Anda di halaman 1dari 63

Resume Materi Pengantar Hubungan Internasional

Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas

Pengantar Hubungan Internasional

Dosen Pengampu: Dian Mutmainah, MA.

Nanda Yudha Ikhwan Pradana

175120400111020
Universitas Brawijaya

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prodi Hubungan Internasional

Kelas B IHI 1

2017
Kata Pengantar

Assalamualaikum wr. wb. Alhamdulillah, penulis panjatkan puji syukur ke


hadirat Tuhan Yang Maha esa karena atas kehendak dan izin-Nya resume ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya dan diberi kemudahan serta kelancaran dalam
menulis resume ini. Dalam hal ini, penulisan resume bertujuan untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan oleh dosen pengampu, mata kuliah pengantar hubungan
internasional. Selain itu, penulis juga memiliki tujuan untuk merangkum hasil belajar
yang penulis lakukan selama mengikuti proses pembelajaran di kelas pengantar
hubungan internasional.

Selama melakukan penulisan, penulis banyak mengalami kesulitan dan kendala


terutama dikarenakan banyaknya tugas dan kegiatan serta pemahaman penulis yang
terkadang masih kurang untuk dapat memahami literatur buku ini. Tetapi, berkat
bimbingan yang diberikan dari berbagai pihak, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan
makalah. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dosen pengampu, Ibu Dian Mutmainah, MA.;

2. Seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian penulisan


resume ini, terutama teman-teman diskusi dan belajar kelompok.

Penulis mengharapkan adanya masukkan dari pihak yang telah membaca dan
penulis menerima kritik ataupun saran yang membangun agar resume ini bermanfaat
bagi pembaca. Akhir kata, penulis mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang tidak
berkenan. Wassalamualaikum wr.wb.

Malang, 26 Oktober 2017

Penulis,

Nanda Yudha Ikhwan Pradana


Resume Ruang Lingkup Studi: Pengenalan Hubungan Internasional

A. Pengertian Hubungan Internasional

Hubungan Internasional adalah studi mengenai hubungan internasional.


Hubungan internasional menurut survey lapangan memiliki definisi yang berbeda.
HI dapat didefinisikan sebagai sebuah studi mengenai interaksi yang terjadi antara
negara-negara yang termasuk di dalamnya hubungan pemerintah antara pemerintah,
organisasi non pemerintah, organisasi internasional, dan perusahaan multinasional.
Hubungan Internasional juga dianggap sebagai cabang dari ilmu politik, namun
sebenarnya HI juga banyak mengulas aspek lain seperti sejarah, ekonomi, dan
filsafat.

Selain Hubungan Internasional, ada juga cabang atau bagian darinya yaitu
kajian mengenai ‘hubungan internasional’. Adapun definisi dari hubungan
internasional adalah strategi diplomasi yang terfokus pada peperangan dan
perdamaian, konflik dan kooperasi. Namun, hubungan internasional juga memiliki
kajian studi terhadap politik, kajian lintas batas negara, ekonomi, sosial, dan
negosiasi perdagangan internasional. Hubungan internasional juga membahas
mengenai amnesti internasional dan permasalahan perdamaian konvensional
seperti diplomasi di PBB. Hubungan internasional yang mengulas ilmu politik juga
tidak dapat dikatakan “begitu politik” dikarenakan ilmu politik hanya membahas
mengenai otoritas dan juga pemerintahan, namun tidak memuat otoritas
internasional dalam kajian tradisional ilmu politik. Atas dasar itulah hubungan
internasional merupakan ilmu dan kajian yang sangat luas untuk dipelajari.

Hubungan internasional dicirikan sebagai dunia yang bekerja sama untuk


membangun dan mempertahankan perdamaian yang ada. Namun sebenarnya,
‘hubungan internasional’ tidak memiliki hakikat yang eksis dalam dunia akademik.
Setiap orang memandang dengan perspektif yang berbeda mengenai apa itu
hubungan internasional. Hubungan internasional tidak memiliki definisi yang
murni dikarenakan sangat luas dan setiap orang memiliki pandangan yang berbeda
mengenai definisi hubungan internasional.

B. Hubungan Internasional sebagai Ilmu Sosial

Kebenaran yang umum didapatkan adalah ilmu sosial tidak mendefinisikan


subjek atau materi yang diulasnya secara satu arah, tidak seperti ilmu pengetahuan
alam yang memiliki definisi subjek yang diberikan oleh ilmuwan yang melakukan
penelitian terhadap subjek atau materi tersebut. Namun dalam setiap tulisan dari
buku yang ada, penulis buku tidak memberikan definisi yang pasti dan menjurus
mengenai apa itu Hubungan Internasional dikarenakan luasnya lingkup studi yang
dipelajari dalam kajian tersebut.

Hubungan Internasional mengutamakan studi kajian keamanan di atas


diplomasi. Adapun kekuatan atau force berada di prioritas terakhir dalam
menyelesaikan permasalahan yang menyangkut studi hubungan internasional. Hal
tersebut tidak lepas dari sejarah munculnya disiplin ilmu Hubungan Internasional
yang dikarenakan ketakutan manusia akan kehancuran besar yang diakibatkan oleh
perang terutama Perang Dunia ke-2. Hal tersebut merupakan alasan mengapa
Hubungan Internasional sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan daripada
diplomasi dan perang, inilah yang dimaksud dengan sistme self-help.

Namun, yang salah dari konsep “negara yang berdaulat” – yang aktor kunci
dari sistem ini adalah diplomat dan tentara – adalah ketika negara-negara yang tidak
begitu peduli mengenai isu keamanan secara berkelanjutan dan merasa aman, tiba-
tiba mereka jatuh ke dalam konflik akibat alasan yang tidak dapat diprediksi. HI
merupakan studi tentang sifat dan konsekuensi dari hubungan tersebut. Oleh karena
negara memiliki latar belakang politik, budaya, dan wilayah komunitas yang
berbeda-beda. Dan sekarang terdapat sekitar 200 negara merdeka di muka bumi ini
yang setiap manusia – dengan pengecualian tertentu – hidup secara damai. Namun,
meskipun begitu, bukan berarti mereka terpisah dan tidak saling memengaruhi.
Biasanya negara itu berhubungan melalui organisasi internasional seperti PBB
ataupun dalam perdagangan internasional. Oleh karena itu HI diperllukan untuk
mengkaji mengenai permasalahan tersebut beserta konsekuensinya.

C. Sejarah Hubungan Internasional sebagai Disiplin Ilmu

Secara garis besar, sejarah mengenai Hubungan Internasional sudah ditekuni


oleh filsuf Yunani kuno. Namun pada waktu itu kajian mengenai hubungan
internasional masih sebatas kajian mengenai peperangan dan militer yang sekarang
merupakan bagian dari studi akademik Hubungan Internasional. Namun ada juga
yang memperkirakan bahwa studi dan kajian mengenai Hubungan Internasional
baru muncul setelah Perang Westphalia. Semenjak perang itu banyak universitas
yang membuka kajian mengenai Hubungan Internasional dan menamai diri mereka
sebagai kaum realis yang menentang sistem idealis.

Akan tetapi, Hubungan Internasional sebagai studi akademik baru benar-


benar berkembang setelah memasuki abad ke-20. Kesadaran akan pentingnya nilai-
nilai EPI yang dapat dicirikan secara fundamental sebagai dunia sosio-ekonomi
mulai muncul setelah perang dunia pertama. Hal tersebut muncul karena perang
semakin memperjelas kehancuran kondisi kehidupan akibat persenjataan mekanik
modern. Kesadaran tersebut juga muncul akibat pentingnya mengurangi resiko dari
negara-negara berkekuatan besar tersebut. Oleh karena itu, perang telah
menyebabkan ilmu HI semakin berkembang untuk mencegah terjadinya perang
yang lebih besar, bersanding dengan ilmu-ilmu sosial seperti ekonomi, politik, dan
juga sejarah.

D. Simpulan

Ilmu Hubungan Internasional yang di dalamnya mencakup hubungan


internasional adalah ilmu yang mengkaji berbagai permasalahan sosial yang sangat
luas. Dikarenakan luasnya ilmu tersebut, definisi mengenai Hubungan Internasional
tidaklah sama karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa
itu Hubungan Internasional, tidak seperti ilmu alam yang definisi subjeknya
diberikan oleh ahli yang mempelajari ilmu atau fokus studi tertentu.
Ilmu Hubungan internasional mulai berkembang sejak terjadinya peperangan
besar yakni Perang Dunia Pertama. Kesadaran masyarakat internasional mengenai
pentingnya mencegah terjadinya konflik yang menciptakan kehancuran yang luas
di masa yang akan datang turut menjadi faktor berkembangnya ilmu Hubungan
Internasional. Hubungan Internasional diperlukan untuk menegakkan keadilan dan
ketertiban internasional. Dalam sistem masyarakat internasional, HI diperlukan
untuk menegakkan kebutuhan dan pemenuhan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Resume Sejarah Dunia: Pre dan Pasca Perjanjian Westphalia

A. Perang 30 Tahun

Dalam berbagai kajian sejarah yang ada, diakui bahwa Perang 30 Tahun
adalah perang yang paling berpengaruh dalam perkembangan disiplin ilmu
Hubungan Internasional. Perang ini terjadi diakibatkan oleh motif agama (Schiller,
1861) antara Protestan dan Katolik yang bersaing untuk memperebutkan kekuasaan
dan menunjukkan kekuatan masing-masing. Peristiwa perang yang berlangsung
selama tahun 1618 hingga tahun 1648 telah memberikan sumbangsih yang besar
bagi perkembangan seni diplomasi yang nantinya akan menjadi bagian dari kajian
studi hubungan internasional dan bahkan menjadi sumbangsih utama disiplin ilmu
Hubungan Internasional itu sendiri.

Perang 30 Tahun bermula saat Ferdinand II dari Kekaisaran Suci Romawi


menerapkan kebijakan untuk memaksakan keseragaman agama yang berlaku pada
masyarakat yang ia pimpin, yaitu Katholik Roma. Tindakan yang dilakukannya
tersebut tentu saja menyebarkan ketakutan dan kemarahan bagi negara-negara
Protestan di utara kekaisaran. Kebijakan Ferdinand II dianggap terlalu pro-Katolik
dan masyarakat di utara merasa telah dicurangi haknya seperti yang telah tertuang
dalam Perjanjian Damai Ausburg. Perjanjian Ausburg sendiri adalah perjanjian
damai antara dua kelompok kelompok Kristen yang membuat perjanjian legalitas
Kekristenan secara permanen dalam Kekaisaran Suci Romawi.
Setelah penumpasan pemberontak yang begitu kejam yang dilakukan oleh
kaisar, dunia Protestan mengutuk tindakan tersebut dan dimulailah perang yang
meningkatkan angka kematian di kawasan Eropa. Dapat disimpulkan bahwa Perang
30 Tahun adalah:

1. Perang dimulai dari konflik internal agama yang berujung menjadi


konflik sektarian;
2. Perang 30 Tahun yang seharusnya berlangsung di dalam internal
Kekaisaran Suci Romawi ternyata turut melibatkan pihak non-Jerman
ke dalam konflik;
3. Perang 30 tahun secara tingkatan elit tidak lebih dari perebutan
kekuasaan dan juga pengaruh antara dua pihak yang saat itu berselisih.

B. Berakhirnya Perang dan Munculnya Perjanjian Westphalia

Setelah berakhirnya 4 fase peperangan, pihak yang bertikai (Kekaisaran


Romawi Suci, Prancis, dan Swedia) secara aktif melakukan negosiasi di Osnabrück
dan Münster di Westphalia. Berakhirnya perang tidak disebabkan oleh satu
perjanjian, melainkan oleh sekelompok perjanjian seperti Treaty of Hamburg. Pada
tanggal 15 Mei 1648, Peace of Münster ditandatangani, mengakhiri Perang Tiga
Puluh Tahun. Lebih dari lima bulan kemudian, pada tanggal 24 Oktober, Perjanjian
Münster dan Osnabrück ditandatangani.

C. Dampak yang Ditimbulkan setelah Perjanjian Westphalia

Peraturan yang disepakati dalam Perjanjian Westphalia pada tahun 1648


berperan penting dalam meletakkan landasan hukum negara-negara berdaulat pada
era modern ini. Selain menetapkan batasan teritorial untuk banyak negara yang
terlibat dalam perang dahsyat tersebut (dan juga untuk yang baru dibuat
sesudahnya), Perjanjian Westphalia mengubah hubungan antara individu dengan
penguasa. Westphalia memberikan sebuah hasil baru bagi “zaman kegelapan” di
Eropa yaitu: Yaitu, Negara memiliki kedaulatan, kontrol Negara atas Militer dan
terbentuknya kelompok Negara-negara besar.
Perjanjian Westphalia juga dianggap sebagai solusi atas permasalahan
teritorial dan hierarki kekuasaan sebelumnya yang dianggap tidak jelas. Konsep
kedaulatan diperjelas dengan pengertian bahwa penguasa yang sah tidak akan
mengakui kedaulatan pihak-pihak yang mempunyai kedudukan setara dalam batas-
batas kedaulatan wilayah yang sama.

Resume Sejarah Dunia: Perang Dunia I dan II

A. Latar Belakang Perang Dunia I

Pembunuhan putra mahkota Austria (Francis Ferdinand) menyebabkan kaisar


Austria Karl I marah. Kemudian Austria menuntut Serbia agar menyerahkan
pembunuh yaitu G. Princip. Namun, tuntutan tersebut tidak dihiraukan Serbia yang
mendapat dukungan dari Rusia sehingga Austria menyatakan perang terhadap
Serbia pada tanggal 28 Juli 1914. Jerman akhirnya turut menyatakan perang
terhadap Rusia pada 1 Agustus 1914. Kemudian, Prancis menyatakan perang
terhadap Jerman pada 3 Agustus l 914, disusul Inggris terhadap Jerman pada 14
Agustus 1914 hingga akhirnya perang meluas ke seluruh Eropa dan dunia.

B. Negara Negara yang Terlibat Perang Dunia I

1. Blok Sentral: Jerman, Austro-Hungaria, Turki, Italia, dan Bulgaria;


2. Blok Sekutu: Inggris, Prancis, Serbia, Rusia, Jepang, Amerika Serikat, dan
lain-lain (23 negara) di pihak menang.

C. Jalannya Perang Dunia I

Pada awalnya pihak yang memperoleh kemenangan adalah pihak Blok


Sentral. Namun, setelah Amerika Serikat ikut terjun ke medan peperangan, keadaan
menjadi berbalik (pihak Sekutu menjadi menang). Setelah pihak Blok Sentral
mengalami kekalahan, maka diadakan perjanjian yang isinya memberatkan pihak
Blok Sentral antara lain sebagai berikut:
1. Perjanjian Versailles antara Sekutu dan Jerman (28 Juni 1918);
2. Perjanjian St. Germani antara Sekutu dan Austria (10 November 1919);
3. Perjanjian Neulily antara Sekutu dan Bulgaria (27 November 1919);
4. Perjanjian Trianon antara Sekutu dan Hungaria (4 Juni 1920);
5. Perjanjian Sevres antara Sekutu dan Turki (20 Agustus 1920).

D. Latar Belakang Perang Dunia II

Pada tanggal 1 September 1939, Jerman menyerang Danzig (Polandia). Sejak


saat itulah meletus Perang Dunia II. Akibat tindakan Jerman ini akhirnya negara
Inggris dan Perancis pada tanggal 3 September 1939 menyatakan perang terhadap
Jerman dan kemudian diikuti oleh negara sekutu lainnya.

E. Negara yang Terlibat Perang Dunia II

1. Blok Fasis/Sentral: Jerman, Italia, Jepang, Austria, Rumana, Finlandia,


Hungaria;
2. Blok Sekutu: Inggris, Perancis, Rusia, Amerika Serikat, Polandia, Belgia, dan
negara sekutu lain.

F. Penyebab Umum Terjadinya Perang Dunia II

1. Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa menciptakan perdamaian dunia. Justru LBB


menjadi alat politik negara besar untuk mencari keuntungan sendiri;
2. Negara-negara maju memperkuat militer dan persenjataan karena saling
curiga dan tidak percaya terhadap LBB;
3. Adanya politik aliansi, kekhawatiran akan terjadinya perang, maka negara-
negara mencari kawan dan sehingga terbagi menjadi:
1. Blok Fasis (Jepang, Jerman, Italia),
2. Blok Sekutu, terdiri atas:
1. Blok demokrasi yaitu Amerika Serikat, Perancis, Belanda
Inggris;
2. Blok komunis yaitu Rusia, Cekoslovakia, Hongaria,
Rumania, Bulgaria, Polandia, Yugoslavia.
4. Adanya pertentangan akibat ekspansi;
5. Adanya pertentangan faham fasisme, demokrasi, dan komunisme;
6. Adanya politik balas.

G. Jalannya Perang Dunia II

Sejak tahun 1939-1942 kemengan berada di pihak negara fasis yaitu Jerman,
Italia, Jepang. Tahun 1942 merupakan titik balik ketika blok fasis mengalami
kekalahan. Jerman pertama kali kalah dari Rusia dalam pertempuran Stalingrad
(November 1942). Jepang kalah dari sekutu di Pulau Karang (Mei 1992). Antara
tahun 1942-1945 kemenangan berada di pihak sekutu.

H. Akhir Perang Dunia II

Di Eropa, sejak Jerman kalah dalam pertempuran di Stalingrad dengan Rusia,


kemudian pada tanggal 24 Agustus 1944 Rumania menyerah, diikuti Buigaria pada
tanggal 8 September 1944, Hungaria pada tanggal 13 Februari 1945, dan Jerman
menyerah pada tanggal 7 Mei 1945;

Sedangkan di Asia, setelah Jepang di bom pada tanggal 6 Agustus 1945 di


Hiroshima dan tanggal Agustus di Nagasaki, maka pada tanggal 15 Agustus 1945
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Namun, penyerahan secara resmi
pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal Missouri di Teluk Tokyo.

Setelah Perang Dunia II berakhir, kemudian diadakan perjanjian damai


sebagai berikut:

1. Perjanjian Potsdam (2 Agustus 1945) antara. Jerman dan Sekutu;


2. Perjanjian antara Italia dan Sekutu (1945);
3. Perjanjian antara Austria dan Sekutu (1945);
4. Perjanjian antara Sekutu dan Hungaria, Bulgaria, Rumania, serta
Finlandia (1945);
5. Perjanjian San Fransisco (1951) antara Jepang dan Sekutu.

Resume Sejarah Dunia: Perang Dingin

A. Definisi Perang Dingin

Perang Dingin (bahasa Inggris: Cold War, bahasa Rusia: холо́дная


война́, kholodnaya voyna) adalah sebutan sebuah periode ketegangan
dalam bidang politik dan militer yang mempertemukan dua pihak yang
bertikai yaitu Dunia Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutu-
sekutunya, dan Komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet dan negara-negara
satelitnya.

B. Latar Belakang Perang Dingin

Perang Dingin adalah perang yang memiliki sejarah yang panjang.


Perang yang mempertemukan dua negara adidaya pasca PD II pada masa
itu memiliki latar belakang sejarah, politik, dan juga militer. Adapun
beberapa penyebab terjadinya Perang Dingin adalah sebagai berikut:

1. Saling Membenci Anatara Liberalisme dan Komunisme

Tradisi Republikanisme Demokratis yang berada di Amerika


Serikat telah menimbulkan rasa “eksklusif” dan patriotik dalam diri
masyarakat Amerika. Hal ini bertentangan dengan gagasan Marx yang
internasionalis yang menganggap bahwa kelas pekerja tidak akan
benar-benar bisa dibebaskan apabila tidak mengatur melintasi batas-
batas nasional yang telah ada. Gagasan komunis jelas bertentangan
dengan ideologi Amerika yang patriotik dan jelas gagasan Marx sangat
“tidak Amerika”.

Selain itu, gagasan kapitalisme yang diusung oleh Amerika di


mana intervensi pemerintah terhadap pasar dan ekonomi negara sangat
kecil bahkan tidak ada sangat berbeda dengan pandangan komunisme
yang dicetuskan oleh Marx. Gagasan Marx yang menganggap bahwa
kelas borjuis yang diusung oleh sistem kapitalisme sangat
mengeksploitasi kaum proletar juga semakin meruncingkan perbedaan
ideologi di antara dua penganut paham.

Marx juga meyakini bahwa untuk mengubah satu tatanan agar


konflik kelas hilang diperlukan revolusi yang jelas itu bertentangan
pula dengan sistem demokrasi yang dianut Blok Barat, di mana setiap
individu turut berperan dalam pemilihan yang sifatnya umum dan
menentukan nasib negara “tanpa intervensi dari mayoritas dan bekerja
atau berjalan sesuai keinginannya sendiri (tanpa paksaan)”. Demokrasi
yang dianut Amerika memungkinkan setiap individu memberikan hasil
bagi sistem perpolitikan yang dianut oleh negara sedangkan
komunisme yang dianut oleh Soviet menuntut internasionalisasi agar
perbedaan dan konflik kelas tidak terjadi lagi.

2. Revolusi Rusia 1917

Pada tahun 1917, terjadi dua revolusi di Rusia yang turut


berpengaruh pada perang dingin.

Revolusi yang pertama terjadi adalah Revolusi Februari yang


dipimpin oleh Georgy Lvov. Revolusi Februari berakibat pada
gulingnya Tsar Nikolai II dari Rusia. Pasca revolusi dan abdikasi Tsar
Nikolai II, dibentuklah Pemerintahan Sementara Rusia di Petrogard.
Pemerintahan yang dibentuk tersebut dipimpin oleh Georgy Lvov.

Pemerintahan Lvov berafiliasi dengan kaum liberal dan kaum


sosialis yang ingin melaksanakan reformasi politik, membuat lembaga
eksekutif yang dipilih secara demokratis, dan membentuk dewan
konstituante. Kemudian, pada 21 Juli 1917, Alexander Kerensky
menggantikan kepemimpinan Lvov. Alexander Kerensky berasal dari
kalangan Menshevik yang merupakan pecahan dari Partai Sosial
Demokrat Rusia yang muncul dalam konferensi di Brussel pada
tahun 1903.

Revolusi kedua terjadi pada Oktober 1917. Revolusi yang


dilakukan oleh kaum Bolshevik pimpinan Lenin ini dilakukan atas
latar belakang kesengsaraan pekerja dan tentara menyebabkan
kekacauan di jalanan yang sering disebut sebagai July Days. Kejadian
ini juga disebabkan atas serangan Rusia atas Jerman.

Setelah Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin menduduki tahta,


dibentuklah pemerintahan komunis yang dipimpin langsung oleh
Lenin. Naiknya ideologi komunis di Rusia tentunya bertentangan
dengan konsep negara yang banyak dianut oleh Pihak Barat, terutama
Amerika Serikat.

3. Perang Saudara Rusia 1918

Perang Saudara Rusia adalah perang melibatkan Pemerintah Uni


Soviet dengan Tentara Merah yang baru dibentuk melawan Tentara
Putih yang didukung oleh beberapa negara sekutu seperti Amerika
Serikat, Prancis, Polandia, dan lain sebagainya.

Keterlibatan Amerika dan negara sekutu lainnya untuk


membantu Tentara Putih menyebabkan Pemerintah Komunis Soviet
semakin membenci Dunia Barat terutama Amerika, meskipun perang
tersebut dimenangkan oleh Tentara Merah.

4. Pakta Molotov-Ribbentrop

Pakta Molotov-Ribbentrop adalah sebuah perjanjian non-agresi


yang dinamai dari nama menteri luar negeri Uni Soviet Vyacheslav
Molotov dan menteri luar negeri NAZI Joachim von Ribbentrop. Pada
masa itu tensi dunia sedang naik dikarenakan sejumlah tindakan NAZI
Jerman yang melakukan agresi ke negara-negara sekitarnya.
Keputusan Soviet untuk menandatangani perjanjian dengan Jerman
tersebut menyebabkan sentimen bagi Pihak Barat.

5. Ketidakpercayaan Selama Perang Dunia II

Meskipun telah menandatangani perjanjian untuk tidak saling


menyerang, pada akhirnya Jerman menyerang Uni Soviet melalui
operasi Barbarossa pada 22 Juni 1941. Ada beberapa kejadian dalam
Perang Dunia II yang mengakibatkan rasa saling tidak percaya antara
Dunia Barat dan Uni Soviet. Contohnya adalah pihak sekutu yang tidak
segera membuka front di barat Jerman dan Stalin menganggap ini
adalah tindakan sekutu yang menunggu “Jerman lemah” namun
menewaskan banyak korban Soviet, dan setelah itu terjadi barulah
mereka membuka front baru di barat.

6. Pembentukan & Pembagian Jerman dalam Konferensi Postdam

Pasca perang, Amerika dan juga Uni Soviet masih berusaha


untuk mendapatkan pengaruhnya dalam menentukan masa depan
Jerman. Di sinilah ketegangan antara 2 negara. Amerika Serikat
menginginkan Jerman menjadi negara yang terbuka dan liberal
sedangkan Soviet menginginkan Jerman menjadi negara yang tertutup
dan komunis. Uni Soviet melalui Stalin juga menolak rancangan
Amerika Serikat untuk mengadakan kegiatan pemilu yang bebas
karena dinilai oleh Stalin akan memunculkan pemerintahan yang anti
Uni Soviet. Perbedaan pendapat ini semakin melebarkan jarak antara
Amerika dan juga Uni Soviet. Konferensi yang dilakukan pasca perang
semakin menunjukkan runcingnya perbedaan paham antara Dunia
Barat dan Uni Soviet.

7. Langkah Agresif USSR

Setelah perang usai, Uni Soviet secara agresif berusaha


menanamkan pengaruhnya pada negara yang ada di sekitarnya.
Berbagai upaya berusaha dilakukan oleh Soviet guna memenuhi
kebutuhan mineral, wilayah, dan sumber daya manusia Blok Timur.

Tindakan yang dilakukan Uni Soviet tersebut menyulut


kemarahan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dan akhirnya
Amerika mengeluarkan Doktrin Truman yang menegaskan bahwa
Amerika dan sekutunya berada pada posisi anti komunis untuk selama-
lamanya.

C. Bentuk Persaingan Antara Blok Barat dan Blok Timur

Berakhirnya Perang Dunia II ternyata tidak seketika menghilangkan


permasalahan di dunia. Berakhirnya Perang Dunia II ternyata memunculkan
2 negara adidaya yang akhirnya saling memperebutkan kekuasaan dan juga
pengaruh di negara dunia ketiga.

