Anda di halaman 1dari 4

TUGAS STASE MUATAN LOKAL : KEDOKTERAN KEPULAUAN

ANALISA KASUS TRIASE

Oleh:
Luh Made Tantri Chandra Parwathi

Pembimbing:
dr. Oxy Tjahjo Wahjuni, Sp.EM

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF MULOK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018
1. Pasien perempuan berusia 24 tahun atas nama Shizuka dan sedang hamil, datang dengan
keluhan sesak setelah terkena furnitur dibagian dada. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
Airway clear, RR 32x/m, SpO2 92%, nadi 100x/m, TD 150/80 mmHg, GCS 456.
Terdapat adanya emphysema subkutis kanan. Dokter melakukan pemeriksaan penunjang
berupa foto thorax.

Skala PACS : kasus ini termasuk kedalam skala 3 (P2) karena gejalanya akut,
ringan-sedang. Pasien juga masih bisa berjalan dan terapi yang diberikan adalah O2
untuk mengurangi gejala.
Skala M.EWS : kasus ini didapatkan skor total 3 yang termasuk dalam alert (P2),
karena skor total adalah 3, didapatkan dari RR 32x/menit (skor 3), nadi 100x/menit (skor
0), tekanan darah sistolik 150 (skor 0), alert (skor 0).
Skala ESI : kasus ini tidak memerlukan intervensi cepat, nyeri (-), penurunan
kesadaran (-). Dalam hal ini termasuk ESI 4 (P2).

2. Pasien laki-laki berusia 32 tahun atas nama Nobita, datang dengan keluhan nyeri pada
perut setelah terkena furnitur dibagian perut. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Airway
clear, RR 32x/m, SpO2 98%, nadi 130x/m, TD 84/50 mmHg, GCS 356. Terdapat nyeri
tekan abdomen positif. Pada pemeriksaan FAST positif.

Skala PACS : kasus ini termasuk skala 1 (P1) karena pasien dalam ancaman
bahaya kegagalan kardiovaskuler dengan MAP <65 (tekanan darah 84/50 mmHg).
Skala M.EWS : skor total kasus ini adalah 9 termasuk dalam urgent (P1),
penilaian didapatkan dari RR 32x/menit (skor 3), nadi 130x/menit (skor 3), tekanan darah
sistolik 84 (skor 1), dan nyeri tekan abdomen positif (skor 2).
Skala ESI : pasien membutuhkan intervensi segera (ESI 1 = P1) karena dalam
kondisi syok dengan tekanan darah 84/50 mmHg.

3. Pasien laki-laki berusia 75 tahun atas nama Nobsuke, datang dengan keluhan penurunan
kesadaran disertai kelemahan anggota gerak sebelah kiri setelah terjatuh dari ketinggian.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Airway clear, RR 12x/m, SpO2 95%, nadi 62x/m, TD
170/100 mmHg, GCS 335. Terdapat anisokor dan paralisis ekstremitas sebelah kiri.
Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang ditemukan pada pemeriksaan CT-scan
didapatkan gambaran SDH.

Skala PACS : kasus ini termasuk skala 1 (P1) karena pasien dalam ancaman
bahaya kegagalan (trauma kepala/SDH).
Skala M.EWS : skor total kasus ini adalah 1 (P3), didapatkan dari RR 12x/menit
(skor 0), nadi 62x/menit (skor 0), tekanan darah sistolik 170 (skor 0), mendengar suara
(skor 1).
Skala ESI : kasus ini tidak memerlukan intervensi segera, namun memiliki resiko
perburukan yang segera, maka pasien ini masuk ke dalam kelompok ESI 2 (P1).

4. Pasien laki-laki berusia 5 tahun atas nama Takeshi, datang dengan keluhan nyeri pada
daerah rahang bawah disertai keluarnya darah dari mulut setelah terkena kelapa pada
wajah. Pasien dalam keadaan terbaring dan tidak dapat berjalan. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan Airway unstable, RR 12x/m, SpO2 92%, nadi 80x/m, TD 150/90 mmHg,
GCS 346. Terdapat fraktur mandibular, dan tampak perdarahan aktif dari dalam mulut.

Skala PACS : kasus ini termasuk skala 1 (P1) karena pasien dalam ancaman
bahaya (trauma wajah).
Skala M.EWS : didapatkan skor total 1 (P3), didapatkan dari RR 12x/m (skor 0),
nadi 80 x/m (skor 0), tekanan darah sistolik 150 (skor 0), respon terhadap suara (skor 1).
Skala ESI : kasus ini membutuhkan intervensi segera (ESI 1 = P1) karena resiko
gagal nafas.

5. Pasien perempuan berusia 24 tahun atas nama Tamako, datang dengan keluhan nyeri
hebat pada daerah panggul setelah terkena terjatuh dari ketinggian. Pasien dalam keadaan
terbaring dan tidak dapat berjalan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Airway unstable,
RR 24x/m, SpO2 99%, nadi 100x/m, TD 110/90 mmHg, GCS 356. Pada pemeriksaan
rontgen, tampak fraktur pada pelvis.
Skala PACS : kasus ini termasuk skala 2 (P2) karena pasien dalam keadaaan non-
ambulant dan dalam berbagai keadaan yang sangat berbahaya.
Skala M.EWS : pada kasus ini didapatkan skor total 4 (alert = P2), didapatkan
dari RR 24x/menit (skor 2), nadi 100x/menit (skor 0), tekanan darah sistolik 110 (skor 0),
nyeri hebat (skor 2).
Skala ESI : kasus ini tidak membutuhkan intervensi segera namun memiliki
resiko perburukan yang segera (ESI 2 = P1).

NO. PACS MEWS ESI

1 P2 P2 P2

2 P1 P1 P1

3 P1 P3 P1

4 P1 P3 P1

5 P2 P2 P1