Anda di halaman 1dari 43

PENENTUAN LOKASI EPISENTER DAN HIPOSENTER GEMPA

VULKANIK DI GUNUNG SINABUNG PADA BULAN NOVEMBER


2017 DENGAN METODE GAD (Geiger’s method with Adaptive
Damping)

Ahmad Irfaan Hibatullah


03411440000033

Dosen Pembimbing Internal


Juan Pandu G.N.R, S.Si, MT
NIP 198906122015041003

Dosen Pembimbing Eksternal


Agoes Loekman
PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian


Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018

Kerja Praktik –RF 141417


PENENTUAN LOKASI EPISENTER DAN HIPOSENTER GEMPA
VULKANIK DI GUNUNG SINABUNG PADA BULAN NOVEMBER
2017 DENGAN METODE GAD (Geiger’s method with Adaptive
Damping)

Ahmad Irfaan Hibatullah


NRP 03411440000033

Dosen Pembimbing Internal


Juan Pandu G.N.R, S.Si, MT
NIP 198906122015041003

Dosen Pembimbing Eksternal


Agoes Loekman
PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Departemen Teknik Geofisika


Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

PERNYATAAN KEASLIAN
KERJA PRAKTIK

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi sebagian maupun keseluruhan Kerja Praktik
saya dengan “PENENTUAN LOKASI EPISENTER DAN HIPOSENTER GEMPA
VULKANIK DI GUNUNG SINABUNG PADA BULAN NOVEMBER 2017 DENGAN
METODE GAD (Geiger’s method with Adaptive Damping)” adalah benar-benar hasil karya
intelektual mandiri, diselesaikan tanpa menggunakan bahan-bahan yang tidak diijinkan dan
bukan merupakan karya pihak lain yang saya akui sebagai karya sendiri. Semua referensi
yang dikutip maupun dirujuk telah ditulis secara lengkap pada daftar pustaka. Apabila
ternyata pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang
berlaku.

Bandung, 26 Januari 2018

Ahmad Irfaan Hibatullah


NRP 03411440000033

i
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

KERJA PRAKTIK

Diajukan Sebagai Prasyarat Mata Kuliah Keja Praktik


pada
Departemen Teknik Geofisika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Bandung, 26 Januari 2018


Menyetujui:

Dosen Pembimbing Pembimbing Kerja Praktek

Juan Pandu G.N.R, S.Si, MT Agoes Loeqman


NIP 19890612 201504 1 003 PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi)

Mengetahui:
Kepala Laboratorium Eksplorasi Geofisika Teknik Geofisika ITS

Dr. Ayi Syaeful Bahri, S.Si, M.T.


ii
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

NIP 196909061997021001

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt atas berkat dan rahmat-Nya sehingga dapat terwujud
Laporan Kerja Praktik yang berjudul “Penentuan Lokasi Episenter dan Hiposenter Gempa
Vulknaik di Gunung Sinabung pada Bulan November 2017 dengan Metode GAD (Geiger’s
method with Adaptive Damping)” sebagai prasyarat kelulusan mata kuliah Kerja Praktik
tingkat sarjana di Departemen Teknik Geofisika, FTSLK, ITS, Surabaya.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada setiap pihak yang telah memberikan


bantuan dan dorongan berupa fasilitas, kesempatan, pengetahuan, dan moril. Untuk itu,
penulis berterimakasih kepada Bapak Agoes Loeqman selaku pembimbing utama dalam
pelaksanaan kerja praktek ini, dan juga kepada Ibu Novi serta Bapak Ahmad Bahri yang
turut membantu serta membimbing dalam pelaksanaan kerja praktik di kantor Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.

Sebagai manusia biasa, penulis menyadari adanya kekurangan dalam Laporan Kerja
Praktik ini. Karena itu, penulis membuka pintu untuk kritik dan saran yang membangun
sebagai bahan pembelajaran bagi penulis untuk menjadi lebih baik lagi. Karena itu, semoga
hasil Laporan Kerja Praktik ini dapat menjadi ilmu yang baik bagi pembaca dari kalangan
akademis, maupun non-akademis.

iii
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

ABSTRAK

PENENTUAN LOKASI EPISENTER DAN HIPOSENTER GEMPA VULKANIK DI


GUNUNG SINABUNG PADA BULAN NOVEMBER 2017 DENGAN METODE GAD
(Geiger’s method with Adaptive Damping)

Nama Mahasiswa : Ahmad Irfaan Hibatullah


NRP : 03411440000033
Departemen : Teknik Geofisika ITS

Dosen Pembimbing : Juan Pandu G.N.R., S.Si, M.T.

Dosen Pembimbing : Agoes Loeqman

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung api di Indonesia yang mempunyai
tipe B yaitu tipe gunung api yang sejarah letusannya tidak tercatat setelah tahun 1600,
sehingga gunung api yang terletak di Sumatra ini tidak pernah menunjukkan aktivitasnya.
Namun, pada tahun 2010 Gunung Sinabung menunjukkan gejala aktivitasnya yang
meningkat oleh sebab itu pada tahun 2010 Badan PVMBG menetapkan status gunung api
tersebut menjadi level IV(Awas). Gempa vulkanik merupakan salah satu indikator tingkat
aktivitas dari gunung api, gempa vulkanik terdiri dari beberapa jenis seperti gempa vulkanik
tipe A, tipe B, gempa tremor, gempa letusan, dan gempa guguran. Pada penelitian kali ini,
dilakukan pengolahan data gempa untuk menentukan lokasi hiposenter dan episenter gempa
vulkanik tipe A dan tipe B pada Gunung Sinabung pada bulan November 2017. Pengolahan
data gempa menggunakan metode GAD dimana waktu tiba gelombang P dan gelombang S
yang dibutuhkan untuk menentukan lokasi hiposenter dan episenter gempa. Digunakan
program Ls7_wve untuk picking waktu tiba gelombang P dan gelombang S serta digunakan
software Global Mapper 8 untuk mendapatkan kontur dari Gunung Sinabung yang nantinya
di plot pada software Origin 7.0 untuk membandingkan titik hiposenter dan episenter
terhadap Gunung Sinabung. Data yang ditunjukkan selama periode satu bulan terdapat 59
event gempa vulkanik tipe A dan tipe B, dimana posisi hiposenter gempa vulkanik paling
dalam terjadi pada kedalaman 8000 meter.

Kata kunci : Hiposenter, Episenter, Metode GAD, Gunung Sinabung.

iv
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

DAFTAR ISI
PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................................................................ i
KERJA PRAKTIK ............................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................................................iii
ABSTRAK ........................................................................................................................................ iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................................................... viii
BAB I ................................................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan Kerja Praktik ...................................................................................................... 1
1.3 Manfaat Kerja Praktik .................................................................................................... 2
1.4 Batasan Masalah .............................................................................................................. 2
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan .................................................................................... 2
BAB II ............................................................................................................................................... 3
2.1 Gunung Sinabung dan Geologi Regional ....................................................................... 3
2.2 Teori Dasar Perambatan Gelombang ............................................................................. 4
2.3 Konsep Elastisitas............................................................................................................. 6
2.3.1 Strain.......................................................................................................................... 6
2.3.2 Stress .......................................................................................................................... 7
2.4 Jenis-Jenis Gelombang Seismik ...................................................................................... 8
2.4.1 Gelombang Badan .................................................................................................... 8
2.4.2 Gelombang Permukaan ........................................................................................... 9
2.5 Jenis-Jenis Gempa Vulkanik ......................................................................................... 10
2.5.1 Gempa Vulkanik Dalam (Tipe A/VA) ................................................................... 10
2.5.2 Gempa Vulkanik Dangkal (Tipe B/VB) ................................................................ 11
2.6 Sumber dan Gempa Vulkanik ....................................................................................... 11
2.6.1 Model sinyal seismik yang dihasilkan oleh erupsi ...................................................... 12
2.6.2 Model berdasarkan getaran tubuh magma ......................................................... 12
2.6.3 Model berdasarkan degassing magma ................................................................. 12
2.6.4 Model sinyal seismik yang dihasilkan oleh aliran piroklastik dan rockfall ...... 13
BAB III ............................................................................................................................................ 14
3.1 Alat dan Bahan ............................................................................................................... 14
3.2 Prosedur Penelitian ........................................................................................................ 14
3.3 Data.................................................................................................................................. 14

v
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

3.4 Diagram Alir ................................................................................................................... 15


3.5 Pengolahan Data ............................................................................................................. 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................................ 25
4.1 Hasil ....................................................................................................................................... 25
4.2 Pembahasan .......................................................................................................................... 29
BAB V KESIMPULAN & SARAN ............................................................................................... 31
5.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 31
5.2 Saran...................................................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................... 32

vi
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Peta lokasi umum Gunung Sinabung (Gonzalez dkk., 2014) .................... 3
Gambar 2. 2 Peta Geologi Regional Gunung Sinabung (Iguchi dkk., 2012).................. 4
Gambar 2. 3 Penyebaran muka gelombang yang diuraikan oleh Huygens ................... 5
Gambar 2. 4 Ilustrasi Hukum Snellius .............................................................................. 5
Gambar 2. 5 Analisis strain perubahan bentuk dan dimensi .......................................... 6
Gambar 2.6 Mekanisme timbulnya stress ......................................................................... 7
Gambar 2. 7 Hubungan kesetimbangan stress ................................................................. 7
Gambar 2. 8 Ilustrasi pergerakan medium untuk gelombang P dan S) ......................... 9
Gambar 2. 9 Ilustrasi pergerakan gelombang permukaan yaitu gelombang Love dan
gelombang Rayleigh .......................................................................................................... 10
Gambar 2. 10 Rekaman seismik gempa vulkanik dalam............................................... 11
Gambar 2. 11 Rekaman seismik gempa vulkanik dangkal ............................................ 11

Gambar 3. 2 Diagram Alir Pengolahan Data .................................................................. 15


Gambar 3. 3 Nama channel dan kode stasiun................................................................. 16
Gambar 3. 4 Tampilan pertama ketika data dibuka di Ls7_wve.................................. 17
Gambar 3. 5 Tampilan di Ls7_wve pada saat terdapat event gempa di Stasiun Lau-
Kawar ................................................................................................................................. 18
Gambar 3. 6 Folder pada program GAD ........................................................................ 19
Gambar 3. 7 Tampilan pada file arrival.dat ................................................................... 19
Gambar 3. 8 Hasil yang ditampilkan setelah dijalankan pada program GAD, hasil
ditunjukkan pada file result.dat ....................................................................................... 20
Gambar 3. 9 Membuka data pada software Global Mapper 8 ..................................... 21
Gambar 3. 10 Membuat area yang diinginkan, agar didapatkan kontur dari area
tersebut ............................................................................................................................... 21
Gambar 3. 11 Membuat kontur Gunung Sinabung ....................................................... 22
Gambar 3. 12 Membuat penampang Utara-Selatan atau Timur-Barat....................... 22
Gambar 3. 13 Column X disesuaikan dengan data yang merupakan X begitu juga
dengan Y ............................................................................................................................. 23
Gambar 3. 14 Kontur Gunung Sinabung ........................................................................ 23
Gambar 3. 15 Plotting titik gempa terhadap kontur Gunung Sinabung ..................... 24
Gambar 3. 16 Tampilan titik gempa pada Origin 7.0 bisa diganti sesuai yang
diinginkan ........................................................................................................................... 24

Gambar 4. 1 Tampilan lokasi masing-masing stasiun pada Google Earth .................. 27


Gambar 4. 2 Posisi Episenter Gempa Vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung Sinabung
pada bulan November 2017 .............................................................................................. 27
Gambar 4. 3 Posisi Hiposenter Gempa vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung
Sinabung bulan November 2017 terhadap Utara-Selatan ............................................. 28
Gambar 4. 4 Posisi Hiposenter Gempa vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung
Sinabung bulan November 2017 terhadap Barat-Timur ............................................... 28

vii
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktek ............................................................... 14


Tabel 3. 2 Koordinat masing-masing stasiun di Gunung Sinabung ............................. 14

Tabel 4. 1 Data Gempa dan Koordinat Gempa dalam UTM ........................................ 25


Tabel 4. 2 Koordinat UTM Puncak dan Stasiun pada Gunung Sinabung ................... 29

viii
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lulusan dari perguruan tinggi diharapkan harus memiliki kualitas dalam hal pemahaman
baik teori maupun praktik di bidang keprofesian masing-masing, mahasiswa membutuhkan
pengalaman dan pengetahuan langsung dari kegiatan yang dilakukan di dunia kerja tidak
hanya pengetahuan dari lingkungan kampus. Dengan adanya kegiatan kerja praktik ini
diharapkan mahasiswa lebih peka dan terbiasa dengan dunia kerja yang memiliki masalah-
masalah yang berbeda dengan dunia kampus.
Geofisika merupakan bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi dengan
menggunakan prinsip-prinsip fisika. Salah satu ilmu yang dipelajari di geofisika adalah ilmu
yang mempelajari gempa bumi. Gempa bumi sendiri dibedakan menjadi dua menurut
aktivitasnya yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik. Gempa bumi tektonik
diakibatkan oleh aktivitas tektonik di bumi sedangkan gempa bumi vulkanik diakibatkan
oleh aktivitas gunung api. Salah satu lembaga di Indonesia yang melakukan observasi dan
monitoring terhadap gunung api adalah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) di bawah Kementrian ESDM (Energi Sumber Daya Mineral). Salah satu gunung
api di Indonesia adalah Gunung Sinabung, Gunung Sinabung merupakan gunung yang
termasuk dalam tipe B pada klasifikasi berdasarkan frekuensi letusan, yaitu tipe gunung yang
sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik namun masih
memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti kegiatan solfatara.Gunung Sinabung
terletak pada provinsi Sumatra Utara dengan koordinat 3,17°LU 98,392°BT , dewasa ini
gunung sinabung menunjukkan gejala aktivitasnya dari tahun 2010 dan menunjukkan level
4 (awas).
Dari pengamatan dan evaluasi pada gunung api di Indoneisa, yang salah satunya adalah
aktivitas gempa bumi vulkanik. Dalam penentuan posisi gempa bumi vulkanik maupun jenis
gempa bumi vulkanik dilakukan pengolahan data agar dapat memprediksi dimana letak
hiposenter dan episenter gempa bumi, sehingga nantinya dari aktivitas gempa bumi
vulkanik, PVMBG dapat melakukan evaluasi dan mengeluarkan status pada Gunung
Sinabung.

1.2 Tujuan Kerja Praktik

1. Menentukan jenis gempa vulkanik di Gunung Sinabung pada data bulan November
2017

2. Menentukan posisi hiposenter dan episenter gempa vulkanik di Gunung Sinabung


pada data bulan November 2017

3. Melakukan pengolahan data gempa dengan menggunakan software Ls7_wve, Global


Mapper 8.0 dan Origin 7.0

1
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

1.3 Manfaat Kerja Praktik

1. Dapat melakukan pengolahan data gempa vulkanik pada Gunung Sinabung


2. Dapat menentukan episenter dan hiposenter gempa vulkanik di Gunung Sinabung

1.4 Batasan Masalah

1. Data yang diolah merupakan data seismik digital pada bulan November 2017 di
Gunung Sinabung

2. Penentuan lokasi hiposenter dan episenter gempa vulkanik tipe A serta gempa
vulkanik tipe B dengan menggunakan metode GAD (Geiger’s method with
Adaptive Damping)
3. Software yang digunakan dalam pengolahan data gempa ini adalah Ls7_wve,
Global Mapper 8.0 dan Origin 7.0

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan kerja praktik ini dilakukan pada tanggal 8 Januari 2018 hingga 29
Januari 2018 yang berlokasi di kantor PVMBG, Jl. Diponegoro no. 57, Bandung.

