Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anamnesa yang akurat, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang
yang tepat sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Dalam dua dekade
terakhir ini, banyak penelitian-penelitian dilakukan dibidang kedokteran untuk
mendeteksi suatu penyakit melalui biomarker. Biomarker atau penanda
biologis merupakan suatu zat yang digunakan sebagai indikator keadaan
biologis makhluk hidup. Menurut Khashu dkk (2012) biomarker merupakan
suatu molekul yang dapat digunakan untuk memantau status kesehatan,
timbulnya penyakit, respon pengobatan dan hasil perawatan.
Biomarker sering diperoleh dari komponen darah seperti serum atau
plasma. Namun karena hal tersebut menjadi prosedur yang invasif, cairan
tubuh lainnya seperti saliva dan GCF (gingival crevicular fluid) sedang
dipertimbangkan untuk potensi sumber biomarker. Sifat sederhana dan non-
invasif dari pengumpulan saliva dan pengembangan uji sensitivitas yang
tinggi telah menyebabkan saliva biomarker menjadi salah satu biomarker yang
dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit (Khushu dkk, 2012).
Menurut Brooker (2008) saliva sebagai cairan yang disekresikan ke
dalam mulut oleh kelenjar ludah memiliki bermacam-macam komponen yang
terkandung di dalamnya. Setiap komponen dari saliva memiliki kegunaan
masing-masing. Mahasiswa Kedokteran Gigi pada Blok Stomatognathic
System ini akan memperdalam mengenai pemanfaatan saliva biomarker untuk
mendeteksi berbagai macam penyakit.
B. Tujuan
1. Mengetahui definisi saliva
2. Mengetahui komponen yang terkandung di dalam saliva
3. Mengetahui fungsi-fungsi saliva ditinjau dari komposisinya
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi saliva
5. Mengetahui mekanisme produksi saliva
6. Mengetahui penyakit-penyakit yang dapat dideteksi dari biomarker saliva
2

7. Mengetahui penyakit Sjögren’s syndrome


C. Manfaat
Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai saliva, komponen
dan fungsi saliva, faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi saliva serta
mekanisme produksi saliva dalam rongga mulut. Mahasiswa juga memperoleh
pengetahuan mengenai pemanfaatan saliva sebagai biomarker untuk
mendeteksi suatu penyakit, sehingga bermanfaat untuk bekal seorang
mahasiswa kedokteran gigi dalam menjalankan profesinya nanti di
masyarakat.
3

BAB II
ISI

A. Skenario PBL
Saliva is composed of water, organic, inorganic, and macromolecules.
Salivary composition is not constant and related to Circadian cycle. The
concentration of various components of saliva is markedly affected by
variations in flow rate.
It has become apparent that many systemic diseases for examples
Sjögren’s syndrome, affect salivary gland function and salivary composition.
Studies oof the effects of systemic diseases on salivary variables have been
valuable in understanding the pathogenesis of the diseases and the role of
saliva as biomarkers.
Salivary biomarker is an increasingly important. A growing number of
drugs, hormones, and antibodies can be reliably monitored in saliva, which is
an easily obtainable, non-invasive diagnostic medium.. In addition to
measuring antibody, it is possible to identify a number of viral antigens in
saliva.
B. Tutorial 1
1. Step 1 : Clarifying Unfamiliar Item
a. Siklus sirkadian adalah ritme harian.
b. Biomarkers adalah patokan/penanda suatu penyakit, penanda makhluk
hidup sehat/tidak sehat, penanda biologis tubuh dari komponen saliva,
atau patokan untuk melihat pathogenesis.
c. Sjögren’s syndrome adalah suatu penyakit autoimun yang diturunkan
dan dapat menyebabkan xerostomia, berhubungan dengan saliva.
d. Saliva adalah zat yang dihasilkan glandula salivarius yang
berhubungan dengan mastikasi, mengandung enzim amylase, antibody,
bisa berupa serous atau mucus dan sebagai buffer dalam rongga mulut.
e. Viral antigen adalah antigen virus, penanda dari virus (biomarker)
2. Step 2 : Problem Definition
a. Apa saja fungsi dari saliva?
4