Era Perang Dingin antara 2 kekuatan besar dunia pada masa itu
ternyata memiliki beberapa bidang sebagai berikut:

1. Bidang Politik
Ada beberapa bentuk persaingan politik saat berlangsungnya
perang dingin. Beberapa contohnya adalah:

1. Ideologi; seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Amerika


Serikat pada saat itu menganut paham liberal-kapitalis
sedangkan Uni Soviet dengan paham sosialis-komunis yang
bertentangan. Kedua negara adidaya ini kemudian bersaing
untuk mempengaruhi negara-negara lain dengan menyebarkan
ideologi yang mereka anut. Amerika berusaha menjadikan
negara Eropa dan negara yang baru merdeka untuk menganut
sistem demokrasi berlandaskan paham liberal. Sedangkan Uni
Soviet berusaha agar negara-negara baru ini menganut paham
komunis. Dampak dari pesaingan ideologi ini dapat dilihat dari
negara Jerman. Pada saat berakhirnya Perang Dunia II, Jerman
terbagi menjadi dua bagian. Jerman Barat menganut sistem
liberal dan mendapatkan pengaruh yang kuat oleh Amerika
Serikat dan sekutunya. Sedangkan, Jerman Timur menganut
paham komunis dan mendapatkan pengaruh yang begitu kuat
dari Uni Soviet.

Kesenjangan pada masa itu sangat terlihat karena Jerman


Barat pengalami perkembangan yang lebih pesat dibadingkan
dengan Jerman Timur, sehingga mendorong masyarakat Jerman
Timur untuk berusaha menyeberang ke Jerman Barat. Hal ini
merupakan salah satu pendorong terbentuknya tembok berlin.

2. Perebutan kekuasaan; Amerika Serikat dan Uni Soviet sama-


sama memiliki ambisi untuk menjadi pemimpin dunia pada saat
itu dan menjadi satu-satunya negara adidaya yang memiliki
kontrol atas dunia secara mutlak. Kembali lagi ke ideologi yang
mereka anut pada saat itu, yang menyebabkan mereka berlomba-
lomba untuk menyebarkan paham yang mereka anut karena
semakin banyak negara yang berlandaskan paham yang sama
dengan mereka maka pengaruh mereka akan semakin kuat.
3. “Diplomasi Terselubung”; jalan diplomasi yang ditempuh pada
saat itu bukannya meredakan malah memanaskan persaingan
kekuatan antar dua negara tersebut. Sejatinya diplomasi yang
mereka lakukan tidak diperuntukan untuk meredakan perang
namun untuk menambah aliansi sebanyak mungkin melalui jalan
diplomasi dan bantuan secara ekonomi, militer, dan lain
sebagainya.

2. Bidang Ekonomi

Dari segi ekonomi, dua negara adidaya tampil sebagai kreditur


dan berusaha tampil sebagai “penyelamat” negara-negara yang hancur
dan yang baru terbentuk pasca-Perang Dunia II. Amerika dan Uni
Soviet tampil dengan beberapa produk dan program yang memiliki
tujuan sama yaitu menanamkan pengaruh mereka bagi negara lainnya.

Amerika Serikat meluncurkan sebuah program bernama


Rencana Marshall atau Marshall Plan. Marshall Plan adalah program
ekonomi skala besar pada tahun 1947-1951 yang diluncurkan
oleh Amerika Serikat yang bertujuan membangun kembali kekuatan
ekonomi negara-negara di Eropa setelah Perang Dunia II usai dan
untuk membendung pengaruh komunis di negara-negara tujuan
bantuan. Inisiatif penamaan diambil dari sekretaris negara George
Marshall. Pembagian bantuan Rencana Marshall ini tidak hanya untuk
negara - negara Eropa namun juga negara Asia yang terkena imbas dari
Perang Dunia II. Selain itu, tujuan Marshall Plan adalah supaya negara-
negara di Eropa bagian barat mau menerima bantuan tersebut dan
nantinya akan melangsungkan kerja sama dengan Amerika Serikat
dalam bidang tenaga kerja, produksi maksimal, dan peningkatan
volume perdagangan. Amerika Serikat sendiri menggelontorkan
anggaran sebesar US$17 miliar untuk 16 negara dalam periode
pembagian selama 4 tahun. Bantuan tersebut berbentuk bahan
makanan, bahan mentah, pupuk, alat pertanian, dan lain sebagaianya.

Tidak mau kalah, Uni Soviet meluncurkan program yaitu


Molotov Plan. Molotov Plan adalah sistem yang diciptakan oleh Uni
Soviet pada tahun 1947 dalam rangka untuk memberikan bantuan
untuk membangun kembali negara-negara di Eropa Timur yang secara
politik dan ekonomi sejalan dengan Uni Soviet. Sebenarnya, Molotov
Plan juga bertujuan agar negara di kawasan Eropa bagian timur tidak
jatuh pada pengaruh Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Singkat kata, Marshall Plan dan Molotov Plan adalah rencana dari dua
blok yang berbeda untuk membangun kembali negara-negara yang
hancur akibat Perang Dunia II sekaligus untuk menanamkan pengaruh
mereka dan membendung pengaruh dari lawannya.

Selain Marshall Plan, Amerika Serikat juga memiliki Doktrin


Truman. Program ini diluncurkan pada 12 Maret 1947. Ini adalah
upaya yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk membantu Yunani
dan Turki dalam segi militer dan ekonomi agar tidak jatuh ke dalam
cengkraman komunisme. Doktrin Truman juga merupakan wujud
pergantian pandangan politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Uni
Soviet dari detente/lebih bersahabat menjadi “ekspansi kebijakan
penahanan Soviet”. Amerika juga secara serentak menghentikan
pengiriman bantuan ke Uni Soviet dan menyatakan “tidak mengakui
negara yang didirikan dengan tidak berdasarkan aspirasi rakyatnya (re:
komunis).

Tidak mau kalah, Uni Soviet membentuk Council for Mutual


Economic Assistance (COMECON) pada tahun 1949 yang merupakan
Komunitas Ekonomi Eropa yang tergabung dalam Blok Soviet (Pakta
Warsawa). COMECON juga bertujuan untuk memakmurkan negara
anggota, menciptakan lapangan pekerjaan, dan berafiliasi dalam
bidang militer negara anggotanya. COMECON bubar setelah Uni
Soviet runtuh pada 1991.

3. Bidang Militer, Pertahanan, dan Keamanan

Selama Perang Dingin berlangsung, terjadi banyak sekali


persaingan dalam bidang militer, pertahanan, dan juga keamanan.
Adapaun beberapa bentuk persaingan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan Pakta Pertahanan; pada Perang Dingin, dua


negara adikuasa pemenang Perang Dunia II, Amerika Serika
dan Uni Soviet, saling bersaing satu sama lain. Salah satu nya
pada bidang pertahanan, keamanan, dan militer. Salah satu
bidang pertahanan keamanan adalah dengan pembentukan
persekutuan pertahanan, atau yang lebih terkenal dengan istilah
pakta pertahanan. Blok Barat maupun Blok Timur saling
bersaing membuat pakta pertahanan. Persenjataan yang dibuat
merupakan senjata canggih-canggih. Apabila satu negara
sedang terlibat peperangan, negara lain yang tergabung dalam
pakta pertahanan akan membantu.

Blok Barat adalah perkumpulan dari negara-negara yang


berpaham liberalis-kapitalis, dipimpin oleh Amerika Serikat.
Negara blok barat antara lain Inggris, Australia, Belanda,
Jerman dan negara-negara lainnya. Sedangkan Blok Timur
adalah negara-negara yang menganut paham sosialis-komunis
yang dipimpin oleh Uni Soviet. Uni Soviet membentuk pakta
pertahanan guna mengimbangi pakta pertahanan yang dibuat
oleh Amerika Serikat. Berikut daftar pakta pertahanan yang
dibentuk selama perang dingin:

1. North Antlantic Treaty Organization (NATO);


NATO merupakan organisai pertahanan negara-
negara Atlantik Utara dengan tujuan menahan
laju komuni di Eropa. Pada mulanya, NATO
hanyalah merupakan perjanjian pertahanan antara
Inggris dan Perancis (1947). Pada tanggal 4 April
Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa
membentuk NATO. Anggota NATO antara lain
Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belgia,
Belanda, Luxemburg, Kanada, Portugal,
Denmark, Norwegia, Italia, Islandia, Yunani,
Turki dan Jerman Barat.
2. South East Asia Treaty Organization
(SEATO); SEATO merupakan organisasi
pertahanan di Asia Tenggara dengan tujuan untuk
membendung bahaya komunis di Asia Tenggara
khususnya di Vietnam. SEATO terbentuk akibat
ditandatanganinya south east asia collective
defence treaty organization di Manila pada
tanggal 8 September 1954.

Anggota SEATO antara lain Amerika


Serikat, Inggris, Perancis, Australia, Selandia
Baru, Pakistan, Thailand dan Philipina.

3. Autralia, New Zeland, United States (ANZUS);


ANZUS merupakan suatu pakta pertahanan
militer antara ketiga negara tersebut dalam
menghadapi komunis. ANZUS didirikan dengan
dasar tripartite security treaty pada tanggal 1
September 1951 Anggota ANZUS yaitu
Australia, New Zeland (Selandia Baru), dan
Amerika Serikat.
4. Central East Treaty Organization (CENTO);
CENTO merupakan pakta pertahanan yang dibuat
Amerika Serikat dengan negara-negara Timur-
Tengah. Tujuannya yaitu untuk membendung
paham komunisme di Timur Tengah.
CENTO/METO semula bernama Pakta Bagdad.
Anggota CENTO antara lain Amerika Serikat,
Inggris, Irak, Iran, Turki dan Pakistan.
5. Pakta Warsawa; sedangkan di Pihak Blok Timur
dibawah Uni Soviet membentuk juga membentuk
pakta pertahanan. Sesudah blok barat membentuk
NATO, untuk mengimbangi hal tersebut, maka
Uni Soviet membentuk pakta pertahanan dengan
negara-negara lain yang berhaluan sosialis-
komunis. Pakta tersebut bernama Pakta Warsawa
yang dibentuk di Warsawa, Polandia pada tanggal
14 Mei 1955. Anggota Pakta Warsawa antara lain
Uni Soviet, Polandia, Cekoslovakia, Bulgaria,
Hongaria, Rumania, Albania, Mongolia, dan
Jerman Timur.

2. Kegiatan Spionase; perebutan hegemoni selama perang dingin


antara Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap berbagai
kawasan baik di Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika selalu
didukung oleh kegiatan agen intelijen yang mereka miliki.
Kegiatan Spionase (mata-mata) tercermin dari tindakan yang
dilakukan oleh agen spionase kedua belah pihak yaitu antara
KGB dan CIA.

KGB (Komitet Gusudarstvennoy Bezopasnosti)


merupakan dinas intelegen sipil atau dinas rahasia Uni Soviet
sedangkan CIA (Central Intelligence Agency) yang merupakan
dinas rahasia Amerika Serikat yang bertugas untuk mencari
keterangan tentang negara-negara asing tertentu.

KGB dan CIA selalu berusaha untuk memperoleh


informasi rahasia mengenai segala hal yang menyangkut kedua
belah pihak atau negara-negara yang berada di bawah pengaruh
kedua belah pihak. Mereka juga membantu terciptanya berbagai
ketegangan di dunia. Misalnya, CIA turut membantu orang-
orang Kuba di perantauan untuk melakukan serangan ke Kuba
tahun 1961 yang disebut Insiden Teluk Babi. Di pihak lain, Uni
Soviet memberikan dukungan kepada Fidel Castro (Presiden
Kuba) dalam menghadapi invasi tersebut.

3. Perang Proksi (Proxy War); pengertian proxy war


adalah perang terselubung di mana salah satu pihak
menggunakan orang lain atau pihak ketiga untuk melawan
musuh. Dengan kata lain, proxy war artinya perang tidak tampak
menggunakan cara-cara halus untuk menghancurkan dan
mengalahkan lawan menggunakan pihak ketiga.

Perang Proksi sendiri dijadikan strategi oleh Amerika


Serikat dan Uni Soviet untuk menghindari perang secara
terbuka, namun tetap bisa berperang secara tidak langsung
dengan memanfaatkan negara ketiga sebagai pihak yang
berperang secara langsung. Berikut beberapa perang proksi
yang terjadi selama perang dingin:

1. Perang Korea (1950-1953); Perang Korea adalah


konflik antara Korea Selatan (yang didukung oleh
Amerika Serikat dan PBB) dan Korea Utara (yang
didukung oleh Uni Soviet dan Republik Rakyat
Tiongkok). Penjajahan Jepang berakhir dengan
kalahnya Jepang dalam Perang Dunia Kedua.
Penyerahan jepang dan pergeseran paradigma
politik global menyebabkan terbaginya Korea
menjadi dua bagian. Inisiatif diambil oleh
Amerika Serikat dan Uni Soviet, tetapi terbaginya
Korea pada akhirnya merupakan hasil dari
Deklarasi Kairo yang dikeluarkan pada 1
Desember 1943.

Konferensi yang menghasilkan deklarasi ini


dipimpin oleh Britania Raya, Amerika Serikat,
dan China; Korea terbagi menjadi Korea Utara
dan Korea Selatan pada Desember 1945.

Garis pembagi kedua bagian tersebut


dikenal sebagai "paralel ke-38". Amerika Serikat
bertanggung jawab atas administrasi Korea
Selatan, sedangkan Uni Soviet bertanggung
jawab atas Korea Utara, pembagian ini
seharusnya hanya sementara. Selanjutnya,
Amerika Serikat, Uni Soviet, Britania Raya, dan
China seharusnya akan mengatur amanat
administrasi untuk menyatukan Korea. Akan
tetapi, kedua bagian tersebut masih terpisah
sampai sekarang.

Perang Korea bermula dua tahun setelah


selesainya perang dunia kedua, AS dan Uni
Soviet mundur dari Korea. Korea Selatan
ditinggal dengan pemerintahan demokrasi dengan
Syngman Rhee sebagai presiden, sedangkan
Korea Utara ditinggal dengan pemerintahan
komunis dengan Kim Il-Sung sebagai perdana
menteri. Terdapat permasalahan dalam
menyatukan Korea dalam satu bentuk
pemerintahan. Korea Utara ingin seluruh Korea di
bawah pemerintahan komunis, sedangkan Korea
Selatan ingin seluruh korea di bawah
pemerintahan demokrasi. Tentara Korea Selatan
relatif lebih lemah dibandingkan dengan Korea
Utara. Korea Selatan hanya dilengkapi oleh
senjata ringan, sedangkan tentara Korea Utara
dilengkapi tank-tank dan artileri. Perang Korea
adalah usaha Korea Utara untuk menyatukan
kedua negara tersebut di bawah pemerintahan
komunis.

Kronologi Perang Korea bermula ketika


pasukan Korea Utara melintasi perbatasan
"paralel ke-38" pada 25 Juni 1950. Pasukan Korea
Utara dengan mudah merebut wilayah-wilayah
utama Korea Selatan seperti Chuncheon, Ongjin,
dan Uijeongbu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut
campur pada tanggal 27 Juni, Korea Selatan
diberikan bantuan angkatan laut dan angkatan
udara oleh Amerika Serikat. Meskipun Perang
Korea hanya berlangsung selama tiga tahun yang
berakhir pada tahun 1953, Perang Korea belum
bisa dikatakan berakhir karena belum ada
perjanjian perdamaian dan kedua negara masih
berstatus gencatan senjata.

2. Krisis Misil Kuba (1962); Krisis Rudal Kuba


merupakan krisis yang terjadi setelah
terungkapnya fakta bahwa Amerika Serikat telah
mensponsori sebuah serangan ke Teluk
Babi milik Kuba, sebuah negara komunis di Laut
Karibia. Meskipun gagal, penyerbuan ini telah
menimbulkan kemarahan Uni Soviet, sebagai
pemimpin komunis dunia, maupun rakyat Kuba
sendiri. Pada bulan September 1962, Uni Soviet
segera menempatkan rudal-rudal berukuran
sedang yang dilengkapi dengan hulu
ledak nuklir di Kuba. Rudal-rudal tersebut
mengancam AS karena kemampuan merusaknya
yang dapat menghancurkan sebuah kota besar
dalam waktu singkat setelah diluncurkan. Pada
tanggal 22 Oktober1962, Kennedy muncul di
muka publik dan menuntut Uni Soviet untuk
menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang
Kuba. Maka, dimulailah minggu-minggu yang
dikenal dengan sebutan Krisis Rudal Kuba ini.
Negosiasi di antara dua musuh bebuyutan
ini terjadi dengan alot karena kedua belah pihak
merasa siap untuk berperang dan tidak mau
mengurangi tuntutannya. Kapal-kapal perang
Amerika mengepung Kuba untuk memaksakan
sebuah "karantina" terhadap semua pelayaran
milik kuba; pesawat-pesawat pengebom mencari
posisi di Florida dan bersiaga menghadapi
serangan udara. Untungnya, pada tanggal 28
Oktober 1962, Khruschev menyatakan bahwa
Uni Soviet bersedia memindahkan nuklirnya
asalkan AS berjanji tidak akan menyerbu Kuba.

Akhirnya disepakati bahwa Uni Soviet


melucuti rudal nuklir nya di Kuba sedangkan
Amerika Serikat melucuti rudal nuklir nya di
Turki dan Italia.

3. Perang Vietnam (1957-1975); Perang Vietnam


disebut juga dengan Perang Indochina Kedua,
adalah sebuah perang yang terjadi antara tahun
1955-1975 di Vietnam. Perang ini merupakan
bagian dari Perang dingin antara dua kubu
idiologi besar, yakni Komunis dan Liberal.
Vietnam yang telah menjadi negara jajahan
Perancis sejak abad ke-19 menimbulkan reaksi
dari rakyat Vietnam untuk merdeka, sehingga
terjadi banyak sekali pemberontakan yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok nasionalis.

Pada tahun 1919 terjadi perundingan


Perjanjian Versailles. Ho Chi Minh meminta agar
Vietnam dapat merdeka, namun permintaan
tersebut ditolak sehingga Vietnam masih menjadi
wilayah jajahan Perancis. Ho Chi Minh
mendirikan Liga untuk Kemerdekaan (Viet Minh)
pada tahun 1941.

Viet Minh terdiri dari para nasionalis


Vietnam dan kelompok komunis yang
mendukung kemerdekaan Vietnam dengan
berjuang melawan penjajahan Perancis.

Pada tanggal 2 September 1945 di Hanoi,


Ho Chi Minh secara umum mendeklarasikan
kemerdekaan Vietnam. Namun tidak lama
kemudian, Perancis berhasil menaklukkan
Vietnam Selatan kembali dan mengajak kaum
komunis Vietnam untuk berunding. Perundingan
Jenewa pada tanggal 20 Juli 1954 menghasilkan
beberapa keputusan, salah satunya pembagian
Vietnam menjadi Vietnam Utara yang dipimpin
Ho Chi Minh dan Vietnam Selatan yang dikuasai
oleh Kaisar Bao Dai. Akan tetapi Ho Chi Minh
tidak menyetujui adanya pemisahan wilayah
Vietnam. Dia menganggap pembentukan
Vietnam Selatan sebagai penghalang tercapainya
persatuan seluruh Vietnam.

Ketika tahun 1954, Perancis meninggalkan


daratan tersebut, dan Amerika yang
menggantikannya, dan 4 tahun kemudian
Amerika telah memiliki lebih dari 500.000
pasukan di Vietnam Selatan. Amerika dibawah
presidennya, secara berturut-turut telah
melibatkan negaranya untuk terjun kedalam
sebuah perang panjang dengan jarak yang sangat
jauh. Pada bulan maret 1973, pasukan terakhir
Amerika meninggalkan Vietnam. Dua tahun
kemudian, Vietnam Utara dan kekuatan komunis
Selatan memulai serangan dengan maksud untuk
menguasai negara Vietnam Selatan, namun pada
tanggal 30 April 1975, pasukan Vietnam Utara
menduduki Saigon yang mengakibatkan
berakhirnya perang yang telah berlangsung
selama tiga puluh tahun.

4. Perang Soviet-Afghanistan (1979-1989);


merupakan masa sembilan tahun di mana Uni
Soviet berusaha mempertahankan
pemerintahan Marxis-Lenin di Afganistan,
yaitu Partai Demokrasi Rakyat Afganistan,
menghadapi mujahidin Afganistan yang ingin
menggulingkan pemerintahan.

Uni Soviet mendukung pemerintahan


Afganistan, sementara para mujahidin mendapat
dukungan dari banyak negara, antara
lain Amerika Serikat dan Pakistan.

4. Bidang Ruang Angkasa

Ruang angkasa adalah sebuah ruang di luar bumi yang turut


dijadikan objek persaingan dalam Perang Dingin. Ambisi manusia
untuk menaklukkan ruang angkasa dan demi menarik perhatian dunia
turut melatarbelakangi persaingan besar ini.
Dalam hal persaingan ruang angkasa, Rusia unggul lebih dahulu
dengan keberhasilannya meluncurkan satelit buatan yang pertama di
dunia yang bernama Sputnik I pada 4 Oktober 1957. Amerika Serikat
kemudian menyusul dengan meluncurkan satelit pertamanya yang
dinamai Explorer I pada 31 Januari 1958.

Pada 12 April 1961, Rusia kembali memimpin dengan


meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar, Yuri Alekseyivich
Gagarin, seorang mayor Angkatan Udara Rusia yang meluncur dengan
kapsul Vostok I. Kurang dari sebulan kemudian, Amerika Serikat
meluncurkan astronaut pertamanya, Alan B Shepard dengan kapsul
Mercury 7. Peluncuran ini dilakukan secara terburu-buru dengan
teknologi yang belum sempurna sehingga Alan B Shepard hanya
mampu mengangkasa selama 15 menit dengan ketinggian maksimal
184 km, tertinggal dengan Yuri Alekseyivich Gagarin dari Uni Soviet
yang mencatat waktu 108 menit dan ketinggian maksimal 301,4 km
dalam sekali orbit.

Misi Amerika Serikat sendiri sebenarnya hanyalah penerbangan


naik-turun dan tidak sampai mengorbit bumi. Amerika Serikat baru
berhasil mengirimkan pesawat pengorbit pada 20 Februari 1962, ketika
kapsul Friendship 7 yang diawaki oleh Letkol. Jonh Herschel Glenn
berhasil melakukan 3 kali orbit dalam penerbangan selama 4 jam 56
menit. Tetapi prestasi ini masih tertinggal dengan kemajuan yang
dicapai Rusia pada 6 bulan sebelumnya, ketika Mayor German
Stephanovich Titov berhasil mengorbitkan sebanyak 17 kali dalam
penerbangan selama 25 jam 18 menit dalam kapsul Vostok II.

Bulan menjadi sasaran berikutnya dari kedua negara yang telah


bersaing itu. Rusia mendahului dengan mengirim wahana tak berawak
Luik II pada 14 September 1959. Wahana ini tercatat sebagai wahana
buatan manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan.
Sayangnya, Lunik II mendarat secara keras (hard landing) dengan
akibat seluruh peralatan yang dibawanya rusak sehingga tidak mampu
mengirimkan data apapun ke bumi. Rusia baru berhasil mendaratkan
wahana yang mampu melakukan pendaratan lunak (soft landing) pada
Februari 1966 melalui wahana Lunik IX.

Sedangkan Amerika Serikat baru berhasil mengirimkan wahana


untuk melakukan pendaratan lunak pada akhir 1966. Setahun
kemudian, sebuah wahana Amerika Serikat lainnya berhasil
mengirimkan gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya
terjadi pada 17 Juli 1969, ketika Neil Amstrong dan Edwin Aldrin
berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama
yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo-11.

Misi tersebut dilanjutkan dengan 5 pendaratan lainnya, masing-


masing Apollo-12 9November 1969), Apollo-14 (Februari 1971),
Apollo-15 (Agustus 1971), Apllo-16 (April 1972), dan kegagalan,
tepatnya menimpa misi Apollo-13 yang mengalami kecelakaan
(ledakan pada salah satu modulnya). Melalui tindakan pertolongan
yang legendaris, para awaknya dapat kembali dengan selamat ke bumi
walaupun gagal menjejak ke permukaan bulan. Sementara itu, Rusia
tercatat pernah mengirimkan modul Lunkhod I pada 17 November
1970. Modul ini berupa robot yang dikendalikan dari bumi.

Namun sesudahnya, program antariksa Rusia di bulan tidak lagi


berlanjut. Begitu pula dengan Amerika Serikat. Setelah berakhirnya
misi Apollo-17 Amerika Serikat tidak lagi mengirimkan manusia ke
bulan. Persaingan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet terus
berlanjut dalam bidang penguasaan ruang angkasa.
Sebelum era pesawat ulang-alik, seluruh komponen antariksa
bersifat sekali pakai. Maka akibatnya, pengiriman misi berawak
membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain cara ini juga sangat
berisiko karena apabila terjadi kecelakaan dalam misi berawak di
ruang angkasa mustahil untuk melakukan pertolongan. Musibah yang
menimpa misi Apollo-13 memberikan pelajaran bahwa misi berawak
ke antariksa tidak lain adalah sebuah petualangan yang penuh risiko.
Atas pertimbangan itu, maka tahun 1970-an, NASA mulai
mengembangkan pesawat ulang-alik. Misi ulang-alik dinilai lebih
ringan biayanya karena hampir seluruh komponennya dapat digunakan
kembali pada misi-misi sesudahnya.

Amerika Serikat kembali mencatat sejarah dengan


keberhasilannya meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya,
Columbia, pada bulan Juni 1981. Dengan digunakannya teknologi
ulang-alik terbuka kesempatan untuk meluncurkan misi berawak
dengan frekuensi yang lebih sering dengan pembiayaan yang lebih
kecil.

Namun, pesawat ulang-alik Challeger yang meledak saat


peluncuran 28 Februari 1986 dan menewaskan ketujuh awaknya
memang sempat membuat NASA merestrukturisasi kembali program
ulang-aliknya, khususnya dalam persoalan keamanan. Namun
demikian, teknologi ulang-alik sendiri tidak banyak berubah bahkan
selama lebih dari 20 tahun sejak pertama kali digunakan.

Sementara itu Uni Soviet juga tidak mau ketinggalan dengan


Amerika Serikat untuk mengejar ketertinggalannya dari Amerika
Serikat, Rusia tercatat juga sempat mengembangkan pesawat ulang-
aliknya sendiri yang diberi nama Buran, dari bahasa setempat yang
berarti Badai Salju.

Tahun 1988, Buran sempat diujicoba dalam sebuah penerbangan


tanpa awak. Sayangnya krisis politik maupun ekonominya yang
melanda Uni Soviet sesaat sebelum bubar membuat proyek Buran
tersendat, dan bahkan terhenti sama sekali sebelum sempat
berkembang.

Pecahnya Uni Soviet akhirnya juga membawa malapetaka bagi


program antariksa Rusia. Pangkalan peluncuran Rusia yang berada di
Tyuratam dikenal sebagai kosmodrom Baikonur kini telah masuk
wilayah Kazakhstan, sebuah negara kecil yang secara ekonomi tidak
begitu makmur. Tentu saja pemerintah Kazakhstan tidak ingin
membiarkan begitu saja sebagian teritorinya dipakai secara gratis oleh
negara Rusia untuk kepentingannya sendiri. Pendeknya pemerintahan
Kazakhstan menuntut pihak Rusia untuk membayar ongkos sewa agar
dapat terus menggunakan pangkalan tersebut.

Rusia terus melanjutkan program antariksa mereka dengan


memanfaatkan stasiun luar angkasa Mir. Tetapi karena kurangnya
biaya ditambah dengan kondisi Mir yang memang sudah tua akhirnya
membuat pemerintah Rusia terpaksa memutuskan untuk mengakhiri
riwayat stasiun kebanggaan mereka itu pada bulan April 2001.

Pasca-Perang Dingin, teknologi roket tidak lagi merupakan


monopoli Amerika Serikat atau Rusia. Tercatat negara-negara seperti
Jepang, India, Cina, dan Uni Eropa, juga telah berhasil
mengembangkan teknologi roketnya sendiri. Rencana Cina untuk
meluncurkan misi berawak ke antariksa kiranya akan menorehkan
sejarah baru dalam dunia penerbangan antariksa. Negara-negara
tersebut pada kahirnya bahu-membahu membangun stasiun ruang
angkasa internasional.

D. Berakhirnya Perang Dingin

Setelah berlangsungnya konflik yang paling mencekam dalam sejarah


manusia (meskipun tidak terjadi konflik terbuka), Perang Dingin akhirnya
berakhir bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet dan negara komunis
lainnya. Adapun beberapa kejadian yang menyebabkan berakhirnya Perang
Dingin adalah:

1. Detente (Penurunan Ketegangan/Persahabatan)

Detente adalah berkurangnya ketegangan antara Blok Barat dan


Blok Timur. Hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya penurunan
ketegangan antara lain sebagai berikut:

1. Isu Berlin Barat dapat diselesaikan dalam meja perundingan


tahun 1971.
2. Inggris mulai bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa.
3. Negara barat mulai menjalin hubungan diplomatik dengan RRC
pada 1973.
4. Terjadi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet
dengan ditandatanganinya persetujuan SALT I (Strategic Arm
Limited Task) dan SALT II atau pembatasan persenjataan
strategis. SALT I merupakan perundingan pembatasan
persenjataan strategis yang berlangsung di Helsinki, Finlandia
tanggal 17 November 1969. Hasil perundingan ini
ditandatangani oleh Richard Nixon (Presiden Amerika Serikat)
dan Leonid Brezhnev (Uni Soviet). SALT II merupakan
perundingan pembatasan persenjataan strategis yang
berlangsung di Jenewa, Swiss pada November 1972 tetapi
hasilnya baru ditandatangani 18 Juni 1979 di Wina, Austria oleh
Jimmy Carter (Amerika Serikat) dan Leonid Brezhnev (Uni
Soviet).

2. Gerakan Reformasi Mikhael Gorbachev

Ketika Mikhael Gorbachev berkuasa di Uni Soviet sebagai


Sekretaris Jenderal Partai Komunis pada tahun 1985, dia tercatat
mengubah wajah dunia. Saat memerintah, Gorbachev berusaha
mereformasi Uni Soviet menjadi negara yang lebih demokratis. Dia
juga membuat beberapa perjanjian internasional dan melakukan
gerakan yang secara harfiah mengakhiri Perang Dingin, meski harus
ditebus dengan runtuhnya Uni Soviet menjadi 16 negara yang berbeda.
Keruntuhan ini tentu bukan sesuatu yang dibayangkan Gorbachev.
Namun tanpai inisiatifnya, Perang Dingin mungkin masih akan
berlangsung dan semakin berlarut.

3. Kegagalan Ekonomi Rusia

Harga minyak mengalami penurunan pada tahun 1980-an dan


secara drastis mempengaruhi pendapatan Uni Soviet pada saat itu. Hal
ini mendorong Gorbachev melakukan beberapa langkah reformatif
dengan tujuan mengangkat perekonomian. Dia memperkenalkan
konsep Perestroika (restrukturisasi) dan Glasnost (keterbukaan) untuk
melawan ketertutupan yang mengelilingi kerja Pemerintah Uni Soviet.
Selain itu, perlombaan senjata dengan Amerika Serikat membuat
ekonomi Uni Soviet semakin mengalami kesulitan. Semua ini
menyebabkan banyak tuntutan reformasi liberal yang akhirnya tidak
tertangani dengan baik sehingga memicu gerakan yang akhirnya
menghancurkan Uni Soviet.

4. Perang di Afghanistan

Antara tahun 1979 hingga 1989, Soviet membantu Republik


Demokratik Afghanistan melawan Mujahidin Afghanistan dan
penyusup Arab-Afghan lainnya. Akhirnya, Amerika Serikat juga ikut
terlibat dalam perang ini dengan tujuan tunggal berusaha melawan
Soviet. Biaya perang, kerugian ekonomi, dan hilangnya nyawa selama
perang 9 tahun mengakibatkan masyarakat Soviet mendesak
pemerintahnya untuk menghentikan perang.

5. Konflik di Berbagai Wilayah Dunia

Setiap kali terjadi konflik antara dua negara, kedua pihak


cenderung berusaha mendekati baik Uni Soviet atau Amerika Serikat
untuk meminta bantuan. Akibatnya, hampir seluruh dunia terbagi
menjadi dua blok. Hal ini menyeret AS dan Soviet dalam berbagai
konflik di berbagai belahan dunia yang tentu membawa masalah bagi
kehidupan domestik mereka. Perekonomian Soviet yang sudah
melemah semakin bertambah sulit karena harus membiayai berbagai
konflik di seluruh dunia.

6. Komunikasi Lebih Cair antara Uni Soviet dan Amerika


Serikat
Untuk berbagai alasan yang berbeda, hubungan antara Amerika
Serikat dan Uni Soviet mulai mencair yang ditandai dengan banyak
pembicaraan yang melibatkan kedua negara. Ronald Reagan, yang
merupakan Presiden Amerika Serikat saat itu, sepakat mengadakan
beberapa diskusi ekonomi dengan Uni Soviet. Fokus pembicaraan
pada akhirnya bergeser ke upaya pengurangan perlombaan senjata
yang telah terjadi selama beberapa dekade sebelumnya. Tahun 1985
menjadi saksi pertemuan pertama yang diadakan di Jenewa, Swiss, dan
menjadi tanda awal berakhirnya perang.

Pertemuan terakhir diadakan di Moskow, di mana Gorbachev


dan George HW Bush menandatangani perjanjian pengawasan senjata.
Akhirnya, Perang Dingin secara resmi dinyatakan berakhir di Malta
Summit pada tahun 1989.

E. Momentum Perjanjian dan Kerjasama Internasional Masa Perang


Dingin dan pasca-Perang Dingin

Dalam sejarah perkembangan Perang Dingin, telah terjadi banyak


sekali perjanjian dan kerja sama yang bersifat internasional pada era
tersebut. Adapun beberapa perjanjian dan kerja sama internasional yang
terjadi adalah:

1. Perjanjian antara RRC dan Uni Soviet tahun 1950 mengenai kerja sama
dianatara kedua negara guna menghadapi kemungkinan agresi Jepang,
2. Terjadinya kesepakatan antara AS dan US dengan ditandatanganinya
persetujuan:
a. SALT I; merupakan perundingan pembatasan persenjataan
strategis yang berlangsung di Helsinki, Finlandia tanggal 17
November 1969. Hasil perundingan ini ditandatangani oleh
Richard Nixon (Presiden Amerika Serikat) dan Leonid Brezhnev
(Uni Soviet),
b. SALT II; merupakan perundingan pembatasan persenjataan
strategis yang berlangsung di Jenewa, Swiss pada November
1972 tetapi hasilnya baru ditandatangani 18 Juni 1979 di Wina,
Austria oleh Jimmy Carter (Amerika Serikat) dan Leonid
Brezhnev (Uni Soviet),
3. Persetujuan Pembatasan Nuklir Balistik (1987). Presiden Ronald Reagen
meningkatkan kemampuan persenjataan balistiknya yang mempengaruhi
sikap Mikhail Gorbachev untuk melakukan persetujuan pembatasan nuklir
balistik tahun 1987. Dampak dari perjanjian ini antara lain Uni Soviet
mengurangi kekuatan angkatan perangnya di Eropa Timur dan mulai
memusatkan pembenahan ekonomi serta kehidupan politik dalam negeri
yang lebih demokratis,
4. Konfrensi dikapal Maxim Gorky (1989) kedua belah pihak akah
mengurangi jumlah pasukan dan persenjataan di eropa,

Pertemuan Puncak Malta (3 Desember 1989) adalah sebuah pertemuan antara


Uni Soviet dan Amerika Serikat yang turut dianggap sebagai akhir dari Perang
Dingin.

Perspektif dalam Hubungan Internasional

A. Level Analisis

Hubungan internasional membutuhkan kajian dari berbagai sudut pandang.


Untuk melihat dan mengkaji satu peristiwa dalam hubungan internasional, Kenneth
Waltz membagi perspektif itu menjadi tiga antara lain adalah:
a. Individu; perspektif individu memfokuskan dalam diri, sifat, sudut
pandang, pilihan, serta aktifitas individu yang mengambil keputusan
dan mentepakan kebijakan.
b. Negara; perspektif Negara atau state memfokuskan dalam menjelaskan
sifat karakteristik suatu daerah. Dalam hal ini adalah State.
c. Sistem Internasional, memfokuskan diri dalam menjelaskan bagaimana
suatu permasalahn pada tingkat internasional yang melibatkan interaksi
yang bersifat global.

B. Realisme dan Neo-Realisme

Realisme berasal dari cara pandang individu yang takut, egois, dan suka
mencari kekuasaan. Dalam hal ini negara saling tidak merasa aman akan negara lain
sehingga menyebabkan banyaknya saling tuding dan diperlukan balancing of
power. Dalam realis terdapat banyak pandangan dan asumsi seperti yang
dikemukakan oleh Thucydides yaitu:

a. Participal actor; dalam hal melakukan berbagai hal, adanya para aktor
yang memiliki peran kunci dalam mementukan suatu keputusan yang
mempengaruhi hakikat orang banyak.
b. Unitary actor; percaya bahwa setiap individu yang telah menentukan
suatu keputusan untuk berperang maka negara hars berbicara sebagai
suatu kesatuan bukan hanya segelintir orang saja.
c. Rational actor; dalam mengambil keputusan diperlukan suatu
perhitungan kebaikan maputun kerugian pada setiap keputusan yang
diambl agar dapat mencapai tujuan yang sudah ada.
d. Security issue, keperluan yang menyatakan bahwa suatu Negara harus
meningkatkan kapasitas domestik, infrastruktur, dan ekonomi dengan
negara lain yang memiliki kesamaan tujuan.
Dalam hakikatnya, manusia merupakan makhluk yang egois dan tidak mau
kalah. Maka para filsuf mengeluarkan pendapat yang dapat membuat negara lebih
baik lagi, seperti :

a. Nicollo Machiavelli; yang beranggapan bahwa seorang pemimpin


harus bisa mempertahankan kekuatannya dalam menjaga kekuatan
yang dimilikinya.
b. Thomas Hobbes; cara berfikir yang efektif untuk menghilangkan
peperangan diperlukannya sorang pemimpin yang kuat untuk mengatur
semua negara agar dapat hidup dengan damai.

Dalam realis ada paham realis bertahan dan realis menyerang. Realis bertahan
dalam halnya perpolitikan dunia semua permasalahan harus dibahas dengan
berdiplomasi maupun ekonomi, sedangkan pada realis menyerang adanya
keinginan terpendam untuk memiliki niat dan keinginan untuk meningkatkan
reputasi di mata dunia.

C. Liberalisme dan Neo-Liberalisme

Liberalis menekankan pada sifat alami manusia yang berpendapat bahwa


individu adalah entitas yang bebas dan mampu berbuat baik serta dapat
meningkatkan moral mereka agar peradaban dapat berkembang, baik maupun
buruk perkembangan manusia dilihat dari siapa yang menilai mereka karena
kebebasan masing-masing individu itu sendiri. Pada kegiatan internasional, setiap
negara memiliki keinginan yang tidak sama secara mutlak maka diperlukan
kebebasan menentukan jalannya masing-masing agar dapat terciptanya negara yang
berdaulat.

D. Radikalisme

Radikalisme menawarkan negara dunia ketiga untuk tidak menerima


liberalisme secara langsung karena menurut Karl Max, jika sistem ekonomi
liberalisme yaitu kapitalisme menguasai maka akan terjadi ketimpangan sosial yaitu
kaya akan semakin kaya dan mengeksploitasi yang miskin, maka terbentuklah
paham radikalisme yang menolak pengeksploitasian kaum proletar oleh kaum
borjuis. Masalah ekonomi seperti overproducing dari satu barang dapat
menyebabkan kaum borjuis memperbanyak uang mereka.

E. Konstruktivisme

Konstruktivisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut yaitu kaum konstruktivis


menganggap tidak adanya negara, organisasi maupun orang yang memiliki
keinginan mutlak. Kepentingan yang dimiliki negara merupakan hasil dari
keinginan warganya yang disampaikan kepada penguasa. Dalam hal struktur
perpolitikan, kita dapat mengetahui sifat dari negara tersebut. Perubahan yang
dialami merupakan hasil dari pengalaman yang terjadi berkelanjutan.

Resume Perspektif dalam Hubungan Internasional: Level Individu

A. Peran Individu

Apabila ditelaah melalui level individu, seorang elit pembuat kebijakan jelas
memiliki pengaruh dan dapat membuat perbedaan. Kapanpun ada perubahan
kepemimpinan dalam kekuatan besar, spekulasi selalu muncul tentang
kemungkinan perubahan dalam kebijakan luar negeri negara tersebut.

Banyak bukti empiris yang ditawarkan bahwa kepemimpinan seorang


individu memiliki peran yang sangat penting. Dari Nicolae Ceauescu ke Mikhail
Gorbachev, kepemimpinan membuat perbedaan dalam memulai dan
mempertahankan reformasi kebijakan luar negeri di negara masing-masing.

Kaum konstruktivis mengaitkan kebijakan bergeser tidak hanya di sekitar ranah Uni
Soviet dan Gorbachev, tetapi juga ke jaringan spesialis reformis dan internasional
yang mempromosikan gagasan baru.
Tentu saja, bagi realis perspektif individu tidak penting. Negara tidak
dibedakan oleh jenis pemerintahan atau kepribadian pemimpin mereka, namun oleh
kekuatan relatif yang mereka pegang dalam sistem internasional.

B. Dampak dari Adanya Elit

1. Kondisi Eksternal

Ketika institusi politik tidak stabil, muda, dalam krisis, atau


ambruk, para pemimpin dapat memberikan pengaruh yang kuat. Bila
mereka memiliki sedikit kendala kelembagaan, dalam rezim diktator,
Pemimpin puncak bebas dari hambatan seperti masukan masyarakat
dan oposisi politik dan dengan demikian dapat mengubah kebijakan
yang dengan tidak terkekang

2. Faktor Kepribadian

Psikolog Margaret Hermann telah menemukan sejumlah


karakteristik kepribadian yang mempengaruhi perilaku kebijakan luar
negeri. Pemimpin dengan tingkat nasionalisme yang tinggi, kebutuhan
kekuasaan yang kuat, dan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi
terhadap orang lain, cenderung mengembangkan orientasi independen
terhadap urusan luar negeri. Sedangkan, pemimpin dengan tingkat
nasionalisme rendah, kebutuhan evaluasi yang tinggi, dan rendahnya
tingkat ketidakpercayaan terhadap orang lain, cenderung mengarah
pada orientasi partisipatif dalam urusan luar negeri.
Resume Perspektif dalam Hubungan Internasional: Level State

A. The State and The Nation

Sebuah negara agar dapat disebut sebagai negara harus memiliki beberapa hal
sebagai sebuah syarat mendasar, walaupun syarat tersebut tidak sepenuhnya
mutlak.

Syarat-syarat sebuah negara adalah sebuah negara harus memiliki basis


teritorial yang ditentukan melalui batas-batas geografi, terdapat populasi yang stabil
dalam wilayah teritorial tersebut, adanya pemerintahan sebagai tempat penduduk
bergantung, dan sebuah negara harus diakui secara diplomatis oleh negara-negara
lain.

Setiap negara mempunyai batas teritorial negaranya namun terkadang yang


menjadi perselisihan antar negara adalah wilayah perbatasan. Setiap negara
mempunyai populasi penduduk yang stabil, tetapi sering masyarakat migran dan
masyarakat nomaden yang melintasi batas seperti yang terjadi di Masai, Kenya, dan
Tanzania.

Setiap negara memiliki struktur kelembagaan dalam pemerintahannya,


namun tidak semua orang mematuhinya karena kurangnya informasi atau dapat
menjadi masalah karena legitimasi pemerintah dipertanyakan. Sebuah negara tidak
harus memiliki suatu pemerintahan tertentu namun rakyatnya harus mengakui
legitimasi pemerintahan.

Bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki seperangkat karakteristik.


Inti dari konsep bangsa adalah anggapan bahwa orang yang memiliki kesamaan dan
memiliki hutang kesetiaan kepada bangsa dan kepada negaranya. Bangsa dapat
merupakan mereka yang memiliki kesamaan sejarah, kesamaan bangsa atau gaya
hidup yang sama. inti dari konsep sebuah bangsa adalah mereka yang memiliki latar
belakang kesamaan dan memiliki kesetiaan kepada negara. Pengakuan kesamaan
menyebar melalui teknologi dan pendidikan, ketika teknologi percetakan
digunakan, massa dapat membaca dalam bahasa nasional mereka sendiri. Dengan
komunikasi yang baik, elit dapat mempromosikan persatuan dan mengeksploitasi
perbedaan. Beberapa negara seperti Denmark dan Italia membentuk negara mereka
sendiri. Kebetulan antara negara dan bangsa, bangsa negara adalah sebuah fondasi
bagi penentuan nasib nasional bangsa mereka, sebuah gagasan bahwa orang-orang
yang memiliki kebangsaan memiliki hak untuk menentukan nasib hidup mereka
sendiri. Beberapa bangsa hidup menyebar di beberapa negara. Seperti contohnya,
orang-orang Jerman tidak hanya tinggal dan hidup di Jerman tetapi di tempat yang
jauh di timur Eropa. Dalam kasus ini, negara dan bangsa tidak harus berada pada
suatu tempat yang sama. Kadang-kadang ada kongruensi antara negara dan bangsa
seperti di Denmark dan Italia. Sebuah negara dapat berisikan beberapa bangsa.
Tidak semua etnonasionalis mencita-citakan tujuan yang sama, beberapa
menginginkan status yang unik, beberapanya mencari solusi dalam pengaturan
federal, beberapa memilih irredentisme bergabung dengan etnonasionalis di negara
lain untuk membentuk sebuah negara baru.

Perselisihan mengenai wilayah negara dan keinginan negara untuk


membentuk negara mereka sendiri terkadang menimbulkan perselisihan bahkan
konflik. Dari konflik teritorial tidak ada yang lebih keras kepala seperti Israel dan
Palestina yang mengklaim daerah teritori yang sama.

B. Konsep Tentang Negara

Konsep lain tentang negara meliputi; negara adalah tatanan normativ, simbol
bagi masyarakat tertentu dan kepercayaan yang mengikat orang-orang yang tinggal
didalamnya. Negara adalah unit fungsional yang mengambil tanggung jawab
penting, memusatkan dan mempersatukan mereka. Terdapat beberapa teori
perspektif tentang negara.

a. Realis
Menurut Realis, negara adalah state-centric. Realis percaya bahwa
negara adalah aktor otonom yang dibatasi hanya dengan anarki struktural
sistem internasional. Sebagai entitas kedaulatan, negara memiliki tujuan yang
konsisten yang didefinisikan dalam kekuasaan. Kekuasaan dapat
diterjemahkan dalam kekuasaan militer. Walaupun kekuasaan adalah hal
yang penting bagi realis, namun, ideologi juga merupakan hal yang penting.
Ideologi dapat mengatur sifat sebuah negara, seperti contohnya negara Korea
Utara dibawah komunis. Tetapi dalam hubungan internasional, begitu negara
bertindak maka ia bertindak sebagai kesatuan otonom.

b. Liberalis

Liberal percaya bahwa negara adalah arena pluralis yang berfungsi


mempertahankan aturan dasar dan kesepakatan. Aturan ini memastikan
berbagai kepentingan berjalan secara efektif dalam permainan politik.
Liberalis melihat negara sebagai sebuah proses yang melibatkan kepentingan
bersama, cerminan dari pemerintah maupun masyarakat, repositori beberapa
perubahan, dan kepentingan nasional, serta pemilik sumber daya nasional.

c. Radikalis

Instrumental Marxis melihat negara sebagai agen pelaksana borjuis.


Kaum borjuis bereaksi terhadap tekanan masyarakat secara langsung
terutama aum kapitalis. Pandangan struktural Marxis melihat negara
beroperasi di dalam struktur sistem kapitalis. Dalam sistem itu, negara
didorong untuk memperluas, karena dari imperatif sistem kapitalis. Dalam
pandangan radikal tidak ada kedaulatan nyata atau kepentingan nasionalis.

d. Konstruktivis

Kepentingan nasional yang tidak material. Mereka ide nasionalis dan


terus berubah dan berkembang, baik dalam menanggapi faktor domestik dan
dalam menanggapi norma dan ide-ide internasional.
e. Pandangan Lainnya

Interpretasi realis berpandangan bahwa kepentingan nasiobal yang


seragam di artikulasikan oleh negara. Minyak sangat diperlukan bagi
keamanan internasional dengan demikian, negara ingin kestabilan
ketersediaan minyak dan harga.

Liberalis percaya bahwa beberapa kepentingan nasional mempengaruhi


tindakan negara, kelompok konsumen dan produsen. Negara sendiri tidak memiliki
sudut pandang yang konsisten tentang minyak, tugasnya adalah hanya untuk
memastikan bahwa lapangan adalah tingkat dan aturan yang sama untuk pemain.

Menurut radikalis, kebijakan minyak mencerminkan kepentingan kaum


kapitalis yang selaras dengan borjuis dan mencerminkan struktur sistem kapitalis
internasional dan proses negosiasi hanya dijadikan alat untuk kemajuan negara-
negara kapitalis.

Konstruktivis mencoba untuk menjelaskan bagaimana identitas negara yang


dibangun sekitar memiliki sumber daya yang berharga.

C. Cara Menjalankan Kekuasaan

Seni Diplomasi; untuk menyukseskan tawar-menawar maka setiap pihak harus


kredibel. Meskipun negara jarang masuk tawaran diplomatik, masing-masing
negara memiliki informasi dan tujuan sendiri. Hasilnya mungkin saling
menguntungkan namun terkadang tidak memuaskan pihak lainnya.

Kekuatan Ekonomi; negara dapat menggunakan kekuatan ekonomi baik positif


maupun negatif sebagai sanksi untuk mencoba mempengaruhi negara lain.
Kekuatan militer; angkatan dapat digunakan untuk mendapatkan target untuk
mlakukan sesuatu atau membatalkan sesuatu yang telah selesai yang dikenal
dengan compellence, atau untuk menjaga musuh dari melakukan sesuatu yang
disebut pencegahan.

Demokrasi Luar Negeri; dalam bukunya, tahun 1795, Immanuel Kant


berpendapat bahwa penyebaran demokrasi akan mengubah politik internasional
dengan menghilangkan perang, masyarakat akan sangat berhati-hati dalam
mendukung perang karena mereka cenderung menderita efek yang paling
menghancurkan.

Resume Perspektif dalam Hubungan Internasional: Level Sistem


Internasional

A. Konsep Sistem dan Sistem Internasional

Konsep sistem internasional dalam hubungan internasional adalah salah satu


cara pandang dari masing-masing perspektif dalam melihat hubungan internasional.
Bagi kaum realis dan radikal, konsep sistem internasional sangat penting bagi
analisis mereka. Bagi kaum liberal, sistem internasional kurang tepat dan kurang
konsekuen. Sedangkan bagi konstruktivis, sistem adalah terkait dengan gagasan
perubahan.

Untuk memahami sistem internasional, pengertian sistem itu sendiri harus


diklarifikasi. Sistem adalah kumpulan unit, objek, atau bagian yang disatukan oleh
beberapa bentuk interaksi reguler. Sistem sangat penting bagi ilmu fisika dan
biologi. Dalam sains terutama biologi, sistem meliputi tingkat mikro (sel, tanaman,
dan hewan) atau dalam tingkat makro (ekosistem alami atau iklim global). Karena
unit ini berinteraksi, perubahan dalam satu unit menyebabkan perubahan pada hal
lainnya. Sistem cenderung merespons dengan cara yang teratur, artinya masing-
masing perilaku yang terjadi dalam sistem ada sebuah pola yang dapat terlihat.
Sistem juga dapat rusak sehingga terbentuk sistem yang baru.

Pada 19505, revolusi perilaku dalam ilmu sosial dan meningkatnya


penerimaan realisme politik dalam hubungan internasional membuat para ilmuwan
mengonseptualisasikan politik internasional sebagai sebuah sistem. Pada masa itu,
muncul anggapan bahwa orang-orang berinteraksi dengan pola yang terbentuk dari
kebiasaan. Kaum realis maupun behavioris membuat lompatan konseptual bahwa
politik internasional adalah sistem yang aktor utamanya adalah negara itu sendiri.
Gagasan tentang sistem ini tertanam dalam pemikiran tiga teoritis dominan dalam
hubungan internasional.

B. Bagaimana Kaum Realis Memandang Konsep Sistem Internasional?

Kaum politik realis memiliki pandangan yang jelas tentang sistem


internasional dan karakteristik dasarnya. Semua realis mencirikan sistem
internasional sebagai sesuatu yang anarkis; tidak ada otoritas di atas negara; negara
adalah entitas yang berdaulat. Struktur anarkis ini membatasi tindakan pembuat
keputusan dan mempengaruhi distribusi kemampuan di antara berbagai aktor.

Di dalam pembagiannya, antara kaum realis memiliki pandangan yang


berbeda dalam hal tingkat otonomi suatu negara. Kaum realis tradisional mengakui
bahwa negara bertindak dan membentuk sistem, sedangkan neorealis percaya
bahwa aktor dibatasi oleh struktur sistem. Namun untuk keduanya, anarki adalah
prinsip dasar pemesanan dan setiap negara dalam sistem harus, oleh karena itu,
melihat sendiri kepentingannya sendiri.

Realis membedakan sistem internasional sepanjang dimensi polaritas. Hal itu


terjadi karena kaum realis lebih tertarik pada konsep power. Dimensi polaritas
secara sederhana juga hanya mengacu pada jumlah blok negara yang menggunakan
power dalam sistem internasional. Adapun konsep polaritas tersebut antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Multipolar; adalah konsep polaritas yang terbentuk apabila ada
beberapa negara yang memiliki power dan berpengaruh dalam sistem
internasional. Konsep nyata dari sistem ini dapat terlihat secara nyata
pada dunia abad 19. Pada saat itu terdapat 5 negara yang cenderung
menikmati pembagian power yang relatif sama. Namun, apabila aktor
dalam multipolar sistem tidak mematuhi norma BOP, maka
keseimbangan sistem ini akan terancam. Apabila jumlah negara
menurun menjadi 3, maka kestabilan sistem dalam bahaya karena
koalisi antara 2 negara dapat terjadi dan negara yang ditinggalkan akan
menjadi lemah;
2. Bipolar; adalah konsep polaritas 2 kutub ketika ada 2 negara yang
memiliki pengaruh dan power dalam sistem internasional. Hal ini
tercermin pada saat Perang Dingin pasca Perang Dunia 2. Norma yang
ada dalam sistem bipolar sedikit berbeda dengan multipolar. Negosiasi
lebih baik daripada berperang, perang lebih baik daripada perang besar,
dan perang besar lebih baik daripada tidak bisa mengeliminasi blok
rival. Sistem bipolar sangat sulit diatur secara formal, karena negara-
negara yang tidak terikat atau organisasi internasional dapat
mengarahkan perilaku salah satu dari kedua blok tersebut. Peraturan
informal mungkin lebih mudah. Jika salah satu dari blok tersebut
terlibat dalam perilaku yang mengganggu, konsekuensinya segera
terlihat, terutama jika, sebagai hasilnya, salah satu blok memperoleh
kekuatan atau posisi.
3. Unipolar; adalah sistem internasional di mana satu negara memegang
hegemoni kekuasaan. Pendukung konsep ini yakin bahwa pemegang
tampuk kekuasaan tertinggi dalam sistem internasional rela untuk
membayar apapun agar norma dalam sistem internasional tetap tegak
berdiri.
Realis percaya bahwa sistem internasional dapat berubah, dengan lambat.
Perubahan tersebut terjadi apabila ada pergeseran BOP atau perkembangan
teknologi.

C. Bagaimana Liberal Memandang Sistem Internasional?

Teoritis Liberal memiliki pandangan yang sedikit berbeda dalam memandang


sistem internasional. Kaum liberal meyakini bahwa sebuah sistem internasional
tidak akan lepas dari hubungan saling ketergantungan antara aktor, masyarakat
internasional, dan anarki.

Kaum liberal memandang bahwa sistem internasional bukan sebagai struktur,


akan tetapi sebagai proses. Proses yang dimaksud tidak hanya melibatkan negara,
tapi organisasi internasional, NGO, birokrasi, dan perusahaan multinasional.

Kedua, kaum liberal sangat mendapatkan pengaruh dari konsep masyarakat


internasional ala Inggris. Masyarakat internasional adalah istilah hubungan
internasional yang mengacu pada kumpulan manusia dan pemerintahan di dunia.
Istilah ini biasanya dipakai untuk menyebut adanya kesamaan pandangan terhadap
berbagai masalah seperti hak asasi manusia. Aktivis, politikus, dan komentator
sering memakai istilah ini untuk menuntut adanya tindakan perubahan, misalnya
tindakan melawan penindasan politik di sebuah negara.

Adapun konsep ketiga mengenai anarki pada kaum liberal adalah adanya
liberal institusional. Pandangan ini mengamini beberapa pandangan kaum realis
yang menyatakan bahwa negara dalam sistem internasional bertindak sesuai dengan
sel-interest-nya masing-masing namun mereka tidak setuju bahwa institusi
internasional hanyalah ‘secarik kertas’. Liberal institusional percaya bahwa
institusi internasional adalah kepentingan yang bersifat independen.

D. Bagaimana Kaum Radikal Memandang Sistem Internasional?


Saat kaum realis memandang sistem polaritas dan kestabilan sebagai unsur
utama dalam sistem internasional, kaum radikal melihat sistem internasional
sebagai sebuah struktur yang terstratifikasi.

Aktor Non Negara

Bukan hanya negara dan individu yang menjadi aktor dalam politik
internasional. Dalam politik internasional, organisasi antarpemerintah dan
organisasi nonpemerintah juga berperan dalam proses politik internasional. Hukum
internasional juga nantinya akan menentukan dalam mengatur bagaimana politik
dunia berlangsung.

A. Mengapa Organisasi Antarpemerintah Terbentuk?

Organisasi internasional adalah sebuah arena di mana negara yang tergabung


di dalamnya menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Organisasi internasional
juga merupakan seperangkat bingkai dan aturan yang memungkinkan kerja sama
antarnegara mungkin terjadi. Meskipun ada “anarki” yang menjadi batasan dalam
keinginan negara-negara untuk bekerja sama, namun dengan bantuan organisasi
internasional maka kerja sama tersebut mungkin terjadi. Jadi, organisasi
internasional terbentuk agar negara dapat bekerja sama di sistem yang “anarki”
tersebut.

Menurut pandangan, neoliberal institusionalisme, motivasi pembentukan


organisasi internasional terbentuk karena adanya interaksi yang intens antara
negara-negara yang ada. Organisasi internasional akan menjadi penengah perilaku
negara-negara, memberikan ruang untuk berinteraksi, memberikan mekanisme
untuk mengurangi kecurangan, dan memberikan transparansi bagi tindakan yang
dilakukan suatu negara. Organisasi menjadi poin vital untuk berkoordinasi dan
membuat komitmen menjadi lebih kredibel.

Fungsi dari organisasi internasional adalah untuk memecahkan 2 set


permasalahan Permasalahan pertama adalah permasalahan sederhana yang bersifat
teknis (terkadang tidak politis) adalah titik awal terbentuknya organisasi
internasional. Permasalahan tersebut akhirnya membuat kebiasaan baru di mana
negara-negara membuat perluasan kerja sama yang dikerjakan oleh ahli teknis
termasuk dalam hal militer dan politik.

Organisasi internasional juga akan membentuk apa yang disebut sebagai


barang milik bersama atau common goods. Permasalahan yang timbul akibat
adanya barang publik adalah muncul masalah yang tidak dapat diselesaikan secara
teknis, namun membutuhkan penyelesaian yang terpadu. Penggunaan barang
publik melibatkan pilihan yang saling tergantung. Keputusan negara akan memiliki
dampak untuk negara lain, oleh karena itu wajar apabila suatu negara akan terkena
dampak negatif akibat tindakan negara lain.

B. Kontribusi Apa yang Telah Dilakukan oleh Organisasi Antarpemerintah


seperti PBB pada Perdamaian dan Keamanan Internasional?

Organisasi internasional antarpemerintah berkontribusi dalam membentuk


kebiasaan kerja sama antarnegara anggotanya. Dengan adanya IGO, negara-negara
menjadi lebih tersosialisasikan satu sama lain, sosialisasi tersebut berlangsung
reguler. Interaksi reguler semacam itu dapat ditemukan dalam organisasi seperti
PBB.

IGO juga memiliki peran dalam sistem internasional. Beberapa organisasi


seperti Interpol memiliki peran dalam mengumpulkan, menganalisa, dan
mengawasi informasi internasional. Beberapa organisasi seperti WTO berperan
untuk membuat hukum, menyelesaikan perselisihan, dan menghukum mereka yang
melanggar peraturan seperti memberikan sanksi ekonomi. Ada juga organisasi
internasional yang berperan untuk menjalankan prosedur operasional yang
bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang besar seperti WHO yang
menyelesaikan permasalahan penyebaran virus ebola di Afrika. IGO juga kadang
disebut sebagai rezim internasional dikarenakan pembuatan dan pemeliharaan
hukum internasional berujung tombak pada IGO.

Ditinjau dari level analisis, IGO memiliki beberapa peran. Dari ranah sistem
internasional, IGO berperan memperbesar kemungkinan pembuatan kebijakan luar
negeri dan menambah batasan di mana negara beroperasi dan terutama menerapkan
kebijakan luar negeri. Negara-negara bergabung dengan IGO menggunakan
kebijakan dari IGO sebagai instrumen kebijakan luar negeri. IGO juga membatasi
negara. Mereka menetapkan agenda dan memaksa pemerintah membuat keputusan;
mendorong negara untuk mengembangkan proses untuk memfasilitasi partisipasi
IGO, dan menciptakan norma perilaku dimana negara harus menyesuaikan
kebijakan mereka jika mereka ingin mendapatkan keuntungan dari keanggotaan
mereka. Dari level individu, IGO mempengaruhi individu dengan memberikan
kesempatan untuk kepemimpinan. Karena individu bekerja dengan atau di IGO,
mereka, seperti negara bagian, dapat disosialisasikan untuk bekerja sama secara
internasional.

Organisasi internasional yang saat ini memiliki peran yang besar dalam
menjaga perdamaian dan keamanan internasional adalah PBB. Perserikatan
Bangsa-Bangsa didirikan dengan 3 nilai fundamental antara lain adalah sebagai
berikut:

1. PBB didasarkan pada gagasan tentang persamaan berdaulat negara


anggota. Setiap negara secara hukum setara dengan setiap negara
lainnya;
2. Hanya masalah internasional yang berada dalam yurisdiksi PBB.
Masalah tersebut meliputi hak asasi manusia, telekomunikasi global,
dan regulasi lingkungan;
3. PBB dirancang terutama untuk menjaga perdamaian dan keamanan
internasional. Negara-negara harus menahan diri dari ancaman atau
penggunaan kekuatan dan menyelesaikan perselisihan melalui cara-
cara damai.

PBB telah menangani berbagai isu. Dalam hal isu politik, PBB telah
menyelesaikan beberapa permasalahan seperti memainkan peran kunci dalam
dekolonisasi Afrika dan Asia. Piagam PBB mendukung prinsip penentuan nasib
sendiri bagi masyarakat kolonial.

Dalam hal menjaga perdamaian, PBB telah memberikan banyak kontribusi.


Perserikatan Bangsa-Bangsa telah berusaha untuk mengatasi konflik antara dua
negara melalui kekuatan militer pihak ketiga. Unit-unit militer ini diambil dari
negara-negara anggota kecil yang netral, diundang oleh pihak-pihak yang
bersengketa, dan terutama menangani konflik antarnegara. Kegiatan pemeliharaan
perdamaian yang kompleks juga merespons konflik perang saudara dan konflik
etnonasionalis di negara bagian yang belum meminta bantuan PBB. Pasukan
pemelihara perdamaian PBB telah berusaha untuk mempertahankan hukum dan
ketertiban dalam masyarakat yang gagal dengan membantu dalam administrasi
sipil, kepolisian, dan rehabilitasi infrastruktur. Ini disebut sebagai peacebuilding.
Perdamaian yang kompleks telah memiliki keberhasilan dan kegagalan. Peralihan
Namibia dari perang ke gencatan senjata dan kemudian menuju kemerdekaan
dipandang sebagai keberhasilan; Genosida Rwanda dan kebutuhan akan
perlindungan kemanusiaan dipandang sebagai sebuah kegagalan.

Keamanan dan Perdamaian Internasional

Dalam keadaan perang, security dillema memiliki dampak yang sangat hebat
karena negara-negara banyak yang merasa terancam oleh musuh yang datang dari
luar sehingga membuat negara tersebut selalu mengembangkan kekuatanyang
mereka miliki yang secara langsung pula berdampak pada negara lain karena
mereka merasa terancam pula. Pada hubungan internasional, perdamaian
merupakan tujuan yang fundamental stelah ekonomi, politik, human right dan
lingkungan.

Banyak orang yang ebranggapan bahwa perang dapat terjadi kapan saja.
Beberapa pandangan yang menjelaskan perang dapat terjadi adalah:

1. Realis

Mereka beranggapan bahwa perang terjadi karena prisioner


dillema,ketika negara-negara saling menyerang untuk meminimalisir dampat
diakibatkan tidak melakukan apa-ap, karenanya mereka akan memperkuat
kekuatan yang mereka miliki namun membuat sekeliling mereka merasa
terancam.

2. Liberalis

Liberalis beranggapan bahwa perang dapat ditiadakan dengan cara


membuat sebuah instusi yang kuat gara dapat mengontrol negara-negara yang
bertindak sesukanya, agar mereka dapat melakukan suatu kebijakan, maka
dperukan dmeokrasi yang damai agar tidak terjadi konflik antar negara.

3. Radikal

Mereka berangapan bahwa perang dapat ditiadakan dengan cara


revolusi dari karateristik pada sistem yang telah ada saat ini.

4. Konstruktivisme

Beranggapan bahwa perang adalah hasil dari proses perkembangan


sosial namun jika proses perkembangan yang sudah ada dirubah maka perang
dapat dihindari.
A. Penyebab Perang

• Individu

a. Realis, masyarakat bagaikan binatang yang akan melakukan apa


saja untuk bertahan hidup.
b. Liberalis, kesalah pahaman pemimpin dalam melihat sebuah
situasi dapat menyebabkan perang terjadi.

• Negara dan Masyarakat

a. Liberalis, penyebab perang terjadi adalah sistem eonomi yang


mengharuskan mereka tunduk dengan keputusan yang telah
dtentukan oleh pusat.
b. Radikalis, perang terjadi kaena adanaya pergejolakan pada sistem
ekonomi yang semakin jauh jarak antara kaum borjuis dengan
proletar.

• Sistem Internasional

a. Realis, keadaan sosial dalam pergaulan internasional yang setara


dan hanya djaga oleh suatu hukum yang lemah membuat perang
mudah terjadi karena hanya negara itu sendiri yang bisa
mengontrol dirinya sendiri. Suatu negara dapat dikatakan aman
jika kuat dalam militer dan ekonomi, serta perkubuan antara
negara membuat kewenangan yang dimiliki semakin tinggi.
Perang juga bisa terjadi jika suatu negara merasa tidak
diperlakukan sesuai kodratnya oleh negara yang hegemon bisa
juga memunculkan perang antar negara untuk mengambil
kedudukan hegemon tersebut.
b. Radikal, negara yang memegang kekuasaan ekonomi yang sangat
adidaya akan membuat negara lain merasa iri dan ingin berkuasa
atas sumber daaya yang dimiliki negara lain.
B. Kategori Perang

1. Inter-state war, merupakan perang antara dua negara atau lebih yang
terlibat dan dampaknya terlihat jelas.
2. Intra-State War, merupakan perang yang terjad inatara grup yang ada
dalam suatu negara tanpa adanya keterlibatan aktor internasional.
3. Total War, perang yang diikuti oleh negara-negara adidaya yang
membuat kerusakan sangat signifikan terhadap dunia.
4. Limited War, dengan tujuan tidak ingin melepaskan wilayah
teritorialnya kepada musuh, perang ini lebih menekankan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Contohnya perang di Korea dan
Perang Gulf.

Perang ini memiliki karakteristik seperti : berlangsung lama dengan banyak


waktu jeda, korban jiwa terdiri dari warga sipil hingga tentara, supply makanan
terganggu, penyakit menyebar luas, uang yang digunakan untun infrastruktur
dialihfungsikan menjadi membeli perlengkapan, ada banyak generasi yang menjadi
aktor dalam perang ini.

C. Cara Berperang

1. Conventional War adalah perang yang didesign dimana tentara berdiri


dimasing0masing sisi dan menyerang dengan senjata konvensional
yang memiliki arti dampaknya terbatas oleh ruang dan waktu.
2. Weapons of mass destruction, adalah perang bioligis dan nuklir yang
efeknya tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
3. Uconventional Warfare, perang ini tentara berdiri dimasing-masin sisi
namun satu sisi akan menolak melakukan perang secara konvensional
ini.
4. Asymetric Conflict, perang yang kekuatannya tidak setara antar yang
kuat dan yang lemah sehingga yang kuat akan mengeksploitasi
kelemahan tersebut. Pihak yang lemah dituntut untuk memanfaatkan
sumber daya alam yang ada di sekitar dengan maksimal mungkin.
5. Guerilla Warfare, perang yang terjadi secara taktik dan menggunakan
waga sipil sebagai kamuflase dalam melakukan perang.
6. Piracy, mencerminkan kepentingan penguasa yang lebih dari satu
dengan motif ekonomi.
7. Terrorisme, akan menyebarkan isu-isu yang dapat menyebabkan
ketakutan dan sebuah ancaman kepada masyarakat. Memiliki empat
elemen mendasar untuk menyebarkan terror dalam masyarakat
diantaranya: pemikiran akan kejadian dimasa lalu, motivais bisa
bentuknya ekonomi, politik maupun agama, target yang tidak
berperang, kerahasiaan.

Ada dua prinsip dalam perang yaitu Just Ad Bellum, keadilan bagi mereka
yang memasuki perang. Just In Bello, keadilan bagaimana perang itu dilaksanakan.

Untuk menentukan apakah layak dilakukan perang, seorang pemimpin harus


melihat aspek-aspek sebagai berikut.

1. Memperhatikan dampak yang akan diakibatkan setelah perang dengan


melakukan pendeklarasian tujuan.
2. Pemimpin haus memiliki tujuan yang jelas.
3. Pemimpin harus melakukan perang atas dasar melakukan permdamaian
bukan dengan tujuan untuk menyiksa.
4. Negara harus membasmi segala kemungkinan terjad tindakan yang
menyiksa
5. Kekerasan harus langsung diakhiri seiring perang berakhir.

Pada perang ada suatu kebijakan yaitu perang yang bersifat kekerasan harus
dipisahkan dengan perang lewat jalur diplomasi. Kekerasan yang digunakan harus
sesuai dengan kemampuan yang lawan sanggupi. Negara sebagai pengkoordinir
masyarakat dapat memastikan bahwa semua rakyatnya menerima keamanan, jika
mereka tidak menerima itu maka itu menjadi kewajiban negara lainnya untuk
melindungi hak-hak manusia.

Menurut kaum liberalis, walaupun perang sulit untuk dihindari namun dapat
dicegah dengan menekan kekuatan yang dimilik oleh semua negara. Namun, ini
akan menyulitkan negara untuk mendeteksi mana lawan dan mana kawan.
Sedangkan menurut kaum realis, balace of power sangat diperlukan untuk membuat
negara-negara lain merasa aman dari ancaman yang mungkin terjadi oleh musuh
yang ada. BOP memiliki kendala, yaitu jika negara-negara yang sangat kuat saling
bersatu meninggalkan negara negara yang kecil akan membuat perbedaan power.

Ekonomi dan Politik Internasional

A. Konsep Menurut Liberal

Ekonomi liberal didasarkan pada pengakuan bahwa negara-negara


berbeda dalam sumber daya alam mereka. Kekayaan di seluruh dunia
dimaksimalkan jika negara-negara terlibat dalam perdagangan internasional. David
Ricardo (1772-1823) mengembangkan teori bahwa negara harus terlibat dalam
perdagangan internasional sesuai dengan keunggulan komparatif mereka. Artinya,
negara harus memproduksi dan mengekspor produk-produk yang dapat mereka
hasilkan paling efisien (spesialisasi), relatif terhadap negara-negara lain. Dengan
demikian, keuntungan dari perdagangan dimaksimalkan untuk semua karena
masing-masing negara meminimalkan biaya peluangnya. Mata uang nasional harus
dibeli dan dijual dalam sistem pasar bebas. Dalam sistem nilai tukar mengambang
seperti itu, pasar menentukan nilai satu mata uang dibandingkan dengan mata uang
lainnya. Nilai tukar yang mengambang akan menghasilkan ekuilibrium pasar.
B. Peran Perusahaan Multinasional

MNC memainkan peran kunci sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Mereka


bertindak sebagai garda depan tatanan ekonomi liberal. Mereka mengambil
integrasi ekonomi nasional di luar perdagangan dan uang untuk memasukkan
internasionalisasi produksi. Liberal melihat perusahaan multinasional sebagai
positif Perbaikan ekonomi didorong melalui efisiensi dan MNCs meningkatkan
efisiensi. MNC juga melakukan mengimpor dan mengekspor secara langsung,
melakukan investasi signifikan di luar negeri, membeli dan menjual lisensi di pasar
luar negeri. MNC juga terlibat dalam pembuatan kontrak dan membuka fasilitas
manufaktur di mancanegara. MNC memilih untuk beroperasi di pasar internasional
karena berbagai alasan, yang semuanya berbasis di bidang ekonomi, namun
dipengaruhi oleh hubungan politik negara tuan rumah. Ada beberapa hal yang
menjadi manfaat ekonomi yang di padukan dengan teknologi (ekonomi global) :
Mengurangi biaya transportasi dengan cara memindahkan produksi lebih dekat ke
pelanggan, keuntungan pajak dan lisensi dari pemerintah daerah, menemukan pasar
tenaga kerja yang lebih murah, mendapatkan layanan tenaga teknis asing serta dapat
mendorong perdamaian.

C. Peran Lembaga Ekonomi Internasional

Liberalisme ekonomi telah didukung oleh pembentukan dan perluasan


institusi Bretton Woods, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan untuk
memperpanjang Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT) -
sekarang Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization / Organisasi
Perdagangan Dunia) WTO).

1. Bank Dunia; awalnya dirancang untuk memfasilitasi rekonstruksi di


Eropa pasca-Perang Dunia II. Pada tahun 1950, bank mengalihkan
penekanannya dari rekonstruksi ke pembangunan. Ini menghasilkan
dana modal dari kontribusi anggota-negara bagian dan dari pinjaman di
pasar keuangan. Sebagian besar dana Bank Dunia telah digunakan
untuk pembangunan infrastruktur
2. Dana Moneter Internasional (IMF); adalah untuk menstabilkan nilai
tukar. Awalnya dana tersebut membentuk sistem nilai tukar tetap Pada
tahun 1972 sistem ini ambruk ketika Amerika Serikat mengumumkan
bahwa mereka tidak lagi menjamin sistem tersebut. Pada tahun 1976
dana tersebut merumuskan sistem nilai tukar mengambang yang saat ini
digunakan.
3. GATT dan Perdagangan Mengelola WTO; Persetujuan Umum tentang
Tarif dan Perdagangan (GATT) menerapkan prinsip-prinsip liberal
yang penting:

1. Dukungan liberalisasi perdagangan


2. Nondiskriminasi dalam perdagangan
3. Penggunaan tarif eksklusif untuk melindungi pasar rumah
4. Akses istimewa di pasar maju ke produk dari Selatan
5. Dukung konsep "national treatment" dari perusahaan asing.

GATT mengadakan proses perundingan multilateral yang berlanjut di


antara negara-negara tersebut yang memiliki kepentingan utama dalam
masalah ini; Kesepakatan yang dicapai kemudian diperluas ke semua
peserta GATT. Sebagian besar pekerjaan dilakukan selama delapan
putaran negosiasi - masing-masing putaran semakin memotong tarif
dan menangani masalah baru, seperti hak kekayaan intelektual.

Isu Transnasional

Setelah perang dunia kedua selesai, negara-negara mulai membuka hubungan


baik dengan negara yang pernah menjadi mush mereka, terlebih lagi setelah abad
ke-21 sudah mulai berkembang dan meluasnya pemahaman akan aktor-aktor
internasional yang berperan penting dalam membuat kebijakan politik
internasional. Pada momen ini, peran aktor nun state menjadi penting dalam
membuat kebijakan dengan tjuan dasar politik dan ekonomi. Mereka
mempengaruhi suatu neara dengan cara:

1. Menanggap peningkatan keamanan suatu negara membuat rakyat


semakin aman.
2. Kebijakan ekonomi yang dibuat oleh MNC akan mempengaruhi nilai
mata uang negara dan pendaoatan para pekerja.
3. Perkembangan globalisas menuntut mereka memperbaharui sistem
komunikasi dan teknologi sebagai fokus utama.

A. Wabah dan Penyakit

Wabah dan penyakit merupakan ancaman bagi manusia yang sudah aja sejak
lama, yang bisa terjadi karena faktor alam maupun buatan. Dikarenakan penyebaran
wabah dan penyakit yang sangat luas menyebabkannya menjadi suatu isu yang
dipermasalahkan dalam tingkat internasional. Banyak wabah yang menyebabkan
kepanikan skala internasional seperti ebola, severe acute respiratory syndrome
(SARS), flu burung, HIV/AIDS. Melihat bahwa ini merupakan ancaman yang besar
bagi negara, NGO melakukan program untuk mengurangi peyebaran penyakit
dengan cara vaksin hingga membunuh virusnya.

a. Liberalis, cenderung akan melakukan tindakan yang cekatan untuk


menghadapi isu penyakit;
b. Realis, melakukan tindakan seara langsung jika negara yang mereka
tempati terkena dampaknya juga;
c. Radikal, melihat bahwa permasalahan penyakit disebabkan oleh kelas
ekonomi yang berbeda dinegara maju dan berkembang.

B. Alam dan Lingkungan Hidup

Kekayaan alam merupakan aset yang dimiliki oleh setiap negara dalam
bentuk yang berupa tergantung letak geografis suatu daerah, karena sumber daya
ini terbatas,maka banyak orang ingin mengambil sumber daya itu selagi masih
tersedia. Melihat bahwa kegiatan eksploitasi membuat kerusakan bagi lingkungan
sekitar maka dibuatlah hukum yang berisikan :

a. Negara dilarang merusak lingkungan yang bukan bagian dari


wilayahnya;
b. Wajib untuk bekerjasama antar negara tetangga untuk memenuhi
kebutuhan;
c. Jika melanggar, maka akan dikenakan hukum yang diberikan dengan
cakupan seperti asas untuk membayar polusi yang dihasilkan, asas
untuk mencegah satu polusi dan asas untuk meminimalisasi polusi.

Selain sumber daya lingkungan hidup yang dapat tercemar dari melihat
populasi yang menempati suatu wilayah, tahun 1798, Thomas Malthus beranggapan
bahwa semakin banyak manusia yang hidup membuat sumber daya makanan
semakin menipis yang dikemukakan sebagai Malthus Dillema. Ada tiga alasan
mengapa jumlah manusia terus bertambah:

1. Pertumbuhan manusia terus berkembang namun tidak diikuti dengan


penyebaran ke daerah lain;
2. Perkembangan jumlah manusia berjalan lurus dengan tingkat ekonomi
yang baik;
3. Semakin banyak jumlah manusia, semakin susah pemerintah membuat
kebijakan yang bisa diterima semua orang karena adat yang berbeda
dan menimbulkan culture dillema.

Bagi orang-orang ekonomi, sumber daya yang dapat diperbaharui merupakan


yang paling besar dieksploitasi karena ketersediaannya yang selalu terjamin, namun
mereka tidak menyadari bahwa dibutuhkan waktu yang lama untuk sumber daya itu
diproses.
Ancaman utama bagi bumi semenjak tahun 1950-an adalah cuaca yang susah
diprediksi dan matahari semakin panas akibat ozon yang menipis, ditanamlah
pohon untuk mengurangi polusi ini. Dibuatlah kyoto procol yang berisi :

a. Pertukaran gas emis antar negara dilarang


b. Pemberian dana bagi negara-negara yang dapat mempertahakan hutan yag
dimiliki.
c. Kerja sama yang dbuat untuk mengurangi gas emis yang dibuang keudara.

C. Kejahatan Transnasional

Kejahatan transnasional adalah kejahatan yang dilakukan dalam skala global


yan menjad perhatian bagi negara-negara didunia seperti black market, human
trafficking dan drugs. Ini semua dilakukan oleh oknum yang berada didua negara
berbeda dalam melakukan transaksinya.

D. Dampak Isu Transnasional

Sejak berakhirnya perang dunia, maka kecemasan dunia bukan lagi perang
namun oknum yang melkaukan kejahatan skala internasiona yang merugikan
negaranegara lain. Dari pandangan perspektif :

a. Realis, menganggap kejahatan transnasional adalah bentuk negatif dari


berkembangnya globalisasi;
b. Liberalis, menganggap isu global dapat mengancam tergantung
bagaimana kita melihatnya;
c. Radikal, negara negara adidaya yang menyebabkan kerusakan yang
terjadi kepada negar a berkembang;
d. Konstruktivisme, perubahan dari berbagai aspek yang membuat adanya
isu transnasional.