Anda di halaman 1dari 79

ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU DAN

KETERKAITANNYA DENGAN KENYAMANAN


KOTA SAMARINDA

AFRIANTO PUTRA RAMDANI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Ruang Terbuka
Hijau dan Keterkaitannya dengan Kenyamanan Kota Samarinda adalah benar
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2015

Afrianto Putra Ramdani


NIM A156120021
RINGKASAN

AFRIANTO PUTRA RAMDANI. Analisis Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan


Keterkaitannya dengan Kenyamanan Kota Samarinda. Dibimbing oleh SANTUN
RISMA PANDAPOTAN SITORUS dan BAMBANG SULISTYANTARA.
Banyaknya lahan terbangun dan kurangnya RTH di Kota Samarinda
menyebabkan terjadinya perubahan iklim mikro perkotaan. Hal ini menyebabkan
ketidaknyamanan bagi penduduknya, terutama untuk penduduk yang beraktivitas
diluar ruangan. Tingkat ketidaknyamanan iklim mikro di kawasan perkotaan pada
akhirnya juga akan berpengaruh terhadap penurunan produktifitas dari aktivitas
masyarakat perkotaan, oleh karena itu keberadaaan Ruang Terbuka Hijau dalam
suatu kawasan perkotaan sangatlah penting untuk dipertimbangkan agar dapat
berfungsi sebagai penjaga iklim mikro yang sejuk dan nyaman.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis kondisi eksisting Ruang
Terbuka Hijau di Kota Samarinda, 2) menganalisis temperatur dan kelembaban
udara serta keterkaitannya dengan Ruang Terbuka Hijau dan lahan terbangun, 3)
menganalisis Tingkat Kenyamanan Kota Samarinda dan Keterkaitannya dengan
luas RTH, 4) menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau dan areal yang
berprioritas untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau, 5) menyusun arahan untuk
penambahan Ruang Terbuka Hijau.
Berdasarkan hasil studi penelitian diketahui bahwa kondisi eksisting RTH
Kota Samarinda saat ini secara keseluruhan ialah seluas 8.850,31 ha atau 12,21%
dari luas kota. Luasan tersebut terdiri dari RTH publik dengan luas 732,77 ha atau
1,01% dan RTH privat dengan luas 8.117,54 ha atau seluas 11,20%.
Hasil dari analisis keterkaitan RTH dengan temperatur menunjukan bahwa
RTH cenderung berpengaruh kecil terhadap penurunan temperatur udara di Kota
Samarinda. Setiap penambahan 1% dari luas RTH hanya dapat berpengaruh
terhadap penurunan temperatur udara sebesar 0,015⁰C. Target penurunan
termperatur sebesar 0,5⁰C di Kota Samarinda dapat diperoleh dengan luas RTH
sebesar 33,33%. Hasil analisis keterkaitan antara luas RTH dan kelembaban udara
diketahui bahwa setiap meningkatnya RTH seluas 2,84% akan meningkatkan
kelembaban udara sebesar 1%. Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa
perencanaan RTH kurang efektif menggunakan variabel temperatur sebagai
pertimbangan dalam penambahan RTH.
Saat ini Kota Samarinda membutuhkan RTH seluas 13.627,23 ha atau
18,9% dari luas kota untuk memenuhi luas minimal RTH. Hasil pemetaan RTH
menunjukan bahwa terdapat 4 jenis prioritas areal yang dapat dijadikan RTH di
Kota Samarinda. Pertama adalah areal prioritas 1 dengan luas 25.638 ha (35%),
areal prioritas 2 dengan luas 24.235 ha (33%), areal prioritas 3 dengan luas 2.883
ha (4%), dan areal prioritas 4 dengan luas 937 ha (1%).
Berdasarkan hasil survei kenyamanan masyarakat diketahui bahwa kota
Samarinda tidak nyaman secara termal. Hasil analisis regresi logistik terkait
dengan kenyamanan masyarakat menunjukan bahwa RTH hanya sedikit
pengaruhnya dalam menentukan respon kenyamanan masyarakat di Kota
Samarinda. Hasil tersebut menunjukan bahwa perencanaan RTH kurang efektif
menggunakan pertimbangan kenyamanan dalam penambahan RTH.
Arahan penambahan RTH Kota Samarinda didasarkan pada prioritas lahan
untuk RTH dan luas mininal RTH Kota. Hasil perhitungan untuk rencana
penambahan RTH di Kota Samarinda adalah dengan penambahan RTH pada
Kecamatan Palaran 4.022 ha, Samarinda Ilir 1.246 Samarinda Seberang 904 ha,
Samarinda Ulu 320 ha, Samarinda Utara 6.086 ha, dan Sungai Kunjang 1.049 ha.

Kata kunci : Prioritas, Ruang Terbuka Hijau, Temperatur dan Kelembaban udara.
SUMMARY

AFRIANTO PUTRA RAMDANI. Green Open Space Analysis and Relationship


with Human Comfort in Samarinda City. Supervised by SANTUN RISMA
PANDAPOTAN SITORUS dan BAMBANG SULISTYANTARA.

Many built area and lack of Green Open Space (GOS) in Samarinda City
caused the mikro climate change. This matter caused uncomfortable for
townspeople, especially for society are activity on out door. The uncomfortable
micro climate in urban area finally will also take effect on society productivity.
Therefore existention of GOS in rural area is very important considered to make
mikro climate that cool and comfort.
The goal of this research is 1) Analyze existing condition GOS in
Samarinda City, 2) Analyze relation of air temperature and humidity with GOS, 3)
Analyze thermal comfort in Samarinda City and relation with GOS area, 4)
Analyze GOS needs and priority area to built GOS, 5) Formulate GOS
development direction to increase GOS area.
The result of study showed that the current total existing area of Green Open
Space in Samarinda City are 8.850,31 ha or 12,21% of total area. The area
consists of public GOS area 732,77 ha or 1,01% dan private GOS area 8.117,54
ha or 11,20% of total area.
The result of analyze, GOS relation with temperature showed that there are
tendency RTH is related to decrease air temperatur in Samarinda City, every
increased 1% of GOS area can effect to decrease air temperature 0.015⁰C.
Therefore to reduce 0,5⁰C air temperatur in Samarinda City required GOS area
33,33% of total area. The result of analyze GOS relation with air humidity showed
that every increased 2,84% GOS area effect increase air humidity 1%.
Samarinda City needs GOS area 13.627,23 ha or 18,9% of total area to
fulfills GOS area minimum. The result of mapped analyze showed that Samarinda
City have 4 priority type for built GOS area. They are priority 1 is 25.638 ha
(35%), priority 2 is 24.235 ha (33%), priority 3 is 2.883 ha (4%), and priority 4 is
937 ha (1%).
The result of comfort society survey showed that Samarinda City is not
comfort in thermal. The result of regresion logistic analyze showed that
percentation of RTH area is a variabel that have effect to make comfort responses
in Samarinda City.
GOS development direction to increased GOS area in Samarinda City is
based on region area and shared by proportion area to sub distric in Samarinda
City. Best election land for GOS can looked based on priority area. The result of
calculation to development GOS area in Samarinda City, required addition GOS
area on every Sub district namely, Palaran 4.022 ha, Samarinda Ilir 1246
Samarinda Seberang 904 ha, Samarinda Ulu 320 ha, Samarinda Utara 6.086 ha
and Sungai Kunjang 1.049 ha.

Keywords : Green Open Space, Priority, Temperature and Humidity.


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU DAN
KETERKAITANNYA DENGAN KENYAMANAN KOTA
SAMARINDA

AFRIANTO PUTRA RAMDANI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
ii

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr Ir Alinda Fitriani Malik Zain, MSi
iv

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karuniaNya sehingga karya ilimiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih
dalam karya ilmiah ini adalah pengembangan wilayah khususnya dari aspek
analisis yang diperlukan sebagai pertimbangan dalam merencanakan Ruang
Terbuka Hijau yang saat ini menjadi masalah di banyak kota di dunia. Masalah ini
timbul terutama disebabkan oleh adanya konversi lahan terbuka menjadi lahan
terbangun yang banyak terjadi di wilayah perkotaan. Adapun judul tesis ini adalah
Analisis RTH dan Keterkaitannya dengan Kenyamanan Kota Samarinda.
Terima kasih dan penghargaan setinggi-tinginya penulis sampaikan kepada:
1. Prof. Dr Ir Santun R.P. Sitorus selaku Ketua Komisi Pembimbing dan
Bapak Dr Ir Bambang Sulistyantara selaku anggota komisi pembimbing
yang telah memberi arahan, saran dan bimbingan dalam penyusunan tesis
ini.
2. Dr Ir Alinda Fitriani Malik Zain, MSi selaku penguji luar komisi yang
telah memberikan koreksi dan masukan bagi penyempurnaan tesis ini.
3. Ketua Program Studi serta segenap dosen pengajar, asisten dan staf pada
Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
4. Orang tua tercinta Dr Heryanto MPd MSi dan Siti Murti SPd yang terus
mendukung dengan doa dan semangat. Ungkapan terima kasih juga
disampaikan kepada seluruh keluarga atas doa dan kasih sayangnya.
5. Teman-teman Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman yang telah
membantu dalam pengumpulan data lapang.
6. Semua pihak yang berperan dalam proses penulisan tesis ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2015

Afrianto Putra Ramdani


v

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ..........................................................................................................viii


DAFTAR GAMBAR .....................................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................................viii
PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
Latar Belakang ............................................................................................................. 1
Perumusan Masalah ...................................................................................................... 2
Tujuan Penelitian .......................................................................................................... 3
Manfaat Penelitian ........................................................................................................ 3
Kerangka Pemikiran ..................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................... 5
Kota Hijau (Green City) ............................................................................................... 5
Ruang Terbuka Hijau ................................................................................................... 6
Temperatur Permukaan ................................................................................................ 6
Pengaruh vegetasi pada temperatur lingkungan ........................................................... 7
Kelembaban Udara ....................................................................................................... 8
Kenyamanan Termal .................................................................................................... 9
Perubahan Luas RTH ................................................................................................. 10
Penginderaan Jauh ...................................................................................................... 11
METODE PENELITIAN ................................................................................................ 12
Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................................... 12
Jenis dan Sumber Data serta Alat Penelitian .............................................................. 13
Metode Analisis Data ................................................................................................. 13
Tahap Persiapan ......................................................................................................... 15
Tahap Analisis Data Citra .......................................................................................... 15
Tahap Pengecekan Lapang ......................................................................................... 16
Teknik Pengumpulan Data Lapang ............................................................................ 17
Analisis Keterkaitan RTH dengan Suhu dan Kelembaban Udara .............................. 19
Analisis Prioritas Areal untuk RTH ........................................................................... 19
Survei Keterkaitan RTH dan Kenyamanan Masyarakat ............................................ 20
Arahan Penambahan RTH .......................................................................................... 21
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ........................................................... 23
Letak Geografis .......................................................................................................... 23
Topografi .................................................................................................................... 23
Iklim dan Curah Hujan ............................................................................................... 23
Penggunaan Lahan ..................................................................................................... 24
Penduduk .................................................................................................................... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................................... 26
Interpretasi Citra Landsat ........................................................................................... 26
Interpretasi Citra Quick Bird ...................................................................................... 29
vi

Penggunaan Lahan Kota Samarinda .......................................................................... 32


Kondisi eksisting RTH di Kota Samarinda................................................................ 34
RTH Publik Kota Samarinda ..................................................................................... 36
RTH Privat Kota Samarinda ...................................................................................... 38
Analisis Keterkaitan RTH dengan Temperatur dan Kelembaban Udara ................... 38
Survei Respon Kenyamanan ...................................................................................... 40
Kebutuhan RTH Kota Samarinda .............................................................................. 42
Prioritas Areal untuk RTH ......................................................................................... 42
Arahan untuk Penambahan RTH ............................................................................... 45
SIMPULAN DAN SARAN............................................................................................ 48
Simpulan .................................................................................................................... 48
Saran .......................................................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 49
LAMPIRAN ................................................................................................................... 52
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................................ 63
vii

DAFTAR TABEL

1 Tujuan penelitian, jenis data, sumber data serta teknik analisis 13


2 Peubah Kenyaman Masyarakat 21
3 Luas Wilayah Kota Samarinda Berdasarkan Kelerengan 23
4 Penggunaan Lahan Kota Samarinda 24
5 Kunci Interpretasi yang diperoleh dari citra Landsat 26
6 Jumlah Titik Pengecekan Lapang 27
7 Kunci Interpretasi yang diperoleh dari citra Quick Bird 29
8 Luas Penggunaan Lahan Kota Samarinda dalam Satuan Hektar (Ha) 32
9 Luas RTH Publik dan Privat di Kota Samarinda 35
10 Luas RTH publik di Kota Samarinda 36
11 Informasi hasil wawancara yang diperoleh dari masyarakat 41
12 Hasil persamaan Regresi Logistik 41
13 Luas Prioritas RTH Kota Samarinda 45
14 Luas areal untuk rencana penambahan RTH 46

DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka Pemikiran 4
2 Lokasi Penelitian 12
3 Diagram Alir Penelitian 14
4 Grid dan Jalur menuju Titik Pengambilan Data 18
5 Ukuran Grid Pengambilan Data 19
6 Proses overlay untuk analisis areal prioritas RTH 20
7 Peta hasil interpretasi secara visual Kota Samarinda 28
8 Peta hasil interpretasi secara visual bagian Kota Samarinda 31
9 Peta Penggunaan Lahan Eksisting Kota Samarinda 33
10 Peta Lokasi RTH Publik Kota Samarinda 37
11 Variabel luas RTH (x) dan temperatur (y) 39
12 Grafik hubungan antara kenyamanan masyarakat dan luas RTH 42
13 Peta Prioritas Ruang Terbuka Hijau Kota Samarinda 44
14 Peta Arahan Penambahan RTH Kota Samarinda 47

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil Pengamatan, luas RTH dalam grid, temperatur dan kelembaban


udara di Kota Samarinda 52
2 Peta Nilai Tanah Kota Samarinda Tahun 2014 53
3 Penggunaan Lahan di Kota Samarinda 53
4 Dokumentasi pengumpulan data temperatur dan kelembaban udara di
Kota Samarinda 55
5 Dokumentasi wawancara terkait kenyamanan Kota Samarinda 55
6 Titik koordinat pengecekan lapang (Ground Check) pada hasil
interpretasi Citra Quick Bird 56
7 Titik koordinat pengecekan lapang (Ground Check) pada hasil
interpretasi Citra Landsat 60
viii
1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Terjadinya perubahan kondisi iklim di kawasan perkotaan yang mengarah pada
kondisi tidak nyaman merupakan sebuah dampak buruk yang dihasilkan dari
pembangunan fisik kota yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Permasalahan terkait dengan iklim seringkali muncul ketika kawasan perkotaan dalam
pembangunan fisiknya lebih didominasi oleh material non alami daripada material
alaminya sehingga menyebabkan terjadi perubahan iklim mikro. Saat ini kecenderungan
beberapa Kota di Indonesia, kuantitas RTH publiknya semakin berkurang, terutama
pada 30 tahun terakhir ini (Siahaan, 2010). Dilihat dari fungsinya RTH memiliki fungsi
yang penting bagi suatu kota. Menurut Purnomohadi (2002) RTH yang ditumbuhi
tanaman dapat berfungsi memberikan kesejukan dan kenyamanan. Kendati Ruang
Terbuka Hijau (RTH) saat ini masih belum terlalu dipertimbangkan dalam sudut
pandang ekonomi, namun saat ini hal tersebut sebenarnya penting dan perlu
dipertimbangkan dalam pembangunan agar nantinya suatu pembangunan dapat tetap
berkelanjutan.
Kota Samarinda sebagai Ibu Kota dari Provinsi Kalimantan Timur, secara fisik
mengalami pembangunan yang begitu cepat. Hal tersebut ditandai dengan
bertambahnya jumlah bangunan-bangunan, baik untuk keperluan permukiman maupun
keperluan lainya seperti perkantoran, tempat perniagaan dan pendidikan, namun
bertambahnya ruang terbangun ini tidak diimbangi secara baik dengan pendistribusian
Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai penyeimbang kenyamanan di lingkungan
perkotaan sehingga yang terjadi saat ini adalah turunnya tingkat kenyamanan iklim
mikro yang salah satu parameternya ditunjukan oleh peningkatan temperatur udara Kota
Samarinda hingga mencapai 34°C pada tahun 2014. Idealnya tempertur udara yang
nyaman bagi manusia adalah sekitar 27°C sampai dengan 28°C (Laurie, 1986). Suhu
nyaman sangat diperlukan manusia untuk mengoptimalkan produktifitas kerjanya
(Idealistina, 1991). Temperatur udara di Kota Samarinda pada beberapa tahun terakhir
menunjukan tren peningkatan setiap tahunnya, dimana temperatur udara Kota
Samarinda pada tahun 2011 berkisar 31°C, pada tahun 2012 meningkat menjadi 32°C
dan kembali meningkat menjadi 33°C pada tahun 2013 (BMKG, 2014).
Berdasarkan data BPS Kota Samarinda tahun 2005 dan 2010, jumlah penduduk
Kota Samarinda mengalami peningkatan sebesar 3 % per tahunnya. Pertambahan
jumlah penduduk di Kota Samarinda ini meningkatkan kebutuhan ruang untuk dijadikan
lahan terbangun. Menurut Sitorus et al. (2007) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi perubahan luas RTH yaitu alokasi RTH dalam RTRW, fasilitas
kesehatan, jumlah pendatang, kepadatan penduduk, dan fasilitas pendidikan. Secara
perlahan banyaknya lahan terbangun di Kota Samarinda menyebabkan terjadinya
perubahan iklim mikro perkotaan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi
penduduknya, terutama untuk aktivitas penduduk yang dilakukan diluar ruangan.
Tingkat ketidaknyamanan iklim mikro di kawasan perkotaan pada akhirnya juga akan
berpengaruh terhadap penurunan produktifitas dari aktivitas masyarakat perkotaan, oleh
karena itu keberadaaan Ruang Terbuka Hijau dalam suatu kawasan perkotaan sangatlah
penting untuk dipertimbangkan agar dapat berfungsi sebagai penjaga iklim mikro yang
sejuk dan nyaman. Kenyamanan ini ditentukan oleh adanya saling keterkaitan antara
faktor-faktor suhu udara, kelembaban udara, cahaya dan pergerakan angin.
2

Iklim mikro perkotaan sangat erat kaitannya dengan keberadaan RTH. Selama
ini pembangunan kota masih menganggap RTH tidak memiliki manfaat ekonomi yang
besar sehingga dalam proses pembangunan ada kecenderungan mengesampingkan RTH
dan lebih memprioritaskan pada pemanfaatan ruang terbangun. Pada Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, keberadaan RTH sudah ditetapkan
luasannya yaitu seluas 30% dari luas wilayah kota, dengan proporsi 20% sebagai RTH
publik dan 10% sebagai RTH privat, namun karena seiring belum mencukupi serta tidak
menyebar atau tidak terdistribusi dengan baik maka keberadaan RTH tersebut belum
berpengaruh besar terhadap kenyaman iklim mikro di kawasan perkotaan.
Pendistribusian RTH terkait dengan iklim mikro perkotaan sendiri menjadi
persoalan yang cukup sulit karena belum dipetakannya kondisi eksisting Ruang Terbuka
Hijau di Kota Samarinda dan belum diketahuinya seberapa besar pengaruh RTH
terhadap temperatur dan kelembaban udara dalam menciptakan iklim mikro yang
nyaman untuk kawasan perkotaan yang tergambar secara spasial, oleh karena itu perlu
dilakukan analisis RTH dan keterkaitannya dengan kenyamanan Kota Samarinda.
Penelitian mengenai analisis Ruang Terbuka Hijau ini sendiri dilakukan dengan cara
mengukur dua unsur iklim yang dapat dirasakan secara langsung oleh manusia, yaitu
temperatur dan kelembaban udara.
Informasi mengenai kondisi eksisting RTH dan temperatur serta kelembaban
udara dapat digunakan untuk melakukan pendistribusian RTH secara tepat, oleh karena
itu dengan diketahuinya informasi tersebut suatu kawasan perkotaan dapat didisain agar
dapat menjaga kondisi iklim yang senyaman mungkin bagi aktifitas masyarakat
perkotaan, selain itu dengan adanya pendistribusian RTH, pembangunan kota juga akan
lebih mengarah pada pembangunan yang ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan
untuk mempelajari dan memecahkan permasalahan dari iklim mikro perkotaan di Kota
Samarinda melalui pendistribusian RTH.

Perumusan Masalah
Pembangunan fisik kota Samarinda yang tidak selaras antara keberadaan Ruang
Terbangun dan distribusi Ruang Terbuka Hijau berdampak pada terjadinya perubahan
pada iklim mikro perkotaan. Perubahan tersebut terjadi pada elemen-elemen iklim
mikro seperti temperatur, kelembaban, intensitas sinar matahari dan angin. Apabila
elemen iklim mikro tersebut berubah, maka dikhawatirkan akan terjadi perubahan
kearah yang tidak sesuai dengan kenyamanan kondisi tubuh manusia. Tingkat
ketidaknyamanan iklim mikro di kawasan perkotaan pada akhirnya juga akan dapat
berpengaruh terhadap penurunan produktifitas dari aktivitas masyarakat perkotaan, oleh
karena itu keberadaaan Ruang Terbuka Hijau dalam suatu kawasan perkotaan sangatlah
penting untuk dipertimbangkan agar dapat berfungsi sebagai penjaga iklim mikro yang
sejuk dan nyaman.
Guna memperoleh iklim mikro kota yang optimal diperlukan suatu
pendistribusian RTH yang merata, akan tetapi pendistribusian RTH terkait dengan iklim
mikro perkotaan sendiri menjadi persoalan yang cukup sulit karena belum dipetakannya
kondisi eksisting Ruang Terbuka Hijau di Kota Samarinda dan belum diketahuinya
seberapa besar pengaruh RTH terhadap temperatur dan kelembaban udara dalam
menciptakan iklim mikro yang nyaman untuk kawasan perkotaan secara spasial, oleh
karena itu perlu dilakukan penelitian terkait dengan tingkat kenyamanan klimatologis
yang dihubungkan dengan keberadaan RTH.
3

Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka disusun empat pertanyaan


penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi eksisting Ruang Terbuka Hijau di Kota Samarinda ?
2. Seberapa besar temperatur dan kelembaban udara serta bagaimana
keterkaitannya dengan Ruang Terbuka Hijau ?
3. Bagaimana kondisi kenyamanan termal di Kota Samarinda ?
4. Bagaimana kebutuhan RTH dan dimana areal yang dapat diprioritaskan untuk
dijadikan Ruang Terbuka Hijau di Kota Samarinda ?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya,
maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis kondisi eksisting Ruang Terbuka Hijau di Kota Samarinda
2. Menganalisis temperatur dan kelembaban udara serta keterkaitannya dengan
Ruang Terbuka Hijau
3. Menganalisis Tingkat Kenyamanan Kota Samarinda dan Keterkaitannya dengan
luas RTH
4. Menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau dan prioritas areal untuk
dijadikan Ruang Terbuka Hijau
5. Menyusun arahan untuk penambahan Ruang Terbuka Hijau

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi
berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu :
1. Memberikan masukan untuk memudahkan pengaturan distribusi RTH di Kota
Samarinda dalam rangka menciptakan kenyamanan iklim mikro diperkotaan.
2. Memberikan kontribusi pada pengembangan kota serta penerapan RTH di Kota
Samarinda.

Kerangka Pemikiran
Pesatnya pembangunan fisik Kota Samarinda yang menambah Ruang
Terbangun mengakibatkan keberadaan Ruang Terbuka menjadi berkurang. Ruang
terbangun disini merupakan ruang yang keberadaanya diperuntukkan untuk pemenuhan
kebutuhan masyarakat dengan tingkat penggunaan yang tinggi, misalnya jalan, gedung-
gedung, perumahan, dan infrastruktur lainnya. Ruang terbuka adalah ruang dalam
bentuk area maupun dalam bentuk memanjang/jalur yang dalam penggunaannya lebih
bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan (Instruksi Menteri Dalam Negeri
No. 14, 1988). Ruang terbuka terdiri dari Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Terbuka
Non Hijau. Ruang Terbuka Hijau adalah area yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik tanaman yang tumbuh secara alamiah maupun
yang sengaja ditanam (Undang-Undang No. 26, 2007), sedangkan ruang terbuka non
hijau adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan berupa lahan yang diperkeras maupun
yang berupa badan air (Menteri Pekerjaan Umum, 2009).
Elemen-elemen iklim mikro seperti temperatur, kelembaban, intensitas sinar
matahari dan angin akan berubah apabila kondisi fisik lingkungan perkotaan mengalami
perubahan, khususnya perubahan fisik lingkungan yang menyangkut keberadaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH). Dua elemen iklim mikro yang berpengaruh langsung terhadap
aktifitas manusia diluar ruangan adalah temperatur dan kelembaban udara. Meluasnya
4

pembangunan fisik kota diiringi dengan bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan


pemanfaatan ruang intensif yang berimplikasi pada terjadinya perubahan iklim mikro
secara spasial dalam bentuk peningkatan temperatur kota. Hal ini banyak atau sedikit
dapat menyebabkan ketidaknyamanan kota.
Berkurangnya tingkat kenyamanan iklim mikro di Kota Samarinda sampai batas
tertentu pasti akan berdampak buruk terhadap kehidupan kota, oleh karena itu
temperatur udara di Kota Samarinda sangat perlu ditekan dengan upaya-upaya
penghijauan. Terjadinya perubahan iklim perkotaan secara mikro salah satunya dapat
disebabkan oleh distribusi Ruang Terbuka Hijau yang tidak merata secara spasial, oleh
karena itu diperlukan analisis spasial Ruang Terbuka Hijau dan keterkaitannya dengan
kenyamanan kota untuk mengetahui sejauh mana keberadaan Ruang Terbuka Hijau
dapat berpengaruh terhadap kenyaman di kawasan perkotaan dan seperti apa distribusi
Ruang Terbuka Hijau yang efisien dalam mengatur iklim mikro kota. Hasil analisis ini
nantinya diharapkan mampu memberikan arahan dalam Perencanaan Ruang Terbuka
Hijau untuk menjaga kenyamanan iklim mikro di Kota Samarinda.
Langkah-langkah penyusunan studi Analisis Ruang Terbuka Hijau dan
keterkaitannya dengan kenyamanan Kota Samarinda dapat dilihat pada kerangka pikir
penelitian seperti tertera pada Gambar 1.

Pembangunan Fisik Kota


Samarinda

Ruang Terbangun Ruang Terbuka

Perubahan temperatur dan Ruang Terbuka Ruang


kelembaban Hijau (Vegetasi) Terbuka Non
Hijau

Analisis RTH &


Ketidaknyamanan Kota
Keterkaitannya dengan
Samarinda
Kenyamanan Kota

Rekomendasi
Perencanaan RTH

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian


5

TINJAUAN PUSTAKA
Kota Hijau (Green City)
Berdasarkan definisinya Kota Hijau (Green City) menurut Utomo (2003)
diartikan sebagai penataan ruang kota yang menempatkan RTH sebagai asset, potensi
dan investasi kota jangka panjang yang memiliki nilai ekonomi, ekologis, edukatif dan
estetis sebagai bagian penting nilai jual kota. Menurut Direktorat Budidaya dan Pasca
Panen Florikultura (2011), Green City diartikan sebagai kota hijau yang diharapkan
akan tumbuh kembang sebagai kampanye pemanfaatan florikultura untuk cipta pasar
dalam negeri secara sistemik. Green City mempunyai 8 komponen yaitu green planning
and design, green open space, green waste, green transportation, green water, green
energy, green building dan green community (Andayani, 2011). Kota hijau adalah kota
yang sehat secara ekologis. Kota hijau harus dipahami sebagai kota yang memanfaatkan
secara efektif dan efisien sumberdaya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan
sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan menyinergikan
lingkungan alami dan buatan (BKPRN, 2012). Salah satu komponen dari green city
yang terkait dengan temperatur dan suhu udara perkotaan adalah green open space atau
yang dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau.
Kondisi fisik dari suatu lingkungan perkotaan terbentuk dari tiga unsur
(dinamis) dasar yaitu pepohonan dan organisme di dalamnya, struktur sosial (kondisi
sosial), dan manusia (Grey, 1986). Gunadi (1995) menjelaskan istilah Ruang Terbuka
(open space), yakni daerah atau tempat terbuka di lingkungan perkotaan. Ruang
Terbuka berbeda dengan istilah ruang luar (exterior space), yang ada di sekitar
bangunan dan merupakan kebalikan ruang dalam (interior space) dalam bangunan.
Definisi ruang luar, adalah ruang terbuka yang sengaja dirancang secara khusus untuk
kegiatan tertentu, dan digunakan secara intensif, seperti halaman sekolah, lapangan
olahraga, termasuk plaza (piazza) atau square. Zona hijau bisa berbentuk jalur (path),
seperti jalur hijau jalan, tepian air waduk atau danau dan bantaran sungai, bantaran rel
kereta api, saluran/jejaring listrik tegangan tinggi, dan simpul kota (nodes) berupa ruang
taman rumah, taman lingkungan, taman kota, taman pemakaman, taman pertanian kota,
dan seterusnya. Zona hijau inilah yang kemudian kita sebut Ruang Terbuka Hijau
(RTH).
Definisi selanjutnya, RTH adalah bagian dari ruang terbuka yang merupakan
salah satu bagian dari ruang-ruang di suatu kota yang biasa menjadi ruang bagi
kehidupan manusia dan mahkluk lainnya untuk hidup dan berkembang secara
berkelanjutan. Ruang terbuka dapat dipahami sebagai ruang atau lahan yang belum
dibangun atau sebagian besar belum dibangun di wilayah perkotaan yang mempunyai
nilai untuk keperluan taman dan rekreasi, konservasi lahan dan sumberdaya alam
lainnya, atau keperluan sejarah dan keindahan (Green, 1959).
RTH memiliki tiga fungsi dasar, yaitu secara sosial, fisik, dan estetik (Adams,
1952). Secara sosial, RTH merupakan fasilitas untuk umum dengan fungsi rekreasi,
pendidikan, dan olah raga. Ruang Terbuka Hijau kota dapat menjadi tempat untuk
menjalin komunikasi antar masyarakat kota. Secara fisik, RTH berfungsi sebagai paru-
paru kota, melindungi sistem tata air, peredam bunyi, pemenuhan kebutuhan visual, dan
menahan perkembangan lahan terbangun (sebagai penyangga). Pepohonan dan vegetasi
yang ada di Ruang Terbuka Hijau dapat menghasilkan udara segar dan menyaring debu
serta mengatur sirkulasi udara sehingga dapat melindungi warga kota dari gangguan
polusi udara. Secara estetika, RTH kota berfungsi sebagai pengikat antar elemen
6

gedung, sebagai pemberi ciri dalam membentuk wajah kota, dan juga sebagai salah satu
unsur dalam penataan arsitektur perkotaan.
Kota hijau merupakan konsep perkotaan, dimana masalah lingkungan hidup,
ekonomi, dan sosial budaya (kearifan lokal) harus seimbang demi generasi mendatang
yang lebih baik. Kota hijau berkorelasi dengan faktor urbanisasi yang menyebabkan
pertumbuhan kota-kota besar menjadi tidak terkendali bila tidak ditata dengan
baik (BKPRN, 2012). Dengan penyediaan RTH kota akan menjadikan kota yang lebih
baik yaitu kota sehat.

Ruang Terbuka Hijau


Ruang Terbuka Hijau (green open space) kota merupakan ruang-ruang terbuka
(open space) di berbagai tempat di suatu wilayah kota yang secara optimal digunakan
sebagai daerah penghijauan dan berfungsi baik secara langsung maupun tidak langsung
untuk kehidupan manusia dan kesejahteraan manusia atau warga kotanya selain untuk
kelestarian dan keindahan lingkungan (Nurisyah, 1996). Ruang Terbuka Hijau kota
terdiri atas tamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota,
kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pekarangan. Ruang Terbuka Hijau
diklasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur
vegetasinya (Fandeli, 2004).
Menurut UU RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Ruang Terbuka
Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun
yang sengaja ditanam. Berdasarkan luasannya setiap Kota wajib menyediakan RTH
seluas 30% dari luas wilayahnya yang dibedakan masing-masing yaitu 20% untuk
luasan RTH publik dan 10% untuk RTH privat.
Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) diperlukan guna meningkatkan
kualitas lingkungan hidup di wilayah perkotaan secara ekologis, estetis, dan sosial.
Secara ekologis, Ruang Terbuka Hijau berfungsi sebagai pengatur iklim mikro kota
yang menyejukkan. Vegetasi pembentuk hutan merupakan komponen alam yang
mampu mengendalikan iklim melalui pengendalian fluktuasi atau perubahan unsur-
unsur iklim yang ada di sekitarnya misalnya suhu, kelembaban, angin dan curah hujan.
Menurut Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum
(2006) Ruang Terbuka Hijau dibangun untuk memenuhi berbagai fungsi dasar, yang
secara umum dibedakan atas empat fungsi dasar yaitu : 1. Fungsi Bio-ekologis (fisik), 2.
Fungsi Sosial, ekonomi (produktif), dan budaya, 3. Fungsi Ekosistem perkotaan dan 4.
Fungsi estetis untuk meningkatkan kenyamanan, dan memperindah lingkungan.

Temperatur Permukaan
Arie (2012) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap sebaran temperatur permukaan lahan yaitu, Pertama, perubahan
luas tutupan lahan terbangun. Hal ini didasarkan pada hasil pengolahan citra satelit yang
menunjukkan bahwa persentase perubahan tutupan lahan terbangun mengalami
peningkatan temperatur permukaan yang lebih tinggi sedangkan tutupan lahan lainnya
seperti vegetasi yang berupa pepohonan justru memiliki temperatur permukaan yang
lebih rendah. Pada analisis penampang kawasan juga menunjukkan pola sebaran pada
wilayah dengan kawasan yang mengalami perubahan menjadi lahan terbangun memiliki
kecenderungan adanya peningkatan temperatur permukaan lahan dan menyebabkan
terbentuknya titik-titik panas. Kedua, Peningkatan sebaran vegetasi. Berdasarkan hasil
7

analisis penampang kawasan menunjukkan bahwa wilayah dengan perubahan tutupan


menjadi vegetasi memiliki kecenderungan temperatur menjadi lebih dingin. Hal ini
diperkuat dengan analisis indeks vegetasi yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
sebaran vegetasi pada tahun 2008, sehingga di beberapa wilayah menjadi lebih dingin
dari sebelumnya.
Faktor-faktor tersebut diatas, dapat dijadikan sebagai indikator adanya
peningkatan atau penurunan temperatur permukaan lahan di Kota, yang berarti bahwa
apabila pengelolaan kota lebih banyak merubah tutupan lahan kota menjadi bangunan
dengan lapisan permukaan buatan seperti beton, aspal atau membiarkan lahan-lahan
menjadi terbuka tanpa adanya vegetasi di permukaan maka peningkatan temperatur
permukaan lahan pasti akan terjadi.

Pengaruh vegetasi pada temperatur lingkungan


Lingkungan termal (temperatur) didefinisikan sebagai lingkungan yang
mempengaruhi manusia dalam hal kualitas temperaturnya, sehingga manusia dapat
merasakan lingkungan tersebut sebagai lingkungan yang dingin atau panas. Salah satu
unsur utama yang membetuk lingkungan termal adalah temperatur udara, disamping
unsur lain seperti temperatur radiasi, kelembaban, dan pergerakan udara. Perubahan
lingkungan termal di perkotaan pada penelitian ini dilihat dari berubahnya temperatur
udara. Emmanuel (2000) berpendapat bahwa perubahan lingkungan termal dipengaruhi
oleh :
a. Pergantian natural land cover dengan perkerasan, bangunan, dan infrastruktur
lainnya
b. Pengurangan jumlah pohon dan tanaman sehingga mengurangi efek pendinginan
alami dari pembayangan dan penguapan air dari tanah dan dedaunan
(evapotranspiration).
c. Peningkatan jumlah bangunan tinggi sehingga membentuk jalur-jalur jalan
sempit yang memerangkap udara panas dan menghambat aliran udara (geometry
effect).
d. Peningkatan buangan panas dari kendaraan, pabrik dan AC serta kegiatan
manusia lainnya yang menambah panas lingkungan.
e. Peningkatan polusi udara yang membentuk lapisan greenhouse gas dan ozone di
udara.
Salah satu peran vegetasi untuk mengendalikan lingkungan termal adalah
melalui mekanisme evapotranspiation (proses penguapan air dari daun ke udara) yang
dapat mempercepat pendinginan permukaan daun yang juga berakibat pada penurunan
temperatur udara. Pengukuran terhadap proses evapotranspiration pernah dilakukan oleh
DOE (Department of Energy) Lawrence Berkeley National Laboratory dan dilaporkan
bahwa pohon berdiameter 30 feet dapat melepas air sebanyak 40 galon / hari (Taha,
1997).
Di dalam artikel Trees and Vegetation yang dikeluarkan HIG (2004) dinyatakan
bahwa pohon dan tanaman mendinginkan udara dengan cara membayangi dan
mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai tanah. Jumlah sinar matahari yang
menembus canopy dinyatakan dalam nilai transmitansi bervariasi dari 0 – 100%. Nilai 0
berarti sinar matahari sama sekali tidak dapat menembus canopy, nilai 100 berarti tidak
ada sinar matahari yang ditahan oleh canopy.
Vegetasi berupa pohon sangat berpengaruh positif terhadap lingkungan
termalnya dalam hal laju penurunan temperatur udara dan temperatur udara rata-rata,
8

dengan demikian maka mekanisme pohon dalam pengendalian lingkungan termal dapat
diintepretasikan sebagai berikut :
a. Pohon berpengaruh positif terhadap temperatur udara berdasarkan mekanisme
pembayangan (canopy effect), di mana pohon memayungi daerah di bawahnya
dari sinar matahari langsung sehingga tidak menjadi panas dan berpengaruh
pada udara.
b. Pohon berpengaruh positif terhadap proses pendinginan (penurunan temperatur
udara sore hari) berdasarkan mekanisme evapotranspirasi, dimana pelepasan air
dari permukaan daun pada sore hari mendinginkan permukaan daun dan
mempengaruhi temperatur udara di sekitarnya.
c. Pohon berpengaruh negatif terhadap proses pemanasan (naiknya temperatur
udara pagi hari) berdasarkan mekanisme ‘selimut’ dimana canopy menghalangi
pertukaran panas dengan daerah sekitarnya sehingga lingkungan di bawahnya
cepat menjadi panas. Efek dari laju naik temperatur udara tidak terlalu
berpengaruh pada temperatur udara rata-rata.

