Anda di halaman 1dari 16

Mata Kuliah

: Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Dosen

: Dr, dr. Arifin Seweng, MPH

Tugas

: Individu

ANTENATAL CARE TERPADU

Mata Kuliah : Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dosen : Dr, dr. Arifin Seweng, MPH Tugas

Oleh:

Hildayanti Syamsul

K012171097

KONSENTRASI KESEHATAN REPRODUKSI PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

A. Pendahuluan

  • 1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri agar pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Dalam pelaksanaannya, pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan azas perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian serta adil dan merata dengan mengutamakan aspek manfaat utamanya bagi kelompok rentan seperti ibu, bayi, anak, usia lanjut dan keluarga tidak mampu. Upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita, meningkatkan status gizi masyarakat serta pencegahan dan penanggulangan penyakit menular masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional bidang kesehatan sebagaimana tercantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Kesehatan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014. Untuk meningkatkan status kesehatan ibu, puskesmas dan jaringannya serta rumah sakit rujukan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan, baik yang bersifat promotif, preventif, maupun kuratif dan rehabilitatif. Upaya tersebut berupa pelayanan kesehatan pada ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, penanganan komplikasi, pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Setiap ibu hamil diharapkan dapat menjalankan kehamilannya dengan sehat, bersalin dengan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Oleh karena itu, setiap ibu hamil harus dapat dengan mudah mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapat pelayanan sesuai standar, termasuk deteksi kemungkinan adanya masalah/penyakit yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janinnya. Ada beberapa masalah/penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan, pertumbuhan janin dan bahkan dapat menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan yang kelak dapat mengancam kehidupan ibu dan bayi serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin

seperti kurang energi kronis, anemia gizi besi, kurang yodium, HIV/AIDS, Malaria, TB dan lain sebagainya. Melihat kenyataan tersebut, maka pelayanan antenatal harus dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan berkualitas agar adanya masalah/penyakit tersebut dapat dideteksi dan ditangani secara dini. Melalui pelayanan antenatal yang terpadu, ibu hamil akan mendapatkan pelayanan yang lebih menyeluruh dan terpadu, sehingga hak reproduksinya dapat terpenuhi, missed opportunity dapat dihindari serta pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan secara lebih efektif dan efisien. Hasil pengamatan lapangan yang dilaksanakan secara intensif dalam beberapa tahun terakhir, memperlihatkan bahwa pelayanan antenatal

masih terfokus pada pelayanan 7T (timbang, tensi, tinggi fundus, Tetanus Toxoid, tablet tambah darah, temu wicara, dan tes laboratorium). Hal ini menyebabkan berbagai masalah/penyakit yang diderita ibu hamil tidak terdeteksi secara dini.

2. Tujuan

Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu hamil. Tujuan umum adalah :

untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat. Tujuan khusus adalah :

1) Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil,

konseling KB dan pemberian ASI. 2) Menghilangkan “missed opportunity” pada ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan berkualitas.

3) Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang diderita ibu hamil.

5) Melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanan kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang ada.

  • B. Peraturan dan Undang-Undang Pendukung

    • 1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Upaya Kesehatan Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 825);

    • 2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, Serta Pelayanan Kesehatan Seksual.

  • C. Isi Program

    • a. Antenatal Care 1) Pengertian Antenatal Care adalah pelayanan yang diberikan pada ibu hamil

  • untuk memonitor, mendukung kesehatan ibu dan mendeteksi ibu apakah ibu hamil normal atau bermasalah. (Rukiah, Yulianti, Maemunah, & Susilawati, 2013) 2) Tujuan kunjungan

    • a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.

    • b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik,maternal dan sosial ibu dan bayi.

    • c) Mengenali secara dini ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.

    • d) Mempersiapkan persalinan yang cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

    • e) Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.

    • f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dapat menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Rukiah, Yulianti, Maemunah, & Susilawati, 2013)

    3) Jadwal kunjungan Sebaiknya setiap wanita hamil memeriksakan diri ketika haidnya

    terlambat sekurang-kurangnya satu bulan. Pemeriksaandilakukan setiap 6 minggu sampai kehamilan. Sesudah itu, pemeriksaan dilakukan setiap 2 minggu. Dan sesudah 36 minggu. Kunjungan kehamilan sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.

    • a) Satu kali pada trimester pertama

    • b) Satu kali pada trimester kedua

    • c) Dua kali pada trimester ketiga. (Rukiah, Yulianti, Maemunah, &

    Susilawati, 2013)

    • b. Pelayanan antenatal terpadu Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu hamil serta terpadu dengan program lain yang memerlukan intervensi selama kehamilannya Tujuan ANC terpadu adalah untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas, sehingga mampu

    menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat. (Sari, Ulfa, & Daulay, 2015) Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas secara keseluruhan meliputi hal-hal sebagai berikut:

    • a) Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar kehamilan berlangsung sehat;

    • b) Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan

    • c) Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman;

    • d) Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi.

    • e) Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan

    • f) Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit/komplikasi.

    INDIKATOR

    • 1. Kunjungan pertama (K1) K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8.

    • 2. Kunjungan ke-4 (K4) K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut: sekali pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester ke-2 (>12 - 24 minggu), minimal 2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 24 sampai dengan minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam K4.

    • 3. Penanganan Komplikasi (PK) Penanganan Komplikasi (PK) PK adalah penanganan komplikasi kebidanan, penyakit menular maupun tidak menular serta masalah gizi yang terjadi pada waktu hamil, bersalin dan nifas. Pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi. Komplikasi kebidanan, penyakit dan masalah gizi yang sering terjadi adalah: perdarahan, preeklampsia/eklampsia, persalinan macet, infeksi, abortus, Malaria, HIV/AIDS, Sifilis, TB, Hipertensi, Diabete Meliitus, anemia gizi besi (AGB) dan kurang energi kronis (KEK).

    • c. Standar pelayanan antenatal Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari: 1) Timbang berat badan Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.

    2)

    Ukur lingkar lengan atas (LiLA)

    dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah e”

    3)

    Ukur lingkar lengan atas (LiLA). Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). Ukur tekanan darah.

    Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal

    4)

    140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria) Ukur tinggi fundus uteri

    5)

    Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu. Hitung denyut jantung janin (DJJ)

    6)

    Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin. Tentukan presentasi janin;

    7)

    Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah lain. Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT) Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil

    8)

    diskrining status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi ibu saat ini. Beri tablet tambah darah (tablet besi),

    9)

    Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama. Periksa laboratorium (rutin dan khusus) Pemeriksaaan Laboraturium Meliputi:

    • a) Pemeriksan Golongan Darah

    • b) Pemeriksaan kadar hemoglobim darah (Hb)

    • c) Pemeriksaan protein dalam Urine

    • d) Pemeriksaan kadar gula darah

    • e) Pemeriksaan darah Malaria

    • f) Pemeriksaan tes Sifilis

    • g) Pemeriksaan HIV

    • h) Pemeriksaaan BTA

    10) Tatalaksana/penanganan Kasus Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil

    pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan. 11) KIE Efektif KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:

    • a) Kesehatan Ibu

    • b) Perilaku Hidup bersih dan sehat

    • c) Peran suami/kelurga dalam kehamilan dan prencanaan prsalinana

    • d) Tanda bahaya pada kehamilna, persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi komplikasi

    • e) Asupan gizi seimbang

    • f) Gejala penyakit menulatr dan tidak menural

    • g) Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertetu (risiko tinggi)

    • h) Inisiasi dan menyusui dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif

    • i) KB pasca kehamilan

    • j) Iminusasi

    • k) Peningkatan kesehatan intelegensi pada kehamilan

    Standar asuhan minimal kehamilan termasuk dalam "14T". 1) Ukur Berat badan dan Tinggi Badan ( T1 ). Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari sebelum hamil dihitung dari TM I sampai TM III yang berkisar anatar 9-13,9 kg dan kenaikan berat badan setiap minggu yang tergolong normal adalah 0,4

    - 0,5 kg tiap minggu mulai TM II. Berat badan ideal untuk ibu hamil sendiri tergantung dari IMT (Indeks Masa Tubuh) ibu sebelum hamil. Indeks massa tubuh (IMT) adalah hubungan antara tinggi badan dan berat badan. Ada rumus tersendiri untuk menghitung IMT anda yakni :

    IMT = Berat Badan (kg)/(Tinggi Badan (cm)) 2 Tabel 2.4 Klasifikasi Nilai IMT

    Kategori

    IMT

    Rekomendasi (kg)

    Rendah

    < 19,8

    12,5 18

    Normal

    19,8 26

    11,5 16

    Tinggi

    26 29

    7 11,5

    Obesitas

    > 29

    ≥ 7

    Gemeli

    -

    16 20,5

    Sumber : (Prawirohadjo, 2013)

    Prinsip dasar yang perlu diingat: berat badan naik perlahan dan

    bertahap, bukan mendadak dan drastis. Pada trimester II dan III

    perempuan dengan gizi baik dianjurkan menambha berat badan 0,4

    kg. Perempuan dengan gizi kurang 0,5 kg gizi baik 0,3 kg. Indeks

    masa tubuh adalah suatu metode untuk mengetahui penambahan

    optimal, yaitu:

    • a) 20 minggu pertama mengalami penambahan BB sekitar 2,5 kg

    • b) 20 minggu berikutnya terjadi penambahan sekitar 9 kg

    c) Kemungkinan penambahan BB hingga maksimal 12,5 kg. (Sari,

    Ulfa, & Daulay, 2015)

    Pengukuran tinggi badan ibu hamil dilakukan untuk mendeteksi faktor

    resiko terhadap kehamilan yang sering berhubungan dengan keadaan

    rongga panggul.

    2) Ukur Tekanan Darah (T2)

    Diukur dan diperiksa setiap kali ibu datang dan berkunjung.

    Pemeriksaan tekanan darah sangat penting untuk mengetahui standar

    normal, tinggi atau rendah. Tekanan darah yang normal 110/80 -

    120/80 mmHg.

    3) Ukur Tinggi Fundus Uteri (T3)

    Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan tehnik Mc. Donald adalah

    menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa di

    bandingkan dengan hasil anamnesis hari pertama haid terakhir

    (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai dirasakan. TFU yang normal

    harus sama dengan UK dalam minggu yang dicantumkan dalam

    HPHT.

    4) Pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)

    Tablet ini mengandung 200mg sulfat Ferosus 0,25 mg asam folat yang

    diikat dengan laktosa. Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk

    memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena pada masa

    kehamilan kebutuhannya meningkat seiring pertumbuhan janin. Zat

    besi ini penting untuk mengkompensasi penigkatan volume darah

    yang terjadi selama kehamilan dan untuk memastikan pertumbuhan

    dan perkembangan janin.

    5)

    Pemberian Imunisasi TT (T5)

    Imunisasi tetanus toxoid adalah proses untuk membangun

    kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus.

    Vaksin tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan

    kemudian dimurnikan. Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) artinya

    pemberian kekebalan terhadap penyakit tetanus kepada ibu hamil dan

    bayi yang dikandungnya.

    Umur kehamilan mendapat imunisasi TT :

    • a) Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan

    untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005).

    • b) TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil dimana biasanya

    diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan

    (Depkes RI, 2000).

