Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ACS merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi didunia. WHO
menyatakan 60% dari penyebab kematian pada penyakit jantung adalah akibat
penyakit jantung coroner, termasuk Infark Miokard Akut. Peningkatan angka ACS ini
telah terjadi sejak 10 tahun terakhir.
ACS merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. ACS
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan proporsi sebesar 18-35% dari total
kunjungan ke IGD RS.PJNHK ( Dharma dalam Sabrina,2017).
Besarnya kasus ACS tahun 2008 didapatkan 2446 kasus,tahun 2009 didapatkan
3862 kasus sedangkan ditahun 2010 didapatkan 2529 kasus (Priyanto dalam
Sabrina,2017). Penyakit jantung coroner pada tahun 2008 telah menyebabkan
kematian sebanyak 17,3 juta orang (30%). Diperkirakan pada tahun 2030,sebanyak
23,3 juta penduduk dunia akan meninggal akibat berbagai penyakit kardiovaskuler.
Jumlah hasil penelitian ini akan terus meningkat didaerah Asia,termasuk Indonesia
(WHO dalam Sabrina,2017).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien dengan Acute

Coronary Syndrome

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui konsep dasar teori pada klien

dengan Acute Coronary Syndrome

b. Diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien

dengan Acute Coronary Syndrome

1
BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Medis


2.1.1 Defenisi
Acute Coronary Syndrom (ACS)/ Sindrom Korener Akut (SKA) adalah
terminologi yang digunakan pada keadaan gangguan aliran darah koroner
parsial hingga total ke miokard secara akut. (Rilantono, 2012)
Acute Coronary Syndrom (ACS) adalah istilah payung untuk tanda dan
gejala klinis iskemia miokard: angina tidak stabil, segmen non- ST elevasi
infark miokard dan segmen ST elevasi infark miokard. (Overbaugh, 2009)
Menurut Maryniak, 2013 Acute Coronary Syndrom (ACS) adalah istilah
yang digunakan untuk menggambarkan tiga sub-kondisi yang terkait dengan
iskemia jantung
1. Angina tidak stabil
2. Non ST elevasi infark miokard (NSTEMI)
3. ST elevasi infark miokard (STEMI)
2.1.2 Etiologi
ACS dapat terjadi jika adanya pembekuan emboli dalam sirkulasi
(misalnya karna disebabkan oleh gumpalan yang terbentuk di jantung selama
frbrasi atrium), peradangan arteri atau vasospasme, penggunaan kokain atau
metamfetamin, dan peningkatan beban kerja jantung akibat
tirotoksikosis,anemia, hipoksemia atau demam. (Maryniak, 2013)
2.1.3 Klasifikasi
Menurut PERKI, 2015 berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan marka jantung,
sindrom koroner akut dibagi menjadi:
1. Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI)
2. Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI)
3. Angina Pektoris tidak stabil (UAP)
2.1.4 Patofisiologi
Sebagian besar SKA adalah manifestasi akut dari plak ateroma pembuluh
darah koroner yang koyak atau pecah. Hal ini berkaitan dengan perubahan
komposisi plak dan penipisan tudung fibrus yang menutupi plak tersebut.

