Anda di halaman 1dari 8

Persona, Jurnal Psikologi Indonesia

Mei 2015, Vol. 4, No. 02, hal 145 - 152

Konsep Diri, Konformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja

Eva Suminar Tatik Meiyuntari


Program Magister Psikologi Dosen Fakultas Psikologi
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Abstract. . The purpose of this study is to examine the correlation between self-concept
and conformity with adolescent consumer behavior. Research variables were measured
using a consumer behavior scale, self concept scale and conformity scale. Subjects were
60 students at 2nd grade SMA Darut Taqwa Pasuruan. Data were analyzed using
regression analysis. The results showed that self-concept and conformity significantly
associated with consumer behavior. Separately, self-concept significantly has a negative
correlation with consumer behavior. Meanwhile, conformity did not correlate
significantly with consumer behavior.

Keywords: Consumer behavior, Self concept, Conformity, Adolescent

Intisari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara konsep diri dan
konformitas dengan perilaku konsumtif pada remaja. Variabel-variabel penelitian diukur
dengan menggunakan skala Perilaku Konsumtif, skala Konsep Diri dan skala
Konformitas. Subjek penelitian adalah 60 siswa kelas 2 SMA Darut Taqwa Pasuruan.
Data penelitian dianalisis menggunakan analisis regresi. Hasilnya menunjukkan bahwa
variabel konsep diri dan konformitas berhubungan secara signifikan dengan perilaku
konsumtif pada remaja. Secara terpisah, konsep diri berhubungan secara signifikan
dengan perilaku konsumtif, namun konformitas tidak berhubungan secara signifikan
dengan perilaku konsumtif.

Kata kunci: Perilaku konsumtif, Konsep diri, Konformitas, Remaja

PENDAHULUAN
Di tengah arus modernitas seperti saat dengan kriminalitas atau tindak kejahatan.
ini, perilaku konsumtif remaja seakan Bagi remaja yang berasal dari
dianggap sebagai sesuatu yang wajar. keluarga dengan tingkat perekonomian
Namun jika ditelaah lebih jauh, dapat rendah, keinginan untuk selalu membeli
memunculkan dampak yang cukup serius barang-barang mewah akan lebih sulit
dan bahkan cenderung berbahaya. Perilaku terpenuhi. Akibatnya, muncul intensi untuk
konsumtif dapat menggiring remaja hingga mencuri, menjambret atau merampok demi
terjerumus ke dalam jaringan prostitusi. memenuhi keinginan tersebut. Selain adanya
Perilaku konsumtif juga erat kaitannya kecenderungan untuk menjadi pelaku

145
Eva Suminar

tindakan criminal. Perilaku konsumtif juga dan Bitta (dalam Agustia,2012), remaja
dapat menjadikan remaja sebagai korban merupakan salah satu contoh yang paling
tindak kejahatan. mudah terpengaruh dengan pola konsumsi
Simbol-simbol kemewahan yang yang berlebihan, mempunyai orientasi yang
ditunjukkan melalui barang-barang yang kuat untuk mengkonsumsi suatu produk dan
digunakan dan dipamerkan menjadi sumber tidak berpikir hemat.
informasi yang dapat diobservasi oleh Grubb dan Grathwohl (dalam Sirgy,
pelaku kejahatan. Hal ini kemudian 1982) menyatakan bahwa konsep diri
membuat remaja berpotensi menjadi target merupakan nilai bagi individu sehingga
tindakan kriminal. Dampak lain yang perilaku ditujukan untuk melindungi dan
dikhawatirkan muncul akibat perilaku meningkatkan konsep diri. Membeli,
konsumtif remaja adalah semakin menggunakan dan memamerkan barang atau
mengakarnya tindakan korupsi. Jika jasa yang dikonsumsi merupakan simbol
ditinjau jauh ke depan, remaja yang yang bermakna bagi individu dan orang lain.
terobsesi dengan gaya hidup mewah akan Perilaku konsumtif individu dilakukan
berkelanjutan hingga usia dewasa. untuk meningkatkan konsep diri melalui
Remaja yang terbiasa dengan perilaku konsumsi barang atau jasa yang dimaknai
konsumtif dikhawatirkan akan terus sebagai simbol tersebut. Simbol yang
menjalani pola perilaku yang sama hingga dimaksud di sini bisa berupa simbol
pada saat berada di dunia kerja. Jika tidak harga diri atau status sosial.
terjadi kesesuaian antara pendapatan dan Konsep diri merupakan keyakinan
keinginan, maka ada kecenderungan untuk (belief) tentang atribut yang melekat pada
melakukan korupsi. Bagi remaja yang diri individu yang didapat melalui proses
berasal dari keluarga dengan stratifikasi persepsi diri, refleksi atau perbandingan
ekonomi tinggi bisa berdampak pada sosial (Suryanto, dkk.,2012). Proses
terbentuknya perilaku belanja kompulsif persepsi diri dilakukan melalui perilaku
(compulsive buying behavior). yang ditunjukkan dalam kehidupan
Pesatnya pertumbuhan pusat-pusat kesehariannya. Konsep diri remaja yang
perbelanjaan (mall) dan kafe berskala tampak melalui perilaku berbelanja secara
internasional berbanding lurus dengan berlebihan dalam kesehariannya bertujuan
jumlah pengunjungnya. Selain karena cukup ingin menyatakan bahwa dirinya termasuk
tersedianya fasilitas, gempuran iklan melalui remaja yang tidak ketinggalan jaman (gaul).
media massa pun semakin membentuk Sementara itu, perilaku konsumtif
perilaku konsumtif pada remaja. Kebutuhan remaja juga sangat erat kaitannya
akan konsumsi tidak lagi didasari oleh dengan pengaruh kelompok, dalam hal ini
keperluan namun hanya atas dasar mengacu pada istilah konformitas.
keinginan dan bahkan cenderung memasuki Konformitas adalah kecenderungan individu
taraf berlebihan. untuk mengubah persepsi, opini dan
Dalam hal ini, keinginan yang perilaku mereka sehingga sesuai atau
dimaksud yaitu keinginan untuk tetap up to konsisten dengan norma-norma kelompok
date, mengikuti mode atau tren terbaru, (Suryanto dkk., 2012). Besarnya keinginan
tidak ingin dianggap ketinggalan jaman untuk mencapai harmonisasi dan mendapat
dan keinginan untuk meningkatkan prestige penerimaan sosial membuat remaja
(gengsi) serta status sosial. Menurut Loudon melakukan konformitas terhadap teman

146
Konsep Diri, Konformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja

sebaya atau kelompoknya. dalam hal kepemilikan barang dan jasa


Menurut Kim dan Markus (dalam tanpa mempedulikan kegunaan, hanya
Koo dan Shavitt, 2010), konformitas dalam berdasarkan keinginan untuk membeli yang
pemilihan atau pembelian produk mengacu lebih baru, lebih banyak dan lebih bagus
pada otoritas dan keinginan kelompok in- dengan tujuan untuk menunjukkan status,
group. Konformitas juga menekankan pada prestige, kekayaan, keistimewaan dan
hubungan sosial. sesuatu yang mencolok.
Berdasarkan beberapa definisi yang
Perilaku Konsumtif telah diungkap, maka dapat ditarik
Perilaku konsumtif sering kali kesimpulan bahwa perilaku konsumtif
dikaitkan dengan aktivitas mengkonsumsi merupakan perilaku mengkonsumsi barang
barang dan jasa secara berlebihan. dan jasa yang mahal dengan intensitas yang
Konsumsi secara berlebihan ini menurut terus meningkat demi mendapatkan sesuatu
Veblen (2003) mengacu pada perilaku yang lebih baru, lebih bagus dan lebih
konsumen yang membeli barang-barang banyak serta melebihi kebutuhan yang
mahal untuk menunjukkan kekayaan dan sebenarnya untuk menunjukkan status
status sosial, bukan untuk memenuhi sosial, prestige, kekayaan dan
kebutuhan yang sebenarnya. Definisi keistimewaan, juga untuk mendapatkan
menurut Veblen ini dikenal dengan kepuasan akan kepemilikan.
istilah conspicuous consumption atau Menurut Kotler (dalam Cahyanti,
konsumsi berlebihan. 2008), perilaku konsumtif bisa terbentuk
Belk, Eastman dkk. (dalam Shukla karena dipengaruhi oleh beberapa faktor,
dan Sharma, 2009) mendefinisikan perilaku sebagai berikut: Life-cycle stage (Usia dan
konsumtif sebagai perilaku konsumen dalam tahapan dalam siklus kehidupan), pekerjaan
mencari dan membeli barang dan jasa yang dan situasi ekonomi, gaya hidup,
dapat menghasilkan status sosial serta kepribadian, konsep diri, motivasi, persepsi,
prestige dengan mengabaikan penghasilan belajar, keyakinan, sikap, budaya, sub-
maupun kelas sosial mereka yang kultur, kelas sosial, keluarga, teman dan
sebenarnya. kolega, kelompok referensi, opinion leader
Perilaku konsumtif menurut Hamilton serta peran dan status.
dkk. (2005) disebut dengan istilah wasteful
consumption yang dimaknai sebagai Konsep Diri
perilaku konsumen dalam membeli barang Konsep diri didefinisikan sebagai
dan jasa yang tidak berguna atau asumsi individu mengenai kualitas personal
mengkonsumsi lebih dari definisi yang yang diorganisasikan oleh skema diri
masuk akal dari kebutuhan. Sementara (Brigham dalam Suryanto dkk., 2012).
menurut Solomon dkk. (dalam Shukla dan Burns (dalam Pratiwi dkk.,2009)
Sharma, 2009), perilaku konsumtif mendefinisikan konsep diri sebagai kesan
merupakan sebuah konsekuensi dari individu terhadap dirinya sendiri secara
keinginan konsumen dalam menampilkan keseluruhan mencakup pendapatnya tentang
kekayaan. Sementara itu, Fromm (2008) diri sendiri, pendapatnya tentang gambaran
juga menggambarkan perilaku konsumtif dirinya di mata orang lain dan pendapatnya
sebagai keinginan membeli yang terus tentang hal-hal yang dapat dicapainya.
meningkat untuk mendapatkan kepuasan Secara umum, konsep diri

147
Eva Suminar

ditafsirkan dari perspektif multidimensional (dalam Suparno, 2013) menyatakan bahwa


(Burns, Rosenberg, dalam Sirgy, 1982). konformitas adalah suatu bentuk interaksi
Grubb dan Grathwohl (1967) sosial dimana seseorang berperilaku
menspesifikasikan konsep diri sebagai terhadap orang lain sesuai dengan harapan
sebuah nilai bagi individu, sehingga kelompok.
perilaku yang ditunjukkan bertujuan untuk Konformitas muncul ketika individu
melindungi dan meningkatkan konsep diri mengikuti perilaku atau sikap orang lain,
individu tersebut. Membeli, menggunakan dikarenakan oleh tekanan orang lain, baik
dan memamerkan sebuah produk yang nyata maupun yang dibayangkan.
merupakan cara yang dilakukan individu Dalam penelitiannya, Sanaria (2006),
untuk menunjukkan simbol yang menyatakan bahwa kelompok biasanya
bermakna baik bagi individu itu sendiri terdiri dari beberapa individu. Kelompok
maupun bagi orang lain. Baumeister (2005) memiliki karakteristik dan identitas sendiri
mendefinisikan konsep diri sebagai yang berbeda dengan identitas masing-
keyakinan individu mengenai dirinya, masing anggota kelompok. Maka, individu
meliputi atribut diri, apa dan siapa diri yang menjadi bagian dari kelompok tersebut
tersebut. harus memperlihatkan perilaku, nilai, sikap
Berdasarkan beberapa definisi yang dan pola lainnya yang sama dan bisa
telah dijabarkan, maka dapat diambil diidentifikasi sebagai faktor pembeda dari
kesimpulan bahwa konsep diri adalah kelompok lainnya. Hal inilah yang disebut
penilaian individu mengenai kualitas dengan konformitas.
personalnya, gambaran mengenai apa dan Konformitas dapat memunculkan
siapa dirinya serta gambaran dirinya di perilaku diantaranya gaya bahasa, sikap,
mata orang lain yang diperoleh melalui aktivitas sosial yang akan diikuti, nilai- nilai
persepsi diri, refleksi diri dan yang dianut dan penampilan diri
perbandingan sosial. (Santrock dalam Fardhani dan Izzati,
Konsep diri menurut Hurlock (dalam 2013). Myers (2010) mengemukakan
Setiawan, 2013) dipengaruhi oleh dua bahwa konformitas berarti perubahan
faktor, yaitu faktor internal, meliputi: perilaku pada individu sebagai akibat dari
intelejensi, motivasi dan emosi, adanya tekanan kelompok. Ditambahkan
kompetensi personal, episode keberhasilan oleh Myers, konformitas bukan sekadar
dan kegagalan, status kesehatan serta berperilaku seperti orang lain, namun juga
kondisi dan penampilan fisik dan faktor dipengaruhi oleh bagaimana orang lain
eksternal, meliputi: lingkungan keluarga, berperilaku.
status sosial, kebudayaan dan peran Dari uraian di atas, maka dapat
pendidik. disimpulkan bahwa konformitas adalah
perubahan persepsi, opini dan perilaku
Konformitas individu berdasarkan informasi yang
Brehm dan Kassin (dalam Suryanto diberikan kelompok sehingga konsisten
dkk., 2012) mendefinisikan konformitas dengan norma kelompok dan dilakukan
sebagai kecenderungan individu untuk sebagai bentuk penyesuaian terhadap aturan
mengubah persepsi, opini dan perilaku kelompok karena adanya tekanan baik yang
mereka sehingga sesuai atau konsisten nyata maupun yang hanya dibayangkan
dengan norma-norma kelompok. Santrock dengan tujuan agar dapat diterima menjadi

148
Konsep Diri, Konformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja

bagian dari kelompok tersebut. Teknik sampling yang digunakan


Baron dan Branscombe (2012) adalah simple random sampling.
menyatakan bahwa konformitas dipengaruhi Preliminary study dilakukan bersamaan
oleh sejumlah faktor, yaitu kohesivitas dengan uji coba skala, yaitu menggunakan
(didefinisikan sebagai derajat ketertarikan sampel 30 orang, terdiri dari 10 orang siswa
individu terhadap kelompok), ukuran kelas 1, 10 orang siswa kelas 2 dan 10
kelompok (jumlah anggota kelompok yang orang siswa kelas 3. Selanjutnya,
semakin besar akan mempengaruhi tinggi pengambilan data dilakukan pada 60 orang
rendahnya konformitas dalam kelompok siswa kelas 2 berdasarkan hasil
tersebut), norma deskriptif (norma yang preliminary study yang menunjukkan
hanya menggambarkan apa yang bahwa siswa kelas 2 memiliki perilaku
sebagian besar orang lakukan pada situasi konsumtif tertinggi.
tertentu) dan norma injungtif (norma yang
secara spesifik menetapkan perilaku apa Alat Ukur
yang diterima atau tidak dapat diterima pada Perilaku Konsumtif pada penelitian ini
situasi tertentu). diungkap menggunakan skala Perilaku
Konsumtif berdasarkan aspek: intensitas,
HIPOTESIS kebutuhan, kepuasan, prestige, status
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sosial, kekayaan dan keistimewaan. Jumlah
adalah : item dalam skala Perilaku Konsumtif adalah
1. Ada hubungan antara konsep diri 21 item, memiliki rentang indeks
dan konformitas dengan perilaku diskriminasi item yang bergerak dari 0,215
konsumtif remaja s/d 0,790 dengan reliabilitas Alpha
2. Ada hubungan negatif antara konsep Cronbach sebesar 0,895.
diri dengan perilaku konsumtif Konsep Diri pada penelitian ini
remaja diungkap menggunakan skala Konsep Diri
3. Ada hubungan positif antara yang disusun sendiri pula oleh peneliti
konformitas dengan perilaku berdasarkan aspek: identitas; kepuasan
konsumtif remaja diri; perilaku; fisik, moral; personal,
keluarga, sosial dan aspek akademis.
METODE Jumlah item dalam skala Konsep Diri
Subjek adalah 45 item, memiliki rentang indeks
Populasi dalam penelitian ini adalah diskriminasi item yang bergerak dari 0,211
keseluruhan siswa SMA Darut Taqwa s/d 0,648, dengan reliabilitas Alpha
Pasuruan. Sampel yang digunakan dalam Cronbach sebesar 0,903.
penelitian yaitu siswa kelas 2 SMA Konformitas pada penelitian ini
Darut Taqwa Pasuruan. Sampel tersebut diungkap menggunakan skala Konformitas
diperoleh melalui hasil preliminary study yang juga disusun peneliti berdasarkan
berupa pengisian kuesioner perilaku aspek: pengaruh informasional, pengaruh
konsumtif. Data yang diperoleh dari hasil normatif dan kategorisasi diri. Jumlah
pengisian kuesioner digunakan untuk item dalam skala Konformitas adalah 22
melihat intensitas perilaku konsumtif yang item, memiliki rentang indeks diskriminasi
tertinggi diantara siswa kelas 1, kelas 2 dan item yang bergerak dari 0,213 s/d 0,638,
kelas 3. dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar

149
Eva Suminar

0,816. konformitas dengan perilaku konsumtif


terbukti. Hal ini menunjukkan bahwa
HASIL perilaku konsumtif remaja dipengaruhi
1. Hasil analisis data menggunakan oleh faktor konsep diri dan konformitas.
analisis regresi ganda menghasilkan Hasil tersebut menunjukkan bahwa
harga F = 13,868 pada p = 0,000 semakin rendah konsep diri
(p< 0,05), yang berarti hipotesis remaja,maka semakin tinggi perilaku
penelitian yang menyatakan bahwa konsumtifnya, begitu pula sebaliknya,
ada hubungan antara Konsep Diri semakin tinggi konsep diri maka semakin
dan Konformitas dengan Perilaku rendah perilaku konsumtifnya. Remaja
Konsumtif, terbukti. dengan konsep diri negatif akan cenderung
2. Hasil analisis regresi juga mengembangkan sikap-sikap yang negatif
menunjukkan R Square atau R2 mengenai dirinya sendiri, seperti perasaan
sebesar 0,304 yang mengindikasikan tidak mampu, rendah diri, merasa ragu
bahwa persentase sumbangan dua dan kurang percaya diri.
variabel bebas (Konsep Diri dan Sebagai remaja, penampilan fisik
Konformitas) terhadap variabel masih menjadi perhatian utama. Pada
tergantung (Perilaku Konsumtif) umumnya subjek memiliki pandangan
adalah sebesar 30,4%. Hal ini berarti negatif mengenai aspek fisik mereka. Selain
terdapat variabel-variabel lain itu, tingkat kepuasan diri subjek pun masih
sebesar 69,6% yang berpengaruh tergolong rendah. Demikian juga dengan
terhadap Perilaku Konsumtif. aspek akademis dan kemampuan beradaptasi
3. Hasil analisis regresi secara parsial yang rendah.
antara variabel Konsep Diri dengan Konsep diri yang cenderung negatif
Perilaku Konsumtif menunjukkan memberi ketidaknyamanan secara personal.
harga t = -5.264 pada p = 0,000 (p Bagi subjek, upaya yang dapat dilakukan
<0,05) yang berarti hipotesis untuk meningkatkan konsep diri tersebut
penelitian yang menyatakan ada yaitu melalui pembelian, penggunaan dan
hubungan signifikan antara Konsep memamerkan barang atau jasa yang
Diri dengan Perilaku Konsumtif, dikonsumsi. Produk bernilai tinggi
terbukti. Sementara pengujian dianggap dapat menambah kepercayaan diri
parsial antara variabel Konformitas bahkan menutupi kekurangan yang ada pada
dengan Perilaku Konsumtif diri mereka. Hal ini terlihat misalnya pada
mendapatkan harga t = - 0,708 pada remaja dengan performa akademis buruk.
p = 0,482 (p > 0,05), yang Perasaan rendah diri di lingkungan
mengindikasikan bahwa bahwa sekolah dapat diminimalisir jika ia
hipotesis penelitian yang memperlihatkan kepemilikan barang-barang
menyatakan ada hubungan positif mahal yang tidak dimiliki teman-temannya.
antara Konformitas dan Perilaku Begitu pula dengan rendahnya
Konsumtif tidak terbukti. kepercayaan diri akan penampilan fisik,
seolah-olah dapat diperbaiki dengan
DISKUSI mengkonsumsi barang atau jasa yang
Hipotesis pertama yang menyatakan bernilai tinggi.
ada hubungan antara konsep diri dan Strategi untuk “mendongkrak” konsep

150
Konsep Diri, Konformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja

diri dengan tujuan mencapai ideal-self dan menyia-nyiakan barang atau jasa
atau gambaran diri yang diinginkan bukanlah perilaku yang melekat pada subjek
inilah yang pada akhirnya bisa penelitian pada umumnya.
meningkatkan perilaku konsumtif pada Faktor lain yang dapat menjelaskan
remaja.Bertolak belakang dengan sejumlah tidak adanya hubungan antara konformitas
teori dan penelitian sebelumnya yang dan perilaku konsumtif pada subjek
menyatakan bahwa konformitas memiliki penelitian yaitu norma kelompok itu sendiri.
hubungan signifikan dengan perilaku Seperti dikemukakan Brehm dan Kassin
konsumtif, pada siswa kelas 2 SMA Darut (dalam Suryanto dkk., 2012) bahwa
Taqwa hal ini tidak ditemukan. konformitas merupakan kecenderungan
Hasil penelitian ini menunjukkan individu untuk mengubah persepsi, opini
bahwa tinggi rendahnya konformitas subjek dan perilaku mereka sehingga sesuai atau
tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya konsisten dengan norma-norma kelompok.
perilaku konsumtif. Hal ini diinterpretasikan Namun, perilaku konsumtif di sekolah ini
terjadi salah satunya karena iklim pesantren tidak dianggap sebagai norma kelompok.
dimana lokasi sekolah ini berada. Hal ini terlihat dari hasil penghitungan
Konformitas yang terjadi di kalangan real score yang menunjukkan bahwa tingkat
remaja pesantren tidak berimbas pada konsumtif subjek tergolong rendah. Oleh
muncul atau meningkatnya perilaku negatif karenanya, seseorang tidak perlu
seperti perilaku konsumtif. Berdasarkan berperilaku konsumtif jika ingin menjadi
hasil penghitungan real score, diketahui bagian dari suatu kelompok atau untuk
bahwa tingkat perilaku konsumtif pada memenuhi harapan kelompok. Dengan
subjek penelitian, yaitu siswa kelas 2 demikian, tidak ada pula kecemasaan atas
SMA Darut Taqwa Pasuruan tergolong konsekuensi negatif jika tidak menganut
rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif.
aktivitas membeli, memakai, memamerkan

DAFTAR PUSTAKA Byrnes, C. K. 2006. Conformity as


Agustia, R.S. 2012. Gambaran Perilaku Escape from Self: Do We
Konsumtif Siswa-I Sekolah Conform to Others to Avoid “I-
Menengah Atas International Contact”?. Diakses dari
Islamic Boarding School Republic http://library.williams.edu/these
Of Indonesia. Diakses dari s/pdf.php?id=106, 18 Oktober
http://thesis.binus.ac.id/doc/Cov 2014.
er/2011-2-00205- Fardhani dan Izzati. 2013. Hubungan antara
PS%20Cover001.pdf, 18 Konformitas dan Perilaku Konsumtif
Oktober 2014. pada Remaja. Diakses dari
Baron dan Branscombe. 2012. Social http://ejournal.unesa.ac.id/index. 13
Psychology. Thirteenth Edition. Oktober 2014.
Pearson Education, Inc. Fromm, Eric. 2008. The Sane
Baumeister, R. F. 2005. Self-Concept, Self- Society.British Library Cataloguing
Esteem and Identity. Personality: in Publication Data.
Contemporary Theory and Fromm, Eric. 1976. To Have or To Be.
Research 3rd Edition, Chapter 9. Library of Congress Cataloging- in-

151
Eva Suminar

Publication Data. mes/ap08/ap_2009_vol8_111.pd f,


Grubb dan Grathwohl. 1967. Consumer 10 Oktober 2014.
Self-Concept, Symbolism and Market Sirgy, J. M. 1982. Self-Concept in
Behavior: A Theoritical Approach. Consumer Behavior: A Critical
Journal of Marketing, Vol. 31 Review. Journal of Consumer
(October Research (pre-1986); Dec 1982; page
1967), pp. 22-27. 287.
Hamilton, dkk. 2005. Wasteful Consumption Suryanto dkk. 2012. Pengantar Psikologi
in Australia. The Australia Institute. Sosial. Pusat Penerbitan dan
Discussion Paper Number 77 March Percetakan Universitas
200. Airlangga.
Koo dan Shavitt. 2010. Cross-cultural Veblen, Thorstein. 2003. The Theory of the
Psychology of Consumer Behavior. Leisure Class. A Penn State
Wiley International Encyclopedia of Electronic Classics Series
Marketing. John Wiley and Sons Ltd. Publication. Diakses dari
Myers, D. G. 2010. Social Psychology. http://www.thevenusproject.com
Tenth Edition. McGraw-Hill /downloads/ebooks/theory- leisure-
Publication. class.pdf, 15 Oktober
Pratiwi. 2009. Hubungan antara Konsep Diri 2014.
dan Konformitas dengan Perilaku
Merokok pada Remaja. Diakses
dari
http://eprints.uns.ac.id/6511/1/5
0961805200904031.pdf, 23
Oktober 2014.
Sanaria, Apurva. 2006. Conformity and
Norms : Th Individual Perspective.
Diakses dari
http://papers.ssrn.com/sol3/pape
rs.cfm?abstract_id=2150900, 18
Oktober 2014.
Setiawan. 2013. Pengaruh Mentoring
Agama Islam terhadap
Perubahan Konsep Diri
Mahasiswa Muslim Universitas
Sumatera Utara. Diakses dari
http://repository.usu.ac.id/handl
e/123456789/37286, 20 Oktober
2014.
Shukla dan Sharma. 2009. Conspicuous
Consumption in Cross-national
Context: Psychological and
Brand Antecedents. Diakses dari
http://www.acrwebsite.org/volu

152