2
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gunung Sinabung dan Geologi Regional

Gunung Sinabung terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara. Secar geografis,
Gunung Sinabung terletak pada posisi 3,17° Lintag Utara dan 98,392° Bujur Timur.
Sementara itu, morfologi dari gunung ini memiliki luas 15 km2 dan tinggi sekitar 2.460
mdpl. Letak geografis Gunung Sinabung dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Peta lokasi umum Gunung Sinabung (Gonzalez dkk., 2014)


Gunung Sinabung termasuk gunung yang berjenis stratovolkano dengan puncak
tunggal dan memilik empat kawah utama di bagian puncaknya. Litologi penyusun dari
Gunung Sinabung ini berupa lava yang sudah lama mengeras, tefra, batuan volanik, dan abu
volkanik. Batuan volkanik penyusun dari Gunung Sinabung memiliki komposisi andesitik-
basaltik. Selain itu, berdasarkan radiometric dating method, batuan volkanik penyusun
Gunung Sinabung berumur Holosen Lava berumur tua pada gunung ini memiliki kandungan
K2O lebih banyak dibandingkan lava berumur muda Dari pola struktur yang dapat diamati,
Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak mempunyai kelurusan dengan Danau Toba. Oleh
karena itu, aktivitas volkanik Gunung Sinabung diduga memiliki kaitan dengan

3
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

terbentuknya Danau Toba. Untuk lebih lengkapnya, peta geologi Gunung Sinabung dapat
dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2. 2 Peta Geologi Regional Gunung Sinabung (Iguchi dkk., 2012).

2.2 Teori Dasar Perambatan Gelombang

Berbagai fenonema atau peristiwa mengenai perambatan gelombang dapat dijelaskan


dengan suatu pendekatan sifat gelombang, yang dikenal sebagai teori geometri gelombang.
Pada teori klasik, geometri permukaan gelombang dijelaskan dalam prinsip Huygens, yang
menyatakan bahwa setiap titik di muka gelombang dapat dianggap sebagai sumber
gelombang sekunder baru yang menjalar dari tiap titik tersebut ke segala arah. Ilustrasi
prinsip Huygen ditunjukkan pada Gambar 2.3. Tangen permukaan dari ekspansi gelombang
merupakan posisi dari muka gelombang selanjutnya dan seterusnya.

4
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 2. 3 Penyebaran muka gelombang yang diuraikan oleh Huygens


Gelombang akan bersifat normal terhadap muka gelombang, sehingga gelombang akan
berubah terhadap waktu. Prinsip Fermat menjelaskan mengenai geometri dari lintasan
gelombang. Dalam prinsip Fermat, gelombang digambarkan akan mengikuti lintasan dengan
waktu minimum, yang memungkinkan muka gelombang berpindah dengan waktu tempuh
terpendek.

Struktur kecepatan di dalam bumi dapat diperkirakan dengan mengasumsikan fase


gelombang seismik sebagai fungsi jarak di dalam model lapisan-lapisan bumi. Ketika suatu
gelombang menjalar melalui medium yang berbeda dan menabrak bidang batas antar
medium, energi gelombang akan terbagi ke dalam gelombang refleksi dan refraksi Kedua
gelombang ini akan memiliki sifat yang sama dengan gelombang datang. Sudut refleksi dan
refraksi gelombang terhadap bidang vertikal diuraikan dalam Hukum Snellius.

(2.1)

Gambar 2. 4 Ilustrasi Hukum Snellius

5
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

2.3 Konsep Elastisitas


Seismologi melibatkan analisis pergerakan tanah yang dihasilkan oleh sumber energi di
dalam bumi, seperti patahan atau ledakan. Getaran-getaran yang terjadi mengakibatkan
deformasi elastis (regangan), sebagai akibat dari gaya internal dalam tubuh batuan
(tegangan). Deformasi terjadi dengan skala yang relatif sangat kecil(perubahan panjang
sekitar ~10-6 dalam rentang waktu yang sangat pendek(<3600s). Hubungan antara gaya dan
deformasi pada teori regangan infinitesemal didasarkan pada hukum konstitutif yang dikenal
sebagai hukum Hooke. Deformasi sendiri merupakan suatu fungsi dari sifat material seperti
densitas,rigiditas, dan inkompresibilitas. Sedangkan sifat material yang berkaitan dengan
elastisitas benda dikenal sebagai modulus elastik (Lay & Wallace,1995)

2.3.1 Strain

Gambar 2. 5 Analisis strain perubahan bentuk dan dimensi

Strain merupakan perubahan bentuk dan dimensi yang terjadi akibat adanya stress
(Sheriff, 1982). Dengan menganggap persegi panjang SILO pada bidang xy (Gambar 2.5)
terjadi perubahan dimensi menjadi ( u,v,w ). Dari perubahan tersebut kita dapat menentukan
normal strain dan shearing strain, sebagai berikut :

𝜕𝑢 𝜕𝑣 𝜕𝑤
Normal strain : 𝜀𝑥𝑥 = ; 𝜀𝑦𝑦 = ; 𝜀𝑧𝑧 = ( 2.2 )
𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑧

Shearing strain :

𝜕𝑢 𝜕𝑣 𝜕𝑤 𝜕𝑣 𝜕𝑤 𝜕𝑢
𝜀𝑥𝑦 = 𝜀𝑦𝑧 = + 𝜕𝑦 ; 𝜀𝑦𝑧 = 𝜀𝑧𝑦 = + 𝜕𝑦 ; 𝜀𝑥𝑧 = 𝜀𝑧𝑥 = + (2.3)
𝜕𝑥 𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑥
Jika perubahan dimensi yang diberikan normal strain menghasilkan perubahan
volume maka perubahan volume maka perubahan volume per unit volum disebut dilatasi
(∆).

𝜕𝑢 𝜕𝑣 𝝏𝒘
∆= 𝜀𝑥𝑥 + 𝜀𝑦𝑦 + 𝜀𝑧𝑧 = + 𝜕𝑦 + (2.4)
𝜕𝑥 𝝏𝒛

6
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

2.3.2 Stress

Stress didefinisikan gaya per satuan luas (Sheriff, 1982). Jika benda dikenai gaya
maka stressnya adalah perbandingan dari gaya terhadap luas daerah yang dikenai gaya.
Gambar 2.6 menunjukkan ilustrasi gaya yang dikenai pada luas daerah tertentu.

Gaya yang menyebabkan


normal stress/pressure

Gaya yang menyebabkan


Luas Area
shearing stress

Gambar 2.6 Mekanisme timbulnya stress

Dalam mekanismenya, ada dua jenis stress yang dikenal yaitu normal stress dan
shearing stress. Normal stress adalah stress yang ditimbulkan karena gaya yang diberikan
tegak lurus terhadap luas area yang dikenai. Gaya ini sering disebut dengan pressure atau
tekanan (σxx, σyy, σzz ). Sedangkan shearing stress terjadi jika gaya tersebut bersinggungan
atau pararel dengan elemen luas area ( σxy, σyx, σzx, σxz, σyz, σzy ) . Jika medium dalam keadaan
statis, maka gaya pada luas daerah yang identik harus lah seimbang, ini berarti tiga stress
σxx, σyz, σzx pada bidang OABC haruslah sama dan berlawanan dengan stress yang
berhubungan dengan bidang DEFG ( Sherrif dan Geldart, 1982 ). Hal ini dideskripsikan
dalam gambar 2.7 Karena terjadi dalam keseimbangan, total momen harus sama dengan nol,
oleh karena itu σxz harus sama dengan σzx.

Gambar 2. 7 Hubungan kesetimbangan stress ( Sheriff dan Geldart, 1995)

7
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

2.4 Jenis-Jenis Gelombang Seismik

Pulsa seismik merambat melewati batuan dalam bentuk gelombang elastis yang
mentransfer energi menjadi pergerakan partikel batuan. Gelombang elastik dapat dibedakan
menjadi dua yaitu gelombang tubuh ( body wave ) dan gelombang permukaan ( surface
wave).

2.4.1 Gelombang Badan

Gelombang badan (body wave) merupakan gelombang yang menjalar dalam medium
elastik ke seluruh bagian dalam bumi. Berdasarkan gerak partikelnya, gelombang badan
dapat dibedakan atas gelombang P dan gelombang S (Gambar 2.8). (Susilawati,2008)
a. Gelombang P
Gelombang primer atau gelombang P merupakan gelombang yang memiliki kecepatan
rambat gelombang yang paling besar dibandingkan dengan gelombang seismik yang lain.
Oleh karena itu, gelombang P akan dicatat pertama kali dibandingkan gelombang yang lain
oleh sebuah alat yang bernama seismometer. Bentuk penjalaran gelombang P adalah berupa
gelombang longitudinal dengan arah gelombang yang sejajar dengan arah penjalarannya.
Gelombang P dapat merambat di berbagai medium seperti medium padat,cair, dan gas.
Persamaan dari kecepatan gelombang P ditunjukkan pada Persamaan 2.5 (Afnimar,2009)

𝜆 + 2𝜇
𝑣𝑝 = √ (2.5)
𝑝
dengan 𝑣𝑝 adalah kecepatan gelombang P, 𝜆 adalah kostanta Lame , 𝜇 adalah modulus geser,
dan 𝑝 adalah densitas batuan.

b. Gelombang S

Gelombang S atau gelombang sekunder adalah gelombang seismik yang hanya


merambat di permukaan bumi. Bentuk penjalaran gelombang ini berupa gelombang
tranversal yang memiliki arah tegak lurus dengan arah penjalarannya. Berbeda dengan
gelombang P, gelombang S memiliki waktu perambatan yang lebih lama sehingga akan
tercatat setelah gelombang P pada seismometer. Gelombang S tidak dapat merambat pada
medium cair. Persamaan dari kecepatan gelombang S ditunjukkan pada Persamaan 2.6.
(Afnimar,2009)
𝜇
𝑣𝑠 = √
𝑝 (2.6)
Dengan 𝑣𝑠 adalah kecepatan gelombang S, 𝜇 adalah modulus geser , 𝑝 adalah densitas
batuan.

8
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 2. 8 Ilustrasi pergerakan medium untuk gelombang P dan S (Shearer,2009)

2.4.2 Gelombang Permukaan

Gelombang permukaan merupakan jenis gelombang seismik yang medium


perambatannya berada di permukaan bumi. Semakin masuk ke dalam bumi, maka amplitudo
gelombang permukaan ini akan semakin melemah. Kecepatan gelombang permukaan juga
selalu tergantung pada frekuensi. Hal ini berarti bahwa semakin besar kecepatannya maka
akan semakin kecil frekuensinya dan penetrasi kedalamannya semakin dangkal, begitu juga
sebaliknya. Gelombang permukaan terbagi menjadi 2 tipe yaitu gelombang Love dan
gelombang Rayleigh yang ditunjukkan oleh Gambar 2.9.

Interfensi gelombang-gelombang pantul P dan SV(gelombang S dengan arah vertikal)


yang sudut datangnya melebihi sudut kritis akan mengakibatkan terbentuknya gelombang
rayleigh dengan gerakan partikel medium ketika dilewatinya berupa bentukan
elips(Afnimar,2009). Persamaan kecepatan gelombang Rayleigh adalah sebagai berikut
(Telford,1990)
VR=0,9194(VS) (2.7)

dengan VR adalah kecepatan gelombang Rayleigh, dan Vs adalah kecepatan gelombang S.

Gelombang Rayleigh atau groundroll adalah gelombang yang menjalar di permukaan


bumi dengan pergerakan partikelnya menyerupai elips karena menjalar di permukaan,
amplitudo gelombang Rayleigh akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman.
Gelombang Rayleigh merambat sepanjang permukaan dengan gerakan partikel elliptical
retrograde dan berubah menjadi prograde jika kedalamannya melewati suatu titik dimana
sudah tidak ada gerakan. Di dalam rekaman seismik, gelombang Rayleigh dicirikan dengan
gelombang yang besar (hampir 2x amplitudo refleksi) dan dicirikan dengan frekuensi
rendah. (Maryanto,2016)

Akibat adanya suatu interfensi gelombang-gelombang pantul P dan SH (gelombang S


arah horizontal) pada lapisan dekat permukaan bumi maka terbentuklah gelombang Love
dengan gerak partikel medium yang menyerupai bentukan gelombang SH, namun nilai
9
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

amplitudonya berkurang terhadap kedalaman(Afinimar,2009). Nilai dari kecepatan


gelombang Love adalah sebagai berikut

VR<VL<VS (2.8)

Dengan VR adalah kecepatan gelombang Rayleigh, VL adalah kecepatan gelombang Love


dan VS adalah kecepatan gelombang S.

Gelombang Love merupakan gelombang permukaan yang menjalar dalam bentuk


gelombang tranversal. Gerakan partikelnya mirip dengan gelombang S. Kecepatan
penjalarannya bergantung pada panjang gelombangnya dan bervariasi di sepanjang
permukaan. Pergerakan partikel gelombang Love sejajar dengan permukaan tetapi tegak
lurus tdengan arah rambatnya. Gelombang Love lebih cepat daripada gelombang Rayleigh
dan lebih dulu sampai pada seismograf.

Gambar 2. 9 Ilustrasi pergerakan gelombang permukaan yaitu gelombang Love dan


gelombang Rayleigh

2.5 Jenis-Jenis Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik merupakan gempa yang disebabkan oleh peledakan gunung api dan
pada umumnya berupa gempa lemah yang hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.
Minakami (1974) membagi gempa gunung api yang berasal dari berbagai gunung api di
Jepang berdasarkan kenampakan atau bentuk rekaman gempa, perkiraan hiposenternya dan
perkiraan proses yang terjadi didalam tubuh gunung api. Gempa gunung api menurut
T.Minakami (1974) dibagi menjadi 4 tipe, yaitu gempa vulkanik tipe A,gempa vulkanik B,
gempa letusan, dan gempa tremor.

2.5.1 Gempa Vulkanik Dalam (Tipe A/VA)

10
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gempa Vulkanik Tipe A, bersumber di bawah gunung api pada kedalaman 1-20 Km,
biasanya muncul pada gunung api yang aktif. Penyebab dari gempa ini adalah adanya
magma yang naik ke permukaan yang disertai rekahan-rekahan. Gempa tipe ini biasanya
terjadi secara bergerombol dan tidak seperti gempa susulan yang terjadi pada gempa
tektonik. Ciri utama dari gempa ini mempunyai waktu tiba gelombang P dan S yang sangat
jelas dan frekuensi dominan adalah 5-15 Hz.

Gambar 2. 10 Rekaman seismik gempa vulkanik dalam


2.5.2 Gempa Vulkanik Dangkal (Tipe B/VB)

Bersumber di kedalaman kurang dari 1 km dari kawah gunung api yang aktif. Gempa ini
disebabkan pergerakan magma yang menuju ke atas. Gerakan awalnya cukup jelas dengan
waktu tiba gelombang S yang tidak jelas dan mempunyai harga magnitudo yang kecil dan
memiliki frekuensi dominan 1-5 Hz (Sawada, 1997).

Gambar 2. 11 Rekaman seismik gempa vulkanik dangkal

2.6 Sumber dan Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik terjadi di dalam dan sekitar tubuh gunung api. Gempa vulkanik
menunjukkan adanya interaksi antara 2 proses geologi, yakni migrasi magma dan aktivitas
lempeng tektonik. Kegiatan seismik dapat memberikan informasi mengenai daerah
penyimpanan magma yang merupakan daerah dengan kecepatan seismik rendah. Aktivitas
intrusi dan ekstrusi magma menimbulkan potensi seismik di dalam kerak bumi atas dan zona
tektonik. Naiknya magma melewati patahan dan konduit menuju permukaan dapat
membentuk dyke dan sill. Umumya, gerakan magma yang berpotensi menghasilkan sinyal
seismik merupakan magma andesit-basalt dengan viskositas intermediet yang bergerak
melewati sill dan dyke menuju permukaan. Interaksi antara magma dan air tanah atau air
permukaan dapat mengakibatkan adanya fragmentasi freato-magmatik. Kedalaman daerah

11
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

fragmentasi diperkirakan berada di kedalaman akuifer. Proses fragmentasi ini juga


menghasilkan spektrum aktivitas erupsi dari erupsi efusif hingga eksplosif. Proses
fragmentasi magma juga menghasilkan sinyal tremor vulkanik, sinyal frekuensi rendah dan
sinyal gempa letusan. (Zobin,2003)
2.6.1 Model sinyal seismik yang dihasilkan oleh erupsi
Beberapa model sinyal gempa vulkanik telah dibuat berdasarkan berbagai peristiwa
yang terjadi baik secara tunggal maupun rangkaian, seperti pergerakan magma, degassing
magma, dan proses aliran lava atau jatuhan piroklastik ketika terjadi letusan. Model sinyal
seismik yang dihasilkan oleh letusan dibuat oleh Kanamori (1982) berdasarkan interpretasi
sinyal seismik yang dihasilkan oleh erupsi gunung api sebagai getaran Lamb (1904), yang
dikeluarkan oleh gaya yang hampir vertikal yang menunjukkan gaya balik dari erupsi. Lamb
( 1904) mengkomputasikan respon sementara dari medium homogen setengah elastis
terhadap gaya dengan berbagai geometri. Hasilnya, diperoleh sinyal yang merambat
sepanjang permukaan bebas dengan kecepatan gelombang Rayleigh.

2.6.2 Model berdasarkan getaran tubuh magma

Model lainnya berdasarkan pada getaran tubuh magma, yakni resonansi yang terjadi
pada saat rongga terisi fluida (bola,pipa, atau rekahan) dan osilasi dari sejumlah konduit
yang bergetar. Model pertama yakni model pergerakan fluida rekahan diberikan oleh Chouet
(1986) dalam Zobin (2003), yang digunakan untuk sinyal tremor dan sinyal frekuensi
rendah. Dalam model ini, rekahan berbentuk persegi dan berisi fluida dan medium linear
yang elastis. Ketebalan rekahan jauh lebih kecil daripada panjang gelombang seismik. Pada
waktu t=0, tekanan terjadi pada dinding rekahan dan memicu resonansi akustik. Kelebihan
tekanan pada fluida akan menimbulkan getaran dan magma yang bergerak melewati rekahan
kecil tersebut akan menghasilkan tremor.
Model kedua yakni getaran konduit dapat diterapkan dalam analisis tremor vulkanik.
Dalam model ini, aliran magma dalam konduit dapat menghasilkan sinyal tremor dengan
beberapa frekuensi dominan, tergantung geometri konduit. Uap dan gas keluar melalui
konduit melalui konduit terbuka merupakan sumber utama dari gerakan turbulen gempa
magma sehingga pipa berisi magma di struktur bagian atas gunung api berkerja sebagai
osilator (Zobin,2003)
2.6.3 Model berdasarkan degassing magma

Model ini diturunkan dengan menggunakan dua pendekatan yakni untuk menjelaskan
sumber tremor vulkanik dan sumber dari gempa letusan. Model pertama yaitu model
dinamika gelembung gas. Model ini didasarkan pada pengamatan aktivitas infrasonik dan
kegempaan. Sejumlah kecil energi yang dilepaskan menunjukan bahwa sinyal infrasonik dan
seismik memiliki dinamika proses yang sama. Gelembung gas dapat terbentuk akibat
tumbukan bebas di dalam magma atau dengan struktur dinding di sekitarnya seperti dyke.
Dalam proses dinamika gas, waktu tunda sekitar 102 sekon antara getaran infrasonik
menunjukkan nukleasi gas pada magma basaltik. Sebaran puncak spektrum frekuensi juga
menunjukkan waktu tunda antar sumber sinyal (Zobin,2003).

12
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Model kedua diberikan oleh Iguchi (1994) dalam (Zobin,2003), yang dikenal sebagai
model sumber ekspansi vertikal. Model ini dikembangkan dari gempa vulkanik gunung api
andesitik Sakurajima, Jepang dan dapat diterapkan untuk memodelkan gempa frekuensi
rendah dan letusan. Model ini berhubungan dengan proses ekspansi gas di dalam konduit.
Polaritas gerakan awal dari sinyal seismik menunjukkan adanya kompresi yang berasal dari
berbagai arah dan merupakan karakteristik dari sumber ekspansi gas.
2.6.4 Model sinyal seismik yang dihasilkan oleh aliran piroklastik dan rockfall

Model pertama dikenal sebagai three-stage dome collapse model, yang didasarkan pada
pengamatan jatuhan piroklastik di Gunung Unzen,Jepang. Model ini menunjukkan bahwa
hancurnya kubah (tahap 1), jatuhnya blok lava di lereng (tahap 2), dan terjadinya aliran
piroklastik (tahap 3), menunjukkan suatu fungsi yang berasal dari sistem gaya tunggal. Hasil
inversi menunjukkan bahwa magnitudo komponen vertikal berhubungan dengan tumbukan
material dengan lereng dan komponen horisontal menunjukkan penurunan aliran material
sepanjang lereng gunung (Zobin,2003).
Model kedua yaitu model saluran gas dan perpindahan batuan. Model ini didasarkan
pada pengamatan seismik broadband di Gunung Soufriere Hills, Montserrat. Dalam model
ini, terdapat dua sub-sumber sinyal seismik, yaitu resonansi konduit berisi fluida yang
menghasilkan sinyal periode panjang dan gabungan gaya dari pergerakan batuan di
permukaan kubah gunung yang menghasilkan sinyal dengan frekuensi yang lebih tinggi
(Zobin,2003).

13
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan

Dalam KP yang dilaksanakan, digunakan software dan hardware untuk menjalankan


operasi pengolahan data. Hardware yang digunakan adalah Laptop Asus A455L

Untuk software yang digunakan pada kerja praktek ini adalah Ls7_wve, Global
Mapper 8, dan Origin 7.0

3.2 Prosedur Penelitian

Tabel 3. 1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktek

Minggu ke -
No Schedule
1 2 3
Pengenalan PVMBG, pengenaan Seismograf
dan teori dasar penentuan hiposenter dan
1
episenter gempa

2 Pelatihan Kerja Praktik


pengolahan data gempa vulkanik

3 Penyusunan Laporan KP

3.3 Data

Data yang digunakan merupakan data rekaman seismik bulan November 2017 dari
alat Seismometer Guralp pada 6 stasiun di Gunung Sinabung dengan masing-masing
koordinat stasiun adalah :

Tabel 3. 2 Koordinat masing-masing stasiun di Gunung Sinabung


No Nama Stasiun Easting Northing

1 Gamber 437352.89 348700.42

2 Lau Kawar 431671.00 352796.00

3 Mardinding 429590.69 349224.74

4 Sigarang-garang 434243.00 352275.00

5 Sibayak 444684.67 358076.42

14
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

6 Kebayaken 436267.00 356063.00

3.4 Diagram Alir

Data gempa pada rekaman


seismik bulan November 2017
Mulai

Picking waktu tiba


gelombang P dan
S pada software
Ls7_wve

Catat waktu tiba Gel.P dan S


pada masing-masing stasiun dan
diolah pada software GAD yang
menggunakan perhitungan
metode GAD

Tidak

Didapatkan nilai Ya Dengan syarat :


X,Y,Z pada masing-
masing event gempa -Travel time residual rms
bernilai < 0.5 sec

Plotting Episenter dan Didapatkan data kontur


Hiposenter gempa pada Gunung Sinabung dari
software Origin 7.0 data DEM pada software
Global Mapper 8.0

Gambar 3. 1 Diagram Alir Pengolahan Data

15
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

3.5 Pengolahan Data


Pengolahan data pada rekaman seismik data gempa di Gunung Sinabung
menggunakan software Ls7_wve dan GAD. Penggunaan software di Ls7_wve adalah
untuk picking waktu tiba gelombang P dan gelombang S, sedangkan untuk program GAD
adalah untuk menentukan posisi hiposenter serta episenter dari gempa yang terjadi. Untuk
penggunaan software Ls7_wve adalah :
1. Buka data rekaman seismik digital pada bulan November 2017 di Gunung
Sinabung, data rekaman seismik digital yang digunakan adalah rekaman seismik
tiap menit pada Gunung Sinabung serta rekaman seismik yang terekam oleh 12
stasiun.
2. Pada 12 stasiun yang terdapat di data, hanya 6 stasiun yang digunakan yaitu stasiun
Lau Kawar, Gamber, Sibayak, Kabayaken, Sigarang-garang, dan Mardinding.
Pada gambar 3.2 stasiun mardinding merupakan stasiun dengan seismograf 3
komponen jadi hanya salah satu yang digunakan. Pada gambar 3.2 channel adalah
nama channel yang terlihat pada program Ls7_wve sedangkan kode stasiun adalah
nama stasiun singkatnya.

Gambar 3. 2 Nama channel dan kode stasiun

16
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

3. Pengecekan rekaman seismik yang terjadi gempa vulkanik A dan gempa vulkanik
B adalah dengan melihat perubahan amplitudo gelombang yang terjadi pada 6
stasiun yang terdapat di data tersebut. Setelah terdapat perubahan amplitudo pada
masing-masing stasiun, dilakukan pengecekan kembali karena data yang
digunakan untuk menentukan hiposenter dan episenter minimal terekam oleh 4
stasiun yang berada di Gunung Sinabung.
4.

Gambar 3. 3 Tampilan pertama ketika data dibuka di Ls7_wve


Ketika data dibuka akan muncul tampilan seperti Gambar 3.3, lalu hal yang
pertama dilakukan adalah dengan klik 2x/ klik plot pada program tersebut dibagian
setting agar memudahkan tampilan karena ingin menghilangkan/menyembunyikan
perekaman gelombang di stasiun yang tidak diinginkan, karena untuk kerja praktik
kali ini, stasiun yang digunakan hanya 6 stasiun.

17
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

5.

Gambar 3. 4 Tampilan di Ls7_wve pada saat terdapat event gempa di Stasiun Lau-
Kawar

Pada gambar 3.4 terdapat lingkaran A,B, dan C. Pada masing-masing


lingkaran A dan B merupakan salah satu fitur yang terdapat di program Ls7_wve
yaitu rekaman seismik yang sudah terekam dapat diperbesar secara vertikal yaitu
pada lingkaran A maupun horizontal pada fitur di lingkaran B, sedangkan lingkaran
C menjelaskan waktu pada saat kursor diarahkan, kursor pada program Ls7_wve
adalah garis hitam secara vertikal. Waktu saat kursor diarahkan pada program
tersebut menjelaskan secara detail yaitu dalam satuan detik, sehingga kursor bisa
diarahkan dimana waktu tiba gelombang P maupun gelombang S.

6. Setelah dilakukan picking waktu tiba gelombang P dan gelombang S, lalu


data waktu tiba tersebut dicatat pada program GAD, pada tampilan program GAD
terdapat satu folder yang berisi beberapa DAT file. Pada program GAD waktu tiba
gelombang P dan gelombang S tersebut di catat pada nama file arrival.dat, setelah
dicatat pada file arrival.dat dengan susunan berupa :
1. Tahun,bulan serta tanggal terjadinya gempa waktu terjadinya gempa dalam
jam dan menit setelah itu dipisahkan oleh tanda “koma”
2. Kode stasiun
3. Waktu tiba gelombang P dalam satuan detik dan milidetik
4. Tanda “+” atau “-“, dimana gelombang P tersebut amplitudo naik ke atas(+)
atau ke bawah(-)
5. I atau E ( Impulsive atau Emergency)

18
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

6. Waktu tiba gelombang S


7. I atau E ( Impulsive atau Emergency)

Gambar 3. 5 Folder pada program GAD

Gambar 3. 6 Tampilan pada file arrival.dat

File arrival.dat ditampilkan oleh gambar 3.6, file tersebut merupakan rekaman
terjadinya event gempa pada jangka periode satu bulan pada data kerja praktik ini.

19
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Setelah dicatat waktu event terjadinya gempa vulkanik tersebut, lalu dijalankan
program GAD.exe yang terdapat pada gambar 3.5 dan hasil lokasi hiposenter serta
episenter masing-masing event gempa tersebut ditampilkan pada file result.dat.
Dimana, hasil pada perhitungan metode GAD pada kerja praktik ini dilakukan
pengecekan ulang dimana hasil travel time residual harus kurang dari 0,5. Sehingga,
ketika hasil pada result.dat ada event gempa tidak sesuai nilai travel time residual
yang diinginkan, maka dilakukan picking ulang sampai hasil yang diinginkan
terpenuhi.

Gambar 3. 7 Hasil yang ditampilkan setelah dijalankan pada program GAD, hasil
ditunjukkan pada file result.dat
7. Setelah didapatkan hasil lokasi terjadinya gempa pada program GAD, lalu
pada software Global Mapper 8 digunakan untuk mendapatkan kontur Gunung
Sinabung, sehingga pada program Origin 7.0 dapat dilakukan overlay titik gempa
tersebut terhadap Gunung Sinabung. Untuk mendapatkan kontur Gunung
Sinabung terlebih dahulu harus mempunyai file DEM yang diinginkan, Pada
program Global Mapper 8, open data file untuk membuka file DEM yang
diinginkan. Jika data file DEM yang dinginkan tidak terbuka seluruhnya maka
silahkan dibuka data file selanjutnya, karena sistem pada program ini seperti
puzzle, sehingga data file selanjutnya diurutkan sesuai dengan koordinat tersebut.
Untuk mengubah datum koordinat ke dalam bentuk koordinat UTM, pada pilihan
toolbars tools pilih configure, lalu ke tab projection atur projection yang
sebelumnya dalam bentuk koordinat geographic ke dalam bentuk koordinat UTM.

20
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 3. 8 Membuka data pada software Global Mapper 8


8. Langkah selanjutnya ialah pada toolbar di program Global Mapper 8,
terdapat pada file lalu klik generate contours, sehingga akan muncul tampilan
selanjutnya dan pilih tab contour bounds dan klik Draw a Box, lalu klik kiri pada
mouse sehingga didapatkan area yang ingin didapatkan konturnya.

Gambar 3. 9 Membuat area yang diinginkan, agar didapatkan kontur dari area
tersebut

21
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 3. 10 Membuat kontur Gunung Sinabung


Selanjutnya adalah ekspor data kontur yang telah dibuat ke dalam bentuk data
vektor, pada pilihan toolbar file lalu export vector data dan pilih Export ASCII Text
file lalu hapus centang Append Unit Labels sehingga data yang diekspor akan
menjadi file dengan format .xyz dalam bentuk tabel, dimana x merupakan koordinat
easting, y merupakan koordinat northing dan z adalah nilai ketinggian serta tidak
bersama satuan pada koordinat.
9. Langkah selanjutnya adalah membuat penampang terhadap utara-selatan dan
timur-barat sehingga nanti titik gempa akan diplot dan terlihat dimana letak
hiposenter terhadap Gunung Sinabung. Untuk membuat penampang tersebut pilih
toolbars 3D Path profile lalu buat penampang terhadap Utara-Selatan ataupun
Barat-Timur, setelah dibuat penampang klik kanan dan pilih save XYZ seperti pada
gambar 3.11

Gambar 3. 11 Membuat penampang Utara-Selatan atau Timur-Barat

22
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

10. Terdapat berbagai cara untuk mendapatkan gambaran titik gempa jika
menggunakan Origin 7.0, pada laporan kali ini, cara yang digunakan adalah
dengan terlebih dahulu kontur Gunung Sinabung yang berformat file .xyz diubah
ke dalam bentuk excel dan disimpan filenya menjadi .xls yaitu format Microsoft
Excel. Sehingga pada program Origin 7.0 Data dibuka pada pilihan toolbars File
lalu pilih Open Excel, sehingga tabel pada Excel akan otomatis terbaca pada
program Origin sesuai urutan yaitu A menjadi tabel X, B menjadi tabel Y, dan C
menjadi tabel Z. Lalu pada toolbars Plot pilih line pada worksheet kontur gunung
pilih tabel yang merupakan X ke dalam Column X dan Y ke dalam Column Z
seperti pada Gambar 3.12 sehingga akan terbentuk kontur seperti di Gambar 3.13.

Gambar 3. 12 Column X disesuaikan dengan data yang merupakan X begitu juga


dengan Y

Gambar 3. 13 Kontur Gunung Sinabung

23
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

11. Langkah selanjutnya ialah memasukkan data koordinat gempa terhadap


kontur Gunung Sinabung yang telah dibuat. Pada gambar kontur klik kanan lalu
pilih layer content dan seperti pada Gambar 3.14 pilih plot associations sehingga
akan muncul tampilan seperti gambar tersebut dan worksheet pada Origin 7.0 pilih
dimana worksheet koordinat gempa tersebut sehingga nantinya pada Column X
dan Column Y, pilih dimana letak koordinat Xan koordinat Y worksheet pada
gempa tersebut. Lalu klik OK, setelah itu tinggal mengganti tampilan simbol titik
gempa tersebut berada seperti pada Gambar 3.15 dimana simbol diganti menjadi
scatter serta untuk tampilan bentuk dan warna diganti sesuai yang diinginkan.

Gambar 3. 14 Plotting titik gempa terhadap kontur Gunung Sinabung

Gambar 3. 15 Tampilan titik gempa pada Origin 7.0 bisa diganti sesuai yang
diinginkan

24
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pengolahan data dilakukan untuk mendapatkan waktu tiba gelombang P dan
gelombang S seperti pada pembahasan bab 3 yaitu dengan menggunakan software Ls7_wve,
lalu hasil yang didapatkan dicatat pada program GAD sehingga hasil yang didapatkan yaitu
terdapat 59 event gempa dalam periode 1 bulan, dimana gempa vulkanik yang didapatkan
hanya berupa gempa vulkanik tipe A dan gempa vulkanik tipe B. Hasil gempa berupa
koordinat UTM beserta waktu terjadinya gempa ditampilkan dalam tabel berikut :
Tabel 4. 1 Data Gempa dan Koordinat Gempa dalam UTM

Waktu Gempa Koordinat UTM


Tanggal Jam X Y Z
01/11/2017 0:06 440816.7 352891.8 -3352
01/11/2017 0:12 442940.7 353857.8 1213
01/11/2017 0:19 441165.7 352509.8 -4225
01/11/2017 0:46 440665.7 355077.8 -2635
01/11/2017 0:51 443391.7 352077.8 -1061
01/11/2017 1:07 435784.7 360252.8 -2099
01/11/2017 1:16 440731.7 352310.8 -309
01/11/2017 1:33 439902.7 354743.8 -380
01/11/2017 1:35 440296.7 356293.8 -4640
01/11/2017 2:17 437253.7 364268.8 -834
01/11/2017 2:19 439984.7 356520.8 -3302
01/11/2017 3:11 440546.7 357189.8 -2133
01/11/2017 11:04 440219.7 354330.8 583
01/11/2017 11:56 440446.7 355046.8 -2226
01/11/2017 12:30 429189.7 359550.8 -1292
02/11/2017 2:00 440901.7 354247.8 -2965
02/11/2017 3:04 441709.7 353391.8 -2229
02/11/2017 3:39 442859.7 352709.8 -2280
02/11/2017 4:06 441839.7 353253.8 -207
02/11/2017 5:20 441079.7 353450.8 -2698
02/11/2017 13:21 437853.7 361320.8 -984
02/11/2017 16:38 439923.7 364359.8 -6029
03/11/2017 5:11 441647.7 353502.8 -1999
03/11/2017 6:49 441253.7 353567.8 8
04/11/2017 22:28 442027.7 353276.8 -3028
06/11/2017 10:49 440148.7 354447.8 -3147
06/11/2017 12:31 442103.7 350355.8 -69
06/11/2017 12:32 441158.7 353704.8 -2525
06/11/2017 17:48 439849.7 356710.8 -2212
07/11/2017 2:11 437083.7 361315.8 -2444
07/11/2017 6:20 440987.7 354378.8 -2922

25
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

08/11/2017 21:04 441070.7 353856.8 -158


09/11/2017 0:26 440602.7 353679.8 -803
10/11/2017 18:34 435507.7 353124.8 -4662
12/11/2017 0:00 441558.7 358182.8 -602
12/11/2017 0:06 439842.7 358420.8 -141
12/11/2017 16:07 425641.7 361966.8 -5731
12/11/2017 23:15 432932.7 352338.8 -3777
13/11/2017 5:14 441625.7 355004.8 45
14/11/2017 13:18 439476.7 357567.8 -4434
15/11/2017 23:56 442033.7 350701.8 -376
16/11/2017 1:38 439825.7 354448.8 -610
16/11/2017 6:11 439751.7 355599.8 -263
17/11/2017 1:19 441819.7 355639.8 -1112
18/11/2017 3:59 432076.7 352384.8 -3821
18/11/2017 16:05 439266.7 354068.8 -582
20/11/2017 9:18 441433.7 355250.8 -2446
21/11/2017 3:21 433757.7 351428.8 -5115
22/11/2017 7:44 440891.7 353134.8 -2184
23/11/2017 21:38 441503.7 354921.8 -3722
24/11/2017 12:40 437183.7 358568.8 -2937
24/11/2017 14:41 438048.7 359658.8 -772
25/11/2017 22:26 435981.7 352983.8 -3480
25/11/2017 22:51 438740.7 356140.8 -364
26/11/2017 4:13 438684.7 361361.8 -394
26/11/2017 6:14 441627.7 355571.8 -444
27/11/2017 1:50 441539.7 354405.8 -3105
27/11/2017 4:04 443466.7 352909.8 -2235
28/11/2017 3:37 443568.7 355927.8 -6683

Posisi stasiun serta posisi puncak Gunung Sinabung (Koordinat relatif 0,0) jika
dilihat pada Google Earth ditampilkan pada Gambar 4.1, sedangkan plotting gempa terhadap
titik episenter ditampilkan pada Gambar 4.2, Hiposenter jika dilihat dari Utara-Selatan serta
Timur-Barat ditampilan pada gambar 4.3 dan 4.4.

26
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 4. 1 Tampilan lokasi masing-masing stasiun pada Google Earth

Gambar 4. 2 Posisi Episenter Gempa Vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung Sinabung
pada bulan November 2017

27
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

Gambar 4. 3 Posisi Hiposenter Gempa vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung


Sinabung bulan November 2017 terhadap Utara-Selatan

Gambar 4. 4 Posisi Hiposenter Gempa vulkanik tipe A dan tipe B di Gunung


Sinabung bulan November 2017 terhadap Barat-Timur

28
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

4.2 Pembahasan
Telah dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan posisi hiposenter dan episenter
gempa vulkanik pada Gunung Sinabung dalam periode November 2017. Pengolahan
dilakukan dengan menggunakan metode GAD yaitu data yang digunakan adalah data waktu
tiba Gelombang P dan waktu tiba gelombang S. Cara picking waktu tiba gelombang P
maupun S menggunakan teori dimana gelombang P merupakan gelombang yang diterima
stasisun gempa terlebih dahulu, ditandai dengan perubahan amplituda rekaman seismogram
dari background noisenya sedangkan gelombang S mudah dideteksi pada seismogram
sumbu horizontal. Cara-cara pengolahan yang dilakukan telah dibahas pada Bab III, pada
program GAD dibutuhkan waktu tiba gelombang P dan gelombang S, sehingga nantinya
akan diolah dengan program GAD, pada program GAD juga terdapat stasiun.dat dimana
posisi stasiun yang terdapat pada Gunung Sinabung diinput, posisi stasiun diinput
berdasarkan X,Y,Z dari koordinat relatif yaitu koordinat Puncak Gunung Sinabung. Posisi
yang telah diinput pada program GAD merupakan X,Y,Z dalam satuan kilometer terhadap
puncak, sehingga nanti pada hasil dari program GAD adalah posisi X,Y,Z gempa
berdasarkan posisi puncak Gunung Sinabung. Letak posisi puncak beserta 6 stasiun yang
digunakan pada penelitian kali ini terdapat pada tabel 4.2 serta telah ditampilkan pada
Gambar 4.1
Tabel 4. 2 Koordinat UTM Puncak dan Stasiun pada Gunung Sinabung
Nama Titik Easting Northing Ketinggian
P. Sinabung (Koordinat Relatif) 432294.3 350514.2 0
Laukawar 431671.6 352796.1 1525
Mardinding 429590.7 349224.7 1179
Sibayak 444684.7 358076.4 2011
Gamber 437352.9 348700.4 1207
Sigarang-garang 434243.8 352275.0 1445
Kebayakan 436267.5 356063.5 1479

Kode yang digunakan pada stasiun.dat harus sama dengan kode stasiun pada data
yang nantinya diinput pada arrival.dat sehingga program GAD dapat membaca nilai atau
format yang diinput ke dalam program GAD. Pada program GAD juga diinput nilai
kecepatan pada lapisan bawah permukaan pada Gunung Sinabung, nilai kecepatan tersebut
didapatkan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada program GAD masing-
masing waktu tiba gelombang terdapat kode I dan E yaitu Impulsive serta Emergency yaitu
dimana gelombang tersebut naik tajam (I) atau naik secara perlahan (E). Setelah ditemukan
terjadinya event gempa sebanyak 59 kali pada bulan November 2017 menandakan bahwa
Gunung Sinabung memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi sehingga status dari Gunung
Sinabung masih pada status level IV (awas).
Pada program Global Mapper 8.0 dan Origin 7.0 dilakukan plotting titik event gempa
terhadap Gunung Sinabung sehingga terlihat dimana posisi episenter serta hiposenter gempa
vulkanik tipe A dan tipe B. Untuk mendapatkan penampang Utara-Selatan maupun Barat-
Timur terlebih dahulu didapatkan nilai X,Y,Z atau koordinat UTM serta ketinggian di
program Global Mapper 8. Setelah didapatkan masing-masing nilai kontur Gunung
Sinabung maka dilakukan overlay terhadap titik gempa yang sudah diketahui dari program
GAD. Jika penampang Utara-Selatan didapatkan dengan memakai nilai dari Northing serta
29
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

ketinggian sedangkan penampang Barat-Timur memakai nilai koordinat Easting dan


ketinggian. Begitu juga dengan titik gempa yang akan di plotting di program Origin 7.0
hanya dua nilai yang dipakai pada plottingan tersebut. Sehingga hasilnya terlihat pada
Gambar 4.3 dan Gambar 4.4. Sebaran hiposenter gempa vulkanik tersebut terlihat bahwa
kedalaman gempa vulkanik maksimal adalah 8000 meter serta posisi gempa tersebar pada
titk di antar Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak.

30
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

BAB V
KESIMPULAN & SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengolahan data gempa vulkanik Tipe A dan Tipe B pada Gunung
Sinabung periode bulan Novembe 2017, dapat disimpulkan :

1. Pada jangka waktu 1 bulan Gempa Vulkanik tipe A dan tipe B terjadi sebanyak 59
kali gempa

2. Sebaran hiposenter pada Gunung Sinabung terdiri dari ketinggian 1000 meter hingga
kedalaman 8000 meter

3. Aktivitas kegempaan pada Gunung Sinabung cenderung tinggi sehingga level status
pada Gunung Sinabung masih pada skala Level IV(Awas)

5.2 Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya ialah terus dilakukan monitoring terhadap


Gunung Sinabung serta tetap dilakukan evakuasi terhadap penduduk sekitar dikarenakan
aktivitas kegempaan masih tinggi.

31
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

DAFTAR PUSTAKA

Afinimar. (2009). Seismologi. Bandung:ITB.

Gonzalez, P.J., Singh, K.D. dan Timapo, K.F. 2014. Shallow Hydrothermal Pressurization
before the 2010 Eruption of Mount Sinabung Volcano, Indonesia, Observed by use of ALOS
Satellite Radar Interferometry. Pure and Applied Geophysics, Springer.
Iguchi, M., Ishihara, K., Surono., dan Hendrasto, M. 2011. Learn from 2010 Eruptions at
Merapi and Sinabung Volcanoes in Indonesia. Disaster Prevention Research Institute
Annuals, No. 54B.

Maryanto, Sukir. (2016). Seismik Vulkanologi. Malang : UB Press

Minakami, T. (1974). Seismology of Vulcanoes in Japan. Journal of Physical Volcanology


Development in Solid Earth Geophysics, 6, 1-27.

Lay, T., & Wallace T. (1995). Modern Global Seismology. USA: Academic Press.

Shearer, P. (2009). Introduction to Seismology 2nd Edition. Cambridge:Cambridge


University Press.

Sheriff, R.E., dan Geldart, L.P., 1995, Exploration Seismology Second Edition, Cambridge
University Press: New York, USA.

Susilawati. (2008). Penerapan Penjalaran Gelombang Seismik Gempa pada Penelaahan


Struktur Bagian dalam Bumi. Medan : Universitas Sumatera Utara

Zobin, V. (2003). Introduction to Volcanic Seismology. Amsterdam: Elsevier Science B.V

32
Laporan Kerja Praktik PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

“Halaman ini sengaja dikosongkan”

33