b. Apa saja bagian biomarker saliva/komponen biomarker, kandungan


antibody dan makromolekul ?
c. Bagaimana proses awal diproduksinya saliva?
d. Hormon apa saja yang mempengaruhi saliva?
e. Apa saja penyakit sistemik dan penyakit lain yang dapat diidentifikasi
dengan saliva?
3. Step 3 : Brainstorm
a. Fungsi saliva
1) Membantu proses pengunyahan
2) Cleansing
3) Pelumas mukosa pipi dan lidah
4) Menjaga keseimbangan cairan
5) Membantu proses penelanan
6) Sebagai system pertahanan tubuh
7) Membantu proses pencernaan
8) Biomarker
9) Antibacterial
10) Mineralisasi
b. Kandungan Saliva
1) Cairan mucus (diproduksi glandula sublingual), serous
(diproduksi glandula parotid), mucus dan serous (diproduksi
glandula submandibularis).
2) Komponen :
a) Organik : protein, lipid, glukosa, asam ammino
b) Anorganik : kalsium, natrium, bikarbonat, magnesium,
chloride, phospat.
c) Makromolekul : Garam
d) Antibodi : Ig A, Lisozym
e) Enzim : Lipase, amylase
c. Rangsangan / Stimulus :
1) Kimiawi
2) Mekanik
5

3) Psikologis
4) Berbagai indera (penghidu, perasa, pengecap)
d. Hormon yang mempengaruhi produksi saliva :
1) Estrogen, progesterone, prostaglandin, insulin
2) Hormon kehamilan
3) Tergantung stimulus dan irama sirkadian
e. Penyakit yang dapat diidentifikasi dari saliva :
1) Syndrome down (terjadi xerostomia)
2) Diabetes mellitus dan insipidus
3) Hipertensi (tergantung obat-obatan)
4) Parkinson
4. Step 4 : Analyzing The Problems
a. Saliva
1) Keseimbangan : Keseimbangan bakteri flora normal dan
bakteri pathogen dalam rongga mulut
2) Buffer : Asam/basa oleh NaCl
3) Saliva lebih membantu dalam pengunyahan (membasahi partikel
makanan)
4) Sebagai pelumas untuk membantu penelanan
5) Cleansing, pelumas, pencernaan dibantu oleh air
5. Step 5 : Formulating Learning Issue
a. Jelaskan sjögren’s syndrome secara umum !
b. Apa saja komponen-komponen dalam saliva ?
c. Jelaskan fungsi dari saliva beserta analisis komponen yang berperan !
d. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi saliva (beserta
flow rate saliva) ?
e. Jelaskan mekanisme produksi saliva !
f. Penyakit apa saja yang dapat diidentifikasi dengan biomarker saliva ?
6. Step 6 : Self Study

C. Tutorial 2
1. Step 7 : Reporting
a. Sjögren’s syndrome
6

Menurut Dorland (2010) Sjögren’s syndrome adalah suatu


kumpulan gejala-gejala yang kompleks tanpa etiologi yang jelas,
biasanya merupakan manifestasi klinis dari atrithis rheumatoid atau
kadang-kadang Systemic lupus erythematosus (SLE), scleroderma,
atau poliomiositosis yang ditandai dengan trias Sjögren yaitu
konjungtivitis, xerostomia, dan peradangan bronkus. Sindrom ini
biasanya mengenai perempuan di usia pertengahan atau lebih tua.
Menurut Bherman (1999) manifestasi klinis dari Sjögren’s
syndrome antara lain pembesaran kelenjar parotis bilateral atau
unilateral dan tidak nyeri, rasa pengecapan berkurang, cheilitis
angularis, lidah pecah-pecah, karies gigi, disfagia, epistaksis, penyakit
jaringan ikat, otitis kronis, suara serak, mata panas, serta pneumonia,
juga fotofobia. Patofisiologi sindrom ini antara lain adanya infiltrasi
limfosit dan sel plasma kedalam kelenjar ludah dan lakrimalis
kemudian menyebabkan sekresi produk yang dihasilkan oleh kelenjar
tersebut menjadi berkurang.
b. Komponen Saliva
Menurut Guyton dan Hall (2008), saliva yang dihasilkan oleh
kelenjar saliva mayor dan minor berupa serus dan mukus. Kandungan
yang terdapat pada serus kebanyakan air yang terdiri dari protein
enzim, protein non enzim, dan polisakarida yang dihasilkan lebih
sedikit. Kandungan yang terdapat pada mukus kebanyakan musin yang
mengandung banyak polisakarida dan sedikit mengandung protein.
Menurut Anniko (2010), komponen cairan dihasilkan oleh adanya
stimulus saraf parasimpatis dan komponen protein dihasilkan oleh
adanya stimulus saraf simpatis. Menurut Davies (2005), komponen
saliva terdiri dari 99% air dan 1% yang terdiri dari komponen
mikromolekul organik, makromolekul organik, dan elektrolit.
1) Komponen Mikromolekul Organik
Zat-zat yang termasuk dalam mikromolekul organik adalah
glukosa bebas, asam lemak, laktat, dan asam amino.
2) Komponen Makromolekul Organik
7

