Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pada tahun 1940 untuk pertama kali diperkenalkan obat antihistami. Sejak itu
secara luas digunakan dalam pengobatan simtomatik penyakit alergi.Pada umumnya
antihistamin yang beredar di Indonesia mempunyai spektrum luas artinya mempunyai
efek lain seperti antikolinergik, anti serotonin, antibradikinin dan alfa adrenoreseptor
bloker. Golongan obat ini disebut antihistamin (AH1) klasik. Penderita yang
mendapat obat AH1 klasik akan menimbulkan efek samping,mengantuk, kadang-
kadang timbul rasa gelisah, gugup dan mengalami gangguan koordinasi. Efek
samping ini sering menghambat aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan masalah bila
obat antihistamin ini digunakan dalam jangka panjang.Dekade ini muncul
antihistamin baru yang digolongkan ke dalam kelompok AH1 sedatif yang tidak
bersifat sedasi, yang memberikan harapan cerah.
I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi obat
2. Untuk mengetahui manfaat dari antihistamin serta macam-macam
antihistamin yang digunakan untuk mengatasi penyakit alergi dan juga untuk
mengetahui efek samping yang ditimbulkan oleh obat antihistamin supaya
antihistamin tidak disalahgunakan.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 PENGERTIAN

II.1.1 Antihistamin

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek


histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor – histamine (penghambatan
saingan). Pada awalnya hanya dikenal satu tipe antihistaminikum, tetapi setelah
ditemukannya jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang disebut reseptor-H2, maka
secara farmakologi reseptor histamin dapat dibagi dalam dua tipe, yaitu reseptor-H1
dan reseptor-H2. Berdasarkan penemuan ini, antihistamin juga dapat dibagi dalam
dua kelompok, yakni antagonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1-blockers atau
antihistaminika) dan antagonis reseptor H2 ( H2-blockers atau zat penghambat-asam.
Histamin (2-[4-imidazolyl]ethylamine) pertama kali ditemukan pada tahun
1910 oleh Dale dan Laidlaw dan diidentifikasi sebagai perantara reaksi anafilaktik
pada tahun 1932. Histamin merupakan protein penting yang ikut serta dalam banyak
reaksi alergi.
Senyawa ini disintesis di sel mast, basofil, trombosit, neuron histaminergik,
dan sel enterokromafin, di mana disimpan di dalam bentuk vesikel di dalam sel yang
dilepaskan jika ada stimulasi. Stimulasi dapat berupa alergen spesifik, stimulus non-
imunologi lain (seperti : neuropeptida, faktor komplemen), sitokin, hiperosmolaritas,
lipoprotein, adenosine, superoksidase, hipoksia, faktor kimia dan fisik (seperti :
trauma, temperatur ekstrem), alkohol, atau beberapa makanan dan minuman.
Pada kadar normal, histamin merupakan neurotransmiter yang diproduksi
tubuh pada keadaan reaksi alergi, di mana gejala yang paling nyata adalah adanya
iritasi pada kulit, hidung, tenggorokan, dan paru – paru (gatal, kemerahan, bengkak,
batuk) sebagai respon dari berbagai macam alergen ; gigitan serangga ; bahan – bahan
oles yang menimbulkan iritasi ; debu ; dan makanan. Reaksi ini merupakan bagian
dari respon inflamasi (radang), yang merupakan bagian penting dari respon sistem
kekebalan tubuh. Fungsi lain dari histamin adalah mengatur fungsi normal dari
saluran pencernaan dengan mengatur sekresi asam lambung, membantu untuk
meregulasi tidur, dan respon seksual.
II.2.2 Alergi
Alergi adalah suatu perubahan daya reaksi tubuh terhadap kontak pada suatu
zat (alergen) yang memberi reaksi terbentuknya antigen dan antibodi. Namun,
sebagian besar para pakar lebih suka menggunakan istilah alergi dalam kaitannya
dengan respon imun berlebihan yang menimbulkan penyakit atau yang disebut reaksi
hipersensitivitas. Hal ini bergantung pada berbagai keadaan, termasuk pemaparan
antigen, predisposisi genetik, kecenderungan untuk membentuk IgE dan faktor-faktor
lain, misalnya adanya infeksi saluran nafas bagian atas, infeksi virus, penurunan
jumlah sel T-supresor dan defisensi IgA.
Secara umum penyakit alergi digolongkan dalam beberapa golongan, yaitu:
1. Alergi atopik : reaksi hipersensitivitas I pada individu yang secara genetik
menunjukkan kepekaan terhadap alergen dengan memproduksi IgE secara
berlebihan.
2. Alergi obat : reaksi imunologi yang berlebihan atau tidak tepat terhadap obat
tertentu.
3. Dermatitiskontak : reaksi hipersensitivitas IV yang disebabkan oleh zat
kimia, atau substansi lain misalnya kosmetik, makanan, dan lain-lain.

Manifestasi klinik alergi paling sering tampak melalui 3 organ sasaran, yaitu
saluran nafas, gastrointestinal dan kulit.
Ada beberapa jenis penyebab alergi yaitu :
1. Defisiensi limfosit T yang mengakibatkan kelebihan IgE.
2. Kelainan pada mekanisme umpan balik mediator.
3. Faktor genetik.
4. Faktor lingkungan : debu, tepung sari, tungau, bulu binatang, berbagai jenis
makanan dan zat lain.
Patofisiologi

Gejala alergi timbul apabila reagin atau IgE yang melekat pada permukaan
mastosit atau basophil bereaksi dengan alergen yang sesuai. Interaksi antara alergen
dengan IgE yang menyebabkan ikat-silang antara 2 reseptor-Fc mengakibatkan
degranulasi sel dan penglepasan substansi-substansi tertentu misalnya histamin,
vasoactive amine, prostaglandin, tromboksan, bradikinin. Degranulasi dapat terjadi
kalau terbentuk ikat-silang akibat reaksi antara IgE pada permukaan sel dengan anti-
IgE.

Histamin melebarkan dan meningkatkan permeabilitas vaskular serta


merangsang kontraksi otot polos dan kelenjar eksokrin. Di saluran nafas, histamin
merangsang kontraksi otot polos sehingga menyebabkan penyempitan saluran nafas
dan menyebabkan membran saluran nafas membengkak serta merangsang ekskresi
lendir pekat secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan saluran nafas tersumbat,
sehingga terjadi asma, sedangkan pada kulit, histamin menimbulkan benjolan
(urtikaria) yang berwarna merah (eritema) dan gatal karena peningkatan permeabilitas
pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah. Pada gastrointestinal, histamine
menimbulkan reflek muntah dan diare.
II.2 PENGGOLONGAN ANTIHISTAMIN
1. ANTAGONIS RESEPTOR H1 (AH1)
 Pengolongan antihistamin (AH1)
Mengantagonir histamin dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin
dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung kemih dan rahim.
Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare
reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan
timbulnya reaksi alergi Dahulu antihistamin dibagi secara kimiawi dalam 7-8
kelompok, tetapi kini digunakan penggolongan dalam 3 kelompok atas dasar
kerjanya terhadap SSP, yakni zat-zat generasi ke-1, ke-2 dan ke-3
a. Antihistamin ( AH1) Generasi Pertama : prometazin, oksomemazin,
tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil),
siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin,
hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset). Obat-obat
ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek
antikolinergis.
b. Antihistamin ( AH1) Generasi Kedua : astemizol, terfenadin, dan
fexofenadin, akrivastin (Semprex), setirizin, loratidin, levokabastin
(Livocab) dan emedastin (Emadin). Zat- zat ini bersifat khasiat
antihistamin hidrofil dan sukar mencapai CCS (Cairan
Cerebrospinal),. maka pada dosis terapeutis tidak bekerja sedative.
Keuntungan lainnya adalah plasma t⅟2-nya yang lebih panjang,
sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. Efek anti-alerginya
selain berdasarkan, juga berkat dayanya menghambat sintesis
mediator-radang, seperti prostaglandin, leukotrin dan kinin.
c. Antihistamin ( AH1) Generasi Ketiga Fexofenadine, Desloratadine
 Farmakokinetik.
Setelah pemberian oral atau parenteral, antihistamin H1 diabsorpsi
secara baik. Pemberian antihistamin H1 secara oral efeknya timbul 15-30
menit dan maksimal setelah 1-2 jam, mencapai konsentrasi puncak plasma
rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%.
Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak,
otot, dan kulit kadarnya lebih rendah. Sebagian besar antihistamin H1
dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system,
tetapi dapat juga melalui paru-paru dan ginjal. Konsentrasi plasma yang relatif
rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi
efek lintas pertama oleh hati. Antihistamin AH1 dieksresi melalui urin setelah
24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya
 Farmakodinamik.
Antagonisme terhadap histamin. H1 menghambat efek histamin
pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam – macam otot polos, setelah itu
AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensivitas atau keadaan lain
yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan.
Otot polos. Secara umum AH1 efektif menghambat kerja histamin pada otot
polos, usus dan bronkus.Bronkokonstriksi akibat histamin dapat dihambat
oleh AH1 pada percobaan dengan marmot
Permeabilitas kapiler. Peninggian permeabilitas kapiler dan adema akibat
histamin, dapat dihambat dengan efektif oleh AH1.
Reaksi anafilaksis dan alergi: reaksi anafilaksis dan beberapa reaksi alergi
refrakter terhadap pemberian AH1, karena disini bukan histamine saja yang
berperan tetapi autakoid lain juga dilepaskan. Efektivitas AH1 melawan reaksi
hipersensitivitas berbeda-beda, tergantung beratnya gejala akibat histamin.
Kelenjar eksokrin: efek perangsangan histamine terhadap sekresi cairan
lambung tidak dapat dihambat oleh AH1. AH1 dapat menghambat sekresi
saliva dan sekresi kelenjar eksokrin lain akibat histamin.
 Mekanisme kerja.
Beberapa jenis AH1 golongan baru dan ketotifen dapat menstabilkan
sel mast sehingga dapat mencegah pelepasan histamin dan mediator kimia
lainnya; juga ada yang menunjukkan penghambatan terhadap ekspresi
molekul adhesi (ICAM-1) dan penghambatan adhesi antara eosinofil dan
neutrofil pada sel endotel. Oleh karena dapat mencegah pelepasan mediator
kimia dari sel mast, maka ketotifen dan beberapa jenis AH1 generasi baru
dapat digunakan sebagai terapi profilaksis yang lebih kuat untuk reaksi alergi
yang bersifat kronik.
 Efek samping.
Pada dosis terapi, semua antihistamin H1 menimbulkan efek samping
walaupun jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang bila pengobatan
diteruskan. Terdapat variasi yang besar dalam toleransi obat antar individu,
kadang-kadang efek samping ini sangat mengganggu sehingga terapi perlu
dihentikan.
Contoh obat;
 Difenhindramin HCl
 Farmakokinetika.
Diphenhydramine merupakan amine stabil dan cepat diserap
pada pemberian secara oral, dengan konsentrasi darah puncak terjadi
pada 2-4 jam. Di dalam tubuh dapat terdistribusi meluas dan dapat
dengan segera memasuki system pusat saraf, sehingga dapat
menimbulkan efek sedasi dengan onset maksimum 1-3 jam.
Diphenhydramine memiliki waktu kerja/durasi selama 4-7 jam. Obat
tersebut memiliki waktu paruh eliminasi 2-8 jam dan 13,5 jam pada
pasien geriatri. Bioavailabilitas pada pemakaian oral mencapai 40%-
60% dan sekitar 78% terikat pada protein. Sebagian besar obat ini
dimetabolisme dalam hati dan mengalami first-pass efect, namun
beberapa dimetabolisme dalam paru-paru dan system ginjal, kemudian
diekskresikan lewat urin.
 Farmakodinamika.
Difenhidramin ini memblokir aksi histamin, yaitu suatu zat
dalam tubuh yang menyebabkan gejala alergi. Difenhidramin
menghambat pelepasan histamin (H1) dan asetilkolin (menghilangkan
ingus saat flu). Hal ini memberi efek seperti peningkatan kontraksi
otot polos vaskular, sehingga mengurangi kemerahan, hipertermia dan
edema yang terjadi selama reaksi peradangan. Difenhidramin
menghalangi reseptor H1 pada perifer nociceptors sehingga
mengurangi sensitisasi dan akibatnya dapat mengurangi gatal yang
berhubungan dengan reaksi alergi. Memberikan respon yang
menyebabkan efek fisiologis primer atau sekunder atau kedua-duanya.
Efek primer untuk mengatasi gejala-gejala alergi dan penekanan
susunan saraf pusat (efek sekunder).
 Mekanisme kerja.
Kerja antihistaminika H1 akan meniadakan secara kompetitif
kerja histamin pada reseptor H1, dan tidak mempengaruhi histamin
yang ditimbulkan akibat kerja pada reseptor H2. Reseptor H1 terdapat
di saluran pencernaan, pembuluh darah, dan saluran pernapasan.
Difenhidramin bekerja sebagai agen antikolinergik (memblok jalannya
impuls-impuls yang melalui saraf parasimpatik), spasmolitik,
anestetika lokal dan mempunyai efek sedatif terhadap sistem saraf
pusat.
 Efek samping.
pusing, mengantuk, mulut kering
 Dimenhidrinat
 Farmakokinetik :
Absorbsi. Diabsobsi dengan baik setelah pemberian oral.
Distribusi. Didistribusi tidak diketahui, kemungkinan menembus
plasenta dan menembusi ASI.
rMetabilisme dan ekskresi. Dimetabolisme dihati.
 Mekanisme kerja
Menghambat stimulasi vestibular, mula-mula bekerja pada
sistem otolith, dan pada dosis yang lebih besar bekerja pada kanal
semisirkular; menghambat asetilkolin
 Efek samping
Umum:mengantuk, sakit kepala, pandangan kabur, telinga
berdenging, mulut dan saluran pernapasan kering, inkoordinasi,
palpitasi, pusing, hipotensi. Kurang umum:anoreksia, konstipasi, diare,
frekuensi urin, dan disuria. Rasa sakit dapat terjadi pada tempat
injeksi.
 Interaksi obat.
Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek obat-obat penekan
SSP, meningkatkan efek obat-obat antikolinergik (seperti antidepresi
trisiklik), menutupi gejala awal ototoksisitas bila
2. ANTAGONIS RESEPTOR H2 (AH2)
Reseptor histamin H2 berperan dalam efek histamin terhadap sekresi
cairan lambung, perangsangan jantung. Beberapa jaringan seperti otot polos
pembuluh darah mempunyai kedua reseptor yaitu H1 dan H2.
Sejak tahun 1978 di Amerika Serikat telah diteliti peran potensial
antihistamin H2 cimetidine untuk penyakit kulit. Pada tahun 1983, ranitidine
ditemukan pula sebagai antihistamin H2. Baik simetidin maupun raditidin
diberikan dalam bentuk oral untuk mengobati penyakit kulit. Kedua obat
tersedia dalam bentuk injeksi intramuskular dan intravena.
Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah
meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2
(antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung,
serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit
refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina,
ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.
 SIMETIDIN DAN RETIDIN
 Farmakodinamik
Simetidin dan ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif
dan reversibel. Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi
cairan lambung, sehingga pada pemberian simetidin atau ranitidin
sekresi cairan lambung dihambat.
 Farmakokinetik
Bioavaibilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah
pemberian IV atau IM. Ikatan protein plasmanya hanya 20%. Absorpsi
simetidin diperlambat oleh makanan. Absorpsi simetidin terutama
terjadi pada menit ke 60-90. Simetidin masuk ke dalam SSP dan
kadarnya dalam cairan spinal 10-20% dari kadar serum. Sekitar 50-
80% dari dosis IV dan 40% dari dosis oral simetidin dieksresi dalam
bentuk asam dalam urin. Masa paruh eliminasinya sekitar 2 jam.
Bioavaibilitas ranitidin yang diberikan secara oral sekitar 50%
dan meningkat pada pasien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7-
3 jam pada orang dewasa, dan memanjang pada orangtua dan pada
pasien gagal ginjal. Pada pasien penyakit hati masa paruh ranitidin
juga memanjang meskipun tidak sebesar pada gagal ginjal. Kadar
puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah penggunaan 150 mg
ranitidin secara oral, dan yang terikat protein plasma hanya 15%.
Ranitidin mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam jumlah
cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidin dan metabolitnya
dieksresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Sekitar 70%
dari ranitidin yang diberikan IV dan 30% dari yang diberikan secara
oral dieksresi dalam urin dalam bentuk asal.
 Mekanisme kerja
Walaupun simetidin dan ranitidin berfungsi sama yaitu
menghambat reseptor H2, namun ranitidin lebih poten. Simetidin juga
menghambat histamin N-methyl transferase, suatu enzim yang
berperan dalam degrasi histamin. Tidak seperti ranitidin, simetidin
menunjukkan aktivitas antiandrogen, suatu efek yang diketahui tidak
berhubungan dengan kemampuan menghambat reseptor H2. Aktivitas
antiandrogen didapatkan dari inhibisi kompetitif dyhidrotestosterone
pada reseptor androgen perifer.
Simetidin tampak meningkatkan sistem imun dengan
menghambat aktivitas sel T supresor. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh blokade reseptor H2 yang dapat dilihat dari supresor limfosit T.
Imunitas humoral dan sel dapat dipengaruhi.
 Efek Samping
Insiden efek samping kedua obat ini rendah dan umumnya
berhubungan dengan penghambatan terhadap reseptor H2, beberapa
efek samping lain tidak berhubungan dengan penghambatan reseptor.
Efek samping ini antara lain : Nyeri kepala, pusing, mual, dan diare.
 Interaksi obat.
Anatasid dan metoklopremid mengurangi biovailabilitas oral
semakin sebanyak 20-30%. Interaksi ini memungkinkan tidak
bermakna secara klinis, akan tetapi dianjurkan selang waktu minimal 1
jam antara penggunaan antasid atau metoklopremid dan simetidin oral
 FAMOTIDIN
 Farmakodinamik.
Seperti halnya dengan simetidin dan ranitidin. Famotidin
merupakan AH2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung
pada keadaan basal, malam dan akibat distimulasi oleh pentagastrin.
Famotidin tiga kali lebih potan dari pada renitidin dan 20 kali lebih
poten daripada simetidin.
 Farmakokinetik.
Femotidin mencapai kadar puncak di plasma kira – kira dalam
2 jam setelah penggunaan secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam
dan viovailabilitas 40-50%. Metabolit utama adalah femotidin-S-
oksida. Setelah dosis oral tunggal, sekitar 25% dari dosis ditemukan
dalam bentuk asal di urin. Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh
eliminasi dapat melebihi 20 jam.
 Efek samping.
Efek samping femotidin biasanya ringan dan jarang terjadi,
misalnya sakit kepala, pusing, konstipasi dan diare. Seperti halnya
dengan ranitidin famotidin nampaknya lebih baik dari simetidin karena
tidak menimbulkan efek antiandrogenik.
 Interaksi obat
Fenotidin tidak mengganggu oksidasi diazepam, teofilin,
warfarin, atau fenitoin di hati. Ketakonazot membutuhkan pH asam
untuk bekerja sehingga kurang efektif bila diberikan bersama AH2.
 NIZATIDIN
 Farmakodinamik.
Potensi nizatidin dalam menghambat sekresi asam lambung
kurang. Lebih sama dengan ranitidin.
 Farmakokinetik
Biovailabilitas oral nizatidin lebih dari 90% dan tidak di
pengaruhi oleh makanan atau antikolinergik. Kirens menurun pada
pasien uremik dan usia lanjut.
Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1
jam, masa paruh plasma sekitar 11/2 jam dan lama kerja sampai dengan
10 jam. Nizatidin di sekresi terutama melalui ginjal 90% dari dosis
yang digunakan ditemukan di urin dalam 16 jam.

 Efek samping.
Nizatidin umumnya jarang menimbulkan efek samping. Efek samping
ringan saluran cerna dapat terjadi. Peningkatan kadar asam urat dan
transminase serum ditemukan pada beberapa pasien yang nampaknya
tidak menimbulkan gejala klinik yang bermakna. Seperti halnya
dengan AH2 lainnya, potensi nizatidin untuk menimbulkan
hepatotoksisitas rendah . nizatidin tidak mempunyai efek
antiandrogenik. Nizatidin dapat menghambat alcohol dehidrogenase
pada mukosa lambung dan menyebabkan kadar alcohol yang lebih
tinggi dalam kadar serum. Nizatidin tidak menghambat system P450.
Pada sukarelawan sehat tidak dilaporkan terjadinya interkasi obat bila
nizatidin diberikan bersama teofilin, lidokain, warfarin,
klordiazepoksid, diazepam, atau lorazepam. Penggunanan bersama
antacid tidak menurunkan absorbs nizatidin secara bermakna.
Ketokonazol yang membutuhkan pH asam menjadi kurang efektif bila
pH lambung lebih tinggi pada pasien yang mendapat AH2.

3. ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H3


Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat
kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit
Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
 Mekanisme aksi histamin pada H 3 reseptor .
Berbeda dengan H 1 dan H 2 reseptor yang memiliki tindakan terutama
perifer, tetapi menyebabkan sedasi jika mereka diblokir di otak, H 3 reseptor terutama
ditemukan di otak dan autoreseptor hambat terletak di terminal saraf histaminergic,
yang memodulasi pelepasan histamin . Pelepasan histamin dalam otak memicu
pelepasan sekunder neurotransmitter rangsang seperti glutamat dan asetilkolin
melalui stimulasi H 1 reseptor di korteks serebral . Akibatnya, tidak seperti H 1
antagonis antihistamin yang menenangkan, H 3 antagonis memiliki stimulan dan
nootropic efek, dan sedang diteliti sebagai obat potensial untuk pengobatan kondisi
neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer . reseptor h3 terdapat di korteks serebri
dan otot polos bronkus di kulit juga terdapat reseptor h3 yang merupakan
autoreseptor, mengatur pelepasan Dan sintesis histamine
Contoh obat selektif H3 antagonis antara lain
yaitu clobenpropit ciproxifan, conessine, dan pitolisant, thiopiramide dan
clobenpropit.
4. ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H4
Antihistamin H4 Dijumpai pada sel-sel inflammatory (eusinofil, neutrofil,
mononukleosit) yang diduga terlibat dalam alergi bersinergi dengan reseptor H1.
Antihistamin ini masih merupakan target baru obat anti inflamasi alergi karena
dengan penghambatan reseptor H4 maka dapat mengobati alergi dan asma (sama
dengan reseptor H1).yang juga memiliki khasiat sebagai imunomodulator, sedang
diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah
tioperamida.
Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah
obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya
ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu
mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga
mencegah degranulasinya.
A. PEMILIHAN SEDIAAN
Banyak golongan AH1 yang digunakan dalam terapi tetapi efektivitasnya
tidak banyak berbeda, perbedaan antara jenis obat hanya dalam hal potensi, dosis,
efek samping dan jenis sediaan yang ada. Sebaiknya dipilih AH1 yang efek terapinya
lebih besar dengan efek samping seminimal mungkin, tetapi belum ada AH1 yang
ideal seperti ini. Selain ditentukan berdasarkan potensi terapeutik dan beratnya efek
samping pemilihan sediaan perlu dipertimbangkan berdasarkan adanya variasi antar
individu. Karena itu perlu dicoba dan diperhatikan efek yang menguntungkan dan
efek samping apa yang timbul akibat pemberian AH1.
Untuk pegangan dalam terapi, disajikan penggolongan AH1 dengan lama
kerja. Walaupun antagonis reseptor H2 lebih kuat menghambat sekresi asam lambung
daripada terapi intensif dengan antasida pada pasien esofagitis refluks, tukak
lambung, tukak duodeni atau pencegahan tukak lambung akibat stress. Antagonis
reseptor H2 disediakan sebagai obat alternatif untuk pasien yang tidak memberikan
respons baik terhadap pengobatan antasida jangka panjang.

BAB III
KESIMPULAN
Cara kerja antihistamin telah diketahui dengan jelas yaitu menghambat histamin
pada reseptor-reseptornya. Berdasarkan reseptor yang dihambat, histamin dibagi
menjadi antagonis reseptor H1, reseptor H2, dan reseptor H3. Penghambat reseptor
H1 digunakan pada terapi alergi yang diperantai IgE. Obat-obatan tersebut telah
tersedia tetapi penggunaan generasi antihistamin pertama (klorfeniramin,
bomfeniramin, difenhidramin, klemastin, hidroksizin) terbatas, karena adanya efek
samping sedasi primer dan menyebabkan keringnya membran mukosa. Antihistamin
generasi kedua (loratadin, cetirizin) dan ketiga (feksofenadin, desloratadin) bekerja
menghambat reseptor histamin H1 disamping efek antiinflamasi.
Pemakaian diklinik hendaknya mempertimbangkan cara kerja obat,
farmakokinetik dan farmakodinamik, indikasi dan kontra indikasi, cara pemberian,
serta efek samping obat dan interaksi obat lain. Beberapa antihistamin mempunyai
efek samping yang serius jika dikonsumsi bersamaan dengan obat lain atau
menggunakan antihistamin tanpa alasan yang jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Bertra M,Katzung.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 6. Jakarta : EGC
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2007. Farmakolog dan terapi
edisi 5. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Udin Sjamsudin, Hedi RD. 1995.: Histamin dan Antihistamin dalam Farmakologi
Dan Terapi edisi 4, Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta.