Anda di halaman 1dari 5

Strategi Pengembangan Agribisnis Teh dalam Rangka Peningkatan Daya Saing

Ekspor Komoditas Teh Indonesia di Pasar Dunia

Deti Rushilani Syarif


Mahasiswa Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Jember

Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Pendahuluan
Indonesia merupakan negara tropis yang ditandakan dengan
berhembusnya angin muson barat dan angin muson timur pada kurun waktu
tertentu. Sebagai negara tropis, Indonesia pun merupakan negara agraris karena
struktur tanahnya yang memungkinkan untuk bertani dan menanam segala jenis
tumbuhan. Lahan Indonesia sangan memungkinkan bahi usaha pertanian. Oleh
karena itu, kegiatan ekonomi agraris Indonesia pun dapat diperhitungkan pada
setiap bidangnya (Bimbie, 2013).
Pertanian adalah suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses
pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pertanian dalam arti sempit
dinamakan pertanian rakyat, sedangkan pertanian dalam arti luas meliputi
pertanian arti sempit, kehutanan, peternakan, perkebunan dan perikanan.
Perkebunan atau plantation tidak hanya dikenal di Indonesia, tetaoi juga di negara
lain. Pada umumnya, perkebunan terdapat di daerah-daerah bermusim panas di
dekat khatulistiwa. Oleh kerena menggunakan sistem manajemen seperti pada
perusahaan industri dengan memanfaatkan hasil-hasil penelitian dari teknologi
terbaru , maka perkebunan sering pula disebut industri perkebunan atau industri
pertanian (Soetriono, 2006).
Tanaman perkebunan mempunyai peranan penting dalam pembangunan
perekonomian di Indonesia. Pengusahaan berbagai komoditas tanaman ini telah
mampu mendatangkan devisa bagi negara, membuka lapangan kerja, dan menjadi
sumber pendapatan penduduk, serta konstribusi dalam upaya melestarikan
lingkungan. Budidaya perkebunan secara umum merupakan kegiatan usaha
tanaman yang hasilnya untuk di ekspor atau bahan baku industri. Komoditas
perkebunan antara lain adalah cengkih, coklat, kapas, karet, kelapa, kelapa sawit,
kopi teh, lada, tebu, tembakau, dan vanili. Komoditas tersebut dapat dijadikan
sebagai salah satu sumber komoditas ekspor untuk meningkatkan pendapatan
negara, sekaligus penyediaan lapangan kerja dan sumber pendapatan masyarakat.
Selain sebagai komoditas ekspor, komoditas perkebunan berfungsi sebagai
penyedia bahan baku industri dalam negeri. Industri yang berbahan baku hasil
tanaman perkebunan, di antaranya industri minyak goreng, industri ban, sarung
tangan, tekstil, biofuel, rokok, minuman dan kosmetik (Suwanto, 2010).
Berikut ini merupakan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik
Indonesia mengenai luas lahan tanaman perkebunan yang ada di Indonesia yang
di klasifikasikan menurut jenis tanaman perkebunan yang dibudidayakan di
Indonesia.
Luas Tanaman Perkebunan Besar Menurut Jenis Tanaman, Indonesia (000 Ha),
1995 - 2013**
Tahun Karet 1) Kelapa Coklat 1) Kopi 1) Teh 1) Kina 1) Tebu 2) Temba
Sawit 1) kau 2)
1995 471,9 992,4 125,4 49,3 81,0 4,6 496,9 9,1
1996 538,3 1146,3 129,6 46,7 88,8 2,2 400,0 4,3
1997 557,9 2109,1 146,3 61,8 89,3 2,3 378,1 4,5
1998 549,0 2669,7 151,3 62,5 91,2 0,6 405,4 5,7
1999 545,0 2860,8 154,6 63,2 91,6 1,3 391,1 5,2
2000 549,0 2991,3 157,8 63,2 90,0 1,3 388,5 5,2
2001 506,6 3152,4 158,6 62,5 83,3 1,2 393,9 5,3
2002 492,9 3258,6 145,8 58,2 84,4 1,2 375,2 5,4
2003 517,6 3429,2 145,7 57,4 83,3 3,3 340,3 5,2
2004 514,4 3496,7 87,7 52,6 83,3 3,2 344,8 3,3
2005 512,4 3593,4 85,9 52,9 81,7 3,1 381,8 4,8
2006 513,2 3748,5 101,2 53,6 78,4 3,1 396,4 5,1
2007 514,0 4101,7 106,5 52,5 77,6 3,0 427,8 5,8
2008 515,8 4451,8 98,4 58,3 78,9 3,0 436,5 4,6
2009 482,7 4888,0 95,3 48,7 66,9 3,0 422,9 4,2
2010 496,7 5161,6 92,2 47,6 66,3 3,0 436,6 3,4
2011 523,1 5349,8 94,3 48,7 66,5 3,0 192,5 2,9
2012* 527,3 5456,5 94,4 48,7 65,5 3,1 198,8 2,9
2013** 528,6 5592,0 94,6 48,8 66,0 3,2 236,9 2,9
Catatan:
*): angka sementara
**): angka sangat sementara
(BPS, 2014)

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh
dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan
ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta
bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina
tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta. Pada tahun
1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada
tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya
penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung
(Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson,
seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Pada
tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu
tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stelsel)
(Sosro, 2010).
Produksi teh nasional selama bertahun-tahun cenderung menurun.
Penurunan ini juga dikarenakan perkebunan teh rakyat yang semakin ramping.
Saat ini luas kebun teh hanya 120 ribu hektare (ha) yang dikekolah swasta, rakyat
dan negara. Dengan luas tersebut, setiap tahun Indonesia hanya mampu
memproduksi teh kering tak lebih dari 150 ribu ton saja. Negara lain mulai
mengejar Indonesia sebagai salah satu pemain teh kelas dunia. Dua negara yang
harus diwaspadai yaitu Srilangka dan India. Kedua negara tersebut telah
melakukan langkah revitalisasi guna menghasilkan teh yang memiliki daya saing.
Indonesia mampu mengekspor 80 ribu ton teh setiap tahunnya. Meskipun cukup
besar, angka ini patut diwaspaddai mengingat impor teh yang menunjukkan
peningkatan menjadi lebih dari 20 ribu ton pertahun (Fauziah, 2013).
Dari tahun 1970 sampai dengan tahun 2000, areal perkebunan teh
Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejalan dengan pertambahan luas areal,
produksi teh Nasional juga mengalami peningkatan secara proporsional. Baik
perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta, maupun perkebunan besar milik
negara. Namun, sesudah tahun 2000, terjadi keadaan yang sebaliknya, yaitu
terjadi kecenderungan penciutan/penurunan luas areal perkebunan teh, rata-rata
terjadi pengurangan sekitar 3000 hektar per tahun. Penciutan terutama terjadi
pada perkebunan teh rakyat, namun juga dialami oleh perkebunan besar. Dengan
demikian produksi teh nasional juga mengalami penurunan secara proporsional
terhadap luas areal yang ada. Pada gilirannya, ekspor teh Indonesia juga
mengalami penurunan dalam hal volume ekspornya. Posisi Indonesia mengalami
penurunan peringkat 2 tingkat, sedangkan Turki dan Vietnam yang semula berada
di bawah Indonesia, sekarang volume ekspornya sudah melampaui Indonesia
(Dewan Teh Indonesia, 2013).
Komposisi kimia daun teh segar sangat berpengaruh terhadap mutu teh
yang dihasilkan. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan di Jepang dan
Rusia ada beberapa nilai nutrisi dan manfaat yang dapat diperoleh dari teh
terutama teh hijau dan teh hitam.Karena daun teh mengandung beberapa zat kimia
yang dapat digolongkan menjadi 4 . Keempat golongan itu adalah : substansi
fenol (katekin, flanavol), bukan fenol (karbohidrat, pektin, alkaloid, protein,asam
amino, klorofil, asam organik), senyawa aromatis, dan enzim.Secara rinciannya
kandungan tersebut yaitu:
1. Zat yang tidak larut dalam air yaitu Protein (16%), Lemak (8%), Klorofil dan
pigmen lain (1,5%), pektin (4%), Pati (0,5 %), serat kasar,selulosa, lignin, dll
(22%).
2. Zat yang larut dalam air yaitu polifenol yang dapat difermentasi (20%),
polifenol lain (10%), kafein (theine)(4%).
Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI tahun 981, dalam 100
graam daun teh terkandung bahan-bahan antara lain kalori 132, lemak 0,7 g,
kasium 717 mg, besi 11,8mg, vitamin B 0,01 mg, air 7,6 g, protein 19,5 g,
karbohidrat 67,8 g, fosfor 265 mg, Vitamin A 2.095 SI, Vitamin C 300 mg
(Deptan, 2004).

1.2 Identifikasi Masalah


1. Bagaimana teknik budidaya tanaman teh di Indonesia?
2. Bagaimana komposisi produk teh Indonesia yang memenuhi standar ekspor di
pasar dunia?
3. Bagaimana strategi pengembangan untuk daya saing ekspor teh di pasar dunia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman teh di Indonesia
2. Untuk mengetahui komposisi produk teh Indonesia yang memenuhi standar
ekspor di pasar dunia
3. Untuk mengetahui strategi pengembangan untuk daya saing ekspor teh di pasar
dunia

1.4 Manfaat
1. Diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dari petani perkebunan teh
2. Diharapkan menjadi referensi bagi penneliti selanjutnya
3. Diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan
Daftar Pustaka

Bimbie. 2013. Kegiatan Agraris di Indonesia yang Paling Menguntungkan.


[Serial Online]. http://www.bimbie.com/kegiatan-ekonomi-agraris.htm.
19 Maret 2014.
Soetriono, A. Suwandari, dan Rijanto. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Malang:
Bayumedia.
Suwanto, dan Y. Octavianty. 2010. Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan.
Jakarta: Penebar Swadaya.
BPS. 2014. Luas Lahan Perkebunan di Indonesia. [Serial Online].
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=54
. 19 Maret 2014.
Sosro. 2010. Sejarah Teh Indonesia. [Serial Online].
http://www.sosro.com/sejarah-teh-indonesia.php. 19 Maret 2014.
Fauziah, Meiliani, dan N. Zuraya. 2013. Produksi dan Kualitas Teh Indonesia
Dibenahi. [Serial Online].
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/ritel/13/11/26/mwv4mb-
produksi-dan-kualitas-teh-indonesia-dibenahi. 19 Maret 2014.
Dewan Teh Indonesia. 2013. Areal dan Prosuksi Teh Indonesia. [Serial Online].
http://indoteaboard.org/z1/?page_id=122. 19 Maret 2014.
Departemen Pertanian. 2004. Kandungan dan Manfaat Teh untuk Kesehatan
Tubuh. [Serial Online]. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/kandungan-
dan-manfaat-teh-untuk-kesehatan-tubuh. 19 Maret 2014.