Zat-zat yang temasuk dalam makromolekul organik adalah protein


yang berupa peroksidase, lysozym, musin, α-amilase, kalikren,
dan laktoperosidase, immunoglobulin berupa IgA, IgG, dan IgM,
serta hormon yang berupa testosteron dan kortisol
3) Elektrolit
Zat-zat yang termasuk dalam elektrolit adalah sodium, Na+, K+,
Ca2+, Mg2+, Cl-, HCO3-, SO42-, HPO4, Rodanida dan Thiosianat,
Flouride, Amonia, Bikarbonat, dan Iodin.
c. Fungsi saliva beserta komponen yang berperan didalamnya
1) Saliva sebagai antibakterial
a) Lisozym
Lisozym berperan untuk membunuh bakteri tertentu dangan
cara melisiskan lipopolisakarida pada dinding sel bakteri
(Hashim, 2010).
b) Laktoperosidase
Laktoperosidase berperan untuk menghambat pertumbuhan
bakteri, dengan mengkatalisis oksidasi CNS (Thiosianat)
menjadi OSCN (Hypothiosianat) yang menghasilkan oksigen
(Almeida, 2008).
c) Mucin
Mucin yang memiliki sifat pekat dapat berperan untuk
mencegah dalam agregrasi dan kolonisasi bakteri (Hashim,
2010).
d) Prolin Rich Protein
Prolin Rich Protein berperan dalam menghambat pertumbuhan
bakteri (Dafies, 2005).
e) Lactoferin
Lactoferin yang dapat mengikat besi berperan untuk mencegah
pengikatan bakteri dengan besi (Dafies, 2005).
f) Immunoglobin
8

Imunoglobulin berupa IgA, IgG, dan IgM sebagai sel aktif dari
sel plasma berperan dalam proses pertahanan humoral tubuh
(Walsh, 2006).
g) Histatin
Histatin yang terkandung di dalam saliva berfungsi untuk
mengganggu permeabilitas membran serta menghambat
pertumbuhan Candida Albicans (Walsh, 2006).
h) Cystatin
Cystatin berperan sebagai pelindung dalam melawan proteolisis
bakteri yang tidak diinginkan (Witt, 2005).
i) Amilase
Amilase yang terkandung dalam saliva berperan untuk
menghambat perlekatan bakteri (Hashim, 2010).
2) Saliva berperan membantu makanan menjadi bolus
a) Mucin
Musin yang memiliki sifat kental dan licin dapat berperan
untuk membasahi makanan dan membantu melembutkan
makanan menjadi bolus (Hashim, 2010).
b) Air
Air yang terkandung dalam saliva berperan untuk membasahi
makanan dalam membentuk bolus (Hashim, 2010).
3) Saliva berperan sebagai buffer
a) Bikarbonat
Bikarbonat (HCO3-) dapat berperan sebagai pengatur pH saliva
terutama saat proses pengunyahan (Walsh, 2006).
b) Fosfat
Fosfat dapat berperan sebagai pengatur pH saliva terutama saat
keadaan istirahat (Walsh, 2006).
4) Saliva berperan dalam proses digesti
a) Amilase
Amilase dapat membantu proses pencernaan karbohidrat
dengan mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi
9

oligosakarida yang kemudian dibantu oleh enzim dan pankreas


(Almeida, 2008).
b) Lipase
Lipase dapat membantu proses pencernaan lemak dengan
mencerna trigliserida. Lipase merupakan enzim yang
diproduksi oleh glandula saliva minor, khususnya kelenjar von
Ebner di bagian posterior (Witt, 2005).
c) Air
Air yang terkandung dalam saliva berperan sebagai pelumas
dan untuk membasahi makanan sehingga dapat membantu
proses bicara dan menelan (Hashim, 2010).
d) Mucin
Mucin yang memiliki sifat pekat dapat berperan sebagai
pelumas makanan yang nantinya berubah menjadi bolus
(Hashim, 2010).
5) Saliva dapat mempertahankan integritas gigi
a) Kalsium dan Fosfat
Kalsium dan Fosfat di dalam saliva dapat berperan dalam
proses remineralisasi gigi (Simanjutak, 2008).
b) Mucin
Mucin yang memiliki sifat kental dan licin dapat berperan
untuk melindungi gigi dari agregasi bakteri (Hashim, 2010).
c) Glikoprotein
Glikoprotein dapat berperan untuk melindungi keausan gigi
(Lawrence, 2002).
6) Saliva dapat membantu proses pembekuan darah
a) Kalikrein
Kalikrein memiliki faktor XII pembekuan darah sehingga dapat
membantu dalam proses pembekuan darah (Hashim, 2010).
7) Saliva dapat membantu proses bicara dan menelan
a) Mucin
10

Mucin yang memiliki sifat pekat dapat berperan sebagai


pelumas rongga mulut sehingga dapat membantu proses bicara
dan menelan (Hashim, 2010).
b) Air
Air yang terkandung didalam saliva dapat berperan sebagai
pelumas dan untuk membasahi makanan sehingga dapat
membantu proses bicara dan menelan (Hashim, 2010).
c) Gustin
Gustin merupakan protein yang berperan dalam pertumbuhan
tastebuds sehingga dapat membantu dalam proses pengecapan
(Rensburg, 1995).
8) Saliva dapat menjaga keseimbangan cairan tubuh dan bakteri
a) Jumlah saliva yang diproduksikan oleh glandula saliva dapat
mewakili jumlah cairan tubuh yang diproduksikan oleh tubulus
ginjal, sehingga kelenjar saliva dapat berperan untuk
mentoleransi keadaan abnormal tubuh. Salah satu caranya
yakni, meresobrsi air dalam saliva sehingga viskositasnya
tinggi dan menyebabkan respon haus bagi tubuh (Walsh, 2006).
b) Saliva dapat berperan dalam menjaga keseimbangan bakteri
flora normal dan bakteri patogen (Lawrence, 2002).
d. Faktor – faktor yang mempengaruhi produksi saliva dan flow rate
saliva
Saliva dapat disekresi baik dengan menggunakan stimulus
maupun tanpa stimulus. Ada beberapa faktor yang dapat memicu
sekresi atau produksi saliva menurut Hashim (2010),yaitu:
1) Faktor mekanis, seperti mengunyah makanan keras atau permen
berpengaruh,serta reaksi pengecapan
2) Faktor kimiawi, faktor ini berhubungan dengan jenis makanan, rasa
baik asam, manis, dan lain – lain
3) Faktor neuronal, merupakan system yang melalui saraf autonom
baik simpatis maupun parasimpatis
11

4) Faktor psikis, merupakan faktor yang berhubungan dengan psikis


seseorang misalnya stress, dimana keadaan stress ini dapat
menghambat produksi saliva, sebaliknya jika kita memikirkan
makanan maka meningkatkan rangsangan terhadap saliva
5) Rangsangan rasa sakit, merupakan stimulasi terhadap saliva karena
adanya rangsangan rasa sakit yang dapat diakibatkan karena
radang, gingivitis, penggunaan protesa, dan lain – lain
Selain faktor – faktor diatas, flow rate saliva juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal , flow rate normal unstimulated
seseorang yaitu berkisar 0,3 ml / menit, sedangkan normal stimulated
berkisar 1,0-3,0 ml/ menit, dan saat tidur dapat turun hingga 0,1 ml/
menit. Pada kondisi unstimulated disebut hiposalivasi apabila nilai
<0,1 ml/menit dan disebut rendah apabila nilai diantara 0,1-0,25
ml/menit, sedangkan pada kondisi stimulated disebut hiposalivasi
apabila nilai <0,7 ml/menit dan disebut rendah apabila nilai diantara
0,7-1,0 ml/menit, dimana menurut Almeida (2008) faktor – faktor yang
mempengaruhi, yaitu:
1) Hidrasi individu, hal ini tergantung pada individu yaitu rasa hidrasi
(haus) pada orang tersebut
2) Postur seseorang, dimana flow rate saliva mengalami perbedaan.
Saat berdiri sekresi saliva dapat mencapai 100 %, saat duduk
sekresi saliva dapat mencapai 69%, dan saat tidur merupakan
keadaan dimana sekresi saliva terendah yaitu 25%.
3) Keadaan gelap juga dapat mempengaruhi flow rate saliva
seseorang, dimana saat keadaan gelap terjadi penurunan sekitar
30% hingga 40%, namun bukan berarti pada orang buta flow rate
salivanya lebih rendah daripada orang normal, penurunan ini
terjadi hanya sebagai proses adaptasi
4) Merokok juga dapat mempengaruhi dari flow rate saliva, dimana
rokok mengandung tembakau yang memiliki efek iritasi dan
meningkatkan sekresi glandula
12

5) Alcohol memiliki pengaruh, dimana ethanol dapat mereduksi dari


stimulasi flow rate saliva secara signifikan
6) Obat juga dapat mempengaruhi dari flow rate saliva itu sendiri,
dimana ada obat yang dapat menurunkan flow rate saliva seperti
obat – obatan terapeutik , dan menstimulasi sekresi saliva dan
meningkatkan flow rate saliva itu sendiri.
7) Disfungsi mastikasi juga dapat mereduksi sekresi saliva, misalnya
adanya maloklusi
8) Diet dan malnutrisi serta puasa juga mengurangi produksi saliva
karena tidak adanya proses pengunyahan yang menstimulus
kelenjar saliva
9) Irama sirkardian juga dapat mempengaruhi flow rate saliva
seseorang, diamana denyut jantung berpengaruh dalam hal ini,
selain itu rasa takut juga dapat menurunkan flow rate saliva
(Supartinah, 2003)
10) Irama sirkannual (musim juga dapat berpengaruh), misalnya saat
musim panas seseorang mengalami dehidrasi sehingga flow rate
menurun sebagai bentuk keseimbangan tubuh, dan sebaliknya saat
musim dingin
e. Mekanisme produksi saliva
1) Rangsangan stimulus
Stimulus berupa pikiran, penglihatan, penciuman, dan
pengecapan dapat merangsang pengeluaran saliva. Namun,
stimulus yang paling dominan adalah stimulus dari pengecapan.
Proses pengolahan stimulus dimulai ketika saraf sensori, CN VII
(Fasial) dan CN IX (glosofaring), menerima stimulus kemudian
disampaikan menuju saraf pusat. Saraf pusat akan menghantarkan
kembali stimulus menuju saraf simpatis dan parasimpatis. Saraf
simpatis akan bekerja melepaskan noradrenalin untuk meregulasi
sekresi komponen saliva. Saraf parasimpatis akan melepaskan
asetilkolin menuju permukaan sel asinus glandula saliva untuk
meregulasi sekresi dari cairan saliva, selain itu, stimulus akan
13

diteruskan menuju saraf motorik CN VII untuk glandula


submandibular dan sublingual, serta CN IX untuk glandula parotid
(Smith, 2004).
2) Produksi saliva setelah stimulus
Stimulus yang telah mencapai glandula saliva akan
merangsang glandula untuk mensekresikan saliva. Di dalam
glandula terdapat banyak elektrolit berupa kalsium dan klorida,
sedangkan di sekitar glandula terdapat elektrolit berupa kalium,
natrium, dan sedikit klorida. Karena adanya rangsangan, maka
akan terjadi pertukaran elektrolit secara transport aktif antara
elektrolit yang berada dalam glandula dengan elektrolit yang
berada di luar glandula. Transport aktif memicu pertukaran ion
natrium dan klorida, sehingga suasana dalam glandula menjadi
hipertonis. Keadaan hipertonis tersebut akan memicu cairan tubuh
masuk ke lumen glandula secara osmosis. Setelah cairan tubuh
memasuki glandula saliva dan bercampur dengan komponen saliva
lainnya, maka didapatkan saliva primer yang akan mengalir
menuju duktus saliva (Smith, 2004).
Saliva primer dari glandula yang dialirkan menuju duktus
akan mengalami penambahan dan pemisahan komponen dari
darah. Dalam duktus striatus, akan terjadi penambahan bikarbonat
yang didapat dari darah, yang kemudian akan disekresikan bersama
saliva. Selain itu, di dalam duktus, natrium dan kalium akan
direabsorbsi kembali. Hasil dari penambahan dan reabsorbsi dalam
duktus saliva tersebut akan keluar menuju rongga mulut, disebut
sebagai saliva fungsional (Smith, 2004).
f. Penyakit yang dapat diidentifikasi dengan biomarker saliva
Berdasarkan Rensberg (1995) penyakit yang dapt diidentifikasi
dengan biomarker saliva, antara lain :
1) Autoimun
a) Sjögren’s syndrome
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
14

