Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

KEJANG DEMAM

Disusun Oleh :
IIS FETIANINGSIH
1711040069

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

A. DEFINISI
Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi
pada kenaikan suhu tubuh (suhu mencapai > 38C) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat
sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh
adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau
virus
Kejang demam di klasifikasikan menjadi dua yaitu:
1. Kejang demam sederhana
- Kejang berlangsung singkat
- Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu <10 menit.
- Tidak berulang dalam waktu 24 jam.
2. Kejang demam kompleks
- Kejang berlangsung lama, lebih dari >15 menit.
- Di dahului dengan kejang parsial.
- Kejang berulang 2 kali atau lebih dari 24 jam
Kejang demam menurut proses terjadinya:
1. Intrakranial
- Trauma perdarahan : perdarahan subarachnoid, subdural
- Infeksi : bakteri, virus, parasit misal meningitis.
- Kongenital : disgensis, kelainan serebri.
2. Ekstrakranial
- Gangguan metabolik : hipoglikemi, hipokalsemi, hipomagnesia,
gangguan elektrolit misal pada pasien riwayat diare sebelumnya.
- Toksisk : intoksikasi, anestesi lical, sindrom putus obat.
- Kongenital : gangguan metabolisme asam basa atau ketergantungan
dan kekurangan piridoksin
B. ETIOLOGI
Kejang demam disebabkan oleh hipertermia yang muncul secara cepat yang
berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri. Umumnya berlangsung singkat dan
mungkin terdapat predisposisi familial. Dan beberapa kejadian kejang dapat berlanjut
melewati masa anak anak dan mungkin dapat mengamali kejang non demam pada
kehidupan selanjutnya.
Beberapa faktor resiko berulangnya kejang yaitu :
- Riwayat kejang dalam keluarga
- Usia kurang dari 18 bulan
- Tingginya suhu badan sebelum kejang, makin tinggi suhu sebelum
kejang demam, sekain kecil kemungkinan kejang demam akan berulang.
- Lamanya demam sebelum kejang semakin pendek jarak antara
mulainya demam dengan kejang, maka semakin besar resiko kejang demam
berulang.
C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala umum
1. Kejang umum biasanya diawali kejang tonik kemudian klonik berlangsung 10-
15 menit, bisa juga lebih.
2. Takikardia pada bayi frekuensi : sering diatas 150-200/menit
3. Pulsasi arteri melemah dan tekanan nadi mengecil yang terjadi sebagai akibat
menurunnya curah jantung
4. Gejala bendungan sistem vena:
- Hepatomegali
- Peningkatan vena jugularis
D. PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi
yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting
adalah glucose, sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara fungsi paru-paru dan
diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler. Berdasarkan hal diatas bahwa
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon
dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran
sel neuron dapat dilalui oleh ion Na+ dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan
konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya
mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya
membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak
mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena
itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam
singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion Na+ melalui membran tersebut dengan
akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas
keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang
berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala
sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea,
Na meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya
terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis ( Hidayat, 2009).
E. KOMPLIKASI
- Epilepsi
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh
terjadinya serangan yang bersifat spontan dan berkala. Bangkitan kejang yang
terjadi pada epilepsi kejang akibat lepasnya muatan listrik yang berlebihan di
sel neuron saraf pusat.
- Asfiksia
- Retardasi mental
Dapat terjadi karena defisit neurologis pada demam neonatus.
- Kerusakan jaringan otak
Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu
kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor M Metyl D Asparate
(MMDA) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang
merusak sel neuoran secara irreversible

