Anda di halaman 1dari 13

Topik : Vulnus Laceratum

Tanggal (Kasus) :17 Juli 2016 Tanggal Presentasi : 30 Januari 2017


Nama Pasien : Sdr. F No RM : 0182188
Tempat Presentasi : RS PKU Muhammadiyah Nama Pendamping : dr. Wiwik Dewi S.
Temanggung
Obyek Presentasi
o Keilmuan o Ketrampilan o Penyegaran o Tinjauan Pustaka
o Diagnostik o Manajemen o Masalah o Istimewa
o Neonatus o Bayi o Anak o Remaja o Dewasa o Lansia o Bumil
Deskripsi Pasien datang dengan luka terbuka pada tungkai bawah kiri setelah
mengalami kecelakaan lalu lintas antar motor sekitar 30 menit SMRS,
Pasien mengeluh nyeri pada luka dan nyeri pada bahu kiri. Pasien
mengeluhkan terserempet dari arah berlawanan kemudia jatuh ke tubuh
bagian kiri dengan tungkai bawah dan bahu kiri menggesek aspal.
Benturan kepala disangkal, helm (+), pingsan (-), nyeri kepala (-), mual
(-), muntah (-).
Pada pemeriksaan fisik KU tampak kesakitan, TD : 110/70 mmHg, N :
90x/menit, RR : 20x/menit, t: 36,8°C, tampak luka terbuka di tungkai
bawah kiri ± 5x3x1 cm dan memar di region clavicula kiri.
Tujuan Mengetahui aspek medikolegal dan penentuan derajat luka
Bahan Bahasan o Tinjauan Pustaka o Riset o Kasus o Audit
Cara Membahas o Diskusi o Presentasi dan diskusi o Email o Pos
Data Pasien Nama: Sdr. F Nomer Registrasi : 0182188
Nama Klinik IGD RS PKU Muhammadiyah Telp Terdaftar sejak
Temanggung 17 Juli 2016
Data Utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Vulnus Laceratum Regio Cruris Sinistra
2. Riwayat Pengobatan
Pasien belum mengobati lukanya

1
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
⁻ Riwayat alergi disangkal
⁻ Riwayat perdarahan lama disangkal
4. Riwayat Pekerjaan
Pasien seorang pekerja swasta. Biaya pengobatan menggunakan biaya umum.
Kesan sosial ekonomi cukup
5. Lain-Lain
PEMERIKSAAN FISIK
- Kepala : mesosefal
- Kulit : CRT < 2’’
- Mata : conjungtiva palpebra pucat (-/-) ; sklera ikterik (-/-) ; pupil
Isokor, reflek cahaya (+/+)
- Hidung : nafas cuping (-/-)
- Mulut : bibir sianosis (-) ; mukosa kering (-)
- Leher : trachea di tengah ; pembesaran nnll (-) , JVP (+) N
- Dada : simetris, tidak ada retraksi
- Pulmo
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis ; retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru.
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) ; suara tambahan (-/-)
- Cor
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di 2cm medial linea miclavicularis SIC IV
Perkusi : batas jantung terkesan dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II N, Gallop (-), Murmur (-)
- Abdomen
Inspeksi : cembung ; venektasi (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Perkusi : timpani ; pekak sisi (+) normal ; pekak alih (-)
Palpasi : supel ; NT (-); defans muskuler (-)

2
- Ekstremitas :
Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Oedema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capp.refill <2”/<2” <2”/<2”

- Status lokalis :
a. Regio clavicula sinistra tampak luka memar pada sepertiga lateral regio clavicula, P
2cm, L 2cm, T 0cm. Nyeri tekan (+), Nyeri gerak (+), ROM dalam batas normal.
b. Regio cruris sinistra tampak luka terbuka pada sepertiga tengah cruris sinistra
anterior, P 5cm, L 3cm, T 1cm, dasar luka otot, tepi luka otot dan jaringan kulit,
perdarahan aktif (-), nyeri (+)

Daftar Pustaka
1. Herkutanto. Peningkatan kualitas pembuatan visum et repertum (VeR) kecederaan di
rumah sakit melalui pelatihan dokter unit gawat darurat (UGD). JPMK. 2005;8(3):163-9.
2. Atmadja DS. Aspek medikolegal pemeriksaan korban perlukaan dan keracunan di rumah
sakit. Prosiding ilmiah Simposium Tatalaksana Visum et Repertum Korban Hidup pada
Kasus Perlukaan dan Keracunan di Rumah Sakit. Jakarta: RS Mitra Keluarga Kelapa
Gading, Rabu 23 Juni 2004.
3. Herkutanto. Kualitas visum et repertum perlukaan di Jakarta dan faktor yang
mempengaruhinya. Maj Kedokt Indon. 2004;54 (9):355-60
4. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Indonesia.
Pedoman teknik pemeriksaan dan interpretasi luka dengan orientasi medikolegal atas
kecederaan. Jakarta, 2005.
5. Afandi D, Mukhyarjon, Roy J. The Quality of visum et repertum of the living victims In
Arifin Achmad General Hopital during anuary 2004-September 2007. Jurnal Ilmu
Kedokteran. 2008;2(1):19-22.

3
6. Afandi D. Visum et repertum pada korban hidup. Jurnal Ilmu 
 Kedokteran. 2009;3(2):79-

84.

7. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S. Ilmu Kedokteran 
 Forensik. Jakarta: Bagian

Kedokteran Forensik Fakultas 
 Kedokteran Universitas Indonesia, 1997.

8. Amir A. Rangkaian ilmu kedokteran forensik, edisi 2. Jakarta: 
 Ramadhan, 2005.

9. Sampurna B, Samsu Z. Peranan ilmu forensik dalam penegakan 
 hukum. Jakarta:

Pustaka Dwipar, 2003.

10. Siswadja TD. Tata laksana pembuatan VeR perlukaan dan 
 keracunan. Simposium

Tatalaksana visum et repertum Korban 
 Hidup pada Kasus Perlukaan & Keracunan di

Rumah Sakit. Jakarta: RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Rabu 23 Juni 2004.
11. Soekanto S, Herkutanto, Sampurna B. Visum et repertum teknik penyusunan dan
pemerian. Jakarta: IND-HILL-CO, 1987.
12. Dahlan S. Pembuatan visum et repertum. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, 1999.
13. Herkutanto, Pusponegoro AD, Sudarmo S. Aplikasi trauma related injury severity score
(TRISS) untuk penetapan derajat luka dalam konteks mediklegal. J I Bedah Indones.
2005;33(2):37- 43.
Hasil Pembelajaran
Mengetahui aspek medikolegal dan penentuan derajat luka

4
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subjektif
Keluhan Utama : post KLL
Pasien datang dengan luka terbuka pada tungkai bawah kiri setelah mengalami
kecelakaan lalu lintas antar motor sekitar 30 menit SMRS, Pasien mengeluh nyeri pada
luka dan nyeri pada bahu kiri. Pasien mengeluhkan terserempet dari arah berlawanan
kemudia jatuh ke tubuh bagian kiri dengan tungkai bawah dan bahu kiri menggesek
aspal. Benturan kepala disangkal, helm (+), pingsan (-), nyeri kepala (-), mual (-), muntah
(-).
2. Objektif
Pemeriksaan Fisik :
a. Status present
⁻ Keadaan umum : tampak kesakitan
⁻ Kesadaran : compos mentis, GCS E4M6V5 = 15

b. Tanda Vital
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Laju nafas : 20 kali/menit
- Nadi : 90 kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup
- Suhu tubuh : 36,8oC (axiler)
- SaO2 : 98 %

c. Status Gizi
- Berat Badan : 55 kg
- Tinggi Badan : 168 cm
- BMI : 19,80 (normoweight)

5
d. Status Internus
- Kepala : mesosefal
- Kulit : CRT < 2’’
- Mata : conjungtiva palpebra pucat (-/-) ; sklera ikterik (-/-) ; pupil
Isokor, reflek cahaya (+/+)
- Hidung : nafas cuping (-/-)
- Mulut : bibir sianosis (-) ; mukosa kering (-)
- Leher : trachea di tengah ; pembesaran nnll (-) , JVP (+) N
- Dada : simetris, tidak ada retraksi
- Pulmo
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis ; retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru.
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) ; suara tambahan (-/-)
- Cor
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di 2cm medial linea miclavicularis SIC IV
Perkusi : batas jantung terkesan dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II N, Gallop (-), Murmur (-)
- Abdomen
Inspeksi : cembung ; venektasi (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Perkusi : timpani ; pekak sisi (+) normal ; pekak alih (-)
Palpasi : supel ; NT (-); defans muskuler (-)
- Ekstremitas :
Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Oedema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capp.refill <2”/<2” <2”/<2”

6
- Status lokalis :
a. Regio clavicula sinistra tampak luka memar pada sepertiga lateral regio clavicula, P
2cm, L 2cm, T 0cm. Nyeri tekan (+), Nyeri gerak (+), ROM dalam batas normal.
b. Regio cruris sinistra tampak luka terbuka pada sepertiga tengah cruris sinistra
anterior, P 5cm, L 3cm, T 1cm, dasar luka otot, tepi luka otot dan jaringan kulit,
perdarahan aktif (-), nyeri (+)

3. Assessment (penalaran klinis)


Pasien datang dengan keluhan post KLL, berdasarkan mekanisme traumanya kita dapat
memprediksi jenis trauma yang ditimbulkan.
4. Plan
 Diagnosis
-
 Terapi
- Wound toilet (hecting)
- Asam mefenamat 3 x 500 mg
- Amoxicilin 3 x 500mg
- Edukasi apabila merasakan gejala penyakit yang bertambah,
misal: perdarahan luka, infeksi, nyeri dada, nyeri gerak lengan kiri progresif
segera berobat ke fasilitas kesehatan.
- Rawat jalan

7
Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan
Penentuan Derajat Luka

Aspek Medikolegal Visum et Repertum

Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal
184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap
6,7
sebagai pengganti barang bukti.
Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil
pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum
et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga
dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada
seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana
6,7
yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.
Apabila VeR belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka
hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum
dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas
barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya
6,7
terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal itu sesuai dengan pasal 180 KUHAP.
Bagi penyidik (polisi/polisi militer) VeR berguna untuk mengungkapkan perkara. Bagi
Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan didakwakan,
sedangkan bagi hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan
seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional (SPO)
6,10
di suatu Rumah Sakit tentang tatalaksana pengadaan VeR.

Struktur Visum et Repertum



1,4,6-8,11,12
Unsur penting dalam VeR yang diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai berikut :
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu
bermeterai.
2. Pendahuluan

8
Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul
diterimanya permohonan VeR, identitas dokter yang melakukan pemeriksaan, identitas subjek
yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan
pemeriksaan, dan tempat dilakukan pemeriksaan.

3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)


Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati, terutama
dilihat dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan
sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu
mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah
badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka
atau cedera, karakteristik serta ukurannya. Rincian tersebut terutama penting pada pemeriksaan
korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan terdiri dari:
a. ‘Pemeriksaan anamnesis atau wawancara’ mengenai apa yang dikeluhkan dan apa yang
diriwayatkan yang menyangkut tentang ‘penyakit’ yang diderita korban sebagai hasil dari
kekerasan/tindak pidana/diduga kekerasan. 

b. ‘Hasil pemeriksaan’ yang memuat seluruh hasil peme- riksaan, baik pemeriksaan fisik
maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian hasil
pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang
keadaan umum dan perlukaan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya
(status lokalis). 

c. ‘Tindakan dan perawatan berikut indikasinya’, atau pada keadaan sebaliknya, ‘alasan tidak
dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan’. Uraian meliputi juga semua
temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal tersebut perlu diuraikan
untuk menghindari kesalahpahaman tentang tepat/ tidaknya penanganan dokter dan
tepat/tidaknya kesimpulan yang diambil. 

d. ‘Keadaan akhir korban’, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan hal penting
untuk pem- buatan kesimpulan sehingga harus diuraikan dengan jelas. 
 Pada bagian
pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada tubuh,
karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau perawatan yang diberikan.
4. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggung- jawabkan secara ilmiah dari fakta
yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat VeR, dikaitkan dengan maksud dan tujuan
dimintakannya VeR tersebut. Pada bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan
kekerasan dan derajat kualifikasi luka. Hasil pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh
hasil pemeriksaan lainnya, sebaiknya tidak digunakan dalam menarik kesimpulan. Pengambilan
kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh dilakukan dengan penuh hati-hati.

9
Kesimpulan VeR adalah pendapat dokter pembuatnya yang bebas, tidak terikat oleh
pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga terdapat pembatasan,
yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi dan ketentuan hukum
yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat menjembatani antara temuan ilmiah dengan
manfaatnya dalam mendukung penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume hasil
peme- riksaan, melainkan lebih ke arah interpretasi hasil temuan dalam kerangka ketentuan-
ketentuan hukum yang berlaku.
5. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan mengingat
sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan mengucapkan sumpah atau janji
lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan serta dibubuhi tanda tangan dokter pembuat VeR.

Penentuan Derajat Luka


Salah satu yang harus diungkapkan dalam kesimpulan sebuah VeR perlukaan adalah
9
derajat luka atau kualifikasi luka. Dari aspek hukum, VeR dikatakan baik apabila substansi yang
1
terdapat dalam VeR tersebut dapat memenuhi delik rumusan dalam KUHP. Penentuan derajat
luka sangat tergantung pada latar belakang individual dokter seperti pengalaman, keterampilan,
13
keikutsertaan dalam pendidikan kedokteran berkelanjutan dan sebagainya.
Suatu perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, sosial
dan pekerjaan, yang dapat timbul segera, dalam jangka pendek, ataupun jangka panjang. Dampak
perlukaan tersebut memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan beratnya sanksi
4,13
pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan.
Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga tingkatan
dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana maksimum 3 bulan penjara),
penganiayaan (pidana maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiayaan yang menimbulkan luka
berat (pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan penganiayaan tersebut diatur dalam pasal
352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP untuk penganiayaan, dan pasal
352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang menimbulkan luka berat. Setiap kecederaan harus
dikaitkan dengan ketiga pasal tersebut. Untuk hal tersebut seorang dokter yang memeriksa
cedera harus menyimpulkan dengan menggunakan bahasa awam, termasuk pasal mana
4,13
kecederaan korban yang ber- sangkutan.
Rumusan hukum tentang penganiayaan ringan se- bagaimana diatur dalam pasal 352 (1)
KUHP menyatakan bahwa “penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan”.
Jadi bila luka pada seorang korban diharapkan dapat sembuh sempurna dan tidak menimbulkan
4
penyakit atau kompli- kasinya, maka luka tersebut dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiayaan (sedang) sebagaimana diatur dalam
pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun tentang penyakit. Sehingga bila kita memeriksa
seorang korban dan didapati “penyakit” akibat kekerasan tersebut, maka korban dimasukkan ke

10
4
dalam kategori tersebut.
Akhirnya, rumusan hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat diatur
dalam pasal 351 (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka
berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”. Luka berat itu
sendiri telah diatur dalam pasal 90 KUHP secara limitatif. Sehingga bila kita memeriksa seorang
korban dan didapati salah satu luka sebagaimana dicantumkan dalam pasal 90 KUHP, maka
korban tersebut dimasukkan dalam kategori tersebut.4 Luka berat menurut pasal 90 KUHP
adalah:
 Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau
yang menimbulkan bahaya maut;
 Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas
 Jabatan atau pekerjaan pencarian;

 Kehilangan salah satu panca indera;
 Mendapat cacat berat;

 Menderita sakit lumpuh;
 Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
 Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

Perbedaan dalam membuat keputusan penentuan luka tidak banyak menemukan masalah
dalam penentuan luka derajat tiga, namun secara konseptual masih berbeda pendapat untuk
9,13
penetapan luka derajat satu dan dua. Variasi keputusan klinis dalam menentukan kualifikasi
luka tidak akan menguntungkan bagi pengambilan keputusan oleh para penegak hukum dalam
proses peradilan karena tidak memberikan kepastian pendapat mana yang akan dijadikan sebagai
13
dasar pengambilan keputusan.
Rumusan delik penganiayaan menyebutkan antara lain bahwa luka derajat dua akan
terpenuhi bila pekerjaan atau jabatan korban menjadi terganggu. Walaupun masih terdapat
kontroversi dalam penentuan kualifikasi luka dengan mempertimbangkan jenis pekerjaan korban,
namun pada umumnya para dokter cenderung sepakat untuk tidak mempertimbangkan hal
tersebut di masa mendatang. Mereka lebih cenderung menggunakan rumusan ada atau tidak
adanya penyakit dalam menentukan kualifikasi luka karena hal tersebut masih dalam lingkup
13
kompetensi seorang dokter di bidang medis.
Hal-hal yang mempengaruhi penentuan kualifikasi luka adalah regio anatomis yang
terkena trauma. Sebagai contoh, apabila regio leher terkena trauma, walaupunpun kecil akibat
yang nampak, namun terdapat kecenderungan untuk memberikan kualifikasi luka yang lebih
berat. Hal itu disebabkan karena pada daerah leher terdapat organ-organ yang vital bagi
kehidupan, seperti arteri karotis, vena jugularis, serta saluran pernafasan. Kekerasan pada daerah
wajah dan daerah kepala lainnya juga dipertimbangkan sebagai faktor yang ikut meningkatkan
kualifikasi luka. Walaupun beberapa responden memperhatikan nilai laboratorium termasuk

11
peningkatan leukosit pada salah satu kasus, namun pada umumnya faktor-faktor fisiologis yang
terjadi akibat trauma seperti reaksi inflamasi sistemik (systemic inflamatory re- sponse
syndrome), respons neurologik, fisiologik, dan metabolik belum mendapatkan perhatian khusus
13
dalam menentukan kualifikasi luka.

Penganiayaan ringan tidak mengakibatkan luka atau hanya mengakibatkan luka ringan
yang tidak termasuk kategori “penyakit dan halangan” sebagaimana disyaratkan dalam pasal 352
KUHP. Contoh luka ringan atatu luka derajat satu adalah luka lecet yang superfisial dan
berukuran kecil atau memar yang berukuran kecil. Lokasi lecet atau memar tersebut perlu
diperhatikan oleh karena lecet atau memar pada beberapa lokasi tertentu mungkin menunjukkan
cedera bagian dalam tubuh yang lebih hebat dari yang terlihat pada kulit. Luka lecet atau memar
yang luas dan derajatnya cukup parah dapat saja diartikan sebagai bukan sekedar luka ringan.
Luka atau keadaan cedera yang terletak di antara luka ringan dan luka berat dapat dianggap
9
sebagai luka sedang.
Dari kesimpulan dapat kita perhatikan hal-hal berikut: identitas korban adalah laki-laki
berusia 34 tahun, jenis cedera adalah cedera kepala, vulnus laceratum dan fraktur tulang.
Sedangkan jenis kekerasan adalah kekerasan tumpul. Untuk jenis kekerasan, hindari penggunaan
kata “benda tumpul” atau “benda tajam”. Pengalaman penulis menunjukkan bahwa penggunaan
kekerasan benda tajam atau kekerasan benda tumpul, dalam pemikiran penegak hukum harus
selalu ada “benda” yang berbentuk fisik seperti kayu, batu dan sebagainya (untuk benda tumpul)
atau pisau, silet dan sebagainya (untuk benda tajam). Padahal tidak selalu sebuah luka
diakibatkan oleh suatu “benda”, contohnya memar bisa diakibatkan oleh pukulan tangan.
Kasus di atas dikualifikasikan sebagai luka derajat dua (sedang) karena luka tersebut
memerlukan perawatan, terdapat patah tulang dan mengenai organ vital yaitu kepala. Di dalam
kesimpulan sebaiknya kita tidak menuliskan derajat dua sebagai kualifikasi luka, melainkan
menuliskan sesuai dengan kalimat dalam KUHP sehingga akan memudahkan aparat penegak
hukum dalam membuat dakwaan. Berbeda halnya dengan kasus korban mati, pada kasus korban
hidup dokter diharapkan memahami kecederaan berdasarkan patofisiologi dan biomekanika
trauma. Gabungan pengukuran kecederaan secara anatomis dan fisiologis merupakan
4,13
pengukuran yang paling ideal dalam menetapkan kualifikasi luka.

Kesimpulan
Visum et repertum merupakan salah satu bentuk bantuan dokter dalam penegakan hukum
dan proses peradilan. Visum et repertum merupakan alat bukti yang sah dalam proses peradilan
sehingga harus memenuhi hal-hal yang disyaratkan dalam sistem peradilan. Sebuah VeR yang
baik harus mampu membuat terang perkara tindak pidana yang terjadi dengan melibatkan bukti-
bukti forensik yang cukup. Penentuan derajat atau kualifikasi luka memegang peranan penting
bagi hakim dalam menentukan beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa

12
keadilan. Bagi praktisi kesehatan diharapkan agar dapat mengupayakan prosedur pembuatan
VeR khususnya VeR perlukaan yang memenuhi standar karena memiliki dampak yuridis yang
luas dan dapat menentukan nasib seseorang.

13