Anda di halaman 1dari 16

A.

Gambaran Umum
Keberadaan infrastruktur, seperti jalan, pelabuhan, bandara, sistem penyediaan
tenaga listrik, irigasi, sistem penyediaan air bersih, sanitasi, dsb, memiliki keterkaitan
yang sangat kuat dengan tingkat perkembangan suatu wilayah, yang antara lain dicirikan
oleh laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat
dari beberapa studi terdahulu bahwa daerah yang mempunyai kelengkapan sistem
infrastruktur yang lebih baik, mempunyai tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat yang lebih baik pula, dibandingkan dengan daerah yang
mempunyai kelengkapan infrastruktur yang terbatas. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa penyediaan infrastruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung
pembangunan nasional.
Semenjak krisis ekonomi porsi pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur juga
memiliki kecenderungan menurun. Meskipun sejak desentralisasi pemerintah pusat
sudah memindahkan beberapa tanggung jawab ke pemerintah daerah namun pengeluaran
infrastruktur pada tingkat pemda juga tidak meningkat banyak untuk menggantikan
penurunan pengeluaran pemerintah pusat. Hal ini kurang mendukung bagi iklim
Investasi usaha karena pembangunan infrastukrur baru otomatis menurun demikian juga
dana untuk memelihara infrastruktur yang sudah ada.
Dapat dilihat juga terjadi ketimpangan pembangunan infrastruktur antara Kawasan
barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), secara umum diketahui
bahwa infrastruktur di Pulau Jawa lebih maju jika dibandingkan dengan infrastruktur di
luar Pulau Jawa. Misalnya panjang jalan di Indonesia hampir mencapai sepertiganya
berada si Pulau Jawa, 80% kapasitas listrik nasional berada di sistem Jawa-Madura-
Bali(JAMALI). Demikian pula sambungan telepon dan kapasitas air bersih yang lebih
dari setengahnya berada di Jawa- Bali. Ketimpangan dapat dilihat dari besarnya investasi
yang berada di pulau Jawa, padahal luasnya hanya mencakup 7% dari seluruh wilayah
indonesia. Pulau jawa merupakan penyumbang PDB terbesar indonesia menghasilkan
lebih dari 60% total output Indonesia (BPS, 2007).
Selanjutnya, akan diuraikan lebih lanjut, keadaan Infrastruktur Ekonomi dan Sosial
Indonesia yang berperan besar dalam pembangunan, yaitu infrastuktur jalan, listrik, air,
telekomunikasi, Kesehatan, dan Pendidikan.
B. Analisis SWOT di Bidang Transportasi
1. Pembangunan Infrastruktur Jalan (Studi Kasus Jalan di Kabupaten Lampung Barat)
Hasil Analisis:

Tabel 1. Matriks Analisis SWOT Infrastruktur Jalan Kabupaten Lampung Barat

FAKTOR KEKUATAN(S) KELEMAHAN(W)


INTERNAL
S1 = Posisi geografis W1 = Kualitas SDM
S2 = Keberadaan Trans Lintas Barat W2 = Rawan Bencana
S3 = Potensi SDA dan merupakan W3 = Kemampuan keuangan
kabupaten konservasi daerah
S4 = Kebijakan Pemda W4 = Tingginya Kerusakan Jalan
S5 = Tradisi dan pola hidup W5 = Terbatasnya Jaringan Jalan
FAKTOR masyarakat Kabupaten Lampung
Barat
EKSTERNAL
PELUANG(O)
STRATEGI S-O STARTEGI W-O

O1 = Adanya RTRW A. Prioritas strategi kebijakan pemda A. Pengaturan kualitas SDM yang
Nasional untuk mendapatkan peningkatan terkait langsung dengan
O2 = Perkembangan alokasi dana pembangunan pembangunan infrastruktur
teknologi jalan infrastruktur jalan dari pemerintah jalan (W1,W3.O1,O3,O5)
O3 = UU No.38 Th pusat (S1,S2,S3,S4, O1,O3). B. Optimalisasi pemanfaatan
2004 tentang B. Optimasi alokasi APBD untuk teknologi pembangunan jalan
jalan pembangunan jalan di Kabupaten untuk menekan biaya
O4 = Kesepakatan Lampung Barat (S,O1,O3) pembangunan dan pemeliharaan
Bupati dan C. Melibatkan/memberdayakan jalan (W2,W3<O2,O3)
Gubernur masyarakat dalam pembangunan dan C. Menjalin kemitraan dengan
O5 = Kondisi sosial pemeliharaan infrastruktur jalan pihak swasta dalam cost sharing
politik nasional (S4,S5,O1,)3,)5) pendanaan dan pemeliharaan
D. Penguatan kegiatan promosi potensi infrastruktur jalan
SDA untuk menarik minat investor (W2,W3.W4,W5,O2,O3,O5)
berinvestasi di Kabupaten Lampung
Barat (S3,S4,S5,O1,O3)

ANCAMAN(T)
STRATEGI S-T STRATEGI W-T

T1 = Otonomi daerah A. Penguatan sistem informasi dalam A. Melakukan Penyusunan RPJP


yang luas rangka kemudahan akses Pembangunan Jalan di
T2 = Adanya ego penyebarluasan informasi tentang Kabupaten Lampung Barat yang
daerah keunggulan potensi SDA Kabupaten memperhatikan aspek
T3 = Ketidakstabilan Lampung Barat terhadap wilayah kelestarian lingkungan (W2,
ekonomi makro sekitar (S1,S2,S3,T1,T2,T4) W4,W5,T1,T2,T4).
T4 = Isu degradasi B. Meningkatkan forum kerjasama antar B. Peningkatan (TI) teknologi
lingkungan Pemerintah Daerah sekitar informasi di bidang
T5 = Globalisasi Kabupaten Lampung Barat dalam infrastruktur jalan di Kabupaten
Ekonomi pembangunan dan pemeliharaan Lampung Barat sebagai bahan
infrastruktur jalan terutama di refrensi pembangunan jalan dari
kawasan – kawasan perbatasan masyarakat yang akan datang
(S1,S2,S3,T1,T2,T5) (W2,W4,W5,T3,T5).
C. Infrastruktur Air Baku
Faktor Internal
Kekuatan (S):
1) Sumber air baku dan sistem distribusi
2) Rasio aktiva produktif terhadap penjulan air dan rasio karyawan per 1000
pelanggan
3) Rasio aktiva lancar terhadap utang lancar dan rasio total aktiva terhadap total
utang
4) Jangka waktu penagihan piutang dan rencana kerja dan anggaran perusahaan
5) Opini Auditor independen dan kemudahan pelayanan.
6) Rencana organisasi dan uraian tugas dan prosedur operasi standar
7) Tindak lanjut pemeriksaan tahun terakhir.
8) Tertib laporan internal dan eksternal.

Kelemahan (W):
1) Rasio laba terhadap aktiva produktif dan cakupan pelayanan.
2) Tingkat kebocoran air dan peneraan meter air.
3) Rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi dan rasio biaya terhadap
angsuran dan bunga.
4) Coorporate plan dan efektifitas penagihan
5) Kualitas air dan kontinuitas air.
6) Gambar nyata dab pedoman dan penilaian kinerja karyawan.
7) Kecepatan penyambungan SR Baru dan kemampuan menangani pengaduan.
8) Rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas.

Faktor Eksternal

Peluang (O) :
1) Pertumbuhan industri dan daya saing rendah.
2) Terbukanya program bantuan pengembangan dan tarif air.
3) Pendapatan perkapita dan minat investor.
4) Perubahan pola hidup dan tersedianya banyak tenaga terdidik.
5) Pertumbuhan penduduk dan tersdianya sistem informasi.
6) Tumbuh dan berkembangnya lembaga keuangan dan terbukanya jenis usaha baru.
7) Berkembangnya sektor pariwisata dan berkembangnya lemabaga Diklat.
8) Keperdulian Stakeholders.

Ancaman (T) :
1) Masyarakat mempunyai sistem air bessih dan tuntutan kontribusi ke masyarakat.
2) Tuntutan pelanggan dan biaya investasi cukup tinggi.
3) Kenaikan harga material dan upah serta tingkat inflasi.
4) Pembebasan tanah lokasi mata air dan sistem pertanian masih tradisional.
5) Belum diterapkannya zonasi sumber air dan sistem pertanian masih traduional
6) Pengrusakan hutan dan perubahan tata guna lahan
7) Kedudukan hokum tentang air dan kesadaran hokum masyarakat renda.
8) Perilaku pengrusakan tidak diberi sanksi hukum.

Strategi S-O :
1. Melimpahnya sumber air baku, sistem distribusi air gravitasi, tertib laporan internal
dan tertib laporan eksternal merupakan kekuatan untuk menangkap peluang
pertumbuhan industri, daya saing yang rendah, terbukanya program bantuan
pengembangan dan peninjauan tarif air (S1,8; O1,2).
2. Rasio aktiva produktif terhadap penjualan air, rasio aktiva lancar terhadap utang
lancar, rasio total aktiva terhadap total utang dan rasio karyawan per 1000 pelanggan
sangat baik yang dapat dijadikan kekuatan untuk menangkap peluang peningkatan
pendapatan perkapita, minat investor pertumbuhan penduduk dan tersedianya sistem
informasi (S2,3 ; O3,5).
3. Jangka waktu penagihan piutang, rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP),
rencana organisasi dan uraian tugas dan prosedur operasi yang baku merupakan
kekuatan untuk menangkap peluang perubahan pola hidup, tersedianya banyak tenaga
terdidik, tumbuh dan berkembangnya lembaga keuangan serta terbukanya jenis usaha
baru (S4,6 ; O4,6)
4. Opini auditor independen yang wajar tanpa syarat, tindak lanjut hasil pemeriksaan
terakhir dan kemudahan pelayanan merupakan kekuatan untuk menangkap peluang
berkembangnya sektor pariwisata, berkembangnya lembaga diklat dan keperdulian
stakeholders pemerintah (S5,7 ; O7,8)
Strategi S-T
1. Memanfaatkan sumber air baku yang melimpah, sistem distribusi gravitasi, rasio
aktiva produktif terhadap penjualan air, rasio karyawan per 1000 pelanggan
merupakan kekuatan untuk memperkecil ancaman masyarakat mempunyai sistem air
bersih sendiri, tuntutan kontribusi dari masyarakat tuntutan pelanggaran dan biaya
investasi yang cukup tinggi (S1,2 ; T1,2)
2. Rasio aktiva terhadap utang lancar, rasio total aktiva terhadap total utang merupakan
kekuatan untuk memperkecil ancaman berupa kenaikan harga material dan upah,
tinggi inflasi yang semakin meningkat pembebasan tanah lokasi mata air dan proses
ijin pengambilan air (S3 ; T3,4).
3. Jangka waktu penagihan piutang, rencana kerja dan anggaran perusahaan, rencana
organisasi dan uraian tugas dan prosedur operasi standar merupakan kekuatan untuk
memperkecil ancaman belum diterapkannya zonasi sumber air, sistem pertanian
masih tradisional, pengrusakan hutan, perubahan tata guna lahan.
4. Opini auditor independen, kemudahan pelayanan tindak lanjut pemeriksaan tahun
terakhir, tertib laporan internal dan eksternal merupakan kekuatan untuk memperkecil
ancaman kedudukan hukum tata guna air, kesadaran hukum masyarakat rendah dan
pelaku pengrusakan tidak diberi sangsi hukum (5,7,8 ; T7,8)

Strategi W-O
1. Meningkatkan rasio laba terhadap aktiva produktif, cakupan pelayanan menekan
tingkat kebocoran dan peneraan meter untuk menangkap peluang pertumbuhan
industri, daya saing rendah, terbukanya program bantuan pengembangan dan
peninjauan kembali tariff air (W1,2 ; O1,2)
2. Meningkatkan rasio laba operasi terhadap pendapatan operasi rasio biaya operasi
terhadap angsuran dan bunga untuk menangkap peluang perubahan pola hidup,
tersedianya banyak tenaga terdidik, pertumbuhan penduduk dan tersedianya sistem
koperasi (W3 : O5,6).
3. Peningkatan kualitas kuantitas, kontinuitas, corporate plan dan gambar nyata,
pedoman penilaian karyawan untuk menangkap peluang pendapatan perkapita
meningkat, minat investor cukup tinggi, tumbuh dan berkembangnya lembaga
keuangan dan terbukanya jenis usaha baru (W4,5,6 ; T3,8)
4. Meningkatkan kecepatan penyambungan SR Baru, kemampuan menangani
pengadaan, rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas menangkap peluang
berkembangnya sektor pariwisata dan berkembangnya lembaga diklat dan keperdulian
stakeholders (W7,8 ; T7,8)

Strategi W-T
1. Meningkatkan rasio laba terhadap aktiva produktif, meningkatkan cakupan pelayanan,
menekan tingkat kebocoran dan peneraan meter untuk memperkecil ancaman
masyarakat memiliki sistem air bersih sendiri, tuntutan kontribusi ke masyarakat,
tuntutan pelangan dan baiaya investasi yang cukup tinggi. (W1,2 ; T1,2)
2. Menekan biaya operasi untuk meningkatkan rasio biaaya operasi terhadap pendapatan
operasi, rasio biaya operasi terhadap angsuran pokok + bunga, membuat corporate
plan, meningkatkan efektifitas penagihan untuk memperkecil ancaman kenaikan harga
material dan upah, memperkecil tingkat inflasi, sulitnya pembebasan tanah lokasi
mata air dan proses ijin pengambilan air. (W3,4 ; T3,4)
3. Meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas air, membuat gambar nyata dan
menyiapkan pedomanpenilaian kinerja karyawan merupakan peningkatan kelemahana
untuk memperkecil ancaman,belum diterapkannya zonasi sumber mata air, sistem
pertanian masih tradisionil, pengrusakan hutan dan perubahan tata guna lahan (W5,6 ;
T5,6).
4. Meningkatkan kecepatan penyambungan SR baru, kemampuan menangani pengaduan,
rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas untuk memperkecil ancaman kedudukan
hukum tentang air dan kesadaran hukum masyarakat rendah, pelaku pengrusakan
tidak diberi sangsi (W7,8 ; T7,8)
D. Infrastruktur Permukiman
Perumusan strategi menekankan pada potensi dan persoalan bidang permukiman dan
infrastruktur perkotaan dengan menggunakan matriks SWOT (Strengh/ Kekuatan,
Weakness/ Kelemahan, Opportunity/ Peluang dan Threat/ Ancaman). Perumusan strategi
dilakukan dengan persilangan sebagai berikut :
 Strength (S) dengan Opportunity (O) yang dinamakan strategi SO
 Weakness (W) dengan Opportunity (O) yang dinamakan strategi WO
 Strength (S) dengan Threat (T) yang dinamakan strategi ST
 Weakness (W) dengan Threat (T) yang dinamakan strategi WT
Kajian matriks SWOT Kota Sungai Penuh pada bidang permukiman dan
infrastruktur perkotaan diuraikan sebagai berikut :

Tabel 2
Matrik Analisis SWOT Pembangunan Permukiman Kota Sungai Penuh
Tabel 3
Matrik Analisis SWOT Air Bersih Kota Sungai Penuh
Tabel 4
Matrik Analisis SWOT Air Limbah Kota Sungai Penuh
Tabel 5
Matrik Analisis SWOT Persampahan Kota Sungai Penuh
Tabel 6
Matrik Analisis SWOT Drainase Kota Sungai Penuh