, S. 2003. Asesmen Proses dan Hasil dalam Pembelajaran
Matematika. Bandung: BPG Depdiknas
Ibrahim, M, et al.. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University
Press.
Ponco Sudjatmiko. 2004. Matematika Kreatif Konsep dan Terapannya (Jilid
2A). Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Raymond, T. 1996. Participation Theory. Diakses dari
http://Virtual_valley.com/ traymond/participation. Html
Sukidin, et al.. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Insan
Cendekia.
Sardiman, A.M. 2001, Interaksi dan Motivasi Pembelajaran. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Sukarman, H. 2003. Dasar-dasar Didaktik dan Penerapannya dalam
Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Slavin, E. 1995. Cooperative Learning. USA: Allyn and Bacon
Svinicki, M. 2000. Encouraging Student Participation In Class, University
of Texas atAustin.http://www.utexas.edu/student/utic/si/
simanual4ns/leaddisc/encstupart in class. Doc
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.
___________. 2004. Psikologi Pengajaran (Edisi Revisi). Yogyakarta:
Media Abadi

Lampiran 77
Curriculum Vitae

Identitas Ketua Peneliti


1. Nama Lengkap dan Gelar :
Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
2. NIP :
132195595
3. Tempat dan Tanggal Lahir :
Banyumas, 3 Desember 1972
4. Jenis Kelamin :
Perempuan
5. Pangkat, Golongan :
Penata Tk 1/ III/d
6. Jabatan :
Guru Dewasa Tk.1
7. Alamat Kantor :
JL. Kertawibawa 575 Purwokerto Barat
Kode Pos (53135)
8. Nomor Telepon Kantor : (0281) 635053
9. Alamat Rumah : Pasir Wetan RT 02/RW 02 Banyumas
10. Latar Belakang Pendidikan :
a. Sarjana Pendidikan Matematika dan
Akta Mengajar IV Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Lulus
Tahun 1997
b. Magister Pendidikan pada Program
Studi Teknologi Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Lulus
Tahun 2006
11. Pengalaman Penelitian yang relevan:
Sumber
No Judul Tahun Status
Dana
1 Meningkatkan Minat Siswa Dalam 2004 Anggota Dikti
Mengikuti Pelajaran Matematika Melalui
Pembelajaran Sistem STAD di Kelas IIIA
SLTP Negeri 4 Purwokerto
2 Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar 2005 Anggota Dikti
Matematika Melalui Pembelajaran
Kooperatif Metode Jigsaw (Studi di SMP
Negeri 4 Purwokerto)
3 Peningkatan Motivasi dan Ketuntasan 2006 Ketua Mandiri
Belajar Matematika Melalui Pembelajaran
Kooperatif tipe STAD (Tesis S2)
4 Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe 2006 Anggota Dikti
TGT (Teams Game Tournaments) untuk
Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi
Belajar Matematika (Studi di SMP Negeri
4 Purwokerto)

78 Penelitian Tindakan Kelas


12. Pelatihan yang telah diikuti:

No Nama Kegiatan Tempat Waktu Tahun


1 Pendidikan dan Pelatihan PKB Sekolah Kab. 192 Jam 1998/1999
Dekat (MGMP) Banyumas
2 Pelatihan Statistika dan Komputer Univ. Muh. 31 Jam 2002
Purwokerto
3 Pelatihan Pengembangan Sistem Univ. Muh. 30 Jam 2003
Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar Purwokerto
4 Pelatihan dan Pembimbingan Penyusunan Dinas 34 Jam 2004
Pengembangan Profesi Pendidikan
Banyumas
5 Pelatihan Model Pembelajaran Univ. Muh. 31 Jam 2004
Matematika, Penelitian, dan Komputer Purwokerto
6 Re-Trainning Mata Pelajaran melalui SMPN 4 44 Jam 2004
Musyawarah Guru Mata Pelajaran Purwokerto
(MGMP)

Purwokerto, 4 Agustus 2006

(Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.)


NIP. 132195595

Lampiran 79
Lampiran 3: Contoh Laporan Hasil PTK

LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF


TIPE NHT(NUMBERED HEADS TOGETHER)
UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI
DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
DI SMP NEGERI 4 PURWOKERTO

Oleh:
Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
Nyata, S.Pd.

SMP NEGERI 4 PURWOKERTO DINAS


PENDIDIKAN KABUPATEN BANYUMAS 2006

80 Penelitian Tindakan Kelas


HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN HASIL PENELITIAN
1. Judul Penelitian Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
(Numbered Heads Together) untuk
Meningkatkan Partisipasi dan Prestasi Belajar
Matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto
2. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
b. Pangkat, Golongan dan
NIP Guru Dewasa Tk 1/ III/d/ 132195595
c. Nama Sekolah
d. Alamat SMP Negeri 4 Purwokerto
JL. Kertawibawa No. 575 Purwokerto Barat
e. Telp/ Fax/ Email (0281) 635053
f. Kabupaten Banyumas
g. Provinsi Jawa Tengah
3. Lama Penelitian 3 bulan
4. Biaya yang diperlukan Rp10.000.000,00
(Sepuluh Juta Rupiah)
5. Sumber Pembiayaan DIPA Balitbang Depdiknas Tahun 2006
Kegiatan Pembaruan Sistem Pendidikan
Nasional

Purwokerto, 6 Desember 2006

Mengetahui,
Kepala SMP Negeri 4 Purwokerto Ketua Peneliti,

(Achmad Sahidin, S.Pd.) (Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.)


NIP. 130345626 NIP. 132195595

Mengetahui,
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas

(Drs. H. Haris Nurtiono, M.Si.)


NIP. 131470867
HALAMAN IDENTITAS
Lampiran 81
1. Judul Penelitian: Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
(Numbered Heads Together) untuk Meningkatkan Partisipasi dan
Prestasi Belajar Matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto
2. Ketua Peneliti
 Nama lengkap dan gelar : Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
 Bidang keahlian : Pendidikan Matematika dan
Teknologi Pendidikan
 Jabatan/ Pekerjaan : Guru Dewasa Tk.1/ PNS
 Unit Kerja : SMP Negeri 4 Purwokerto
 Alamat Surat : SMP Negeri 4 Purwokerto
Jl. Kertawibawa No. 575 Purwokerto
Barat Kode Pos: 53135
 Telepon : (0281) 635053
3. Anggota Peneliti
Nama dan Alokasi Waktu
Bidang
No. Gelar Institusi
Keahlian Jam/Mg Bulan
Akademik
1 Nyata, S.Pd. Pendidikan SMP Negeri 4
12 3
Matematika Purwokerto

4. Subyek Penelitian : Siswa Kelas VIIB SMP Negeri


4 Purwokerto
5. Periode pelaksanaan penelitian : 3 (tiga) bulan
6. Jumlah anggaran yang diusulkan : Rp 10.000.000,00 (Sepuluh
Juta Rupiah)
7. Lokasi Penelitian : SMP Negeri 4 Purwokerto
8. Rencana rekomendasi yang ditargetkan:
Penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pembelajaran kooperatif
tipe NHT diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
matematika, khususnya dalam meningkatkan partisipasi dan prestasi
belajar matematika.
9. Sekolah pengusul : SMP Negeri 4 Purwokerto
10. Instansi lain yang terlibat : --

82 Penelitian Tindakan Kelas


ABSTRAK

Masalah penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya partisipasi


dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Negeri Purwokerto
Semester I Tahun Pelajaran 2006/2007. Tujuan umum penelitian adalah
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, sedangkan tujuan khusus
adalah meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika. Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi sekolah yaitu meningkatkan
kualitas pembelajaran matematika, disamping itu juga bermanfaat bagi guru
dan siswa. Dengan melakukan penelitian tindakan kelas maka guru
memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian dan meningkatkan
kualitas pembelajaran, sedangkan siswa memperoleh pembelajaran yang
lebih menarik dan menyenangkan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3
siklus, dimana aktivitas setiap siklusnya meliputi perencanaan, tindakan,
observasi, evaluasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIB
sebanyak 43 siswa. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah
menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together)
pada pelajaran matematika pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan.
Instrumen penelitian menggunakan kuis matematika, angket partisipasi,
angket respon siswa, lembar observasi guru, dan catatan lapangan.
Pelaksanaan penelitian secara kolaboratif dengan melibatkan 2 orang guru
matematika. Seorang guru matematika kelas VIIB bertindak sebagai
pelaksana tindakan, dan seorang guru lagi bertindak sebagai pengamat
aktivitas guru dan siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan
partisipasi dan prestasi belajar siswa. Siklus I dengan rata-rata skor
partisipasi 3,38, dan rata-rata skor prestasi belajar matematika 71,58. Siklus
II dengan rata-rata skor partisipasi 3,51, dan rata-rata skor prestasi belajar
matematika 73,28 Siklus III dengan rata-rata skor partisipasi 3,62, dan rata-
rata skor prestasi belajar matematika 78,67. Dengan demikian penelitian
tindakan kelas ini dikatakan berhasil sehingga peneliti merekomendasikan
penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan partisipasi
dan prestasi belajar matematika pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan.

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, partisipasi prestasi belajar

Lampiran 83
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah SWT, laporan penelitian


kami dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
(Numbered Heads Together) untuk Meningkatkan Partisipasi dan Prestasi
Belajar Matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto” telah dapat diselesaikan.
Kami menyadari bahwa pelaksanaan penelitian ini tidak terlepas dari
bantuan dan dukungan semua pihak. Sehubungan dengan itu, perkenan-
kanlah kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Balitbang Departemen Pendidikan Nasional,
2. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas,
3. Kepala SMP Negeri 4 Purwokerto,
4. semua pihak yang telah membantu kami dalam melaksanakan penelitian
ini.
Akhir kata semoga laporan hasil penelitian ini bermanfaat bagi
pembaca dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Purwokerto, 6 Desember 2006

Tim Peneliti

84 Penelitian Tindakan Kelas


DAFTAR ISI
Halaman
Cover Kulit Muka Laporan ...........................................................................i
Halaman Pengesahan .....................................................................................ii
Halaman Identitas ...........................................................................................iii
ABSTRAK.......................................................................................................iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................v
DAFTAR ISI ...................................................................................................vi
DAFTAR TABEL ..........................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................ix

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................1


A. Latar Belakang ...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah .....................................................................................3
C. Tindakan yang Dipilih ..............................................................................3
D. Tujuan Penelitian.......................................................................................3
E. Ruang Lingkup ...........................................................................................3
F. Hasil yang Diharapkan ..............................................................................3

BAB II ACUAN TEORI .............................................................................5


A. Acuan Teori Substansi Mata Pelajaran ..................................................5
B. Acuan Teori Tindakan yang Dipilih .......................................................8

BAB III PROSEDUR PENELITIAN .........................................................20


A. Lokasi dan Subyek Penelitian..................................................................20
B. Rencana Tindakan .....................................................................................20
C. Pengumpulan Data ....................................................................................21
D. Analisis Data ..............................................................................................21

BAB IV HASIL PENELITIAN ...................................................................23


A. Deskripsi Hasil Tindakan .........................................................................23
1. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I ......................................................23

Lampiran 85
2. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II ....................................................23
3. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus III ...................................................24
B. Deskripsi Model Tindakan .......................................................................25
1. Deskripsi Model Tindakan Siklus I....................................................25
2. Deskripsi Model Tindakan Siklus II ..................................................29
3. Deskripsi Model Tindakan Siklus III .................................................32
C. Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................................34
1. Pembahasan Hasil Partisipasi Siswa ..................................................34
2. Pembahasan Prestasi Belajar Matematika .........................................35
3. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Guru ...................................35
4. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Siswa ..................................36

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ..........................................................38


A. Simpulan .....................................................................................................38
B. Saran ............................................................................................................39
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................40
LAMPIRAN .......................................................................................

86 Penelitian Tindakan Kelas


DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman


1.1 Nilai Rata-Rata Ujian Nasional Mata Pelajaran
Matematika SMP Negeri 4 Purwokerto ...........................................1
2.1 Skala poin peningkatan .......................................................................17
2.2 Contoh format lembar penyekoran kuis............................................17
2.3 Contoh lembar rangkuman penentuan penghargaan tim ................18
3.1 Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisisnya 22
4.1 Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siklus I ..............................23
4.2 Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus I..........................23
4.3 Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siklus II .............................24
4.4 Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus II ........................24
4.5 Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siklus III ...........................24
4.6 Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus III .......................25
4.7 Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siswa Dalam
Mengikuti Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT ..............................35
4.8 Rekapitulasi Rata-rata Skor Prestasi Belajar Matematika
Siswa Dalam Mengikuti Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT .. 35
4.9 Rekapitulasi Rata-rata Skor Pengamatan Aktivitas Guru
Dalam Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT ..........36
4.10 Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa dalam Mengikuti
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT .................................................36

Lampiran 87
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Halaman


1.1 Satuan Acara Tindakan Siklus I …..………………………………… 41
1.2 Satuan Acara Tindakan Siklus II ….………………………………… 42
1.3 Satuan Acara Tindakan Siklus III….………………………………… 43
2.1 Pengolahan Data Angket Respon Siswa ……………………………. 44
2.2 Pengolahan Data Skor Partisipasi Siswa ……………………………. 45
2.3 Pengolahan Data Prestasi Belajar Siklus I ………………………….. 47
2.4 Pengolahan Data Prestasi Belajar Siklus II………………………….. 49
2.5 Pengolahan Data Prestasi Belajar Siklus III ………………………… 51
3 Angket Partisipasi Siswa …………………………………………… 53
4.1 Soal Kuis Siklus I …………………………………………………… 54
4.2 Soal Kuis Siklus II ………………………………………………….. 55
4.3 Soal Kuis Siklus III …………………………………………………. 56
5.1 Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I ………………………. 57
5.2 Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II ………………………. 58
5.3 Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus III ……………………… 59
6 Dokumentasi Penelitian ……………………………………………… 60
7 Currculum Vitae ……………………………………………………… 62
8 SK Terakhir PNS/ Jabatan Fungsional ………………………………. 64

88 Penelitian Tindakan Kelas


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kualitas pembelajaran matematika dan prestasi belajar matematika
di Indonesia sampai saat ini masih belum mengalami perubahan yang
menggembirakan. Terbukti dari sebagian besar siswa yang tidak lulus Ujian
Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 disebabkan karena tidak dapat
memenuhi batas minimal kelulusan pelajaran matematika yaitu 4,26.
Prestasi belajar matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto masih
relatif rendah, hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata Ujian Akhir
Nasional mata pelajaran matematika pada lima tahun terakhir dalam tabel 1
sebagai berikut:
Tabel 1.1 Nilai rata-rata Ujian Akhir Nasional Mata Pelajaran
Matematika SMP Negeri 4 Purwokerto
No Tahun Nilai
1 2001/2002 5,91
2 2002/2003 6,14
3 2003/2004 5,83
4 2004/2005 7,03
5 2005/2006 7,44
Sumber data: Bagian Kurikulum SMP Negeri 4 Purwokerto

Menurut pengamatan dan diskusi dengan rekan guru matematika


kelas VII, dibandingkan dengan kelas lain terlihat bahwa sebagian besar
siswa kelas VIIB prestasi belajar matematikanya masih rendah. Salah satu
penyebab rendahnya prestasi belajar matematika adalah siswa kurang
berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran di kelas, sehingga siswa kurang
aktif dalam mengikuti pelajaran matematika.
Hasil belajar siswa selain dipengaruhi oleh model pembelajaran juga
dipengaruhi oleh partisipasi siswa. Jika siswa aktif dan berpartisipasi dalam
proses pembelajaran maka tidak hanya aspek prestasi saja yang diraihnya
namun ada aspek lain yang diperoleh yaitu aspek afektif dan aspek sosial.
Mengingat pentingnya partisipasi siswa dalam pembelajaran, maka guru
diharapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan partisipasi siswa, sedangkan siswa hendaknya dapat memotivasi

Lampiran 89
dirinya sendiri agar aktif di dalam proses pembelajaran. Dengan meningkat-
nya partisipasi siswa dalam pembelajaran maka diharapkan prestasi belajar
siswa akan semakin meningkat.
Menurut Anita Lie (2004:3) paradigma lama dimana guru memberi-
kan pengetahuan kepada siswa yang pasif sudah tidak bisa dipertahankan
lagi. Untuk itu maka guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran berdasarkan beberapa pokok pemikiran, yaitu: (1)
Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa, (2) Siswa
membangun pengetahuan secara aktif, (3) Guru perlu berusaha mengem-
bangkan kompetensi dan kemampuan siswa, (4) Pendidikan adalah interaksi
pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa.
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah
rendahnya partisipasi siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif.
Menurut Slavin (dalam Ibrahim, 2000:16), “Slavin menelaah penelitian dan
melaporkan bahwa sebanyak 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun
1972 sampai tahun 1986 yang menyelidiki pengaruh pembelajaran
kooperatif terhadap hasil belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan
hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman belajar individual atau
kompetitif”.
Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe. Tipe-tipe tersebut
antara lain, tipe STAD, Jigsaw, TGT, dan tipe struktural yaitu TPS dan
NHT. Oleh karena itu dalam menerapkan pembelajaran kooperatif guru
harus mempelajari terlebih dahulu langkah-langkah dari berbagai macam
tipe tersebut. Hal ini karena pada setiap tipe mempunyai langkah-langkah
khusus serta mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Setelah mengkaji pustaka dan diskusi dengan rekan guru, maka
untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika dalam
penelitian tindakan kelas ini akan diterapkan pembelajaran kooperatif tipe
NHT yang merupakan salah satu tipe dalam pendekatan struktural. Dalam
pendekatan struktural ada dua jenis, yaitu TPS (Think Pair Share) dan NHT
(Numbered Heads Together). Peneliti akan menerapkan tipe NHT dengan
pertimbangan karena menurut Anita Lie (2004:57) pada tipe ini mempunyai
keunggulan dapat mengoptimalkan partisipasi siswa. Dalam pelaksanaannya
pembelajaran kooperatif tipe NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk
saling membagi ide-ide dan jawaban yang paling tepat, serta dapat
mendorong siswa untuk meningkatkan partisipasi dan kerjasama mereka.

90 Penelitian Tindakan Kelas


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan
partisipasi siswa?
2. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan prestasi
belajar matematika?
C. Tindakan yang Dipilih
Tindakan yang dipilih dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar
matematika pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 4 Purwokerto.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus, masing-masing tujuan tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian tindakan kelas ini adalah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di SMP Negeri 4
Purwokerto.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk
meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika.
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian tindakan kelas ini mencakup peningkatan
kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 4
Purwokerto melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT, sehingga diharapkan
dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika.
F. Hasil yang Diharapkan
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat
langsung bagi sekolah, bagi guru, dan siswa. Manfaat tersebut masing-
masing diuraikan sebagai berikut:
1. Manfaat Langsung Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi sekolah yaitu
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

Lampiran 91
2. Manfaat bagi guru dan siswa.
a. Manfaat Bagi Guru
Guru dapat memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian
tindakan kelas dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Manfaat Bagi Siswa
Siswa dapat memperoleh pembelajaran matematika yang lebih
menarik dan menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan partisipasi
dan prestasi belajar matematika.

92 Penelitian Tindakan Kelas


BAB II
ACUAN TEORI

A. Acuan Teori Substansi Mata Pelajaran


1. Pengertian Matematika
Menurut Dikmenum (2005:1) matematika berasal dari bahasa latin
manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari.
Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang
kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh
sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep
atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian,
pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui
pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat
digunakan untuk mempelajari konsep matematika.
Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang
teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan
hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif.
Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan
sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Penerapan cara
kerja matematika seperti ini diharapkan dapat membentuk sikap kritis,
kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.
2. Fungsi dan Tujuan Matematika
Menurut Dikmenum (2005:2) matematika berfungsi mengembang-
kan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan
rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui
materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus
dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan
mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa
kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
Tujuan pembelajaran matematika menurut Dikmenum (2005:2) adalah:
a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya
melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan
kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan
penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa
ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
Lampiran 93
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
3. Ruang Lingkup Matematika
Menurut Dikmenum (2005:2) standar kompetensi matematika
merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus
ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran
matematika. Standar ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar serta
hasil belajarnya, indikator, dan materi pokok untuk setiap aspeknya.
Lebih lanjut Dikmenum (2005:2) mengemukakan bahwa pengor-
ganisasian dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan
menurut disiplin ilmunya atau didasarkan menurut kemahiran atau
kecakapan yang hendak ingin dicapai. Aspek atau ruang lingkup materi pada
standar kompetensi matematika adalah bilangan, pengukuran dan geometri,
aljabar, trigonometri, peluang dan statistika, dan kalkulus.
4. Standar Kompetensi Bahan Kajian Matematika
Menurut Dikmenum (2005:3) kecakapan atau kemahiran matematika
yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai dari SD dan
MI sampai SMA dan MA, adalah sebagai berikut:
a. Menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelas-
kan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
b. Memiliki kemampuan mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel,
grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah.
c. Menggunakan penalaran pada pola, sifat, atau melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelas-
kan gagasan dan pernyataan matematika.
d. Menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan),
menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan
masalah.
e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

94 Penelitian Tindakan Kelas


5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ( SMP Kelas VII,
Semester I )
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Bilangan
1. Memahami sifat-sifat Melakukan operasi hitung bilangan
operasi hitung bilangan bulat dan pecahan
dan penggunaannya dalam Menggunakan sifat-sifat operasi
pemecahan masalah hitung bilangan bulat dan pecahan
dalam pemecahan masalah
Aljabar
2. Memahami bentuk aljabar, 2.1 Mengenali bentuk aljabar dan
persamaan dan pertidak- unsur-unsurnya.
samaan linear satu variabel 2.2 Melakukan operasi pada bentuk
aljabar
2.3 Menyelesaikan persamaan linear
satu variabel
2.4 Menyelesaikan pertidaksamaan
linear satu variabel
3. Menggunakan bentuk 3.1 Membuat model matematika dari
aljabar, persamaan dan masalah yang berkaitan dengan
pertidaksamaan linear satu persamaan dan pertidaksamaan
variabel, dan perbandingan linear satu variabel
dalam pemecahan masalah 3.2 Menyelesaikan model
matematika dari masalah yang
berkaitan dengan persamaan dan
pertidaksamaan linear satu
variabel
3.3 Menggunakan konsep aljabar
dalam pemecahan masalah
aritmatika sosial yang sederhana
3.4 Menggunakan perbandingan
untuk pemecahan masalah

Lampiran 95
B. Acuan Teori Tindakan yang Dipilih
1. Partisipasi Siswa dalam Proses Pembelajaran
Menurut Raymond (1996) partisipasi bisa diartikan sebagai ukuran
keterlibatan anggota dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Dalam perspektif
psikologis, partisipasi bisa dimaknai sebagai kondisi mental yang menunjuk-
kan sejauh mana anggota kelompok bisa menikmati posisinya sebagai
anggota kolektivitas, sehingga konsepsi partisipasi sangat terkait dengan
masalah kejiwaan. Semakin tinggi tingkat kesehatan mental seseorang maka
semakin tinggi kemampuan patisipasinya. Raymond menggambarkan
rangkaian partisipasi sebagai berikut:

(insanity) (marginal-participation) (sanity) (intimacy)

Insanity menunjukkan kondisi kejiwaan yang paling parah atau gila,


sehingga tidak mungkin seseorang menjadi partisipan. Sebaliknya sanity
menggambarkan kesehatan jiwa yang kondusif dari seseorang sehingga
memungkinkan seseorang mencapai puncak partisipasi yaitu intimacy. Teori
partisipasi mendefinisikan intimacy sebagai kedekatan dan persahabatan
yang menghasilkan kondisi dimana tiap anggota atau partner bisa
memuaskan satu sama lain.
Menurut Svinicki (1995) dalam konteks pembelajaran di kelas,
partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan aktif siswa dalam pemunculan
ide-ide dan informasi, sehingga kesempatan belajar dan pengingatan materi
bisa lebih lama. Sedangkan menurut Tannenbaun dan Hahn (dalam
Sukidin,et al., 2002:159) partisipasi merupakan suatu tingkat sejauhmana
peran anggota melibatkan diri dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga
dan pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut Dusseldor
(dalam Sukidin,et al., 2002:159) partisipasi diartikan sebagai kegiatan atau
keadaan mengambil bagian dalam suatu aktivitas untuk mencapai
kemanfaatan secara optimal. Dalam hal ini ada dua macam partisipasi, yaitu
partisipasi kontributif dan partisipasi inisiatif.
Partisipasi kontributif adalah termasuk partisipasi yang mendorong
aktivitas untuk mengikuti pembelajaran dengan baik, mengerjakan tugas
terstruktur baik di kelas maupun di rumah. Sedangkan partisipasi inisiatif
lebih mengarah pada aktivitas mandiri dalam melaksanakan tugas yang tidak
terstruktur. Dalam hal ini siswa mempunyai inisiatif sendiri dalam
mempelajari materi pelajaran yang belum pernah diajarkan dengan membuat
catatan ringkas. Dengan demikian partisipasi kontributif maupun inisiatif
96 Penelitian Tindakan Kelas
akan membentuk siswa untuk selalu aktif dan kreatif sehingga mereka sadar
bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diperoleh melalui usaha keras,
dengan demikian siswa juga menyadari makna dan arti penting belajar.
Menurut Sudjana (2005:86) aspek-aspek partisipasi yang perlu
diamati dalam membuat pedoman observasi aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok adalah:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, et al. (2000:2) semua model pembelajaran ditandai
adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward).
Pengertian struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan, masing-
masing diuraikan sebagai berikut:
a. Struktur Tugas
Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu
diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam
kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran
dengan kelompok kecil. Siswa diharapkan melakukan kegiatan selama
pengajaran itu, baik tuntutan akademik dan sosial terhadap siswa pada
saat mereka bekerja menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan
kepada mereka. Struktur tugas berbeda sesuai dengan berbagai macam
kegiatan yang terlibat di dalam pendekatan pengajaran tertentu. Sebagai
misal, beberapa pelajaran menghendaki siswa duduk pasif sambil
menerima informasi dari ceramah guru; pelajaran lain menghendaki
siswa mengerjakan LKS, dan pelajaran lain lagi menghendaki diskusi dan
berdebat.
b. Struktur Tujuan
Struktur tujuan suatu pelajaran adalah jumlah saling ketergantungan yang
dibutuhkan siswa pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Terdapat
tiga macam struktur tujuan yang telah berhasil diidentifikasi, yaitu:
1) Struktur Tujuan Individualistik
Struktur tujuan disebut individualistik jika pencapaian tujuan itu tidak
memerlukan interaksi dengan orang lain dan tidak bergantung pada
Lampiran 97
baik-buruknya pencapaian orang lain. Siswa yakin upaya mereka
sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya
siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut.
2) Struktur Tujuan Kompetitif
Struktur tujuan kompetitif terjadi bila seorang siswa dapat mencapai
suatu tujuan jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan ter-
sebut. Dengan demikian setiap usaha yang dilakukan oleh suatu
individu untuk mencapai tujuan merupakan saingan bagi individu
lainnya. Pembelajaran kompetitif ini dapat diilustrasikan dengan dua
orang yang sedang lomba tarik tambang. Keberhasilan seorang
penarik tambang berarti kegagalan bagi penarik tambang lainnya.
3) Struktur Tujuan Kooperatif
Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan
mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama
mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang
pencapaian tujuan itu. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai
jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Pola
pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini dapat
digambarkan seperti dua orang yang memikul balok. Balok akan dapat
dipikul bersama-sama jika dan hanya jika kedua orang tersebut
berhasil memikulnya. Kegagalan salah satu saja dari kedua orang itu
berarti kegagalan keduanya. Demikian pula halnya dengan tujuan
yang akan dicapai oleh kelompok siswa tertentu. Tujuan kelompok
akan tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya
secara bersama-sama.
Perbandingan ketiga macam struktur tujuan tersebut di atas
ditunjukkkan pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Tiga macam struktur tujuan

98 Penelitian Tindakan Kelas


c. Struktur Penghargaan
Struktur penghargaan untuk berbagai macam model pembelajaran juga
bervariasi. Ketiga macam struktur penghargaan individualistik,
kompetitif, dan kooperatif dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Struktur Penghargaan Individualistik
Struktur penghargaan individualistik terjadi bila suatu penghargaan itu
bisa dicapai oleh siswa manapun tidak bergantung pada pencapaian
individu lain. Kepuasan berhasil mengangkat barbel 100 kg adalah
salah satu contoh struktur penghargaan individualistik ini.
2) Struktur Penghargaan Kompetitif
Struktur penghargaan kompetitif terjadi bila penghargaan itu diperoleh
sebagai upaya individu melalui persaingannya dengan orang lain.
Pemberian nilai berdasar ranking dalam kelas merupakan contoh
struktur penghargaan itu. Begitu pula halnya dengan penentuan peme-
nang pada berbagai lomba lain yang bersifat perorangan, misalnya
olah raga tinju, karate, balap sepeda, renang, dan sebagainya.
3) Struktur Penghargaan Kooperatif
Struktur penghargaan kooperatif terjadi bila penghargaan itu diperoleh
sebagai upaya individu membantu individu lain dalam memperoleh
penghargaan. Sebagai contoh pada pertandingan olah raga beregu
seperti sepak bola. Keberhasilan regu tidaklah akibat dari satu atau
dua orang pemain, melainkan karena keberhasilan bersama anggota
regu tersebut.
d. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Ibrahim, et al. (2000:6) mengemukakan bahwa terdapat tujuh unsur-unsur
dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka
“sehidup sepenanggungan bersama”.
2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya
seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya
memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di
antara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.

Lampiran 99
6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keteram-
pilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
e. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Ibrahim, et al. (2000:6) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Siswa bekerja dalam kelompoknya secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajarnya.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah.
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,
jenis kelamin yang berbeda-beda.
4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
f. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Kooperatif
Menurut Ibrahim, et al. (2000:7) terdapat tiga tujuan penting
pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Hasil Belajar Akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan
sosial, pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat
bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-
konsep yang sulit.
2) Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Efek penting yang kedua dari pembelajaran kooperatif ialah penerima-
an yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas
sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran koope-
ratif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan
kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-
tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan
kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk
mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat
dimana banyak pekerjaan orang dewasa yang sebagian besar

100 Penelitian Tindakan Kelas


dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain,
dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam.
g. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam langkah utama di dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa
Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk
belajar.
2) Menyajikan Informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi
atau lewat bahan bacaan.
3) Mengorganisasi Siswa ke Dalam Kelompok-kelompok Belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
4) Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas.
5) Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya.
6) Memberikan Penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.
h. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses
demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus
dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu struk-
tur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan
semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan
dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pembelajaran koope-
ratif ingin sukses, maka materi pembelajaran harus tersedia di ruangan
guru atau di perpustakaan atau di pusat media. Keberhasilan juga
menghendaki syarat menjauhkan kesalahan, yaitu secara ketat mengelola
tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Lampiran 101
Menurut Ibrahim, et al. (2000:28) pembelajaran kooperatif tipe NHT
dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak
siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan
mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai
gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan
struktur empat langkah seperti berikut:
a. Langkah 1: Penomoran
Guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5
orang secara heterogen, kemudian setiap anggota diberi nomor antara 1
sampai 5.
b. Langkah 2: Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi dan dapat amat spesifik dalam bentuk kalimat tanya.
c. Langkah 3: Berpikir Bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu.
d. Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya
sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab
pertanyaan untuk seluruh kelas.
Secara lebih rinci, keempat langkah tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
a. Pendahuluan
Langkah 1: Penomoran
1) Kegiatan ini diawali dengan membagi siswa kedalam kelompok yang
beranggotakan 3 sampai 5 siswa, kemudian setiap siswa diberi label
nomor (antara 1 sampai 5).
2) Menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas serta
mengaitkan dengan materi pelajaran sebelumnya.
3) Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara
rinci dan menjelaskan model pembelajaran NHT yang akan
diterapkan.
4) Memotivasi siswa agar timbul rasa ingin tahu tentang konsep-konsep
materi pelajaran yang akan dibahas.

102 Penelitian Tindakan Kelas


b. Kegiatan Inti
1) Langkah 2: Mengajukan pertanyaan
a) Menjelaskan materi pelajaran secara singkat
b) Mengajukan pertanyaan untuk seluruh kelompok
2) Langkah 3: Berpikir bersama
a) Seluruh siswa dalam kelompoknya masing-masing memikirkan
jawaban pertanyaan yang diajukan guru.
b) Menyatukan pendapat jawaban (bisa dalam bentuk LKS) dibawah
bimbingan guru dan memastikan bahwa anggota kelompoknya
sudah mengetahui jawabannya.
3) Langkah 4: Menjawab pertanyaan
a) Guru memanggil salah satu nomor dari salah satu kelompok secara
acak.
b) Siswa yang dipanggil nomornya dalam kelompok yang bersang-
kutan mengacungkan tangannya.
c) Siswa yang dipanggil nomornya mencoba menjawab pertanyaan
untuk seluruh kelas dan ditanggapi oleh kelompok lain.
d) Jika jawaban dari hasil diskusi kelas sudah dianggap betul, siswa
diberi kesempatan untuk mencatat jawaban tersebut, namun apabila
jawaban masih salah maka guru memberikan penjelasan tentang
jawaban yang betul.
e) Guru memberikan pujian kepada siswa atau kelompok yang
menjawab betul.
c. Penutup
1) Guru memberikan umpan balik.
2) Guru membimbing siswa menyimpulkan materi pelajaran.
3) Siswa diberi tugas pekerjaan rumah atau mengerjakan kuis secara
individu.
d. Evaluasi
Karena sampai saat ini belum ada pedoman penilaian dalam NHT maka
pada evaluasi hasil belajar dan pemberian penghargaan pada kelompok,
peneliti mengadopsi pedoman penilaian dalam STAD dengan langkah-
langkah dalam Slavin (1995) sebagai berikut:
1) Pengetesan
Menurut Slavin (1995) pengetesan dimulai dengan guru meminta
siswa menjawab kuis tentang materi pelajaran. Dalam banyak hal,
butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan suatu jenis tes uraian

Lampiran 103
singkat, sehingga butir-butir itu dapat disekor di kelas atau segera
setelah tes itu diberikan.
2) Skor Peningkatan
Siswa memperoleh skor peningkatan berdasarkan tingkat skala dimana
skor tes mereka melebihi skor dasar mereka. Uraian bagai-mana skor
individual ditentukan, ditunjukkan pada langkah-langkah berikut:

 Langkah 1: Menetapkan skor dasar



Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu.

 Langkah 2: Menghitung skor kuis terkini

Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan
pelajaran terkini.

 Langkah 3: Menghitung skor peningkatan

Siswa mendapatkan poin peningkatan yang besarnya ditentukan
apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor
dasar mereka dengan menggunakan skala yang ditunjukkan pada
Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Skala poin peningkatan
Skor
No Skor tes terkini
Peningkatan
1 Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 0 poin
2 10 poin dibawah sampai 1 poin skor 10 poin
dasar
3 Skor dasar sampai 10 poin di atas skor 20 poin
dasar
4 Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin
5 Pekerjaan sempurna (tanpa memper- 30 poin
lihatkan skor dasar)

104 Penelitian Tindakan Kelas


Sedangkan format lembar penyekoran kuis ditunjukkan pada Tabel 2.2
berikut:
Tabel 2.2 Contoh format lembar penyekoran kuis
Tanggal: 5 Sept Tanggal: Tanggal:
No Siswa Kuis: Penjumlahan Kuis: Kuis:
Skor Skor Skor
Dasar Kuis Peningkatan
1 Azarine 90 100 30
2 Naofal 85 98 30
3 Afitri 80 67 0
4 Ilham 75 79 20
5 Ika 70 91 30
6 Prabo 55 46 10
7 Aji 55 40 0

3) Penghargaan Skor Tim


Suatu tugas penilaian dan evaluasi penting terakhir untuk pembel-
ajaran kooperatif adalah pemberian penghargaan. Menurut Slavin
(1995:80) pemberian penghargaan atas pencapaian kelompok
didasarkan pada tiga tingkatan, yaitu tim baik, tim hebat, dan tim
super. Langkah-langkah penentuan dan penghargaan skor tim adalah
sebagai berikut:
 Langkah 1: Penentuan skor tim

Skor tim dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap
individu anggota tim dan membagi dengan jumlah anggota tim
tersebut.

 Langkah 2: Penghargaan atas prestasi tim

Tiap-tiap tim menerima piagam penghargaan atau hadiah berdasar-
kan pada sistem poin berikut ini:
Rata-rata tim Penghargaan
15 poin Tim Baik
20 poin Tim Hebat
25 poin Tim Super

Sedangkan format lembar rangkuman penentuan penghargaan tim


ditunjukkan pada Tabel 2.3 berikut:

Lampiran 105
Tabel 2.3 Contoh lembar rangkuman penentuan penghargaan tim
Nama tim: Fantastic Four
Anggota Tim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Azarine 30
Naofal 30
Afitri 20
Ilham 20
Jumlah 100
Rata-rata 25
Penghargaan Tim
Super

4. Prestasi Belajar Matematika


Menurut Erman S. (2003:13) hasil belajar mencakup aspek yang
berkenaan dengan perubahan dan kemampuan yang telah dimiliki siswa pada
ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan dan kemampuan yang
telah dimiliki tersebut bisa berupa komunikasi, interaksi, kreativitas, dan
sebagainya. Prestasi belajar adalah sebagian dari hal tersebut, yaitu
berkenaan dengan hasil tes yang mencerminkan kemampuan siswa dalam
menguasai materi pelajaran.
Menurut Gagne dalam Winkel (1996:482) kemampuan-kemampuan
siswa digolongkan dalam hal informasi verbal, kemahiran intelektual,
pengaturan kegiatan kognitif, kemampuan motorik, dan sikap. Kemampuan-
kemampuan tersebut merupakan kemampuan internal yang harus dinyatakan
dalam suatu prestasi. Menurut Winkel (1996:482) prestasi belajar yang
diberikan oleh siswa berdasarkan kemampuan internal yang diperolehnya
sesuai dengan tujuan instruksional menampakkan hasil belajar.
Menurut Winkel (2004:438) dapat dipertanyakan juga, apakah
evaluasi produk (hasil belajar) jatuh di luar proses pembelajaran, karena
pada akhir proses pembelajaran guru akan menuntut suatu prestasi, sebagai
bukti nyata bahwa hasil yang dituju telah tercapai, yang kemudian dievaluasi
dengan memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, biasanya juga
diadakan evaluasi beberapa waktu kemudian, misalnya bila siswa menempuh
ulangan atau ujian, evaluasi itu mencakup sejumlah hasil belajar yang telah
diperoleh.
Dari pengertian yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan
bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil tes yang mencerminkan
kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran matematika.

106 Penelitian Tindakan Kelas


BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

A. Lokasi dan Subyek


Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di kelas VIIB SMP
Negeri 4 Purwokerto.
2. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIB SMP Negeri 4
Purwokerto sebanyak 43 anak yang menurut hasil diagnosis tim peneliti
memiliki partisipasi dan prestasi belajar matematika yang paling rendah.

B. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, dimana
kegiatan setiap siklusnya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, obser-
vasi, evaluasi, dan refleksi. Adapun rincian kegiatan pada setiap siklusnya
diuraikan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah:
a. Mengadakan pertemuan, guru pelaksana tindakan dan guru pengamat
berdiskusi tentang persiapan penelitian.
b. Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas
siswa, angket partisipasi, angket respon siswa, soal tes, pedoman
wawancara dan catatan lapangan.
c. Menyiapkan rencana pelajaran yang telah disusun pada persiapan
penelitian.
d. Menyiapkan tape recorder dan alat tulis untuk observasi dan wawancara.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, guru matematika kelas VIIB
sebagai pelaksana tindakan melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan
rencana pelajaran yang telah disusun.
3. Observasi
Pada tahap observasi ini, dilakukan observasi aktivitas guru,
observasi aktivitas siswa, dan wawancara dengan siswa. Observasi dilakukan

Lampiran 107
oleh guru pengamat. Wawancara direkam dengan tape recorder dan dicatat
dalam catatan lapangan.
4. Evaluasi
Pada tahap evaluasi ini, untuk mengukur tingkat partisipasi siswa
menggunakan angket dan untuk mengukur prestasi belajar matematika
menggunakan tes. Sedangkan untuk mengevaluasi aktivitas guru dan siswa
di kelas menggunakan lembar observasi dan wawancara. Disamping itu
untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe NHT
menggunakan angket respon siswa.
5. Refleksi
Pada tahap refleksi, data yang diperoleh dari hasil evaluasi kemudian
dianalisis. Hasil analisis digunakan untuk merefleksi pelaksanaan tindakan
pada siklus tersebut, hasil refleksi kemudian digunakan untuk merencanakan
tindakan pada siklus berikutnya.

C. Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen
berupa angket, kuis, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, dan catatan
lapangan. Angket digunakan untuk mengetahui partisipasi siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT pada setiap siklus, kuis untuk mengetahui
prestasi belajar matematika secara individu maupun kelompok pada setiap
siklus, sedangkan lembar observasi dan catatan lapangan digunakan untuk
mengobservasi aktivitas guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung
yang dilakukan pada setiap siklus.

108 Penelitian Tindakan Kelas


D. Analisis Data
Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisis data
penelitian diuraikan pada tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisisnya
Sumber Cara
No Prosedur Alat Pelaku
Informasi Analisis
1 Menganalisis Angket, dan Guru Siswa Analisis
partisipasi catatan Pelaksana kualitatif
siswa lapangan tindakan untuk hasil
angket dan
wawancara
(berdasar
pada catatan
lapangan)
2 Menganalisis Lembar Guru Guru Analisis
aktivitas guru observasi, Pengamat Pelaksana kuantitatif
tape tindakan dan
recorder, dan kualitatif
catatan
lapangan
3 Menganalisis Lembar Guru Siswa Analisis
aktivitasdan observasi, Pengamat kualitatif
respon siswa angket respon
siswa,tape
recorder dan
catatan
lapangan
3 Menganalisis Tes Guru Siswa Analisis
Prestasi Pelaksana kuantitatif
Belajar Siswa tindakan dan
kualitatif

Lampiran 109
BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Tindakan


1. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I
Hasil tindakan siklus I berupa rata-rata skor partisipasi dan prestasi
belajar matematika yang masing-masing rekapitulasinya dideskripsikan
dalam Tabel 4.1. dan Tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.1. Rekapitulasi Rata-Rata Skor Partisipasi Siklus I
TIM
I II III IV V VI VII VIII IX X
Rata2 3,25 3,30 3,28 3,35 3,40 3,30 3,46 3,52 3,55 3,34
Rata-rata Skor Partisipasi Siklus I = 3,38

Tabel 4.2. Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus I


1 Rata-rata Rata-rata Rata-rata Skor Penghargaan
Skor Dasar Skor Kuis I Peningkatan Tim
I 63,75 64,50 15,00 Tim Baik 2
II 59,75 74,00 22,50 Tim Hebat 1
III 69,00 79,00 20,00 Tim Hebat 2
IV 62,75 74,75 25,00 Tim Super 2
V 63,25 63,25 15,00 Tim Baik 2
VI 64,75 77,00 25,00 Tim Super 2
VII 55,20 76,60 26,00 Tim Super 1
VIII 52,80 60,60 20,00 Tim Hebat 2
IX 69,25 71,25 17,50 Tim Baik 1
X 60,80 74,80 20,00 Tim Hebat 2
Rata2 62,13 71,58 20,6

2. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II


Hasil tindakan siklus II berupa rata-rata skor partisipasi dan prestasi
belajar matematika yang masing-masing rekapitulasinya dideskripsikan
dalam Tabel 4.3. dan Tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.3. Rekapitulasi Rata-Rata Skor Partisipasi Siklus II
TIM
I II III IV V VI VII VIII IX X
Rata2 3,48 3,38 3,45 3,55 3,55 3,45 3,52 3,58 3,65 3,44
Rata-rata Skor Partisipasi Siklus II = 3,51

110 Penelitian Tindakan Kelas


Tabel 4.4. Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus II
TIM Rata-rata Skor Rata-rata Skor Penghargaan Tim
Kuis II Peningkatan
I 66,25 20 Tim Hebat 3
II 75,00 15 Tim Baik 2
III 80,00 17,5 Tim Baik 1
IV 75,00 15 Tim Baik 2
V 68,75 22,5 Tim Hebat 1
VI 78,75 10 -
VII 77,00 14 -
VIII 63,00 22 Tim Hebat 2
IX 70,00 20 Tim Hebat 3
X 79,00 14 -
Rata2 73,28 17 -

3. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus III


Hasil tindakan siklus III berupa rata-rata skor partisipasi dan prestasi
belajar matematika yang masing-masing rekapitulasinya dideskripsikan
dalam Tabel 4.5. dan Tabel 4.6 sebagai berikut
Tabel 4.5. Rekapitulasi Rata-Rata Skor Partisipasi Siklus III
TIM
I II III IV V VI VII VIII IX X
Rata2 3,60 3,58 3,53 3,63 3,68 3,58 3,64 3,68 3,73 3,56
Rata-Rata Skor Partisipasi Siklus III = 3,62

Tabel 4.6. Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siklus III


TIM Rata-rata Skor Rata-rata Skor Penghargaan Tim
Kuis III Peningkatan
I 66,25 20 Tim Hebat 3
II 77,00 17,5 Tim Baik 1
III 83,75 22,5 Tim Hebat 2
IV 86,25 25 Tim Super
V 76,25 17,5 Tim Baik 1
VI 80,00 15 Tim Baik 3
VII 77,60 14 -
VIII 79,60 24 Tim Hebat 1
IX 76,5 22,5 Tim Hebat 2
X 80,2 16 Tim Baik 2
Rata2 78,67 19,4

Lampiran 111
B. Deskripsi Model Tindakan
Model tindakan penelitian tindakan kelas ini berupa penerapan
pembelajaran kooperatif tipe NHT. Pelaksanaan tindakan pada setiap siklus
meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi,
dan refleksi. Deskripsi model tindakan masing-masing siklus diuraikan
sebagai berikut:
1. Deskripsi Model Tindakan Siklus I
a. Perencanaan
Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan siklus I
adalah:
1) Mengadakan tes awal untuk mengetahui skor dasar. Materi tes
awal adalah pokok bahasan bilangan bulat, sub pokok bahasan: (a)
Pengertian Bilangan Bulat, (b) Besaran Sehari-hari yang Meng-
gunakan Bilangan Negatif, (c) Letak Bilangan Bulat pada Garis
Bilangan, dan (d) Hubungan Lebih dari atau Kurang dari antara
Dua Bilangan Bulat. Tes awal dilaksanakan hari Selasa, tanggal 29
Agustus 2006. Hasil tes awal digunakan sebagai skor dasar pada
sistem penilaian pembelajaran kooperatif, disamping itu juga
dipakai untuk menentukan kelompok asal yang terdiri dari 4-5
anggota yang heterogen.
2) Membentuk kelompok asal yang terdiri dari 4-5 anggota yang
heterogen. Untuk memperoleh anggota kelompok yang heterogen,
peneliti berpedoman pada biodata siswa dan hasil tes awal. Jumlah
siswa kelas VIIB sebanyak 43 siswa, terdiri dari 21 siswa laki-laki
dan 22 siswa perempuan. Dari jumlah siswa tersebut, peneliti
membagi menjadi 10 kelompok asal.
3) Ketua peneliti sebagai guru pelaksanana tindakan berdiskusi dan
membagi tugas dengan guru pengamat (Nyata, S.Pd.) tentang
prosedur penelitian, serta langkah-langkah pelaksanaan pembel-
ajaran kooperatif tipe NHT.
4) Mempersiapkan Instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran
berupa Rencana Pelajaran, Lembar Kerja Siswa, Buku Siswa, Kuis,
dan Lembar Penyekoran Pembelajaran Kooperatif.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksaan tindakan siklus I dalam bentuk penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan sesuai
dengan jadwal pelajaran matematika kelas VIIB. Materi pelajaran
112 Penelitian Tindakan Kelas
siklus I adalah pokok bahasan bilangan bulat, sub pokok bahasan: (1)
operasi perkalian, pembagian, dan operasi campuran bilangan bulat.
(2) menghitung kuadrat, pangkat, dan akar bilangan bulat. Adapun
tahapan pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam siklus I
adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan pertama: Sabtu, 2 September 2006 jam pelajaran ke
3-4. Guru menyampaikan materi pelajaran matematika sub pokok
bahasan: (1) operasi perkalian, pembagian, dan operasi campuran
bilangan bulat. (2) menghitung kuadrat, pangkat, dan akar bilangan
bulat.
2) Pertemuan kedua: Senin, 4 September 2006 jam pelajaran ke 3-4,
dengan aktivitas diskusi kelompok yang disesuaikan dengan
skenario pembelajaran kooperatif tipe NHT. Materi diskusi berupa
materi pelajaran yang telah disampaikan guru pada pertemuan
pertama yaitu operasi perkalian, pembagian, dan operasi campuran.
Disamping itu setiap kelompok asal mengerjakan LKS yang telah
dipersiapkan oleh guru.
3) Pertemuan ketiga: Sabtu, 9 September 2006 jam pelajaran ke 3-4
dengan kegiatan pembahasan materi pelajaran, diskusi kelompok
dan mengerjakan LKS materi pelajaran menghitung kuadrat,
pangkat, dan akar bilangan bulat.
4) Pertemuan keempat: Senin, 11 September 2006 jam pelajaran ke
3-4 dengan aktivitas pelaksanaan kuis. Kuis dikerjakan secara
individual oleh masing-masing siswa kemudian hasil kuis
digunakan untuk menentukan skor peningkatan individu dan
penghargaan kelompok.
c. Observasi
Observasi pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan oleh guru
pengamat. Aktivitas yang dilakukan adalah mengamati aktivitas guru
dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Observasi dilakukan dengan lembar observasi dan catatan lapangan.
Rangkuman hasil observasi Siklus I adalah sebagai berikut:
1) Hasil observasi tanggal 2 September 2006 oleh guru pengamat
aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe
NHT menunjukkan bahwa guru pelaksana tindakan pada perte-
muan pertama sudah cukup baik dalam menyampaikan materi
pelajaran matematika pokok bahasan perkalian, pembagian, dan
operasi campuran bilangan bulat.

Lampiran 113
2) Hasil observasi tanggal 4 September 2006 yang dilakukan oleh
guru pengamat aktivitas siswa pada waktu pembelajaran berlang-
sung menunjukkan bahwa: (a) suasana kelas ramai pada waktu
siswa bergabung dalam kelompok asal, (b) pada waktu menger-
jakan tugas kelompok dalam bentuk LKS masih didominasi oleh
siswa yang pintar saja, sedangkan siswa yang lain masih kurang
berpartisipasi. (c) pada waktu guru mengajukan pertanyaan dengan
menunjuk nomor salah seorang siswa pada kelompok V siswa
tersebut belum bisa menjawab dengan baik. Untuk itu guru
meminta siswa dengan nomor yang sama dari kelompok lain untuk
menanggapinya. Suasana diskusi kelompok sudah mulai berjalan
cukup baik dan siswa mulai antusias mengikutinya.
3) Hasil observasi tanggal 9 September 2006 pada waktu pembahasan
materi diskusi menunjukkan bahwa guru sudah cukup baik dalam
menjelaskan jawaban LKS, dengan demikian siswa menjadi lebih
paham pada materi pelajaran yang dibahas.
4) Hasil observasi tanggal 11 September 2006 pada pelaksanaan kuis
menjukkan bahwa evaluasi berjalan dengan tertib dan lancar.
Semua siswa mengerjakan soal kuis dengan serius.
d. Evaluasi
Evaluasi hasil tindakan siklus I berupa partisipasi siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT dilakukan dengan angket dan
prestasi belajar matematika dengan menggunakan kuis. Hasil kuis
kemudian diolah untuk menentukan skor peningkatan individu, rata-
rata skor peningkatan kelompok serta kriteria penghargaan kelompok.
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi siklus I maka perlu
dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan dan keberhasilan pelak-
sanaan tindakan siklus I. Hasil Refleksi siklus I antara lain:
1) Rata-rata skor partisipasi sebesar 3,38 dan respon siswa sebesar
3,17 berarti dalam kategori cukup tinggi, dengan demikian
partisipasi siswa pada siklus II masih perlu ditingkatkan.
2) Rata-rata skor dasar sebesar 62,13 dan rata-rata skor kuis I 71,58
berarti sudah ada peningkatan. Namun demikian pada siklus II
prestasi belajar siswa masih perlu ditingkatkan lagi. Pada siklus I,
semua kelompok atau tim sudah mendapatkan penghargaan dengan
rata-rata skor peningkatan sebesar 20,6 dan yang memperoleh

114 Penelitian Tindakan Kelas


penghargaan tertinggi sebagai tim super 1 adalah tim VII dengan
rata-rata skor peningkatan sebesar 26.
3) Hasil observasi oleh pengamat I terhadap aktivitas guru pelaksana
tindakan dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan skor
rata-rata sebesar 3,08 (skor tertinggi 4). Hal ini menunjukkan
bahwa guru pelaksana tindakan sudah cukup baik dalam melak-
sanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kelemahan-kelemahan
yang masih perlu diperbaiki antara lain: (a) Kegiatan Pendahuluan,
meliputi menyampaikan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK),
memotivasi siswa, dan menghubungkan pelajaran sekarang dengan
pelajaran terdahulu. (b) Kegiatan inti, meliputi melatih siswa dalam
keterampilan kooperatif, diantaranya dalam mengambil giliran dan
berbagi tugas, dalam diskusi menggunakan suara pelan, dan
memeriksa ketepatan jawaban LKS. (c) Kegiatan penutup,
meliputi: membimbing siswa dalam membuat rangkuman, dan
memberi tugas rumah.
4) Agar partisipasi dan prestasi belajar meningkat, serta suasana
belajar di kelas berlangsung lebih menyenangkan maka perlu
dipersiapkan hadiah berupa alat tulis bagi tim yang memperoleh
penghargaan tertinggi. Hadiah tersebut akan diberikan pada akhir
pelaksanaan siklus III. Pemberian hadiah tersebut diumumkan pada
awal pelaksanaan siklus II.
Hasil refleksi siklus I ini akan digunakan untuk merencanakan
pelaksanaan tindakan siklus II.
2. Deskripsi Model Tindakan Siklus II
a. Perencanaan
Hasil refleksi siklus I digunakan untuk merencanakan tindakan siklus
II. Kegiatan-kegiatan dalam merencanakan tindakan siklus II antara
lain:
1) Diskusi dengan guru pengamat untuk membahas hasil refleksi
siklus I. Tujuan diskusi adalah untuk mengatasi kelemahan-
kelemahan yang terjadi pada siklus I sebagai upaya untuk
meningkatkan partisipasi dan partisipasi pada siklus II.
2) Mempersiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.
3) Mengoreksi hasil kuis 1 serta merekap hasilnya pada lembar
penskoran.

Lampiran 115
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksaan tindakan siklus II dalam bentuk penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan sesuai
dengan jadwal pelajaran matematika kelas VIIB yaitu hari Senin dan
Sabtu jam ke 3-4. Materi pelajaran siklus II adalah pokok bahasan
pecahan, sub pokok (1) Mengubah pecahan ke bentuk pecahan yang
lain, (2) Menyelesaikan operasi hitung: tambah, kurang, kali, dan bagi
bilangan pecahan.
1) Pertemuan kelima: Sabtu, 16 September 2006 jam pelajaran ke 3-
4. Guru menyampaikan materi pelajaran matematika pokok
bahasan pecahan, sub pokok bahasan: (1) Mengubah pecahan ke
bentuk pecahan yang lain, (2) Menyelesaikan operasi hitung:
tambah, kurang, kali, dan bagi bilangan pecahan. Sebelum
menyampaikan materi pelajaran, guru terlebih dahulu mengumum-
kan hasil kuis 1, skor peningkatan, dan penghargaan tim.
2) Pertemuan keenam: Senin, 18 September 2006 jam pelajaran ke
3-4, dengan aktivitas diskusi kelompok yang disesuaikan dengan
skenario pembelajaran kooperatif tipe NHT. Materi diskusi berupa
materi pelajaran yang telah disampaikan guru pada pertemuan
kelima. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang telah diper-
siapkan oleh guru.
3) Pertemuan ketujuh: Sabtu, 30 September 2006 jam pelajaran ke
3–4 dengan kegiatan membahas hasil diskusi dan mengerjakan kuis
2.
c. Observasi
Observasi pelaksanaan tindakan siklus II dilakukan oleh guru
pengamat. Aktivitas yang dilakukan adalah mengamati aktivitas guru
dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Observasi dilakukan dengan lembar observasi dan catatan lapangan.
Rangkuman hasil observasi Siklus II adalah sebagai berikut:
1) Hasil observasi tanggal 16 September 2006 oleh guru pengamat
aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe
NHT menunjukkan bahwa guru pelaksana tindakan pada perte-
muan kelima sudah baik dalam menyampaikan materi pelajaran.
2) Hasil observasi tanggal 18 September 2006 yang dilakukan oleh
guru pengamat aktivitas siswa pada waktu pembelajaran berlang-
sung menunjukkan bahwa: (a) siswa antusias dalam mengerjakan

116 Penelitian Tindakan Kelas


LKS, (b) partisipasi siswa dalam mngerjakan tugas kelompok
sudah meningkat dan tidak lagi didominasi siswa yang pintar saja.
3) Hasil observasi tanggal 30 September 2006 pada pelaksanaan kuis
menjukkan bahwa evaluasi berjalan dengan tertib dan lancar.
d. Evaluasi
Evaluasi hasil tindakan siklus II berupa partisipasi siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT dilakukan dengan angket dan
prestasi belajar matematika dengan menggunakan kuis. Hasil kuis
kemudian diolah untuk menentukan skor peningkatan individu, rata-
rata skor peningkatan kelompok serta kriteria penghargaan kelompok.
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi siklus II maka perlu
dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan dan keberhasilan
pelaksanaan tindakan siklus II. Hasil Refleksi siklus II antara lain:
1) Rata-rata skor partisipasi sebesar 3,51 dan respon siswa sebesar
3,20 berarti dalam kategori cukup tinggi, dengan demikian partisi-
pasi siswa pada siklus III masih perlu ditingkatkan.
2) Rata-rata skor kuis II sebesar 73,28 berarti sudah ada peningkatan.
Namun demikian pada siklus III prestasi belajar siswa masih perlu
ditingkatkan lagi. Pada siklus II terdapat 3 kelompok tidak
memperoleh penghargaan, yaitu kelompok VI, VII, dan X. Sedang-
kan yang memperoleh penghargaan tertinggi sebagai Tim Hebat 1
adalah kelompok V dengan rata-rata skor peningkatan sebesar
22,5. Pada siklus II rata-rata skor peningkatan sebesar 17. Dengan
demikian apabila dibandingkan dengan siklus I, pada siklus II ini
terjadi penurunan jumlah kelompok yang memperoleh penghar-
gaan dan rata-rata skor peningkatan. Terjadinya penurunan ini
disebabkan karena materi pelajaran bertambah sulit.
3) Hasil observasi oleh pengamat aktivitas guru pelaksana tindakan
dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan skor rata-rata
sebesar 3,50 (skor tertinggi 4). Hal ini menunjukkan bahwa guru
pelaksana tindakan sudah cukup baik dalam melaksanakan pembel-
ajaran kooperatif tipe NHT. Kelemahan-kelemahan yang masih
perlu diperbaiki antara lain: (a) Mengambil giliran dan berbagi
tugas, (b) menggunakan suara pelan, (c) mempunyai keberanian
untuk bertanya, (d) mendengar dengan aktif, (e) memeriksa kete-
patan. Disamping itu, hal lain yang masih memerlukan perbaikan,
yaitu: (a) mengawasi setiap kelompok secara bergiliran, (b) mem-
Lampiran 117
beri bantuan kelompok yang mengalami kesulitan, (c) Kegiatan
penutup dalam hal membimbing siswa membuat rangkuman, serta
(d) pengelolaan waktu, serta teknik bertanya guru.
Hasil refleksi siklus II ini akan digunkan untuk merencanakan
pelaksanaan tindakan siklus III.
3. Deskripsi Model Tindakan Siklus III
a. Perencanaan
Hasil refleksi siklus II digunakan untuk merencanakan tindakan siklus
III. Kegiatan-kegiatan dalam merencanakan tindakan siklus III antara
lain:
1) Diskusi dengan guru pengamat untuk membahas hasil refleksi
siklus II. Tujuan diskusi adalah untuk mengatasi kelemahan-
kelemahan yang terjadi pada siklus II sebagai upaya untuk mening-
katkan partisipasi dan partisipasi pada siklus III.
2) Mempersiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.
3) Mengoreksi hasil kuis 2 serta merekap hasilnya pada lembar
penyekoran.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksaan tindakan siklus III masih dalam bentuk penerapan pembel-
ajaran kooperatif tipe NHT dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan
sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas VIIB yaitu hari
Senin dan Sabtu jam ke 3-4. Materi pelajaran siklus III adalah pokok
bahasan bilangan bulat, sub pokok (1) Menemukan sifat-sifat operasi
penjumlahan, perkalian, dan pembagian bilangan bulat; (2) Meng-
gunakan sifat-sifat operasi penjumlahan, perkalian, dan pembagian
bilangan bulat.
1) Pertemuan kedelapan: Senin, 2 Oktober 2006 jam pelajaran ke 3-
4. Guru menyampaikan materi pelajaran matematika pokok
bahasan bilangan bulat, sub pokok bahasan (1) Menemukan sifat-
sifat operasi penjumlahan, perkalian, dan pembagian bilangan
bulat. (2) Menggunakan sifat-sifat operasi penjumlahan, perkalian,
dan pembagian bilangan bulat.
Sebelum menyampaikan materi pelajaran, guru terlebih dahulu
mengumumkan hasil kuis 2, skor peningkatan, dan penghargaan
tim.
2) Pertemuan kesembilan: Sabtu, 7 Oktober 2006 jam pelajaran ke
3-4, dengan aktivitas diskusi kelompok yang disesuaikan dengan
118 Penelitian Tindakan Kelas
skenario pembelajaran kooperatif tipe NHT. Materi diskusi berupa
materi pelajaran yang telah disampaikan guru pada pertemuan
kedelapan. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang telah
dipersiapkan oleh guru.
3) Pertemuan kesepuluh: Senin, 9 Oktober 2006 jam pelajaran ke 3-
4 dengan kegiatan membahas hasil diskusi dan mengerjakan kuis 3.

4) Pertemuan kesebelas: Sabtu 14 Oktober 2006 jam pelajaran ke 3-


4 dengan kegiatan pengumuman hasil kuis 3, rata-rata skor
peningkatan, penghargaan tim, dan pemberian hadiah bagi tim
yang memperoleh penghargaan tertinggi.
c. Observasi
Observasi pelaksanaan tindakan siklus III dilakukan oleh guru peng-
amat. Aktivitas yang dilakukan adalah mengamati aktivitas guru dan
siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Observasi dilakukan dengan lembar observasi dan catatan lapangan.
Rangkuman hasil observasi Siklus III adalah sebagai berikut:
1) Hasil observasi tanggal 2 Oktober 2006 oleh guru pengamat
aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe
NHT menunjukkan bahwa guru pelaksana tindakan pada
pertemuan kedelapan sudah baik dalam menyampaikan materi
pelajaran.
2) Hasil observasi tanggal 7 Oktober 2006 yang dilakukan oleh guru
pengamat aktivitas siswa pada waktu pembelajaran berlangsung
menunjukkan bahwa: (a) siswa masih antusias dalam mengerjakan
LKS, (b) partisipasi siswa dalam mngerjakan tugas kelompok
meningkat, (c) suasana belajar di kelas berlangsung dengan tertib
dan menyenangkan.
d. Evaluasi
Evaluasi hasil tindakan siklus III berupa partisipasi siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT dilakukan dengan angket dan
prestasi belajar matematika dengan menggunakan kuis. Hasil kuis
kemudian diolah untuk menentukan skor peningkatan individu, rata-
rata skor peningkatan kelompok serta kriteria penghargaan kelompok.

Lampiran 119
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi siklus III maka perlu
dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan dan keberhasilan
pelaksanaan tindakan siklus III. Hasil Refleksi siklus III antara lain:
1) Rata-rata skor partisipasi sebesar 3,62 berarti dalam kategori
tinggi, sedangkan rata-rata skor respon siswa sebesar 3,29 masih
dalam kategori cukup tinggi dengan demikian partisipasi dan
respon siswa pada siklus III sudah baik.
2) Rata-rata skor kuis III sebesar 78,67 berarti sudah meningkat
dengan baik. Pada siklus III hanya 1 tim yang tidak memperoleh
penghargaan, yaitu tim VII dengan rata-rata skor peningkatan
sebesar 14. Sedangkan penghargaan tertinggi sebagai tim super
diperoleh tim IV dengan rata-rata skor peningkatan sebesar 25.
Secara keseluruhan rata-rata skor peningkatan sebesar 19,4. Pada
akhir pertemuan siklus III ini, tim yang memperoleh predikat tim
super yaitu tim IV memperoleh hadiah berupa alat-alat tulis.
Sedangkan kepada anggota tim yang lain, peneliti memberikan
hadiah bolpoint sebagai penghargaan meningkatnya partisipasi dan
prestasi belajar siswa.
3) Hasil observasi oleh pengamat aktivitas guru pelaksana tindakan
dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan skor rata-rata
sebesar 3,77 (skor tertinggi 4). Hal ini menunjukkan bahwa guru
pelaksana tindakan sudah baik dalam melaksanakan pembelajaran
kooperatif tipe NHT.

C. Pembahasan Hasil Penelitian


Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan deskripsi model tindakan
siklus I, II, dan III maka pembahasan hasil penelitian seluruh siklus adalah
sebagai berikut:
1. Pembahasan Hasil Partisipasi Siswa
Rekapitulasi rata-rata skor partisipasi siklus I, II, dan III disajikan
dalam tabel 4.7 sebagai berikut:
Tabel 4.7. Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siswa dalam Mengikuti
Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata skor 3,38 3,51 3,62
Partisipasi
120 Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan Tabel 4.7 terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata
skor partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Partisipasi siswa tersebut dalam hal:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2. Pembahasan Prestasi Belajar Matematika
Rekapitulasi rata-rata skor prestasi belajar matematika siklus I, II,
dan III disajikan dalam tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.8. Rekapitulasi Rata-rata Skor Prestasi Belajar Matematika Siswa
Dalam Mengikuti Pembelajaran Kooperatif tipe NHT.
Tes Awal Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata skor
62,13 71,58 73,28 78,67
Prestasi

Berdasarkan Tabel 4.8 terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata


skor prestasi belajar matematika siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe
NHT pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan.
3. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Guru
Rekapitulasi rata-rata skor pengamatan aktivitas guru berdasarkan
hasil observasi oleh guru pengamat disajikan dalam tabel 4.9 sebagai
berikut:
Tabel 4.9. Rekapitulasi Rata-rata Skor Pengamatan Aktivitas
Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif tipe
NHT
Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata skor
3,08 3,50 3,77
aktivitas guru

Berdasarkan Tabel 4.9 terlihat bahwa guru mengalami peningkatan


kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Kemampuan-kemampuan tersebut adalah keterampilan guru dalam melak-
sanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT, antara lain: (a) persiapan, (b)

Lampiran 121
Pendahuluan, meliputi: menyampaikan TPK, memotivasi siswa, menghu-
bungkan pelajaran sekarang dengan pelajaran terdahulu. (c) Kegiatan inti,
meliputi: mempresentasikan materi, mengatur siswa dalam kelompok-
kelompok belajar, melatih siswa dalam keterampilan kooperatif, mengawasi
kelompok, memberi bantuan kelompok yang mengalami kesulitan,
membahas LKS dengan jawaban yang benar, Kuis, mengumumkan peng-
hargaan. (d) Penutup, meliputi: membimbing siswa membuat rangkuman,
dan memberi tugas rumah.
4. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Observasi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran kooperatif
tipe NHT menggunakan angket respon siswa, catatan lapangan dan
wawancara dengan siswa. Rekapitulasi hasil angket respon siswa disajikan
dalam Tabel 4.10 sebagai berikut:
Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa Dalam Mengikuti
Pembelajaran Kooperatif tipe NHT.
Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata skor
3,17 3,20 3,29
respon siswa

Berdasarkan Tabel 4.10, catatan lapangan dan wawancara dengan


siswa pada waktu mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT menun-
jukkan bahwa:
a. Terjadi peningkatan respon siswa pada setiap siklusnya.
b. Pembelajaran matematika lebih menyenangkan dari pada biasanya.
c. Membantu siswa lebih mudah dalam memahami materi.
d. Mendorong siswa belajar lebih giat.
e. Membuat berani bertanya pada guru.
f. Menimbulkan rasa senang dalam berdiskusi.
g. Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
h. Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyajikan.
i. Menjadi lebih tertantang dalam menyelesaikan soal.
j. Melatih kreativitas dan menumbuhkan sifat kritis.
k. Lebih terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

122 Penelitian Tindakan Kelas


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan partisipasi siswa.
Partisipasi tersebut dalam hal:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2. Prestasi belajar matematika, yang ditunjukkan oleh skor dasar hasil tes
awal, kuis 1, kuis 2, dan kuis 3 mengalami peningkatan pada setiap
siklusnya. Dengan demikian pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika.
3. Guru matematika sebagai pelaksana tindakan menjadi lebih terampil
dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
4. Selama mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa merasa
senang dalam berdiskusi, memiliki keberanian dalam menyampaikan
pendapat, dan keterampilan-keterampilan lain dalam pembelajaran
kooperatif.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan di atas maka peneliti
menyarankan:
1. Kepada pihak terkait, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional
agar dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru
matematika sebagai bahan informasi dalam meningkatkan partisipasi dan
prestasi belajar matematika.
2. Kepada guru-guru matematika diharapkan dapat mencoba model
pembelajaran kooperatif tipe yang lain dalam rangka menciptakan
pembelajaran matematika yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Lampiran 123
DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.


Dikmenum. 2005. Kurikulum Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Artikel
PMU
Erman, S. 2003. Asesmen Proses dan Hasil dalam Pembelajaran
Matematika. Bandung: BPG Depdiknas
Ibrahim, M, et al.. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University
Press.
Ponco Sudjatmiko. 2004. Matematika Kreatif Konsep dan Terapannya (Jilid
2A). Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Raymond, T. 1996. Participation Theory, http:// Virtual_valley.com/
traymond/ participation. Html
Sukidin, et al.. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Insan
Cendekia.
Sardiman, A.M. 2001, Interaksi dan Motivasi Pembelajaran. Jakarta: P.T.
Raja Grafindo Persada.
Sukarman, H. 2003. Dasar-Dasar Didaktik dan Penerapannya Dalam
Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Slavin, E. 1995. Cooperative Learning. USA: Allyn and Bacon
Svinicki, M. 2000. Encouraging Student Participation In Class, University
of Texas atAustin.http://www.utexas.edu/student/utic/si
/simanual4ns/leaddisc/encstupart in class. Doc
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.
___________. 2004. Psikologi Pengajaran (Edisi Revisi). Yogyakarta:
Media Abadi

124 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 4: Satuan Acara Tindakan Siklus I

SATUAN ACARA TINDAKAN SIKLUS I


Perte- Jumlah
Jam
muan Hari/ Tanggal Acara Tindakan Siswa
Pelajaran
Ke- Hadir
1 Sabtu, Guru menjelaskan operasi
2 September 2006 perkalian, pembagian,
3-4 operasi campuran bilangan 43
bulat, dan menghitung
kuadrat dan akar pangkat
bilangan bulat.
2 Senin, Diskusi kelompok, sesuai
4 September 2006 dengan langkah-langkah
pelaksanaan diskusi pada
pembelajaran kooperatif tipe
3-4 NHT. Materi diskusi: 43
operasi perkalian,
pembagian, operasi
campuran bilangan bulat,
dan menghitung kuadrat dan
akar pangkat bilangan bulat.
3 Sabtu, 3-4 Membahas hasil diskusi 43
9 September 2006 pada pertemuan ke 2
4 Senin, 3-4 Melaksanakan kuis 1. 43
11 September
2006

Lampiran 125
Lampiran 5: Satuan Acara Tindakan Siklus II

SATUAN ACARA TINDAKAN SIKLUS II


Perte- Jumlah
Jam
muan Hari/ Tanggal Acara Tindakan Siswa
Pelajaran
Ke- Hadir
5 Sabtu, .
Guru mengumumkan hasil
16 September kuis 1, skor peningkatan,
2006 dan penghargaan tim.
.
Guru menjelaskan materi
3-4 pelajaran pokok bahasan
pecahan, terdiri dari: (a) 43
memberikan contoh, (b)
mengubah bentuk pecahan
ke bentuk pecahan yang lain,
(c) menyelesaikan operasi
hitung pecahan: tambah,
kurang, kali, dan bagi.
6 Senin, Diskusi kelompok, sesuai
18 September dengan langkah-langkah
2006 3-4 pelaksanaan diskusi pada
pembelajaran kooperatif tipe 43
NHT. Materi diskusi seperti
yang telah dijelaskan guru
pada pertemuan ke 5.
7 Senin, Membahas hasil diskusi
30 September 3-4 pada pertemuan ke 6 dan 43
2006 melaksanakan kuis 2

126 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 6: Satuan Acara Tindakan Siklus III

SATUAN ACARA TINDAKAN SIKLUS III


Perte- Jumlah
Jam
muan Hari/ Tanggal Acara Tindakan Siswa
Pelajaran
ke Hadir
8 Senin, .
Guru mengumumkan hasil
2 Oktober 2006 kuis 2, skor peningkatan,
dan penghargaan tim.
.
Guru menjelaskan materi
pelajaran pokok bahasan
bilangan bulat, terdiri dari:
3-4 (a) menemukan sifat-sifat 43
operasi hitung bilangan
bulat, meliputi: tambah,
kurang, kali, dan bagi (b)
menggunakan sifat operasi
hitung bilangan bulat,
meliputi: tambah, kurang,
kali, dan bagi.
9 Sabtu, Diskusi kelompok, sesuai
7 Oktober 2006 dengan langkah-langkah
pelaksanaan diskusi pada
3-4 pembelajaran kooperatif tipe 43
NHT. Materi diskusi seperti
yang telah dijelaskan guru
pada pertemuan ke 8.
10 Senin, Membahas hasil diskusi
9 Oktober 2006 3-4 pada pertemuan ke 9 dan 43
melaksanakan kuis 3
11 Sabtu, Pengumuman hasil kuis 3,
14 Oktober 2006 3-4 skor peningkatan, dan 43
pemberian penghargaan dan
hadiah.

Lampiran 127
Lampiran 7.1.: Pengolahan Data Angket Respon Siswa

DATA ANGKET RESPON SISWA DALAM MENGIKUTI


PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT

Pernyataan Skor
No Pembelajaran matematika yang baru saja SiklusI SiklusII Siklus III
saya ikuti
1 Lebih menyenangkan daripada biasanya. 3,38 3,47 3,52
2 Membantu saya lebih mudah memahami 3,25 3,29 3,57
materi.
3 Mendorong saya belajar lebih giat. 3,31 3,38 3,45
4 Membuat saya berani bertanya pada guru. 3,17 3,32 3,38
5 Menimbulkan rasa senang dalam berdiskusi. 3,25 3,24 3,31
6 Menimbulkan keberanian dalam mengemu- 3,28 3,21 3,26
kakan pendapat.
7 Menumbuhkan rasa percaya diri dalam 3,14 3,33 3,36
menyajikan.
8 Menjadi tertantang dalam menyelesaikan 2,61 2,76 2,78
soal.
9 Melatih kreativitas. 3,44 3,45 3,52
10 Menumbuhkan sifat kritis. 1,89 2,08 2,19
11 Lebih terasa manfaatnya dalam kehidupan 3,00 3,25 3,36
sehari-hari.
12 Menambah rasa putus asa dalam mengikuti 3,47 3,41 3,45 *)
matematika.
13 Menambah rasa tegang dan tidak nyaman 3,42 3,31 3,33 *)
dalam belajar.
14 Merasakan beban mental untuk 3,31 3,14 3,12 *)
mempersiapkannya.
15 Rasanya ingin menghindar. 3,61 3,33 3,71 *)
RATA-RATA. 3,17 3,20 3,29

Keterangan: Nomor 1 sd 10 pernyataan positif dan nomor 11 sd 15 *)


Pernyataan negatif
SS = Sangat Setuju (penyataan positif skor 4, pernyataan negatif skor 1).
S = Setuju (pernyataan positif skor 3, pernyataan negatif skor 2).
TS = Tidak Setuju (pernyataan positif skor 2, pernyataan negatif skor 3).
STS = Sangat Tidak Setuju (pernyataan positif skor 1, pernyataan negatif
skor 4).

128 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 7.2.: Pengolahan Data Skor Partisipasi Siswa

Data Skor Partisipasi Siswa Kelas VIIB


Pada Pembelajaran Kooperatif tipe NHT

TIM No. Nama Skor Siklus I Skor Siklus II Skor Siklus III
1 Ilham Jauhari 3,7 3,8 3,9
2 Eni Surahmi 3,2 3,3 3,4
I 3 Agung Drajat S. 3,0 3,5 3,6
4 Desti Ayu L. 3,1 3,3 3,5
Rata-rata 3,25 3,48 3,60
1 Mahtup Basuki 3,6 3,8 3,8
2 Kusrini 3,5 3,4 3,7
3 Ahmad Baktiar 3,1 3,2 3,3
II 4 Laundi Etnis J. 3,0 3,1 3,5
Rata-rata 3,30 3,38 3,58
1 Lisa Nur Fitriani 3,7 3,7 3,8
2 Saptarina Wulandari 3,3 3,6 3,7
3 Heri Setiawan 3,1 3,4 3,4
III 4 Abdul Gani 3,0 3,1 3,2
Rata-rata 3,28 3,45 3,53
1 Agustin Nurul F 3,6 3,8 3,9
2 Sapto Deni P 3,5 3,7 3,7
IV 3 Fiqi Lintang P 3,1 3,4 3,6
4 Anis Tri Y 3,2 3,3 3,3
Rata-rata 3,35 3,55 3,63
1 Nunik Suci M 3,5 3,5 3,8
2 Siti Aisyah 3,6 3,8 3,7
V 3 Guriang Ragil 3,4 3,5 3,6
4 Banu Tri L 3,1 3,4 3,6
Rata-rata 3,40 3,55 3,68
1 Sri Rejeki 3,7 3,7 3,8

VI 2 Septian Prihantoro 3,4 3,6 3,6


3 Makmur Hidayat 3,1 3,3 3,5
4 Niswati 3,0 3,2 3,4
Rata-rata 3,30 3,45 3,58
1 Syaefudin 3,8 3,9 3,9

VII 2 Agus Riyanto 3,3 3,4 3,5


3 Iis Sugiyanti 3,2 3,2 3,5
4 Desi Rahmawati 3,4 3,5 3,6
5 Yulia Fitriningsih 3,6 3,6 3,7
Rata-rata 3,46 3,52 3,64

Lampiran 129
1 Afri Ani 3,7 3,8 3,8

2 Musti Margono 3,6 3,6 3,7


VIII 3 Sri Wahyuni 3,7 3,6 3,8
4 Wahyu Febriana 3,5 3,6 3,6
5 Satria Bima 3,1 3,3 3,5
Rata-rata 3,52 3,58 3,68
1 M. Iqbal Jinnan 3,8 3,7 3,9

2 Tindo Ibnu Jabar 3,7 3,8 3,8


IX 3 Risna Meida 3,6 3,7 3,7
4 Maulida Hanayu IT 3,1 3,4 3,5
Rata-rata 3,55 3,65 3,73
1 Dias Ardi R 3,5 3,7 3,8

2
Sholeh 3,6 3,6 3,7
X 3
Putri Dwi U. 3,4 3,5 3,5
4
Intan Utami 3,2 3,3 3,4
5
Eko Cahyono 3,0 3,1 3,4
Rata-rata 3,34 3,44 3,56
RATA-RATA SELURUHNYA 3,38 3,51 3,62

130 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 7.3.: Pengolahan Data Prestasi Belajar Siklus I

Data Prestasi Belajar Matematika Siklus I


TIM No. Nama Skor Dasar Skor Kuis 1 Skor
Peningkatan
1 Ilham Jauhari 100 95 10
2 Eni Surahmi 63 30 0
I 3 Agung Drajat S. 44 75 30
4 Desti Ayu L. 48 58 20
Rata-rata 63,75 64,50 15
Penghargaan Tim Baik 2
1 Mahtup Basuki 100 93 10
2 Kusrini 63 70 20
3 Ahmad Baktiar 43 70 30
II 4 Laundi Etnis J. 33 63 30
Rata-rata 59,75 74 22,5
Penghargaan Tim Hebat 1
1 Lisa Nur Fitriani 95 93 10
2 Saptarina 68 75 20
Wulandari
III 3 Heri Setiawan 65 90 30
4 Abdul Gani 48 58 20
Rata-rata 69 79 20
Penghargaan Tim Hebat 2
1 Agustin Nurul F 95 98 20
2 Sapto Deni P 60 68 20
IV 3 Fiqi Lintang P 48 63 30
4 Anis Tri Y 48 70 30
Rata-rata 62,75 74,75 25
Penghargaan Tim Super 2
1 Nunik Suci M 83 93 20
2 Siti Aisyah 63 60 10
V 3 Guriang Ragil 63 30 0
4 Banu Tri L 44 70 30
Rata-rata 63,25 63,25 15
Penghargaan Tim Baik 2
1 Sri Rejeki 80 100 30

VI 2 Septian Prihantoro 68 73 20
3 Makmur Hidayat 58 75 30
4 Niswati 53 60 20
Rata-rata 64,75 77 25
Penghargaan Tim Super 2
1 Syaefudin 80 88 20

Lampiran 131
2 Agus Riyanto 68 85 30
VII 3 Iis Sugiyanti 56 60 20
4 Desi Rahmawati 43 80 30
5 Yulia Fitriningsih 29 70 30
Rata-rata 55,2 76,6 26
Penghargaan Tim Super 1
1 Afri Ani 80 95 30

2 Musti Margono 68 33 0
VIII 3 Sri Wahyuni 58 80 30
4 Wahyu Febriana 25 65 30
5 Satria Bima 33 30 10
Rata-rata 52,8 60,6 20
Penghargaan Tim Hebat 2
1 M. Iqbal Jinnan 78 100 30

2 Tindo Ibnu Jabar 73 65 10


IX 3 Risna Meida 73 65 10
4 Maulida Hanayu IT 53 95 20
Rata-rata 69,23 71,25 17,5
Penghargaan Tim Baik 1
1 Dias Ardi R 73 65 10

2 Sholeh 73 55 0
X 3 Putri Dwi U. 60 98 30
4 Intan Utami 58 73 30
5 Eko Cahyono 40 83 30
Rata-rata 60,8 74,5 20
Penghargaan Tim Hebat 2

132 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 7.4.: Pengolahan Data Prestasi Belajar Siklus II

Data Prestasi Belajar Matematika Siklus II


TIM No Nama Skor Kuis 1 Skor Kuis 2 Skor
Peningkatan
1 Ilham Jauhari 95 100 30
2 Eni Surahmi 30 45 30
I 3 Agung Drajat S. 75 65 10
4 Desti Ayu L. 58 55 10
Rata-rata 64,50 66,25 20
Penghargaan Tim Hebat 3
1 Mahtup Basuki 93 85 10
2 Kusrini 70 80 20
3 Ahmad Baktiar 70 80 20
II 4 Laundi Etnis J. 63 55 10
Rata-rata 74 75 15
Penghargaan Tim Baik 2
1 Lisa Nur 93 100 30
Fitriani
2 Saptarina 75 85 20
III Wulandari
3 Heri Setiawan 90 80 10
4 Abdul Gani 58 55 10
Rata-rata 79 80 17,5
Penghargaan Tim Baik 1
1 Agustin Nurul F 98 90 10
2 Sapto Deni P 68 60 10
IV 3 Fiqi Lintang P 63 70 20
4 Anis Tri 70 80 20
Yuniana
Rata-rata 74,75 75 15
Penghargaan Tim Baik 2
1 Nunik Suci M 93 100 30
2 Siti Aisyah 60 55 10
V 3 Guriang Ragil 30 50 30
4 Banu Tri L 70 70 20
Rata-rata 63,25 68,75 22,5
Penghargaan Tim Hebat 1
1 Sri Rejeki 100 95 10
2 Septian 73 85 30

Lampiran 133
VI Prihantoro
3 Makmur 75 75 0
Hidayat
4 Niswati 60 60 0
Rata-rata 77 78,75 10
Penghargaan -
1 Syaefudin 88 95 20
2 Agus Riyanto 85 65 0
VII
3 Iis Sugiyanti 60 85 30
4 Desi Rahmawati 80 85 20
5 Yulia 70 55 0
Fitriningsih
Rata-rata 76,6 77 14
Penghargaan -
1 Afri Ani 95 100 30
2 Musti Margono 33 50 30
3 Sri Wahyuni 80 95 30
VIII
4 Wahyu Febriana 65 30 0
5 Satria Bima 30 40 20
Rata-rata 60,6 63 22
Penghargaan Tim Hebat 2
1 M. Iqbal Jinnan 100 100 30
2 Tindo Ibnu 65 75 20
Jabar
IX
3 Risna Meida 65 65 20
4 Maulida Hanayu 95 40 10
IT
Rata-rata 71,25 70 20
Penghargaan Tim Hebat 3
1 Dias Ardi R 65 100 30
2 Sholeh 55 90 30
3 Putri Dwi U. 98 75 0
X
4 Intan Utami 73 60 10
5 Eko Cahyono 83 70 0
Rata-rata 74,5 79 14
Penghargaan -

134 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 7.5.: Pengolahan Data Prestasi Belajar Matematika Siklus III

Data Prestasi Belajar Matematika Siklus III


TIM No. Nama Skor Kuis 2 Skor Kuis 3 Skor
Peningkatan
1 Ilham Jauhari 100 90 10
2 Eni Surahmi 45 58 30
I 3 Agung Drajat 65 65 20
S.
4 Desti Ayu L. 55 65 20
Rata-rata 66,25 69,5 20
Penghargaan Tim Hebat 3
1 Mahtup Basuki 85 80 10
2 Kusrini 80 85 20
3 Ahmad Baktiar 80 75 10
II 4 Laundi Etnis J. 55 68 30
Rata-rata 75 77 17,5
Penghargaan Tim Baik 1
1 Lisa Nur 100 100 30
Fitriani
2 Saptarina 85 95 20
III Wulandari
3 Heri Setiawan 80 80 20
4 Abdul Gani 55 60 20
Rata-rata 80 83,75 22,5
Penghargaan Tim Hebat 2
1 Agustin Nurul 90 100 30
F
IV 2 Sapto Deni P 60 85 30
3 Fiqi Lintang P 70 80 20
4 Anis Tri 80 80 20
Yuniana
Rata-rata 75 86,25 25
Penghargaan Tim Super
1 Nunik Suci M 100 95 10
2 Siti Aisyah 55 85 30
V 3 Guriang Ragil 50 60 20
4 Banu Tri L 70 65 10
Rata-rata 68,75 76,25 17,5
Penghargaan Tim Baik 1

Lampiran 135
1 Sri Rejeki 95 90 10

2 Septian 85 65 0
VI
Prihantoro
3 Makmur 75 75 20
Hidayat
4 Niswati 60 90 30
Rata-rata 78,75 80 15
Penghargaan Tim Baik 3
1 Syaefudin 95 83 0

2 Agus Riyanto 65 60 10
VII
3 Iis Sugiyanti 85 100 30
4 Desi 85 80 10
Rahmawati
5 Yulia 55 65 20
Fitriningsih
Rata-rata 77 77,6 14
Penghargaan -
1 Afri Ani 100 95 10
2 Musti Margono 50 63 30
3 Sri Wahyuni 95 95 20
VIII
4 Wahyu F 30 70 30
5 Satria Bima 40 75 30
Rata-rata 63 79,6 24
Penghargaan Tim Hebat 1
1 M. Iqbal Jinnan 100 100 30
2 Tindo Ibnu 75 58 0
Jabar
IX
3 Risna Meida 65 85 30
4 Maulida 40 63 30
Hanayu IT
Rata-rata 70 76,5 22,5
Penghargaan Tim Hebat 2
1 Dias Ardi R 100 95 10
2 Sholeh 90 85 10
3 Putri Dwi U. 75 80 20
X
4 Intan Utami 60 78 30
5 Eko Cahyono 70 63 10
Rata-rata 79 80,2 16
Penghargaan Tim Baik 2

136 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 8: Angket Partisipasi Siswa

ANGKET PARTISIPASI SISWA


Petunjuk: 1. Isilah dengan jujur sesuai dengan keadaan diri anda
2. Berilah tanda silang (X) pada kolom yang sesuai.
SS = Sangat Setuju, S = Setuju, TS = Tidak Setuju, STS = Sangat Tidak setuju

NO PERNYATAAN ST S TS STS
1 Saya berani dan senang mengemukakan
pendapat pada saat diskusi kelompok untuk
memecahkan masalah
2 Saya tidak mengemukakan pendapat pada saat
diskusi kelompok, diam saja, dan hanya
mendengarkan pendapat teman lain
3 Saya memberikan tanggapan kepada teman
yang mengemukakan pendapat dalam diskusi,
sehingga kelompok saya dapat memecahkan
masalah dengan baik
4 Saya asyik bercanda dan tidak tertarik kepada
teman yang sedang mengemukakan pendapat
dalam diskusi untuk memecahkan masalah
5 Tugas yang diberikan oleh guru, saya kerjakan
denganbaik,supayakelompoksaya
memperoleh penghargaan kelompok terbaik
6 Semua teman dalam kelompok saya berusaha
mengerjakan tugas dari guru dengan baik
7 Apabila kelompok saya menghadapi kesulitan
dalam menyelesaikan tugas, saya berinisiatif
menanyakan kepada guru atau kepada kelompok
lainnya
8 Perasaan akan memperoleh nilai yang baik,
membuat saya dapat mengerjakan tugas dengan
mantap dan lebih baik
9 Nilai yang buruk pada ulangan Matematika
yang lalu menyadarkan saya untuk belajar dan
mengerjakan tugas lebih baik
10 Saya menerima pendapat teman lain, karena
saya tidak memahami tugas yang diberikan oleh
guru

11 Saya tertarik dengan pendapat teman dalam


Lampiran 137
memecahkan masalah, sehingga hasil diskusi
kelompok saya dapat diselesaikan dengan lebih
baik
12 Saya tidak perduli dengan teman yang diam saja
atau bermain sendiri saat mendiskusikan tugas
kelompok
13 Saya mengajari teman-teman yang belum
paham cara memecahkan masalah atau tugas
kelompok
14 Apabila kelompok saya belum memperoleh
penghargaan, saya mengajak teman-teman
untuk tidak berputus asa, dan terus berusaha
untuk memperoleh nilai tertinggi

138 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 9.1.: Soal Kuis Siklus I

SOAL KUIS MATEMATIKA


Siklus : I (satu)
Kelas : VII
Waktu : 60 menit

PETUNJUK: 1. Tulis Nama, Kelas, Kelompok, dan nomor urut pada tempat
yang telah disediakan.
2. Kerjakan soal kuis berikut dengan benar.

Nama : …………………………………….. Kelompok : ……


Kelas : ………………….. No. urut : ……

1. Hitunglah:
a. –7 x 8 x (–6) = ……………….
b. 120: (–8): 5 = ……………….
c. 24: 5 – 3 x 4 = ………………..
d. 180: {(7 – 12) x 6)} = …………………
2. Tentukan hasilnya:
a. 484 = .................. = ……………… = …………………

b. 3 343 = ………, karena …….. x ……… x ……… = ………


3. Tentukan nilai n:
a. 22 x 23 = 2n = 2 ….
b. 35: 33 = 3n = 3…
c. (53)2 = 5 n = 5 …
4. Untuk mengeramik rumah, disediakan keramik kecil sebanyak 120 dus
dan keramik besar sebanyak 150 dus. Setiap dus keramik kecil berisi 25
buah dan setiap dus keramik besar berisi 11 buah. Apabila 1350 keramik
kecil dan 1078 keramik besar sudah terpakai, berapa dus keramik yang
belum terpakai?

Lampiran 139
Lampiran 9.2.: Soal Kuis Siklus II

SOAL KUIS MATEMATIKA


Siklus : II (dua)
Kelas : VII
Waktu : 60 menit

PETUNJUK: 1. Tulis Nama, Kelas, Kelompok, dan nomor urut pada


tempat yang telah disediakan.
2. Kerjakan soal kuis berikut dengan benar.

Nama : …………………………………….. Kelompok : ……


Kelas : ………………….. No. urut : ……

256
1. Bentuk pecahan campuran dari 12 adalah

2
2. Bentuk pecahan desimal dari 15 adalah ..................................................

7
3. Bentuk pecahan biasa dari 5 9 adalah .....................................................

2
4. Bentuk persen dari 5 adalah ....................................................................
...........................................
5. Bentuk permil dari 1725 adalah .................................................................

4 7 1
6. 3 9 + 5 8 – 4 12 =
................................................................................
= ................................................................................
1 1
7. 3 4 x – (4 5 ) =
8. 72 : – 5 14 = ............................................................................................... .........................................................................................

3
9. Benang sepanjang 30 meter dipotong menjadi 8 bagian sama
4
panjang. Berapa meter panjang setiap bagian?

140 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 9.3.: Soal Kuis Siklus III

SOAL KUIS MATEMATIKA


Siklus : III (tiga)
Kelas : VII
Waktu : 60 menit

PETUNJUK: 1. Tulis Nama, Kelas, Kelompok, dan nomor urut pada


tempat yang telah disediakan.
2. Kerjakan soal kuis berikut dengan benar.

Nama : ………………………………… Kelompok : ……


Kelas : ………………….. No. urut : ……

Hitunglah dengan menggunakan sifat-sifat operasi pada bilangan bulat!


1. 26 + 38 + 62 = ............................................................................................
2. 43 + 654 + 27 + 346 = ..............................................................................
= ..............................................................................
3. 87 x 25 x 4 = ...............................................................................................
4. 125 x 15 x 8 x 20 = ...................................................................................
= ...................................................................................
5. 8 x 147 + 8 x 153 = ...................................................................................
= ...................................................................................
42 18  42 13
6. = ....................................................................................
57  31  36  31
= ...................................................................................
= ...................................................................................

Lampiran 141
Lampiran 10.1.: Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS GURU


PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
NHT

Nama Guru : ………………………………………..


Tanggal : ………………………………………..
Pukul : ………………………………………..
Sub Pokok Bahasan : ………………………………………..
Pertemuan ke : ………………………………………..
Petunjuk: Daftar pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe NHT berikut ini
berdasarkan prinsip pembelajaran kooperatif yang dilakukan guru di kelas.
Berikan penilaian dengan menuliskan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.
PENILAIAN
No ASPEK YANG DIAMATI
1 2 3 4
I PERSIAPAN (Secara Keseluruhan)
II PELAKSANAAN
A. Pendahuluan
1. Menyampaikan TPK
2. Memotivasi siswa
3. Menghubungkanpelajaransekarangdengan
pelajaran terdahulu
B. Kegiatan Inti
1. Mempresentasikan materi yang mendukung tugas
belajar kelompok
2. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok belajar
3. Melatih siswa dalam keterampilan kooperatif

Berada dalam tugas

Mengambil giliran dan berbagi tugas

Menggunakan suara pelan

Mempunyai keberanian untuk bertanya

Mendengar dengan aktif

Mendorong berpartisipasi

Memeriksa ketepatan
4. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
5. Memberi bantuan kepada kelompok yang mengalami
kesulitan
6. Membahas LKS hasil kerja kelompok dengan benar
7. Game/ kuis/ resitasi/ umpan balik
8. Mengumumkan pengakuan/ penghargaan

C. Penutup
142 Penelitian Tindakan Kelas
1. Membimbing siswa membuat rangkuman
2. Memberi tugas rumah
III PENGELOLAAN WAKTU
IV TEKNIK BERTANYA GURU
V SUASANA KELAS

Berpusat pada guru

Berpusat pada siswa

Guru antusias

Siswa antusias

Keterangan: 1. Tidak baik 2. Kurang baik 3. Cukup baik 4. Baik

Catatan lain:
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

Pengamat

Lampiran 143
Lampiran 10.2.: Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS GURU


PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE NHT

Nama Guru : ………………………………………..


Tanggal : ………………………………………..
Pukul : ………………………………………..
Sub Pokok Bahasan : ………………………………………..
Pertemuan ke : ………………………………………..
Petunjuk: Daftar pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe NHT berikut ini
berdasarkan prinsip pembelajaran kooperatif yang dilakukan guru di kelas.
Berikan penilaian dengan menuliskan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.
PENILAIAN
No ASPEK YANG DIAMATI
1 2 3 4
I PERSIAPAN (Secara Keseluruhan)
II PELAKSANAAN
A. Pendahuluan
1. Menyampaikan TPK
2. Memotivasi siswa
3. Menghubungkanpelajaransekarangdengan
pelajaran terdahulu
B. Kegiatan Inti
1. Mempresentasikan materi yang mendukung tugas
belajar kelompok
2. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok belajar
3. Melatih siswa dalam keterampilan kooperatif

Berada dalam tugas

Mengambil giliran dan berbagi tugas

Menggunakan suara pelan

Mempunyai keberanian untuk bertanya

Mendengar dengan aktif

Mendorong berpartisipasi

Memeriksa ketepatan
4. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
5. Memberi bantuan kepada kelompok yang mengalami
Kesulitan
6. Membahas LKS hasil kerja kelompok dengan benar
7. Game/ kuis/ resitasi/ umpan balik
8. Mengumumkan pengakuan/ penghargaan
C. Penutup
1. Membimbing siswa membuat rangkuman
2. Memberi tugas rumah
144 Penelitian Tindakan Kelas
III PENGELOLAAN WAKTU
IV TEKNIK BERTANYA GURU
V SUASANA KELAS
  
Berpusat pada guru
  
Berpusat pada siswa
  
Guru antusias
 
Siswa antusias

Keterangan: 1. Tidak baik 2. Kurang baik 3. Cukup baik 4. Baik

Catatan lain:
………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………..

Pengamat

Lampiran 145
Lampiran 10.3.: Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus III

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS GURU


PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
NHT

Nama Guru : ………………………………………..


Tanggal : ………………………………………..
Pukul : ………………………………………..
Sub Pokok Bahasan : ………………………………………..
Pertemuan ke : ………………………………………..
Petunjuk: Daftar pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe NHT berikut ini
berdasarkan prinsip pembelajaran kooperatif yang dilakukan guru di kelas.
Berikan penilaian dengan menuliskan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.
PENILAIAN
No ASPEK YANG DIAMATI
1 2 3 4
I PERSIAPAN (Secara Keseluruhan)
II PELAKSANAAN
A. Pendahuluan
1. Menyampaikan TPK
2. Memotivasi siswa
3. Menghubungkanpelajaransekarangdengan
pelajaran terdahulu
B. Kegiatan Inti
1. Mempresentasikan materi yang mendukung tugas
belajar kelompok
2. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok belajar
3. Melatih siswa dalam keterampilan kooperatif

Berada dalam tugas

Mengambil giliran dan berbagi tugas

Menggunakan suara pelan

Mempunyai keberanian untuk bertanya

Mendengar dengan aktif

Mendorong berpartisipasi

Memeriksa ketepatan
4. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
5. Memberi bantuan kepada kelompok yang mengalami
Kesulitan
6. Membahas LKS hasil kerja kelompok dengan benar
7. Game/ kuis/ resitasi/ umpan balik
8. Mengumumkan pengakuan/ penghargaan

146 Penelitian Tindakan Kelas


C. Penutup
1. Membimbing siswa membuat rangkuman
2. Memberi tugas rumah
IIIPENGELOLAAN WAKTU
IV TEKNIK BERTANYA GURU
V SUASANA KELAS
  
Berpusat pada guru
  
Berpusat pada siswa
  
Guru antusias
 
Siswa antusias

Keterangan: 1. Tidak baik 2. Kurang baik 3. Cukup baik 4. Baik

Catatan lain:
………………………………………………………………………………
……………………………………………..………………………………..

Pengamat

Lampiran 147
Lampiran 11: Dokumentasi Penelitian

148 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 12: Curriculum Vitae

Identitas Ketua Peneliti


1. Nama Lengkap dan Gelar : Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.
2. NIP : 132195595
3. Tempat dan Tanggal Lahir : Banyumas, 3 Desember 1972
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Pangkat, Golongan : Penata Tk 1/ III/d
6. Jabatan : Guru Dewasa Tk.1
7. Alamat Kantor : JL. Kertawibawa 575 Purwokerto Barat
Kode Pos (53135)
8. Nomor Telepon Kantor : (0281) 635053
9. Alamat Rumah : Pasir Wetan RT 02/RW 02 Banyumas
10. Latar Belakang Pendidikan :
 Sarjana Pendidikan Matematika dan Akta Mengajar IV Universitas
 Muhammadiyah Purwokerto Lulus Tahun 1997
 Magister Pendidikan pada Program Studi Teknologi Pendidikan
 Universitas Sebelas Maret Lulus Tahun 2006
11. Pengalaman penelitian yang relevan:
Sumber
No Judul Tahun Status
Dana
1 Meningkatkan Minat Siswa dalam Mengikuti 2004 Anggota Dikti
Pelajaran Matematika Melalui Pembelajaran
Sistem STAD di Kelas IIIA SLTP Negeri 4
Purwokerto
2 Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar 2005 Anggota Dikti
Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif
Metode Jigsaw (Studi di SMP Negeri 4
Purwokerto)
3 Peningkatan Motivasi dan Ketuntasan Belajar 2006 Ketua Mandiri
Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif
tipe STAD (Tesis S2)
4 Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT 2006 Anggota Dikti
(Teams Game Tournaments) untuk Meningkat-
kanKreativitasdan PrestasiBelajar
Matematika (Studi di SMP Negeri 4
Purwokerto)

12. Pelatihan yang telah diikuti:


Lampiran 149
No Nama Kegiatan Tempat Waktu Tahun
1 Pendidikan dan Pelatihan PKB Kab. 192 Jam 1998/1999
Sekolah Dekat (MGMP) Banyumas
2 Pelatihan Statistika dan Komputer Univ. Muh. 31 Jam 2002
Purwokerto
3 Pelatihan Pengembangan Sistem Univ. Muh. 30 Jam 2003
Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Purwokerto
Belajar
4 Pelatihan dan Pembimbingan Dinas 34 Jam 2004
Penyusunan Pengembangan Profesi Pendidikan
Banyumas
5 Pelatihan Model Pembelajaran Univ. Muh. 31 Jam 2004
Matematika, Penelitian, dan Purwokerto
Komputer
6 Re-Trainning Mata Pelajaran melalui SMP N 4 44 Jam 2004
Musyawarah Guru Mata Pelajaran Purwokerto
(MGMP)

Purwokerto, 3 Desember 2006

(Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd.)


NIP.132195595

150 Penelitian Tindakan Kelas


Lampiran 13: Contoh Artikel untuk Jurnal Ilmiah

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT


(NUMBERED HEADS TOGETHER) UNTUK MENINGKATKAN
PARTISIPASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
DI SMP NEGERI 4 PURWOKERTO1)
Oleh: Irma Pujiati, S.Pd., M.Pd, dan Nyata, S.Pd. 2)

ABSTRAK

Masalah penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya partisipasi


dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Negeri Purwokerto
Semester I Tahun Pelajaran 2006/2007. Tujuan umum penelitian adalah
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, sedangkan tujuan khusus
adalah meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika. Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi sekolah yaitu meningkatkan
kualitas pembelajaran matematika, di samping itu juga bermanfaat bagi guru
dan siswa. Dengan melakukan penelitian tindakan kelas maka guru mem-
peroleh pengalaman dalam melakukan penelitian dan meningkatkan kualitas
pembelajaran, sedangkan siswa memperoleh pembelajaran yang lebih
menarik dan menyenangkan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus,
dimana aktivitas setiap siklusnya meliputi perencanaan, tindakan, observasi,
evaluasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIB sebanyak
43 siswa. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah menerapkan
pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) pada
pelajaran matematika pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan. Instrumen
penelitian menggunakan kuis matematika, angket partisipasi,angket respon
siswa, lembar observasi guru, dan catatan lapangan. Pelaksanaan penelitian
secara kolaboratif dengan melibatkan 2 orang guru matematika. Seorang
guru matematika kelas VIIB bertindak sebagai pelaksana tindakan, dan
seorang guru lagi bertindak sebagai pengamat aktivitas guru dan siswa. Hasil
penelitian ini menunjukkan peningkatan partisipasi dan prestasi belajar
siswa. Siklus I dengan rata-rata skor partisipasi 3,38, dan rata-rata skor
prestasi belajar matematika 71,58. Siklus II dengan rata-rata skor partisipasi
3,51, dan rata-rata skor prestasi belajar matematika 73,28 Siklus III dengan
rata-rata skor partisipasi 3,62, dan rata-rata skor prestasi belajar matematika
78,67. Dengan demikian penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil
sehingga peneliti merekomendasikan penerapan pembelajaran kooperatif

Lampiran 151
tipe NHT dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika
pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan.

1) Penelitian dibiayai oleh DIPA Balitbang Depdiknas Tahun 2006 Kegiatan


Pembaruan Sistem Pendidikan Nasional
2) Staf Pengajar (Guru) SMP Negeri 4 Purwokerto

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut pengamatan dan diskusi dengan rekan guru matematika
kelas VII, dibandingkan dengan kelas lain terlihat bahwa sebagian besar
siswa kelas VIIB prestasi belajar matematikanya masih rendah. Salah satu
penyebab rendahnya prestasi belajar matematika adalah siswa kurang
berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran di kelas, sehingga siswa kurang
aktif dalam mengikuti pelajaran matematika.
Hasil belajar siswa selain dipengaruhi oleh model pembelajaran juga
dipengaruhi oleh partisipasi siswa. Jika siswa aktif dan berpartisipasi dalam
proses pembelajaran maka tidak hanya aspek prestasi saja yang diraihnya
namun ada aspek lain yang diperoleh yaitu aspek afektif dan aspek sosial.
Mengingat pentingnya partisipasi siswa dalam pembelajaran, maka guru
diharapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan partisipasi siswa, sedangkan siswa hendaknya dapat memotivasi
dirinya sendiri agar aktif di dalam proses pembelajaran. Dengan meningkat-
nya partisipasi siswa dalam pembelajaran maka diharapkan prestasi belajar
siswa akan semakin meningkat.
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah
rendahnya partisipasi siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif.
Menurut Slavin (dalam Ibrahim, 2000:16), “Slavin menelaah penelitian dan
melaporkan bahwa sebanyak 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun
1972 sampai tahun 1986 yang menyelidiki pengaruh pembelajaran koope-
ratif terhadap hasil belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik-
teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil
belajar dibandingkan dengan pengalaman belajar individual atau
kompetitif”.
Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe. Tipe-tipe tersebut
antara lain, tipe STAD, Jigsaw, TGT, dan tipe struktural yaitu TPS dan
NHT. Setelah mengkaji pustaka dan diskusi dengan rekan guru, maka untuk
meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar matematika dalam penelitian
152 Penelitian Tindakan Kelas
tindakan kelas ini akan diterapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang
merupakan salah satu tipe dalam pendekatan struktural. Dalam pendekatan
struktural ada dua jenis, yaitu TPS (Think Pair Share) dan NHT (Numbered
Heads Together). Peneliti akan menerapkan tipe NHT dengan pertimbangan
karena menurut Anita Lie (2004:57) pada tipe ini mempunyai keunggulan
dapat mengoptimalkan partisipasi siswa. Dalam pelaksanaannya pembel-
ajaran kooperatif tipe NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk saling
membagi ide-ide dan jawaban yang paling tepat, serta dapat mendorong
siswa untuk meningkatkan partisipasi dan kerjasama mereka.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan
partisipasi siswa?
2. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan prestasi
belajar matematika?

C. Tindakan yang Dipilih


Tindakan yang dipilih dalam penelitian ini adalah penerapan
pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan partisipasi dan
prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 4
Purwokerto.

II. ACUAN TEORI


A. Mata Pelajaran Matematika
Menurut Dikmenum (2005:1) matematika berasal dari bahasa latin
manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari.
Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang
kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh
sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep
atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian,
pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui
pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat
digunakan untuk mempelajari konsep matematika.

Lampiran 153
Menurut Dikmenum (2005:2) matematika berfungsi mengembang-
kan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan, dan menggunakan
rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui
materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus
dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan
mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa
kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.

B. Acuan Teori Tindakan yang Dipilih


1. Partisipasi
Menurut Raymond (1996) partisipasi bisa diartikan sebagai ukuran
keterlibatan anggota dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Dalam perspektif
psikologis, partisipasi bisa dimaknai sebagai kondisi mental yang menunjuk-
kan sejauh mana anggota kelompok bisa menikmati posisinya sebagai
anggota kolektifitas, sehingga konsepsi partisipasi sangat terkait dengan
masalah kejiwaan. Semakin tinggi tingkat kesehatan mental seseorang maka
semakin tinggi kemampuan patisipasinya. Raymond menggambarkan
rangkaian partisipasi sebagai berikut:

(insanity) (marginal-participation) (sanity) (intimacy)


Insanity menunjukkan kondisi kejiwaan yang paling parah atau gila,
sehingga tidak mungkin seseorang menjadi partisipan. Sebaliknya sanity
menggambarkan kesehatan jiwa yang kondusif dari seseorang sehingga
memungkinkan seseorang mencapai puncak partisipasi yaitu intimacy. Teori
partisipasi mendefinisikan intimacy sebagai kedekatan dan persahabatan
yang menghasilkan kondisi dimana tiap anggota atau partner bisa memuas-
kan satu sama lain.
Menurut Svinicki (1995) dalam konteks pembelajaran di kelas,
partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan aktif siswa dalam pemunculan
ide-ide dan informasi, sehingga kesempatan belajar dan pengingatan materi
bisa lebih lama. Sedangkan menurut Tannenbaun dan Hahn (dalam Sukidin,
et al.. 2002: 159) partisipasi merupakan suatu tingkat sejauhmana peran
anggota melibatkan diri dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga dan
pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut Dusseldor (dalam
Sukidin,et al., 2002:159) partisipasi diartikan sebagai kegiatan atau keadaan
mengambil bagian dalam suatu aktivitas untuk mencapai kemanfaatan secara
optimal.

154 Penelitian Tindakan Kelas


Menurut Sudjana (2005:86) aspek-aspek partisipasi yang perlu
diamati dalam membuat pedoman observasi aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok adalah:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
A. Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, et al.. (2000:2) semua model pembelajaran
ditandai adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan
(reward).
Ibrahim, et al. (2000:6) mengemukakan bahwa pembelajaran
kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompoknya secara kooperatif untuk menuntaskan
materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang,
dan rendah.
c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,
jenis kelamin yang berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
Menurut Ibrahim, et al. (2000:7) terdapat tiga tujuan penting
pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Hasil belajar akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu.
c. Pengembangan keterampilan sosial.
Terdapat enam langkah utama di dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
b. Menyajikan informasi.
c. Mengorganisasi siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
e. Evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.

Lampiran 155
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh
proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus
dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu struktur
tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua
prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu
ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pembelajaran kooperatif ingin sukses,
maka materi pembelajaran harus tersedia di ruangan guru atau di perpusta-
kaan atau di pusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat menjauh-
kan kesalahan, yaitu secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja
kelompok.
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
menurut Ibrahim, et al. (2000:28) dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993)
untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup
dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi
pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh
kelas, guru menggunakan struktur empat langkah seperti berikut:
a. Pendahuluan
Langkah 1: Penomoran
1) Kegiatan ini diawali dengan membagi siswa kedalam kelompok yang
beranggotakan 3 sampai 5 siswa, kemudian setiap siswa diberi label
nomor (antara 1 sampai 5).
2) Menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas serta mengait-
kan dengan materi pelajaran sebelumnya.
3) Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara
rinci dan menjelaskan model pembelajaran NHT yang akan
diterapkan.
4) Memotivasi siswa agar timbul rasa ingin tahu tentang konsep-konsep
materi pelajaran yang akan dibahas.
b. Kegiatan Inti
1) Langkah 2: Mengajukan pertanyaan
a) Menjelaskan materi pelajaran secara singkat.
b) Mengajukan pertanyaan untuk seluruh kelompok.
2) Langkah 3: Berpikir bersama
a) Seluruh siswa dalam kelompoknya masing-masing memikirkan
jawaban pertanyaan yang diajukan guru.

156 Penelitian Tindakan Kelas


b) Menyatukan pendapat jawaban (bisa dalam bentuk LKS) dibawah
bimbingan guru dan memastikan bahwa anggota kelompoknya
sudah mengetahui jawabannya.
3) Langkah 4: Menjawab pertanyaan
a) Guru memanggil salah satu nomor dari salah satu kelompok secara
acak.
b) Siswa yang dipanggil nomornya dalam kelompok yang bersang-
kutan mengacungkan tangannya.
c) Siswa yang dipanggil nomornya mencoba menjawab pertanyaan
untuk seluruh kelas dan ditanggapi oleh kelompok lain.
d) Jika jawaban dari hasil diskusi kelas sudah dianggap betul, siswa
diberi kesempatan untuk mencatat jawaban tersebut, namun apabila
jawaban masih salah maka guru memberikan penjelasan tentang
jawaban yang betul.
e) Guru memberikan pujian kepada siswa atau kelompok yang
menjawab betul.
c. Penutup
1) Guru memberikan umpan balik.
2) Guru membimbing siswa menyimpulkan materi pelajaran.
3) Siswa diberi tugas pekerjaan rumah atau mengerjakan kuis secara
individu.
d. Evaluasi
Karena sampai saat ini belum ada pedoman penilaian dalam NHT maka
pada evaluasi hasil belajar dan pemberian penghargaan pada kelompok,
peneliti mengadopsi pedoman penilaian dalam STAD dengan langkah-
langkah dalam Slavin (1995) sebagai berikut:
1) Pengetesan
Menurut Slavin (1995) pengetesan dimulai dengan guru meminta
siswa menjawab kuis tentang materi pelajaran. Dalam banyak hal,
butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan suatu jenis tes uraian
singkat, sehingga butir-butir itu dapat disekor di kelas atau segera
setelah tes itu diberikan.
2) Skor Peningkatan
Siswa memperoleh skor peningkatan berdasarkan tingkat skala dimana
skor tes mereka melebihi skor dasar mereka. Siswa mendapat-kan
poin peningkatan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini
mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka dengan
menggunakan skala yang ditunjukkan pada Tabel 1 berikut:
Lampiran 157
Tabel 1. Skala poin peningkatan
No Skor Tes Terkini Skor
Peningkatan
1 Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 0 poin
2 10 poin dibawah sampai 1 poin skor dasar 10 poin
3 Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar 20 poin
4 Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin
5 Pekerjaan sempurna (tanpa memperlihatkan skor 30 poin
dasar)

3) Penghargaan Skor Tim


Suatu tugas penilaian dan evaluasi penting terakhir untuk pembel-
ajaran kooperatif adalah pemberian penghargaan. Menurut Slavin
(1995:80) pemberian penghargaan atas pencapaian kelompok
didasarkan pada tiga tingkatan, yaitu tim baik, tim hebat, dan tim
super. Langkah-langkah penentuan dan penghargaan skor tim adalah
sebagai berikut:
a) Langkah 1: Penentuan skor tim
b) Langkah 2: Penghargaan atas prestasi tim
Rata-rata tim Penghargaan
15 poin Tim Baik
20 poin Tim Hebat
25 poin Tim Super
4. Prestasi Belajar Matematika
Menurut Erman S. (2003:13) hasil belajar mencakup aspek yang
berkenaan dengan perubahan dan kemampuan yang telah dimiliki siswa pada
ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan dan kemampuan yang
telah dimiliki tersebut bisa berupa komunikasi, interaksi, kreativitas, dan
sebagainya. Prestasi belajar adalah sebagian dari hal tersebut, yaitu berke-
naan dengan hasil tes yang mencerminkan kemampuan siswa dalam
menguasai materi pelajaran.
Menurut Gagne dalam Winkel (1996:482) kemampuan-kemampuan
siswa digolongkan dalam hal informasi verbal, kemahiran intelektual,
pengaturan kegiatan kognitif, kemampuan motorik, dan sikap. Kemampuan-
kemampuan tersebut merupakan kemampuan internal yang harus dinyatakan
dalam suatu prestasi. Menurut Winkel (1996:482) prestasi belajar yang

158 Penelitian Tindakan Kelas


diberikan oleh siswa berdasarkan kemampuan internal yang diperolehnya
sesuai dengan tujuan instruksional menampakkan hasil belajar.
Menurut Winkel (2004:438) dapat dipertanyakan juga, apakah
evaluasi produk (hasil belajar) jatuh di luar proses pembelajaran, karena
pada akhir proses pembelajaran guru akan menuntut suatu prestasi, sebagai
bukti nyata bahwa hasil yang dituju telah tercapai, yang kemudian dievaluasi
dengan memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, biasanya juga
diadakan evaluasi beberapa waktu kemudian, misalnya bila siswa menempuh
ulangan atau ujian, evaluasi itu mencakup sejumlah hasil belajar yang telah
diperoleh.
Dari pengertian yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan
bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil tes yang mencerminkan
kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran matematika.

III. PROSEDUR PENELITIAN


A. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di kelas VIIB SMP
Negeri 4 Purwokerto. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIB
SMP Negeri 4 Purwokerto sebanyak 43 anak yang menurut hasil diagnosis
tim peneliti memiliki partisipasi dan prestasi belajar matematika yang paling
rendah.

B. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, dimana
kegiatan setiap siklusnya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, evaluasi, dan refleksi. Adapun rincian kegiatan pada setiap
siklusnya diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah:
1) Mengadakan pertemuan, guru pelaksana tindakan dan guru pengamat
berdiskusi tentang persiapan penelitian.
2) Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi akti-
vitas siswa, angket partisipasi, angket respon siswa, soal tes, pedoman
wawancara, dan catatan lapangan.
3) Menyiapkan rencana pelajaran yang telah disusun pada persiapan
penelitian.

Lampiran 159
4) Menyiapkan tape recorder dan alat tulis untuk observasi dan
wawancara.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, guru matematika kelas VIIB sebagai
pelaksana tindakan melakukan aktivitas pembelajaran.
c. Observasi
Pada tahap observasi ini, dilakukan observasi aktivitas guru, observasi
aktivitas siswa, dan wawancara dengan siswa. Observasi dilakukan oleh
guru pengamat. Wawancara direkam dengan tape recorder dan dicatat
dalam catatan lapangan.
d. Evaluasi
Pada tahap evaluasi ini, untuk mengukur tingkat partisipasi siswa
menggunakan angket dan untuk mengukur prestasi belajar matematika
menggunakan tes. Sedangkan untuk mengevaluasi aktivitas guru dan
siswa di kelas menggunakan lembar observasi dan wawancara. Di
samping itu untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
kooperatif tipe NHT menggunakan angket respon siswa.
e. Refleksi
Pada tahap refleksi, data yang diperoleh dari hasil evaluasi kemudian
dianalisis. Hasil analisis digunakan untuk merefleksi pelaksanaan
tindakan pada siklus tersebut, hasil refleksi kemudian digunakan untuk
merencanakan tindakan pada siklus berikutnya.

C. Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen
berupa angket, kuis, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, dan catatan
lapangan. Angket digunakan untuk mengetahui partisipasi siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT pada setiap siklus, kuis untuk mengetahui
prestasi belajar matematika secara individu maupun kelompok pada setiap
siklus, sedangkan lembar observasi dan catatan lapangan digunakan untuk
mengobservasi aktivitas guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung
yang dilakukan pada setiap siklus.

160 Penelitian Tindakan Kelas


D. Analisis Data
Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisis data
penelitian diuraikan pada tabel 2 berikut:
Tabel 2. Prosedur, alat, pelaku, sumber informasi, dan cara analisisnya
Sumber
No Prosedur Alat Pelaku Cara Analisis
Informasi
1 Menganalisis Angket, dan Guru Siswa Analisis
partisipasi catatan Pelaksana kualitatif
siswa lapangan tindakan untuk hasil
angket dan
wawancara
(berdasar pada
catatan
lapangan)
2 Menganalisis Lembar Guru Guru Analisis
aktivitas guru observasi, Pengamat Pelaksana kuantitatif dan
tape tindakan kualitatif
recorder,
dan catatan
lapangan
3 Menganalisis Lembar Guru Siswa Analisis
aktivitas dan observasi, Pengamat kualitatif
respon siswa angket
respon
siswa, tape
recorder dan
catatan
lapangan
4 Menganalisis Tes Guru Siswa Analisis
Prestasi Pelaksana kuantitatif dan
Belajar Siswa tindakan kualitatif

Lampiran 161
IV. HASIL PENELITIAN
A. Pembahasan Hasil Partisipasi Siswa
Tabel 3. Rekapitulasi Rata-rata Skor Partisipasi Siswa dalam
Mengikuti Pembelajaran Kooperatif tipe NHT.
Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata skor
3,38 3,51 3,62
Partisipasi

Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata


skor partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Partisipasi siswa tersebut dalam hal:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.

B. Pembahasan Prestasi Belajar Matematika


Tabel 4. Rekapitulasi Rata-Rata Skor Prestasi Belajar
Matematika Siswa Dalam Mengikuti Pembelajaran
Kooperatif tipe NHT.

Tes Awal Siklus I Siklus II Siklus III


Rata-rata skor
62,13 71,58 73,28 78,67
Prestasi

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata


skor prestasi belajar matematika siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe
NHT pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan.

162 Penelitian Tindakan Kelas


C. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Guru
Tabel 5. Rekapitulasi Rata-Rata Skor Pengamatan Aktivitas Guru Dalam
Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif tipe NHT.

Siklus I Siklus II Siklus III


Rata-rata skor
3,08 3,50 3,77
aktivitas guru

Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa guru mengalami peningkatan


kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Kemampuan-kemampuan tersebut adalah keterampilan guru dalam melak-
sanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT, antara lain: (a) Persiapan, (b)
Pendahuluan, meliputi: menyampaikan TPK, memotivasi siswa, menghu-
bungkan pelajaran sekarang dengan pelajaran terdahulu. (c) Kegiatan inti,
meliputi: mempresentasikan materi, mengatur siswa dalam kelompok-
kelompok belajar, melatih siswa dalam keterampilan kooperatif, mengawasi
kelompok, memberi bantuan kelompok yang mengalami kesulitan,
membahas LKS dengan jawaban yang benar, kuis, mengumumkan
penghargaan. (d) Penutup, meliputi: membimbing siswa membuat
rangkuman, dan memberi tugas rumah.

D. Pembahasan Hasil Observasi Aktivitas Siswa


Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa Dalam Mengikuti
Pembelajaran Kooperatif tipe NHT.

Siklus I Siklus II Siklus III


Rata-rata skor
3,17 3,20 3,29
respon siswa

Berdasarkan Tabel 6, catatan lapangan dan wawancara dengan siswa


pada waktu mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT menunjukkan
bahwa:
1. Terjadi peningkatan respon siswa pada setiap siklusnya.
2. Pembelajaran matematika lebih menyenangkan dari pada biasanya.
3. Membantu siswa lebih mudah dalam memahami materi.
4. Mendorong siswa belajar lebih giat.
5. Membuat berani bertanya pada guru.
6. Menimbulkan rasa senang dalam berdiskusi.
Lampiran 163
7. Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
8. Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyajikan.
9. Menjadi lebih tertantang dalam menyelesaikan soal.
10. Melatih kreativitas dan menumbuhkan sifat kritis
11. Lebih terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

V. SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpul-
kan bahwa:
1. Pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan partisipasi siswa.
Partisipasi tersebut dalam hal:
a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.
b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
d. Motivasi dalam mengerjakan tugas.
e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.
f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2. Prestasi belajar matematika, yang ditunjukkan oleh skor dasar hasil tes
awal, kuis 1, kuis 2, dan kuis 3 mengalami peningkatan pada setiap
siklusnya. Dengan demikian pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika.
3. Guru matematika sebagai pelaksana tindakan menjadi lebih terampil
dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
4. Selama mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa merasa
senang dalam berdiskusi, memiliki keberanian dalam menyampaikan
pendapat, dan keterampilan-keterampilan lain dalam pembelajaran
kooperatif.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan di atas maka peneliti
menyarankan:
1. Kepada pihak terkait, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional
agar dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru
matematika sebagai bahan informasi dalam meningkatkan partisipasi dan
prestasi belajar matematika.

164 Penelitian Tindakan Kelas


2. Kepada guru-guru matematika diharapkan dapat mencoba model
pembelajaran kooperatif tipe yang lain dalam rangka menciptakan
pembelajaran matematika yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.


Dikmenum. 2005. Kurikulum Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Artikel
PMU
Erman, S. 2003. Asesmen Proses dan Hasil dalam Pembelajaran
Matematika. Bandung: BPG Depdiknas
Ibrahim, M, et al.. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University
Press.
Raymond, T. 1996. Participation Theory, http:// Virtual_valley.com/
traymond/ participation. Html
Sukidin, et al.. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Insan
Cendekia.
Slavin, E. 1995. Cooperative Learning. USA: Allyn and Bacon
Svinicki, M. 2000. Encouraging Student Participation In Class, University
of Texas at Austin.http://www.utexas.edu/student/utic/si/
simanual4ns/leaddisc/encstupart in class. Doc
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.
___________. 2004. Psikologi Pengajaran (Edisi Revisi). Yogyakarta:
Media Abadi

Lampiran 165
166 Penelitian Tindakan Kelas
DAFTAR PUSTAKA
.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Baiquni, A.. 1995. Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta:
PT Dana Bhakti Wakaf.
Depdiknas. 1999. Penelitian Tindakan Action Research. Jakarta: Direktorat
Pendidikan Menengah Umum Ditjen Dikdasmen Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian
Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Ditjen Dikti
Depdiknas.
Depdiknas. 2007. Pengembangan Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat
Ketenagaan Ditjendikti, Departemen Pendidikan Nasional.
Djohar. 1999. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia Sebuah
Rekonstruksi Pemikiran. Yogyakarta: IKIP Negeri Yogyakarta.
Hopkins, David, 1993. A Teacher’s Guide to Clasroom Research.
Philadelphia: Open University Press.
Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Lewin, Kurt. 1990. Action Researchand Minority Problems the Action
Research Reader. Victoria: Deakin University.

LP3 Unnes Smarang. 2007. Bahan Ajar Pengembangan Profesionalitas


Guru. Semarang: LP3 UNNES Semarang.
Mulyasa E.. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
----------. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas Menciptakan Perbaikan
Berkesinambungan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Samana, A.. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Sardiman, A.M.. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Raja Grafindo.
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

Daftar Pustaka 167


Satori, Dj., et.,al. 2001. Buku Materi Pokok Profesi Keguruan I. Jakrta:
Universitas Terbuka.
Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2004. Profesi Keguruan. Jakarta: Pusat
Perbukuan Depdiknas dan Rineka Cipta
Sukidin, Basrowi dan Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Insan Cendikia.
Suparno, Paul. 2004. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan.
Jakarta: Grasindo
Suyanto. 2005. Profesionalisasi dan Sertifikasi Guru. Makalah dalam
seminar PGRI di Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Desember 2005.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Undang-


Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisten Pendidikan Nasional
Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2003. Pedoman Penyususnan
Skripsi dan Tugas Akhir bagi Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto: Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.
UPI, Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Pendidikan Indonesia,
2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Laporan Buku, Makalah
Sripsi, Tesis, Disertasi). Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
Wardani; Kuswaya Wihardit, dan Noehi Nasution. 2002. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wibawa, Basuki. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen
Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional.
Wiriaatmadja, Rachiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Zamroni. 2003. Profesi dalam Dunia Pendidikan. Yogyakarta: LPTP PP
Muhammadiyah.

168 Penelitian Tindakan Kelas