Anda di halaman 1dari 2

PERANKU BAGI INDONESIA

Ada pepatah yang mengatakan ‘apalah arti sebuah nama’, namun bagi saya sebuah
nama sangat berarti dan merupakan doa yang tulus dari orang tua. Di situlah motivasi dan
pelajaran terbesar bagi perjalanan hidup saya. Kedua orang tua memberi nama “Ayudiah
Uprianingsih” yang artinya ‘Anak yang Utama dari Ibu dan Ayah di Ujung Pandang
Rantauan’, sedangkan Ningsih adalah nama seorang sahabat yang telah berjasa dalam hidup
kedua orang tua dan disematkan di ujung nama saya. Ayah dan Ibu memiliki harapan besar
dibalik nama tersebut bahwa kelak, sebagai anak pertama, saya bisa menjadi teladan bagi
adik-adik, selalu menjadi yang utama dalam mengerjakan kebaikan serta bisa membanggakan
orang tua. Saya lahir di Ujung Pandang – Sulawesi Selatan (sekarang Makassar). Mungkin
lebih tepatnya hanya numpang lahir, karena di umur tiga tahun saya dan orang tua harus
kembali ke daerah kami yaitu di Kabupaten Bima – Nusa Tenggara Barat.
Ayah dan Ibu merantau di Ujung Pandang untuk mengenyam pendidikan yang lebih
baik, walaupun orang tua saya merupakan anak petani di kampung yang hidupnya penuh
kegetiran, tapi keduanya memiliki motivasi yang besar untuk memperoleh pendidikan lebih
tinggi sehingga bisa bangkit dari kegetiran tersebut. Setelah bertahun-tahun mengadu nasib di
Ujung Pandang menjadi guru serabutan sampai buruh bangunan akhirnya Ayah memutuskan
kembali ke kampung halaman. Beberapa tahun kemudian, Ayah lulus menjadi PNS dan
mengabdi di salah satu Sekolah Menengah Pertama di sebuah desa terpencil, terletak di kaki
Gunung Tambora. Desa tersebut bernama Desa Calabai.
Desa Calabai adalah sebuah desa yang memiliki pemandangan alam yang indah,
pantai eksotik nan bersih dan juga penduduk yang ramah. Namun sayangnya, akses jalan,
kesehatan, dan listrik masih sangat terbatas. Apatah lagi daerah ini merupakan salah satu
daerah endemis Malaria, sehingga beberapa kali kami sekeluarga terserang penyakit Malaria.
Namun saya-lah yang paling tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan di sana. Saya sering
sakit-sakitan, akhirnya dengan kondisi tersebut saya diantar kembali ke Desa Kananga dan di
asuh oleh Kakek dan Nenek. Selama enam tahun Ayah menjadi pengajar di sana, di sebuah
sekolah yang mayoritas siswanya belum bisa membaca, semangat beliau mendidik siswa-
siswanya adalah teladan utama dalam hidup saya. Ayah selalu berpesan bahwa pendidikan itu
penting. Kedua orang tua selalu berjuang agar kami, anak-anaknya, mendapatkan pendidikan
yang lebih tinggi dari mereka. Dan pada akhirnya, perjuangan beliau bisa mengantarkan saya
menjadi seorang Sarjana Keperawatan dan tahun ini telah menyelesaikan Kuliah Profesi Ners
dengan predikat Cumlaude.
Sebagai putri daerah Kabupaten Bima yang telah menyelesaikan Pendidikan
Keperawatan dan Profesi Ners, maka niat saya selanjutnya bisa kembali mengabdi ke daerah
dan memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat. Masih banyak hal-hal yang
harus dikembangkan dan ditingkatkan di daerah kami yang merupakan salah satu daerah
tertinggal di Indonesia, khususnya dari aspek kesehatan. Harapan ke depannya, saya bisa
menjadi inspirasi bagi generasi penerus bahwa putra-putri daerah adalah aset berharga bagi
bangsa dan negara.
Cita-cita dan mimpi terbesar saya ialah bisa mendirikan sebuah Lembaga atau
Yayasan Peduli Kesehatan Anak dan Remaja yang berbasis Perawatan Holistik (Holistic
Care) yaitu didasarkan pada konsep keperawatan holistik yang meyakini bahwa penyakit
yang dialami seseorang bukan saja merupakan masalah fisik yang hanya dapat diselesaikan
dengan pemberian obat semata, tetapi pelayanan keperawatan holistik memberikan pelayanan
kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia meliputi
kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi. Selain itu, saya
juga ingin menjadi perawat edukator atau perawat pendidik. Dengan menjadi perawat
pendidik, saya berharap bisa memberikan sumbangsih untuk kemajuan daerah. Peran sebagai
pengajar dan pendidik bersifat luas, bukan hanya di ranah formal dalam institusi pendidikan,
namun juga di tengah keluarga dan masyarakat. Hal tersebut harus dilakukan secara
berkelanjutan, sebab pendidikan adalah salah satu aspek fundamental majunya sebuah
bangsa.
Untuk mewujudkan cita-cita dan impian saya dalam mengabdi kepada daerah, bangsa
dan negara, serta membanggakan orang tua adalah dengan mendapatkan beasiswa LPDP jalur
affirmasi. Besar harapan saya untuk termasuk salah satu penerima beasiswa LPDP.
Kesempatan ini akan menjadi motivasi yang kuat bagi saya agar bisa memberikan kontribusi
yang terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia.