Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BAHAN ALAM FARMASI

EKSTRAKSI DAN PEMEKATAN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bahan Alam Farmasi

Disusun oleh :
Kelompok 6

Deden Kurniawan 31114120 Nafa Farihah 31114144


Elan Ahmad Jaenudin 31114126 Ranti Janatul Adhni 31114152
Elia Sunarti Hasanah 31114128 Siti Nurlida 31114160
Ine Yuliana Galuh 31114136

Farmasi 4C

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2017
A. Judul Praktikum : Ekstraksi dan Pemekatan dari simplisia daun

limus.

B. Tanggal Praktikum : 25 September 2017.

C. Tujuan Praktikum : 1. Melakukan penyarian simplisia daun limus

dengan metode maserasi

2. Setelah melakukan praktikum ini dapat

mengerti dan mampu melakukan ekstraksi

metabolit sekunder dari suatu simplisia

dengan maserasi

D. Dasar Teori

Ekstraksi adalah proses penarikan senyawa kandungan kimia

metabolit sekunder dengan pelarut yang sesuai. Karena dalam simplisia

terkandung lebih dari satu macam metabolit sekunder, maka ekstraksi yang

dimaksud adalah penarikan kandungan total metabolit sekunder (walaupun

termasuk juga metabolit primer, namun dalam hal ini yang diutamakan adalah

metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas farmakologi). Pelarut untuk

keperluan ini adalah pelarut yang umum dapat melarutkan hampir sempurna

seluruh jenis metabolit sekunder yang terkandung dalam simplisia. Menurut

aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, pelarut yang boleh

digunakan untuk ekstraksi adalah:

a. Etanol

b. Air

c. Campuran etanol air


1. Berdasarkan suhu pada saat ekstraksi dilakukan, ekstraksi terdiri atas:

a) Ekstraksi panas, dilakukan untuk senyawa yang termostabil. Contoh

ekstraksi ini adalah infudasi, dekoktasi, sokletasi, dan refluks.

Keuntungan ekstraksi dengan cara ini adalah lebih cepat dibanding

dengan ekstraksi dingin.

 Infudasi, metode ekstraksi dengan cara menggodog simplisia

menggunakan pelarut air selama 15 menit pada suhu 90̊C.

 Dekoktasi, metode ekstraksi dengan cara menggodog simplisia

menggunakan pelarut air selama 30 menit pada suhu 90̊C.

 Sokletasi, metode ekstraksi panas sinabung menggunakan pelarut

yang sesuai dalam alat Soxhlet. Ekstraksi ini merupakan ekstraksi

sinambung yang dilakukan hingga seluruh metabolit sekunder

terekstraksi sempurna.

 Refluks, metode ekstraksi dengan pelarut pada temperatur didihnya

selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan

pengulangan proses sebanyak 3-5 kali hingga senyawa terekstraksi

sempurna.

b) Ekstraksi dingin, dilakukan untuk senyawa termolabil, yaitu yang

mudah menguap atau terurai pada suhu tinggi. Contoh ekstraksi ini

adalah maserasi dan perkolasi.

 Maserasi,ekstraksi yang dilakukan dengan cara merendam simplisia

dengan pelarut tertentu (biasanya etanol atau campuran etanol-air)


dalam suatu wadah yang tertutup yang disebut maserator. Setelah

waktu tertentu, ekstrak dikeluarkan dari maserator. Maserasi dapat

dilakukan berulang kali. Ekstrak diperoleh dengan cara ini disebut

maserat.

 Perkolasi, ekstraksi yang dilakukan dengan cara melewatkan cairan

pelarut melalui simplisia yang ditempatkan dalam wadah yang

disebut perkolator. Seperti halnya pada maserasi, pelarut yang

digunakan biasanya etanol atau campuran etanol-air. Cairan pelarut

dilewatkan berulang hingga seluruh metabolit sekunder yang

diinginkan dikirakan telah tertarik sempurna. Kelemahan cara ini

adalah jumlah pelarut yang digunakan relatif banyak

2. Berdasarkan banyaknya ulangan proses, dikenal dua jenis ekstraksi, yaitu:

a) Ekstraksi satu kali (batch extraction), yaitu ekstraksi yang dilakukan

hanya satu kali, contohnya infudasi, dekoktasi dan maserasi.

b) Ekstraksi berulangkali, yaitu ekstraksi yang dilakukan berulangkali,

sinambung ataupun tidak sinambung. Contoh ekstraksi ini adalah

perkolasi dan sokletasi. Ekstraksi berulangkali menghasilkan ekstrak

dengan kkadar metabolit sekunder yang lenih pekat dibandingkan

dengan ekstraksi satu kali.

E. Alat dan Bahan

Alat : Bahan :
Mikroskop Neraca digital
 Simplisia daun Jati
 Kloralhidrat
 Aquadest
 Etanol 70%

Erlenmeyer Gelas kimia

Cawan Kertas Saring

Maserator Corong

F. PROSEDUR
1. Karakteristik Simplisia
a. Makroskopik

Amati bentuk, warna, bau, rasa dari simplisia yang digunakan (daun
jati)

b. Mikroskopik

sedikit serbuk simplisia diletakan di atas kaca objek

Tetesi dengan larutan kloralhidrat 10%

Diperiksa dengan mikroskop perbesaran 100 X dan 400X


c. Kadar sari larut air

Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimaserasi dengan 100 mL air,


kloroform Lp selama 24 jam setiap 6 kam dikocok sekali-kali

diamkan 18 jam dan disaring

Filtrat air sebanyak 20 mL diuapkan dalam cawan dangkal berdasar


rata yang telah ditara

Residu dipanaskan pada suhu 150C hingga botol tetap

Kadar sari larut air dihitung daam persen terhadap bobot awal
simplisia

d. Kadar Sari Larut Etanol

Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 100 mL etanol


95% selama 24 jam, setiap 6 jam dikocok sesekali

Dibiarkan 18 jam dan disaring cepat untuk menghindari penguapan


etanol

Filtrat sebanyak 20 mL diuapkan dalam cawan dangkal berdasarkan


rata yang telah ditara

Residu dipanaskan pada suhu 105C sampai bobot tetap

Kadar sari larut etanol dihitung dalam persen terhadap bobot awal
simplisia
2. EKSTRAKSI

Ditimbang sebanyak 300 gram daun jati

Tambahkan pelarut etanol 70 % kedalam maserator


sampai seluruh simplisia terenam ( 1 liter)

Maserasi dilakukan selama 3 X 24 jam dimana setiap 24


jam dilakukan penggantian pelarut

Maserat yang didapat kemudian ditampug dan dilakukan


pemekatan dengan menggunakan water bath digital

G. Hasil Pengamatan

Nama Simplisia : Daun Jati (Tectona grandis)

Metode Ekstraksi : Ekstraksi dingin (maserasi)

EKSTRAKSI
NO KETERANGAN HASIL GAMBAR
1 Jumlah simplisia Simplisia yang ditimbang
yang digunakan sebanyak 300 gram
2 Jumlah pelarut Pelarut yang digunakan yaitu
yang digunakan etanol 70% yang
mengandung HCl 1% jumlah
pelarut yang digunakan
sebanyak 3,75 L untuk 3 kali
penggantian pelarut

3 Waktu ekstraksi Maserasi dilakukan selama


3x24 jam

4 Jumlah ekstrak Dari hasil maserasi diperoleh


yang diperoleh ekstrak encer sebanyak 2,8 L

H. Perhitungan

bobot ekstrak kental


(%) rendemen = x 100%
bobot simplisia yang digunakan

Keterangan : belum mendapatkan ekstrak kental masih dalam proses


pemekatan
I. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini yaitu dilakukan ekstraksi dan pemekatan

