Anda di halaman 1dari 3

TUGAS KELOMPOK

AKUNTANSI SYARIAH

Disusun Oleh:
Indira Marsha 01031381621121
M.Fadly Assiddiqie 01031381621234
Nadra Karmeylia 01031381621146
Rentika Damara 01031381621232
Tiara Aulia Melinda 01031381621195
Yolanda Febiola 01031381621238
Yuzi Amelia Rizani 01031381621237

Universitas Sriwijaya
Fakultas Ekonomi
Akuntansi
2017/2018
Bab 4
Subjek Hukum dalam Ekonomi Islam
A. Pengertian Subjek Hukum
Subjek hukum adalah perbuatan manusia yang dituntut oleh Allah
berdasarkan ketentuan hukum syara’. Adapun menurut kompilasi hukum
ekonomi syariah, subjek hukum adalah orang perorangan, persekutuan
atau badan usaha yang berbadan hukum atau tidak berbadan hukum yang
memiliki kecakapan hukum untuk mendukung hak dan kewajiban.

B. Kecakapan Hukum
Kecakapan hukum adalah kemampuan subjek hukum untuk melakukan
perbuatan yang dipandang sah secara hukum. Adapun ketentuan hukum
terdapat pada pasal 2 dan 3 KHES, sebagai berikut :
1. Seseorang dipandang memiliki kecapakan untuk melakukan perbuatan
hukum dalam hal telah mencapai umum paling rendah 18 tahun
pernah menikah.
2. Bahan usaha yang berbadan hukum,dapat melakukan perbuatan
hukum dalam hal tidak dinyatakan taflis/pailit berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
3. Dalam hal seseorang anak belum berusia 18 tahun dapat mengajukan
permohonan pengakuan cakap melakukan perbuatan hukum kepada
pengadilan.
4. Pengadilan dapat mengabulkan atau menolak permohonan pengakuan
cakap melakukan perbuatan hukum.

C. Penghalang kecakapan hukum


Macam-macam penghalang itu adalah sebagai berikut:
1. Gila
2. Seperti gila(rusak akal)
3. Mabuk
4. Tidur
5. Pingsan
6. Pembolos
7. Dungu
8. Utang yang mengakibatkan pailit
9. Sakit yang mengakibatkan kematian.

D. Perwalian
1. Pengertian perwalian
Perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada wali untuk
melakukan perbuatan hukum atas nama dan untuk kepentingan
muwalla.

2. Ketentuan perwalian
a. Orang yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum berhak
mendapat perwalian.
b. Dalam hal seseorang sudah berumur 18 tahun atau pernah
menikah, namun tidak cakap melakukan hukum, maka pihak
keluarganya dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan
untuk menetapkan wali bagi yang bersangkutan.
c. Pengadilan dapat menetapkan orang yang berutang berada dalam
perwalian berdasarkan permohonan orang yang berpiutang.
d. Pengadilan berwenang untuk menetapkan pewalian bagi orang
yang dipandang tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
e. Pengadilan berwenang menetapkan pewalian bagi orang yang
tindakannya menyebabkan kerugian orang banyak.
f. Muwalla dapat melakukan perbuatan hukum yang menguntungkan
dirinya, meskipun tidak dapat izin wali.
g. Izin pewalian dapat dinyatakan secara tertulis atau lisan.

3. Klasifikasi dan ketentuan wali


a. Orang tua muwalla;
b. Orang yang menerima wasiat dari orang tua muwalla;
c. Bapak/Ibu angkat muwalla;
d. Orang lain atau badan hukum yang ditetapkan oleh pengadilan.

4. Ketentuan wali
a. Ketentuan wali tersebut, mulai berlaku sejak penetapan pengadilan
memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Wali wajib menjamin dan melindungi muwalla dan hak-haknya
sampai cakap melakukan perbuatan hukum.
c. Wali dapat menolak memberi izin kepada muwalla untuk
melalukan perbuatan hukum tertentu dengan mempertimbangkan
keuntungan atau kerugian dari perbuatan hukum tersebut.
d. Kekuasaan wali berakhir karena;
 Meninggal dunia;
 Muwalla telah memiliki kecakapan melakukan perbuatan
hukum;
 Dicabut berdasarkan penetapan pengadilan.
e. Wali wajib mengganti kerugian yang diderita muwalla atas
kesalahan perbuatannya.