Anda di halaman 1dari 8

Klasifikasi Variasi Normal Rongga Mulut

1. Fordyce Granule
Definisi :
Kelenjar sebasea ektopik atau atau Sebaseous choristomas (Jaringan normal yang terdapat
dalam lokasi yang abnormal) di dalam mukosa oral. Pada keadaan normal, kelenjar sebasea
ini terlihat di dalam dermal adnexa, yang berhubungan dengan folikel rambut.
Etiologi dan faktor predisposisi :
Etiologi dari Fordyce granule adalah developmental origin, dan bukan merupakan suatu
penyakit, namun gangguan developmental
Etiologi dan faktor pencetus penyakit Fox-Fordyce belum diketahui. Beberapa faktor,
misalnya pengaruh emosional dan/atau hormonal, dan perubahan kimiawi pada komponen
keringat diduga berperan dalam mencetuskan penyakit. Sulit untuk memastikan apakah
penyakit Fox Fordyce termasuk penyakit inflamasi atau perubahan kornifikasi yang
dipengaruhi faktor genetik. Gejala dan tanda penyakit Fox-Fordyce timbul saat masa subur,
terutama pada perempuan, saat fungsi kelenjar apokrin meningkat; setelah menopause,
biasanya lesi menghilang.
Gambaran klinis :
Fordyce Granules mucul dalam bentuk papula berwarna putih kekuningan yang multiple
atau bisa juga muncul sebagai papula berwarna putih. Fordyce Granule ini kadang terlihat
menyerupai kumpulan, dan paling banytak terdapat pada mukosa bukal dan berupa garis
merah terang pada bibir atas. Adakalanya Fordyce Granules (FG) dapat terlihat pada area
Retromolar Pad dan pada pillar tonsil anterior. Prevalensi terjadinya biasanya lebih sering
terjadi pada laki-laki dibanding perempuan. Granulanya cenderung muncul pada masa
pubertas dan meningkat dalam jumlah sesuai dengan meningkatnya umur. FG bersifat
asimtomatik dan sering ditemukan dalam pemeriksaan rutin. Secara historic, FG ini identik
dengan kelenjar sebasea normal yang ditemukan di dermis.

Penatalaksanaan :
Pada Kasus FG ini sebenarnya tidak perlu dilakukan pembedahan. Namun pada kasus FG
dengan garis merah terang pada bibir atas mungkin harus dilakukan pembedahan karena
alasan mengganggu estetik.
Diagnosis banding :
Folikulitis, liken planus, liken nitidus dermatitis kontak, skabies, dermatitis kronik, dan lain-
lain.

2. Hairy Tongue
Definisi
Hairy tongue adalah pemanjangan secara abnormal dari papilla filiformis yang membuat
dorsum lidah tampak seperti berambut.
Perubahan pada papilla ini terutama berdampak pada middorsum lidah yang sering kali
menjadi berubah warna. Perubahan warna tersebut merupakan akhibat dari faktor-faktor
intrinsik (organisme kromogenik) dengan faktor-faktor ekstrinsik (warna makanan dan
tembakau).
Etiologi dan Faktor predisposisi
Penyebab utama dari hairy tongue merupakan hipertrofi papilla filiformis pada bagian dorsal
lidah, umumnya disebabkan kurangnya stimulus mekanis dan pembersihan. Kondisi ini
sering nampak pada masyarakat dengan oral hygiene yang buruk ( misalnya jarang
menyikat gigi ). Selain itu hairy tongue dapat terjadi pada perokok, peminum kopi dan teh,
pengguna obat kumur, diet lunak dengan sedikit serat, antibiotik (penicillin, cephalosporin,
chloramphenicol, streptomycin, dan tetrasiklin), kortikosteroid, NSAID dan psikotropika,
kanker lidah, dan terapi radiasi pada kepala dan leher. Faktor predisposisi dari hairy tongue
adalah proliferasi mikroorganisme kromogenik.
Gambaran klinis
Semua kasus hairy tongue ditandai dengan hipertropi papilla filiformis disertai sedikit jumlah
deskuamasi normal. Papila filiformis normal berukuran 1 mm, sedangkan pada hairy tongue
panjang papilla filiformis berkisar lebih dari 3 mm. Hairy Tongue umumnya ditemukan pada
pria, terutama pada kalangan perokok dan peminum kopi atau teh. Diskolorasi pada hairy
tongue tergantung pada 2 faktor yaitu faktor ekstrinsik (rokok, kopi, teh atau makanan) dan
faktor intrinsik ( flora normal pada rongga mulut).
Penatalaksanaan
Pengobatan hairy tongue tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika memiliki
kebersihan mulut yang sangat buruk, maka dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter
gigi, sehingga dapat di diagnosis dan diobati sejak awal. Namun jika kondisi ini ringan dan
tanpa gejala maka yang terbaik adalah melakukan perawatan gigi dan mulut seperti
menggunakan pembersih lidah dan menggosok permukaan dorsal lidah sesering mungkin
sehingga mencegah akumulasi partikel makanan dan bakteri di wilayah ini. Selain itu pasien
di himbau agar menghindari faktor predisposisi yang dapat menyebabkan kondisi ini seperti
merokok, mengunyah tembakau,dll.

3. Fissure Tongue
Definisi
Kondisi varian normal yang ditandai dengan terdapatnya celah yang dalam di dorsum lidah
dan umumnya tidak ada gejala sakit. Fissure tongue biasanya kedalamanya 2-6 mm pada
permukaan dorsal lidah akan tetapi keadaan ini menjadi semakin nyata seiring dengan
bertambahnya umur.
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Kondisi ini herediter/gen, terlihat saat lahir/ mungkin lebih jelas ketika bertambahnya usia.
Fissure tongue juga dapat manifestasi dati down syndrome, sjogren syndrome dan
psoriasis. Celah dapat lebih jelas saat bertambahnyaa usia dan dapat manifestasi dari
melkesson Rosenthal syndrome, down syndrome, sjongren syndrome dan psoriasis
Gambaran klinis
Bervariasi dalam bentuk, jumlah, kedalaman dan panjang serta pola dari celah tersebut.
Celah fissure tongue terdapat lebih dari 1 yang dalanya 2-6 mm. biasanya asimptomatik dan
ditemukan secara kebetulan akan tetapi akumulasi makanan yang terjebak dalam celah
tersebut dapat menimbulkan halitosis dan glossitis.
Penatalaksaan
Edukasi pasien bahwa fissure tongue adalah variasi normal dan tidak berbahaya, menjaga
Oral Hygiene.

4. Torus
Definisi
Tonjolan tulang pada rahang, terletak pada garis tengah palatum (torus palatinus) dan gusi
cekat lingual dari mandibula (torus mandibularis).
Etiologi
Penyebab utama adanya torus baik itu pada mandibula (torus mandibularis) maupun
palatina (torus palatinus) saat ini belum diketahui dengan pasti. Teori yang saat ini paling
diterima secara luas adalah berhubungan dengan genetik. Di bawah ini adalah kemungkinan
etiologi dari torus yang ditemukan oleh para peneliti:
a. Peneliti menyebutkan bahwa torus diturunkan secara autosomal dominan. Dimana pada
anak perempuan, ibu dan nenek memiliki autosomal dominan torus palatinus ditemukan
terdapat pada semua wanita tersebut.
b. Adanya injury superficial atau kejadian tersebut merupakan respon fungsional individual.
c. Kebiasaan makan. Peneliti menghubungkan konsumsi ikan dengan adanya torus karena
ikan berisi asam lemak tak jenuh dan vitamin D yang dapat mendorong pertumbuhan
tulang.
Selain itu, adannya penggunaan jangka panjang dari phenitoin merupakan faktor yang dapat
meningkatkan ukuran torus karena phenitoin akan mempengaruhi peningkatan hemostasis
kalsium, berfungsi sebagai agen osteogenik. Namun faktor ini bukan merupakan salah satu
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya torus.
Gambaran klinis
Torus mempunyai kontur yang licin, membulat, mukosanya tampak normal atau sedikit
pucat dan dasarnya tanpa tangkai. Seringkali torus dijumpai mempunyai permukaan yang
bergelembng yang didalamnya terdiri dari tulang-tulang kortikal dengan beberapa tulang
spongiosa. Torus cenderung membesar perlahan dengan bertambahnya usia, tetapi tetap
tanpa gejala jika tidak terkena trauma.
Torus dianggap sebagai suatu anomaly yang berkembang, yang tumbuh secara perlahan-
lahan sepanjang hidup. Torus biasanya Nampak pada area premolar dan dapat muncul
multiple di rongga mulut, berdiameter 1,5-4 cm. Torus mempunyai tempat-tempat yang
spesifik. Torus palatius terletak di median line palatal, dan torus mandibularis terletak di sisi
lingual dari alveolar, sedangkan bukal eksotosis terletak pada alveolar bagian bukal.

Penatalaksanaan
Tidak diperlukan perawatan kecuali didorong pertimbangan estetik, prostodontik, psikologi,
atau trauma.
Diagnosis banding
Torus sulit dibedakan dengan peripheral ossifying fibroma atau produksi masa jaringan
lunak tulang pada mulut.

5. Geographic Tongue
Definisi
Geographic tongue atau eritema migran merupakan bercak eritema berbatas jelas, multiple,
dikelilingi garis berwarna putih yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Lesi ini
memiliki ciri khas yaitu bertahan dalam waktu singkat di satu area, menghilang dalam
beberapa hari, kemudian berkembang di area lainnya. Tempat predileksinya adalah
permukaan dorsum lidah, tetapi kadang-kadang lesi dapat ditemukan di bagian mukosa
lainnya.
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Etiologinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan berhubungan dengan stress
emosional, defisiensi nutrisi, herediter, dan hormonal.
Faktor Predisposisi geographic tongue adalah ketidaknyamanan yang muncul akibat
geographic tongue hilang dan timbul serta dapat memburuk pada saat-saat tertentu ketika
wanita sedang haid atau selama kehamilan
Gambaran Klinis
Bercak merah yang radiopak, melingkar tidak teratur, dan bercak merah menunjukkan atrofi
papilla filiformis

Penatalaksanaan
Tidak ada perawatan atau terapi khusus untuk kondisi ini, tetapi pada kasus simptomatik,
paliatif berupa spray, ointment atau rinses dapat diberikan.
Diagnosis Banding
Psoriasis, Sindrom Reiter, Stomatitis sel plasma, mucous patch pada sifilis akuisita stadium
dua, kandidiasis.

6. Cheek Biting
Definisi
Lesi putih pada jaringan mulut yang disebabkan iritasi kronik akibat menyedot pipi
yang berulang-ulang, menggigitnya, atau mengunyah.
Etiologi
a. Terjadi pada orang yang sedang stress/kegelisahan psikologinya yang sedang
bermasalah, sehingga menyebabkan bibir dan pipinya tergigit tidak sengaja.
b. Bad habit
c. Gigi yang tajam atau runcing
d. Erupsi gigi bungsu
e. Latrogenic
f. Efek samping dari teeth grinding
g. Kelainan TMJ
h. Kelainan penutupan rahang
i. Disfungsi otot
Gambaran Klinis
Perubahan mukosa akibat adanya trauma

Penatalaksanaan
Menghilangkan kebiasaan buruk.
Diagnosis Banding

7. Linea Alba
Definisi
Linea alba merupakan Alur horizontal pada mukosa setinggi bidang oklusal, meluas dari lip
commissure sampai gigi posterior, biasanya berhubungan dengan tekanan, iritasi friksional,
atau sucking trauma. Berupa garis putih yang lateral akibat dari hyperkeratosis trauma
jaringan dari hasil gesekan gigi yang berdekatan dan sesuai dengan konfigurasi gigi di
daerah ini. Gesekan gigi-gigi dapat menyebabkan perubahan-perubahan epitel yang
menebal dan terdiri dari jaringan hiperkeratotik.
Etiologi
Variasi dalam diet dan kebersihan mulut
a. Frekuensi kontak geesekan dengan makanan dan gigi
b. Efek dari merokok, tekstur makanan, dan penyebab iritasi lainnya
Iritasi→ Penebalan epitel (hiperkeratotik)→ respon gesekan pada gigi.
Gambaran Klinis
a. Asimptomatik
b. Umumnya bilateral,
c. Lebih sering terjadi pada individu dengan reduced overjet pada gigi posterior, dan
terbatas pada rahang yang bergigi.
Penatalaksanaan
Test diagnostic berdasarkan gambaran klinis
Biopsi : Sangat jarang dilakukan, kecuali memiliki gambaran atipikal atau diagnosisnya tidak
pasti
Diagnosis Banding
Cheek biting