    Jadwal Imunisasi TT :

    Sesuai dengan WHO, jika seorang ibu yang tidak pernah

    diberikan imunisasi tetanus maka ia harus mendapatkan paling

    sedikitnya dua kali (suntikan) selama kehamilan (pertama pada saat

    kunjungan antenatal dan kedua pada empat minggu kemudian)Jarak

    pemberian (interval) imunisasi TT 1 dengan TT 2 minimal 4 minggu

    (Saifuddin dkk, 2001 ; Depkes RI, 2000) . (Sari, Ulfa, & Daulay, 2015)

    Tabel 2.5 Jadwal Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid

    Antigen

    Interval

    Lama

    perlindungan

    %

    Perlindungan

    TT 1

    TT 2

    TT 3

    TT 4

    TT 5

    Pada

    kunjungan

    antenatal pertama

    4

    minggu setelah

    TT1

    6

    bulan

    TT2

    setelah

    1

    tahun

    TT3

    1

    taun

    TT4

    setelah

    setelah

    -

    -

    3

    tahun

    5

    tahun

    80

    95

    10 tahun

    99

    25 tahun/seumur hidup

    99

    Sumber : (Saifuddin dalam Sari, Ulfa, & Daulay, 2015)

    6) Pemeriksaan Hb (T6)

    Pemeriksaan Hb yang sederhana yakni dengan cara Talquis

    dan dengan cara Sahli. Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan

    ibu hamil pertama kali, lalu periksa lagi menjelang persalinan.

    Pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya untuk mendeteksi Anemia

    pada ibu hamil.

    7)

    Pemeriksaan Protein urine (T7)

    Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui adanya protein dalam urin

    ibu hamil. Adapun pemeriksaannya dengan asam asetat 2-3%

    ditujukan pada ibu hamil dengan riwayat tekanan darah tinggi, kaki

    oedema. Pemeriksaan protein urin ini untuk mendeteksi ibu hamil

    kearah preeklampsia.

    8) Pemeriksaan VDRL (Veneral Disease Research Lab) (T8)

    Pemeriksaan Veneral Desease Research Laboratory (VDRL) adalah

    untuk mengetahui adanya treponema pallidum/ penyakit menular

    seksual, antara lain syphilis. Pemeriksaan kepada ibu hamil yang

    pertama kali datang diambil spesimen darah vena ± 2 cc. Apabila hasil

    tes dinyatakan postif, ibu hamil dilakukan pengobatan/rujukan. Akibat

    fatal yang terjadi adalah kematian janin pada kehamilan < 16 minggu,

    pada kehamilan lanjut dapat menyebabkan premature, cacat bawaan.

    9) Pemeriksaan urine reduksi (T9)

    Untuk ibu hamil dengan riwayat DM. bila hasil positif maka perlu

    diikuti pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya Diabetes

    Melitus Gestasioal. Diabetes Melitus Gestasioal pada ibu dapat

    mengakibatkan adanya penyakit berupa pre-eklampsia,

    polihidramnion, bayi besar.

    10) Perawatan Payudara (T10)

    Senam payudara atau perawatan payudara untuk ibu hamil,

    dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi dimulai pada usia kehamilan 6

    Minggu.

    11) Senam Hamil ( T11 )

    Senam hamil bermanfaat untuk membantu ibu hamil dalam

    mempersiapkan persalinan. Adapun tujuan senam hamil adalah

    memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut,

    ligamentum, otot dasar panggul, memperoleh relaksasi tubuh dengan

    latihan-latihan kontraksi dan relaksasi.

    12) Pemberian Obat Malaria (T12)

    Diberikan kepada ibu hamil pendatang dari daerah malaria juga

    kepada ibu hamil dengan gejala malaria yakni panas tinggi disertai

    mengigil dan hasil apusan darah yang positif. Dampak atau akibat

    penyakit tersebut kepada ibu hamil yakni kehamilan muda dapt terjadi

    abortus, partus prematurus juga anemia.

    13) Pemberian Kapsul Minyak Yodium (T13)

    Diberikan pada kasus gangguan akibat kekurangan Yodium di

    daerah endemis yang dapat berefek buruk terhadap tumbuh kembang

    manusia.

    14) Temu wicara / Konseling ( T14 ).(Pantiawati & Suryono, 2010).