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan glukosa darah
a. Glukosa darah:hipoglikemia merupakan predisposisi kejang
(N<200mq/dl)
b. BUN:peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan
indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit:Kalium, natrium.Ketidakseimbngan elektrolit merupakan
predisposisi kejang
d. Kalium (N 3,80-5,00 meq/dl)
e. Natrium (N 135-144 meq/dl)
2. Indikasi lumbal pungsi pada kejang demam untuk menegakan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis
3. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas.
4. CT-scan dan MRI di anjurkan pada kasus kejang fokal untuk mencari lesi
organik diotak.
G. PENATALAKSANAAN MEDIS\
Pengobatan saat terjadi kejang :
1. Pemberian diazepam supositoria pada saat kejang sangat efektif dalam
menghentikan kejang. Dosis pemberian :
- 5 mg untuk anak < 3 th atau dosis 7,5 mg untuk anak > 3 th
- Atau 5 mg untuk BB < 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan BB >10
Kg
- 0,5 – 0,7 mg/kgBB/kali.
2. Diazepam intravena dapat diberikan dengan dosis sebesar 0,2-0,5mg/kgBB.
3. Kejang yang berlanjut diberikan pentobarbital 50 mg IM.
Setelah kejang berhenti :
1. Antipiretik
- Parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali/tiap 6 jam
- Ibuprofen 10 mg/kgBB/kali diberikan 3 kali.
2. Antikonvulsan
- Diazepam oral dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali setiap 8 jam
- Diazepam rektal dosis 0,5 mg/kgBB/hari sebanyak 3 kali perhari.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d gangguan aliran darah keotak
akibat kerusakan sel neuron otak, hipoksia.
2. Resiko cidera b.d ketidakefektifan orientasi
3. Resiko aspirasi b.d penurunan tingkat kesadaran
4. Resiko keterlambatan perkembangan b.d gangguan pertumbuhan.
I. PENGKAJIAN
- Pengkajian Keperawatan.
 Aktivitas / Istrahat
Gejala : Kelelahan, Kelemahan umum
Tanda : perubahan tanus / kekuatan otot
Gerakan incolunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot
ataupun sekelompok otot
 Sirkulasi
Gejala : Hipertensi, peningkatan nadi, sianosis, posiktal, tanda vital
normal atau defresi dengan penurunan nadi
 Eliminasi
Gejala : Inkontinensia
Tanda : Peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus otot spingter
Otot relaksasi yang menyebabkan inkontinensia
 Makanan / Cairan
Gejala : Sensivitas terhadap makanan, mual/muntah
Tanda : Kerusakan jaringan / gigi
 Nyeri / Kenyamanan
 Pernafasan
 Keamanan
Pemeriksaan Fisik Keperawatan
1. Sistem pernapasan
Pernapasan cepat, apnoa, sianosis
2. Sistem kardiovaskuler
Bibir sianosis, kesadaran menurun, TD, akral dingin, nadi cepat
3. sistem pencernaan
Bibir kering, nafsu makan menurun, mual, diare, mukosa mulut luka
4. Sistem perkemihan
5. Sistem muskuloskeletal
Kelemahan otot-otot, kontraktor sendi
6. Sistem integumen
Kulit kering, turgor jelek, rambut rontok dan kotor, kulit panas dan kasar
7. Sistem penginderaan
Mata rabun senja tanpa kekurangan vitamin A
8. Sistem persyaratan
Perkembangan sel otak kurang, IQ rendah, retardasi mental, kelumpuhan
9. Sistem imunolgi
Menurun sehingga mudah terkena infeksi seperti ISPA, OMA, ISK
Diagnostik Test
- Pemeriksaan Laboratorium
1) Elektrolit : tidak seimbang
2) Glukosa hipoglikemia (normal : 80-120)
3) Ureum/kreatinin : meningkat (U : 10-15 & K = < 1,4 mg /dl)
4) Sel darah merah (Hb) menurun (N L : 14-18 & P : 12-26 g / dl )
5) Sel darah putih (leukosit) meningkat (N : 4-10 ribu / ul)
6) LED 1 jam / 2 jam meningkat
7) Fungsi lumbal : untuk menegtahui tekanan normal dari css tanda-tanda infeksi.
- EEG digunakan menentukan adanya kelainan pada SSP
- Pemeriksaan radiology

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi b/d adanya infeksi
b. Resiko tinggi cedera fisik : lidah tergigit b/d aktivitas motorik meningkat
c. Perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang.
d. Resiko tinggi perubahan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh b/d
pengeluaran berlebihan.
e. Kecemasan orang tua b/d dampak hospitalisasi.
f. Kurang pengetahuan orang tentang penanganan saat kejang b/d kurangnya
informasi.
3. Rencana Keperawatan
1. Hipertermi b/d adanya proses infeksi.
Tujuan : suhu tubuh normal 36 0C-37 0C pada klien
Intervensi :
 Kaji penyebab hipertermi
R/ Hipertermi merupakan salah satu gejala/kompensasi tubuh terhadap adanya
infeksi baik secara lokal maupun secara sistemik. hal ini perlu diketahui sebagai
dasar dalam rencana intervensi.
 Observasi suhu badan
R/ proses peningkatan suhu menunjukkan proses penyakit infeksius akut
 Beri kompres hangat pada dahi/axilla
R/ Daerah dahi / axilla merupakan jaringan tipius dan terdapat pembuluh darah
sehingga proses vasodilatasi pembuluh darah lebih cepat sehingga pergerakan
molekul cepat.
 Beri minum sering tapi sedikit.
R/ Untuk mengganti cairan yang hilang selama proses evaporasi.
 Anjurkan ibu untuk memakaikan pakaian tipis dan yang dapat menyerap
keringat.
R/ Pakaian yang tipis dapat membantu mempercepat proses evaporasi.
 Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik
R/ Obat antipiretik bekerja sebagai pengatur kembali pusat pengatur panas
2. Resko tinggi cedera fisik: lidah tergigit b/d altivitas meningkat (kejang)
Tujuan : lidah tidak tergigit
 Jelaskan kepada keluarga akibat-akibat yang terjadi saat kejang berulang
R/ Penjelasan yang baik dan tepat pada keluarga sangat penting untuk
meningkatkan pengetahuannya dalam mengatasi kejang
 Sediakan spatel lidah
R/ spatel lidah sangat penting untuk mencegah jika tergigitnya lidah
 Beri posisi miring kiri dan kanan
R/ mencegah aspirasi lambung
 Lakukan suction bila banyak lendir
R/ secret yang banyak dapat menyumbat jalan nafas dalam hal ini dapat
mengakibatkan disteress pernapasan sehingga harus dilakukan suction bila banyak
lender.
 Penatalaksanaan pemberian obat anti konvulsan
R/ sebagai pengatur gerakan motorik / menghentikan gerakan motorik yang
berlebihan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
 Kaji pola makan
R/ adanya perubahan pola makan seperti nafsu makan menurun dan dapat
memperburuk status anak
 Timbang BB bila memungkinkan
R/ peningkatan BB penting untuk mengetahui perubahan status nutrisi
 Anjurkan ibu untuk memberi makanan sedikit tapi sering
R/ membantu mengurangi distensi lambung
 Beri makanan yang bervariasi
R/ menambah nafsu makan
 Monitor dan catat makanan yang dihabiskan klien
R/ mengetahui intake yang masuk
 Penatalaksanaan pemberian nutirisi parental.
R/ untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak
4. Resiko tinggi perubahan volume cairan kurangdari kebutuhan b/d intake yang
berlebihan
Tujuan : tidak terjadi kekurangan volume cairan
Intervensi
 Monitor tanda-tanda dehidrasi
R/: adanya perubahan pola makan seperti nafsu makan berkurang akan dapat
memperburuk status klien karena intake kurang
 Anjurkan beri minum banyak sesuai kebutuhan klien
R/: dapat mengganti kebutuhan cairan klien yang hilang
 Observasi tanda-tanda vital
R/: merupakan indikator dari volume cairan
 Observasi frekuensi dan konsistensi bab
R/: mengetahui perkembangan penyakit serta indikasi dalam rencana intervensi
 Penatalaksanaan pemberian infus parental
R/: memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan mengganti cairan yang hilang.
5. Kecemasan orang tua
Tujuan : Kecemasan pada orang tua berkurang
Intervensi
 Kaji pengetahuan orang tua tentang penyakit anaknya
R/: mengetahui kebutuhan keluarga akan pengetahuan sehingga dapat mengurangi
kecemasan
 Beri support pada keluarga bahwa anaknya akan sembuh kalau disiplin dalam
mengikuti perawatan
R/: memberikan harapan, menurunkan kecemasan, mentaati anjuran pengobatan
 Beri kesempatan pada keluarga untuk mengungkapkan perasaanya
R/: mengurangi beban psikologi dan menyalurkan aspek emosional secara efektif
dan cepat
 Beri informasi yang nyata tentang perawatan yang diberikan
R/: Dapat meningkatkan pengetahuan orang tua sehingga dapat mengurangi
kecemasan
6. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penanganan saat kejang b/d kurang
terpajang informasi.
Tujuan : orang tua dapat memahami tentang penanggulangan kejang
Intervensi
 Kaji tingkat pengetahuan orang tua tentang penanggulangan kejang
R/: memudahkan dalam pemberian pemahaman tentang kejang sesuai dengan
tingkat pengetahuan orang tua
 Berikan penjelasan pada orang tua klien tentang penanggulangan kejang
R/: penjelasan yang baik dan tepat meningkatkan pengetahuan orang tua dalam
menangani kejang
 Anjurkan pada orang tua klien tentang cara penggunaan spatel
R/: informasi tentang cara penggunaan spatel sangat penting agar dapat
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga klien
 Anjurkan pada orang tua untuk segera membawa anaknya kerumah sakit atau
puskesmas bila anaknya kejang yang lama
Mengurangi komplikasi atau bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kejang

DAFTAR PUSTAKA

- Betz L. Cecily. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Penerbit


Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. 2016
- Speer Kathleen Morgan.Pediatric Care Planning Ashwill, third edition.
Pediatric Nurse Practitioner Childrens Medical Center of Dallas. Springhouse
Corporation. Springhouse Pennsylvania. 2015
- Ngastiyah. Perawatan anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2016
- Corwin, J. Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC.
Jakarta. 2016
- Suriadi, SKp., Rita, SKp. Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1. CV
Sagung Seto. Jakarta, 2015
- Sumber http://www.ilmukeperawatan.info/2018/4/asuhan-
keperawatan-kejang-demam.html#ixzz56Eoy9GZJ