Kelembaban Udara
Secara harfiah kelembaban udara dapat dirtikan sebagai jumlah uap air yang
terdapat dalam udara yang dinyatakan dalam persen (Harijanto, 2000). Kelembaban
udara erat kaitannya dengan keberadaan RTH, seperti yang dinyatakan oleh Putra
(2011) yang mengevaluasi kenyamanan pada beberapa taman kota di jakarta pusat
menyatakan bahwa area yang memiliki tutupan kanopi pohon memiliki suhu udara yang
rendah dengan kelembaban yang tinggi. Begitu pula dengan area yang sedikit memiliki
tutupan kanopi pohon, suhu udara menjadi lebih tinggi dan kelembabannya rendah.
Kaka (2013) juga berpendapat bahwa berkurangnya RTH turut mempengaruhi
penurunan kelembaban udara dan penurunan jumlah radiasi yang diserap tanaman. Pada
siang hari, pohon mampu menyerap radiasi matahari, memberi naungan, dan melakukan
transpirasi sehingga dapat menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembaban udara
(Grey et al. 1978).
Wicaksono (2010) yang meneliti pengaruh taman kota sebagai upaya untuk
menurunkan polutan debu, menyatakan bahwa pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) taman
kota mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap kelembaban. Pepohonan dapat
meningkatkan kelembaban udara relatif lingkungan yang dinaunginya dan diperlukan
untuk memberikan keteduhan yang dapat menurunkan suhu udara lingkungan (Lakitan,
1994). Menurut Purnomohadi (2002) RTH yang ditumbuhi tanaman dapat berfungsi
memberikan kesejukan dan kenyamanan. Fungsi dari tanaman bergantung pada
karakteristik tanaman tersebut, misal pohon dengan tajuk berbeda maka menghasilkan
suhu udara, kelembaban udara, menyerap sinar matahari yang berbeda pula. Struktur
tanaman sangat menentukan kondisi iklim mikro sekitarnya. Variasi kelembaban
udaranya sendiri bergantung pada suhu udara, perbedaan tipe penutupan lahan atau
permukaan di masing-masing lokasi dan kerapatan vegetasi/kerindangan (Lakitan,
1994).
Kelembaban udara memiliki pengaruh terhadap kenyamanan manusia, dimana
dalam KEPMENKES RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 dinyatakan bahwa
persyaratan kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%. Menurut Laurie (1986)
kelembaban udara yang ideal bagi manusia adalah kelembaban udara yang berkisar
antara 40% sampai dengan 75%, dengan suhu udara kurang lebih 27°C sampai dengan
28°C. Apabila kelembaban udara kurang dari 20 % maka hal tersebut dapat
9

menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan kelembaban tinggi akan


meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme (Prasasti et al. 2005).

Kenyamanan Termal
Istilah kenyamanan termal sendiri sesungguhnya sudah dikenal oleh nenek
moyang kita berabad-abad lalu. Peneliti kenyamanan termal dari Inggris, Webb (1959)
menyatakan bahwa sejak 400 tahun sebelum Masehi, Hippocrates telah
memperkenalkan effek fisik dari iklim terhadap manusia yakni dalam bentuk suhu
udara, kelembaban, angin dan radiasi sinar matahari. Di dalam bahasa Inggris kata
‘nyaman’ atau ‘comfort’ diartikan sebagai bebas dari rasa sakit atau bebas dari masalah
(Macfarlane, 1958). Manusia dinyatakan nyaman secara termal ketika ia tidak dapat
menyatakan apakah ia menghendaki perubahan suhu udara yang lebih panas atau lebih
dingin dalam ruangan tersebut (McIntyre, 1980). Olgyay (1963) merumuskan suatu
‘daerah nyaman’ sebagai suatu kondisi di mana manusia berhasil meminimalkan
pengeluaran energi dari dalam tubuhnya dalam rangka menyesuaikan (mengadaptasi)
terhadap lingkungan termal di sekitarnya.
Standard ASHRAE (1992) mendefinisikan kenyamanan termal sebagai perasaan
dalam pikiran manusia yang mengekspresikan kepuasan terhadap lingkungan termalnya.
Di dalam standar ini juga disyaratkan bahwa suatu kondisi dinyatakan nyaman apabila
tidak kurang dari 90% responden yang diukur menyatakan nyaman secara termal,
sementara Standar Internasional Kenyamanan Termal, ISO (1994) juga mensyaratkan
kondisi yang sama, yakni tidak lebih dari 10% responden yang diukur diperkenankan
berada dalam kondisi tidak nyaman.
Manusia merasakan panas atau dingin adalah wujud respon dari sensor perasa
yang terletak di bawah kulit terhadap stimulus suhu yang ada di sekitarnya. Sensor
perasa berperan menyampaikan informasi rangsangan rasa pada otak, di mana otak akan
memberikan perintah pada bagian-bagian tubuh tertentu agar melakukan antisipasi
tertentu untuk mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 37°C. Hal ini diperlukan organ
tubuh agar dapat menjalankan fungsinya secara baik (Karyono, 1996).
Apabila suhu udara di sekitar tubuh manusia lebih tinggi dari suhu yang
diperlukan tubuh, aliran darah pada permukaan tubuh atau anggota badan akan
meningkat dan ini akan meningkatkan suhu kulit dan bertujuan untuk melepaskan panas
dari dalam tubuh secara radiasi ke udara di sekitarnya. Pada tingkat selanjutnya hal ini
akan diikuti oleh proses pengeluaran keringat sebagai upaya lebih lanjut dari tubuh
untuk melepaskan lebih banyak panas atau kalor melalui proses penguapan. Pada situasi
sebaliknya di mana suhu udara lebih rendah dari yang diperlukan tubuh, peredaran
darah ke permukaan tubuh atau anggota badan dikurangi. Hal ini dilakukan sebagai
usaha untuk mengurangi pelepasan panas dari tubuh ke udara di sekitarnya. Pada
kondisi ini umumnya tangan atau kaki menjadi dingin dan pucat. Pada situasi lebih
lanjut, otot-otot akan berkontraksi dan tubuh akan menggigil. Hal ini merupakan usaha
terakhir tubuh untuk meningkatkan proses metabolisme dalam rangka memperoleh
tambahan panas dalam tubuh (Karyono, 2001).
Ilmu kenyamanan termal hanya membatasi pada kondisi udara tidak ekstrim
(moderate thermal environment), dimana manusia masih dapat mengantisipasi dirinya
terhadap perubahan suhu udara di sekitarnya. Pada kondisi yang tidak ekstrim ini
terdapat daerah suhu tertentu di mana manusia tidak memerlukan usaha apapun, seperti
halnya menggigil atau mengeluarkan keringat guna mempertahankan suhu tubuhnya
agar tetap berkisar pada 37°C. Daerah suhu inilah yang kemudian disebut dengan 'suhu
10

nyaman'. Suhu nyaman sangat diperlukan manusia untuk mengoptimalkan produktifitas


kerjanya (Idealistina, 1991).
Tubuh manusia memiliki variasi antara satu dengan lainnya, seperti halnya
gemuk, kurus, kekar, dan sebagainya, ada kecenderungan bahwa suhu nyaman yang
dimiliki oleh tiap-tiap individu berbeda, untuk itu secara teori tidak akan pernah terjadi
bahwa sekelompok manusia yang mengenakan pakaian sama, beraktifitas sama, dapat
merasakan nyaman seluruhnya apabila ditempatkan dalam satu ruang yang memiliki
suhu yang sama. Persentase maksimum yang dapat dicapai oleh suhu tertentu untuk
memberikan kenyamanan terhadap suatu kelompok manusia adalah 95%. Artinya pada
suhu tersebut 95% dari individu dalam kelompok itu akan merasa nyaman. Suhu inilah
yang kemudian secara teori didefinisikan sebagai suhu netral atau suhu nyaman (ISO,
1994).

Perubahan Luas RTH


Siahaan (2010) menyatakan bahwa kecenderungan terjadinya penurunan
kuantitas ruang publik, terutama RTH pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota
besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung, luas RTH telah berkurang dari
35% pada awal tahun 1970-an menjadi 10% pada saat ini. Ruang Terbuka Hijau yang
ada sebagian besar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan dan kawasan
permukiman baru.
Pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan terjadinya densifikasi penduduk
dan permukiman yang cepat dan tidak terkendali di bagian kota. Hal tersebut
menyebabkan kebutuhan ruang meningkat untuk mengakomodasi kepentingannya.
Semakin meningkatnya permintaan akan ruang khususnya untuk permukiman dan lahan
terbangun berdampak pada semakin merosotnya kualitas lingkungan. Rencana Tata
Ruang yang telah dibuat tidak mampu mencegah alih fungsi lahan di perkotaan
sehingga keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin terancam dan kota semakin
tidak nyaman untuk beraktivitas (Dwihatmojo, 2012).
Menurut Sitorus et al. (2007) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
perubahan luas RTH yaitu alokasi RTH dalam RTRW, fasilitas kesehatan, jumlah
pendatang, kepadatan penduduk, dan fasilitas pendidikan. Agrissantika (2007) dalam
penelitiannya mengenai dinamika spasial mengenai ruang terbangun dan Ruang
Terbuka Hijau menyatakan bahwa berubahnya lahan RTH disebakan karena konversi
lahan perkotaan dari lahan bervegetasi atau RTH menjadi lahan terbangun.
Muis (2005) melakukan analisis kebutuhan RTH berdasarkan kebutuhan oksigen
dan air di kota Depok Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa ketersediaan dan
kebutuhan air bagi masyarakat di Kota Depok diprediksikan tahun 2005-2015 akan
mengalami krisis air akibat penggunaan dan peningkatan jumlah penduduk. Hasil
penelitian Hakim (2006) yang melakukan analisis temporal dan spasial perubahan
Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Purwakarta menyimpulkan bahwa luas Ruang
Terbuka Hijau berkurang. Hal tersebut disebabkan karena meningkatnya kebutuhan
lahan untuk penggunaan kawasan dan zona industri.
Sementara itu menurut Nurisyah et al. (2011) perubahan penggunaan lahan pada
bantaran Sungai Martapura, terutama, disebabkan karena pembangunan permukiman,
dan karena terjadinya erosi. Perubahan tersebut terlihat dari beralihnya lahan-lahan
terbuka terutama dalam bentuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi lahan terbangun
dan hilangnya sebagian lahan di bantaran sungai tersebut akibat erosi.
11

Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang
suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu
alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand
dan Kiefer, 1999). Definisi yang lain juga dikemukakan oleh Konecny (2003) yang
mana penginderaan jauh adalah metode untuk memperoleh informasi dari objek yang
jauh tanpa adanya kontak langsung. Pada aplikasinya, teknologi penginderaan jauh
menggunakan energi elektromagnetik seperti gelombang radio, cahaya, dan panas
sebagai sarana untuk mendeteksi dan mengukur karakteristik objek atau target (Howard,
1996).
Teknologi penginderaan jauh mampu melakukan pemantauan penggunaan lahan.
Hal tersebut didasarkan pada prinsip penginderaan jauh yaitu melakukan deteksi suatu
obyek tanpa menyentuhnya. Pemantauan yang dilakukan terkait dengan resolusi citra
baik resolusi temporal, resolusi spasial dan resolusi spektral. Pemantauan tersebut dapat
dilakukan harian, mingguan dan seterusnya.
Parwati et al. (2004) menggunakan citra Landsat 7 ETM dengan resolusi spasial
30 m x 30 m untuk memetakan penutupan lahan. Klasifikasi penutupan lahan dilakukan
secara digital. Teknik klasifikasi yang digunakan adalah metode supervised. Langkah
awal adalah membentuk training sample, dengan bantuan training sample tersebut
dapat dilakukan proses klasifikasi secara digital, dimana objek dengan nilai statistik
terdekat dikelompokkan menjadi kelas sesuai dengan kelas training sample yang
diambil.
Hasil penelitian Lisnawati dan Wibowo (2007), menggunakan jenis penutupan
lahan yang diidentifikasi dari citra Landsat sebagai dasar untuk menginterpretasi jenis
penggunaan lahan pada masing-masing penutupan lahan tersebut. Hasil penetapan jenis
penggunaan lahan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk mendeteksi perubahan
penggunaan lahan. Proses interpretasi jenis penutupan lahan didasarkan pada kondisi
lapangan yang diperoleh dari hasil pengecekan lapang.
12

METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kota Samarinda yang merupakan bagian dari wilayah
Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis lokasi Kota Samarinda terletak pada
posisi antara 117°03'00" - 117°18'14" Bujur Timur dan 00°19'02" - 00°42'34" Lintang
Selatan. Kota Samarinda memiliki luas 71.800 ha. Adapun batas-batas wilayah Kota
Samarinda adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Muara Badak (Kabupaten Kutai
Kartanegara)
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga
(Kabupaten Kutai Kartanegara)
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Loa Janan (Kabupaten Kutai
Kartenegara)
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Muara Badak Tenggarong Seberang
(Kabupaten Kutai Kartanegara)

Secara administrasi wilayah Kota Samarinda terbagi atas 6 kecamatan dan 53


kelurahan. Waktu pelaksanaan Penelitian mulai dari penyusunan proposal sampai
penulisan tesis pada periode bulan Juli 2013 sampai dengan bulan Juni 2014. Lokasi
penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Lokasi Penelitian


13

Jenis dan Sumber Data serta Alat Penelitian


Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer yang
merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek
penelitian (Umar, 2003) dan data skunder yang merupakan data yang tidak langsung
diberikan kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau melalui
dokumen (Sugiyono, 2005). Data sekunder dikumpulkan dari beberapa intansi yaitu,
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Samarida berupa peta RTRW kota
Samarinda, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasioal berupa data Citra Quick Bird
tahun 2013 dengan resolusi 0,6 m x 0,6 m yang merupakan bagian dari Kota Samarinda
dan Citra satelit Landsat dengan resolusi 30 m x 30 m yang mencakup Seluruh kota
Samarinda, Badan Pusat Statistik Kota Samarinda berupa data statistik penggunaan
lahan, dan Badan informasi geospasial berupa peta batas administrasi Kota Samarinda.
Data sekunder lainnya adalah peta nilai atau harga tanah yang berasal dari Badan
Pertanahan (BPN). Data primer dikumpulkan melalui pengukuran langsung dilapangan
terhadap elemen-elemen iklim yang berpengaruh terhadap kenyamanan di daerah tropis,
yaitu temperatur dan kelembaban udara di Kota Samarinda. Tujuan, jenis data, sumber
data, dan cara pengumpulan data serta teknik analisisnya tertera pada Tabel 1. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini berupa komputer dengan software pembantu alat analisis
yaitu MS-Office 2010, PSAW, dan ArcGIS ver. 9.3.

Metode Analisis Data


Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan empat metode analisis,
yaitu, Interpretasi Citra, Analisis Regresi linier, Analisis SIG dengan metode overlay,
dan Regresi Logistik. Interpretasi Citra dilakukan untuk mendeliniasi tipe penggunaan
lahan di Kota Samarinda. Analisis regresi linier untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh RTH terhadap kenyamanan iklim perkotaan. Analisis SIG (overlay) untuk
memetakan prioritas areal untuk dijadikan RTH. Analisis regresi logistik digunakan
untuk mengetahui pengaruh RTH terhadap kenyamanan masyarakat. Tujuan penelitian,
jenis data, sumber data sumber data serta teknik analisis dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tujuan penelitian, jenis data, sumber data sumber data serta teknik analisis
No Tujuan Penelitian Jenis Data Sumber data Teknik Output
Analisis
1. Menganalisis kondisi Citra Landsat Kota LAPAN Interpretasi Kondisi
eksisting RTH di Kota Samarinda tahun Citra eksisting
Samarinda 2014 RTH Kota
Samarinda
2. Menganalisis temperatur Data temperatur Survei Regresi Hubungan
dan kelembaban serta dan kelembaban Lapangan Linier pengaruh
keterkaitannya dengan udara Kota dengan Interpretasi RTH
RTH Samarinda menggunakan Citra terhadap
Citra Quick Bird sistem grid temperatur
bagian Kota dan
Samarinda tahun kelembaban
2013 udara
14

Tabel 1 (Lanjutan)
3. Menganalisis Tingkat Hasil wawancara Wawancara Regresi Pengaruh
Kenyamanan Kota tentang kondisi Masyarakat Logistik RTH
Samarinda kenyamanan Kota terhadap
Luas RTH Samarinda Kenyamanan
Masyarakat
4. Menganalisis kebutuhan Peta RTRW Bapeda Overlay Kebutuhan
RTH dan prioritas areal Peta Penggunaan PEMDA RTH dan
untuk dijadikan RTH Lahan BAKOSURT Peta Prioritas
Peta Harga Tanah ANAL areal RTH
5. Menyusun arahan untuk Kondisi eksisting Bapeda Overlay Arahan
penambahan RTH RTH, Peta RTRW, PEMDA Penambahan
dan Peta Harga BPN RTH Kota
Tanah Samarinda

Citra Landsat
2014

Kondisi Eksisting
Interpretasi Citra Ground Check RTH Kota
Samarinda

Citra Quick
Bird 2013
Hubungan pengaruh
RTH terhadap
temperatur dan
Temperatur dan kelembaban udara
Pengumpulan
Kelelembaban
Data Lapang
Udara

Wawancara Pengaruh RTH terhadap


Kepada Regresi Logistik ResponKenyamanaan
Masyarakat Masyarakat

Peta RTRW Kota Samarinda Kebutuhan dan Prioritas


Peta Penggunaan Lahan Overlay areal untuk RTH Kota
Peta Harga Tanah Samarinda

Arahan untuk penambahan


Ruang Terbuka Hijau

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian


15

Tahap Persiapan
Beberapa persiapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi literatur
terkait dengan topik penelitian, penentukan metode yang tepat untuk digunakan dalam
analisis data, penyusunan proposal, orientasi lapang untuk mengetahui secara langsung
mengenai keadaan lokasi penelitian, pengumpulan data sekunder serta mempersiapkan
alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data lapang.

Tahap Analisis Data Citra


Interpretasi Citra
Secara visual untuk mengenali obyek atau tipe tutupan lahan yang terdapat pada
citra diperlukan suatu teknik analisis dengan menggunakan unsur-unsur interpretasi
citra. Karakteristik obyek yang tergambar pada citra digunakan untuk mengenali obyek
yang disebut interpretasi citra (Sutanto, 1994). Pengenalan terhadap obyek pada citra
menggunakan sembilan unsur interpretasi. Unsur-unsur yang digunakan sebagai dasar
analisis dalam interpretasi tipe penggunaan lahan/vegetasi adalah sebagai berikut
(Sutanto, 1986) :
a. Rona/Warna
Rona/warna merupakan karakteristik spektral, karena rona/warna termasuk akibat
besar kecilnya tenaga pantulan maupun pancaran. Unsur ini nampak pada citra
dengan tingkat cerah dan gelapnya suatu obyek. Umumnya rona/warna
diklasifikasikan menjadi cerah, agak cerah, sedang, agak kelabu dan kelabu.
Tingkatan rona/warna ini dapat diukur secara kualitatif.

b. Ukuran
Unsur ini menunjukan ukuran dari suatu obyek secara kualitatif maupun
kuantitatif. Ukuran kualitatif ditunjukan dengan besar, sedang dan kecil (seperti :
obyek hutan, perkebunan). Ukuran dapat diukur secara kuantitatif yang ditunjukan
dengan ukuran obyek dilapangan.

c. Bentuk
Unsur ini ditunjukan dengan bentuk dari obyek, karena setiap obyek mempunyai
bentuk seperti, jalan memanjang, lapangan bola lonjong dan sebagainya.

d. Tekstur
Tekstur suatu obyek ditunjukan dengan kehalusan suatu rona, seperti pada air
jernih/kotor mempunyai tekstur halus, tetapi bila obyek bervariasi seperti pada
obyek hutan belukar, pantulan tenaga dari pohon bervariasi yang ditunjukan dari
tekstur yang kasar.

e. Pola
Pola merupakan unsur keteraturan dari suatu obyek dilapangan yang nampak pada
citra. Obyek buatan manusia umumnya memiliki suatu pola tertentu yang
diklasifikasikan menjadi teratur, kurang teratur dan tidak teratur.

f. Tinggi
Unsur ini akan nampak bila obyek itu mempunyai tinggi, dan tiap obyek memiliki
tinggi kecuali permukaan air, tetapi untuk citra skala kecil tinggi obyek tidak
16

nampak. Tinggi dapat diukur bila skalanya memungkinkan, terutama citra foto
yang menunjukan bentuk 3 dimensi.

g. Bayangan
Obyek yang mempunyai tinggi akan mempunyai bayangan dan bayangan dapat
digunakan untuk mengukur tinggi suatu objek. Dengan pengukuran panjang
bayangan maka dapat diketahui tinggi suatu objek.

h. Situs
Unsur ini merupakan ciri khusus yang dimiliki suatu objek dan setiap objek
mempunyai situs, seperti lapangan bola mempunyai situs anak gawang dan
podium, sawah mempunyai situs pematang atau galengan dan sebagainya.

i. Asosiasi
Unsur ini digunakan untuk menghubungkan suatu objek dengan objek lain, karena
kenyataan suatu objek akan berasosiasi dengan objek lain dan berkaitan seperti
sawah berasosiasi dengan aliran air (irigasi), pemukiman dan sebagainya.

Tahap Pengecekan Lapang


Setelah interpretasi data citra, kemudian dilakukan pengecekan lapang untuk
mengetahui seberapa besar tingkat kebenaran dari hasil interpretasi. Pengecekan lapang
dilakukan pada tiap jenis tipe penggunaan lahan, dimana lokasi tersebut mewakili kelas
penutupan lahan sesuai dengan kelas klasifikasi yang telah ditentukan, dan juga pada
obyek-obyek yang dirasa masih sulit untuk dikenali. Jika terjadi perbedaan dari hasil
interpretasi dengan hasil pengecekan lapangan, maka akan dilakukan pengeditan
kembali sesuai dengan kondisi dilapangan.
Teknik sampling yang digunakan dalam menentukan titik lokasi pengecekan
lapang adalah dengan menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan
sample sumber data dengan penentuan berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono,
2009). Pada penelitian ini jumlah sample yang diambil saat pengecekan lapang adalah
sesuai dengan jenis klasifikasi penggunaan lahan yang diperoleh dari interpretasi citra
secara visual.
Pengambilan sample dilakukan pada dua hasil interpretasi citra yang berbeda
yang pertama pada Citra Landsat dan yang kedua pada Citra Quick Bird. Pada hasil
interpretasi pertama dengan menggunakan citra landsat pengecekan lapang dilakukan
sebanyak 100 kali. Dimana setiap penggunaan lahan masing-masing diambil 20 kali,
yaitu hutan, lahan kosong (semak belukar), lahan terbangun, lahan terbuka, dan tubuh
air.
Pada peta penggunaan lahan hasil interpretasi dengan menggunakan citra Quick
Bird pengambilan sample dilakukan sebanyak 180 kali sesuai dengan jumlah grid
pengamatan dan jenis penggunaan lahan pada setiap grid. Pertimbangan digunakannya
teknik purposive sampling adalah dapat mengurangi waktu dan tenaga saat pengamatan,
sebab data hasil interpretasi citra memiliki area yang cukup luas dengan berbagai jenis
tipe penggunaan lahan, oleh karenanya teknik purposive sampling adalah teknik
pengambilan sample yang tepat digunakan dalam pengecekan hasil interpretasi citra
karena informasi mengenai sebaran data dapat diketahui secara keseluruhan dalam
lokasi penelitian.
17

Alat yang digunakan dalam pengecekan lapang adalah GPS (Global positioning
system). Alat ini digunakan untuk mengetahui koordinat penggunaan lahan dilapang
yang selanjutnya dibandingkan dengan koordinat pada peta hasil interpretasi. Untuk
mengetahui tingkat kebenaran dari hasil interpretasi citra secara kuantitatif digunakan
persamaan sebagai berikut :

X
TK = × 100 %
Y

Dimana: Χ = titik pengecekan yang benar


Υ = Jumlah titik keseluruhan

Teknik Pengumpulan Data Lapang


Data lapang yang diukur dan dikumpulkan secara langsung adalah data
temperatur dan kelembaban udara. Data tersebut diukur dengan termometer digital yang
dapat mengukur temperatur dan kelembaban udara. Saat pelaksanaannya pengukuran
temperatur dan kelembaban dilapangan dilakukan pada ketinggian 150 cm diatas
permukaan tanah atau kira-kira setinggi dada orang dewasa, dengan pertimbangan
bahwa pada ketinggian 150 cm adalah ketinggian dimana manusia merasakan
kenyamanan termal.
Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan lokasi pengambilan data
adalah dengan menggunakan sistem grid. Sebelum melakukan pengukuran lapang,
lokasi pengamatan dibagi terlebih dahulu kedalam bentuk grid. Setiap grid ukurannya
adalah 500m x 500m dengan jumlah grid sebanyak 36 dan bagian tengahnya adalah
yang dijadikan sebagai titik atau tempat pengukuran. Grid tersebut merupakan area
pengamatan yang dipilih karena ketersediaan data citra satelitnya benar-benar terbebas
dari gangguan awan. Saat pelaksanaannya sebelum melakukan pengumpulan data
terlebih dahulu dipelajari lintasan atau jalan yang akan digunakan untuk menuju titik
pengamatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya hambatan perjalanan saat
menuju pada setiap grid pengamatan. Jalur menuju titik pengamatan dibagi menjadi tiga
bagian, jalur pertama dimulai dari grid nomer 1, jalur ke dua dimulai dari grid nomer 2,
dan jalur ke tiga dimulai dari grid nomer 3. Ketiga rute jalur tersebut ditentukan
berdasarkan akses jalan yang tersedia dan pertimbangan bahwa rute jalan tesebut
merupakan jalan dengan waktu tempuh tercepat yang dapat digunakan untuk menuju
titik beberapa titik pengamatan lainnya. Jalur jalan yang digunakan dalam menuju titik
pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4.
Pengumpulan data lapang dilakukan pada saat cuaca cerah dan secara bersamaan
atau dalam waktu yang masih dapat ditoleransi, oleh karena itu pengukuran data
temperatur dan kelembaban udara dilakukan oleh tiga orang sekaligus dengan
menggunakan kendaraan sepeda motor, sehingga pengambilan data lapang berupa
temperatur dan kelembaban udara dapat dilakukan secara bersamaan untuk menghindari
terjadinya bias pada saat pengambilan data. Rancangan grid pengambilan data lapang
dapat dilihat pada Gambar 5.
18

Gambar 4. Grid dan jalur menuju titik pengambilan data


19

500 m
250 m
Keterangan :
250 m Titik Pengamatan
500 m
Gambar 5. Ukuran grid pengambilan data

Analisis Keterkaitan RTH dengan Suhu dan Kelembaban Udara


Nilai pengaruh keberadaan RTH terhadap temperatur dan kelembaban udara
dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier. Analisis regresi dibagi menjadi
dua yaitu, analisis regresi pertama untuk mengetahui pengaruh keberadaan RTH
terhadap temperatur udara. Variabel yang digunakan adalah persentase luas dari Ruang
Terbuka Hijau dan nilai temperatur yang terdapat dalam masing-masing grid
pengamatan. Analisis regresi kedua, untuk mengetahui pengaruh keberadaan RTH
terhadap kelembaban udara. Variabel yang digunakan adalah persentase luas dari Ruang
Terbuka Hijau dan nilai kelembaban yang terdapat dalam masing-masing grid
pengamatan. Persentase dari luas RTH dalam analisis regresi dibedakan menjadi
beberapa jenis yang terdiri dari pepohonan, rerumputan, dan belukar.
Hasil analisis regresi tersebut dapat diperoleh model yang dapat menjelaskan
secara kuantitatif seberapa besar pengaruh persentase luas Ruang Terbuka Hijau
terhadap kenaikan dan penurunan temperatur maupun kelembaban udara. Model
tersebut dapat digunakan dalam menentukan target yang rasional untuk menurunkan
temperatur di Kota Samarinda. Berikut ini adalah model persamaan dari regresi linier
sederhana.
y = α + βx + ε
Dimana :
y = temperatur dan kelembaban udara
α = konstanta(intersep)
β = nilai koefisien
x = Persentase luas RTH (Pepohonan, Belukar, dan Rerumputan)
ε = galat

Analisis Prioritas Areal untuk RTH


Penentuan prioritas area untuk di jadikan RTH diakukan dengan menggunakan
analisis SIG (Sistem Informasi Geografis) berupa overlay atau operasi tumpang tindih
20

peta. Tujuan dari overlay peta ini adalah untuk mendapatkan informasi baru dari
kombinasi beberapa peta. Data yang digunakan dalam metode overlay ini merupakan
data dalam bentuk vektor yang di turunkan dari peta RTRW Kota Samarinda, Peta Nilai
Harga Tanah, dan Penggunaan Lahan Kota Samarinda. Peta RTRW Kota Samarinda
digunakan untuk mengetahui arahan pemanfaatan ruang, peta status kawasan untuk
mengetahui status fungsi dari kawasan dan peta penggunaan lahan yang digunakan
untuk menentukan apakah suatu ruang memungkinkan diperuntukan sebagai RTH.
Analisis overlay dari ke dua peta tersebut menghasilkan gabungan atribut yang
dapat menunjukan secara spasial skala prioritas areal di Kota Samarinda untuk dijadikan
RTH. Apabila pada atribut peta penggunaan lahannya merupakan lahan terbangun maka
lahan tersebut tidak masuk dalam prioritas untuk dijadikan RTH. Apabila lahan tersebut
merupakan lahan terbuka atau lahan-lahan yang belum dimanfaatkan dengan status
kawasan bukan untuk fungsi budidaya maka lahan tersebut merupakan lahan yang
diprioritaskan untuk dijadikan RTH.
Beberapa informasi yang dapat diperoleh dari hasil analisis overlay ini adalah
diketahuinya luas areal yang dapat diprioritaskan untuk RTH serta sebarannya di kota
Samarinda. Dengan demikian nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam
perencanaan RTH di Kota Samarinda. Proses overlay peta untuk analisis prioritas areal
untuk RTH dapat dilihat pada Gambar 6.

Peta RTRW Kota


Samarinda

Peta Nilai Harga Analisis Atribut Hasil Peta Prioritas


Tanah Overlay Areal RTH

Peta Penggunaan
Lahan

Gambar 6. Proses overlay untuk analisis prioritas areal RTH

Survei Keterkaitan RTH dan Kenyamanan Masyarakat


Keterkaitan hubungan antara RTH dan kenyamanan termal pada masyarakat
Kota Samarinda dalam penelitian ini diketahui melalui survei wawancara langsung
kepada masyarakat setempat. Survei ini ditujukan khusus pada masyarakat yang tinggal
atau berdomisili di Kota Samarinda. Secara sepesifik target responden yang
diwawancarai, diprioritaskan pada masyarakat yang tinggalnya berada dekat dari lokasi
titik pengukuran temperatur dan kelembaban udara dengan cara menanyakan langsung
pada responden apakah sudah merasa nyaman tinggal dengan kondisi RTH eksisting
yang ada di lingkungannya, dengan demikian masyarakat dapat menyatakan
perasaannya apakah merasa nyaman atau tidak nyaman.
Jumlah responden yang akan diambil sebagai sample dalam penelitian adalah
sebanyak 5 orang pada setiap gridnya, dimana respondennya terdiri dari jenis kelamin
laki-laki dan wanita dan dengan beberapa kategori jenis pekerjaan yang berbeda yaitu
pekerja kasar, karyawan, dan manajerial. Secara keseluruhan jumlah sample responden
yang menjadi target dalam survei keterkaitan RTH dan kenyamanan adalah 180 orang.
21

Survei ini dilakukan secara bertahap, dimana dalam satu harinya jumlah responden yang
diwawancarai adalah sebanyak 36 orang, sehingga untuk mencapai 180 orang
responden diperlukan waktu selama 5 hari.
Jawaban hasil survei wawancara ini merupakan data dalam bentuk kategori
nominal, oleh karena itu analisis yang digunakan untuk mengetahui keterkaitan antara
luas RTH dan kenyamanan masyarakat adalah dengan menggunakan analisis regresi
logistik. Jawaban dari responden digunakan sebagai variabel dependen dan sebagai
variabel independennya digunakan data luas RTH di setiap grid pengamatan,
temperatur, dan kelembaban udara. Peubah kenyamanan masyarakat tertera pada Tabel
2.

Tabel 2. Peubah Kenyamanan Masyarakat


Variabel Label Skala Kategori
Terikat Kenyamanan Masyarakat Nominal 0 = Nyaman 1 = Tidak Nyaman
Penjelas Luas RTH (%) Rasio

Hasil analisis regresi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh RTH terhadap kenyamanan masyarakat. Model yang secara simultan
menggunakan semua logit kumulatif dapat ditulis sebagai :

𝐿�𝑗 (𝑥) = 𝛼�𝑗 + β𝑥𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑅𝑇𝐻

Dimana :
𝐿�𝑗 (𝑥) = variabel terikat
𝛼�𝑗 = konstanta(intersep)
β = nilai koefisien
𝑥1 = Luas RTH (%)

Arahan Penambahan RTH


Penyusunan arahan penambahan RTH didasarkan pada amanat Undang-undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana disyaratkan luas RTH minimal
sebesar 30% dari luas wilayah kawasan perkotaan yang dibagi menjadi RTH Publik
minimal 20% dan RTH Privat minimal 10%. Penyusunan arahan penambahan RTH
dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa hasil analisis yaitu, analisis penggunaan
lahan, analisis prioritas RTH, dan nilai harga lahan kota Samarinda. Tujuan
digunakannya hasil analisis penggunaan lahan adalah agar arahan penambahan RTH
dalam implementasinya dapat berjalan secara lebih efisien dengan hanya
mempertimbangkan lahan-lahan kosong sebagai prioritas utama dalam penambahan
RTH. Proses penyusunan arahan penambahan RTH dimulai dengan menghitung
eksisting luas RTH publik dan privat di Kota Samarinda. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah RTH di Kota Samarinda sudah mencukupi luas minimal
sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang Penataan Ruang, sehingga
dengan diketahuinya luas RTH di Kota Samarinda selanjutnya dilakukan perhitungan
kecukupan RTH berdasarkan luas wilayah. Jika diperoleh hasil perhitungan bahwa RTH
di Kota Samarinda masih dibawah standar kecukupan luas minimum maka untuk
memenuhi kekurangan RTH perlu dilakukan analisis pontesi RTH.
22

Hasil analisis prioritas areal untuk RTH dapat digunakan sebagai dasar dalam
penambahan RTH di Kota Samarinda. Secara teknis dalam analisis tersebut lahan-lahan
di Kota Samarinda dipetakan berdasarkan penggunaan lahan eksisting, RTRW Kota
Samarinda dan nilai harga lahan. Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk
mengetahui secara spasial lahan-lahan mana saja di Kota Samarinda yang dapat
diprioritaskan untuk RTH. Areal dengan prioritas utama untuk RTH akan dijadikan
sebagai rencana penambahan RTH. Luas rencana penambahan RTH dihitung
berdasarkan kekurangan RTH di Kota Samarinda dan dibagi sesuai dengan proporsi
luas wilayah disetiap kecamatan di Kota Samarinda.
23

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


Letak Geografis
Kota Samarinda secara geografis terletak pada posisi antara 117°03'00" -
117°18'14" Bujur Timur dan 00°19'02" - 00°42'34" Lintang Selatan, dengan luas
wilayah 71.800 ha. Secara administrasi wilayah Kota Samarinda terbagi atas 53
keluarahan dan 6 kecamatan, yaitu Samarinda seberang, Samarinda Ilir, Samarinda Ulu,
Samarinda Utara, Sungai Lunjang, dan Palaran.

Topografi
Kota Samarinda memiliki topografi yang cenderung mendatar dan terletak di
dataran rendah, terbelah oleh Sungai Mahakam. Dilihat dari ketinggiannya Kota
Samarinda berada di antara 0-200 m dpl (di atas permukaan laut). Sebesar 294.86 Km²
wilayah Kota Samarinda berada pada ketinggian 7-25 m dpl dengan persentase sebesar
41,07 % dari seluruh wilayah Kota Samarinda. Hampir 32,45 % wilayah Kota
Samarinda berada pada ketinggian 25-100 m dpl, dan sebesar 24,15 % pada ketinggian
0-7 m dpl. Luas kelerengan di Kota Samarinda secara lebih rinci dapat dilihat pada
Tabel 3.

Tabel 3. Luas Wilayah Kota Samarinda Berdasarkan Kelerengan


No Lereng Luas (Km2) Persentase ( % )
1 0-2 259,87 36,19
2 3-14 182,75 25,45
3 15-39 178,6 24,87
4 40-59 72,05 10,04
5 > 60 24,73 3,44
Jumlah 718 100

Iklim dan Curah Hujan


Dilihat dari kondisi iklimnya Kota Samarinda merupakan daerah yang beriklim
tropis dan mempunyai musim yang hampir sama dengan wilayah Indonesia pada
umumnya, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kota Samarinda secara
geografis terletak dekat dengan garis khatulistiwa, oleh karena itu iklim di Kota
Samarinda juga dipengaruhi oleh angin Munson, yaitu angin Muson Barat Nopember-
April dan angin Munson Timur Mei-Oktober, namun dalam tahun-tahun terakhir ini,
keadaan musim kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan
dalam kenyataannya tidak ada hujan sama sekali, atau sebaliknya pada bulan-bulan
yang seharusnya musim kemarau bahkan terjadi hujan dengan musim yang jauh lebih
panjang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Stasiun Meteorologi Kota
Samarinda pada tahun 2009, Samarinda mengalami iklim panas dengan suhu udara rata-
rata 27,60⁰C. Suhu udara terendah 24⁰C terjadi pada bulan Juli dan tertinggi 33⁰C pada
bulan Desember. Kota Samarinda mempunyai kelembaban udara dan curah hujan yang
relatif tinggi. Pada tahun 2009 kelembaban udara berkisar antara 80% sampai dengan
85%, sedangkan rata-rata curah hujan mencapai 162,7 mm, dengan curah hujan tertinggi
278,9 mm pada bulan Maret dan terendah 41,2 mm pada bulan Juni. Persentase
24

penyinaran matahari di Kota Samarinda rata-rata 39%, dan jumlah hari hujan rata-rata
tahun 2009 adalah 16 hari hujan.

Penggunaan Lahan
Jenis penggunaaan lahan di Kota Samarinda berkembang mengikuti pola
penyebaran penduduk perkotaan. Akumulasi penduduk sebagian besar terdapat di
lokasi-lokasi kegiatan yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota dan didukung dengan
prasarana dan sarana transpostasi yang memadai, seperti Pusat perdagangan, Pusat
Industri, dan lokasi Transmigrasi. Rincian jenis penggunaan lahan berdasarkan data
Bapedda Kota Samarinda tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penggunaan Lahan Kota Samarinda


No Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha)
1 Sawah 6.729
2 Tegalan/Kebun 5.381
3 Ladang/Huma 1.928
4 Perkebunan 6.670
5 Hutan Rakyat 6.757
6 Tambak 6
7 Kolam/Tebat/Empang 82
8 Padang Penggembalaan/Rumput 12
9 Sementara tidak Diusahakan 4.132
10 Lainnya (pekarangan yang ditanami tanaman pertanian, dan lainnya) 2.800
11 Rumah dan Bangunan 24.126
12 Hutan Negara 50
13 Rawa-rawa 1.147
14 Lainnya ( jalan, sungai, danau, lahan tandus, dan lainnya) 11.979
Luas Keseluruhan 71.800

Berdasarkan jenis penggunaan lahannya Kota Samarinda memiliki kawasan


terbangun yang terdiri dari rumah dan bangunan seluas 24.126 ha atau mencapai 33,6%
dari luas keseluruhan Kota Samarinda, sedangkan untuk total dari luas lahan terbuka
yang ada di Kota Samarinda adalah 47.673 ha, dimana sebagian lahannya 31.474 ha
merupakan lahan terbuka hijau yang terdiri dari sawah, tegalan/kebun, ladang/huma,
perkebunan, hutan rakyat, tambak, padang penggembalaan/rumput, hutan negara dan
dan rawa-rawa.

Penduduk
Jumlah penduduk kota Samarinda berdasarkan hasil dari Rekapitulasi Laporan
Kependudukan dari Dinas Catatan Sipil, Rekapitulasi Jumlah Penduduk dan DP4 kota
Samarinda 30 Desember Tahun 2011 adalah sebanyak 874.972 jiwa. Rasio jenis
kelamin (sex ratio) penduduk menunjukan angka 53:47 yang berarti penduduk laki-laki
lebih banyak dari perempuan, dengan luas wilayah 718,03 km2 maka kepadatan
penduduk tahun 2011 sebesar 1.218 jiwa / km2, dengan pertumbuhan 6,55 %.
Sebagai ibukota propinsi Kalimantan Timur, Samarinda merupakan pusat dari
perdagangan dari beberapa wilayah disekitarnya, disamping tersedianya lahan tempat
25

tinggal dan tingginya peluang usaha membuat kota ini mempunyai daya tarik yang
besar, baik bagi masyarakat di kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur, maupun
bagi masyarakat di luar Kalimantan Timur, oleh karenanya pertumbuhan penduduk di
kota Samarinda terjadi karena dua hal yaitu, pertumbuhan alami dan pergerakan
urbanisasi serta migrasi dari luar wilayah.
Komposisi usia sebagian besar penduduk kota Samarinda adalah penduduk
dalam usia produktif, dewasa atau usia kerja, oleh karena itu kota Samarinda merupakan
kota yang mempunyai beban dalam penyediaan lapangan dan peluang kerja termasuk di
dalamnya sarana dan prasarana pemukiman.
26

HASIL DAN PEMBAHASAN


Interpretasi Citra Landsat
Hasil dari interpretasi citra landsat menunjukan bahwa kota samarinda pada
tahun 2014 memiliki beberapa jenis kenampakan tutupan lahan yang dapat digunakan
untuk mengklasifikasi penggunaan lahan, diantaranya adalah hutan, lahan kosong
berupa semak belukar, tubuh air, lahan terbuka, dan lahan terbangun. Kunci-kunci
interpretasi yang dapat digunakan untuk membedakan setiap objek penggunaan lahan
yang terlihat pada citra dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kunci Interpretasi yang diperoleh dari citra Landsat


Penampakan Citra Penggunaan Lahan Keterangan
Hutan (Pepohonan) Pepohonan dicirikan
dengan kenampakan
vegetasi berwarna hijau
gelap dan bertekstur kasar

Lahan Kosong (Belukar) Belukar memiliki


kenampakan warna hijau
yang lebih muda dengan
tekstur yang sedikit agak
kasar terksur.

Tubuh Air Tubuh air pada citra


memiliki kenampakan
dengan tekstur sangat halus
dan dengan warna yang
cenderung sama

Lahan Terbuka Lahan terbuka memiliki


warna kecoklatan yang
menunjukan bawah tidak
terdapatnya penutup tanah
27

Tabel 5 (Lanjutan)
Lahan Terbangun Lahan terbangun memiliki
kenampakan yang teratur
dan berasosiasi dengan
jalan

Awan dan Bayangan Awan Awan pada citra memiliki


kenampakan dengan warna
yang sangat putih dengan
bentuk yang khas.
Sedangkan bayangan awan
berwarna gelap dengan
bentuk mirip seperti awan

Kenampakan objek pada citra yang diperoleh dari interpretasi secara visual
dapat digunakan untuk menghitung setiap luas dari penggunaan lahan yang ada. Tidak
hanya cukup pada interpretasi citra saja, pengecekan lapangan (ground check) juga
dilakukan untuk mengetahui apakah peta hasil dari interpretasi sudah sesuai dengan
kondisi di lapangan dan juga untuk mengetahui seberapa besar tingkat kebenaran hasil
interpretasi. Pengecekan lapangan dilakukan untuk melihat kembali apakah penggunaan
lahan hasil interpretasi citra sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya dilapangan. Alat
bantu yang digunakan dalam pengecekan lapangan adalah dengan menggunakan GPS
untuk melihat koordinat atau mengetahui lokasi di lapangan.
Pengecekan lapang dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Jumlah sample yang diambil dalam pengecekan lapang adalah sebanyak 100 sample.
Setiap sample diambil dari beberapa jenis penggunaan lahan yang ada di Kota
Samarinda. Jumlah titik pengecekan dan jenis penggunaan lahan yang diambil dapat
dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah titik pengecekan lapang


Jumlah Titik
No Jenis Penggunaan Lahan
Pengecekan
1 Hutan 20
2 Industri 6
3 Lahan Terbuka 10
4 Pendidikan 1
5 Perdagangan 10
6 Pergudangan 5
7 Perkantoran 1
8 Perkebunan 9
9 Permukiman 14
10 Semak/Belukar 14
11 Tubuh Air 10
Jumlah 100
28

Hasil pengecekan lapang diperoleh 87 titik pengecekan yang benar atau sesuai
antara hasil interpretasi dan kondisi di lapangan sedangkan 13 titik pengecekan lainnya
tidak sesuai dengan hasil interpretasi citra. Hasil perhitungan dari pengecekan lapangan
adalah sebagai berikut :
X 87
TK (Tingkat Kebenaran) = *100 % = *100 % = 87 %
Y 100

Dimana: Χ = titik pengecekan yang benar


Υ = Jumlah titik keseluruhan

Gambar 7. Peta hasil interpretasi secara visual Kota Samarinda


29

Interpretasi Citra Quick Bird


Hasil interpretasi pada citra Quick Bird dengan resolusi 0,6 m x 0,6 m
menunjukan bahwa kenampakan tutupan lahan di Kota Samarinda yang dapat
diidentifikasi terdiri dari hutan, lahan kosong (semak belukar), rerumputan, lahan
terbuka, lahan terbangun dan tubuh air. Hasil dari interpretasi citra dapat digunakan
sebagai bahan analisis untuk mengetahui hubungan pengaruh RTH terhadap temperatur
dan kelembaban udara. Data citra yang digunakan untuk melakukan analisis
penggunaan lahan adalah mencakup sebagian dari wilayah Kota Samarinda. Beberapa
kunci interpretasi yang diperoleh dari Citra Quick Bird di Kota Samarinda dapat dilihat
pada Tabel 7.

Tabel 7. Kunci Interpretasi yang diperoleh dari citra Quick bird


Penampakan Citra Penggunaan Lahan Keterangan
Hutan (Pepohonan) Pepohonan dicirikan
dengan kenampakan
vegetasi berwarna hijau
yang bertekstur kasar dan
cenderung berbentuk bulat
yang menunjukan sebuah
tajuk.
Lahan Kosong (Belukar) Belukar memiliki
kenampakan warna hijau
yang lebih muda dengan
tekstur yang sedikit agak
kasar terksur. Hal tersebut
menunjukan terdapatnya
tumbuhan rendah berkayu.
Rerumputan Rerumputan pada citra
dicirikan dengan warna
hijau dengan terkstur yang
halus.

Lahan Terbuka Lahan terbuka memiliki


warna kecoklatan yang
menunjukan bawah tidak
terdapatnya penutup tanah
30

Tabel 7 (Lanjutan)
Lahan Terbangun Lahan terbangun memiliki
kenampakan dengan bentuk
objek persegi yang
menunjukan bentuk dari
bangunan bangunan

Tubuh Air Tubuh air pada citra


memiliki kenampakan
dengan tekstur sangat halus
dan juga dengan warna
yang cenderung sama

Hasil kenampakan objek pada citra yang diperoleh dari interpretasi secara visual
citra resolusi tinggi dapat digunakan untuk menghitung secara lebih detil luas dari
penggunaan lahan yang ada. Hasil interpretasi dapat digunakan juga untuk melihat
keterkaitan dua elemen iklim yaitu temperatur dan kelembaban dengan penggunaan
lahan. Tidak hanya cukup pada interpretasi citra, pengecekan lapangan (ground check)
juga dilakukan untuk mengetahui apakah peta hasil dari interpretasi sudah sesuai
dengan kondisi di lapangan dan juga untuk mengetahui seberapa besar tingkat
kebenaran hasil interpretasi. Pengecekan lapangan dilakukan untuk melihat kembali
apakah penggunaan lahan hasil interpretasi citra sudah sesuai dengan kondisi
sebenarnya dilapangan. Alat bantu yang digunakan dalam pengecekan lapangan adalah
dengan menggunakan GPS untuk melihat koordinat atau mengetahui lokasi di lapangan.
Pengecekan lapang dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Jumlah sample yang diambil dalam pengecekan lapang adalah sebanyak 180 sample.
Jumlah grid pengamatan adalah sebanyak 36 dan setiap grid-nya diambil 5 sample.
Hasil pengecekan lapang diperoleh 170 titik pengecekan yang benar atau sesuai antara
hasil interpretasi dan kondisi di lapangan sedangkan 10 titik pengecekan lainnya tidak
sesuai dengan hasil interpretasi citra. Hasil perhitungan dari pengecekan lapangan
adalah sebagai berikut :

X 170
TK (Tingkat Kebenaran) = *100 % = *100 % = 94 %
Y 180

Dimana: Χ = titik pengecekan yang benar


Υ = Jumlah titik keseluruhan
31

Gambar 8. Peta hasil interpretasi secara visual bagian Kota Samarinda


32

Penggunaan Lahan Kota Samarinda


Hasil analisis penggunaan lahan menunjukan bahwa Kota Samarinda pada tahun
2014 penggunaan lahannya diperuntukan untuk lahan terbangun yang diantaranya
terdiri dari bandara, industri, perdagangan, pergudangan dan permukiman, selain itu
Kota Samarinda saat ini memiliki lahan kosong berupa semak belukar yang hampir
terdapat di setiap kecamatan di Kota Samarinda dengan luas yang cukup besar.
Berdasarkan luas penggunaan lahan Kota Samarinda dapat dilihat bahwa lahan kosong
di kota samarinda luasannya begitu besar yaitu mencapai 27.817,80 ha atau 38,37% dari
luas kota Samarinda, oleh karena itu dalam pengadaaan RTH, lahan kosong dapat
diprioitaskan untuk penambahan RTH, mengingat di Kota Samarinda RTH luasnya
masih belum memenuhui standar minimum dan secara distribusi belum merata di
seluruh kecamatan di Kota Samarinda. Terjadinya perbebedaan distribusi RTH yang
ada di setiap kecamatan di Kota Samarinda juga dipengaruhi oleh perbedaan aktifitas
penggunaan lahan pada masing-masing kecamatan. Luas Penggunaan Lahan Kota
Samarinda dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Luas Penggunaan Lahan Kota Samarinda dalam Satuan Hektar


Kecamatan Kota Samarinda
Penggunaan
No Palaran Samarinda Samarinda Samarinda Samarinda Sungai Luas
Lahan
Ilir Seberang Ulu Utara Kunjang (ha)
Tidak
1 10.270,06 2.273,46 872,69 733,89 4.087,34 1.433,12 19.670,56
Teridentifikasi
2 Bandara - 13,00 - - 301,58 - 314,58
3 Hutan 965,54 75,46 163,53 861,85 4.295,13 853,84 7.215,34
4 Industri 63,84 12,16 27,43 - - 49,12 152,54
5 Lahan Terbuka 936,61 856,05 201,65 352,56 2.552,04 1.147,50 6.046,42
6 Perdagangan 84,57 245,16 43,57 191,98 74,50 51,96 691,73
7 Pergudangan 52,03 10,33 - - - 3,53 65,89
8 Perkebunan 497,26 - - 588,00 549,71 - 1.634,97
9 Permukiman 299,27 528,78 966,08 908,78 2.870,19 952,71 6.525,82
Lahan Kosong
10 5.922,35 5.040,78 1.255,66 1.524,37 11.665,65 2.408,99 27.817,80
(Semak/Belukar)
11 Tubuh Air 1.009,24 513,18 522,39 49,64 10,31 254,31 2.359,06

Berdasarkan analisis penggunaan lahan saat ini diketahui bahwa penggunaan


lahan untuk permukiman di Kota Samarinda mencapai 6.525,82 ha atau 9% dari luas
kota Samarinda. Penggunaan lahan terbangun lainnya adalah untuk perdagangan yaitu
sebesar 691,73 ha dengan penggunaan lahan terbesar di kecamatan Samarinda Ilir.
Penggunaan lahan untuk keperluan Industri adalah sebesar 152,54 ha dan bandara
314,58 ha, ditambah lagi penggunaan lahan untuk pergudangan di Kota Samarinda yaitu
sebesar 65,89 ha. Lahan terbangun di kota samarinda secara keseluruhan memiliki luas
sebanyak 10,69% atau 7.750,56 ha.
Saat ini kecamatan Samarinda Utara adalah kecamatan dengan penggunaan
lahan untuk permukiman terbesar dengan luas 2.870,19 ha. Samarinda Utara juga
merupakan kecamatan yang memiliki luas penggunaan lahan terbesar untuk hutan yaitu
4.295,13 ha. Kecamatan Samarinda utara merupakan daerah yang sedang pesat
mengalami pembangunan, dimana pembangunan fisik kota adalah seperti bandara,
33

perumahan, tempat pendidikan perguruan tinggi dan perdagangan mulai mengarah ke


sebelah utara Kota Samarinda.

Gambar 9. Peta Penggunaan Lahan Eksisting Kota Samarinda

Pada kecamatan lainnya yaitu Samarinda Seberang saat ini merupakan daerah
yang berkembang. Tidak banyak yang menonjol dalam penggunaan lahannya, namun
untuk penggunaan lahan permukiman kecamatan Samarinda Seberang merupakan
34

kecamatan kedua di Kota Samarinda yang memiliki penggunaan lahan untuk


permukiman yaitu sebesar 966,08 ha. Kecamatan ini juga memiliki penggunaan lahan
terbangun untuk industri dan perdagangan namun luasnya tidak begitu besar. Pada
kecamatan Samarinda Ulu merupakan kecamatan dengan penggunaan lahan perkebunan
paling besar di Kota Samarinda, luasnya mencapai 588 ha. Samarinda Ulu merupakan
wilayah dengan pembangunan fisik wilayah lebih banyak kepada pembangunan
perumahan, industri, dan tempat perniagaan. Pada kecamatan Sungai Kunjang
pembangunan fisik wilayahnya banyak digunakan untuk industri, pergudangan, dan
permukiman. Kecamatan ini memiliki penggunaan lahan untuk tempat industri kedua di
Kota Samarinda dengan luas sebesar 49,12 ha. Tidak banyak yang menonjol dalam hal
luas penggunaan lahan lainnya di kecamatan Sungai Kunjang. Pada kecamatan Palaran
merupakan kecamatan yang memiliki luas penggunaan lahan untuk industri terbesar di
Kota Samarinda yaitu sebesar 63,84 ha.
Penggunaan lahan lainnya yang mendukung Kota Samarinda dalam menjaga
eksositem kota adalah hutan. Hutan sebagai RTH di Kota Samarinda memiliki luas
sebesar 7.215,34 ha. Penggunaan lahan untuk hutan di Kota Samarinda paling besar
terdapat di kecamatan Samarinda Utara dan Palaran. Pada kecamatan Samarinda Utara
merupakan wilayah yang didalamnya terdapat Kebun Raya, sehingga pada kecamatan
samarinda utara masih terdapat hutan yang secara persentase luasnya relatif besar
dibandingkan dengan kecamatan lainnya di kota Samarinda. Berdasarkan sejarahnya
Samarinda pernah menjadi wilayah yang digunakan perusahaan kayu dengan Hak
Pengusahaan Hutan (HPH) dan juga terdapat beberapa perusahaan tambang, oleh karena
itu saat ini beberapa tempat di Kota samarinda terdapat lahan kosong semak belukar dan
sebagian lahan terbuka yang begitu luas. Saat ini kecamatan Samarinda Utara
merupakan kecamatan yang memiliki lahan kosong berupa semak/belukar terbesar di
Kota Samarinda, yaitu seluas 11.665,65 ha dan juga lahan terbuka terluas yaitu seluas
2.552,04 ha.

Kondisi eksisting RTH di Kota Samarinda


Kondisi pusat kota samarinda sebagian besar masih didominasi oleh lahan
terbangun baik untuk lahan permukiman, industri, pergudangan maupun perdagangan,
disamping itu Kota Samarinda juga banyak didominasi oleh lahan kosong yang
ditumbuhi oleh semak belukar. Dominasi seluruh lahan tersebut cenderung mendesak
terhadap keberadaan RTH. Saat ini pada daerah yang sudah banyak dipadati dengan
lahan terbangun, RTH cenderung lebih sedikit keberadaan, sedangkan pada daerah
dengan lahan terbangun yang tidak begitu padat, RTH cenderung terdapat lebih besar
luasnya.
Kota Samarinda secara keseluruhan berdasarkan penggunaan lahannya memiliki
beberapa jenis RTH. Hal tersebut dapat dilihat berdasakan luas penggunaan lahan di
Kota Samarinda. Diantaranya adalah lahan perkebunan dan hutan yang berada pada
kawasan budidaya maupun kawasan lindung. Adapun RTH yang ada pada lahan kosong
merupakan semak/belukar yang kurang berfungsi maksimal sebagai RTH. Berdasarkan
luasannya RTH di kota Samarinda yang benar-benar berfungsi adalah seluas 12,20%
dari luas seluruh kota Samarinda, oleh karenanya dengan luas RTH yang ada saat ini
kota Samarinda masih belum memenuhi luas minimum dari yang telah ditetapkah oleh
Undang-ndang Nomer 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu seluas 30% dari
35

luas wilayah kota dengan proposi 20% sebagai RTH publik dan 10% sebagai RTH
privat. Luas RTH publik dan privat Kota Samarinda dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Luas RTH Publik dan Privat di Kota Samarinda


Kecamatan RTH Publik RTH Privat
No Kota Jumlah Luas Jumlah Luas
Samarinda Taman Hutan Hutan Perkebunan
(ha) (%) (ha) (%)
1 Palaran - - - - 787.19 497.26 1,284.45 1.77
2 Samarinda Ilir 178.35 - 178.35 0.25 75.46 - 75.46 0.10
Samarinda
3 95.10 - 95.10 0.13 68.43 - 68.43 0.09
Seberang
4 Samarinda Ulu 62.83 - 62.83 0.09 799.02 588.00 1,387.02 1.91
Samarinda
5 25.75 300 325.75 0.45 3969.38 549.71 4,519.09 6.23
Utara
6 Sungai Kunjang 70.75 - 70.75 0.10 783.09 - 783.09 1.08
Jumlah 432.78 300.00 732.78 1.01 6,482.56 1,634.97 8,117.54 11.20

Setiap kecamatan di Kota Samarinda memiliki kondisi eksisting RTH yang


berbeda-beda. Kecamatan Samarinda Seberang merupakan satu-satunya kecamatan
yang paling sedikit memiliki luas RTH privat yaitu sebesar 68,43 ha atau 0,09% dari
luas Kota Samarinda. Hal ini terjadi karena Samarinda Seberang merupakan kecamatan
yang masih berkembang di kota Samarinda dan belum begitu banyak membangun RTH.
Lahan-lahan pada kecamatan Samarinda Seberang masih lebih banyak dibangun untuk
keperluan permukiman, pendidikan, dan industri. Di kecamatan lain untuk RTH publik
paling sedikit terdapat di Kecamatan Samarinda Ulu yaitu sebesar 62,83 ha atau 0,09%
dari luas Kota Samarinda. Keterbatasan lahan pada kawasan permukiman menyebabkan
kecamatan ini tidak begitu banyak memiliki RTH.
Pada wilayah kecamatan Samarinda Utara merupakan wilayah dengan luas RTH
privat paling besar yaitu sebesar 4.519,09 ha atau 6,23% dari luas Kota Samarinda. Pada
wilayah Samarinda Utara RTH banyak dalam bentuk hutan baik di kawasan budidaya
maupun pada kawasan lindung, disamping itu pada wilayah ini juga terdapat
perkebunan yang membuat kecamatan samarinda Utara menjadi kecamatan dengan luas
RTH paling luas di Kota Samarinda. Kecamatan Samarinda Utara juga merupakan
kecamatan dengan luas RTH publik paling besar di Kota Samarinda. RTH publik di
kecamatan Samarinda Utara berbentuk hutan kota dan taman. Secara keseluruhan luas
RTH publik di kecamatan Samarinda Utara adalah sebesar 325,75 ha atau 0,45% dari
luas Kota Samarinda.
Kecamatan lainnya di Kota Samarinda yaitu, Sungai Kunjang, Samarinda Ilir,
dan Palaran merupakan kecamatan dengan luas RTH publik dan privat yang tidak begitu
besar. Jika dijumlah luasnya hanya mencapai 2.395,40 ha atau 3,30% dari luas Kota
Samarinda, oleh karena itu penambaan RTH perlu dilakukan agar mencukupi setiap
kecamatan di Kota Samarinda. Penambahan RTH juga perlu dilakukan dengan cara
melihat ruang berdasarkan prioritasnya untuk dijadikan RTH di setiap kecamatan Kota
Samarinda. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan lahan eksisting yang sudah ada
dan disesuaikan juga dengan nilai harga lahan dan RTRW Kota Samarinda.
Dilihat dari sebarannya RTH di kota Samarinda saat ini secara spasial masih
menunjukan bahwa RTH di kota samarinda masih belum terdistribusi dengan merata.
Dimana RTH lebih banyak terdapat pada daerah dipinggir kota yang masih tidak begitu
36

padat dengan lahan terbangun. Secara spasial terlihat ada kecenderungan bahwa
keberadaan RTH di kota Samarinda tertekan oleh pesatnya pembangunan fisik kota
yang membuat RTH menjadi lahan terbangun. Kedepan distribusi RTH harus diarahkan
pada kecamatan yang masih sangat minim sekali luas RTH-nya seperti pada kecamatan
Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, dan Sungai Kunjang.

RTH Publik Kota Samarinda


Berdasarkan surat keputusan Walikota Samarinda Nomor : 178/HK-KS/2005,
RTH publik Kota Samarinda yang terdiri dari hutan dan taman kota ada adalah seluas
732,77 ha atau hanya 1,02% dari luas wilyah Kota Samarinda. Idealnya berdasarkan
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang suatu kota perlu
memiliki luas minimum RTH publik sebesar 20% dari luas. Saat ini Kota Samarinda
masih memerlukan luas RTH sebesar 19% dari luas total wilayah Kota Samarinda.
Secara rinci luas setiap RTH publik di Kota Samarinda dapat dilhat pada Tabel 10.

Tabel 10. Luas RTH publik di Kota Samarinda


No Lokasi Luas (ha)
1 SMU 10 MELATI 5
2 Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) 300
3 Tanah Pemkot 5
4 Hutan Kota Belakang Rumah Walikota 1.75
5 Asih Manuntung 0.25
6 Pesantren Hidayatullah 1
7 Tanah Pemkot di Makroman 167
8 Tanah Pertanian Terpadu 20
9 Kas Desa Lempake 3.5
10 Fakultas Pertanian Unmul 49
11 Pesantren Nabil Husein 9.75
12 Pesantren Syachona Cholil 0.25
13 Rumah Potong Hewan 2
14 Hotel Mesra 2.3
15 Jalan Pembangunan Voorvo 0.48
16 Lingkungan Balaikota 6.9
17 Lingkungan Lapangan Softball GOR Segiri 0.5
18 Perpustakaan Kota Samarinda 0.6
19 Ujung Jembatan Mahakam 1.5
20 PT. HARTATY 60
21 PT. Gani Mulya 0.097
22 PT. Sumber Mas 85
23 PT. Sumalindo 3.6
24 Taman Makam Pahlawan 1.3
25 PT. KIANI (Teluk Cinta di Selili) 6
Jumlah 732.777
37

Gambar 10. Peta Lokasi RTH Publik Kota Samarinda


38

RTH Privat Kota Samarinda


Berdasarkan penggunaan lahan Kota Samarinda saat ini memiliki luas RTH
Privat seluas 8.117,54 ha atau seluas 11,30% dari luas seluruh Kota Samarinda. RTH
Privat di Kota Samarinda sebagian besar adalah berbentuk penggunaan lahan hutan dan
perkebunan. Secara persentase luas RTH Privat di Kota Samarinda sudah memenuhi
standar minimal yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang yaitu untuk proporsi RTH privat adalah sebesar 10%, namun
jika dilihat lebih detil lagi pada setiap kecamatan di Kota Samarinda, hanya terdapat
beberapa kecamatan saja di Kota Samarinda yang RTH privatnya tidak kurang dari
10%, yaitu pada kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Utara, dan Sungai Kunjang.

Analisis Keterkaitan RTH dengan Temperatur dan Kelembaban Udara


Kota Samarinda secara geografis merupakan wilayah yang terletak berdekatan
dengan garis khatulistiwa. Hal tersebut membuat Kota Samarinda memiliki temperatur
yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia yang tidak
berdekatan dengan garis khatulistiwa. Data BMKG pada tahun 2010 menunjukan bahwa
rataan temperatur kota Samarinda berkisar antara 24⁰C sampai dengan 33⁰C.
Hasil pengamatan lapang yang dilakukan pada tanggal 3 sampai dengan 5 April
2014 tepatnya pada siang hari pukul 11:30-13:00 WIT menunjukan bahwa temperatur
udara di kota samarinda berkisar antara 36.5⁰C hingga 38.5⁰C dan dengan kelembaban
antara 48 % sampai dengan 80 %. Pengukuran temperatur dan kelembaban udara
dilakukan dengan menggunakan termohygrometer, sedangkan secara spasial dibantu
dengan GPS untuk menuju 36 titik-titik pengamatan yang telah ditentukan dalam grid
pengamatan. Grid pengamatan yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada
Gambar 10.
Berdasarkan jenis tutupan lahannya terdapat kecenderungan bahwa pada tempat
atau grid dengan luas vegetasi (RTH) sedikit memiliki temperatur udara yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan tempat atau grid yang memiliki vegetasi (RTH) yang
lebih luas. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 11 (a), yang ditunjukan dengan
bentuk grafik menurun. Sedangkan untuk kelemaban udara kecenderungannya adalah
bervanding terbalik dengan temperatur udara. Semakin luas areal RTH maka semakin
tinggi kelembaban udaranya. Hal tersebut ditunjukan dengan bentuk grafik yang
menanjak Gambar 11 (b). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Rushayati (2009)
bahwa suhu udara tinggi dipengaruhi oleh jenis tutupan lahan berupa lahan terbangun,
sedangkan suhu udara rendah dipengaruhi oleh RTH. Semakin tinggi persentase lahan
ruang terbangun di suatu area, maka akan semakin tinggi juga suhu udara di area
tersebut, sebaliknya semakin tinggi persentase RTH, maka semakin rendah suhu
udaranya.
Besarnya pengaruh keberadaan RTH terhadap temperatur dan kelembaban
dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier. Beberapa variabel yang
digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut :
1. Variabel luas RTH (x) dan temperatur (y), dapat dilihat pada Gambar. 11 (a)
2. Variabel luas RTH (x) dan kelembaban (y), dapat dilihat pada Gambar. 11 (b)
Hasil pengamatan lapang menunjukan bahwa temperatur udara di kota
samarinda berkisar antara 36,5⁰C hingga 38,5⁰C dan dengan kelembaban antara 48 %
sampai dengan 80 %. Pengamatan ini dilakukan pukul 11:30-13:00 WIT. Hasil analisis
39

regresi antara variabel luas RTH dan temperatur diperoleh persamaan y = -0,0158x +
38,292 dengan nilai R² sebesar 0,7083. Hal ini menunjukan bahwa setiap penambahan 1
% dari luas RTH dapat berpengaruh terhadap penurunan temperatur udara sebesar
0,015⁰C, dengan demikian untuk menurunkan 0,5⁰C temperatur di kota samarinda
diperlukan luas areal RTH seluas 33,33%. Hasil analisis regresi ke dua yaitu antara
variabel luas RTH dan kelembaban udara diperoleh persamaan y = 0,352x + 40,336
dengan nilai R² sebesar 0,7219. Koefisien hasil regresi RTH dan kelembaban udara
menunjukan bahwa setiap penambahan 1 % dari luas RTH dapat berpengaruh terhadap
peningkatan kelembaban udara sebesar 0,35 %, dengan demikian untuk menaikan
kelembaban udara sebesar 1 % diperlukan penambahan RTH seluas 2,84%. Nilai R²
menunjukkan bahwa kemampuan variabel bebas (luas RTH) dalam menjelaskan varians
dari variabel terikatnya yaitu kelembaban udara adalah sebesar 72%.
39
y = -0,0158x + 38,292
38,5 R² = 0,7083

38
Temperatur ⁰C

37,5

37

36,5

36
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00
Luas RTH (%)

Gambar. 11 (a)
90
80 y = 0,352x + 40,336
R² = 0,7263
70
60
Kelembaban %

50
40
30
20
10
0
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00
Luas RTH (%)

Gambar. 11 (b)
40

Terdapatnya pengaruh RTH terhadap temperatur udara dan kelembaban udara


juga diperkuat oleh beberapa peneliti sebelumnya. Kaka (2013) mengatakan bahwa
RTH memberikan pergerakan udara yang lebih baik jika dibandingkan dengan daerah di
permukiman. Kepadatan dan orientasi bangunan yang tidak teratur mengakibatkan
pergerakan angin tidak mengalir dan suhu udara tetap tinggi, disamping itu RTH bukan
merupakan lahan yang diperkeras dengan material bangunan. Pada lahan terbangun efek
panas cahaya matahari yang dihasilkan oleh cahaya matahari tidak dapat diserap baik
oleh material tersebut, sedangkan pada RTH sangat memungkinkan terjadinya
penyerapan (absorbsi) panas cahaya matahari yang dilakukan oleh tanaman maupun
oleh tanah. Seluruh hal tersebut akan mengakibatkan kondisi iklim mikro yang lebih
rendah temperaturnya dibandingkan pada lahan-lahan terbangun.
RTH sebagai tanaman memiliki fungsi sebagai pengendali kelembaban dan suhu
lingkungan terkait langsung dengan siklus hidrologi yang dialami oleh tumbuhan,
karena tumbuhan dapat berperan sebagai absorban radiasi matahari dan untuk proses
evapotraspirasi tersebut memerlukan panas maka tanaman dapat menurunkan suhu
lingkungannya. Pada daerah yang banyak ditumbuhi tanaman maka kecepatan
turbulensi angin akan lebih kecil karena itu masa udara yang mengandung uap air tidak
dapat bergerak secara cepat sehingga kelembabannya lebih tinggi, dengan demikian
dalam pembuatan iklim mikro yang nyaman maka penanaman pohon adalah hal yang
penting (Sukawi, 2008).
Akbari (2008) menyatakan bahwa radiasi surya yang sampai permukaan akan
mengalami pemantulan dan penyerapan radiasi. Semua jenis tutupan lahan memiliki
nilai albedo. Albedo adalah perbandingan antara radiasi surya yang dipantulkan dengan
radiasi yang datang. Vegetasi berdaun lebar memiliki nilai albedo 0,15 sampai 0,18
sedangkan rumput memiliki albedo 0,25. Lahan terbangun berupa beton memiliki nilai
albedo 0,55 sedangkan jalan beraspal memiliki nilai 0,04 – 0,12. Ruang terbangun
memiliki nilai albedo yang tinggidengan begitu menyebakan semakin tinggi radiasi
yang dipancarkan kembali ke atmosfer sehingga akan terjadi pemanasan udara dan
peningkatan suhu udara.

Survei Respon Kenyamanan


Hasil survei wawancara kepada masyarakat terkait dengan respon kenyamanan
termal di Kota Samarinda menunjukan bahwa dari 180 responden, 80 orang menyatakan
rasa nyaman dan 100 orang lainnya menyatakan tidak nyaman. Secara persentase
44,44% responden menyatakan nyaman dan 55,55% menyatakan tidak nyaman. Hal ini
mengindikasikan bahwa saat ini Kota Samarinda tidak nyaman secara termal bagi
masyarakatnya. Standard ASHRAE (1992) mendefinisikan kenyamanan termal sebagai
perasaan dalam pikiran manusia yang mengekspresikan kepuasan terhadap lingkungan
termalnya. Pada standar ini disyaratkan bahwa suatu kondisi dinyatakan nyaman apabila
tidak kurang dari 90% responden yang diukur menyatakan nyaman secara termal,
sementara Standar Internasional Kenyamanan Termal, ISO (1994) juga mensyaratkan
kondisi yang sama, yakni tidak lebih dari 10% responden yang diukur diperkenankan
berada dalam kondisi tidak nyaman. Informasi hasil wawancara yang diperoleh dari
masyarakat dapat dilihat pada Tabel 11.
41

Tabel 11. Informasi hasil wawancara yang diperoleh dari masyarakat


No Informasi Responden Jumlah %
Kenyamanan Nyaman 80 44,44
1 Masyarakat Tidak 100 55,55
Kasar 88 48,89
2 Pekerjaan Karyawan 68 37,78
Manajerial 24 13,33
Laki-laki 107 59,44
3 Kelamin
Prempuan 73 40,56
20-30 96 53,33
4 Umur 31-40 65 36,11
41-50 10 5,56
51-60 9 5,00

Besarnya pengaruh luas RTH terhadap respon kenyamanan masyarakat


Samarinda diketahui dengan menggunakan analisis regresi logistik, dalam analisis
tersebut, variabel yang digunakan terdiri dari respon kenyaman masyarakat sebagai
veriabel dependen dan variabel persentase luas RTH sebagai variabel independennya.
Berdasarkan hasil dari analisis regresi logistik diperoleh persamaan sebagai berikut :

Ln[P/1-P](Respon Kenyamanan) = -10,34 + 0.204(Luas RTH)

Berdasarkan hasil uji statistik, variabel luas RTH memiliki pengaruh terhadap
kenyaman masyarakat hal tersebut ditunjukan dengan nilai signifikasi kurang dari 0,05.
Persamaan tersebut menunjukan bahwa luas RTH memiliki pengaruh terhadap respon
kenyaman masyarakat di Kota Samarinda. Hal tesebut ditunjukan dengan nilai koefisien
luas RTH sebagai variabel independen yang memiliki nilai positif yaitu sebesar 0,204.
Nilai koefisien tesebut walaupun positif dan memiliki pengaruh terhadap respon
kenyamanan masyarakat Kota Samarinda namun nilainya tidak begitu besar, oleh
karena itu perencanaan RTH di Kota Samarinda kurang efektif menggunakan variabel
respon kenyamanan sebagai pertimbangannya. Hasil statistik dari setiap variabel dapat
dilihat pada Tabel 12.
Hasil statistik dari nilai koefisien persamaan regresi logistik menunjukan bahwa
setiap penambahan 0,25 ha atau 1% luas RTH dalam grid pengamatan belum dapat
meningkatkan peluang respon kenyamanan terhadap masyarakat secara signifikan. Hal
tesebut dapat dilihat pada Gambar 12. Peluang respon kenyamanan baru dapat diperoleh
jika luas RTH sudah mencapai 7 ha atau 28% dari luas grid pengamatan, yaitu dapat
memberikan peluang kenyamanan sebesar 0,96% kepada masyarakat. Secara statistik
jika ingin memberikan peluang respon kenyamanan yang lebih baik, yaitu sebesar 81%
kepada masyarkat maka diperlukan RTH dengan luas sebesar 14,5 ha atau 58%.
Gambar grafik peluang kenyamanan dapat dilihat pada Gambar 12.

Tabel 12. Hasil persamaan Regresi Logistik


Variabel B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Luas RTH (%) 0,204 0,037 29,834 1 0.00 1,22
Constant -10,346 1,899 29,665 1 0.00 0.00
42

Peluang Respon Kenyamanan

Luas RTH (%)

Gambar 12. Grafik hubungan antara kenyamanan masyarakat dan luas RTH

Kebutuhan RTH Kota Samarinda


Hasil analisis kebutuhan RTH dibagi menjadi dua pendekatan yaitu berdasarkan
temperatur udara dan luas wilayah. Temperatur udara merupakan salah satu elemen
iklim yang dapat dirasakan langsung oleh manusia dan memiliki peranan dalam
menentukan nyaman tidaknya suatu kondisi lingkungan. Hasil analisis regresi linier
antara temperatur dan RTH menunjukan bahwa RTH memiliki pengaruh terhadap nilai
temperatur udara. Secara statistik 1% luas RTH dapat menurunkan 0,015 ⁰C, oleh
karenanya kota Samarinda membutuhkan RTH seluas 23.930,94 ha atau 33,33% dari
luas wilayah untuk mencapai target penurunan temperatur sebesar 0,5 ⁰C di siang hari.
Kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah mengacu pada Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disyaratkan bahwa luas minimal RTH
adalah sebesar 30% dari luas wilayah kawasan perkotaan yang dibagi menjadi RTH
Publik minimal 20% dan RTH Privat minimal 10%. Hasil analisis luas RTH
menunjukan bahawa saat ini kota Samarinda memiliki luas RTH publik sebesar 732,77
1,01% dan luas RTH privat sebesar 8.117,54 ha atau seluas 11,20%, dengan luasan
tersebut artinya Kota Samarinda masih membutuhkan RTH seluas 13.627,23 ha atau
18,9% dari luas wilayahnya.

Prioritas Areal untuk RTH


Berdasarkan penggunaan lahan di kota Samarinda terdapat beberapa kelas
penggunaan lahan yang diprioritaskan untuk dijadikan RTH. Di dalam penentukan
prioritas areal untuk dijadikan RTH adalah dengan melihat beberapa pertimbangan
43

diantaranya adalah jenis penggunaan lahan eksisting, RTRW kota Samarinda dan nilai
jual lahan. Suatu areal dapat diprioritaskan untuk RTH apabila areal tersebut bukan
merupakan lahan terbangun dan dalam RTRWnya merupakan areal yang diperuntukan
sebagai tempat tumbuh tanaman seperti daerah kawasan lindung, buffer, ataupun lahan
pertanian, sebaliknya jika pada atribut peta penggunaan lahannya merupakan lahan
terbangun maka dapat dikatakan bahwa lahan tersebut tidak diprioritaskan untuk
dijadikan RTH. Apabila lahan tersebut merupakan lahan terbuka atau lahan-lahan yang
belum dimanfaatkan dengan status kawasan bukan untuk fungsi budidaya maka lahan
tersebut merupakan lahan yang diprioritaskan untuk dijadikan RTH.
Secara lebih spesifik dari hasil pemetaan prioritas areal untuk RTH di kota
Samarinda diperoleh 4 macam prioritas (Gambar 11). Penentuan prioritas dari RTH
didasarkan pada jenis penggunaan lahan dan peta RTRW kota Samarinda. Prioritas areal
untuk RTH tersebut adalah sebagai berikut :
a. Prioritas 1 : merupakan areal dengan penggunaan lahan yang masih kosong
berupa semak belukar, lahan terbuka, dan, berada pada Kawasan Lindung
maupun buffer zone dengan nilai lahan lahan yang berkisar Rp. 100.000 s/d
Rp.500.000 per meter²nya.
b. Prioritas 2 : merupakan areal dengan penggunaan lahan yang masih kosong
berupa semak belukar, lahan terbuka dan berada pada Kawasan Budidaya
dengan nilai lahan lahan yang berkisar Rp. 100.000 s/d Rp.500.000 per
meter²nya.
c. Prioritas 3 : merupakan areal dengan penggunaan lahan kosong berupa semak
belukar dan lahan terbuka pada Kawasan Budidaya dengan nilai lahan yang
berkisar Rp. 500.000 s/d Rp. 1.000.000 per meter²nya.
d. Prioritas 4 : merupakan areal dengan penggunaan lahan kosong berupa semak
belukar dan lahan terbuka pada Kawasan Budidaya dengan nilai lahan yang
berkisar Rp. 2.000.000 s/d Rp. 8.000.000 per meter²nya.
e. Tidak diprioritaskan : merupakan lahan terbangun pada Kawasan Budidaya
maupun Kawasan Lindung

Berdasakan analisis prioritas areal untuk RTH diperoleh hasil 25.638 ha (35%)
luas Kota Samarinda merupakan areal dengan prioritas 1 untuk dijadikan RTH. Areal
ini merupakan lahan yang masih kosong berupa semak belukar, lahan terbuka, dan
berada pada Kawasan Lindung. Areal tersebut sebagai Kawasan Lindung memiliki
fungsi untuk melindungi kawasan bawahannya oleh karena itu kawasan ini sangat
potensial untuk dijadikan sebagai RTH, disamping itu pada Kawasan Lindung ancaman
perubahan lahan terhadap keberadaan RTH akan lebih kecil jika dibandingkan dengan
Kawasan Budidaya dan secara spasial letaknya tersebar diluar inti kota. Nilai atau harga
tanah pada areal ini relatif lebih murah jika dibandingkan dengan nilai tanah pada areal
lainnya di Kota Samarinda yaitu berkisar Rp. 100.000 s/d Rp. 500.000 per meter²nya,
oleh karenanya areal ini merupakan prioritas utama untuk penambahan RTH di Kota
Samarinda. Rekomendasi kedepan untuk kota Samarinda dalam pembangunan RTH
adalah dengan cara memprioritaskan terlebih dahulu areal prioritas 1.
44

Gambar 13. Peta Prioritas Areal untuk Ruang Terbuka Hijau Kota Samarinda
45

Areal prioritas 2 memiliki luas 24.235 ha atau 33% dari luas Kota Samarinda.
Areal ini merupakan kawasan budidaya dengan penggunaan lahan masih kosong berupa
semak belukar dan lahan terbuka. Areal ini memiliki nilai atau harga tanah yang relatif
tidak mahal yaitu sekitar Rp. 100.000 s/d Rp.500.000 per meter²nya. Areal ini dapat
digunakan sebagai pilihan untuk pengadaan RTH pada kawasan budidaya baik berupa
taman-taman rekreasi maupun untuk hutan yang dapat berfungsi secara ekologis untuk
mengatur iklim mikro kota.
Pada areal prioritas 3 untuk dijadikan RTH memiliki luas 2.883 ha atau 4% dari
luas Kota Samarinda. Areal ini merupakan areal yang terdapat pada Kawasan Budidaya
dengan penggunaan lahan kosong berupa semak belukar dan lahan terbuka. Pada areal
ini nilai lahannya berkisar berkisar antara Rp. 500.000 s/d Rp. 1.000.000 per meter².
Kendati pada areal ini prioritasnya lebih rendah dibandingkan dengan areal prioritas 1
dan 2, namun areal ini cukup baik untuk penambahan RTH khususnya pada daerah-
daerah disekitar pusat kota Samarinda. Status Kawasan Budidaya areal ini tepat
digunakan untuk RTH yang berbentuk seperti taman kota, perkebunan, ataupun lahan
pertanian.
Pada areal prioritas 4 untuk dijadikan RTH memiliki luas 937 ha atau 1% dari
luas Kota Samarinda. Areal ini merupakan areal yang memiliki kesamaan dengan areal
prioritas 3, namun yang membedakan adalah nilai atau harga tanahnya yang lebih tinggi
yaitu berkisar antara Rp. 2.000.000 s/d Rp. 8.000.000 per meter²nya, areal ini lebih
cocok dipilih untuk pengadaan RTH yang jumlahnya kecil atau terbatas, misalnya untuk
penambahan taman, lapangan olahraga yang tidak begitu memerlukan wilayah yang
luas mengingat harga lahan yang relatif mahal. Luas setiap areal berdasarkan
prioritasnya untuk dijadikan RTH pada setiap kecamatan di Kota Samarinda dapat
dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Luas Potensi RTH Kota Samarinda


Kecamatan kota Samarinda (ha)
Areal Prioritas Jumlah
No
RTH Samarinda Samarinda Samarinda Samarinda Sungai (ha)
Palaran
Ilir Seberang Ulu Utara Kunjang
1 Areal Prioritas 1 7.566,97 2.343,45 1.700,02 602,41 1.1450,5 1.974,17 25.638
2 Areal Prioritas 2 9.655,28 4.754,23 636,14 1.481,45 4.980,8 2.726,88 24.235
3 Areal Prioritas 3 2,16 1.098,93 0,34 219,09 1.370,32 191,85 2.883
4 Areal Prioritas 4 0,01 9,68 317,02 513,7 96,99 937
Jumlah 17.224,41 8.196,62 2.346,18 2.619,97 18.315,32 4.989,89 53.692

Arahan untuk Penambahan RTH


Hasil analisis luas RTH menunjukan bahwa luas RTH publik dan privat di Kota
Samarinda adalah 8.850,31 ha. Masing-masing RTH luasnya adalah 732,77 ha untuk
RTH publik dan 8.117,54 ha untuk RTH privat. Secara persentase RTH publik di Kota
Samarinda masih jauh di bawah standar yaitu 1,01%, sedangkan untuk RTH privat
persentasenya adalah sebesar 11,20% dari wilayah Kota Samarinda, dengan luas RTH
publik yang ada saat ini artinya kota samarinda masih membutuhkan lahan seluas
13.627,23 ha atau 18,9% dari luas Kota untuk RTH, oleh karena itu dalam rangka
46

memenuhi standar minimal luas RTH publik Kota Samarinda maka perlu diperhatikan
ketersediaan lahan dan potensi untuk RTH.
Pemilihan lahan yang tepat untuk RTH dapat dilihat berdasarkan prioritas lahan
yang ditentukan oleh beberapa pertimbangan yaitu penggunaan lahan, nilai lahan, dan
RTRW Kota Samarinda. Hasil analisis lahan terhadap prioritas RTH menunjukan
bahwa Kota Samarinda memiliki areal prioritas 1 atau areal terbaik untuk dijadikan
RTH dengan luas 25.637 ha atau 35,3% dari luas seluruh kota Samarinda. Areal
prioritas 1 dapat menjadi pilihan dalam pembelian lahan untuk memenuhi kekurangan
RTH Kota Samarinda. Areal tersebut terbagi di beberapa kecamatan diantaranya adalah
kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Samarinda Ulu, Samarinda
Utara dan Sungai Kunjang. Secara teknis arahan penambahan RTH perlu dilakukan
pada wilayah-wilayah yang memiliki areal dengan prioritas 1 paling sedikit yaitu
kecamatan Samarinda Seberang dan Samarinda Ulu, karena dengan sedikitnya
ketersediaan lahan tersebut dikhawatirkan akan terancam dengan perubahan
penggunaan lahan lain selain RTH. Pada empat wilayah kecamatan lainnya juga perlu
dilakukan penambahan RTH sebab untuk memenuhi kebutuhan luas minimum RTH
Kota Samarinda diperlukan ketersediaan areal prioritas 1 yang lebih luas untuk RTH.
Ketersediaan areal tersebut terdapat pada kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda
Utara, dan Sungai Kunjang.
Luas areal untuk rencana penambahan RTH di Kota Samarinda dapat dilihat
pada Tabel 14.

Tabel 14. Luas areal untuk rencana penambahan RTH


Rencana Penambahan
No Kecamatan
RTH (ha)
1 Palaran 4.022
2 Samarinda Ilir 1.246
3 Samarinda Seberang 904
4 Samarinda Ulu 320
5 Samarinda Utara 6.086
6 Sungai Kunjang 1.049
Jumlah 13.627

Berdasarkan luas rencana RTH, kecamatan Samarinda Utara merupakan


kecamatan dengan perencanakan RTH paling luas. Hal tersebut dapat dilihat dari luas
wilayah kecamatan samarinda utara dan ketersediaan potensi lahan untuk RTH,
sedangkan untuk kecamatan Samarinda Ulu merupakan wilayah dengan luas rencana
RTH paling sedikit. Hal tersebut karena wilayah kecamatan Samarinda Ulu sebagian
wilayahnya sudah ditempati oleh RTH esksisting disamping itu kecamatan Samarinda
Ulu juga memiliki luas wilayah yang tidak begitu luas yaitu hanya 5.211 ha atau
merupakan wilayah kecamatan paling kecil di Kota Samarinda. Secara spasial rencana
RTH dapat dilihat pada Gambar 13.
47

Gambar 14 . Peta Arahan Penambahan RTH Kota Samarinda


48

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil studi penelitian dapat disimpulkan bahwa kondisi eksisting
RTH Kota Samarinda saat ini secara keseluruhan ialah seluas 8.850,31 ha atau 12,21%
dari luas kota. Luasan tersebut terdiri dari RTH publik dengan luas 732,77 ha atau
1,01% dan RTH privat dengan luas 8.117,54 ha atau seluas 11,20%.
Hasil dari analisis keterkaitan RTH dengan temperatur menunjukan bahwa RTH
cenderung berpengaruh kecil terhadap penurunan temperatur udara di Kota Samarinda.
Setiap penambahan 1% dari luas RTH hanya dapat berpengaruh terhadap penurunan
temperatur udara sebesar 0,015⁰C. Target penurunan termperatur sebesar 0,5⁰C di Kota
Samarinda dapat diperoleh dengan luas RTH sebesar 33,33%. Hasil analisis keterkaitan
antara luas RTH dan kelembaban udara diketahui bahwa setiap meningkatnya RTH
seluas 2,84% akan meningkatkan kelembaban udara sebesar 1%. Hasil analisis tersebut
menunjukan bahwa perencanaan RTH kurang efektif menggunakan variabel temperatur
sebagai pertimbangan dalam penambahan RTH.
Kota Samarinda membutuhkan RTH seluas 13.627,23 ha atau 18,9% dari luas
kota untuk memenuhi luas minimal RTH. Hasil pemetaan RTH menunjukan bahwa
terdapat 4 jenis prioritas areal yang dapat dijadikan RTH di Kota Samarinda. Pertama
adalah areal prioritas 1 dengan luas 25.638 ha (35%), areal prioritas 2 dengan luas
24.235 ha (33%), areal prioritas 3 dengan luas 2.883 ha (4%), dan areal prioritas 4
dengan luas 937 ha (1%).
Berdasarkan hasil survei kenyamanan masyarakat diketahui bahwa kota
Samarinda tidak nyaman secara termal. Hasil analisis regresi logistik terkait dengan
kenyamanan masyarakat menunjukan bahwa RTH hanya sedikit pengaruhnya dalam
menentukan respon kenyamanan masyarakat di Kota Samarinda. Hasil tersebut
menunjukan bahwa perencanaan RTH kurang efektif menggunakan pertimbangan
kenyamanan dalam penambahan RTH.
Arahan penambahan RTH Kota Samarinda didasarkan pada prioritas lahan
untuk RTH dan luas mininal RTH Kota. Hasil perhitungan untuk rencana penambahan
RTH di Kota Samarinda adalah dengan penambahan RTH pada Kecamatan Palaran
4.022 ha, Samarinda Ilir 1.246 Samarinda Seberang 904 ha, Samarinda Ulu 320 ha,
Samarinda Utara 6.086 ha, dan Sungai Kunjang 1.049 ha.

Saran
Dilihat dari fungsinya RTH memiliki peranan yang sangat berarti untuk suatu
kota seperti fungsi ekologis, namun lemahnya perlindungan terhadap RTH
menyebabkan banyak RTH cenderung terkonversi menjadi lahan-lahan terbangun. Pada
akhirnya temperatur kota cenderung meningkat dan menyebabkan ketidaknyaman bagi
penduduknya, oleh karena itu perlindungan terhadap RTH di Kota Samarinda harus
lebih ditingkatkan.
Kota Samarinda saat ini hanya memiliki RTH seluas 12,21%, jika melihat
potensi ruang yang ada sebenarnya Kota Samarinda masih memiliki potensi ruang RTH
yang cukup, oleh karena itu agar luas ideal RTH dapat terpenuhi secara maksimal maka
Kota Samarinda perlu melakukan penambah dan meningkatkan kualitas RTH pada
areal-areal dengan potensi terbaik yang ada di Kota Samarinda.
49

DAFTAR PUSTAKA

Agrissantika T. 2007. Model Dinamika Spasial Ruang Terbangun dan Ruang Terbuka
Hijau [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Akbari H. 2008. Saving energy and improving air quality in urban heat islands.
Berkeley (USA) : Lawrence Berkeley National Laboratory. Institute of Physics.
Andayani A. 2011. Pedoman Green City. Jakarta (ID) : Direktorat Budidaya dan Pasca
Panen Florikultura.
Arie FC. 2012. Sebaran Temperatur Permukaan Lahan dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya Di Kota Malang. 2012 Jul 11; Surabaya, Indonesia. Surabaya
(ID): Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah
(ATPW). hlm 23-24.
[ASHRAE] American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning
Engineers. 1992. Standard Thermal Environmental Conditions for Human
Occupancy. Atlanta (US): ASHRAE Inc.
[BKPRN] Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional. 2012. Gerakan Kota Hijau.
Jakarta (ID): Buletin Tata Ruang.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika. 2014. Prakiraan Cuaca
Indonesia. Jakarta (ID): Deputi Bidang Meteorologi.
[BPS Kalimantan Timur] Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur. 2012.
Kalimantan Timur Dalam Angka 2012. Samarinda (ID): Badan Pusat Statistik.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, 2006. Ruang
Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota. Jakarta (ID):
Departemen Pekerjaan Umum.
Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Florikultura. 2011. Pedoman Green City Seri
Peran Serta Masyarakat dan Pelaku Usaha. Jakarta (ID): Direktorat Budidaya
dan Pasca Panen Florikultura.
Dwihatmojo R. 2012. Ruang Terbuka Hijau Yang Semakin Terpinggirkan. Bogor (ID):
Badan Informasi Geospasial.
Emmanuel R. 2000. Assesment of Impact of Land Cover Changes on Urban
Bioclimatic: The Case of Colombo, Sri Lanka. Sydney (AU): Architectural
Science Review. 46(2):151-158.
Fandeli C. 2004. Perhutanan Kota. Yogyakarta (ID): Fakultas Kehutanan Universitas
Gadjah Mada.
Grey GW, Deneke FJ. 1978. Urban Forestry. Canada (US): John Wiley and Sons Book
Company, Inc.
Green AW. 1959 Recretion, Leisure, and Politics. New York (US): McGraw-Hill.
Gunadi S. 1995. Arti RTH Bagi Sebuah Kota. Makalah pada Buku: “Pemanfaatan RTH
di Surabaya”, bahan bacaan bagi masyarakat serta para pengambil keputusan
Pemerintahan Kota. Surabaya (ID).
Harijanto PN. 2000. Malaria Epidemiologis, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan
Penanganan. Jakarta (ID): EGC.
Hakim DR. 2006. Analisis Temporal dan Spasial Peubahan Ruang Terbuka Hijau di
Kabupaten Purwakarta [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[HIG] Heat Island Group. 2004. Trees and Vegetation. United States Environmental
Protection Agency.
Howard JA. 1996. Penginderaan Jauh Untuk Sumberdaya Hutan, Teori dan Aplikasi.
Terjemahan. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
50

Idealistina F. 1991, Model Termoregulasi Tubuh untuk Penentuan Besaran Kesan


Thermal Terbaik dalam kaitannya dengan Kinerja Manusia [tesis]. Bandung
(ID): Bandung Institute of Technology (ITB)
[ISO]. International Organization for Standardization. 1994. Moderate Thermal
Environments - Determination of the PMV and PPD Indices and Specification of
the Conditions for Thermal Comfort. Geneva (CH): International Standard 7730
– 1994 ISO.
Kaka MA. 2013. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Untuk Ameliorasi Iklim Mikro
Kota Depok (Studi Kasus: Kecamatan Beji). [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Karyono TH. 1996. Thermal Comfort in the Tropical South East Asia Region. Sydney
(AU): Architectural Science Review. 39(1):135-139.
Karyono TH. 1989. Solar Energy and Architecture: A Study of Solar Passive Design for
Hospital Wards in Indonesia [disertasi]. New York (US): Institute of Advanced
Architectural Studies, University of York.
Konecny G. 2003. Geoinformation : Remote sensing, photogrammetry and geographic
information system. London (GB): Taylor and Francis.
Lakitan B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. Jakarta (ID): PT. Raja Grafindo Persada.
Laurie M. 1986. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan. Bandung (ID): Intermatra.
Lillesand T, Kiefer RW. 1999. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Terjemahan.
Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Lisnawati A, Wibowo YR. 2007. Penggunaan Citra Landsat Etm+ Untuk Monitoring
Perubahan Penggunaan Lahan Di Kawasan Puncak. Bogor (ID): Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.
Macfarlane WV. 1958. Thermal Comfort Zones. Sydney (AU): Architectural Science
Review. 21(4):1-14.
McIntyre DA. 1980. Indoor Climate. London (GB): Applied Science.
Menteri Dalam Negeri. 1988. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988
Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1999. Keputusan Menteri Kesehatan No. 829
Tahun 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Menteri Pekerjaan Umum. 2009. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12 Tahun
2009 tentang Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau
Di Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan.
Menteri Pekerjaan Umum. 2011. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 tahun
2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan.
Muis BA. 2005. Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Kebutuhan
Oksigen dan Air Kota Depok Provinsi Jawa Barat [tesis]. Bogor (ID): Sekolah
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Pemerintah Republik Indonesia. 2004. Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang
Jalan. Jakarta (ID): Pemerintah Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang. Jakarta (ID): Pemerintah Republik Indonesia.
Pemerintah Kota Samarinda. 2005. Surat Keputusan Walikota Samarinda Nomor :
178/HK-KS/2005 tentang Hutan Kota. Samarinda (ID) : Wali Kota Samarinda.
Prasasti CI, Mukono J, Sudarmaji. 2005 Pengaruh Kualitas Udara Dalam Ruangan
Ber–Ac Terhadap Gangguan Kesehatan. Surabaya (ID): Jurnal Kesehatan
Lingkungan. 1(2):160-169.
51

Purnomohadi N. 2002. Pengelolaan RTH Kota dalam Tatanan Program Bangun Praja
Lingkungan Perkotaan yang Lestari di NKRI. Jakarta (ID): Widyaiswara LH.
Bidang Manajemen SDA dan Lingkungan KLH.
Putra PT. 2011. Evaluasi Kenyamanan pada Beberapa Taman Kota Di Jakarta Pusat
[tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rushayati SB. 2011. Green Open Space Development Based on Distribution of Surface
Temperature in Bandung Regency. Bogor (ID) : Forum Geografi. 25(1):17-26.
Siahaan J. 2010. Ruang Publik : Antara Harapan dan Kenyataan. Jakarta (ID): Buletin
Tata Ruang Edisi Juli - Agustus 2010. 2(4):1-11.
Sitorus S R.P, Aurelia W, Panuju D R. 2011. Analisis Perubahan Luas Ruang Terbuka
Hijau dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya di Jakarta Selatan. Bogor
(ID): Jurnal Landskap Indonesia. 3(1):15-20.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung (ID): Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung (ID):
Alfabeta.
Sukawi. 2008. Taman Kota dan Upaya Pengurangan Suhu Lingkungan Perkotaan
(Studi Kasus Kota Semarang). Semarang (ID): Universitas Diponogoro Press.
Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid I. Jogjakarta (ID): Gadjah Mada University
Press.
Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 2. Jogjakarta (ID): Gadjah Mada University
Press.
Taha A, Haider DA. 1997. Urban climates and heat islands : albedo,
evapotranspiration, and anthropogenic heat. Berkeley (USA) : Elsevier Science
S.A. 25(1):99-103.
Olgyay V. 1963. Design with Climate: Bioclimatic Approach to Architectural
Regionalism, Princeton (US) : Princenton University Press.
Umar H. 2003. Metode Riset Komunikasi Oraganisasi. Jakarta (ID): PT Gramedia
Pustaka Utama.
Utomo, H. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lanskap Prinsip Unsur dan
Aplikasi Desain. Jakarta (ID): Bumi Aksara.
Webb CG. 1959. An Analysis of Some Observations of Thermal Comfort in An
Equatorial Climate. London (GB): British Journal of Industrial Medicine.
16(4):297-310.
Wicaksono. 2010. Pengaruh Taman Kota Sebagai Upaya Untuk Menurunkan Polutan
Debu [Skripsi]. Surabaya (ID): Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur.
Widjajanti. 2010. Keberadaan Dan Optimasi Ruang Terbuka Hijau Bagi Kehidupan
Kota. Surabaya (ID): Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi
Adhi Tama Surabaya.
52

LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Pengamatan, luas RTH dalam grid, temperatur dan kelembaban udara
di Kota Samarinda
No Grid Luas RTH (ha) RTH (%) Temperatur Kelembaban %
1 1.01 4.06 38.5 48
2 2.99 12.08 38 50
3 7.22 29.11 37.5 51
4 4.35 17.53 37.9 49
5 7.82 33.19 37.9 52
6 7.42 29.83 37.7 54
7 13.38 53.80 37.3 55
8 14.90 60.60 37.6 59
9 9.87 39.75 37.8 54
10 3.54 14.31 38.3 49
11 8.44 34.00 37.6 55
14 15.44 62.23 37.4 60
15 10.25 41.31 37.7 52
16 7.93 32.72 37.5 53
18 11.99 48.35 37.8 50
19 21.65 88.19 36.6 75
20 23.34 94.00 36.5 80
21 13.62 52.68 37.2 55
22 12.11 48.75 37.7 52
23 13.59 54.87 37.4 53
24 17.46 70.35 37.5 70
25 18.88 76.10 37.2 72
26 11.73 47.97 37.4 52
27 9.77 40.22 37.5 55
28 20.16 81.56 37 76
31 11.81 49.01 37.7 51
32 12.18 49.04 37.3 56
33 11.66 47.84 37.6 53
36 13.29 55.77 37.8 55
37 16.21 65.78 37.5 68
38 5.98 24.15 37.6 51
41 13.33 55.53 37.3 66
42 11.73 47.63 37.7 58
43 12.84 52.05 37.4 53
46 11.39 52.98 37.4 61
47 12.22 51.18 37.6 54
Min 1.01 4.06 36.50 48.00
Maks 23.34 94.00 38.50 80.00
Rata-rata 11.71 47.74 37.54 57.14
Lampiran 2. Peta Nilai Tanah Kota Samarinda Tahun 2014.
53

Sumber data : Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 2014

Lampiran 3. Penggunaan Lahan di Kota Samarinda

a. Pusat Perdagangan b. Hutan Kota


54

c. TamanKampus d. Taman Kota

e. RTH Balai Kota f. Stadion Olahraga

g. Taman Bermain
55

Lampiran 4. Dokumentasi pengumpulan data temperatur dan kelembaban udara di Kota


Samarinda

Lampiran 5. Dokumentasi wawancara terkait kenyamanan Kota Samarinda


56

Lampiran 6. Titik koordinat pengecekan lapang (Ground Check) pada hasil interpretasi
Citra Quick Bird
Titik Koordinat
Jenis Penggunaan Lahan
Ground Check Sesuai/Tidak
No
X Y Berdasarkan Hasil Berdasarkan Pengecekan Sesuai
Interpretasi Lapang
1 516622 9946999 Permukiman Permukiman Sesuai
2 516432 9947197 Pepohonan Pepohonan Sesuai
3 516203 9947261 Pepohonan Pepohonan Sesuai
4 516453 9947327 Rerumputan Rerumputan Sesuai
5 516421 9947343 Rerumputan Rerumputan Sesuai
6 517120 9946909 Permukiman Permukiman Sesuai
7 517125 9947213 Rerumputan Rerumputan Sesuai
8 517145 9947113 Permukiman Permukiman Sesuai
9 517025 9946984 Rerumputan Rerumputan Sesuai
10 516978 9947152 Pepohonan Pepohonan Sesuai
11 517284 9946917 Permukiman Permukiman Sesuai
12 517239 9947103 Pepohonan Pepohonan Sesuai
13 517542 9946871 Rerumputan Rerumputan Sesuai
14 517645 9947018 Belukar Belukar Sesuai
15 517570 9946939 Belukar Belukar Sesuai
16 517766 9946893 Permukiman Permukiman Sesuai
17 518094 9947233 Belukar Belukar Sesuai
18 517873 9947229 Rerumputan Rerumputan Sesuai
19 517879 9947071 Permukiman Permukiman Sesuai
20 517658 9947012 Rerumputan Belukar Tidak Sesuai
21 518471 9947016 Permukiman Permukiman Sesuai
22 518243 9947199 Pepohonan Pepohonan Sesuai
23 518217 9947153 Permukiman Permukiman Sesuai
24 518381 9947185 Rerumputan Rerumputan Sesuai
25 518416 9946956 Belukar Belukar Sesuai
26 516275 9947825 Permukiman Permukiman Sesuai
27 516206 9947461 Rerumputan Rerumputan Sesuai
28 516254 9947480 Pepohonan Pepohonan Sesuai
29 516491 9947517 Permukiman Permukiman Sesuai
30 516379 9947652 Pepohonan Pepohonan Sesuai
31 516879 9947421 Permukiman Permukiman Sesuai
32 517153 9947364 Pepohonan Pepohonan Sesuai
33 517146 9947358 Permukiman Permukiman Sesuai
34 516952 9947591 Rerumputan Rerumputan Sesuai
35 516749 9947792 Rerumputan Belukar Tidak Sesuai
36 517435 9947475 Permukiman Permukiman Sesuai
37 517166 9947361 Permukiman Permukiman Sesuai
38 517503 9947435 Rerumputan Rerumputan Sesuai
39 517272 9947691 Rerumputan Rerumputan Sesuai
57

Lampiran 6. (Lanjutan)
40 517343 9947421 Belukar Belukar Sesuai
41 518154 9947500 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
42 518047 9947403 Permukiman Permukiman Sesuai
43 517686 9947768 Rerumputan Rerumputan Sesuai
44 517862 9947589 Rerumputan Rerumputan Sesuai
45 517787 9947451 Rerumputan Belukar Tidak Sesuai
46 518572 9947636 Permukiman Permukiman Sesuai
47 518174 9947478 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
48 518469 9947642 Permukiman Permukiman Sesuai
49 518505 9947631 Belukar Belukar Sesuai
50 518646 9947666 Rerumputan Rerumputan Sesuai
51 516291 9948026 Permukiman Permukiman Sesuai
52 516640 9948076 Pepohonan Pepohonan Sesuai
53 516576 9948260 Permukiman Permukiman Sesuai
54 516404 9947928 Rerumputan Rerumputan Sesuai
55 516204 9947898 Pepohonan Pepohonan Sesuai
56 517716 9948223 Permukiman Permukiman Sesuai
57 518142 9947852 Belukar Rerumputan Tidak Sesuai
58 518112 9947872 Rerumputan Rerumputan Sesuai
59 517943 9947928 Rerumputan Rerumputan Sesuai
60 517855 9948173 Permukiman Permukiman Sesuai
61 518375 9948300 Permukiman Permukiman Sesuai
62 518461 9948058 Belukar Belukar Sesuai
63 518387 9948099 Permukiman Permukiman Sesuai
64 518511 9948123 Belukar Belukar Sesuai
65 518548 9948145 Permukiman Permukiman Sesuai
66 516623 9948520 Permukiman Permukiman Sesuai
67 516367 9948425 Pepohonan Pepohonan Sesuai
68 516619 9948812 Pepohonan Belukar Tidak Sesuai
69 516525 9948787 Rerumputan Rerumputan Sesuai
70 516418 9948746 Permukiman Permukiman Sesuai
71 517642 9948367 Permukiman Permukiman Sesuai
72 517454 9948590 Permukiman Permukiman Sesuai
73 517524 9948689 Belukar Belukar Sesuai
74 517325 9948780 Rerumputan Rerumputan Sesuai
75 517300 9948416 Pepohonan Pepohonan Sesuai
76 517744 9948831 Permukiman Permukiman Sesuai
77 517926 9948825 Belukar Rerumputan Tidak Sesuai
78 518067 9948785 Permukiman Permukiman Sesuai
79 517737 9948649 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
80 517790 9948511 Permukiman Permukiman Sesuai
81 518391 9948586 Rerumputan Rerumputan Sesuai
82 518650 9948827 Rerumputan Rerumputan Sesuai
83 518650 9948443 Permukiman Permukiman Sesuai
58

Lampiran 6. (Lanjutan)
84 518595 9948430 Permukiman Permukiman Sesuai
85 518606 9948461 Permukiman Permukiman Sesuai
86 518647 9948671 Permukiman Permukiman Sesuai
87 516251 9949030 Pepohonan Pepohonan Sesuai
88 516596 9948900 Belukar Belukar Sesuai
89 516563 9948866 Permukiman Permukiman Sesuai
90 516483 9948922 Belukar Belukar Sesuai
91 516873 9948857 Belukar Rerumputan Tidak Sesuai
92 516689 9948851 Belukar Belukar Sesuai
93 517145 9949132 Permukiman Permukiman Sesuai
94 516866 9949098 Permukiman Permukiman Sesuai
95 516773 9949077 Pepohonan Pepohonan Sesuai
96 517500 9948856 Rerumputan Rerumputan Sesuai
97 517598 9948959 Permukiman Permukiman Sesuai
98 517339 9949077 Permukiman Permukiman Sesuai
99 517643 9948971 Belukar Belukar Sesuai
100 517579 9948965 Pepohonan Pepohonan Sesuai
101 518004 9949006 Rerumputan Rerumputan Sesuai
102 518005 9949298 Belukar Belukar Sesuai
103 518023 9949003 Permukiman Permukiman Sesuai
104 517881 9949024 Permukiman Permukiman Sesuai
105 518146 9949040 Pepohonan Pepohonan Sesuai
106 518584 9949159 Rerumputan Rerumputan Sesuai
107 518642 9948920 Belukar Rerumputan Tidak Sesuai
108 518568 9949103 Permukiman Permukiman Sesuai
109 518474 9949211 Pepohonan Pepohonan Sesuai
110 518462 9949265 Pepohonan Pepohonan Sesuai
111 516260 9949795 Pepohonan Pepohonan Sesuai
112 516370 9949760 Permukiman Permukiman Sesuai
113 516259 9949583 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
114 516174 9949729 Belukar Belukar Sesuai
115 516417 9949546 Pepohonan Pepohonan Sesuai
116 516862 9949336 Permukiman Permukiman Sesuai
117 517005 9949529 Rerumputan Rerumputan Sesuai
118 516909 9949818 Pepohonan Pepohonan Sesuai
119 517130 9949524 Permukiman Permukiman Sesuai
120 516931 9949408 Belukar Belukar Sesuai
121 517393 9949516 Belukar Rerumputan Tidak Sesuai
122 517167 9949784 Permukiman Permukiman Sesuai
123 517643 9949582 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
124 517461 9949340 Pepohonan Pepohonan Sesuai
125 517332 9949366 Belukar Belukar Sesuai
126 516514 9950242 Permukiman Permukiman Sesuai
127 516243 9949927 Pepohonan Pepohonan Sesuai
59

Lampiran 6. (Lanjutan)
128 516249 9950179 Belukar Belukar Sesuai
129 516480 9949989 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
130 516624 9949839 Permukiman Permukiman Sesuai
131 517100 9950283 Permukiman Permukiman Sesuai
132 516866 9949912 Pepohonan Pepohonan Sesuai
133 517103 9949993 Belukar Belukar Sesuai
134 516926 9950125 Pepohonan Pepohonan Sesuai
135 516686 9950264 Permukiman Permukiman Sesuai
136 517221 9950264 Permukiman Permukiman Sesuai
137 517611 9949948 Rerumputan Rerumputan Sesuai
138 517194 9949981 Belukar Belukar Sesuai
139 517590 9950098 Permukiman Permukiman Sesuai
140 517298 9950245 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
141 516251 9950647 Permukiman Permukiman Sesuai
142 516343 9950647 Belukar Belukar Sesuai
143 516304 9950467 Permukiman Permukiman Sesuai
144 516208 9950749 Rerumputan Rerumputan Sesuai
145 516397 9950804 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
146 516978 9950699 Permukiman Permukiman Sesuai
147 516904 9950589 Belukar Belukar Sesuai
148 516702 9950359 Rerumputan Rerumputan Sesuai
149 517149 9950356 Pepohonan Pepohonan Sesuai
150 516906 9950770 Permukiman Permukiman Sesuai
151 517549 9950812 Belukar Pepohonan Tidak Sesuai
152 517565 9950405 Permukiman Permukiman Sesuai
153 517428 9950609 Belukar Belukar Sesuai
154 517230 9950725 Permukiman Permukiman Sesuai
155 517400 9950429 Rerumputan Rerumputan Sesuai
156 516629 9951275 Rerumputan Rerumputan Sesuai
157 516644 9951254 Belukar Belukar Sesuai
158 516418 9951085 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
159 516234 9951280 Pepohonan Pepohonan Sesuai
160 516586 9950858 Permukiman Permukiman Sesuai
161 517039 9951185 Permukiman Permukiman Sesuai
162 517154 9950886 Belukar Belukar Sesuai
163 516662 9951287 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
164 516683 9951307 Rerumputan Rerumputan Sesuai
165 516859 9950866 Permukiman Permukiman Sesuai
166 517604 9951044 Pepohonan Pepohonan Sesuai
167 517201 9951085 Rerumputan Rerumputan Sesuai
168 517264 9951017 Belukar Belukar Sesuai
169 517647 9950994 Permukiman Permukiman Sesuai
170 517522 9951125 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
171 516526 9951425 Permukiman Permukiman Sesuai
60

Lampiran 6. (Lanjutan)
172 516479 9951560 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
173 516621 9951714 Belukar Belukar Sesuai
174 516443 9951608 Permukiman Permukiman Sesuai
175 516449 9951630 Pepohonan Pepohonan Sesuai
176 516977 9951723 Belukar Belukar Sesuai
177 516835 9951709 Permukiman Permukiman Sesuai
178 517129 9951545 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
179 517032 9951628 Permukiman Permukiman Sesuai
180 517050 9951602 Pepohonan Pepohonan Sesuai

Lampiran 7. Titik koordinat pengecekan lapang (Ground Check) pada hasil interpretasi
Citra Landsat
Titik Kordinat
Jenis Penggunaan Lahan
Ground Check Sesuai/Tidak
No
X Y Berdasarkan Hasil Berdasarkan Pengecekan Sesuai
Interpretasi Lapang
1 507102 9935337 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
2 507241 9937723 Permukiman Permukiman Sesuai
3 507455 9935115 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
4 508365 9937019 Industri Industri Sesuai
5 508548 9938568 Perdagangan Perdagangan Sesuai
6 508600 9938907 Hutan Hutan Sesuai
7 508664 9939752 Hutan Hutan Sesuai
8 508760 9938350 Pergudangan Pergudangan Sesuai
9 508879 9940830 Semak/Belukar Lahan Terbuka Tidak Sesuai
10 509041 9939399 Hutan Hutan Sesuai
11 509495 9938094 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
12 509564 9938109 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
13 509566 9944211 Permukiman Permukiman Sesuai
14 509731 9937467 Perdagangan Perdagangan Sesuai
15 510125 9938564 Hutan Semak/Belukar Tidak Sesuai
16 510148 9949152 Hutan Hutan Sesuai
17 510636 9945716 Permukiman Permukiman Sesuai
18 510816 9940184 Industri Industri Sesuai
19 511088 9953391 Perkebunan Perkebunan Sesuai
20 511304 9940261 Perdagangan Perdagangan Sesuai
21 511430 9950781 Permukiman Permukiman Sesuai
22 511830 9940219 Perdagangan Perdagangan Sesuai
23 511983 9937274 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
24 512012 9954355 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
25 513275 9945227 Permukiman Permukiman Sesuai
26 513435 9941466 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
27 513473 9941550 Industri Industri Sesuai
28 513746 9939983 Permukiman Permukiman Sesuai
29 513882 9941156 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
61

Lampiran 7. (Lanjutan)
30 514012 9953604 Semak/Belukar Perkebunan Tidak Sesuai
31 514103 9943340 Perdagangan Perdagangan Sesuai
32 514292 9937220 Lahan Terbuka Semak/Belukar Tidak Sesuai
33 514319 9941703 Hutan Hutan Sesuai
34 515098 9942314 Hutan Hutan Sesuai
35 515199 9942465 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
36 515248 9942496 Perkantoran Perkantoran Sesuai
37 515898 9923517 Hutan Hutan Sesuai
38 515927 9944336 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
39 516314 9945293 Perdagangan Perdagangan Sesuai
40 516403 9929929 Perkebunan Perkebunan Sesuai
41 516610 9930682 Perkebunan Perkebunan Sesuai
42 516624 9950948 Permukiman Permukiman Sesuai
43 516833 9948234 Pendidikan Pendidikan Sesuai
44 517428 9955095 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
45 517727 9953964 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Tidak Sesuai
46 517985 9941215 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
47 518181 9933540 Hutan Hutan Sesuai
48 518193 9922035 Perkebunan Perkebunan Sesuai
49 518262 9939454 Industri Industri Sesuai
50 518468 9947986 Permukiman Permukiman Sesuai
51 518603 9953309 Permukiman Permukiman Sesuai
52 518607 9949811 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
53 518968 9928784 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
54 519092 9924327 Perkebunan Perkebunan Sesuai
55 519157 9940821 Perdagangan Perdagangan Sesuai
56 519224 9921559 Hutan Hutan Sesuai
57 519538 9926824 Lahan Terbuka Semak/Belukar Tidak Sesuai
58 519698 9938983 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
59 519869 9937202 Permukiman Perdagangan Tidak Sesuai
60 520065 9947478 Hutan Hutan Sesuai
61 520154 9935593 Industri Industri Sesuai
62 520164 9937663 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
63 520265 9937278 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
64 520280 9943376 Hutan Hutan Sesuai
65 520289 9937620 Pergudangan Pergudangan Sesuai
66 520755 9955921 Hutan Hutan Sesuai
67 521000 9936430 Pergudangan Pergudangan Sesuai
68 521216 9953734 Permukiman Permukiman Sesuai
69 521273 9951546 Perkebunan Perkebunan Sesuai
70 521301 9928267 Perkebunan Perkebunan Sesuai
71 521340 9928097 Semak/Belukar Perkebunan Tidak Sesuai
72 521385 9953342 Hutan Hutan Sesuai
73 521888 9955382 Permukiman Permukiman Sesuai
62

Lampiran 7. (Lanjutan)
74 522088 9929022 Hutan Hutan Sesuai
75 522090 9928653 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
76 522143 9945544 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
77 522334 9947331 Hutan Hutan Sesuai
78 522365 9936534 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
79 522391 9952204 Semak/Belukar Lahan Terbuka Tidak Sesuai
80 522722 9955626 Hutan Hutan Sesuai
81 522825 9929626 Hutan Hutan Sesuai
82 523156 9942925 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
83 523348 9931462 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
84 523485 9935831 Perdagangan Perdagangan Sesuai
85 523533 9952717 Hutan Hutan Sesuai
86 523569 9936814 Tubuh Air Tubuh Air Sesuai
87 523598 9952096 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
88 523970 9935712 Permukiman Pergudangan Tidak Sesuai
89 524303 9959599 Hutan Hutan Sesuai
90 524350 9935914 Semak/Belukar Semak/Belukar Sesuai
91 524379 9938407 Pergudangan Pergudangan Sesuai
92 524540 9951731 Permukiman Permukiman Sesuai
93 524605 9937933 Permukiman Industri Tidak Sesuai
94 524744 9938374 Perdagangan Perdagangan Sesuai
95 524842 9959257 Hutan Hutan Sesuai
96 525483 9956502 Permukiman Permukiman Sesuai
97 526148 9934343 Semak/Belukar Semak/Belukar Tidak Sesuai
98 526364 9933448 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Tidak Sesuai
99 527910 9959031 Lahan Terbuka Lahan Terbuka Sesuai
100 528957 9935378 Permukiman Permukiman Sesuai
63

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 10 Juni 1989 dari pasangan Bapak
Heryanto dan Ibu Siti Murti. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Pendidikan sarjana penulis ditempuh di Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan
Universitas Mulawarman dan lulus pada tahun 2012.
Artikel ilmiah yang pernah penulis terbitkan berjudul Analisis Ruang Terbuka
Hijau (RTH) dan Keterkaitannya dengan Kenyaman Kota Samarinda telah direview dan
dinyatakan diterima untuk diterbitkan pada Majalah Ilmiah Globe Volume 17 No 1, Juni
2015. Majalah Ilmiah Globe merupakan jurnal ilmiah dari Badan Informasi Geopasial
yang terakreditasi LIPI.