ekstrak dari simplisia. Simplisia yang digunakan yaitu simplisia daun jati

(Tectona grandis), ekstraksi sendiri merupakan suatu proses penarikan

senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan lain-lain menggunakan

pelarut tertentu. Pemilihan metoda ekstraksi tergantung pada tekstur,

kandungan air dan jenis senyawa yang diisolasi dari suatu tumbuhan/ hewan,

sehingga senyawa kimia yang diekstraksi dapat tertarik sempurna tanpa

mengalami perubahan sifat dan strukturnya. Ekstraksi dilakukan dengan

menggunakan pelarut yang sesuai. Untuk memilih pelarut yang akan dipakai

dalam ekstraksi harus diketahui sifat kandungan kimia metabolit sekunder

yang akan diisolasi. Senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar dan

senyawa non polar mudah larut dalam non polar.(Harborne, 1987).

Tujuan dilakukan ekstraksi pada simplisia daun jati ini yaitu untuk

mendapatkan senyawa metabolit sekunder berupa antosianin. Daun jati

(Tectona grandis) termasuk kedalam tanaman famili Verbeneceae yang bisa

dijadikan sebagai pewarna alami karena megandung pigmen warna antosianin

(Ati, dkk dalam Fathinnatulabibah, dkk 2014). Antosianin sendiri merupakan

pigmen yang dapat memberikan warna biru, ungu, violet, magenta, merah dan

oranye pada bagian tanaman. Pigmen tersebut tidak bersifat toksik dan aman

untuk dimakan, namun antosianin ini sangat reaktif , mudah teroksidasi

maupun tereduksi serta ikatan glikosida mudah terhidrolisis (Hutching, 1999).


Untuk memulai ekstraksi, proses awal yang dilakukan yaitu

pembuatan ekstrak dengan tahapan pembuatan serbuk simplisia kering

(penyerbukan). Dari simplisia (daun jati) dibuat serbuk simplisia dengan cara

di blender. Kemudian dilakuan pengayakan dengan ayakan mesh 50. Proses

tersebut dapat mempengaruhi mutu ekstrak dengan dasar semakin halus

serbuk simplisia maka proses ekstraksi makin efektif efisien namun semakin

halus serbuk , maka akan semakin rumit secara teknologi peralatan untuk

tahap filtrasi.

Ekstraksi yang dilakukan pada simplia daun jati ini dilakukan dengan

ekstraksi cara dingin yaitu dengan cara maserasi. Pertama yang dilakukan

yaitu memaserasi simplisia sebanyak 300 gram dengan menggunakan pelarut

etanol 70% yang menganding HCL 1% dengan perbandingan 1 : 25 selama 3

x 24 jam, tujuan dilakukannya maserasi yaitu agar simplisia dapat terekstraksi

dan tertarik oleh pelarut. Ketika simplisia di rendam dalam pelarut (maserasi)

cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang kaya

akan zat aktif, karena adanya pertemuan antara zat aktif dan penyari, maka

terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari

yang masuk kedalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif. Akibat

adanya perbedaan konsentrasi zat aktif didalam dan diluar sel ini akan muncul

gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha

mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan diluar sel.

Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan

konsentrasi (jenuh). Dalam kondisi ini, proses ekstrasi dinyatakan selesai,


akan zat aktif didalam dan diluar sel akan memiliki konsentrasi yang sama,

yaitu masing-masing 50%. Adanya waktu penyimpanan untuk tahap maserasi

ini yaitu untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan serta tidak ikut

terlarut dalam cairan penyari.

Pada maserasi simplisia daun jati ini pelarut yang digunakan yaitu

etanol 70% yang diasamkan dengan HCL 1%, karena antosianin sendiri

bersifat polar sehingga harus dilarutkan dalam pelarut yang bersifat polar

juga. Pelarut yang paling efektif untuk melarutkan antosianin adalah

methanol yang diasamkan dengan HCL, tetapi karena sifatnya yang toksik

dari methanol, maka dalam sistem pangan digunakan air atau etanol yang

diasamkan dengan HCL. Fungsi penambahan HCL dalam etanol yaitu untuk

mendenaturasi membrane sel tanaman kemudian melarutkan pigmen

antosianin keluar dari sel. Antosianin bila dalam suasana asam berada dalam

bentuk garam flavilium yang lebih stabil, sedangkan pada pH yang semakin

besar akan menyebabkan warna ekstrak menjadi memudar dan berubah

menjadi warna biru.

Pada saat maserasi dilakukan selama 3 x 24 jam ,maksudnya yaitu

dilakukan selama tiga hari dengan tiga kali penggantian pelarut. Setelah 24

jam ganti pelarut dengan pelarut baru dan selanjutnya perlakukan sama

dengan yang pertama. Penggantian pelarut dilakukan untuk mempercepat

proses ekstraksi, karena pelarut pertama kemungkinan sudah jenuh oleh

senyawa sehingga tidak dapat melarutkan kembali senyawa yang diharapkan.


Setelah 3 x 24 jam kumudian maserat yang dihasilkan ditampung didalam

wadah kemudian diukur maserat yang dihasilkan.

Setelah didapatkan maserat (ekstrak encer), kemudian dilakukan

dilakukan pemekatan ekstrak, tujuannya yaitu untuk memekatkan ekstrak dan

memisahkan antar pelarut dan senyawa aktif (antosianin). Pemekatan ini

dilakukan dengan menggunakan water bath, penguapan di atas waterbath

dapat menciptakan suhu yang konstan, karena pada dasarnya waterbath

merupakan wadah yang berisis air yang bisa mempertahankan suhu air pada

kondisi tertentu selama selang waktu yang dibutuhkan. Pada penguapan,

terbentuknya uap berjalan sangat lambat, sampai cairan tersebut mendidih.

Selama mendidih uap tersebut terlepas melalui gelembung-gelembung udara

yang terlepas dari cairan sehingga yang tersisa dalam wadah hanya senyawa

aktifnya saja. Setelah proses penguapan selesai maka akan didapatkan ekstrak

kental.

Ektrak kental merupakan ekstrak yang telah mengalami proses

pemekatan. Ekstrak kental ini merupakan salah satu tahap sebelum diproses

menjadi ekstrak kering. Banyak atau tidaknya ekstrak kental yang diperoleh

dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :

1. Jumlah sampel yang diekstraksi sedikit

2. Waktu maserasi yang singkat sehingga pelarut belum dapat menarik

seyawa-senyawa yang terdapat pada sampel sehingga belum mencapai titik

keseimbangan.

3. Tidak dilakukan proses remaserasi.


Ekstrak cair yang diperoleh dari proses maserasi dengan pergantian

pelarut selama 3x24 jam dari simplisia daun jati sebanyak 300 gram diperoleh

2,8 liter dengan ekstrak kental yang diperoleh belum bisa di cantumkan

karena belum dapat dihitung dikarenakan proses pemekatan belum selesai.

Pemekatan yang telah dilakukan hanya sebagian saja untuk pengujian

selanjutnya yaitu ditentukan karakteristik kimia nya dengan pengujian

skrining fitokimia dan uji klt untuk mengetahui kandungan senyawa dalam

ekstrak dun jati tersebut

J. Kesimpulan

Ekstrak cair atau maserat dari proses maserasi terhadap daun jati

sebanyak 300gram diperoleh sebanyak 2,8 liter dengan ekstrak kental yang

masih belum dapat dicantumkan.

Daftar Pustaka

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis

Tumbuhan. Bandung : ITB

Fathinatullabibah, Kawiji, Umi Lia Khasanah. 2014. Stabilitas Antosianin Ekstrak

Daun Jati (Tectona grandis) terhadap Perlakuan pH dan Suhu. Jurnal

Aplikasi Teknologi Pangan 3 (2). Universitas Sebelas Maret: Surakarta.

Hutching JB. 1999. Food Color and Apearance. Marylan: Aspen publisher Inc.

Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta: UGM Press.