2
Kejadian ini akan diikuti oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur
koagulasi. Terbentuklah trombus yang kaya trombosit (white thrombus).
Trombus ini akan menyumbat liang pembuluh darah koroner, baik secara total
maupun parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat pembuluh koroner
yang lebih distal. Selain itu terjadi pelepasan zat vasoaktif yang menyebabkan
vasokonstriksi sehingga memperberat gangguan aliran darah koroner.
Berkurangnya aliran darah koroner menyebabkan iskemia miokardium.
Pasokan oksigen yang berhenti selama kurang-lebih 20 menit menyebabkan
miokardium mengalami nekrosis (infark miokard). Infark miokard tidak selalu
disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah koroner. Obstruksi subtotal yang
disertai vasokonstriksi yang dinamis dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan
nekrosis jaringan otot jantung (miokard). Akibat dari iskemia, selain nekrosis,
adalah gangguan kontraktilitas miokardium karena proses hibernating dan
stunning (setelah iskemia hilang), distritmia dan remodeling ventrikel
(perubahan bentuk, ukuran dan fungsi ventrikel). Sebagian pasien SKA tidak
mengalami koyak plak seperti diterangkan di atas. Mereka mengalami SKA
karena obstruksi dinamis akibat spasme lokal dari arteri koronaria epikardial
(Angina Prinzmetal). Penyempitan arteri koronaria, tanpa spasme maupun
trombus, dapat diakibatkan oleh progresi plak atau restenosis setelah Intervensi
Koroner Perkutan (IKP). Beberapa faktor ekstrinsik, seperti demam, anemia,
tirotoksikosis, hipotensi, takikardia, dapat menjadi pencetus terjadinya SKA
pada pasien yang telah mempunyai plak aterosklerosis. (PERKI, 2015)
2.1.5 Manifestasi klinis
Menurut Overbaugh, 2009 tanda dan gejala ACS dibagi sesuai dengan
klasifikasinya.
1. Angina tidak stabil
a. Nyeri dengan atau tanpa radiasi di leher, punggung dan
daerah epigastik
b. Napas tersengal, diaforesis, mual, sakit kepala
c. Takikardia, takipnea, hipotensi/hipertensi
d. Penurunan saturasi oksigen
e. Irama jantung abnormal
f. Terjadi saat istirahat atau beraktivitas

3
2. NSTEMI/STEMI
a. Nyeri dengan atau tanpa radiasi di leher, punggung dan
daerah epigastik
b. Napas tersengal, diaforesis, mual, sakit kepala
c. Takikardia, takipnea, hipotensi/hipertensi
d. Penurunan saturasi oksigen
e. Irama jantung abnormal
f. Terjadi saat istirahat atau beraktivitas
g. Durasi lebih lama dari angina tidak stabil
2.1.6 Pemeriksaan diagnostik
Menurut PERKI, 2015 pemeriksaan diagnostik untuk ACS adalah:
1. Pemeriksaan elektrokardiogram. Semua pasien dengan keluhan
nyeri dada atau keluhan lain yang mengarah kepada iskemia harus
menjalani pemeriksaan EKG 12 sadapan sesegera mungkin
sesampainya di ruang gawat darurat. Gambaran EKG yang
dijumpai pada pasien dengan keluhan angina cukup bervariasi,
yaitu: normal, nondiagnostik, LBBB (Left Bundle Branch Block)
baru/ persangkaan baru, elevasi segmen ST yang persisten (≥20
menit) maupun tidak persisten, atau depresi segmen ST dengan
atau tanpa inversi gelombang T.
2. Pemeriksaan marka jantung. Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau
troponin I/T merupakan marka nekrosis miosit jantung dan
menjadi marka untuk diagnosis infark miokard
3. Pemeriksaan laboratorium. Data laboratorium, di samping marka
jantung, yang harus dikumpulkan di ruang gawat darurat adalah
tes darah rutin, gula darah sewaktu, status elektrolit, koagulasi
darah, tes fungsi ginjal, dan panel lipid. Pemeriksaan laboratorium
tidak boleh menunda terapi SKA.
4. Pemeriksaan foto polos dada. Mengingat bahwa pasien tidak
diperkenankan meninggalkan ruang gawat darurat untuk tujuan
pemeriksaan, maka foto polos dada harus dilakukan di ruang
gawat darurat dengan alat portabel. Tujuan pemeriksaan adalah
untuk membuat diagnosis banding, identifikasi komplikasi dan
penyakit penyerta.

4
2.1.7 Penatalaksanaan
Menurut PERKI, 2015 penatalaksanaan untuk ACS adalah:
1. Terapi awal yang dimaksud adalah Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin
(disingkat MONA), yang tidak harus diberikan semua atau
bersamaan.
2. Tirah baring
3. Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan
saturasi O2 arteri <95% atau yang mengalami distres respirasi
4. Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6
jam pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi O2 arteri
5. Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak
diketahui intoleransinya terhadap aspirin. Aspirin tidak bersalut
lebih terpilih mengingat absorpsi sublingual (di bawah lidah) yang
lebih cepat
6. Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate)
a. Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari
kecuali pada pasien STEMI yang direncanakan untuk
reperfusi menggunakan agen fibrinolitik atau
b. Dosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang
direncanakan untuk terapi reperfusi menggunakan agen
fibrinolitik, penghambat reseptor ADP yang dianjurkan
adalah clopidogrel)
7. Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan
nyeri dada yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat.
Jika nyeri dada tidak hilang dengan satu kali pemberian, dapat
diulang setiap lima menit sampai maksimal tiga kali. Nitrogliserin
intravena diberikan pada pasien yang tidak responsif dengan terapi
tiga dosis NTG sublingual dalam keadaan tidak tersedia NTG,
isosorbid dinitrat (ISDN) dapat dipakai sebagai pengganti
8. Morfin sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-30 menit,
bagi pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG
sublingual

5
2.2 Konsep Dasar Keperawatan
2.2.1 Pengkajian keperawatan
a. Anamnesa:
1. Identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, nomor RM, Nama
penanggung jawab, hubungan dengan pasien, alamat.
2. Keluhan (nyeri dada, Klien mengeluh nyeri ketika beristirahat , terasa
panas menyebar ke lengan kiri dan punggung kiri, skala nyeri 8 (skala
1-10), nyeri berlangsung ± 10 menit)
3. Riwayat penyakit sekarang (Klien mengeluh nyeri ketika
beristirahat, terasa panas menyebar ke lengan kiri dan punggung kiri,
skala nyeri 8 (skala 1-10), nyeri berlangsung ± 10 menit)
4. Riwayat penyakit sebelumnya (DM, hipertensi, kebiasaan merokok,
pekerjaan, stress), dan Riwayat penyakit keluarga (jantung, DM,
hipertensi, ginjal).
b. Pemeriksaan fisik
1. Breathing
Pada pasien dengan ACS biasanya didapatkan tanda dan gejala dyspnea
karena beban kerja jantung yang meningkat.
2. Blood
Denyut nadi biasanya takikardi, terdapat nyeri dada (chest pain) dan kaji
apakah ada suara jantung tambahan.
3. Brain
Klien dengan pneumonia berat biasanya dapat mengalami penurunan
kesadaran, didapatkan sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan
berat. Perlu dikaji tingkat kesadaran, dan reflek pupil terhadap cahaya
4. Bladder
Pengukuran volume output dan intake cairan, oleh karena itu perawat
perlu memonitor adanya oliguria karena pada penderita ACS biasanya
ditemukan gejala oliguria.
5. Bowel
Dikaji apakah ada penurunan berat badan, mual, muntah bising usus,
bagaimana pola eliminasi alvi, adakah kelainan pada anus.
6. Bone
Didapatkan kelemahan dan kelelahan secara fisik.

6
2.2.2 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
3. Resiko ketidakefektivan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
aterosklerosis aortic

2.2.3 Intervensi keperawatan


No DiagnosaKeperawatan NOC NIC
1 Nyeri akut b/d agen Pain control 1605 Pain management 1400
Setelah dilakukan tindakan Pengkajian
cedera biologis
keperawatan selama 1X24 1. Kaji tingkat nyeri
jam, diharapkan masalah termasuk
nyeri akut dapat teratasi lokasi,karakteristik,
dengan kriteria hasil : durasi,frekuensi, dan
1. Mendeskripsikan kualitas
factor penyebab nyeri Mandiri
(5) 2. Observasi
2. Mengenal onset nyeri ketidaknyamanan
(5) nonverbal
3. Melaporkan perubahan khususnya pada
gejala nyeri pada klien dengan
terapis (5) ketidakmampuan
4. Klien melaporkan berkomunikasi
nyeri yang terkontrol secara efektif
(5) 3. Yakinkan pasien
dalam pemberian
analgesic
4. Gunakan terapi
komunikasi untuk
mengetahui nyeri
dan respon pasien
terhadap nyeri
5. Yakinkan keluarga
untuk selalu
memberi dukungan
pada pasien
6. Control terhadap
pemberian analgesic
terhadap pasien
Penyuluhan
7. Ajarkan klien
tentang tehnik
relaksasi dengan
mengurangi nyeri

7
8. Tingkatkan istrahat
yang adekuat untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi
9. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian analgetik
10. Periksa medical atau
obat serta frekuensi
pemberian analgesik
2 Penurunan curah jantung Keefektifan pompa jantung Perawatan jantung akut
0400 4044
b/d perubahan
Setelah dilakukan tindakan Pengkajian
kontraktilitas keperawatan selama 1X24 1. Lakukan penilaian
jam, diharapkan masalah secara komprehensif
penurunan curah jantung terhadap status jantung
dapat teratasi dengan termasuk didalamnya
kriteria hasil : adalah sirkulasi perifer
1. Tekanan darah sistol 2. Monitor irama jantung
(5) dan kecepatan denyut
2. Tekanan darah jantung
diastole (5) 3. Monitor EKG
3. Denyut jantung sebagaimana mestinya,
apical (5) apakah terdapat
4. Denyut nadi perifer perubahan segmen ST
(5) Mandiri
5. Urin output (5) 4. Auskultasi suara
jantung dan paru-paru
apakah ada ronkhi atau
suara tambahan lain
5. Monitor kecenderungan
tekanan darah dan
parameter
hemodinamik(tekanan
vena central ,tekanan
paru kapiler,tekanan
irisan arteri)
6. Sediakan diet jantung
yang tepat(batasi
masukan
kafein,natrium,
kolesterol,dan makanan
berlemak)
7. Sediakan makan yang
sedikit-sedikit tapi
sering
8. Pertahankan lingkungan
yang kondusif
Penyuluhan

8
9. Instruksikan pasien
dan keluarga untuk
melaporkan segera jika
merasa
ketidaknyamanan
dibagian dada
10. Instruksikan pasien
dan keluarga untuk
menghindari aktivitas
yang menyebabkan
valsava maneuver
(misalnya mengejan
saat BAB)
Kolaborasi
11. Kolaborasi dalam
pemberian obat yang
mencegah episode
valsava manufer
(laksatif,antimual)

2.2.4 Implementasi keperawatan


Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi keperawatan.

2.2.5 Evaluasi keperawatan


1. Nyeri dapat terkontrol
2. Penurunan cuah jantung dapat teratasi

9
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
ACS merupakan syndrome kegawatdaruratan jantung yang membutuhkan
penanganan secara cepat dan tepat untuk dapat memberikan pertolongan pada pasien
dengan meminimalkan komplikasi yang terjadi.

3.2 Saran
Diharapkan materi ini dapat menambah referensi bagi pembaca dan juga menambahkan
pengetahuan bagi pembaca.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bulucheck, Gloria M.,dkk. 2012. Nursing Interventions Classification (NIC). 6thed. America:
ELSEVIER
Herdman, T.Heatrher.2012.Diagnosis Keperawatan: Defenisi dan Klasifikasi 2012-
2014.Jakarta: EGC
Maryniak, Kim. 2013. Diagnosis and Management of Acute Cotonary Syndrom. AMN
Healthcare Education Services. (Online). https://lms.rn.com/getpdf.php/1831.pdf
diakses 30 September 2017
Moorhead, Sue, dkk.2012. Nursing Outcomes Classification (NOC) Measurement of Health
Outcomes. 5th ed. America: ELSEVIER
Overbaugh, Kristen J. 2009. Acute Coronary Syndrom. Continuing Education. (Online).
Vol.109. No. 5.
http://www.ucdenver.edu/academics/colleges/nursing/Documents/PDF/coronary-
syndrome.pdf diakses 30 September 2017

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana


Sindrom Koroner Akut. Indonesia: Centra Communication

Rilantono, Lily l. 2012. Penyakit Kardiovaskuler (PKV) 5 Rahasia. Jakarta: Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia

Sabrina J. 2017. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan ACS (Acute Coronary Syndrom).
Makalah disajikan dalam seminar Manajemen Code Blue. STIKes St. Elisabeth
Medan. 15 Juni 2017

11