(1) Kadar serum sitokin dengan melihat adanya kenaikan IL-2


dan IL-6.
(2) Protein dengan melihat kenaikan lactoferin, beta 2
mikrobulin, lisozim C, dan cystatin C, serta penurunan
amilase.
(3) Kadar Protein dan Na+ yang meningkat pada parotis
sedangkan ion K+ dan fosfat tidak berubah.
2) Tumor atau Kanker
a) Kanker Payudara
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
(1) Ditemukan kadar protein yang berupa HER-21 NEU yang
mengalami kenaikan, faktor pertumbuhan epidermal juga
mengalami kenaikan.
b) Karsinoma Sel Skuamosa
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
a.) Kadar protein P53 meningkat.
c) Tumor Ganas
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
a.) Kadar Kalikrein yang meningkat.
d) Kanker Paru
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
a.) Jaringan epitel pada saliva atau kadar nitrat pada salliva
meningkat sehingga menjadi tumor karsinoma pada saluran
pencernaan seperti lambung dan hati.
3) Penyakit Kardiovaskular
a) Hipertensi
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
(1) Penurunan kadar enzim α-amilase.
4) Penyakit Menular
a) HIV
(1) Dilakukan pemeriksaan infeksi virus HIV dengan teknik
fluorosensi enzim atau ELISA ditambah dengan Western
15

Blot Assoy yang hasilnya lebih baik daripada pemeriksaan


darah karena spesifisitas dan sensivitas yang lebih baik.
(2) Dilakukan pemeriksaan beta 2 mikroglobulin atau faktor α-
reseptor tumor nekrosis yang menunjukan aktivitas virus
HIV.
5) Penyakit Sistem Endokrin
Saliva dapat digunakan untuk memeriksa kadar hormon steroid
seperti kortisol, dehidroepiandosteron, estrodiol, estriol,
progesteron, dan testoteron.
6) Gagal Ginjal
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
a) Ditemukan kadar Urea dan pH yang meningkat
7) Diabetes Mellitus
Komponen saliva yang dapat dijadikan biomarker berupa :
a) Kadar aseton dan kadar glukosa yang melebihi ambang batas
normal
b) Kenaikan IgA dan amilase
c) Saliva yang tidak terstimulasi mengalami penurunan
d) Terjadi penurunan kadar Kalium dan Magnesium.
16

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Saliva merupakan salah satu cairan rongga mulut yang disekresikan
glandula saliva yang memiliki berbagai pernanan seperti membantu proses
mastikasi dan digesti, antibakterial, buffer pH rongga mulut, serta membantu
proses bicara. Saliva tersusun dari berbagai komponen penting berupa air, zat
anorganik atau elektrolit seperti kalsium, klorida, fluor, serta zat organik
berupa mikromolekul seperti glukosa bebas, urea, asam urat dan
makromolekul seperti lisozim, Ig A, laktoferin.
Komponen penyusun saliva tersebut setelah diteliti ternyata mampu
dimanfaatkan sebagai biomarker yang berfungsi untuk penunjang diagnostik
awal suatu penyakit. Berbagai penyakit yang dapat dideteksi melalui saliva
diantaranya HIV, Diabetes Melitus, penyakit keganasan seperti kanker
payudara, malnutrisi, penyakit sistemik seperti Sjӧgren’s Syndrome dan lain
sebagainya.
Sekresi saliva itu sendiri dipengaruhi berbagai faktor seperti hormon,
umur, jenis kelamin, postur tubuh, siklus sirkardian dan siklus sirkanual.
Saliva itu sendiri akan disekresi apabila ada rangsangan baik psikis, mekanik,
kimia, dan neural yang nantinya akan merangsang saraf simpatik dan
parasimpatik untuk meregulasi komposisi serta volume saliva yang disekresi.
B. Saran
Dewasa ini penelitian mengenai diagnosis penyakit melalui saliva
sedang pesat dikembangkan. Kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan dapat menjadikan saliva sebagai alat diagnosis yang lebih aman dan
bersifat non-invasiv. Namun, penelitian mengenai saliva sebagai biomarker
masih perlu dikembangkan lagi agar di masa mendatang tindakan diagnosis
tidak memerlukan prosedur yang membuat pasien tidak nyaman dan kesakitan
seperti saat melakukan pemeriksaan darah. Diharapkan dengan adanya laporan
ini dapat dijadikan inspirasi untuk penelitian saliva yang lebih lanjut.
17

DAFTAR PUSTAKA

Almeida, P., D., V., dkk, 2008, Saliva Composition And Function : A
Comprehensive Review, The Journal of Contemporary Dental Practice, vol.
9, no. 3, hal. 72 – 80, www.ncbi.nlm.nih.gov, diakses pada Minggu, 28
April 2013.
Anniko, M., Bernal, M. S., Bonkowsky, V., dan Bradley, P. J., 2010,
Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Springer-Verlag Berlin
Heidelberg, London.
Brooker, C., 2008, Ensiklopedia Keperawatan, (diterjemahkan oleh: Andry
Hartono, Brahm U. Pendit, Dwi Widiarti), EGC, Jakarta.
Dafies, A., 2005, Oral Care In Advanced Disease, Oxford, New York.
Davies, A., dan Finlay, I., 2005, Oral Care in Advanced Disease, Oxford, New
York.
Guyton, A. C., dan Hall, J. E., 2007, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 11,
(diterjemahkan oleh: Irawati), EGC, Jakarta.
Hashim, A., 2010, Saliva sebagai Media Diagnosa, Skripsi, Fakultas Kedokteran
Gigi, Universitas Sumatra Utara, Medan.
Khashu, H., Baiju C.S., Bansal, S.R., Chhillar, A., 2012, Salivary Biomarkers: A
Periodontal Overview, Journal of Oral Health and Community
Dentistry,6(1) 28-33.
Lawrence, H.P., 2002, Salivary Markers of Sistemic Disease: Noninvasive
Diagnosis of Disease and Monitoring of General Health, Journal of the
Canadian Dental Association, vol.3, halaman107.
Rensburg, B.G.J., 1995, Oral Biology, Quistessence Publishing, Chicago.
Simanjuntak, dan Caroline, M., K., 2011, Hubungan Keadaan Saliva dengan
Risiko Karies pada Siswa Kelas X SMK Negeri 9 Medan,
www.repository.usu.ac.id, diakses pada Minggu, 28 April 2013.
Smith, P. M., 2004, Saliva and Oral Health ed. 3 Mechanism of Salivary
Secretion, British Dental Association, London.
Supartinah, A., 2003, Saliva dan Kaitannya Dengan Penyakit Rongga Mulut
Anak, www.mgb.ugm.ac.id, diakses pada Minggu, 28 April 2013.
18

Walsh , 2006, Clinical Aspect of Salivary Biology for The Dental Clinican,
diakses dari http://www.gcamerica.com/
products/preventive/Saliva_Check_BUFFER/Saliva_Check_BUFFER_Artic
les/Saliva%20Check%20walsh.pdf, diakses tanggal 28 April 2013.
Witt, R.L., 2005, Salivary Gland Disease Surgical and Medical Management,
Thieme, New York.
19

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1

B. Tujuan .............................................................................................................. 1

C. Manfaat ............................................................................................................ 2

BAB II ISI ............................................................................................................... 3

A. Skenario PBL ................................................................................................... 3

B. Tutorial 1 ......................................................................................................... 3

C. Tutorial 2 ......................................................................................................... 5

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 16

A. Kesimpulan .................................................................................................... 16

B. Saran .............................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17