Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH TEKNIK ENERGI

“ENERGI ALTERNATIF TENAGA SURYA”

Disusun Oleh:
1. Reyhan Zakaria 1431010045
2. Anis Zaenuwar Sabichi 1431010049
3. Kurnia Arifiani Kusuma 1431010060
4. Restia Eka Puspita 1431010066
5. Enik Eliyawati 1431010068
6. Leonard Alvin Tanan 1431010072
7. Muhamad Fikri Salim 1431010077

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

SURABAYA

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan Makalah Teknik Energi tentang Energi Alternatif Tenaga Surya.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah pengolahan limbah pabrik
tentang limbah industri tekstil dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.

Surabaya, November 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh hampir
seluruh negara di dunia. Hal ini mengingat energi merupakan salah satu faktor
utama bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Permasalahan energi
menjadi semakin kompleks ketika kebutuhan yang meningkat akan energi dari
seluruh negara di dunia untuk menopang pertumbuhan ekonominya justru membuat
persediaan cadangan energi konvensional menjadi semakin sedikit. Dimulainya
revolusi industri, manusia mulai menggunakan sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui. Sumber dayanya yaitu bahan bakar fosil, batubara, gas alam dan
minyak bumi. Bahan bakar fosil ini merupakan sumber daya energi konvensional
dan tidak terbaharui dan jumlahnya terbatas. Dengan hal ini, maka timbul
kecemasan manusia terhadap sumber daya konvensional yang tidak dapat di
perbaharui, dan agar mempertahankan eksistensi manusia di bumi ini. Kebutuhan
yang meningkat terhadap energi juga pada kenyataanya bertabrakan dengan
kebutuhan umat manusia untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari
polusi. Polusi dari penggunaan bahan bakar fosil ini sangat besar. Dengan demikian
dilakukan berbagai macam upaya pemanfaatan energi-energi yang tersedia dalam
jumlah yang tidak terbatas sebagai energi alternatif diantaranya adalah energi
matahari (Solar Energi) yang bersifat berkelanjutan (sustainable) dan ramah
lingkungan.
Matahari merupakan sumber energi yang diharapkan dapat mengatasi
permasalahan kebutuhan energi masa depan. Total kebutuhan energi yang
berjumlah 10 TW tersebut setara dengan 3 x 1020 Joule setiap tahunnya. Sementara
total energi matahari yang sampai di permukaan bumi adalah 2,6 x 1024 Joule setiap
tahunnya. Jika kita lihat jumlah energi yang dibutuhkan dan dibandingkan dengan
energi matahari yang tiba di permukaan bumi, maka sebenarnya dengan menutup
0,05% luas permukaan bumi dengan solar cell yang memiliki efisiensi 20%, seluruh
kebutuhan energi yang ada di bumi sudah dapat terpenuhi. Sehingga perlu
dilakukan pengkajian lebih lanjut terutama bagaimana proses pengkonversian
energi matahari menjadi energi listrik untuk memperoleh efisiensi yang semakin
tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Mengapa energi matahari dapat dijadikan sebagai salah satu energi alternatif
masa depan pengganti energi fosil?
b. Bagaimana cara mengkonversi energi matahari menjadi energi yang dapat
digunakan pada kebutuhan manusia sehari-hari serta alat apa yang
digunakan unutk mengkonversi energi tersebut?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan tambahan
pengetahuan tentang pentingnya pemanfaatan energi matahari sebagai salah satu
energi alternatif pengganti energi fosil serta menjelaskan bagaimana cara dan
proses pengkonversian energi matahari menjadi energi listrik sehingga dapat
dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Energi Matahari


Energi surya adalah energi yang berupa panas dan cahaya yang dipancarkan
matahari. Energi surya (matahari) merupakan salah satu sumber energi terbarukan
yang paling penting. Indonesia mempunyai potensi energi surya yang melimpah.
Namun melimpahnya sumber energi surya di Indonesia belum dimanfaatkan secara
optimal.
Matahari adalah sumber energi yang memancarkan energi sangat besarnya
ke permukaan bumi. Permeter persegi permukaan bumi menerima hingga 1000 watt
energi matahari. Sekitar 30% energi tersebut dipantulkan kembali luar angkasa, dan
sisanya diserap oleh awan, lautan, dan daratan. Jumlah energi yang diserap oleh
atmosfer, lautan, dan daratan bumi sekitar 3.850.000 eksajoule (EJ) per tahun.
Untuk melukiskan besarnya potensi energi surya, energi surya yang diterima bumi
dalam waktu satu jam saja setara dengan jumlah energi yang digunakan dunia
selama satu tahun lebih.
Berbagai sumber energi terbarukan lainnya, semisal energi angin, biofuel,
air, dan biomassa, berasal dari energi surya. Bahkan sumber energi fosil pun
terbentuk lewat bantuan energi matahari. Hanya energi panas bumi dan pasang
surut saja yang relatif tidak memperoleh energi dari matahari.

II.2 Penggunaan Energi Matahari untuk Kehidupan Manusia


Saat ini, manusia telah menggunakan panas dari energi matahari untuk
memenuhi berbagai kebutuhan. Berikut berbagai pemanfaatan panas matahari
(solar thermal):
1) Kompor matahari (surya)
Kompor matahari merupakan
salah satu aplikasi yang
memanfaatkan panas dari
energi matahari untuk
memenuhi kebutuhan
memasak berbagai jenis
makanan. Kompor matahari
secara umum terbagi dalam
dua, yaitu kompor parabola
dan kotak oven. Secara umum,
kompor matahari memasak menggunakan tiga metode, yaitu pemanasan,
pemanggangan, dan pasteurisasi. Kompor parabola memasak menggunakan
metode pemanasan dan pasteurisasi, sementara kotak oven metodenya
pemanggangan. Kompor parabola merupakan alat yang terbuat dari cermin
yang fungsinya menfokuskan panas matahari pada satu titik di pusat parabola.
Di titik inilah, panas dari energi matahari akan terkumpul. Panas yang
terkumpul ini bisa menghasilkan suhu ratusan hingga 600 derajat celsius.
Sementara kompor oven merupakan alat berbentuk kotak tertutup. Penutup atas
terbuat dari kaca bening yang memiliki dua fungsi, yaitu menyalurkan energi
matahari ke dalam kotak dan menahan panas yang ada di dalam kotak agar tidak
keluar. Di bagian dalam kotak ada plat kolektor panas sinar matahari yang
biasanya terbuat dari logam. Panas dari logam inilah yang akan memanaskan
oven. Suhu yang dihasilkan kompor oven diatas 100 derajat celsiu sehingga
cukup layak untuk proses pemanggangan masakan.
2) Pengering Matahari
Proses pengeringan dengan
memanfaatkan sinar
matahari sudah dipakai
manusia sejak dahulu.
Mulai dari menjemur
pakaian, mengeringkan
bahan-bahan yang basah,
serta pengeringan produk
pertanian dan perikanan.
Sebagian besar pengeringan dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara
menjemur di bawah terik matahari di udara terbuka. Namun, cara ini sangat
bergantung kepada cuaca. Saat mendung proses pengeringan berlangsung lebih
lama, sementara saat hujan pengeringan tidak bisa dilakukan.
3) Pemanas Air (solar water heating system)
Ada dua tipe pada sistem
pemanas air aktif, yaitu
sistem sirkulasi langsung
dan tak langsung. Pada
sistem sirkulai langsung,
air dipanaskan melalui
sirkulasi langsung ke
penangkap panas (panel
surya). Sementara pada
sistem tak langsung, panas yang terjadi pada panel surya diserap oleh cairan
yang kemudian disirkulasikan ke sistem penyimpanan panas. Secara umum,
sistem penyimpanan panas berupa sebuah tabung yang prinsip kerjanya seperti
termos untuk menyimpan air panas. Dalam tabung terdapat penyalur panas (heat
exchanger) yang memanaskan pipa saluran air rumah. Sistem aktif tak langsung
inilah yang banyak digunakan oleh masyarakat.
4) Penghangat dan Pendingin Ruangan
Penghangat ruangan memanfaatkan
panas yang diterima kolektor panas
(panel surya) untuk menghangatkan
ruangan. Sementara pendingin udara (air
conditioning/AC) bekerja dengan cara
mengalirkan panas dari sel surya ke alat
yang disebut chiller. Pada chiller, terjadi
proses evaporasi gas untuk
menghasilkan suhu dingin.
5) Pembangkit Listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dilakukan dengan panel surya


penerima panas (solar thermal) dan panel fotovoltaik. Ada berbagai teknologi
yang digunakan untuk membangkitkan listik menggunakan panel surya
penerima panas, diantaranya, pembangkit menara (power tower) berbasis turbin
uap, pembangkit menara berbasis turbin udara (solar updraft), pembangkit
parabola, dan pembangkit lensa cekung.

II.3 Teknologi untuk Memanfaatkan Energi Surya


Energi surya dapat dimanfaatkan dalam dua cara :
1. Energi dari cahaya matahari
Metode ini didasarkan pada fenomena efek fotolistrik. Ketika cahaya matahari
pemogokan permukaan panel surya, proses photoemission terjadi di dalam sel
fotovoltaik dan energi surya secara langsung dikonversi menjadi energi listrik.
Secara teoritis tidak ada disipasi panas yang terlibat dalam metode ini.
2. Energi yang dikembangkan dari panas matahari
Metode lain untuk menghasilkan energi menggunakan energi surya dengan
menangkap panas. Dalam metode ini sejumlah besar cermin cekung yang
digunakan untuk mengintensifkan panas yang dihasilkan dari matahari. Panas
ini digunakan untuk mengubah air menjadi uap. Seperti metode lain tekanan
uap menggerakan turbin untuk menghasilkan energi listrik.

Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, ada 2 (dua) macam teknologi
yang sudah diterapkan, yaitu:
1) Teknologi energi surya fotovoltaik, energi surya fotovoltaik digunakan untuk
memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari
pendingin di Puskesmas dengan kapasitas total ± 6 MW.
2) Teknologi energi surya termal, energi surya termal pada umumnya digunakan
untuk memasak (kompor surya), mengeringkan hasil pertanian (perkebunan,
perikanan, kehutanan, tanaman pangan) dan memanaskan air.

II.4 Sel Surya (Fotovoltaik)


Sel surya atau juga sering disebut fotovoltaik adalah divais yang mampu
mengkonversilangsung cahaya matahari menjadi listrik. Sel surya bisa disebut
sebagai pemeran utama untukmemaksimalkan potensi sangat besar energi cahaya
matahari yang sampai kebumi, walaupun selain dipergunakan untuk menghasilkan
listrik, energi dari matahari juga bisa dimaksimalkanenergi panasnya melalui sistem
solar thermal.
Sel surya dapat dianalogikan sebagai divais dengan dua terminal atau
sambungan, dimana saat kondisi gelap atau tidak cukup cahaya berfungsi
seperti dioda, dan saat disinari dengan cahaya matahari dapat menghasilkan
tegangan. Ketika disinari, umumnya satu sel surya komersial menghasilkan
tegangan dc sebesar 0,5 sampai 1 volt, dan arus short-circuit dalam
skala milliampere per cm.
Besar tegangan dan arus ini tidak cukup untuk berbagai aplikasi,sehingga
umumnya sejumlah sel surya disusun secara seri membentuk modul surya. Satu
modulsurya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya, dan total menghasilkan tegangan
dc sebesar 12 Vdalam kondisi penyinaran standar (Air Mass 1.5). Modul surya
tersebut bisa digabungkan secara paralel atau seri untuk memperbesar
total tegangan dan arus outputnya sesuai dengan daya yang dibutuhkan untuk
aplikasi tertentu. Gambar dibawah menunjukan ilustrasi dari modul surya.

II.5 Komponen Sel Surya


Sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi, jenis-jenis teknologi sel
suryapun berkembang dengan berbagai inovasi. Ada yang disebut sel surya genera
si satu, dua, tiga danempat, dengan struktur atau bagian-bagian penyusun sel yang
berbeda pula (Jenis-jenis teknologisurya akan dibahas di tulisan “Sel Surya : Jenis-
jenis teknologi”). Dalam tulisan ini akan dibahas struktur dan cara kerja dari sel
surya yang umum berada dipasaran saat ini yaitu sel
surya berbasis material silikon yang juga secara umum mencakup struktur dan car
a kerja sel surya generasi pertama (sel surya silikon) dan kedua (thin film/lapisan
tipis)

Gambar 1. ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya.


Secara umum terdiri dari :
1. Substrat/Metal backing
Substrat adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya.
Materialsubstrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena
juga berfungsi sebagaikontak terminal positif sel surya, sehinga umumnya
digunakan material metal atau logamseperti aluminium atau molybdenum.
Untuk sel surya dye-sensitized (DSSC) dan selsurya organik, substrat juga
berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya sehingga materialyang digunakan
yaitu material yang konduktif tapi juga transparan sepertii ndium tinoxide (ITO)
dan flourine doped tin oxide (FTO).

2. Material semi konduktor


Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang biasanya
mempunyaitebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya generasi
pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis. Material
semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar matahari.
Untuk kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah material
silikon, yang umum diaplikasikan diindustri elektronik. Sedangkan untuk sel
surya lapisan tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan telah
masuk pasaran yaitu contohnya materialCu(In,Ga)(S,Se)2(CIGS), CdTe
(kadmium telluride), dan amorphous silikon, disampingmaterial-material
semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitianintensif
seperti Cu2ZnSn(S,Se)4(CZTS) dan Cu2O (copper oxide).
Bagian semi konduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua
material semi konduktor yaitu semi konduktor tipe-p (material-material yang
disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n
junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsipkerja sel surya. Pengertian
semikonduktor tipe-p, tipe-n, dan juga prinsip p-n junction dansel surya akan
dibahas dibagian “cara kerja sel surya”.
3. Kontak metal /contact grid
Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material semikonduktor
biasanyadilapiskan material metal atau material konduktif transparan sebagai
kontak negatif.
4. Lapisan antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang terserap
olehsemikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh lapisan
anti-refleksi.Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan besar
indeks refraktif optikantara semikonduktor dan udara yang menyebabkan
cahaya dibelokkan ke arahsemikonduktor sehingga meminimumkan cahaya
yang dipantulkan kembali
5. Enkapsulasi /cover glass
Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya dari
hujan atau kotoran.
II.6 Prinsip Kerja Tenaga Surya

Gambar 1. Prinsip Kerja Tenaga Surya

Sinar matahari mengenai solar panel, masuk kedalam solar charg


controller, arus disini masih dalam keadaan DC. Lalu dialirkan ke baterai, disini
masuk kedalam inverter untuk mengubah arus DC menjadi AC lalu dapat
dimanfaatkan untuk berbagai alat-alat elektronik.

Modul surya (fotovoltaic) adalah sejumlah sel surya yang dirangkai secara
seri dan paralel, untuk meningkatkan tegangan dan arus yang dihasilkan sehingga
cukup untuk pemakaian sistem catu daya beban.Untuk mendapatkan keluaran
energi listrik yang maksimum maka permukaan modul surya harus selalu mengarah
ke matahari. Di Indonesia, energi listrik yang optimum akan didapat apabila modul
surya diarahkan dengan sudut kemiringan sebesar lintang lokasi PLTS tersebut
berada. Sebagai contoh, untuk daerah yang berada di sebelah utara katulistiwa maka
modul surya harus dihadapkan ke Selatan, dan sebaliknya.
Selanjutnya energi listrik tersebut disimpan dalam Baterai. Baterai disini
berfungsi sebagai penyimpan energi listrik secara kimiawi pada siang hari dan
berfungsi sebagai catu daya listrik pada malam hari. Untuk menjaga kesetimbangan
energi di dalam baterai, diperlukan alat pengatur elektronik yang disebut Battery
Charge Regulator.
Alat ini berfungsi untuk mengatur tegangan maksimal dan minimal dari
baterai dan memberikan pengamanan terhadap sistem, yaitu proteksi terhadap
pengisian berlebih (overcharge) oleh penyinaran matahari, pemakaian berlebih
(overdischarge) oleh beban, mencegah terjadinya arus balik ke modul surya,
melindungi terjadinya hubung singkat pada beban listrik dan sebagai interkoneksi
dari komponen-komponen lainnya.

Gambar 2. Skema Proses Pemanfaatan Energi Surya

II.5 Proses Kerja Energi Surya


Sel surya yang sering kita lihat adalah sekumpulan modul sel photovoltaic
(photo = cahaya, voltaic = listrik) yang disusun sedemikian rupa dan dikemas dalam
sebuah frame. Sel photvoltaic ini yang nantinya akan merubah secara langsung
energi matahari menjadi listrik.
Sel photovoltaic ini terbuat dari bahan khusus semikonduktor yang sekarang
banyak digunakan dan disebut dengan silikon. Ketika cahaya mengenai sel silikon,
cahaya tersebut akan diserap oleh sel ini, hal ini berarti bahwa energi cahaya yang
diserap telah ditransfer ke bahan semikonduktor yang berupa silikon. Energi yang
tersimpan dalam semikonduktor ini akan mengakibatkan elektron lepas dan
mengalir dalam semikonduktor. Semua sel photovoltaic ini juga memiliki medan
elektrik yang memaksa elektron yang lepas karena penyerapan cahaya tersebut
untuk mengalir dalam suatu arah tertentu. Elektron yang mengalir ini adalah arus
listrik, dengan meletakkan terminal kontak pada bagian atas dan bawah dari sel
photovoltaic ini akan dapat dilihat dan diukur arus yang mengalir sehingga dapat
digunakan untuk menyuplai perangkat eksternal. Hal diatas adalah dasar perubahan
energi surya menjadi listrik oleh semikonduktor silicon.
Gambar 1. Sel Photovoltaic

II.5.1 Dari Cahaya Menjadi Listrik


Secara sederhana solar cell terdiri dari persambungan bahan semikonduktor
bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka
akan terjadi aliran electron, aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus
listrik. Sedangkan struktur dari solar cell adalah seperti ditunjukkan dalam gambar
dibawah ini

Gambar 2. Struktur Lapisan Tipis Solar Cell Secara Umum


Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber
(penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh
terhadap efisiensi dari solar cell. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis
gelombang elektromagnetik yang secara spectrum dapat dilihat pada gambar 2.
Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar
radiation yang berasal dari cahaya matahari.

Gambar 3. Spektrum Radiasi Sinar Matahari

Sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan


bahan solar sel (absorber), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja
(lihat gambar 3), dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan
membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik.
Level energi tersebut disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah
energi yang dibutuhkan utk mengeluarkan electron dari ikatan kovalennya sehingga
terjadilah aliran arus listrik. Untuk membebaskan electron dari ikatan kovalennya,
energi foton (hc/v harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap.
Jika energi foton terlalu besar dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut
akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada
solar sel untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi
struktur molekul dari semikonduktor yang dipergunakan.
Gambar 4. Radiative Transition dari Solar Cell
Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa tinggi maka foton yang berasal
dari sinar matahari harus bisa diserap sebanyak-banyaknya, kemudian
memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari
bahannya.
Agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus
memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk
bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam
tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe2 yang dikenal
merupakan salah satu dari direct semiconductor.

Gambar 5. Bagian-bagian dari Sel Photovoltaic


II.6 Kelebihan dan Kelemahan Sistem Konversi Energi Surya

Tabel 1. Kelebihan dan Kelemahan Sistem Konversi Energi Surya

KELEBIHAN KELEMAHAN

Modul solar langsung mengkonversi sinar


matahari menjadi Energi listrik searah Biaya investasi awal tinggi.
tanpa bahan bakar.

Proses konversi tidan menimbulkan Memerlukan baterai sebagai


kebisingan, gas buang, limbah. media penyimpan listrik.

Pemeliharaan sederhana dibanding sistem Pemeliharaan baterai harus rutin


konvensional. Karena dalam proses tidak karena keandalan sistem
ada bagian yang bergerak. ditentukan oleh kondisi baterai.

Untuk beban yang kecil mempunyai ke Alat-alat yang dioperasikan pada


cenderungan makin ekonomis. tengangan rendah terbatas.

Teknisi yang terlatih untuk


Dapat diaplikasikan langsung pada alat alat perencanaan dan pemasangan
praktis. sistem konversi energi surya
masih sangat sedikit.

Instalasi sistem lebih aman karena tega


ngan rendah dan searah.

Sumber: Unggul Wibowo, 2000:7

II.7 Energi Surya Sebagai Alternatif Masa Depan

Jika kita melihat tingkat konsumsi energi di seluruh dunia saat ini,
penggunaan energi diprediksikan akan meningkat sebesar 70 persen antara tahun
2000 sampai 2030. Sumber energi yang berasal dari fosil, yang saat ini
menyumbang 87,7 persen dari total kebutuhan energi dunia diperkirakan akan
mengalami penurunan disebabkan tidak lagi ditemukannya sumber cadangan baru.
Cadangan sumber energi yang berasal dari fosil diseluruh dunia
diperkirakan hanya sampai 40 tahun untuk minyak bumi, 60 tahun untuk gas alam,
dan 200 tahun untuk batu bara. Kondisi keterbatasan sumber energi di tengah
semakin meningkatnya kebutuhan energi dunia dari tahun ketahun (pertumbuhan
konsumsi energi tahun 2004 saja sebesar 4,3 persen), serta tuntutan untuk
melindungi bumi dari pemanasan global dan polusi lingkungan membuat tuntutan
untuk segera mewujudkan teknologi baru bagi sumber energi yang terbaharukan.
Di antara sumber energi terbaharukan yang saat ini banyak dikembangkan
seperti turbin angin, tenaga air (hydro power), energi gelombang air laut, tenaga
surya, tenaga panas bumi, tenaga hidrogen, dan bio-energi, tenaga surya atau solar
sel merupakan salah satu sumber yang cukup menjanjikan.
Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima
oleh permukaan bumi sebesar 69 persen dari total energi pancaran matahari. Suplai
energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar
biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun, energi ini setara dengan 2
x 1017 Watt.
Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di
seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1 persen saja permukaan
bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10 persen sudah mampu untuk
menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini.

II.8 Dampak Pemanfaatan Energi Matahari

Menggunakan energi surya tidak mengakibatkan polusi udara atau polusi


air, dan tidak juga menghasilkan gas rumah kaca, tetapi tetap memiliki beberapa
dampak tidak langsung terhadap lingkungan. Misalnya, ada beberapa bahan
beracun dan bahan kimia, dan berbagai pelarut dan alkohol yang digunakan dalam
proses pembuatan selfotovoltaik (PV), yang mengkonversi sinar matahari menjadi
listrik. Sejumlah kecil bahan-bahan limbah juga dihasilkan.
Selain itu, pembangkit listrik panas matahari yang besar dapat merusak
ekosistem gurun jika tidak dikelola dengan baik. Burung dan serangga dapat
terbunuh jika mereka terbang melewati konsentrasi sinar matahari, seperti yang
diciptakan oleh "Menara Tenaga Surya". Beberapa sistem pembangkit panas
matahari menggunakan cairan berbahaya (untuk mentransfer panas) yang
memerlukan penanganan dan pembuangan khusus.
Sistem tenaga surya mungkin memerlukan air untuk pembersihan
konsentrator dan receiver secara rutin, begitu juga dengan pendinginan turbin-
generator. Menggunakan air dari sumur bawah tanah dapat mempengaruhi
ekosistem di beberapa lokasi yang gersang.
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Energi Surya merupakan salah satu energi alternatif yang tiada habisnya dan
dapat dimanfaatkan untuk menggantikan sumber energi utama. Sebagai negara
tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup besar, sehingga
Pemerintah Indonesia sedang giat mengembangkan energi ini. Sebagian besar
wilayah Indonesia terdiri atas pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau oleh jaringan
PLN dan tergolong sebagai kawasan terpencil. Untuk memenuhi kebutuhan energi
di daerah-daerah semacam ini, salah satu jenis energi yang potensial untuk
dikembangkan adalah energi surya. Di sisi lain, dalam sistemnya energi surya
mudah dioperasikan, tidak menyebabkan pencemaran lingkungan, serta
membutuhkan biaya pemeliharaan maupun operasi yang rendah.

III.2 Saran

Untuk mendukung program Pemerintah tentang Energi Surya, aspek utama


yang harus diperhatikan adalah peningkatan kuantitas dan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM). Dengan kualitas SDM yang cukup baik, maka dapat didirikan
industri yang memproduksi Sel Surya. Berdirinya industri tersebut juga membantu
mengatasi kebutuhan akan modul surya maupun suku cadang penunjang sel surya.
Terakhir, sosialisasi tentang Energi Surya kepada masyarakat luas merupakan hal
yang tak kalah penting. Masyarakat perlu tahu keuntungan yang didapatkan dalam
penggunaan Energi Surya. Dengan melakukan beberapa poin diatas, dipastikan
kendala-kendala seperti yang tertera pada bab sebelumnya dapat teratasi.