    Pelayanan Standar Asuhan 17 T

    Tabel 2.6 Jenis Pemeriksaan Pelayanan Antenatal Terpadu

    No

    Jenis

    Pemeriksaan

    • 1 Keadaan Umum

    • 2 Suhu Badan

    • 4 Berat Badan

    • 5 LILA

    • 6 TFU
      7 Presentasi Janin

    • 8 DJJ
      9 Pemeriksaan HB
      10 Golongan Darah

    • 11 Protein Urin
      12 Gula Darah/reduksi

    • 13 Darah Malaria

    • 14 BTA

    • 15 Darah Sifilis

    • 16 Serologi HIV

    • 17 USG

    • 3 Tekanan Darah

    Trimester

    Trimester

    Trimester

    • III Keterangan

    • I II

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Rutin

    Atas indikasi

    Atas indikasi

    Atas indikasi

    Atas indukasi

    Atas indikasi

    Atas indikasi

    Sumber : (Kementrian Kesehatan RI, 2015)

    D. Masalah Program

    Secara nasional angka cakupan pelayanan antenatal saat ini sudah tinggi, K1 mencapai 94,24% dan K4 84,36% (data Kementerian Kesehatan tahun 2009). Walaupun demikian, masih terdapat disparitas antar provinsi dan antar kabupaten/kota yang variasinya cukup besar. Selain adanya kesenjangan, juga ditemukan ibu hamil yang tidak menerima pelayanan

    dimana seharusnya diberikan pada saat kontak dengan tenaga kesehatan (missed opportunity).

    • 1. Ibu hamil tidak rutin memeriksakan kehamilannya.

    • 2. Pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care serta tentang menjaga kesehatan selama kehamilan.masih kurang.

    • 3. Kurangnya penjelasan tentang pemeriksaan kehamilan serta tujuannya terhadap ibu hamil pada saat kunjungan.

    • 4. Pustu dan posyandu terkadang tidak melakukan pemeriksaan laboratorium rutin, petugas pustu dan posyandu hanya memberi rujukan untuk pemeriksaan laboratorium.

    • 5. Tidak ada edukasi kepada keluarga dan suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil.

    • 6. Standar pelayanan pemeriksaan antenatal belum dilaksanakan dengan baik.

    E. Rekomendasi

    Di harapkan kepada petuga kesehatan, masyarakat setempat terutama keluarga ibu hamil dapat melakukan asuhan kebidanan pada ibu yang hamil normal dengan baik dan benar. Dan kepada ibu hamil lebih baik sering

    melakukan pemeriksaan sedini mungkin agar mengetahui perkembangan janin yang dikandungnya dan apa saja yang dibutuhkannya baik diri sendiri maupun janinnya. Selain itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, maka pelayanan antenatal di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta dan praktik perorangan/kelompok perlu dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu, mencakup upaya promotif, preventif, sekaligus kuratif dan rehabilitatif, yang meliputi pelayanan KIA, gizi, pengendalian penyakit menular (imunisasi, HIV/AIDS, TB, Malaria, penyakit menular seksual), penanganan penyakit kronis serta beberapa program lokal dan spesifik lainnya sesuai dengan kebutuhan program.

    Referensi

    Rukiah,

    A.

    Y.,

    Yulianti, L.,

    Maemunah, & Susilawati, L. (2013).

    Kehamilan. Jakarta: CV. Trans Info Media.

    Asuhan Kebidanan

    Kementrian Kesehatan RI. (2015). Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta Selatan :

    Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.

    Anggrita, S., Mardiatul, U. I., & Ramalida, D. (2015). Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Bogor: IN MEDIA. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Kementrian Kesehatn Republik Indonesia 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Upaya Kesehata Anak. Rista Novitasari. 2017. Analisis Pelaksanaan Anc Terpadu Dalam Ketepatan Deteksi Dini Penyakit Penyerta Kehamilan Di Puskemas Imogiri 1 Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Pasca Sarjana Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta